Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 32 Mengkafirkan Setiap Orang Yang Tidak Mengkafirkan Para Thaghut dengan Klaim Bahwa Dia Belum Kufur kepada Thaghut

(31)

Mengkafirkan Setiap Orang Yang Tidak Mengkafirkan Para Thaghut

dengan Klaim Bahwa Dia Belum Kufur kepada Thaghut

Termasuk kekeliruan yang sering terjadi (dalam takfier) juga adalah mengkafirkan setiap orang yang tidak mengkafirkan para thaghut dengan klaim bahwa ia belum merealisasikan tauhid karena ia tidak kufur terhadap mereka.

Memang sesungguhnya kufur terhadap para thaghut adalah separuh tauhid dan syaratnya, sedangkan orang yang tidak kufur terhadap para thaghut adalah tidak berpegang pada al ‘urwah al wutsqa, dan berarti dia itu termasuk jajaran kuffar yang binasa. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. (Al Baqarah: 256)

Akan tetapi apakah takfier thaghut itu adalah salah satu syarat dari syarat-syarat sahnya kufur terhadapnya?

Dalam arti : Apakah setiap orang tidak menempatkannya atau menganutnya dari kalangan yang intisab kepada Islam, meskipun karena kejahilan dan ketertipuan dengan keberadaan shalat, ibadah dan pengakuan Islam si thaghut itu, bahwa dia itu bukan muslim karena belum kufur terhadap thaghut?

(Ketahuilah…) kami sama sekali tidak menyepelekan pentingnya takfier para thaghut dan tidak pula mengajak untuk menelantarkannya atau untuk tidak mempelajarinya, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang atau sebagaimana yang mereka tafsirkan kepada makna ini dari ucapan kami itu, sama sekali tidak seperti itu. Dan setiap orang yang mengenal kami dan fokus kami terhadap masalah ini, bahkan kami tidak menulis kecuali tentangnya (takfier thaghut semuanya) dan tentang hal-hal yang berkaitan dengannya.

Akan tetapi kami hanya mengajak kepada ta-shil (pembakuan masalah sesuai dengan dalil), tafshil (perincian) dan pengikatan ungkapan dengan dalil-dalilnya yang shahih lagi sharih (terang).

Adapun lontaran-lontaran yang hanya bersumber semangat (hamaasiyyah) yang kosong (dari dalil) adalah sama sekali tidak berfaidah untuk kebenaran. Dan kami tidak butuh terhadap ungkapan-ungkapan hamaasiyyah yang mujmal (global), yang disangka air oleh orang yang haus, dan masih mendingan andai dia tidak mendapatkan apa-apa saat mendatanginya, tapi ternyata dia mendapatkannya racun yang mematikan!!

Klaim yang dilontarkan oleh sebagian orang bahwa takfier thaghut adalah salah satu syarat sahnya kufur terhadap thaghut adalah sama sekali mereka itu tidak mendatangkan dalil, ya kecuali lontaran-lontaran sebagian ulama mutaakhirin. Sedangkan ya memang perkataan ulama itu dijadikan sebagai penentuan jalan, akan tetapi ia itu tidak diajadikan dalil namun disesuaikan dengan dalil.

Asy Syaukaniy berkata:

( الشرط هو ما يؤثر عدمه في عدم المشروط ولايؤثر وجوده في وجوده ، فلا يثبت إلا بدليل يدل على أن  المشروط يعدم بعدمه وذلك إما بعبارة مفيده لنفي الذات والصحة مثل أن تقول: لا صلاة لمن لا يفعل كذا ، أو لمن فعل كذا … إلى قوله: وأما مجرد الأوامر فغاية ما يدل عليه الوجوب ، والواجب ما يستحق فاعله الثواب بفعله والعقاب بتركه ، وذلك لا يستلزم أن يكون ذلك الواجب شرطا ، بل يكون التارك له آثما ،وأما أنه يلزم من عدمه العدم فلا. وهكذا يصح الإستدلال على الشرطية بالنهي الذي يدل على الفساد المرادف للبطلان إذا كان النهي عن ذلك الشيء لذاته أو لجزئه لا لأمر خارج عنه. )أهـ. من السيل الجرار (1/157-158).

(Syarat adalah sesuatu yang ketidakadaannya berpengaruh pada ketidakadaannya masyruth (yang disyaratkan) dan keberadaannya tidak berpengaruh pada keberadaan masyruth itu, maka syarat tidak tsabit, kecuali dengan dalil yang menunjukkan bahwa masyruth itu tidak ada dengan ketidakadaannya. Dan itu bisa dengan ungkapan yang memberikan faidah terhadap penafian dzat dan keabsahan, seperti engkau mengatakan: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak melakukan ini, atau bagi orang yang melakukan itu….”, hingga ucapan beliau (Asy Syaukaniy): Dan adapun sekedar perintah, maka status tertinggi apa yang ditujukan adalah al wujub (kewajiban), sedangkan wajib itu adalah sesuatu yang mana pelakunya berhak mendapatkan pahala dengan sebab melakukannya dan (mendapatkan) siksa dengan sebab meninggalkannya. Dan ini tadi memastikan si kewajiban itu menjadi syarat, namun orang yang meninggalkannya mendapat dosa. Adapun bahwa ia memestikan tidak adanya status dengan sebab ketidakadaannya, maka sama sekali tidak seperti itu.

Dan begitu juga sah berdalil utuk menunjukkan sesuatu itu sebagai syarat dengan larangan yang menunjukkan al fasad (kerusakan) yang bermakna al buthlan (batilnya suatu hal) bila larangan dari sesuatu itu karena dzatnya atau karena bagiannya bukan karena hal yang diluar darinya. As Sail Al Jarar 1/157-158.

Dan sekarang kami bertanya: Mana dalil yang jelas dan terang dari firman Allah atau sabda Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa takfier thaghut itu berstatus sebagai syarat sah menjauhi ibadah terhadap thaghut atau (syarat sah) kufur terhadapnya yang mana ia (kufur terhadapnya) adalah syarat yang disepakati untuk sahnya Islam?? Di mana mesti dari ketidakadaan syarat ini pada orang yang mengaku Islam tidak adanya Islam serta batalnya Islam orang itu meskipun dia itu kafir terhadap thaghut, dengan makna bahwa ia kafir terhadap ibadahnya, menjauhi ajaran dan hukumnya yang bathil lagi menjauhi tawalliy terhadapnya dan mendukungnya.

Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman seraya memberi kabar gembira pada hamba-hamba-Nya:

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-Nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” (Az Zumar: 17)

Maka dengan dalil apa orang-orang yang berlebihan itu memutus dan menghalangi serta menggugurkan kabar gembira ini yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya yang menjauhi ibadah terhadap thaghut dan kembali kepada Tuhan mereka karena sekedar samar atas mereka kekafiran sebagian para thaghut dengan sebab ketidaktahuan mereka akan keadaan para thaghut itu atau mereka menduga adanya maani’ (penghalang) syar’iy yang menghalangi mereka dari mengkafirkan thaghut-thaghut itu??

Saya katakan: Dahulu pernah saya berdebat dengan sebagian al ghulaah al mutahammisin (orang-orang yang berlebihan yang terlalu semangat) sekali terhadap ungkapan (di atas) ini. Tatkala saya bertanya kepada mereka dengan pertanyaan ini, ternyata tidak menyebutkan satu dalil pun yang shahih dilalah (indikasinya) terhadap hal itu dari Al Kitab dan As Sunnah.

Dan ternyata patokan mereka dalam hal ini hanyalah terhadap perkataan Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah yang isinya:

( أصل دين الإسلام وقاعدته أمران:

الأول: الأمر بعبادة الله وحده لا شريك له ، والتحريض على ذلك والموالاة فيه ، وتكفير من تركه.

والثاني: الإنذار عن الشرك في عبادة الله والتغليظ في ذلك ومعاداة فيه ، وتكفير من فعله ، فلا يتم مقام التوحيد إلا بهذا ) أهـ.

Ashlu Dienil Islam dan kaidahnya ada dua:

Pertama :P erintah untuk beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu baginya Dorongan (ajakan) atas hal itu.

Loyalitas di dalamnya

Dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya

Ke dua : Berhati-hati dari syirik dalam ‘ibadatullah.

Bersikap keras dalam hal itu

Mu’aadaah (melakukan permusuhan) di dalamnya.

Dan mengkafirkan orang yang melakukannya. Maka kedudukan tauhid tidak sempurna kecuali dengan hal ini.

Para pemuda itu terbang membawa perkataan Syaikh di sini: “Penghati-hatian dari syirik dalam ‘ibadatullah, bersikap keras dalam hal itu, melakukan permusuhan di dalamnya serta mengkafirkan orang yang melakukannya”.

