Kobarkan Semangat Perang Kaum Mu’minin (bab 1)

Kobarkan Semangat Perang Kaum Mu’minin

Oleh:

Syaikh ‘Abdulloh ar-Rosyud

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Segala puji bagi Alloh, kita memuji, meminta pertolongan, meminta hidayah dan meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan dari kejelekan amal kami. Siapa yang Alloh beri petunjuk, tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan siapa yang Dia sesatkan, tidak ada yang bisa menunjukinya. Kami bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah kecuali Alloh semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Alloh memberi sholawat dan salam yang banyak kepadanya, keluarganya dan shohabat-shohabatnya, tabi’iin dan pengikut-pengikut mereka hingga hari pembalasan.

Amma ba’d,

Kepada saudaraku yang muslim…

Kepada saudaraku yang bertauhid, yang bersaksi bahwa tidak ada ilaah yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah utusan Alloh, di bumi belahan timur dan dan barat…

Kepada orang yang Alloh muliakan, lalu dia dikeluarkan dari kegelapan jahiliyyah menuju cahaya tauhid dan iman…

Kepada orang yang Alloh muliakan, lalu dia dijadikan sebagai bagian dari ummat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…

Kepada orang yang Alloh muliakan, lalu dia dijadikan sebagai bagian dari ummat sebaik-baik manusia secara muthlaq, yaitu penghulu kami, kecintaan kami dan penyejuk mata kami, Muhammad, semoga Alloh mencurahkan sholawat kepadanya, keluarganya, sahabat-sahabat-nya dan pengikut-pengikutnya hingga hari kiamat…

Benalah kata penyair ketika berkata,

ومما زادني شرفا وتيها                    وكدت بأخمصي أطأ الثريا

دخولي تحت قولك يا عبادي              وأن صيرت أحمد لي نبيا

Dan apa yang menjadikan aku bertambah mulia dan congkak

Dan hampir saja aku menginjak galaksi itu dengan kakiku

Adalah karena aku menjadi golongan dalam firman-Mu, “wahai hamba-hambaku”

Dan karena aku mengakui Ahmad (Muhammad) sebagai Nabi bagiku

Karena itu ya Alloh, hanya bagi-Mu saja pujian yang disanjungkan, dan kepada-Mu saja syukur itu disampaikan…

Ya Alloh sebagaimana Engkau karuniakan kepada kami Islam pada permulaan (hidup ini), karuniakanlah juga kepada kami keteguhan, jihad dan kesyahidan pada penutupan (hidup ini) wahai Yang maha penyayang…

Saudara yang muslim,

Sesungguhnya Alloh Yang maha mulia lagi tinggi, dengan keluasan kasihsayangya dan kebesaran karunianya, memberikan hak exclusive kepadamu dari semua makhluk-Nya. Lalu memberikan amanah yang agung, amanah yang langit dan bumi pun enggan mengembannya. Sebagaimana Alloh Yang maha perkasa dan mulia berfirman,

إنَّا عَرَضْنَا الأَمَانةَ عَلَى السَمَاواتِ والأَرْضِ والجِبَالِ فَأبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَها وأشْفَقْنَ مِنْها وحَمَلَهَا الإنْسَانُ إِنهُ كَانَ ظَلُوماً جَهُولا

“Sesungguhnya kami tawarkan amanah itu kepada langit, bumi dan gunung. Lalu mereka enggan mengembannya dan takut terhadapnya dan diembanlah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amatlah zholim lagi bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Sesungguhnya Alloh Yang maha perkasa dan mulia telah membebankan kepadamu amanah untuk bertauhid dan untuk mengenal Robbnya hamba, dengan pengetahuan yang sebenar-benarnya, dengan pengetahuan yang aplikatif dan realistis, yang keluar dari kekuatan klaim dan penisbatan kepada tindakan nyata, realita, pencurahan tenaga, pengorbanan dan tebusan.

