Seri Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 21 Tidak mempertimbangkan kondisi istidl’af terhadap para istri dan anak dari kalangan murtaddin)

MELONTARKAN HUKUM TAKFIR DAN KONSEKUENSINYA TERHADAP PARA ISTRI DAN ANAK APARAT SYIRIK DAN UNDANG-UNDANG ATAU YANG LAINNYA DARI KALANGAN MURTADDIN SERTA TIDAK MEMPERTIMBANGKAN KONDISI ISTIDL’AF

Di antara kekeliruan yang sangat keji dalam takfir juga adalah melontarkan hukum takfir dan konsekuensi-konsekuensinya terhadap para istri dan anak-anak aparat hukum dan undang-undang atau yang lainnya dari kalangan kaum murtaddin serta tidak mempertimbangkan kondisi ketertindasan. Ini adalah termasuk kekeliruan yang sangat keji yang tercebur ke dalamnya sebagian orang yang ngawur dan orang-orang yang terlalu semangat (mutahammisin) di zaman kita ini. Padahal takfir para thaghut dan anshar mereka dari kalangan ‘asaakirisy syirki wal qawanin atau yang lainnya dari kalangan orang-orang yang mengaku muslim dan mengira bahwa mereka itu berbuat baik, tidaklah mesti darinya pada realita yang pahit lagi terkaburkan ini, takfir anak-anak mereka atau istri-istrinya atau bapak-bapaknya yang menampakan keislaman. Selama mereka itu tidak menampakan satupun dari sebab-sebab kekafiran yang nampak, maka apa alasannya mereka dikafirkan, terutama bila mereka itu tergolong orang-orang yang tidak memiliki daya dan tidak mengetahui jalan (hijrah)?

Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa, lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janjinya?, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa yang lain.” (An Najm: 36-38).

Dan firmanNya subhanahu wa ta’ala:

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya.” (Fathir: 18)

Dan Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman:

“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (At Tahrim: 11)

Ini adalah wanita shalihah, bahkan ia termasuk wanita terbaik di alam ini, ia berada di bawah ikatan laki-laki terbusuk dan terkafir di bumi ini bahkan terdahsyat permusuhannya terhadap dien ini pada zamannya.

Syaikul Islam berkata saat menjelaskan firman Allah ta’ala:

“(Kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah.” (Ash Shaffat: 22),

Setelah beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Azwaajahum adalah teman-teman sejawat, orang-orang yang serupa, orang-orang yang menyertai dan para pengikut mereka, beliau rahimahullah berkata: “Dan yang dimaksud bukanlah bahwa dikumpulkan bersama mereka istri-istri mereka secara muthlaq karena sesungguhnya wanita shalihah bisa saja suaminya orang yang fajir, bahkan kafir seperti istri Fir’aun). Majmu Al Fatawa 7/4

Sirah nabawiyyah yang suci dan sirah As Salaf Ash Shalih serta generasi awal umat ini, di dalamnya terdapat contoh-contoh yang banyak yang mana dijelaskan di dalamnya bahwa suami yang kafir atau murtad ditangkap (dibunuh) sedangkan isterinya dibiarkan dan diperlakukan sebagai orang Islam karena keislamannya dan tidak ada bukti riddah atasnya.

Dan di antara contoh yang paling masyur atas hal itn; Zainab Bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia telah dinikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abul ‘Ash sedangkan ia dalam keadaan musyrik dan ia adalah keponakan Khadijah Bintu Khuwailid, dan itu sebelum wahyu diturunkan kepadanya. Kemudian tatkala Allah turunkan wahyu kepadanya, maka beliau mengajaknya kepada Islam, namun dia menolak dan bersikukuh di atas syiriknya dan Zainab masuk Islam. Zainab menetap di atas keislaman sedangkan Abul ‘Ash di atas syiriknya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah, dan putri beliau masih tetap di bawah ikatan Abul ‘Ash di Mekah. Ia tergolong jajaran para wanita, anak-anak dan kaum mustadl’afun yang tidak memiliki daya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), dan ia (Zaenab) tetap bersamanya di atas hal itu, sedangkan ia muqim di atas syiriknya sampai datang perang Badar dan Abul ‘Ash keluar ikut berperang bersama kuffar Quraisy dan menjadi tawanan. Dan tatkala ahlu Mekkah mengutus utusan untuk menebus tawanan mereka maka Zaenab mengutus utusan untuk menebus Abul ‘Ash dengan harta yang di antaranya kalungnya yang diberikan Khadijah saat menyandingkannya dengan Abul ‘Ash saat membangun rumah tangga. Kemudian tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya maka Rasulullah merasa iba terhadapnya dan beliau berkata: “Bila kalian berpendapat kalian melepaskan tawanannya dan mengembalikan kepadanya apa yang menjadi miliknya maka silahkan lakukan”, maka para sahabat pun melepaskannya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil janji atasnya agar ia melepaskan Zainab. Dan tatkala Abul ‘Ash dilepas dan keluar menuju Mekkah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah dan seorang anshar agar keduanya berada dekat Mekkah hingga Zainab melewati keduanya terus keduanya menyertainya sampai membawanya kepada Rasulullah, maka keduanya keluar mendatanginya, dan itu sebulan setelah Badr….hingga akhir kisah itu, yang mana di dalamnya terdapat kisah bahwa kuffar Quraisy pertamanya menghalang-halangi Zainab kemudian akhirnya mengizinkannya. Dan di dalam kisah itu bahwa suaminya Abul ‘Ash keluar berniaga ke Syam dan tatkala kembali ia dihadang pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka merampas barang-barangnya dan Abul ‘Ashnya sendiri kabur. Kemudian ia mendatangi Madinah sampai ia masuk menemui Zainab, terus ia meminta perlindungan kepadanya dan Zainab pun memberikan jaminan kepadanya dalam meminta hartanya dan semua itu terjadi sebelum ia masuk Islam.

