Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 20 Takfir Dengan Klaim Bahwa Diam Terhadap Para Penguasa Memastikan Ridla Akan Kekafiran Mereka, Dan Tidak Mempertimbangkan Kondisi Istidl’af )

Takfir Dengan Klaim Bahwa Diam Terhadap Para Penguasa Memastikan Ridla Akan Kekafiran Mereka, Dan Tidak Mempertimbangkan Kondisi Istidl’af

Di antara kekeliruan yang sangat buruk dalam takfir adalah sikap tidak mempertimbangkan kondisi istidl’af (lemah) dan takfir dengan klaim bahwa diam dari penguasa yang kafir dan tidak berupaya dalam merubah mereka dan tidak menjihadi mereka memastikan ridha akan kekafiran mereka.

Ahlus Sunnah itu “mengikuti al haq dan menyayangi mahluk“…begitulah para ulama kita mensifati dalam ‘Aqaid mereka, dalam rangka membedakan mereka dari ahlul bid’ah yang mempersulit kaum muslimin, yang tidak mengasihi orang lemah, yang tidak memaafkan kesalahan lagi tidak meng’udzur seorangpun.

Sungguh saya telah melihat sebagian kaum ghulat (ekstrimis) dari kalangan orang-orang yang bersemangat kosong, mereka tidak mengasihi awamul muslimin dan tidak memperhatikan kondisi istidl’af (ketertindasan) yang meliputi kaum muslimin pada hari ini di negeri mereka dengan sebab tirani para penguasa kafir, mereka (para ghulat) itu membebani awamul muslimin dengan apa yang tidak bisa mereka pikul, mereka mengharuskan awamul muslimin berupaya dan berjihad untuk merubah sistem yang berkuasa, dan kalau tidak maka mereka mengaggap awamul muslimin sebagai orang-orang yang ridla dengan kekafiran karena mereka diam darinya dan tidak berupaya dalam merubahnya. Dan dengan hal itu mereka telah menuduh setiap orang yang duduk (diam) dari menjihadi para thagut, mereka tidak mempertimbangkan istitha’ah (kemampuan) dan tidak membedakan antara kondisi kuat dengan kondisi istidl’af (lemah).

Bisa saja mereka berdalil dengan sebagian ayat-ayat wa’id yang di dalamnya Allah mengancam orang-orang yang absen (al qaaidin) dari jihad dan takhallaf (mengundurkan diri) dari nafir (seruan jihad ) saat ia wajib, seperti firman-Nya  ta’ala:

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksaan pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya”. (At Taubah: 39)

Seandainya mereka paham firman Allah ta’ala serta (paham) akan sisi dilalahnya, tentulah mereka tidak menemukan dalam ayat ini dan yang serupa denganya suatu yang menunjukan terhadap takfir dengan hal itu…

‘Adzab dunia bahkan ‘adzab yang pedih di akhirat tidak mesti darinya takfir (pengkafiran) sebagaimana telah kami ketengahkan dalam dalil-dalil yang muhtamal (banyak kemungkinan) dan engkau telah mengetahui bahwa di antara para muwahhidin ada orang yang terkadang di’adzab dan masuk neraka karena dosa-dosanya, baik itu karena muharramat yang dia langgar atau wajibat yang dia taqshir di dalamnya dan meninggalkannya, kemudian dikeluarkan dengan rahmat Allah dan karunia-Nya sehinga tempat akhirnya adalah tempat akhir kaum muwahhidin (surga) dan telah kami tegaskan kepadamu bahwa nash-nash wa’id (dali-dali ancaman) banyak di antaranya muhtamalud dilalah yang tidak boleh memastikan takfir di dalamnya tanpa memahaminya dengan berlenterakan nash-nash lain yang menjelaskannya.

Tidak diragukan bahwa menjihadi orang-orang kafir yang menjajah lagi mengendalikan urusan di negeri kaum muslimin, memerangi mereka untuk menyingkirkan syiriknya, serta mengeluarkan makhluk dari beribadah terhadap mereka kepada ibadah terhadap Allah saja dan dari kegelapan undang-undang mereka kepada keadilan dan cahaya Islam, ia adalah termasuk penegakan tauhid di muka bumi dan tergolong kewajiban yang paling wajib yang difardhukan Allah atas hamba-hamba-Nya[1].

