Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 29 Takfir Setiap Orang Yang Menyelisihi Ijma Tanpa Rincian)

Takfir Setiap Orang Yang Menyelisihi Ijma Tanpa Rincian

Dan di antara kekeliruan takfier juga adalah takfier setiap yang menyelisihi ijma tanpa rincian dan tanpa memperhatikan kemungkinan terjadinya, kemungkinan mengetahuinya, keberadaannya dan hujjahnya dengan kedua macamnya (ijma) sharih dan (ijma) sukutiy; berupa perselisihan yang ma’lum bagi setiap orang yang mengamati perkataan al muhaqiqin dari ulama ushul. Dan engkau bisa mengamati kesimpulan itu dalam pembahasan Ijma oleh Asy Syaukani dalam kitabnya yang sangat berharga ”Irsyadul Fuhuul”.

Dan yang kami yakini keabsahannya dalam bab ini, dan kemungkinan terjadi dan terealisasinya, serta kami menulusurinya dan menganggapnya sebagai bagian dari sabilul mu’minin, adalah apa yang tsabit berupa ijma sahabat radliyallahu ‘anhum terhadap berbagai masalah yang memiliki dasar atau sandaran dari syariat. Dan itu sebelum mereka berpencar di berbagai negeri, seperti ijma mereka untuk membai’at Abu Bakar Ash-shiddiq dan ijma mereka untuk memerangi orang-orang yang menolak dari membayar zakat serta yang lainya.

Berbeda dengan apa yang dihikayatkan dan dianggap bagian ijma selain mereka yang susah menetapkannya dan tidak diketahui sandaranya. Dan ini bukan hal baru yang muncul hanya dari kami, justu ia adalah pendapat Dhahiriyyah dan Al Imam Ahmad juga mengisyaratkatkan ke arah sana.[1] Bahkan ia adalah yang masyhur darinya sebagaimana ynag dikatakan Asy Syaukani, dan dinukil darinya dari riwayat Abu Dawud bahwa beliau berkata: (Al ijma adalah mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari para sahabatnya, sedangkan ia di kalangan para tabiin bisa dipilih), dan ini adalah  dzahir ucapan Ibnu Hibban dalam Shahihnya[2].

Dan begitu juga ijma kaum muslimin terhadap apa yang sudah diketahui secara pasti dari dien ini berupa hal-hal yang tidak ada di dalamnya seorang pun dari kaum muslimin menyelisihinya.

Asy Syafiiy berkata: (Aku tidak mengatakan dan tidak pula seorangpun dari ahlul ilmi ini mengatakan “sudah diijmakan” kecuali bagi suatu yang tidak engkau temukan seorang ‘alim pun seluruhnya melainkan ia mengatakan hal itu kepadamu, dan ia menghikayatkannya dari orang yang sebelumnya, seperti dhuhur empat raka’at dan seperti keharaman khamr serta hal yang serupa itu ). Ar Risalah 534.

Al ‘Allamah Ahmad Syakir berkata seraya memberikan komentar di catatan kaki Ar Risalah terhadap perkataan Asy Syafi’i ini: (Yaitu bahwa ijma tidak menjadi ijma kecuali pada hal yang sudah maklum secara pasti dari dien ini, sebagaimana yang telah kami jelaskan dan kami tegakkan hujjah terhadapnya berulang-ulang pada banyak catatan kaki kami terhadap kitab-kitab yang beraneka ragam).

Dan Asy Syafii berkata juga: (Tidak mengklaim ijma pada selain sejumlah faraidl yang ditetapkan kepada semua orang seorangpun dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula para tabiin dan generasi sesudah mereka, tidak pula generasi yang datang mengiringi mereka, tidak pula seorang alim pun yang saya ketahui di muka bumi ini dan tidak seorangpun yang diangap berilmu oleh orang umum kecuali baru-baru ini saja, karena seorang berkata di dalamnya dengan makna saya tidak mengetahui seorangpun dari ahlil ilmu yang ia kenal sedangkan saya telah hapal dari sejumlah mereka pengguggurannya). Al Umm: 1/153.

Dan berkata saat ditanya apakah ada ijma: (Ya, banyak Bihamdillah pada sekumpulan faraidh yang tidak boleh jahil terhadapnya, ijma itu adalah suatu yang seandainya engkau menyatakan bahwa manusia telah ijma, tentu engkau tidak mendapatkan di sekitar engkau seorangpun yang mengetahui sesuatu yang berkata kepadamu bahwa ini bukan ijma. Jalan ini adalah yang dipercayai denganya orang yang mengaku ijma di dalamnya dan dalam banyak hal dari pokok-pokok ilmu bukan furu’nya dan bukan ushul selainya). Al Umm: 7/281.

