Al Ghuluw Fit Takfier Seri ke 31 Tidak Membedakan Antara Bid’ah Mukaffirah dengan Maksiat dan Bid’ah Dalam Furu’

(30)

Tidak Membedakan Antara Bid’ah Mukaffirah

dengan Maksiat dan Bid’ah Dalam Furu’

Di antara kekeliruan dalam takfier juga adalah tidak membedakan antara bid’ah mukafirrah dengan lainnya berupa maksiat dan bid’ah dalam furu’ dan memperlakukan orang-orang macam yang akhir dan para ahli maksiat seperti orang-orang kafir.

Karena banyak kalangan mutahammisin (orang-orang yang bersemangat tinggi) menjadikan setiap orang yang menyelisihi mereka dari kalangan khusum (lawan-lawan) mereka dalam jajaran ahlil bid’ah, dan melontarkan terhadap mereka ucapan-ucapan dan komentar-komentar para imam kepada para ahli bid’ah mukaffirah dari kalangan Jahmiyyah, Rafidlah dan yang lainnya, berupa keharusan bersikap keras terhadap mereka, meng-hajr-nya, melawannya, tidak mengucapkan salam terhadapnya, dan tidak shalat bermakmum kepadanya, bahkan mereka itu memasukkan kaum ahli maksiat dari orang-orang muslim (‘ushaatul muslimin) dalam hal itu, terus mereka memperlakukan semuanya seperti ahlul bid’ah mukaffirah bahkan sebagai kuffar muharribin mumtani’in dan orang-orang murtad dengan riddah mughalladhah, sehingga timbangan al wala dan al bara pada mereka menjadi timpang, engkau hampir tidak mendapatkan perbedaan antara perlakuan (mu’amalah) mereka terhadap ansharuth thawaghit al muharibin (aparat thaghut yang memerangi dien) dengan perlakuan mereka terhadap kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Mereka berlepas diri dari kaum muslimin sebagaimana mereka berlepas diri dari al kuffar, bahkan mereka melampui batasan-batasan Allah pada mereka, merobek kehormatannya dan menyia-nyiakan huquq Islamiyyah mereka.

Padahal bara’ah total itu tidaklah dilakukan kecuali dari al kuffar, adapun dari ‘ushaatul muslimin maka bara’ah hanya dilakukan dari maksiat-maksiat mereka saja, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Asy Syuara: 215-216)

Dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala sampai berita kepada beliau bahwa Khalid membunuhi tawanan Bani Judzaimah setelah mereka mengucapkan “Shaba-naa” dan mereka tidak cakap untuk mengucapkan “Aslamnaa”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

(اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد )

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan Khalid”

Dan beliau tidak mengatakan:

أبرأ إليك من خالد

“Saya berlepas diri kepada-Mu dari Khalid”.

Dan di bawah makna ini ada faidah-faidah yang indah yang penting…:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah mengingkari pengkafiran thaifah-thaifah yang tersamar atas mereka al haq dalam masalah-masalah yang mana telah keliru di dalamnya orang yang lebih alim dari mereka, dan beliau juga mengingkari terhadap orang yang memeperlakukan mereka seperti orang-orang kafir karena sebab itu, termasuk meskipun pada mereka itu benar-benar ada bid’ah. Dan beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang mengkafirkan mereka atau yang memperlakukan mereka sebagai kuffar bisa jadi bid’ahnya lebih dahsyat dari bid’ah mereka, kemudian beliau berkata:

(ولهذا كان السلف مع الاقتتال يوالي بعضهم بعضاً موالاة الدين، لا يعادون كمعاداة الكفار، فيقبل بعضهم شهادة بعض ويأخذ بعضهم العلم عن بعض، ويتوارثون ويتناكحون ويتعاملون بمعاملة المسلمين بعضهم مع بعض، مع ما كان بينهم من القتال والتلاعن وغير ذلك) أهـ مجموع الفتاوى (ط دار ابن حزم) (3/176).

(Oleh karena itu salaf meskipun saling berperang, tetap satu sama lain saling loyal dengan loyalitas dien, mereka tidak saling memusuhi seperti permusuhan terhadap orang-orang kafir, sebagian mereka menerima kesaksian sebagian yang lain, sebagian mereka mengambil ilmu dari sebagian yang lain, mereka saling mewarisi, mereka saling menikahi/menikahkan, dan satu sama lain saling bermu’amalah sebagai seorang muslim, padahal terjadi diantara mereka saling berperang, saling melaknat dan yang lainnya). Majmu Al Fatawa Dar Ibnu Hazm 3/176.

