Bagaimana memilih jodoh itu…???

KELUARGA DAN MEMILIH JODOH

Apakah patut memilih jodoh sendiri tanpa melibatkan keluarga? Ataukah mesti dipilihkan keluarga?
Ternyata hal ini menjadi problem serius di masyarakat kita. Keluarga sudah maksimal menyodorkan pilihan jodoh paling istimewa buat putra-putrinya menurutnya, tapi umumnya pemuda atau pemudi tidak puas dengan pilihan keluarganya, demikian pula sebaliknya jika mereka menentukan pilihan sendiri biasanya keluarga tidak menyetujui. Terkadang keluarga berusaha menggagalkan pernikahan pilihan putra-putrinya sendiri baik dengan ancaman materi maupun moral, maka camkanlah mana yang lebih positif diantara dua pilihan?
Sebenarnya para pemuda menentukan pilihannya lebih banyak dipengaruhi emosinya daripada akalnya, biasanya mereka kurang pengalaman jika dibandingkan keluarganya, hingga umumnya pilihan mereka tidak disetujui. Terkadang pernikahan mereka hanya bermotif cinta, namun selang hanya beberapa tahun kemudian gagal, maka apapun kondisinya keselarasan emosi dalam kehidupan rumahtangga yang terbina lantaran cinta tidaklah begitu signifikan.
Kebanyakan pilihan keluarga lebih positif tapi tidak banyak memuaskan. Yang perlu digarisbawahi, terkadang yang bersangkutan sendiri merasa cuci tangan dalam pernikahan tersebut, dengan demikian ia acapkali bersikap acuh-tak acuh, seringkali ia justru melemparkan tanggungjawab beragam masalah kepada pilihan keluarganya.
Solusi paling signifikan bisa diambil jalan tengah karena sebaik-baik urusan adalah pertengahan, karenanya pendapat pemuda atau pemudi penting diperhatikan. Seyogyanya pernikahan dikesampingkan jika tidak memuaskan yang bersangkutan, bahkan dalam menentukan pilihan dan terlaksananya pernikahan mesti melibatkan pemuda atau pemudi yang bersangkutan, agar semua pihak merasa diprioritaskan dalam mencanangkan tujuan. Untuk itu mengenai tunangannya pemuda mesti meminta persetujuan keluarga, mendengarkan dan menghargai pendapat mereka, sebab umumnya pendapat keluarga sarat dengan pertimbangan, kebijakan dan berwawasan luas.

YANG LAYAK MEMILIH ISTRI 

Sudah barang tentu perempuan lebih mampu memilihkan istri lebih baik buat pelamar, selain kemampuan memuaskan pihak yang dilamar dengan kesepakatan pihak pelamar meski, terdapat hal-hal tak diinginkan.
Tentu saja tidak mutlak, tidak setiap perempuan mampu memilihkan istri yang layak buat Anda. Karena manusia sangat ditentukan oleh pola pikirnya, maka hendaklah pilih-pilih wanita yang layak dengan kriteria sebagai berikut :
1- Berkepribadian stabil
2- Diakui pengalamannya dan kemampuan analisanya
3- Mengedepankan norma agama
4- Memahami karakter perempuan

Kisah nyata :

Telah datang wanita bernama Tamadhir istri Abdur Rahman bin Áuf kepada Utsman bin Áffan ra seraya berkata : “Aku punya sepupu perempuan anak paman, masih gadis lagi cantik, sangat baik budi-pekert, mulus pipinya dan cerdas apakah mau menikahinya?”. Lalu Utsman menjawab : “Ya”. Lalu ia menyebutkan namanya : “Dia adalah Nailah binti Al Furafishah bin Al Ahwash Al Kalbiyah.
Ia tahu benar kepribadian wanita sekaligus kemampuan menilai hal-hal pelik calon istri yang terkadang sulit dideteksi lelaki.

TAKDIR DAN MEMILIH JODOH

Sesekali orang bertanya-tanya : “Dalam urusan jodoh apakah kita punya kebebasan memilih ataukah tidak? Apakah ikhtiar kita merupakan faktor perolehan jodoh yang baik? Ataukah sudah ditakdirkan sehingga ikhtiar kita tidak lagi punya efek signifikan?”.
Sebenarnya qodho’ dan qodar masalah rumit. Singkatnya manusia tidak punya kebebasan ikhtiar dalam beberapa hal seperti waktu, ruang, kelahiran dan perawakan. Sementara dalam beberapa hal seperti berlaku baik atau jahat adalah ikhtiar manusia. Di samping itu manusia punya kebebasan memilih sekaligus dia tidak punya kebebasan memilih seperti berikhtiar dan mencari jodoh.
Secara umum manusia dalam menentukan pilihan jodohnya bisa berkehendak menerima atau menolak.
Namun ketampanan atau kecantikan, kesehatan, harta, status sosial , kecerdasan dan pendidikan memiliki peranan signifikan dalam memperoleh jodoh yang baik, sedangkan seluruh faktor tersebut tidak bisa dikendalikan ikhtiar dan kehendak manusia.
Tapi telah jelas bahwa kesungguhan manusia untuk mencapai kemuliaan, kejujuran, amanat, pendidikan, kesuksesan, dan kedermawanan banyak membantu perolehan jodoh yang baik. Dalam tempo secepat mungkin tidak bisa diperoleh jodoh tanpa terpenuhinya kualifikasi-kualifikasi tersebut meski sudah berusaha maksimal.

