Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 22 Tidak membedakan konsekuensi takfir antara kafir mumtani’ dengan kafir maqduur ‘alaih)

TIDAK MEMBEDAKAN DALAM KONSEKUENSI TAKFIR ANTARA KAFIR MUMTANI’ DENGAN KAFIR MAQDUUR ‘ALAIH

Di antara kekeliruan yang keji dalam takfir juga adalah tidak membedakan antara kafir mumtani’ dengan kafir maqduur ‘alaih dan menyamaratakan antara keduanya dalam penghalalan harta dan darah tanpa istitabah.

Dan ia adalah apa yang dilakukan sebagian kaum ghulat berupa takfir kaum mustadl’afin dari kalangan ‘awamul muslimin dalam hal-hal yang ihtimal atau yang serupa itu, tanpa tabayyun atau pengamatan atau istitabah dan peninjauan akan syuruth dan mawani’, akan tetapi justru memperlakukan mereka langsung seperti perlakuan terhadap kaum mumtani’iin dengan cara penghalalan darah dan harta mereka.

Al imtina’ (penolakan) itu datang dengan dua makna:

  1. Imtina’ dari mengamalkan syari’at baik sebagian atau secara total.
  2. Imtina’ (penolakan diri) dari qudrah (penguasaan/kemampuan), yaitu dari kemampuan kaum muslimin untuk memberhentikannya dan mengadilinya.

Dan tidak ada talazum (kemestian keterkaitan) antara kedua macam ini, bisa saja mumtani’ (orang yang menolak) dari mengamalkan syari’at ini atau sebagiannya dia itu maqduur ‘alaih (mudah ditangkap) di Darul Islam, seperti orang yang mumtani’ (menolak) mengerjakan shalat atau zakat sedangkan ia itu satu orang maqduur ‘alaih di Darul Islam.

Sedangkan imtina’ yang menggugurkan kewajiban istitabah adalah imtina’ dari kemampuan kaum muslimin. Dan  makna istitabah adalah mencakup permintaan taubat terhadap orang yang divonis murtad, dan mencakup juga mencari kejelasan syuruth dan mawani’ sebelum divonis murtad, dan inilah yang di maksud di sini.

Dan dari sini engkau mengetahui bahwa ungkapan para fuqaha yang sering datang dalam kitab-kitab fiqh dan yang lainnya: (Siapa yang mengatakan atau melakukan hal ini maka dia diistitabah…..), bahwa ia tidak selalu bermakna bahwa orang yang ditunjuk itu telah kafir dan diminta taubat darinya, akan tetapi terkadang dimaksudkan bahwa telah muncul darinya perbuatan atau ucapan mukaffir dan wajib mencari kejelasan keadaannya, yaitu cari kejelasan syuruth dari mawani’ padanya.

Dan setelah istitabah ini, bisa jadi ia dihukumi keterbebasannya dari kekafiran karena tidak terpenuhinya satu syarat dari syarat-syarat takfir atau tegaknya satu penghalang dari mawani’ (penghalang-penghalang) takfir padanya. Dan bisa jadi dihukumi murtad bila semua syarat terpenuhi dan semua penghalang tidak ada, maka kemudian diminta taubat darinya. Dan ini adalah macam yang kedua dan yang terakhir dari macam istitabah yang ada sebelum penegakan had riddah atasnya.

Oleh karena itu, tidak halal tergesa-gesa dalam mengambil semacam ungkapan-ungkapan ini dan melontarkannya atau menetapkan sebagian konsekuensi-konsekuensinya pada manusia tanpa melihat maksud ahlul ilmi di dalamnya, dan wajib diingat bahwa maqduur ‘alaih dari manusia tidaklah seperti orang mumtani’ dalam hal ini.

Al Maqduur ‘Alaih: tidak menolak untuk tunduk mengikuti hukum Allah dan syari’at-Nya dan tidak menolak dari tunduk kepada kekuasaan kaum muslimin, serta tidak melindungi diri dengan kekuasaan orang-orang kafir, kekuatan mereka, negara mereka dan undang-undang mereka.

