Khawarij Dan Bara’ah Kami Dari ‘Aqidah Dan Manhaj Mereka (Seri Terakhir) – Tinjauan-Tinjauan Bersama Sifat-Sifat Khawarij

* Tinjauan-Tinjauan Bersama Sifat-Sifat Khawarij *

Dan Orang-Orang Yang Paling

Serupa Dengan Mereka

(1) Tinjauan Pertama

Dari ringkasan sejarah dan aqa’id yang lalu nampak sekali ciri-ciri paling menonjol pada firqah yang sesat ini, sifat-sifatnya dan perilaku-perilakunya. Di sini saya akan mengisyaratkan kepada yang paling pentingnya, sebagai bentuk bara’ah darinya dan tahdzir bagi pencari kebenaran dari memiliki sifat darinya sedangkan ia tidak merasa:

  • Di antaranya kelancangan mereka dan sikap ngawur mereka dalam takfier kaum muslimin, bahkan takfier manusia pilihan dan pemuka umat ini dari kalangan sahabat dan para pengikut mereka dari ahlul qurun al mufadldhalah, dan yang paling terdepan adalah Utsman, Ali, Aisyah, Thalhah, Az Zubair, Abu Musa Al Asy’ariy, Amr Ibnul ‘Ash, Muawiyyah dan yang lainnya radliyallahu ‘anhum ajma’in. Dan Ibnu Umar telah mensifati mereka, bahwa mereka itu (manusia yang paling buruk, mereka mengambil ayat-ayat yang turun tentang kuffar terus mereka menjadikannya terhadap al mu’minin).[25]

Dan mereka membangun di atas hal itu penghalalan darah, harta dan kemaluan, terus mereka membunuh mukhalifin mereka, menghanimah hartanya dan memperbudak para wanitanya. Dan telah lalu khabar tentang sikap mereka membunuh Ibnu Khabbab dan merobek perut istrinya yang hamil.

Dan di sisi lain kelancangan yang berlebihan atas kaum muslimin ini, mereka berhias diri dengan sikap wara’ yang dingin terhadap kuffar dan musyrikin. Telah lalu bahwa mereka padahal membunuh Ibnu Khabbab, namun mereka bersikap wara’ dan sebagian mereka menasehati sebagian yang lain tentang sebutir kurma milik (kafir) mu’ahid dan babi milik orang kafir dzimmiy, sehingga mereka meminta penghalalan dari pemiliknya. Dan ini sebagai pembenaran sifat yang diberikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka, bahwa mereka itu (membunuhi ahlul Islam dan membiarkan ahlul autsan).

Al Qurthubi berkata dalam Al Mufhim setelah menuturkan sifat ini: (Dan ini semuanya tergolong pengaruh ibadah orang-orang jahil yang dada mereka tidak lapang dengan cahaya ilmu dan mereka tidak berpegang pada tali yang kokoh dari ilmu, serta cukuplah sesungguhnya tokoh mereka telah menolak perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menuduhnya tidak adil, kita memohon keselamatan dari Allah).[26]

  • Di antara itu adalah sikap keras, tajam, kasar mereka dan kelancangannya terhadap kaum muslimin pilihan dengan klaim tauladan muthlaq dan mencari-cari kekeliruan dengan buruk sangka dan tanpa cari kejelasan, suatu yang menunjukkan kepada kesesatan dan ujub dengan diri, congkak terhadap muslimin, meremehkan mereka dan memandang kepada mereka dari atas, karena asal mereka adalah Dzul Khuwaishirah At Tamimiy, dia berani dan lancang serta berkata kepada manusia terbaik shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Berlaku adillah,” dan dalam satu riwayat: “Saya lihat kamu tidak adil,” dan diriwayat lainnya: “Sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak diinginkan dengannya wajah Allah.”

Sehingga tidak aneh bila setelah ini mereka mengatakan kepada Ali dengan sebab sikap setuju beliau atas penulisan namanya dalam Kitab Tahkim tanpa gelar Amirul Mu’minin: (Bila kamu bukan Amirul Mu’minin, maka berarti kamu Amirul Kafirin), ini padahal merekalah dahulu yang mendesaknya untuk menerima tahkim dan berkata kepadanya: (Penuhilah Kitabullah bila kamu diajak kepadanya, dan kalau tidak maka kami akan serahkan kamu seluruhnya kepada mereka, atau kami perlakukan kamu seperti apa yang telah kami lakukan terhadap Ibnu ‘Affan)!! Maka tepatlah pada mereka sifat-sifat yang dilontarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قوم أشداء أحداء ذلقة ألسنتهم بالقرآن)

(Kaum yang keras lagi kasar lagi kental lisan-lisan mereka dengan Al Qur’an). Padahal syari’at ini menganjurkan keras dan kasar terhadap kuffar mu’anidin, dan mengajak pada sifat lembut dan sayang terhadap kaum muslimin, namun Khawarij membalikkan itu. Sungguh Abu Ya’la telah meriwayatkan 3/1007 dari Anas secara marfu’:

(إن فيكم قوماً يتعبّدون حتى يعجبوا الناس ويعجبهم أنفسهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية).

(Sesungguhnya di tengah kalian ada orang-orang yang rajin beribadah sehingga mereka membuat manusia terkagum dan diri mereka sendiri terkagum dengannya, mereka muruq dari dien ini seperti panah lepas dari busurnya).

Dan di antara bentuk merasa bangga diri Khawarij dengan diri mereka sendiri dan dengan pimpinannya adalah pujian mereka terhadapnya, padahal mereka itu makhluk yang paling buruk, yang dalam waktu yang sama mereka mencela, menghina bahkan mengkafirkan sahabat pilihan radliyallahu ‘anhum ajma’in.

Asy Syathibi berkata dalam Al I’tisham 2/268 saat membicarakan tanda-tanda ahluzzaigh (orang-orang sesat), dan beliau telah menuturkan Khawarij: (Sesungguhnya mereka itu mencela orang yang telah dipuji Allah dan Rasul-Nya serta As Salafush shalih telah sepakat untuk memuji dan menyanjung mereka, dan mereka memuji orang yang mana as salafush shalih telah sepakat mencelanya, seperti abdurrahman Ibnu Muljam pembunuh Ali radliyallahu ‘anhu dan mereka membenarkan tindakan dia membunuh Ali serta mereka berkata: Sesungguhnya tentangnya turun firman-Nya ta’ala:

“Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya dalam rangka mencari ridla Allah” (Al Baqarah; 207)

Dan adapun yang sebelumnya yaitu firman-Nya:

“Dan di antara manusia ada orang yang membuat kamu terkagum ucapannya tentang kehidupan dunia ini…” (Al Baqarah: 204)

Maka sungguh ia turun tentang Ali radliyallahu ‘anhu. Sungguh mereka telah dusta – semoga Allah binasakan mereka -. Umran Ibnu Hithan[27] berkata dalam memuji Ibnu Muljam:

يا ضربة من تقي ما أراد بها             إلا ليبلغ من ذي العرش رضوانا

إنـي لأذكره يومـاً  فأحسبه             أوفى البريـة عند الله  ميزانـا

Oh pukulan dari orang yang bertaqwa yang tidak mengharap dengannya

Melainkan agar ia sampai kepada keridlaan dari Pemilik Arasy

Sungguh aku mengingatnya suatu hari maka aku menilainya

Manusia yang paling penuh timbangannya di sisi Allah.

Dan sungguh telah dusta ia semoga Allah melaknatnya). Dan semisal itu silahkan lihat bait-bait syair Abdul Qahir Al Baghdadi dalam bantahan terhadapnya di Kitab Al Farqu Bainal Firaq hal: 93.

  • Di antaranya cepatnya mereka melontarkan hukum (vonis) tanpa memahami dalil-dalil syar’iy atau tanpa mengerti akan maksud Allah di dalamnya serta sisi-sisi penunjukannya yang shahih. Akal mereka itu pemahamannya buruk sebagaimana yang dilebelkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka “bodoh pemikirannya”[28], maka telah menghalangi diri mereka dari mengambil faidah dari penjelasan As Sunnah terhadap Al Qur’an sehingga mereka ngawur, satu sama lain saling mengkafirkan dalam beberapa masalah serta saling mengajak taubat darinya, kemudian nampak bagi mereka kekeliruan mereka, atau mereka pindah kepada pendapat lain, terus mereka saling mengajak taubat dari taubat (yang lalu), dan kalau tidak maka mereka menjadi kafir dan begitulah. Itu semua karena kelemahan pemahaman mereka dan sikap ngawurnya dalam jalan-jalan Istidlal.

Al Mubarrid menyebutkan dalam Al Kamil bahwa maula (budak) Bani Hasyim datang kepada Nafi Ibnul Azraq, terus ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya athfal kaum musyrikin itu di neraka, dan sesungguhnya orang yang menyelisihi kami adalah musyrik, sehingga darah athfal itu halal bagi kami”, maka Nafi berkata kepadanya: “Kamu telah kafir dan kamu telah menyerahkan diri kamu”.[29]

Ia berkata kepadanya: “Bila saya tidak mendatangkan hal ini kepadamu dari Kitabullah maka bunuhlah saya; Nuh berkata:

“Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir”. (Nuh: 26-27).

Maka Nafi bersaksi bahwa mereka semuanya di neraka, dan ia memandang boleh membunuh mereka, serta berkata: “Darnya adalah dar kufr kecuali orang yang menampakkan imannya, dan tidak halal sembelihan mereka, menikahi mereka serta tidak saling mewarisi dengan mereka…”

Perhatikanlah bagaimana mereka menempatkan ucapan Nuh yang menetap -‘Alaihis Salam- di tengah kaumnya selama 950 tahun, namun demikian mereka itu setiap kali Nuh mengajaknya maka mereka meletakkan jari-jarinya di telinga-telinga mereka, mereka menutupkan baju-baju mereka ke kepala mereka dan menyombongkan diri dengan secongkak-congkaknya, dan Allah telah mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya tidak akan beriman dari kaummu kecuali orang yang telah beriman” ; mereka menempatkan ucapan Nuh itu pada kaum muslimin dari generasi terbaik dan athfal mereka…!! Karena sekedar muncul di sini istidlal yang keliru menurut benak mereka yang mandul tanpa bashirah dan pengkajian yang tepat atau pemahaman yang sehat.