Sesungguhnya, senantiasa ada bagian yang nyata dari sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia, tapi manusia tidak mengetahui sama sekali ke-agung-an perkara  “لا إله إلا الله”  (tiada ilah yang berhak diibadahi selain Alloh). Mereka hanya cukup mengetahui dan mengerti terhadap ke-agung-an tanggung jawab mengemban kalimat dan amanah ini. Ada sebuah hadits yang masyhur, bahwa Musa ‘alayhi salam berkata, “Wahai Robb-ku, ajarkan dzikr yang aku gunakan untuk mengingat-Mu.” Alloh Yang maha mulia dan tinggi menjawab, “Hai Musa, ucapkan “لا إله إلا الله”.” Musa berkata, “Semua hamba-hamba-Mu mengucapkan kalimat ini!” Menjawablah Alloh yang Maha bijaksana Robb semesta alam Yang mengetahui (segala-galanya) sedangkan kita tidak, apa yang Alloh maha mulia lagi tinggi katakan? Alloh Yang maha mulia lagi tinggi berkata pada Musa, “Hai Musa, seandainya langit yang tujuh beserta isinya kecuali aku, begitu juga bumi yang tujuh beserta isinya, diletakkan dalam anak timbangan dan kalimat “لا إله إلا الله” diletakkan dalam anak timbangan yang lain, niscaya kalimat “لا إله إلا الله” yang condong berat dibandingkan lainnya.

Allohu Akbar…

Akan tetapi wahai orang-orang tercinta… Wahai kaum muslimin… Wahai orang-orang yang bertauhid… Wahai orang-orang yang jujur… Wahai orang-orang yang dimuliakan Alloh dengan dinisbatkan pada ummat ini!

Semoga dalam pertemuan berbarokah ini, kita semua bisa menjelaskan hak-hak kalimat ini, yang wajib kita perjuangkan dan kita korbankan sesuatu yang mahal dan berharga untuknya, sehingga nantinya kalimat ini terangkat tinggi di bumi timur maupun barat, meskipun para penjahat dan orang-orang musyrik membencinya.

Sesungguhnya kalimat ini bukan kalimat murahan sehingga kita bisa membelanya dengan sekedar berkata-kata, mengklaim dan menisbatkan diri. Sedangkan semua orang mengaku bertemu Layla (sebuah pengibaratan yang artinya Semua orang ingin berbuat ini atau itu padahal perbuatan ini atau itu tidak cukup hanya diucapkan tapi harus benar-benar dilakukan dengan segala konsekuensinya –pent).

Akan tetapi Alloh Yang maha mulia lagi maha tinggi, Yang maha bijaksana dan maha mengetahui, Yang telah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rosul dan Yang telah menetapkan syariat-syariat, Dialah yang menjelaskan pada kita dengan sejelas-jelasnya dan sangat terperinci di dalam al-Furqon –al-Qur-an-, Dia jelaskan bahwa mengemban “لا إله إلا الله” memiliki tabiat yang gunung-gunung kokohpun keberatan mengembannya. Akan tetapi seorang mu’min yang mengenal Alloh yang jujur yang yakin dengan ma’na “لا إله إلا الله” dan bahwa tidak ada orang yang berkuasa melebihi Alloh, bahwa tidak ada yang awal dan yang akhir,  tidak ada yang memberi dan mencegah, tidak ada yang memuliakan dan yang menghinakan kecuali Alloh, agar hakikatnya bisa keluar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Alloh… Dialah yang mencegaga, Dialah yang memberikan madhorroh, Dialah yang menolong siapa yang dikehendaki, menghancurkan siapa yang dikehendaki, memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dan mencopot kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki. Setiap hari Dia berada dalam berada dalam urusan. Dia muliakan orang rendah, Dia hinakan orang mulia, Dia dahulukan yang akhir dan Dia akhirkan yang dahulu… Sesungguhnya Dia adalah Robb Ilaah Yang Agung Yang bersemayam di atas ‘arys, Yang mengetahui rayapan se-ekor semut di malam yang gelap di atas batu besar yang halus. Bukan intelijen amerika, bukan juga pelindung-pelindung dan antek-antek sialan mereka. Orang-orang yang menampakkan kerugian dan kebangkrutan mereka pada hari mereka dihiasi oleh setan untuk memusuhi wali-wali Alloh dan untuk memadamkan cahaya Alloh.