KEGAGALAN PERNIKAHAN
LANTARAN CINTA

Seyogyanya memilihkan jodoh buat orang lain hendaklah timbul dari kebebasan berkehendak, kesadaran dan kebijakan yang bersangkutan hingga pilihan itu berdampak baik atau buruk.
Baik-buruknya pilihan sangat ditentukan oleh landasan di mana pilihan itu bertumpu, oleh sebab itu pilihan yang dibangun atas faktor kegemaran pada club, persamaan sekolah, ketemu di peron, via telepon, ketemu di jalan raya dan lain sebagainya, itu hanya bersifat sensasi belaka, pada umumnya lekas luntur jika tidak karena perangsang seperti gejolak emosi, kisah romantis dan filem-filem asmara.
Sedangkan pernikahan yang berlandaskan faktor-faktor pilihan tadi umumnya berakhir dengan kegagalan. Makanya besarnya angka perceraian di Eropa dan Amerika (yang mereka anggap pelanggaran agama) secara resmi melebihi 50% , belum lagi yang disebabkan oleh faktor keretakan lainnya misalnya.
Sebagai dampak mass media di masyarakat kita, kegagalan pernikahan seperti ini mulai merebak meski besarnya angka tidak terlalu memprihatinkan, namun menyebabkan tolok ukur memilih jodoh bertumpu pada income materi dan penampilan-penampilan menipu (glamor).
Orang-orang yang lebih menyukai pilihan jodohnya tanpa bertumpu pada agama dan akhlak tak percaya bahwa pernikahannya telah gagal.
Namun sudahkah mereka bertanya pada dirinya : “Benarkah kami sebagai suami-istri yang harmonis? Atau sosok yang baik?”. Sebenarnya buntut-buntutnya adalah diri mereka sendiri yang gagal bukan semata-mata penikahan. Orang yang membenci pernikahan hanyalah orang-orang yang gagal hidup dalam bingkai pernikahan, karena pernikahannya merupakan survei yang membuktikan betapa kekurangan, kekerdilan dan kelemahan mereka, tak lama kemudian mereka menyembunyikan kelemahan mereka dengan istilah gagalnya pernikahan, prasangka buruk, nikah bukan solusi yang benar dan nikah lambang kekerasan.
Oleh karenanya banyak orang menyangka bahwa pernikahan sesudah dibangun dengan landasan kisah cinta lebih sukses, namun kenyataannya justru sebaliknya. Tak lama kesuksesan nikah dengan landasan cinta (yang mereka dakwakan) berlalu, serta-merta aib-aib yang diabaikan oleh penggemarnya mulai nampak transparan. Selanjutnya semangat cinta yang sudah berkobar-kobar sebelum pernikahan tak lama kemudian padam, maka pasangan suami-istri merasakan gagal harapan dan frustrasi, kemudian disusul dengan mulai munculnya problem suami-istri di saat kita menyadari bahwa pernikahan yang tidak bertumpu pada landasan cinta lebih rasional, sedangkan spesifikasi-spesifikasinya lebih banyak memberikan keselarasan di antara suami istri, di samping rasional para pasangan suami-istri dengan type tersebut mulai dari nol kemudian berkembang normal setapak demi setapak menuju positif. Dengan demikian membuat masadepan hubungan suami-istri menjadi semakin lebih positif sejak awalnya.
Saat mewujudkan majalah “Keluarga” dengan tema “Keberhasilan suami-istri tidak hanya dengan cinta” seorang wartawan mencapai kesimpulan : “Emosi adalah kegagalan, sedangkan rasio menjamin keharmonisan. Janganlah kalian menikah dengan orang yang kalian citai, janganlah berinteraksi dengan orang yang kalian sayangi, menikahlah kalian dengan orang menurut pertimbangan akal bukan emosi, pasalnya akal menjamin pilihan tepat, sementara emosi cuma mengendalikan empunya untuk bercinta-cintaan. Oleh karenanya kegagalan selalu menyertai type pernikahan tersebut cepat atau lambat. Namun mewujudkan pernikahan antara menuruti emosi dan pertimbangan akal tak masalah asalkan akal dikedepankan, saran demikian hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Universitas “Áinu Syamsi” akhir-akhir ini, di mana penelitian tersebut mensinyalir bahwa ¾ (75%) kondisi pernikahan yang dibina sesudah kehangatan romantisnya kisah cinta benar-benar gagal dan berakhir dengan broken-home.
Adapun pernikahan melalui proses lamaran yang dilakukan oleh seorang wanita untuk orang lain, kerabatnya, teman-temannya dan tetangganya memperoleh hasil spektakuler dengan perolehan angka kesuksesan mencapai hampir 95% .
Abdullah Bajeber dalam artikel berjudul “Yang layak memilih jodoh” mengatakan : “sungguh pernikahan sukses biasanya dari pasangan suami-istri yang menilai bahwa cinta bagian dari pernikahan bukan segalanya. Menurut perhitungan matematis bisa dikatakan bahwa cinta tidak mencerminkan 30% dari pernikahan, sedangkan sisanya yang lebih banyak dan lebih prioritas bertumpu pada saling pengertian, cinta, kasih sayang, tanggungjawab dan senantiasa berusaha mensukseskan pernikahan, bukannya menyerah pada problem pertama.

PESAN & KESAN ISTIMEWA

Penyair mengatakan :
 Orang tidak mengenyam nikmatnya hidup, jika tak punya kekasih,
Yang punya kekasih, dia merasakan ketenangan dan ketentraman.

Cinta itu beraneka ragam antara lain : cinta tanah air dan cinta seseorang, namun yang paling populer dan digandrungi umumnya orang adalah cinta antara pria dan wanita.
Alloh l berfirman :

« زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ »
“Pada diri manusia diberikan rasa indah untuk menyintai wanita.” (Ali-´Imrôn [3] : 14)
Sarana komunikasi dan literatur punya andil besar menciptakan opini (imajinasi) tentang cinta antara pria dan wanita dengan peran positifnya dalam kehidupan terlau berlebihan dan jauh dari yang semestinya. Cinta bukanlah seperti yang mereka opinikan sebagai dorongan emosi berlebihan, kerinduan setengah mati, mimpi-mimpi indah, mabuk kepayang, dan harmonis sepanjang masa, tapi sebetulnya sederhana saja.

Keberadaan kawan hidup (suami-istri) membuat hidup terasa puas dan tentram, tenang, senang dan riang.
Alloh l berfirman :
« وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَة »
“Di antara indikasi keagungan-Nya yang luar biasa adalah diciptakannya untukmu istri-istri jenismu sendiri (keterunan Adam) agar kamu cenderung kepadanya dan dijadikannya antara kamu (suami-istri) cinta dan kasih.” (Ar-Rûm [30] : 21)

Hanya dengan akad nikahlah, suami-istri bisa merasakan cinta kasih yang lain daripada yang lain sebelum akad nikah, karena cinta-kasih melalui pernikahan merupakan paduan antara cinta, kasih dan sayang, seperti disinyalir ayat al Qurán Yang Mulia tersebut.
Pernah dikatakan kepada salah seorang muslim yang bijak : “Siapa di antara manusia yang paling kamu cintai?”. Lalu dia menjawab : “Saudaraku, meski berkapasitas sebagai kawan, karena persaudaraan merupakan sensasi hubungan akrab sedangkan persahabatan adalah sensasi lain daripada yang lain, sementara keselarasan antara keduanya sebagai bentuk cinta yang terbaik, adapun jalinan antara suami-istri lebih dari itu, lantaran nilai plusnya berupa kententraman jiwa antara suami-istri”.
Makanya cinta melalui pernikahan bisa mempertautkan hati dan menyatukan jiwa, di samping tahapan awalnyapun sudah mengindikasikan jalinan antara sepasang tunangan untuk membina keluarga dan menyelenggarakan kehidupan rumah tangga sebagai pondasi masyarakat dan pilar peradaban, oleh karena itu cinta yang dilandasi pernikahan bukan semata aktifitas seksual dan bukan pula cinta fantasi, tapi perpaduan antara dua jiwa; jalinan dua jatidiri disertai hubungan seksual, keinginan memiliki keturunan dan memenuhi kewajiban sebagai orang yang membina mahligai rumahtangga.
Ketika lelaki menggauli istrinya, bertambahlah cintanya kepadanya. Rosûlulloh nmenggauli Áisyah ra selama 9 tahun tak berkurang sedikitpun cinta beliau kepadanya. Áisyah pernah berkata : “Rosûlulloh nketika sakit menjelang wafatnya bertanya dengan nada meminta : ” أيْنَ أنَا غَدًا؟ ” = “Besok aku ke rumah istriku yang mana?” (maksudnya hari giliran Áisyah), lalu para istrinya mengizinkan beliau sesuai kehendaknya, maka beliau diantarkan ke rumah Áisyah. Áisyah juga berkata : “Rosûlulloh nwafat di rumahku, pada hari giliranku, kepalanya berada antara paru-paruku (dadaku) dan batang leherku, sedangkan Alloh mentakdirkan mempertemukan antara air liurku dengan air liurnya saat wafatnya”.
Selama Alloh Yang Maha Gagah Perkasa mengizinkan menyatakan cinta kasih antara suami-istri, maka tak ada yang menghalangi lelaki untuk mengekspresikan cintanya kepada perempuan istrinya, karena dengan cara itulah bertambah cintanya.
Tahukah kamu bahwa Rosûlulloh npernah mengatakan :
« إِذَا أحَبَّ الرَّجُلُ أخاهُ فَلْيُخْبِِرْهُ أنَّهُ يُحِبُّهُ »
“Jika seseorang menyukai saudaranya hendaklah menyatakan rasa sukanya kepadanya”.