Namun demikian sesungguhnya orang yang meninggalkan jihad yang wajib adalah tidak membatalkan ashlul iman dengan sekedar meninggalkan jihad untuk divonis kafir, namun ia hanya taqshir dalam al iman al wajib, oleh sebab itu ancaman baginya adalah ancaman yang di lontarkan pada kaum muwahhidin yang berbuat maksiat, bukan ancaman yang denganya Allah mengancam orang-orang kafir.

Dan neraka yang dimasuki (orang bertauhid) bila Allah tidak mengampuni dosanya adalah neraka sementara yang di masuki orang-orang bertauhid…, bukan neraka abadi yang disiapkan untuk orang-orang kafir, dan ia tempat akhir mereka, tempat kembali mereka dan dar (negeri) mereka, karena neraka itu bertingkat-tingkat ke bawah. Kaum munafikin berada di darkul asfal (neraka paling bawah) darinya, dan thabaqah tempat ‘ushat ahli tauhid di ‘adzab di dalamnya, ‘adzabnya sementara waktu, bisa lenyap lagi hilang, berbeda dengan ‘azdab orang-orang kafir yang kekal selama-lamanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Ash Sharimul Maslul hal.53-54: (Dan di antara yang menjelaskan perbedaan juga bahwa Dia subhanahu wata’ala berkata:

واعدلهم عذابا مهينا

“Dan kami persiapkan bagi mereka ‘adzab yang menghinakan“. (Al Ahzab: 57)

Sedang ‘adzab itu hanyalah dipersiapkan bagi kafirin, karena jahannam untuk mereka diciptakan, sebab mereka mesti masuk ke dalamnya dan tidak akan dikeluarkan darinya, sedangkan ahlul kabaa-ir (pelaku maksiat/dosa besar) dari kalangan mu’minin boleh jadi tidak masuk ke dalamnya bila Allah mengampuni mereka, dan bila mereka masuk ke dalamnya maka sesunguhnya mereka dikeluarkan darinya walau setelah waktu yang cukup lama, Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman: “Dan takutlah akan neraka yang telah dipersiapkan bagi orang-orang kafir”, maka Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum mu’minin untuk tidak makan riba, bertaqwa kepada Allah dan untuk takut terhadap neraka yang memang telah dipersiapkan untuk kafirin, maka diketahuilah bahwa mereka ditakutkan atas mereka masuk neraka bila mereka memakan riba dan melakukan maksiat, padahal sesunguhnya ia dipersiapkan bagi kuffar bukan bagi mereka, dan begitu juga  ada dalam hadits: Adapun ahlun naar yang mana mereka itu adalah penghuninya, maka sesunguhnya mereka itu tidak mati di dalamnya dan tidak hidup[2]. Dan adapun orang-orang yang memiliki dosa, maka mereka terkena hempasan dari api neraka kemudian Allah mengeluarkan mereka darinya“. (Selesai)

Wajib membedakan antara dua macam ancaman, supaya tidak terjadi kekacauan (pembauran) antara perbuatan-perbuatan yang mengkafirkan dengan yang lainnya.

Kemudian sebagaimana yang telah kami ketengahkan kepadamu sesungguhnya takfir itu wajib dengan dalil-dalil syar’i yang sharih lagi qath’i dilalahnya, adapun bersandar pada nash-nash wa’id yang muthlaq saja, maka sesunguhnya itu sumber ketergelinciran bagi orang-orang yang belum kokoh pijakan kakinya dalam ilmu dan pemahaman, karena syar’i sering sekali melontarkan ancaman terhadap dosa-dosa yang tidak mengkafirkan lagi tidak mengeluarkan dari millah sebagai bentuk takfir, tahdzir dan tarhib juga supaya jera dari sebagian dosa yang berbahaya.

