Sudahkah kita mengenal Allah…???

Urgensi Mengenal Allah

1. Ma’rifatullah / mengenal Allah adalah kewajiban pertama seorang Muslim, ia kan mengetahui kepada siapa bersyahadat dan kepada siapa ia tunduk dan patuh. Ma’rifatullah adalah dasar dibangunnya segala amal ketaatan dan tujuan-tujuannya. Maka berilmu untuk mengetahui tentang Allah Azza wa Jalla adalah ilmu yang paling asasi, kedudukannya sangat penting dan tinggi. Dan kandungan di dalam Al Qur’an paling banyak memuat tentang Ma’rifatullah.

2. Tanpa mengenal Allah terlebih dahulu, suatu hal yang mustahil manusia dapat mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, dan juga mustahil ia dapat beribadah dengan baik kepada Allah tanpa mengenal yang diibadahi. Tidak mungkin manusia bekerja/melakukan suatu amal tanpa mengetahui siapa yang memerintahkannya

3. Dengan mengenal Allah akan diketahui juga bagaimana tata cara berkomunikasi dengan Allah. Nama menunjukkan identitas, sifat dan menunjukkan dzat. Dengan nama itu Allah disebut, dipanggil, dan ditasbihkan. Nama-nama yang menunjukkan keagungan, kesempurnaan dan keMahabesaran Allah SWT.

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan(Yang Haq) melainkan Allah”
Muhammad/47:19

*****

Adalah kesalahan apabila indera digunakan sebagai metode untuk mengenal Allah

Manusia yang tidak mempercayai adanya Allah karena mereka bermetode dengan indera. Mereka hanya mau mempercayai sesuatu yang riil saja yang bisa diraba oleh indera mereka. Sedang hal hal yang tidak bisa dijangkau indera mereka tidak akan mempercayainya.

Padahal di lain hal mereka mengakui sesuatu yang tidak bisa terindera, misal: gaya tarik magnet, mereka sesungguhnya hanya bisa melihat efeknya saja. Akal, mereka mempercayai adanya akal walaupun belum pernah melihatnya. Mereka tahu adanya elektron dan neutron, tetapi gagal menggambarkan seperti apa.

Ada banyak realitas yang mereka percayai keberadaannya hanya dengan mempersepsi atau memperkirakan hasil-hasil pengaruhnya tanpa bisa mempersepsi subtansinya.

Di sisi lain mereka mengakui indera mereka pun mudah sekali terpengaruh dan menyuguhkan gambaran yang keliru, seperti fatamorgana air di padang pasir, tongkat lurus yang menjadi bengkok jika dicelupkan ke dalam air, garis-garis pararel yang berubah jika berpotongan dengan garis-garis tertentu, dan sebagainya.

Dengan akal manusia mencapai hasil akhir berupa kesimpulan-kesimpulan, hukum atau rumus-rumus, setelah mengolah informasi yang diberikan indera. Tanpa akal, indera sering menipu dan memberikan gambaran yang salah.

Apakah dulu bumi ini memang benar-benar datar gara-gara manusia belum mengetahui realitas yang sebenarnya? Mereka telah tertipu oleh gaya gravitasi bumi yang selalu membuat kepala selalu merasa berada di atas.

“Dan berkata Fir’aun:”Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan tinggi, supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan yang benar…”
Al Mu’min/40:36~37

*****

Manusia seharusnya Intropeksi

Jika manusia mau berfikir sejenak, maka ia akan tahu bahwa Allah telah menciptakannya dan telah memberi sarana-sarana yang bisa dipakai untuk mempelajari diri dan lingkungannya tentang bukti-bukti adanya Dia dan bagaimana cara untuk mengenal-Nya.

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang telah Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati(kering-)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Al Baqarah/2:164

Bagaimana cara kita mengenal Allah? Metode apa yang akan kita gunakan untuk mengenal Allah? Tanpa mengetahui metode yang benar mustahil kita akan memperoleh suatu kebenaran, bahkan kita akan tersesat sejauh-jauhnya.

*****

Adalah kebohongan apabila manusia mengaku telah melihat langsung dengan Allah

Ada juga sebagian manusia yang telah mengaku bertemu dengan Allah, sesungguhnya ia berbohong atau ia adalah seorang yang bodoh sehingga dibohongi oleh syethan. Sesungguhnya manusia tiada kesanggupannya untuk bertemu dengan Allah

”Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”
Al An’Aam/6 :103

“Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: ”Ya Tuhan-ku, nampakkanlah(diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau” Tuhan berfirman:”Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan-Nya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: ”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman. Allah berfirman:”Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku, dan untuk berbicara lagsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”
Al A’raaf/7:143

لَوْ كَشَفَهُ َلأَحْرَقَتْ سَبَحَا تِ وَجْهِهِ مَاانْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْفِهِ

“Jika Dia menyingkapkan hijab-Nya, niscaya cahaya wajah-Nya akan membakar makhluk yang dicapai oleh penglihatan-Nya”
Shahihain, Abu Musa Al Asy’ari secara marfu’
“Dan tiada ada bagi manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki”
Asy Syuura/42:51

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صلىالله عليه وسلم : هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ ؟ قَالَ : نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ ؟
“Aku bertanya kepada Rasulullah SAW:”Apakah engkau melihat Tuhanmu? Beliau menjawab:” Aku melihat cahaya, bagaimana mungkin aku melihat-Nya?”
Dari Abu Dzar, riwayat Muslim

لَوْ رَأَيْتُ رَسُول اللهِ صلراللهُ عليه وسلم لَسَأَلْتُهُ, عَنْ أَيِّ شَيءٍ كُنْتَ تَسْأَلُهُ؟ قَالَ:كُنْتُ أَسْأَلُهُ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟ قَالَ:أَبُوذَرٍّ:قَدْسَأَلْتُ,فَقَالَ:رَأَيْتُنُورًا
“Seandainya aku melihat Rasulullah, niscaya kau bertanya kepadanya”, Abu Dzar bertanya:”Tentang apa?” Syaqiq menjawab:”Akan kutanyakan:”Apakah engkau melihat Rabbmu?” Abu Dzar berkata:”Aku telah menanyakan hal itu dan beliau menjawab:”Aku melihat cahaya”
Riwayat dari Muhammad bin Basyar, sanadnya dari Abdullah binSyaqiq

Itu adalah derajat kenabian, apalah derajat manusia selainnya sehingga dapat bertemu dengan Allah Yang Maha Besar dan Mulia.

Pertemuan manusia dengan Allah adalah menurut kehendak-Nya, yaitu di akherat bagi menusia yang dikehendaki oleh Allah, sebagai balasan keimanan dan amal sholeh manusia ketika hidup di dunia.

جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتِهِمَاوَمَافِيْهِمَا, وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ وَآنِيَتِهِمَا وَمَافِيْهِمَا, وَمَابَيْنَ الْقَومِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّوَجَلَّ إِلاَّرِدَاءَ الْكِبْرِيَاعَلَىوَجْهِهِ فِىجَنَّةِ عَدْنٍ

“Dua syurga dari perak berikut bejana dan semua yang terdapat di dalamnya terbuat dari perak. Dua syurga dari emas berikut bejana dan semua yang terdapat di dalamnya juga terbuat dari emas. Dan jarak antara kaum itu dan kesempatan bagi mereka untuk melihat Tuhannya hanyalah selapis selendang kebesaran pada wajah-Nya di syurga ‘Adn
Riwayat Bukhari dan jamaah kecuali Abu Daud

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (syurga)dan tambahannya…”
Yunus:10:26

*****

Metode untuk mengenal Allah SWT adalah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya

“Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin”
Al Baqarah/2:118

“Dan sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan”
Al Baqarah/2:164

Ini merupakan satu-satunya cara. Sedangkan akal merupakan syarat-syarat pokok dalam metode ini. Sebab tanpa akal kita tidak bisa mengetahui dan memikirkan ayat-ayat kekuasaan-Nya.

Dengan akal manusia bisa memperoleh ilmu pengetahuan dan kesimpulan-kesimpulan yang akan mengantarkannya kepada suatu keyakinan.

*****

Dalil-dalil (bukti yang tidak bisa dibantah) adanya Allah

1. Dalil Fitrah
Setiap manusia mempunyai fitrah mengimani adanya Tuhan tanpa harus didahului dengan berfikir dan mempelajari sebelumnya. Dan pada setiap zaman dapat menunjukkan fitrah manusia ini, dengan peninggalan-peninggalannya berupa tempat-tempat peribadatannya.

“Dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian dari jiwa mereka(seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’. Mereka menjawab: ‘Betul(Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu)Agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:’Sesungguhnya kami(Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap keesaan(Allah)”
Al A’raaf/7:172

Fitrah pada manusia untuk menyembah, meminta tolong kepada Allah yang berkuasa atas segala sesuatu ini dengan mudah dapat diketahui ketika ia mengalami kesulitan-kesulitan yang besar.

“Apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah apa yang kamu seru, kecuali Dia. Akan tetapi ketika Dia telah menyelamatkan kamu ke daratan, kamu justru berpaling…”
Al Israa’/17:67

“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar)di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang berada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata. Mereka berkata:”Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka tatkala Allah menyelematkan mereka, taba-tiba mereka membuat kedzaliman di muka bumi tanpa alasan yang benar….”
Yunus/10:22

2. Dalil Akal/Logika

a. Sesuatu yang tidak ada tidak bisa menciptakan sesuatu, karena memang ia tidak ada.
Seluruh makhluk yang dahulu, sekarang dan yang akan datang pasti ada yang menciptakannya, tidak mungkin ada dengan sendirinya, atau terwujud karena kebetulan.
Tidaklah mungkin ia terwujudkan dengan sendiri, sebab sesuatu tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, karena sebelumnya ia tidak terwujud, lalu bagaimana mungkin ia menciptakan dirinya?

“Apakah mereka menciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka ucapkan)”
Ath Thur/52:35

Dan juga tidak mungkin hubungan antar mahkluk yang begitu teratur dan rapi, tertib dan harmonis dan tidak mungkin keterkaitan yang kuat antara satu dengan yang lain terjadi begitu saja. Bagaimana bisa sesuatu ada secara kebetulan dengan membawa keteraturan yang luar biasa, tertata begitu rapi dan bergerak secara bersama-sama secara seimbang ?

Lebih jelasnya sebagai contoh, seandainya ada orang yang memberitahukan ada sebuah istana yang sangat megah yang dikelilingi taman, terdapat sungai yang mengalir di sekitarnya, di dalamnya penuh permadani, perhiasan dan ornamen-ornamen indah. Lalu orang tersebut berkata, istana yang lengkap beserta isinya itu ada dengan sendirinya atau muncul begitu saja tanpa ada yang membangunnya. Maka pasti cerita orang tersebut segera diingkari dan tidak dipercayai dan ucapannya sebagai suatu ketololan.

b. Sesuatu yang tidak ada tidak mungkin memberi
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah suatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling(dari ketauhidan)”
Faathir/35:3
“Maka hendaknya manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air(dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”
Abasa/80:24~32

c. Dengan memikirkan hasil ciptaan-Nya akan menunjukkan sebagian sifat-Nya yang sifat-sifat itu tidak mungkin dimiliki oleh selain-Nya

“Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkannya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda(kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan mana lagikah lagi mereka akan beriman sesudah(kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya?”
Al Jatsiyah/45:5~6

d. Dengan Indrawi
Adanya mu’jizat-mu’jizat para Nabi dan Rasul, pertolongan Allah atas hamba-Nya, karomah-karomah dan terkabulnya do’a.

3. Dalil Akan Adanya Nash / Kalam Allah

Menunjukkan adanya Allah karena kalam Allah itu tidak mungkin ditiru atau disamai oleh kalam-kalam selainnya.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”
An Nisaa’/4:82

“Katakanlah:”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”
Al Israa’/17:88

Dan juga di dalamnya menceritakan kejadian alam yang dibenarkan oleh kenyataan. Hal yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa mewujudkan isi dari kalam-Nya tersebut.

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak pula, di atasnya lagi awan ;gelap gulita yang bertindih-tindih… ”
An Nuur/24:40

”Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain…”
Al Mu’minuun/23 :15

*****

Ma’rifat fi Rububiyyatihi

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesutatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri? Dan kepada Allah-lah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk melata di bumi dan(juga) para malaikat, sedang mereka(malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan(kepada mereka)”
An Nahl/16.48~50

“Katakanlah””Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab:”Allah” Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa(kepada-Nya)?”
Yunus/10.31

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”
Al Fatihah/1.2
Allah sebagai :
1. Pencipta segala makhluk / Khalik (الخالق )
“Allah pencipta segala sesuatu dan Dia pemelihara segala sesuatu”
Az Zumar/39:62

2. Pemilik segala sesuatu / Maliik (المالك)
”Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah berkuasa atas segala sesuatu.”
Al Imran/3: 189
“Katakanlah:”Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engakau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki…”
Al Imran/3:26

3. Pengatur (المُدَبِر)
“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana)kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan makhluk-Nya, menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu”
Ar Ra’d/13:2

4. Pemberi rezki (الرازق)
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah suatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)”
Faathir/35:3
“Berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya, Allah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
Al Ankabut/29:60

5. Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan (المُحْيِ/ الْمُمِيْتُ)
“Yang Menjadikan mati dan hidup…”
Al Mulk/67:2
“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya…”
Ar Ruum/30:19

6. Pengutus Rasul-rasul, Pendidik dan Pengajar para nabi, rasul, dan para pengikutnya di jalan yang benar. (الربِّ)
“Berkata Fir’aun:”Maka siapakah rabbmu berdua, hai Musa? Musa berkata:”Rabb kami ialah(Tuhan) Yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”
Thaahaa/20:49~50
“(Rabb) yang maha pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur’an, dan menciptakan manusia, mengajarkan kepadanya Al Bayan”
Ar Rahman/55:4

Alam semesta secara total dengan segala kejadiannya yang ada di dalamnya menyembah dan tunduk beribadah kepada Allah. Masing-masing dengan caranya sendiri sesuai dengan kesanggupan diberikan Allah kepadanya.

“Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka”
Al Israa’/17:44
“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang yang melata, dan sebagian besar daripada manusia?”
Al Hajj/22:18

*****

Ma’rifat fi Sifatihi

1. Sifat Wajib dan Mustahil bagi Allah (tidak bisa hilang salah satu)

a. Al Wujud >< Al Adama / ada dan tidak mungkin tidak ada
“Yang demikian itu adalah adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, Tiada Tuhan melainkan Ia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”
Al Mu’min/40:62
“Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman”
Al Jatsiyah/45:3

Dalil:
 Setiap barang yang terjadi /hadits pasti ada yang menjadikannya/muhdits, akal tidak akan menerima keberadaan sesuatu tanpa ada penyebabnya/yang menjadikannya
 Alam adalah hadits dan tentu ada yang menjadikannya
 Siapa lagi kalau bukan Allah yang mampu menjadikan alam, mengatur dan memeliharanya

b. Al Qidamu >< Al Hudutsu / awal, terdahulu dan mendahului dan tidak mungkin terdahului
“Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir…”
Al Hadiid/57:3

Dalil :
 Bahwa sesuatu yang huduts tentu berhajat/membutuhkan kepada muhdits, dan muhdits tentu berhajat kepada muhdits dan seterusnya
 Jika Allah adalah huduts tentu membutuhkan kepada muhdits dan tentu membutuhkan muhdits di atasnya dan seterusnya, dan ini tidak mungkin karena Allah tidak dijadikan
 Maka menjadi wajib Allah itu Qidam yaitu tidak dijadikan dan tidak berpermulaan

Ket:
Adalah kesalahan apabila dikatakan Allah adalah sebab pertama, ini adalah pendapat ahli filsafatyang materialis. Karena sebab atau penyebab adalah sekedar alat yang tidak mengetahui tujuannya dan tidak berkehendak.
Allah memang mengadakan alam ini bersebab-sebab tetapi Dia tidak tergolong materi yang menjadi sebab. Allah yang menciptakan sebab yang pertama yang kedua dan seterusnya. Sebab adalah hadits bukan Qadim

c. Al Baqa >< Al Fana/kekal, abadi dan tidak mungkin bersifat sementara yang akhirnya lenyap
“…tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah…”
Al Qashash/28:88
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”
Ar Rahman/55:26~27

Dalil :
 Sesuatu yang fana, yaitu berakhir atau hilang, menandakan sesuatu itu hadits
 Andaikan Allah itu fana maka Allah adalah hadits dan ini tidak mungkin
 Maka pastilah Allah adalah Baqa

d. Mukhalafatu lil Hawaditsi >< Mumatsalatu lil Hawaditsi/tidak ada yang menyerupai dan tidak mungkin diserupakan (ta’wil atau takwil)
“…tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia…”
Asy Syuura/42:11
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”
Al Ikhlash/112:4
Dalil :
 Sesuatu yang mempunyai persamaan dengan sesuatu yang lainnya, maka keduanya dikatakan sejenis / sebangsa seperti halnya hewan; ada golongan mamalia, reptilia dan sebagainya yang mempunyai persamaan-persamaan tertentu
 Bila Allah memiliki unsur atau sifat yang sejenis dengan makhluk maka Ia bukan Allah lagi ia adalah makhluk juga
 Persamaan kata sifat antara manusia dan Allah seperti penyayang misalnya, tidak bisa dikatakan sejenis/sama karena sifat penyayangnya Allah tidak sama dengan sifat penyayang yang dimiliki manusia, kita tidak bisa menggambarkan sifat Allah ini karena kita tidak mampu mengetahuinya kecuali hanya menyebutnya saja bahwa Allah itu Maha Penyayang
 Sesuatu yang memiliki kesamaan dengan yang lain maka ia bersifat lemah, karena tidak bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda atau ia mampu disamai oleh yang lain. Maka adalah pasti bahwa Allah yang Maha Kuat adalah tidak menyamai makhluk-Nya atau disamai oleh makhluk-Nya

e. Qiyamuhu bi Nafsihi >< Qiyamuhu bi Ghoirihi/berdiri sendiri dan tidak mungkin tergantung kepada sesuatu
“Allah itu yang tiada tuhan selain Dia yang hidup dan berdiri sendiri… ”
Al Baqarah/2:255
Dalil :
 Setiap benda memerlukan ruang
 Jika Allah memerlukan ruang berarti Ia bukan Allah

f. Wahdaniyah >< At Ta’addud / Esa dan mustahil tidak esa
“Sekiranya di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa…”
Al Anbiyaa’/21:22

Dalil :
 Jika sesuatu berbilang/lebih dari satu, tentu antara satu dengan yang lainnya berlainan(walupun sama), karena kalau semua yang berbilang itu sama keadaannya dalam ruang yang ditempati, tentu tidak bisa dikatakan berbilang
 Jika Allah berbilang niscaya satu dengan yang lainnya berlainan
 Dan jika Allah berbilang tentu juga berlainan kehendak dan sifatnya, pasti peraturan alam ini akan kacau dan binasa
 Kenyataannya alam ini teratur, karena pengaturnya adalah satu

Ket. Keesaan Allah :
Satu dalam bilangan secara mutlak, tidak tersusun dari unsur-unsur/oknum
Esa dalam sifat-sifat-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya atau dimiliki selain-Nya
Esa dalam af’al-Nya, ciptaan dan tindakan Allah tidak diserupai oleh siapapun

g. Iradah >< Karohiyatu / berkehendak dan tidak mungkin terpaksa mengikuti kehendak makhluk
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya,”Jadilah!” maka terjadilah ia.”
Yasiin/36:82
“Sesungguhnya Tuhanmu menciptakan apa yang Ia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka…”
Al Qashash/28:68

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَحْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah menulis takdir-takdir seluruh makhluk sejak 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi”
Dari Abdulah bin Amru bin Ash Ra dari dari Rasulullah Saw, HR Muslim

