Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 28 Tidak Mengudzur Dengan Sebab Kebodohan Di Dalam Masalah Yang Samar (Khafiyyah) Dan Yang Lainnya)

Tidak Mengudzur Dengan Sebab Kebodohan Di Dalam Masalah Yang Samar (Khafiyyah) Dan Yang Lainnya

Termasuk kekeliruan yang umum dalam takfier juga adalah tidak meng’udzur dengan sebab kebodohan dalam masalah-masalah yang samar (masaa-il khafiyyah) dan yang lainnya dari masaa-il yang butuh kepada ta’rif (pemberitahuan) dan bayan atau yang tidak diketahui kecuali melalui para rasul.

‘Udzur dengan kejahilan adalah masalah yang mana manusia berselisih di dalamnya antara ifrath dan tafrith. Satu kelompok mempersempit apa yang telah Allah telah lapangkan atas manusia ini, mereka menggugurkan mani’ al jahl dari mawani takfier dan mereka tidak meng’udzur dengan sebab kejahilan secara muthlaq. Kelompok lain menentang kelompok pertama, mereka membuka pintu al ‘udzru bil jahli selebar-lebarnya dalam hal-hal yang mana ia tergolong hal yang maklum secara pasti bagi setiap muslim, bahkan tidak samar termasuk bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa hal itu bagian dari dienul muslimin, sehingga mereka meng’udzur kuffar yang berpaling dari dien ini dari kalangan yang mengusahakan kejahilan mereka dengan keberpalingannya, dan ia bukan dengan sebab ketidaksampaian hujjah kepada mereka, sebab Al Qur’an berada di tengah mereka dan Sunnah yang menjelaskannya ada pada mereka, namun mereka sama sekali tidak peduli dengannya dan tidak mau membebani diri mereka untuk mempelajari apa yang Allah wajibkan atas mereka, padahal mereka memiliki kelapangan dan kesibukan mereka dengan berbagai ilmu dunia, materinya dan perhiasannya, mereka itu tergolong orang-orang yang Allah firmankan:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar Rum:7)

Padahal Allah Ta’ala telah mencela orang yang lalai dan berpaling dari perintah-Nya, dan ia tidak memanfaatkan pendengarannya, penglihatannya dan akalnya dimana ia (mestinya) menggunakan itu semua untuk mengenal Tuhannya, (mencari) keridlaan-Nya, (dalam) ketaatan-Nya, dan dalam mengetahui tujuan dari penciptaannya serta merealisasikannya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).  Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al A’raf: 179)

Dan berfirman seraya menghikayatkan tentang orang seperti mereka:

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al Mulk: 10-11)

Dan Dia Ta’ala berfirman:

“… tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka…” (Al Ahqaf: 26)

Abu Muhammad Ibnu Ilham rahimahullah berkata: (Apa engkau melihat orang-orang yang mengakui atas diri mereka bahwa mereka itu tidak mendengar dan tidak memikirkan, dan seandainya mereka itu mendengar atau memahami  tentulah mereka tidak masuk neraka, apakah lubang telinga mereka memiliki penyakit yang menghalangi dari masuknya suara?!! Atau apakah mereka itu jahil akan urusan dunia mereka, urusan pertanian dan tanaman, pengurusan binatang ternak mereka, penyaluran harta mereka dan pengembangannya, pembangunan rumah-rumah mereka, perawatan kebun-kebunnya, pengaturan perniagaannya, penjagaan hartanya dan permintaan kedudukan dan kekuasaan?!! Tidak… demi Dzat yang menyiksa mereka, Yang menghinakan mereka dan Yang mencela mereka, justru mereka itu orang yang paling tahu akan hal itu semua, paling berkecimpung dan paling menyibukkan dirinya di dalamnya serta lebih paham akan cara mengembangkannya, memperbanyaknya serta menyimpannya, akan tetapi orang-orang yang di’adzab itu berpaling dari menggunakan pendengaran, penglihatan, perabaan, perasaan, penciuman dan pikiran dalam berdalil atas Al Khaliq Ta’ala dan apa yang mendekatkan kepadanya berupa keyakinan, ucapan, dan perbuatan, dan mereka kerahkan itu semua kepada dunia yang fana yang tidak bermanfaat dan tidak bisa menolong, bahkan justru memberatkan dan menjadikannya menyesal, wa billahittaufiq). Ihkamul Ahkam 1/66.

Maka yang benar dalam bab ini adalah adanya rincian, di sana ada masalah-masalah dien ini yang tidak boleh jahil di dalamnya, terutama disertai penjagaan Allah akan Kitab-Nya dan penyebarannya ke segala penjuru, dan Allah telah mengaitkan peringatan (nadzarah) dengannya di mana Dia berfirman:

“…..Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an (kepadanya)…..” (Al An’am: 19)

Di antara hal itu adalah ashlut tauhid, yaitu al hanifiyyah yang mana Allah telah menciptakan hamba-hamba-Nya di atasnya sebagaimana dalam hadist ‘Iyadl Ibnu Himar yang diriwayatkan MuslimAnak dilahirkan dan difithrahkan di atasnya,” sebagaimana dalam Ash-Shahihain: “Maka kedua orang tuanya memalingkannya darinya” dan para rasul semuanya diutus dengannya, dan kitab-kitab seluruhnya diturunkan karenanya… kemudian siapa yang tidak merealisasikannya dan berpaling darinya maka ia kafir mu’rid mukadzdzib atau kafir mu’ridl jahil.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (Kami turunkan Al-Qur’an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memeprhatikan apa yang mereka baca. Atau agar kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka. sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat, maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat  Allah dan berpaling daripadanya? Kelak kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat kami dengan siksaan yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.” (Al An’am: 155-157)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Dia Subhaanahu menyebutkan bahwa Dia akan memberi balasan kepada orang yang berpaling dari ayat-ayat-Nya disebabkan mereka selalu berpaling. Menjelaskan hal itu bahwa setiap orang yang tidak mengakui apa yang dibawa Rasulullah, maka dia itu kafir baik ia meyakini kebohongannya atau menolak dari beriman kepadanya, atau berpaling darinya karena mengikuti apa yang dia inginkan, atau meragukan apa yang dibawanya. Maka setiap orang yang mendustakan apa yang beliau bawa adalah kafir, dan bisa saja kafir orang yang tidak mendustakan bila ia tidak beriman terhadapnya).  Majmu Al Fatawa cetakan Dar Ibnu Hazm 3/196.

Orang yang berpaling dari ashlud dien dan buhul talinya yang amat kokoh (tauhid) setelah Allah menutup risalah dengan penutup para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah mengaitkan peringatan dengan kitab yang tidak bisa lenyap dicuci air; adalah tidak di’udzur dengan sebab kejahilan yang dia usahakan dengan keberpalingannya dari mempelajari hal paling penting yang karenanya Allah menciptakan dia. Dan tidak setiap orang kafir wajib sebagai orang yang mustakbir lagi mukadzdzib, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam, akan tetapi bisa seperti itu, dan bisa saja orang yang berpaling lagi mengikuti hawa nafsunya, dia tidak mendustakan dien ini dan tidak juga membenarkannya, dia tidak memeranginya tetapi tidak pula membelanya, serta dia tidak peduli sama sekali.

