Kobarkan Semangat Perang Kaum Mu’minin (bab 2)

Apa sifat utama mereka?

… يُحِبُّهُم ويُحِبونَه أَذِلةٍٍ عَلى المؤمِنينَ أَعِزّةٍ عَلَى الكَافِرينَ …

“… Alloh mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, bersikap lembut terhadap orang-orang beriman, keras terhadap orang-orang kafir…” (QS. Al-Maidah: 54)

Lihatlah makna yang sesuai dengan kehendak Robb. Apa buah kecintaan kepada Alloh? Apa buah bersikap lembut terhadap orang-orang mu’minin dan keras terhadap orang-orang kafir? Apakah buahnya hanya sekedar gerakan lisan tanpa dalil dan penjelasan? Tapi cukup dengan klaim bohong dan dusta!?

Tidak…! Sesungguhnya buahnya adalah tindakan aplikatif dan implementatif yang membutuhkan gerakan badan serta akan memisahkan antara yang jujur dan yang dusta. “Mereka itu berjihad di jalan Alloh” (QS. Al-Maidah: 54). Sehingga, apabila seorang mujahid telah berangkat berjihad, singa-singa (pembela diin) Alloh telah meraung dan mereka kibaskan debu-debu kehinaan, ketakutan, sifat pengecut dan lemah… apabila mereka telah meraung dalam kegelapan hutan untuk mengembalikan al-haq pada tempatnya. Apa yang bisa terlihat? Akan ada dalam masyarakat ini seperti yang biasa terjadi di masa dahulu atau masa sekarang, sama saja apakah dalam sejarah Bani Israil atau dalam sejarah terdahulu ummat ini, akan ada dalam masyarakat ini dari kalangan orang-orang yang tidak ter-ekspose lagi tak dikenal, orang yang memeliki derajat tinggi karena hanya memiliki kecintaan karena Alloh dan kebencian karena Alloh. Allohu Akbar! Cukup dengan itu saja!

Dalam masyarakat ini akan ada orang-orang yang memiliki kedudukan, eksistensi, kekuatan, ilmu, jabatan, diplomasi, penjelasan dan lain sebagainya… Mereka itu ketika melihat orang-orang seperti Ibnu Mas’ud, orang-orang seperti ‘Ammar, orang-orang seperti Salman, Shuhaib dan yang lainnya, akan keluar bau busuk kemunafikan dari hati sehingga keluar dari balik lidah mereka. Lalu mereka mulai mencaci  orang-orang beriman, karena mereka tidak bisa mencela al-Qur-an di hadapan manusia! Karena Alloh Yang maha mulia lagi tinggi telah menjaga kitab-Nya dari orang-orang yang akan menyimpangkan. Akan tetapi mereka mencela orang-orang yang beriman dengan fitnah, celaan, hinaan, umpatan dan ejekan yang diambil dari lafazh-lafazh yang tidak enak (didengar) dan menjadikan (orang) lari. Hal itu merupakan kebiasaan orang-orang sombong zaman dahulu dan juga sekarang.

Sehingga ketika Alloh memuliakan sekelompok orang-orang beriman yang tidak terkenal, orang-orang yang lembut terhadap orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir, lalu orang-orang munafiq melihata bahwa mereka tidak memiliki kekuatan ketika nampak wali-wali Alloh membuat front, maju ke barisan peperangan dan perlawanan, akan Anda dapati celaan. Padahal celaan itu memiliki berbagai jenis, metode dan trik. Sangat disayangkan sebagian celaan itu keluar dalam bungkus dalil syar’iy yang dibuat-buat untuk melecehkan keagungan Alloh. Seolah-olah Alloh Yang maha tinggi lagi besar tidak mengetahui apapun yang ada di dalam hati mereka. Hal itu merupakan sikap lancang terhadap Alloh Yang maha mulia lagi tinggi. Mereka mencela wali-wali Alloh –prajurit ummat Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam-.

Tapi, penghinaan, tikaman, pelecehan, ejekan dan cacian ini apakah akan memberikan pengaruh pada Anda wahai saudaraku yang berjihad, wahai saudaraku yang jujur, wahai saudaraku yang mengorbankan nyawanya untuk Diinulloh??!! Apakah Anda akan menjadi lemah? Apakah Anda akan tertipu dengan kobodohan? Ataukah Anda akan terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela setelah Alloh memberikan petunjuk jalan? Sesungguhnya orang yang jujur dalam mencintai Alloh tidak akan terpengaruh oleh itu semua. Sebagaimana Alloh Yang maha mulia lagi tinggi telah berfirman, “mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela” (QS. Al-Maidah: 54).