Sedangkan menyatakan cinta kepada istri lebih utama, sementara pernyataan cinta seorang lelaki kepada istrinya menyebabkan bergeloranya cinta, semakin menambah rasa percaya, bahagia dan tentram.
Rosûlulloh nmemberi contoh praktis kepada kita saat ditanya :
« مَنْ أحَبَ النَّاسُ إلَيْكَ؟ قَالَ: عَائِشَةُ »
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”. Lalu beliau menjawab : “Áisyah”.
Sedangkan Rosûlulloh tentang Khadijah (istri pertamanya yang wafat 3 tahun sebelum menikahi Áisyah), beliau berkata :
« إِنّي رُزِقْتُ حُبَّهَا »
“Sungguh aku telah dikaruniai oleh Alloh dengan rasa cinta kepadanya”.

Cinta fiktif

Terkadang manusia saat pertama-kali mengenal cinta, lebih-lebih di usia puber (adolescence), merasakan keindahan luarbiasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sensasi baru yang amat enjoy dan menimbulkan birahi serta kecenderungan berangan-angan dan sejumlah impian padanya, menurut psikologi dinamakan lamunan (daydreaming). Sementara seorang penyair mengungkapkan efek cinta tersebut terhadap kejiwaan dan bagaimana proses terjadinya :
Cinta pertamakali memikat hati # menyikapi kematian menyebabkan merinding bak permainan Pemicu awalnya pandangan sontak # dan iseng, namun mengobarkan api di hati Laksana api, mulanya hanya batu api # saat menyala mampu membakar setumpuk kayu  Oleh sebab itu mula-mula cinta fiktif (cinta monyet) menilai positif kekasih terlalu berlebihan, sementara kekurangan-kekurangannya dikesampingkan dan tak perlu disebut-sebut.
Karena suka, seluruh aib tak masalah # tapi karena benci, seluruh kekurangan nampak jelas.
Pada hakekatnya gelora cinta semakin bertambah dan kuat, manakala sepasang kekasih gagal pernikahan, lantaran semua penghalang menjadi menyenangkan. Faktor inilah yang mengubah cinta menjadi sakit parah membinasakan hidup manusia, sedangkan pengobatan penyakit cinta adalah pernikahan. Pernah seorang laki-laki datang kepada Rosûlulloh ndan mengatakan kepada beliau : “Wahai Rasulullah aku punya tanggungan seorang anak putri yatim yang telah dilamar dua pria yang pertama kaya dan yang lain papa, sedangkan aku menyukai yang kaya, sementara putri tersebut menginginkan yang papa”. Lalu Rasulullah saw menjawab :
« لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابِّيْنَ مِثْلَ النِّكَاحِ »
“Aku tak pernah lihat pasangan kekasih yang saling mencintai, selain dalam pernikahan”.
Jika sepasang kekasih telah menikah, maka kemurnian (idealisme) cinta mereka nampak ketika terjadi kles berupa realitas yang tak diinginkan, karakter yang saling bertolak belakang dan semua kekurangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Makanya kita meyakini bahwa cinta setelah pernikahan jauh berbeda dari yang sebelumnya, lebih-lebih wanita yang baru mengenyam keindahan dan keasyikan namun kandas pada awal cintanya.
Sudah dimaklumi bahwa pada masa puber (adolescence) pengaruh perasaan, sensitifitas dan angan-angan kosong sangat signifikan. Adapun masa remaja, maka peran seksual semakin meningkat, sementara emosi mulai tenang dan stabil. Adapun sesudah usia remaja peran seksual melemah, sedangkan emosi mulai tenang, sementara peran rasio semakin bertambah, pasalnya cinta adalah suatu yang lumrah buat manusia, di mana ia tidak bisa hidup tanpa cinta sedangkan itu adalah naluri, cuma harus diatur menurut syariat sehingga tidak berdampak negatif. Jika cinta terjadi sebelum menentukan calon istri , tak mengapa selama hanya dipendam dalam hati, tidak diikuti perbuatan nista.
Normal dalam hati seorang laki-laki yang sedang dalam penantian memutuskan bahwa pemudi itu calon pendamping hidupnya (istrinya), namun jangan gegabah melamar pemudi yang kamu inginkan, sebab belum tentu selaras denganmu, dan janganlah terpancang dengannya jika memang tak ada keselerasan, sebab hal itu akan menjeratmu pada hal-hal yang tidak kamu inginkan.
Kenyataan sebagai saksi kuat terhadap kisah-kisah yang menjerat muda-mudi menjadi korban, mulanya tatapan lalu diikuti perbincangan via telepon, sms kemudian ucapan sampai ketemu, padahal demikian itu tidak diperbolehkan dan haram menurut syariat, sebab belum akad nikah meski dengan niat benar dan dengan maksud menikahinya.
Ambillah jalan tengah dan masuklah rumah melalui pintunya. Jika telah diperoleh keselarasan, berarti telah mendapat apa yang menjadi idaman, segala puji dan karunia hanya milik Alloh.
Apabila ditolak maka kembalikanlah kepada Alloh l dan katakanlah dalam hatimu : “Jika memang itu bagianku tentu terjadi keselarasan”. Camkanlah firman Alloh l :
« وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ
وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ »
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Sedangkan Alloh mengerti , sementara kamu tidak mengerti”. (Al-Baqoroh [2] : 216)
Jika kamu enggan (untuk melupakannya) dan tetap menyebut-nyebut : “Sungguh aku cinta padanya, jika aku tidak jadi menikah dengannya, aku akan lakukan dan mengabaikan sesuatu ”, sementara kamu tetap bersikukuh demikian dan kenyataanmu menjadi saksi mengatakan :
• Aku telah terpesona kepadanya sebelum aku tahu apa pesona ,
• Ia (pesona) telah menjumpai hati yang hampa dan menghunjam di dalamnya .