Adapun Al Mumtani’: Ia adalah yang menolak (dengan melindungi diri) dengan Darul Kufri, di mana dia bergabung dengan negara itu terus melindungi diri dengan kekuatan penduduknya yang harby atau dengan negaranya, di mana ia menolak dari tunduk kepada pemerintah kaum muslimin dan kaum muslimin tidak memiliki keleluasaan untuk menegakan hukum Allah terhadapnya, atau melindungi diri dengan kelompok dan kekuatan di antara kaum muslimin yang mana (kekuatan atau kelompok itu) menghalangi (melindungi)nya dari kaum muslimin dan hukumnya. Maka orang semacam ini hukumnya adalah hukum ahlul harby, boleh dibunuh, diperangi dan diambil hartanya bagi orang yang mampu melakukannya tanpa istitabah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Sanksi-sanksi yang syari’at datang dengannya untuk orang yang maksiat kepada Allah dan RasulNya ada dua macam:

Pertama: Sanksi buat maqduur ‘alaih baik satu orang atau berbilang.

Kedua: Sanksi buat thaifah mumtani’ah (kelompok yang melindungi diri dengan kekuatan), seperti yang tidak bisa diatasi kecuali dengan qital (perang)). Majmu Al Fatawa Terbitan Daar Ibnu Hazm 28/193

Dan masuk dalam hukum orang-orang yang menolak dari tunduk kepada kekuatan kaum muslimin dan dari tunduk kepada syari’at Islam pada zaman ini adalah para thaghut yang menelantarkan hukum-hukum Allah yang membuat lagi menerapkan undang-undang buatan (manusia) yang kafir, anshar mereka dan tentara mereka yang membantu mereka (untuk membungkam) kaum muslimin dan mendukung undang-undang mereka, mengokohkan kekuasaannya, melindunginya serta menolak dari mengikuti hukum-hukum syari’at. Mereka itu menggabungkan antara dua macam imtina’; imtina’ dari (menerima) syari’at dan imtina’ dari qudrah karena mereka adalah tergolong orang-orang yang paling dahsyat persekongkolannya terhadap Islam dan pemeluknya.

Syaikhul Islam berkata dalam fatwanya yang masyur tentang Tartar: (Setiap kelompok yang keluar dari ajaran-ajaran Islam yang dhahir lagi mutawatir, maka sungguh wajiblah memeranginya dengan kesepakan kaum muslimin, walaupun mereka itu mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian bila mereka mengakui dua kalimat syahadat dan menolak dari shalat yang lima waktu maka wajib memerangi mereka sampai mereka shalat, dan bila menolak dari zakat maka wajib memerangi mereka sampai menunaikan zakat….). Sampai ucapannya: (Dan begitu juga bila mereka menolak dari memutuskan dalam hal darah, harta, kehormatan, kemaluan dan yang lainnya dengan hukum Al KItab dan As Sunnah, dan begitu juga bila menolak dari al amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil mungkar dan (dari) menjihadi orang-orang kafir sampai mereka masuk Islam dan membayar jizyah dari tangan langsung sedang mereka dalam menghinakan diri….Allah ta’ala berfirman:

Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan ketundukan (dien) itu seluruhnya bagi Allah.” (Al Anfal: 39)

Bila sebagian dien (ketundukan) bagi Allah, sedangkan sebagiannya lagi untuk selain Allah, maka wajib diperangi sampai dien seluruhnya bagi Allah….) 28/278-279 (Terbitan Daar Ibnu Hazm)

Hingga akhir fatwanya dan di dalamnya beliau menjelaskan bahwa memerangi mereka itu bukan sejenis memerangi bughat yang muslim, akan tetapi tergolong jenis orang-orang murtad yang diperangi Abu Bakar Ash Siddiq.

Dan beliau berkata: (Bila saja salaf telah menamakan orang-orang yang menolak (bayar) zakat sebagai kaum murtaddin – padahal mereka itu shaum dan shalat serta tidak memerangi Jama’atul Muslimin – maka apa gerangan dengan orang yang bersama musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya seraya memerangi kaum muslimin?!) 28/289.

Adapun Al Maqduur ‘Alaih, maka yang wajib adalah istitabah dia sebelum dihukumi kafir yaitu wajib melihat pada syarat-syarat takfir dan mawani’nya dalam orang itu. Apakah ada penghalang takfir atau syaratnya tidak terpenuhi, kemudian bila telah terbukti vonis kafir terhadapnya maka ia tidak dibunuh dan masih memegang kepemilikan akan hartanya sehingga ia diajak bertaubat dan kembali kepada Islam. Dan ini adalah macam kedua dari istitabah[1], serta kepemilikannya tidak lenyap sehingga dibunuh sebagai orang murtad, karena ada kemungkinan dia kembali kepada Islam[2].