Dan di antara masaa-iluddien ada hal yang tergolong masaa-il khafiyyah yang membutuhkan penjelasan (bayan), maka tidak boleh menyamakannya dengan ashlut tauhid dan apa yang menggugurkannya berupa syirik yang nyata dan tandid, atau menyamakannya dengan apa yang diketahui dari dien ini secara pasti dan ia nampak lagi masyhur sehingga tidak samar atas seorang pun.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Dan ini bila dalam al maqalat al khafiyyah maka bisa dikatakan: Sesungguhnya ia adalah keliru lagi sesat yang belum tegak atasnya hujjah yang mana orangnya dikafirkan, akan tetapi itu terjadi pada kelompok-kelompok dari mereka dalam hal-hal dhahirah yang mana orang-orang awam dan khusus dari kaum muslimin mengetahui bahwa ia termasuk dienul muslimin, bahkan kaum Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengannya dan mengkafirkan orang yang menyelisihinya, seperti perintahnya untuk beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan larangannya dari ibadah kepada selain Allah dari kalangan Malaikat, para Nabi, matahari, bulan, bintang, berhala dan yang lainnya.  Sesungguhnya ini adalah ajaran Islam yang paling nampak, dan seperti perintahnya melaksanakan shalat yang lima waktu, pewajibannya dan pengagungan statusnya, dan seperti permusuhannya terhdap Yahudi, Nasrani, musyrikin, shabiin dan majusi, dan seperti pengharaman fawahisy, riba, khamr, judi dan yang serupa itu). Majmu Al Fatawa cet Dar Ibnu Hazm 4/37

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah telah menukil dalam Mufidul Mustafid ucapan Syaikhul Islam rahimahullah: (Saya tergolong orang yang paling dahsyat pelarangannya dari menisbatkan orang mu’ayyan kepada takfier, tabdi’ atau tafsiq atau maksiat, kecuali bila telah diketahui bahwa telah tegak atasnya hujjah risaliyyah yang mana orang yang menyelisihinya terkadang kafir, fasiq dan maksiat).

Kemudian Syaikh Muhammad rahimahullah berkata seraya mengomentari: (Dan inilah bentuk ucapan beliau dalam masalah ini, di setiap tempat kami telah mempelajari ucapannya, beliau tidak menyebutkan tidak takfier mu’ayyan melainkan beliau melanjutkannya dengan ungkapan yang menghidangkan isykal itu bahwa yang dimaksud dengan tawaqquf dari takfirnya adalah sebelum sampai hujjah kepadanya, dan adapun bila hujjah telah sampai kepadanya, maka ia divonis dengan apa yang dituntut oleh masalah itu, berupa takfier, tafsiq atau maksiat. Dan beliau rahimahullah menegaskan bahwa ucapannya ini berkenaan dengan selain masaa-il dhahirah, di mana beliau mengatakan dalam bantahannya terhadap ahlil kalam tatkala beliau menuturkan bahwa sebagian tokoh mereka banyak yang murtad dari Islam, beliau berkata: Dan ini bila dalam al maqalat al khafiyyah maka bisa dikatakan: Sesungguhnya ia di dalamnya keliru lagi sesat yang belum tegak atasnya hujjah yang mana orang yang meninggalkannya dikafirkan, akan tetapi ini muncul darinya dalam hal-hal yang mana orang-orang khusus dan kalangan awam dari kaum muslimin mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengannya dan beliau kafirkan oang yang menyelisihinya, seperti ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya dan larangannya dari ibadah kepada selain-Nya berupa malaikat, para Nabi dan yang lainnya, sesungguhnya ini adalah ajaran Islam yang paling nyata, dan seperti pewajiban shalat yang lima waktu dan pengagungan keberadaannya, dan seperti pengharaman fawahisy dan pengharaman riba, khamr dan judi, kemudian engkau dapatkan banyak dari para tokoh mereka terjatuh di dalamnya, maka mereka itu murtad, dan lebih dasyat dari itu bahwa di antara mereka ada yang menulis kitab dalam ajaran kaum musyrikin sebagaimana yang dilakukan Abu Abdillah Ar Razi yaitu (Al Fakhrurraziy), beliau (Ibnu Taimiyyah) berkata: Dan ini adalah kemurtadan yang nyata dengan kesepakatan kaum muslimin.” Selesai ucapannya.

Perhatikan hal ini dan perhatikan apa yang ada di dalamnya berupa rincian syubhat yang disebutkan musuh-musuh Allah, akan tetapi siapa yang Allah inginkan kesesatannya maka kamu tidak memiliki kemampuan menolongnya dari (adzab) Allah, yaitu bahwa yang kami yakini dan kami menghadap Allah dengannya serta semoga Dia meneguhkan kami di atasnya, meskipun ia (Ibnu Taimiyah) keliru atau (keliru) orang yang lebih hebat darinya dalam masalah ini, yaitu masalah orang muslim bila menyekutukan Allah setelah bulughul hujjah atah orang muslim yang mengutamkan ini atas para muwahhidien, atau mengklaim bahwa ia di atas al haq, atau hal lainnya berupa kekafiran yang nyata lagi terang yang telah dijelaskan Allah, Rasul-Nya dan ulama umat ini.  Sesungguhnya kami beriman terhadap apa yang datang kepada kami dari Allah dan Rasul-Nya berupa pengkafirannya walaupun telah keliru orang yang keliru, maka bagaimana wal hamdulillah sedangkan kami tidak mengetahui dari seorang ulama pun penyelisihan dalam masalah ini, namun orang yang menentang di dalamnya hanyalah berlindung kepada hujjah Fir’aun:

“Bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?” (Thaha:51)

atau hujjah Quraisy:

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir..” (Shaad:7)

Selesai dari Mufidul Mustafid Fi Hukmi Tarikit Tauhid yang ada dalam kumpulan ‘Aqidatul Muwahhidien 54-55.

Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman Alu Asy Syaikh rahimahullah: (Dan masalah kita ini yaitu ibadah kepada Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dan bara’ah dari ibadah kepada selain-Nya, dan sesungguhnya siapa yang beribadah kepada selain Allah di samping dia beribadah kepada-Nya, maka dia itu telah musyrik dengan syirik akbar yang mengeluarkan dari millah. Ia adalah ashlul ushul (inti segala inti) dan dengannya Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya, serta hujjah telah tiba atas manusia dengna Rasul dan dengan Al Qur’an.  Begitulah engkau dapatkan jawaban dari aimmatuddien dalam al ashlu (masalah inti/tauhid) itu saat pengkafiran orang yang menyekutukan Allah, sesungguhnya ia disuruh taubat (istilah), bila ia taubat maka ia diterima) dan bila tidak maka ia dihukum bunuh (qotl), mereka tidak menyebarkan keharusan ta’fir (memberi tahu sebelum dikafirkan) dalam masalah-masalah ushul, namun mereka hanya menyebutkan ta’rif dalam la masaa-il al khafiyyah yang terkadang dalilnya samar atas sebagian kaum muslimin, seperti masalah-masalah yang diselisihi oleh sebagian ahlul bid’ah seperti Qodariyyah, Mur’jiah atau dalam masalah khafiyyah seperti sharf dan ‘athf.  Bagaimana mungkin para ulama (mengharuskan) ta’rif terhadap ‘ubbadul qubur sedangkan mereka itu bukan kaum muslimin dan tidak masuk dalam penyebutan Islam?! Dan apakah tersisa amalan bersama syirik?! Sedangkan Allah Ta’ala berfirman:

“…dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum….” (Al A’raf: 40)

Dan berfirman:

“….dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia adalah seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al Hajj: 31)

Dan berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan  mengampuni dosa syirik….” ( An Nisa: 48)

Dan berfirman:

“Dan barangsiapa yang kafir kepada keimanan maka hapuslah amalannya.” (Al Maidah: 5) Dan ayat-ayat lainnya.