Mereka girang dengan perkataannya (dan mengkafirkan orang yang melakukannya), terus mereka menjadikannya pokok dienul Islam, mereka mengibarkan al wala dan al bara di atasnya, dan dengannya mereka menjalin muwalah dan mu’adah, serta siapa yang meniggalkannya atau melakukan taqshir di dalamnya maka ia telah kafir menurut mereka.

Padahal teks perkataan Syaikh di akhir ungkapannya adalah jelas lagi terang yang menjelaskan bahwa dalam ithlaq-nya ini ada rincian yang menggabungkan dari hal-hal tersebut sesuatu yang mana ia adalah taabi (yang mengikuti) terhadap ashlul Islam dan sesuatu yang mana ia adalah tergolong konsekuensi-konsekuensi dan kewajiban-kewajibannya. Dimana beliau berkata: “maka tauhid tidak sempurna kecuali dengan ini”, beliau maksudkan dengan kesempurnaan kedudukan tauhid.

Dan beliau tidak mengatakan “maka tidak sah atau tidak diterima” yang mana ia adalah kata-kata yang digunakan dalam syarthiyyah (sesuatu yang menjadi syarat) yang mesti dari ketidakadaan itu tidak adanya dan batalnya (hukum)

Hal ini dijelaskan dan dikuatkan dengan keberadaan bahwa hal-hal yang disebutkan oleh Syaikh tidak sama semuanya, tetapi di antaranya ada yang tergolong ashlud dien dan syarat-syaratnya yang mana keislaman seseorang tidak sah kecuali dengannya, seperti ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya dan meninggalkan syirik dalam ibadah kepada-Nya subhanahu wa ta’ala.

Dan di antaranya ada yang tergolong kewajiban-kewajiban dien dan tauhid atau lawaazim (konsekuensi-konsekuensinya) dan ikatan-ikatannya, seperti dorongan (ajakan) atas hal itu (tauhid), dakwah kepadanya serta loyalitas di dalamnya.

Dan begitu juga mu’aadaah (permusuhan) dalam syirik, ada rincian di dalamnya. Keberadaan inti (pokok) permusuhan terhadap syirik dan para pelakunya secara umum di dalam hati adalah tergolong syarat-syarat Islam dan tauhid. Adapun penampakannya, pernyataannya secara terang-terangan dan pemaparannya, maka ini tergolong lawaazim tauhid dan penyempurnaannya (yang wajib) bukan tergolong syarat-syaratnya.

Semua ini diketahui dan dipahami dengan cara meninjau pada dalil-dalil syra’iy yang wajib menjadi acuan dalam ta-shil di atasnya, bukan pada ucapan-ucapan para ulama yang bisa saja keliru.

Dan kalau bukan seperti itu, yaitu bila yang menjadi acuan menurut mereka itu adalah ucapan-ucapan ulama serta ta-shil dan taq’id (penerapan kaidah) adalah dibangun di atas ucapan-ucapan itu, maka mereka tidak akan tidak mendapatkan ucapan-ucapan lain yang seperti ucapan-ucapan Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab ini, ucapan milik beliau atau ulama Najd lainnya dalam masalah ini.

Di antara yang sejenisnya adalah ucapan beliau dalam Risalah fi Ma’na Thaghut, ada dalam Majmu’ah At Tauhid dan ada juga dalam Majmu Muallafat Asy Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab 1/376:

( فأما صفة الكفر بالطاغوت فهو أن تعتقد بطلان عبادة غير الله وتتركها وتبغضها وتكفر أهلها وتعاديهم. ) أهـ

(Dan adapun tata cara kufur terhadap thaghut adalah: Engkau meyakini bathilnya peribadatan kepada selain Allah, meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan para pelakunya dan memusuhi mereka). Dan yang serupa dengannya sangat banyak.

Sudah maklum ucapan ini adalah haq dan ia secara global adalah tidak ada bantahan dan kepada seperti hal ini kami mendakwahkan serta dengan seperti hal itu kami mengkhithabi manusia. Ya kecuali bila bagian-bagian yang mulia ini (maksudnya tata cara kufur terhadap thaghut yang lima itu) disamaratakan dan dijadikan semuanya dalam satu tingkatan yaitu syarthiyyah yang mesti dari ketidakadaannya tidak adanya status, maka pada keadaan ini wajib adanya penjabaran dan penjelasan sebagaimana yang telah kami ketengahkan, maka hal itu adalah pemahaman salah yang tidak boleh dinisbatkan kepada ucapan Syaikh kecuali bila ada penegasan beliau terhadapnya atau pernyataannya akan hal itu..[1]

Sebagaimana juga wajib dalam ucapan beliau ini tanbih (memberikan pengingatan) atas penuturan beliau terhadap muthlaqnya memusuhi hamba thaghut dalam tata cara kufur terhadap thaghut yang terkadang bisa dipahami syarthiyyah darinya. Serta mendesaknya memberikan rincian dalam hal ini antara wajibnya keberadaan permusuhan ini sebagai syarat bagi tauhid dengan dianjurkan penampakkannya yang tidak mampu dilaksanakannya oleh setiap orang dan tidak wajib atas setiap manusia.

Sejenis dengannya ucapan Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman dalam risalah beliau tentang penjelasan makna Thaghut dan sikap menjauhinya hal 271 dalam Juz Al Murtad dari Ad Durar As Saniyyah, seandainya para ghulaat itu mendapatkannya, tentulah mereka girang dengannya, beliau berkata setelah menuturkan ayat-ayat menunjukkan wajibnya menjauhi thaghut:

( فأخبر أن جميع المرسلين قد بعثوا باجتناب الطاغوت فمن لم يجتنبه فهو مخالف لجميع المرسلين. )

ثم قال: ( والمراد من اجتنابه هو بغضه وعداوته بالقلب وسبه وتقبيحه باللسان وإزالته باليد عند القدرة ومفارقته فمن ادعى اجتناب الطاغوت ولم يفعل ذلك فما صدق ) أهـ.

(Allah mengabarkan bahwa semua al mursalin (para rasul) diutus untuk menjauhi thaghut, siapa yang tidak menjauhinya maka ia menyelisihi semua al mursalin) kemudian berkata: (Dan yang dimaksud menjauhinya adalah membencinya dan memusuhinya dengan hati, mencela dan menjelek-jelekkannya dengan lisan, melenyapkannya dengan tangan saat mampu serta meninggalkannya. Siapa yang mengklaim menjauhi thaghut tapi ia tidak melakukan hal itu, maka ia tidak benar). Selesai

Perhatikanlah, bagaimana beliau menjadikan dalam muthlaq ucapannya, bahwa orang yang tidak menjelek-jelekan thaghut dan tidak mencelanya dengan lisan adalah tidak benar (jujur) yaitu dia dusta dalam pengakuannya telah menjauhi thaghut, padahal tashrih (terang-terangan) mencela thaghut dan menjelek-jelekannya dengan lisan adalah tidak wajib atas setiap orang. Dan apakah semua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan lagi terang-terangan mencela para thaghut kaum mereka atau justru mayoritas mereka sembunyi-sembunyi? Dan apakah boleh dikatakan tentang mereka padahal keadaannya seperti itu bahwa mereka itu menyalahi semua para Rasul atau bahwa mereka itu tidak benar dalam sikap mereka menjauhi thaghut itu?

Adapun hinaan (celaan), sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya terutama setelah Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang beliau dari hal itu supaya mereka tidak menghina Allah secara aniaya tanpa dasar ilmu, bagaimana? Padahal sesungguhnya mereka itu telah menjadikan dakwah beliau kepada tauhid, bara’ahnya dari para thaghut mereka serta tahdzirnya dari ibadah kepadanya dengan cara menjelaskan bahwa thaghut-thaghut (berhala-berhala) itu tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar dan tidak bermanfaat sedikitpun bagi mereka, mereka menjadikan hal itu sebagai hinaan terhadap tuhan-tuhan mereka, sebagaimana mereka menjadikan (menganggap) penjelasan beliau akan kekeliruan dan kesesatan nenek moyang mereka dalam mengibadati thaghut-thaghut itu sebagai celaan (hinaan) terhadap mereka dan nenek moyang mereka.

