Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 24 Takfir setiap orang yang meminta tolong kepada thaghut saat tidak ada penguasa islam tanpa rincian)

TAKFIR SETIAP ORANG YANG MEMINTA TOLONG KEPADA THAGHUT ATAU ANSAHRNYA ATAU MENGADU KE MAHKAMAHNYA SAAT TIDAK ADA PAYUNG PENGUASA ISLAM TANPA RINCIAN

Termasuk kekeliruan yang sering terjadi dalam takfir juga adalah takfir setiap orang yang secara darurat mengadu ke mahkamah-mahkamah pada masa sekarang atau diadukan ke mahkamah itu atau meminta bantuan thaghut atau aparatnya untuk menghadang orang yang menyerobot atau untuk melepaskan diri dari tuduhan (yang zalim lagi dusta) atau untuk mengambil hak di saat tidak ada payung penguasa yang menegakkan hukum Allah di bumi ini.

Bahkan sungguh saya telah melihat dari kalangan para ghulat, orang yang mengkafirkan setiap orang yang tampil di hadapan mahkamah yang menggunakan qawanin wadli’yyah (undang-undang buatan) walaupun orang itu diatanggiring ke sana dengan paksa atau secara dlarurat yang terkadang mencapai batas ikrah dia datang ke sana sedangkan ia itu tergolong kaum mustadl’afin yang tak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), bahkan sebgaian orang-orang dungu mengakfirkannya dengan sekedar ia masuk ke pos (kantor) pelayanan untuk membela dirinya dalam pengaduan (tuduhan) yang dialamatkan kepadanya, atau memberitahukan kasus penculikan anaknya atau kehilangan si anak atau kasus pencurian barang miliknya, dengan harapkan dia mendapatkannya di (tangan) para petugas atau mereka mengetahui berita tentangnya, karena para ghulat itu menganggap hal itu semua tergolong tahakum kepada thaghut yang pelakunya (boleh) dikafirkan.

Bila dikatakan kepada mereka: Jadi apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim yang lemah bila musuh yang kejam menyerobok mereka atau anak mereka diculik atau kehormatannya diperkosa atau jiwa dan harta mereka dianiaya sedangkan tidak ada kekuasaan atau kekuasaan bagi hukum Allah?? Dan apakah syariat membiarkan mereka begitu saja dan menelantarkan mereka tanpa solusi dalam kejadian-kejadian seperti ini? Kemudian bila secara dlarurat mereka mengadu kepada penguasa kafir mereka itu menjadi kafir!! padahal sesungguhnya mereka itu mentakwil bahwa mereka itu mukrah atas hal itu!! Ternyata para ghulat itu bingung tak menemukan jawaban dan mereka itu tidak memperhatikan ketertindasan kaum muslimin pada zaman ini, namun semua yang penting bagi mereka adalah hanya menerapkan hukum takfir

Dan saya mengetahui bahwa para ulama memiliki syarat-syarat dalam sahnya ikrah atas kekafiran dan juga dalam membunuh jiwa yang ma’shum (terjaga darahnya), mereka memperketat di dalamnya dibandingkan dengan bahasan-bahasn ikrah lainnya.

Namun dengan ini semua, berarti hal itu tetap tergolong furu’ yang ada perselisihan di dalamnya, dan orang yang mengkaji pendapat-pendapat mereka pasti mengtahui itu.

Dan hari itu sesungguhnya perselisihan dalam batasan ikrah itu tergolong furu’ yang diudzur di dalamnya orang jahil yang melakukan takwil bila dia mustadl’af di dalam kekuasaan orang-orang kafir. Dan pencari ilmu wajib memahami bahwa ithlaqul wa’id (pelontaran ancaman) atau perkataan dalam posisi tahdzir (penghati-hatian) dari keterjatuhan dalam kekufuran atau (dalam posisi) tarhib (menakut-nakuti) dari memasuki pintu-pintunya serta anjuran untuk mengambil ‘azimah adalah memiliki cara tertentu, dan ia adalah sesuatu di luar perkataan dalam menerapkan hukum-hukum takfir terhadap orang-orangya terutama bila disertai takwil dan istidl’af.

Dan sebagian para ghulat mengharuskan manusia untuk bertahakum kepada syaikh-syaikh mereka yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan dan syaukah (kekuatan) yang dengannya mereka bisa mengembalikan hak-hak dan mencegah kezaliman, dan kalau tidak maka mereka kafir….!!…

Saya telah melihat Al Juwainiy menetapkan di dalam kitabnya Al Ghiyatsiy beberapa pasal yang mana di dalamnya ia mengajak para ulama dan para qadly saat tidak adanya imam yang menaungi umat islam untuk menunaikan mashlahat-mashlahat manusia, dan itu dengan cara setiap penduduk suatu negeri mengadukan (kasusnya) kepada para ulama mujtahid mereka agar para mujtahid itu memutuskan di antara mereka dengan hukum-hukum Allah. Dan ia adalah gambaran yang tidak mungkin terealisasi kecuali dengan adanya jama’ah muslimah yang bersatu padu di sekitar para mujtahid itu sehingga ia menjadi kekuatan bagi para mujtahid yang denganya mereka bisa menggulirkan putusan-putusannya. Karena sesungguhnya Al Juwaini mengandai-andai kosongnya zaman dari adanya imam dan beliau tidak mengandai-andai terurainya ikatan jama’ah, cerai-berainya umat ini dengan tidak karuan, berkuasanya kaum murtaddun dan pemaksaan hukum-hukum mereka atas manusia dan tanah air, terangkatnya ilmu dengan wafatnya para ulama dan ahlul halli wal ‘aqdi, bercokolnya orang-orang jahil sebagai tokoh dan bergabungnya kabilah-kabilah dari umat ini dengan kaum musyrikin serta bencana-bencana lainnya yang menghantam umat pada masa-masa ini, sampai-sampai tepat nyata sekali di dalamnya apa yang telah di kabarkan oleh Ash Shadiq Al Mashduq (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) berupa fitnah-fitnah dan hal-hal yang ada menjelang datangnya hari kiamat. Di mana orang-orang yang lurus dari kalangan masyayikh dan yang lainnya tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan yang memberikan keleluasan mereka untuk menerapkan hokum-hukum Allah bila sebagian orang mengadukan kepada mereka tentang kasusnya, terutama bila yang aniaya itu dari kalangan orang-orang kafir yang memiliki tameng kekuasaan, karena sesungguhnya dia tidak akan mau tunduk pada putusan-putusan para syaikh itu seandainya mereka itu memutuskan dalam kondisi ini, kecuali orang yang dirinya telah diliputi kekuasaan taqwa dan tunduk pada kekuasaan rasa takut kepada Allah, dan ini tidak mungkin terjadi kecuali bila semua  pihak yang bersengketa adalah dari kalangan orang-orang yang wara’ dan beriman. Sedangkan yang umumnya terjadi dalam hal persengketaan manusia bukanlah dengan macam orang-orang itu, tapi dia itu pada umumnya adalah dengan orang-orang yang tidak jera dengan Al Qur’an dan tidak ada dorongan bagi mereka dari keimanan, mereka tidak merasa takut kecuali dengan takhwif (ancaman ditakut-takuti) dengan kekuasaan, kekuatannya serta sangsi-sangsinya.