Dan masuk di bawah hukum al maqduur ‘alaih adalah kaum tertindas dari kalangan ‘awanul muslimin pada zaman ini bila mereka tidak menolak syari’at dengan perlindungan kekuasaan kaum murtaddin dan tidak pula dengan undang-undang mereka yang dililitkan di leher manusia, tidak juga meminta pertolongan kepada kaum murtaddin atau membantu mereka atas kaum muwahhidin, maka apa gerangan bila mereka itu menjauhi para thaghut dan kemusyrikannya lagi merealisasikan firmanNya ta’ala:

“Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut” (An Nahl: 36)?

Maka tidaklah halal menyetarakan mereka sedangkan keadaannya seperti itu dengan kaum muharibun yang menolak syari’at dengan kekuatan dari kalangan murtaddin dan anshar mereka yang menguasai kendali pemerintahan di negeri kaum muslimin. Sehingga bila muncul dari sebagian mereka ucapan atau perbuatan mukaffir karena kejahilan atau kekeliruan atau takwil sesuai dengan rincian yang telah kami ketengahkan kepadamu di pasal syuruth dan mawani’ takfir, maka tidak boleh bersegera untuk mengkafirkan mereka sebelum istitabah yaitu iqamatul hujjah dan meninjau pada syuruth dan mawani’, dan telah lalu ucapan Syaikhul Islam: (Dan adapun orang yang belum tegak hujjah atasnya, seperti keberadaan dia baru masuk islam, atau tumbuh di pedalaman yang jauh yang mana ajaran-ajaran Islam belum sampai di sana dan yang lainnya, atau keliru di mana dia mengira bahwa orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dikecualikan dari pengharaman khamr, sebagaimana telah keliru dalam hal itu orang-orang yang diistitabah oleh Umar, dan yang serupa itu, maka sesungguhnya mereka diistitabah dan ditegakan hujjah atas mereka, kemudian bila mereka bersikeras maka mereka kafir saat itu, dan tidak boleh dihukumi kafir sebelum itu. Sebagaimana para sahabat tidak menvonis kafir Qudamah Ibnu Madh’un dan para sahabatnya tatkala keliru dalam masalah yang mana mereka keliru di dalamnya karena takwil) Majmu Al Fatawa 7/609-610.

Maka tidak halal sedangkan keadaannya seperti itu apa yang dilakukan banyak orang-orang jahil yang ngawur, berupa upaya memburu orang lemah dari kalangan ‘awanul muslimin yang menampakan keislaman untuk mereka uji dengan pertanyaan dalam bab-bab yang mana mereka mengkafirkan dengannya. Mereka tidak peduli bila hal itu tergolong hal-hal yang muhtamal atau tergolong hal-hal yang dianggap sulit oleh para pakar dalam bab-bab takfir bil ma-aal, atau tergolong hal yang tidak dikafirkan dengannya kecuali setelah iqamatul hujjah, sebagaimana mereka tidak peduli dengan keberadaan buruan itu termasuk kaum mustadl’afun yang tidak memiliki daya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), atau tergolong orang yang loyalitas dan perasaannya tertuju pada dien ini dan pemeluknya, namun terjatuh dalam sebagian kekeliruan yang mana orang jahil diudzur di dalamnya. Tujuan utama orang-orang ngawur itu adalah mencari-cari kesalahan bukan menanggulanginya untuk meloncat langsung kepada takfir kemudian penghalalan darah dan menjarah hartanya….dan terkadang penumpamaan darah. Mereka tidak menghiraukan syuruth takfir atau memperhatikannya atau meninjau pada mawani’nya, bahkan di antara mereka ada yang belum pernah mendengar sesuatupun darinya. Kemudian bersama ini semua di antara mereka ada yang menjadikan perbuatan ini tergolong i’dad dan jihad fi sabilillah ta’ala

Seandainya mereka itu memang para pendekar mujahid sebenarnya, tentulah mereka tampil ke depan untuk menjihadi musuh-musuh Allah yang memerangi dienullah dan syari’at-Nya, atau (menjihadi) orang-orang yang melindungi diri (saat menolak syari’at) dengan mereka, dengan kekuatan mereka dan dengan undang-undang kafirnya dari kalangan anshar, auliya dan kroni-kroninya….kalau demikian tentulah Allah cukupkan mereka dari karunia-Nya dan tentu mereka mendapatkan di sana ghanimah yang banyak.

