Ujian Bumbu penyedap Rumah Tangga

ANTISIPASI DAN BERHATI-HATI

Menyalahkan dan keluh-kesah

Keluh-kesah dan kecenderungan menyalahkan tidak menguntungkan kehidupan rumahtangga, bahkan umumnya menghancurkan keharmonisan suami-istri, seorang hakim di NewYork bernama Bass Hamburger berkata : “Faktor penyebab utama lelaki tak kerasan di rumah lantaran istri sering keluh-kesah dan membuat gelisah suami lantaran ia sering disalahkan”.
Dorothei Dickes menjelaskan : “Alasan mendasar yang menjadi faktor penyebab ketidak harmonisan suami-istri lebih dari 50% lantaran pernikahan yang berlangsung sesaat kemudian berakhir dengan perceraian di Reno hanya karena kritik serta saling menyalahkan. Oleh karena itu kritik serta kecenderungan mencela tidak menguntungkan bahkan melukai hati dan memperpuruk aspek psikis”.

Hal-hal sepele

Seorang hakim bernama Joséph Sabath mengklasifikasikan 40.000 macam perselisihan suami-istri, 2.000 di antaranya selalu saja persoalan sepele menjadi faktor mendasar naasnya kehidupan suami-istri. Makanya istri yang mengabaikan ungkapan “Selamat jalan” saat kepergian suami adalah faktor sepele namun menyebabkan terjadinya perceraian! Memang tidak berlebihan jika dikatan bahwa pernikahan sebagai mata-mata rantai sepele. Celakalah suami-istri yang menafikan serta mengingkari kenyataan ini.
Umumnya para suami lebih banyak intim dengan orang lain sebagai partner hidupnya, hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Nyonya Damredith binti James Bellin yang pernah diangkat menjadi pemimpin sehari, dia menilai pernikahannya dengan Walter Damredith sebagai pernikahan paling sukses dan harmonis, dengan kata lain : “Yang terpenting pilihan jodoh serasi, menurut hemat saya adalah komitmen kepada batas-batas kebijakan cerdas menyikapi suami, di samping kebijakan cerdas menyikapi orang lain”.

Istri suka mencela

Salah seorang dokter jiwa pernah mengemukakan suatu kejadian menimpa salah seorang pasiennya : “Saya diberi tahu seorang suami yang menceraikan istrinya yang mengungkapkan : “Tahukah Anda apa sebenarnya yang memporak-porandakan keharmonisan rumahtangga kami yang berujung kepada perceraian? Tak lain karena istri saya secara membabibuta mencela saat saya gagal menunaikan kerja atau mengalami kerugian, mencapai klimaknya ketika dia menderita penyakit selisma, di mana ia mendakwa saya menularkan penyakit kepadanya”.
Semestinya istri yang bijak berhati-hati agar tidak mencela suami apapun kondisinya justru seharusnya berusaha memberikan support agar tidak lemah, tidak gagal, meringankan agar usahanya tidak sia-sia dan memotifasi untuk segera mencoba serta berusaha hingga sukses.

Melampaui batas dan pemborosan

Wanita suka berhias dan bersolek, mengenakan pakaian paling indah, permata termahal dan memeperindah rumahnya, tentu saja hal ini syah-syah saja bahkan itu ciri khas wanita sholihah, namun ada pepatah yang mengatakan : “Segala sesuatu yang berlebihan menjadi tidak baik”. Maka membelanjakan harta secara berlebihan dan memenuhi kebutuhan melebihi kewajaran ekifalen dengan menjerumuskan diri seorang muslim dalam bahaya pemborosan dan penghambur-hamburan.
Sementara Islam melarang hal itu :

« وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا * إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا »‏
“…Janganlah kamu membelanjakan harta secara batil. Sesungguhnya orang-orang yang membelanjakan harta secara batil adalah saudara-saudara setan, sedangkan setan amat ingkar kepada Robbnya.” (Al-Isrâ´ [17] : 26-27)
« … كُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ »‏
“ …Makanlah, minumlah dan janganlah kamu melampaui batas, sesunggguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A´rôf [7] : 31)
‏ Rosûlulloh n bersabda :
« كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَالْبَسُوْا وَتَصَدَّقُوْا ، فِي غَيْرِ إسْرَافٍ وَلاَ مَخِيلَةٍ »
“Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tak usah melampaui batas dan sombong.”
Ibnu Abbâs a berkata :

« كُلْ مَا شِئْتَ ، وَاشْرَبْ مَا شِئْتَ ، وَالْبَسْ مَا شِئْتَ ، مَا أخْطَأكَ اثْنَانِ سَرَفٌ أوْ مَخِيْلَةٌ»
“Makanlah apa yang kamu sukai (yang halal), minumlah apa yang kamu sukai (yang halal) dan berpakaianlah sekehendakmu (yang halal), selama tidak dipelesetkan oleh dua perkara, yakni melampaui batas dan sombong.”

Dari Rojâ´ bin Haiwah v, dari Muâdz bin Jabal a berkata :
« إنَّكُمُ ابْتُلِيْتُمْ بِفِتْنَةِ الضَّرَّاءِ فَصَبَرْتُمْ ، وَ إنِّيْ أخَافُ عَلَيْكُمْ فِتْنَةَ السَّرَّاءِ : وَهِيَ النِّسَاءُ ، إذَا تَسَوَّرْنَ الذَّهَبَ ، وَ لَبِسْنَ رَبْطَ الشَّامِ ، وَعَصْبَ الْيَمَنِ ، و أُتْعِبْنَ الْغِنَي، وَكلَّفْنَ الْفَقِيْرَ مَا لَا يُطِيْقُ »
“Sungguh kalian telah diuji dengan fitnah kesengsaraan lantas bersabar, sementara aku mengkhawatirkanmu pada fitnah kesenangan, yakni perempuan saat mengenakan gelang emas, mengenakan pakaian model Syam, pakaian dengan serat benang ala Yaman, disibukkan oleh kekayaan dan memberatkan orang fakir.”