Andaikata masalahnya berhenti pada mereka di batasan itu saja, akan tetapi di antara mereka ada orang-orang yang menyertakan dengan mereka orang yang tidak memperlakukan mereka dengan seperti perlakukan yang mereka tetapkan dan mereka pilih, sehingga dia juga bagi mereka tergolong ahlul bid’ah, maka ia dikasari, di-hajr, diberi pelajaran yang membuatnya kapok, dikerasi dan digugurkan hak-haknya.

Dan alangkah serupanya hal ini dengan tasalsul ghulatul mukafirrah dalam takfier orang yang tidak mengkafirkan orang kafir dan orang yang tidak mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan juga …. dst…

فإن لم يكنها أو تكنه فإنه          أخوها غذته أمها بلبانها

Bila bukan ia atau bukan itu maka sesungguhnya ia

adalah saudaranya yang disusui oleh ibunya.

Dan bisa saja sebagian mereka membenarkan paham mereka ini dan menambalnya dengan sebagian ucapan ahlul ilmi seperti ucapan Al Qahthaniy dalam Nuniyyahnya:

يصحب البدعي إلا مثله         تحت الرماد تأجج النيران

Tidak menemani ahli bid’ah kecuali orang seperti dia

Di bawah bara,  api  bergejolak

Atau sebagian ulama: (Orang yang samar bid’ahnya atas kita maka tidak sama dari kita keakrabannya) dan hal serupa itu berupa tahdzir salaf dari menemani ahlul ahwa atau ashabul bid’ah al mukaffirah. Ini di samping bukan tergolong dalil-dalil syar’iy, namun mereka bersikeras menerapkannya terhadap ‘ushaatul mu’minin dan mereka mengharuskan setiap orang agar memperlakukan mereka dengan hal itu, termasuk walaupun dia bergaul dengan mereka dalam rangka da’wah, dan kalau tidak demikian maka ia dicoret dan diserahkan dengan mereka serta kehormatannya dihalalkan.

Sikap pembangkangan ini telah menyebar dan telah menjadi bagian dari metode Al Irhab Al Fikri (teror pemikiran) yang digunakan dan dijadikan alat penekan oleh sebagian orang-orang yang kaku terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka dan hal itu merebak di barisan para du’at, serta sebagian mereka berlebihan dalam menggunakan kata mubtadi’ dan mubtadi’ah dan dalam membagi-bagikan gelar ini, sehingga ia kasar, menjaga jarak dan satu sama lain saling meng-hajr, serta sebagian mereka bersikap keras terhadap sebagian yang lain. Sebagian orang-orang baik telah mengadu kepada saya sikap ikhwannya yang meng-hajr dia, aniaya terhadapnya, memboikotnya termasuk dengan salam dan sapaan, disebabkan dia mendatangi para ahli maksiat dalam rangka mendakwahi mereka, mengingkari kebathilannya dan ia tidak mengakui mereka di atas kebathilan atau duduk bersama mereka di acara maksiatnya, padahal sesungguhnya mereka itu menampakan penyesalan dan berjanji akan bertaubat serta bukan tergolong orang-orang yang membangkang, akan tetapi dorongan syahwat dan teman buruklah yang telah membinasakan mereka. Dan ia memandang bahwa mereka itu butuh terhadap orang yang membimbing mereka, menasehatinya dan orang yang sabar menuntun mereka, bukan orang yang meng-hajrnya dan membuka lebar kesempatan bagi teman-teman yang buruk untuk membantu syaitan menguasai mereka.

Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meng-hajr tiga orang dari sahabat pilihan tatkala mereka absen dari ghazwatul ‘usrah (perang Tabuk) dan beliau tidak meng-hajr selain mereka dari kalangan yang lemah imannya. Jadi masalahnya adalah ijtihadiyyah, yang mana si da’i mengukurnya sesuai mashlahat berdasarkan ijtihadnya dan tidak halal mengharuskannya di dalamnya dengan pertimbangan atau ijtihad tertentu, atau justru malah meng-hajr si da’i itu, apalagi kalau sampai menganggapnya sesat, menganggapnya bida’ah, memusuhinya dan hal lainnya berupa metode-metode penekanan dan Al Irhab Al Fikriy.