Ibnu Hazm berkata: (Masalah: Dan ijma: ia adalah suatu yang diyakini bahwa seluruh sahabat Rasulullah mengetahuinya dan berkata denganya serta tidak seorangpun dari mereka menyelisihi, seperti keyakinan kita bahwa mereka seluruhnya radliyallahu ‘anhum shalat bersamanya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lima waktu sebagaimana yang ada dalam hal jumlah ruku’ dan sujudnya, atau mereka ketahui bahwa beliau shalat seperti itu bersama manusia, dan bahwa mereka seluruhnya shaum bersamanya, atau mereka ketahui bahwa beliau shaum Ramadlan saat mukim bersama manusia, dan begini juga ajaran-ajaran islam lainnya yang meyakinkan seperti keyakinan ini dan yang mana orang yang tidak mengakuinya bukanlah tergolong kaum mukminin, dan ini adalah hal yang tidak seorang pun menyelisihi bahwa ia adalah ijma, dan mereka saat itu adalah seluruh kaum mu’minin yang tidak ada seorang mu’minpun selain mereka di muka bumi ini. Dan siapa yang mengklaim bahwa selain ini adalah ijma maka ia diharuskan mendatangkan dalil atas apa yang diklaimnya sedangkan tidak ada jalan ke arah sana). Al Muhallaa: 1/54.

Dan beliau rahimahullah berkata juga: (Sesunguhnya ijma yang mana ia adalah ijma yang meyakinkan dan tidak ada ijma selainnya, adalah tidak sah menafsirkannya dan mengklaimnya dengan (sekedar) klaim, namun ia terbagi dua:

Pertama: segala yang tidak seorangpun dari ahlul islam meragukanya di mana orang yang tidak mengatakannya bukanlah orang muslim, seperti syahadat laa ilaaha illallah wa anna Muhamaddan Rasulullah, dan seperti wajibnya shalat lima waktu, shaum Ramadlan, pengharaman bangkai, darah dan babi dan seperti pengakuan terhadap Al Qu’ran serta sejumlah zakat. Ini adalah hal-hal yang siapa telah sampai kepadanya terus tidak mengakuinya maka dia bukanlah orang muslim. Bila keaadaannya seperti itu maka setiap orang yang mengatakannya dia adalah orang muslim, maka sahlah bahwa itu adalah ijma dari seluruh ahlil islam.

Bagian kedua: Suatu yang disaksikan oleh seluruh sahabat radliyallahu ‘anhum dari perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau diyakini bahwa itu diketahui oleh setiap orang yang absen dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara mereka, seperti perbuatan beliau di Khaibar di mana beliau menyerahkan Khaibar kepada orang yahudi dengan (bayaran) separuh apa yang dihasilkan darinya berupa tanaman atau kurma, kaum muslimin bisa mengusir mereka bila mau. Ini tidak ragu lagi bagi setiap orang bahwa tidak ada seorang muslimpun di Madinah kecuali ia menyaksikan hal ini atau (beritanya) sampai kepadanya, berita itu sampai kepada kalangan wanita dan anak kecil yang lemah, dan tidak tersisa di Mekkah daerah-daerah terpencil seorang muslimpun melainkan mengetahuinya dan senang dengannya.

Ini adalah dua macam ijma, dan tidak ada jalan kepada keberadaan ijma di luar keduanya, dan tidak ada jalan untuk mengenal ijma dengan selain penukilan yang shahih kepada keduanya, serta tidak memungkinkan seorang pun untuk mengingkari keduanya. Dan selain keduanya adalah pengakuan yang dusta). Al Ihkam 4/149-150.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Ijma adalah disepakati di antara seluruh kaum muslimin dari kalangan fuqaha, shufiyyah, ahlul hadits, ahlul kalam dan selain mereka secara umum, dan diingkari oleh sebagian ahlul bida’ dari kalangan mu’tazilah dan syi’ah.

Akan tetapi yang maklum darinya adalah apa yang dijalani para sahabat, dan adapun setelah itu maka pada umumnya sulit mengetahuinya, oleh sebab itu ahlul ilmi berselisih tentang apa yang dituturkan berupa ijma-ijma yang baru setelah sahabat. Dan diperselisihkan dalam beberapa masalah darinya, seperti ijma tabi’in terhadap salah satu dari dua pendapat sahabat, ijma yang mana belum berlalu masa generasi orang-orangnya sehingga sebagian mereka menyelisihi mereka, ijma sukutiy dan selain itu). Majmu Al Fatawa cet Dar Ibnu Hazm 11/187.

Dan beliau menyebutkan juga di dalamnya 13/17 bahwa kaum muslimin (susah memastikan ijma mereka dalam masalah masalah yang diperselisihkan, berbeda dengan salaf, sesungguhnya mungkin sekali mengetahui ijma mereka).