Pendek kata fitnah wanita yang gemar mengenakan yang mahal baik model, garmen dan lain sebagainya, melampaui batas, menyia-nyiakan harta milik suami secara tidak proporsional dan menjerumuskan keluarga dalam krisis ekonomi hingga memperpuruk keharmonisannya, pada akhirnya membikin kesal suaminya. Sedangkan istri sholihah sangat gemar mencari ridho Robbnya kemudian menyenangkan suaminya dan tidak melampaui batas kewajaran ketika membelanjakan harta meskipun suaminya kaya.

Kekurangan suami-istri

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, baik suami maupun istri tak pernah terlepas dari kekurangan. Di antara mereka ada suami bodoh yang membesar-besarkan kekurangan istrinya lebih dari yang sebenarnya, berkeluh-kesah terhadapnya, mengungkapkan kekurangan istri di hadapannya, membeberkan aibnya di hadapan lelaki lain hingga lambat-laun mereka ikut-ikutan membenci istrinya bahkan bersikap anti pati terhadapnya, akhirnya kehidupan rumahtangganya dirundung malang bukan kepalang.
Suami yang sering mengkritisi istrinya lebih-lebih di depan orang lain benar-benar merugikan kecintaan istrinya, begitu juga istri yang yang sering mengkritisi suaminya khususnya di depan orang lain tentu merugikan kecintaan suaminya, bahkan tidak mustahil suami akan menceraikannya dibuatnya.
Orang bijak tentu berusaha maksimal menyikapi kekurangan pasangan hidupnya dengan menciptakan keselarasan hidup bersama dan tidak membuka kekurangan di depan orang lain. Di samping itu berusaha mengabaikan kekurangan tersebut dengan cara memperhatikan kelibihan-kelebihannya yang mesti diakui bisa menutupi kekurangannya. Sebagaimana firman Alloh l :
« إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ »
“ …Sungguh kebeikan-kebaikan itu mampu mengholangkan keburukan …”
(Hûd [11] : 114)