Kisah itu masyhur lagi ma’ruf dalam sirah, kitab-kitab tarikh, dan bagian darinya diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan (lihat Sirah Ibnu Hisyam, Tarikh Ath Tabraniy, Al Isti’ab karya Ibnu Abdil Barr dan Musnad Al Imam Ahmad Ibnu Hanbal).

Ini putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berada dalam kondisi mustadl’afun di bawah laki-laki musyrik muharib beberapa waktu dan kaum muslimin belum mampu melepaskannya dari dia sampai Allah mengokohkan Islam di Badar dan Allah memberikan keleluasaan untuk menguasai suaminya, kemudian Zainab berupaya menebusnya dan semua itu tidak mencoreng keislamannya karena keberadaan dia itu mustadl’afah.

Begitulah keadaan wanita mu’minah lainnya yang masuk Islam di Mekah dan tidak memiliki peluang hijrah, serta mereka tergolong orang-orang yang Allah ta’ala firmankan:

“Dan kalaulah tidak karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmatNya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (Al Fath: 25)

Allah menamakan mereka mu’minat meskipun mereka muqim di Darul Kufri dan di antara mereka ada yang berada di bawah laki-laki kafir, dan hal itu tidak mencoreng keislamannya karena kondisi istidh’af mereka.

Dan Dia ta’ala berfirman:

“Kecuali nereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (An Nisa: 98-99).

Dan seperti itu (Azad) istri (Syahr ibnu Badzan) petugas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan gubernur kaum muslimin di Yaman yang dibunuh Al Aswad Al’Insiy dan menguasai San’a serta menikahi istrinya yang muslimah yang tetap teguh di atas keislamannya dan tidak membenarkan kenabiannya yang palsu, namun ia tidak menampakkan hal itu. Justru ia mustadl’afah di bawah ikatan Al ‘Insiy sampai akhirnya dia dibunuh oleh saudara sepupu Azad (Fairuz Ad Dailimiy) dengan perencanaan bersama Azad.

Ibnu Katsir berkata dalam Al Bidayah wan Nihayah 6/308 tentang Al Aswad: (Dia menikahi isteri Syahr Ibnu Badzan, sedang ia adalah puteri paman Fairuz Ad Dailimy, namanya Azaad. Ia adalah wanita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tergolong wanita shalihah).

Dan Al Mukhtar Ibnu Abi ‘Ubaid Ats Tsaqafiy Al Kadzdzab juga memiliki dua istri yang keduanya putri seorang sahabat. Yang pertama Ummu Tsabit Bintu Samurah Ibnu Jundub dan keduanya adalah ‘Amrah bintu An Nu’man Ibnu Basyir. Dia telah menikahi keduanya sebelum mengaku nabi dan murtad, dan tatkala Mush’ab Ibnu Az Zubair dan kaum muslimin yang bersamanya mampu mengalahkan Al Mukhtar dan membunuhnya. Mereka tidak menghukumi kafir langsung kedua wanita ini karena sekedar keduanya istri si pendusta lagi murtad, sungguh keduanya pada dasarnya muslimah. Oleh karena itu, tatkala keduanya dibawa kepada Mush’ab dan ditanya tentang Al Mukhtar, maka yang pertama berkata: (Saya tidak mungkin mengatakan tentangnya kecuali apa yang kalian katakan kepadanya)[1]. Maka Mush’ab membiarkannya dan dia memanggil yang kedua, maka wanita itu berkata: (Semoga Allah merahmatinya, sungguh ia adalah seorang dari hamba-hamba Allah yang shaleh). Maka Mush’ab memenjarakannya dan menulis surat kepada saudaranya Abdullah Ibnu Az Zubair bertanya kepadanya apa yang mesti dilakukan terhadapnya, dan berkata: (Sesungguhnya wanita itu berkata bahwa ia Nabi) maka Abdullah menulis surat kepadanya: Keluarkan dia kemudian bunuhlah, maka Mush’ab membunuhnya. (lihat Al Bidayah wan Nihayah 8/289).

