Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 30 Tidak Membedakan Antara Kufur Riddah Dengan Kufur Takwil Serta Menyamakan Antara Keduanya)

Tidak Membedakan Antara Kufur Riddah

Dengan Kufur Takwil

Serta Menyamakan Antara Keduanya

Di antara kekeliruan takfier juga adalah tidak membedakan antara kufur riddah dengan kufur takwil serta menyamakan antara keduanya.

Dan yang dimaksud dengan kufur takwil di sini adalah apa yang divoniskan oleh para ulama terhadap banyak ahlul bid’ah, seperti qodariyyah, mu’tazilah, jahmiyyah dan yang lainnya berupa takfier. Mereka itu meskipun para ulama telah melontarkan takfier terhadap bid’ah-bid’ah dan maqalat (pendapat-pendapat) mereka, bahkan mereka melontarkan takfier terhadap suatu keolmpok dari mereka, seperti ucapan mereka: (jahmiyyah itu kuffar) dan yang semacam itu, akan tetapi mereka tatkala menerapkan hukum terhadap orang-orangnya, mereka memberikan rincian dan tidak mengkafirkan kecuali setelah iqamatul hujjah disertai perbedaan tentang da’iyah (penyeru) di antara mereka dan yang lainnya.

Dan dari itu maka yang benar adalah tidak boleh menerapkan konsekuensi atas pelontaran takfier terhadap mereka sebelum itu seperti konsekuensi yang mereka terapkan terhadap orang murtad dengan riddah yang sharih yang di dalamnya dia berlepas diri dari ad dien, karena kekafiran mereka itu bukanlah kekafiran pindah dari dienul Islam kepada dien yang lain, bahkan justru mereka itu berpegang teguh dengan Islam, loyal terhadapnya dan tidak ridla dengan dien dan ajaran lain, dan ia juga bukan tergolong jenis pelanggaran nawaqidlul Islam yang jelas dan mukaffirah yang sharih seperti menghina Allah atau menghina Rasul-Nya secara terang-terangan, akan tetapi dalam bid’ah-bid’ah mereka terhadap kesamaran dan isykal juga pentakwilan sebagian nash-nash dengan klaim tanzih dan ta’dhim kepada Allah Ta’ala dan yang lainnya yang memastikan iqamatul hujjah atas mereka dan izalatusy syubhat sebelum mengkafirkan mereka, sehingga tidak boleh menyetarakan mereka dengan orang murtad yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya:

(من بدّل دينه فاقتلوه)

“Siapa yang mengganti diennya maka bunuhlah dia”, kecuali setelah ada kejelasan hujjah mu’anadah (pembangkangan) dan sikap ngotot di atas kekafirannya yang nyata. Dan sebab itu adalah bahwa keumuman kekafiran mereka hanyalah terjadi dengan laazim dan ma’aal dan telah lalu pembiaraan tentangnya.

Al Qodhi Iyadl berkata dalam (Asy Syifa Bi Ta’rif Huquqil Mushthafaa) 2/272: (Pasal: dan adapun orang yang menyandarkannya kepada Allah Ta’ala suatu yang tidak layak bagi-Nya bukan dalam rangka mencela, dan bukan dalam rangka riddah serta menyengaja kekafiran, akan tetapi atas dasar takwil, ijtihad, dan kekeliruan yang menghantarkan pada hawa nafsu dan bid’ah berupa tasybih atau pensyifatan dengan jarihah (anggota badan)[1] atau penafian sifat kesempurnaan, maka ini tergolong yang mana salaf dan khalaf berselisih dalam takfier orang yang mengatakannya dan yang meyakininya, sedangkan pendapat Malik berbeda dengan para pengikutnya dalam hal itu, namun mereka tidak bersilang pendapat tentang sikap memerangi mereka bila mereka itu memblok jadi satu kelompok dan bahwa mereka itu diistitabah, bila taubat (maka dibiarkan) dan bila tidak maka mereka diperangi. Namun yang mereka perselisihkan adalah seorang individu dari mereka dan mayoritas pendapat Malik dan para pengikutnya adalah meninggalkan pembicaraan akan takfier mereka dan meninggalkan dari memerangi mereka…)