Kurang puas dengan pasangan hidup

Mayoritas suami di dunia ini benar-benar tidak puas dengan apa yang ada pada istrinya, umumnya yang dirasakan adalah kekurangan istrinya dan amat berharap istrinya teristimewa. Sudah menjadi sunatulloh, bahwa di dunia ini mustahil ada manusia yang benar-benar sempurna, mesti ada kekurangan. Bagaimanapun kebanggaan dan kepuasan terhadap kualifikasi pasangan hidup, mesti ada manusia yang mengungguli kelebihannya di sisi lain. Dalam pada itu Alloh l mewanti-wanti kita agar kita terhindar dari ketidakpuasan yang berdampak pada pepatah “kebun tetangga lebih hijau”, sebagaimana firman Alloh l :
« لاَ تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ »
“Janganlah kamu tertarik pada kesenangan yang telah Aku berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir) dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka …” (Al-Hijr [15] : 88)
Ketidakpuasan terhadap kenyataan yang ada pada pendamping hidup merupakan faktor signifikan bagi timbulnya timbulnya peragam problimatika suami-istri, di samping mengurangi volume keharmonisan mereka lantaran tidak puas terhadap kenyataan yang ada pada pendamping hidupnya, bahkan terkadang menghantarkan kepada petaka atau perceraian atau hubungan tidak harmonis di antara suami-istri.
Itu semua sebagai dampak gegabahnya masing-masing suami-istri dalam menentukan keputusan nikah, lambat laun akhirnya mereka menyadari akan kesalahan mereka dalam menentukan pilihan hingga berbuntut kepada penyesalan, tampaklah semua kekurangan masing-masing yang sebelumnya tak kelihatan lalu timbullah kebencian, keluhan, saling complaint dan berikutnya mulailah timbul berbagai problim rumahtangga.
Di tambah lagi pluralitas manusia dalam type, tinggi badan, berat badan, kecerdasan, harta, ketampanan atau kecantikan dan jenjang pendidikan. Walhasil masing-masing pasangan hidup memiliki kelebihan di samping kelemahan.
Meski kualifakasi antara suami-istri memuaskan dan bisa dibanggakan, namun pasca pernikahan justru sebaliknya, dengan kata lain lambat-laun menjadi menjemukan, sementara suami tetap berharap agar istrinya memiliki kualifikasi seperti yang ia saksikan dalam kebun milik tetangga padahal itu tidak ia dapatkan dalam diri istrinya.
Dari sinilah mulai timbul petualangan tak menyenangkan dan berbagai problim suami-istri mulai nampak. Seandainya manusia mau puas dengan porsi yang telah dikaruniakan Alloh l kepadanya setelah berusaha maksimal dengan segenap fasilitasnya baik via istikhôroh, konsultasi, usaha signifikan, rumusan tujuan yang jelas, mencari pengalaman dan tidak gegabah, niscaya ia akan hidup lebih harmonis dan mampu mengatasi beragam penderitaan yang dialami sendiri maupun orang lain. Rosûlulloh n :
« قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ »
“Beruntunglah orang yang berserah diri kepada Alloh, dikaruniai rezeki cukup dan dipuaskan oleh Alloh dengan karunia-Nya.”
Berserah diri kepada Alloh, rezeki cukup dan kepuasan sebagai sarana keharmonisan, keberuntungan dan kesuksesan.
Dulu usia nikah lebih dini sehingga para suami merasa cukup dengan apa yang ada, hampir-hampir umumnya suami-istri memulai kehidupan rumahtangganya dari nol, karena mereka berdua cukup hidup dalam satu ruangan untuk selanjutnya membangun hidup masa depan bersama. Petualangan panjang menyusuri perjuangan berat dilalui hingga dalam kehidupan rumahtangga mereka tidak ada kamus memikirkan hal-hel sepele, di samping petualangan melelahkan itu sekaligus mensupport kestabilan jalinan cinta-kasih antara suami-istri.
Adapun kini umumnya suami suka memulai kehidupannya dari tingkat tangga paling atas untuk memenuhi tuntutan rumah hunian masadepan, perabot rumah paling sempurna, belum lagi barang-barang mewah dan hal-hal formalitas lainnya, tentu saja hal ini menunda usia nikah, membuat tuntutan persyaratan suami-istri semakin kompleks, semakin susah mencapai keselarasan, di samping mereka tak memiliki lagi karakter perjuangan serta keprihatinan, jiwa saling tolong-menolong, mereka juga tidak menyukai kelezatan suksesnya mencapai tujuan bersama.
Seiring besarnya volume berbaurnya lelaki dan perempuan pada era moderen sekarang ini otomatis semakin meningkat pula kekurang puasan para suami terhadap istrinya. Pada masa lalu umumnya suami merasa puas dengan apa yang ada, pasalnya volume melihat istri orang lain relatif rendah, kalaupun melihat istri orang lain terjadi, namun bersoleknya dan pamer aurat wanita dulu tidak sampai membuat lelaki bijak lagi penyabar menjadi mabuk kepayang, tiada daya dan kekuatan selain dari Alloh l.
Melihatnya suami kepada wanita bukan istrinya sedemikian sering dan dengan cara yang berfareasi di jalan raya, melalui TV, parabola membuat para suami cenderung membanding-bandingkan antara yang mereka lihat dan istrinya, tentu saja hal ini membuatnya tidak puas. Sementara sikap membanding-bandingkan sedemikian rupa tidaklah memberikan arti apa-apa, sebab hanya sebatas membanding-bandingkan tidak memberikan kenyataan, paling-paling perangkap setan, meski ada orang yang mampu menikahi salah satu wanita yang ia lihat namun ia tidak bisa hidup bersamanya, pasalnya wanita tersebut tidak punya bakat membina rumahtangga, pekerjaannya hanya menfitnah, menggoda, cari popularitas, hanya berkapasitas sebagai artis, dansa dan menyebarkan prilaku keji di antara orang-orang beriman, makanya waspadalah, camkanlah dan ambillah sebagai pelajaran wahai orang-orang yang punya nalar.
Para suami di masa lalu lebih banyak puas dan harmonis karena volume takwa dan menjaga kehormatan diri lebih besar daripada di era kita kini .
Kepuasan suami merupakan pilar sekunder bagi keharmonisan, sebab terkadang ada seorang suami yang tidak puas terhadap istrinya namun dia bisa memengontrol kondisi serta situasi atau katakanlah beradaptasi dan hidup bersamanya meski quota keintiman dan kebersamaan serba seadanya. ´Umar bin Khoththôb a berkata kepada seorang lelaki yang hendak menceraikan istrinya dengan alasan tidak cinta : “Lho! Memangnya kamu membangun rumah mesti dengan landasan cinta? Jika demikian mana mungkin ada menjaga kehormatan diri, perasaan malu dan menjaga diri?”.
Manakala kepuasan masing-masing suami-istri meningkat, maka meningkat pulalah keharmonisan dan semakin berkurang juga problimatika suami-istri. Sedangkan faktor signifikan untuk meraih kepuasan antara suami-istri adalah saling melihat sebelum pernikahan, kemudian memilih pasangannya secara puas tanpa tekanan sedikitpun oleh pihak lain.
Biasanya kepuasan dan saling pengertian antara suami-istri diperoleh manakala mereka berdua sudah saling memperoleh keselarasan dalam persepsi, kebersamaan, jasmani dan materi yang sering dikenal dengan istilah sekufu, namun sekufu bukanlah syarat pokok bagi kesuksesan pernikahan.
Pasalnya terkadang kesuksesan bisa dicapai oleh pernikahan yang berlangsung antara sie cantik dan tidak tanpan atau sebaliknya antara sie tampan dan tidak cantik, atau antara sie miskin dan sie kaya, atau antara yang taat beragama dan yang ceroboh, antara muslim dan non muslimah, atau antara yang cerdas dan yang bodoh, atau antara yang mengenyam pendidikan tinggi dan awam. Aku katakan “terkadang”, tapi pernikahan sukses seperti ini jarang terjadi, dengan kata lain di luar kewajaran, kalaupun terjadi biasanya ditempuh dengan susah-payah, makanya sering saya katakan :

“Bukalah kedua matamu lebar-lebar sebelum pernikahan dan sedikit saja sesudah pernikahan”.

Interaksi menyakitkan

Seiring kehidupan berdampingan yang telah ditempuh dalam tempo lama, maka beragam problimatika sering mengiringi. Kata-kata menyakitkan mulai muncul di antara suami-istri, selanjutnya berkembang menjadi penghinaan berulang kali, terkadang sampai terjadi pemukulan, kemudian pengusiran keluar rumah, padahal tampilan demikian bukantindakan terpuji, justru umumnya semakin memperpuruk keadaan.
Penghinaan berarti menebar benih kebencian, kedengkian dan kemarahan, sementara buruknya kiat tersebut, terletak pada timbulnya yang begitu mudah, namun mengembalikan situasi seperti sedia kala amat susah jika tidak dibilang mustahil, sebab lidah lebih tajam daripada mata anak panah. Dalam pada itu Mutanabbî berkata :

Luka akibat tajamnya anak panah biasa-biasa saja rasanya
Namun, tidak demikian halnya dengan lidah .