Dan ini pembenaran sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم

“Mereka membaca Al Qur’an sembari itu tidak melewati kerongkongan mereka”,

An Nawawi berkata: (Yang dimaksud adalah bahwa mereka tidak memiliki bagian di dalamnya kecuali lewatnya pada lisan mereka, tidak sampai ke kerongkongan mereka apalagi bisa sampai ke hati mereka, karena yang dituntut adalah memahaminya dan mentadabburinya dengan berpengaruhnya di hati).

  • Sikap berlebih-lebihan, ghuluw dan mempersulit diri dalam ahkam syar’iyyah, serta mempersempit apa yang telah Allah lapangkan atas kaum muslimin, dan memerintahkan mereka dengan hal yang sulit yang padahal Allah telah mengangkatnya dari umat ini. Di mana mereka mewajibkan sebagiannya shalat yang tertinggal atas wanita yang haidl di masa haidlnya, mereka memotong tangan pencuri dari ketiaknya dan mereka tidak memperhatikan nishab pencurian di mana mereka memotong tangan pada pencurian sedikit dan banyak, dan mereka mewajibkan hijrah kepada mereka, sebagian mereka mengkafirkan al qa’adah yang tidak memerangi kaum muslimin bersama mereka walaupun al qa’adah itu sepaham dengan paham mereka yang rusak itu, sebagian mereka tidak mengudzur termasuk wanita dalam meninggalkan hijrah kepada mereka, sungguh mereka telah mengkafirkan seorang wanita yang sepaham dengan mereka yang dipaksa oleh keluarganya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak sepaham dengan mereka, dan mereka berkata: “Tidak ada alasan baginya kecuali hijrah kepada mereka, karena orang yang muqim di darul kufri maka dia itu kafir, tidak ada jalan bagi dia menurut mereka kecuali keluar”.[30]

Oleh sebab itu kaum muslimin di generasi pertama mengira terhadap setiap orang yang mempersulit apa yang telah Allah lapangkan, bahwa ia tergolong bagian mereka, sebagaimana meriwayatkan Al Bukhari dan Muslim sedangkan lafadh miliknya dari Mu’adzah, ia berkata: saya bertanya kepada Aisyah:

سألت عائشة:  ما بال الحائض تقضي الصوم ولا تقضي الصلاة؟  فقالت:  أحرورية أنت؟ قلت:  لست بحرورية ولكني أسأل. فقالت:  كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة).

“Apa gerangan wanita haidl mengqadla shaum dan tidak mengqadla shalat? Maka Aisyah berkata: Apakah kamu Haruriyyah? Saya berkata: Saya bukan Haruriyyah tapi saya bertanya. Maka ia berkata: “Kami mengalami hal itu, maka kami diperintahkan untuk mengqadla shaum dan tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat”.

  • Dan di antara sifat mereka juga adalah selalu mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dan mereka tidak memahami ayat-ayat muhkamat darinya.

Ath Thabari telah mengeluarkan dalam Tahdzibul Atsar dengan sanad yang shahih sebagaimana yang dikatakan Al Hafidh[31] dari Ibnu Abbas, dan disebutkan Khawarij di hadapannya, maka beliau berkata: “Mereka itu beriman dengan yang muhkam dan binasa pada yang mutasyabihnya”.

Oleh sebab itu para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bila mereka mendapatkan sesuatu dari hal itu pada sebagian orang, maka mereka menduga orang itu bagian dari Khawarij, sebagaimana dalam hadits Shabigh Ibnu ‘Isl, dari Abu Utsman An Nahdiy, seorang laki-laki dari Bani Yarbu’ atau dari Bani Tamim bertanya kepada Umar Ibnul Khaththab radliyallahu ‘anhu tentang Adzdzriyat, Al Mursalat, dan An Nazi’at atau tentang sebagiannya, maka Umar berkata: “Coba buka tutup kepalamu,” ternyata ia memiliki wafrah[32], maka Umar berkata: “Demi Allah, seandainya saya melihatmu digundul, tentu saya pukul kepalamu ini”, kemudian Umar menulis surat kepada Ahlul Bashrah; jangan kalian duduk-duduk dengan dia”. Abu Utsman berkata: “Seandainya ia datang sedangkan kami seratus orang, tentu kami berpencar,” Syaikhul Islam berkata dalam Ash-Sharim hal 88: Al Umawiy dan yang lainnya meriwayatkannya dengan isnad shahih.

Dan begitu juga pandangan Tabi’in dan dugaan mereka, Malik dalam Al Muwaththa dan Said Ibnu Manshur meriwayatkan dalam sunannya juga Al Baihaqiy 8/96 dari Rabi’ah Ibnu Abi Abdirrahman, saya berkata kepada Sa’id Ibnul Musayyib: “Berapa pada satu jari wanita? (yaitu diyatnya)”, ia menjawab: “Sepuluh ekor unta,” saya berkata: “pada dua jari?” Beliau jawab: “Dua puluh,” saya berkata: “Pada tiga jari?” Beliau jawab: “tiga puluh.” Saya bertanya: “Pada empat jari? Ia berkata: “Dua puluh.” Maka saya berkata: “Tatkala besar lukanya dan dahsyat musibahnya malah berkurang ‘aqlnya (diyatnya)?!” Said berkata: “Apakah orang Irak kamu?” Saya menjawab: “Bukan, tapi ‘alim yang mencari kejelasan atau orang jahil yang sedang belajar,” ia berkata: “Ialah sunnah wahai keponakanku”.

Dan itu dikarenakan (diyat) luka wanita setara dengan (diyat) luka laki-laki sampai pada sepertiga diyat, kemudian bila sampai pada sepertiga maka ia kembali pada setengah diyat luka laki-laki, karena diyat wanita adalah separuh diyat laki-laki. Dan dalam hal ini lihat Kitabuddiyyat dalam Al Mughniy dan kitab fiqh lainnya.

Tatkala Said melihat sikap bertele-tele si penanya akan hal itu maka ia mengira orang itu memprotes sunnah dan mencari hal yang mutasyabih, dan oleh sebab itu beliau menanyainya: Apakah orang Irak kamu? Sedangkan Irak saat itu adalah sumber fitnah dan markas Khawarij.

Ini sejenis dengan ucapan Aisyah radliyallahu ‘anha tatkala ditanya oleh Mu’adzah tentang sebab wanita haidl tidak mengqadla shalat: “Apakah kamu Haruriyyah?”

  • Sebab Umar radliyallahu ‘anhu berkata kepada Shabigh (seandainya saya melihatmu digundul, tentu saya pukul kepalamu) karena di antara sifat mereka yang selalu mereka komitmen dengannya juga adalah menggundul botak kepala mereka, sebagaimana sifat mereka ini ada dalam hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya apa yang diriwayatkan Ahmad 3/197 dari Anas secara marfu’:

( يكون في أمتي اختلاف وفرقة، يخرج منهم قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم سيماهم التحليق والتسبيت، فإذا رأيتموهم فأنيموهم)

“Akan ada di tengah umatku perselisihan dan perpecahan, dari mereka keluar suatu kaum yang membaca Al Qur’an, ia tidak melewati tenggorokan mereka, ciri mereka adalah di gundul (tahliq) dan tasbit, bila kamu melihat mereka maka tidurkanlah mereka)”.

Tasbit adalah menghabisi rambut yang pendek, dan makna yang sama ni’al sabtiyyah: Yaitu sandal yang bulu-bulunya dilenyapkan dari kulitnya.[33]

  • Di antara sifat mereka juga adalah penghiasan kebathilan mereka, pendekatannya serta pengkaburannya dengan Al Haq, oleh sebab itu terpedaya oleh mereka dan menjadi pengikut mereka kalangan juhhal dan orang-orang yang dangkal pemahamannya yang tidak memiliki pandangan yang tajam atau furqan. Tatkala mereka mendesak Ali untuk menerima tahkim mereka berdalil dengan firman-Nya ta’ala: “Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang telah diberi sebagian dari Al Kitab, mereka diajak untuk (merujuk) kepada Kitabullah…..”

Dan setelah tahkim, mereka kafirkan Ali seraya berdalil dengan firman-Nya:

“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang yang kafir” (Al Maidah: 44)

Dan mereka mengganggu Ali dalam khutbahnya, mereka menimpalinya seraya berdalih dengan firman-Nya:

“Tidak ada putusan kecuali milik Allah”, (Yusuf: 40)

Maka Ali berkata: Kalimat haq yang dimaksudkan kebathilan dengannya.” Dan saat para amir mereka ceramah, mereka menyalakan perasaan semangat mereka dengan menyebutkan surga dan istisyhad, dan mereka mengatakan tentang kaum muslimin: (Keluarlah bersama kami dari negeri yang dhalim penduduknya ini)…. Ibnu Katsir telah mensifati mereka bahwa (mereka itu tergolong bentuk Bani Adam yang paling aneh) dan itu tatkala beliau menuturkan provokasi sebagian ahli ceramah mereka terhadap mereka untuk memerangi Ali dengan ucapannya: (Pukullah wajah dan kening mereka dengan pedang sampai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ditaati, kemudian bila kalian menang dan Allah ditaati sebagaimana yang kalian inginkan maka Dia memberi kalian pahala orang-orang yang taat, dan bila kalian terbunuh maka apa yang lebih utama dari kembali kepada ridla Allah dan surga-Nya).

Ibnu Katsir menuturkan dari sahabat Abu Ayyub Al Anshari, dan beliau itu termasuk panglima pasukan Ali, beliau berkata: (Saya menusuk seorang laki-laki dari Khawarij dengan tombak, terus saya tembuskannya dari punggungnya, dan saya berkata: “Bahagialah wahai musuh Allah dengan neraka”, maka ia berkata: Kamu akan tahu siapa di antara kita yang lebih berhak masuk neraka).

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath (Kitab Istitabatul Murtaddin…..) (Bab qatlil Khawarij wal Mulhidin….) pada sifat mereka dalam al hadits bahwa mereka (mengatakan dari Khairi Qaulil Bariyyah) setelah mengisyaratkan pada ucapan orang yang berkata bahwa itu dari hati dan bahwa yang dimaksud dari Qauli Khairil Bariyyah adalah Al Qur’an, beliau berkata: (Dan ada kemungkinan bahwa sesuai dhahirnya, dan yang dimaksud adalah ucapan yang bagus secara dhahir, sedangkan bathinnya berbeda dengan (dhahirnya) itu, seperti ucapan mereka: “Tidak ada putusan kecuali milik Allah”, terhadap jawaban Ali…).