Di dalamnya perhatikan juga faidah seputar apa yang telah lalu, yaitu berupa membedakan antara mumtani’in bi fi-ah (yang melindungi diri dengan kelompok) dengan al maqdur ‘alaih…., kemudian beliau menyebutkan perkataan-perkataan ulama tentang perselisihan dalam hal itu dan bahwa perselisihan tentang pengulangan shalat di belakang mereka adalah bentuk pengembangan dari ini, dan berkata hal (2/275): (Dan di antara orang yang diriwayatkan darinya makna ucapan yang akhir akan meninggalkan takfier mereka adalah Ali Ibnu Abi Thalib[2], Ibnu Umar dan Al Hasan Al Bashriy, dan ia adalah pendapat jama’ah dari fuqoha, nudhdhat (para ahli yang mengamati) dan al mutakallimin.

Mereka berhujjah dengan pemberian warisan oleh para sahabat dan at tabi’in terhadap ahli Harura dan orang yang diketahui berpaham qodariyyah dari (harta yang meninggal dunia di antara mereka, penguburan mereka di pekuburan kaum muslimin serta pemberlakuan ahkamul Islam atas mereka).

Dan bisa jadi perselisihan yang beliau sebutkan pada pendapat salaf dan ulama tentang ahlut takwil adalah tersusun dan terbangun bila memilah dan memisahkan antara ucapan-ucapan mereka terhadap individu-individu sebagaimana yang lalu. Dan akan datang semacam taujih ini pada pernyataan Syaikhul Islam.

Al Qodli Iyadl berkata juga dalam (Pasal: Fi Tahqiqil Qoul Fi Ikfaril Muta-awwilin) setelah beliau menuturkan ikhtilafil fuqaha dalam hal ini dan perselisihan dua ucapan Malik dalam hal itu, serta tawaqquf beliau dari pengulangan shalat di belakang orang-orang yang melakukan takwil dari kalangan ahlul bida’ wal ahwa: (Dan ini adalah pendapat Al Qodli Abu Bakar Imam Ahlit Tahqiq Wal Haq, dan berkata: Sesungguhnya ia tergolong hal-hal yang pelik karena mereka itu tidak terang-terangan dengan nama al kufr, namun mereka mengatakan ucapan yang menghantarkan kepadanya, dan ucapan beliau idlthirab (ngambang/tidak jelas) dalam masalah ini seperti idlthirab ucapan imamnya, Malik Ibnu Anas), hingga ucapannya: (Dan kecenderungannya yang lebih adalah kepada pendapat meninggalkan takfier dengan ma-aal) 2/276-277.

Dan dalam tempat itu sendiri beliau menukil dari para ulama muhaqqiqin: (Sesungguhnya wajib menghindar dari takfier pada ahlut takwil, karena pengahalalan darah orang-orang shalat yang bertauhid adalah bahaya, sedangkan keliru dalam takfier seribu orang kafir adalah lebih ringan dari kekeliruan dalam menumpahkan sepercik dari darah seorang muslim)

Dan berkata 2/294: (Orang-orang berselisih dalam hal takfier ahlut takwil, dan bila engkau memahaminya maka jelas di hadapanmu apa yang menyebabkan perselisihan orang-orang dalam hal itu. Dan yang benar adalah tidak takfier mereka dan berpaling dari memvonis kerugian atas mereka, dan memberlakukan hukum Islam atas mereka dalam hal qishash, warisan, pernikahan, diyat, menshalati mereka, mengubur mereka di pekuburan kaum muslimin dan mu’amalah mereka, akan tetapi mereka mesti diberi pelajaran dengan pelajaran yang menyakitkan, sanksi yang membuat jera dan pemboikotan sampai rujuk dari bid’ah mereka, dan ini adalah sikap generasi awal terhadap mereka..)

Abu Sulaiman Al Khatthabiy berkata: (Sabdanya: “Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh firqah” di dalamnya ada dilalah bahwa firqah-firqah ini semuanya tidak keluar dari dien, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan mereka seluruhnya bagian dari umatnya. Dan di dalamnya ada dilalah bahwa orang yang mentakwil tidak keluar dari millah ini meskipun ia keliru dalam takwilnya) As Sunan Al Kubra karya Al Baihaqiy 10/208.