Dan bila pengaduan orang muslim atau penganiayaan terhadapnya atau terhadap kehormatannya atau hartanya atau jiwanya atau keluarganya adalah dari pihak orang kafir ini yang menolak merujuk pada hukum-hukum Allah yang diputuskan oleh sebagian para masyayikh, dan andai si kafir itu dihukumi (dengannya) tentu dia tidak mau mengikuti putusan-putusan para masyayikh itu selama mereka itu tidak memiliki kekuasaan yang dengannya mereka bisa mengambil apa (hak) yang tidak bisa diambil oleh Al Qur’an dan iman pada jiwa banyak manusia, dan mereka tidak memiliki kekuatan, kepolisian dan power yang mengharuskan dan memaksanya untuk menunaikan hak dan membuat jera para penjahat, orang-orang yang aniaya dan orang-orang yang berbuat iseng. Maka bagaimana mengharuskan orang muslim yang dizalimi padahal kondisinya seperti itu untuk mengadu kepada para masyayikh itu di dalam kasus-kasus seperti ini sedangkan mereka itu tidak kuasa untuk mengembalikan haknya atau membela dari tuduhan dusta yang dialamatkan kepadanya.  Kemudian bila dia secara dlarurat mengadu pada kekuasaan pemerintah atau aparat kepolisiannya dalam rangka meminta perlindungan mereka dari orang kafir atau dalam rangka menolak serangan orang jahat, terus dia malah di vonis kafir….?

Dan kami di sini tidak mengajak kepada pelegalan realita yang pahit yang mana kaum muslimin sekarang hidup di dalamnya, justru inti dakwah kami adalah: Mengajak kepada (upaya) merubahnya untuk mengeluarkan para hamba dari ‘ibadatul ‘ibad (penghambaan diri kepada makhluk) kepada ‘ibadatullah saja, dan dari hukum-hukum serta aturan para thaghut kepada syari’at Allah yang suci lagi adil. Ini adalah tergolong kewajiban yang paling agung yang wajib atas kaum muslimin, baik yang khusus ataupun yang awam, untuk beramal, i’dad dan jihad dalam rangka mencapainya. Dan inilah solusi dengan obat yang paten untuk semua problema dan penyakit mereka

Namun (menunggu) hingga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan karunia hal itu atas kaum muslimin, apa yang mesti dilakukan oleh kaum mustadl’afin dalam kasus-kasus seperti itu? Dan apabila secara dlarurat mereka mengadukan kepada pemerintah dan kekuatannya, maka apakah mereka kafir?

Sebelum menjawab hal ini, saya ingin mengingatkan bahwa saya di sini tidak mengajak dengan ucapan saya ini kepada tahakum terhadap para thaghut atau pembolehannya….sama sekali tidak….ma’aadzallah saya melakukan hal itu sehari dari hari – hari yang ada. Sungguh kami relakan umur kami dalam pengingkaran kemungkaran yang besar ini yang mana kami keluar ke dunia nyata ini sedangkan kemungkaran tersebar memayunginya. Dan kami pribadi – wa lillahil hamd wal minnah – tidak berhukum atau mengadukan hukum kepada mereka baik dalam hal kecil ataupun besar pada satu haripun di hari-hari (kami), kami tidak pernah mengadu kepada kepolisian mereka atau kantor-kantor pelayanan mereka atau mahkamah-mahkamah mereka dalam satu kasus pun, termasuk kasus-kasus lalu lintas sekalipun bila lawan memberikan kapada kami hak kami, dan bila tidak, maka kami tidak pernah mendatangi atau mengadukannya kepada mereka meskipun hak kami hilang. Kami telah di adukan ke mahkamah seraya ditawan lagi di borgol dalam kasus-kasus dan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada kami yang mana vonis sebagiannya terkadang sampai pada vonis hukuman mati, terus Allah memberikan kami hidayah dengan karunianya dan meneguhkan kami; kami tidak rela untuk menunjuk pengacara yang membela kami karena kami tahu bahwa mereka itu tidak akan merujuk hukum dalam membela kami kecuali kepada undang-undang kufur, dan bahwa mayoritas mereka tidak segan-segan dari menjunjung mahkamah-mahkamahnya atau mensifati para hakimnya dengan bersih dan (mensifati) hukum-hukumnya dengan keadilan. Kami memohon kepada Allah agar menerimanya dan memberikan husnul khatimah.

Dan dengan itu kami memberikan fatwa kepada manusia selalu, dan mendorong (menganjurkan) mereka untuk menjauhi thaghut dan undang-undang mereka, dan untuk tidak bertahakum kepada mahkamah-mahkamah mereka walau dunia mereka lenyap seluruhnya, kecuali bila mereka digiring ke sana seraya ditahan lagi diborgol, kemudian mereka dihukumi secara paksa terus mereka membela dirinya, dan mereka tidak mengadukan hukum atau berhukum kepadanya (dengan keinginan) mereka.

Namun bersama ini semua kami mengetahui bahwa keadaan manusia itu berbeda- beda, dan kemampuan mereka itu beragam di kondisi ketertindasan mereka serta dalam kondisi lenyapnya hukum syari’at dan kekuasaanya: sehingga tidak mungkin mengharuskan setiao orang untuk mengambil ‘azimah dalam semua kondisi.

Sedangkan dienullah ini tidak menetapkan solusi, hukum dan aturan buat orang-orang yang kuat saja, akan tetapi ia mengangkat kesulitan dari umat ini secara umum dan memperhatikan kondisi-kondisi kaum yang lemah. Allah tidak membebani jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya, dan dia membolehkan hal-hal yang terlarang saar dlarurat, serta dia membolehkan pengucapan atau perbuatan kufur saat ikrah selama hati tentram dengan iman.