  • Di antara sifat mereka juga adalah banyaknya kontradiksi pada mereka dan cepat berbalik arah.

Mereka telah memaksa Ali untuk menerima tahkim, kemudian mereka mengkafirkannya dan khuruj terhadapnya dengan sebab tahkim!! Dan tatkala dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kalian kepada tha’ati amirul mu’minin!” Mereka berkata: (Bila kalian datang kepada kami dengan orang seperti Umar tentu kami melakukan), kemudian tidak lama malah mereka mengangkat amir mereka Abdullah Ibnu Wahb Ar Rasibiy, seorang arab badui yang bukan sahabat, bukan orang yang terdahulu keislamannya dan tidak memiliki keutamaan. Mereka mengkafirkan Aisyah Ummul Mu’minin karena ia keluar ke Bashrah dan mereka mengingkari keluarnya tanpa mahram, dan mereka membacakan kepanya firman Allah ta’ala:

“Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian”. (Al Ahzab: 33)

Padahal beliau keluar bersama saudaranya Abdurrahman dan keponakannya Abdullah Ibnu Az Zubair, juga setiap kaum muslimin adalah mahram baginya, karena semua mereka adalah anak-anaknya, kemudian sesungguhnya Syabibiyyah yang di antara mereka ada yang mengingkari Aisyah atas hal itu dan mengkafirkannya,  mereka malah mengangkat Ghazalah sebagai amir mereka, dia dan sekelompok wanita Khawarij keluar untuk memerangi Hajjaj dan pasukannya!! Ini tergolong pemilahan mereka antara hal-hal yang serupa karena mengikuti hawa nafsu, padahal mereka itu (tergolong orang-orang yang paling kencang memakai qiyas).[34]

  • Dan di antara sifat mereka adalah cepat cerai berai, berpecah belah, berblok-blok dan berfaksi-faksi menjadi kelompok-kelompok dan firaq yang beraneka ragam karena hal sepele. Perselisihan far’iy apapun memungkinkan dengan sebabnya sebagian mereka bara’ dari sebagian yang lain dan saling mengkafirkan.

Wa Ba’du:

Ini adalah ciri-ciri dan sifat-sifat tercela, keyakinan dan pemikiran yang sesat, yang wajib atas setiap pencari kebenaran yang berupaya untuk menjadi bagian dari ashshab dan tentara Ath Thaifah Adh Dhahirah Al Manshurah Al Qaimah Bi Dienillah untuk menjauhkan dirinya darinya dan hati-hati darinya dan dari keburukannya.

قد هيّؤوك لأمرٍ لو فطنت له         فاربأ بنفسك أن ترعى مع الهمل

Mereka telah mempersiapkanmu untuk suatu yang andai kamu mengetahuinya

Maka jauhkanlah dirimu bermain-main dengan pengangguran.

Setiap orang yang mengetahui kami dan mengetahui dakwah dan metode kami maka ia mengetahui bara’ah kami dan bara’ah dakwah kami bifadlillah ta’ala dari itu semuanya, dan bahwa kami tergolong orang yang paling menghati-hatikan darinya, bahkan di antaranya ada hal yang sebagian orang mendebat kami tentangnya, aniaya terhadap kami dan mencela kami, serta sebagian mereka mengkafirkan kami, karena sikap bara’ah kami dan tahdzir kami darinya. Namun demikian kami tidak pernah bermudahanah dengan orang dekat atau orang jauh atas hal itu, atau mengakuinya seharipun terhadap suatupun dari sifat-sifat tercela dan keyakinan-keyakinan sesat itu.

Dan setiap orang yang menghiasi diri dengan sikap obyektif dari kalangan khushum (lawan-lawan) kami mengakui akan hal itu dan bersaksi bagi kami akan hal itu.

Namun demikian, di antara hal yang mesti diingat terus di sini adalah bahwa tidak sah memvonis setiap orang yang memiliki suatu dari sifat-sifat tercela itu bahwa ia tergolong Khawarij, namun yang benar adalah bahwa seseorang tidak boleh dicap Khawarij sehingga ia memegang ushul Khawarij yang dengannya mereka sesat dan menyelisihi Ahlus sunnah.

Kaidah-kaidah Kulliyyah (dasar yang menyeluruh) yang mereka ada-adakan, seperti:

–    Takfier para sahabat.

–    Takfier para pelaku dosa besar dari kaum muslimin.

–    Memerangi Ahlul Islam, dan menghalalkan darah, harta serta kehormatan mereka, namun membiarkan Ahlul Autsan.

–    Dan yang lainnya yang telah kami isyaratkan.

Asy Syathibiy berkata dalam Al I’tisham 2/233 sedang beliau berbicara tentang masalah-masalah yang ada dalam hadits firqah-firqah yang menyelisihi Al Firqah An Najiyah -dan ia telah lalu-: (Masalah yang kelima: Sesungguhnya firqah-firqah ini hanyalah menjadi firqah-firqah dikarenakan menyelisihi Al Firqah An Najiyah dalam makna kully dalam dien ini dan dalam suatu kaidah dari kaidah-kaidah syari’at, bukan dalam hal juz’iy (cabang/bagian) dari juz’iyyat (dien ini), karena juz’iy dan far’u (cabang) yang ganjil tidaklah terlahir darinya penyelisihan yang dengan sebabnya terjadi perpecahan yang beraneka ragam kelompok, dan perpecahan itu hanyalah terlahir saat terjadi penyelisihan dalam al umur al kulliyyah…) hingga ucapannya: (Dan berlaku seperti berlakunya al qaidah al kulliyyah banyaknya juz’iyyat, karena ahli bid’ah bila memperbanyak dari membuat furu’ yang baru maka hal itu kembali dengan membawa pertentangan atas banyak hal dari syari’at ini, sebagaimana al qaidah al kulliyyah menjadi penentang juga. Dan adapun juz’iy maka ia berbeda dengan hal itu, bahkan terjadinya hal itu dari seorang mubtadi’ dianggap sebagai ketergelinciran dan kekeliruan baginya). Dan lihat juga hal: 287.

Maka dari sini diketahui bahwa orang yang selaras dengan Khawarij atau ahluz zaigh wadldlalal lainnya dalam suatu hal, tidaklah selayaknya dinisbatkan kepada mereka kecuali bila ia selaras dengan mereka dalam ushulnya dan qawaa’id kulliyyah mereka yang menyelisihi thariqah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bukan orang yang selaras dengan mereka dalam sebagian furu’ atau akhlak yang tercela, seperti kasar, ngotot dan tergesa-gesa dalam melontarkan hukum-hukum syar’iy. Sesungguhnya ini meskipun ada pada Khawarij dan memang tergolong ciri yang menonjol bagi mereka, akan tetapi ia bukan tergolong qawaa’id mereka dan ushul kulliyyah yang khusus bagi mereka dan yang mereka ada-adakan dalam dien ini dan yang dengannya mereka menyelisihi Ahlus Sunnah.

Sedangkan akhlak ini bukanlah khusus bagi mereka dan bukan pula disandarkan atas mereka, akan tetapi terkadang ada pada selain mereka.

Mayoritasnya adalah semburan-semburan, reaksi-reaksi dan pantulan-pantulan pengaruh penyakit-penyakit hati yang terkadang ada pada selain mereka dari kalangan lemah iman dan faqir ilmu. Dan saya ingatkan ini karena sebagian para pemula dari kalangan thalabatul ilmi, engkau melihat mereka di awal perjalanannya bersikap mempersulit dan berlebih-lebihan dalam sebagian masalah yang belum mereka kuasai benar, dan bisa jadi mereka ngotot dalam pendapatnya dan tasyaddud dalam pemahamannya. Maka tidak halal -sedangkan keadaannya seperti ini- mencap mereka sebagai Khawarij karena sekedar hal itu, terutama sesungguhnya sifat yang tercela ini akan hilang pada umumnya bagi orang-orang yang jujur lagi ikhlas dengan khasyyah (takut kepada Allah) yang merupakan inti ilmu, sebagaimana Allah ta’ala mensifati para ulama dalam Kitab-Nya, dan hal itu bisa didapatkan dengan mentadabburi Firman Allah  dan mengkaji hadits-hadits yang menghati-hatikan dari tanaththu’ dan ghuluw, dan (hadits-hadits) yang mengancam dari thalabul ilmi untuk tujuan membanggakan diri, riya, sum’ah, miraa (berbantahan) dan mendebat orang-orang dungu. Dan itu bisa dibantu dengan mentelaah ungkapan para ulama, membaca biografi mereka dan dengan mengetahui keadaan mereka, sifat-sifatnya dan akhlaknya.

Dan di dalam hadits dari Abdullah Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

( لكل عمل شِرَّةٌ ولكل شرّة فترة، فمن كانت فترته إلى سنتي، فقد اهتدى، ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك) رواه ابن أبي عاصم وابن حبان في صحيحه. وفي رواية ( لكل عامل ).

(Setiap amalan itu ada saat giatnya, dan bagi setiap giat itu ada futurnya (lemahnya), siapa orang yang fatrah (futur)nya kepada Sunnahku maka ia telah mendapat petunjuk, dan siapa yang fatrahnya kepada selain itu maka ia telah binasa). Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan dalam satu riwayat: (Bagi setiap orang yang beramal).