Dan berkata: (Oleh sebab itu Ahmad dan ulama lainya berkata: Siapa yang mengaku (ada) ijma maka dia telah dusta, ini adalah klaim Al Mirriisy dan Al Ashamm tapi (mesti) dia berkata saya tidak mengetahui pertentangan. Dan orang­-orang yang menyebutkan ijma seperti Asy Syafi’i, Abu Tsaur dan yang lainnya, mereka menafsirkan maksud mereka bahwa kami tidak mengetahui perselisihan, dan berkata: Inilah ijma yang kami klaim). Al Fatawa 19/147.

Al ‘Allamah Ahmad Syakir berkata sembari mengomentari perkataan Ibnu Hazm seputar ijma di catatan kaki Ihkamul Ahkam: (Yang diyakini sang penyusun adalah yang benar tentang makna ijma dan ihtijaj dengannya, dan ia sendiri adalah hal yang maklum secara pasti dari dien ini. Adapun ijma yang diklaim ahlul ushul maka itu tidak tergambar keberadaanya dan tidak mungkin terjadi selama-lamanya. Serta ia tidak lain adalah khayalan belaka. Dan sering sekali para fuqaha bila terdesak dan tidak mendapatkan hujjah, mereka mengklaim ijma dan menuduh kafir orang yang menyelisihinya, dan mana mungkin itu, karena sesunguhnya ijma yang mana orang yang menyelisihinya dikafirkan hanyala ijma yang mutawatir lagi maklum secara pasti dari dien ini.

Kemudian beliau menukil dari Al ‘Allamah Ibnul Wazir ucapanya tentang ijma: ketahuilah sesungguhnya ijma itu ada dua macam: Pertama: Diketahui keabsahannya secara pasti dari dien ini yang mana dikafirkan orang yang menyelisihinya, maka ini adalah ijma yang shahih, akan tetapi dianggap cukup darinya dengan al ilmu adl dlaruriy (pengatahuan yang pasti) dari dien ini.

Yang kedua: Yang di bawah tingkatan pertama, dan tidak ada kecuali dhanniy karena tidak ada setelah tawatur (mutawatir) kecuali dhanniy, dan tidak ada di antara keduanya dalam naqli tingkatan yang qathi’i berdasarkan ijma, dan ini adalah hujjah orang yang mencenggah pengetahuan akan terjadinya ijma setelah tersebarnya islam). Al Ihkam 4/142-144.

Di samping ini sesungguhnya ijma itu mesti memiliki sandaran syar’iy yang shahih, sedangkan sandaran inilah hujjah dan dalil bagi kami, namun ijma ini menambah penguatan bagi dalil dhanny dan menjadikanya qath’iy yang tidak ada khilaf di dalamnya, sebagaimana yang dinyatakan sebagian Ulama.

Dan kalau tidak seperti itu sesungguhnya ijma itu bukanlah dalil syar’iy yang berdiri sendiri yang menambahkan kepada Al Kitab dan As Sunnah hukum yang tidak ada di dalam keduanya sebagaimana yang ditafsirkan sebagian kalangan muta’akhkhirin, kita berlindung kepada Allah darinya. Ahlul ijma seandainya mereka itu adalah para sahabat beliau sebagaimana ia adalah ijma yang shahih, tentulah mereka tidak berhak menambahkan sesuatupun terhadap Allah, dan sungguh jauh sekali para sahabat dan jauh sekali fiqh dan sikap wara’ mereka dari kejanggalan dan ketergelinciran ini.

Karena sesungguhnya inti dakwah para Nabi dan Rasul yang mana ia adalah jalan kaum mu’minin semenjak zaman para sahabat dan yang lainnya hingga hari kiamat – dan kami adalah di atas hal itu berkat taufik Allah ta’aala – adalah bara’ah dari arbab mutafarriqun (tuhan-tuhan beraneka ragam) di mana saja mereka itu, dan memurnikan ibadah serta mengesakan-Nya dengan seluruh macam-macamnya terhada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, dan di antara hal itu adalah tasyri’ (pembuatan hukum) yang tidak halal memalingkannya atau menerimanya dari selain Allah ta’aala.

Oleh sebab itu sungguh para imam kita telah menegaskan bahwa siapa yang menuruti para ulama dan umara dalam tahlil apa yang diharamkan Allah ta’ala atau dalam tahrim apa yang Allah ta’ala halalkan atau dalam tasyri’ apa  yang tidak tidak Allah izinkan, maka ia telah menjadikan mereka sebagai arbab selain Allah ta’ala, sebagaimana yang Allah tabaraka wa ta’ala hikayatkan dalam surat bara’ah tentang ahlul kitab dalam hal ibadah mereka terhadap para ahbar dan ruhban sebagaimana yang ditafsirkan dan dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ‘Addiy Ibnu Hatim… dan telah lalu.