Ini terjadi di masa generasi awal, maka apa gerangan dengan realita istidl’af yang dialami kaum muslimin hari ini dan dalam kondisi tidak ada daulah muslimah yang dengan kekuasaan dan hukum-hukumnya ia mengayomi urusan-urusan kaum muslimin, kehormatannya, darahnya dan jiwanya, dan di dalamnya sulthan menjadi wali bagi wanita yang tidak memiliki wali, atau wali bagi orang yang wali-walinya dari kalangan murtaddin atau musyrikin. Sehingga ia bisa memisahkan antara mu’minat dengan orang-orang kafir dan antara laki-laki yang busuk dengan wanita yang baik, sebagaimana yang Allah perintahkan dalam kitabNya:

“Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka.” (Al Mumtahanah: 10).

Berapa banyak di kondisi-kondisi hari ini yang jahiliyyah dan masyarakat modern yang busuk, wanita shalihah mustadl’afah yang dipaksa keluarganya untuk menikah dengan murtaddin atau musyrikin dari kalangan yang mereka pandang sebagai kaum muslimin.

Dan sudah maklum bahwa udzur ikrah itu tidak diperketat pada syarat-syaratnya bagi wanita mustadl’afah sebagaimana hal itu diperketat bagi laki-laki yang kuat ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (Al Baqarah: 286)..,” Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya.”(Ath Thalaq: 7)

Sedangkan qawaniin kufriyyah (undang-undang kafir) yang melilit leher kaum muslimin, dan mahkamah-mahkamahnya yang diberlakukan dan ditetapkan keputusan-keputusannya sesuai dengan UU itu – termasuk apa yang mereka namakan mahkamah syar’iyyah juga – tidaklah membedakan antara manusia dalam masalah dien. Sebagaimana yang ditegaskan UUD mereka yang mana ia adalah landasan hukum bagi mereka. Di dalam qawaniin mereka tidak ada sangsi terhadap riddah, dan ia (riddah) tidak memiliki pengaruh sama sekali dalam memisahkan antara manusia dalam perwalian, nikah, warisan, atau yang lainnya. Bahkan dalam hal itu semua dan hal lainnya sama bagi mereka antara al mujrimun dengan al mu’minun, al khabitsun dengan ath thayyibun dan antara al kafirun dengan al muslimun.

Bahkan masalahnya melebihi itu (di mana qawanin mereka) melindungi al murtaddin dan mengangkat mereka di atas kaum muslimin, serta mengakui perwalian mereka dalam hukum, rumah tangga, nikah dan yang lainnya atas kaum muslimin, sebagai bentuk pembangkangan terhadap firman dan perintah Allah ta’ala:

“Dan Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir (untuk menguasai) atas kaum mu’min.” (An Nisa: 141)

Dalam hukum kaum muslimin tidaklah sah perwalian orang murtad atas wanita muslimah baik dia itu bapak, hakim atau ataupun qadli. Adapun dalan syari’at undang-undang buatan maka sungguh telah berbaur segalanya dan kerusakan telah merata dalam hal itu.

Dan yang menambah keruh permasalahan adalah peremehan dan penyepelean kaum muslimin terhadap hukum syari’at, kejahilan mereka terhadap ushul dien mereka dan furu’nya, tidak bisa membedakan antara kufur dengan iman dan antara syirik/tandid dengan tauhid, dan keterpedayaan mereka dengan shalat dan shaum banyak kaum murtaddin yang mana mereka itu memerangi dien ini dan pemeluknya serta damai dengan syirik dan musyrikin, kemudian mereka mengira bahwa mereka itu mendapat petunjuk dan bahwa mereka itu muslimun mu’minun. Sehingga mereka menikahkannya dan menyerahkan kepada mereka urusan orang-orang dekat mereka dari kaum mu’minat; dan bencana pun merata dengan hal itu terutama di antara kerabat. Makanya tabashshur (penguasaan) terhadap hukum-hukum takfier para thaghut dan anshar mereka dari kalangan pelindung syirik dan tandid hari ini adalah hal yang ditelantarkan dan diremehkan keberadaannya serta berpaling dari mengetahuinya banyak dari kalangan khusus apalagi orang-orang awam. Sehingga membuahkan hasil yang sangat buruk ini. Dan telah kami ketengahkan kepada anda sesuatu dari pentingnya hukum-hukum kufur dan iman serta pengaruh-pengaruh yang berkaitan dengannya, dan bahwa ini adalah suatu bagian darinya.

