Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 27 Takfier Semua Orang Yang Ikut Serta Di Dalam Nyoblos Tanpa Rincian )

Takfier Semua Orang Yang Ikut Serta Di Dalam Nyoblos Tanpa Rincian

Dan termasuk kekeliruan yang menyebar di dalam takfier juga adalah sikap mengkafirkan semua orang yang memberikan suara dalam pemilihan para anggota Parlemen dan bahkan dalam pilkada dan yang lainnya tanpa pemberian rincian dan tanpa mempertimbangkan qashd (maksud tujuan) dan khatha’ (kekeliruan maksud), dan tanpa penegakkan hujjah.

Sesungguhnya banyak para para pemuda yang terlalu bersemangat, mereka mengkafirkan semua individu orang-orang yang ikut nyoblos dalam pemilihan para anggota parlemen legislative atau di dalam pilkada, tanpa memperhatikan udzur ketidaktahuan (terhadap makna dan hakikat demokrasi) yang melahirkan intifaaul qashdi (ketidakadaan maksud terhadap perbuatan atau ucapan yang mukaffir) yang dipertimbangkan di dalam masalah takfier.

Adapun Pilkada: Maka kekafiran di dalamnya adalah tidak nampak jelas dan nyata di hadapan mayoritas manusia, sedangkan apa yang dikandungnya berupa pelegalan dan pemberian izin baru bagi tempat-tempat khamr dan tempat-tempat pelacuran di sebagian wilayah negeri; adalah tidak diketahui oleh mayoritas orang-orang yang ikut serta di dalam intikhaab (pemberian suara), dan banyak para calon kepala daerah yang berasal dari kalangan yang mengaku islam tidak kemitmen dengan hal tersebut, sebagaimana hal itu diketahui dari mereka oleh orang-orang yang menggeluti realita yang ada; di mana mereka tidak memberikan izin oprasi untuk hal-hal seperti itu dan mereka tidak memperbaharui izin oprasinya; di mana hal semacam ini adalah yang menjadikan banyak masyarakat terpedaya oleh mereka dan ikut serta di dalam memilih mereka. Sehingga menyamakan orang-orang yang ikut serta di dalam pemilihan mereka ini dengan orang-orang yang ikut serta di dalam pemilihan para anggota parlemen legislative adalah sikap yang dhalim dan aniaya.

Dan adapun parlemen; maka orang yang melihat dengan mata yang obyektif terhadap masyarakat pemilih; maka dia melihat bahwa perbuatan ini adalah termasuk hal-hal yang  tersamar maksud tujuan di dalamnya pada banyak orang-orang awam yang tidak mengetahui dari parlemen-parlemen ini kecuali pelayanan-pelayanan sosial yang akan sampai ke tangan mereka lewat para  anggota legislative itu. Di mana engkau melihat banyak dari mereka berinteraksi dengan parlemen itu seolah ia adalah lembaga-lembaga untuk pelayanan sosial atau mereka itu adalah wakil-wakil untuk pemberian pelayanan. Sering sekali kita melihat di antara mereka orang yang ditandu atau dibawa di atas korsi roda; seperti wanita tua atau kakek-kakek lanjut usia atau yang lainnya yang terputus dari dunia realita dan mereka tidak mengetahui sedikitpun (hakikat) tentang parlemen itu. Dan ada di antara mereka yang diantar ke TPS untuk memilih putera-putera daerahnya agar ikut andil di dalam perbaikan, pembenahan dan memajukan daerahnya, atau untuk menghilangkan  kezaliman dari mereka atau meringankannya, atau untuk berupaya membebaskan sebagian putera-putera mereka yang sedang dipenjara, dan hal serupa itu yang bisa disaksikan lagi diketahui oleh orang yang mengetahui realita yang ada.

Dan di antara mereka ada yang didatangkan, kemudian dia melihat pamplet-pamplet yang menarik yang ditulis dengan tulisan yang besar “Islam Adalah Solusinya” serta selogan-selogan lainnya yang dengannya para caleg yang musyrik itu memperdaya kaum muslimin yang awam, sehingga mereka memilihnya sebagai kecintaan kepada Islam dan sebagai bentuk kesetiaan kepada syari’atnya, sedangkan mereka itu tidak mengetahui atau tidak memaksudkan kepada cara yang syirik lagi tertutup yang akan dilalui oleh para anggota dewan itu untuk memberlakukan sebagian huduud syar’iyyah –menurut klaim mereka-. Maka semua ini wajib dipertimbangkan dalam menyikapi orang-orang yang tidak terjun langsung di dalam pembuatan hukum, atau tidak ikut di dalam sumpah setia kepada undang-undang yang kafir, atau tidak berhakim kepadanya atau ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan kekafiran lainnya yang dilakukan langsung oleh para anggota legislative itu. Sedangkan sudah maklum bahwa orang yang sekedar ikut memilih itu tidak melakukan hal itu semuanya dan tidak terjun langsung ke dalamnya,[1] namun ia hanya sekedar memilih orang yang dia pilih sebagai wakilnya.

