Al Ghuluw Fit Takfier(Seri ke 19 Mencapur Adukan Antara Tawalli Mukaffir Dengan Taqiyyah Yang Boleh)

Mencapur  Adukan  Antara  Tawalli  Mukaffir   Dengan   Taqiyyah   Yang   Boleh

Termasuk kekeliruan yang sering terjadi dalam hal takfir juga adalah   mencampur  adukan  antara  tawalli  mukaffir   dengan taqiyyah  yang boleh.

Tawalli Mukaffir adalah: Membela orang-orang kafir dan mendukung  mereka atas kaum muwahhidin dengan lisan atau dengan senjata, atau (mencintai\mengikuti\menyetujui) kekafiran dan kemusyrikan mereka, serta membantu mereka atas kekafirannya itu. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman  tentangnya:

Dan siapa yang tawalli kepada mereka  di antara kalian, maka sesunguhnya  dia adalah termasuk gologan mereka” (Al Maidah: 51)

Adapun Taqqiyyah adalah boleh bagi orang muslim bila takut terhadap orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kecuali karena (siasat memelihara diri dari sesuatu dari mereka”  (Al Imran: 28)

Dan ia adalah sikap hati–hati dari orang-orang kafir dengan menyembunyikan sikap permusuhan, dan bersikap lembut terhadap mereka saat takut terhadap mereka dengan syarat dia tidak membatu mereka atas kekafiranya atau tawalli terhadap mereka atau melakukan sesuatu dari hal-hal yang membuatnya kafir.

Ia adalah rukhshah bagi orang muslim mustadl’af (yang tertindas) sehinga tidak halal mencela pada diennya atau menuduh dia munafiq karenanya atau mengkafirkannya karena sekadar taqiyyah, serta (tidak halal) mengharuskan dia untuk menampakan permusuhan terhadap orang-orang kafir dan menghantam musuh-musuh Allah sebagai syarat keabsahan islamnya.

Menampakan permusuhan meskipun ia adalah yang paling sempurna dan paling utama dan ia adalah sifat Ath Thaifah Al Manshurah yang  menegakkan  dien Allah, akan tetapi ia tidak wajib atas setiap orang, apalagi orang-orang mustadl’af. Dan cukuplah bagi orang-orang mustadl’afin itu dari sikap permusuhan tersebut keberadaan intinya di dalam hati, dan selama mereka tidak membatalkan dengan perbuatan yang mengkafirkannya seperti tawalli atau yang  lainnya, maka tidak halal mengkafirkan mereka itu dengan sekadar  taqiyyah, karena taqiyyah itu bukkanlah muwalah (loyalitasa).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: (Dan sudah maklum bahwa tuqah (taqiyyah) itu bukanlah muwalah, akan tetapi tatkalah Allah melarang mereka dari muwalatul kuffar, maka hal itu menuntut untuk memusuhi mereka, bara’ dari mereka dan terang-terangan menyatakan permusuhan terhadap mereka dalam setiap keadaan, kecuali bila mereka takut dari keburukan (kejahatan) mereka, maka Allah membolehkan bagi mereka taqiyyah, sedangkan taqiyyah itu bukan muwalah) Badaaiul Fawaid 2\69.

Dan di antara bukti yang menunjukan bahwa taqiyyah ini bukan muwalah mukaffirah adalah bahwa taqiyyah boleh (dilakukan) dengan sekedar rasa takut tanpa ada ikrah (pemaksaan). Sedangkan menampakkan tawalli (muwallah mukaffirah) tidak boleh dilakukan  kecuali dengan adanya ikrah haqiqi (sebenarnya). Dan rasa takut juga bukan udzur (alasan) dalam tawalli, oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala mengingkarinya terhadap orang beralasan denganya setelah firman-Nya:

Dan siapa yang tawalli kepada mereka di antara kalian, maka sesunguhnya dia adalah termasuk golongan mereka(Al Maidah:51)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala  berirman:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafiq) bersegera mendekati mereka (yahudi dan nashrani). Seraya berkata “Kami takut akan mendapatkan bencana “Mudah-mudahan Allah akan mendatakan kemenangan (kepada Rasulullah) atau suatu keputusan dari sisinya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka” (Al Maidah: 52)

Allah subhanahu wa ta’ala mensifati bahwa di dalam hati mereka ada penyakit, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan kekafiran mereka dengan binasanya (hapusnya) seluruh amalan mereka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Rusak binasalah segala amal merekah,lalu mereka menjadi orang yang merugi“ (Al Maidah: 53)

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menjadikan takut -yang mana ia adalah bukan ikrah– sebagai udzur (alasan) dalam menampakan tawalli, berbeda dengan taqiyyah.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bariy di awal kitab Al Ikrah saat Al Bukhariy menyebutkan perkataan Al Hasan Al Bashriy secara mualaq: “Taqiyyah itu sampai hari kiamat”: (dan makna taqiyyah adalah hati-hati dari menampakkan apa yang ada di dalam diri berupa keyakinan dan yang lainnya terhadap orang lain).