Ini namanya keluar kontrol syariat yang menyebabkan tergelincir, tersesat dan menerjang yang haram, yang akan menghantarkanmu kepada buaian asmara cinta. Betapa banyak manusia hanya lantaran asmara cinta, membuatnya sesat. Alloh l berfirman :
« وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفًا»
“Manusia itu diciptakan dengan kondisi lemah.” (An-Nisâ´ [4] : 28)
Kisah-kisah tentang tema demikian amat banyak, di antaranya kisah mereka yang jatuh cinta namun tak tercapai yang berdampak kepada sakit atau gila, ada juga mereka yang dikuasai syetan yang berakhir dengan kematian dan pupuslah sudah segalanya, faktor penyebabnya pandangan mata yang jalang dan rayuan mempesona. Ada kisah yang perlu Anda mengerti :
Ada pemuda ingin menikah lalu dia mulai mencari-cari pemudi, pada akhirnya mendapatkan pemudi yang diinginkan, dia jatuh cinta padanya sejak pandangan pertamanya. Setelah saling memberi hadiah, diperoleh kata sepakat untuk melaksanakan pernikahan. Dia amat gembira tak terkira. Selang beberapa saat setelah pernikahan hingga malam pelaminan, dia bersamanya melalui hari-hari indahnya. Pemudinya sangat cantik menawan hingga semua orang mengakui kecantikannya. Dia sangat bergantung padanya karena cintanya, dia menunggunya hampir tak tertahankan diri. Dua hari sebelum persetubuhan terjadi hal tak diinginkan lantaran ulah orang-rang yang memfitnah dan para pendengki yang memicu orang tua pemudi menghasut pemuda itu dan menggagalkan pernikahan tersebut, meski prosedur telah ditempuh tapi gagal tetap gagal. Kondisi pemuda itu memburuk hingga putus asa, meski usahanya berhasil. Dia sedikit-demi sedikit mulai tak mempedulikan usahanya hingga asetnya semakin merosot. Dia masih menunggu hampir 3 tahun siapa tahu masih ada peluang untuk menikahi lagi. Tiba-tiba ada berita bahwa pemudi tersebut sudah menikah, tentu ini sebagai pukulan berat baginya. Setelah itu dia menikahi 3 wanita dengan harapan bisa melupakan yang pertama, namun ternyata 3 wanita itu diceraikannya satu per satu, karena kesemuanya bukan atas dasar pilihan yang baik. Betul dia memasuki kehidupan rumah tangga bersama wanita yang ia nikahi, namun dengan pola ideal cinta, maka terjadilah kles terhadap kenyataan yang berlawanan dengan harapannya untuk hidup bersama kekasihnya, hingga dampaknya gagal mencapai harapan. Faktor kegagalan yang pertama cintanya hanya kepada pemudi pertama, kedua tidak memahami persoalan secara essensial, pada akhirnya sampailah kepada pepatah : “Cintamu kepada sesuatu, buta dan tuli”. Bukankah ini menjadi pelajaran?
Pernah disinyalir bahwa Qois bin Malûh mencintai seorang wanita bernama Laila. Dia sangat tertarik kepadanya namun tidak bisa menikahinya sampai gila lantaran dimabuk cinta padanya, hingga ia dijuluki “Tergila-gila sama Laila”. Kehidupannya dan keluarganya menjadi suram, sampai orang tuanya memasungnya dengan besi dan mengajaknya berangkat ke Mekah untuk bertawaf agar mau kembali kepada petunjuk Alloh dan melupakannya, tapi di perjalanan justru memanggil-manggil dan bernyanyi seraya menyebut -nyebut namanya seakan ia berada di hadapannya. Sesampainya di Mekah dan bertawaf, orang tuanya beserta keluarganya berkata kepadanya : “Berdoalah kamu kepada Alloh agar berkenan melupakanmu untuk tidak lagi mencintainya”. Lalu dia merespon seraya berkata : “Ya Alloh janganlah Engkau membikin lupa aku untuk tidak mencintainya, semoga Alloh merahmati hamba yang mengamini doaku ini”.
Cinta, kasih-sayang dan asmara semacam ini haram mkenurut syariat karena menyebabkan mafsadah, demikian juga sibuk bercinta dengan makhluk. Tidak layak dalam hati seseorang ada dua cinta kecuali salah satunya pasti mendominasi yang lain , itulah indikasi derita hati. Pasalnya barangsiapa mencintai sesuatu (selain Alloh) berlebihan, Alloh akan membuatnya menderita. Pernah disinyalir :

• Tiada paling celaka di bumi lebih dari jatuh cinta # jika yang manis nafsu belaka
• Engkau saksikan selalu menangis # lantaran khawatir berpisah dan rindu
• Menangis lagi jika berjauhan lantaran rindu # menangis lagi jika berdekatan, takut berpisah
• Matanya panas saat perpisahan # panas lagi saat perjumpaan

Jatuh cinta, meski yang bersangkutan merasakan senag, hakekatnya adalah duka-derita hati yang amat dalam, pasalnya diri ini tak pernah tenang, menjadi tawanan orang yang melecehkannya, hanya saja tak tersadarkan lantaran tengah dimabuk cinta. Hatinya bak burung pipit di tangan anak kecil yang memperlakukannya secara jahat, sementara ia bersuka-ria dan bermain :

Hati ini tercabik-cabik secara bengis # tapi nuranimu suka-ria dan bermain leluasa
Hidup jatuh cinta bak tawanan terbelenggu # sementara hidup merdeka, leluasa

Bencana Cinta

Bencana cinta, manakala cinta untuk cinta bukan untuk kemaslahatan agama Islam dan dunia. Di antara bencana cinta adalah kecelakaan dunia dan akhirat lebih cepat bagi yang bersangkutan daripada api melalap kayu bakar, pasalnya hati ketika berdekatan dengan cinta dan berkorelasi signifikan dengannya, saat itu menjauh dari Alloh l.
Bencana cinta juga membinasakan penalaran dan menimbulkan bisikan-bisikan dalam jiwa, terkadang kehilangan kesadaran akal seperti telah disebut di depan. Nilai paling tinggi yang ada pada manusia adalah akalnya yang membedakan antara manusia dan seluruh binatang, bahkan bisa jadi kondisi binatang lebih baik daripada manusia. Bukankah hilangnya kesadaran orang yang tergila-gila pada Laila hanya faktor cinta?
• Mereka berkata : “Kau gila karena orang yang kau cintai”, lalu aku menjawab
• “Cinta adalah segalanya bagi yang dimabuk kepayang”
• Bagi penggemar cinta, waktu tidaklah berharga
• Tapi terkadang, membuat sie mabuk kepayang bertekuk lutut

Bencana cinta juga mencelakai organ tubuh, seperti rusaknya hati yang berdampak kepada rusaknya indra seperti lidah, mata dan telinga. Sehingga orang dimabuk cinta melihat yang buruk menjadi baik, baik obyeknya diri sendiri maupun orang yang dicintaainya, kata orang : “Cintamu kepada sesuatu membuat buta dan tuli”. Cinta berlebihan menghalangi mata untuk bisa melihat hakekat sesuatu.

Terkadang bencana cinta benar-benar menyebabkan rusaknya fisik, misalnya sakit pada badan dan rusaknya beberapa organ. Banyak kasus kematian lantaran cinta sebagaimana sering diungkap di samping seringnya disebut-sebut anak-anak dan orang dewasa : “Cinta bikin derita”. Ketika Ibnu Abbas berada di Árafah seorang pemuda dibawa kepadanya dengan kondisi tinggal tulang belulang, lalu Ibnu Abbas bertanya : “Mengapa bisa begitu (kurus kering)?”. Lalu mereka menjawab : “Penyebabnya jatuh cinta”. Ketika itu Ibnu Abbas berlindung kepada Alloh agar dijauhkan dari jatuh cinta sepanjang hayatnya.
Seorang wanita Arab Badui berkata : “Seorang yang dimabuk cinta itu kerdil, semua jadi musuhnya, goyah lantaran hembusan angin, gelisah hanya karena kilat, terbakar oleh pola bangunan rumah, sakit karena dicemooh, menderita karena selalu teringat, kesenjangan membuatnya kering-kerontan, kedekatan membuatnya gusar lagi bergelora, malam membuatnya remuk-redam dan selalu menghindari tidur. Aku berusaha mengobati dari dekat dan jauh namun tak berhasil. Tak ada pelipur-lara yang cocok buatnya”. Tepat sekali kata orang :

• Mereka menilai, jika sie mabuk cinta mendekat # menjemukan, jauh menyenangkan
• Apapun upaya kami tak kuasa menyembuhkan # kami tak kenal : “dekat rumah lebih baik daripada jauh”.