Oleh sebab itu sesungguhnya ijma orang-orang yang intisab kepada ilmu atau ijma seluruh manusia di zaman tertentu; bila terjadi di atas selain hukum Allah ta’ala, maka ia bukan tergolong sabilul mu’minin, akan tetapi ia termasuk sabilul musyrikin, sebagaimana keadaan orang-orang yahudi.

Ini dijelaskan dengan Hadits Al Bara Ibnu ‘Azib dalam Shahih Muslim pada kisah seorang yahudi yang dirajam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana di dalamnya ada ucapan orang ‘alim mereka tatkala ditanya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang had zina menurut hukum mereka:

(نجد حد الزاني في كتابنا الرجم، ولكنه كثر في إشرافنا فكنا إذا زنا فينا الشريف تركناه، وإذا زنا الضعيف أقمنا عليه الحد فقلنا:  تعالوا نجعل شيئاً نقيمه على الشريف والوضيع فأجمعنا على التحميم والجلد… قال البراء:  فأنزل الله (ومن لم يحكم بما أنزل الله فأؤلئك هم الكافرون) (الظالمون) (الفاسقون) في الكفار كلها

(Kami mendapatkan had zina dalam kitab kami adalah rajam, akan tetapi banyak terjadi zina di tengah para bangsawan kami, terus kami bila ada bangsawan di tengah kami berzina maka kami biarkan dan bila orang lemah di antara kami berzina maka kami tegakan had terhadapnya, dan akhirnya kami berkata: “Mari kita jadikan suatu yang kita tegakan terhadap orang bangsawan dan orang lemah”. maka kami sepakat akan tahmim (hukuman coreng muka) dan dera … Al Bara berkata: Maka Allah turunkan “(Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka adalah orang-orang kafir)(orang-orang dhalim)“ (orang-orang fasiq)” tentang orang-orang kafir seluruhnya.

Perhatikan ucapannya (maka kami sepakat atas tahmim dan dera…) yaitu atas suatu hukum dan tasyri’ selain hukum dan tasyri’ Allah, yaitu bahwa ia adalah ijma atas hukum yang dibuat-buat lagi baru yang tidak ada nash dan sandaran baginya dari syari’…Maka ini sebagaimana yang engkau lihat adalah tergolong sabilul musyrikin, dan sama sekali ia bukan tergolong sabilul mu’minin.

Oleh sebab itu sesungguhnya dalil yang paling masyhur yang dijadikan hujjah oleh orang-orang yang membuka pintu ijma lebar-lebar adalah firman Allah ta’ala:

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (An Nisa: 115)

Mereka mengklaim bahwa sabilul mu’minin adalah ijma mereka sebagaimana yang mereka tafsirkan, sedangkan pendapat yang shahih yang tidak boleh berpaling darinya adalah bahwa sabil (jalan) mereka itu adalah Al Kitab dan Al Sunnah: Yaitu dua wahyu yang berisi tauhidullah dan mengesakan–Nya dengan ibadah, hukum dan tasyri’ serta tauhidurrasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mutaba’ah. Dan itu adalah yang di kandung oleh syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah, keduanya adalah ashlu islam, (ia adalah) jalan yang denganya mereka menjadi mu’min, dan lawanya adalah Al Kufru Billah dan berpaling dari mengikuti Rasulullah serta menentangnya. Oleh sebab itu Allah ta’ala menyertakan penentangan terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikuti selain jalan kaum mislimin; (dan penentangan itu tidak terjadi kecuali bersama kekafiran, jabarannya: Bahwa penentangan itu terbentuk dari keberadaan salah seorang dari dua orang itu berada di satu sisi sedangkan yang lain di sisi lain)[3].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Orang kafir itu adalah dalam penentangan yang jauh yang mana ia menentang Allah dan Rasulnya, dan tidak seorangpun yang lebih sesat dari orang yang mana ia berada di dalam penentangan seperti ini, di mana ia berada di satu sisi sedangkan Allah dan Rasul–Nya berada di sisi lain. Penentangan ini bisa saja bersama pembangkangan dan bisa saja bersama kejahilan karena sesungguhnya ayat-ayat bila telah nampak terus ia berpaling dari sikap mengamati yang mengharuskan untuk mengetahui maka ia itu menentang)[4]

Maka ketahuilah bahwa ancaman yang disebutkan dalam ayat itu tidaklah mencakup orang yang menyelisihi ijma-ijma yang sekedar klaim yang dengannya memperluas ahlinya dan mereka menjadikanya bagian dari pintu-pintu tasyri’, sehingga mereka mengkafirkan orang yang menyelisihnya.

Namun yang dimaksud dengan ancaman ini adalah orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi berpaling membelakangi hukum Al-Kitab dan Al-Sunnah yang mana keduanya adalah jalan kaum mu’minin, tidak yang lainya.