وإِذْ زَيَّنَ لَهُمْ الشَيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ اليَوْمَ مِنَ النَّاسِ وإِنِّي جَارٌ لَكُم

“(Ingatlah) ketika setan menghiasi amal-amal mereka dan berkata, “hari ini tidak ada manusia yang bisa mengalahkan kalian dan sesungguhnya aku melindungi kalian” (QS. Al-Anfal: 48)

Ketika kita berada dalam kekuatan apa yang disebut dengan “Perang Dingin” yang buruk, sesat lagi mengacaukan pemikiran-pemikiran sederhana yang tidak puas terhadap keagungan penjelasan Alloh dalam al-Qur-an, sehingga iblispun membenarkan prasangkanya. Tapi, apabila pedang telah terhunus, dua kelompk sudah saling bertemu, dua pasukan sudah saling berhadapan, batalion-batalion Alloh sedah berangkat, kafilah-kafilah cahaya sudah telah muncul dan cahaya-cahaya keimanan telah terpancar, larilah setan dan wali-wali setan. Sedang selama jihad hanya sebagai klaim, pembicaraan dan seruan yang mereka aku-akui dan mereka membual, maka semua mengklaim, membual, semua berbicara dengan lisannya padahal ketika maju (ke medan) tidak Anda lihat kecuali lari berpaling.

Lihatlah penjelasan Alloh Yang maha mengetahui lagi bijasana terhadap tempat-tempat lemahnya para hamba dan kuatnya mereka. Bukan harta yang banyak milik syetan, bukan juga informasi milik orang kafir dan tuhan-tuhan kerugian, kecuali hanya seperti balon yang berongga yang menyilaukan mata yang pandangannya tidak mendapat cahaya dari Alloh. Akan tetapi, bagaimana mereka bisa melawan kebenaran kecuali pasti meletus.

Kita kembali kepada perkataan Alloh Yang maha pencipta, mulia lagi tinggi,

وإِذْ زَيَّنَ لهَمُ الشَيْطَانُ أَعْمَالهَم…

“(Ingatlah) ketika setan menghiasi amal-amal mereka…”

Sebelum perang dimulai, sebelum saling berhadapan, sebelum memutuskan menyelesihi kebenaran, yang memisahkan antara haq dan bathil, Alloh akan bedakan antara thoghut, tentara-tentara dan pengikut-pengikutnya dan antara ad-diinul haq (Islam), tentara-tentara dan pengikut-pengikutnya.

الذَّينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الله والذِينَ كَفَرُوا يُقاتلِونَ فِي سَبِيلِ الطَاغُوتِ

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh, sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan thoghut…” (QS. An-Nisa’: 76)

Ini bermakna, tidak ada yang berperang di jalan thoghut, apa saja bentuknya, sama saja thoghut quroisy, thoghut fir’aun, thoghut haman thoghut amerika atau thoghut-thoghut selain mereka, tidak ada orang yang berperang dalam barisannya, kecuali kafir murni disebabkan nash al-Qur-an,

والذِينَ كَفَرُوا يُقاتلِونَ فِي سَبِيلِ الطَاغُوتِ

“Sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan thoghut…” (QS. An-Nisa’: 76)

Lihatlah bagaimana Alloh Yang maha mulia lagi tinggi menenangkan wali-wali-Nya agar tidak bercampur dengan musuh, meskipun kekuatan mereka menjangkau –bagaimana mungkin- awan dilangit dan memenuhi daratan dan lautan dengan tentara dan kekuatannya. Karena sesungguhnya perkara itu hanya milik Alloh, sesungguhnya kekuatan itu hanya milik Alloh, sesungguhnya makar itu hanya milik Alloh (semua dalam kekuasaan Alloh –pent).

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَيْطَانِ كَانَ ضَعِيفَا

“Perangilah pengikut-pengikut setan Karena sesungguhnya tipudaya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76)

Allohu Akbar! Setan itu lemah pada hari ini sebagaimana kemarin dia lemah. Tidak mungkin setan baru yang kuat lahir. Sama saja apakah dari golongan setan jin maupun manusia. Tidak ada yang kuat dihadapan Alloh Yang maha perkasa lagi mulia. Juga tidak ada kebathilan yang kokoh di hadapan cahaya kebenaran. Oleh karena itu Anda dapatkan dalam al-Qur-an yang mulia sebagian ayat-ayat muhkamat (jelas) yang tidak perlu didebatkan dan diperselisihkan yaitu yang berkenaan dengan permusuhan terhadap thoghut dan pengikut-pengikutnya, juga yang berkenaan dengan memerangi thoghut dan pengikut-pengikutnya. Bahkan Alloh Yang maha mulia lagi tinggi menjelaskan di dalam al-Qur-an bahwa ayat-ayat yang berkenaan dengan jihad adalah muhkamat (jelas). Agar tidak ada orang-orang yang cuek (terhadap islam), yang mereka patut di-cuek-kan, orang-orang yang pemikirannya tidak sehat dan aqidahnya sakit lalu berpaling dari Firman Alloh, dengan anggapan ada ketidak jelasan terhadap sebagian ma’na (ayat-ayat) al-Qur-an.