Memperhatikan hal ini semua dan selalu ingat terhadapnya, adalah memperkenalkan orang muslim terhadap hakikat keberadaan muslimat mustadl’afah yang tidak memiliki daya upaya akan urusannya, dan mereka tidak mendapatkan di realita yang pahit ini dan di payung undang-undang kufur ini orang yang menyelamatkan mereka atau orang yang memisahkan antara mereka dengan orang-orang kafir dengan adil tanpa lenyapnya hak dan tanpa terlantarnya anak-anak, di payung kezaliman UU buatan manusia. Dan memperkenalkannya bahwa tidak sah melontarkan hokum-hukum takfir terhadap orang-orang yang menampakan keislaman dari kalangan wanita dan anak-anak karena sekedar perwalian bapak-bapak mereka atau suami-suaminya yang murtad dari jajaran aparat-aparat syirik atau yang lainnya dari kalangan yang mengira bahwa mereka itu muslim, sedangkan hukum dengan taba’iyyah (diikutkan) terhadap kedua orang tua itu hanyalah disebutkan oleh para fuqaha bagi yang tidak berakal atau yang tidak mengungkapkan tentang dirinya seperti orang gila, anak kecil atau yang lainnya.

Adapun orang yang menampakan keislaman, maka tidak halal dikafirkan dengan taba’iyyah. Akan tetapi, tidak boleh dikafirkan kecuali dengan sebab dhahir dari sebab-sebab kufr yang bersifat ucapan atau perbuatan. Dan telah lalu bahwa hukum dengan taba’iyyah itu maknanya hukum istishhab (pengembalian kepada hukum asal), sedangkan ia adalah di antara dalil yang paling lemah, di mana didahulukan atasnya hal dhahir dari ciri-ciri khusus Islam.

Bila saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari membunuh para wanita dan anak-anak kafir ashli kecuali bila mereka ikut berperang atau terbunuh tanpa sengaja dalam serangan malam, sampai-sampai semua fuqaha sepakat (sebagaimana yang dinukil Ibnu Baththal dan yang lainnya atas dilarangnya sengaja membunuh wanita dan anak-anak, adapun wanita maka itu karena kelemahan mereka dan adapun anak-anak maka karena keterbatasan mereka dari melakukan kekafiran)[2].

Maka apa gerangan dengan orang yang menampakan keislaman dari kalangan wanita dan anak-anak, apakah mereka diberi sanksi dengan dosa bapak-bapaknya dan suami-suaminya. Padahal mereka itu bisa jadi tergolong orang-orang yang tidak memiliki daya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), sedangkan mereka tidak memiliki orang yang membebaskan mereka, menolong mereka dan melindungi mereka?

Di samping hal ini sesungguhnya kami mengudzur orang-orang yang menyelisihi kami dalam sikap mereka tidak mengkafirkan aparat hukum syirik dan ansharuth thawaghit karena syubhat-syubhat yang mereka duga sebagai mawani’ syar’iyyah yang menghalangi dari takfir mereka, selama meraka (orang-orang yang menyelisihi itu) tidak membangun di atas hal itu suatu sebab dhahir dari sebab-sebab takfir berupa loyalitas terhadap mereka (thaghut dan ansharnya) atau pembelaan terhadap kemusyrikan dan kekafiran mereka atau dukungan terhadap mereka atas kaum muwahhidin… Adapun sekedar pernikahan muslimah yang bodoh dengan sebagian tentara para thaghut dari kalangan yang dikira oleh muslimah itu bahwa dia itu memiliki keislaman dan keimanan karena ibadah dan shalatnya, maka ia bukan tergolong sebab-sebab takfir yang dhahir, meskipun hal ini tergolong kesesatan dan kejahilan yang merata di antara kaum muslimin dan yang mengharuskan atas para da’i untuk lebih berperan dalam dakwah dan bayan dalam rangka membersihkan kaum muslimin dari kekotoran kemungkaran ini….[3]

Dan ini memperkenalkan kepadamu bahwa kami dengan karunia Allah ta’ala selalu mencari kebersihan bagi dien kami dan berhati-hati dalam pintu-pintu takfir. Dan masalahnya tidaklah seperti apa yang diklaim oleh lawan-lawan kami dan mereka ada-adakan bahwa kami mengkafirkan secara umum tanpa rincian. Sungguh sering sekali kami mengingkari kesalahan seperti ini dan lawazimnya terhadap banyak orang-orang jahil, bahkan kami sering berkali-kali mengingkari celaan orang-orang yang menyelisihi kami sendiri terhadap kehormatan para istri, dan putri-putri para thaghut dan anshar mereka dari kalangan aparat undang-undang, padahal mereka itu tidak mengkafirkan para thaghut dan ansharnya.