Dan orang-orang yang memiliki kekuatan iman yang kokoh sendiri terkadang terdesak dalam sebagian kondisi yang memaksa untuk melakukan apa yang mereka tinggalkan dan yang mereka tolak serta mereka jauhi dalam kondisi lain

Dan masalahnya tidak selamanya masalah hak atau dunia yang mana seseorang bisa saja merelakannya atau meninggalkannya karena Allah demi menjaga diennya, akan tetapi terkadang seseorang diganggu kehormatannya dan isterinya dikotori. Dan orang-orang yang mengamati kasus-kasus masyarakat yang busuk ini di kondisi pengguguran hokum-hukum Allah ta’ala dan hudud-Nya yang suci ini, dia melihat dari kasus-kasus dan kejahatan-kejahatan, terutama apa yang berkaitan dengan pemerkosaan terhadap kehormatan dan jiwa, sesuatu yang tidak ada kelapangan bagi manusia untuk merelakannya atau berpaling dan mendiamkannya. Dan juga tidak setiap orang memiliki dari kekuatan atau kesukuan dan kedudukan, apa yang denganya ia mampu membela dirinya, kehormatannya serta keluarganya, atau ia mendapatkan penolong atau pelindung yang denganya dia mencukupkan diri dari mengadukan kepada pemerintah ini yang di tangannya ada kekuatan dan kekuasaan. Maka wajib atau orang yang faqih lagi mengerti akan maqashidu asy syari’ah (tujuan-tujuan syari’at) dan mashalihul ’ibad (kepentingan-kepantingan manusia) untuk memperhatikan keadaan-keadaan ini semuanya dan meninjaunya saat berbicara tentang kasus-kasus ini dan tidak ngawur serta tergesa-gesa mengkafirkan langsung dalam masalah-masalah seperti ini

Terutama sesungguhnya gambaran sebab turun firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka:”Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul niscaya kamu lihat orang – orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat – sekuatnya dari (mendekati) kamu. (An Nisa: 60-61)

Ia adalah gambaran yang berbeda dengan yang sedang kita bicarakan di dalamnya di saat tidak ada kekuasaan bagi hukum Allah.

Ayat-ayat ini turun di saat di mana hukum Allah memiliki Negara dan kekuasaan, dan makhluk paling adil ada di tengah-tengah manusia beliau membela yang dizalimi, memaksa orang yang zalim untuk memegang kebenaran serta memberikan hak kepada pemiliknya…sebagaimana yang jelas dari firman-Nya “Apabila dikatakan kepada mereka:”marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada Rasul”, namun demikian orang-orang yang disebut dalam ayat-ayat itu berpaling dan menghalangi (manusia) dari hikmah (kebenaran) seraya lebih memilih tahakum kepada thaghut dan hokum-hukumnya, baik si thaghut itu dukun atau yahudi atau yang lainnya supaya memutuskan bagi mereka sesuai dengan keinginan mereka dan  seleranya

Gambaran ini lebih utama lagi masuk di dalamnya para thaghut yang membuat hukum perundang-undangan yang menetapkan dari hukum dan dien ini apa yang tidak Allah izinkan

Dan berstatus sama dengan mereka adalah para thaghut masa kini yang di tangan mereka kendali kekuasaan dan kekuasaan legislative serta yang lainnya, kemudian mereka enggan menerapkan syariat Allah dan bersikukuh untuk menetapkan undang-undang kafir mereka, mereka mengharuskan manusia dan menggiringnya kepada hukum itu,  dan begitu juga status setiap orang yang membela mereka dan menolak bersama mereka dari menerapkan syariat Allah serta membantu mereka untuk menegakkan dan melanggengkan hukum-hukum thaghut, maka hukum penopang (garis belakang) dalam hal seperti itu adalah sama dengan hukum orang yang terjun langsung.[1]

Dan secara umum, sesungguhnya gambaran ini cocok diterapkan terhadap setiap orang yang memiliki kemudahan untuk mencapai pada hukum Allah dan memungkinkan baginya menyelesaikan sengketa dengan tahakum kepada syari’at Allah subhanahu wa ta’ala, terus dia enggan dan menolak dan berpaling darinya secara sukarela kepada hukum thaghut, yaitu setiap putusan dengan selain apa yang Allah turunkan atau pembuatan hukum yang tadi Allah ta’ala izinkan

Adapun orang-orang yang kami menolak dari mengkafirkannya, adalah maka gambarannya bukanlah seperti gambaran yang disebutkan di dalam ayat-ayat itu, dan juga ia tidak tergolong hal yang sama dan serupa dengannya sehingga hukumnya bisa diterapkan kepadanya atau diikutkan dengannya, tapi ia terjadi dalam payung tidak adanya bagi hukum Allah di bumi ini yang bisa mengembalikan hak kepada pemiliknya, dan tidak ada kekuasaan dan power kaum muslimin yang mana dengannya kaum mustadl’afun bisa meminta bantuan dan berlindung kepadanya, kemudian mereka tidak mengadu ke pemerintah, kekuatannya atau mahkamahnya sebagai keberpalingan dari kekuasaan hukum Allah yang ada, atau keberpalingan dari meminta tolong kepada kekuatan kaum muslimin dan kekuasaan mereka dengan yang sedang tegak, dan bukan sebagai bentuk melindungi diri dengan kekuatan thaghut dan undang-undangnya dari syariat atau sebagai bentuk dukungan bagi mereka atas kaum muslimin, sama sekali tidak ….kami berlindung kepada Allah dari membela sidikitpun dari hal ini.

Dan gambaran yang kami maksudkan hanyalah: gambaran orang-orang teraniaya lagi tertindas yang tidak mendapatkan seorang penolongpun, tidak (pula) ada pelindung dan imam dari ahlul haq yang menjaga mereka serta tidak (mendapatkan) kekuatan kaum muslimin yang dengannya mereka berlindung. Kemudian salah seorang dari mereka berlindung kepada kekuasaan orang-orang kafir dan kekuasaannya atau mahkamah-mahkamahnya agar mereka berbuat obyektif kepadanya dalam harga dirinya atau jiwanya dari orang zalim yang kafir yang lain yang memilki kekuatan dan suku yang melindunginya, atau orang yang berlindung dengan kekuasaan dan kekuatan para thaghut itu seraya mentakwil bahwa dia itu mukrah atas hal itu.

Gambaran ini tidak halal menyamakannya dengan gambaran sebab turun ayat-ayat tadi

Dan begitu bila orang yang menyerang dia itu atau yang mengganggu kehormatannya itu dari kalangan orang-orang yang durjana atau orang-orang zalim yang mengaku muslim yang tidak jera kecuali dengan kekuatan dan kekuasaan, sedangkan tidak mungkin bagi muslim menghentikannya kecuali dengan hal itu

Saya katakan ini sedangkan saya tergolong orang yang mengetahui akan undang-undang kufur yang sekarang menguasai kaum muslimin, dan bahwa UU tersebut adalah termasuk sebab yang paling busuk yang menggugurkan hak-hak manusia dan mencoreng kehormatannya dan harga dirinya, dan menjadikan harta dan barang mereka sebagai santapan bagi setiap penyerang dan orang aniaya. Kami telah menjelaskan hal itu, dan telah kami beri contoh dari undang-undangnya ini di dalam kitab kami “Kasyfun Niqab ’An Syari’atil Ghaab”.