Dalil :
 Segala kejadian adalah terjadi dengan gerak yang berurutan dan tiap gerak tentu ada yang menggerakkan/aksi/penyebab
 Gerak pertama disebabkan penyebab pertama, dan tentu yang menggerakkan adalah dari luar yang mempunyai kehendak atau tujuan
 Dzat yang menggerakkan itu adalah Allah
 Alam menerima penggerakan pertama dan berjalan menuju kesempurnaan dengan tertib sesuai kehendak tertentu yang pertama, dan gerak selanjutnya terjadi karena kehendak tertentu pula

h. Qudrat >< Adjasu / berkuasa dan tidak mungkin bersifat lemah
”…dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu… ”
Al Mulk/67:1
”Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan”
Qaaf/50:38

Dalil :
 Mencipta dan mengatur alam ini adalah kekuasaan tertinggi
 Kekuasaan semacam itu hanya dimiliki oleh penciptanya

i. Ilmu >< Jahlu / mengetahui dan tidak mungkin tidak mengetahui atau bodoh
”…Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarah di bumi atau di langit… ”
Yunus/10:61

”Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi), sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah… ”
Luqman/31:27
”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tiada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata(Lauh Mahfudz)”
Al An’am/6:59

Dalil :
 Mengetahui segala sesuatu adalah syarat mutlak mengatur alam ini
 Alam ini membuktikan keilmuan yang menciptakannya
 Apabila ada yang tidak diketahui Allah/ghaib bagi Allah, tentu ia akan mengacaukan keseimbangan alam
 Mustahil Allah bersifat jahlu
 Karenanya Bagi Allah tidak ada yang rahasia

j. Sami’u >< Ash Shammamu / mendengar dan tidak mungkin tuli
k. Basharu >< Al A’ma / melihat dan tidak mungkin buta
”…dan Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. ”
Asy Syuraa/42:11
”Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”
Asy Syuraa/42:27
”Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”
Al An’Aam/6 :103

Dalil :
 Tidak mendengar atau melihat adalah sifat kekurangan
 Allah tidak mungkin memiliki sifat kekurangan

l. Al Kalamu >< Al Bukmu / berfirman dan tidak mungkin bisu
”Sesungguhnya perintah Allah itu jika Ia menghendaki terjadinya sesuatu, hanyalah Dia bersabda:”Jadilah!” maka sesuatu yang dikehendaki itu terjadilah”
Yaasiin/36:82

Dalil :
 Adanya alam dan apa-apa yang ada di dalamnya dan keteraturan-keteraturan yang berlaku di dalamnya
 Adanya Al Qur’an
 Maka segala perintah Allah tentang terjadinya alam ini dan apa-apa yang terjadi di dalamnya adalah kalam Allah
 Pemberian petunjuk kepada makhluk-Nya adalah semacam kalam Allah
 Tidak layak jika Allah tidak bersabda

Ket :
Apa yang dinamakan kalam(sabda atau perkataan) tidak disyaratkan harus berupa susunan kata-kata, tetapi kalam adalah ; menyampaikan pengertian

m. Al Hayatu >< Al Mautu
”Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup(Kekal) Yang tidak mati,… ”
Al Furqaan/25:58

Dalil :
 Kejadian alam dan keteraturannya yang terjadi terus menerus adalah bukti adanya Pengatur Yang Maha Hidup
 Jika Allah mati, maka akan terhenti keteraturan alam ini dan berhenti juga proses penciptaan kehidupan makhluk
 Mati adalah sifat kelemahan maka Allah tidak mungkin mati

2. Sifat Allah yang Jaiz / Kehendak yang Bebas (Hak Prerogatif Allah)

Selain sifat wajib Allah yang mutlak dimiliki Allah, ada sifat jaiz. Yang dimaksud adalah:”apa yang mutlak menjadi wewenang Allah, untuk menciptakan menurut kehendak-Nya sendiri” Dalam hal ini terkandung hak wewenang Allah untuk menciptakan sesuatu atau tidak, untuk memperlakukan hamba-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya.

Contoh-contoh:
a. Allah tidak berkewajiban atau tidak ada yang mewajibkan-Nya untuk memberikan petunjuk, kebaikan serta kesenangan hidup kepada semua hamba-Nya. Andaikata hal ini wajib bagi Allah tentu semua orang dalam petunjuk dan masuk syurga, semua orang senang karena tidak ada yang kekurangan harta maupun kesehatan. Tetapi berdasarkan hikma-Nya Allah menentukan sesuatu menurut kehendak-Nya sendiri.
“Jika Allah menentukan kemelaratan kepadamu maka tiada seorangpun yang berkuasa melepaskan engkau daripadanya kecuali Allah sendiri. Dan jika Allah menghendaki engkau dengan kebaikan maka tidak ada yang kuasa menghalangi anugrah-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya itu..”
Yunus/10:107
“…Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”
Al An’aam/6:35
“Siapa saja yang dikendaki oleh Allah untuk memperoleh petunjuk niscaya Allah akan melapangkan dadanya menerima Islam. Dan siapa yang dikehendaki-Nya tersesat maka Allah menjadikan sempit hatinya…”
Al An’am/6:125

b. Allah tidak berkewajiban atau tidak ada yang mewajibkan-Nya untuk mengutus rasul-rasul dan kitab-kitab, tetapi dengan kasih sayang-Nya Allah berkehendak menunjuki siapa saja dari hamba-Nya yang menginginkan petunjuk-Nya.
“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki(menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”
At Takwiir/81:27~29

c. Adalah mutlak wewenang Allah menjadikan baik-buruk, halal-haram, benar-bathil dan menciptakan perkara yang manfaat atau yang mudharat.
“Katakanlah:”Terangkan kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan(sebagiannya) halal.” Katakanlah:”Apakah Allah telah memberi izin kepadamu(tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”
Yunus/10:59

d. Mutlak wewenang Allah untuk mengampuni dosa atau menyiksa hamba-hamba-Nya
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka seungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Al Maidah/5:118

e.Mengganti makhluk-Nya dengan yang lain
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu, dan menggantimu dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah”
Ibrahim/14:19~20

3. Kaidah-Kaidah dalam Masalah Sifat Allah SWT

a. Seluruh sifat-Nya adalah kesempurnaan sifat dan sama sekali tidak mempunyai kekurangan.
Apabila suatu sifat menunjukkan kekurangan dan tidak mengandung kesempurnaan, maka sifat itu mustahil bagi Allah SWT.
Apabila suatu sifat kadangkala menunjukkan kesempurnaan dan kadang kala juga menunjukkan kekurangan, hukumnya secara mutlak tidak jaiz bagi Allah dan tidak pula mustahil, maka secara mutlak tidak kita tetapkan untuk Allah dan tidak juga kita menafikannya. Tetapi harus kita rincikan, sehingga menjadi jaiz jika sifat itu menunjukkan kesempurnaan dan menjadi mustahil jika sifat itu menunjukkan kekurangan. Contoh : Sifat makr, khidaa.
”Mereka berbuat makar dan Allah menggagalkan makar itu, dan Allah sebaik-baik Pembalas makar”
Al Anfaal/8:30
”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka”
An Nisaa’/4:142

Sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan apabila sebagai balasan terhadap orang-orang yang berbuat seperti itu, karena menunjukkan Allah berkuasa atas mereka. namun sifat-sifat ini menunjukkan kekurangan bila tidak sebagai balasan.

b. Masalah Sifat lebih luas daripada masalah Asma’
Karena setiap Asma’ mengandung sifat-sifat Allah SWT, sedangkan penetapan sifat tidak menuntut penetapan asma’, contoh: sifat al Kalam tidak menuntut asma al Mutakallam

c. Sifat-sifat yang disebutkan Allah tentang diri-Nya ada dua macam sifat.
1. Tsubuutiyah / ثبتية
Yaitu setiap sifat yang telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya di dalam Al Qur’an atau melalui sabda Rasulullah.
Sifat Tsubuutiyah ada dua macam yaitu:
~Dzaatiyyah / الذاتية
Sifat yang senantiasa ada dan selamanya tetap pada diri Allah dan Qadimah karena telah dimiliki oleh Allah sejak awal), sifat ini adalah sifat yang wajib.
~Fi’liyah / الفعليّة
Sifat yang terikat dengan masyi’ah / kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, dilakukan-Nya dan jika tidak maka tidak dilakukan-Nya dan semua sifat Fi’liyah ini mengikuti hikmah-Nya yang kadang kita ketahui kadang tidak kita ketahui). Sifat ini adalah sifat yang ja’iz.
2. Salbiyah / سلبية
Sifat yang dinafikan Allah bagi diri-Nya melalui Al Qur’an dan melalui Rasul-Nya untuk menetapkan sifat kesempurnaan.

d. Larangan untuk Ilhad/menyimpangkan tentang sifat Allah dari maksud yang sebenarnya, tamtsil atau bahwa sifat Allah SWT yang ditetapkan itu serupa dengan sifat makhluk, dan larangan untuk takyif/mencari tahu bagaimananya karena terbatasnya akal dan mustahil untuk diketahui akal.

e. Sifat-sifat Allah adalah taufiqiyah, informasi tentang-Nya berdasarkan wahyu, dan akal sama sekali tidak mempunyai peran di dalamnya.
“Katakanlah:”Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkam) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang kamu tidak ketahui”
Al A’raaf/7:33

*****
Penjelasan tentang beberapa sifat-sifat Allah

1. Sifat Ma’iyyah

a. Ma’iyyah umum
Allah bersama seluruh makhluk-Nya, mengetahui, memantau segala aktifitasnya, tiada yang tersembunyi
“…Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimanapun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”
Al Hadid/57:4

b. Ma’iyyah khusus
Allah bersama dengan hamba-hamba-Nya yang disukai-Nya dan dicintai-Nya, para muhsinin, muttaqin, shabirin dan para hamba yang menghiasi dirinya dengan amalan mulia yang dicintai Allah
“Sesungguhya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”
An Nahl/16:128
“Jikalau kamu tidak menolongnya(Muhammad) maka sesungguhnya Alla telah menolongnya(yaitu) ketika orang-orang kafir(musyrik Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada di dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita…”
At Taubah/9:40

Sifat ma’iyyah ini tidak menuntut bersatunya dzat
“Kami terus berjalan sedangkan bulan bersama kami” مَشَيْنَا وَالْقَمَرُ مَعَنَا
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:”Barangsiapa mengataka Allah bersama Dzat-Nya berada di setiap tempat, maka ia menyelisihi Kitab, Sunnah, Ijma’ salaf dan para Imam, sekaligus menyelisihi fitrah, akal sehat dan dalil yang banyak”

2. Sifat Iradat
a. Iradah yang berarti kehendak atas segala sesuatu yang terjadi di alam المَشِيْئَة الكَامِلَة لِجَمِيْعِ الْحَوَادِثِ atau الإِرَادَةُ الكَوْنِيَّة
Ini adalah iradah yang obyeknya (apa yang dikehendaki) pasti terjadi
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah”, maka terjadilah ia”
Yaasiin/36:82

b. Iradah yang berarti kecintaan / الإِرَادَةُ الشَّرْعِيَّة
Ini iradah yang obyeknya tidak mesti terjadi seperti yang dikehendaki tetapi menurut pilihan Allah
“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu…”
An Nisaa’/4:26
“…Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu…”
Al Baqarah/2:185

Lalu apakah Allah menghendaki kemaksiatan? Jawabannya: Allah menghendakinya secara kauniy tetapi tidak secara syar’i, sebab Allah tidak ridha terhadap kemaksiatan tetapi segala yang terjadi adalah dengan kehendak-Nya

3. Sifat memberi petunjuk
a. Memberi petunjuk yang berarti menunjukkan jalan / دَلاَلَةَ السَّبِيل
Allah Swt memberikan petunjuk kepada seluruh makhluk-Nya terutama kepada manusia, yang iman ataupun yang kafir.

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur adapula yang kafir”
Al Insaan/76:3

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya kedua belah mata, lidah dan dua buah bibir, dan Kami telah menunjukinya dua buah jalan”
Al Balad/90:8~10

b. Memberi petunjuk yang berarti taufiq

Menjadikan hati mudah menerima, memudahkan jalan dan membantu menuju kebaikan., yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sholeh saja

“…Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”
Al An’am/6:35

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhi thaghut itu”. Maka di antara ummat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan adapula orang-orang yang telah pasti kesesatannya…”
An Nahl/16:36

4. Sifat Tangan

Sifat tangan adalah sifat dzatiyyah yang termaktub di dalam Al Qur’an dan Al Hadits
“…di tangan-Mu-lah segala kebajikan”
Al Imran/3:26
“…yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku”
Shaad/38:75
“…binatang ternak, yang itu merupakan sebagian dari apa yang telah diperbuat oleh tangan Kami…”
Yaasiin/36:71

يَدُاللهِ مَلأَى لاَيُغِيْضُهَانَفَقَةٌ سَحَّاءُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ أَرَأَيْتُمْ مَااَنْفَقَ مُنْدُ خَلْقِ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْقُصْ مَا فِى يَدِهِ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَىالْمَاءِ وَبِيَدِهِ الْمِزَانُ يَخْفَضُ وَ يَرْفَعُ
“Tangan Allah penuh, nafakhah (yang Dia berikan) tidak menguranginya, Ia terus memberi (mencurahkan nikmat) siang dan malam. Perhatikan apa yang diturunkan (dicurahkan) oleh Allah sejak terjadinya langit dan bumi, sesungguhnya ia tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya (kekayaan-Nya). Adalah Arsy Allah di atas air dan di tangan-Nya timbangan, Dia menaikkan dan menurunkannya”
Bukhari Muslim