Maksud saya dari ber-istithraad (menguraikan yang di luar bahasan) ini adalah saya ingin mengingatkan bahwa perkataan para syaikh itu bukan Qur’an dan bahwa mereka itu tidak ma’shum, jadi kekeliruan itu tanpa ragu lagi ada saja pada mereka, serta sesungguhnya ucapan mereka dan ucapan selain mereka selain Al Ma’shum shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukanlah hujjah dalam dien kita, namun demikian sesungguhnya termasuk sikap ihsan terhadap mereka dan sikap inshaf (adil/objektif) dalam ber-ta’aamul dengan tulisan-tulisan mereka adalah menafsirkan ucapan mereka satu sama lain, yang muthlaq ditafsirkan dengan yang muqayyad dan yang mujmal ditafsirkan dengan perkataan mereka yang mufassar (jelas dan rinci). Dan termasuk ‘amanah ‘ilmiyyah dan sikap jujur dalam dienullah adalah memahami ucapan-ucapan mereka yang muthlaq atas pedoman ‘aqidah ahlus sunnah dan thariqah para ulama dalam melontarkan wa’id (ancaman)

Dan itu sesungguhnya thariqah mereka sebagaimana yang diketahui oleh setiap orang yang telah mengenal baik tulisan-tulisan mereka adalah berdiri di atas sikap ta’dhim terhadap posisi tauhid, mubalaghah dalam menampakkannya, penjelasan pentingnya perealisasian lawaazim-nya dan melaksanakan kewajian-kewajiban serta ikatan-ikatannya, dan berdiri di atas sikap keras terhadap syirik, kecaman terhadap para pelakunya dan bersifat sangat dalam tanfir darinya dengan cara mubalaghah dalam mengingkari setiap yang memiliki kaitan dengannya meskipun hal itu hanya termasuk sarana yang bisa menghantarkan kepadanya dan bukan syirik yang nyata.

Sampai akhirnya mereka dan ulama-ulama yang datang setelah mereka dari kalangan cucu-cucu mereka membutuhan untuk menjelaskan kemusykilan ithlaqat (lontaran-lontaran) itu atas sebagian orang.

** Baik dari lawan-lawan mereka yang berupaya mengecamnya dengan sebab sebagian ithlaqat itu dan menisbatkan kepada mereka apa yang tidak pernah mereka ucapkan, yaitu tuduhan mengkafirkan semua manusia atau takfier semua orang yang menyelisihi mereka dan tuduhan (yang tidak tepat) ini bukan hanya dari para pengikut madzhab-madzhab yang ta’ashshub atau orang-orang quburiyyun yang bodoh saja, bahkan di antara mereka ada ulama salafiyyun muhaqqiqun semisal Al ‘Allamah Asy Syaukaniy yang mana beliau berkata tentang Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab dan para pengikutnya (akan tetapi mereka memandang bahwa orang yang tidak berada dalam daulah penguasa Nejd dan (tidak) merealisasikan perintah-perintahnya adalah di luar Islam). Al Badr Ath Thaali Bi Mahaasini Mann Ba’dal Qarnis Saabi’ 2/7.

Dan juga Syaikh Muhammad Shiddiq Hasan dalam kitabnya Turjuman Al Wahabiyyah mengumumkan bara’ah ahlil hadits dari al wahhabiyyin.

Dan Syaikh Anwar Syah Al Kasyimiriy, beliau menuturkan bahwa Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab terlalu tergesa-gesa pada hukum-hukum takfier. Dan yang lainnya…

Dan lihat dalam hal itu dan dalam pembelaan terhadap Syaikh (Muhammad) serta tentang bantahan syubuhat dari dakwah beliau kitab (Da’aawaa Al Munawi-iin Li Da’wati Asy Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab) karya ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Muhammad Alu ‘Abdul Lathif dan (Mishbah Adh Dhalam Fir Radd ‘Ala Man Kadzaba ‘Alasy Syaikh Al Imam) dan (Minhajut Ta-sis wat Taqdis fi Kasyfi Syubuhat Dawud Ibni Jirjis) dan yang lainnya karya ‘Abdullatief Ibnu ‘Abdirrahman Alu Asy Syaikh.

** Atau dari sebagian orang-orang yang intisab kepada manhaj mereka dari kalangan orang yang menjadikan kendaraan ghuluw sebagai tunggangan dan telah lalu contoh-contoh dari hal ini.

Di antaranya apa yang telah lalu dari ucapan Syaikh ‘Abdul Lathif Alu Asy Syaikh dalam bantahannya terhadap dua orang dari Ahsa, keduanya telah meninggalkan Jum’ah dan jama’ah dan mengkafirkan kaum muslimin yang ada disana dengan dalih mereka duduk bersama dengan Ibnu Fairuz dan orang-orang yang semisal dengannya dari golongan yang tidak kufur terhadap thaghut dengan dalih bahwa ia tidak terang-terangan mengkafirkan kakaknya yang telah menolak dakwah Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab dan memusuhi dakwah itu (keduanya berkata dan siapa yang tidak terang-terangan (menyatakan) kekafirannya, maka dia kafir kepada Allah lagi kufur kepada thaghut, dan siapa yang duduk bersamanya, maka dia sama seperti dia, kemudian mereka menerapkan di atas dua muqadimah yang dusta lagi sesat ini hukum-hukum yang diterapkan pada kemurtadan yang nyata sampai-sampai mereka meninggalkan salam). Syaikh berkata:

( فرفع إليّ أمرهم،فأحضرتهم وهددتهم وأغلظت لهم ، فزعموا أولا أنهم على عقيدة الشيخ محمد بن عبد الوهاب ، وأن رسائله عندهم ، فكشفت شبهتهم وأدحضت ضلالتهم ، بما حضرني في المجلس ، وأخبرتهم ببراءة الشيخ من هذا المعتقد والمذهب.. . إلى آخر كلامه في رسالة باسم ( الإنكار على من كفّر المسلمين بغير ما أجمع عليه الفقهاء ) ضمن مجموعة الرسائل والمسائل النجدية (3/4-5)..

(Maka kasus mereka dilaporkan kepada saya, maka saya menghadirkan mereka, saya takut-takuti mereka dan saya kerasi mereka, kemudian pada awalnya mereka mengaku bahwa mereka itu berada di atas ‘aqidah Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab dan bahwa risalah-risalahnya ada pada mereka, maka saya bongkar syubuhat mereka dan saya gugurkan kesesatan mereka dengan apa yang hadir bersama saya di majelis serta saya kabarkan kepada mereka bara’ah Syaikh dari keyakinan dan madzhab ini, hingga akhir ucapannya dalam satu risalah bernama Al Inkar ‘Ala Man Kaffaral Muslimin Bi Ghairi Ma Ajma’a ‘Alaihil Fuqoha dalam Majmuatur Rasaa-il Wal Masaa-il An Najdiyyah 3/4-5

Dan diantaranya apa yang disebutkan oleh Asy Syaukaniy dalam Al Badr Ath Thaali’ 2/5:

( ولقد أخبرني أمير حجاج اليمن السيد محمد بن حسين المراجل الكبسي أن جماعة منهم – أي من أتباع الشيخ محمد بن عبد الوهاب – خاطبوه هو ومن معه من حجاج اليمن بأنهم كفار وأنهم غير معذورين عن الوصول إلى صاحب نجد لينظر في إسلامهم ، فما تخلصوا منه إلا بجهد جهيد.. ) أهـ.

(Dan sungguh amir jama’ah haji Yaman As Sayyid Muhammad Ibnu Husein Al Marajil Al Kabsiy telah mengabarkan kepada saya bahwa jama’ah dari mereka, yaitu dari kalangan pengikut Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab, menyampaikan kepada dia dan kepada jama’ah haji Yaman bahwa mereka itu adalah kuffar dan bahwa mereka tidak diudzur dari datang kepada penguasa Nejd supaya ia melihat keislaman mereka, sedangkan mereka tidak bisa melepaskan diri darinya kecuali dengan upaya yang sangat melelahkan…)

Dan telah lalu juga perkataan Syaikh ‘Abdullathif Alu Asy Syaikh dalam jabaran dan penjelasan Mujmal perkataan kakeknya Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab dalam bab-bab seperti ini yang terperdaya dengan sebagian Al Ghulaah, yaitu ucapannya:

( فإذا عرفت هذا ؛عرفت أن الإنسان لا يستقيم له إسلام ولو وحّد الله وترك الشرك إلا بعداوة المشركين والتصريح لهم بالعداوة والبغضاء ،كما قال تعالى: (( لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله ورسوله ))  )أهـ.

(Kemudian bila engkau mengetahui ini, maka ia mengetahui bahwa seseorang tidak istiqamah keislamannya meskipun dia mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi kaum musyrikin dan terang-terangan terhadap mereka dengan sikap dan permusuhan dan kebencian, sebagaimana firman-Nya: (Engkau tidak menemukan kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,” (Al Mujadilah: 22)))

Dimana Syaikh ‘Abdullathif berkata dalam kitabnya “Mishbahudh Dhalam”:

( والذي يفهم تكفير من لم يصرح بالعداوة من كلام الشيخ فهمه باطل ورأيه ضال.. )أهـ.