Bila si pemilih itu memaksudkan dengan pencoblosannya itu untuk memilih orang-orang yang akan melakukan perbuatan-perbuatan mukaffirat yang nyata  ini, maka status dia itu sama dengan status orang yang dia pilih, karena status hukum orang yang menopang di belakang adalah sama dengan status hukum orang yang terjun langsung, sehingga selama dia itu adalah penopang di belakang baginya di dalam tujuan tersebut, maka status dia adalah sama dengan status wakilnya.

Namun bila banyak pengkaburan seputar suatu urusan yang tidak dikenal dan tidak jelas bagi setiap orang –yaitu hakikat tugas para anggota dewan dan mukaffirat (hal-hal yang mengkafirkan)  yang akan mereka lakukan secara langsung), dan si orang itu termasuk orang yang bisa saja samar atas dia hal tersebut dan tidak mengetahuinya, terus dia memilih wakilnya itu seraya memaksudkan (sesuai pengetahuannya) agar si wakil rakyat itu menunaikan baginya atau bagi marganya atau bagi daerahnya pelayanan sosial, di mana dia itu (karena tidak mengetahui hakikatnya) tidak memaksudkan untuk mengangkat wakil yang akan melakukan perbuatan mukaffirat tersebut, maka dia itu adalah orang yang salah maksud lagi tidak menyengaja kepada perbuatan-perbuatan mukaffirat yang akan dilakukan oleh para anggota legislative itu saat dia memilih mereka.

Oleh sebab itu tidak halal bertindak cepat-cepat mengkafirkan orang-orang semacam dia itu sebelum penegakkan hujjah dan pemberian penjelasan kepadanya tentang hakikat  pekerjaan para anggota legislative itu dan apa yang mereka lakukan berupa kekafiran-kekafiran yang membatalkan keislaman dan ketauhidan. Kemudian bila dia bersikukuh untuk memilih mereka setelah itu maka dia dikafirkan.

Jadi harus memberikan rincian prihal status orang-orang yang ikut mencoblos di dalam pemilu ini, antara orang yang memaksudkan memilih orang yang akan membuat hukum, dengan orang yang (karena ketidaktahuannya terhadap hakikat pemilu dan demokrasi) tidak memaksudkan hal itu, namun dia justeru memaksudkan untuk memilih hal lain di luar orang yang membuat hukum. Sehingga orang macam kedua ini tidaklah dikafirkan kecuali setelah ditegakkan hujjah terhadapnya, karena sesungguhnya dia itu walaupun secara dhahir melakukan perbuatan yang mukaffir menurut orang yang tidak mengetahui maksud tujuannya, akan tetapi kesamaran dan keterkaburan makna serta keberadaan bahwa demokrasi dan parlemen itu adalah hal baru dan kalimat asing yang hakikat maknanya tersamar atas banyak masyarakat; maka hal itu menjadikan sebagian manusia maju melakukan suatu perbuatan yang tidak dia ketahui makna yang sebenarnya. Dan dia itu termasuk macam orang yang melontarkan suatu kata atau mengucapkan suatu ucapan yang tidak diketahui maknanya. Dan dalam hal ini para ulama menyatakan bahwa orang semacam ini tidaklah diberikan sangsi dengan sebab hal itu sampai dia diberitahu tentang maknanya serta ditegakkan hujjah terhadapnya. Di dalam Kitab Qawaa’idul Ahkaam Fii Mashaalihil Anaam 2/102 ada (Pasal: Orang yang melontarkan suatu kata yang tidak dia ketahui maknanya adalah tidak dikenakan sangsi dengan sebabnya) Al ‘Izz Ibnu Abdissalam rahimahullah berkata:(Bila orang ‘ajam mengucapkan kalimat kekafiran atau iman atau thalaq atau pemerdekaan budak atau penjualan atau pembelian atau perdamaian atau pembebasan tanggungan, maka dia itu tidak dikenakan sangsi hukum apapun dari hal-hal itu, karena dia itu tidak mengkomitmeni konsekuensinya serta tidak memaksudkan kepadanya. Dan begitu juga bila seorang arab mengucapkan hal-hal yang menunjukan terhadap makna-makna ini dengan bahasa ‘ajam yang tidak dia ketahui maknanya, maka dia itu tidak dikenakan sangsi hukum apapun dari hal-hal itu, karena dia itu tidak menginginkannya, sedangkan keinginan itu tidaklah tertuju kecuali kepada suatu yang  diketahui atau diduga. Dan bila  si orang arab itu memaksudkan (kepada hal itu) dengan pelontaran ucapan-ucapan tersebut sedangkan dia itu mengetahui maknanya, maka konsekuensi hal itu berlaku darinya (sah). Namun bila dia tidak mengetahui makna-maknanya, umpamanya si orang arab itu mengatakan kepada isterinya: Kamu ini terthalaq sesuai sunnah atau bid’ah” sedangkan dia itu tidak mengetahui makna kedua kata tersebut, atau dia mengucapakan kata khulu’ atau yang lainnya atau rujuk atau nikah atau pemerdekaan budak, sedangkan dia itu tidak mengetahui maknanya padahal dia itu orang arab, maka sesungguhnya dia itu tidak dikenakan sangsi hukum apapun dari hal-hal itu, karena dia tidak memiliki pengetahuan rasa terhadap makna yang dikandung oleh kata-kata itu sehingga dia bisa memaksudkan kepada kata yang menunjukan terhadapnya). Selesai