Asy Syaukaniy berkata setelah menuturkan ucapan Al Ghazali dalam Al Mahshul tentang munaqasyah orang-orang berhujjah untuk ijma dengan ayat yang lalu (Bila engkau telah mengetahui apa yang telah kami ketengahkan sebagaimana semestinya maka engkau mengetahui bahwa ayat itu tidak menunjukan terhadap apa yang diinginkan oleh orang orang yang berdalil denganya). Irsyadul Fuhul hal 139.

Dan sebelumnya telah menukil dari Al Ghazaliy ucapannya (Dan sungguh aneh tindakan para fuqaha di mana mereka menetapkan ijma dengan keumuman-keumuman ayat dan khabar, dan mereka berijma bahwa orang yang mengingkari apa yang ditunjukan oleh keumuman-keumuman itu tidak dikafirkan dan tidak dihukumi fasik bila ternyata pengingkaran itu karena takwil, terus mereka mengatakan: Hukum yang ditunjukan oleh ijma itu adalah pasti, dan orang yang menyelisihinya adalah kafir dan fasik, seolah mereka telah menjadikan al furu’ (cabang) lebih kuat dari Al ashlu (inti)!! Dan itu adalah kelalaian yang sangat besar). Al Irsyad (138).

Oleh sebab itu ketahuilah bahwa takfir dengan klaim yang menyelisihi ijma atau menolaknya adalah ketergelinciran yang wajib hati-hati darinya, terutama bila diketahui adanya perselisihan di dalam gambarannyan yang diperluas.

Dan yang benar dalam bab ini adalah tidak  boleh dikafirkan kecuali orang yang mengikari ijma yang sudah ma’lum sebagaimana yang telah lalu rinciannya lagi tsabit secara qath’iy lagi bersandarkan kepada nash syar’i yang shahih, maka dikafirkan orang yang mengingkarinya atau yang menentangnya, karena sebabnya adalah pengingkarannya terhadap nash yang jelas lagi ma’lum, berbeda halnya dengan orang yang menolak ijma maz’um lagi tidak ma’lum sandarannya berupa klaim-klaim ijma yang banyak yang mana manusia terlalu tasahul (mengenteng-enteng) di dalam pengklaimannya dan sangat sukar menetapkanya, apalagi ijma-ijma sukuti darinya atau apa yang diklaim oleh ahlul bida’ berupa ijma-ijma…!!

Di samping itu, (mesti keberadaan) ijma itu tergolong hal yang ma’lum secara pasti dari dien ini (yaitu suatu yang dhahir mutawatir lagi ma’lum di kalangan khusus dan umum) dan bukanlah ia tergolong jenis masaa-il khafiyyah yang mana orang jahil diuzdur dengannya.

An-Nawawi berkata dalam rangka ta’liq terhadap pemuthlakan Ar-Rafi’iy terhadap takfir orang yang mengingkari ijma:

(Al Imam Ar Rafi’iy memuthlakan ucapan terhadap takfir orang yang mengingkari suatu yang diijmakan, dan tidaklah ia itu di atas kemuthlaqkannya, akan tetapi siapa yang mengingkari hal yang diijmakan yang ada nash di dalamnya, sedang ia adalah tergolong ajaran islam yang nampak yang berserikat dalam mengetahuinya kalangan khusus dan kalangan awam seperti shalat, zakat, haji atau pengharaman khamar atau zina dan yang lainya, maka ia adalah kafir.

Dan siapa mengingkari hal yang diijmakan yang tidak diketahui kecuali oleh orang-orang khusus, seperti bagian bintul ibni (cucu perempuan dari anak laki-laki) bila ada putri kandung seorang diri, dan pengharaman nikah wanita yang sedang ‘iddah dan seperti bila orang-orang di masa tertentu berijma atas hukum masalah kontemporer, maka ia tidak kafir) Raudlathul Thalibin 2/146.

Dan berkata dalam Syarah Muslim (Kitabul iman) (Bab perintah memerangi manusia sampai mereka mengatakan laa ilaaha illallah…): (Setiap orang yang mengingkari suatu yang tergolong diijmakan atasnya oleh umat dari urusan dien ini, bila pengetahuan terhadapnya tersebar, seperti shalat yang lima waktu[5], shaum Ramadhan, mandi janabah, pengharaman zina, khamar, nikah dengan mahram dan hukum-hukum lainya kecuali dia itu baru masuk islam dan tidak mengenal batasan-batasannya….Sesungguhnya ia bila mengingkari sesuatu darinya karena kejahilan terhadapnya maka ia tidak kafir….[6].

Adapun suatu yang ijma di dalamnya diketahui lewat jalur ilmu orang-orang khusus, seperti pengharaman memadu perempuan dengan bibiyan dan bahwa orang yang membunuh secara sengaja tidak mendapat warisan, dan bahwa nenek mendapat bagian 1/6 warisan, serta hukum-hukum yang serupa itu, maka sesungguhnya orang yang mengingkarinya tidak dikafirkan, namun diuzdur di dalamnya karena pengetahuan terhadapnya tidak menyebar di kalangan umum).1/183.