(Dan orang yang memahami pengkafiran orang yang tidak terang-terangan dengan sikap permusuhan dari ucapan Syaikh itu maka pemahamannya adalah batil dan pendapatnya adalah sesat..) Selesai.

Dan yang serupa dengannya adalah ucapan Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab tatkala ditanya tentang muwaalaah dan mu’aadaah: (Apakah ia termasuk makna laa ilaaha illallah atau termasuk lawazimnya?) maka beliau rahimahullah berkata:

( حسب المسلم أن يعلم أن الله افترض عليه عداوة المشركين ، وعدم موالاتهم ،وأوجب عليه محبة المؤمنين وموالاتهم. وأخبر أن ذلك من شروط الإيمان ، ونفى الإيمان عمن يواد من حاد الله ورسوله ولو كانوا آباءهم أو أبناءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم ) أهـ.

(Cukuplah bagi orang muslim dia mengetahui bahwa Allah mewajibkan kepadanya untuk memusuhi kaum musyrikin dan tidak loyal terhadap mereka serta mewajibkan kepadanya untuk mencintai orang-orang mukmin dan loyalitas terhadap mereka, dan dia mengabarkan bahwa hal itu tergolong syarat-syarat iman serta dia menafikkan iman dari orang yang berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya meskipun mereka itu ayah-ayah, anak-anak saudara-saudara dan karib kerabat mereka)

Dan ucapan beliau tentang memusuhi kaum musyrikin bahwa ia adalah tergolong syarat-syarat iman, tidak dimaksudkan dengannya menampakkan permusuhan, terang-terangan dengannya dan menyatakannya di hadapan kaum musyrikin sebagaimana yang dilakukan Ibrahim dan para Rasul yang bersamanya serta para pengikutnya di atas jalan itu para pengibar panji Adh Dhahirah yang menegakkan dienullah.

Namun yang dimaksud dengannya hanyalah keberadaan ‘ashl (inti) permusuhan itu meskipun di dalam hati.[2]

Dan dari itu engkau mengetahui wajibnya ada perincian pada ucapan Syaikh Muhammad dan ulama lainnya, serta pentingnya membedakan antara pelontaran mereka akan wa’id denga takfier atau takfier muthlaq dalam kondisi-kondisi dakwah yang dibutuhkan, dengan penerapan hukum takfier itu pada individu-individu orang.

Sebagaimana wajib memahaminya sesuai alur ‘ushul (‘aqidah) ahlus sunnah, ini adalah termasuk berbaik sangka terhadap lontaran-lontaran Syaikh bagi orang yang mengetahui manhajnya, dan tidak menyamaratakan dalam menghukumi terhadap semua lontaran-lontarannya. Sehingga dikatakan untuk lontaran-lontaran semacam ini. bila dimaksudkan di sini ‘ashlul ‘adawah (inti permusuhan) dan keberadaannya di dalam hati, maka tidak apa-apa dari memahami ucapan itu seadanya dengan membawanya kepada maksud takfier. Dan bila dimaksudkan dengannya adalah umumnya permusuhan (berupa): penampakannya, rincian-rinciannya dan menyatakan terang-terangan dengannya, maka wajib adanya pengingatan (tanbih) bahwa ucapan ini tentang istiqomah keislaman bukan tentang lenyapnya ashul Islam (inti keislaman).

Inilah pemahaman yang kepada Allah memberi petunjuk orang yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan dihalangi serta dijauhkan darinya setiap orang yang mahrum (terhalangi).

Dan itu adalah bentuk ihsan kepada Syaikh dan tulisan-tulisannya terutama sesungguhnya beliau ini adalah manusia yang tidak ma’shum, dan ucapan beliau ini dicocokkan dengan dalil dan tidak dijadikan dalil. Apa yang selaras dengan kebenaran dari ucapannya itu maka kita terima, dan apa yang menyelisihinya maka kita tolak, karena ucapan beliau ini bukan dalil, sedangkan setiap makhluk diambil dan ditolak dari ucapannya kecuali al ma’shum shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bila hal ini dikatakan pada ucapan Imam dakwah najdiyyah, maka apalagi ucapan ulama-ulama muta’akhkhirin dari kalangan keturunan beliau dan para pengikutnya.

Sesungguhnya orang yang rajin membuka-buka lembaran ucapan mereka tidak akan tidak menemukan ithlaqat (lontaran-lontaran) da’awiyyah yang tidak dibatasi atau diberi taqyid; yang mana dimaksudkan darinya sebagaimana yang telah kami ketengahkan adalah mubalaghoh dalam mencabut akar syirik dan (bentuk) tahdzir darinya; yang bisa saja, bila tidak dipahami sesuai dengan ushul (aqidah) ahlus sunnah dan justru diperlakukan dengan cara thariqah orang-orang sesat, membawanya kepada apa yang diinginkan ahlul ghuluw.

Dan saya tidak melontarkan ungkapan ini secara serampangan, akan tetapi saya mengatakannya setelah tidak membiarkan satu kitabpun yang ditulis oleh para imam dakwah najdiyyah jatuh ke tangan saya di awal masa saya mencari ilmu melainkan saja telah mengkajinya, dan ucapan-ucapan semacam itu telah saya nukil banyak dalam kitab saya “Millah Ibrahim” dan lainnya, saya memberi catatan atas sebagiannya dan saya biarkan wa’id (nash yang berbentuk ancaman) pada sebagiannya seadanya tanpa komentar. Oleh sebab itu tatkala sebagian orang pemahamannya sempit melihat rincian kami dalam tempat-tempat seperti ini yang mana kami menghati-hatikan didalamnya dari kekeliruan-kekeliruan takfier, dia mengira bahwa hal itu kontradiksi dan dia menduganya sebagai bentuk teraju’ (ruju’) dan dia tidak perhatian pada perbedaan antara tulisan-tulisan kami yang bersifat dakwah yang mana di dalamnya kami lontarkan wa’id dan tarhib begitu saja serta kami bersifat keras terhadap seluruh kalangan yang menyimpang dari garis tauhid atau orang-orang yang melakukan taqshir akan lawaazim dan hak-haknya dan antara pembahasan tentang hukum-hukum takfier terutama takfier mu’ayyan serta apa yang dibutuhkan berupa kejelian dan rincian. Dan ia tidak memperhatikan untuk menyatukan antara perkataan kami ini dengan perkataan kami itu apa yang telah kami ketengahkan berupa sikap ulama membedakan antara takfier muthlaq dengan takfier mu’ayyan.

Di samping itu sesungguhnya saya mengetahui dari sela-sela pengkajian saya terhadap risalah-risalah para imam dakwah najdiyyah bahwa masalahnya tidak berhenti di tulisan-tulisan mereka itu pada ithlaqat da’awiyyah yang butuh pada rincian dan pemahaman yenga benar, akan tetapi masalahnya telah melampui pada sebagian ulama mutaakhirin mereka yang sangat terkenal semisal Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman, Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Alu Asy Syaikh serta bersamanya seluruh ulama ‘Aridl kepada syathahat (ketergelinciran yang jauh) yang tidak halal mengikuti mereka atas hal itu dan tidak ada peluang untuk menambalnya, dan dib antara syathahat itu secara pastinya adalah apa yang mereka lontarkan berupa fatwa-fatwa dan lontaran-lontaran yang salah tentang sikap terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka dan orang-orang yang membangkang terhadap imam mereka ‘Abdul ‘Aziz Kekasih (boneka) Amerika dan Inggris yang wajib hati-hati darinya.

Sungguh mereka telah mengkafirkan Duwaisy dan ‘Ujman dan para ikhwan yang bersama mereka yang khuruj terhadap imamnya!! ‘Abdul ‘Aziz dan mereka (para syaikh tadi) memvonis mereka murtad dan para syaikh itu menetapkan pada mereka perkataan Syaikhul Islam tentang orang yang datang kebarisan tentara Tartar serta bergabung dengan mereka, terus dia murtad dan halal darah dan hartanya, bahkan para Syaikh itu menjadikan mereka lebih layak divonis kafir dan murtad daripada orang itu.” Silahkan lihat Ad Durar As Saniyyah 7/334 Kitab Al Jihad.

Bahkan mereka mensyaratkan, dalam jawaban permintaan fatwa yang ditujukan oleh imam mereka, seputar diterimanya taubat orang yang bertaubat dari mereka dan datang seraya menyesali sikap khurujnya terhadap ‘Abdul ‘Aziz dan tuduhan sesat yang ia lontarkan terhadap para Syaikh yang membela-belanya, mereka mensyaratkan bara’ahnya orang yang taubat itu dari kaum yang khuruj terhadap ‘Abdul ‘Aziz dari kalangan para ikhwan, dan terang-terangan mengkafirkan mereka dan menjihadi mereka dengan tangan, harta dan lisan!!”, lihat sumber yang sama hal.330

Perhatikan hal ini dan hati-hatilah dari memperlakukan mereka seolah mereka orang-orang yang ma’shum atau menggunakan tulisan-tulisan mereka seolah tulisan yang tidak dihinggapi kekeliruan dari depan dan dari belakangnya.