Saya berkata: Hal ini di zaman kita adalah seperti orang yang tidak mengetahui makna dan muatan demokrasi, terus dia memujinya seraya menduga – seperti yang diketahui banyak orang awam- bahwa ia itu adalah hanyalah lawan dari penindasan, otoriter dan perampasan kemerdekaan dan hak serta hal lainnya, sehingga orang semacam itu tidak boleh dikafirkan sampai diberitahu bahwa demokrasi itu adalah hukum rakyat untuk rakyat atau kekuasaan rakyat bukan kekuasaan Allah saja. Dan selagi hal itu belum diberitahukan kepadanya, maka dia itu tidak memiliki perasaan terhadap kandungan kekafiran yang ada di dalamnya sehingga dia bisa memaksudkan kepadanya.

Ucapan yang serupa dengan ucapan Al ‘Izz adalah ucapan Ibnul Qayyim di dalam I’lamul Muwaqq’iin 4/229: (Seandainya seorang wanita berkata kepada suaminya yang tidak paham bahasa arab dan tidak memahaminya: Katakan kepada saya “Anti Thaliqun tsalatsan”[2]! Sedangkan si suami tidak mengetahui muatan ucapan ini, sehingga kemudian mengucapkannya kepada isterinya itu, maka si wanita itu tidak jatuh sama sekali thalaq kepadanya di dalam hukum Allah ta’alaa dan Rasul-Nya. Dan begitu juga seandainya seorang laki-laki berkata kepada seseorang” Saya adalah budakmu dan hamba sahayamu” dalam rangka ketundukan kepadanya sebagaiamana yang sering diucapkan oleh banyak orang, maka tidak halal dia dianggap budaknya dengan sebab ucapannya itu. Sedangkan orang yang tidak mempertimbangkan maksud dan niat serta kebiasaan di dalam pembicaraan, maka sikap itu mengharuskan dia untuk membolehkan menjual orang yang berbicara tadi dan memperbudaknya dengan sekedar ucapannya ini. Dan ini adalah pintu yang besar yang terjatuh di dalamnya mufti yang jahil, sehingga dia menipu manusia, dia berdusta atas Nama Allah dan Rasul-Nya, dia merubah agama-Nya, mengharamkan apa yang tidak Allah haramkan serta mewajibkan apa yang tidak Allah wajibkan. Wallaahul musta’aan). Selesai.

Dan berkata juga di dalamnya (3/117): (Sesungguhnya Allah ta’alaa telah meletakkan kata-kata di antara hamba-hamba-Nya sebagai pengenal dan penunjuk terhadap apa yang ada di dalam diri mereka, di mana bila seseorang menginginkan sesuatu dari orang lain, maka dia memperkenalkan keinginannya dan apa yang ada di dalam dirinya kepada orang itu dengan ucapannya, dan Allah membangun hukum-hukumnya di atas tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan tersebut dengan lewat perantaraan kata-kata itu. Dan Allah tidak menetapkan hukum-hukum itu di atas sekedar apa yang ada di dalam jiwa tanpa dilalah perbuatan atau ucapan, dan tidak juga di atas sekedar kata-kata saat si pembicara tersebut tidak memaksudkan dengannya kepada maknanya dan dia itu tidak mengetahui maknanya tersebut, justeru Allah mengampuni dari umat ini apa yang dibisikan oleh jiwa-jiwanya selagi tidak melakukannya atau mengucapkannya, dan Dia pun mengampuni bagi umat ini apa yang dikatakannya seraya mereka keliru (salah lidah) atau lupa atau dipaksa atau tidak mengetahui maknanya, bila tidak meniatkan kepada makna ucapan yang dikatakan  atau (tidak) memaksudkan kepadanya. Dan bila terkumpul maksud (qashd) dengan dilalah ucapan atau perbuatan, maka hukumpun terbangun di atasnya, ini adalah kaidah di dalam syari’at ini, dan ia itu termasuk tuntutan keadilan Allah, hikmah-Nya dan rahmat-Nya). Selesai.

Guru beliau yaitu Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: (Sesungguhnya orang muslim bila memaksudkan makna yang shahih di dalam hak Allah ta’alaa dan Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam, sedang dia itu tidak mengetahui dilalah (indikasi/apa yang ditunjukan) kata-kata, terus dia melontarkan suatu kata yang dia kira menunjukan terhadap makna (yang shahih) itu, padahal ia itu menunjukan terhadap makna yang lain, maka sesungguhnya dia itu tidak kafir).

Dan beliau berkata: (Allah ta’alaa telah berfirman”Janganlah kamu katakan (kepada Muhammad):Raa’inaa.” Dan ungkapan ini adalah tergolong ucapan yang mana orang-orang Yahudi memaksudkan menyakiti Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dengannya, sedangkan kaum muslimin tidak memaksudkan hal itu, maka Allah ta’alaa melarang mereka dari (melontarkan)nya, dan Allah tidak mengkafirkan mereka dengan sebabnya). Selesai. (Kitab Ar Raddu ‘Alaal Bakriy hal: 341-342).

