KESATUAN BARISAN

Kesatuan barisan dapat diwujudkan dengan :
A. Kekuatan Rabithah (ikatan atau hubungan), merupakan suatu ikatan dengan persaudaraan iman yang tegak diatas keimanan dan keyakinan yang benar terhadap dienul islam. Dan Mahabbah Rabbaniyah yang tegak diatas kecintaan kepada Allah swt, kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang berwali kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Tiada ikatan yang lebih kuat daripada aqidah dan tidak ada aqidah yang lebih kuat daripada Islam. Sebagaimana firman Allah: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”(QS.49:10). “ dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[ Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang]. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS.8:63). “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS.3:103).
Rasulallah saw, bersabda : “orang mukmin satu dengan mukmin yang lain adalah seperti bangunan yang tersusun kokoh, yang sebagian menguatkan sebagian yang lainnya.”(HR.Al-Bukhari, muslim dan yang lainnya-shohih). Rasulallah saw, bersabda : “ Orang muslim adalah bersaudara bagi muslim yang lainnya.”(HR.Abu Daud –shohih).
Rasulallah saw, bersabda : “ Engkau lihat orang-ornag yang mukmin, dalam kecintaan, kasih sayang dan belas kasih antara sesama bagaikan satu tubuh, apabila salah satu anggota sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit, tidak dapat tidur dan demam.”(HR.Al-Bukhari, Muslim-shohih). Dan Sabda Rasulallah saw : “Mereka yang mencintai karena Allah swt, kelak akan berada diatas kursi-kursi yang terbuat dari permata disekelilingnya ‘Arsy.”(HR.Ahmad dan Muslim –shohih).

B. Saling percaya-mempercayai.
Saling percaya-mempercayai antara mujahidin baik bawahan maupun pimpinannya, dimana mereka ber-prasangka baik sesama mereka serta membuang jauh rasa curiga yang mencampakkan syetan kedalam hati mereka untuk saling hasut dan cela-mencela. Pimpinan(komandan) percaya pada prajuritnya semua, mau mendengar dan memperhatikan masukan masing-masing orang diantara mereka, dan tidak mengurangi haknya dalam mengemukakan pendapat atau pandangannya dalam suatu perkara. Sebaliknya, bawahannya percaya penuh pada pimpinan mereka, jabatannya(secara syar’i), keikhlasan, ilmu dan kebijakannya. Mereka memberikan loyalitas dan ketaatannya dalam keadaan sulit maupun lapang, dalam keadaan senang maupun benci, dan tidak mengerjakan suatu perkara penting kecuali sesudah bermusyawarah dan meminta kesepakatannya terlebih dahulu…Serta menepati perjanjian mereka dengannya dan membai’at mereka kepadanya.
Sikap saling percaya-mempercayai ini merupakan benteng yang kokoh yang dapat merontokkan segala macam persengkongkolan, jerat(perangkap), isu-isu, dan berita bohong yang menggoncangkan yang direkayasa, dikendalikan dan dilepaskan oleh musuh untuk menggoyahkan kepercayaan serta menggoncangkan persatuan barisan. Dan dengan itu maka jama’ah akan berjalan, pasukan akan maju dengan langkah yang mantap penuh keseimbangan.