Kita kembali ke bahasan semula, kami katakan: Sesunggunya orang-orang  yang bersikeras pada kekeliruan yang mana kami sedang mentahdzir darinya itu, sama sekali tidak mendatangkan untuk ta-shil mereka itu satu dalil shahihpun, karena perkataan manusia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah dalil. Allah berfirman:

”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya” (Al A’raf: 3)

Ta-shil bahwa setiap orang yang tidak mengkafirkan thaghut itu adalah tidak kufur terhadapnya, dalam arti bahwa dia itu hamba baginya (beribadah kepadanya) atau tidak menjauhinya sebagaimana yang terkadang diungkapkan oleh yang lainnya, semua itu membutuhkan dalil.

Dan diantara para ghulat ada orang yang memperluas makna menjauhi (thaghut) yang mereka pandang itu adalah syarat untuk keabsahan Islam, di mana mereka memasukkan di dalamnya menjauhi bekerja di (lembaga) pemerintahan thaghut meskipun dalam apa yang tidak diharamkan.[3]

Bahkan sebagian orang-orang dungu memasukan dalam hal itu menjauhi berhenti di lampu merah mereka dan menjauhi keterikatan dengan rambu-rambu lalu lintas mereka serta menjauhi penetapan tarif ongkos kendaraan umum mereka dan yang lainnya, mereka tidak menyayangi umat Muhammad dan mereka tidak mengasihi diri mereka sendiri dari penyimpangan dan kesesatan ini.

Karena makna kufur terhadap thaghut dan makna menjauhinya yang syar’iy yang merupakan tuntutan Rabbul ‘Alamin bukan apa yang dituntut oleh orang yang mempersulit diri dan ghuluw; adalah bisa dipahami dan diketahui dengan cara mengetahui makna hakikat ibadah terhadapnya dan (makna) menjadikannya sebagai nidd (tandingan) dan sekutu.

Dan diketahui dari definisinya bahwa ia adalah setiap orang yang diibadati selain Allah, sedang ia ridla dengan macam apa saja dari macam-macam ibadah yang menjadi kafir orang yang memalingkannya keapda selain Allah subhanahu wa ta’ala. Siapa yang memalingkan kepadanya ibadah shalat atau thawaf atau sembelihan atau nadzar atau do’a atau tha’ah dalam tasyri’ atau meyakini bahwa ia memiliki hak dalam (pembuatan hukum) itu, maka ia telah mengibadatinya dan menjadikannya sebagai rabb (Tuhan) dan thaghut…, maka yang seperti ini (orang) tidak menjadi muslim sehingga ia kafir terhadap ibadah kepadanya atau (terhadap) meyakini rububiyyah dan uluhiyyahnya.

Dan kufur terhadapnya di sini tdak berarti mengkafirkannya meskipun (takfier) itu satu konsekuensi dari konsekuensi-konsekuensinya atau salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajibannya. Dan makna kufur terhadapnya adalah hanya berarti bara’ah dari ibadah kepadanya dan dari kethagutannya serta kufur terhadap uluhiyyah dan rububiyyahnya dan dari status keberhakan dia akan dipalingkan kepadanya salah satu dari macam-macam ibadah dan ia adalah yang diungkapkan dengan ungkapan menjauhi ibadah terhadap thaghut dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah-Nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira” (Az Zumar: 17)

Firman-Nya di atas adalah sebagai tafsir dan penjelasan bagi firman-Nya subhanahu wa ta’ala yang mujmal:

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut,” (An Nahl: 36)

Dan tidak benar apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang tergesa-gesa berupa sikap yang mengambil ayat ini saja dan gembira dengan ithlaq kata menjauhi thaghut di dalamnya seraya menjauhkannya dari ayat lain yang menafsirkannya. Sungguh ini adalah thariqah orang-orang sesat yang mengikuti hal-hal yang samar dari Al Qur’an dan tidak mengembalikannya kepada Ummul Kitab berupa nash-nash yang menjelaskan lagi menafsirkannya.

Sungguh para ulama kita telah menjelaskan bahwa nash mujmal (yang global) bila diambil dengan menjauhkan dari nash mubayyin (yang menjelaskannya) maka ia menjadi mutasyabih. Begitu juga nash yang umum atau yang muthlaq bila diambil dengan menjauhkan dari nash mukhashshish (yang mengkhususkannya) atau nash muqayyad (yang ada batasannya) maka ia menjadi mutasyabih.

Dan itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan dalam rangka mencari-cari fitnah dan mencari takwilnya sebagai mana yang Allah sebutkan di awal-awal surat Ali ‘Imran.

Asy Syathibiy berkata: ((Sesungguhnya para pakar ijtihad tidak membatasi hanya berpegang pada (dalil) yang umum sehingga mereka mencari mukhashshish-nya dan pada (dalil) muthlaq apakah ia memiliki muqayyad atau tidak…?

Dalil ‘aam (umum) beserta khash-nya ia adalah dalil, bila khash tidak ada maka ‘aam ini menjadi -bila dimaksudkan yang khusus di dalamnya- tergolong mutasyabih dan hilangnya nash khusus menjadi kepalsuan dan kesesatan dari kebenaran.

Oleh karena itu Mu’tazilah dihitung tergolong ahluz zaigh dimana mereka mengikuti firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki.” (Fushilat: 40)

Dan mereka meninggalkan nash yang menjelaskannya

Begitu juga Khawarij, mereka mengikuti firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah.” (Yusuf: 40)

Dan meninggalkan nash yang menjelaskannya.

“Menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu”. (Al Maidah: 95)

Dan firman-Nya Ta’ala

”Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan”. (An Nisaa: 35)

Dan orang Jabriyyah mengikuti firman-Nya:

”Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

(Ash Shaffat: 96)

Dan meninggalkan penjelasannya yaitu firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

”Sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (At Taubah: 82).

Begitulah seluruh orang yang mengikuti sisi-sisi ini tanpa melihat apa yang ada di belakangnya. Dan seandainya mereka menggabungkan antara hal itu dan menyambungkan apa yang Allah perintahkan untuk menyambungkannya tentulah mereka sampai kepada apa yang dimaksud. Bila ini telah tetap maka bayan (penjelasan) itu bergandengan denagn mubayyan (nash yang butuh penjelasan), dan bila mubayyan diambil tanpa ada bayan maka ia menjadi mutasyabih, padahal ia itu bukan mutasyabih pada dirinya, akan tetapi orang-orang sesat memasukkan tasyabuh (kesamaran) di dalamnya terhadap diri mereka, sehingga mereka sesat dari jalan yang lurus.)) (Secara ikhtishar).

Saya berkata: Dan di antara hal itu adalah apa yang dilakukan oleh sebagian para ghulah, yaitu sikap yang memahami sisi menjauhi thaghut, -yang mana ia adalah rukun tauhid dan separuhnya- dan menafsirkannya dengan mutlak menjauhi, sehingga mereka memasukan di dalamnya bekerja di pemerintahan kafir meskipun pekerjaan itu yang tidak diharamkan. Dan menjauhi macam ini seandainya dihukumi sebagai mustahab (hal yang dianjurkan) tentulah tidak salah, dan kami sendiri mengajarkannya dan mengajak kepadanya, akan tetapi mereka itu menjadikan hal tersebut sebagai syarat bagi tauhid dan Islam, sehingga siapa yang melanggarnya dimana ia bekerja dengan status pegawai (dinas) apa saja, atau menuruti pemerintah atau thaghut dalam bentuk apa saja meskipun tergolong hal-hal yang mubah, maka ia kafir karena karena ia tidak menjauhi thaghut menurut mereka dan belum merealisasikan tauhid.

Dan kebenaran yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya bahwa yang dimaksud dengan menjauhi thaghut adalah:

“Menjahuhi beribadah kepadanya dengan macam apa saja dari macam-macam ibadah yang mana orang yang memalingkannya kepada selain Allah dikafirkan dan juga menjauhi tawalliy kepadanya serta nushrah (mendukung)nya”

Dan kami beri batasan ibadah itu dengan ucapan kami (yang mana orang yang memalingkannya kepada selain Allah dikafirkan) ini dikarenakan sebagian mereka memuthlaqkan ibadah itu dan mengambilnya dengan maknanya yang bersifat lughawiy (bahasa) bukan istilah syar’iy, sehingga orang itu memasukan ibadah pada hawa nafsu dan syaitan dalam hal itu, dengan arti mengikutinya (hawa nafsu dan syaitan) dan mentaatinya yang mana diantaranya ada yang merupakan kekafiran dan ada yang merupakan maksiat saja. Sehingga para ahli maksiat menurut dia adalah kuffar, makanya dia jatuh pada madzhab Khawarij dalam hal ini mau tidak mau.