Suami-istri saling diam

Ada dua penelitian dilakukan di Amerika yang menyatakan bahwa kaum wanita lebih sering diam dengan maksud menghindari timbulnya cekcok dan melestarikan jalinan cinta-kasih antara suami-istri. Adapun kaum lelaki mereka diam boleh jadi untuk menciptakan jarak guna memperkuat posisi, atau lantaran mereka tidak terbiasa mengekspresikan emosinya dan belum tahu bagaimana bersikap.

TV dan keluarga

Sungguh beraneka godaan dan fitnah tidak saja di luar rumah, bahkan ada di rumah, sementara rumahtangga muslim telah kehilangan jati dirinya sebagai keluarga muslim baik tempat huniannya, atau ketenangannya, atau perasaan lapang dada lantaran salah kaprah dalam memfungsikan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Kita telah menyaksikan dampak buruknya berupa kebebasan yang sulit dikontrol, peluang bebas bagi masuknya seluruh tampilan baik negatif maupun positif, filem-filem purno sebagai dampak dekadensi moral dan lain sebagainya baik seriel sandiwaranya, nyanyian-nyanyiannya, video keranjingan dimabuk cinta, penampilan beragam model pakaiannya dan lain sebagainya.
Saya akan menyodorkan pertanyaan kepada pasangan suami-istri agar bisa dijawab, dengan harapan membuahkan hasil positif bagi kehidupan mereka berdua. Kita berharap agar kita bisa bangkit dari tidur dan benar-benar sadar akan rumah-rumah tangga kita sebelum kita membeli penyakit yang tidak bisa diobati :

1) Sejak beberapa tahun lalu kita telah hidup bersama TV dan para bola. Apa dampak positif bisa kita petik untuk hidup-kehidupan kita?
2) Apakah rumah-rumah tangga kita harmonis dan terbebas dari problim, ataukah justru angka perceraian semakin meningkat?
3) Apakah putra-putri kita memperoleh pendidikan Islam yang benar, ataukah mereka sangat kurang mendapatkan materi-materi pelajaran dengan kemasan pendidikan Islam dan kurang menghormat orang tuanya?
4) Apakah istri mentaati suaminya dan suami semakin menghormati sang istri, ataukah kepuasan sudah menghilang dari rumah-rumah tangga, sementara suami tak lagi puas terhadap sang istri, sedangkan istri tidak menerima dengan senang hati karunia pemberian Alloh l?
5) Apakah kecintaan di antara manusia semakin bertambah dan kaum muslimin bersatu laksana satu tubuh, ataukah seorang tetangga sama sekali tak mengenal tetangganya kecuali ketika dibikin senang terlebih dulu?

6) Apakah ilmu pengetahuan tentang Islam merebak sedangkan kebodohan telah punah, sementara masyarakat menjadi beradab lagi maju, ataukah angka kesuksesan mahasiswa dan mahasiswi menipis?
7) Apakah keutamaan merebak sedangkan para remaja berani maju untuk menikah sehingga berakhirlah pamer make-up dan mengumbar aurat, ataukah justru kebobrokan moral merebak kemana-mana, perzinaan serta dekadensi moral merajalela dan banyak para remaja menghindari pernikahan? Jawabnya terserah kalian sendiri.