Ini menjelaskan bahwa sifat ini didapatkan pada suatu fase dari fase-fase bagi mayoritas orang. Dan orang yang Allah inginkan kabarkan baginya, maka Dia subhanahu memalingkannya dari sifat itu dan menjaga darinya dengan mengupayakan jiwa untuk taat dan ittiba’ sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan yang wajib atas pencari kebenaran selagi ia telah mengetahui sifat-sifat Khawarij yang tercela, adalah ia menjauhi dari menyerupai mereka pada suatu darinya dan ia menghiasi diri dengan sifat-sifat ash shalihin, ciri al muttaqin dan tuntunan ulama rabbaniyyiin, apalagi ahlul haq dan ansharuddien dari kalangan ashhabuth thaifah al qaimah bi amrillah ta’ala, serta ia harus berhati-hati sekali dari lembah-lembah al ghuluw, hawa nafsu dan tafarruq yang bisa menggiring untuk keluar dari dien, karena sesungguhnya ghuluw dan hawa nafsu telah menggiring Khawarij itu padahal mereka itu rajin dan ahli ibadah kepada sikap muruq (dari dien), sehingga jadilah mereka seburuk-buruknya orang yang terbunuh di kolong langit pada zaman itu, padahal mereka dekat dengan zaman nubuwwah dan banyak para sahabat serta berada di generasi terbaik. Maka harus lebih takut darinya, hati-hati darinya dan dijauhi oleh orang yang datang sesudah mereka, atau orang yang ada pada zaman-zaman akhir ini yang mana ilmu sudah berkurang, kejahilan menjalar di dalamnya, dan orang-orang menjadikan tokoh-tokoh kesesatan sebagai panutan, serta masing-masing bangga dengan pendapatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya dienullah adalah pertengahan antara orang yang ghuluw di dalamnya dengan orang menjauh darinya. Allah ta’ala tidak memerintahkan suatu perintah-Nya kepada hamba-hamba-Nya melainkan syaitan merintang di dalamnya dengan dua hal yang mana dia tidak peduli dengan yang mana dia berhasil, apakah ifrath di dalamnya atau tafrith. Dan bila saja Al Islam yang mana ia adalah dienullah yang mana Dia tidak menerima dari seorangpun selain Islam; syaitan telah merintangi banyak kalangan yang intisab kepadanya, sehingga dia mampu mengeluarkannya dari ajarannya, bahkan ia mengeluarkan banyak kelompok yang tergolong orang yang paling ahli ibadah dan paling wara’ umat ini darinya, sampai mereka lepas darinya sebagaimana panah lepas dari busurnya.” 3/236.

Dan beliau menuturkan sebagian hadits-hadits tentang Khawarij yang lalu… terus berkata hal 237: “Bila saja pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifahnya yang lurus telah intisab kepada Islam orang yang lepas darinya padahal ia rajin sekali beribadah, sampai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memerangi mereka, maka diketahuilah bahwa orang yang intisab kepada Islam atau kepada Sunnah pada zaman ini bisa muruq (lepas) juga dari Islam dan Sunnah, sehingga mengklaim sunnah orang yang bukan ahlinya bahkan telah lepas darinya, dan itu dengan beberapa sebab:

–    Diantaranya ghuluw yang telah Allah cela dalam kitab-Nya, di mana Dia berfirman: “Hai ahli kitab jangan kalian ghuluw dalam dien kalian…”

Dan firman-Nya ta’ala:

“Katakanlah: “Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”.”. Al-Maidah: 77.

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين” وهو حديث صحيح.

“Jauhilah ghuluw dalam dien, karena yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ghuluw dalam dien.” Dan ia hadits shahih.

–    Diantaranya perpecahan dan perselisihan yang telah Allah ta’ala sebutkan dalam kitab-Nya Yang Maha Agung.

–    Dan di antaranya hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia adalah dusta atas nama beliau dengan kesepakatan ahli ilmu, yang didengar oleh orang jahil sebagai hadits, terus dia membenarkannya karena selaras dengan dugaan dan hawa nafsunya.

Sedangkan asal kesesatan itu adalah mengikuti praduga dan hawa nafsu, ebagai mana firman-Nya ta’ala tentang orang-orang yang Dia cela:

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (An-Najm: 23).

Dan berfirman tentang haq Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 1-4).

Allah telah sucikan beliau dari kesesatan dan ghiwayah (kesesatan) yang mana keduanya adalah kejahilan dan kezaliman.

Orang sesat adalah orang yang tidak mengetahui al haq.

Sedang al ghawi (orang yang sesat) adalah yang mengikuti hawa nafsunya.

Dan Dia kabarkan bahwa ia tidak berkata dari sumber hawa nafsu, namun ia adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadanya.

Dia mensifatinya dengan ilmu dan mensucikannya dari hawa nafsu.” Al Fatawa cet. Dar Ibnu Hazm 3/238.

(2) Tinjauan Kedua

Wajib memperhatikan dan membedakan dalam musthalah khuruj antara al kharijin (orang-orang yang keluar menentang) ‘alal hukkam (terhadap penguasa) baik karena kezaliman pemerintah atau karena ingin kedudukan dan kekuasaan, dengan Khawarij pemilik bid’ah aqidah dan ushul yang menyelisihi Ahlus Sunnah yang telah lalu dibicarakan. Khawarij itu keinginan mereka pertamanya bukanlah kekuasaan, sungguh engkau telah mengetahui sikap zuhud mayoritas mereka akan dunia ini dan kecenderungan mereka yang sangat terhadap tanassuk (ketaatan) dan ibadah serta kematian demi aqidah-aqidah mereka yang sesat itu, kemudia mereka itu tidak menentang penguasa saja seperti yang telah engkau lihat, akan tetapi keluar menyerang seluruh kaum muslimin, mereka tidak membedakan antara orang baik dengan orang buruk, justeru mereka menghalalkan membunuh mereka, menjarah hartanya dan memperbudak para wanitanya. Ini dilakukan setelah mereka memvonis mereka kafir, dan mayoritas mereka tidak mengecualikan athfal dari itu semua, jadi faktor-faktor pendorong bagi mereka adalah keyakinan yang ganjil lagi sesat dan menyimpang.

Adapun yang lain, yaitu yang memberontak terhadap penguasa, atau yang keluar menentang dalam rangka mencari kekuasaan, bukan untuk mengajak kepada keyakinan, dan mereka itu ada dua macam:

–    Pertama, mereka yang keluar menentang dalam rangka marah karena dien dan dalam rangka mengingkari kezaliman para penguasa, sebab mereka tidak mengamalkan sunnah, atau karena mereka mengakhirkan shalat, maka mereka itu adalah ahlul haq, dan para ulama menilai di antara mereka itu Al Husen Ibnu Ali radliyallahu ‘anhuma, Ahlul Madinah dalam tragedi Al Harrah, dan Al Qurra yang khuruj terhadap Al Hajjaj bersama Abdurrahman Ibnu Asy’ats serta yang lainnya.

–    Dan macam kedua adalah yang keluar dalam rangka mencari kekuasaan saja, baik mereka memiliki syubhat atau tidak, dan mereka itu al bughat.[35]

Saya berkata: Bila saja para ulama menilai orang yang kharij (keluar menentang) terhadap penguasa yang zalim dalam rangka mengingkari kemungkaran mereka adalah bagian dari ahlul haq dan para ulama tidak menyamakannya dengan Khawarij mariqin sama sekali, padahal sesungguhnya jumhur ahlus sunnah memandang mesti sabar terhadap para pemimpin meskipun aniaya dan tidak memandang perlu khuruj atas mereka selama mereka tidak menampakkan kekafiran yang nyata, maka apa gerangan dengan orang yang khuruj terhadap para penguasa sedangkan ia telah melihat dengan jelas kekafiran yang nyata dan kemusyrikan yang terang yang beraneka warna dan bentuk? Maka apa boleh mencap orang yang membela dienullah ini dengan cap Khawarij? Sebagaimana yang dilakukan oleh banyak kalangan yang telah Allah hapus bishirahnya serta telah Dia kunci mata hatinya, di mana mereka mencap setiap orang yang merongrong atau menentang para thaghut musyarri’in dan para penguasa yang musyrik yang menetapkan undang-undang kafir, dengan cap Khawarij, meskipun mereka itu tergolong Ahlussunnah pilihan dan afadlilul mujahidin, dan baik sikap penentangan mereka terhadap para thaghut itu atau sikap khurujnya terhadap mereka dan terhadap kekafirannya itu dengan pena atau dengan lisan, atau dengan kekuatan dan senjata.

Dan masalahnya tidak berhenti pada fitnah yang bathil dan tuduhan yang dusta ini saja, namun engkau dapatkan dari mereka itu orang-orang yang memancing para thaghut untuk memusuhi para muwahhidin itu, mereka memanas-manasinya dengan mereka, membantunya untuk membungkam mereka dan menghabisi dakwahnya, serta memberikan mereka masukan tentang cara menghentikan jihad mereka.

Seandainya mereka itu benar dalam klaimnya dan kaum muwahhidin itu memang Khawarij seperti klaim mereka, maka alangkah baiknya andaikata mereka itu menghiasi diri dengan akal dan pemahaman ulama Maghrib dalam mempertimbangkan antara mafasid, di hari saat mereka keluar untuk memerangi Bani ‘Ubaid Al Qadah di bawah panji Abu Yazid Al Khariji, dan tatkala sebagian orang mencela mereka karena memerangi mereka di bawah panji orang Khawarij, mereka berkata: (Kami memerangi bersama orang yang maksiat kepada Allah, orang yang kafir kepada Allah…) Dan hari itu Abu Ishaq Al Faqih berkata: (Mereka itu ahlu kiblat, sedangkan mereka (Banu Ubaid) itu bukan ahlu kiblat, kemudian kalau kami telah mengalahkan mereka, maka kami tidak akan masuk di bawah panji Abu Yazid, karena ia seorang Khawarij). Bagaimana itu sedangkan para pengusung dakwah yang penuh berkah ini telah bara’ dari aqidah dan cara Khawarij mariqin sebagaimana bara-ah serigala dari darah Yusuf ‘Alaihi Salam, maka kenapa bila kaum khawalif itu lemah dan duduk tidak mau membantu mereka serta merasa cukup dengan kehinaan dan basa-basi serta cenderung rukun kepada musuh-musuh Allah, mereka itu (kenapa tidak) menahan lisan mereka dari dusta, mengada-ada dan fitnah:

أقلّـوا عليـهم لا أبا لأبيـكمو     من اللوم أوسدّوا المكان الذي سدوا

Kurangilah celaan terhadap mereka

Atau tempatilah posisi yang mereka isi

(3) Tinjauan Ketiga

Dikarenakan telah nampak di hadapan kamu apa yang telah lalu, maka mesti (diketahui) bahwa di antara manusia yang paling serupa dengan Khawarij dan yang lebih serupa dengan mereka dengan sebab sifat-sifat mereka dan akhlak-akhlak mereka yang tercela –dan tidak saya maksudkan I’tiqad- adalah mereka para pengekor dari kalangan yang intisab kepada ilmu dan dien yang cocok banyak dari mereka menyandang sifat-sifat Khawarij yang tercela. Dan sifatnya yang paling menonjol adalah sifat yang disandangkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam buat mereka dalam hadits muttafaq ‘alaih bahwa mereka itu “membunuhi Ahlul Islam dan membiarkan ahlul autsan”. Mereka orang-orang yang telah diisyaratkan kepadanya dari kalangan yang damai terhadap thaghut dan perang terhadap muwahhidin dan terhadap dakwah serta jihad mereka, atau silahkan katakan mereka itu Murjiah bersama para thaghut lagi Khawarij terhadap para muwahhidin: sering sekali kami melihat mereka memanas-manasi para thaghut dengan para du’at yang menentang undang-undang dan kekafiran-kekafiran mereka, mereka menganjurkan para thaghut untuk menghabisi kaum muwahhidin, serta menyusunkan fatwa-fatwa yang memperindah hal itu dan menganggapnya bagus[36], bahkan menjadikannya sebagai bagian amal dan qurbah terbaik kepada Allah, karena mereka menemakan para muwahhidin sesekali sebagai bughat!! Seolah mereka itu membangkang terhadap Ali Ibnu Abi Thalib radliyallahu ‘anhu atau para pemimpin adil lainnya…!!

