“…Maka,Pergilah Kamu Bersama Rabbmu”…(bag 5)

05. Keluar dari keterpasungan

أبشركم بفضل الله أن الأمة اليوم عندها من الطاقات الهائلة ما يكفي لإنقاذ فلسطين، وإنقاذ باقي بلاد المسلمين، ولكن هذه الطاقات مقيدة فيجب العمل على إطلاقها
“Saya sampaikan kabar gembira kepada kalian. Atas karunia Allah umat Islam hari ini memiliki kekuatan sangat besar yang cukup untuk menyelamatkan Palestina dan menyelamatkan Negara-negara kaum muslimin lainnya. Akan tetapi kekuatan ini terpasung sehingga kita wajib berusaha membuka keterpasungan tersebut”.
(Usamah bin Ladin, 16 februari 2003)

Lalu bagaimana dengan kita, apakah kita termasuk orang yang seperti pasukan Thalut atau seperti pasukan yang tertinggal dengan kekenyangan air –baca kekenyangan bondo, jw.–, hingga tak kuasa berjalan lebih-lebih melawan pasukan Jalut masa kini –murtadin di dekat kita, Amerika dan kroninya–?

Wahai jiwa yang lemah, rapuh, cinta dunia dan takut mati!! Dimanakah posisi kita gerangan ? Dimanakan antara ilmu dan amal itu bertemu ? Dimanakah jiwa-jiwa perwira itu gerangan bercokol ?

Jangan karena alasan iqomatuddin kalian tertinggal dari pasukan “Thalut”. Jangan karena taat membabi buta kepada jabatan struktural jama’ah kalian tertinggal melakukan irhab… Jangan karena kalian terbius dengan teori-teori lokal kalian tertinggal sunnah ightiyalat… Jangan karena virus-virus viguritas kalian tertinggal gerbong-gerbong peperangan… Jangan karena tarbiyah dan dakwah kalian mencari-cari udzur diri dan lari dari medan-medan jihad… Jangan kalian terpasung dengan seribu mimpi dan teori… Jangan kalian lapuk dengan sekat-sekat yang diciptakan tanpa dalil… Jangan kalian meminum air jihad, kecuali dari sumber-sumber yang murni… Jangan ya akhy…!!!

Jangan sampai kita terpedaya… Jadilah kalian pasukan Thalut yang gagah berani… Meninggalkan kemewahan, kesenangan, permata dunia dan pernak-perniknya, kemudian berangkat menyerang pasukan Jalut dan keturunannya di manapun ada kesempatan dan biaya. Hingga Allah memenangkan kalian atau memberi rizki syuhada kepada kalian. Itu lebih utama bagi kalian, insya Allah!!!!

06. Sejatinya, sedikit sekali yang mau berperang (berjihad)
وقسم بدا له أنه لن يستطيع أن يستمر في الدعوة والتدريس ويؤمن معهده أو جمعيته أو جماعته، ويؤمن نفسه وجاهه وماله إن لم يمدح الطاغوت ويداهنه، فتأوَّل تأؤُّلاً فاسداً فضلَّ ضلالاً مبيناً وأضل خلقاً كثيراً.
“Sebagian orang berpandangan bahwa ia tak mungkin lagi dapat melanjutkan dakwah dan mengajar, mengamankan pondoknya atau yayasannya atau jamaahnya, juga mengamankan dirinya, kedudukannya dan hartanya, jika ia tidak mau memuji atau berkompromi dengan thaghut. Maka iapun membuat takwilan-takwilan sesat sehingga ia menjadi sesat dengan kesesatan yang nyata dan menyesatkan banyak orang”.
(Usamah bin Ladin, 17 februari 2003)

