Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 23 Takfir setiap orang yang bekerja di dinas pemerintahan kafir tanpa rincian)

TAKFIR SETIAP ORANG YANG BEKERJA DI DINAS PEMERINTAH KAFIR TANPA RINCIAN


Di antara kekeliruan yang sangat buruk di antara takfir juga adalah mengkafirkan orang yang bekerja di dinas pemerintahan kafir tanpa rincian. Hal ini telah menyebar di banyak kalangan ahlul ghuluw yang bersemangat tinggi yang mengambil hukum-hukum mereka dari sebagian lontaran-lontaran sastra yang mereka baca di sebagian buku-buku pemikiran modern, seperti lafadz “masyarakat jahiliyyah” yang mana sebagian mereka berdalil dengannya untuk mengkafirkan semua manusia di masyarakat ini….dan seperti ungkapan (Bekerja di bawah payung sistem jahiliyyah) atau (Bekerja di lembaga yang mengokohkan jahiliyyah) dan hal-hal serupa.

Ini yang menjadikan sebagian mereka mengatakan bahwa pegawai negeri kafir semuanya adalah kafir, mulai dari tukang sapu hingga kepala negara (thaghut)…. Ini adalah ungkapan yang batil, kami berlepas diri kepada Allah SWT darinya dan kami sama sekali tidak mengakuinya.

Bahkan kami meskipun –bi hamdillah ta’ala– tidak pernah menjadi pegawai pemerintah (pegawai negeri) seharipun, dan kami menginginkan selalu bagi ikhwan kami al muwahhidin untuk menjauh dari pemerintah-pemerintah ini dan dinas-dinasnya sekuat kemampuan, sebagai bentuk mubalaghah dalam menjauhi thoghut dan segala yang menghubungkan kepadanya, dan sebagai penutupan akan segala jalan-jalan yang bisa mendekatkan kepadanya, dan kepada sistem serta kemusyrikannya serta sebagai pemutus segala jalan-jalan dan tali-tali yang berhubungan dengannya atau menjadikannya sebagai bagian dari ashlul iman dan syarat-syaratnya.

Akan tetapi, kami merinci dalam hal bekerja sebagai pegawai pemerintahan kafir dari sisi hukum syar’i, maka kami tidak mengatakan bahwa semuanya kekafiran dan tidak (pula mengatakan) bahwa semuanya haram.

Namun pekerjaan yang tergolong satu sebab dari sebab-sebab kekafiran, berupa ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan yang nampak, maka ia adalah pekerjaan yang mengkafirkan seperti:

  1. Ikut serta dalam membuat undang-undang mereka yang kafir.
  2. Atau dalam pekerjaannya itu ada sumpah untuk menghormati undang-undangnya serta loyal (setia) terhadap para thaghut mereka.
  3. Atau nushrah (membela/melindungi/menerapkan) undang-undang itu.
  4. Atau pembelaan terhadap para budak undang-undang atas kaum muslimin.
  5. Dan pekerjaan kufur lainnya yang nampak.

Adapun pekerjaan yang di dalamnya ada maksiat atau tolong-menolong atas dosa dan permusuhan, maka ini adalah pekerjaan haram yang pelakunya berdosa, namun tidak halal takfir dengannya saja, selama di dalamnya tidak ada sebab yang mengkafirkan. Maka selama pekerjaan ini bukan tergolong macam yang mengkafirkan atau yang diharamkan, maka kami tidak mengatakan di dalamnya kecuali makruh….Kami hanya mengatakan makruh karena takut hal itu menjadi jalan peluang bagi penguasaan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala atas orang muslim dan pengendalian mereka terhadap hak-haknya atau upaya menghinakannya.

Al Bukhari telah meriwayatkan dalam Ash Shahih pada Kitabul Ijarah (Bab apakah orang (muslim) boleh menyewakan dirinya terhadap orang musyrik di negeri harbiy) dari Khabbab ra berkata: Aku adalah seorang qoyyin, maka saya bekerja bagi Al Ash ibnu Wail, sehingga terkumpul (sejumlah harta) bagi saya di sisinya, terus saya datang menagihnya, maka ia berkata: “Tidak, demi Allah, saya tidak akan membayarmu sehingga kamu kafir terhadap Muhammad.” Maka saya berkata: “Sungguh tidak, demi Allah sampai kamu mati lalu dibangkitkan.” Ia berkata: “Dan apakah saya akan mati kemudian dibangkitkan ?!” Saya berkata: “Ya”. Ia berkata: “Sesungguhnya di sana saya akan punya harta dan anak, sehingga saya bisa bayar kamu.” Maka Allah menurunkan:

“Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami dan ia mengatakan Pasti aku akan diberi harta dan anak.” (Maryam: 77)

Ini terjadi di Mekkah, yang saat itu merupakan dar harb dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui keberadannya. Ibnu Hajar berkata dalam AL Fath: (Dan mushannif tidak memastikan akan hukum karena ada kemungkinan hal itu dibatasi dengan dharurat atau bahwa kebolehan itu adalah sebelum ada izin untuk memerangi kaum musyrikin dan mencampakkan mereka, dan sebelum ada perintah agar orang mukmin tidak menghinakan dirinya). Kemudian beliau menukil dari Al Muhallab ucapannya: (Ahlul ilmi membenci hal itu – yaitu bekerja pada orang-orang musyrik – kecuali karena dharurat dengan dua syarat:

Pertama: Pekerjaannya itu tergolong yang halal dilakukan orang muslim

Kedua  : Pekerjaannya itu tidak membantu dia terhadap suatu yang bahayanya kembali kepada kaum muslimin)

Wajib diingat bahwa ucapan mereka ini adalah bagi yang seperti kondisi Khabbab yang mana ia adalah qoyyin, yaitu tukang (pandai) besi dan ia telah mengupahkan dirinya untuk pekerjaan tertentu bagi Al Ash, yaitu ia tidak terikat bersamanya dengan akad yang semi permanen semenjak ia menerima pekerjaan itu hingga ia pensiun sebagaimana keadaan pekerjaan-pekerjaan yang mana manusia terikat dengannya pada zaman ini. Dimana kesempatan penguasaan para pemilik pekerjaan, pengendaliannya, dan penghinaannya terhadap si muwadhdhaf (pegawai) adalah lebih kuat, maka tidak ragu lagi sesungguhnya lebih utama daripada kebencian mereka akan pengupahan diri yang sementara pada orang-orang kafir.

Dan ini dengan disertai tanbih akan adanya kemungkinan maksud para ulama dengan karahah (kebencian) di sini adalah tahrim (pengharaman) sebagaimana dalam istilah para pendahulu.

Namun ini seperti yang telah kami katakan adalah suatu selain takfir, karena takfir sebagaimana yang telah dituturkan kepadamu berkali-kali adalah hukum syar’i yang tidak sah kecuali dengan sebab-sebab yang dhahir lagi mundhabith, berapa ucapan atau amalan mukaffir yang sharih dilalahnya, dan dalam hal itu tidaklah cukup lontaran-lontaran fikriyah modern dan semangat yang tidak ada landasan serta tidak terikat dengan batasan batasan yang syar’i.

Adapun apa yang dituturkan sebagian al ghulah yang ngawur dalam hal ini bahwa pegawai di pemerintahan-pemerintahan kafir itu kafir dari sisi taat kepada orang kafir seraya berdalil dengan firmanNya ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang kepada kekafiran sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah: “Kami akan mematuhi kalian dalam bebarapa urusan.“ (Muhammad: 25-26)

Maka sesungguhnya ia temasuk kebodohan mereka akan makna taat yang mengkafirkan; lagi dimaksud di sini. Karena ia sesungguhnya adalah ketaatan yang dikhususkan dalam tasyri’ atau kekafiran, kemusyrikan dan riddah bukan muthlaq ketaatan dengan dalil bahwa orang kafir atau thaghut bila memerintahkan ketaatan atau hal ma’ruf tentu orang yang mentaatinya dalam hal itu tidak dosa, apalagi kalau kafir.

Ini adalah hal yang jelas, yang termasuk kebodohan adalah memperpanjang bahasan di sini dan berdebat di dalamnya. Namun demikian tidak ada halangan bagi saya untuk mengingatkan sebagian orang-orang jahil yang menuntut dalil atas hal itu; dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keberadaan Hilful Fudluul, dan ia adalah salah satu lembaga kuffar: “Andai saya diundang kepadanya dalam Islam tentu saya akan memenuhinya”, dan akan datang pembahasan hal ini.

Dan dengan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah Al Hudaibiyyah tentang kuffar Quraisy: “Mereka tidak meminta kepadaku syarat yang mana mereka di dalamnya mengagungkan hurumatillah melainkan saya memberikanny kepada mereka”.

Dan dengan apa yang beliau penuhi keinginan mereka kepadanya berupa syarat-syarat ma’luumah ma’rifah. Silahkan lihat dalam Al Bukhari (Kitab Asy Syuruth) Bab Asy Syuruth Fil Jihad, Wal Mashalahah Ma’a Ahlil Harbi, Wa Kitabatisy Syuruth.

Oleh sebab itu Syaikh Abdullathif ibnu Abdirrahman ibnu Hasan Alu Asy Syaikh berkata seraya mengkhithabi sebagian orang-orang yang tergesa-gesa di zamannya: “Dan telah sampai kepadaku bahwa kalian mentakwil firman-Nya ta’ala dalam surat Muhammad: “Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah:”Kami akan mematuhi kalian dalam beberapa urusan”, terhadap apa yang muncul dari penguasa hari ini berupa surat-menyurat, perdamaian dan mengadakan perjanjian dengan sebagian tokoh-tokoh sesat dan para raja yang musyrik dan mereka tidak melihat awal ayat, yaitu firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang setelah petunjuk itu jelas bagi mereka”. Serta mereka tidak memahami apa yang dimaksud dari mematuhi ini dan tidak mengerti maksud dari urusan yang ma’rifat lagi disebutkan dalam firman-Nya pada ayat yang mulia ini. Dalam kisah perdamaian Hudaibiyyah dan apa yang diminta kaum musyrikin serta apa yang mereka syaratkan dan juga persetujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya ada kadar cukup untuk membantah pemahaman kalian dan menggugurkan kebathilan kalian”. Dari Majmu’ah Ar Rasail wal Masaail An Najdiyyah, dan ini telah lalu.

Demikianlah… dan kami memiliki fatwa tentang bekerja di pemerintahan kafir yang telah dicetak dengan judul: Al Mashabih Al Munirah Fir Raddi ‘Ala Asilati Ahlil Jazirah.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s