Sebagaimana tidak sah menyetarakan orang-orang fasiq atau ahli maksiat dengan ahlul ahwa yang menyesatkan atau memperlakukan mereka sebagai ahlul bid’ah al mukariffah, dalam rangka mempermudah masalah hajr dengan klaim jazr (sanksi yang membuatnya jera) tanpa bayan atau rincian atau nasehat atau pengingatan…. dan bisa saja untuk menyetarakan hal itu dengan selera mereka dan tabiat emosional mereka, serta menganggap susah sabar dan berlama-lama mendakwahi mereka kepada ajaran Allah.

Dalam bab ini saya telah melihat banyak orang antara ifrath dan tafrith.

Suatu kaum ber-mudahanah terhadap musuh-musuh Allah dari kalangan ‘asaakirisysyirki wal qawanin, dan mereka memberlakukannya dengan perlakuan yang mana lebih baik dan lebih bagus dari perlakukan mereka terhadap kaum muwahhidin dengan hujjah kekasaran para muwahhidin itu, kekerasan mereka dan kekasaran uslub dakwah mereka.

Di pihak lain ada kaum yang bertolak belakang, mereka menyerahkan para ahli maksiat dan orang-orang yang menyelisihi mereka dengan orang-orang yang mereka kafirkan dari kalangan ‘asaakirusysyirki wattandid, terkadang dalam takfier dan terkadang dalam perlakuan, hajr, kasar, keras, vonis bid’ah, vonis sesat dan bara dari mereka, bahkan di antara mereka ada orang yang terkadang teringat akan sikap lembut, hikmah (bijaksana) dan mauidhoh hasanah bersama musuh-musuhnya yang ia kafirkan dari kalangan ‘asaakirusysyirki dan yang lainnya, namun tidak bisa mencernanya atau menerima pengingatan atau masukan di dalamnya bersama khusum-nya dari kalangan ahli maksiat dan orang-orang menyelisihi mereka. Ini adalah sifat yang dikhawatirkan atas orangnya bila ia tidak mengikat diri dengan batasan-batasan syari’at ia terjerumus dalam golongan khawarij yang memerangi ahlul Islam lagi membiarkan ahlul autsan.

Dan lebih dahsyat dari keadaan mereka dan lebih sesat jalannya serta lebih serupa dengan khawarij dalam sifat ini, sebagaimana yang akan datang adalah Neo Jahmiyyah dan Murji-ah pada jaman kita ini yang menjulurkan lidah dan pena mereka untuk menyerang para du’at dan yang terang-terangan menyatakan perang terhadap para muwahhid serta yang menyingsingkan lengan permusuhannya terhadap para mujahidin, di waktu yang bersamaan mereka mati-matian membela para thaghut, bahkan mereka merangkak-rangkak di pintu para thaghut itu serta menghangatkan diri mereka di pangkuannya.

Sedangkan al haq adalah pertengahan, tidak bersama ahlil ifrath pada sikap ifrath mereka, dan tidak pula bersama ahlut tafrith pada sikap tafrith mereka.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di mana beliau menjelaskan keadaan mayoritas Ahlul Kalam yang intisab kepada Ahlus sunnah wal jama’ah dan bahwa mereka terkadang melampui batas keadilan dalam bantahan mereka terhadap kelompok-kelompok yang lebih jauh dari sunnah dari pada mereka, di mana mereka mengingkari sebagian al haq, sehingga mereka telah membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan darinya dan membantah kebathilan dengan kebathilan yang lebih ringan darinya…, terus beliau berkata:

(ومثل هؤلاء إذا لم يجعلوا ما ابتدعوه قولا يفارقون به جماعة المسلمين، يوالون عليه ويعادون، كان من نوع الخطأ والله سبحانه وتعالى يغفر للمؤمنين خطأهم في مثل ذلك، ولهذا وقع في مثل هذا كثير من سلف الأمة وأئمتها، لهم مقالات قالوها باجتهاد، وهي تخالف ما ثبت في الكتاب والسنة ،بخلاف من والى موافقة وعادى مخالفة وفرق جماعة المسلمين، وكفّر وفسّق مخالفهُ دون موافقه في مسائل الآراء والاجتهادات، واستحل قتال مخالفه دون موافقه ، فهؤلاء من أهل التفرق والاختلافات) أهـ (مجموع الفتاوى ط دار ابن حزم) (3/217).