Sering sekali kami mendengar mereka menuduh dan menghina para thaghut dan ansharnya dengan ucapan-ucapan yang keji. Bilakala mereka menzaliminya atau mengurangi sebagian hak-haknya. Mereka juga menuduh para isteri dan saudari-saudari mereka dengan ucapan yang paling keji dan kata-kata yang paling kotor.  Dan sungguh sebagian mereka merasa heran terhadap pengingkaran kami atas mereka akan hal itu dan yang  semisalnya serta sikap keras kami di dalamnya. Padahal kami ini mengkafirkan para thaghut dan ansharnya sehingga jelaslah bagi mereka bahwa kami mengkafirkan mereka dengan dalil-dalil syar’i dan tidak melampaui itu.

Adapun mereka, maka mereka menuduhnya dan menuduh isteri-isterinya dengan sekedar hawa nafsu dan reaksi balik yang tidak terkendali dengan batasan-batasan syar’i dan dengan dorongan emosional tanpa dalil. Padahal mereka itu tidak mengkafirkan para thaghut dan ansharnya, bahkan menganggapnya sebagi orang Islam dan mereka menjadi lawan kami dalam takfir mereka…!!

Dan meskipun seandainya sebagian mereka mengkafirkan para thaghut, akan tetapi ini tidak melegalkan hal itu. Mencela kehormatan itu wajib dijauhi oleh para dai’at dan ia tidak layak bagi akhlak kaum mu’minin. Dan sungguh para ulama telah mengingkari menuduh (qadzaf) zina wanita kafir. Bahkan sebagian mereka menetapkan ta’zir bagi yang menuduh (zina) wanita dzimmiyyah dan itu supaya manusia tidak berani (mempermainkan) kehormatan, dan itu menjadikannya jalan untuk mudah mencerna (menerima) ucapan keji dan kotor atau menjadi pintu masuk untuk menuduh zina wanita mu’minat yang baik-baik. Serta kemungkinan tersinggungnya anak atau saudara atau kerabat yang muslim dengan qadzaf dan hinaan terhadap ibunya yang kafir. Oleh karena itu, Sa’id Ibnul Musayyab dan Ibnu Abi Laila memfatwakan had terhadap orang yang menuduh zina wanita dzimiyyah yang memiliki anak yang muslim, padahal syarat had qadzaf menurut jumhur ulama adalah Islam.

Itu dikarenakan hinaan terhadap kehormatan itu keburukannya menebar terhadap karib kerabat si wanita itu baik ushul maupun furu’. Sedangkan kondisi ‘aparat undang-undang syirikdan pata thaghut hari ini tidak kosong dari keberadaan orang muslim di ushul atau furu’ para istri mereka. Ini bila para istri mereka itu sendiri bukan tergolong muslimat mustadl’afah.

Syaikul Islam berkata dalam Ash Sharimul Maslul hal 45-46: (Dan bisa saja rasa malu dan aib yang ditanggung manusia karena akibat keluarganya dituduh zina adalah lebih besar dari aib yang dia tanggung bila dia sendiri yang dituduh. Dan karena ini Al Imam Ahmad berpendapat dalam salah satu riwayatnya bahwa orang yang menuduh zina wanita yang bukan muhshanah seperti budak dan wanita dzimmiyyah sedangkan ia punya suami atau anak yang muhshan, maka dia dikenakan had karena menuduh zina wanita itu dengan sebab aib yang ditanggung anaknya atau suaminya yang muhshan (bersih). Sedangkan riwayat lain darinya dan ini adalah pendapat mayoritas yaitu bahwa tidak ada had atasnya, karena itu adalah perbuatan menyakiti keduanya bukan qadzaf terhadap keduanya. Sedangkan had yang sempurna hanya wajib dengan sebab qadzaf).

Dan oleh sebab itu, sebagaimana yang telah kami ketengahkan bahwa sebagian ulama berpendapat ta’zir atas hal seperti itu dan sebagian lain berpendapat had.

Maka sekarang mana orang-orang yang ngawur itu di sisi fiqh dan wara’ para ulama.

Sungguh saya telah mendengar sebagian mereka sekali waktu menuduh homo seorang qadli yang mendhaliminya dan mencercanya dengan kata-kata yang kotor. Maka saya mengingkari dia atas hal itu dan saya berkata kepadanya: Ini adalah tuduhan zina terhadap orang yang kamu yakini muslim! Dan itu butuh akan bayyinah, sedangkan kamu tidak punya bayyinah. Dan kalian mencela-cela kami karena mengkafirkan mereka, padahal kami utarakan kepada kalian puluhan bayyinat dan barahin!!!

Ternyata tidak ada jawabannya kecuali dia berdalil dengan firmanNya ta’ala:

“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali orang-orang yang dianiaya…” (An Nisa: 148),

Dan ia berkata: Dan ucapan buruk itu tidak lain adalah seperti ini…!!!