Awalnya jatuh cinta mudah dan manis, pertengahannya menguras perhatian, menyibukkan hati dan derita, pada akhirnya membinasakan dan mematikan. Kata penyair :

• Silahkan keranjingan dengan cinta sampai klimak # jika telah menyatu dengannya, tak berdaya
• Menyikapi gemuruh, itu kan … suara ombak # setelah sampai di sana, ia tenggelam

Dosa itu hanyalah salah sikap, makanya janganlah tertipu hai sobat dengan para propagandis serta pemuji cinta dan penggubah syair, mereka benar-benar berdosa, di mana Alloh telah mengancam mereka :
« إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ »
“Sungguh orang-orang yang menginginkan merebaknya tindakan keji di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat.” (An-Nûr [24] : 19)
Ketahuilah suatu ketika kekasihmu akan kamu tinggalkan atau meninggalkanmu, sedangkan di hadapanmu hanya ada alternatif surga atau neraka, perbanyaklah memohon, berdoa, berlindung kepada Alloh, istighfar, hindari duduk sendirian, pilihlah pendamping yang baik dan sibukkanlah dirimu dengan membaca buku-buku yang bermanfaat.
Camkan pesan kekasih Alloh pilihan, Rosûlulloh n:
« أحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا، وَأبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمًا مَا »
“Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja, boleh jadi kelak kamu membencinya dan bencilah orang yang tak kamu sukai sedang-sedang saja, boleh jadi kelak kamu menyukainya”

Ali bin Abi Thalib berkata :
• Bersikaplah bak logam jika ingin baik, maafkan ulah menyakitkan ,
• Anda kan tahu dan mendengar prilakumu .
• Jika bercinta bersahajalah ,
• Kamu tak tahu , boleh jadi kelak Anda membatalkan .
• Janganlah berlebihan membenci ,
• Sebab Anda tak mengerti, bilamana kebencian menjadi kecintaan .

Bersikap sahaja dalam bercinta lebih sehat menurut psikologi. Oleh sebab itu bersahaja mencintai istri, anak, harta, saudara dan lain sebagainya, tidak terlalu berat saat perpisahan.
Al Hasan Al Bashari berkata : “Pilih-pilihlah saat persaudaraan, berkawan dan menyelenggarakan forum-forum pertemuan. Bersahajalah dalam cintamu dan bencimu. Banyak kasus di masyarakat berlebihan dalam bercinta dan membenci berakhir dengan kehancuran”.

LAMARAN

Pelamar melihat yang dilamar

Dalam hal ini umumnya orang terlalu kaku atau sebaliknya sembrono. Dulu kebanyakan kaum muslimin tidak memperkenankan pelamar melihat yang dilamar, mereka bersikap sedemikian kolot namun menyimpang dari aturan Islam yang benar, padahal Islam sama sekali tidak demikian, itu hanya fanatik jahiliah belaka.
Di sisi lain saya melakukan penelitian bahwa di antara bangsa Afrika memperbolehkan pelamar melihat yang dilamar dengan telanjang bulat. Salah seorang yang tak sependapat memperkuat adanya kasus itu kepada saya.

Sesekali kita juga mengamati nikah percobaan yang dicobakan kepada sepasang tunangan untuk hidup bersama dalam waktu tertentu dalam satu rumah. Jika saling cocok maka dilaksanakanlah pernikahan, jika tidak, maka berpisah. Inilah pola-pola yang ditolak menurut syariat Islam, bahkan tradisi Timurpun memanggap asing. Dampak negatifnya benar-benar signifikan bagi indifidu dan masyarakat, karena kasus itu sungguh terjadi di Barat, sbagaimana akan kita kemukakan nanti.
Saling melihat antara sepasang pelamar dan yang dilamar sangat penting karena bisa menunjang keberhasilan pernikahan. A’masy pernah berkata : “Setiap pernikahan yang terjadi tanpa saling memandang terlebih dahulu berakhir dengan menyedihkan dan memilukan”.
Rasulullaah saw bersabda kepada seorang sahabatnya yang hendak menikahi wanita padahal belum melihatnya :
« اُنْظُرْ فَإنَّ فِيْ أعْيُنِ الْأنْصَارِ شَيْئًا »
“Perhatikanlah, karena pada mata wanita Anshar ada sesuatu”.

Lebih dari itu, secara leluasa diperbolehkan memandang wanita yang dilamar, untuk melihat apa yang bisa dilihat meski tanpa sepengetahuan wanita itu.
Rosûlulloh nbersabda :
« إذَا خَطَبَ أحَدُكُمُ الْمَرْأةَ فَإنِ اسْتَطَاعَ أنْ يَنْظُرَ مِنْهَا إلَى مَا يَدْعُوْهُ إلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ»
“Manakala salah seorang di antara kamu melamar wanita, jika bisa memandang sesuatu yang menarik padanya untuk dinikahi, maka lakukanlah”.
Jabir ra berkata : “Maka aku melamar seorang wanita Bani Salamah tanpa sepengetahuannya hingga aku melihat sesuatu yang menarik padanya”.
Rosûlulloh nbersabda :
« إذَا خَطَبَ أحَدُكُمُ امْرَأةً فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أنْ يَنْظُرَ إلَيْهَا إذَا كَانَ يَنْظُرُ إلَيْهَا لِخِطْبَتِهِ وَإنْ كَانَتْ لَا تَعْلَمُ »
“Apabila salah seorang di antara kamu melamar wanita, tidak berdosa lantaran memandang dalam rangka melamar, meski wanita itu tidak mengerti”.

Sahl bin Abi Hatsmah berkata : “Aku melihat Muhammad bin Salamah Al Anshari memandangi Batsinah binti Dhahak lalu aku berkata kepadanya : “Anda sahabat Rasulullah, mengapa Anda melakukan itu?”. Lalu dia menjawab : “Aku mendengar Rosûlulloh nbersabda :
« إذَا أُلْقِيَ فِيْ قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةُ امْرَأَةٍ فَلاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا »
“Apabila pada hati seseorang ada niat melamar wanita, maka tidak mengapa melihatnya”.
Bahkan melihat sebelum menikah merupakan faktor penyebab timbulnya kasih sayang di antara suami-istri, pasalnya memandang celah awal bagi hati, oleh karenanya aku katakan buat pemuda yang benar-benar berniat melamar, tinggalkanlah sikap malu palsu dalam rangka menyatakan bahwa diri Anda adalah beradab dan camkanlah kata bijak yang pernah aku kemukakan”.

“Bukalah kedua matamu lebar-lebar sebelum pernikahan dan sedikit saja sesudahnya”.

Jangan Anda campakkan kriteria-kriteria yang Anda sukai namun jangan terlalu memprioritaskan itu dalam menentukan jodoh, sebab Anda akan klejingan, membuatmu tidak tentram lagi tak puas, Anda akan selalu saja mencari-cari keinginan nafsumu dengan menikahi wanita yang lain atau selingkuh atau terjerumus dalam zina, kami berlindung kepada Alloh dari perbuatan itu. Kenyataan telah membuktikan :
1) Sebagaimana orang menginginkan tinggi padahal dia menikahi wanita pendek.
2) Juga orang menghendaki rambut panjang, lurus lagi lembut sementara ia menikahi wanita berambut kriting lagi pendek.
3) Juga orang menginginkan wanita berpendidikan yang suka bicara, sedangkan dia menikahi wanita yang tidak cakap bicara, kalaupun bicara berkisar pada persoalan-persoalan sepele dan lain sebagainya.