(Orang seperti mereka itu bila tidak menjadikan apa yang mereka ada-adakannya itu sebagai pendapat yang dengannya mereka menyelisihi jama’atul muslimin, di mana mereka berloyalitas dan memusuhi di atasnya, maka ia tergolong kekeliruan, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni bagi kaum mu’minin kekeliruan mereka dalam hal seperti itu, oleh sebab itu terjatuh dalam hal seperti ini banyak kalangan salaf dan para imam umat ini. Mereka memiliki pendapat-pendapat yang mereka ucapkan berdasarkan ijtihad mereka, sedangkan ia menyelisihi apa yang tsabit dalam Al Kitab As Sunnah berbeda dengan yang loyal kepada orang yang sejalan dengan dia dan memuduhi orang yang menyelisihinya dan memecah belah jama’atul muslimin, dia mengkafirkan dan memvonis fasiq orang yang menyelisihinya tidak orang yang sejalan dengannya dalam masalah-masalah pendapat dan ijtihad dan ia halalkan memerangi orang yang menyelisihinya tidak yang sejalan dengannya, maka mereka itu tergolong ahluttafarruq wal ikhtilafiat). Majmu Al Fatawa cet dar Ibnu Hazm 3/217.

Kemudian beliau mulai menjelaskan khawarij, karena ini adalah diantara akhlak dan ciri mereka yang paling masyhur.

Oleh sebab itu sikap berlebihan para du’at itu dan sikap mereka tidak membedakan dalam mu’amalah antara kuffar, musyrikin, para thaghut dan anshar mereka dengan ushatul muslimin, serta pembauran mereka antara bid’ah-bid’ah mukaffirah dengan yang bukan itu. Sungguh sikap itu telah menjadi jalan bagi musuh-musuh dan lawan-lawan dakwah ini untuk menguatkan dan mengukuhkan tuduhan mereka selalu dialamatkan kepada para du’at itu, berupa tuduhan thariqah khawarij dalam hal takfirunnas bil umum, karena para musuh dan kawan dakwah ini tidak melihat perbedaan pada para du’at itu antara sikap mereka terhadap musuh-musuh Allah yang memiliki kekuatan dengan sikap mereka terhadap kaum fasiq muslimin atau yang lainnya dari kalangan mutaawillin dari kalangan muwahhidin.

Sungguh telah memberitahu saya sebagian orang yang mengunjungi saya di sijn dari kalangan para pemuda yang dituduh bahwa mereka memiliki suatu dari takwilat asya’rah dalam bab asma wash shifat, dan ia mengadukan kepada saya sikap aniaya sebagian para pemuda yang intisab kepada dakwah tauhid terhadap mereka, sikap berlebih-lebihan mereka, sikap keterlauannya dalam pemboikotan, penghajran dan pentahdzirannya dari mereka, padahal sesungguhnya mereka itu meskipun pada sebagian mereka ada suatu dari pentakwilan-pentakwilan itu, namun mereka tidak menyibukkan diri dengan masalah-masalah itu dan tidak menyebarkannya atau mendakwahkannya, justru kesibukan mereka itu adalah mendakwahkan ahluttauhid dan mentarbiyah para pemuda atas sikap bara’ah dari para thaghut. Oleh sebab itu sesungguhnya musuh-musuh Allah tidak membiarkan mereka atau bermudahanah dengan mereka, keberadaan mereka dalam hal itu adalah sama dengan keberadaan setiap orang yang mendakwahkan tauhid dan menentang para thaghut, dimana para thaghut mempersempit mereka, mengawasi mereka dan berulang-ulang menangkap mereka.