ويَقُولُ الذِينَ آَمَنُوا لَولَا نُزِّلَتْ سُورَة ٌفَإذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَة وذُكِرَ فِيهَا القِتَالُ …

“Dan orang-orang yang beriman berkata, “kenapa tidak turun sebuah surat (yang disebut didalamnya perang –Tafsir Jalalain –pent)?” Lalu ketika turun sebuah surat yang jelas yang disebut “perang” di dalamnya …” (QS. Muhammad: 20)

Alloh tidak mengatakan “jihad” dalam tempat (ayat) ini, agar tidak ada orang, yang kami sebut dengan orang-orang busuk, lalu berkata, “jihad itu memiliki ma’na yang luas!” Padahal mereka bermaksud melemahkan dengan perkataan itu untuk melawan sebagaian saudara-saudara kita tercinta yang jujur dalam mencari jalan (jihad) ini, tapi mereka di beri kepalsuan oleh ulama’ suu’ –Alloh-lah yang akan menindak hak mereka- sehingga Alloh enggan kecuali menjelaskan secara gamblang dengan lafazh “perang”,

وذُكِرَ فِيهَا الِقتَالُ رَأيْتَ الذِينَ فِي قُلوبِهِم مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِليْكَ نَظَرَ المغَشِيِّ عَليهِ مِنَ الموتِ

“Dan disebut “perang” dalam surat itu, akan engkau lihat orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat penyakit melihat kepadamu dengan pandangan seperti orang pingsan takut mati.” (QS. Muhammad: 20)

Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Alloh… Betapa jelasnya (hukum) Alloh yang tidak meninggalkan bagi orang-orang bathil untuk satu klaim dan talbis (pemalsuan)

Kemudian Alloh Yang maha mulia lagi tinggi menjelaskan bahwa persengketaan antara kebenaran dan kebathilan adalah suatu pokok dari pokok-pokok tugas (yang dibebankan bagi manusia –pent), juga tidak mungkin ahlul jannah dan ahlun naar, ahlul haq dan ahlul bathil terpisahkan kecuali dengan ujian yang sempurna. Bukan sebagaimana dugaan orang-orang yang kalah lagi menentang firman Alloh yang nyata dari yang berbentuk klaim-klaim ilmu dan da’wah pada hari ini. Mereka itu dari kalangan orang yang berkata dusta, membual dan (ingin) menghapus al-Qur-an dengan akalnya, “jalan ini tidak pantas dengan adanya ujian.” Dia berdusta dan membual terhadap Alloh. Tidakkah dia mendengar firman Alloh Yang maha mulia lagi tinggi dalam ayat-ayat(Nya) yang jelas dengan ungkapan yang tampak gamblang… setelah aku berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk, dengan nama Alloh Yang maha pengasih lagi penyayang… “Apakah manusia mengira …” (QS. Al-‘Ankabut: 2).

Semua manusia… nabi-nabi mereka, wali-wali mereka, hamba-hamba mereka, ulama’ mereka, rahib-rahib mereka, orang pintar mereka, semuanya masuk dalam berita yang dikabarkan Alloh ini, bahwasannya kabar ini akan mengenai semua manusia,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata, “kami ber-iman” padahal mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Tapi, apa ujiannya wahai saudaraku? Ujiannya adalah jatuh terhadap hal-hal yang nyaman dan lari dari tempat-tempat beban yang keras. Alloh Yang maha mulia lagi tinggi yang menjelaskan apa ujiannya,