Akan tetapi kasus-kasus kejadian yang menimpa manusia itu tidak terukur dan tidak pernah habis sampai Allah mewarisi bumi ini dan apa yang ada di atasnya, sedangkan dlarurat-dlarurat manusai dan kejadian-kejadian yang menimpa mereka itu berbeda-beda. Terkadang dlarurat itu menghantarkan orang pada batas ikrah terutama pada apa yang berkaitan dengan kehormatan

Dan memang dari realita pengalaman terkadang didapatkan bahkan ada di antara tentara thaghut, para anshar qawanin dan sebagian hakim dari kalangan orang-orang yang mengira bahwa meraka itu berbuat baik, orang yang tidak rela dengan penganiayaan terhadap kehormatan dan mereka marah karena pencorengannya serta berupaya semaksimal mungkin untuk membela orang yang dizalimi terutama bila mereka itu berasal dari garis keturunan yang baik atau mereka itu dari kalangan ahlul ghairah dan muru’ah (orang yang memiliki harga diri), karena pasti saja di antara orang kafir itu ada orang yang seperti itu, sebagai pembenaran akan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(الناس معادن خيارهم في الجاهلية خيارهم في الإسلام إذا فقهوا)

“Manusia itu (bagaikan) barang tambang, orang-orang terbaik pada masa jahiliyyah adalah orang-orang terbaik di dalam Islam bila mereka itu faqih (paham)”. (HR Al Bukhari 3383 dan muslim serta lainnya)

Maka sahlah bahwa ahlul jahiliyyah memiliki orang-orang yang baik.

Dan hal itu dikuatkan oleh atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya tatkala penindasan Quraisy terhadap mereka:

(لو خرجتم إلى أرض الحبشة فإن بها ملكاً لا يظلم عنده أحد…)

“Seandainya kalian keluar ke negeri Habasyah, kerena sesungguhnya di sana ada raja yang tidak seorangpun dizalimi di sisinya.”

Dan memang An Najasyi walau dia masih kafir dia itu tidak menzalimi mereka, dan tidak menyerahkan mereka kepada Quraisy saat mereka mengutus orang untuk meminta mereka, dan ini sebelum An Najasyi masuk islam sebagaimana yang akan datang.

Dan yang lalu ini dibenarkan oleh hadits Al Bukhari (3905) tentang jiwar (perlindungan) Ibnu Ad Dughnah terhadap Abu Bakar dan ucapannya terhadap beliau:

(إن مثلك يا أبا بكر لا يخرُج ولا يُخرج…) إلى قوله:  (فأنا لك جار، إرجع واعبد ربك ببلدك)

(Sesungguhnya orang sepertimu wahai Abu Bakar tidak (layak) keluar dan dikeluarkan…) hingga ucapannya: (Sungguh saya bagimu sebagai pelindung, pulanglah dan beribadahlah kepada Tuhanmu di negerimu.”[2]

Dan yang lainnya yang menunjukkan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang yang tidak suka pada kezaliman, dia menolong orang susah dan membela orang yang dizalimi. Ungkapan ini bukan tentang undang-undang namun tentang sebagian aparaturnya yang terkadang menggunakan kekuasaan dan kekuatannya dalam sebagian kesempatan untuk menghadang kezaliman atau mengembalikan  sebagian hak.

Dan ini semuanya tidak merubah sedikitpun dari status kekafiran para anshar qawanin, sebagaimana jaminan Ibnu Ad Dughnah terhadap Abu Bakar tidak merubah statusnya, dan tidak melegalkan atau membolehkan bagi mereka untuk tetap berada di jabatan-jabatannya. Bukan dalam hal ini ucapan kami, akan tetapi ucapan itu hanya tentang takwil-takwil atau motiv-motiv dan hal-hal yang melegalkan yang mendorong banyak manusia untuk meminta perlindungan mereka atau mengadu atau meminta pertolongan kepada mereka dengan gambaran yang telah kami sebutkan, dan bahwa keadaan seperti itu menghalangi dari takfir mereka.

Adapun sekedar berlindungnya orang muslim dalam kondisi dlarurat kepada orang kafir yang menjaganya atau melindunginya atau mengembalikan haknya dan menolongnya dari (gangguan) orang kafir lainnya, atau untuk menghadang penyerobotan orang muslim fajir yang tidak jera dan tidak takut kecuali dengan hal itu dalam kondisi tidak adanya kekuasaan dan kekuatan bagi syariat Allah, maka ini sama sekali bukan tergolong tahakum (kepada thaghut).

Dan telah lalu kami ketengahkan kepadamu pujian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Hilful Fiidlul padahal sesungguhnya ia adalah hilf jahiliy yang dirintis oleh orang-orang kafir dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyaksikannya saat beliau masih belia, beliau berkata:

(فما أحب أن لي حُمر النعم وأني أنكثه) وفي رواية:  (لو دعيت به في الإسلام لأجبت).

“Saya tidak menyukai bila saya mendapatkan unta merah sedang saya (mesti) melanggarnya.”

Dan dalam satu riwayat: “Andai saya diundang untuknya di dalam Islam tentu saya memenuhinya.”

Dan bentuknya adalah: Persatuan suku-suku pada masa jahiliyyah yang saling bersepakat untuk menolong orang yang kesulitan, membela orang yang dizalimi dan mengembalikan hak-hak kepada para pemiliknya dengan power mereka dan kekuatan persatuannya, sedangkan itu terjadi di saat islam tidak memiliki kekuasaan dan daulah serta sebelum bit’sah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi jahiliyyah yang gelap, jadi ia adalah yayasan dari yayasan-yayasan jahiliyyah

Dan pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap hilf ini menuntut tidak adanya dosa bagi orang yang tertindas bila ia berlindung kepadanya atau kepada yang semisal dengannya dari kalangan orang-orang kafir yang mampu menghadang kezaliman darinya atau dari kehormatan atau hartanya, atau untuk menggapai sebagian hak-hak-nya dengan kekuatan, power dan kekuasan mereka dari orang-orang kafir lain yang zalim di saat kondisi tidak ada kekuasaan bagi syariat ini, dan andai di dalamnya terdapat dosa apalagi keharaman atau kekuffuran, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya di dalam konteks pujiannya terhadap hilf ini. Sungguh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah umat yang paling taqwa dan paling wara’, dan beliau tidak membiarkan satu keburukanpun melainkan beliau menghati-hatikan (umat) darinya

Permintaan bantuan ini (istinshar) dan tahakum itu dengan gambarannya tadi serta takwil-takwilnya tersebut, adalah suatu yang kami tolak dan ingkari pengkafiran para pelakunya.

Hati-hatilah dari menisbatkan kepada kami apa yang tidak pernah kami katakan, berupa pembolehan tahakum kepada orang-orang kafir dan para thaghut serta UU mereka secara muthlaq, atau istinshar dengan mereka atas kaum muslimin muwahhidin, atau menghakimi kaum muslimin kepada mereka dan kepada UU mereka yang kafir dalam khushumat (pertikaian). Ini sama sekali tidak pernah kami katakana di hari-hari kami.