Terkadang mereka menamainya Khawarij, terus mereka mengkafirkannya dengan hal itu sesuai pendapat sekelompok ahlul ilmi yang mengkafirkan Khawarij, sehingga para pengekor itu dengan sebab itu menjadi lebih buruk dari Khawarij mariqin.

Karena Khawarij mengkafirkan dengan sebab maksiat dan dosa, sedangkan para pengekor itu mengkafirkan dan menganggap sesat (para muwahhidin) dengan sebab murni tauhid serta bara’ah dari syirik dan tandid.

Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ibnul Qayyim saat berkata tentang orang-orang macam mereka:

بالذنب تأويلا بلا إحسان
هو غاية التوحيد والإيمان
قد جاء بالآثار والقرآن
أخذواالظواهرمااهتدوا لمعان
نسبوا إليه شيعة الإيمان
سيفين سيف يد وسيف لسان
وهم البغاة أئمة الطغيان
فساقَ ملّته فمن يلحاني
والله ما الفئتان مستويان
وبين مكفر العصيان!
وكلاكما فئتان باغيتان
هذا وبينكما من الفرقان
لم يفهموا التوفيق بالإحسان
ـبه التي هي فكرة الأذهانمنــهم للحـق والإيـمان

على الحديث الموجب التبيان

عـليهـما، أفأنتـم عدلان؟

من لي بشبه خوارج قد كفّروا
وخصومنا قد كفرونا بالذي
ومن العجائب أنهم قالوا لمن
أنتم بذا مثل الخوارج إنهم
فانظرإلى ذاالبهت هذا وصفهم
سلّواعلى سنن الرسول وحزبه
والله ما كان الخوارج هكذا
كفرتمُ أصحابَ سنّتِه وهمْ
إن قلتُ هم خيرٌ وأهدى منكم
شتان بين مكفرٍ بالسنةِ العليا
قلتم تأولنا كذاك تأوّلوا
وكلاكما للنص فهو مخالف
هم خالفوا نصاً لنصٍ مثله
لكنكم خالفتم المنصوص للشـفبأي شـيء أنتم خير وأقرب

هم قدموا المفهوم من لفظ الكتاب

لكنـكم قدمتـم رأي الرجال

لاحَ الصباحُ لمن له عينان
بالعدل والإنصاف والميزان
برآءُ إلا من هدى وبيان
أم هم إلىالإسلام أقرب منكم؟
والله يحكم بينكم يوم الجزا
هذا ونحن فمنهم بل منكم

Apa saya serupa dengan Khawarij yang telah mengkafirkan

dengan sebab dosa secara takwil tanpa ihsan

sedang khusun kami telah kafirkan kami dengan suatu

yang ia adalah puncak tauhid dan iman

Dan yang aneh adalah sungguh mereka berkata kepada orang

yang telah datang dengan Atsar dan Al Qur’an:

“Kalian dengan ini seperti Khawarij karena mereka

mengambil hal-hal dhahir seraya tidak memahami maknanya”

Coba lihatlah fitnah bohong ini, inilah pencapan mereka

mereka nisbatkan kalangan yang beriman kepadanya

mereka hunus terhadap sunnah Rasul dan para pengikutnya

dua pedang, pedang tangan dan pedang lisan.

Demi Allah, Khawarij itu tidaklah seperti ini

Dan mereka itulah bughat terhadap para penguasa durjana

Kalian kafirkan para pengikut sunnahnya, sedang mereka[37]

(kafirkan) orang-orang fasiq millahnya, maka siapa mendebatku.

Bila aku katakan mereka itu lebih baik dan lebih lurus dari kalian

Demi Allah dua kelompok itu tidak sama

jauh perbedaan antara yang mengkafirkan dengan sebab sunnah yang tinggi

Dengan yang mengkafirkan dengan sebab maksiat.

Kalian katakan:”Kami mentakwil”, Begitu juga mereka mentakwil

Sedang kalian berdua adalah dua kelompok yang aniaya

Kalian keduanya menyelisihi nash

Namun terdapat perbedaan antara kalian berdua

Mereka menyelisihi nash dengan nash serupa

Yang mereka tidak paham cara menyatukan dengan baik

Namun kalian telah selisihi al manshush karena

Syubhat yang mana ia adalah fikrah benak kalian[38]

Dengan dasar apa kalian lebih baik dan lebih dekat

daripada mereka kepada al haq dan al iman

Mereka dahulukan al mafhum dari lafadl Al Kitab

terhadap al hadits yang memberikan penjelasan

Namun kalian dahulukan pendapat orang

terhadap keduanya, maka apa kalian adil?

Ataukah mereka kepada Islam lebih dekat daripada kalian?

Telah nampak waktu pagi bagi yang memiliki dua mata

Allahlah memutuskan di antara kalian di hari pembalasan

dengan adil, obyektif dan timbangan.

Inilah sedang kami dari mereka bahkan dari kalian

berlepas diri kecuali dari petunjuk dan bayan.

Inilah sungguh telah jelas di hadapanmu dalam uraian yang lalu mu’amalah Ali dan orang-orang yang bersamanya terhadap Khawarij haqiqiyyin mariqin, di mana mereka tidak mendhalimi sedikitpun dari hak-haknya, mereka mengajaknya munadharah, dan mensuratinya berulang kali sebelum qital, serta tidak memulai memerangi mereka sampai mereka membunuh kaum muslimin dan menjarah harta dan ternak mereka. Dan sebelum perang dilakukan mereka menyeru mereka: “Siapa yang menjauhi qital atau musuh Kufah dan Madain maka dia aman”, kemudian juga perlakuannya dalam memerangi mereka, bahwa mereka tidak menghanimah hartanya, tidak merampasnya bahkan justru mengembalikannya kepada auliyanya serta memberikannya kepada ahli waris mereka. Ini semua disertai adanya hadits-hadits yang menganjurkan untuk membunuh mereka di mana saja didapatkan, dan menyerupakannya dengan pembunuhan ‘Aad, serta bahwa mereka itu seburuk-buruknya orang-orang yang terbunuh, juga bahwa terdapat pahala dalam membunuh mereka.

Dan semua itu dari Ali radliyallahu ‘anhu, sebagai bentuk tatsabbut, dan kehati-hatian dalam darah orang-orang yang intisab kepada millah, dan kegembiraannya tidak dahsyat dengan membunuh mereka kecuali saat yakin bahwa mereka itu orang-orang yang dimaksud dalam banyak hadits saat beliau menemukan Dzuts Tsadyah di antara para korban terbunuh, kemudian meskipun demikian beliau saat ditanya tentang mereka: “Apakah mereka itu musyrikin?” beliau berkata: “Dari syirik mereka lari”. Terus ditanya: “Apakah munafiqun?” beliau berkata: “Sesungguhnya munafiqin tidaklah mengingat Allah kecuali sedikit”.[39]

Mana fiqh salaf radliyallahu ‘anhum, wara’ mereka dan obyektifitas mereka termasuk terhadap Khawarij mariqin; dari sikap aniaya dan kezaliman khawalif (orang-orang kemudian) yang berlaku aniaya terhadap kaum muwahhidin pada zaman kita ini.

(4) Tinjauan Keempat

Di antara keserupaan kaum khawalif yang suka menebar berita bohong dengan Khawarij adalah istidlal mereka dengan nushushul Kitab dan As Sunnah tanpa pemahaman, atau pengkajian atau pandangan, serta penempatan ucapan ulama bukan pada tempatnya.

Mereka menyerupai Khawarij dalam sifat yang dilabelkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa mereka “membaca A Qur’an sembari tidak melewati tenggorokan mereka” yaitu tidak melewatinya untuk sampai ke hati yang mana ia adalah tempat akal dan pemahaman.

Di mana kaum khawalif menelusuri bantahan-bantahan salaf terhadap Khawarij, dan mengambil takwil mereka bagi kekafiran yang ada pada firman-Nya ta’ala “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir” saat Khawarij menempatkannya terhadap setiap orang yang maksiat kepada Allah, bahkan mereka menempatkannya dan juga ayat-ayat yang semisalnya -sebagaimana yang lalu- terhadap Al Hakamain, Ali, Muawiyyah dan para pengikut mereka.

Terus para khawalif itu (baca salafi maz’um) mengambil ucapan-ucapan salaf tentang bantahan mereka terhadap perbuatan Khawarij ini, terus menukilnya kepada selain tempatnya yang tepat, dan menempatkannya terhadap kaum murtaddin dan musyrikin dari kalangan para thaghut hukum yang telah melakukan beraneka warna dan ragam kekafiran yang nyata dan kemusyrikan yang jelas, yang panjang penjabaran, penjelasan serta penelusurannya.

Terus mereka menjadikannya dengan perbuatan dan tadlis mereka ini; (sebagai kufrun duna kufrin) atas lisan salaf yang padahal pada zaman mereka sama sekali tidak pernah ada bandingan-bandingannya.