Menurut mereka siapa yang menuruti pemerintah atau thaghut dalam maksiat maka dia telah kafir, karena sekedar taat (menuruti) menurut mereka adalah ibadah mukaffirah.

Bahkan di antara orang-orang dungu ada orang yang menjadikan taat pada thaghut meskipun dalam hal yang baik sebagai ibadah mukaffirah dan dia berupaya berdalih dengan dalih yang tidak Allah turunkan satu dalilpun akan hal itu, termasuk seandainya thaghut itu memerintahkan dia untuk melalukan wajibat syar’iyyah seperti shalat fardhu dan yang lainnya, terus dia mentaati perintahnya, tentulah dengan sebab itu dia menjadi musyrik lagi tidak menjauhi thaghut. Sungguh mereka tidak memperhatikan tafshil atau takwil (tafsiran) dalam hal itu.

Dan tanpa ragu lagi sesungguhnya ini adalah tergolong kesesatan yang nyata. Seandainya dikatakan oleh anak-anak kecil yang ingusnya keluar tentulah disangsikan keselamatannya.

Dan yang menjerumuskan mereka kepada lubang-lubang ini hanyalah buruknya ta-shil mereka serta pencampuradukkan yang mereka lakukan antara definisi-definisi istilah dengan bahasa, serta sikap mendahulukan yang terakhir dalam banyak lontaran menjadikan mereka menciptakan dien dan tauhid yang baru yang sama sekali tidak Allah turunkan satu dalilpun, samapai mereka menjadikan dengan pemahaman mereka yang sakit (pelaksanaan) menjauhi ibadah terhadap thaghut sebagai hal yang sangat sukar sekali terutama pada zaman ini, dimana tidak kuasa untuk merealisasikannya kecuali khawashul khawash (orang-orang khusus sekali) dari kalangan da’i, para mujahidin dan ahluts tshughur, apalagi orang-orang awam dari kalangan lanjut usia.

Dan dengan itu mereka hanya membatasi dienullah terhadap individu-individu yang bisa dihitung dengan jari-jari satu tangan dari kalangan orang-orang yang seperti mereka, baik mereka mau atau tidak, ini adalah kandungan ucapan mereka dan hakikatnya.

Sedangkan kebenaran yang tidak  boleh berpaling darinya, sesungguhnya ibadah terhadap thaghut itu merupakan kekufuran dengan memalingkan satu macam dari macam-macam ibadah terhadapnya, yang mana bila macam ibadah itu dipalingkan kepada selain Allah maka menjadi syirik yang mengeluarkan dari millah.

Taat menjadi kekafiran atau syirik bila ditaati dalam macam apa saja dari macam-macam mukaffirat (hal yang membuat kafir), bukan dalam sekedar maksiat dan muharramat.

Dan (taat itu) menjadi syirik juga bila dalam tahlil apa yang telah Allah haramkan atau tahrim apa yang telah Allah halalkan atau tasyri’ (pembuatan hukum) apa yang tidak Allah izinkan.

Dalam hal seperti ini bisa diterapkan rincian Syaikhul Islam tentang orang-orang yang mengikuti para rahib dan pendeta-pendeta mereka serta menurutinya selain Allah, dimana beliau menjadikannya dua macam:

Pertama   :Mereka mengetahui bahwa (para rahib dan pendeta) itu merubah dienullah (aturan Allah), terus mereka mengikuti para rahib dan pendeta itu atas tabdil (perubahan)nya itu, sehingga mereka meyakini tahlil apa yang telah Allah haramkan dan tahrim apa yang telah Allah halalkan karena menuruti tokoh-tokoh mereka, padahal orang-orang itu mengetahui bahwa mereka itu menyalahi dien para rasul, maka ini adalah kekafiran. Allah dan Rasul-Nya telah menjadikannya sebagai syirik, meskipun mereka itu tidak shalat dan sujud kepada mereka…

Ke dua   : Keyakinan mereka dan keimanannya terhadap tahrimul halal dan tahlilul haram masih tetap, namun mereka menurutinya dalam maksiat kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang muslim berupa maksiat-maksiat yang dia yakini bahwa itu adlaah maksiat, maka mereka itu memiliki status sama dengan para pelaku dosa. Majmu Al Fatawa Juz 7 Al Iman.

Rincian ini dijelaskan dan digamblangkan oleh tafsir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap makna menjadikan mereka sebagai arbab selain Allah penentuannya terhadap (bentuk) taat yang merupakan ibadah mukaffirah pada para rahib dan para pendeta, serta pembatasan ibadah mukaffirah itu pada sikap menuruti mereka dalam tahlilul haran atau tahrimul halal atau dalam tasyri’ yang tidak Allah izinkan, bukan pada suatu bentuk menuruti (tha’ah).

Dan oleh sebab itu Dia subhanahu wa ta’ala berfirman: “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai arbab” Dia menjadikan sifat yang mu’tabar dalam syirik mereka “menjadikan mereka sebagai arbab” yaitu ketaatan kepada mereka secara muthlaq (semua) sikap menuruti mereka. Dia subhanahu wa ta’ala mengatakan “menjadikan..” dan tidak mengatakan “mentaati para rahib dan pendeta-pendeta mereka,,” maka wajib memberikan batasan “menjadikan” dalam takfier karena sikap taat pada para thaghut, yang mana itu menunjukkan kepada tha’ah muthlaqoh (ketaatan secara muthlaq) dalam segala hal. Siapa yang menjadikan mereka sebagai pihak yang menghalalkan, mengharamkan lagi menetapkan hukum dalam apa yang tidak Allah izinkan dan memalingkan kepada mereka tha’ah muthlaqoh, maka itulah orang musyrik yang telah menjadikan mereka sebagai arbab, berbeda denagn orang yang mentaati mereka dalam maksiat murni.

Dan itu karena keadaan orang yang taat dalam haram yang mana ia tidak terang-terangan dengan maksudnya adalah muhtamal (masih ngambang) yang berputar antara maksiat murni dengan istihlal, maka wajib melihat pada keadaannya dan merinci saat menghukumi antara ini dan itu.

Dan atas dasar ini maka setiap orang yang menjauhi ibadatuth thaghut dan menjauhi tawalli kepadanya dan mengikutinya terhadap ajarannya yang kufur atau menurutinya dalam tasyri’nya yang kufur maka ia adalah orang yang menjauhi thaghut meskipun para ghulat itu dalam maksiat tanpa ada istihlal.

Sesungguhnya orang yang mengibadatinya atau menurutinya dan mengikutinya atas sesuatu dari hal itu maka dia kafir lagi tidak menjauhi ‘ibadatuth thaghut meskipun dia mengkafirkannya.[4]

Dan inilah macam tafsir yang paling tinggi dan paling agung, yaitu menafsirkan firman Allah yang mujmal dengan firman-Nya yang mubayyin. Firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan jauhilah Thaghut”

Dikembalikan kepada firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah-Nya”

Maka ini menunjukkan bahwa makna menjauhi thaghut ditafsirkan dengan menjauhi ibadah kepadanya.

Dan begitu juga firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut”

Ditafsirkan dengan hal itu dan (ditafsirkan) juga dengan firman-Nya ta’ala:

“Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu”

Maka ini menunjukkan bahwa berhakim kepada thaghut itu bertentangan dan kontradiksi dengan kufur terhadapnya.

Dan begitu juga ibadah terhadapnya dan juga tawalliy kepadanya berdasarkan firman-Nya:

”Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka” (Al Maidah: 51)

Dan ayat-ayat lainnya yang mengkafirkan orang yang tawalliy terhadap kuffar.

Inilah yang ditunjukkan oleh nash-nash yang sharih, dan inilah arah indikasinya.

Adapun penafsiran kufur dan ijtinab (menjauhi) dengan takfier saja dan menjadikannya sebagai syarat sah keislaman, maka tidaklah benar dan tidak tepat, dengan dalil bahwa kita diperintahkan untuk kufur terhadap ibadah pada setiap sesuatu selain Allah ta’ala meskipun itu bukan thaghut, seperti ‘Isa Ibnu Maryam, malaikat dan Ash Shalihin dari kalangan yang diibadati selain Allah, dan kita tidak diperintahkan untuk mengkafirkan mereka.

Dan begitu pula patung, sesungguhnya ia adalah thaghut yang diibadati selain Allah, maka wajib ijtinab ibadah terhadapnya dan bara’ah dari uluhiyyahnya dan inilah bentuk kufur terhadapnya, dan bukan takfier patung-patung itu, karena ia adalah benda-benda mati yang tidak bisa berfikir dan berbuat sehingga ia bisa menjadi kafir dan dikafirkan,

Sebagaimana tidak sah apa yang dijadikan kaidah baku oleh sebagian orang: Yaitu bahwa orang yang tidak mengkafirkan para thaghut dan (tidak) mengetahui bahwa itu adalah thaghut maka bagaimana bisa menjauhinya dan kufur terhadapnya, karena bagaimana mungkin ia bisa merealisasikan bara’ah darinya sedangkan ia tidak mengetahui bahwa itu adalah para thaghut…!

Karena yang dimaksud untuk merealisasikan sesuatu yang mana keselamatan tidak terbukti kecuali dengannya berupa tauhid yang merupakan hak Allah atas para hamba, dan yang dituntut agar orang masuk dalam kabar gembira yang Allah janjikan kepada hamba-hamba-Nya adalah ia merealisasikan iman kepada Allah ta’ala, menjauhi ibadah segala sesuatu selain Allah berupa para thaghut dan yang lainnya secara global dan menjauhi tawalliy kepada mereka, meskipun ia tidak menyebutkan mereka. Dan inilah hakikat bara’ah dari segala yang diibadati selain Allah dan tidak mesti tentunya atau tidak disyaratkan ia terang-terangan menyatakan bara’ahnya dari thaghut tertentu yang tidak dia ketahui dan tidak pernah ia dengar sehingga diduga bahwa ia itu menyekutukan (Allah) dengannya atau beribadah kepadanya, dan kalau tidak demikian tentulah di musyrik lagi tidak bara dari para thaghut…!

Siapa saja yang memiliki ashlul Islam atau menampakkan ciri-ciri khususnya atau rukun-rukun dan bangunan-bangunannya dan tidak tampak darinya sedikitpun pembatal dan pemutus keislamannya yang nyata, maka tidak boleh tawaqquf dari menghukumi keislamannya sampai dilihat, diuji dan ditanya tentang daftar tertentu dari kalangan para thaghut apakah dia kufur terhadapnya atau tidak? Dan daftar nama ini panjang dan bercabang-cabang serta sulit atas orang miskin itu sesuai dengan kerancuan pemahaman para ghulat serta beragam dalam penentuan makna thaghut!!

Para ulama hanya mensyaratkan dalam penerimaan keislaman orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah atau meyakini ketuhananya agar dia merealisasikan tauhid dan kufur terhadap thaghut, (mereka hanya mensyaratkan) dia itu bara’ dari peribadatan terhadap yang diibadatinya itu dan kufur terhadap uluhiyyahnya…, dengan disertai bara dia dari peribadatan terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah secara global. Para ulama itu berdalil atau hal itu dengan hadits:

( من قال ؛ لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله ، حَرُم ماله ودمه وحسابه على الله عز وجل ).

“Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dan dia kufur terhadap segala yang diibadati selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya adalah atas Allah ‘azza wa jalla”

Dan hadits:

( من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأن محمدا عبده ورسوله وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق ؛ أدخله الله الجنة على ما كان من العمل. )

“Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadati selain Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, kalimat-Nya yang Dia berikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya, dan (meyakini) surga itu hak dan neraka itu hak, maka Allah masukkan dia ke surga atas dasar amalan”.

Para ulama tidak mensyaratkan terang-terangan dengan sikap bara’ah dari daftar-daftar nama tertentu para thaghut, baik mereka itu para penguasa, para pendeta, tukang sihir atau dukun, atau mengkafirkan mereka, untuk menghukumi setiap orang yang telah memiliki ashlul Islam dan tauhid serta tidak beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak tawalliy kepadanya, sebagaimana yang diisyaratkan para ghulat.

Dan yang lalu itu juga dikuatkan dengan keberadaan bahwa takfier itu bukan termasuk makna kalimah tauhid dengan keberadaan bahwa takfier itu bukan termasuk makna kalimah tauhid (laa ilaaha illallaah) yang merupakan dakwah para rasul semuanya, sebaagimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.(Al Anbiya: 25)

Dan ini digabungkan pada firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (An Nahl: 36)

Maka satu sama lain saling menafsirkan.

Sungguh para ulama muhaqqiqin telah menafsirkan kalimah tauhid dengan penafsiran bahwa maknanya (tidak ada yang diibadati dengan hak kecuali Allah). Siapa yang merealisasikan makna ini maka ia muslim muwahhid, walaupun ia taqshir dalam kewajiban dan lawaazim-nya yang wajib di dalamnya adalah bayan dan pemberitahuan (ta’rif), dan di antara hal itu adalah rincian hukum-hukum takfier. Allah tidak mewajibkannya atas setiap orang mempelajarinya dengan rincian yang dituturkan oleh para ghulah.

Tidak ada dalam makna (Laa ilaaha ilallaah) baik syar’iy ishthilahiy yang telah disebutkan ataupun makna lughawi bahwa takfier orang yang menyelisihi dalam sesuatu dari bagian-bagiannya atau bara’ah darinya adalah tergolong syarat laa ilaaha illallaah itu.

Ya, bisa jadi hal itu terkadang termasuk lawaazim-nya atau kewajiban-kewajibannya atau hal-hal yang menyertainya, akan tetapi syarthiyyah (menjadi syarat sah) yang mesti dari ketidakadaannya tidak adanya masyruth (yaitu Islam) adalah tidak tsabit (terbukti) dengan sekedar klaim. Dan keadaan adalah atas syarthiyyah lebih tinggi di atas hal ini bagi orang yang mengetahui jalur-jalur cara berdalil dan orang yang membangun diennya di atas landasan-landasan yang benar.

Maka wajib atas orang yang mengklaim bahwa hal itu adalah syarat untuk mendatangkan dalil dan bukti, dan kalau tidak maka ia tergolong orang-orang yang berbicara atas nama Allah dan dien-Nya tanpa dasar ilmu.., “Katakanlah: “Datangkanlah dalil kalian, bila kalian memang benar””.

Dan bila mereka mengklaim hal itu tidak mendatangkan dalilnya yang shahih lagi sharih, maka mereka itu termasuk orang-orang yang berdusta.

Ingatlah, sesungguhnya kami tadi mengatakan “takfier orang yang menyelisihi dalam sesuatu dari bagian-bagiannya” dan kami maksudkan dengan ungkapan itu muthlaqul mukhalafah (sekedar penyelisihan) bukan mukhalafah muthlaqah (penyelisihan secara mutlak dalam segala hal)

Dan itu sebabnya, karena orang yang berbicara dalam masalah-maslah ini dari kalangan para ghulat yang terlalu tergesa-gesa (dalam takfier) mereka itu tidak mengikat ushul mereka dan tidak membatasi ucapan mereka, serta tidak mengetahui alur-alur istidlal dan sisi-sisi dilalah saat mereka bergaul dengan dalil, akan tetapi ia adalah lontaran-lontaran ngawur yang mereka tegakkan di atas bangunan rumput yang mudah roboh saat diselidiki dan diteliti.

Dan Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab sungguh telah ditanya tentang ucapannya dalam Al Muwalah dan Al Mu’adah, apa ia termasuk makna laa ilaaha illallaah atau termasuk lawaazim-nya?

Maka di antara yang beliau katakan: (Adapun status hal itu adalah termasuk makna laa ilaaha illallaah atau termasuk lawaazim-nya, maka Allah tidak menugaskan kita untuk membahas hal itu[5] namun Dia menugaskan kita untuk mengetahui bahwa Allah memfardlukan hal itu, mewajibkannya dan mewajibkannya mengamalkannya. Inilah yang fardlu dan keharusan yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Dan orang yang mengetahui itu termasuk maknanya atau termasuk lawaazim-nya, maka ia bagus dan tambahan kebaikan, dan orang yang tidak mengetahuinya, maka ia tidak diharuskan untuk mengetahuinya, apalagi bila perdebatan dalam hal itu dan berbantah-bantahan di dalamnya menyebabkan pada keburukan, perselisihan dan terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin yang telah melaksanakan kewajiban-kewajiban iman, mereka berjihad di jalan Allah, memusuhi kaum musyrikin dan loyal kepada kaum muslimin. Diam dari hal itu adalah harus, dan inilah yang nampak bagi saya bahwa perbedaan itu dekat dari sisi makna wallaahu a’laam.