C. Menetapi ketaatan
Menetapi ketaatan pada Allah swt, Rasul-Nya dan para pemimpin Islam, menjadikan iman sebagai sesuatu yang riil dan konkrit, menjadikan syi’ar-syi’ar sebagai suatu kenyataan yang hidup, menjadikan rencana-rencana sebagai langkah yang nyata, dan menjadikan target dan sasaran sebagai buah yang siap dipetik dan sebagai hasil yang bisa dilihat, serta semua yang ditetapkan pimpinan dapat terlaksana dengan tuntas, ringan dan sukses.
Allah swt, berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(QS.4:59).
Rasulallah saw, bersabda : “Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan, maka dia akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki hujjah. Dan barangsiapa yang mati sedangkan tidak ada dilehernya ikatan bai’at, maka dia mati seperti matinya orang jahiliyyah,”(HR.Muslim –shohih). Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa mati, sedang dia meninggalkan jama’ah maka sesungguhnya dia mati seperti matinya orang jahiliyah.”
Rasulallah saw, bersabda : “Siapa yang memerintahkan kalian, dari para pimpinan untuk berbuat maksyiat, maka janganlah kalian mentaatinya.”(HR.Ahmad, Ibnu Majah dan AL-Hakim –shohih). “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat(kepada pimpinan umat) dalam apa yang ia sukai dan tidak ia sukai, kecuali jika diperintah untuk berbuat maksyiat. Maka apabila kamu disuruh berbuat maksyiat, tidak ada(kewajiban untuk) mendengar ataupun ta’at.”(HR.Al-Bukhori, Muslim –shohih). “Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti ia telah taat kepada Allah, barangsiapa yang mendurhakaiku, berarti ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa yang mentaati amir, berarti ia telah mentaatiku, barangsiapa yang telah menentang amir berarti ia mendurhakaiku.”(HR.Al-bukhari, Muslim –shohih).
Pada kisah pelanggaran yang diperbuat oleh pasukan pemanah terhadap perintah Rasulallah saw dalam perang uhud, tersimpan penyebab yang merubah situasi pertempuran dari kemenangan menjadi kekalahan…dari kisah tersebut terdapat pelajaran yang sangat besar tentang pentingnya dan vitalnya ketaatan dalam menentukan keberhasilan suatu perkara.
Menetapi ketaatan, sesungguhnya kekatan iltizam, yakni menetapi ketaatan dan kedisiplinan pada satu jama’ah yang terorganisir merupakan asas yang berperanan besar bagi pembentukan, kemapanan dan kelangsungan suatu jama’ah. Sebab, harus ada pemimpin dan yang dipimpin, harus ada nidham(tatanan) dan tandzim(organisasi), harus ada prinsip dan ketaatan, harus ada sasaran dan usaha. Jika tidak maka jadilah jama’ah itu seperti kawanan domba tanpa gembala, yang mana akhir kesudahannya adalah terpecah belah, tercerai-berai dan lenyap.
Dan begitu pentingnya kita dalam mengamalkan kewajiban-kewajiban dalam iqomatuddien ini beramal jama’I, sebagaimana sabda Rasulallah saw : “Apabila tiga orang pergi dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu diantara mereka sebagai amirnya.”(HR.Ibnu Majah –shohih). “Tiadalah tiga orang yang berada di suatu desa atau padang, tidak ditegakkannya sholat(jam’ah) pada mereka, kecuali syetan akan menguasainya, srigala itu hanya memangsa domba yang terpisah jauh(dari kawannya).”(HR.Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I, ibnu Hiban, dan AL-Hakim. –shohih).

