Mengenal ilmu

MA’RIFATUL ILMU

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”
An Nahl/16.78

“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim ”
Al Ankabuut/29:49

Petunjuk Allah hanya bisa diperoleh dengan ilmu

Manusia dikaruniai akal untuk bisa menilai dan menyimpulkan sesuatu, sehingga dari proses berpikir ia bisa mengetahui dan memahami, lalu mengambil yang bermanfaat atau yang berguna serta meninggalkan yang mudharat atau yang membahayakan bagi dirinya.
Seperti halnya manusia untuk mengilmui bahwa bara itu panas, ia memerlukan proses belajar atau proses berilmu. Jika ia pernah secara tidak sengaja menyentuh bara dan terasa panas, maka lain kali ia tidak perlu untuk mencoba memegangnya jika ingin membuktikan bahwa bara itu panas. Ini adalah proses ilmu lewat pengalaman. Sedang orang yang sudah mengetahui bahwa bara itu panas maka ia tidak perlu mencoba dan ia akan langsung percaya bahwa bara itu panas, ini adalah ilmu melalui pengabaran.

Jika ilmu manusia dikaitkan dengan petunjuk Allah, maka tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali menerima petunjuk tersebut. Manusia yang mengerti keterbatasan akal dan pengetahuannya tentu beriman kepada petunjuk Allah dan mengamalkannya.
Apalagi Allah senantiasa menjelaskan petunjuk-petunjuk-Nya dan memberikan bukti-buktinya, bahwa apa-apa yang ditunjuki-Nya, apa-apa yang dipilihkan-Nya untuk manusia adalah kebenaran, dan juga untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia itu sendiri.

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan yang buta? Hanyalah orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran…”
Ar Ra’d/13:19

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bahwa Al Qur’an itu adalah benar,…”
Fushshilat/41:53

“…Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang batil)…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”
Al Baqarah/2:185

Petunjuk-petunjuk Allah sendiri adalah merupakan ilmu maka orang yang menolaknya sebenarnya ia telah menolak ilmu atau ia dikatakan tidak menggunakan akalnya.

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tidak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.”
Al Baqarah/2:99

*****

Definisi ilmu

Definisi ilmu secara bahasa

اِدْرَاكُ الشَّىءِ بِحَقِيْقَتِهِ / اْليَقِيْنُ وَالْمَعْرِفَةُ

“Mengetahui sesuatu dengan hakekatnya/dan meyakini serta mengerti”
Munjid, 527

الْعِلْمُ صِفَةُ يَنْكَشِفُ بِهَا اْلمَطْلُوْبُ اِنْكِشَا فًا تَامَ

“Ilmu adalah sesuatu yang dengannya dapat mengungkap suatu masalah dengan jelas”
As Salam, juz 2:6

اَلْعِلْمُ يُقَالُ : اِدْرَاكُ الْكُلِّيِّ وَالْمُرَكَّبِ

“Ilmu adalah mengungkap / mengetahui sesuatu secara mendasar”
Mu’jamul wasith, juz 2 :164

Definisi ilmu secara syar’ie

لَيْسَ الْعِلْمَ عَنْ كَثِيْرَةِ الْحَدِيْثِ , وَلَكِنَّ الْعِلْمَ عَنْ كَثِيْرَةِ الْخَشْيَةِ

Ibnu Mas’ud berkata:
“Bukannya ilmu itu banyaknya perkataan, tetapi ilmu itu adalah banyaknya rasa takut kepada Allah”
Tafsir iIbnu Katsir

*****

Ilmu adalah landasan iman dan amal

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu jatuh bersama-sama dengan di ke dalam neraka Jahannam?…”
At Taubah/9:109

Maka beriman kepada petunjuk-petunjuk Allah tidak bisa tidak harus dengan ilmu agar keimanan itu menjadi benar. Tanpa ilmu keimanan seseorang tidak jelas kebenarannya dan tidak akan pernah dilandasi dengan keyakinan, karena imannya hanya berdasarkan persangkaan dan keraguan.

“…Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna bagi kebenaran”
Yunus/10:36

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang haqq dari Tuhanmu…”
Al Hajj/22:54

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dia-lah yang telah menurunkan al kitab(Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu”
Al An’am/6:114

Karena sesungguhnya ilmu telah disandingkan dengan keimanan.

“Dan, berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang kafir), ”Sesungguhnya kalian telah berdiam menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit”
Ar Rum/30:56

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
Al Mujadilah/58 :11

Ilmu juga merupakan landasan amal. Dengan berilmu di dalam masalah agama, ia akan mengetahui mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Mana yang mendatangkan keridhaan Allah dan kebahagiaan, serta mana yang mendatangkan kemurkaan Allah dan kesengsaraan.

اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَلْ الْعَمَلِ

“Ilmu sebelum perkataan dan amal”
Al Bukhari

Kebaikan seseorang diperoleh dengan mengetahui atau mengilmui petunjuk-petunjuk Allah. Di dalam Shahihain dari hadits Mu’awiyah bin Abu Sofyan Ra, Rasulullah berkata :

مَنْ يُرِدِاللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَاِنَّمَااْلعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

”Barang siapa yang Allah menghendaki suatu kebaikan pada dirinya, maka Allah memberinya pengetahuan dalam masalah agamanya, sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar”

Muadz bin Jabal Ra. berkata:

وَبِهِ تُوْصَلُ اْلأَرْحَامُ وَيُعْرَفُ اْلحَلاَلَ وَلْحَرَامُ , وَهُوَإِمَامٌ وَلْعَمَلُ تَابِعُهٌ , وَيُلْهَمُهُ السُّعُدَاءُ وَيُحْرَمُهُ اْلأَشْقِيَاءُ

“Dengan ilmu terjalin silaturahim dan diketahui yang halal dan yang haram, ilmu adalah pemimpin, sedangkan amal pengikutnya, ilmu itu diberikan kepada orang-orang yang berbahagia dan diharamkan bagi orang-orang yang celaka”

Maka sungguh jauh perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu

“Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui ?”
Az Zumar/39:9

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
Al Mujadilah/58 :11

Al Hasan Rhm. pernah berkata:
“Andaikata tidak ada orang-orang yang berilmu tentu manusia tidak berbeda dengan binatang”

*****

Fungsi dan urgensi ilmu

1. Alat untuk berma’rifatullah

“Ketahuilah sesungguhnya tidak ada Tuhan(yang berhak untuk disembah) selain Allah”
Muhammad/47:19

Dengan ilmu dan petunjuk dari Allah, manusia akan mengetahui hal-hal yang berada diluar jangkauan akalnya, tentang kebenaran dan juga tentang Allah SWT, sebatas pemberitahuan-Nya kepada manusia yang disampaikan melalui para Rasul-Nya.
Jika manusia tidak mengenal Allah bagaimana manusia akan beribadah kepada-Nya? Dan bagaimana cara-cara beribadah kepada-Nya?

2. Menunjukkan kepada Al Haqq agar dapat meninggalkan kejahilan

“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”
Al Alaq/96/5

Ibnu Qayyim Al Jauziyah: “Rasulullah mengidentikkan kejahilan seperti penyakit, dan menjadikan bertanya kepada ulama’ sebagai obatnya”

اَوَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الغَبِى السُّؤَالْ “Bukankah obat kejahilan itu dengan bertanya?”

Atsar Umar:

إِنَّمَاتَنْقُضُ عَرَىاْلإِسْلاَمِ عُرْوَتً عُرْوَتً اِذَانَسَاءَمِنَ اْلإِسْلاَمِ مَنْ لَمْ يَعْرِفُ الْجَاهِلِيَّةَ

“Hancurnya Islam sekeping demi sekeping bila tumbuh di dalam Islam, orang yang tak faham arti jahiliyah”

Kejahiliyahan adalah mengakui adanya Rabb dan Ilah selain Allah dan menolak Allah sebagai Rabb dan Illah yang haq di alam raya.

3. Untuk mengetahui amal-amal yang benar

Amal yang benar adalah amal yang diterima Allah, dan syarat-syaratnya adalah ikhlas, yaitu amalan yang dari dan untuk Allah semata tanpa sekutu dan mengikuti petunjuk Rasulullah, yaitu amalan-amalan yang saleh

“…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”
Al Kahfi/18:110

مَنْ عَمِلَ عَمَلاًلَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُنَا فَهُوَرَدٌ
Dari Aisyah Ra : “Berkata Rasulullah SAW: ”Barang siapa beramal tanpa dasar dari kami, maka tertolaklah amalan tersebut.”
HR. Bukhari

*****

Dengan ilmu ridha Allah bisa dicapai

*****

Wajibnya mencari ilmu

1.“Hai orang-orang beriman, apabila dikatakan kepadamu : ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan kepadamu, ”Berdirilah kamu” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”
Al Mujaadilah/58:11

2. Dari Anas bin Malik dari Ibnu Abbas:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim”
HR Ibnu Majah

3. “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya(ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
At Taubah/9:122

*****

Macam-Macam Ilmu

Macam-macam ilmu menurut pengertian bahasa

1. Ilmu Dieniyah / Ilmu Syar’ie (Rasulullah sebagai sumber ilmu)
a. Fardhu ‘ain

Ilmu Dien / ilmu tentang muammalah hamba terhadap Allah meliputi :
~keyakinan (aqidah, keimanan dan ilmu tentang Allah serta sifat-sifat-Nya)
~ilmu tentang perbuatan (ilmu tentang tata cara beribadah)
~ilmu-ilmu tentang apa-apa yang harus ditinggalkan
b. Fardhu kifayah
Ilmu yang membahas cabang-cabang ilmu dien secara lebih mendetail seperti :
Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Waris / Faraid, Ilmu Falaq, dll

2. Ilmu Aqliyah / Ilmu Dunia / Ilmu Kaun (fardu kifayah)
Hasil rekayasa manusia sebagai pengembangan pemikiran untuk kemaslahatan kehidupan, seperti Ilmu Teknik dan Kedokteran, Ilmu Pertanian dan Perdagangan, dll.