Dan hari itu juga saya bingung dari apa saya terheran-heran, apakah dari sikap wara’ mereka yang dingin dalam takfir para thaghut padahal dalil-dalilnya sangat banyak dan masyur, ataukah dari kelancangan mereka terhadap nushush syar’iyyah dan permainan mereka dalam penafsirannya sesuai selera mereka dengan sekedar pendapat dan hawa nafsu…? Karena ucapan buruk yang Allah subhanahu wa ta’ala bolehkan diucapkan terus terang di sini – sebagaimana yang disebutkan para ulama – adalah kebolehan ghibah orang yang dizalimi terhadap yang menzaliminya dalam penuturan pengaduannya serta tahdzir dari orang yang zalim dan kezalimannya….. Dan sudah pasti yang dimaksud bukanlah iftira (mengada-ada) atasnya dan menuduhnya zina.

Ya, sering sekali saya mengingatkan mereka bahwa celaan terhadap kehormatan dan menuduh wanita zina secara khusus adalah masalah yang mana syari’at telah memperketat di dalamnya dari sisi jalan-jalan pembuktian syar’iyyah lebih dari masalah takfier.

Di dalam zina diharuskan empat saksi yang melihat langsung zina yang nyata, sedangkan dalam takfier dicukupkan dengan dua saksi yang mendengar ucapan yang membuat kafir (mukaffir) atau menyaksikan perbuatan mukaffir yang sharih dilalahnya [4].

Sebagaimana Allah mewajibkan had tuduhan atas orang yang menuduh orang lain berzina, tidak atas orang yang menuduhnya dengan kekafiran, maka tidak ada dalam hal itu kecuali ta’zir bagi orang yang mengkafirkan orang muslim dalam rangka hinaan bukan karena takwil. Sebagaimana Al Baihaqy meriwayatkan dari Ali: (Sesungguhnya kalian bertanya kepadaku tentang seseorang yang berkata kepada seseorang: Hai kafir! Hai Fasiq! Hai keledai! Dan tidak ada had di dalamnya, namun hanya ada padanya sangsi sulthan, maka jangan mengulangi mengatakannya).

Ibnul Qayyim berkata: (Dan adapun pengwajiban had qadzaf terhadap orang yang menuduh orang lain berzina sedang tidak ada had pada tuduhan kafir, maka itu sangat tepat, karena orang yang menuduh orang lain berzina tidak ada jalan bagi manusia untuk mengetahui kebohongannya, maka had tuduhan dijadikan sebagai pendustaan baginya, dan pembebasan bagi kehormatan si tertuduh serta sebagai penganggapan besar akan status fahisyah (perbuatan keji) yang mana orang yang menuduh orang muslim dengannya didera. Dan adapun orang yang menuduh kafir orang lain, maka sesungguhnya saksi keadaan orang muslim dan pengetahuan kaum muslimin akannya adalah cukup dalam mendustakannya. Serta tidak mendapatkan aib dengan sebab tuduhan dusta terhadapnya seperti aib yang didapatkannya dengan sebab tuduhan zina yang bohong terhadapnya. Apalagi kalau yang dituduh zina itu wanita, karena aib dan rasa malu yang menyertai dia dengan sebab tuduhan itu di tengah keluarganya serta beraneka ragamnya dugaan manusia antara yang membenarkan dan yang mendustakan, tidaklah menyertai orang yang dituduh kafir). I’lamul Muwaqqi’in 2/64

Inilah keberadaan takfir yang siang malam kalian menasehati kami, padahal sesungguhnya kekafiran para thaghut yang mana kalian menyelisihi kami dalam takfir mereka adalah lebih terang dari matahari di siang bolong. Ia adalah maklum masyur lagi lebih terang daripada membutuhkan terhadap dua saksi, karena mereka sendiri mengakui akan hal itu dan mempersaksikan kekafirannya atas diri mereka sendiri siang malam, bahkan mereka itu membanggakan hal itu terang-terangan dengan pernyataan mereka akan loyalitas dan nushrah terhadap qawanin wadl’iyyah yang kafir dan para arbabnya, dan dengan bentuk sumpah untuk menghormatinya, serta siaga untuk menjaganya dan melindunginya atau ikut serta dalam membuatnya, atau memerangi musuh-musuhnya dari kalangan kaum muwahhidin yang berlepas diri darinya dan mendukung kaum musyrikin atas para muwahhidin itu di tiap tempat.

Adapun menuduh zina istri-istri mereka yang tidak dipastikan kekafirannya maka itulah masalahnya, namun demikian sesungguhnya banyak dari lawan kami menceburkan diri ke dalamnya tanpa wara’ dan taqwa. Padahal itu butuh akan empat saksi yang melihat  zina dengan mata kepala sendiri seperti melihat colokan celak masuk di wadahnya, kemudian bila salah seorang mereka menarik kesaksiannya atau belat belit maka yang tiga orang dihad delapan puluh deraan sebagai had tuduhan, keadilan mereka digugurkan dan mereka tergolong orang-orang yang fasik.