Namun demikian keadaan ini tidaklah menolong mereka di hadapan orang-orang yang berlebih-lebihan tersebut atau itu memahamkan mereka bahwa tauhid ikhwan mereka dan sikap bara’ah mereka dari para thaghut itu mengalahkan pentakwilan-pentakwilan yang dinisbatkan kepada mereka dan bahwa yang paling utama adalah mengobatinya sebagai hujjah dan burhan bukan dengan berlebih-lebihan dan tuduhan dusta. Mereka senantiasa mencelanya, bersikap keras terhadapnya dan menghalalkan ghibah mereka secara mutlaq tanpa ada kebutuhan akan tahdzir atau ta’lim, sebagaimana ia syarat kebolehan ghibah pada orang-orang macam mereka dari kaum muslimin, sehingga musuh-musuh Allah memanfaatkan hal itu. Terus pemuda itu memberi saya kabar bahwa musuh-musuh Allah tatkala menangkap dia, mereka berupaya memecah belah di tengah-tengah barisan dan membujuknya untuk kerja sama dengan mereka. Para thaghut itu merayu agar dia meninggalkan para pemuda itu dan dakwah tauhid yang mana semua intisab kepadanya, dan para thaghut itu berhujjah dengan sikap kasar para pemuda itu terhadap sebagian mereka memboikotnya, tidak menyalaminya dan memperlakukannya persis seperti mereka memperlaukan ansharuttawaghit dan yang ………… yang mereka pasti vonis kafir.

Saya katakan: Dan bila pemuda ini tidak terpedaya dengan permainan dan makar musuh-musuh Allah, dan tidak terpengaruh dengan upaya penggembosan mereka, maka apakah engkau memandang para pemuda lainnya memiliki kesadaran seperti dia? Bukankan di antara mereka ada orang yang lemah imannya yang terkadang jatuh dengan jaring-jaring musuh Allah dengan sebab sikap berlebihan para du’at itu? Dan apakah selama dia akan mengingat sebagaimana dia teringat pada saat itu kisah Ka’ab Ibnu Malik dan tidak terpengaruhnya dengan ajakan dan tawaran raja Ghassan tatkala ia mengirimkan surat supaya mengajaknya untuk bergabung dengannya di waktu dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin meng-hajr-nya, sehingga mereka mengembalikan makar musuh-musuh Allah di leher mereka, dan mereka tidak terpengaruh dengan tipu muslihatnya dan mereka tempatkan tawarannya ke tembok sebagaimana Ka’ab membuang surat itu ke api? Bukankah yang wajib adalah kita mengingat bahwa keadaan dan realita tiga sahabat yang di-hajr Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam di darul Islam adalah tidak seperti keadaan syababul muslimin hari ini di darul kufri dan dalam kondisi istidl’af, dan bahwa iman para sahabat itu tidaklah seperti keimanan selain mereka, oleh sebab itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meng-hajr selain yang tiga kalangan yang lemah imannya yang menyebutkan alasan absen mereka kepada Nabi, terus beliau menerima alasan mereka.[1] Itulah tergolong pemahaman yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang berlebihan itu, sehingga dengan sikap kakunya ini mereka memecah barisan-barisan kaum muslimin dan dengan itu mereka membuat senang musuh-mush Allah.

Dahulu Mu’tazilah berupaya menutupi kebatilan madzhab mereka dan membedakannya dari madzhab Khawarij, dimana mereka membuat hilah dan mundur selangkah dari sikap terus terang mengkafirkan fasiq ‘amaliy, mereka mengatakan: “Kami tidak menamakannya kafir”. Maka dikatakan kepada mereka: maka apakah ia muslim? Mereka berkata: Kami tidak menamakannya muslim, terus mereka mengada-adakan istilah manzilah bainal manzilatain, namun mereka tetap sejalan dengan khawarij dalam hal akhir ujung orang fasiq itu, mereka berkata: Namun demikian dia itu kekal di neraka…!

Jadi apa faidah yang didapatkan orang fasiq itu dari madzhab mereka berupa keistimewaan bila mereka tidak menamakannya orang kafir selama para ustadz itu telah menjerumuskannya dan mengekalkannya di darul bawar dan tempat kembali kuffar??

Sedangkan orang yang berlebih-lebihan itu pada hari ini, mayoritas mereka mengetahui madzhab Khawarij dan Mu’tazilah dan berlepas diri darinya, namun saat dipojokkan mereka mengatakan: “Kami tidak mengkafirkan lawan-lawan kami itu dan kami tidak menjadikannya manzilah bainal manzilatain, namun mereka itu menurut kami adalah muslimin ahli maksiat atau yang fasiq atau ahli bid’ah.” Namun demikian mereka memperlakukannya dengan perlakuan lebih buruk dari perlakuannya kepada orang-orang musyrik, murtaddin dan kuffar.