1. Adab Mujahid terhadap pimpinannya.
a. Tsiqoh(percaya) penuh kepada pimpinannya
Jangan sampai dia dihinggapi keraguan yang merusak jangan sampai menimpa pada dirinya dikuasai syak wasangka yang keliru, dan jangan sampai kepercayaannya digoyahkanoleh isu-isu bohong. Maka sudah seyogyanyalah kalau kepercayaan itu harus tetap kuat dan kokoh, tidak tergoyahkan dan tidak tergoncangkan, kendati orang-orang munafiq dan para pengikut hawa nafsu menyebarkan berita yang menakutkan, melemparkan berbagai macam tuduhan, dan menyebarkan isu-isu bohong. Sebagaimana sudah sepantasnya pulalah kepercayaan tersebut terus tetap terjaga dalam segala keadaan—dalam keadaan sukses maupun gagal—sepanjang pimpinan tetap melangkah pada jalur yang benar dan jalan yang lurus, dan bekerja dengan sungguh-sungguh serta berijtihad untuk mencapai sasaran dan tujuan yang diinginkan.
b. Wala’(loyal) kepada pimpinan.
Dengan jalan mendukung, menolong. Membantu serta menopangnya dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang dimiliki. Oleh karena kekuatan pimpinan berasal dari kekuatan personal-personalnya. Jika mereka menguatkan dan menolongnya, maka ia akan menjadi kuat dan akan menang dengan izin Allah, sebaliknya jika mereka menelantarkannya dan tidak memperdulikannya, maka ia akan menjadi lemah dan gagal. Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.24:62)
c. Ta’at kepada pimpinannya.
Dengan segala yang apa yang diperintahkan kepadanya, sepanjang dia tidak diperintahkan untuk berbuat maksyiat. Dia tidak boleh mempertahankan pendapatnya sendiri dan mengesampingkan pendapat pimpinan, meski merasa yakin kalau pendapatnya benar. Dia harus mengemukakan pendapatnya kepada pimpinan, dan kemudian berpegang pada pendapatnya(pimpinan), baik pimpinan menyetujui pendapatnya atau menolaknya, oleh karena dia lebih tahu keadaan jihad dan mujahidin, dan keadaan musuh, tempat-tempat persembunyiannya, pos-pos pertahanannya, rencana-rencananya serta kamp-kamp latihannya. Allah Ta’al berfirman : “Dan orang-orang yang beriman berkata: “Mengapa tiada diturunkan suatu surat?” Maka apabila diturunkan suatu surat[surat yang berisi perintah untuk memerangi orang-orang kafir.]yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka. Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”(QS.47:20-21).

2. Adab pimpinan terhadap Mujahidin.
a. Adil
Keadilan adalah landasan kokoh yang menopang tegaknya kepemimpinan, tanpa keadilan maka perjalanannya akan berakhir dengan kelemahan, kejatuhan dan kepunahan. Pimpinan wajib memperhatikan urusan seluruh bawahannya, berlaku adil kepada mereka dan semua dan menghormati mereka tanpa mengistimewakan salah satu atas satunya yang lain atau satu kelompok atas kelompok yang lain. Allah Ta’ala berfirman : “…dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(kalian)…”(QS.6:152).
Rasulallah saw, bersabda : “Tidaklah seorang pemimpin kabilah melainkan dia akan didatangkan(dalam persidangan) pada hari qiamat dalam keadaan terbelenggu, sampai keadilan melepaskannya atau kelaliman membinasakannya.”(HR.Al-Baihaqi dalam “as-sunnah” –hasan)
b. Lemah lembut
Seorang pimpinan haruslah bertakwa kepada Allah, pada dirinya, berlaku lembah lembut kepada bawahan dan prajuritnya, berjalan ditengah-tengah mereka seperti jalannya orang-orang yang terlemah diantara mereka, agar ia tidak memberatkan mereka sehingga mereka menjadi susah dan berkeluh kesah, kecuali apabila memang keadaan menuntut harus berlaku tegas dan keras, maka tidak mengapa baginya berlaku kasar dalam keadaan yang seperti itu.
Rasulallah saw, bersabda : “Tiadalah kelemah lembutan melekat pada sesuatu melainkan ia akan mempereloknya, dan tiadalah kelemah lembutan terlepas dari sesuatu melainkan ia akan memperburuknya.”(HR.Abdu bin Hamin dan yang lainnya –shohih) .
c. Musyawarah
Pimpinan dituntut untuk memusyawarahkan hal-hal yang akan dikerjakan(amaliyat) kepada para prajuritnya. dan menyelesaikan perkara-perkara yang timbul dalam jama’ah. Dan dengan musyawarah akan diperoleh pendapat yang benar, sebagaimana sabda Nabi saw : “Tiadalah suatu kaum mau bermusyawarah, melainkan mereka akan dituntun kepada yang terbaik dari perkara-perkara mereka.”

Wallahu’alam bishowab

Pos ini dipublikasikan di Al Jihad, NASEHAT. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s