Ini hal yang nampak jelas lagi ma’ruf (dikenal) bagi orang yang menelusuri dalil-dalil syar’i, dan mentadaburi khithab Allah tabaraka wa ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya oleh sebab itu salaf tidak menyukai  pentakwilan nash-nash ancaman, baik itu datang di dalamnya kata kufur pada dosa-dosa tertentu, atau selain itu berupa ancaman dengan ‘adzab neraka atau yang serupa denganya supaya manusia tidak seenaknya berani melangar dosa-dosa yang mana (Allah dan Rasul-Nya telah mengancam dengan hal itu atasnya atau menganggap remeh keberadaanya karena maksiat yang Allah namakan kekafiran, atau ancamannya diperkeras tidak seperti yang lain….kecuali mereka khawatir atas si pendengar salah paham (seperti) yang di lakukan khawarij, dan mereka melakukan rincian dan melakukan pentakwilan baginya, sebagaimana yang telah kami lakukan di sini.

Al Hafizh berkata dalam Al Fath (Kitabul Fitan) pada hadits “siapa yang mengangkat senjata di hadapan kami, maka ia bukan termasuk kami“ setelah ia menuturkan pentakwilan-pentakwilan ulama pada ucapannya “ia bukan termasuk kami”: (Dan yang lebih utama menurut banyak ulama salaf adalah melontarkan lafazh khabar tanpa menyentuh untuk mentakwilnya agar lebih kuat dalam membuat jera, dan Sufyan Ibnu ‘Uyainah mengingkari terhadap orang yang memalingkanya dari zhahirnya, beliau berkata: “Maknanya : Bukan di atas jalan kami, dan ia berpendapat, bahwa menahan diri dari mentakwilnya adalah lebih utama berdasarkan apa yang telah kami sebutkan”).

Demikianlah… dan akan datang bahwa kaum Azariqah dari khawarij adalah di antara pendapatnya: (Bahwa orang-orang yang tidak ikut berperang bersama mereka adalah musyrik), dan mereka berdalil untuk hal itu dengan Firman Allah Ta’ala:

“Setelah di wajibkan pada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik ) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya“. (An Nisa: 77)

Adapun ayat pertama maka sesunguhnya ia adalah tentang munafiqin yang mana Allah ta’ala mengetahui pendustaan mereka yang bathin (tersembunyi), sedangkan engkau telah mengetahui bahwa sebab-sebab takfir di dunia tidak bertalian dengan hal ini yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan sanksi terhadap mereka denganya. Dan Ayat ini datang berkenaan dengan al mutakhallifin (orang-orang yang absen) dari Perang Tabuk, dan sudah maklum bahwa tidak setiap yang absen darinya tergolong kaum munafiqin yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, namun di antaranya ada tiga dari sahabat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan mereka secara pasti bukan tergolong orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak kafir dengan sebab mereka absen darinya, dan ini dijelaskan dengan kelanjutan ayat tersebut (maksudnya At Taubah:39).

“Kelak orang-orang kafir di antara mereka itu akan ditimpa ‘adzab yang pedih” (At Taubah:90)

Ayat ini begitu terangnya menjelaskan bahwa orang–orang yang duduk-duduk (tidak ikut perang) tidaklah semuanya tergolong orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi di antara mereka ada yang memang kafir, dan di antara mereka ada yang tidak kafir, maka nampaklah bahwa kekafiran mereka di sisi Allah bukanlah karena duduk-duduk dan absen, akan tetapi pendustaan yang tersembunyi yang tidak dikenakan sanksi denganya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia karena mereka tidak menampakannya.

Adapun ayat ke dua, maka sungguh telah dikatakan juga bahwa ia tentang munafiqin tatkala Allah mengigatkan di dalamnya tentang mereka: “Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) berperang kepada kami beberapa waktu lagi…” dan dikatakan bahwa ia tentang orang-orang selain mereka. Dan atas dasar manapun, maka sesunguhnya di antara apa yang menjelaskan ayat-ayat ini dan ayat-ayat lainnya dari ayat–ayat yang mengancam atas sikap meninggalkan jihad adalah firman Allah subahanahu wa ta’ala dalam Surat An Nisaa sendri dan setelah ayat-ayat ini dengan jarak sedikit:

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai ‘udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan hartanya dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing–masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga)…” (An Nisa: 95).