Macam-macam ilmu menurut pandangan syar’ie :
Menurut syar’ie ilmu hanya ada tiga macam

العِلْمُ ثَلاَ ثَةٌ وَمَا سِوَى ذَالِكَ فَضْلٌ : آيَةٌ مُحْكَمَةٌ اَوْ سُنَّةٌ قَائِمَةٌ اَوْ فَرِيْضَتُهُ عَادِلَةٌ
“Ilmu itu ada tiga, selainnya adalah keutamaan, yaitu ayat yang terang, sunnah yang tegak dan ilmu faraidh yang adil “
Ibnu Abu Dawud dan Ibnu Majah

*****

Hubungan Ilmu Dieniyah dan Ilmu Aqliyah

Ilmu aqliyah adalah berdasar akal manusia, di mana manusia di dalamnya mengadakan percobaan-percobaan, pendataan-pendataan pengalaman, sehingga diperoleh hasil dan kesimpulan yang lebih baik dari sebelumnya sesuai dengan yang diinginkan.

Ilmu aqliyah tidak bisa lepas dari hukum-hukum Allah yang berlaku di alam / hukum kauniyah, jadi manusia hanya mengikuti hukum-hukum tersebut, mengambil atau memilih sebab-sebab yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Ilmu aqliyah yang berasal dari akal tentu saja ia memiliki keterbatasan, seringkali akal salah dalam memahami hukum-hukum kauniyah, sehingga ia mengalami kesalahan juga dalam mengambil sebab-sebab.

Begitu banyak hukum-hukum Allah yang berlaku di alam yang belum diketahui akal manusia, sehingga selamanya ilmu aqliyah berkembang dan mengalami penyempurnaan-penyempurnaan.

Sedangkan ilmu dieniyah adalah ilmu yang berupa risalah kenabian / wahyu, yang diberikan kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada manusia. Untuk menjelaskan segala sesuatu

yang tidak mampu dijelaskan oleh akal dan mengoreksi hasil-hasil kesimpulan akal serta menunjuki manusia kepada kebenaran / al haqq.

Ia juga membatasi dan mengarahkan peran akal dalam mengambil pengetahuan agar tetap dalam kebenaran dan agar hasil-hasil yang diperoleh tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku di alam, sehingga keseimbangan dan keharmonisannya tidak rusak.

“Kemudian jika mereka berpaling dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan ”
Ali ‘Imran/3:63

“Telah nampak kerusakan di bumi dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) ”
Ar Ruum/30:41

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan(tujuan) yang benar,… ”
Az Zumar/39:5

Ilmu dieniyah seringkali dijelaskan dengan menggunakan fenomena-fenomena alam dan peristiwa-peristiwa yang lahir dan yang dapat dijangkau indera. Ini agar manusia dapat menerima bukti-bukti kebenaran risalah para Rasul, dan bukti-bukti adanya Allah yang dzat-Nya tidak bisa dijangkau oleh kemampuannya akalnya.

Maka mempelajari ilmu Aqliyah menjadi penting dalam rangka menunjang pemahaman terhadap ilmu Diniyah

Misalnya mu’jizat para rasul yang nyata-nyata disaksikan oleh mata kebenarannya, walaupun hakekatnya manusia tidak sanggup memikirkannya apalagi menyamainya, juga terhadap fenomena-fenomena alam yang terjadi bagi manusia yang jeli memperhatikannya. Sehingga batasan ilmu aqliyah pada akhirnya sampai kepada pengetahuan tentang kebenaran ilmu dieniyah.

Ilmu Dieniyah yang datang dari Allah melalui petunjuk Rasul-Nya untuk mengatur hal-hal yang pokok sehingga menjaga kelangsungan keharmonisan/keseimbangan kehidupan di dunia, membingkai kehidupan, dan tidak membiarkan manusia mengatur dan mengembangkan diri berdasarkan ilmu aqliyah kecuali di dalam bingkai yang telah ditentukan dan mengarahkannya ke arah yang benar.

Rasulullah bersabda:

اِ نْ كَانَ شَيْـأً مِنْ اُمُرِدُنْيَاكُمْ فَشَاْنَكُمْ بِهِ وَاِنْ كَنَ مِنْ اُمُرِدِيْنِكُمْ فَاءِلَيَّ

“Jika ada padamu sesuatu urusan dunia maka kalian lebih mengetahui atasnya dan jika kalian menginginkan urusan dien kalian, maka atasku”
HR Ibnu Majah

*****

Dua kepentingan ilmu

*****

Ilmu yang benar

Definisi :

Ilmu yang benar adalah ilmu yang apabila di amalkan mampu menyelamatkan manusia dari bahaya/sesuatu yang tidak bermanfaat/mudharat di dunia dan di akhirat, yaitu ilmu yang sesuai dengan kehendak Allah.