Orang muslim memiliki motivasi taqwa dan wara’ serta iman yang membuatnya jera dan menggiringnya mau tunduk kepada hukum Allah ta’ala dan pasrah kepadanya tanpa ada rasa takut kepada kekuatan atau paksaan kekuasaan, dan orang yang kondisinya seperti itu tapi lawannya tidak mau kecuali mengajukannya kepada UU kafir padahal dia tahu bahwa dia mampu mengambil haknya tanpa hal itu, maka dia telah bertahakum kepada thaghut secara sukarela dan dia masuk dalam macam orang yang ada dalam sebab nuzul ayat tadi.

Dan siapa orangnya yang diajak kepada hukum Allah dan putusan kitab-Nya saat mudah menegakkanya dan memungkinkan menyelesaikannya bagi pertikaian dan mengakhirinya dalam persengketaan, baik yang zalim atau yang dizalimi terus dia enggan dan menolak, maka ia tergolong orang-orang yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan tentang mereka:

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepda hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (An Nisa: 61)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkannya kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka tehadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisa: 65)

Ini, sungguh sebagian orang-orang yang mempersempit masalah telah berlebih-lebihan dalam mengingkari terhadap kaum muslimin yang awam, mereka mempersulitkan mereka dan membebankan kepada mereka apa yang tidak mereka mampu, sampai-sampai mereka mengingkari kaum awam itu atas sekedar tampilnya mereka di hadapan mahkamah-mahkamah ini atau di hadapan pemerintah (kafir) atau kepolisiannya dan pos pengaduannya walau untuk membela diri mereka sendiri saat mereka dicari, dan sebagian mereka mengharuskan kaum awam itu untuk menolak hadir dan lari (kabur), dan kalau tidak maka mereka itu kafir.

Dan sudah maklum bahwa hal itu tidak mampu dilakukan oleh setiap orang terutama dalam realita istidl’af (ketertindasan)….

Dan sesungguhnya manusia itu beragam kemampuannya dalam menanggung gangguan dan dlarurat (kondisi sulit).  Bahkan para fuquha membolehkan dalam kondisi kelaparan bagi orang lemah dan manula apa yang tidak mereka bolehkan bagi selain mereka, dan mereka melapangkan bagi mereka itu dengan apa yang lebih lapang dari apa yang mereka bolehkan bagi orang kuat yang mampu lagi sehat. Dan sesungguhnya manusia itu beragam dalam batasan ikrah. Sesungguhnya bagi setiap kondisi dan tempat ada ungkapan (yang tepat baginya).

Dan oleh sebab itu sungguh telah mampu Ibrahim ‘alaihissalam yang menantang kaumnya dan tidak peduli dengan api mereka yang menyala-nyala dalam satu waktu padahal beliau itu sendirian, dan dalam kondisi lain beliau dan istrinya tertindas dan terpaksa (dlarurat) untuk memenuhi permintaan orang kafir saat minta Sarah didatangkan, bahkan Al Bukhari memastikan itu dalam kitab Al Ikrah, dan saya memaksudkan dengan hal itu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

” هاجر إبراهيم بسارة ، دخل بها قرية فيها ملك من الملوك – أو جبار من الجبابرة – فأرسل إليه أن أرسل إلي بها ، فأرسل بها ، فقام إليها ، فقامت تتوضأ وتصلي فقالت: اللهم إن كنت آمنت بك وبرسولك فلا تسلط علي الكافر ، فغط حتى ركض برجله “

”Ibrahim hijrah dengan Sarah, beliau masuk dengannya ke suatu negeri yang di sana ada seorang raja atau seorang diktaktor, si raja terus mengutus orang kepada Ibrahim (seraya menyuruh); “Datangkan wanita itu kepadaku.” Maka Ibrahim mengirimnya, terus ia menghampiri Sarah, maka Sarah berwudlu dan shalat terus berdoa: Ya Allah, bila aku beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, jangan kuasakan orang kafir itu terhadapku.” Maka si raja terus (tidur) ngorok sampai ia menghantamkan kakinya”

Dan Al Bukhari membuat bah baginya dalam kitab Al ikrah “Bah: Bila wanita dipaksa berzina, maka tidak ada had atasnya.”

Maka hal itu dinilai sebagai ikrah dan tidak ada celaan atas Ibrahim atau atas istrinya karena khalwatnya bersama orang kafir itu, dikarenakan ia itu mukrahah (dipaksa), sebagaiman hal itu dituturkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam pendapat para ulama. Keduanya tidak dicela atau ditegur karena tidak kabur dan tidak seorangpun mengharuskan mereka untuk lari. Justru keduanya lebih tahu akan kondisi dan keadaan mereka pada saat itu

Dan sudah maklum begitu juga bahwa tidak setiap tampil atau melapor terhadap orang-orang kafir atau mahkamah-mahkamah mereka atau kantor-kantor pengaduan mereka itu dianggap sebagai tahakum kepada thaghut atau sebagai kekafiran…

Di samping itu, sesungguhnya banyak dari tuduhan dan pengaduan bisa diselesaikan dan dibantah dengan sekedar melapor, datang (tampil) dan menghilangkan isykal, dan terkadang bisa diselesaikan dengan shulh (damai) atau yang lainnya berupa tahkim yang dibolehkan dan tidak termasuk sama sekali dalam tahakum mukaffir. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman tentang shulh:

“Dan shulh itu lebih baik.” (An Nisa: 128)

Dan berfirman tentang najwa (membicarakan orang lain) yang boleh yang termasuk dikecualikan di antara manusia:

“atau mendamaikan di antara manusia.” (An Nisa: 114)

Dan berfirman tentang peperangan dan perselisihan di antara kelompok-kelompok kaum muslimin:

“Maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah.” (Al Hujurat: 9)

Dan diriwayatkan dari hadits Abu Hurairah dan sahabat lainnya secara marfu’:

(الصلح جائز بين المسلمين) وهو مروي عند أبي داود والحاكم والبيهقي.

“Shulh itu boleh dilakukan di antara kaum muslimin.” (Dan ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al Hakim dan Al Baihaqiy).

Dan Umar radliyallahu ‘anhu memerintahkan untuk mengembalikan pihak-pihak yang berselisih supaya mereka berdamai, oleh sebab itu para fuqaha menganjurkan bagi si qadli agar berupaya mendamaikan antara pihak-pihak yang berselisih (khushum) dalam semua pengaduan yang mana yang dituntut di dalamnya bukan dari hak-hak Allah, karena pengaduan-pengaduan dan kasus-kasus itu terbagai-bagi, ada yang merupakan hak Allah murni, ada yang hak manusia murni, dan ada yang tergabung kedua-duanya namun salah satunya lebih menonjol. Dan dalam hal itu ada rincian yang sudah terkenal dari sisi bolehnya shulh dan tanazul (pengguguran hak) dalam hak-hak manusia, dan tidak bolehnya hal itu dalam hak-hak Allah. Lihat A’lamul Muwaqqin I/107-108.