Dan bila mereka tidak kuasa akan hal ini, maka kenapa mereka tidak menyibukkan diri dengan mendakwahi orang-orang yang tertindas lagi biasanya tidak menolak syari’at, dan berupaya dalam menyebarkan jalan-jalan hidayah kepada mereka sampai Allah menguatkan mereka dan menolong mereka untuk menjihadi kaum mumtani’iin.

Karena sesungguhnya Allah – sebagaimana dikatakan Umar Ibnu Abdil Aziz – telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemberi jalan petunjuk dan tidak mengutusnya sebagai pemungut harta.

Sungguh saya telah melihat dari kalangan kaum ghulat yang jahil di Pakistan, orang yang mencuri dan merampas harta anak-anak yatim kaum muslimin, kaum faqir mereka, orang-orang yang hijrah di antara mereka, bahkan para mujahidnya dengan dalih bahwa hukum asal pada manusia adalah kufur, karena negerinya adalah negeri kufur….atau karena mereka tidak mengkafirkan orang-orang kafir yang dikafirkan oleh para ustadz itu!!! kemudian mereka mulai berani membunuh sebagian muwahhidin yang menyelisihi mereka dalam hal itu, di mana mereka tumpahkan darahnya dengan dalih-dalih yang lemah dan syubhat-syubhat yang kosong.

Dan telah kami ketengahkan kepada anda apa yang dinukil Al Qadli ‘Iyadl dari Al Qabisiy: (Dan darah tidak ditumpahkan kecuali dengan hal yang jelas…) 2/262 Asy Syifa. Sedangkan kehati-hatian mereka itu adalah dalam perwalian peradilan saat ada tamkin dan kekuatan….maka apa gerangan dalam kondisi orang-orang itu???

Sungguh telah memberi kabar kepada saya di penjara orang yang telah menyesal dari sebagian orang-orang yang ngawur itu, bahwa mereka menyetop taksi malam di hari di jalan umum tanpa mereka mengenal pemiliknya, seraya mereka menyembunyikan senjatanya, kemudian mereka menguji si pengemudi dengan cara mereka meminta dari dia untuk mengantar mereka ke bar untuk membeli khamr…kemudian bila dia menyetujuinya, atau mengatakan ucapan yang bersifat basa-basi di dalamnya terhadap mereka, mereka tidak menasihatinya atau memberikan wejengan terhadapnya, mereka tidak bertanya kepada mereka untuk menasihatinya, akan tetapi untuk menghanimah hartanya dan membunuhnya setelah dibawa ke tempat sepi terus menjadikan hasil usahanya sebagai salb (harta rampasan perang). Begitulah mereka mencukupkan diri dengan pertanyaan jebakan….mereka menerapkan, menghukumi dan mengeluarkan dari dien, terus menghanimah….!!

Padahal apa yang mereka tanyakan kepada dia dan apa yang dia lakukan berupa mengantar mereka kepadanya adalah maksiat dan kerjasama atas dosa dan permusuhan, serta ia bukan perbuatan mukaffir baik yang bersifat yaqin atau ihtimal. Termasuk andaikata muncul darinya suatu yang mukaffir, maka sesungguhnya perampasan harta itu dilakukan setelah beberapa tahapan, terutama bila orang itu tidak mumtani’. Ibnul Mundzir telah menuturkan ijma bahwa orang murtad itu tidak lenyap kepemilikannya dengan sekedar riddah saja,[3] namun itu hanyalah dilakukan setelah dia dibunuh atau mati, sedangkan sebelum itu maka ada istitabah dan kemungkinan rujuk. Ini adalah berkenaan dengan orang yang mengganti diennya dan pindah ke agama lain, sebagaimana ia yang dikenal di kalangan para fuqaha saat mereka melontarkan istilah riddah. Maka bagaimana dengan orang-orang kafir takwil dari kalangan yang komitmen dengan ajaran-ajaran Islam, tidak pernah melepaskan diri darinya sama sekali, tidak memeranginya, tidak memerangi pemeluknya atau mendukung musuh-musuh mereka, dan bila mereka dikafirkan maka mereka mengingkari hal itu, berlepas diri darinya atau menyebutkan takwil-takwil mereka dan udzur-udzurnya. Dan orang yang mengkafirkan mereka hanyalah mengkafirkannya dengan ijtihad yang bisa benar dan bisa salah. Maka apakah keterjagaan darah dan harta bisa dihalalkan dan darah ditumpahkan dengan hal seperti ini??