Syarat :
Bagaimana kita mengetahui benarnya sebuah ilmu adalah senantiasa mengujinya dengan ilmu-ilmu yang lain, sebagaimana Al Qur’an, tidak akan ditemui pertentangan di dalamnya. Ilmu akan bertambah kebenarannya apabila dikuatkan dan dibenarkan oleh ilmu yang lain, sebagaimana cahaya, ia akan semakin terang apabila didatangkan kepadanya cahaya yang lain.

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”
An Nisaa’/4:82

Semua ilmu dari satu sumber, bersumber dari Allah SWT, baik Kalamullah/Al Qur’an maupun ayat-ayat Allah yang berlaku di alam semesta / hukum kauniyah, semuanya tidak mungkin terjadi pertentangan.

“Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang…”
Al Mulk/67:3

Kalaupun terjadi pertentangan, bisa jadi salah satu adalah masih berupa pendapat/persangkaan yang masih perlu diuji kebenarannya. Atau khasanah keilmuan kita yang masih terbatas atau bisa juga karena memang kadar akal kita yang terbatas dan tidak mampu menyingkap ilmu yang sebenarnya.

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan”
Yunus/10:36

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata(Lauh Mahfuzh)”
Al An’aam/6:59

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut menjadi tinta, ditambahkan kepadanya tujuh laut(lagi) sesudah(kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya(dituliskan) kalimat Allah…”
Luqman/31:27

*****

Bencana ilmu

Ilmu menjadi bencana ketika ia tidak sesuai dengan kehendak Allah, tidak sesuai dengan apa yang diridhai dan dicintai Allah, yang terjadi karena:

1. Ilmu yang tercela
a. Ilmu tentang hakekat/dzat Allah
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”
Thaahaa/20:110

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatanmu itu dan Dia-lah Yang Maha Halus dan Maha Mengetahui”
Al An’am/6:103

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”
Asy Syuura/42:11

يَأْتِىالشَّيْطَانُ أَحَدُكُمْ فَيَقُوْلُ مَنْ خَلَقَ كَذَا ؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا ؟ حَتَّى يَقُوْلَ مَنْ
خَلَقَ رَبَّكَّ ؟ فَاِذَابَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِ اللهِ وَلْ يَنْـتَهِ

Dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah bersabda :
“Syetan mendatangi salah seorang di antara kamu lalu bertanya, siapa yang menciptakan ini ? siapa yang menciptakan itu ? Hingga bertanya siapa yang menciptakan Rabb-mu ? Jika ia membawa kepada pertanyaan ini, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya”
Shahihain, menurut lafadz Bukhari

الْعَجْزُ عَنِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكُ
Dari Abu Bakar Ra :“Tidak bisa mencapai pengetahuan merupakan pengetahuan juga”

b. Ilmu ghaib / sesuatu yang tidak masuk akal

“…Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya…”
Ali Imran/3:179

“Katakanlah:”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah”…”
An Naml/27:65

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya(pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tiada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata(Lauh Mahfuz)”
Al An’am/6:59

~Ilmu tentang hari kiamat
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui(dengan pasti ) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal”
Luqman/31:34

~Ilmu tentang ramalan nasib
“….Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui(dengan pasti ) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal”
Luqman/31:34

لَنْ يَلِجَ الدَّرَجَا تِ مَنْ تَكَهَّنَ أَوِاسْتَقْسَمَ أَوْ رَجَعَ مِنْ سَفَرٍ طَائِرًا

“ Tidak akan masuk ke dalam derajat syurga orang yang berdukun, mengundi nasib, atau pulang dari bepergian karena memandang sial melalui burung “
Ibnu Mardawih dari Abu Darda dari Rasulullah Saw.

~Ilmu tentang hakekat roh
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:”Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”
Al Israa’/17:85

~Ilmu sihir dan ilmu kesaktian, kebal, dsb
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman(dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman mengerjakan sihir), padahal tidak(tidak mengerjakan sihir), hanya syetan-syetan itu yang kafir(mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:”Sesungguhnya kami hanya cobaan(bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir …”
Al Baqarah/2:102

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”
Al Jin/72:6

2. Ilmu yang rusak

a. Rusaknya tujuan semula, karena tidak dimaksudkan untuk mendapat keridhaan Allah dan akhirat karena mengikuti hawa nafsu

Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah Ra dari Rasulullah Saw:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمً مِمَّايُبْتَغَىبِهِ وَجْهُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، لاَيَتَعَلَمُهُ اِلاَّلِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضً مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عِرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَالقِيَامَة

”Barang siapa mempelajari ilmu, yang dengan ilmu itu semestinya ia mencari Wajah Allah dan dia tidak mempelajari melainkan untuk mendapatkan kekayaan dunia, maka dia tidak akan mencium bau syurga pada hari kiamat”

b. Menganggap dan meyakini telah berilmu dan beramal dengan benar padahal tidak.

“Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”
Al Kahfi/18:103~104

Perkataan Ibnu Rajab al Hambali :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَظُنُّ أَنَّهُ طَرِيْقُ اْلجَنَّةِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَقَدْ سَلَكَ أَعْسَرَ الطَّرِيْقِ وَأَشَقَّهَاوَلاَيُوْصِلُ إِلَى اْلمَقْصُوْدِ عُسْرِهِ وَمَشَقَّتِهِ

“Barangsiapa yang menempuh jalan yang dikiranya menuju jannah tanpa mempunyai ilmu, maka benar-benar telah menempuh jalan yang sangat sukar dan berat, meski demikian tidak menyampaikannya kepada tujuan”

Hal ini bisa terjadi ketika seseorang berhenti mencari ilmu dan mencukupkan diri dengan apa yang sudah diperoleh, dan kemudian menolak ilmu yang datang kemudian.

c. Ilmu yang tidak diamalkan

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”
Ash Shaff/61:2~3

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah seperti keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal, amat buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu…”
Al Jumu’ah/62:5

*****

Bahaya bagi masyarakat yang tidak mengenal ilmu

Manusia yang tidak memiliki ilmu karena tidak mau mencari ilmu terutama ilmu agama adalah manusia yang harus dijauhi, karena ia tidak dapat mendatangkan manfaat baik bagi dirinya sendiri lebih-lebih untuk orang lain.

بَلِ ائْتَمِرُوْ ابِالْمَعْرُوْفِ وَتَنَاهَوْاعَنِ الْمُنْكَرِ, حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّ مُطَاعًا, وَهَوًى مُتَّبَعًا, وَدُنْيَامُؤَثَّرَةً, وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِيْ رَأ ْيٍ بِرَأ ْيِهِ, فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ, وَدَعِ الْعَوَامَ, فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَ يَّمًا, الصَّابِرُ فِيْهِنَّ مِثْلُ الْقَابِضِ عَلَىالْجَمَرِ, لِلْعَامِلِ فِيْهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلاً يَعْمَلُوْنَ كَعَمَلِكُمْ (رواه الترمذي)

“Bahkan kamu harus saling menyuruh untuk berbuat ma’ruf dan mencegah dari berbuat munkar, hingga engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang mempengaruhi, dan kekaguman seseorang akan pendapatnya, maka wajib atasmu untuk menjaga dirimu( dari yang demikian) dan jauhilah orang awam, maka sesungguhnya di belakangmu nanti ada hari-hari yang panjang, orang sabar di dalamnya tak ubahnya seperti orang yang menggenggam bara, bagi orang yang beramal balasannya sebanyak limapuluh laki-laki yang beramal seperti amal kamu”
Hasan Gharib, Shahih

Ada dua komponen penting di dalam masyarakat yang mempengaruhi masyarakat, dua komponen tersebut sangat potensial untuk menyesatkan masyarakat yang tidak berilmu.

“Dan mereka berkata:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan dari jalan yang benar”
Al Ahzab/33:67

1. Pemimpin / umara’ yang jahil dan menyesatkan

إِنَّمَاأَخَافُ عَلَىأُمَّتِيْ الأَئِمَّةَ اْلمُضِلِّيْنَ
“Yang aku takuti terhadap ummatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan”
HR Abu Dawud

Dari Ibnu Amru bin ‘Ash Rasulullah bersabda:

اِنَّ اللهَ لاَيَقْبِضُ العِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حَتَّىاِذَالَمْ يَتْرُكْ عَالِمًااِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُسَاءَ جُهَّلاً فَسُئِلُوافَأَفْتَوْابِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْاوَاَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak mengangkat ilmu dengan seketika dari manusia, tetapi dengan mematikan ulama’, sampai apabila tidak tinggal seorang ‘alim pun, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh yang ketika ditanya ia akan berfatwa tanpa ilmu, ia akan tersesat dan menyesatkan mereka itu”
HR Bukhari-Muslim

2. Ulama’ yang buruk dan tidak amanah
وَيْلٌ لاُِمَّتِي مِنْ عُلَمَاءِ السُّوْءِ
“Celaka atas ummatku dari ’ulama yang buruk”
HR Al-Hakim

يَأ ْتِى عَلَىالنَّسِ زَمَنٌ لاَيَـبْقَى مِنَ الاِْسْلاَمِ اِلاَّ اسْمُهُ وَلاَ مِنَ الْقُرْاَنِ اِلاَّ رَسْمُهُ مَسَا جِدُهُمْ يَوْمَئِذٍ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَاؤُهُمْ شَرٌّ مِنْ تَحْتِ اَدِيْمِ السَّمِاءِ مِنْهُمْ خَرَجَتِ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ
Ibnu Abi Dunya, hadits dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya, Ali berkata,….
“Pada manusia akan datang suatu masa di mana agama Islam tinggal namanya saja, dan Al Qur’an tinggal tulisannya saja. Di kala itu masjid-masjid mereka ramai tetapi kosong dari petunjuk, ulama mereka sejahat-jahat makhluk yang hidup dikolong langit. Dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka pula fitnah itu akan kembali”

a. Ulama’ yang menyembunyikan ilmu yang telah diperolehnya
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan(yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati”
Al Baqarah/2:159

“Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa(kitab) yang ada pada mereka, sebagian orang-orang yang diberi kitab(Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang(punggung)nya seolah-olah mereka tidak mengetahui(bahwa itu adalah kitab Allah)
Al Baqarah/2:101

b. Ulama’ yang menjual ilmunya
“…dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.. ”
Al Baqarah/2:41

c. Ulama’ yang tidak jujur, menukar ilmu dan mencampurnya dengan kebatilan
“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haqq dengan yang bathil… ”
Al Baqarah/2:42

تَنَا صَحُوْا فِي اْلعِلْمِ، وَلاَ يَكْتُمْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، فَإِنَّ خِيَانَتً فِي اْلعِلْمِ أَشَدُّ مِنْ خِيَانَتً فِي اْلمَالِ
“Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan janganlah saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengeetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta”
HR Abu Na’im

d. Ulama’ yang melakukan kesalahan

إِنَّمَاأَخَافُ عَلَىأُمَّتِيْ أَعْمَالاً ثَلاَثَتً: زَلَّةُ عَالِمٍ، وَحُكْمُ جَائِرٍ وَهَوًىمُتَّبَعٌ

“Yang aku takuti terhadap ummatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama’, hukum yang zalim dan hawa nafsu yang diperturutkan”
HR. Asysyihaab

e. Ulama’ yang tidak ber’amar ma’ruf

إِذَاظَهَرَتِ اْلبِدَعُ فِي أُمَّتِي فَعَلَى اْلعَالِمِ أَنْ يُظْهِرَ عِلْمَهُ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَاْلمَلآئِكَةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ، لاَيُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَعَدْلُ
“Apabila muncul bid’ah-bid’ah di tengah ummatku, wajib atas seorang ‘alim menyebarkan ilmunya(yang benar). Kalau ia tidak melakukannya maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Tidak diterima shadaqahnya dan kebaikan-kebaikan amalnya”
HR Ar-rabii

*****

Karakter Orang yang telah memiliki ilmu

1. Takut kepada Allah

Cukup seseorang dikatakan berilmu apabila ia bertambah takut terhadap Allah dengan bertambahnya ilmu, tidak seperti halnya para orientalis, yang berilmu tetapi ilmunya tidak untuk beriman dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi hanya untuk kepentingan dunia saja.
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”
Al Fathir/35:28

2. Beriman kepada kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu…”
An Nisaa”/4:162
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang haq dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”
Al Hajj/22:54

Konsekuensinya, ia beriman kepada seluruh ayat-ayat Allah, dan tidak memilih-milih menurut hawa nafsunya, atau memilih jalan tengah.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya dan mereka menghendaki untuk memisahkan antara Allah dan Rasul-Nya, dan mereka berkata:”Kami beriman kepada yang sebagian dan kami ingkar kepada sebagian”, dan mereka menghendaki jalan di antara yang demikian itu (iman atau kafir) . Mereka itulah orang-orang yang benar-benar kafir…”
An Nisaa’/4:150

Konsekuansi kedua adalah mentaati Allah dan Rasul-Nya secara mutlak

“”Dan tidak patut….bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka…”
Al Ahzab/33:36

3. Ilmunya diamalkan

Ali bin Abu Thalib Ra:
اِنَّمَا العَالِمَ مَنْ عَمَلَ بِمَا عَلِمَ وَوَافَقَهُ عَمَلَهُ
“Sesungguhnya orang yang disebut alim adalah orang yang beramal dengan ilmunya, dan sesuai antara ilmu dan amalnya”
اَلْعَالِمُ بِغَيْرِ عَمَلٍ كَاالمِسْبَاحِ يَحْرِقُ نَفْسَهُ
“Seorang ulama’ yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri ”
HR Adailami
4. Menda’wahkan ilmunya

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ جَاءَيَومَ القِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

“Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali(di mulutnya) dari api neraka”
HR Abu Dawud

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”
Ali Imran/3:104
بَلِغُوْا عَنِاللهِ, فَمَنْ يَلَغَتْهُ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ فَقَدْ بَلَغَهُ أَمْرُ اللهِ

“Sampaikanlah informasi dari Allah, barang siapa menerima sebuah ayat dari kitabullah, berarti perintah Allah telah sampai kepadanya”
Abdur Razzaq dari Muammar dariQatadah dari Rasulullah Saw

5. Bertafakur dan berdzikir terhadap ayat-ayat Allah dalam setiap keadaan

“(Yaitu)orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata):”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”
Ali Imran/3:191

Ia senantiasa dalam kondisi dzikir kepada Allah, dalam segala bentuk amalnya kesehariannya dibuktikan dengan mengawali doa ketika hendak berbuat sesuatu sebagaimana Rasulullah mengajarkan do’a-do’a harian.