Al Baihaqiy telah menuturkan dalam Sunannya 10/207 dalam Kitabusy Syahadat dari Al Imam Asy Syafi’iy dan para imam lainnya tentang takfir mubtadi’ah dari kalangan Jahmiyyah, Qadariyyah, Khawarij dan yang lainnya bahwa mereka memaksudkan dengannya kufrun duna kufrin…, dan menuturkan seperti itu Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1/228 dan berdalil atas hal itu dengan kenyataan mereka menerima kesaksian mereka itu.

Al Baihaqiy berkata: (Mungkin mereka memaksudkan dengan takfier mereka apa yang mereka yakini berupa penafian sifat-sifat yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya dan pengingkaran mereka terhadapnya dengan pentakwilan yang jauh dengan disertai keyakinan mereka akan penetapan apa yang Allah Ta’ala tetapkan terus mereka berpaling dari (ajaran) dhahir dengan pentakwilan, maka mereka tidak keluar darinya dari millah meskipun takwilnya keliru sebagaimana tidak keluar (dari millah) orang yang mengingkari penetapan al mu’awwidzatain dalam mushhaf-mushhaf seperti surat-surat lainnya karena syubhat, meskipun hal itu menurut selain dia adalah keliru.) As Sunnah Al Kubro 10/207

Ibnu Hazm berkata setelah menuturkan Abul Hudzail[3], Ibnul Ashamm[4], Bisyr Ibnul Mu’tamir[5], Ibrahim Ibnu Sayyar[6], Ja’far Ibnu Harb[7], Ja’far Ibnu Mubasysyir[8], Tsumamah[9], Abu Ghifar[10], dan Ar Raqqasyiy[11], -mereka semua adalah tergolong Mu’tazilah-, Azariqah, Shafariyyah, dan kaum Jahil Abadliyyah, -dan mereka tergolong firqoh-firqoh Khawarij yang paling masyhur dan akan datang bahasannya-, serta ahlur Rafdli, beliau berkata: (Dan kami meskipun tidak mengkafirkan banyak dari orang-orang yang kami sebutkan dan kami juga tidak memvonis fasiq banyak dari mereka, bahkan kami loyal kepada semuanya, kecuali orang yang diijmakan oleh umat atas pengkafiranya dari mereka..) Maratibul Ijma hal. 15

Oleh sebab itu mereka digolongkan dalam Al Firaq Al Islamiyyah atau firqoh orang-orang yang mengaku millatul Islam, beliau (Ibnu Hazm) berkata: (Firaq orang-orang yang mengaku millatul Islam ada lima dan mereka itu adalah Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji-ah, Syi’ah dan Khawarij). 2/265 dari Al Fashl Fil Milal Wal Ahwa Wannihal.

Dan inilah al haq tentang orang-orang yang tidak keluar secara persisnya dari lingkungan Islam dan muwalah imaniyyah, maka tidak halal menyamakan dia bagaimanapun bentuk bid’ahnya, -selama ia dengannya tidak keluar dari lingkungan Islam-, dengan kafir asli, atau dengan orang murtad dari millatul Islam.