Sejauh mana pelamar diperbolehkan memandang, para fuqaha’ beragam pendapat. Sebagian imam mazab memperbolehkan memandang sebatas wajah dan telapak tangan saja, sementara batasan itu sama sekali tidak beralasan selain menafyikan persepsi para sahabat.

Ibnul Qoyyim mengatakan : “Dawud mensinyalir : “Diperbolehkan melihat seluruh badannya, dalam hal bolehnya pelamar melihat Imam Ahmad meriwayatkan dengan tiga jalur (sanad), sanad yang ketiga menyatakan : “Memandangnya secara keseluruhan”. Sementara Ibnu Qudamah berkata dalam buku Al-Mughnî : “Persoalan bolehnya pelamar memandang, yakni memandang yang biasa nampak. Nabi n ketika mengizinkan memandang wanita yang dilamar tanpa sepengertian wanita itu, bisa dipaham bahwa beliau memperbolehkan memandang apa yang biasa nampak seluruhnya, sebab tidak mungkin hanya melihat wajah saja tanpa memperhatikan yang lainnya yang biasa nampak. Wa Allohu A’lam.

Yang dilamar melihat pelamar

Umar bin Al Khathab mengatakan : “Wanita yang hendak dinikahi boleh memandang pria (pelemar yang hendak menikahinya) sebab itu bisa menyebabkan wanita itu terperanjat (untuk menyintai) sebagaimana terperanjatnya pria itu”.
Mazab Imam Malik berpendapat tentang bolehnya pihak yang dilamar memandang pihak pelamar, tapi ia tidak diperkenankan melihat wajahnya dan kedua telapak tangannya. Mazab Imam Syafií memperbolehkannya melihat seluruh badan selain aurat yakni antara pusat dan lutut. Adapun Mazab Imam Hanafi dan Hambali tidak menfokuskan bagian-bagian yang boleh dilihat pihak yang dilamar, tapi sesuai kaidah-kaidah yang membatasi pengertian aurat, walhasil tak pelak sebagaimana ia melihat baik lelaki lain maupun mahramnya sendiri.
Sebagian pengikut Mazab Hanafi mengatakan : “Bahkan dalam hal bolehnya pihak yang dilamar memandang pihak pelamar itu lebih utama pasalnya bisa saja pria sebagai pelamar meninggalkannya lantaran tidak menyukainya, tapi lain halnya pihak yang dilamar”.
Syariat memperbolehkan wanita menndengar suara dan bercakap dengan pelamarnya sehingga pelamarnya mengerti nada bicaranya, apakah membuatnya terperanjat atau justru sebaliknya, tentunya dengan syarat disertai mahramnya.

Apakah memandang sesuai
syariat menjamin suksesnya pernikahan

Sesekali orang mengatakan : “Bagaimana bisa membina mahligai pernikahan harmonis cukup dengan memandang dan berbicara sesingkat itu, tanpa ada kesempatan yang cukup untuk mengamati kualifikasi kecerdasan, kepribadian dan moral?”.
Sungguh kualifikasi ideal menurut akal sangat pelik tidaklah bisa dideteksi kecuali dengan cara bergaul dan mengamati dalam tempo lama yang menguak indikasi kualifikasi-kualifikasinya secara transparan atau bahkan lebih dari itu. Tak ayal lagi bahwa tekstur bodi mirip cermin sesungguhnya bagi kejiwaan manusia, logikanya dan prilakunya, sampai-sampai dikatakan : “Sebenarnya karakter khas masing-masing indifidu sangat ditentukan oleh perkembangan unsur-unsur materi dengan tendensi khas pula yang membentuk bodi tersebut, makanya logika (kecerdasan) dan kepribadian (kejiwaan) seseorang adalah korelasi signifikan dengan wujud fisiknya serta tekstur tubuhnya”. Oleh karena itu para psikolog mengklasifikasikan type-type manusia dan mengkorelasikan antara type mereka dengan unsur-unsur pembentuknya dan karakter-karakter kepribadiannya. Para psikolog ini mengemukakan beberapa type manusia antara lain type periang (penuh harapan), keluh kesah (pemarah), acuh tak acuh, gelisah (gugup). Agar efisien tak ada salahnya saya kemukakan pendapat Stewart seorang peneliti terkenal yang meneliti topik ini secara sempurna, ia telah membagi-bagi temperament manusia dan menjelaskan karakternya. Agar pembaca memperoleh persepsi umum apa yang saya maksud, berikut ini klasifikasi manusia menurut Stewart :

TEMPERAMENT FISIK LOGIKA & PRILAKU

Periang Kulit putih, bermata biru, wajah bundar, gemuk atau amat gemuk Sembrono, riang, sensitif, semangat (tekun), otot lebih dominan daripada kecerdasan

Keluh kesah
(pemarah) Kulit dan mata coklat, wajah bundar, gemuk Tak cekatan, lambat, ulet, tak semangat, prilakunya menyimpang, maunya enak sendiri

Acuh tak acuh Kulit bersih, mata abu-abu, wajah lonjong, leher panjang, berbadan kerempeng Gegabah, trengginas, kuat imajinasi, ulet menuntut ilmu, gemar aktifitas baik intelektual maupun otot

Hal ini mudah dipahami, siapa yang tak kenal kejahatan melalui typenya, kebohongan melalui dialeknya dan pamernya melalui penampilannya (adegannya). Meski kejahatan, kebohongan dan kegemaran pamer adalah indikasi khusus bagi kejiwaan seperti halnya marah, gembira dan lain sebagainya.
Ibnu Abi Dunya memberitakan dari Utsman bin ‘Affan yang mengatakan : “Tidaklah seorang hamba menyembunyikan rahasia melainkan Alloh mengawasi dia di balik rahasia itu secara transparan”. Seorang yang tajam (benar) firasatnya lagi punya kekuatan spiritual mampu mengungkap kepribadian manusia melalui tekstur tubuhnya dan parasnya (romannya).
Alloh l berfirman :

« يُعْرَفُ الْمُجْرِمُونَ بِسِيمَاهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِي وَالْأَقْدَامِ »
“Orang-orang berdosa bisa dikenali dengan ciri-cirinya, lalu dipegang
jambul-jambulnya dan kaki-kakinya.” (Ar-Rohmân [55] : 41)

firman Alloh l juga :
« سِيمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ أَثَرِ السُّجُوْدِ »
“Ciri-ciri mereka adalah bekas-bekas sujud pada paras-paras mereka.” (Al-Fath [48] : 29)
Rosûlulloh nbersabda :
« اِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ ، فَإنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللّهِ »
“Takutlah firasat orang beriman karena dia melihat
dengan cahaya Alloh”.
Begitu juga antara pelamar dan yang dilamar bisa saling melihat saat lamaran, prinsipnya agar masing-masing bisa memastikan apakah calon pendampingnya cocok untuk dipergauli ataukah tidak. Oleh karenanya ketika wanita melihat pelamarnya dan menyukainya, maka faktor yang menimbulkan rasa suka itu bukanlah dorongan sex yang dipicu oleh roman muka. Walhasil tekstur manusialah yang menjadi cermin sebenarnya yang memberikan kesan satu-satunya, sebab cermin memberikan refleksi yang bisa diterima pribadi wanita itu dan memberikan kesan signifikan, meski kesan itu misteri tak bisa dimengerti dengan fasilitas akalnya, namun kesan tersebut bisa diserap wanita itu dalam bentuk ekslusip tapi tidak diketahui substansinya. Hanya saja wanita itu bisa menyebutnya cinta dengan ekstra perasaan ingin menikah.