Perhatikanlah bagaimana Allah menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang duduk meninggalkan jihad tanpa ‘udzur ada orang-orang mu’min dan bahwa Dia subhanahu wa ta’ala menjanjikan kepada masing–masing dari al mujahidin dan Al qaidin surga karena iman mereka, meskipun al mujahidin lebih tinggi derajatnya.

Bukti dari ini semua bahwa ancaman atas meninggalkan jihad yang wajib dengan siksa yang pedih atau ancaman bagi orang yang tidak berperang atau tidak membisikkan dirinya dengan perang bahwa dia mati di atas cabang kemunafikan,[3] atau hal serupa itu yang dengannya syari’at mengancam orang-orang yang taqshir dalam kewajiban. Semua itu dan yang serupanya berupa ayat-ayat Allah yang dijadikan dalil oleh khawarij untuk mengkafirkan orang-orang yang duduk tidak ikut berperang adalah tidak pantas dan tidak cukup dengan sendirinya menunjukkan atas takfir. Dan oleh karena itu tidak boleh mengkafirkan awamul muslimin dengan sebab sikap duduk mereka atau taqshirnya dalam merubah realita pemerintah murtad atau dengan klaim sikap diam mereka dari pemerintah kafir.

Sungguh dalil-dalil syar’i yang menjelaskan hal ini telah menunjukkan bahwa hal itu dibatasi dengan kemampuan, Allah tabaraka wata’ala berfirman:

“Dan kami telah menurunkan Adz Dzikra kepadamu, supaya kami menjelaskan kepada manusia apa yang telah di turunkan kepada mereka dan supaya mereka berpikir”. (An Nahl: 44)

Maka kita melihat pada penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu, ternyata kita mendapatkannya telah bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Sa’id Al Khudriy: “Siapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, kemudian bila tidak mampu maka dengan lisannya, kemudian bila tidak mampu maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman”.

Penjelasan ini menunjukan pada dua hal dalam bab ini:

Pertama  : Bahwa kewajiban berupaya dalam merubah dikaitkan dengan kemampuan.

Ke dua    : Bahwa orang yang diam itu tidak boleh dinisbatkan kepadanya apa yang tidak dia ucapkan atau menghukuminya ridla dengan kemunkaran yang mana ia belum mampu merubahnya, selama keridlaan itu tidak nampak dengan ucapan atau amalan, sebab hadits tadi menjelaskan bahwa orang yang diam bisa saja mengingkari dengan hatinya, sehingga dengan hal itu ia masih tetap sebagai ahlul iman meskipun imannya lemah, sedangkan lemahnya iman itu suatu hal selain kekafiran.

Dan tidak ragu lagi bahwa kelemahan dan kelesuan iman telah merambah dan menyebar pada banyak kaum muslimin, sedangkan ini termasuk sebab-sebab penguasaan para thaghut dan murtaddin atas diri mereka, akan tetapi takfir memiliki sebab-sebab yang zhahir lagi mundlabith serta dalil-dalil yang sharih lagi jelas.

Kemudian kita mendapatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperjelas masalah ini dalam hadits lain, riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Mas’ud beliau berkata: “Tidak seorang Nabipun yang Allah utus pada umat sebelumku melainkan ia memiliki dari umatnya hawariyyun dan ashhab, mereka memegang sunnahnya dan mengikuti perintahnya, kemudian datang sesudah mereka generasi yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan, maka siapa yang menjihadi mereka dengan tangannya, maka ia mu’min dan siapa yang menjihadi mereka dengan lisannya maka ia mu’min, dan siapa yang menjihadi mereka dengan hatinya maka ia mu’min, serta tidak ada di belakang itu sebesar biji khardalpun dari keimanan“.

Maka ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari dengan hatinya bila ia menjauhi kebatilan mereka adalah mujahid yang tidak boleh dinisbatkan pada sikap ridla terhadap mereka selama hal itu tidak nampak dengan ucapaan atau perbuatan, dan ia itu mu’min yang tidak halal mengkafirkannya berdasarkan dhann, perkiraan dan kemungkinan-kemungkinan.