Dan bila saja orang-orang ngawur itu hanyalah bertanya untuk supaya mereka menunggu pengingkaran darinya agar setelah itu mereka mempersilakan bagi pemahaman mereka yang luas!! kemudian mereka menghalalkan darah dan hartanya. Mereka itu telah memperdayanya sebelum itu saat mereka merubah penampilan mereka dan mencukur jenggotnya serta mereka tidak menyisakan satupun dari ciri ahlud dien pada diri mereka, kemudian mereka menjebaknya agar dia menjawab pertanyaan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan; dengan permintaan mereka dan dengan arahan mereka serta apa yang mereka tunggu berupa pengingkarannya. Jarang sekali orang yang mengemukakannya pada hari ini kecuali orang-orang yang asing yang berpegang teguh pada dien mereka dengan kuat. Adapun orang-orang awam yang jahil yang menghabiskan hidup mereka dengan merangkak di belakang sesuap nasi dengan sebab sikap mempersulit yang diterapkan para thaghut terhadap manusia dalam hal rizki dan kehidupan mereka, di mana dominan atas mereka sikap mujamalah dan mudahanah, bahkan banyak di antara mereka tidak peduli dengan usaha harta yang haram. Dan ini saja tidak cukup untuk takfir, apalagi untuk menghalalkan harta dan darahnya.

Dan seandainya saat mereka naik mobil bersamanya, dia melihat pada mereka penampilan orang beragama dan shalih dan mereka mengajaknya untuk keluar bersama mereka sebagaimana yang dilakukan orang-orang jama’ah tabligh, tentulah ia menjanjikan kepada mereka hal baik atau tentu dia keluar. Andaikata saja mereka bertanya kepadanya pertanyaan agama tentulah ia berbasa-basi juga kepada mereka dengan gelora agama dan semangat serta seolah ia adalah Syaikhul Islam dan mufti negeri.

Bukan seperti ini dalil dipahami dan bukan seperti ini cara tatsabbut dan tabayyun, serta bukan seperti ini dipastikan hukum-hukum syar’i yang dengannya dihalalkan darah dan harta, terutama dalam payung merebaknya kejahilan dan lemahnya ilmu dan ulama.

Dan sikap dungu ini tidak dilegalkan dengan gelora agama para pemuda itu atau klaim mereka bahwa mereka menginginkan dengan harta itu i’dad untuk menjihadi para thaghut atau klaim-klaim lainnya baik benar atau dusta. Karena Allah subhanahu wa ta’ala  itu Thayyib lagi tidak menerima kecuali yang thayyib, dan wasilah itu wajib dengan wasilah yang disyari’atkan lagi bersih dan suci sebagaimana halnya tujuan bagi kaum muslimin.

Kemudian para pemuda itu setelah itu ditangkap dalam kasus-kasus perampasan dan pencurian yang bermacam-macam sedang mereka itu telah menampakkan keshalihannya dan memanjangkan jenggotnya, sehingga mereka itu telah menjadi bahan perolok-olokan para musuh Allah yang mereka manfaatkan untuk mencoreng dien ini dan para pemeluknya serta celaan terhadap jihad lewat koran-koran mereka yang busuk. Sungguh saya telah melihat mereka dijebloskan ke dalam sel para pencopet, sedangkan para sipir melecehkan dan memperolok-olok mereka, serta meragukan keshalihan mereka, bahkan mereka menasihatinya dalam kasus-kasus yang mereka langgar.

Dan sungguh hal yang paling mengherankan adalah

Kambing yang mengajarkan halal dari yang haram kepadaku.

Kemudian setelah lama saya melihat sebagian mereka telah terpuruk atau hamper, tidak karuan, dan melontarkan ungkapan-ungkapan yang berisi keluh kesah dan protes terhadap ketentuan Allah karena lemahnya penjara dan lambatnya kebebasan. Kami memohon ampunan, ‘afiyah dan hidayah kepada Allah subhanahu wa ta’ala bagi para pemula kaum muslimin.

Faidah: Dan di antara hal yang layak disertakan dan diingatkan pada bahasan ini adalah membedakan antara riddah mujarradah yang mana pelakunya diistitabah, dengan riddah mughalladhah yang tidah ada istitabah di dalamnya.