Maka mereka itu menyelarasi Ahlus Sunnah dalam penamaan dan hukum, namun menyelarasi Khawarij dan yang sama dengannya dalam hal perlakuan dan mu’amalah dunyawiyyah. Apakah engkau melihatnya sebagai perbuatan dan bida’ah yang baru atau bahwa perseteruan itu buat yang sesat lagi menyesatkan.

Sudah maklum bahwa keburukan dan bahaya mu’amalah dunyawiyyah yang mana mereka ngawur dengannya adalah lebih berbahaya terhadap manusia dari hukum akhirat yang dikatakan Mu’tazilah, baik Mu’tazilah ataupun manusia lainnya tidak satupun berhak menetapkan atau menerapkan dan mewajibkan hukum ukhrawiy yang mereka klaim, karena itu bagi mereka hanya sekedar keyakinan, berbeda dengan perlakuan orang-orang yang berlebihan itu terhadap orang fasik kaum muslimin, sesungguhnya ia adalah dunyawiyyah yang nyata terjadi lagi berjalan bahayanya.

Bahaya dalam masalah ini sesungguhnya perlakuan ini tidak berhenti di batas hajr, zajr, dhalim, aniaya, tuduhan dusta dan penyempitan haq, namun di sebagian negeri telah melampui batas sampai berani menumpahkan darah kaum muslimin, dimana sebagian ghulat yang ngawur mereka menghadang dan membunuh lawan? Mereka dari kalangan yang mereka cap sebagai ahlul bid’ah, mereka tumpahkan darahnya di hadapan penglihatan dan pendengaran di seluruh dunia, dan mereka terjatuh dalam apa yang telah dihati-hatikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berkata:

(لا ترجعوا بعدي كفاراً يضرب بعضكم رقاب بعض) رواه البخاري عن ابن عمر.

“Janganlah kalian kembali setelahku sebagai kuffar yang mana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain”. (HR Al Bukhari dari Ibnu Umar.)

Padahal sesungguhnya mereka ini semuanya berada di tengah-tengah taring para musuh Allah, tertindas, diperangi, dikejar-kejar lagi tidak memiliki daulah dan syaukah… Coba apa gerangan yang akan mereka lakukan bila sebagian mereka memiliki daulah??

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Di antara bid’ah munkarah adalah pengkafiran satu kelompok terhadap kelompok lainnya dari kelompok-kelompok kaum muslimin dan penghalalan darah serta harta mereka, sebagaimana yang mereka katakan: Ini tanaman milik ahli bid’ah dan hal seperti itu, sesungguhnya ini hal besar karena dua sisi:

Pertama: Kelompok lain itu bisa jadi tidak memiliki bid’ah yang lebih besar dari apa yang ada pada kelompok yang mengkafirkannya, bahkan bisa jadi apa yang ada pada kelompok yang mengkafirkannya, bahkan bisa jadi bid’ah kelompok yang mengkafirkan adalah lebih besar atau setara atau lebih rendah. Dan ini adalah keadaan umumnya ahlul bida’ah yang satu sama lain saling mengkafirkan. Bila diperkirakan bahwa muhtadi itu kafir maka kafirlah kelompok ini dan itu, dan bila diperkirakan bahwa ia tidak kafir maka kelompok ini dan itu tidak kafir.[2] Keberadaan salah satu dari dua kelompok mengkafirkan yang lainnya dan tidak mengkafirkan kelompoknya sendiri, ia malah tergolong kejahilan dan kezaliman, dan mereka itu tergolong orang-orang yang Allah ta’ala firmankan:

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.” (Al An’am: 159)

Ke dua: seandainya diperkirakan bahwa salah satu dari dua kelompok itu mengkhususkan diri dengan bid’ah itu, maka ahlus sunnah tidak layak mengkafirkan setiap orang yang mengucapkan ucapan yang mana ia keliru di dalamnya.[3] Kemudian beliau menuturkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang yang keliru itu di’udzur dari kalangan muslimin dan itu telah lalu.