Ibnu Qoyyim berkata:”Makna yang dekat dengan sifat tangan ini adalah sifat qudrah. Hanyasanya tangan lebih khusus dari qudrah. Segala yang terjadi, terjadi dengan qudrah, dan tidak semua yang terjadi dengan qudrah terjadi dengan tangan. Sebab itu pemuliaan terhadap Adam As”

Imam Malik berkata:”Istiwa’-Nya maklum (diketahui dari dalil), kaifiyatnya (tentang bagimana) majhul (tidak diketahui), beriman kepadanya adalah wajib, sedang bertanya kepadanya adlah bid’ah”

*****
Ma’rifat fi Asmaihi

1. Nama yang 99

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
Al A’raaf/7:180

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعً وَ تِسْعِيْنَ إِسْمًا مِائَتً إِلاَّوَاحِدًامَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْدَ
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya/mengamalkannya, maka di masuk syurga. Allah adalah ganjil, Dia menyukai yang ganjil.”
Abu Hurairah Ra, dari Rasulullah Saw, Shahihain

Banyak versi yang meriwayatkan tentang asma-asma Allah yang 99 (ini bukan jumlah keseluruhan asma’ Allah), dan penyusunannya sendiri bukan dari Rasulullah Saw. Dan yang disusun oleh Syekh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin adalah sebagai berikut:

Dari Al Qur’an:
1. Allah / اللَّه
2. Al Ahad / الأحد / Yang Maha Esa
3. Al A’la / الأعلى/ Yang Paling Tinggi
4. Al Akram / الأكرم / Yang Paling Pemurah
5. Al Ilaah / الاله / Yang Disembah
6. Al Awwal / الأول / Yang Telah Ada Sebelum Segala Sesuatu
7. Al Aakhir / الآخر / Tetap Ada Setelah Segala Sesuatu Musnah
8. Azh Zhahir / الظاهر / Yang Nyata Amal Perbuatan-Nya
9. Al Baathin / الباطن / Yang Tidak Ada yang Menghalangi-Nya
10. Al Baari’ / البارئ / Yang Mengadakan
11. Al Barr / البرّ / Yang Melimpahkan Kebaikan
12. Al Bashiir / البصير / Yang Maha Melihat
13. At Tawwaab / التوّاب / Yang Menerima Taubat
14. Al Jabbar / الجبّار / Yang Maha Kuasa Memaksakan Kehendak
15. Al Haafiizh / الحافيظ / Yang Menjaga
16. Al Hasib / الحسيب / Yang Memberi Kadar Dengan Tepat
17. Al Hafidz / الحفيض / Yang Maha Memelihara
18. Al Hafiy / الحفيّ/ Yang Sangat Baik
19. Al Haqq / الحقّ / Yang Maha Benar
20. Al Mubiin / المبين / Yang Menjelaskan Segala Sesuatu Menurut Hakekatnya
21. Al Hakiim / الحكيم / Yang Maha Bijaksana
22. Al Haliim / الحليم / Yang Maha Penyantun
23. Al Hamiid / الحميد / Yang Maha Terpuji
24. Al Hayyu / الحيّ / Yang Maha Hidup
25. Al Qayyum / القيّوم / Yang Tegak dan Menegakkan Segala Urusan
26. Al Khabiir / الخبير / Yang Mengetahui Segala Perkara
27. Al Khaaliq / الخالق / Yang Menciptakan
28. Al Khalaaq / الخالاق / Yang Maha Pencipta
29. Ar Rauuf / الرؤوف / Yang Maha Belas Kasihan
30. Ar Rahmaan / الرّحمن / Yang Maha Pengasih, Maha Pemurah
31. Ar Rahiim / الرّحيم / Yang Maha Penyayang
32. Ar Razzaaq / الرّزاق / Yang Maha Pemberi Rezeki
33. Ar Raqiib / الرقيب / Yang Maha Mengawasi
34. As Salam / السّلام / Yang Memberi Keselamatan, Melimpahkan Kesejahteraan
35. As Samii’ / السميع / Yang Maha Mendengar
36. Asy Syaakir / الشاكر / Yang Mensyukuri Amal Kebaikan
37. Asy Syakuur / الشاكور / Yang Maha Mensyukuri
38. Asy Syahiid / الشهيد / Yang Maha Menyaksikan
39. Ash Shamad / الصمد / Yang Bergantung Kepada-Nya Segala Sesuatu
40. Al ‘Aalim / العالم/ Yang Mengetahui Segala
41. Al Aziz / العزيز / Yang Maha Mulia / Perkasa
42. Al ‘Azhiim / العظيم / Yang Maha Agung
43. Al Afuuw / العفوّ / Yang Maha Pemaaf
44. Al ‘Aliim / العليم / Yang Maha Tahu
45. Al Ghaffaar / الغفّار / Yang Maha Pengampun
46. Al Ghafuur / الغفور / Yang Maha Pengampun
47. Al Ghaniy / الغنيّ / Yang Maha Kaya / Cukup
48. Al Fattaah / الفتّاح / Yang Maha Pemberi Keputusan
49. Al Qaadir / القادر / Yang Berkuasa
50. Al Qaahir / القاهر / Yang Mempunyai Kekuasaan Tertinggi
51. Al Quddus / القدّوس / Yang Maha Suci
52. Al Qadiir / القدير / Yang Maha Kuasa
53. Al Qariib / القريب/ Yang Maha Dekat
54. Al Qawiy / القويّ / Yang Maha Kuat
55. Al Qahhaar / القهّار / Yang Maha Perkasa
56. Al Kabiir / الكبير / Yang Maha Besar
57. Al Karim / الكريم / Yang Maha Pemurah
58. Al Lathiif / اللطيف / Yang Maha Halus / Lembut
59. Al Mu’min / المؤمن / Yang Memberi Keamanan
60. Al Muta’aaliy / المتعالي / Yang Maha Tinggi
61. Al Mutakabbir / المتكبّر / Yang Mempunyai Segala Kebesaran dan Keagungan
62. Al Matiin / المتين / Yang Maha Kokoh
63. Al Majiid / المجيد / Yang Maha Mulia
64. Al Mujiib / المجب / Yang Mengabulkan
65. Al Muhiit / المحيت / Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu
66. Al Mushawwir / المصوّر/ Yang Memberi Bentuk Dan Rupa
67. Al Muqtadir / المقتدر / Yang Maha Berkuasa
68. Al Muqiit / المقيت / Yang Menyediakan Rezki Makhluk
69. Al Maalik / المالك / Yang Empunya
70. Al Maliik / الملاك / Pemilik kerajaan
71. Al Maulaa / المولى / Tempat Berlindung Segala Sesuatu
72. Al Muhaimin / المهيمن / Yang Maha Memelihara
73. An Nashiir /النصير/ Penolong
74. Al Waahid / الواحد / Yang Tunggal
75. Al Waarits / الوارث / Pemillik Yang Hakiki
76. Al Waasi’ / الواسع / Yang Maha Luas
77. Al Waduud / الودود / Yang Maha Pengasih
78. Al Wakiil / الوكيل/ Pemelihara / Pelaksana Segala Urusan
79. Al Waliy / الولي/ Yang Melindungi
80. Al Wahhaab / الوهّاب / Yang Maha Pemberi