Aku akan membuat perumpamaan betapa kebenaran firasat saat lamaran :
Lamaraan putri Syu’aib as oleh Musa as ketika berada di mata air Madyan hingga firman Allah l :

« قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ»
“Seorang dari kedua pemudi berkata : “Wahai ayah jadikanlah ia karyawan upahan, sungguh sebaik-baik karyawan upahan yang engkau angkat adalah yang kuat lagi jujur.” (Al-Qoshosh [28] : 26)

Bukanlah semata-mata kualifikasi fisik Musa as yang menjadi tendensi putri Syuáib untuk suka dilamar Musa, tapi kualifikasi kecerdasan, kepribadian dan akhlak yang bersenyawa menjadi figur dan sosok Musa yang menyebabkan ia cinta padanya, sementara ia melihat prilaku Musa saat berjubel mengambilkan air buat kedua pemudi yang lemah merupakan indikasi betapa kemuliaan akhlaknya, begitu juga ketidak ikutsertaan kedua pemudi beramai-ramai membaur antara pria-wanita merupakan bukti betapa baiknya akhlak kedua pemudi itu.
Adalah spontanitas, munculnya prilaku fisik atau diamnya atau isyarat atau perkataan atau perbuatan dari dalam diri seseorang sebagai reaksi yang timbul lantaran pengaruh dari dalam diri seseorang selaku kualifikasi rohaninya. Sebagai sampelnya adalah putri Syuáib di mana pada sosoknya dan prilakunya terdapaat indikasi malu. Cobalah camkan firman Alloh l berikut :

« فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَاتَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا»
“Lalu salah seorang dari dua pemudi itu datang kepada Musa sambil malu-malu seraya mengatakan : “Sungguh ayahku mengundangmu untuk memberikan imbalan sebagai opah jasa meminumkan ternak kami.” (Al-Qoshosh [28] : 25)

Sungguh tutur kata putri Syuáib as : « يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ » (Wahai ayah jadikanlah ia karyawan opahan) yang berarti : “Wahai ayah nikahkanlah aku dengannya”. Sedangkan tutur katanya : « إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ» (sungguh sebaik-baik karyawan opahan yang engkau angkat adalah yang kuat lagi jujur) merupakan bukti bahwa ia telah melihat Musa sebagai sosok pria sigap dan punya kualifikasi fisik yang ia nilai kuat dan sehat. Ia juga melihat Musa sebagai sosok yang berkarakter sehat dari gangguan penyakit kejiwaan dan moral, dengan bukti penilaiannya bahwa Musa adalah jujur. Apa gerangan kejujuran Musa di balik itu?

Periksa dokter menjelang nikah

Banyak negara mensyaratkan periksa dokter menjelang akad nikah, tentu hal ini bagus dalam rangka kemaslahatan suami-istri.
Karena mengabaikan keselarasan golongan darah terkadang menimbulkan problim keluarga. Apabila golongan darah istri negatif sedangkan golongan darah suami positif, maka golongan darah ayahnya lebih dominan diturunkan kepada anak pertama. Sebab sang Ibu menghasilkan zat-zat antibody yang diturunkan pada anak melalui darahnya, sedangkan volumenya mengalami peningkatan pada setiap kehamilan baru, meski anak pertama biasanya normal, namun anak-anak berikutnya terkadang harus segera ganti darah setelah kelahirannya.
Di antara pemeriksaan yang biasa dilakukan menjelang pernikahan adalah cairan sperma (spermatic fluid) pria guna memastikan fertilitasnya (kesuburannya) untuk mengobati kelemahan atau penyakit yang mungkin ada padanya, di samping periksa (checkup) kotoran pada kelenjar prostat (prostate gland) untuk proses penyembuhan radang kronis yang terkadang bisa menular ke leher rahim wanita. Lebih dari itu checkup kedua calon pengantin guna memastikan terbebasnya dari beragam penyakit kelamin atau hal-hal yang menghambat persetubuhan dan kehamilan. Tak kalah pentingnya untuk memastikan terbebasnya kedua calon suami-istri dari beragam penyakit menular yang amat berbahaya.

PROSEDUR MELAMAR

Sesudah Anda mengerti seluk-beluk menentukan pilihan, melihatnya, dia melihat Anda, dan setelah Alloh mengaruniakan kecocokan antara hati Anda dan hatinya, masih ada hal-hal metafisik yang hanya Alloh l sajalah yang mengetahuinya. Oleh karena itu Rasulullah memandu kita agar kita melaksanakan istikharah dalam rangka membereskan celah-celah kekurangan yang tidak kita sadari. Sedangkan istikharah adalah memohon kebaikan antara dua hal, untuk bisa mengambil mana yang terbaik.

Istikharah menurut syariat

Yakni salat dua rakaat selain fardhu disertai doa khusus yang berisi permohonan kebaikan ketika melaksanakan suatu aktifitas atau meninggalkannya.

Tata cara salat istikharah

Hendaklah Anda berwudhu pada waktu malam atau siang selain waktu-waktu larangan mengerjakan salat. Berikutnya Anda salat dua rakaat, di mana pada rakaat pertama Anda membaca fatihah dan surat Al Qurán « قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ », sedangkan pada rakaat kedua Anda membaca fatihah dan surat Al Quán « قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ» , kemudian salam, lalu Anda menengadahkan serta mengangkat tangan memohon kepada Alloh Sang Pencipta-mu tanpa pamrih, niat yang benar dan penuh antosias memohon yang baik (menurut Alloh bukan baik menurut nafsumu). Meski seseorang memohon kebaikan seribu kali, ia tidak akan mendapat kebaikan Alloh, lantaran mengedepankan nafsunya bukan kebaikan menurut Alloh. Maka Alloh berlepas tangan dan menyerahkan sesuai keinginan nafsunya.
Lalu membaca hamdalah dan salawat atas Rasulullas saw , kemudian berdoa :
« اللَّهُمَّ إنِّي أسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وأسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأسألُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فإنَّكَ تَقْدِرُ ولا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلا أعْلَمُ، وأنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أنَّ فِيْ (زَوَاجِيْ مِنْ فُلاَنِهِ) خَيْرًا لي فِي دِيني وَمَعاشِي وَعاقِبَةِ أمْرِي ، فاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لي، ثُم بارِكْ لي فِيهِ، وَإنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أنَّ فِيْ (زَوَاجِيْ مِنْ فُلاَنِهِ) شَراً لي في دِينِي وَمعاشِي وَعاقِبَةِ أمْرِي، فاصْرِفْهُ عَنِّي وَ اصْرِفْنِيْ عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِيَ الخَيْرَ حَيْثُ كانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ »
“Ya Alloh aku memohon kebaikan menurut disiplin ilmu-Mu, aku memohon agar Engkau menjadikan aku mampu mencapai kebaikan sesuai ketentuan-Mu, aku memohon karunia-Mu yang agung, sebab Engkau Zat Yang berkuasa, sedangkan aku tak berkuasa dan Engkau tahu , sedangkan aku tidak tahu. Engkau banyak tahu hal-hal yang gaib. Ya Alloh jika Engkau tahu bahwa dalam pernikahanku dengan dia lebih baik buat diriku dalam rangka dinku, kehidupanku dan dampaknya terhadap urusanku, maka takdirkanlah dan mudahkanlah hal itu buatku, kemudian berkahilah aku. Dan jika Engkau tahu bahwa pernikahanku dengannya buruk bagiku dalam rangka dinku, kehidupanku dan dampaknya terhadap urusanku, maka palingkanlah hal itu dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan buatku kapanpun dan di manapun, kemudian jadikanlah aku menyukainya”.
Kemudian Anda menutup doa tersebut dengan salawat atas Rosûlulloh n .