Dan hal itu sesungguhnya riddah sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Thaimiyyah dalam Ash Sharimul Maslul hal 366 dan yang sesudahnya: (terbagi dua macam, riddah mujarradah dan riddah mughalladhah yang mana hukum bunuh telah disyari’atkan  secara khusus baginya, dan masing-masing dari keduanya telah tegak dalil atas wajib membunuh pelakunya. Dan dalil-dalil yang menunjukkan gugurnya hukum bunuh dengan taubat adalah tidak mencakup kedua macam ini, namun hanya menunjukkan kepada bagian pertama, sebagaimana hal itu nampak bagi orang yang mengamati dalil-dalil yang menunjukkan diterimanya taubat orang murtad. Sehingga tinggallah bagian kedua dan dalil telah tegak atas kewajiban membunuh pelakunya. Dan tidak ada nash maupun ijma yang menggugurkan hukum bunuh darinya. Sedangkan qiyas tidak bisa dilakukan kerena adanya perbedaan yang nampak sehingga gugurlah upaya mengikutkannya. Dan yang membenarkan jalan ini adalah bahwa tidak datang baik dalam Kitab, Sunnah maupun ‘Ijma suatu yang menunjukkan bahwa setiap orang yang murtad dengan macam ucapan atau perbuatan apapun bahwa hukum bunuh digugurkan darinya bila dia taubat setelah dikuasainya. Justru Al Kitab, A Sunnah dan Al Ijma telah membedakan antara macam-macam kaum murtaddin sebagaimana yang akan kami sebutkan. Akan tetapi, sebagian orang menjadikan riddah dengan pendapatnya hanya satu jenis dengan beraneka ragam macamnya dan mengqiyaskan yang sebagian kepada sebagian yang lain. Kemudian bila tidak ada bersamanya keumuman yang besifat ucapan yang mencakup macam-macam kaum murtaddin, maka tidak tersisa kecuali qiyas, sedangkan qiyas ini adalah rusak bila cabang menyelisihi pokok dengan sifat yang punya pengaruh dalam hukum, sedangkan telah menunjukkan terhadap pengaruhnya nash syar’i dan pengingatannya, serta munasabah yang mencakup mashlahat mu’tabarah.

Pembuktian ini dari tiga sisi:

Pertama : Sesungguhnya dalil-dalil diterimanya taubat orang murtad tidak terkandung di dalamnya kecuali taubat orang kafir setelah dia beriman saja, tidak mencakup orang yang menambahkan penindasan dan pendatangan bahaya di samping kekafirannya, seperti firman-Nya:

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya Ialah: bahwasanya la’nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la’nat Para Malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan.” (Ali Imran: 86-89)

Dan firmanNya ta’ala:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman“ (An Nahl: 106)

Dan ayat-ayat lainnya, di mana di dalamnya tidak ada pernyataan kecuali penerimaan taubat orang yang kafir setelah beriman saja, tanpa menambahkan sikap menyakiti dan membahayakan di samping kekafirannya. Dan begitu juga sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah mengandung faidah diterima taubatnya orang yang riddahnya mujarradah saja. Begitu pula sunnah Al Khulafah Ar Rasyidin hanyalah menunjukkan diterimanya taubat orang yang riddahnya mujarradah dan memerangi setelah dia murtad seperti peperangan kafir ahsliy di atas kekafirannya. Oleh sebab itu, siapa yang mengklaim bahwa dalam al ushul ada yang mencakup (diterimanya) taubat setiap orang yang murtad baik riddahnya mujarradah maupun mughalladhah dengan bentuk apapun maka dia telah keliru. Dan dengan demikian telah tegaklah dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban membunuh orang yang menghina (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan bahwa dia itu murtad, dan ushul (kaidah-kaidah inti) tidak menunjukkan bahwa orang seperti dia gugur darinya hukum bunuh (qatl), sehingga wajib membunuhnya dengan (landasan) dalil yang selamat dari yang menentangnya[4].

Ke dua : Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan telah datang kepada mereka? Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah bahwasanya laknat Allah dilimpahkan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan  diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat.” (Ali Imran: 86-90)

Allah ta’ala mengabarkan bahwa orang yang bertambah kekafirannya setelah dia beriman tidak akan diterima taubatnya, dan Dia membedakan antara kekafiran yang bertambah kekafirannya dengan kekafiran mujarrad dalam hal diterimanya taubat dari yang kedua, tidak dari yang pertama. Siapa yang mengklaim bahwa setiap orang yang kafir setelah keimanan diterima taubat darinya, maka ia telah menyelisihi nash Al Quran[5].