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ * أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ * مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan sungguh telah kami uji orang-orang sebelum mereka hingga Alloh mengetahui orang-orang yang jujur dan orang-orang yang dusta. Apakah orang-orang yang berbuat buruk mengira bisa luput dari kami? Buruk sekali apa yang mereka putuskan. Siapa yang berharap bertemu Alloh sesungguhnya ketentuan Alloh (terhadapnya) pasti datang. Dan Dia maha mendengar lagi mengetahui.”(QS. Al-‘Ankabut: 3-5) Lihatlah, “barangsiapa yang berjihad sesungguhnya dia berjihad untuk (manfa’at) dirinya sendiri.” (QS. Al-‘Ankabut: 6). Sebagian mereka datang dan mengklaim bahwa dia memberikan nasehat untuk da’wah, kepada anak-anak yang lahir dari da’wah itu dan kepada anak-anak generasi ini. Lalu mereka berkata, “jangan kalian memecah belah ummat” padahal mereka itu yang memecah belah firman Alloh (memilah milih yang sesuai dengan nafsunya, -pent)! Padahal mereka itu yang memecah belah diinulloh (islam)! Mereka itu lancang terhadap Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam. Kemudian mereka menyimpangkan dengan metode memelintir (ayat-ayat yang tidak sesuai dengan nafsunya, -pent) agar nampak bagi manusia bahwa perkataannya bersumber dari kitab (yang diturunkan Alloh) padahal itu bukan dari kitab (yang diturunkan Alloh).

يَلْوُونَ أَلسِنتَهُم بِالكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الكِتَابِ ومَا هُوَ مِنَ الكِتَابِ

“Mereka putar-putar lidah mereka dengan membaca kitab (yang diturunkan Alloh) agar kalian mengira itu dari kitab (yang diturunkan Alloh) padahal itu bukan dari kitab (yang diturunkan Alloh.” (QS. Alu ‘Imron: 78)

Semoga Alloh perangi mereka, kemana mereka akan lari! Oleh karena itu Alloh Yang maha mulia lagi tinggi menjelaskan bahwa termasuk bagian dari sifat-sifat munafiq bahwa mereka berkata dan berbohong. Dan yang menjelaskan kebohongan mereka adalah realita dan kenyataannnya. Terutama pada tempat-tempat berhadapan (dengan musuh), pertempuran dan peperangan.

Sedangkan dalam sebuah surat (disebutkan), “dan dari sebagian manusia ada orang yang berkata, “kami beriman pada Alloh.” (QS. Al-‘Ankabut: 10). Lihatlah perbandingan sebagian orang-orang yang diuji, padahal mereka belum diuji dengan ujian generasi penunggang kuda zaman dulu, gunung-gunung tauhid dan singa-singa diin. Mungkin, hanya sekedar penjara, yang itupun memiliki batas waktu sembari menunggu dengan nyaman dan enak, yang saya maksud adalah sebagian manusia –seperti Salman, Safar dan yang semisal mereka –pent. Adapun orang-orang yang berjihad, pemegang millah (agama/diin) dan tauhid, maka semuanya tau, apa yang mereka perhatikan dibawah tekanan thoghut. Sedangkan saat ini bukan waktunya untuk sampai membahas permasalahan ini. Akan tetapi sebagian orang-orang yang jika ditimpa ujian ringan, lihatlah mereka bagaimana mereka bisa berbalik mundur.

ومِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آَمَنَّا باِللهِ فِإذَا أُوذِيَ فِي اللهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللهِ

“Dan sebagian manusia ada yang berkata “kami beriman kepada Alloh”, lalu jika mereka mendapat gangguan dalam (menapaki) jalan Alloh, mereka menjadikan ujian dari manusia seperti adzab dari Alloh (dalam menakutinya sehingga mereka mentaati kemaun manusi lalu menjadi munafiq –Tafsir Jalalain –Pent).” (QS. Al-‘Ankabut: 10)

Mereka tidak dibunuh, padahal mereka hanya diganggu (karena ta’at) pada Alloh. “Mereka jadikan ujian dari manusia seperti ‘adzab Alloh.” Inilah tolak ukur yang sebenarnya untuk beriman. Kemudian mulailah orang yang diuji itu mengubah ma’na-ma’na yang benar kepada kepalsuan, pengelabuan dan pemelintiran yang bathil. Sangat disayangkan, kadang-kadang yang tertipu adalah sebagian orang yang memiliki kejujuran dalam dirinya. Semoga Alloh memberikan petunjuk pada kita dan seluruh kaum muslimin yang tersesat.