Akan tetapi keyakinan ini (maksudnya kemestian memberitahu pelaku syirik sebelum dikafirkan) lazim darinya keyakinan yang buruk, yaitu bahwa hujjah belum tegak atas umat ini dengan Rasul dan Al Qur’an, kamu berlindung kepada Allah dari keburukan pemahaman yang mengharuskan bagi mereka pelupaan Al Kitab dan Rasul, bahkan ahlul fatrah yang belum sampai risalah dan Al Qur’an kepada mereka dan mati  di atas jahiliyyah tidaklah dinamakan muslimin dengan ijma.”

Dari Hukmu Takfier Al Mu’ayyan wal Farqu Baina Qiyamil Hujjah wa Fahmil Hujjah hal 150-151 yang ada dalam ‘Aqidatul Muwahhidin

Syaikh Abdullah Ibnu ‘Abdirrahman Aba Buthain: ((Sebagian orang yang membela kaum musyrikin berdalil dengan kisah orang yang mewasiatkan kepada keluarganya agar membakar dia setelah mati atas (keyakinan mereka) bahwa pelaku kekafiran karena jahl tidak boleh dikafirkan, dan tidak boleh dikafirkan kecuali orang yang mu’anid.

Dan jawaban atas hal itu semua adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus rasul-rasul-Nya sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan supaya tidak ada bagi manusia hujjah atas Allah setelah diutusnya para rasul. Sedangkan hal paling besar yang dengannya mereka diutus dan mereka dakwahkan adalah ibadah kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dari syirik yang mana ia adalah ibadah kepada selain-Nya. Bila saja pelaku syirik akbar di’udzur karena kejahilannya, maka siapa gerangan orang yang tidak di’udzur? Dan lazim (kemurnian) dari klaim ini adalah bahwa tidak ada hujjah bagi Allah atas seorangpun kecuali orang mu’anid, padahal sesungguhnya pemilik klaim ini tidak bisa mempatenkan (memberlakukan total) kaidah dasarnya, namun mesti terjadi tanaqudl (kontradiksi), karena ia tidak bisa tawaqquf dalam mengkafirkan orang yang ragu akan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau ragu akan hari kebangkitan atau ushuluddien lainnya, sedangkan orang yang ragu itu jahil, dan para fuqaha rahimahumullah menuturkan dalam kitab-kitab fiqh tentang hukum orang murtad, yaitu bahwa ia adalah orang muslim yang kafir setelah keislamannya, baik berupa ucapan, perbuatan, keyakinan atau keraguan, sedangkan sebab keraguan adalah kejahilan. Dan lazim pendapat ini adalah tidak takfier kaum jahil dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan orang-orang yang dibakar dengan api oleh Ali radliyallahu ‘anhu, karena kami memastikan bahwa mereka itu jahil, sedangkan para ulama rahimahumullah telah berijma atas kekafiran orang yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani atau orang yang ragu akan kekafiran mereka, sedangkan kami yakin bahwa mayoritas mereka itu jahil… hingga ucapannya: Dan Allah Subhaanahu telah mengabarkan tentang orang-orang kafir bahwa mereka itu berada dalam keraguan dari apa yang dilakukan para rasul… dan beliau tuturkan ayat-ayat tentang hal itu terus berkata: Dan sesungguhnya Allah telah mencela para muqallidien dengan firman-Nya tentang mereka:

“Demikianlah sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya  kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata: Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Maka kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (Az Zukhruf: 23-25)

Namun demikian Allah subhanahu wa ta’ala mengkafirkannya. Maka para ulama berdalil dengan ayat ini dan yang lainnya bahwa tidak boleh taqlid dalam ma’rifatullah dan risalah, dan bahwa hujjah Allah Subhaanahu tegak atas manusia dengan diutusnya para rasul kepada mereka meskipun tidak memahami hujjah-hujjah Allah dan penjelasan-Nya. Syaikh Muwaffaquddien Abu Muhammad Ibnu Qudamah rahimahullah saat melangsungkan ucapannya dalam masalah (apakah setiap mujtahid benar) seraya menguarkan pendapat jumhur, bahwa tidak setiap mujtahid benar, akan tetapi yang benar adalah ucapan salah seorang dari pendapat-pendapat para mujtahid, beliau berkata: Al Jahidh mengklaim bahwa orang yang menyelisihi millatul Islam bila ia berpikir kemudian tidak mampu menggapai al haq maka dia itu di’udzur lagi tidak dosa, hingga ia berkata: Adapun pendapat Al Jahidh maka ia adalah bathill secara meyakinkan dan kekafiran terhadap Allah serta penolakan terhadap Allah dan rasul-Nya)). (Al Intishar Liizbillahil Muwahhidien War Raddu ‘Alal Majadil ‘Anil Musyrikien). Hal 16-17 dalam ‘Aqidatul Muwahhidien.

Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Alu Asy Syaikh berkata di akhir fatwanya tentang pengkafiran orang-orang yang menyembah Al Badawi, Al Jailani dan kuburan Ahlul Bait meskipun mereka menamakannya sebagai wasaaith (perantara) dan bukan aalihah (tuhan) serta tidak ada syarat mereka itu meyakininya sebagai aalihah dengan kata ini, beliau berkata: (Tauhid tidak ada kejahatan di dalamnya, hal ini tidak sepantasnya tidak diketahui, namun orang ini berpaling dari dien, apakah orang jahil akan matahari?! Ulama mereka itu jahil, dan tidak ada yang lebih jahil dari orang musyrik. Di dalam Al Qur’an tidak ada khithab dengan kejahilan kecuali terhadap sebagian orang yang beribadah kepada selain Allah, mereka itu orang-orang jahil dan hujjah itu telah tegak atas mereka. Dua hal yang bisa berkumpul: Pengetahuan akan kadar hujjah yang tegak atas mereka dan kejahilan akan kadar apa yang ia berpaling darinya).

Dan telah terjadi munadharah (debat) seputar itu antara beliau dengan Syaikhul Azhar (Rektor Al Azhar) yang mana ia (Syaikhul Azhar) berkata di ujung debat: “Mereka (para ‘ubbadul qubur) itu telah menampakkan penampilan orang kafir.” Maka Syaikh menjawab: (“Maka kami menampakkan terhadap mereka sikap orang-orang yang mengkafirkan”). Lihat Majmu Fatawa wa Rasaail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 12/197-198.

Syaikhul Islam berkata juga saat beliau berbicara dalam masalah tawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya membantah orang yang berkata bahwa orang yang menafikan kebolehan tawassul dengan beliau adalah telah kafir: (Dan tidak seorangpun berkata bahwa orang yang berkata dengan pendapat yang pertama maka dia telah kafir, dan sama sekali tidak ada alasan untuk mengkafirkannya, karena ini adalah masalah khafiyyah yang dalil-dalilnya tidak nampak lagi jelas, sedangkan kekafiran itu hanyalah dengan mengingkari suatu yang maklum secara pasti dari dien ini, atau dengan mengingkari hukum-hukum yang mutawatir lagi diijmakan, dan yang serupa itu. Cet. Dar Ibnu Hazm 1/81.

Dan sebagai pelengkap pembicaraan, kami ingin mengingatkan bahwa al hashr (pembatasan) di sini hanyalah tentang kufur takdzib, maka ia tidak terbukti kecuali dalam hal yang telah diketahui secara pasti dari dien ini, dan ia mutawatir serta nampak. Adapun hal yang tergolong hal-hal khafiyyah, maka sesungguhnya orang yang mengingkarinya tidaklah dianggap mukadzdzib (mendustakan) karena kesamarannya atas dia atau karena belum sampai kepadanya.

Dan sudah pasti bahwa itu bukan hashr bagi seluruh macam-macam kekafiran dalam kufur terkait, sebagaimana yang dikatakan Neo Jahmiyyah dan Murji’ah pada hari ini, sungguh telah tiba sebelumnya ucapan beliau tentang kufur i’radl (kekafiran dengan sebab keberpalingan) dan telah sering berulang-ulang ucapannya (Dan secara umum siapa yang berkata atau melakukan suatu yang merupakan kekafiran maka ia kafir dengan hal itu meskipun tidak bermaksud untuk kafir). Ini adalah di sisi Syaikhul Islam lebih nampak dari keberadaannya bisa diperdebatkan atau bisa dipalingkan.

Dan berkata juga dalam membedakan antara hal-hal khafiyyah yang mana orang jahil akannya di’udzur dengan hal-hal lain yang nampak lagi ma’lum secara pasti: (Dan kata tawassul terkadang dimaksudkan dengannya tiga hal: dimaksudkan dengannya dua hal yang disepakati di antara kaum muslimin.

Pertama :    Ia adalah ashlul iman dan Islam, yang tawassul dengan iman terhadap beliau dan dengan ketaatan terhadapnya.

Kedua    :    Do’anya dan syafa’at terhadapnya, dan ini juga bermanfaat, tawassul dengannya orang yang mendo’akannya dan orang yang membantunya dengan kesepakatan kaum muslimin.

Siapa yang mengingkari tawassul dengannya dengan salah satu dari dua materi ini, maka ia kafir murtad lagi disuruh taubat, bila dia taubat maka diterima dan bila tidak maka dibunuh sebagai orang murtad, akan tetapi tawassul dengan hukuman terhadapnya dengan ketaatan terhadapnya adalah ashluddien, dan ini maklum secara pasti dari dienul Islam ini bagi orang khusus dan orang awam.  Dan siapa mengingkari makna ini maka kekafirannya sangat nampak bagi orang khusus dan orang awam. Adapun do’anya dan syafa’atnya serta intifa’ kaum muslimin dengan hal itu maka siapa mengingkarinya maka ia juga kafir, akan tetapi ini lebih samar dari yang awal, oleh sebab itu siapa mengingkarinya karena kejahilan maka ia (mesti) diberitahu tentang hal itu, kemudian bila ia bersikeras di atas pengingkarannya maka ia murtad).  Majmu Al Fatawa Cet. Dar Ibnu Hazm 1/115.

Perhatikanlah pemilahan beliau dalam hal ‘udzur antara apa yang samar dan membutuhkan pada ta’rif dengan apa yang tergolong ashluddien wal iman wal islam atau yang telah diketahui secara pasti dari dienul muslimin.

Dan berkata juga 3/184: (Sesungguhnya Ushuluddien[1] bisa jadi ia masalah-masalah yang wajib diyakini berupa ucapan atau ucapan dan amalan, seperti masalah tauhid, sifat-sifat Allah, qadar, kenabian, hari kebangkitan atau bukti-bukti masalah-masalah ini.

Adapun bagian pertama: maka (ia adalah) setiap apa yang diperlukan manusia untuk meyakininya dan membenarkannya dari masalah-masalah ini, sungguh Allah telah menjelaskannya dengan penjelasan yang memuaskan lagi memutus udzur (alasan), karena ia adalah tergolong hal terbesar yang disampaikan Rasul dengan penyampaian yang nyata dan yang beliau sampaikan kepada manusia serta tergolong hal terbesar yang dengannya Allah tegakkan hujjah atas hamba-hamba di dalamnya dengan para Rasul yang menjelaskan dan menyampaikannya.

Sedangkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam meliputi dari hal itu terhadap puncak apa yang dimaksud…. dan tamamul wajib wal mustahab. Dan yang mengirabahwa Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah) tidak meliputi atas penjelasan hal itu hanyalah orang yang kurang pada akalnya, pendengarannya, serta orang yang memilki bagian dari ucapan ahlinnaar (penghuni neraka) yang berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Selesai dengan ikhtishar)

Beliau berkata tentang Jahmiyyah: (Sesungguhnya mereka menyelisihi apa yang disepakati oleh semua agama dan semua pemilik fithrah yang bersih, namun demikian banyak  dari maqalat mereka terkadang samar atas banyak ahlul iman sehingga ia mengira bahwa al haq itu bersama mereka , karena syubhat-syubhat yang merka lontarkan, padahal orang-orang mu’min itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya lahir bathin, namun hal ini tersamar dan terkaburkan atas mereka sebagaimana hal ini tersamar terhadap selain mereka dari kalangan ahlul bid’ah, maka mereka itu bukanlah orang-orang kafir secara pasti, namun bisa jadi di antara mereka ada orang pasiq ahli maksiat dan bisa jadi di antara mereka ada orang yang keliru lagi diampuni dan bisa jadi bersamanya ada keimanan dan ketaqwaan yang mana dia mendapat perwalian Allah dengannya sesuai kadar keimanan dan ketaqwaannya. Inilah pendapat Ahlus Sunnah yang dengannya mereka menyelisihi Khawarij, Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Murji-ah adalah bahwa iman beragam tingkatannya dan memiliki bagian-bagian sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(يخرج من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من إيمان)

Dikeluarkan dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah dari keimanan”. Dan dari itu maka beragamnya perwalian Allah dan pembagian-pembagiannya sesuai dengan hal itu). (Majmu Al Fatawa cet, Dar Ibnu Hazm 3/220)

Berkata pula (12/99): (Adapun takfir, maka yang benar adalah bahwa sesungguhnya siapa yang ijtihad dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia memaksudkan pada al haq sedang ia keliru, maka ia tidak dikafirkan namun kekeliruannya diampuni. Siapa yang jelas baginya apa yang dibawa Rasulullah lalu ia menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan kaum mu’minin, maka ia kafir. Dan siapa saja yang mengikuti hawa nafsunya dan dia taqshir dalam mencari al haq serta berbicara tanpa dasar ilmu, maka ia itu maksiat lagi berdosa, kemudian bisa saja fasiq dan terkadang dia memiliki kebaikan yang menutupi kesalahan-kesalahannya, jadi takfir itu berbeda tergantung perbedaan keadaan seseorang, maka tidak setiap orang yang keliru, mubtadi’, orang jahil dan orang sesat itu kafir, bahkan tidak pula fasiq dan tidak pula maksiat, apalagi seperti masalah Al Qur’an dan sungguh telah keliru di dalamnya banyak kalangan dari para tokoh berbagai kelompok terkenal sebegai ahlul ilmi dan dien di tengah manusia….)