Dan shulh yang boleh adalah umum di antara manusia, dan bukan khusus antara suami istri, namun boleh di antara dua pihak yang berserikat, dua pihak yang berseteru, dan dua kelompok yang saling berselisih atau saling memerangi dan yang lainnya.

Dan sebagaimana persengketaan di antara suami isteri adalah boleh diputuskan dengan shulh dan dua juru damai berijtihad di dalamnya, dengan cara salah satu pihak suami isteri menggugurkan sebagian haknya dalam rangka ishlah yang mana ia adalah lebih baik daripada berpisah dan bertengkar, maka  maka begitu juga masalahnya dalam banyak persengketaan dan pengaduan, boleh diselesaikan dengan shulh dan saling merelakan dari kedua pihak, atau pengguguran sebagian mereka akan sesuatu dari hak-haknya. Jadi shulh adalah akad saling merelakan yang dibolehkan oleh syariat dan tidak dibatasi, kecuali bila menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Al Hafidz berkata dalam Fathul Bari pada hadits no 2961: (Dan shulh itu bermacam-macam, shulh orang muslim dengan kafir, shulh antara suami istri, shulh antara kelompok pemberontak dengan pihak yang adil, shulh dalam ganti rugi luka seperti memaafkan dengan ganti harta, dan shulh untuk memutus pertengkaran bila terjadi upaya saling ingin memilki dalam harta milik (pribadi) atau dalam milik bersama seperti jalan raya…..)

Dan ini tergolong apa yang Allah lapangkan, dan ia bukan termasuk tasyri’ kufriy sama sekali, dan bukan pula tergolong al hukmu bi ghairi maa anzalallaah atau tahakum kepada thaghut. Al Faruq radliyallahu ‘anhu telah berkata:

(إذا وسع الله فأوسعوا…) رواه البخاري.

“Bila Allah melapangkan maka lapangkanlah” (HR Al Bukhari)

Dan sebagian orang tidak suka terhadap sikap memberikan kelapangan kepada hamba-hamba Allah, dan mereka menganggap bahwa kebenaran itu selalu bersama sikap tasydid (mempersempit), sedang orang-orang yang lebih dekat kepada hal itu adalah Khawarij; oleh karena itu pikiran mereka telah sempit dari memahami hal ini serta akal mereka lemah dari mencernanya sehingga mereka memprotes upaya shulh dan tahkim antara Mu’awiyah dengan Ali serta apa yang terjadi di kisah Al Hakamain. Maka mereka menganggapnya sebagai al hukmu bi ghairi maa anzalallah, terutama saat Ali mereka lihat telah menarik diri dalam rangka ishlah dari sebagian hal yang diprotes oleh Ahli Syam dalam kertas perdamaian seperti penamaan Amirul Mu’minin dan apa yang terjadi antara Abu Musa Al Asyariy dan ‘Amr Ibnul ‘Ash. Mereka (Khawarij) berkata: Kalian telah menjadikan manusia sebagai hakim (pemutus) “Dan barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. Dan di antara yang mana mereka didebat oleh Ibnu Abbas, dan yang dinisbatkan kepada Ali, beliau (Ibnu ‘Abbas) mengingtakan mereka dengan tanazul yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shulhul Hudaibiyyah… dan ia berkata: Allah berfirman dalam Kitab-Nya tantang laki-laki dengan istrinya:

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami istri itu.” (An Nisa: 35) Apakah boleh hal itu prihal laki-laki dan istrinya dan tidak boleh dalam (menyelesaikan kasus) umat Muhammad…? atau “Apakah umat Muhammad adalah lebih besar (agung) darah dan kehormatannya daripada perempuan dan laki-laki?[3]. Maka sebagian mereka bangkit dan rujuk sedangkan yang lainnya tetap bersikeras, sebagaimana yang akan datang.

Asy Syathibiy berkata dalam Al I’tisham 2/264-265, saat beliau menjelaskan tanda-tanda dan ciri khusus firqah-firqah ahlul bida’ wal ahwa: (Ciri khusus ke dua adalah apa yang diingatkan oleh Firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

”Adapun orang – orang yang dalam harinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti apa-apa yang samar darinya….” (Ali ‘Imran: 7)

Ayat ini menjelaskan bahwa ahlut zaigh (orang-orang sesat) itu mengikuti Mutasyabihatul Qur’an, sedang makna mutasyabih: Apa yang musykil maknanya dan belum dijelaskan maksdudnya, baik itu tergolong mutasyabih idlafiy, yaitu sesuatu yang dalam menjelaskan maknanya yang haqiqiy membutuhkan kepada dalil dari luar, meskipun sebenarnya lafadh itu jelas maknanya bagi yang dangkal pemahamannya, seperti berdalilnya orang-orang Khawarij untuk mengugurkan tahkim dengan firman-Nya:

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah.” (Yusuf: 40)

Sesungguhnya dhahir ayat ini adalah shahih secara global (umum). Dan adapun secara rincian maka ia membutuhkan pada bayan (penjelasan). Dan itulah apa yang telah lalu dari uraian Ibnu Abbas radliyallahu ’anhuma, karena beliau menjelaskan bahwa keputusan itu milik Allah terkadang tanpa tahkim (dan terkadang dengan tahkim), karena sesungguhnya bila dia memerintahkan tahkim, maka keputusan dengan tahkim itu adalah keputusan Allah).” Selesai dengan sedikit ringkasan.

Dan di antara jenis tahkim yang disyariatakn adalah shulh antara suami istri dan antara manusia secara umum dengan cara tanazul (menggugurkan hak atau sebagiannya) atau menunaikan sebagian apa yang menjadi kesepakatan damai dan yang lainnya.

Dan di antara jenisnya juga adalah apa yang Allah leluasakan di dalamnya terhadap hakim atau imam atau panglima perang berapa pemberian pilihan dalam menyikapi ahlul harbi dan harta mereka bila negeri mereka ditaklukan dengan kekerasan, antara membunuh orang-orang yang ikut perang atau menjadikannya sebagai budak atau membebaskan begitu saja atau meminta tebusan.

Dan di antaranya juga tahkim Sa’ad Ibnu Mu’adz dalam menyikapi Bani Quraidah tatkala mereka meminta putusannya, maka beliau menetapkan: Yang ikut berperang dibunuh dan anak-anak serta wanita dijadikan budak, kemudain Nabi berkata:

(لقد حكمت فيهم بحكم الله) والحديث متفق عليه.