Sungguh tontonan TV dan cenel-cenel dengan sistem satelit (seperti parabola) memperkompleks problim suami-istri dan menyia-nyiakan waktu tanpa ada faedah. Sementara para suami menyia-nyiakan kewajibannya sebagai pemimpin rumahtangga merupakan dampaknya, di samping petaka dahsyat menimpa anak-anak yang terpengaruh baik melalui tampilannya yang negatif maupun positif, bahkan umumnya mereka mengurangi quota belajarnya tentang Islam karena faktor TV dan filem-filem kartun.
Seringkali menyaksikan TV menyebabkan hilangnya sharing antara suami-istri, dengan kata lain banyak menyita kesempatan suami-istri untuk berbicara dari hati kle hati dan memecahkan berbagai persoalan, bahkan mayoritas suami mengeluhkan bahwa istrinya lebih banyak memprioritaskan acara-acara TV daripada memperhatikan suaminya, demikian pula sebaliknya.
Kesukaan masing-masing suami-istri terhadap acara TV yang mereka saksikan tidak sama. Suami biasanya lebih suka menyaksikan program-program menyangkut politik, ekonomi, olah raga, filem-filem serial kekerasan dan seks, sementara sang istri lebih suka menyaksikan serial romantis, acara-acara keluarga, kesehatan, pendidikan, pakaian dan menu hari ini. Seringkali perbedaan kesukaan pada acara TV saling berbenturan. Suami lebih mengutamakan kesukaannya, makanya sang istri merasa terganggu oleh sang suami lantaran menghalangi kesukaannya. Terkadang sampai terjadi suami memiliki satu unit TV sendiri demikian juga istri memiliki satu unit TV sendiri, sehingga masing-masing suami-istri bisa menyaksikan acara yang menjadi kesukaannya, padahal umumnya susah mengaktifkan dua unit TV dalam ruangan yang sama, dengan kata lain masing-masing suami-istri harus duduk di ruangan tersendiri.
Umumnya filem serial dan acara TV bertolak belakang dengan prinsip-prinsip Islam dan tidak selaras dengan tradisi kita umat Islam, di samping mayoritas acara TV bertentangan dengan prinsip-prinsip keharmonisan suami-istri yang bersahaja, bahkan acara-acara tersebut mendukung porak-porandanya keharmonisan mereka. Wanita sebagai istri melihat model pakaian paling mutakhir, pesta paling bergengsi, artis pria paling tampan atau artist wanita paling cantik. Wanita berdosa mulai membanding-bandingkan antara kehidupannya bersama suaminya dan apa yang ia saksikan di layar kaca kecil. Dia mulai dengan petualangannya yang menjengkelkan, penuh dengan keluh kesah dan suram, begitu juga suami, ia menyaksikan wanita artis paling cantik, tampilan-tampilan model pakaian dan para ratu kecantikan hingga tidak lagi mengagumi istrinya.
Aku mengenal seorang pria mengatakan kepada istrinya ketika mengetahui wanita cantik di layar TV : “Bukankah ini perempuan, sedangkan kamu juga perempuan?”, dengan kata lain : “Mengapa kamu tidak seperti wanita ini?”. Ia merendahkan istrinya dengan cara sering mencibir dan membanding-bandingkan sampai sang istri membenci suami dan TV.
Penggemar acara-acara TV yang ditayangkan menyadari bahwa acara-acara tersebut memenuhi otak-otak generasi muda secara berlebih-lebihan berupa kisah cinta dan pernikahan bersifat fiktif belaka, tidak realistis. Acara-acara itu sebagai media yang menunjang tersebarnya persepsi-persepsi keliru mengenai cinta dan pernikahan, yang pada akhirnya menghantarkan kepada berbagai problim rumahtangga, percekcokan dan perceraian.
Seorang pakar dari Amerika Gerry Mander mengakui betapa dampak negatif yang ditimbulkan TV, lantas menyusun buku berjudul “Empat kontroversi tentang ditolaknya TV” . Dalam buku ini dia memperkuat dengan berbagai argumen mengenai betapa bahaya sarana TV terhadap perorangan, keluarga dan masyarakat, sementara dia menyarankan agar TV ditiadakan.
Profesor Marwan Kajak mengatakan : “Sudah menjadi opini publik, betapa buruk dampak yang ditimbulkan TV dalam kehidupan suami-istri. Betapa banyak percekcokan terjadi antara suami-istri. Betapa banyak rumahtangga harmonis, dalam suasana hormat-menghormati dan kasih-sayang namun tiba-tiba berubah menjadi runyam, penuh kebencian dan dilanda percekcokan. Betapa banyak keluarga dibina atas dasar kecintaan, antara satu sama lain saling mengutamakan dan saling pengertian, tiba-tiba dibikin jatuh terpelanting ke dalam jurang petaka dendam kesumat, pertengkaran dan permusuhan. Betapa banyak suami-istri sudah berjanji sehidup semati membina kehidupan rumahtangga, namun kenyataannya janji tersebut dikhianati dan jalinan cinta-kasih pecah berkeping-keping. Tak lama kemudian broken-home gara-gara mengikuti acara dan bisikan TV dan parabolanya yang penuh dosa”.
Daniel Schor seorang pemimpin editorial berita di salah satu jaringan televisi mengatakan : “Pengalamanku dalam dunia pertelevisian telah memberiku kemampuan khusus untuk memahami beragam dampak TV yang merusak pola pikir , TV benar-benar menjunjung tinggi serta menyebarkan kekerasan, sembrono dalam menyikapi persoalan yang besar bahkan menguburnya, memusnahkan kebenaran dengan menutup mata terhadap perbedaan antara kebenaran dan imajinasi sehingga manusia mulai membenarkan persepsi tersebut”.
Melalui informasi yang begitu gencar yang diperkuat serta didukung oleh angka dan statistik persepsi memperkuat bahwa menyaksikan TV memicu manusia berpotensi membaca dan memahami, membuat para mahasiswa lebih banyak malas dan bodoh, menjadikan anak-anak kurang menghormati orang tua di samping mengajarkan krisis moral pada mereka seperti dusta, gemar kepada permusuhan dan mengabaikan tanggungjawab, membuat para penonton lebih banyak bertindak anarsis dan pelanggaran dosa. Otomatis ini semua memporak-porandakan keharmonisan keluarga.
Riset yang dilakukan oleh majalah U.S. News (United State News) mensinyalir bahwa sebanyak 66 % dari semua orang yang diteliti telah mengatakan bahwa apa yang ditayangkan oleh TV berdampak negartif terhadap negara, sebagian besar mereka memperkuat bahwa TV punya andil memunculkan beragam problim sosial seperti kekerasan, perceraian, memicu anak-anak usia puber melakukan perzinaan dan tertimpa dekadensi moral.
Akhir-akhir ini menghalau semua pengaruh televisi menjadi trend gerakan massa baik di lingkup sekolah maupun pusat-pusat penelitian.
Di Canada dalam sekala besar merebak materi bimbingan dan penyuluhan yang telah diajarkan di sekolah-sekolah agar para pelajar mengerti bahwa target serta tujuan seluruh prgram TV agar pemirsa memberikan legitimasi tayangan iklan yang mengkomersilkan seks dan kekerasan, sementara berita-berita yang dilansir televisi tidak layak untuk dipublikasikan. Sekolah-sekolah di Amerika telah mulai menyambut serta merespon itu.
Seorang pakar pendidikan Harvey Diotil menyarankan agar televisi segera ditutup, untuk diganti kegiatan membaca, kehidupan keluarga dan menciptakan kreatifitas.
Adalagi seorang ibu dari Amerika bernama Fransis Morlabi yang telah menjadi buah bibir publik lantaran percobaan barunya, dia adalah seorang wanita teguh pendirian (punya kepribadian stabil) yang mengerti benar akan kebutuhan seorang ibu dan menyadari benar bahwa pengaruh televisi amat berbahaya bagi anak-anak. Selama satu dekade dia bekerja keras mendidik putra-putrinya agar menghindari televisi, pengalamannya atau percobaannya ini dimuat dalam buku berjudul “Apa yang Anda lakukan setelah TV ditutup?”. Dalam buku tersebut ia mengungkap bagaimana dia bersama putra-putrinya bisa sukses dalam kehidupan secara harmonis terhindar dari televisi.
Wahai suami yang terhormat, wahai sang istri yang terhormat pula. Telah tiba saatnya kita menyadari akan besarnya tanggungjawab yang dibebankan di atas pundak kita untuk kepentingan diri kita sendiri yang pertama, kemudian yang kedua buat putra-putri kita. Manusia merupakan tawanan bagi pola-pola pikirnya sendiri, sementara psikolog menegaskan bahwa duduk di depan layar TV lebih dari 2 jam sehari bisa merusak syaraf, menghilangkan fungsi kecerdasan, menyebabkan dirinya hidup tegang, tidak mampu menghalau kevakuman serta kemalasan, bagaimana bisa hidup positif dengan menyia-nyiakan waktu, menjamak beberapa sholat tanpa alasan, seorang suami mengabaikan tugasnya, istri menyia-nyiakan kewajiban mengurus rumah dan mendidik putra-putrinya.
Kita wajib melakukan antisipasi, waspada, melakukan tindakan preventif, semaksimal mungkin, kita jadikan TV bernilai positif, menekan seminim mungkin dan menjauhi acara-acara serial sandiwara, serial filem yang punya memicu broken-home dan menerlantarkan putra-putri kita.