Dari Sunnah Rasulullah Saw :
81. Al Jamil / الجميل / Yang Maha Indah
82. Al Jawwad / الجوّاد / Yang Maha Pemurah
83. Al Hakam / الحكم / Yang Menetapkan Segala Keputusan
84. Al Hayiy / الحيِيُّ/ Yang Memiliki Sifat Malu Dan Mencintainya
85. Ar Rabb / الربّ / Tuhan Pencipta, Pemelihara, Pengatur Dan Pelindung
86. Ar Rafiiq / الرفيق/ Yang Maha Lembut, Maha Halus, Yang Menyertai
87. As Subbuuh / السبّوح / Yang Maha Suci
88. As Sayyid / السيّد / Pemelihara, Pelindung, Penguasa
89. Asy Syaafi / الشافى/ yang Menyembuhkan, Yang Memberi Kesehatan
90. Ath Thayyib / الطيّب / Yang Baik
91. Al Qaabidh / القابض / Yang Menyempitkan Rezeki
92. Al Baasith / الباسط / Yang Melapangkan Rezeki
93. Al Muqaddim / المقدّم / Yang Mendahulukan
94. Al Mu’akhkhir / المؤخّر / Yang Mengakhirkan
95. Al Muhsin / المحسن / Yang Berbuat Kebaikan
96. Al Mu’thi / المعطى / Yang Memberi
97. Al Mannan / المنّان / Yang Maha Pemberi, Yang Maha Pemurah
98. Al Witr / الوتر/ Yang Satu, Yang Tunggal
99. Maalikal mulki dzul jalali wal ikraam /مَالِكَ المُلْكِ ذُوْالجَلاَلِ وَالاِْكْرَامْ / Pemilik Segala Kekuasaan dan Pemilik Segala Kemuliaan

2. Kaidah-Kaidah dalam Masalah Asma Allah SWT

a. Seluruh Asma Allah SWT adalah husna, artinya maha indah.
“Dialah Allah, tiada Tuhan(yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaul husna(nama-nama yang baik)”
Thahaa/20:8
“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik,…”
Al Hasyr/59:24

b. Asma Allah SWT adalah nama dan sifat, nama dipandang dari indikasinya terhadap dzat, dan sifat dipandang dari indikasinya terhadap makna.

c. Nama Allah dan ketetapan sifat yang dikandung oleh nama tersebut adalah untuk Allah sendiri.

d. Indikasi nama-nama Allah terhadap dzat-Nya adalah mencukupi, dan menuntut adanya iltizaam/konsekuensi dari pengertian yang lazim(pengertian yang dimaksud) yang bersumber dari dalil.

e. Asma Allah SWT adalah taufiqiyah, berdasarkan pada petunjuk wahyu Al Qur’an dan petunjuk dari As Sunnah, dan akal tidak punya peran di dalamnya.

f. Jumlah keseluruhan dari Asma’ Allah adalah tidak diketahui, asma Allah SWT tidak terbatas pada bilangan tertentu tetapi banyak tidak terbatas. Sebagaimana Do’a Rasulullah SAW:

“…اَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمِ هُوَلَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ اَوْاَنٍْزَلْ تَهُ فِى كِتَا بِكَ, اَوْعَلَّمْتَهُ اَحَدًامِنْ خَلْقِكَ، اَوِاسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ…”

”..Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu, yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada seseorang di antara makhluk-Mu, atau masih dalam rahasia ghaib pada-Mu yang Engkau sendiri yang mengetahuinya… ”
(Riwayat Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Al Hakim / shahih)

g. Larangan untuk ilhad/menyelewengkan asma Allah dari kebenaran yang wajib dilaksanakan terhadapnya, seperti ta’thil/pentakwilan, tasybih/penyerupaan, membikin nama-nama baru bagi Allah yang tidak disebutkan-Nya untuk diri-Nya, dan menjadikan nama-nama Allah SWT untuk nama berhala.
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya,…”
Yusuf/12:40

*****

Ma’rifat fii Uluhiyatihi

1. Allah diibadahi dan disembah oleh seluruh makhluk-Nya, suka atau ridak suka rela atau terpaksa

“Maka apakah kamu akan mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.”
Al Imran/3:83

“Hanya kepada Allah-lah sujud(patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa dan (sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.”
Ar Ra’d/13:15

“Langit yang tujuh, bumi dan semuanya yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tiada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka….”
Al Israa’/17:44
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah; kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya),…”
An Nuur/24:41

2. Hanya Allah yang disembah dan diibadahi sendirian oleh para makhluk, sedangkan yang lain tidak berhak

“Dia-lah Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu. Yang memiliki sifat-sifat yang baik demikian itulah Rabb-mu, tidak ada Rabb selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka beribadahlah kepada-Nya dan Dia Pemelihara segala sesuatu”
Al An’aam/6:101

“Tiada sekutu bagi-Nya ; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”
Al An’aam/6:163

“Dan (aku telah diperintah):”Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik”
Yunus/10:105

“Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama dengan Dia(yang patut disembah) ?”
Maryam/19 :65

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan dengan menyembah berhala itu mereka tidak lain hanyalah menyembah syaithan yang durhaka ”
An Nisaa’/4 :117

*****

Akhlak kepada Allah
1. Mensyukuri nikmat
“Dan apa saja ni’mat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya…”
An Nahl/16:53
“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”
Al Baqarah/2:153
“…bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterimakasih”
Saba’/34:13
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya…”
An Nahl/16:18
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”
Ibrahim/14:7

2. Malu bila berbuat maksiat
“Dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu rahasiakan”
An Nahl/16 :19
”…Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarah di bumi atau di langit… ”
Yunus/10:61

اْلحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Malu itu merupakan cabang iman”
Hadits Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan Imran bin Husain

“Dan katakanlah:”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu…”
At Taubah/9:105

3. Takut kepada adzab-Nya
وَاللهِ اِنِّى لاَعْلَمُهُمْ بِاللهِ وَاَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَه
“Demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan yang paling takut kepada-Nya”
Bukhari –Muslim