Makna-makna yang agung (dalam ayat ini), jika Alloh berikan ke dalam hati seorang hamba yang lemah, padahal hamba itu telah di cela oleh setan-setan dari kalangan manusia dan jin –yang saya maksud adalah meliputi media informasi, kebathilan, antek-antek, pasukan berkuda dan pasukan infantry mereka- semua mencaci dan mencela, kemudian berdirilah sang singa mujahid dengan teguh, mulia lagi mendapat kekuatan dengan izin Alloh. Bahkan, demi Alloh, sesungguhnya bagian dari benarnya keimanan dan eksistensinya dalam hati seorang mujahid, adalah imannya semakin bertambah ketika kezholiman semakin membara dan keadaan menjadi gelap. Tidakkah Anda mendengar firman Alloh Yang maha mulia lagi tinggi,

ولمَا رَأَى المؤْمِنُونَ الأَحْزابِ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنا اللهُ ورَسُولُه، وصَدَقَ اللهُ ورَسُوله ومَا زَادَهُم إِلاَّ إيمَاناً وتَسْلِيماً

“Ketika orang-orang beriman melihat kelompok-kelompok (musuh), mereka berkata, ‘inilah (ujian dan kemenangan) yang Alloh dan Rosul-Nya janjikan, sedangkan Alloh dan Rosul-Nya pasti jujur.’ Hal  itu tidak menambah mereka kecuali keimanan dan kepasrahan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

Karena ujian dan serangan musuh tidak menambah kaum mukminin kecuali keyakinan, ketetapan, kemuliaan dan keteguhan. Dan sesungguhnya, keimanan, kesabaran, keyakinan, keteguhan, konsistensi dan peremehan terhadap dunia beserta kenikmatannya menjadi tambah baik setelah mendapat ujian dari pada sebelum mendapat ujian. Begitu juga dengan kerinduannya terhadap apa yang ada di sisi Alloh Yang maha mulia lagi tinggi, yang berupa surga yang luas-nya seluas langit dan bumi yang dipersiapkan untuk orang-orang bertaqwa. Semoga Alloh memberikan surga itu kepadaku dan juga pada Anda sekalian sebagai rizqi dengan keluasan rahmat dan keagungan karunia-Nya.

Sedangkan dalam tempat lain, Alloh Yang maha mulia lagi tinggi menjelaskan bahwa kerasnya ujian justru akan menambah keteguhan dan konsistensi seorang mu’min.

الَّذِينَ قَالَ لهَم النَّاسُ إنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوهُم

“Orang-orang yang ketika dikatakan mereka, ‘sesungguhnya manusia telah berkumpul untuk (menyerang) kalian, takutlah kalian pada mereka’ …” (QS. Alu ‘Imron: 173)

Lihatlah orang-orang yang hari ini berkata, “sesungguhnya Amerika dan sekutu-sekutunya telah berkumpul untuk menyerang ummat islam, mereka juga telah berkumpul untuk menyerang kita di Jaziroh ‘Arob, Iraq dan di negera-negara lain, bagaimana bisa kita akan menghadapi mereka?” mereka menakut-nakuti Anda! Tapi, kadang sebagian orang-orang sekarang memiliki Fiqh Syaithoniy, mereka tidak berkata “takutlah pada mereka”, mereka berkata “bagian dari Bab Bersikap Lembut (Toleransi) Pada Musuh”. Buruk sekali, perkataan ini tidak pernah dijumpai meski pada orang-orang munafiq tempo dulu. Mereka tidak berkata “takutlah pada mereka”, karena mereka tahu bahwa perkataan itu tercamtum dalam al-Qur-an. Sehingga mereka merubahnya dengan bentuk lain, dan mengungkapkannya dengan ungkapan lain, mereka berkata “kita harus toleran terhadapa musuh! Kita tidak bisa menandingi musuh dalam hal jumlah ataupun kesiapan (kekuatan). Masalahnya adalah penentuan waktu, sekarang bukan waktunya jihad!” Lalu jika Anda bertanya, “kapan waktunya jihad?” Mereka berkata, “tidak tau!”[1]

Tentukan bagi kami waktu yang dapat Anda usulkan agar kami bisa mulai memerangi musuh! Akan Anda dapati bahwa kedua tangannya berwarna kuning lagi dusta dalam klaim-nya. Dia hanya ingin cuek (terhadap jihad) sembari ingin mengatakan, “takulah pada mereka” tapi dia ungkapkan dengan ungkapan yang berbeda.

Orang-orang terlantar yang hina yang cahaya wahyu telah padam dari hatinya tidak mendengar firman Alloh yang maha mulia lagi tinggi mengenai kisah Tholut dan pengikut-pengikut tholut,

فَلمَّا فََصَلَ طَالُوتُ بِالجنودِ قَالَ إِنَّ اللهَ مُبتَلِيكُمْ بِنَهْرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيسَ مِنِّي وَمَنْ لمْ يَطْعَمْهُ فَإنهُ مِنِّي إِلاَّ مَنْ اغْتَرَفَ غُرفَة ًبِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلاَّ قَليلاً مِنهُم فَلمَّا جَاوَزهُ هُوَ والذِينَ آمَنُوا مَعَهُ

“maka tatkala Tholut keluar bersama tentara-tentaranya, dia berkata, ‘sesungguhnya Alloh menguji kalian dengan sebuah sungai. Siapa yang minum dari sungai itu bukanlah golonganku. Barang siapa yang tidak mengecapnya maka termasuk golonganku, kecuali orang yang hanya minum dengan seciduk tangan maka juga termasuk gololanganku’. Lalu mereka pada minum dari sungai itu kecuali hanya sedikit dari mereka. Maka tatkala dia bersama dengan orang-orang yang beriman telah melewati sungai …” (QS. Al-Baqoroh: 249)

Sebagian Ahlut Tafsir seperti as-Suddiy dan lainnya berkata, “Jumlah tentara Tholut yang ingin berperang mendekati 80.000 orang sebelum Alloh mewajibkannya. Kemudian dipasanglah berbagai rambu ujian di atas jalan jihad dan kemuliaan sesuai dengan qodar, qodho’ dan hikmah Alloh. Maka diukirlah ujian demi ujian untuk orang-orang yang terlantar itu agar mereka kembali sebelum sampai garis api, hingga jatuhlah orang-orang yang suka mengklaim, pendusta lagi pembual. Hingga mereka berhasil melewati sungai, padahal dari 80.000 orang tidak berhasil melewati sungai bersama Tholut kecuali 314 orang!

Lihatlah sunnah ketentuan Alloh terhadap orang-orang dahulu dan sekarang, maka tatkala mereka telah melewati juga, apakah mereka semua juga mempunyai keteguhan yang sama muthlaq? Senantiasa ada dalam hati sebagian mereka, dari kalangan orang-orang mukmin yang jujur yang telah merobohkan kenikmatan-kenikmatan dunia di belakang mereka dan terbebani oleh berbagai celaan, tikaman, hinaan dan cemohan, mereka juga telah melewati sungai, sebagian mereka atau sebagian besar mereka tatkalah melihat kekuatan Jalut sang durjana berkata, “mereka berkata, ‘hari ini kami tidak memiliki kekuatan…” lihatlah orang-orang yang berkata mengenai kekuatan dan kemampuan, mereka berkata, harus ada jumlah dan persiapan (kekuatan) yang mendekati, “mereka berkata, hari ini kami tidak memiliki kekuatan menghadapi Jalut dan pasukannya”. Tapi ummat yang jujur di segala zaman dan tempat tidak kehilangan sejumlah orang yang teguh karena Alloh, berani membela firman Alloh, mau menolong sunnah Rosululloh ‘alayhis sholatu was salam

قالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً

“Orang-orang yang yakin bahwa mereka akan berjumpa dengan Alloh berkata, “berapa banyak kelompok yang sedikit menang melawan kelompok yang banyak?” (QS. Al-Baqoroh: 249)

(Menang) dengan keperkasaan mereka? Dengan kekuatan mereka? Dengan kabilah mereka? Dengan prediksi mereka? Dengan nasab mereka? Dengan kebangsaan mereka? Dengan klaim mereka terhadap tauhid? Dengan klaim bohong dan bualan mereka melaksanakan syari’at? Tidak…

بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“… dengan izin Alloh padahal Alloh bersama orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Baqoroh: 249)

Lihatlah putaran terakhir, ketika mereka telah maju,

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ

“Dan ketika mereka telah pergi untuk (memerangi) Jalut dan tentaranya …” (QS. Al-Baqoroh: 250)

Dan tentu saja dua tentara  sudah saling berbaris, dan mereka melihat bahwa kekuatan mereka telah terputus dan bahwa bala bantuan telah lenyap di hadapan mereka. Karena tidak ada keserupaan di antara dua pasukan itu. Dan tidak mungkin dalam perang itu terjadi keserupaan apapun dalam hal jumlah dan kesiapan (kekuatan). Maka apabila kekuatan itu telah terputus, di manakah tempat lari? Tidak ada tempat lari dari Alloh kecuali kepada-Nya. Lihat apa yang mereka katakan,

قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“mereka berkata, ‘wahai Robb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, teguhkanlah kaki kami dan tolonglah kami untuk melawan kaum kafir” (QS. Al-Baqoroh: 250)

Lari kepada Alloh adalah senjata yang muthlaq. Secara muthlaq, Dia tidak akan mengabaikan orang yang menggunakan itu sebagai senjata. Apa yang dihasilkan? Langsung setelah doa, setelah mereka putus asa dari pertolongan makhluq terhadap mereka, padahal tidak tersisa siapapun dari mereka di medan itu kecuali jumlah yang sedikit ini. Bagaimana jika mereka menengadahkan tangan untuk berdoa dengan jujur kepada (Alloh) Yang di tangan-Nya lah ubun-ubun orang-orang kuat, kepada (Alloh) Yang di tangan-Nya lah pengawasan terhadap thoghut-thoghut manusia dan jin,

فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ

“lalu mereka bisa mengalahkan Jalut dan pasukannya dengan izin Alloh, Dawud[2] pun dapat membunuh Jalut dan Alloh memberikan padanya kekuasaan dan hikmah[3] (QS. Al-Baqoroh: 251)

Lihatlah bagaimana kemenangan terjadi setelah jihad? Tidak bisa kekuasaan, ilmu yang haqiqi, hikmah robbaniyyah dan penolakan terhadap kebathilan beserta pelakunya di dapatkan kecuali dengan jihad dan perang.

وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ

Dawud pun dapat membunuh Jalut dan Alloh memberikan padanya kekuasaan dan hikmah” (QS. Al-Baqoroh: 251)

Kapan Alloh memberikan ilmu dan hikmah? Sebelum jihad atau setelah jihad? Sebelum jihad, Dawud ‘alayhis salam bukanlah seorang nabi, bukan seorang ‘alim, dan bukan seorang Raja. Lalu ketika Alloh memuliakannya dengan berlumurannya darah thoghut Jalut di tangannya, lihat kemulian yang diberikan Alloh Yang maha mulia lagi tinggi,

وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ

Dawud pun dapat membunuh Jalut dan Alloh memberikan padanya kekuasaan dan hikmah” (QS. Al-Baqoroh: 251)

Dawud tidak menunggu dialog dulu dengan Jalut, yang tentu akan menyusahkan,  selama sepuluh tahun atau lima tahun atau lebih atau kurang. Sebagaimana perkataan sebagian orang, “jika dia mendapat petunjuk…” lihat bagaimana talbis (tipuan) itu sangat terselubung, dia katakan, “sungguh, jika Alloh memberi petunjuk pada seorang pastur dengan perantara Anda, adalah lebih baik dari pada Anda membunuh dia!” Ini merupakan kedustaan terhadap Rosul shollallohu ‘alayhi wa sallam. Ini merupakan pengurangan terhadap Rosul shollallohu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya. Lihat bagaimana membalik kebathilan hingga mereka bisa mengklaim bahwa itu adalah suatu kebenaran. Tapi…

وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ

Dawud pun dapat membunuh Jalut dan Alloh memberikan padanya kekuasaan dan hikmah, juga Alloh berikan ilmu sesuai dengan yang Dia kehendaki. Seandainya Alloh tidak menolak sebagian manusia lalu menggantinya sebagian dengan sebagian yang lain… ” (QS. Al-Baqoroh: 251)

Bukan dengan dialog… dalam ayat ini jelas disebutkan menolak. Adapun dialog, sesungguhnya itu tidak dapat menolak apapun hingga makhluq yang paling hina sekalipun. Tidak diragukan lagi bahwa dialog mempunyai posisi tersendiri dalam syari’at, tapi itu memiliki fase, waktu, kondisi dan pertimbangan syar’iy lagi jelas. Yang sekarang bukanlah tempat ditampakkan di beberapa ayat itu. Adapun jika musuh telah bertindak, adapun jika musuh orang-orang zholim telah berkuasa, adapun jika kesucian kaum muslimin telah dilecehkan dengan bebas, adapun jika Ahlul Ngeyel telah berbicara mengenai kesyirikan dan ke-kufur-an di negeri Haromain (Makkah dan Madinah), dan adapun jika wali-wali Alloh, ulama’ ahlut tauhid dan millah (ulama’ yang memegang dan membela islam), telah dipenjara tanpa ada dialog yang diklaim itu, maka tidak ada solusi kecuali dengan (perlawanan) pedang. Kemuliaan hanya milik Alloh, Rosul-Nya dan kaum beriman.

وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Seandainya Alloh tidak menolak sebagian manusia lalu menggantinya sebagian dengan sebagian yang lain, niscaya bumi menjadi rusak, akan tetapi Alloh memiliki karunia yang (dicurahkan) atas semesta alam. ” (QS. Al-Baqoroh: 251)

Sedangkan dalam surat al-Hajj,

لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ

“… niscaya rumah ibadah para rahib dihancurkan …” (QS. Al-Hajj: 40)

Urusannya adalah urusan aktivitas, penghancuran, pembangunan dan perobohan bangunan. Jika tidak kita robohkan bangunan mereka sesuai batasan syari’at, mereka akan robohkan masjid-masjid sesuai nash al-Qur-an,

لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“niscaya rumah-rumah ibadah para rahib, gereja-gereja nashroni, gereja-gereja yahudi (di Ibrani), dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Alloh. Dan Alloh akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Alloh maha kuat lagi perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

Berapa banyak menara? Berapa banyak masjid? Berapa banyak tanah yang suci telah dihancurkan oleh rusia, amerika, yahudi, kaum munafiq dan antek-antek mereka di setiap tempat? Berapa banyakkah? Berapa banyakkah? Berapa banyakkah?

Kemudian ketika wali-wali Alloh –demikian kami menganggap mereka- menghancurkan dua gedung saja dari gedung-gedung ke-kufur-an dan ke-durjana-an, yang digunakan sebagai tempat untuk memerangi diin (agama) Alloh Raja Yang maha kuasa… berbicaralah beo-beo, berbagai kedustaan dari thoghut-thoghut yang rusak (juga keluar), (beo-beo itu) adalah payung-payung bagi para thoghut yang menutup-nutupi (kejahatan) mereka dengan nama syari’ah. Alloh pasti membinasakan mereka, bagaimana mereka bisa dipalingkan padahal Alloh tidak menginginkan sesuatu kecuali agar cahaya (petunjuk)-Nya menjadi sempurna meskipun orang-orang kafir dan para penjahat membencinya.

Seandainya cahaya itu sempurna di bumi yang ditaburi dengan berbagai wewangian dan bunga, niscayalah sebagian besar tukang klaim tidak terbongkar (kebohongannya). Orang-orang yang menisbatkan diri pun tidak tertinggal. Niscaya Habil dan Nabil masuk bersama-sama (ke dalam cahaya itu), begitu juga orang yang jujur dan orang yang dusta. Akan tetapi, Alloh tidak menginginkan sesuatu, kecuali untuk memasang rambu-rambu yang menjadikan kaki-kaki orang yang tidak yakin tersingkap. Adapun orang-orang yang sabar dan beriman, sesungguhnya mereka tidak akan tergoncang disebabkan adanya karunia dari Alloh. Tidakkah Anda mendengar firman Alloh Yang maha mulia lagi tinggi, “bersabarlah…”. Seandainya jalan ini tidak ada kesulitannya, Alloh tidak akan berfirman, “bersabarlah…”,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ

“bersabarlah, sesungguhnya janji Alloh adalah benar (kepastian)” (QS. Ar-Rum: 60)

Pasti! Meskipun akal Anda sama sekali tidak dapat memahami (datangnya janji itu).

Pernah ketika Musa ‘alayhis salam sampai di (tepi) laut, padahal beliau dikejar oleh thoghut Fir’aun beserta pengikut-pengikut dan tentara-tentaranya, sahabat-sahabat beliau pun berkata, “sesungguhnya kita pasti tertangkap” (QS. As-Syu’aro’: 61). Fir’aun di belakang kita sedangkan laut di depan kita. Seperti yang dikatakan di zaman sekarang, “kita pasti tertangkap”. Amerika dengan satelit-satelitnya, dengan berbagai kekuatannya, dengan berbagai bomnya dan dengan berbagai rudal jarak jauhnya, bagaimana kita bisa menghadapi mereka??!! “Kita pasti tertangkap” sebagaimana yang dikatakan kebanyakan orang yang tidak mengenal Alloh dengan sebenar-benarnya. Namun ketika itu… apakah Musa ‘alayhis salam mendapat petunjuk mengenai apa yang akan Alloh berikan padanya? Tidak… namun beliau mendapat petunjuk bahwa pertolongan itu pasti datang, tapi tak tahu bagaimana. Beliau menjawab, “sekali-kali tidak, sesungguhnya aku bersama Robb-ku yang akan memberiku petunjuk.” (QS. As-Syu’aro: 62). Beliau tidak mengatakan “aku bersama tentara, aku memiliki kekuatan.” Namun beliau berkata, “sekali-kali tidak, sesungguhnya aku bersama Robb-ku yang akan memberiku petunjuk.” Maksudnya, Alloh akan memberiku petunjuk mengenai apa yang harus aku lakukan, apa yang akan ku perbuat di depan musuh? Sesungguhnya kita sedang berada dalam situasi yang tak bisa digambarkan, tapi aku memiliki Alloh, Robb yang akan memberiku petunjuk. Yakin… Lihatlah orang-orang yang yakin, bagaimana mereka mendapat pertolongan. Musa ‘alayhis salam tidak melengkapi perkataannya itu kecuali wahyu langsung datang padanya. Alloh melihat makhluk pada waktunya dan terdapat ‘ibroh setelahnya. Alloh memerintahkan beliau hanya dengan tongkatnya saja, untuk memukul laut itu dengannya! Alloh tidak menolong beliau dengan pedang, tidak juga dengan kekuatan nyata, bukan pula dengan bom, juga bukan dengan berbagai senjata pemusnah masal atau non pemusnah masal.

Meskipun nantinya mungkin saja Anda tidak mendapatkan sebuah tongkat setelah Anda pikirkan semampu Anda sebab-sebab yang ada saat itu, bukan sebab-sebab khayalan yang tidak mungkin anda mendapatkannya. Hanya saja, sebab apa pun yang ada saat itu gunakanlah… optimalkanlah… jangan membatasi sehingga Alloh akan mengabaikan Anda… meskipun dengan tongkat sebagaimana yang dilakukan oleh Musa ‘alayhis salam, lalu Alloh memerintah beliau untuk memukul laut itu… hingga akhirnya, Alloh menjadikan mereka menang dengan sebab satu tongkat! Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Alloh yang telah menciptakan kemenangan besar hanya dari benda mati. Yang kemudian kemenangan itu kekal dalam sejarah menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Pada hari badr… kekasih dan penyejuk mata kita Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam, demi bapak dan ibuku, beliau taburkan segenggam debu di wajah kaum musyrikin, lalu mereka lari kebelakang! Suatu urusan yang tidak masuk akal manusia yang tidak mengenal wahyu. Alloh Yang maha mulia lagi tinggi berfirman,

وَمَا رَمَيتَ إذْ رَمَيْتَ

“bukan kamu yang melempar ketika melempar…” (QS. Al-Anfal: 17)

Di sana ada kekuatan ghoib yang sangat hebat…

وَمَا رَمَيتَ إذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ الله رَمَى

“bukan kamu yang melempar ketika melempar, namun Alloh lah yang melempar.” (QS. Al-Anfal: 17)

Anda harus berbuat meskipun dengan segenggam taburan debu. Perbuatan ini bukanlah sebuah senda gurau dari Nabi Musa ‘alayhis salam dan Nabi Muhammad ‘alayhis sholatu was salam. Namun, perbuatan itu merupakan puncak hidayah, supaya Alloh memperlihatkan kepada makhluq yang dikehendaki-Nya, serta memberinya petunjuk terhadap ma’na-ma’na yang dalam lagi sangat jelas ini.

Kembali lagi pada firman Alloh,

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ

“bersabarlah, sesungguhnya janji Alloh adalah benar (kepastian)” (QS. Ar-Rum: 60)

Jika Anda tidak mendapat petunjuk, bagaimana akan berbuat?

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ

“bersabarlah, sesungguhnya janji Alloh adalah benar (kepastian)” (QS. Ar-Rum: 60)

Perhatikan (lanjutannya)!

ولاَ يَسْتَخِفَنَّكَ الذِينَ لاَ يُوقِنُونَ

“dan janganlah orang-orang yang tidak yakin itu menggelisahkanmu.” (QS. Ar-Rum: 60)

Janganlah mereka menggelisahkanmu, Anda dengar perkataannya kemudian Anda percaya! Atau Anda menjadi terjangkit syubuhat, atau Anda menjadi tergoncong lalu mundur! Atau berpaling! Atau terpukul! Atau bimbang, meskipun sedikit, lalu menjadi orang yang dikomentari Alloh mengenai keadaan mereka,

فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَدُون

“lalu mereka bimbang dalam keraguan mereka…” (QS. At-Taubah: 45)

Lihatlah keadaan yang lain wahai saudaraku…

Tatkala Nabi Alloh, Musa ‘alayhis sholatu was salam dan tentaranya berperang di Palestina, sangat banyak orang-orang yang kalahpun enggan, sayang mereka senantiasa ada di setiap lembaran sejarah dan masa, mereka berkata,

إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإنَّا دَاخِلُونَ * قَالَ رَجُلانِ…

“sesungguhnya kami tidak akan memasukinya hingga mereka (musuh) keluar darinya. Maka jika mereka keluar darinya, kami akan masuk. Ada dua orang (saja) yang berkata …” (QS. Al-Maidah: 22-23)

Tentara yang penuh keberanian, orang-orang besar dan para pemimpin, tapi tak ada yang berbicara kecuali hanya dua orang!

مِنَ الذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ الله عَلَيْهِمَا اُدْخُلُوا عَلَيْهِمُ البَاب

“… dari kalangan yang takut (untuk menyelisihi perintah Alloh), Alloh berikan nikmat pada mereka (berupa penjagaan), ‘masuklah lewat pintu itu (untuk menemui) mereka’ …” (QS. Al-Maidah: 23)

Wahai saudaraku, hanya dengan memasuki pintu saja, pergilah, berjalanlah, melangkahlah,

فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ

“… maka jika kalian memasukinya, kalian pasti menang” (QS. Al-Maidah: 23)

Bukan berkata, “jika kalian tembakkan… jika kalian lemparkan tombak” dalam fase yang kuat ini memang harus ada hal itu, tapi datangnya kemenangan bersama dengan langah pertama…

اُدْخُلُوا عَلَيْهِمُ البَاب فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ

“masuklah lewat pintu itu (untuk menemui) mereka, maka jika kalian memasukinya, kalian pasti menang” (QS. Al-Maidah: 23)

Tapi, dengan syarat tawakkal,

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan tawakkal-lah hanya pada Alloh lah, jikalau kalian orang-orang yang ber-iman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Pembicaraan ini sudah panjang dalam kesempatan kali ini. Tapi, semoga masih dapat kita lanjutkan jika Alloh masih memanjangkan umur kita. Insya Alloh kita masih memiliki pertemuan… pertemuan… dan beberapa pertemuan lagi… insya Alloh dalam pertemuan-pertemuan itu akan kita bahas berbagai permasalahan yang lain. Semoga Alloh memberikan manfaat terhadap apa yang telah kita dengar dan memberikan ilmu yang dapat bermanfaat bagi kita. Saya juga memohon pada Alloh Yang maha mulia lagi tinggi agar menjadikan kita semua dalam golongan orang yang berbicara dan berbuat, bukan menjadikan kita golongan yang berbicara tanpa berbuat, yaitu orang yang amat sangat dibenci oleh Alloh.

يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتَاً عِنْدَ الله أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat. Amat besar kemurkaan di sisi Alloh (jika) kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat.” (QS. As-Shoff: 2-3)

Apakah kejujuran yang menjadikan Alloh suka dan kedustaan yang menjadikan Alloh benci? Apa yang Alloh katakan?

إِنَّ الله يُحِبُ الذِينَ يُقَاتِلون فِي سَبِيل الله صَفَّاً كَأَنَّهُم بُنْيَان مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang di jalan Alloh dengan rapi seakan-akan mereka seperti bangunan yang tertata kokoh” (QS. As-Shoff: 4)

Maka, kejujuran yang menyebabkan Alloh ridho adalah berperang dalam barisan, begitu juga sebaliknya.

فأسأل الله أن يجعلنا وإياكم من أهل هذا الطريق، أسأل الله جل وعلا أن يجعلنا من أصحاب الصبر واليقين، أسأل الله العظيم الذي لا إله غيره الحي القيوم بأسمائه وصفاته وقدرته على كل شيء أن لا يقبضنا حتى يشفيَ صدورنا من أعداء الله، من جنود بوش ومن اليهود ومن النصارى ومن المنافقين ومن العملاء ومن الطواغيت ومن جنودهم، ومن جميع الظالمين الذين يعذبون ويؤذون المؤمنين، اللهم لا تمتنا حتى تشفي صدرونا فيهم، اللهم أرهم ضعفنا قوةً عليهم، وأرنا قوتهم ضعفاً عليهم يا قوي يا عزيز، اللهم إننا واثقون بك كل الثقة أن كيدهم ضعيف، وأن كيدك عظيم، وأنهم يكيدون كيداً وتكيد كيداً، فما أعظم كيدك يا رب العالمين فأنت خير الماكرين…

Maka saya memohon pada Alloh agar Dia jadikan kita semua bagian dari golongan yang menempuh jalan ini. Saya memohon pada Alloh Yang maha mulia lagi tinggi agar Dia jadikan kita bagian dari orang-orang yang bersabar dan yaqin. Saya memohon pada Alloh Yang maha agung Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Dia, Yang hidup kekal dengan nama-nama, sifat-sifat dan kekuatannya terhadap segala sesuatu, agar tidak menahan kita hingga dada kita sembuh dari (kemarahan) terhadap musuh-musuh Alloh, tentara-tentara Bush, Yahudi, Nashroni, kaum munafiqin, antek-antek (musuh), para thoghut dan tentara-tentara mereka, juga dari semua orang-orang zholim yang menyiksa dan mengganggu orang-orang beriman. Ya Alloh, jangan Engkau matikan kami hingga dada kami sembuh (dari kemarahan) terhadap mereka. Ya Alloh tampakkan kelemahan kami sebagai kekuatan di hadapan mereka, serta tampakkanlah kekuatan mereka sebagai kelemahan di hadapan kami. Wahai Yang maha kuat, wahai Yang maha perkasa. Ya Alloh sesungguhnya kami percaya kepada-Mu dengan sebenar-benarnya bahwa makar mereka itu lemah, bahwa makar-Mu lah yang besar dan bahwa mereka mebuat makar padahal Enkau juga membuat makar. Sedangkan tak ada makar yang lebih besar dari makar-Mu wahai Robb semesta alam. Engkau-lah sebaik-baik pembuat makar…

اللهم حقق آمالنا فيما يرضيك ويسرنا، اللهم أنقذ إخواننا من سجون الطواغيت، اللهم أنقذ مشائخنا من سجون الطواغيت، اللهم اشفِ صدورنا في الطواغيت، اللهم إنَّا نعلم أنهم لا يقدمون ولا يؤخرون، اللهم يا ذا الجلال والإكرام كن لشيخنا المظلوم الشيخ وليد السناني، اللهم كن له وليا ونصيراً، اللهم انصره على من ظلمه، اللهم اثأر له على من بغى عليه، اللهم احفظ أخواتنا المسجونات في الرويس والحائر، اللهم احفظهنَّ يارب العالمين، اللهم احفظ أعراضهن، اللهم احفظ صحتهن، اللهم احفظ دينهن، اللهم عجل فرجهن يا ذا الجلال والإكرام.

Ya Alloh, wujudkanlah cita-cita kami dalam hal yang engkau ridhoi dan mudahkanlah kami. Ya Alloh, bebaskanlah saudara-saudara kami dari penjara-penjara thoghut. Ya Alloh, bebaskanlah syaikh-syaikh kami dari penjara-penjara thoghut. Ya Alloh sembuhkanlah dada kami terhadap para thoghut itu. Ya Alloh, wahai Sang pemilik kemulian, lindungilah syaikh kami yang teraniaya, syaikh Walid as-Sinaniy. Ya Alloh, lindungi dan tolonglah dia. Ya Alloh, tolonglah dia dari orang yang menganiayanya. Ya Alloh, balaslah orang yang berbuat jahat padanya. Ya Alloh jagalah saudari-saudari yang dipenjara di Ruwais dan Hair. Ya Alloh, jagalah saudari-saudari kami itu wahai Robb semesta alam. Ya Alloh, jagalah kehormatan mereka. Ya Alloh, kesehatan mereka. Ya Alloh jagalah Diin mereka. Ya Alloh, percepatlah kebebasan mereka (dari pejara), wahai Sang pemilik kemulian.

اللهم انصر كل من نصر الدين، اللهم انصر كل من نصر الدين، اللهم اخذل كل من خذل الدين.

Ya Alloh, belalah siapa saja yang membela Diin ini. Belalah siapa saja yang membela Diin ini. Ya Alloh, abaikanlah orang yang mengabaikan Diin ini.

Sampai jumpa kembali saudara-saudara tercinta… insya Alloh kami melihat Anda sekalian masih dalam dalam perjumpaan yang akan datang. Maaf atas ucapan yang cukup panjang ini. Semoga Alloh meneguhkan semuanya.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك

Ya Alloh Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas Diin-Mu.[4]

——————————————————————————————————————–


[1] Hal ini sama dengan yang penterjemah temukan dalam beberapa kesempatan. Sebagian berkata (kurang lebih), “Jama’ah kami belum siap”. Sebagian berkata (kurang lebih), “Personel kita kurang untuk menandingi mereka”. Sebagian lain berkata (kurang lebih), “Jihad butuh persiapan matang, bukan bom sana, bom sini kemudian lari”. Sebagian lain berkata (kurang lebih), “di Indonesia belum waktunya jihad, baru dalam fase da’wah”. Bahkan ada juga kelompok yang menerbitkan majalah dengan tema “JIHAD PREMATUR”. Wal ‘iyadzu billah…

[2] Dalam tafsir Jalalain diterangkan bahwa Dawud berada dalam barisan pasukan Tholut. Wallohu a’lam… -pen

[3] Dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa Alloh memberikan kekuasaan terhadap bani Isroil dan Alloh berikan kenabian pada Dawud setelah wafatnya Tholut dan Syamuel. Wallohu a’lam… -pent

[4] Materi ini berasal dari rekaman video. Dalam naskah yang kami peroleh tidak disertakan Tanya jawab di akhir ceramah beliau. Karena, wallohu a’lam, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan pada beliau memang tidak terjawab disebabkan jawaban yang dibutuhkan cukup panjang.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Al Jihad, Hukum, NASEHAT. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s