”Sungguh engkau telah memutuskan pada mereka dengan ketentuan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dan serupa dengannya adalah hadits Buraidah yang diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan Muslim dalam Shahihnya serta yang lainnya tentang wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap para penglima pasukan, dan di dalamnya  ada ucapan beliau:

(وإذا حاصرت أهل حصن وأرادوك أن تنزلهم على حكم الله، فلا تنزلهم على حكم الله ولكن أنزلهم على حكمك، فإنك لا تدري أتصيب فيهم حكم الله أم لا).

“(Dan bila kamu mengepung orang-orang yang ada di benteng dan mereka meminta engkau agar menempatkan mereka pada hukum Allah, maka jangan tempatkan (bawa) mereka pada hukum Allah, akan tetapi tempatkan (dudukan) mereka pada putusanmu, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah kamu menepati hukum Allah atau tidak dalam (menghukumi) mereka)”

Beliau hanya mengatakan itu, karena macam putusan ini tergolong yang lapang bagi panglima atau hakim itu untuk memilih dan berijtihad di dalamnya antara banyak hal…

Dan tergolong tahkim dan shulh juga apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An Nasai dan Al Bukhariy dalam Al Adab Al Mufrad dari Abu Syuraih, sungguh tatkala ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaumnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar mereka memberinya kun-yah dengan sebutan Abul Hakam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan terus berkata:

( إن الله هو الحكم وإليه الحكم فلم تكنى بأبي الحكم ؟ )

“Sesungguhnya Allah-lah Sang Pemutus itu dan kepada-Nya lah putusan diserahkan, kenapa kamu dikun-yahi Abul Hakam?

Maka ia berkata: Sesungguhnya kaumku bila berselisih dalam suatu hal mereka datang kepadaku, terus saya putuskan di antara mereka, dan kedua belah pihakpun rela, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Alangkah baiknya hal ini “kemudian beliau mengkun-yahinya dengan anaknya yang paling besar.” Dan ini ia lakukan pada jaman jahiliyyah[4] sebelum masuk islam, oleh sebab itu ia digolongkan dalam para hakim jahiliyyah…namun demikian sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganggapnya bagus, dan seandainya itu tergolong al huku bi ghairi ma anzalallah, tentulah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkarinya dan tidak mengangapnya baik sama sekali. Semua ini menunjukkan bahwa shulh itu boleh dan bahwa itu bukan termasuk tahakum kepada thaghut atau al hukmu bi ghairi ma anzalallah, meskipun yang menanganinya orang kafir yang disukai oleh kedua pihak selama tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal.

Dan hal ini dikuatkan oleh firman-Nya ta’ala tentang shulh antara suami istri:

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami istri itu.” (An Nisa: 35)

Sedangkan sudah ma’lum bahwa si istri boleh memilih hakam (juru damai) yang dia percayai dari kalangan keluarganya, dan bahwa andai istri itu kitabiyyah (yahudi atau nasrani), dia boleh memilih hakam dari kalangan yang seagama dengannya.

Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Alu Asy Syaikh: (Adapun yang berkenaan dengan kasus-kasus yang selesai pada para qadliy suku-suku, bila hal itu terjadi lewat jalan shulh dan shulh ini tidak mengandung tahlil yang haram atau tahrim yang halal, maka shulh tersebut adalah shahih, dan bila itu lewat jalan putusan maka itu tidak shahih, karena yang terkenal tentang kepala suku adalah kebodohan dan ketidakmengertian akan hukum-hukum syariat, sehingga tahakum kepada mereka adalah tergolong tahakum kepada thaghut). Fatawa wa Rasaail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 12/292.

Maka diketahuilah dari ini semua bahwa tidak semua tampil di hadapan musuh-musuh Allah atau mahkamah-mahkamahnya itu dianggap sebagai tahakum mukaffir.

Ini ditambah sesungguhnya bila orang itu terkadang tidak mau tampil hadir, atau lari tanpa ada dlarurat atau kepentingan yang mengharuskan, maka urusannya bisa menjadi lebih sulit dan sangsinya berlipat-lipat serta tuduhan batil pun menjadi semakin kuat atasnya, apalagi hukum (sanksi) mereka yang berkenaan dengan ketidakhadiran adalah lebih dahsyat dari keadaaan bila dia hadir, sedangkan orang muslim itu dituntut untuk menghindarkan dari dirinya mafsadah yang paling besar dari dua mafsadah dengan cara menanggung yang lebih ringan. Dan ini adalah bahasan yang besar yang memungkinkan adanya banyak  takwil-takwil dan ijtihad-ijtihad.

Dan dalam menyelisihi hal ini adalah Allah-lah Yang Maha mengetahui akan pengaruhnya berupa tasydid (mempersulit) dan tadhyiq (mempersempit) terhadap hamba-hamba Allah serta menjerumuskan mereka dalam haraj (kesulitan) yang telah Allah angkat dari mereka tanpa dlarurat. Ini bukan termasuk tahakum kepada thaghut, akan tetapi termasuk jenis menolak/menahan orang yang berupaya aniaya dan yang menyerobot serta membantah tuduhan sesuai kemampuan.

Dan diantara yang layak dijadikan hujjah disini adalah kisah tampilnya Ja’far dan para sahabatnya yang hijarah ke Habasyah di hadapan An Najasyi sebelum keislamannya, serta pembelaan mereka akan diri mereka sesuai kemampuan saat datang dua utusan Quraisy meminta mereka, dan ketidakmenolakan seorangpun dari mereka untuk tampil atau merasa keberatan dari hal itu, serta ketidakadaan pengingkaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan hal itu. Kisah ini disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah dari Ibnu Ishaq. Abu Nu’aim dalam Ad Dalaa-il dan Al Baihaqi dalam Ad Dalaa-il juga serta yang lainnya dengan sanad–sanad yang sebagiannya jayyid, sebagiannya shahih dan yang lainnya qawiy (kuat). Lihat 3/69 dan sesudahnya. Dan dilamnya bahwa An Najasiy memberikan jaminan keamanan buat mereka, membela mereka serta menolak menyerahkannya kepada Quraisy.

Dan boleh juga dalam hal ini juga berdalil dengan ucapan Yusuf ‘alayhi sallam saat dituduh oleh istri Al ‘Aziz dengan ucapannya:

“Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (di hukum) dengan azab yang pedih.” (Yusuf: 25)

“Yusuf berkata: “dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadnya).” Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya..” (Yusuf: 26)

Dan di dalamnya ada pembelaan Yusuf akan dirinya di antara kaum yang kafir serta kesaksian sebgaian mereka, pembelaan mereka terhadapnya dan pernyataan keberatan Yusuf dari tuduhan.