Pelayan laki-laki dan perempuan

Orang-orang kaya gemar mempekerjakan perawat perempuan, pelayan perempuan dan sopir laki-laki, baik karena kebutuhan pelayanan yang mendesak, atau karena gaya hidup mewah. Keharmonisan segenap anggota keluarga sering dibikin ludes lantaran persoalan-persoalan yang muncul gara-gara memasukkan para pelayan di tengah-tengah kehidupan keluarga.
Siapa tanggap terhadap berbagai tragedi di balik itu, niscaya mengutamakan keselamatan dirinya serta keluarganya, tidak memerlukan pelayan, atau mempekerjakan mereka dengan menekan quota seminim mungkin di sdamping mewaspadai ekstra ketat terhadap mereka.
Dampak negatif paling kecil adalah diketahuinya rahasia pribadi dan keluarga secara detail oleh pelayan lantas menyebarkannya, demikian juga tak jarang mereka iri hati terhadap kenikmatan keluarga, tega melakukan tindakan mesum lantaran dengki dan keinginan mencuri, seringkali timbul krisis akhlak gara-gara berbaurnya anggota keluarga bersama pelayan dalam satu rumah. Betapa sering kita baca dan kita dengar perlakuan kasar pemilik rumah khususnya anak-anak lelaki tuan rumah terhadap pelayan-pelayan wanita, atau pelayan lelaki menggoda wanita anggota keluarga, khususnya anak-anak putri. Juga terkadang terjadi lelaki tertarik kepada pelayan wanitanya lantas menikahinya.
Demikian pula pelayan lelaki atau perempuan dan para baby-sitter mentrasfer bahasa, kebiasaan dan tradisi mereka kepada anggota keluarga, boleh jadi mereka berhasil mengubah agama putra-putri anggota keluarga.
Umumnya para pelayan wanita tidak mengerti atau tak mau mengerti kebersihan secara benar dalam hal makan dan minum. Banyak di antara mereka tidak mengerti prosedur bersuci dan najis menurut syariat Islam .
Keberadaan para pelayan wanita juga terkadang membiasakan serta mengubah kebiasaan wanita menjadi pemalas yang berdampak membahayakan kesehatannya, mayoritas wanita yang mengandalkan pelayan wanita berat badannya jadi naik secara drastis, dan menjadi gemuk. Wanita jadi penasaran mengapa suami menjauhi dirinya, tidak tertarik padanya. Pasalnya ia memandang tayangan para wanita di layar TV seakan mereka pecumbu rayu yang menarik lantaran serasi, molek, elok dan tutur katanya lembut menawan. Ketika ia mengamati istrinya, terkesan seolah-olah melihat tank merayap di tanah, manakala istri berbicara dengannya seakan ia polisi di dalam rumah, tampak tampilannya yang kasar membikin seluruh bulu badan berdiri merinding.
Begitu juga anak-anak putri yang hidup berkembang di rumah bersama para pelayan wanita tak akan pernah belajar ketrampilan memasak dan tugas-tugas mengurus rumah, padahal itu penting, sehingga menyebabkan mereka gagal dalam kehidupan berumahtangga bersama suaminya kelak.
Ibu mengurus langsung putra-putrinya lebih menjamin kesehatan mereka daripada para baby-sitter dan pelayan wanita. Majalah “Doktermu” mempublikasikan berita tentang pengaruh positif seorang ibu yang mengurus, mengasuh dan mendidik putra-putrinya. Berikut ini kutipannya : “Dokter Rainier Septivner di New York telah melakukan perbandingan antara dua kelompok putra-putri selama 2 tahun, kelompok yang pertama diasuh oleh ibunya sendiri, sedangkan kelompok yang kedua diasuh oleh baby-sitter. Perbandingan ini memberi kesimpulan terakhir bahwa anak-anak yang diasuh oleh baby-sitter lebih lambat pertumbuhannya dan belum bisa latihan berjalan dan bicara secara normal dibanding anak-anak yang diasuh oleh ibunya sendiri. Yang lebih mengherankan lagi bahwa hingga usia 5 tahun anak-anak yang memperoleh kasih sayang dari bunya sendiri belum ada yang mati, sementara angka kematian pada kelompok kedua yang tidak diasuh dan tidak mendapatkan kasih-sayang ibunya sendiri mencapai 37 %. Informasi ini mengindikasikan betapa mengandalkan layanan dari pelayan wanita dan baby-sitter berdampak negatif dalam mengasuh serta mengurus anak-anak balita”.
Surat kabar “Al-Muslimûn” melansir berita mengenai problim dan efek negatif para pelayan wanita. Dalam harian itu diberitakan bahwa seorang ibu rumah tangga benar-benar dikejutkan saat melihat anak pemudanya berbuat amoral bersama pelayan wanitanya.
Dengan derai air mata sedih seorang perempuan berinisial “M.R” mengutarakan isi hatinya : “Saya salah, karena membiarkan pelayan wanita sepenuhnya mengurus suami saya sehingga saya dikagetkan dengan peristiwa, di mana secara tiba-tiba ia telah menjadi istri kedua suami saya”.