Dan akan datang di dalam Ash Sharimul Maslul hal 180 di bahasan ke 29 dari kitab ini pemilahan beliau juga antara orang yang berbicara negative tentang Aisyah radliyallaahu ‘anha dalam tragedi Al Ifki (berita bohong) seraya memaksudkan menyakiti Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, menghujatnya, mengotori kehormatannya serta menjatuhkan harga dirinya, dengan orang yang lainnya yang tidak memaksudkan kepada hal itu dengan ucapannya itu; seperti Hissan, Misthah dan Himnah. Beliau berkata: ( Maka sesungguhnya mereka itu tidak memaksudkan kepada hal itu dan tidak mengatakan ucapan yang menunjukan terhadap hal itu). Selesai.

Dan di dalam ucapannya terdapat isyarat bahwa tabayyun (pencarian kejelasan) tentang hakikat maksud tujuan itu bisa diketahui dari dilalah ucapan itu sendiri.

Dan kesimpulan dari penjelasan itu semuanya adalah; Bahwa meskipun sebab-sebab takfier di dunia ini – sebagaimana yang telah lalu- adalah terbatas pada ucapan dan perbuatan yang mukaffir, akan tetapi saat keterkaburan keadaan, berbaurnya berbagai makna dan berbilangnya berbagai kemungkinan dengan sebab keberadaan kondisi ketidaktahuan terhadap hakikat kata-kata dan perbuatan-perbuatan (tertentu), maka harus dilakukan pencarian kejelasan tentang qashd (maksud tujuan) dan pencarian kejelasan maksud dan keinginannya terhadap sebab kekafiran, tidak terhadap sesuatu yang lain.

Dan ia adalah apa yang telah kami ketengahkan kepada anda sebelumnya bahwa kami tidak memaksudkan dengan intifaaul qashdi (ketidakadaan maksud) itu apa yang disyaratkan oleh orang-orang Murjiah dan Jahmiyyah yaitu berupa keyakinan dan istihlal termasuk di dalam amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang mukaffirah!! Atau bahwa orang tidak menjadi kafir kecuali kalau dia bermaksud untuk menjadi orang kafir, yaitu dia itu memiliki keinginan untuk keluar dari dien ini…maka hal ini adalah sangat jarang sekali orang yang memaksudkannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam: (Dan secara umum, barangsiapa mengucapkan atau melakukan sesuatu yang merupakan kekafiran, maka dia itu menjadi kafir dengan sebab hal itu, walaupun dia tidak bermaksud untuk menjadi kafir, karena tidak bermaksud untuk menjadi kafir seorangpun kecuali apa yang Allah kehendaki). (Ash Sharimul Maslul (177-178).

Yang kami maksudkan sebagaimana yang telah kami jelaskan berkali-kali adalah memaksudkan amalan yang mukaffir itu sendiri, yaitu sebab kekafiran, baik dia itu berniat untuk keluar dari dien maupun tidak. Karena Allah saat mengkaitkan hukum-hukum syar’iy –yang di antaranya adalah takfier- terhadap sebab-sebabnya, maka Dia tidak menjadikan bagi orang mukallaf kewenangan memilih di dalam membedakan di antara hal-hal itu, akan tetapi kapan saja sebab itu didapatkan dan syarat-syaratnya terpenuhi serta mawani’nya tidak ada, maka hukumpun terbukti ada, walaupun si orang mukallaf itu tidak bermaksud mendatangkan hukum tersebut. Di mana yang dianggap itu adalah maksud mendatangkan ucapan atau perbuatan yang mukaffir, bukan bermaksud untuk kafir.

Dan kami ingatkan di sini, bahwa kami tidak mengudzur para pemilih dengan sebab kejahilan mereka (terhadap hukum) bila mereka memaksudkan dan memilih amalan mukaffir itu sendiri (yaitu pembuatan hukum secara muthlaq sesuai ketentuan UUD, atau sumpah untuk menghormati UUD dan UU) serta kekafiran-kekafiran nyata lainnya, karena ini adalah termasuk hal yang mana orang yang jahil tidak diudzur dengan sebabnya, sebab ia adalah termasuk kemusyrikan yang nyata lagi jelas yang menggugurkan inti tauhid yang dibawa oleh semua rasul, di mana orang yang jahil terhadapnya adalah karena keberpalingan dari mempelajari inti ajaran agama terpenting yang tidak boleh jahil terhadapnya, padahal mempelajarinya sangat mudah dan tidak susah. Sebagaimana tidak ada seorangpun yang berakal tidak mengetahui bahwa pembuatan hukum itu adalah termasuk hak khusus Allah yang wajib disandarkan hanya kepada-Nya, terutama bila kewenangan pembuatan hukum itu adalah secara muthlaq yang tidak mengecualikan sedikitpun dari urusan-urusan dien atau dunia, sebagaimana realita yang ada di mana para thaghut telah menjadikan kewenangan pembuatan hukum itu sebagai hak mereka dan hak para anggota parlemen.