Bagi sesiapa yang condong kepada kedudukan (struktural –jama’ah–, atau jabatan dunia), yang rakus terhadap harta benda, yang tamak terhadap kemasyhuran, berbangga dengan banyaknya istri dan anak, yang suka dengan kedamaian dan ketentraman, yang suka terhadap segala perhiasan yang fana. Maka ingat!!! Orang tersebut akan sangat sulit melepaskan diri dari keterikatan dengan itu semua, yang ujungnya enggan –menolak– berperang bahkan takut berperang karena takut mati!!! Takut melepas segala kesenangan yang sangat fana dan hina. Cenderung mempertahankan status quo, meski harus menggadaikan dien dan jihadnya.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu : “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit”. (QS. At-Taubah : 38)

Sayyid Quthb menjelaskan dalam Fi Dzilalil Qur’an, bahwa ayat ini turun setelah Rasulullah memobilisasi umum para sahabat untuk ikut perang tabuk. Dan beliau menjelaskan bahwa merasa berat disini maknanya adalah berat karena condong kepada dunia, berat karena rakus terhadapnya, orientasinya melulu dunia, berat karena takut terhadap (beban) hidup, berat karena harta, berat karena khawatir (hilangnya) kelezatan dunia dan menikmatinya, berat karena (terbiasa) istirahat & santai”. (Fi Dzilalil Qur’an, Sayyid Quthb. 4/30)

Dunia dan pernak-perniknya, kami ibaratkan upas ulo (jw.), dimana yang cenderung dan tamak mengambilnya maka ia akan tersengat racun bisa yang sangat berbahaya dan mematikan –mati sama sekali semangatnya untuk jihad–. Pada akhirnya ia meninggalkan jihad, ia takut perang sama sekali. Jadilah ia hubbuddunya (cinta dunia) dan takut mati, sebagaimana Sabda Rasulullah : “Hubbud dunya wa karohiyatul maut”.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat ke 246, Allah Berfirman :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang dzalim”.

07. Berangkatlah ikhwan… tidak ada keringanan bagi antum

Allah Ta’ala berfirman :

انْفِرُوا خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. At-Taubah :41)

Inilah panggilan Rabb semesta alam, kepada siapakah ayat ini ditujukan ? Tentunya kepada manusia yang beriman kepada Nya.

Al-Qurtuby Rahimahullah mengutip sepuluh pendapat yang berbeda tentang penafsiran kata ”Berat” dan “Ringan”.
1. Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : “Berat” adalah muda dan “Ringan” adalah tua.
2. Menurut Ibnu Abbas dan Qotadah Radhiyallahu ‘anhuma : “Ringan” memiliki hasrat serta keinginan yang kuat serta “Berat” adalah malas dan enggan.
3. Menurut Mujahid Radhiyallahu ‘anhu : “Berat” adalah miskin dan “Ringan” adalah kaya.
4. Menurut Hasan Al Bashri : “Berat” adalah tua dan “Ringan” adalah muda.
5. Menurut Zaid bin Ali dan Al Hakan bin Utaibah : “Berat” adalah sibuk dan “Ringan” adalah santai.
6. Menurut Zaid bin Aslam : “Berat” adalah yang sudah berkeluarga dan “Ringan” adalah bagi yang masih bujang.
7. Menurut Ibnu Zaid : “Berat” adalah orang yang sudah bekerja dan “Ringan” adalah orang yang menganggur.
8. Menurut al Auza’i : “Berat” adalah berkendaraan dan “Ringan” adalah dengan berjalan kaki.
9. “Ringan” adalah mereka yang bersegera menuju medan perang dan berada di barisan depan.
10. Menurut An-Naqqosh : “Berat” bagi penakut dan “Ringan” bagi pemberani.