Dan telah kami tegaskan kepada engkau dari Shahil Al Bukhariy dari Abu Ad Darda’: “Sesunguhnya kami bermuka manis di hadapan  mereka sedangkan hati kami melaknak mereka”. Dan di dalam atsar ini ada  isyarat pada wajibnya keberadaan sikap memusuhi orang-orang kafir di dalam hati saat taqiyyah karena lenyapnya ‘adaawah (permusuhan) secara total dan keberadaan lawanya yaitu mencintai mereka atau ajaran mereka adalah tergolong pembatal keimanan.

Jadi yang boleh ditinggalkan dalam kondisi taqiyyah adalah hanya penampakan dan pengutaraan ‘adawah, bukan meningalkan ‘adawah-nya itu. Syaikh Abdullatif Ibnu Abdurahman Alu Asy Syaikh berkata: (Dan masalah penampakan ‘adawah adalah berbeda dengan masalah adanya ‘adawah, yang pertama diudzur denganya saat takut dan lemah, berdasarkan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Kecuali karena (sesat) memelihara diri dari sesuatu ditakuti dari merek“ (Ali Imran: 28).

Sedangkan yang kedua adalah mesti ada, karena ia masuk dalam kufur terhadap thghut. Antara ia dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya dan talazum (hubungan timbal balik/keterkaitan) yang tidak lepas dari orang mukmin) Ar Rasail Al Mufidah.

Dan atas dasar ini maka tidak bolehlah mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk menampakan ‘adawah terhadap para thaghut dan para anshar mereka, mengumumkannya secara terang-terangan pada realitas sekarang dalam kondisi ketertindasan dan kalau tidak demikian berarti mereka bukan muwahidin dan bukan muslimin, sebagaimana yang di lontarkan oleh sebagian orang-orang yang ngawur.

Berapa banyak orang mukmin yang menyembuyikan imannya di Mekah pada masa Nabi subhanahu wa ta’ala. Bahkan di antara mereka ada orang yang di perintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan hal itu, sebagaimana dalam kisah keislaman Abu Dzar Al Ghifariy. Dan yang jadi bukti dalam kisah itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Abu Dzar rahasiakan hal ini dan pulanglah kamu ke negerimu, kemudian bila sampai kepadamu berita kemenangan kami, maka segeralah datang ……”

Bila ada sekelompok dari umat ini menegaskan idhharuddien (penampakan dien) dan terang-terangan (mendakwahkan) kebenaran, maka mereka telah menanggung beban kewajiban atas umat ini, dan hal itu tidak wajib atas setiap orang, apalagi dengan menjadikan hal itu sebagai syarat sah keislamannya.

Namun yang menjadi syarat itu hanyalah adanya ‘adawah terhadap orang-orang kafir, bara’ (berlepas diri) dari kaum musrikin di dalam hati serta tidak hilangnya hal itu.

Sunguh saya telah melihat sebagian orang-orang yang ghuluw mencari-cari lontara-lontaran yang muthlaq milik Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahab dan ulama dakwah Najdiyyah lainya dalam bahasan mu’aadaah (memusuhi) dan wajibnya menampakan hal itu terhadap orang-orang kafir serta bahwa hal itu termasuk Millah Ibrahim dan dakwah para Nabi dan Rasul, supaya dengan hal itu mereka mengkafirkan kaum muslimin yang awam lagi tertindas dari kalangan yang tak terang-terangan  memusuhi orang-orang kafir, yang padahal mereka (kaum mustadl’afin) itu mempergauli orang-orang kafir dengan mudaarah atau taqiyyah,

Di antranya ucapan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahab rahimahullah dalam konteks penuturan dawah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang Quraisy untuk bertauhid, dan tindakan yang mereka lakukan saat menyebutkan tuhan-tuhan mereka, bahwa mereka itu tidak bisa mendatakan manfaat dan madlarat, dan Quraiys menjadikan (ungkapan) itu sebagai hinaan. Beliau (Syaikh Muhammad) berkata: (Bila engkau mengetahui hal ini, maka engkau mengetahui bahwa orang tidak istiqamah keislamanya meskipun dia mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi kaum musyrikin dan terang-terangan terhadap mereka dengan (sikap) memusuhi dan membenci, sebangaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Al Mujadilah: 22) Ad Durar As Saniyyah juz Al Jihad hal 93.

Dan  serupa dengannyan ucapan Syaikh Muhammad Ibnu Abdullathif Alu Asy Syaikh: (Ketahuilah semonga Allah memberikan kepada kami dan engkau taufiq terhadap apa yang Dia cintai dan Dia ridlai, sesunguhnya tidak istiqamah bagi seorang hamba keislaman dan dienya kecuali dengan memusuhi musuh-musuh Allah dan Rasul-nya…) Ad Durar, Juz Al Jihad hal 208.

Ungkapan ini dan yang serupa denganya, di samping bukan dalil syar’iy, karena perkataan para ulama dan pemahamannya itu adalah hanya dijadikan alat bantu dan pendekatan namun tidak bisa dijadikan dalil, bahkan harus disesuaikan dengan dalil, dan berserta ini semuanya sesunguhnya tidak ada hujjah bagi mereka di dalamnya atas pendapat mereka berupa takfir orang-orang awam kaum muslimin yang tidak terang-terangan memusuhi orang-orang kafir tanpa mereka itu melakukan sedikitpun dari nawaqidlul islam dan mukaffirat, dan itu dikarenakan ucapan para ulama ini adalah terang tentang ketidakkeisqamahan dien dan islam seorang hamba bila ia meninggalkan hal itu bukan tentang batalnya serta kekafiranya.

Dan sungguh saya telah menuturkan perkataan para Syaikh itu serta yang lainya dalam kitab saya (Millah Ibrahim) sebagai bentuk penguatan akan pentinya penampakan permusuhan dan kebencian terhadap musuh-musuh Allah serta menampakan bara’ dari mereka dan kemusyrikan-kemusyrikan-nya dan itu lebih dari empat belas tahun yang lalu, saat itu saya memberikan komentar terhadapnya di catatan kaki yang di cetak bersama kitab itu semenjak cetakannya yang pertama, yang ringkasnya: (Bila dimasudkan denganya adalah inti ‘adawah (permusuhan) maka ucapan itu adalah seadanya, dan bila yang dimaksudkan adalah umumnya ‘adawah yaitu menampakanya, rincian-rinciannya serta terang-teranganya, maka perkataannya adalah tentang keistiqamahan keislaman bukan tentang lenyapnya inti keislaman. Dan Syaikh Abdullathif dalam kitabnya Mishbahudhdhalam memiliki rincian seputar masalah ini, silakan rujuk oleh orang yang mau, dan di sana ada ucapannya: (Orang yang memahami pengkafiran orang yang tidak terang-terangan dengan sikap permusuhan dari ucapan syaikh ini, maka pemahamanya bathil dan pendapatnya sesat…) dan kami menuturkan ucapan-ucapan mereka dalam pasal ini hanya menjelaskan pentingnya inti ini yang realitanya sudah lenyap di kalangan mayoritas du’at masa kini. Kemudian kami sertakan penjelasan-penjelasan ini -padahal itu sudah jelas – untuk menutup jalan di hadapan orang yang berupaya berburu (ikan) di air yang keruh, di mana mereka mencari-cari ungkapan-ungkapan yang bersifat umum dan hal-hal yang bisa mendongkrak mereka untuk menuduh kami dengan aqidah Khawarij)[1]

Segala puji bagi Allah atas karunia-Nya, kemulian-Nya dan hidayat-Nya di awal dan di akhir. Apa yang kami tulis pada saat ini dengan kondisi susah, sempit dan keterkurungan tidak lain adalah sama dengan apa yang kami tulis kemarin saat kondisi lapang leluasa. Dan kami bukanlah tergolong orang-orang yang menganut aqidah mereka dari akibat reaksi balik atau akibat tekanan penjara atau yang lainya.

Ya Allah, Wahai Waliyyul Islam dan pemeluknya teguhkan kami di atasnya dan kuatkan kami memegangnya hingga kami menjumpaimu.


[1] Catatan kaki kitab Millah Ibrahim hal 10 cet 1, dan Allah telah memudahkan kitab itu masuk secara sembunyi-sembunyi lembar perlembar lewat lewat celah kecil di ruangan besukan penjara Sawwaqah (tempat penulis dikurung) dan telah dilakukan penggabungan dan penjilidannya di sana, kemudian ikut berpindah-pindah bersama kami di penjara lainya dengan kemudahan dari Allah meskipun para thagut dan anshar mereka tidak menghendakinya. Ini padahal saya telah meringkas isinya buat para ihwan di penjara itu sebelumnya.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s