Dan maklum juga sebagaimana yang telah kami ketengahkan kepadamu: Wajibnya membedakan antara orang-orang yang dinamakan ulama sebaga kuffar takwil yaitu ashhabul lida’ al mukaffirah dengan kaum murtaddin riddah sharihah, dan bahwasannya tidak sah menyetarakan antara mereka dengan mereka dalam hal penghalalan ishmah, bahkan telah lalu juga bahwa riddah itu sendiri berbeda beda dalam hal istitabah pelakunya antara riddah mujarradah dengan riddah mazidah atau mughalladhah.

Maka apa gerangan dengan orang-orang yang kami bicarakan dari kalangan ahli maksiat yang mana bid’ah mereka tidak sampai pada bid’ah mukaffirah, apalagi sampai pada riddah mujarradah dengan riddah mazidah atau mughalladhah?

Dan tatkala makin keras pengingkaran sebagian orang-orang yang berakal terhadap mereka yang menumpahkan darah ikhwan mereka yang muslim dengan klaim bahwa mereka itu ahlul bid’ah, maka tidak lain dalih mereka adalah hanya mengutarakan terhadap mereka sikap keras salaf terhadap ahlul bid’ah al mukaffirah dan sebagian ucapan-ucapan mereka dalam hal itu. Dan mereka menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang berisi kecaman pedas terhadap tokoh-tokoh ahlul ittihad wal hulul, dan penjelasan akan kewajiban menghadang mereka dan menjihadinya, serta bersikap keras terhadap orang yang membela mereka dan bahwa bahaya mereka adalah lebih dahsyat dari bahaya para pembegal, Tartar, pencuri dan para pengkhianat yang aniaya terhadap harta dan meninggalkan dienul muslimin; Maka ahlul bid’ah itu!! adalah lebih buruk dari mereka, karena mereka menumbangkan dienul Islam!!.. Semua itu supaya mereka membolehkan membunuh dan memerangi lawan-lawan mereka.

Dikarenakan jarangnya sikap obyektif dalam perseteruan di antara kaum muslimin pada zaman kita ini, mereka tidak menjelaskan bahwa perkataan beliau ini adalah berkenaan dengan Al Ittihadiyyah yang mana mereka itu menurut beliau dan menurut ulama kaum muslimin adalah lebih kafir dari pada Yahudi dan Nasrani, serta lebih buruk dari pada Fir’aun dan yang lainnya dari kalangan tokoh-tokoh kekafiran sebagaimana yang telah lalu dari beliau, bahwa mereka itu menuturkan perkataannya rahimahullah: (Tokoh-tokoh mereka itu adalah aimmatul kufri yang wajib dibunuh dan tidak diterima taubat salah seorang diantara mereka bila ditangkap sebelum taubat, karena ia tergolong zanadiqoh terbesar yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran terbesar. Dan mereka itu adalah orang-orang yang memahami ucapan mereka dan penyelisihan mereka terhadap dienul muslimin dan wajib memberi sanksi setiap orang yang intisab kepada mereka atau membela-bela mereka atau memuji mereka atau mengagumi kitab-kitab mereka, atau diketahui kerjasama dan bantuannya terhadap mereka, atau membenci komentar buruk terhadap mereka atau orang yang mencarikan alasan bagi mereka…) hingga ucapannya: (Dan macam-macam alasan ini yang tidak dikatakan kecuali oleh orang jahil atau munafiq, bahkan wajib memberi sanksi setiap orang yang mempengaruhi keadaan mereka dan tidak membantu untuk menanggulangi mereka, karena sesungguhnya menanggulangi mereka itu tergolong kewajiban yang paling besar, sebab mereka itu merusak akal dan agama…)

Dan berkata di akhir perkataannya:

(فضررهم في الدين أعظم من ضرر من يفسد على المسلمين دنياهم ويترك دينهم ؛ كقطاع الطريق، وكالتتار الذين يأخذون منهم الأموال ويبقون لهم دينهم، ولا يستهين بهم من لم يعرفهم فضلالهم وإضلالهم أعظم من أن يوصف ، وهم أشبه الناس بالقرامطة الباطنية) أهـ مجموع الفتاوى (2/131-132) (ط دار ابن حزم).