6. Mengikuti al haq dan mencintai kebaikan

“… yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”
Az Zumar/39:18

*****

Larangan Berkata Tanpa Ilmu

Dari Ibnu Abbas:
مَنْ قَالَ فِىالقُرْآنِ بِغَيْرِىعِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّ اْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَارِ

“Barang siapa berkata tentang Al Qur’an tanpa ilmu, maka bersiaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka”
HR Abu Dawud

Dari Abu Hurairah:
مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَبَوَّ اْمَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, maka bersiaplah menempati tempat duduknya di neraka”
HR Tirmidzi, Ahmad dan Thabrani

Dari Imam Ahmad di dalam Musnadnya

فَمَاعَلِمْتُمْ مِنْهُ فَقُوْلُوْا وَمَا جَهِلْتُمْ فَكِلُوْهُ عَالِمِهِ
“Apa-apa yang kalian ketahui maka katakanlah, dan apa yang tidak kalian ketahui, maka serahkanlah kepada ahlinya”

Dari Abu Hurairah Ra., berkata Rasulullah Saw. :
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَاسَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakn pendusta apabila ia berkata tentang semua apa yang ia dengar”

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah adalah besar”
An Nuur/24:15

Berkata Abu Bakar Ra. Berkata:
اَيُّ اَرْضٍ يُقِلُنِي وَ اَيُّ سَمَآءٍ تُظِلُّنِي اِذَ قُلْتُ عَلَي اللهِ مَالاَ أَعْلَمُ

“Bumi mana yang akan melindungiku dan langit mana yang akan menaungiku jika akau berkata tentang Allah dengan sesuatu yang tidak aku ketahui ilmunya”

Di dalam Syarh Sunnah Imam Baghawy, Abu Hushain berkata:
اِنَّ اَحَدَكُمْ لَيُفْتِيَ فِى الْمَسْأَلَةِ لَوْ وَرَدَتْ عَلَى عُمَرابْنِ الْخَطَّاب لَجَمَعَ لَهَ اَهْلَ بَدْرٍ

“Jika di antara kalian mendatangkan suatu permasalahan kepada Umar, niscaya ia mengumpulkan ahli Badar untuk menjawabnya”

*****
Fadhilah Ilmu

1. Allah meninggikan derajat orang yang berilmu

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat… ”
Al Mujadilah/58.11

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Ia, yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang berilmu juga bersaksi demikian….”
Ali Imran/3.18

2. Berada di jalan Allah

Dari Malik bin Anas:

مَنْ خَرَجَ فِىطَلَبِ العِمِ فَهُوَ فِى سَبِلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali”
HR Ibnu Majah

3. Mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkan ilmu darinya
Dari Ibnu Abi Mas’ud al Badry:

مَنْ دَلَّ عَلَى الخَيْرِ فَلَهُ مِثْلَ اَجْرَ فَا عِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan pada kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya ”
HR Tirmidzi (Hasan Shahih)
Dari Tsabit dari Anas

مَنْ دَعَاإِلَىهَدْيٍ كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِمَنِ اتَّبَعَهُ إِلَىيَوْمِ اْلقِيَامَةِ لاَيَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala sebesar pahala orang yang mengikutinya hingga hari kiamat tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang-orang yang mengikutinya”
Shahih

4. Pahala yang tidak terputus karena kematian
Dari Abu Hurairah:
اِذَا مَاتَالاِْنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٌا وَعِلْمُ يَنْتَفِعُ بِهِ اَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُولَهُ
“Apabila seorang meninggal terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakannya ”
HR Tirmidzi dan Abu Dawud

5. Dimudahkan jalannya menuju jannah

Dari Abu Darda’ :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَبْتَغِى فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الخَنَّةِ وَاِنَّ الْمَلاَئِكَةُ لَتَضَعُ اَجْنِحَتَهَا رِضَاءًالطَلِبِ العِمِ وَاِنَّ العَالِمِ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاةِ وَمَنْ فِى الاَرْضِى حَتَّىالحِيْتَا نُ فِىالمَاءِ وَفَضْلُ العِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِالكَوَاكِبِ . اِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُالاَنْبِيَاءِ. اِنَّالاَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِثُوادِيْنَرًا وَلاَدِرْهَمًا وَرَّثُوالعِمَ فَمَنْ اَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرًا

“Barang siapa merintis jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke jannah dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada pencari ilmu. Sesungguhnya orang berilmu itu dimintakan ampunan oleh siapa saja apa yang ada di langit, siapa saja yang ada di bumi, hingga ikan-ikan di laut. Kelebihan orang

berilmu atas orang beribadah adalah seperti kelebihan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama’ pewaris Nabi-Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar, dan tidak pula dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mendapatkannya, sungguh ia mendapatkan keberuntungan yang besar”
HR Abu Dawud dan Tirmidzi
Ibnu Rajab mentakhrij hadits di atas:
الْعِلْمُ يَدُلُّ عَلَىاللهِ وَمِنْ أَقْرَبِ الطُّرُقِ وَأَسْهَلِهَ فَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقَهُ وَلَمْ يَعْوَجَّ عَنْهُ وَصَلَ إِلىاللهِ مِنْ إَقْرَبِ الطُّرُقِ وَأَسْهَلِهَ

“Ilmu itu menunjukkan jalan kepada Allah dan merupakan jalan yang paling dekat dan mudah. Maka barangsiapa menggunakan ilmu dan tidak menyimpang darinya niscaya ia akan sampai kepada Allah dan syurga melalui jalan yang paling dekat dan mudah”

6. Menunda hari kiamat
اِنَّ بَيْنَ يَدِى السَّاعَةِ اَيَّامًا يَرْفَعُ فِيْهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ

“Sesungguhnya di antara dekatnya hari kiamat adalah dicabutnya ilmu dan ditimpanya kebodohan”
HR Muslim, syarah Nawawi, juz 4:2056

7. Beberapa keutamaan ilmu atas harta menurut Ibnu Qoyyim Al Jauziyah:

a. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang-orang kaya.
b. Ilmu menjaga pemiliknya sedang harta harus dijaga pemiliknya
c. Ilmu berkuasa atas harta dan harta tidak berkuasa atas ilmu
d. Ilmu bertambah jika diinfaqkan sedang harta berkurang jika diinfaqkan
e. Ilmu tidak berpisah dengan pemiliknya jika sudah mati sedang harta ditinggal untuk ahli waris
f. Ilmu hanya bisa diperoleh oleh orang yang beriman, sedang harta bisa diperoleh siapa saja, kafir atau iman.
g. Ilmu dibutuhkan oleh para raja dan orang-orang pandai dan orang-orang yang selevel dengan mereka sedang harta dibutuhkan oleh orang-orang miskin.
h. Ilmu menjadikan pemiliknya mulia dan berjiwa bersih sedang harta membuat pemiliknya kikir dan tamak terhadap dunia
i. Ilmu mengajak pemiliknya taat beribadah sedang harta mengajak pemiliknya berbuat sewenang-wenang
j. Ilmu mengajak pemiliknya menjadi budak Allah SWT sedang harta memperbudak pemiliknya dan mengajak maksiat kepada Allah
k. Ilmu berasal dari ruh dan harta berasal dari badan
l. Ilmu membuat pemiliknya kaya dan tidak takut miskin sedang harta sebaliknya, membuat pemiliknya merasa miskin.
m. Kelezatan ilmu adalah kelezatan akal dan ruhani mirip dengan kegembiraan malaikat sedang kelezatan harta adalah kelezatan syahwat, badaniah, ilusi mirip dengan kelezatan binatang.
n. Orang yang kaya ilmu merasakan keamanan, kebahagiaan dan kegembiraan, sedang orang kaya harta hidupnya diliputi kekhawatiran dan kesedihan, sedih ketika belum mendapat harta, khawatir setelah mendapatkannya, semakin banyak hartanya ia semakin khawatir.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”
An Nahl/16.78

“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim ”
Al Ankabuut/29:49

اَللَّهُمَّ اَنْفَعْنِى بِمَا عَلَمْتَنِى, وَعَلِمْنِى مَا يَنْفَعُنِى, وَزِدْنِى عِلْمًا, وَالْحَمْدُللهِ عَلَى كُلِّ حَلٍ, وَأَعُوْذُبِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Sumber :

1. Al Qur’an dan terjemahannya, Khadim al-Haramain asy-Syarifain, 1971
2. 1100 Hadits Terpilih Sinar Ajaran Muhammad, Dr. Muhammad Faiz Almath, Gema Insani Press, Jakarta, cet. 17, Mei 2001
3. Buah Ilmu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Azzam, cet. 2, November 1999
4. Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Al Kautsar, cet. 1, Juni 1998
5. Minhajul Qasidin, Jalan orang-orang yang mendapat petunjuk, Ibnu Qudamah, Pustaka Al Kautsar, cet. 3, Februari 1999
6. Koreksi atas Pemahaman Ibadah, Muhammad Quthb, Pustaka Al Kautsar, cet. 7, 1987
7. Al Qur’an berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Dr Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jakarta, cet. 2, April 1999
8. Terapi Penyakit dengan Al Qur’an dan As SunnahlAd Da’wad Dawa’, Al Jawabul Kafi liman Sa’ala ‘anid Dawa’i Syafi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Pustaka Amani Jakarta, cet. 1,November 1996

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, NASEHAT. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s