Termasuk juga seandainya bid’ahnya itu bid’ah mukaffirah dan dia dikafirkan dengan sebabnya, maka tidaklah sah selama kekafirannya itu kufur takwil meyetarakan dengan kafir asli atau dengan orang yang riddahnya dari dien ini riddah dhalalah, karena penyetaraan ini bukan penyetaraan yang bersifat teoritis lagi bersifat pemikiran akan tetapi ia memiliki konsekuensi-konsekuensi logis dan pengaruh-pengaruhnya yang bersifat ‘amaliy.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah mengingatkan kepada hal ini dan kepada kekeliruan orang yang menyamakan antara kufur riddah dhahirah dengan kufur takwil, beliau berkata: (Sesungguhnya banyak dari fuqaha mengira bahwa orang yang diktakan (tentangnya): Ia kafir, bahwa ia itu wajib diberlakukan atasnya hukum-hukum orang murtad riddah dhahirah, dimana tidak mewarisi, tidak diwarisi dan tidak dinikahkan, sehingga mereka memeberlakukan hukum-hukum ini terhadap orang yang mereka kafirkan dengan sebab takwil dari kalangan ahlul bida’, sedangkan masalahnya tidaklah seperti itu…) hingga ucapannya setelah menuturkan sikap para sahabat yang tidak mengafirkan Haruriyyah: (Dan para ‘ulama telah berselisih dalam hal takfier ahlil bida’ wal ahwa dan vonis kekal di neraka bagi mereka. Tidak satu imampun melainkan dihikayatkan darinya dua pendapat dalam hal itu seperti Malik, Asy Syafi’i, Ahmad dan yang lainnya, dan akhirnya sebagian pengikut mereka menghikayatkan perselisihan ini dalam semua ahlul bida’ dan dalam vonis kekal di neraka bagi mereka sampai ia komitmen dengan vonis kekal bagi setiap orang yang diyakini bahwa ia mubtadi’ secara ta’yin, sedangkan dalam pendapat ini terdapat kekeliruan yang tidak terhitung. Di sisi lain ada yang berpendapat bahwa tidak boleh mengafirkan seorangpun dari ahlul ahwa meskipun mereka itu telah mendatangkan ilhad dan ucapan-ucapan ahlutta’thil wal ittihad.

Dan tahqiq (pendapat pilihan) dalam hal ini adalah bahwa ucapan bisa saja merupakan kekafiran, seperti maqalat jahmiyyah yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak berbicara dan tidak dilihat di akhirat”, akan tetapi terkadang samar atas sebagian orang bahwa itu kekafiran, lalu dia melontarkan ucapan tentang pengkafiran orang yang mengatakannya,sebagaimana yang dikatakan Salaf: “Siapa yang mengatakan Al Qur’an itu makhluq, maka dia itu kafir”, “Dan siapa yang mengatakan bahwa Allah tidak dilihat di akhirat, maka dia kafir”, namun orang mu’ayyan tidak dikafirkan sehingga tegak hujjah atasnya….) Majmu’ Al Fatawa Cet. Dar Ibnu Hazm 7/375-377.

Coba perhatikan pemilahan beliau terhadap kufur takwil atau kekafiran dalam hal-hal musykil yang membutuhkan bayan dan ta’rif, dengan kekafiran yang sharih yang mana ia seperti kekafiran Yahudi dan Nasrani atau lebih dasyat –sebagaimana yang telah lalu- di mana di sini beliau mengisyaratkan kepada Al Ittihadiyyah. Dan bahwa tasahul (mengenteng-entengkan) dalam takfier orang-orang macam mereka adalah tercela seperti halnya tergesa-gesa dalam takfier individu-individu ahluttakwil.

Dalam ucapannya juga ada isyarat bahwa tasahul dalam takfier ahlul kufri ash sharih terkadang terjadi akibat reaksi balik terhadap sikap tahawwur sebagian orang dalam takfier….. sedangkan al haq adalah yang sejalan dengan dalail, tidak bersama kaum mutasahilin dan tidak pula bersama kaum mutahawwirin.

Beliau rahimahullah ditanya tentang orang yang lebih mengutamakan Yahudi dan Nashara atau Rafidhah, maka beliau menjawab: (Alhamdulillah, setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia lebih baik dari setiap orang yang kafir terhadapnya, meskipun pada diri orang yang beriman itu ada macam bid’ah tertentu, baik itu bid’ah Khawarij, Syi’ah, Murji-ah, Qadariyyah atau yang lainnya, karena kaum Yahudi dan Nashrani adalah kuffar dengan kekafiran yang ma’lum secara pasti dari dienil Islam, sedangkan ahlul bid’ah bila mengira bahwa ia sejalan dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi tidak menyelisihinya, maka ia tidak kafir terhadapnya, dan seandainya dikira-kirakan dia itu kafir, maka kekafirannya itu tidaklah seperti kekafiran orang yang mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam)[12]

Perhatikan pemilahannya antara orang yang kekafirannya kufur yang ma’lum secara pasti seperti kekafiran Yahudi, Nashara dan yang lainnya dengan orang yang kekafirannya tidak seperti itu, seperti orang yang tidak mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan dia beriman  kepadanya dan ia mengira bahwa ia sejalan dengannya serta tidak menyengaja untuk menyelisihinya.