Penafsiran yang tepat, Wallahu ‘alam adalah bahwa manusia diperintah maju untuk berperang secara keseluruhan yaitu “majulah, apakah aktifitas itu ringan dan mudah bagimu atau berat dan sukar”.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hukum jihad saat ini adalah fardhu ‘ain, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Jika musuh merampas tanah kaum muslimin dan merusak din serta dunia, maka kewajiban pertama sesudah beriman adalah memerangi dan mengusir mereka”. (lihat Fatawa Al-Kubra 4/520)

Salah seorang sahabat Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu ketika itu beliau sudah berumur 80 tahun, ketika menanggapi ayat tersebut beliau mengatakan : “Tua atau muda, sungguh Allah Ta’ala tidak memberikan keringanan bagi siapapun, wahai anakku persiapkan bekal untukku karena aku akan maju berperang”, maka anaknya berkata : “Semoga Allah Ta’ala memaafkan engkau wahai ayah, engkau telah berperang bersama Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai beliau wafat, engkau telah berperang bersama Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu sampai ia wafat, demikian pula engkau telah berperang bersama Umar Radhiyallahu ‘anhu hingga iapun wafat, maka biarlah kami sekarang yang akan menggantikan (mewakili) engkau berperang”. Namun Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sungguh sekali-kali tidak”. Maka berangkatlah beliau maju ke medan laga dan menemui kesyahidan di laut. Kaum muslimin tidak menemukan pulau untuk menguburkan jasad beliau kecuali setelah lewat tujuh hari dan Allah Ta’ala pun menjaga jasad beliau dari kerusakan (jasadnya utuh, tidak membusuk). (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/97. Al Ishobah Ibnu Hajar, 1/567)

Demikianlah wahai saudaraku, seorang sahabat yang sebetulnya sudah mendapat udzur untuk tidak berjihad, namun ia tetap melaksanakan perintah jihad ini walaupun beliau sudah tua, lalu bagaimanakah kita sekarang ? Bagaimana dengan kita yang kenyataannya duduk-duduk sekian lama, bahkan bertahun-tahun??? Usia kita belumlah setua beliau, badan kita segar bugar, kitapun mampu menjalankan perintah ini jika kita mau, namun kita selalu mencari alasan untuk menghindar dari kewajiban jihad ini. Apakah kita tidak membaca firman Allah Ta’ala :

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata : “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api naar Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jikalau mereka mengetahui”. (QS. At-Taubah : 81)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman :

وَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آَمِنُوا بِاللَّهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُنْ مَعَ الْقَاعِدِينَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang-orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta ijin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk”. (QS. At-Taubah : 86)

Wahai saudaraku… semoga Allah Ta’ala tidak memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang munafik. Yang enggan berjihad… enggan susah… enggan meninggalkan kesenangan rumah dan anak istri… enggan meninggalkan kemas’ulan yang memasung diri… enggan menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kita pada makom mujahidin sejati.

08. Bala’ (ujian), Sebuah keharusan!!!

Allah Ta’ala berfirman :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Ali-‘Imran : 186)

Ayat ini menunjukkan bahwa bala’ (ujian) apapun bentuknya merupakan kepastian bagi siapa saja yang berjuang di jalan Allah… Jadi bala’ mesti akan mendatangi kita dan akrab dengan kehidupan para mujahidin, harus ada –secara sunatullah– bala’ yang menimpa harta dan jiwa kita… Karena itu harus ada keteguhan hati, kesabaran tinggi dan ‘azam (tekad) yang kuat menghadapi berbagai bala’… inilah jalan kita… jalan para mujahidin yang imannya benar dan jujur dengan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Jadi bagaimana mungkin sang calon mujahid ingin hidup nyaman, tenang, tentram, beranak-pinak tanpa beban, jauh dari marabahaya dalam kehidupan dan jihadnya… ganjil, aneh bin ajaib kalau ada calon mujahid ingin hidup seperti itu.
Jadi, aneh sekali jika bala’ datang berupa ancaman musuh, dikejar, ditangkap, dipenjara dan dibunuh, dikatakan sebagai akibat dari kesalahan orang-orang yang salah dalam jihadnya… Hasil dari perbuatan mujahid yang isti’jal… akibat mujahid yang salah langkah… hasil ijtihad yang sembrono… Ingat!! Ingat !! wahai sekalian ikhwan! Bala’ berupa apapun yang di alami mujahid adalah keniscayaan, keharusan, kepastian… Karena Allah Ta’ala dalam ayat tersebut telah menetapkan berbagai bala’ menimpa para mujahidin dan keluarganya. Jadi jangan diingkari, dikeluhkan, menyalahkan kanan-kiri, menunjuk ‘hidung’ fulan bin fulan trouble maker-nya… ini karena tidak taat, ini karena kecerobohan fulan dalam jihad.