Ibnu Daqiq Al ’Ied berkata (702 H): (Masalah-masalah yang bersifat ijma terkadang di sertai tawatur dari pemilik syari’at, seperti kewajiban shalat umpamanya dan terkadang tidak disertai tawatur. Macam pertama orang yang mengingkarinya dikafirkan karena ia menyelisihi tawatur, bukan karena penyelisihannya terhadap ijma. Dan macam kedua tidak dikafirkan dengan sebabnya). Ihkamul Ahkam Syarh Umdatil Ahkam 4/ 84.

Dan perhatikan ucapannya (karena ia menyelisihi tawatur, bukan karena penyelisihannya terhadap ijma).

Al Hafidh Al ‘Iraqiy berkata: (Pendapat yang shahih dalam takfir orang yang menginkari ijma adalah membatasinya dengan pengingkaran apa yang diketahui kewajibanya secara pasti dari dien ini seperti shalat yang lima waktu). Fathul Bari 12/202.

Al Qarafiy berkata dalam Al Furuuq berkata: (Dan tidak meyakini bahwa orang yang mengingkari suatu yang diijmakan adalah kafir secara muthlaq, akan tetapi hal yang di ijmakannya ini mesti terkenal dalam dien ini sehinga menjadi dlarurry (pasti), berapa banyak dari masalah-masalah yang diijmakan berupa ijma yang tidak diketahui kecuali oleh khawashshul fuqaha, sedangkan menginkari masalah-masalah seperti ini yang mana ijma samar di dalamnya adalah bukanlah kekafiran) 4/117.

Penulis Maraqi As Su’uud:

Dan tidak dikafirkan orang yang telah mengikuti

pengingkaran ijma, dan sangat buruklah apa yang diada-adakan.

Dan orang kafir lagi mengingkari suatu yang telah

diijmakan yang mana pengetahuanya telah menjadi

hal yang pasti dari dien ini

dan yang sama dengannya dalam kekuatanya adalah  hal yang masyhur.

Syaikhul Islam Ibnul Tamiyyah berkata: (Orang-orang telah bersilang pendapat berkenaan dengan orang yang menyelisihi ijma, apakah ia dikafirkan?  Ada dua pendapat: (Dan tahqiq adalah bahwa ijma yang maklum, maka orang yang menyelisihinya dikafirkan, sebagaimana orang yang menyelisihi nash dikafirkan dengan sebab ia meninggalkannya, akan tetapi ini tidak terjadi kecuali pada suatu yang mana keberadaan nash diketahui denganya. Adapun pengetahuan terhadap keberadaan ijma dalam suatu masalah yang tidak ada nash di dalamnya, maka ini tidak terjadi, dan adapun yang tidak maklum maka tercegah takfier di dalamnya…). Majmu Al Fatawa cet Dar Ibnu Hazm 19/146.

Dan beliau rahimahullah berkata dalam rangka mengomentari perkataan Ibnu Hazm dalam Maratibul ijma: (Sesunguhnya orang-orang yang telah memasukan ke dalam ijma suatu yang bukan bagian darinya, sebagian yang lain menganggap pendapat mayoritas adalah sebagai ijma. Sebagian lain menganggap suatu yang tidak mereka ketahui perselisihan di dalamnya sebagai ijma meskipun mereka tidak bisa memastikan bahwa tidak ada perselisihan di dalamya, sebagian yang lain menganggap pendapat seorang sahabat yang masyhur lagi tersebar sebagai ijma bila mereka tidak mengetahui ada yang menyelisihinya dari kalangan sahabat meskipun didapatkan penyelisihan dari kalangan tabi’in dan yang sesudahnya, sebagian yang lain menganggap pendapat seorang sahabat yang tidak mereka ketahui ada yang menyelisihinya dari kalangan sahabat radliyallahu ‘anhum meskipun itu tidak terkenal dan tersebar sebagai ijma, dan sebagian yang lain menganggap ucapan ahlul Madinah sebagai ijma….. hingga ucapan beliau: Dan semua ini adalah pendapat-pendapat yang rusak dan untuk menggugurkannya ada tempat lain, dan cukup untuk menunjukan kerusakannya bahwa kita mendapatkan mereka meninggalkan dalam banyak masalah mereka apa yang mereka sebutkan bahwa itu ijma. Dan mereka cenderung kepada penamaan apa yang kami sebutkan sebagai ijma, dalam rangka pembangkangan dari meraka dan keengganan mereka saat terdesak hujjah dan barahin (bukit-bukit) mereka untuk meninggalkan pilihan-pilihan mereka yang rusak.