Lebih jelas dari itu apa yang beliau lakukan di dalam penjara saat:

“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua:”Terangkan keadaanku kepada tuanmu.”….” (Yusuf: 42)

Kekafiran raja Mesir saat itu dan keberadaan dia memiliki undang–undang dan ajarannya yang menyalahi dienullah tidak mengahalanginya dari mengutus kepadanya seraya memberitahukan bahwa dia itu dizhalimi yang telah dijeblosakan dalam penjara tanpa ada dosa, dengan harapan mengeluarkannya, mencabut kezhaliman darinya dan membebaskan dirinya dari tuduhan yang dengan sebabnya dia dimasukkan penjara…. Dan hal itu pula tidak menghalanginya dari upaya membela dirinya sendiri dan berupaya menampakkan bara’ahnya saat dipintanya oleh si raja setelah itu, maka Yusuf berkata kepada utusan itu: “……….”Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita–wanita yang telah melukai tangannya, sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka.” (Yusuf: 50)

Inilah beliau mengadukan kezhaliman terhadap dirinya atau katakan ia menyebutkannya di hadapan raja yang kafir untuk menampakkan keterbebasannya; maka mana orang yang mempersempit masalah yang mengkafirkan awam kaum muslimin yang tertindas dari semua ini??

Semuanya adalah perbuatan Nabi yang ma’shum, dan yang selalu menjaga sisi tauhid dan kemurniannya yang merupakan inti apa yang diutus dengannya para Nabi seluruhnya, serta sepakat dakwah mereka atasnya sebagaimana yang ma’lum dalam dakwah anbiya dan mursalin. Tidak mungkin Yusuf menyalahi hal itu atau melanggarnya atau keluar dari millah ayah– ayahnya Ibrahim, Ishaq, Ya’qub meski sedikitpun….bagaimana sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah mensucikannya dan melindunginya dari yang dibawah itu, Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian” kemudian Dia berfirman: “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba–hamba kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)

Maka nampaklah dari ini semua bahwa tidak ada dosa atas muwahid sama sekali dalam hal seperti ini

Dan sesunggunya tidak setiap ta’amul dengan kuffar, para thaghut, sipir-sipir penjara mereka, mesti tergolong tahakum kepada thaghut yang membatalkan tauhid. Dan tidak setiap melapor kepada mereka atau tampil di hadapan mereka, mesti sebagai hal itu.

Sesunguhnya tafshil (merinci) dalam hal ini adalah wajib dan penting. Di antara hal itu ada yang termasuk istinshar yang rincian hukumnya telah lalu, ada yang tergolong shulh dan engkau telah tahu ini boleh, dan ada yang tergolong menolak mafsadah dari diri (jiwa), atau menolak mafsadah yang paling tinggi dengan menanggung yang paling ringan, dan sesungguhnya itu termsauk masalah ijtihad. Di antaranya ada yang tergolong tahakum kepada mereka; namun wajib melihat macamnya, apakah ia tegolong tahakum thaghutiy mukaffir atau dalam hal-hal idariy (administrasi) yang telah Allah lapangkan di dalamnya sebagaimana yang akan datang.

Sebagaimana wajib melihat pada kondisi orang yang terjun dalam hal itu, pakah mukrah atau tidak, dan melihat takwil-takwilnya serta  menimbang kondisi ketertindasan umat dan tidak adanya kekuasaan hukum Islam.

Inilah …..orang muslim setelah itu lebih mengetahui akan hal yang bermanfaat dan berbahaya terhadapnya dalam macam  pelaporan-pelaporan itu yang tidak tergolong tahkum atau kecenderungan yang terlarang. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah secara marfu’:

(…احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز، وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت كذا كان كذا وكذا، ولكن قل:  قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان).

”Berupaya keraslah terhadap yang bermanfaat bagimu, minta pertolonganlah kepada Allah dan jangan lemah, dan bila sesutau menimpamu, maka jangan kamu katakana: Seandainya aku melakukan ini dan itu, tapi katakanlah: Ketentuan Allah dan apa yang Dia kehendaki maka Dia lakukan, karena sesungguhnya ”sendainya” itu membuka amal syaitan).

Maka yang wajib atasnya adalah dia berijtihad dan mempertimbangkan segala urusan degan takarannya tanpa aniaya dan melampaui batas, dan melihat terhadap mashlahat serta mempertimbangkan antara mafsadah-mafsadah, bila dia mengira bahwa dalam pelaporannya atau tampilnya di hadapan mereka itu adalah pemberian kekuasaan terhadap musuh-musuh Allah atas agamanya atau pembebanan bencana terhadap dirinya yang tidak bisa dia tanggung, maka tidak selayaknya orang muslim menghinakan dirinya dan menyerahkannya kepada mereka dalam keadaan seperti ini, maka melarikan diri merupakan jalan selamat dalam banyak kondisi. Setiap muslim lebih mengetahui akan kondisinya, kasus-kasusnya dan darurat-daruratnya sehingga dia bisa mempertimbangkan mafsadah dan maslahat dalam kondisi yang dialaminya, karena setiap kondisi ada perkataan yang sesuai baginya, dan dia bisa menolak bahaya dari dirinya sesuai kemampuan hingga Allah menjadikan jalan keluar bagi umat ini.

Di dalam Shahih Al Bukhari (kitab Al Jihad Was Sair) “Bab apakah orang boleh menyerahkan diri menjadi tawanan? dan orang yang tidak menjadi tawanan“ Beliau menyebutkan didalamnya hadist pasukan ’ASHIM IBNU TSABIT AL ANSHARI, dan di dalamnya ada ijtihad para sahabat antara yang rela menjadi tawanan lagi mengikuti jaminan dan mitsaq orang-orang kafir dan yang tidak menjadi tawanan lagi menolak jaminan dan janji mereka hingga terbunuh …(3045) dan disyarah oleh Al Hafidz di dalam Al Maghazi (4066)

Dan di dalamnya juga dalam (kitabul iman) (Bab termasuk dien adalah lari dari fitnah) dan dia sebutkan di dalamnya hadits Abu Sa’id Al Khudriy bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berkata:

(يوشك أن يكون خير مال المسلم غنم يتبع بها شعف الجبال، ومواقع القطر، يفرّ بدينه من الفتن)

“Hampir harta terbaik orang muslim adalah kambing-kambing yang dia ikuti di lereng-lereng gunung dan tempat-tempat turun hujan, dia lari denganya dari fitnah.” (19).


[1] Ibnul Arabi berkata dalam Ahkamul Qur’an //148-150: Mayoritas ulama sepakat bahwa penopang itu divonis sama dengan vonis orang yang berperang). Dan hal itu ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al Fatawa.

[2] (lihat juga dalam shahih Al Bukhari (kitab Manaqibil Anshar) (bab Islam ‘Umar…) tentang perlindungan dan jaminan keamanan Al ‘Ash Ibnu Wa-il bagi Umar Ibnul Khaththab (3864-3865).

[3] (Al Bidayah wan Nihayah 7/281)

[4] Lihat Al Isti’ab milik Ibnu Abdil Barr 4/97, biografi Hani Ibnu Yazid Ibnu Nuhaik, dan lihat pula Thabaqah Ibnu Sa’ad 6/49.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s