4. Mohon ampun dan bertaubat
”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-mu, dan berserahdirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi ”
Az Zumar/39:54
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhan-mu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”
Ali Imran/3:193

5. Bersabar terhadap ujian yang menimpa

عَجَبًالأِمْرِالْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلُّهُ خَيْرٌ, وَلَيْسَ ذَلِكَ لأَِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ, إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًالَهُ, وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ, فَكَانَ خَيْرًالَهُ
“Adalah mengherankan keadaan orang mu’min itu, karena semua perkaranya baik, dan hal ini tidak ada pengecualian(berlaku bagi setiap mu’min). Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, maka syukur itu menjadi kebaikan baginya, jika ia mendapat musibah ia bersabar, maka kesabarannya itu menjadi kebaikan baginya”
Shahihain, Tafsir Ibnu Katsir,7:95

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ ”
Al Baqarah/2:45

6. Bertawakkal kepada-Nya
“Dia-lah Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan hendaklah orang-orang yang mu’min bertawakal kepada Allah saja”
At Taghaabun/64:13

لَوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَاتَرْزُقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْاخِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا
“Kalau seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sungguh Allah akan memberikan rizki-Nya kepada kalian, sebagaimana burung-burung dilapangkan rizkinya, berangkat pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang pada sore hari dengan perut kenyang”
Tirmidzi, hasan shohih

7. Berhusnudzan kepada-Nya

لاَيَمُوْتُنَّ أَحَدُكُمْ ِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ
“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Rabb-nya”
Muslim dan Abu Daud

Husnudzan kepada Allah menuntut
a. Tidak mencela terhadap apa yang buruk dan memuji Allah terhadap apa yang baik
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab(Lauh Mahfudz), sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”
Al Hadiid/57:22~23

Bisa jadi keburukan yang menimpa menyimpan hikmah dan kebaikan yang banyak dibaliknya yang tidak kita ketahui, maka tidak sepatutnya kita mencelanya, kecuali beristighfar. Dan terhadap kebaikan, yang pantas adalah memuji Allah karena itu tidak terjadi lantaran karena usaha kita dan berhati-hati karena kebaikan itu juga merupakan ujian.
b. Menyerahkan segala urusan dan pilihan-pilihan kepada Allah karena berharap rahmat-Nya yang luas

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ فَلاَتَكِلْنِيْ إِلَىنَفْسي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَسْلِحْلِي شَأْنِى كُلُّهُ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Ya Allah aku mengharap rahmat-Mu dan jangan serahkan aku kepada diriku sendiri sekejap matapun, perbaikilah urusanku semuanya, tidak ada ilah melainkan Engkau”
Sunan, Abu Daud

8. Tidak mencoba mengetahui urusan yang ghaib(karena memang tidak mampu dan itu adalah hak milik Allah), kecuali menurut apa yang telah dikabarkan utusan-Nya

”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tiada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata(Lauh Mahfudz)”
Al An’am/6:59

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati,…”
Luqman/31:34

“Katakanlah:”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah”…”
An Naml/27:65

“…Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya…”
Ali Imran/3:179

Sedangkan apa-apa yang dikatakan dukun dan peramal nasib itu adalah berita dari syaithan, walaupun misalnya berita itu kebetulan benar maka sebenarnya berita tersebut tidak berhak untuk kita ketahui.

تِلْكَ اْلكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ اْلجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُوْنَ مَعَهَامِائَةَ كَذْبَةٍ
“Itu adalah berita benar yang dicuri oleh jin, lalu dibisikkan ke telinga temannya(dukun) dan mereka campur dengan seratus kedustaan“
Shahihain

“…dan Kami jaidkan bintang-bintang itu alat pelempar syathan,…“
Al Mulk/67 :5

9. Suka memohon kepada Allah

سَلُوْ اللهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ…
“Mohonlah kepada Allah dari karunia-Nya sesungguhnya Allah senang diminta..”
Ibnu Abbas, Tafsir Ibnu Katsir;4:32

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka(jawablah): bahwasanya Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku”
Al Baqarah/2:186

يَنْزِلُ رَبُّنَ تَبَارَكَ تَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَ حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِىفَأَسْتَجِيْبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأَعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِِرُنِي فَأَغْفِرْلَهُ؟
“Allah akan turun ke langit dunia pada setiap malam, ketika malam tingal sepertiga yang terakhir. Dia berkata:”Mana hamba-Ku yang berdo’a kepada-Ku uantuk Aku kabulkan do’anya? Mana hamba-Ku yang meminta kepada-Ku untuk Aku penuhi permintaannya? Mana hamba-Ku yang beristighfar kepada-Ku, untuk Aku ampuni dosanya?
HR Muslim~Bukhari, riwayat Abu Hurairah Ra

10. Mencintai wali-wali-Nya dan membenci musuh-musuh-Nya

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa…”
Yunus/10:62~63

قَالَ رَجُلٌ يَارَسُولَ اللهِ مَنْ أَوْلِيَاءُ اللهِ؟ قَالَ الَّذِارُؤُواذُكِرَ اللهِ

“Seseorang bertanya:”Ya Rasulullah, siapakah para wali Allah itu?” Beliau menjawab:”Ialah orang-orang yang apabila dilihat teringat Allah“
Al Bazaar dari Ibnu Abbas, Tafsir Ibnu Katsir;10:64

”Dan barangsiapa yang mengambil Allah SWT, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang…”
Al Maidah : 56

مَنْ عَادَىلِى وَلِيًَّا فَقَدْ بَارَزَنِيْ بِالْحَرْبِ

“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, berarti ia menyatakan perang dengan-Ku”
Shahih Bukhari

مَنْ مَشَى مَعَ ظَالِمٍ لِيُعِيْنَهُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ ظَالِمٌ فَقَدْ خَرَجَ مِنَ اْلإِسْلاَمِ

“Barangsiapa berjalan dengan orang dzalim guna membantunya sedangkan ia mengetahui bahwa ia dzalim, maka sesungguhnya ia telah keluar dari Islam“
Abu al Qadim ath Thabarani
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّعَاةِ بِاالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلَّ رُمْحِيْ وَجُعِلَتْ الذِلَّّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Aku diutus menjelang kiamat dengan pedang sehingga Allah disembah sendirian tanpa sekutu dan dijadikan rizkiku dibawah naungan tombakku dan dijadikan hina dan kerdil orang-orang yang menyelisihi perintahku, dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum itu”
Ahmad dan Abu Dawud

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapaknya, atau anak-anaknya atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka…”
Al Mujaadilah/58:22

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH. Tandai permalink.

2 Balasan ke Sudahkah kita mengenal Allah…???

  1. IbnuSina28 berkata:

    alhamdulillah.. mkasih atas penjelasannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s