Dan juga sesungguhnyan mereka tidak mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka di dalam makna-makna ini, sedangkan di antara syarat ijma yang shahih adalah bahwa orang yang menyelisihinya dikafirkan tanpa ada perselisihan di dalam hal itu di antara kaum muslimin, dan andaikata apa yang  mereka sebutkan itu ijma tentu kafirlah orang-orang yang menyelisihi mereka, bahkan mereka sendiri kafir karena mereka sering menyalahinya. Dan untuk menjelaskan hal ini ada tempat ain … walaa haula walaa quwwata illabillahil ‘aliyyil adhim). Maratibul Ijma hal 9-10.

Syaikhul Islam berkata: Apa yang mengharuskan mereka untuk memegangnya berupa pengkafiran orang yang menyelisihi mereka adalah tidak harus, karena banyak dari ulama tidak mengkafirkan orang yang menyelisihi ijma. Dan ucapanya bahwa orang yang menyelisihi ijma itu kafir tanpa ada perbedaan dari seorang pun di antara kaum muslimin, ia adalah tergolong bab ini, mungkin bisa jadi belum sampai kepadanya penyelisihan di dalam hal itu, padahal sesungguhnya perselisihan dalam hal ini adalah masyhur lagi tersebar dalam kitab-kitab yang beraneka ragam. Dan An-Nadhdham sendiri yang menyelisihi tentang keberadaan ijma sebagai hujjah tidaklah dikafirkan oleh Ibnu Hazm dan orang-orang juga[7], terus orang yang mengkafirkan orang yang menyelisihi ijma hanyalah dia kafirkan bila telah sampai ijma yang ma’lum kepadanya, sedangkan banyak dari ijma–ijma itu belum sampai kepada banyak manusia. Dan banyak dari masalah-masalah yang dipertentangkan di antara kaum muta’akhirin, salah satu dari dua pihak mengklaim ijma dalam hal itu, baik itu dhanniy yang bukan qath’iy, atau ia belum sampai kepada pihak lain, atau karena keyakinannya terhadap tidak terpenuhinya syarat-syarat ijma). Maratibul Ijma dan Naqdu Maratib Ijma karya Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah, cetakan Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah hal: 11.

Dan akhirnya Syaikhul Islam rahimahullah berkata: (keberadaan sesuatu ma’lum secara pasti dari dien ini adalah hal yang relatif. Orang yang baru masuk islam dan yang tumbuh di pedalaman yang jauh terkadang tidak mengetahui hal ini secara keseluruhan, apalagi dari keberadaan dia mengetahuinya secara pasti, dan banyak dari ulama mengetahui secara pasti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi, menetapkan wajib diyat bagi ‘aqilah (ahli waris si pembunuh), beliau putuskan bahwa anak itu dinisbatkan kepada al firasy (suami) dan hal lainya yang diketahui pasti oleh kalangan khusus, sedangkan mayoritas manusia tidak mengetahuinya sama sekali). Majmu’atur Rasaa-il Al Kubra karya Ibnu Taimiyyah 1/89.

Dan cukup dengan ini agar saya menyimpulkan apa yang telah lalu, dengan mengatakan: Bahwa orang yang menyelisihi ijma yang shahih hanyalah dikafirkan saat terealisasi syarat–syarat berikut ini:

  1. Terbukti sebagai ijma yang sharih lagi shahih berdasarkan apa yang telah kami ketengahkan kepada anda.
  2. Terbukti diketahui secara qath’iy lagi tsabit.
  3. Ijma ini berdiri di atas dasar nash shahih yang maklum, yaitu ia memiliki sandaran (dalil) dari syari’at, sehingga orang yang mengingkari ijma ini adalah orang mengingkari nash ma’lum itu, Allah ta’ala berfirman:

“Dan tidak mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang–orang kafir”. (Al ‘Ankabut: 47)

  1. Ijma itu terjadi pada suatu yang ma’lum secara pasti dari dien ini, yaitu termasuk masalah-masalah yang terkenal yang diketahui oleh kalangan umum dan kalangan khusus, dan bukan tergolong masaa-il khafiyyah atau yang tidak di ketahui kecuali orang-orang khusus dari para ulama. Maka dalam masalah–masalah seperti ini mesti ada iqamatul hujjah dan bayan (penjelasan) sebelum takfir.
  2. Orang yang mengingkari ijma itu bukan tergolong orang-orang yang baru masuk islam atau orang–orang yang tinggal di pedalaman yang jauh atau yang yang belum sampai hujjah kepada mereka, dan terkadang samar atas mereka dengan sebab itu masalah-masalah yang ma’lum lagi masyhur di antara kaum muslimin.