Ingatlah firman Allah Ta’ala :

وأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali-‘Imran : 146)

Sungguh!!! Inilah jalan kita, jalan/tariqoh para mujahidin… jalan ini dipenuhi sesuatu yang tidak sedap, tidak enak, susah, penat, sulit, menggetarkan hati, menyesakkan dada, hampir-hampir hilang keimanan para mujahidin rasanya karena dahsyatnya penyiksaan di penjara-penjara thogut…. Ya memang demikian, jannahnya Allah memang di kelilingi sesuatu yang tidak disukai jiwa manusia. Sementara nerakanya Allah dikelilingi sesuatu yang menyenangkan syahwat manusia, sesuatu yang disukai para munafiqin, murtadin, dan kafirin dari kalangan yahudi dan nasrani.

Bala’ ini merupakan tarbiyah yang mesti dijalani para mujahidin, sebelum Allah memberikan kemenangan, sebelum Allah memberikan kemuliaan, yang tidak diberikan kecuali kepada orang-orang mulia yang Allah pilih, karena telah teruji, dan jujur dalam jihadnya.

Syaikh Al-Mujahid Abu Mush’ab Az-Zarqowy berkata tentang keniscayaannya ibtila’ dalam jihad fi sabilillah :

“Kepada semua umat Islam, sadarilah… bala ujian adalah sejarah dan kisah panjang yang terus terjadi sejak diturunkannya kalimat La ilaha illallah ke muka bumi. Para nabi dan orang-orang yang jujur imannya silih berganti menerima bala ujian. Demikian juga dengan para pemimpin yang memegang panji-panji tauhid.
Oleh karena itu, siapa saja yang mengkonsentrasikan dirinya secara tulus untuk memikul kalimat Lâ ilâha illallah dan membela serta ingin menegakkannya di muka bumi, ia harus mau menebus status mulia ini dengan menanggung beban-beban berat, yaitu kesusah-payahan, keletihan, dan bala’.
Lihat, di manakah posisi Anda pada jalan ini ? Jalan ini adalah jalan yang Nabi Adam ‘alahissalam harus menanggung kelelahan dalam menempuhnya. Karena jalan ini pula, Nabi Nuh ‘alahissalam mengisi hidupnya penuh derai air mata. Disebabkan jalan ini, Al-Kholîl (sang kekasih Allah), Ibrohim ‘alahissalam dilemparkan ke dalam api. Nabi Ismail ‘alahissalam harus rela diterlentangkan untuk disembelih. Nabi Yusuf ‘alahissalam rela dijual sebagai budak dengan harga murah, dan mendekam di penjara bertahun-tahun. Nabi Zakariya ‘alahissalam digergaji tubuhnya. Nabi Yahya ‘alahissalam disembelih. Nabi Ayyub ‘alahissalam bergelut melawan penyakit. Nabi Dawud ‘alahissalam menangis melebihi kebiasaan manusia biasa. Nabi Isa ‘alahissalam dipaksa hidup dalam keterasingan. Dan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sendiri harus hidup akrab dengan kemiskinan, penindasan dan berbagai intimidasi. Sementara, apakah engkau akan bersenang-senang dalam kelalaian dan senda gurau!!
Sesungguhnya Allah Ta’ala menguji sebagian makhluk dengan makhluk yang lain, menguji orang beriman dengan orang kafir, sebagaimana menguji orang kafir dengan orang beriman. Ujian bala seperti ini adalah bagian yang menjadi jatah bersama bagi semua manusia.
Allah Ta’ala telah berfirman :
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mulk : 1- 2)
Imam Muslim meriwayatkan dari Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wasallam-, dalam hadits qudsi yang beliau riwayatkan dari robbnya ‘Azza wa Jalla, Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku mengutusmu, wahai Muhammad, untuk menguji dirimu dan menguji manusia denganmu”.
Yang kita ketahui dari Al-Qur’an dan Sunnah, diantara para nabi itu ada yang dibunuh dan dicincang tubuhnya oleh musuh, seperti Nabi Yahya. Ada juga yang hampir dibunuh oleh musuhnya lalu pergi menyelamatkan diri seperti Nabi Ibrahim, beliau kemudian berhijrah ke negeri Syam. Demikian juga Nabi Isa, karena akan dibunuh maka beliau diangkat oleh Allah ke langit.
Orang-orang beriman terdahulupun, kita saksikan ada yang disiksa dengan siksaan yang keji. Ada yang dilemparkan ke parit-parit api. Ada yang menemui kesyahidan. Ada yang hidup di bawah kesusahan, kekerasan, dan penindasan.
Jika kita hanya melihat sisi ini saja, seolah-olah di manakah janji Allah bahwa Dia akan memenangkan mereka di dunia, padahal mereka ada yang diusir, dibunuh, dan disiksa?!!