Ini bukanlah suatu yang mengherankan dalam realita hari ini. Inilah tabi’at sebagian jiwa manusia. Kadang pada jiwa ada rasa mudah dalam menerima, kadang ada kesederhanaan dalam memeriksa kata-kata dan tidak membedakan antara kebenaran dan kebathilan dari apa yang diperbuat mayoritas manusia sehingga dia menjadi tertipu dengan perkataan orang-orang munafiq. Padahal dia kira itu adalah kebenaran. Padahal, Alloh telah berkata mengenai kebaikan semua dari anak keturunan generasi ini… mengenai sebagian orang yang Alloh muliakan dengan menemani Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam, “di antara kalian ada orang-orang yang suka mendengar perkataan mereka (orang-orang munafiq)” (QS. At-Taubah: 48). Oleh karena itu, orang-orang munafiq dapat dibedakan dengan perkataan mereka yang lembut untuk menyesatkan kaum muslimin. Alloh Yang maha perkasa lagi mulia berfirman,

وإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَولهِم كَأنهَّمْ خُشُب ٌمُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَليَهِم هُمُ العَدُو فَاحْذَرهُمْ قَاتَلَهُم الله أَنَّى يُؤفَكُون

“Jika mereka berkata, kamu dengarkan perkataan mereka. Seolah-olah Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan ditujukan kepada mereka. Berhati-hatilah terhadap mereka ke mana mereka akan berpaling??” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Oleh karena itu wahai saudaraku, jika Anda mencukupkan diri dalam meminta petujuk dari kitab Alloh Yang maha mulia lagi tinggi dan sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alayhi wa sallam dengan perkataan seseorang, meskipun engkau menyelisihi kebenaran, karena menganggap bahwa mereka lebih tahu terhadap kebenaran dari Anda dalam permasalahan jumlah, maka sesungguhnya Anda telah membuka bab ini sebagai manhaj dan konsep Anda. Maka Anda tidak akan berdiri kecuali di atas di tepi jurang yang runtuh. Semoga Alloh menjaga kami dan Anda dari ketergelinciran dan kesesatan.

Dengarkanlah wahai saudaraku yang mulia, saudaraku yang muslim, saudaraku yang mengagungkan firman Alloh…

Renungkanlah firman Alloh Yang maha menciptakan maha suci lagi tinggi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ * فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashroni sebagai wali-wali (orang-orang dekat yang kita berikan loyalitas dan kasihsayang). Sebagian mereka adalah wali-wali sebagian yang lain. Siapa di antara kalian yang loyal terhadap mereka, sesungguhnya dia itu bagaian dari mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi hidayah pada kaum yang zholim. Kamu melihat orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, bersegera (memberi loyalitas) pada mereka. Mereka berkata, ‘kami khawatir ditimpa nasib buruk.’ Maka bisa jadi Alloh memberikan kemenengan atau perkara (lain) dari sisi-Nya …” (QS. Al-Maidah: 51-52)

Terkadang Alloh memberikan perkara lain yang bukan merupakan sebuah kemenangan pada sebuah awal permulaan dalam pandangan orang yang melihat(nya) pada awal suatu perkara. Akan tetapi Alloh Yang maha perkasa lagi mulia memiliki urusan-urusan (sendiri) terhadap hamba-hamba-Nya,

أَوْ أَمْرٍ مِْن عِندهِ فيَصْبِحُوا عَلَى مَا أسَرُّوا فِي أَنفُسِهِم نَادمِين

“… atau sebuah perkara (lain) dari sisi-Nya, sehingga kalian menjadi menyesal terhadap apa yang kalian sembunyikan pada diri kalian.” (QS. Al-Maidah: 52)

Hingga Alloh Yang maha mulia lagi tinggi menjelaskan, bahwa sebagian golongan yang mengklaim beriman dan ber-islam apabila loyal terhadap Yahudi dan Nashroni, merasakan kesenangan dengan loyalitas yang mereka berikan ini, menganggap baik dalam hati (mereka) dosa dan kejahatan mereka dan melakukan pendekatan lebih terhadap musuh, ketika itu Alloh berjanji untuk mengutus wali-wali-Nya yang tidak dikenal dan asing, yang dengan merekalah Alloh luruskan millah yang telah bengkok. Alloh perbaharui diin ini dengan mereka. Sedangkan Alloh tidak menyebutkan sifat-sifat mereka dengan terperinci dan bercabang-cabang, agar urusan ini tidak samar bagi hamba-hamba Alloh Yang maha mulia lagi tinggi. Dia Yang maha bijaksana lagi mengetahui berfirman,

يَا أَيُّهَا الذِينَ آمَنَوا مَنْ يَرْتدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينهِ فَسَوفَ يَأتِي اللهِ بِقومٍ …

“Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari diin-nya, akan Alloh datangkan suatu kaum…” (QS. Al-Maidah: 54)

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Al Jihad, Hukum, NASEHAT. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s