Bahasan ini saya tutup dengan perkataan salah seorang pengikut beliau, yaitu Syaikh ‘Abdullah Ibnu ‘Abdirrahman Aba Buthain, beliau berkata dalam hal ini:

( وبالجملة فيجب على من نصح نفسه ألا يتكلم في هذه المسألة إلا بعلم وبرهان من الله ، وليحذر من إخراج رجل من الإسلام بمجرد فهمه واستحسان عقله ، فإن إخراج رجل من الإسلام أو إدخاله فيه أعظم أمور الدين ، وقد كفينا بيان هذه المسألة كغيرها  ؛ بل حكمها في الجملة أظهر أحكام الدين ؛ فالواجب علينا الإتباع وترك الابتداع كما قال ابن مسعود رضي الله عنه: ( اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم ) ، وأيضا فما تنازع العلماء في كونه كفرا فالاحتياط للدين التوقف وعدم الإقدام ما لم يكن في المسألة نص صريح عن المعصوم صلى الله عليه وسلم.

وقد استزل الشيطان أكثر الناس في هذه المسألة فقصّر بطائفة فحكموا بإسلام من دلت نصوص الكتاب والسنة والإجماع على كفره.

وتعدى بآخرين فكفّروا من حكم الكتاب والسنة مع الإجماع بأنه مسلم ،ومن العجب أن أحد هؤلاء لو سئل عن مسألة في الطهارة أو البيع ونحوهما لم يفت بمجرد فهمه أو استحسان عقله ؛ بل يبحث عن كلام العلماء ويفتي بما قالوه ، فكيف يعتمد في هذا الأمر العظيم الذي هو أعظم أمور الدين وأشد خطرا على مجرد فهمه واستحسانه.

فيا مصيبة الإسلام من هاتين الطائفتين ، ومحنته من تينك البليتين.

ونسألك اللهم أن تهدينا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين.

وصلى الله على محمد. ) أهـ. من الدرر السنية (8/217) كتاب حكم المرتد.  

(Dan secara umum wajiblah atas orang yang jujur pada dirinya sendiri untuk tidak berbicara dalam masalah ini, kecuali dengan ilmu dan dalil dari Allah. Dan hati-hatilah dari mengeluarkan orang dari Islam dengan sekedar pemahamannya dan anggapan baik akalnya, karena mengeluarkan orang dari Islam atau memasukkannya ke dalamnya adalah urusan dien yang paling besar. Kita sudah dicukupkan akan penjelasan masalah ini sebagaimana masalah lainnya, bahkan hukumnya secara umum adalah hukum-hukum dien yang paling nampak. Maka kewajiban kita adalah ittiba’ dan meninggalkan ibtida’ sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu:

“Mengikutilah dan jangan mengada-ada, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan”

Juga apa yang diperselisihkan oleh para ulama tentang statusnya bahwa itu kekufuran, maka sebagai kehati-hatian bagi dien ini adalah bersikat tawaqquf dan tidak memberanikan diri selama dalam masalah ini tidak ada nash yang jelas dari Al Ma’shum shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh syaithan telah menggelincirkan mayoritas manusia dalam masalah ini, di mana syaithan membuat taqshir satu kelompok sehingga mereka menghukumi keislaman orang yang mana nash-nash Al Kitab dan As Sunnah serta ijma telah menunjukan kekafirannya.

Dan dia telah membuat kelompok lain melampui batas, di mana mereka mengkafirkan orang yang padahal Al Kitab, As Sunnah dan ijma telah menghukumi bahwa dia itu muslim.

Anehnya sesungguhnya seseorang dari mereka bila ditanya tentang masalah dalam hal thaharah atau jual beli atau yang lainya, dia tidak berfatwa dengan sekedar pemahamannya dan anggapan baik akalnya, akan tetapi dia mencari perkataan ulama dan memfatwakan dengan apa yang mereka katakan, maka bagaimana ia berpatokan dalam hal besar ini yang merupakan urusan dien terbesar dan paling berbahaya terhadap sekedar pemahamannya dan anggapan baiknya.

Oh.. Musibah Islam dari dua kelompok ini, dan ujiannya dari dua bencana ini.

Kami meminta kepada Engkau Ya Allah agar menunjukkan kami ke jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri mereka nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. Wa shalallaahu ‘ala Muhammad). Ad Durar As Saniyyah 8/217 Kitab Hukum Murtad. [6]


[1] Maksudnya bahwa yang lima itu statusnya tidak sama, dan syaikh sendiri tidak menyatakan bahwa yang lima itu tingkatannya sama dan itulah yang ada dalam tulisan-tulisan beliau. Takfier nau’ pelaku syirik pasti diyakini oleh setiap mu’min, karena dia mengetahui bahwa Allah telah menegaskan dalam Al Qur’an dan saat dia tidak meyakininya, maka dia kafir dengan kufur takdzib dan juhud. Dan takfier mu’ayyan di samping mengetahui penegasan Allah tadi, harus juga disertai tidak adanya syubuhat…, sehingga bila keduanya terpenuhi maka saat tidak takfier, berarti jatuhnya pada kufur takdzib dan juhud juga.

Sehingga bila ada orang yang menjauhi ibadah terhadap semua thaghut dan dia hanya ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, namun dia tidak takfier sebagian thaghut karena ada syubhat padanya, maka dia muwahhid, meskipun bisa jadi dia adalah orang yang jahil atau sesat.

Di sisi lain ada orang yang beribadah kepada Allah dan dia menjauhi ibadah terhadap thaghut kecuali dalam satu hal, umpamanya dia ikut menyandarkan hak hukum kepada rakyat (demokrasi), dia mengikutinya karena taqlid mengikuti syubhat yang membolehkannya atau tidak tahu bahwa itu syirik maka dia bukan muslim.

Dalam takfier, syubhat menjadi pertimbangan sedangkan dalam meninggalkan ibadah terhadap thaghut maka sungguh syubhat tidak dianggap. (Pent.)

[2]Adanya permusuhan terhadap kaum musyrikin di dalam hati adalah syarat iman, sedangkan menampakkan permusuhan itu adalah kewajiban bagi yang mampu. (pent.)

[3] Seperti menjadi pegawai rumah sakit pemerintan tanpa ada sumpah setia kepada pemerintah atau negara atau UUD. (Pent.)

[4] Seperti orang yang mengkafirkan negara dan pemerintah Indonesia, tapi karena takut atau karena ingin dunia atau dalih mashlahat dia menjadi anggota DPR/MPR, atau bersumpah untuk setia kepada UUD atau Pancasila, atau ikut pemilu padahal tahu makna demokrasi, atau memuji pancasila atau UUD atau mengharuskan loyalitas pada pemerintah ini atau bentuk kekafiran lainnya. (Pent.)

[5] Namun orang yang inging takfier dengannya dan denga yang semisalnya, maka dia wajib mengetahui hal itu menentukan batasannya dan menggariskan kaidah dasarnya… Ini harus!!

[6] Penerjemah berkata:

Orang yang tidak pernah beribadah kepada semua thaghut, baik itu kuburan, pohon, batu, UUD 45, Undang-undang, para pembuat undang-undang tersebut, penguasa kafir, Pancasila, dukun, hakim, jaksa dan thaghut-thaghut lainnya, dia tidak tawalliy terhadapnya dan dia hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia itu muslim yang muwahhid meskipun tidak mengkafirkan thaghut-thaghut itu, baik karena kejahilannya atau karena adanya syubhat-syubhat yang  menghalanginnya dari takfier thaghut-thaghut itu.

Berbeda dengan orang yang tidak jahil akan dalil yang mengkafirkan thaghut itu dan tidak jahil akan realita yang dilakukan thaghut tersebut serta tidak ada syubhat-syubhat yang menghalanginya dari takfier thaghut itu, terus dia tidak mau mengkafirkannya dan justru menganggapnya sebagai muslim, maka dia itu kafir, dan kekafirannya adalah dari sisi dia mendustakan ayat Al Qur’an tentang takfier thaghut tersebut. Oleh sebab itu sebagian imam dakwah najdiyyah berkata: “Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan kaum musyrikin, maka dia itu tidak membenarkan Al Qur’an, karena Al Qur’an telah mengkafirkan kaum musyrikin dan memerintahkan untuk takfier mereka,” Ad Durar juz 9.

Sebaliknya (contoh:) Orang yang mengkafirkan thaghut negeri ini, akan tetapi dia mengikuti sistem demokrasi atau tawalliy kepada Pancasila, maka dia itu kafir lagi tidak menjauhi thaghut. Begitu pula orang yang melakukan hal yang sama serta tidak mengkafirkannya. Ingat, makna tawalliy dalam terjemahan sebelumnya.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s