Dan tidak lupa saya mengingatkan juga di sini: Apa yang selalu saya ingkari terhadap sebagian orang-orang yang terlalu semangat yang menggembar-gemborkan sebagian konsekuensi kufur asli terus mereka menggabungkannya dalam kufr riddah, dan mereka senang memperbincangan prihal memperbudak istri-istri para thaghut atau istri-istri aparatnya dan yang lainnya. Dan bahwa itu adalah dalil akan kebodohan yang sangat terhadap hukum-hukum syariat, sikap ngawur dan penyepelean melanggar hal-hal yang haram karena engkau tahu dari uraian yang lalu bahwa kemungkinan keberadaan para istri itu tergolong muslimat shalihah mustadl’afah adalah ada.

Kemudian taruhlah bahwa takfir itu telah tsabit secara syar’i bagi orang-orang yang ngawur itu!! Maka sesungguhnya kekafiran para wanita itu sedangkan keadaannya seperti itu adalah kufur riddah karena mereka mengaku Islam. Dan bila keadaannya seperti itu, maka apakah orang-orang yang ngawur itu tidak mengetahui bahwa pendapat yang shahih dari pendapat-pendapat ulama adalah tidak bolehnya menjadikan wanita murtad sebagi budak, karena dalam sikap memperbudaknya itu terdapat sikap pengakuan dia terhadap riddahnya, sedangkan orang murtad itu sama sekali tidak diakui (hidup) di tengah kaum muslimin, berdasarkan hadits: “Siapa yang mengganti diennya maka bunuhlah dia.” Diriwayatkan Al Jama’ah kecuali Muslim. Dan ada dalam sebagian riwayat hadits Mu’adz yang isnadnya dihasankan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengutusnya ke Yaman beliau berkata: (Laki-laki mana saja murtad dari Islam, maka ajaklah dia kembali, kemudian bila dia kembali (maka dia diterima) dan bila tidak maka penggalah lehernya, dan wanita mana saja murtad dari Islam maka ajaklah dia kembali, kemudian bila dia kembali (maka dia diterima) dan bila tidak (taubat) maka penggalah lehernya)[5].

Dan juga sesungguhnya tasarriy (menggauli budak milik pribadi dan ini halal dalam Islam) yang diimpikan oleh orang-orang malas lagi pengangguran itu hanyalah boleh setelah terjadinya milkul yamin (kepemilikan) dan istibra’ rahim, sedangkan (syar’i hanyalah membatasi kebolehan tasarriy dalam kepemilikan yang shahih)[6], dan selama budak itu tidak dimiliki dengan kepemilikan yang shahih, – maka tidak halal tasarriy sama sekali, dan sesungguhnya pada hari ini tidak ada jalan untuk memiliki budak kecuali dalam (kondisi ada) kekuatan, tamkin dan daulah di atas manhaj an nubuwwah yang tidak peduli dengan kafir-kafir dunia dan permusuhan mereka terutama dalam payung kesepakatan negara-negara dunia hari ini atas kesamaan persepsi pengharaman perbudakan, dalam waktu yang bersamaan mereka bersekongkol untuk memperbudak bangsa-bangsa mustadl’afah, menghinakannya dan merampas kekayaannya.

Khulashah: Sesungguhnya kami tidak menyinggung materi perbudakan dalam kondisi-kondisi seperti ini dan sebelumnya juga kami tidak pernah menyinggungnya. Dan apa yang dinisbatkan sebagian orang kepada dakwah kami dari bab ini maka ini adalah murni dusta dan mengada-ada. Ini menunjukan atas kekalahan mereka di depannya dan kelemahan mereka untuk membantahnya dengan hujjah dan bukti serta kegagalan mereka dari menghadangnya dengan dalil dan bayyinat. Kemudian mereka berpaling kepada sikap dusta dan mengada-ada untuk mencorengnya dan menjauhkan manusia darinya. Mungkin mereka bisa mencapai tujuan mereka lewat dusta dan mengada-ada setelah mereka tidak mampu lewat jalur hujjah dan burhan.

Para istri orang-orang yang kami kafirkan dari kalangan para thaghut dan ansharnya bagi kami antara dua keadaan: Keduanya tidak halal memperbudak di dalamnya:

  1. Bisa jadi mereka itu murtad seperti para suaminya, sedangkan wanita murtad tidak halal diperbudak karena dalam hal itu terkandung pengakuan terhadap riddahnya.
  2. Atau mereka itu muslimah yang jahil, mereka punya hak diberi nasehat dan penjelasan oleh kita, atau muslimat shalihat mustadl’afah yang wajib atas kita membela dan melindunginya.