Khulashah: Sesungguhnya tidak sah menyamakan kufur takwil dengan kufur riddah yang berisi penggantian agama, pindah ke agama lain dan berlepas diri dari dienul Islam atau (menyamakannya) dengan kekafiran yang sharih lagi ma’lum secara pasti dari dien ini, apalagi menyamakannya dengan para thaghut dan murtaddin yang memiliki kekuasaan, dan dari itu sikap serabutan dalam menerapkan konsekuensi hukum takfier terhadap macam pertama tanpa iqamatul hujjah atau istitabah.[13] Karena sungguhnya dalam sikap itu terkandung penghalalan darah, harta dan ’ishmah orang-orang yang shalat lagi bertauhid, yang mana Allah sajalah yang mengetahui keburukannya dan bahayanya serta pengaruhnya yang fatal bagi kaum muslimin.

Asy Syaukani berkata dalam As Sail Al Jarrar 4/373 dalam rangka mengomentari perkataan penulis Hadaaiqul Azhaar: “Dan qatl itu adalah hukuman bagi orang harbiy dan murtad dengan bentuk apa saja kekafirannya”. Beliau rahimahullah berkata: (Adapun ucapannya “dengan bentuk apa saja kekafirannya”, maka sungguh penulis telah ingin memasukkan kuffar takwil secara isthilah dalam penamaan riddah, ini adalah ketergelinciran kaki yang dikatakan di sisinya pada kedua tangan dan mulut: Ooh kesalahan yang tidak layak diucapkan dan kekeliruan yang tidak bisa dimaafkan, seandainya ucapan ini benar tentulah mayoritas orang yang ada di muka bumi dari kalangan muslimin itu adalah murtaddin, karena para pengikut berbagai madzhab adalah Asya’iriyyah dan Maturidiyyah, sedangkan mereka itu mengkafirkan Mu’tazilah dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan Mu’tazilah mengkafirkan mereka, sedangkan setiap hal itu adalah bisikan dari bisikan-bisikan syaithan yang terlaknat dan suatu denyut dari denyut-denyut ta’ashshub yang berlebihan dan egoisme yang besar.)

Beliau juga berkata dalam rangka menta’liq ucapannya: “Orang yang mentakwil adalah seperti orang murtad”: Saya katakan: Di sini ditumpahkanlah air mata dan diratapi atas Islam dan pemeluknya dengan sebab sikap aniaya fanatisme dalam dien terhadap mayoritas kaum muslimin, berupa saling menuduh kafir tanpa landasan Sunnah, Qur’an, ataupun penjelasan dari Allah dan tidak juga burhan, namun tatkala sisir fanatisme dalam dien ini melampaui batas dan syaithan yang terlaknat telah mampu memecah belah persatuan kaum muslimin, maka syaithan mendiktekan terhadap mereka ilzaamat sebagian mereka terhadap sebagian yang lain dengan suatu yang serupa dengan debu di udara dan fatamorgana di padang pasir…. Yaa Allah, tolonglah kaum muslimin dari kenistaan ini yang mana ia tergolong kehinaan terbesar dalam dien ini dan (dari kehinaan) yang tidak pernah sabilul mu’minin dikotori dengan yang semisalanya. Bila masih tersisa pada dirimu bagian dari akal dan sisa dari muraqabatullah ‘Azza wa Jalla serta bagian dari ghirah Islamiyyah tentu engkau telah mengetahui dan mengetahui (pula) setiap orang yang memiliki ilmu dien ini, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah ditanya tentang Islam, maka beliau berkata dalam menjelaskan hakikatnya dan menjabarkan mafhumnya: (bahwa adalah mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, shaum Ramadhan dan syahadat laa ilaaha illallah), dan hadits-hadits yang semakna ini adalah mutawatir. Siapa yang mendatangkan rukun yang lima ini dan merealisasikannya secara total, maka ia adalah muslim, walau ditolak oleh orang yang menolak, siapa saja orangnya. Siapa saja yang datang kepadamu dengan sesuatu yang menyelisihi ini berupa ucapan rendahan dan ilmu yang palsu, bahkan justeru kejahilan, maka lemparkan saja hal itu di wajahnya dan katakan kepadanya: Igauanmu ini telah melampaui dalil Muhammad Ibnu ‘Abdillah shalawatullah  wa salaamuhu.