Kemudian beliau menambahkan penjelasan yang lebih terang lagi dengan apa yang diriwayatkan Muslim dari Ummu Salamah: “Sesunguhnya dikuasakan atas kalian para amir, kemudian kalian mengetahui dan mengingkari, siapa yang membenci maka dia sudah berlepas diri, dan siapa yang mengingkari maka dia selamat akan tetapi orang yang ridha dan mengikuti”.

An-Nawawi berkata dalam Syarh Kitabul Imarah dalam Shahih Muslim: (“Siapa yang membenci maka dia suda berlepas diri”, maknanya: Siapa yanng membenci yang munkar itu, maka ia telah berlepas diri dari dosa dan sanksinya, ini adalah berkenaan dengan orang yang tidak mampu mengingkarinya dengan tangan dan lisannya, maka hendaklah ia membencinya dengan hatinya dan hendaklah ia berlepas diri….) hingga ucapanya: (“akan tetapi orang yang ridla dan mengikuti”, maknanya: akan tetapi dosa dan sanksinya atas orang yang ridla dan mengikuti, dan di dalamnya ada dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu menghilangkan kemunkaran tidaklah berdosa dengan sekedar diam, akan tetapi hanyalah dia berdosa dengan ridla terhadapnya atau dengan tidak membencinya dengan dirinya atau dengan mengikutinya).

Dalam hal ini terdapat penjelasan bahwa pengingkaran orang muslim dan kebenciannya dengan hati adalah bentuk bara’ah dia dari kekafiran dan kezhaliman, selama ia menjauhi kebatilan mereka lagi tidak mengikuti kekafiran mereka, tidak pula membantu atau menolong mereka.

Dan di dalamnya terdapat faidah bahwa orang yang tercela lagi binasa hanyalah orang yang mengikuti dan ridla, atau membela dan membantu sedangkan ridla hati meskipun tergolong asbabul kufri, akan tetapi tatkala sulit atas kita memegang dan memperhatikannya, maka takfir dalam hukum dunia tidak dikaitkan dengannya, kecuali bila nampak dengan ucapan atau amalan seperti mutaba’ah (mengikuti) yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sertakan dengannya dalam hadits. Dan di antaranya adalah inhiyaz (bergabung) pada kelompok dan barisan mereka yang menentang Allah, atau indlimam (memblok) pada barikade mereka yang memusuhi wali-wali–Nya, atau imtinaa’ (melindungi diri saat menolak ketundukan kepada hukum Allah) dengan kekuatan kekuasaan mereka yang menentang syariat-Nya dan siapa yang menampakkan hal seperti ini, maka sesunguhnya ia adalah termasuk golongan mereka dan status hukum mereka sama dengan status hukum mereka, serta dia itu berhak menisbatkan pada sikap ridla terhadap mereka dan kekafirannya, walau dia tidak menegaskan hal itu dengan lisanul maqal, karena lisanul hal lebih dasyat dalam banyak keadaan, oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa hukum arrid’u (barisan belakang pendukung) dalam ath thaifah al mumtani’ah al muharibah adalah hukum al mubasyir (barisan yang terjung langsung di medan perang) dan atas dasar ini berjalan pengamalan dan jihad kaum muslimin serta qital mereka terhadap berbagai kelompok di generasi pertama, dan tidak boleh dikatakan bahwa arrid’u itu diam. Bagaimana dinisbatkan ridla terhadapnya…, justru arrid’u itu adalah mengikuti, membela lagi bergabung pada barisan dan jajaran serta thaifah mereka memerang dienullah, dan ini adalah amalan mukaffir.

Siapa yang mengikuti mereka atas kekafirannya dengan ucapan atau perbuatan tanpa ada ikrah, maka ia telah ridla dan melapangkan dadanya dengan kekafiran, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam dalam menjelaskan fiman-Nya tabaraka wa ta’ala:

“(kecuali orang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa) akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar”. (An Nahl:106)

Beliau berkata: (Sesunguhnya siapa yang kafir tanpa ada paksaan, maka ia telah melapangkan dadanya untuk kekafiran) dan bila ia mengucapkan kalimat kekafiran secara sukarela, maka ia telah melapangkan dadanya untuk kekafiran dan ia adalah kekafiran) Cetakan Dar Ibnu Hazm 7/ 140.