Dan ayat ini bila dikatakan di dalamnya bahwa penambahan kekafiran yang digeluti itu adalah sampai kematian, dan bahwa taubat yang dinafikan itu adalah taubatnya saat ghargharah (nyawa sampai di kerongkongan) atau di hari kiamat, maka ayat itu lebih umum dari itu.

Kita telah melihat sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara dua macam (riddah), beliau menerima taubat jama’ah dari kaum murtaddin, kemudian beliau memerintahkan untuk membunuh Shababah pada hari futuh Mekah tanpa istitabah tatkala menambahkan pada riddahnya pembunuhan orang muslim, mengambil harta, dan tidak taubat sebelum ditangkap. Beliau juga memerintahkan untuk membunuh Al ‘Uraniyyiin tatkala menggabungkan macam hal itu terhadap kemurtaddannya. Begitu juga beliau memerintahkan untuk membunuh Ibnu Khathal tatkala menggabungkan pada riddahnya hinaan dan membunuh orang muslim, dan memerintahkan untuk bunuh Ibnu Abi Sarah tatkala menggabungkan pada riddahnya celaan terhadap beliau dan mengada-ada. Dan bila Al Kitab dan As Sunnah telah menetapkan dua hukuman bagi kaum murtaddin dan kita melihat bahwa orang yang mencelakakan dan menyakiti dengan riddahnya dengan gangguan yang mengharuskan hukum bunuh, tidak gugur hukum bunuh darinya bila dia taubat setelah berada dalam genggaman. Meskipun dia taubat secara muthlak, berbeda dengan yang sekedar merubah agamanya saja, maka tidak benarlah pendapat yang mengatakan diterimanya taubat orang murtad secara muthlak. Sedangkan orang yang menghina Rasulullah adalah tergolong macam yang tidak wajib diterima taubatnya, dan dikarenakan orang murtad itu hanyalah kita bunuh dengan sebab tetapnya dia di atas penggantian agama sehingga bila dia kembali kepada dien yang haq maka penghalal darahnya telah lenyap sebagaimana penghalal darah orang kafir asli lenyap dengan sebab dia masuk Islam. Sedangkan orang yang menghina (Allah dan Rasul-Nya) adalah telah mendatangkan sikap menyakiti Allah dan Rasul-Nya yang dia datangkan sedangkan dia ini tidak dibunuh karena tetapnya dia di atas perbuatan itu, karena sesungguhnya hal itu adalah tidak mungkin, maka jadilah hukum bunuh bagi dia seperti membunuh orang yang memerangi dengan tangan.

Dan secara umum, siapa yang riddahnya berbentuk muharabah terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya dengan tangan atau lisan maka sunnah yang menafsirkan Al Kitab telah menunjukkan bahwa dia itu telah kafir dengan kekafiran yang berlipat yang tidak diterima taubat darinya.

Ke tiga : Sesungguhnya riddah bisa kosong dari celaan atau hinaan, sehingga tidak mengandungnya dan tidak memestikan adanya sebagaimana riddah itu bias kosong dari sikap membunuh kaum muslimin dan perampasan harta mereka, karena celaan dan hinaan adalah sikap berlebihan dalam permusuhan dan keterlaluan dalam penentangan yang sumbernya kedunguan yang dahsyat dari orang kafir serta upaya kerasnya untuk merusak dien ini dan membinasakan pemeluknya….)

Hingga ucapannya hal 370: (Dan tujuan di sini adalah bahwa sebagaimana riddah itu kosong dari hinaan, maka begitu juga bisa kosong dari maksud mengganti dien dan dari keinginan mendustakan risalah. Sebagaimana kekafiran Iblis itu kosong dari maksud rububiyyah, meskipun tidak adanya maksud ini tidak bermanfaat bagi dia sebagaimana tidak manfaat bagi orang yang mengucapkan kekafiran sikap dia tidak bermaksud untuk kafir…)

Hingga ucapannya hal 371: (Dan kesimpulan sisi ini adalah bahwa keterjagaan darah orang ini[6] dengan taubat sebagai pengqiyasan terhadap orang murtad adalah tidak bisa dilakukan karena keberadaan perbedaan yang berpengaruh. Sehingga orang murtad yang pindah ke agama lain dengan orang yang mendatangkan ucapan yang membahayakan kaum muslimin dan menyakiti Allah dan Rasul-Nya sedang ia memestikan kekafiran adalah dua macam di bawah jenis orang yang kafir setelah keislamannya. Dan taubat telah disyari’atkan (untuk diterima) bagi macam pertama, namun tidak mesti disyari’atkan (penerimaan) taubat bagi macam kedua karena keberadaan perbedaan dari sisi membahayakan dan dari sisi bahwa mafsadahnya tidak lenyap dengan diterimanya taubat).