Dan akhirnya ….sungguh Syaikhul Islam berkata saat berbicara tentang satu ayat dalam surat An-Nisa (115): “Dan siapa yang menentang Rasul” : ( Dan ayat ini menunjukan bahwa ijma kaum mu’minin adalah hujjah, dari sisi bahwa penyelisihan terhadap mereka memastikan penyelisihan terhadap Rasul, dan bahwa setiap apa yang mereka ijmakan itu mesti di dalamnya ada nash dari Rasul, maka setiap masalah yang dipastikan di dalamnya dengan ijma dan dengan tidak adanya penyelisih di antara kaum mu’minin maka sesungguhnya ia tergolong apa yang Allah jelaskan petunjuk di dalamnnya, dan orang yang menyelisihi ijma semacam ini adalah dikafirkan sebagaimana dikafirkannya orang yang menyelisihi nash yang nyata.

Dan adapun bila ia menduga ijma namun tidak bisa dipastikan, maka di sini tidak dipastikan – juga – bahwa ia termasuk hal yang jelas petunjuk di dalamnya dari sisi Rasul, dan orang yang menyelisihi ijma semacam ini terkadang tidak dikafirkan, bahkan terkadang terjadi dugaan ijma itu keliru, sedangkan yang benar adalah yang berlainan dengan pendapat ini.

Inilah putusan penentu dalam hal yang denganya (orang) dikafirkan oleh sebab penyelisihan terhadap ijma dan hal yang tidak dikafirkan denganya). Majmu Al Fatwa Dar Ibnu Hazm 7/29.

Perhatikanlah pemilahan beliau dalam takfier dengan sebab penyelisihan terhadap ijma antara ijma yang qath’iy dengan yang dhanniy, dan perhatikan penetapanya bahwa menyelisihi ijma qath’iy mesti darinya menyelisihi Rasul, dan karena itu dikafirkanlah orang yang menyelisihi ijma semacam ini.

Dan atas dasar ini, maka suatu yang tergolong ijma yang tidak diketahui sandarannya, dan tidak sharih sumbernya atau dalilnya yang mana ijma itu berdiri di atasnya, sebagaimana keberadaan banyak dari klaim-klaim ijma, atau ia tergolong suatu yang tidak diketahui secara pasti dari dienul muslimin, maka sesungguhnya takfier saat itu terhadap orang yang menentang atau orang yang menyelisihi ijma-ijma semacam ini adalah kembali kepada yang telah lalu diingatkan terhadapnya berupa takfier billazim yang mana ia adalah sumber ketergelinciran, dan suatu yang tidak sah takfier denganya kecuali setelah iqamatul hujjah dengan memberitahukan terhadap lazimul qaul (kemestian konsekuensi  suatu pendapat) dan kemudian orang yang mengucapkanya konsekwen terhadapnya.


[1] Lihat Mudzakkrah Ushulul Fiqh Asy Syinqithi hal: 155

[2] Irsyadul Fuhuul hal: 148

[3] Irsyadul Fuhuul, karya Asy Saukany hal 135 dan lihat Ash Sharimul Maslul hal 23-24.

[4] Al-Jawab As Shahih, jilid 5/406-407.

[5] Di sini beliau tidak menyebutkan zakat, karena pembahasan sebelum ini langsung tentang zakat, padahal zakat tergolong hal itu.

[6] Di tempat lain dalam Kitabul Iman berkata juga: (Siapa yang mengingkari suatu yang diketahui secara pasti dari dien ini, maka dia divonis murtad dan kafir kecuali orang yang baru masuk islam atau tingal di pedalaman yang jauh dan yang lainya dari kalangan orang yang samar hal itu terhadapnya, maka ia perlu ta’rif (pemberitahuan), kemudian bila ia terus bersikukuh maka ia dihukumi kafir. Dan begitu juga hukum orang yang menghalalkan zina atau khamr atau membunuh atau hal-hal haram lainnya yang keharamanya diketahui pasti) Syarh Muslim 1/134.

[7] Yang di maksud di sini bahwa mereka tidak mengkafirkanya karena pengingkaranya terhadap hujjiyatul ijma , karena kalau tidak demikian, sunguh suatu yang maklum bahwa sekelompok ulama telah mengkafirkan nya karena sebab hal-hal lain, sedangkan An–Nadhdhan adalah guru Al jahidh Ibrahim Ibnu Sayyar Al Qashriy Al Mu’taziliy, meninggal tahun (231) kira-kira, ada yang mengatakan bahwa dia jatuh dalam kondisi mabuk dari kamar, terus mati saat usia 36  tahun, dia mengambil paham mu’tazilah dari paman jalur ibunya Ibnul Hudzail dia dikafirkan oleh pamannya itu dan kalangan mu’tazilah lainya, apalagi kelompok dari Ahlus Sunnah, dan dialah orang pertama yang mengingkari ijma dan qiyas serta lancang terhadap sahabat, juga sering mencela ahlul hadits.

//

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s