Padahal para ulama telah menegaskan bahwa barangsiapa mengklaim bahwa dirinya itu memiliki hak penghalalan, pengharaman dan pembuatan hukum, maka dia itu telah mengaku sebagai tuhan (rabb), dan bahwa barangsiapa mentaati para ulama dan para umara atau para raja atau yang lainnya di dalam pengharaman apa yang telah Allah halalkan atau di dalam penghalalan apa yang telah Allah haramkan atau di dalam pembuatan hukum yang tidak Allah izinkan, maka dia itu telah menjadikan mereka itu sebagai arbaab (tuhan-tuhan) selain Allah, karena ketaatan di dalam penyandaran kewenangan pembuatan hukum adalah ibadah, sedangkan penyekutuan Allah di dalam hukum-Nya adalah sama seperti penyekutuan-Nya di dalam ibadah-Nya. Dan para ulama itu berdalil terhadap hal itu dengan banyak dalil, di antaranya firman Allah ta’alaa:

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS. Al An’am [6]: 121)

Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al Hakim serta Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa kaum musyrikin mendebat kaum muslimin prihal bangkai, mereka mengatakan: Apa yang disembelih Allah, kalian tidak mau memakannya, sedangkan apa yang kalian sembelih, maka kalian memakannya?? Maka Allah ta’alaa menurunkan ayat tersebut sampai firman-Nya:” dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” maka ini adalah vonis dari Allah ta’alaa bahwa setiap orang yang mentaati orang-orang kafir di dalam penghalalan apa yang telah Allah haramkan atau di dalam pengharaman apa yang telah Allah haramkan atau di dalam pembuatan hukum yang tidak Allah izinkan, maka dia itu adalah musyrik terhadap Allah. Dan ia itu seperti firman-Nya prihal ahli kitab:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah [9]: 31).

Di mana At Tirmidzi dan yang lainnya telah meriwayatkan, dan haditsnya adalah hasan dengan berbagai jalan-jalannya, dari ‘Adi Ibnu Hatim, bahwa ia berkata:( Wahai Rasulullah Kami (maksudnya : dia dan orang-orang Nashrani) tidak pernah beribadah kepada mereka? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Bukankah alim ulama dan pendeta kalian itu menghalalkan apa yang telah Allah haramkan lalu kalian ikut-ikutan menghalalkannya ? bukankan mereka mengharamkan apa yang telah Allah halalkan kemudian kalian juga mengharamkannya ?”, lalu ‘Adiy berkata: “Ya !”, maka Rasul berkata: “Itulah bentuk peribadatan (orang Nashrani) terhadap mereka”). Dan hadits ini dinilai hasan oleh Syaikhul Islam di dalam Al Fatawa 7/47.

Di dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa mereka itu tidak mengetahui bahwa ketaatan di dalam tahlil dan tahrim itu adalah ibadah, namun demikian mereka itu tidak diudzur dengan sebab kejahilan (terhadap hukum) ini. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hudazifah radliyallaahu ‘anhu bahwa beliau berkata: (Sesungguhnya mereka itu tidaklah shaum untuk mereka dan tidak pula shalat untuk mereka, namun mereka itu bila orang alim dan para pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, maka mereka menganggapnya halal, dan bila mengharamkan atas mereka sesuatu yang telah Allah halalkan, maka merekapun mengaramkannya, maka itulah pentuhanan terhadap mereka).

Bisa saja ada yang mengatakan bahwa pembuatan hukum di dalam bab-bab huduud dan sangsi-sangsi hukum itu tidaklah sejelas dan seterang penghalalan dan pengharaman di dalam penentangannya terhadap syari’at dan penggugurannya terhadap tauhid. Sedangkan pembuatan hukum pada zaman sekarang ini hanyalah berkaitan dengan huduud dan sangsi-sangsi, dan biasanya tidak menyinggung masalah penghalalan dan pengharaman, sehingga tidaklah tepat berdalil dengan dalil-dalil tadi terhadap sikap tidak diudzurnya orang-orang yang mengikuti para pembuat hukum itu, karena dalil-dalil tadi adalah berkaitan dengan ketaatan di dalam penghalalan apa yang sudah diketahui pasti pengharamannya, seperti bangkai, khamr, zina dan riba, sehingga wajib mempertimbangkan kejahilan mereka di dalam macam hukum yang mereka ikuti serta tidak mengkafirkan mereka kecuali setelah penegakkan hujjah.

Tapi pernyataan ini terbantahkan dengan realita bahwa kewenangan pembuatan hukum yang diberikan kepada para anggota parlemen dan thaghut mereka itu adalah kewenangan yang muthlaq lagi tidak terbatas sebagaimana yang dinyatakan oleh UUD.[3]Sehingga masuk di dalamnya tahlil dan tahrim serta yang lainnya, sedangkan sekedar menerima kewenangan muthlaq semacam ini dan menganggapnya sebagai bagian dari kewenangan dan hak para anggota parlemen adalah cukup untuk mengkafirkannya dan untuk mengkafirkan orang yang memilihnya, baik dia itu terjun langsung menghalalkan dan mengharamkan ataupun tidak, dan baik dia itu membuat hukum di dalam bidang sangsi dan huduud ataupun tidak, serta baik dia itu bersumpah untuk menghormati UUD kafir yang melindungi hak syirik ini dan pasal-pasal kekafiran lainnya ataupun tidak bersumpah. Di mana kewenangan muthlaq pembuatan hukum adalah termasuk hak khusus Allah yang hanya boleh disandarkan kepada-Nya ‘azza wa jalla, dan barangsiapa menyandarkan kewenangan tersebut kepada dirinya atau kepada selain Allah, maka dia itu telah mencari selain Allah sebagai ilaah, rabb dan pemutus hukum, serta dia itu telah mencari selain islam sebagai dien.

Dan juga siapa yang mampu mengklaim bahwa pembuatan hukum yang dengan sebabnya Allah mengkafirkan para pembuat hukum dari kalangan ahli kitab beserta orang-orang yang mengikuti mereka di atasnya itu, semuanya adalah hanya sebatas tahlil dan tahrim..?? yaitu meyakini hal itu sebagaimana syarat takfier yang dilontarkan oleh kalangan penerus paham Jahmiyyah dan Murjiah..!!

Justeru telah terbukti bahwa pembuatan hukum yang mereka lakukan itu, mayoritasnya adalah di dalam bab-bab huduud, sangsi-sangsi dan hak-hak yang bersifat tauqifi (sesuai dalil syar’iy), seperti diyat, sebagaimana di dalam salah satu riwayat sebab turun firman Allah ta’alaa:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir”. (Al Maidah: 44)

Yaitu dari Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhu bahwa ia turun prihal dua kelompok dari kaum Yahudi, yaitu Bani Nadlir dan Bani Quraidhah, di mana orang-orang yang terbunuh dari suku Bani Nadlir adalah memiliki kemuliaan lebih, sehingga mereka mendapat diyat secara sempurna, sedangkan Banu Quraidhah itu adalah kasta yang rendah, sehingga mendapatkan hanya separoh diyat. Terus mereka berhakim kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka beliaupun menjadikan diyat di antara mereka sama saja. Dan hal ini diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, dan atsar ini ada di dalam Tafsir Ibnu Jarir juga.

Dan telah lalu sebab nuzul yang lain di dalam hadits Al Bara Ibnu ‘Azib dalam Shahih Muslim tentang pengrajaman yang dilakukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap orang yahudi yang berzina. Dan di dalam hadits ini bisa diketahui bahwa kejahatan mereka yang dengan sebabnya ayat-ayat tadi diturunkan adalah sikap mereka mengikuti para pendahulu mereka terhadap had (hukuman) pengganti (syari’at) bagi pezina  yang telah mereka tetapkan. Dan di dalam hadits ini tidak ada pernyataan bahwa mereka itu menghalalkan zina bagi mereka atau mereka menganggapnya halal, di mana seandainya mereka itu menghalalkan zina tentulah mereka tidak membuatkan baginya sangsi apapun, di mana hal yang mubah atau halal adalah tidak ada sangsi terhadap seorangpun karenanya.

Dan juga sesungguhnya huduud syariat islam itu, karena banyaknya hinaan terhadapnya dan sebutan kejam yang dilontarkan orang-orang kafir dan orang-orang murtad terhadapnya, adalah telah menjadi pada zaman kita ini sebagai hal yang tidak samar lagi terhadap orang kafir sekalipun, apalagi bagi kalangan yang mengaku islam.

Semua orang pada hari ini mengetahui, bahwa para thaghut telah membekukan huduud yang suci itu, menggugurkannya dan menggantinya dengan sangsi-sangsi yang ada di dalam undang-undang buatan yang diimpor dari negara-negara kafir.

Sedangkan sudah maklum bahwa pembuatan sangsi-sangsi hukum pengganti dari huduud ini dan perancangannya atau penggulirannya atau penggantiannya, adalah tugas kekuasaan legislative yang berada di tangan para anggota parlemen dan thaghut mereka.

Di samping hal itu, sesungguhnya orang yang mengamati undang-undang buatan yang ada, dia akan melihat bahwa tahlil dan tahrim itu ada juga di dalamnya di dalam berbagai pintu persoalan. Contohnya riba yang pengharamannya sudah maklum di dalam ajaran kaum muslimin, adalah mubah di dalam undang-undang para budak hukum (thaghut), dan ia itu memiliki lembaga-lembaganya yang mendapatkan izin oprasi lagi dilindungi undang-undang serta dijaga oleh aparat-aparatnya.

Begitu juga khamr adalah mubah dan ia memiliki pabrik pembuatannya dan tempat penyajiannya yang diberikan izin untuk menjual dan meminum di dalamnya, dia terjaga dan orang-orangnya melindungi diri dengan undang-undang dan kekuatan aparat hukumnya. Dan begitu juga pelacuran yang dilegalkan dan dilindungi undang-undang.

Dan sebelum itu semuanya adalah kemurtaddan dan kekafiran dengan segala bentuknya, adalah mubah, legal lagi dilindungi undang-undang dengan nama kebebasan keyakinan. Dan di dalam undang-undang mereka, dari awal sampai akhir tidak ada pasal yang mengharamkan kemurtaddan atau kekafiran atau pasal yang menyatakan bahwa itu adalah tindak pidana. Di mana kemurtaddan di dalam ajaran mereka bukanlah kejahatan yang dikenakan sangsi pidana, namun ia adalah kebebasan individu yang dijaga, dilindungi dan dijamin oleh undang-undang kafir.

Pembicaraan di dalam masalah ini adalah sangat panjang dan telah kami jelaskan secara terperinci di tempat lain di dalam tulisan-tulisan kami yang telah kami isyaratkan sebelumnya.

Kesimpulannya: Bahwa kami tidak mengudzur orang yang menyengaja untuk memilih para pembuat hukum, atau orang yang mengikuti mereka dan bersepakat bersama mereka terhadap hukum buatan mereka, karena kalau kita mengudzur mereka tentu kita harus mengudzur orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani dalam perbuatan mereka mengibadati para alim ulama dan para pendeta. Karena di dalam syari’at ini tidak dikenal yang namanya membedakan di antara dua hal yang sama lagi serupa ((Apakah orang-orang kafir kalian lebih baik daripada mereka, atau apakah kalian telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) di dalam kitab-kitab yang terdahulu))[4]

Namun hal yang dengannya itu kami mengudzur kaum muslimin yang awam (di sini) adalah ketidakadaan maksud (intifaaul qashd) bila ia itu ada, yaitu khathaa (kekeliruan) yang merupakan kebalikan dari sikap menyengaja, pada orang yang yang tidak memilih caleg itu atas dasar bahwa ia itu adalah orang yang akan membuat hukum, atau akan bersumpah untuk menghormati UUD, atau orang yang akan bertahakum kepada undang-undang, atau orang yang tugasnya itu berlandaskan kepada undang-undang atau berlandaskan aturan-aturannya, atau kekafiran-kekafiran lainnya yang dilakukan oleh para anggota parlemen, sedangkan orang yang memilih itu tidak mengetahui hal-hal itu dan tidak memiliki pengetahuan terhadapnya sehingga maksud, tujuan dan niatnya itu mengarah kepadanya, namun dia memilih orang yang dia pilih dari mereka supaya mereka itu menegakkan syari’at Allah sebagaimana yang sering didengung-dengungkan oleh kalangan yang mengaku aktivis islam di dalam kampanye-kampanye mereka, tanpa dia (si pemilih) mengetahui atau nampak di hadapannya cara-cara kafir yang dengannya mereka mimpi untuk menegakkan islam lewat jalannya, atau dia memilih mereka demi pelayanan-pelayanan yang dia harapkan dari mereka tanpa dia mengetahui hakikat pekerjaan dan tugas mereka sebenarnya.

Maka orang-orang semacam mereka itu tidaklah dikafirkan kecuali setelah diberitahu dan diberi penjelasan serta penegakkan hujjah, terutama beserta adanya apa yang telah kami utarakan berupa keterkaburan keadaan, kejahilan orang-orang awam (terhadap hakikat sebenarnya) serta tersembunyinya talbis (pengkaburan) yang dilakukan orang-orang yang mengaku islam terhadap mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: (Namun demikian bisa saja ahlul ahwa ini[5] banyak menyebar di sebagian tempat dan zaman sampai ucapan mereka itu menyerupai –menurut orang-orang jahil- ucapan ahlul ilmi dan sunnah, sampai-sampai persoalan itu tersamar di hadapan orang yang menangani urusan mereka itu, sehingga pada kondisi seperti itu butuh kepada orang yang menampakkan hujjah Allah dan menjelaskannya). Selesai dari Majmu Al Fatawa terbitan Dar Ibni Hazm 3/152.

Sedangkan penegakkan hujjah itu bukan hanya menyampaikan firman Allah dan sabda Rasulullah, terutama setelah tersebarnya islam dan sampainya Kitabullah kepada orang yang jauh dan orang yang dekat beserta jaminan Allah untuk menjaganya, akan tetapi penegakkan hujjah itu pada banyak kondisi adalah dengan dengan cara pelenyapan syubuhat dan pembongkaran talbis serta penampakkan hakikat waqi’ (realita) atau makna ucapan dan hakikat perbuatan.

Dan telah lalu penuturan dalil-dalil terhadap sikap mempertimbangkan udzur intifaaul qashd (ketidakadaan maksud) yang muncul dari ketidakpahaman terhadap makna ucapan dan ketidaktahuan terhadap kandungannya atau (ketidakadaan maksud)yang muncul dari rasa kaget dan ketercengangan karena kebahagiaan dan rasa rasa takut yang sangat meliputi diri atau karena kejahilan (terhadap makna), dan hal serupa itu yang membuahkan perbuatan atau ucapan yang mana orang mukallaf tidak memaksudkan kepada hakikat sebenarnya dan maknanya, karena pada kondisi itu dia tidak memiliki pengetahuan terhadap maknanya dan hakikatnya sehingga dia bisa memaksudkannya.

Dan telah kami sebutkan hadits tentang orang yang kehilangan unta tunggangannya di tengah padang pasir, padahal di atasnya ada makanannya, minumannya dan barang-barangnya, kemudian tatkala dia sudah merasa yakin akan binasa, maka dia tidur di bawah pohon sambil menunggu kematian. Kemudian tatkala dia terbangun tiba-tiba dia mendapatkan untanya itu ada di dekat kepalanya, maka dia memegang tali kendalinya seraya mengatakan “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu” dia salah ucapan karena saking bahagianya, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana yang telah lalu juga hadits prihal laki-laki yang mewasiatkan kepada keluarganya agar membakar dirinya bila dia sudah mati dan menaburkan abunya, karena saking takutnya kepada Allah di saat menjelang kematiannya karena dia banyak berbuat dosa, di mana dia tidak mengamalkan sedikitpun kebaikan kecuali tauhid. Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang kejahilan dia dan kelalaiannya terhadap keluasan cakupan qudrah Allah ta’alaa dan bahwa Dia Kuasa untuk membangkitkannya walaupun anggota-anggota tubuhnya sudah berceceran di mana-mana. Dan akan datang tambahan pembicaraan tentang hal ini.

Dan atas dasar ini maka pernyataan pengkafiran seluruh orang yang ikut memilih di dalam pemilu perlemen tanpa rincian adalah kesalahan yang nyata yang tergolong kekeliruan di dalam takfier yang wajib diperhatikan, terutama beserta adanya ketidaktahuan terhadap hakikat parlemen-parlemen ini dan hakikat tugas wakil rakyat di dalamnya, serta terkaburnya permasalahan dan maksud tujuan.

Namun demikian kami tidak segan dari mengatakan – berdasarkan realita pengetahuan kami terhadap hakikat parlemen-parlemen syirik ini dan tabi’at prosedur yang dengan caranya anggota parlemen itu melaksanakan tugas pembuatan hukum dan tugas lainnya[6] – bahwa ikut serta di dalam pemilihan para anggota parlemen legislative ini adalah kekafiran yang nyata, dan ini adalah hukum yang bersifat muthlaq atas perbuatan tersebut, kami lontarkan ucapan semacam itu di dalam pentahdziran kami dari parlemen-parlemen ini, sebagai wa’id (ancaman) dan tarhib (sikap menakut-nakuti) untuk mengajak manusia agar menjauhinya, akan tetapi di dalam menerapkan vonis kafir terhadap individu-individu pelakunya (orang mu’ayyan) kami tidak mengkafirkan seluruh individu orang yang ikut serta memilih mereka,[7] namun kami memberikan rincian sesuai pilihan dan maksud masing-masing dari mereka.

Barangsiapa memilih wakil rakyat dalam rangka pembuatan hukum atau amalan-amalan kekafiran lainnya; maka dia itu telah kafir karena dia telah mendatangkan suatu sebab kekafiran, walaupun dia itu tidak bermaksud untuk kafir dan keluar dari dienul islam dengan sebab perbuatan ini.

Adapun orang yang tidak mengetahui hakikat majelis ini dan tabi’at pekerjaan para anggotanya, maka orang ini wajib ditegakkan hujjah terhadapnya dan diberitahu tentang hakikat tugas orang-orang yang dia pilih itu, kemudian bila dia tetap bersikukuh terhadap hal itu maka dia itu kafir. Dan tidak boleh tergesa-gesa mengkafirkannya sebelum penegakkan hujjah dan pemberian penjelasan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Tidak seorangpun boleh mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin – walaupun dia keliru dan salah – sehingga hujjah tegak terhadapnya dan jelas dihadapannya penjelasan. Orang yang telah jelas keislamannya secara meyakinkan adalah tidak dilenyapkan keislaman itu darinya dengan sekedar keraguan; bahkan hal itu tidak lenyap kecuali setelah penegakkan hujjah dan penghilangan syubhat). Selesai dari Majmu Al Fatawa terbitan Dar Ibn Hazm 12/250.[8]


[1] Dan perbedaan ini adalah yang menjadikan kami memberikan rincian prihal orang-orang yang ikut memilih, dan kami membedakan di dalam vonis hukum antara mereka dengan para anggota parlemen yang terjun langsung melakukan kekafiran-kekafiran ini. Dan masalahnya bukan sekedar perincian yang hanya berdasarkan selera atau sekedar istihsaan (anggapan baik menurut akal) semata tanpa dalil, sehingga vonis rincian hukum ini bisa kami berlakukan kepada para anggota dewan dan kami campur adukan hal itu dengan vonis hukum dan rincian kami terhadap orang-orang yang sekedar memilih; sebagaimana yang dianjurkan kepada kami oleh sebagian orang-orang baik di dalam kementar-komentarnya terhadap “Aqiidatunaa”.

[2] Artinya: Kamu terthalaq tiga. (pent)

[3] Begitulah UUD mereka menegaskan, kecuali dalam hal-hal yang menyentuh pasal-pasal yang berkaitan dengan sistim monarki turun temurun atau pasal-pasal lainnya yang melindungi tahta thaghut mereka, maka di dalam dien mereka para anggota parlemen itu tidak boleh menyinggungnya  atau mempermasalahkannya.

[4] Al Qamar: 43.

[5] Beliau mengisyaratkan kepada apa yang telah beliau sebutkan sebelumnya, berupa bid’ah Jahmiyyah, Khawarij, Qadariyyah dan yang lainnya.

[6] Lihat Kitab kami (Ad Dimuqrathiyyah din kufriy) dan fatwa-fatwa di penjara Sawwaqah

[7] Telah lalu permilahan antara takfier muthlaq dengan takfier mu’ayyan di dalam kekeliruan takfier yang pertama.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s