Dan ini diambil oleh orang-orang dari kalangan tokoh mereka atas dasar kurang amanah dalam hal bergaul dengan dalil-dalil dan nushush, sebagaimana yang kami ketahui mereka. Dan umumnya mereka serabutan di dalamnya karena kekurangan pemahaman mereka, tipisnya fiqh mereka serta kelemahan pengetahuan mereka terhadap dilalat ayat Al Kitab dan asbab nuzulnya, sebagaimana ia keadaan Khawarij, ini dengan berbaik sangka terhadap mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: (Dan bid’ah-bid’ah pertama seperti bid’ah Khawarij, itu terjadi hanya berasal dari buruknya pemahaman mereka akan Al Qur’an, padahal mereka tidak bersengaja menentangnya, namun mereka memahami dari apa yang tidak ditunjukkan oleh nash itu, kemudian mereka mengira bahwa itu mengharuskan takfier para pelaku dosa, karena orang mu’min itu adalah orang yang baik lagi bertaqwa. Mereka berkata: “Orang yang bukan baik lagi bertaqwa maka dia itu kafir dan kekal di neraka”, terus mereka berkata: Utsman, Ali dan yang loyal kepada keduanya bukanlah kaum mu’minin, karena mereka memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan. Sehingga bid’ah mereka itu memiliki dua muqaddimah:

Pertama: Bahwa orang yang menyelisihi Al Qur’an dengan amalan atau dengan      pendapat yang ia keliru di dalamnya maka ia kafir.

Dan kedua: Bahwa Utsman, Ali dan yang loyal kepada keduanya adalah seperti itu…) Majmu Al Fatawa cet Dar Ibnu Hazm 13/20.

Saya berkata: Tatkala para sahabat membantah mereka dan mendebatnya dalam macam pemahaman-pemahaman yang sakit ini, maka datanglah al mujadilun ‘anith thawaghit (para pembela para thaghut), terus mereka mengambil bantahan para sahabat itu dalam konteks kondisi itu, seperti ucapan mereka (kufrun duna kufrin) atau (bukan kekafiran yang kalian yakini) dan ucapan serupa yang disandarkan kepada mereka sedang sebagiannya pada sanad-sanadnya ada perbincangan, kemudian mereka menempatkan itu terhadap kemusyrikan para musyari’in (pembuat hukum/UU) yang nyata dan kekafiran para pakar undang-undang yang nyata jelas.

Syaikhul Islam berkata juga 13/112: Awal perpecahan dan munculnya bid’ah di dalam Islam adalah setelah terbunuhnya Utsman dan pecahnya kaum muslimin, kemudian tatkala Ali dan Mu’awiyyah sepakat atas tahkim, maka Khawarij mengingkari dan berkata: “Tidak ada putusan kecuali milik Allah”, serta mereka meninggalkan jama’atul muslimin. Maka Ibnu Abbas diutus kepada mereka, kemudian beliau mendebat mereka, maka setengah mereka rujuk…) hingga ucapannya: (…bahkan mereka berkata: Sesungguhnya Utsman, Ali dan yang loyal kepada keduanya telah memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir” terus mereka kafirkan kaum muslimin dengan hal ini dan yang lainnya.

Sedangkan Takfier mereka itu dibangun di atas dua muqaddimah yang bathil:

Pertama : Bahwa ini menyelisihi Al Qur’an.

Kedua : Bahwa orang yang menyelisihi Al Quran adalah kafir, walaupun ia keliru atau merasa dosa seraya meyakini wajib dan pengharaman).

Perhatikan ini baik-baik dan pahami benar, karena sesungguhnya takfier Khawarij terhadap kaum muslimin dan para imam mereka yang memberlakukan syari’at Allah, tatkala itu terjadi karena berdasarkan muqaddimah yang rusak lagi bathil ini, maka salaf seperti Ibnu Abbas dan yang lainnya[40] mendebat mereka dan membantah mereka dengan bantahan yang lalu, dan oleh sebab itu Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma berkata sebagaimana yang telah lalu tentang Khawarij:

هم شرار الخلق انطلقوا إلى آيات أنزلت في الكفار فجعلوها على المؤمنين).

(Mereka itu makhluk yang paling buruk, mereka mengambil ayat-ayat yang diturunkan tentang kuffar terus mereka menjadikannya terhadap mu’minin).

Terus datang kaum khawalif itu yang mana mereka adalah orang yang paling serupa dengan kebodohan pemikiran Khawarij dan kekurangpahaman mereka serta kekerdilan fiqh mereka, dan mereka mengambil ungkapan-ungkapan salaf tentang kaum muwahhidin dengan dosa, terus mereka menjadikannya buat para thaghut murtaddin dan buat kaum musyrikin wal mulhidin, dengannya mereka membentengi dari kekafirannya yang nyata dan kemusyrikannya yang jelas, serta dengannya mereka mendorong pada leher orang yang mengkafirkannya dari kalangan muwahhidin!![41]

(5) Tinjauan Kelima

Dan di antara penyerupaan orang-orang tersebut terhadap Khawarij juga adalah penamaan mereka dan penyebutan mereka terhadap thaghutnya yang membuat hukum dan kaum murtaddin dengan sebutan imamul muslimin atau amirul mu’minin, pembai’atan mereka terhadapnya dan tidak mempertimbangkan satupun dari syarat-syarat imamah syar’iyyah, atau memperhatikan keterpenuhan hal itu pada mereka, bahkan mereka itu lebih buruk dari Khawarij dalam hal itu. Di mana engkau telah mengetahui bahwa awal Khawarij membai’at setelah mereka keluar dari keamiran Ali dan celaan terhadap keamiran Utsman, seorang arab badui yang tidak terpenuhi padanya syuruthul imamah, namun dia muslim, dan bahwa mereka menamakan selain orang Quraisy dari kalangan yang tidak diijmakan umat sebagai amirul mu’minin, dan dengan itu sungguh mereka telah menyelisihi Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagaimana yang dikatakan Al Qadli ’Iyadl:

(اشتراط كون الإمام قرشياً مذهب العلماء كافة، وقد عدّوها في مسائل الإجماع، ولم ينقل عن أحد من السلف رضي الله عنهم أجمعين فيه خلاف، وكذلك من بعدهم في جميع الأمصار، قال:  ولا اعتداد بقول الخوارج ومن وافقهم من المعتزلة)

(Pensyaratan status imam dari Quraisy adalah madzhab ulama seluruhnya, dan mereka telah menghitungnya dalam masailul ijma, dan tidak dinukil dari seorangpun dari salaf radliyallahu ‘anhum penyelisihan dalam hal ini, dan begitu juga orang-orang sesudah mereka di seluruh negeri, beliau berkata: Dan tidak dianggap pendapat Khawarij dan yang sejalan dengan mereka dari kalangan Mu’tazilah).[42]

Saya katakan: Bila Khawarij tidak mempertimbangkan syarat Quraisyiyyah dalam imamah, dan sebagian mereka tidak melarang dari imamah wanita sebagai mana yang dilakukan Syabibiyyah, tapi mereka tidak terperosok sama sekali dalam lobang yang mana kaum khawalif terperosok di dalamnya, karena mereka membolehkan imamah bagi kaum murtaddin, dan mereka membai’atnya sebagai para imam bagi kaum muslimin!! Sehingga dengan itu mereka tidak menyisakan satupun dari syarat-syarat imamah syar’iyyah melainkan mereka menggugurkannya, dan yang paling teratas adalah Al Islam, sehingga dengan hal itu dalam hal ini mereka lebih buruk dan lebih buruk dari Khawarij, di mana mereka membaiat kaum murtaddin dan musyrikin dari kalangan ath thawaghit al musyari’in wal muhakkimin (yang memberlakukan) undang-undang kafir, yang mana mereka itu memerangi dienullah dan ajaran-Nya lagi loyalitas terhadap kuffar barat dan timur. Mereka serahkan tangan mereka dan hati mereka terhadapnya, terus menggolongkan setiap orang yang khuruj terhadap mereka atau menentang mereka seraya berupaya mengingkari dan merubah kekafiran dan kebathilan mereka sebagai bagian dari bughat!! dan Khawarij!!

أولى ليدفع عنه فعل الجاني
ولذاك عند الغِرّ يشتبهان
فرموهم بغياً بما الرامي به
يرمي البريء بما جناه مباهتاً

Mereka tuduh mereka secara aniaya dengan tuduhan yang mana si penuduh

lebih berhak, untuk menolak/melindungi perbuatan orang yang aniaya darinya.

Ia menuduh orang yang terbebas dengan apa yang ia perbuatnya secara menfitnah

Oleh sebab itu keduanya hampir serupa bagi yang meneliti.

6.   Tinjauan Keenam

Mesti dikarenakan telah nampak di hadapan anda dari uraian yang lalu bahwa sikap aniaya dan perbuatan sebagian Ghulat Murji-atil ‘Ashri dan para duat jahmiyyah masa kini yang membela-bela para thaghut dan anshar mereka, lagi memerangi para muwahhidin dan dakwahnya, menjadikan mereka dengan sebab itu lebih buruk dari Khawarij, itu label yang sering sekali mereka alamatkan kepada para muwahhidin, padahal kaum muwahhidin hanya keluar menentang kuffar dan murtaddin, dan mereka tidak khuruj terhadap para pemimpin yang adil dari kaum muslimin dan mu’minin. Jadi khuruj mereka itu ketaatan murni, karena ia realisasi ‘amaliy bagi tauhid serta bara’ah dari syirik dan tandid.

Maka tidak ragu lagi bahwa kaum khawalif itu dengan sikap aniayanya terhadap kaum muwahhidin karena ketaatannya ini adalah lebih buruk dan lebih sesat lagi lebih busuk dari Khawarij yang aniaya kepada kaum muslimin karena sebab maksiat dan dosa sesuai klaim mereka.

Maka tidaklah aneh bila Syuraih Al Qadli berkata tentang murjiah:

هم أخبث قوم).

“Mereka itu kaum yang paling busuk”.

Dan Az Zuhriy berkata:

ما ابتدعت في الإسلام بدعة أضر على أهله من الإرجاء).

“Tidak dilakukan bid’ah di dalam Islam yang lebih berbahaya terhadap pemeluknya kecuali Irja”.

Dan berkata Yahya Ibnu Katsir dan Qatadah:

ليس شيء من الأهواء أخوف عندهم على الأمة من الإرجاء).

“Tidak ada suatu dari ahwa yang lebih mereka takutkan terhadap umat ini daripada irja”.

Ibrahim An Nakhaiy berkata:

لَفتنتهم – يعني المرجئة-أخوف على هذه الأمة من فتنة الأزارقة)… أي الخوارج

“Sungguh fitnah mereka -yaitu murjiah- adalah lebih ditakutkan atas umat ini dari fitnah Azariqah…) yaitu Khawarij.[43]

Ini padahal sesungguhnya perbuatan Murjiah terdahulu dengan Ahlus Sunnah hanya terbatas di awal mulanya pada masalah nama dan lafadh, yaitu perbedaan dalam definisi iman saja, serta dalam masalah masuknya amalan dalam penamaannya. Namun demikian tidak seorangpun dari para pendahulu mereka mengajak kepada sikap tafrith dalam amal atau meninggalkan amalan fardlu, apalagi dari sikap menutupi dengan paham irjanya kekafiran orang-orang kafir, kemusyrikan kaum musyrikin dan ilhad kaum murtaddin… tidak sama sekali, justeru di antara mereka ada ahli ibadah dan kaum zuhud, serta di tengah mereka ada ‘amilun dan mujtahidun.[44]

Namun irja setelah itu telah menjadi jalan untuk menyampaikan kepada madzhab Ghulatul Murjiah yang dikafirkan oleh sebagian salaf; dan yang tumbuh darinya irja kufriy yang tegas-tegasan penganutnya pada hari menyatakan bahwa (tidak berbahaya beserta adanya klaim tashdiq atau keyakinan yang benar suatupun dari mukaffarat dhahirah baik bersifat ucapan ataupun perbuatan sebagaimana berpaling dari jenis amal dan berpaling dari dien serta melepaskan diri dari faraidl secara total tidaklah berbahaya terhadapnya pula).

Dan ini adalah dalil yang menunjukkan kuatnya firasat salaf radliyallahu ‘anhum dan kuatnya bashirah mereka di mana mereka sangat dasyat pengingkarannya terhadap murjiah awa-il (pertama), padahal mereka itu tidak menampakkan sedikitpun dari kekafiran dan tidak pula melegalkan atau membolehkannya.

Namun salaf mengetahui dengan pandangan mereka yang tajam dan mendapatkan bahwa madzhab ini akan menghantarkan tanpa ragu lagi kepada keberlepasan dari dien dan meloloskan diri dari syari’atnya.

Pengaruh irja yang buruk pada hari ini serta tingkah laku Afrakhul Murjiah (Neo Murji-ah), keduanya menguatkan terhadap hebatnya pemahaman dan ketanggapan salaf, karena irja senantiasa terus menyimpang dengan penganutnya sehingga mengeluarkan ghulat mereka dari dien dan menjerumuskan mereka ke dalam mukaffirat.

Dan masalahnya telah menghantarkan sebagian mereka kepada sikap memudahkan kekafiran, melegalkannya, menutupi kemusyrikan dan para pelakunya, menfatwakan kebolehannya dan kebolehan ikut serta di dalamnya atau kebolehan nushrahnya, melindunginya dan tawalli kepada para pelakunya.

Sehingga tidaklah mengherankan bila An Nakha’iy mengatakan dengan firasatnya tentang para pendahulu murjiah dan cikal bakal mereka: Sungguh fitnah mereka itu lebih ditakutkan terhadap umat ini daripada fitnah Azariqah”. Terutama sesungguhnya asal madzhab Khawarij sebagaimana ditegaskan Syaikhul Islam adalah (pengagungan Al Qur’an dan upaya mengikutinya)[45] namun mereka disesatkan oleh keberpalingan dari sunnah yang menjelaskan Al Qur’an, serta hal lainnya berupa perilaku mereka dan hawa nafsu mereka yang tercela yang telah lalu yang menyesatkan mereka. Adapun para ekor murjiah yang busuk, maka sesungguhnya mereka dengan talbis-talbisnya itu mengurai ikatan-ikatan Al Qur’an, Al Islam dan Al Iman satu demi satu, dan mereka mempermudah masalah pelanggaran hududullah, serta mengenteng-enteng dari melakukan pembatal-pembatalnya.

Maka mereka atas dasar ini lebih buruk dari Khawarij, nama yang selalu mereka tuduhkan kepada kaum muwahhidin.

7.   Tinjauan ketujuh

Ini… dan ketahuilah di penutup pasal ini: bahwa tuduhan yang dialamatkan khushum tauhid terhadap ahluttauhid dan para du’atnya dengan label (Khawarij) yang dibenci oleh seluruh Ahlul Islam, ia adalah lagu lama bagi Ahlul bida, mereka mewarisinya dari satu sama lain. Ini adalah sunnatullah pada makhluk-Nya, yaitu Dia menjadikan para pewaris bagi setiap kaum.

Sebagaimana para Nabi memiliki para pewaris yang mengikuti tapak lacak mereka dan membela tauhid mereka -semoga Allah ta’ala menjadikan kita bagian dari mereka- maka begitu juga musuh dan lawan mereka memiliki para pewaris, kaum munafiqin memiliki pewaris, para penggembos memiliki pewaris, para mudallisin dan para mulabbisin juga memiliki para pewaris, mereka saling mewarisi kebathilan dan syubhatnya, serta saling menyebarkannya di setiap zaman, mereka menggunakannya dalam mempromosikan bid’ah-bid’ahnya dan dalam mencela terhadap ahlul haq dan ashhabuththaifah al manshurah.

فالبهت (عندهم) رخيص سعره           حثواً بلا كيل ولا ميزان

Fitnah itu bagi mereka adalah murah harganya

Mereka meraup tanpa takaran dan timbangan

–          Dan telah lalu bait-bait qashidah Nuniyyah Ibnu Qayyim yang diberi nama Al Kafiyah Asy Syafiyah Fil Intishar Lil Firqah An Najiyah), di dalamnya ada penjelasan bahwa mubtadi’ah biasa mencap Ahlus sunnah sebagai Khawarij.

–           Di antara hal itu juga apa yang diriwayatkan Al Khallal dalam As Sunnah dari Al Imam Ahmad Ibnu Hanbal, bahwa ia berkata: (Telah sampai kepadaku bahwa Abu Khalid dan Musa Ibnu Manshur dan selain keduanya duduk-duduk di sisi itu, dan mereka mencela orang-orang yang mengkafirkan, serta mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami mengatakan dengan pendapat Khawarij” kemudian Abu Abdillah tersenyum seperti orang yang dongkol). Majmu’ah Fatawa Ibnu Taimiyyah 6/476 cet Dar Al Kitab Al Ilmiyyah.

–           Dan di antara hal itu apa yang dinukil Asy Syathibiy dari Al Hafidh Abdurrahman Ibnu Baththah, setelah beliau mengeluhkan dari fitnah ahli zamannya dan orang-orang yang menyelisihinya, dan tuduhannya dengan berbagai tuduhan dan gelar, di mana beliau berkata: (saya dahulu berada pada suatu keadaan yang menyerupai keadaan Al Imam yang masyhur Abdurrahman Ibnu Baththah Al Hafidh bersama orang-orang zamannya, di mana beliau menghikayatkan tentang dirinya: saya heran dari keadaan saya di saat safar dan saat menetap baik bersama orang-orang terdekat maupun orang-orang yang jauh, baik bersama orang-orang yang kenal maupun orang-orang yang tidak kenal, sesungguhnya saya mendapatkan di Mekkah, Khurasan dan tempat lainnya, mayoritas orang yang saya temui di sana baik yang sejalan atau yang berseberangan, dia mengajak saya untuk mengikuti apa yang dia ucapkan, membenarkan ucapannya dan menjadi saksi baginya. Kemudian bila saya membenarkan apa yang dia katakan dan mengiyakannya, maka ia menamakan saya muwafiq, dan bila saya memprotes sesuatu pada ucapannya atau pada perbuatannya, maka ia menamakan saya mukhalif, dan bila saya menyebutkan pada satu dari hal itu bahwa Al Kitab dan As Sunnah menyelisihi hal itu maka ia menamakan saya kharijiy, dan bila saya bacakan kepadanya suatu hadits tentang tauhid maka ia menamakan saya musyabbih, dan bila tentang ru’yah (melihat Allah), maka ia menamakan saya salimiy, dan bila tentang Al Imam maka ia menamakan saya Murji’iy, serta bila tentang amalan maka ia menamakan saya Qadariy…”.

Hingga ucapannya: “…..Bila saya menyetujui sebagian mereka maka selainnya memusuhi saya, dan bila saya bermudahanah kepada seluruh mereka maka saya membuat murka Allah Tabaraka Wa Ta’ala, sedangkan mereka tidak bisa menolong saya sedikitpun dari adzab Allah, dan sesungguhnya saya berpegang teguh kepada Al Kitab dan As Sunnah, serta saya memohon ampun Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Asy Syathibi berkata: (Inilah kelanjutan hikayat, seolah beliau rahimahullah berbicara atas nama lisan semua, jarang sekali engkau dapatkan ‘alim masyhur atau orang baik yang tenar melainkan ia telah digunjing dengan hal-hal ini atau sebagiannya, karena hawa nafsu sering merasuki mukhalif, bahkan penyebab keluar dari sunnah adalah jahil akannya dan hawa nafsu yang diumbar yang dominan terhadap ahlul khilaf, kemudian bila demikian keadaannya maka shahibussunnah dituduh bukan shahibussunnah dan terus ia dituduh buruk dan negatif agar gelar-gelar jelek itu disandangkan (kepadanya).

Dan telah dinukil dari penghulu para ahli ibadah setelah shahabat (Uwais Al Qarni) bahwa beliau berkata: (“Sesungguhnya al amru bil ma’ruf dan an nahyu ‘anil munkar, keduanya tidak meninggalkan bagi orang mu’min seorang temanpun, kita memerintahkan mereka dengan al ma’ruf, maka mereka malah mencerca kehormatan kita, dan mereka mendapatkan atas itu kawan-kawan pendukung dari orang-orang fasiq, sampai -demi Allah- mereka itu telah menuduh saya dengan tuduhan-tuduhan besar, dan demi Allah saya tidak meninggalkan untuk berdiri di tengah mereka dengan haqnya”). Al I’tisham1/31-33 secara ikhtishar.