09. Tamak menjadi mas’ul

ولقد كان لأحد المجاهدين رأيٌ سديد جداً في هذه القيادات وكان من كبار السن والقدر وهو صاحب تجربة طويلة في الحياة مع الناس ، وكنا وقتها ننفر من شدة قوله فيهم ، وسأحاول أن أوصل بعض قوله إليكم وخلاصته : ” أن هؤلاء القادة تُجار تهمهم زعامتهم , ومصالحهم الشخصية مقدمة على القضية ” ، وكنا لا نصدق كلامه فيهم مما أخَّر إدراكنا للتصور الصحيح للأشخاص والأحداث ، و لا يخفى ما يترتب على ذلك من مضار عظام ,
“Dahulu ada seorang mujahid yang memiliki pendapat keras sekali terhadap para Qiyadah tersebut (Robbani, Sayyaf, Hikmatiyar dan Ahmad Syah Mas’ud). Mujahid tersebut termasuk orang tua dan terpandang. Ia memiliki pengalaman yang panjang dalam berinteraksi dengan orang. Waktu itu kami menjauhinya karena ucapannya yang sangat keras terhadap para Qiyadah tersebut. Di sini saya ingin sampaikan kepada kalian sebagian dari perkataannya, yang intinya sebagai berikut : “Sesungguhnya para Qodah itu adalah bisnisman yang sangat bekepentingan dengan kedudukannya sebagai mas’ul, kepentingan pribadi mereka lebih mereka utamakan daripada urusan perjuangan”. Waktu itu kami tidak mempercayai ucapannya itu, sehingga mengakibatkan kami terlambat memahami pribadi orang dan kasus secara benar. Dan tidak samar lagi akan munculnya dampak-dampak berbahaya karenanya”.
(Usamah bin Ladin, 29 desember 2007)

Diantara yang mengelincirkan seseorang di medan dakwah dan jihad untuk ikhlas dan benar adalah keinginannya yang kuat untuk menduduki posisi-posisi tertentu dalam sebuah jama’ah atau sebuah tanzim jihad. Sebenarnya –secara manusiawi- sepintas menjadi sebuah kewajaran keinginan-keinginan tersebut, namun sebenarnya hal tersebut sebuah kesalahan yang fatal. Karena itu hendaknya setiap mukmin menyadari untuk memberikan posisi kepemimpinan atau ketokohan dalam sebuah jama’ah kepada yang benar-benar berhak. Baik kapabilitas, tajribah maupun tegarnya ia dalam berbagai medan ibtila’.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. Al-Anfaal : 45)

Ayat ini konteksnya dalam peperangan, namun ketika ikhwan yang sedang menghadapi penangkapan, penyiksaan, dipenjara dan diancam dibunuh termasuk juga dalam ayat ini. