Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 26 Tidak Membedakan Antara Al Hukmu Bi Ghairi Maa Anzalallah Dengan Sekedar Meninggalkan Sebagian Hukum Allah Sesekali Pada Kasus Tertentu Sebagai Maksiat)

Tidak Membedakan Antara Al Hukmu Bi Ghairi Maa Anzalallah Dengan Sekedar Meninggalkan Sebagian Hukum Allah Sesekali Pada Kasus Tertentu Sebagai Maksiat

Termasuk kekeliruan takfir juga adalah tidak membedakan antara al hukmu bi ghairi maa anzalallah dengan makna at tasyri’ at tatabdili ath thaghutiy al mukaffir, dengan sekedar meninggalkan al hukmu bimaa anzalallah sesekali dalam kasus tertentu tanpa tawalliy seperti aniaya dalam memutuskan.

Andaikata pencampurbauran ini berhenti sebagaimana yang telah saya lihat dalam Mushannafat sebagian orang-orang baik dari kalangan ahlul ‘ashr, di atas penganggapan salah setiap orang yang menyelisihi dalam hal itu dan membedakan antara kedua macam itu dari kalangan kedua generasi dahulu dan generasi kemudian, mulai dari semenjak dari sebagian salaf yang mana ungkapan “kufrun duna kufrin” dinisbatkan kepada mereka dalam pelabelan kedzaliman dalam putusan atau meninggalkan sebagian hukmullah sesekali dalam kasus tertentu karena hawa nafsu atau maksiat atau syahwat, dan bukan karena istibdal  (penggantian hukum) tasyri’ dan tahakum kepada thaghut, sampai kepada setiap orang yang mengikuti mereka atas hal itu dari kalangan orang yang berbicara tentang materi ini dari kalangan generasi awal dan generasi kemudian, saya katakan: Andaikata hal ini berhenti pada penganggapan keliru mereka semuanya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang baik padahal mereka  itu tergesa-gesa dan menuduh sebagian orang-orang yang menyelisihi mereka dari kalangan mutaakhirin dengan tuduhan irja’ dengan sebab apa yang mereka jabarkan berupa rincian  dan pembatasan dengan istihlal dalam bab ini tentulah masalahnya tidak terlalu parah.

Akan tetapi saya melihat orang-orang yang ngawur telah mengkafirkan dengan hal itu setiap orang yang menyimpang dalam putusan dan vonis pada khushumat (pertengkaran) sesekali mereka kekerabatan atau syahwat. Meskipun ia multazim dengan hukum-hukum syari’at lahir batin lagi tidak berhakim kepada ajaran hukum lainnya dan tidak menganut selainnya… kemudian mereka tidak berhenti di situ… namun mereka malah serabutan dalam memuthlaqan hal itu sampai mengkafirkan orang dalam putusannya pada perselisihan keluarganya, istri-istrinya dan anak-anaknya bila ia cenderung kepada sebagian mereka dan tidak adil diantara mereka. Mereka menjadikan orang itu dengan hal tersebut sebagai orang yang memutuskan dengan selain apa yang diturunkan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, kemudian mereka mencantumkan dalam macam tabdiliy tasyri’ thaghuty mukaffir, dan mereka berkata: “Bukankah ia pengayom yang bertanggung jawab terhadap bawahannya?” Seolah-olah dia menurut mereka telah menjadi dengan hal itu seperti penguasa umum di tengah rakyatnya, terus mereka mencantumkannya di bawah keumuman lafadz ayat yang mulia:

“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka merekalah orang-orang kafir” (Al Maidah: 44)

Dan yang benar adalah bahwa sekedar meninggalkan sesuatu dari hukum Allah sebagai bentuk maksiat dalam suatu kasus sesekali dalam  bentuk pergantian hukum maka bukan pula dalam bentuk dalam penetapan undang-undang  dan juga bukan bentuk pengaduan hukum kepada para thaghut meskipun ia masuk dalam keumuman lafadz ayat tadi dan dhahirnya akan tetapi ayat tersebut bukan nash di dalamnya. Dan itu nampak jelas dari sebab turunnya yang menjabarkan  maksud dari ayat itu. Sesungguhnya ia adalah satu ayat dari sekian ayat yang berbicara tentang kuffar dari kalangan Ahli Kitab oleh sebab itu Al Bara’ ibnu ‘azib berkata dalam haditsnya yang mana beliau sebutkan di dalamnya sebab nuzulnya: “(Tentang orang-orang kafir semuanya) yaitu sesungguhnya ia membicarakan al kufrul akbar yang mengeluarkan dari millah.”

Dan itu dalam Shahih Muslim tentang kisah perajaman Si Yahudi, dan di dalamnya ada penjelasan kaifiyyah episode masalah al hukmu bi ghairi maa anzalallah yang terjadi pada mereka: Saat pertama kali berkata orang ‘alim mereka tatkala ditanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang had zina dalam kitab mereka: “Kami mendapatkannya rajam, akan tetapi itu banyak terjadi di kalangan pembesar kami maka kami bila mendapati pembesar maka kami membiarkannya dan bila kami mendapaati orang lemah maka kami tegakkan had atasnya”. sampai disinilah perbuatan jahat mereka. Yaitu meninggalkan hukum Allah dalam sebagian kasus sesekali. Padahal inti dalam pemutusan hukum di tengah mereka adalah pemutusan dengan Kitabullah dan jama’ah ini pada dasarnya yang kosong dari istihlal adalah salah satu dosa besar atau (kufrun dan kufrin).

Di kala disebutkan al hukmu bighairi maa anzallah dan dimaksudkan dengannya gambaran ini, maka engkau melihat para ulama terdahulu mensyaratkan untuk takfir di dalamnya syarat istihlal, dan bila orang yang berdalil dengan ayat ini berdalil atas macam ini, maka mereka mentakwil kekafiran di dalamnya terhadap kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari millah sebagaimana ia masyhur pada ungkapan-ungkapan mereka dalam bantahan terhadap khawarij dan yang lainnya (bukan kekafiran yang mereka yakini) (bukan seperti orang yang kafir terhadap Allah, malaikat-Nya dan Rasul-rasul-Nya) dan (kufrun duna kufrin).

Dan dengan mengetahui ini, hilanglah isykal yang dianggap sulit oleh sebagian dalam ungkapan-ungkapan para pendahulu yang mana mereka menggabungkan di dalamnya al hukmu bighairi maa anzalallah bersama dosa-dosa yang tidak mengkafirkan. Karena sesungguhnya dalam keadaan seperti ini mereka memaksudkan secara pasti macam ini, karena ia adalah macam yang ma’ruf lagi terkenal di tengah mereka.

Kemudian perhatikan ucapan orang dalam mereka setelah itu, dalam hadits di atas: (Kami berkata; mari kita sepakat atas suatu yang kita tegakkan atas bangsawan dan orang rendahan, kami jadikan tahmim (coreng wajah) dan dera sebagai penggati rajam…) hadits 28/1700 Kitabul Hudud.

Di sinilah mereka menerapkan syari’at, bersatu padu dan sepakat atas aturan dan hukum selain apa yang telah Allah turunkan (mereka memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan), dan berhakim kepada thaghut sehingga mereka kafir, walaupun itu dalam satu kasus atau satu had.

Sungguh si Yahudi yang dirajam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah itu dalam kejadian ini telah divonis oleh orang-orang Yahudi dengan hukum pengganti  yang ditetapkan dan disepakati para pendahulu mereka, yaitu dera dan tahmim maka Allah Ta’ala mengingkari mereka atas hal itu dan berfirman dalam dalam ayat-ayat yang turun dalam hal ini:

“ Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Al Maidah: 44)

“……orang-orang zalim” (Al Maidah: 45)

“……orang-orang fasiq” (Al Maidah: 47)

Al Barra berkata: tentang orang-orang kafir semuanya”

Ini sebab turunnya, dan inilah manath (tempat penerapan) ayat yang mengkafirkan yang tidak disebutkan bersamanya istihlal atau juhud, ya kecuali dalam rangka penambahan kekafiran bukan sebagai batasan dan syarat untuk takfir.

Sungguh telah tergelincir dalam hal ini dan telah ngawur di dalamnya dua kelompok, antara ifrath dengan tafrith.

  1. Satu kelompok tafrith, di antara mereka  Murjiatul “Ashr (Neo Murjiah) dan  jahmiyyah masa kini, mereka mentakwil  kufur akbar yang disebutkan dalam ayat kepada  kufur ashghar dalam manath ayat yang sebenarnya dan yang serupa serta yang sama dengannya, juga dalam selain manathnya.
  2. Dan kelompok lain ghuluw dan ifrath, dimana mereka membiarkannya pada asalnya (kufur akbar) di manathnya dan di selain manathnya juga. Generasi mereka pertama adalah Khawarij Muhakkimah yang mengklaim bahwa Utsman, Ali, Muawiyyah dan yang lainnya telah menzhalimi dan memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan maka mereka menjadi kafir. Dan selain mereka dari kalangan orang-orang yang telah kami sebutkan menerapkannya pada putusan seseorang di tengah  keluarganya dan anak-anaknya, padahal ini seandainya kami terima penamaannya dan pensifatannya bahwa itu putusan dengan selain apa yang telah Allah turunkan, maka sesungguhnya kami hanya memberlakukannya dari sisi keberadaannya sebagai putusan dengan kezhaliman aniaya dan hawa nafsu, dan tidak ragu bahwa ini berasal dari selain apa yang Allah turunkan, bukan dari sisi bahwa ia termasuk jenis hukum umum di antara manusia dengan aturan-aturan buatan yang kafir.

Ingatlah selalu akan perbedaan itu, karena ia sangat jelas lagi terang, tidak samar atau tidak musykil, terutama pada masalah putusan seseorang di tengah keluarganya kecuali atas orang yang dibutakan oleh hawa nafsu dan ghuluw dari bisa membedakan.

Yang benar adalah kufur dalam ayat dibiarkan di atas dhahirnya (akbar) dan hakikatnya dan tidak ditakwil kepada ashghar selama istidlal dengannya di atas manathnya (sebab nuzulnya, dan yang serupa dengannya).

Dan ditakwil kepada ashghar bila dijadikan dalil dengan keumuman dhahirnya terhadap selain manathnya, sebagaimana ia kebiasaan salaf terhadap orang yang berdalil dengan keumumannya atas sebagian penyimpangan para penguasa[1].

Dhahir ayat ini (“Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan”) mencakup dua keadaan: (Orang yang meninggalkan suatu dari hukum Allah dalam kasus tertentu sesekali) dan (Orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan dan berpaling dari hukum Allah) meskipun ayat adalah nash pada macam ke dua yang bersifat penggantian hukum yang dibuat-buat.

Dhahir ayat ini saja bila tidak dipahami berdasarkan nash-nash lain dan yang menjelaskannya dari Sunnah, maka ia telah menjadi bagian mutasyabih yang dicari-cari saja oleh ahlul bid’ah dalam rangka mencari fitnah dan mencari pentakwilannya berdasarkan hawa nafsu mereka.

Maka hati-hatilah dari kekeliruan ini….dahulu Khawarij mengklaim bahwa setiap orang yang maksiat kepada Allah maka ia telah memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan, dengan demikian ia tergolong kafirin….begitulah tanpa memahami ayat ini atau memperhatikan sebab nuzulnya atau melihat pada maksud Allah di dalamnya….mereka membaca Al Quran sembari tidak melewati tenggorokannya, yaitu tidak tembus ke hati mereka terus memahaminya dengan sebenarnya pemahaman.

Kemudian kelompok dari mereka mengkafirkan Al Hakamain, Ali, dan Muawiyyah dan mengkafirkan bersama mereka kelompok besar dari kaum muslimin tatkala berupaya untuk shulh (berdamai)…. dan berkata…(kalian telah menjadikan laki-laki sebagai hakim (dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir). Sehingga benarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berkata: (Mereka membaca Al Quran seraya tidak melewati tenggorokan mereka).


[1] Lihat untuk tambahan rincian dalam bab ini tulisan-tulisan kami ( Imta’un Nadhr fi Kasyfi Syubuhat Murji’atul Ashr).

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s