Apakah istikharah berkali-kali

Seorang yang suka berpayah-payah berkata : “Seyogyanya seorang beristikharah sebanyak tujuh kali, pasalnya Ibnu Sunni pernah meriwayatkan dari Anas ra : “Hai Anas jika kamu menghadapi perihal yang prioritas, maka beristikharahlah (mintalah kebaikan ) kepada Alloh sebanyak tujuh kali kemudian camkanlah apa yang sudah ada dalam hatimu, karena apa yang ada dalam hatimu itu adalah kebaikan”.

Perhatian dan camkan

Di antaranya ada yang berkeyakinan bahwa istikharah di malam hari kemudian tidur lalu bermimpi tentang apa yang sudah dipilihkan Alloh, atau membuka mushaf Al Qurán. Jika ia mendapatkan ayat rahmat, bergembiralah dan sambutlah, tapi jika ia mendapatkan ayat azab, maka batalkanlah.

Ini namanya bukan istikharah, tapi kepailitan beragama dan jauh dari konsep Rasulullah yang mulia saw .

Meminta pendapat

Berkonsultasi dan meminta pendapat yang baik kepada orang yang Anda percaya punya pengalaman dan bisa dipercaya menjadi rujukan untuk setiap yang Anda perlukan dalam rangka terwujudnya pernikahan yang diberkahi.
Alloh l berfirman :
« وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ»
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam berurusan.” (Ali ´Imrôn [3] : 159)

Ibnu Uyainah (semoga Alloh merahmatinya) berkata : “Rosûlulloh nmanakala hendak menjalankan suatu urusan melibatkan orang lain untuk bermusyawarah, bagaimana mungkin beliau perlu forum rembug dengan yang lainnya padahal beliau mengemban amanat Sang Maha Pencipta yang senantiasa mengatur urusan-Nya, namun itu dilakukan beliau sebagai pelajaran agar seseorang bermusyawarah dengan orang lain, meski ia sudah berpengalaman”.
Oleh sebab itu ada pepatah : “Barangsiapa kagum terhadap pendapatnya sesat dan barangsiapa merasa cukup dengan logikanya tergelincir”.
A’rabi berkata : “Tak ada harta yang lebih memadahi lebih dari akal, tidak pula kepapaan lebih dari kebodohan dan tidak pula kekuatan lebih dari musyawarah”.
Dikatakan juga : “Barangsiapa memulai dengan istikharah, lalu musyawarah, maka tidaklah pantas idenya gagal”.

Merahasiakan lamaran

Rosûlulloh nbersabda :

« أَظْهِرُوْا النِّكَاحَ وَ أَخْفُوْا الْخِطْبَةَ»
“Informasikanlah pernikahan dan rahasiakanlah lamaran”.

Rosûlulloh njuga bersabda :
« اِسْتَعِيْنُوْا عَلَى إنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ؛ فَإنَّ كُلَّ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ »
“Pergunakanlah moment rahasia demi suksesnya hajat kalian, karena orang yang dikaruniai nikmat selalu diintai penghasud”.

Gegabah menyebarkan lamaran kerapkali menimbulkan masalah dan banyak percekcokan, dengan kata lain memperlebar peluang tipudaya dan kedengkian pendengki.
Ada kasus nyata yang sarat masalah sebagai dampak ketledoran menjaga rahasia lamaran. Seorang pria melamar seorang wanita, sementara berita lamaran telah bocor ke mana-mana, lalu orang-orang dekat sie pelamar latah menyebarkan serta membesar-besarkan kekurangan pelamar di hadapan keluarga perempuan yang dilamar itu, sementara kelebihan-kelebihan pelamar tidak disebut-sebut. Mereka ribut berselisih dalam persoalan-persoalan yang tidak realistis, ujung-ujungnya keluarga perempuan yang dilamar bimbang serta ragu-ragu, sampai klimaknya mereka memperberat beberapa syarat atas pelamar, hingga pelamar berpaling dari pemudi lamarannya lantaran ulah orang-orang dekat pelamar sendiri. Akhirnya mereka menawarkan salah satu di antara putri-putrinya kepada pelamar itu tapi dia menolaknya karena tidak cocok. Sesudah ia mendapatkan pemudi lain yang cocok, telah diperoleh kata sepakat antara pelamar dengan pihak keluarga yang dilamar dan setelah perbincangan panjang lebar, lalu mereka menentukan waktu resepsi pernikahan tiga hari berikutnya, maka datanglah seorang perempuan menemui pengantin perempuan pada malam akad nikah seraya menyatakan bahwa ia telah melakukan yang terbaik, padahal ia mengada-ada atas nama pelamarnya hingga pernikahan nyaris gagal jika keluarga pihak yang dilamar tidak bijaksana. Keluarga pihak pengantin putri itu telah berpesan terlebih dahulu kepada pelamar dan mengantisipasi tentang adanya pihak ketiga dari kalangan pendengki yang akan datang untuk merekayasa.
Pada pagi hari berikutnya pihak keluarga pemudi yang pernah dilamar datang mengklarifikasi tentang apa yang sudah terjadi kepada pelamar, maka dia menolak tuduhan itu dengan alasan yang memuaskan, padahal pernikahan telah terjadi. Seiring berlalunya waktu jelaslah bagi istri dan keluarganya bahwa apa yang pernah dituduhkan itu kebohongan dan tipudaya para pendengki dan para tendensius. Kehidupan suami-istri mereka hingga kini sudah berlangsung beberapa tahun dan bisa dibilang sukses. Inilah kisah nyata yang bisa memperkuat betapa penting merahasiakan lamaran meski terhadap orang-orang dekat sendiri.

Membaca fatihah

Tradisi membaca fatihah telah melekat di kalangan kaum muslimin ketika diperoleh kata sepakat melaksanakan pernikahan di antara kedua keluarga calon mempelai, sedangkan surat Al Fatihah surat yang paling tinggi nilainya di antara surat-surat Al Qurán yang mulia, sementara membacanya merupakan pahala dan berkah yang besar.
Adapun membacanya saat kesepakatan melangsungkan pernikahan adalah bidáh sama sekali tidak beralasan, pasalnya tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw membacanya ketika diperoleh kata sepakat untuk melangsungkan pernikahan.
Telah menjadi opini umum bahwa membaca surat fatihah berarti diperoleh kata sepakat untuk menikah antara kedua belah pihak, di samping pernikahan telah sempurna. Sama sekali ini bukan alasan yang syah, sebab terselenggaranya akad nikah mesti memenuhi seluruh syarat dan rukunnya.

oleh Abdullah Al Bantany

Pos ini dipublikasikan di NASEHAT, Renungan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Bagaimana memilih jodoh itu…???

  1. IbnuSina28 berkata:

    wah benar2 berguna postingannya.. trims ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s