Syaikhul Islam juga berkata: (Takfir adalah hak Allah Ta’ala, maka tidak boleh dikafirkan kecuali orang yang telah dikafirkan Allah dan Rasul-Nya dan juga sesungguhnya takfir orang tertentu (mu’ayyan) dan kebolehan membunuhnya tertumpu terhadap sampainya kepada dia hujjah nabawiyyah yang mana orang yang menyelisihinya dikafirkan, karena tidak setiap orang yang jahil akan sesuatu dari dien ini dikafirkan…) hingga ucapannya: (Oleh sebab itu saya mengatakan kepada Jahmiyyah dari kalangan Huluuliyyah dan Nufaat yang menafikan keberadaan Allah Ta’ala di atas ‘Arsy: Seandainya saya setuju dengan kalian tentulah saya kafir karena saya mengetahui bahwa ucapan kalian adalah kekafiran, sedangkan kalian menurut saya tidak kafir karena kalian adalah orang-orang jahil.)[2]

Dan berkata juga: (Demikianlan, padahal sesungguhnya saya selalu –dan orang yang bermajlis dengan saya mengetahui dari saya- bahwa saya tergolong orang yang paling dasyat pelarangannya dari menisbatkan orang mu’ayyan kepada takfir, tafsiq, dan maksiat kecuali bila telah diketahui bahwa telah tegak atasnya hujjah risaliyyah yang mana orang yang menyelisihinya bisa kafir, bisa fasiq dan bisa maksiat. Sesungguhnya saya mengakui bahwa Allah telah mengampuni bagi umat ini kekeliruannya, sedangkan itu meliputi khatha’ (kekeliruan) dalam masaa-il khabariyyah wal qauliyyah dan al masaa-il al ‘ilmiyyah. Salaf sendiri senantiasa berselisih dalam banyak masalah, namun satu sama lain tidak memvonis kafir, fasiq dan maksiat, sebagaimana Syuraih mengingkari qira-ah orang yang membaca:

(بل عجبتُ ويسخرون)

“Bahkan Aku menjadi heran (terhadap keingkaran mereka) dan mereka menghinakan kamu”. (Ash Shaffaat:12)

Dan ia berkata: (Tentang Allah, Dia tidak heran)…

Sebagaimana pula Aisyah dan sahabat lainnya berselisih tentang apakah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya, dan Aisyah berkata: “Siapa yang mengklaim bahwa Muhammad telah melihat Rabb-nya, maka ia telah berdusta sangat besar atas nama Allah”. Namun demikian kami tidak mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas dan para sahabat yang menyelisihinya: “Sesungguhnya ia mengada-ada terhadap Allah”. Sebagaimana Aisyah menyelisihi dalam hal si mayit mendengar ucapan orang yang masih hidup dan dalam hal penyiksaan si mayit dengan sebab tangisan keluarga dan masalah lainnya….)[3] hingga ucapannya:

(Dan takfir adalah termasuk wa’iid,sesungguhnya meskipun ucapan itu adalah pendustaan terhadap apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi bisa jadi orang itu baru masuk Islam atau hidup di pedalaman yang jauh, maka orang seperti ini  tidak dikafirkan dengan sebab pengingkarannya sehingga tegak atasnya hujjah.  Dan bisa jadi orang itu belum mendengar nash-nash itu atau telah mendengarnya namun tidak tsabit di sisinya atau di sisinya ada hal lain yang menentang hal itu yang mengharuskan dia untuk mentakwilnya meskipun itu salah.  Dan saya selalu menuturkan  yang ada dalam Ash Shahihain tentang orang yang berkata: (Bila saya mati, maka bakarlah saya kemudian debu saya ditaburkan ke laut, demi Allah sungguh seandainya Allah mampu membangkitkan saya, sungguh dia akan menga’dzabku dengan ‘adzab yang tidak pernah dia timpakan kepada seorangpun dari makhluk ini,” maka mereka melakukan hal itu terhadapnya, maka Allah berkata terhadapnya: Apa yang mendorong kamu melakukan hal itu? Ia berkata: Rasa takut kepada-Mu”, Maka Dia mengampuninya). Ini adalah orang yang ragu akan qudrah Allah dan dalam hal pengembaliannya bila ia ditaburkan dimana-mana, bahkan ia meyakini bahwa ia tidak akan dibangkitkan, sedangkan ini adalah kekafiran dengan kesepakatan kaum muslimin, akan tetapi ia itu jahil tidak mengetahui hal itu sedang ia orang mu’min yang takut Allah akan menyiksanya, maka ia diampuni dengan sebab itu.

Sedangkan orang yang mentakwilkan dari ahli ijtihad yang sangat berupaya mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lebih berhak mendapatkan ampunan dari macam orang seperti ini. Majmu Al fatawa cetakan Dar Ibnu Hazm 3/147-148.

Perhatikan ucapannya tentang orang itu (ini adalah orang yang ragu akan qudrah Allah dan dalam hal pengembaliannya bila ia ditaburkan di mana-mana…) karena sesungguhnya orang tersebut tidak mengingkari hari akhir dan tidak mengingkari hari kebangkitan secara mutlaq, namun sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam, ditempat lain di dalam Al Fatawa 12/263: (Ia beriman kepada Allah secara umum dan beriman kepada hari akhir secara umum, yaitu bahwa Allah memberikan pahala dan memberikan ‘adzab setelah kematian).

Rasa takut dari Allah menyiksanya atas dosa-dosanya mendorong dia pada saat kekalutannya menjelang kematiannya untuk mewasiatkan apa yang dia wasiatkan. Kejahilan ini muncul darinya akan keluasan qudrah Allah Ta’ala dan rincian-rinciannya serta bahwa Allah kuasa untuk mengumpulkan setiap elemen dari elemen-elemen tubuhnya. Rincian ini adalah tergolong khabar yang tidak bisa diketahui kecuali lewat jalur hujjah risaliyyah, oleh sebab itu diudzurlah orang jahil yang memiliki ashlul iman dan tauhid, sebagaimana orang ini, karena apa yang dia keliru (di dalamnya) atau yang tidak dia ketahui adalah sebagian rincian Al Asma Wash Shifat dan hal-hal yang tergolong khafiy lainnya.

Syaikhul Islam telah menurturkan berita tentang orang ini di tempat lain dalam Al Fatawa 11/224, kemudian beliau berkata sambil menjelaskan hal itu: (Orang ini mengira bahwa Allah tidak kuasa atasnya bila badannya sudah diceraiberaikan seperti ini, terus dia mengira bahwa Dia tidak membangkitkannya bila ia telah menjadi seperti itu..) hingga ucapannya hal 225: (Paling maksimal dalam (khabar) ini (ada faidah) bahwa ia adalah laki-laki yang tidak mengetahui semua apa yang menjadi hak Allah berupa shifat dan (tidak mengetahui) akan rincian bahwa Dia itu Dzat Yang Maha Kuasa, dan banyak dari kaum mu’minin terkadang tidak mengetahui hal seperti itu, maka ia tidak kafir) kemudian beliau menuturkan  Aisyah dalam Shahih Muslim, tatkala mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau keluar malam-malam menuju Al Baqi, sedangkan beliau tidak merasakan keberadaan Aisyah, dan sabdanya tatkala telah mengetahui hal itu:

(أظننت أن يحيف الله عليك ورسوله؟

(Apakah kamu mengira Allah dan Rasul-Nya berbuat zhalim atas kamu?)

Dan ucapan Aisyah: (Saya berkata: Bagaimanapun manusia menyembunyikannya, apakah Allah mengetahuinya? Maka beliau berkata: Ya.. hingga akhir ))[4]

Kemudian berkata hal 226: (Ini Aisyah Ummul Mu’minin bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : Apakah Allah mengetahui segala yang disembunyikan manusia? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: Ya… Ini menunjukkan bahwa ia belum mengetahui hal itu dan ia tidak kafir sebelum mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang disembunyikan manusia, meskipun pengakuan akan hal itu setelah tegaknya hujjah adalah termasuk ushulul iman, sedangkan pengingkaran ilmu-Nya akan segala sesuatu adalah seperti pengingkaran qudrah-Nya atas segala sesuatu…) hingga ucapannya sebagai jawaban atas inti pertanyaan: (sungguh telah jelas bahwa ucapan ini adalah kekafiran[5], akan tetapi pengkafiran orangnya tidak diputuskan sehingga telah sampai kepadanya berupa ilmu yang dengannya tegak atasnya hujjah yang mana orang meninggalkannya dikafirkan) Cet. Dar Ibnu Hazm 11/224/226

Al Khaththabiy berkata: (Hal ini terkadang dianggap musykil, maka dikatakan: Bagaimana diampuni sedangkan laki-laki itu mengingkari hari kebangkitan dan qudrah atas menghidupkan orang-orang yang mati? Dan jawabannya: Sesungguhnya ia tidak mengingkari kebangkitan namun ia jahil bahasa bila ia diperlakukan seperti tidak akan dibangkitkan terus tidak di ‘adzab, dan telah nampak keimanannya dengan pengakuan dia bahwa ia melakukan hal itu hanyalah karena takut kepada Allah). Dituturkan Ibnu Hajr dalam Fathul Bari 6/604.

Dan menuturkan ucapan Ibnu Qutaibah: (Terkadang keliru dalam sebagian shifat (Allah) kaum dari muslimin, maka mereka tidak dikafirkan dengan sebab itu. Selesai.

Dan dalam ucapan Syaikhul Islam tentang orang itu (tidak mengetahui semua apa yang menjadi hak Allah berupa shifat dan (tidak mengetahui) akan rincian bahwa Dia itu Dzat Yang Maha Kuasa..) dan ucapan Al Kaththabiy: (sesungguhnya ia tidak mengingkari kebangkitan) ada hal yang menjelaskan bahwa masalahnya tidak seperti apa yang diyakini sebagian kaum Neo Jahmiyyah dan Murji-ah (masa kini) dimana mereka mengatakan bahwa orang itu mengingkari kebangkitan secara muthlaq, terus berdalil dengan firman-Nya Ta’ala:

“….Orang-orang kafir mengklaim bahwa mereka tidak akan dibangkitkan…” (At Taghaabun: 7)

Maka dari sanalah pengarahan dan pengumuman pemberian ‘udzurnya dengan sebab kejahilan dalam hal pengingkaran hari kebangkitan secara muthlaq, supaya ia melangkah dengan hal itu kepada pemberian ‘udzur bagi para thaghut pembuat undang-undang dan para penguasa murtad yang memerangi dien ini lagi loyal terhadap musuh-musuhnya yang telah keluar dari dien ini dari berbagai pintu.

Sungguh tidak ragu lagi bahwa perbuatan ini adalah tergolong pengarahan dalil kepada makna yang tidak dikandungnya. Laki-laki itu sebagaimana yang nampak tidaklah mengingkari qudrah Allah atas kebangkitan, namun ia hanya jahil akan luasnya qudrah ini dan rincian-rinciannya serta bahwa Allah Subhanahu kuasa untuk mengumpulkan apa yang telah diceraiberaikan angin dan terpencar di sungai dan lautan berupa abunya dan ba’tsnya. Dan rincian ini membuat akal terheran-heran di dalamnya, dan terkadang samar dan pikiran tercengang darinya, terutama saat tegang dan mencekam pada sekarat kematian. Dan ia itu tergolong hal yang tidak diketahui kecuali lewat hujjah risaliyyah, sehingga tidak halal menyetarakan Al Khatha’ (kekeliruan) atau Al Jahlu (kejahilan) dalam hal khafiy seperti ini dan menerapkan ‘udzur di dalamnya serta menyertakannya pada syirik akbar yang nyata lagi jelas dan kemurtadan yang terang lagi disertai perang terhadap dien ini, dan kekafiran yang nyata lainnya yang terperosok di dalam kubangan para thaghut hukum, seraya menggugurkan dengan kekafiran-kekafiran mereka itu hal paling nyata dan paling terang serta paling masyhur urusan dien ini yang dengannya semua Rasul diutus.

Demi Allah yang tidak ada Ilah kecuali Dia, tidak menyetarakan atau menyamakan antara kekeliruan laki-laki bertauhid ini dengan kebejatan para thaghut itu, kecuali Al Muthaffifin (orang-orang yang curang) yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi yang mempermainkan dalil-dalil lagi memalingkan arahnya dan bermain-main dengan dilalahnya, “Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan”??

Sungguh engkau telah mengetahui dari uraian yang lalu bahwa tidak boleh menyamakan Al Khatha’ dalam bab-bab yang khafiy yang tidak diketahui kecuali dari jalur hujjah risaliyyah, dan yang mana orang jahil di’udzur di dalamnya, dan menyetarakannya dengan pelanggaran masalah-masalah yang nyata lagi ma’lum secara pasti dari dien ini, maka apa gerangan dengan pelanggaran hal yang paling masyhur padanya yaitu ahluttauhid yang mana Allah menegakkan di dalamnya atas makhluk-Nya, hujjah-hujjah-Nya yang memuaskan lagi nyata. Dia tanamkan hal itu di dalam fitrah mereka, Dia hiasi itu di akal mereka, Dia jadikan buruk apa yang menjadi lawannya berupa syirik dan tandid, dan Dia ambil atasnya perjanjian sebelum menciptakan mereka, dan Dia utus semua Rasul-Nya untuk taqrir hal itu dan untuk menggugurkan apa yang menjadi lawannya berupa syirik, serta Dia turunkan seluruh Kitab-Nya untuk itu, sampai-sampai kaum Yahudi dan Nasrani sampai sekarang tidak samar atas mereka bahwa itu inti paling inti dari ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta hal paling agung dan paling penting bagi pondasi-pondasinya.

Ia tidak samar kecuali atas orang yang mengupayakan kejahilannya dengan keberpalingan, sedangkan ini bukanlah hal yang di’udzurkan dengan kesepakatan, sehingga tidak halal menyamakan dua bab ini dan membaurkan satu sama lain, sebagaimana tidak halal menyamakan ahluttauhid dengan ahlusysyirki wat tandid.

والله ما استويا ولن يتلاقيا       حتى تشيب مفارق الغربان

Demi Allah keduanya tidak sama dan tidak akan bertemu

Sampai leher gagak beruban

Inilah, Al Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya tambahan yang penting bagi  orang itu, yang menunjukkan bahwa ia tergolong orang-orang yang bertauhid, maka tidak halal menempatkan ‘udzur-‘udzur para muwahhid dalam masaa-il khafiyyah terhadap kebejatan kaum kusyrikin dalam syirik mereka yang nyata dan kekafirannya yang jelas.

Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hanbaliy berkata seraya mengomentari: “Maka dikeluarkan dari mereka suatu kaum yang belum mengamalkan suatu kebaikan pun…”, (yang dimaksud dengan ucapannya “belum mengamalkan suatu kebaikanpun” adalah dari amalan jawarih (anggota badan) meskipun ahluttauhid ada pada mereka, oleh sebab itu ada dalam  orang yang menyuruh keluarganya untuk membakar dia setelah kematiannya dengan api (sesungguhnya ia belum mengamalkan suatu kebaikanpun selain tauhid) dikeluarkan Al Imam Ahmad dari  Abu Hurairah secara marfu’ dan dari hadist Ibnu Mas’ud secara mauquf.[6]

Perhatikan bagaimana Allah Ta’ala meng’udzur orang yang membawa tauhid pada kekeliruannya dalam bab-bab yang khafiyyah, karena ia telah membawa ahluttauhid wal iman dan al ‘urwah al wutsqa yang menyelamatkan lagi tidak putus.

Namun orang-orang yang zhalim dari kalangan Neo Jahmiyyah dan Murji-ah mengganti ucapan dengan selain apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka membalikkannya, dimana mereka meng’udzur para thaghut dan murtaddin yang menentang ahluttauhid dari berbagai pintu, terus menghukuminya sebagai kaum muslimin mu’minin serta menjaga darahnya dan menjadikannya sebagai golongan yang selamat.

Namun mereka tidak meng’udzur orang yang keliru dari kalangan ulama kaum muslimin atau du’at mereka dalam masalah-masalah yang kadang samar atas sebagian orang, karena ia tergolong hal yang tidak diketahui kecuali lewat hujjah risaliyyah meskipun mereka itu meiliki ahluttauhid wal iman. Kemudian para Neo Murji-ah dan Jahmiyyah itu menjadikan para pengikut mereka yang dungu berani lancang terhadap para du’at dan ulama itu, mereka mensesat-sesatkannya, menganggap mereka binasa, bahkan diantara mereka ada yang mengkafirkannya.[7]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam munadharahnya untuk mempertahankan al ‘aqidah al wasithiyyah tatkala sebagian orang-orang yang mendebat mempermasalahkan ucapan beliau di dalamnya: (Ini adalah keyakinan al firqah an najiyah); bahwa itu bisa saja menuntut bahwa sebagian orang-orang yang menyelisihinya dengan hal-hal tertentu mereka celaka lagi tidak selamat, maka beliau berkata: (Dan tidak setiap orang menyelisihi pada suatu dari keyakinan ini wajib dia itu binasa, karena orang yang menyelisihi bisa jadi mujtahid yang keliru yang mana Allah mengampuni kekeliruannya, dan bisa jadi belum sampai kepadanya dalam hal itu berupa ilmu yang dengannya hujjah tegak atas dia). Cet. Dar Ibnu hazm 3/116.

Al Imam Adz Dzahabiy berkata tentang takfier, orang yang tidak mengakui sebagian sifat Allah Ta’ala yang tsabit seperti nuzul (turun), ‘ajab (heran) dan yang lainnya: (Dia itu hanya dikafirkan setelah mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan itu, kemudian ia mengingkarinya dan tidak beriman kepadanya) dari Mukhtashar Al ‘Uluww hal 232 No. 282.

Dan beliau menukil di dalamnya hal 177 dari Asy Syafi’iy rahimahullah bahwa ia berkata: (Allah Ta’ala memiliki asma’ dan sifat yang tidak boleh bagi seorangpun menolaknya setelah hujjah tegak atasnya, kemudian bila ia menyelisihi setelah hujjah tsabit atasnya, maka ia kafir, dan adapun sebelum tsubuutul hujjah atasnya maka dia diudzur dengan sebab kejahilan, karena pengetahuan itu tidak didapatkan dengan akal, tidak pula rawiyyah (pemahaman) dan pikiran…)[8] No. 202

Dan beliau menukil juga dalam kitab yang sama dari Ibnu Jarir Ath Thabari (310 H) dalam kitabnya At Tabshir Fi Ma’alimiddin setelah ia menuturkan sebagian sifat Allah Tabaraka wa Ta’ala, ucapannya: (Sesungguhnya makna-makna yang berbentuk sifat dan hal-hal serupa yang mana Allah telah mensifati diri-Nya dengannya dan juga Rasul-Nya, adalah suatu yang pengetahuan akannya tidak tsabit dengan berfikir dan rawiyyah (dan) kami tidak mengkafirkan dengannya seorangpun kecuali setelah pengetahuan itu sampai kepadanya) Hal: 224 No. 274.

Maka kesimpulannya: Sesungguhnya wajib membedakan dalam masalah al ‘udzru bil jahli antara suatu yang sudah diketahui secara pasti dari dienul Islam dan ditolak oleh fithrah yang bersih dan dianggap buruk oleh akal yang sehat, seperti permasalahan syirik yang nyata lagi jelas yang tidak boleh tidak mengetahui keberadaannya sebagai hal yang membatalkan dienul Islam seorangpun yang mengakui agama ini, karena sesungguhnya hal itu tidak samar atas anak-anak kecil kaum muslimin, dan bahkan kaum Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan seluruh Rasul sebelumnya telah diutus untuk menggugurkan dan menghancurkannya, dengan suatu yang tergolong hal-hal yang terkadang samar dan membutuhkan kepada ta’rif dan bayan, dan tidak diketahui kecuali dengan hujjah risaliyyah yang merinci, maka hal seperti ini diudzurkan di dalamnya dengan sebab kejahilan berbeda dengan masalah yang pertama, sehingga wajib tidak bersegera dalam takfier dengannya kecuali setelah ta’rif dan iqamatul hujjah.

Sungguh sebagian orang-orang yang terlalu bersemangat telah menyetarakan hal ini dengan masalah yang pertama, sehinga mereka mengeluarkan dari lingkungan Islam dengan sikap ngawur mereka banyak dari kaum muslimin.

Sikap mereka ini bertolak belakang dengan orang-orang yang tafrith dari kalangan ahlut tajahhum wal irja serta orang-orang yang terlalu mengenteng-entengkan lainnya, dimana mereka mengambil perkataan para imam serta pengudzuran mereka dalam al masaa-il al khafiyyah, terus mereka menempatkannya terhadap kekafiran yang ma’lum secara pasti dari dien ini, mereka mengkiaskannya terhadapnya dan menyertakan asy syirkul wadlih al mustabin kepadanya, terus mereka dengan hal itu meng’udzur para thaghut dan menutupi kekafirannya yang nyata serta membela-bela para pembuat undang-undang yang musyrik dan para thaghut yang memerangi dien ini.

“Sedangkan dienullah, sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam adalah pertengahan antara (sikap) orang yang ghuluw di dalamnya, dengan orang yang kaku darinya, dan Allah Ta’ala tidak memerintahkan para hamba-Nya dengan suatu perintah melainkan syaitan di dalamnya merintangi dengan dua hal yang mana dia tidak peduli dengan yang mana dia berhasil, baik ifrath di dalamnya atau tafrith di dalamnya…” (Majmu Al Fatawa Cet. Dar Ibnu Hazm 3/236)


[1] Dan darinya dan dari apa yang telah lalu sebelumnya, engkau mengetahui bahwa ucapannya tentang pengingkaran (terhadap orang yang memilah dien kepada ushul yang membuat kafir bila diingkari dan kepada furu’ yang tidak membuat kafir bila diingkari) bukanlah dimaksud denganya bantahan atau penguguran rincian yang disebutkan di atas ini yang beliau sebutkan berulang kali di banyak tempat dalam fatwanya pada bab-bab al ‘udzru bil jahli dalam masaail khafiyyah bukan (masaail) dhahirah yang jelas lagi diketahui secara pasti baik itu tergolong ushul atau furu’.  Namun yang dimaksud dengan hal itu hanyalah pengingkaran terhadap mu’tazilah dan semacam mereka dari kalangan yang membagi dien ini kepada dua macam ini atas ushul yang rusak yang meyelisihi ushul Ahlus sunnah, sebagaimana yang beliau isyaratkan di tempat itu sendiri yang selalu didengung-dengungkan oleh sebagian manusia (23/196) dan berkata seraya menjelaskan lagi menjabarkan di tempat-tempat lain (3/191): (Dan salaf serta para imam yang mencela dan membid’ahkan pembicaraan tentang jauhar jism dan ‘ardl, ucapan mereka itu berisi celaan terhadap orang yang memasukan makna-makna yang dimaksud oleh mereka dengan lafadh-lafadh ini dalam ushul addien dalam dalaailnya, dan dalam masaailnya: penafian dan itsbat…)…

Dan berkata (4/380): (Sesungguhnya kelompok dari ahlul kalam menamakan apa yang ditetapkannya sebagai (ushuluddien).  Dan ini adalah nama yang agung, sedangkan yang dinamainya di dalamnya terdapat kerusakan dien yang Allah ketahui.  Bila ahlul haq was sunnah mengingkari hal itu maka Al Mubthil (ahlul bid’ah) ini berkata: “Mereka telah mengingkari ushuluddien”. Padahal mereka tidak mengingkari apa yang berhak dinamakan ushuluddien, namun mereka hanya mengingkari apa-apa yang dinamakan orang ini sebagai ushuluddien, dan ia adalah nama-nama yang dinamakan oleh mereka dan bapak-bapak mereka dengan nama-nama yang tidak Allah turunkan dalil tentangnya.  Dien adalah apa yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya serta Dia telah menjelaskan ushul dan furu’nya, dan tergolong mustahil Rasulullah telah menjelaskan furu’uddien tanpa ushulnya…)

Ungkapan beliau yang dijelaskan di dalamnya bahwa pembagian dien terhadap ushul dan furu’ adalah diambil dari mu’tazilah dan yang lainnya dari ahlul furu’ dan yang didengung-dengungkan seputarnya serta senang dengannya para jahmiyyah dan murji-ah dan sayangnya mereka diikuti atas hal itu juga oleh sebagian orang-orang baik yang intisab kepada ilmu dan dakwah… tidaklah seperti apa yang mereka pahami secara muthlaq, namun ia sesuai apa yang beliau rahimahullah jelaskan di sini…

[2] Itu dinukil darinya oleh Syaikh Ahmad Ibnu Ibrahim Ibnu Isa dalam syarahnya terhadap Nuniyyah Ibnul Qayyim, kemudian beliau berkata seraya menta’liq: (Dan ucapannya “menurut saya” menjelaskan bahwa tidak takfir mereka itu bukanlah hal yang diijmakan, akan tetapi pilihan saja, dan mendapat beliau dalam masalah ini adalah menyelisihi pendapat yang masyhur dalam madzhab , karena yang shahih dalam madzhab (imam Ahmad) adalah takfir mujtahid yang mengajak kepada pendapat khalqul Qur’an, atau penafian ru’yah, atau rafdl dan yang serupa dengannya dan tafsiq orang yang taqlid. Majduddin Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: (Yang shahih adalah bahwa setiap bid’ah yang kami kafirkan penyeru di dalamnya, maka kami tafsiq orang yang taqlid di dalamnya, seperti orang yang berpendapat bahwa Al Qur’an makhluk, ilmu Allah makhluk, atau bahwa nama-nama Allah mahkluk, atau bahwa Dia tidak dilihat di akhirat, atau mencela para sahabat dalam rangka ibadah atau berpendapat bahwa iman itu sekedar keyakinan dan yang serupa itu, siapa dalam suatu dari bid’ah ini dia menyeru kepadanya dan melakukan perdebatan di atasnya maka ia divonis kafir, Ahmad menegaskan hal itu dalam banyak tempat) selesai, coba lihat bagaimana mereka memvonis kekafiran mereka padahal mereka itu jahil, sedangkan Syaikhul Islam rahimahullah memilih tidak takfir mereka, namun mereka dihukum fasiq menurutnya) 2/409-410

[3] Lihat dalam hal ini dan semisalnya (Al Ijabah ‘Ammastadrakathu Aisyah ‘Anishshahabah) karya Az Zarkasiy.

[4] Begitulah Syaikhul Islam menuturkannya, sedangkan dalam Muslim tanpa (berkata) dan An Nawawi telah menjadikan ucapan (ya) termasuk ucapan Aisyah, dan bahwa ia (Aisyah) membenarkan dirinya, berkata ia (An Nawawi): (dan begitulah ia dalam Al Ushul), dan riwayat Muslim baginya dalam Al Mutaba’at dan Asy Syawahid, karena di dalamnya (ada laki-laki dari Quraisy) yang tidak disebutkan namanya. Ia adalah tergolong hadits-hadits yang dikritik atas Muslim. Dan  ini diriwayatkan Abdul Razaq dalam Mushanafnya atas apa yang ada pada Muslim yaitu: tanpa (berkata) dan Ahmad juga An Nasai meriwayatkan seperti bentuk yang dipegang Syaikhul Islam.

[5] Isyarat pada ucapan orang yang berbicara dalam pertanyaan bahwa ia (bila menjadi jauhar dengan sebab rutin melakukan riyadlah maka gugur darinya segala perintah dan larangan).

[6] Dari Kitab (At Takhwif Minannar Wat Ta’rif Bihaali Daaril Bawaar) (Bab ke-28) hal.260 Cet. Dar Ar Rasyid.

[7] Contoh terdekat atas hal itu adalah serangan neo Jahmiyyah dan Murjiah pada zaman kita ini terhadap Asy Syaikh Al Mujahid Sayyid Quthub rahimahullah .

[8] Dan dari itu engkau mengetahui ketergesa-gesaan dan kekeliruan orang yang mengingkari kami atas sikap membedakan dalam masalah udzur dengan sebab kejahilan antara kejahilan dalan bab-bab al asma wash shifat dan masalah-masalah lainnya yang tidak bisa diketahui kecuali lewat jalan hujjah risaliyyah, dengan penolakan ahluttauhid dengan cara jahl akan ibadah terhadap selain Allah dan kemusyrikan yang jelas lagi nyata yang mana orang yang jahil tentangnya tidak di’udzur, dia berkata: (dan tidak seorangpun salaf yang berpendapat seperti itu) silahkan perhatikan ucapan salaf di atasnya dengan rincian yang lalu, tentu engkau mengetahui kekeliruan dia dalam hal ini dan dalam ucapan sesudahnya: (bagaimana si hamba mengenal Allah atas dia berupa tauhid, sedangkan ia tidak mengetahui Dzat yang diibadati asma dan sifhat-Nya dan disana dia diudzur dengan sebab kejahilan), saya katakan: (Perhatkan keadaan Zaid Ibnu ‘Amr ibn Nufail sebelum kenabian Rasulullah, dan bagaimana ia merealisasikan tauhid lagi menjauhi syirik dan tandid, sungguh ia telah mengetahui hak Allah atasnya berupa tauhid, tanpa mengetahui rincian asma dan sifat Allah dan rincian-rincian masalah keimanan lainnya yang tidak diketahui kecuali lewat jalan para Rasul dan ingat bersama ini sesungguhnya ia adalah hanif, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Ia dibangkitkan di hari kiamat sebagai satu umat), tentu engkau mengetahui jawaban atas pertanyaan yang bernada pengingkaran.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s