(Bahaya dalam dien ini lebih besar dari bahaya orang yang merusak atas kaum muslimin dunia mereka dengan membiarkan dien mereka, seperti para perampok dan seperti Tartar yang mengambil dari mereka harta dan membiarkan bagi mereka dien mereka dan orang yang tidak mengetahui keadaan mereka dengan menganggap enteng mereka, karena kesesatan mereka dan penyesatan mereka adalah lebih besar dari bisa disifati, dan mereka itu lebih serupa dengan qaramithah bathiniyyah). Majmu Al Fatawa 2/131-132 cet dar Ibnu Hazm.

Maka saya katakan: Tenanglah…. tidak seperti ini unta digiring dan tidak seperti ini istidlal dilakukan… Coba mana mereka yang dikomentari Syaikhul Islam bila dibandingkan dengan sebagian orang-orang ahli maksiat atau orang-orang fasiq atau orang yang menyelisihi dan melakukan bid’ah dalam sebagian furu’? Atau juga bila dibandingkan dengan orang yang padanya ada sebagian kekeliruan yang tidak mengkafirkan dalam bab keyakinan dan bab-bab keimanan? Maka mesti ada pembeda dalam hukum dan penamaan dan dalam muwalah dan mu’amalah juga antara auliyaurrahman selama dalam lingkungan al iman bagaimanapun bentuk maksiat dan taqshir mereka, dengan auliyausysyaithan dari kalangan kuffar dan murtaddin.

Hati-hatilah dalam membaurkan antara mereka dengan mereka dalam suatu dari hal itu atas dorongan aniaya dan perseteruan.

Sungguh Allah Ta’ala berfirman:

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. (Asy Syu’ara: 181-182)

Dan firman-Nya:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang” (Al Muthaffifin: 1)

Sungguh cemerlanglah Syaikhul Islam dalam lontaran-lontarannya yang indah yang beliau sebarkan di tengah-tengah fatwa-fatwanya, yang muncul dari obyektifitas terhadap lawannya, jarang sekali orang-orang yang menyelisihi beliau memiliki sifat seperti itu, dan jarang sekali kita melihatnya dalam khushumat pada hari ini, diantara hal itu ucapannya:

( ومن أهل البدع من يكون فيه إيمان باطناً وظاهراً، لكن فيه جهل وظلم حتى أخطأ ما أخطأ من السنن، فهذا ليس بكافر ولا منافق، ثم قد يكون منه عدوان وظلم يكون به فاسقاً أو عاصياً، وقد يكون مخطئاً متأولاً مغفوراً له خطؤه، وقد يكون مع ذلك معه من الإيمان والتقوى ما يكون معه من ولاية الله بقدر إيمانه وتقواه) أهـ.  مجموع الفتاوى (ط دار ابن حزم) (3/220).

(Dan diantara ahli bid’ah ada orang yang memiliki iman lahir bathin, namun padanya ada kejahilan dan kezhaliman sampai ia keliru apa yang ia keliru di dalam hal sunah, maka ia bukan kafir dan munafiq, kemudian terkadang ada darinya aniaya dan kezaliman yang dengannya ia menjadii fasiq atau ahli maksiat, dan terkadang ia keliru muta’awil lagi diampuni kesalahannya dan bisa jadi bersama itu dia memiliki dari iman dan taqwa yang dengannya ia mendapatkan wilayatullah (perwalian Allah) dengan kadar keimanan dan taqwanya.) Majmu Al Fatawa cet Dar Ibnu Hazm 3/220


[1] Lihat hadist Ka’ab Ibnu Malik dalam Kitabul Maghazi dari Shahihul Bukhari dan perkaataan Al Hafidh di Fathul Bari tentang komentar akan hadist ini dalam fiqh hajr serta pemilihannya dalam hal itu antara orang kuat dengan orang lemah dalam hal dien. Dan Syaikhul Islam juga memiliki rincian yang indah dalam Al Fatawa 28/115 dan sesudahnya. Cet Dar Ibnu Hazm dan kami juga dalam hal ini memiliki risalah kecil yang kami tulis di Penjara Sawwaqah.

[2] Yaitu karena kedua kelompok itu dalam bid’ah bisa jadi sama atau bahwa sebagian mereka lebih dasyat di dalamnya dari yang lainnya

[3] Majmu Al Fatawa cet dar Ibnu Hazm 7/417

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s