دَعُوا كُلَّ قَوْلٍ عِنْد قَوْلِ مُحمدٍ        فَمَا آمِنٌ فِي دِينِهِ كَمُخَاطِرِ.

Tinggalkan setiap ucapan di samping ucapan Muhammad

Tidaklah orang aman dalam diennya seperti orang yang mempertaruhkannya

(As Sail Al Jarrar 4/584).


[1] Perhatikan: sesungguhnya Asya’irah terkadang memaksudkan dengan hal yang seperti ini itsbat shifat walau itu diatas jalan ahlus sunnah dimana al qodli adalah Asy’arriy.

[2] Dan akan kami uraikan saat berbicara tentang Khawarij.

[3] Abul Hudzal adalah Muhammad Ibnul Hudzail Al Allaf Al Bashriy (236 H) tergolong tokoh Mu’tazilah, ia banyak debat tentang kalam dan ia dalam hal itu mengambil sandaran dari buku-buku Yunani dan ia adalah paman An Nadhdhan dari jalur ibu.

[4] Al Ashamm adalah Abu Bakar Abdurrahman Ibnu Kaisan Al Bashriy dari jajaran Bisyr al Mirrisy dan Hafsh Al Fard, sibuk dengan ilmu kalam, ia juga memiliki tafsir dan punya perhatian terhadap fiqh, oleh sebab itu pendapat-pendapatnya disebutkan berulang-ulang dalam kitab-kitab Ibnu Jarir, Abu Bakar Ar Raziy dan yang lainnya dari kalangan pendahulu. Dia memiliki pendapat syadz (ganjil) dalam pensyaratan nishab kesaksian untuk penerimaan khabar ahad, yaitu para perawinya tidak kurang dari dua orang adil atau lebih.

[5] Ia adalah Abu Sahl Al Hilaliy, tokoh Mu’tazilah di Baghdad, berkecimpung dalam adab dan kalam di atas jalan Mu’tazilah, wafat sekitar tahun 210 H.

[6] An-Nadhdham Al Mu’taziliy, telah lalu.

[7] Al Hamdaniy, seorang wara’ dan zuhud, wafat tahun 236 H.

[8] Ats Tsaqafi Al Mu’taziliy, dan ia berpendapat tidak boleh memakai qiyas, wafat tahun 234 H.

[9] Tsumamah Ibnu Asyras An-Numairiy Al Mu’taziliy terkenal dengan khala’ah, wafat tahun 213 H.

[10] Mungkin perubahan dari (Abu ‘Affan) Ar Raqqiy Al Mu’taziliy, teman Al Jahidh.

[11] Al Fadhl Al Waa’idh, tergolong perawi Ibnu Majah, lemah periwayatannya lagi tidak bisa dijadikan hujjah, dia berpaham Qadariyyah sebagaimana yang dituturkan Ibnu Qutaibah.

(Semua biografi ini diringkas dan disarikan dari catatan kaki Maratibul Ijma’)

[12] Majmu’ Al Fatawa Dar Ibnu Hazm 35/122, telah lalu dari Syaikhul Islam juga pemilahannya antara riddah mujarradah dengan riddah mazidah mughalladhah dalam Ash Sarim Al Maslul.

[13] Dan mencabang dari pemilahan ini: masalah-masalah penting yang banyak yang wajib diperhatikan oleh Al Faqih dalam masalah-masalah kontemporer, seperti memilah antara sembelihan orang yang kekafirannya kufur takwil dengan sembelihan orang murtad yang berlepas diri dari Islam. Yang pertama masih senantiasa shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita dan menyembelih seperti sembelihan kita. Juga seperti hal itu penerimaan kesaksiannya atau kabarnya atau riwayatnya dalam selain bid’ahnya, sedangkan rincian itu diketahui dalam tempatnya.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s