Adapun orang yang tidak nampak darinya ucapan atau perbuatan yang menunjukkan terhadap keridlaan, maka tidak halal menisbatkan keridlaan terhadapnya dengan sekedar sikap diamnya, oleh sebab itu para fuqaha dalam Al Qawaid Al Fiqhiyyah menegaskan bahwa (ucapan apapun tidak dinisbatkan kepada orang yang diam). (Al Qawaid Al Fiqhiyyah, karya As Sayuthi, hal.266)

Dan terakhir sungguh Allah ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (yang menyerukan) sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, maka di antara umat ada orang-orang yang di beri petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasts kesesatan baginya…” (An Nahl:36)

Siapa yang mendatangkan apa yang nampak berupa ashlul iman, dan ia itu menjauhi kekafiran lagi tidak mengikuti dan tidak mendukungnya, maka ia tergolong orang yang diberi pentujuk oleh Allah ta’ala dalam hukum-hukum dunia yang zhahir bagi kita, kemudian bila ternyata bathinnya membenarkan zhahirnya; dimana dia membenci kekafiran dan mengikari dengan hatinya, maka ia telah terlepas diri dari kekafiran secara hakikat sebenarnya -di sisi Allah juga– meskipun ia tidak berupaya dalam merubahnya dan menjihadinya karena kelemahannya atau taqshirnya.

Maka apa gerangan bila hal ini disertai dengan realita istidl’af yang dialami kaum muslimin pada hari ini, dan yang mana boleh bagi muslim yang tertindas di dalamnya untuk mengambil sikap taqiyyah dan ia menyembunyikan permusuhannya terhadap orang-orang kafir, atau mengamalkan nash-nash (yang menganjurkan) memberi maaf, shafh dan sabar…?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Ash Sharimul Maslul hal 221: (Ayat-ayat itu (yakni ayat-ayat pemberian maaf, sabar dan (yang memerintahkan berpaling dari kuffar dan munafiqin) telah menjadi (pegangan) bagi setiap muslim mustadl’af yang tidak mungkin bagi dia membela Allah dan Rasul-Nya dengan tangan dan lisanya, maka ia membelanya dengan apa yang dia mampu berupa hati dan yang serupa denganya. Dan ayat shaghat (kehinaan) atau mu’ahidin (kafir-kafir dzimmiy) berlaku bagi setiap mu’min yang kuat dan mampu membela Allah dan Rasul-Nya dengan tangan atau dengan lisanya, dan dengan ayat ini dan yang serupa dengannya kaum muslimin mengamalkanya di akhir umur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pada masa Al Khulafa Ar Rasyidin. Dan begitulah ia hingga qiyamussa’ah (Kiamat) akan senantiasa sekelompok dari umat ini yang tegak di atas al haq seraya membela Allah dan Rasul-Nya dengan pembelaan yang sempurna. Siapa saja di antara kaum mu’minin yang berada di suatu negeri atau pada suatu waktu yang mana ia tertindas di dalamnya, maka hendaklah ia mengamalkan ayat sabar, shafh dan pemaafan terhadap orang yang menyakiti Allah dan Rasul–Nya dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin. Adapun orang-orang yang memiliki kekuatan, maka ia hanya mengamalkan ayat perang terhadap aimmatul kufri (dedengkot kekafiran) yang mencela dien ini dan (mengamalkan) ayat perang terhadap ahlul kitab sampai mereka memberikan jizyah ( sejumlah harta sebagai jaminan diri) dari tangannya langsung sedang mereka dalam keadaan hina.


[1]Telah kami uraikan dalil-dalil atas hal itu dalam kitab kami “Naz’ul Husam Fi Wujub Qitali Kafaratil Hukkam Wa Munaza’atil  Wulah Hatta Yakuunad Dienu Kulluhu Lillah…”

[2] Juz dari Hadits Riwayat Muslim.

[3] Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan secara marfu’ dalam Shahih Muslim dan yang lainnya

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s