DERITA RUMAHTANGGA

Tentang ketidak harmonisan rumah tangga

Tidak bisa merasakan keharmonisan hidup antara suami-istri, berarti tidak memahami deritanyaa. Maka kemampuan memahami yang sebaliknya, berarti kemampuan memilah-milah di antara beberapa hal. Mengerti derita rumahtangga tidak berati merasakannya, atau hidup dalam deritanya, atau dirundung kesengsaraan di dalamnya, akan tetapi mengenalinya melalui gejala-gejalanya ketika masing-masing suami-istri melihatnya, sehingga bisa menghindarinya.
Aku mengenal keburukan, bukan berati aku berada di dalamnya, tapi aku mengantisipasi,
Barangsiapa tidak memahami keburukan niscaya terperosok di dalamnya.
Kata derita atau sengsara ( نَكِد ) sekali disebut dalam Al-Quran, sebagaimana firman Alloh l :

« وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِدًا »
“Tanah yang bagus tumbuhlah tumbuhannya ( dengan sempurna dan bagus) dengan ijin Robbnya, sedangkan tanah yang jelek tidak tumbuh padanya selain dengan susah-payah (itupun tumbuhnya tidak sempurna lagi tidak bagus …”
)Al-A´râf [7] : 58)
Seorang wanita, pakar soal keluarga yang ahli dalam urusan hubungan suami-istri, sekaligus dokter yang menangani penyakit-penyakit rumahtangga dan keluarga bernama Shofiyah Muhandis, mengerti benar indikasi istri yang tidak harmonis, mengatakan : “Istri tidak harmonis adalah istri yang membuat suaminya tak kerasan di rumah, membenci kehidupan rumahtangganya dan kehidupan suami-istri secara umum … Itulah sang istri yang lebih banyak menjadi beban seluruh persoalan dan omongannya dari pada menanggung serta mengemban tanggungjawab, ia pemicu timbulnya problim serta perselisihan, dia punya hobby hidup dalam suasana krisis dan kles, selalu saja membikin onar orang di sisinya”.
Dengan kata lain bahwa ia adalah istri yang tidak cenderung kepada kedamaian atau ketenteraman, ia hanya menyukai perselisihan, percekcokan, mencari-cari kambing hitam, berprasangka buruk, berniat jahat dan kepribadian busuk.
Ia senantiasa menjadi biang keladi seluruh perselisihan melalui persoalan-persoalan sepele, dengan karakternya yang labil ia gegabah mencampur adukkan seluruh persoalan sepele tersebut dengan persoalan-persoalan prinsip hingga mencapai puncak ketegangan yang membuat suami tidak tenang.
Derita atau ketidak harmonisan rumahtangga terkadang berawal secara spontan, jika kedua belah pihak tidak berusaha mengantisipasi dan menghentikannya sedini mungkin, niscaya cepat berubah menjadi penyakit kronis, tak lama kemudian tumbuh serta berkembang menjadi kanker ganas yang sulit dibasmi.
Seorang ulama´ mengatakan : “Derita atau ketidak harmonisan antara suami-istri berawal dengan percekcokan apapun faktornya dan berlanjut pada pertikaian yang tidak jelas sebab-musababnya”.
Oleh karenanya istri muda yang mulai merasakan ketidak harmonisan pada usia 20 tahun, merasakan juga ketidak harmonisan pada usia 40 tahun, dia adalah istri yang tidak harmonis, ia menciptakan faktor-faktor penyebab, merekayasa dan mengada-ada ketidak harmonisan, ketika itu ia tidak bisa diobati dan tidak mempan untuk dinasehati.
Doktor ´Ali Shôdiq mengatakan : “Kesalahan vatal yang menimpa suami-istri adalah menumpuk-numpuk problim namun tak pernah mereka atasi, bersikap tidak fair, tidak saling mengungkapkan melalui tutur kata bersahaja, antara satu sama lain tak pernah melakukan penyelesaian kesalahannya seawal mungkin dan antara satu sama lain tidak mengungkapkan ketidak menentuannya, kekhawatirannya, harapan serta prospeknya, penderitaannya dan kesedihannya”.