Dan kesimpulannhya adalah: Sesungguhnya sebagaimana wajib membedakan antara orang yang kafir mumtani’ dengan kafir ghair mumtani’ dalam hal wajibnya istitabah yang terakhir dan tidak yang pertama, maka begitu juga mesti diingatkan akan wajibnya membedakan antara riddah mujarradah  dengan riddah yang makin bertambah lagi mughalladhah. Dalam wajibnya istitabah orang yang riddahnya mujarradah serta kewajiban kembalinya ‘ismah dan keterjagaan darahnya dengan rujuknya dia kepada Islam, dan ketidakwajiban hal itu pada orang yang riddahnya mughalladhah, termasuk andaikata ia taubat dan rujuk kepada Islam sebelum dibunuh tetap saja hal itu tidak melindungi darahnya dan hukum bunuh tidak gugur darinya, karena keterkaitan hukum bunuh dengan hal-hal yang lebih dari sekedar riddah dan penggantian dien, seperti menghina Rasulullah, membunuh muslim, zina muhshan dan hal serupa itu berupa hudud yang tidak gugur dengan taubat karena keterkaitan hak-hak manusia dengannya. Dan ini di antara hal yang membedakan antara orang murtad dengan orang kafir asliy sebagaimana hal ini dijelaskan Syaikhul Islam dalam banyak tempat di Ash Sharim.

Dan dari ini engkau mengetahui perbedaan juga antara hukum bunuh karena riddah dengan hukum bunuh karena had. Yang kedua berlaku atasnya hukum-hukum kaum muslimin setelah dibunuh, di mana ia dimandikan, dishalatkan, dikubur di pekuburan kaum muslimin, dan hartanya diwariskan kepada keluarganya, berbeda dengan yang pertama, di mana diberlakukan terhadapnya hukum-hukum orang kafir.


[1] Dalam hal ini Syaikhul Islam membedakan dalam Ash Sharimul Maslul antara riddah mujarradah (riddah biasa) dengan riddah mughalladhah. Beliau berpendapat tidak ada istitabah bagi orang yang murtad dengan riddah mughalladhah dan kekufuran yang berlapis…dan ini akan datang…

[2] Lihat Al Mughni (Kitabul Murtad) pasal: Dan kepemilikan orang murtad tidak dihukumi hilang dengan sekedar riddah…

[3] Lihat rujukan yang tadi.

[4] Jelas bahwa makna tidak diterima taubatnya yaitu bahwa taubatnya tidak melindungi darahnya dan tidak menggugurkan hukum bunuh darinya. Oleh sebab tidak disyaratkan istitabah orang yang riddahnya mughalladhah lagi bertambah. Adapun kembalinya kepada Islam bila ia kembali maka tidak seorang pun menghalangnya, dan begitu juga penerimaan taubatnya di sisi Allah bila ia taubat maka tidak seorang pun mampu menghalanginya dari dia. Sebagaimana hal itu dijelaskan Syaikhul Islam dalam banyak tempat dari Ash Sharim, dan akan datang pengisyaratan kepadanya dari ucapan beliau di tempat ini. Oleh sebab itu siapa yang menampakkan hal itu sebelum dibunuh maka ia tidak dibunuh sebagai hukuman riddah, tapi dibunuh sebagai had atas sikap taghlidh dan penambahannya dalam kemurtaddannya berupa hinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau membunuh orang yang terjaga darahnya atau hal serupa dengannya.

[5] Yaitu bahwa ia mencakup hukum-hukum dunia yang mana Syaikh berbicara tentangnya dan hukum-hukum akhirat yang dituturkan para ahli tafsir dalam makna tidak diterimanya taubat orang yang mati di atas riddahnya atau orang yang mati saat ghargharah.

[6] Yaitu orang yang menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan orang murtad dengan riddah berlapis lagi mughalladhah.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s