Sama dengan itu juga apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam bahwa (Jahmiyyah dan Mu’tazilah hingga hari ini menamakan orang yang menetapkan suatu dari shifat sebagai musyabbih -sebagai bentuk dusta dan pengada-adaan dari mereka- sampai di antara mereka ada orang yang ghuluw dan menuduh para Nabi shalallahu ‘alaihim wa sallam dengan tuduhan itu, sampai berkata Tsumamah Ibnul Asyras salah seorang tokoh jahmiyyah: Tiga orang dari para Nabi Musyabihah, Musa di mana ia berkata “Tidak lain ia adalah cobaan-Mu”, dan Isa di mana ia berkata: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Diri-Mu”, dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam di mana ia berkata: “Tuhan kita turun….”.

Sampai sesungguhnya seluruh Mu’tazilah mamasukkan seluruh para imam, seperti Malik dan pengikutnya, Ats tsauri dan pengikutnya, Al Auza’iy dan para pengikutnya, Asy Syafi’iy dan para pengikutnya, Ahmad dan para pengikutnya, Ishaq Ibnu Rahwiyah, Abu ‘Ubaidah dan yang lainnya dalam jajaran Musyabbihah.

Abu Ishaq Ibrahim Ibnu Utsman Ibnu Dirbas Asy Syafiy telah menyusun sebuah juz yang beliau namakan (Tanzihu Aimmatisy Syari’ah ‘Anil Alqab Asy Syani’ah) di dalamnya beliau menuturkan ucapan salaf dan yang lainnya dalam makna-makna bab ini, dan beliau sebutkan bahwa Ahlul Bida masing-masing kelompok dari mereka menggelari Ahlus sunnah dengan gelar yang dia buat-buat -dia mengklaim bahwa ia adalah shahih menurut pendapatnya yang rusak- sebagaimana kaum musyrikin dahulu menggelari Nabi dengan gelar-gelar yang mereka ada-adakan. Dan Rafidlah menamakan Ahlus sunnah sebagai Nawashib.[46]

Qadariyyah menamakan mereka Mujabbirah.

Murjiah menamakan mereka Syakkak (orang-orang yang ragu)[47]

Jahmiyyah menamakannya Musyabbihah.

Dan Ahlul Kalam menamakannya Hasyawiyyah, Nawabith (orang-orang yang ngaco dari para pemula), Ghutsa’ dan Ghutsr (orang-orang rendahan), serta gelar-gelar serupa. Sebagaimana Quraisy menggelarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebutan Orang gila, terkadang tukang syair, terkadang dukun dan terkadang orang yang mengada-ada.

Mereka berkata: Ini adalah tanda warisan yang shahih dan mutaba’ah yang sempurna…) Hingga ucapannya: (… Dan orang yang menghikayatkan ucapan-ucapan dari manusia, dan ia menamakan mereka dengan nama-nama yang diada-adakan ini berdasarkan aqidah dia yang mana mereka menyelisihinya di dalamnya, maka dia diserahkan kepada Tuhannya, sedangkan Allah selalu mengawasi, dan tipudaya yang buruk itu tidak mengenai kecuali terhadap pelakunya). Dari Majmu Al Fatawa, cet Dar Ibnu Hazm 5/72-74.

–          Dan hal serupa juga dengannya adalah apa yang dikatakan murid beliau Al ‘Allamah Ibnul Qayyim dalam qashidahnya yang diberi nama (Al Kafiyah Asy Syafiyah Fil Intishar lil Firqah An Najiyah); (Pasal tentang Tanzihu Ahlil Hadits Wasy Syari’ah ‘Anil Alqab Al qabihah Asy syari’ah):

حاشاهم من إفك ذي بهتان
أولى ليدفع عنه فعل الجاني
ولذاك عند الغر يشتبهان
ومجسمين وعابدي أوثان    وهم الروافض أخبث الحيوان)
بالنواصب شيعة الرحمن
يرمونهم كذباً بكل عظيمة
فرموهم بغياً بما الرامي به
يرمي البريء بما جناه مباهتاً
سمّوهم حشوية ونوابتاً
وكذاك أعداء الرسول وصحبه
نصبواالعداوةللصحابة ثم سموا

–         إلى قوله:

لكم يا معشر الإخوان
في الناس طائفتان مختلفان
والوارثون لضده فئتان
ما عندهم في ذاك من كتمان
هم أهلها لا خيرة الرحمن
وراّثة بالبغي والعدوان
فاسمع وعِهْ يا مَنْ له أذنان
شيئاً وقالوا غيره بلسان
بين الطوائف قسمة المنّان
سلوان من قد سُبَّ بالبهتان
ومشبهٍ لله بالإنسان
كمحمدٍ ومذممٍ اسمان
عن شتمهم في معزل وصيان
في اللفظ والمعنى هما صنوان
للمشبه هكذا الإرثان
أهلٌ لكل مذمةٍ وهوان
واسم الموحد في حمى الرحمن
ولدى المعطل هُنَّ غير حسان
من غير بوابٍ ولا استئذان
لا تشقنا اللهم بالحِرمان
بسرائرٍ منكم وخبث جنان
ورسوله بالعلم والسلطان
أحدٌ ولو جُمعت له الثقلان
قد جاء بالآثار والقرآن
أخذوا الظواهر ما اهتدوا لمعان
هذا وثم لطيفة عجب سأبديها
لابد أن يرث الرسول وضده
فالوارثون له على منهاجه
إحداهما حرب له ولحزبه
فرموه من ألقابهم بعظائم
فأتى الألى ورثوهمُ فرموا بها
هذا يُحقّق إرث كلّ منهما
والآخرون أولو النفاق فأضمروا
هذي مواريث العباد تقسمت
هذا وثم لطيفة أخرى بها
تجد المعطّل لاعناً لمجسمٍ
واللهُ يصرفُ ذاك عن أهل الهدى
هم يشتمون مذمماً ومحمدٌ
صان الإله محمداً عن شتمهم
كصيانة الأتباع عن شتم المعطل
والسبُ مرجعه عليهم إذ همُ
وكذا المعطل يلعن اسم مشبهٍ
هذي حسانُ عرائسٍ زُفّت لكم
والعلمُ يدخل قلبَ كل موفقٍ
ويردّهُ المحرومُ مِنْ خُذْلانه
موتوا بغيظكمُ فربي عالمٌ
فاللهُ ناصر دينه وكتابه
والحق ركنٌ لا يقومُ لهدّه
وقد تقدم قوله:ومن العجائب أنهم قالوا لمن
أنتم بذا مثل الخوارج إنهم

Mereka menuduh mereka secara dusta dengan segala tuduhan besar

Sungguh jauh mereka dari tuduhan pembawa fitnah

Mereka menuduhnya secara aniaya dengan tuduhan yang mana si penuduh

lebih layak dengannya untuk menghindarkan darinya perbuatan si pelaku

Dia tuduh orang bebas dengan apa yang dia lakukan seraya memfitnah.

Oleh karena itu keduanya sama bagi yang memiliki cahaya

Mereka menamakannya Hasyawiyyah dan Nawabit

Juga Mujassimun dan Penyembah berhala, padahal mereka

dan begitu juga musuh-musuh Rasul dan sahabatnya

Adalah Rafidlah, hewan yang paling buruk[48]

Mereka pasang permusuhan pada sahabat terus mereka namai

Syi’aturrahman dengan sebutan Nawashib.

Hingga ucapannya:

Inilah dan di sana ada hal unik yang akan saya tampakkan

kepada kalian wahai ma’syaral ikhwan

Rasul dan lawannya mesti diwarisi

di tengah manusia oleh dua kelompok yang bertentangan.

Para pewaris beliau di atas minhajnya

dan para pewaris lawannya dua kelompok

yang satu memerangi beliau dan barisannya

dalam hal ini mereka tidak menutup-nutupi

Mereka menuduhnya dengan gelar-gelar yang sangat buruk

yang padahal merekalah yang lebih berhak bukan manusia pilihan Ar Rahman

Terus datang para pewaris mereka, kemudian dengannya mereka menuduh

para pewaris Rasul secara aniaya dan permusuhan

Ini merealisasikan warisan masing-masing dari keduanya

maka dengar dan pahamilah hai orang yang memiliki telinga dua

Dan yang lainnya kaum munafiqin, mereka sembunyikan

sesuatu dan mengatakan lain dengan lisan mereka

Inilah warisan para hamba yang terpilah

di antara banyak kelompok pembagian Al Mannan

Ini dan di sana ada keunikan lain yang dengannya

terhibur orang yang telah dihina dengan fitnah

Engkau dapati Mu’aththil melaknat orang mujassim

dan orang yang menyamakan Allah dengan manusia

Allah palingkan itu dari Ahlul huda

seperti Muhammad dan Mudzammam adalah dua nama[49]

Mereka mencela Mudzammam sedang Muhammad adalah

jauh dan terjaga dari celaan mereka

Al Ilah telah menjaga Muhammad dari celaan mereka

dalam lafadh dan makna keduanya berbeda

seperti keterjagaan para pengikut dari celaan Mu’aththil

terhadap Musyabbih, begitulah dua warisan

Humpatan kembali terhadap mereka karena mereka

pantas bagi setiap keburukan dan kehinaan.

Begitu juga Al Mu’aththil melaknat nama musyabbih

sedang nama muwahhid dalam lindungan Ar Rahman

Inilah gadis cantik pengantin disandang buat kalian

dan menurut Mu’aththil mereka itu tidak cantik

Ilmu itu masuk ke hati setiap orang yang Dia luruskan

tanpa ada penjaga pintu dan tanpa minta izin

Dan ia ditolak oleh orang yang terhalangi karena kehinaannya

Ya Allah jangan binasakan kami dengan keterhalangan”.

Matilah kalian dengan kedongkolan, karena Tuhanku mengetahui

segala rahasia dari kalian dan keburukan hati

Allah pasti menolong dien, dan Kitab-Nya

juga Rasul-Nya dengan ilmu dan kekuatan

Kebenaran itu adalah pilar yang tak mampu menghancurkannya

seorangpun walau jin dan manusia kumpul untuknya

Dan telah lalu ucapannya:

Sungguh tergolong aneh mereka mengatakan kepada orang

yang datang dengan atsar dan qur’an:

Kalian dengan ini seperti Khawarij, bahwa mereka

mengambil dhawahir namun tidak mengerti akan maknanya.

Hingga akhir bait-bait beliau rahimahullah yang berkaitan dengan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s