Gejala tidak harmonis suami-istri yang paling populer

Berbicara dengan nada tinggi dan tak mengutamakan kata-kata yang pantas, selaras firman Alloh l :
« وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ »
“ …rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (Luqmân [31] : 19)
Tidak selayaknya baik suami maupun istri meninggikan suaranya, apapun alasannya, sekalipun sedang tertimpa musibah kecuali saat meminta pertolongan. Sementara istri yang meninggikan suaranya adalah lebih buruk, sebab keluar dari karakter kewanitaannya.
Suara tinggi adalah buruk dan munkar baik muncul dari manusia ataupun hewan. Ada psikolog bernama William Hanti berpendapat : “Sungguh kata-kata manusia merupakan alat musik bervareasi. Manakala dimainkan oleh seorang ahli yang menguasai, niscaya tampak seakan-akan rohani yang tak kelihatan namun merayap di dalamnya. Di antara kata-kata memiliki instrumen seperti suara dram, ada yang melantunkan bunyi memberikan kesan sangat manis seperti seruling, ada yang bernada memanggil seperti trompet dan ada yang menyegarkan seperti angin sepoi-sepoi basah”.
Apabila Anda menghendaki suaramu diterima pendengarnya, utamakanlah pilihan moment yang tepat, kata-kata yang selaras, intonasi suara yang cocok untuk bertutur kata dan penala bicara yang baik.
Tak perlu dipersoalkan lagi, bahwa tidak bersikap hormat saat bicara meski telah dipertimbangkan (faktor ketepatan waktu, pilihan kata, intonasi suara untuk bertutur kata dan penala bicara yang baik), tetap saja mengindikasikan ketidak harmonisan antara suami-istri. Di samping ungkapan ironi, meremehkan, tak senonoh, nada mengejek dan isyarat kebencian, itu semua merupakan ungkapan-ungkapan gagal yang tidak menguntungkan.
Adapun ungkapan dengan maksud mengkritisi, agar aib bisa disadari dan kekurangan bisa terkontrol, agar terkesan membangun bukan menjatuhkan dan terkesan bermanfaat tanpa menimbulkan dampak negatif, seharusnya diperhatikan hal-hal seperti telah tersebut di depan yakni mengondisikan suara, memilih kata-kata serta momen yang tepat, di samping itu secara tidak langsung, pasalnya tutur kata laksana anak-anak panah, jika sudah dibidikkan tidak kembali lagi.
Seorang peneliti Margrethe Culcan mengatakan : “Tidak selayaknya seorang istri berkata kepada suaminya bahwa ia seorang yang gagal, menurut hemat saya, kewajiban istri yang terpenting adalah mempergunakan kesempatan makan siang untuk berbicara kepada suami dengan maksud memotifasi harapannya, rasa optimisnya dan keberhasilannya. Di samping menyebut hal-hal nampaknya sederhana namun terkesan menyenangkan hati dan memberi rasa rilek kejiwaan sang suami”.
Tak ada suami yang tak merasa bangga dan antusias manakala dipuji istrinya atau saat ia berkata kepadanya : “Aku merasa bangga dan bahagia kepadamu karena kamu suamiku”.

Efek ketidakharmonisan suami-istri

Sesungguhnya ketidak harmonisan salah seorang di antara suami-istri, atau kedua-duanya berarti keterpurukan, kesesatan, pengkhianatan, tindakan aniaya dan sikap permusuhan terhadap anak-anak. Oleh karenanya ketidak harmonisan suami-istri berarti jauh dari rahmat Alloh l, dekat kepada murka-Nya serta azab-Nya di dunia dan akhirat. Ketidak harmonisan rumahtangga membatalkan amalan dan menyia-nyiakan seluruh kebaikan.
Ketidakharmonisan antara suami istri menghantarkan kepada kehancuran kondisi kejiwaan setiap anggota keluarga, pada gilirannya menyebabkan melemahnya fungsi-fungsi vital organ tubuh manusia, tidak seimbangnya seluruh sistemnya, terutama sistem kekebalan, sehingga riskan terinfeksi penyakit permanen maupun berkala.

Penyakit paling populer sebagai dampak ketidakharmonisan rumahtangga antara lain : gula, tekanan darah, gangguan jantung, penyempitan lambung, sembelit dan timbulnya pembengkakan di beberapa bagian tubuh.
Seringkali korban ketidakharmonisan rumahtangga tak lagi punya harapan hidup, sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair :
Hidup dan kehidupan manusia telah berubah , tampang bumi juga berubah bengis
Warna dan rasa juga berubah , cerahnya tampang pagi telah memudar
Lama-lama hidup bagiku adalah sedih nan gelap , tak ada lagi harapan hidup

Ketidakharmonisan hanya menambah runyamnya sang istri, penuaan dini sebagai dampak ketidak harmonisan rumahtangga kian nampak di wajahnya, setiap orang yang menyaksikan memandang buruk dan memuakkan, lebih-lebih jika dia memerankan hobby aslinya sebagai sosok yang tak pernah harmonis. Kriteria tersebut telah dikemukakan seorang penyair :
Andaikan Alloh mengazab manusia lantaran ulahmu ,
Niscaya mereka bertaubat! Tapi rahmat-Nya amat luas

Derita atau ketidakharmonisan antara suami-istri mengubah kehidupan setiap anggota keluarga (terutama suami, jika yang menjadi korban adalah dia) dari tenteram, kecintaan dan kasih-sayang (yang memang semestinya demikian) menjadi trauma, terasingkan, dalam suasana kekerasan dan petaka. Telah saya saksikan beberapa suami menjadi korban dampak ketidakharmonisan rumahtangga, mereka kehilangan keseimbangan, kehidupan mereka tidak setabil, kondisi mental mereka labil dan pikiran mereka jadi kacau.
Energi mereka jadi menurun, fisik mereka lemah-lunglai, kecakapan khusus maupun bakat mereka semakin berkurang, produktifitas mereka menipis dan kreatifitasnya menghilang. Seorang penyair Muhammad Husnâwî mengatakan :

Terasa olehku, kesia-siaan telah memperkusut jati diriku ,
Dia telah menghalau aku menggapai pelita harapan .

oleh Abdullah Al Bantany

Pos ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s