Bila saja ini adalah pendapat kami tentang para istri, wanita dan putri para thaghut dan ansharnya, maka apalagi para wanita pada umumnya di tengah masyarakat yang dahulunya adalah diyarul Islam dan mayoritas penduduknya mengaku Islam.

Apakah telah tiba bagi para penebar fitnah itu saatnya mereka mencabut diri dari kebohongannya atas kami dan pengada-adaannya terhadap kami serta mereka bertaubat…? Seraya meletakkan di depan mata mereka sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Siapa yang mengatakan tentang muslim suatu yang tidak ada padanya maka Allah menempatkan dia di radghatul khabal sampai ia datang dengan jalan keluar dari apa yang dia katakan….) Radghatul Khabal adalah perasan nanah penghuni neraka.

Dan apakah telah tiba bagi mereka orang-orang yang ngawur dalam masalah ini saatnya untuk sadar? Sungguh sikap ngawur dan kebodohan mereka itu telah menjadi jalan dan peluang celaan yang digunakan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala dalam rangka mencoreng wajah dakwah yang penuh berkah ini.


(1)     Perhatikanlah sikap wara’ mereka dalam urusan darah serta menjaganya dengan syubhat, dan mereka tidak mengatakan: Sesungguhnya ia mengatakan hal itu hanya karena takut lagi tidak jujur di dalamnya. Dan bisa saja di menyembunyikan kekafiran,….bisa saja….dan bisa saja….sebagaimana yang terkadang dikatakan oleh orang yang ghuluw yang tidak peduli dengan dakwah!!!

[2] Dari Fathul Bari (kitabul Jihad was Sair) bab Ahlid Dar Yubayyatun fa Yushabul wildaan wadz Dzarariy

[3] Saya telah membuang dari sini ucapan saya: (Dan atas dasar apapun sesungguhnya nikah dengan orang kafir dengan sendirinya bukanlah tawalli dan bukan suatu dari sebab-sebab takfir, dan seandainya seperti itu tentu tidaklah boleh menikahi wanita ahlul kitab, maka apa gerangan bila itu dengan takwil?). Dan maksud saya adalah sebab-sebab takfir yang dhahir lagi shahih dan baku pada kondisi kejahilan si wanita terhadap kekafirannya dan keterpedayannya dengan intisab dia 9Si laki-laki) terhadap kaum muslimin dan orang-orang yang shalat sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Akan tetapi, tatkala ungkapan ini muthlak lagi tidak muqayyad dengan hal itu maka mesti saya membuangnya. Kami telah diingatkan terhadap hal itu oleh sebagian ikhwan kami. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata: (Ketahuilah, hendaklah para wanita muslimat mengetahui bahwa wanita yang ridla menikah dengan laki-laki yang kondisinya seperti ini, sedangkan dia mengetahui kondisinya atau ia ridla menetap (sebagai istri) bersama suami yang ia ketahui kemudtaddannya ini apa adanya, maka hukum wanita itu dan hukum laki-lakinya sama dalam riddah). Kalimatu Haqq halaman 158-159.

Dan ini adalah haq lagi tidak ada keraguan di dalamnya dan perhatikan bagaimana beliau mensyaratkan pengetahuan si wanita dan ma’rifah dia terhadap riddahnya karena si wanita dengan keadaan seperti itu tergolong orang yang menghalalkan suatu yang diketahui keharamannya secara pasti dari dien kaum muslimin, dan hukum wanita itu adalah sama dengan status laki-laki yang menikahi (mantan) ibu tirinya sebagaimana dalam hadits Al Bara’ dan karena alasan penerimaan si wanita untuk masuk secara sukarela dan atas dasar pengetahuan di bawah perwalian orang kafir.

[4] Telah lalu bahwa ini adalah ucapan jumhur ahlil ilmi, sebagaimana dalam Al Mughni (kitabul Murtad) pasal: diterima kesaksian dua orang adil atas riddah.

[5] Lihat Al Mughni 8/96 dan telah disebutkan di dalamnya bahwa yang diriwayatkan dari Ali bahwa murtaddah itu diperbudak adalah hadits dha’if, didha’ifkan oleh Ahmad. Sesungguhnya tidak tsabit bahwa orang-orang yang dijadikan budak oleh Abu Bakar mereka itu telah masuk Islam sehingga dihukum murtad. Dan selainnya menyebutkan bahwa Ali Ibnu Abi Thalib tidak memperbudak seorang pun dari istri-istri mereka, namun yang beliau perbudak hanyalah seorang budak wanita hitam dari budak-budak Banu Hanifah. Dan mereka berkata: Boleh menjadikan harta dan pembendaharaannya orang murtad sebagai ghanimah, sedangkan budak wanita ini dianggap sebagai harta dan pembendaharaannya Banu Hanifah dan para ulama memiliki jawaban-jawaban lain selain ini.

[6] Fatawa As Subki 2/282

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s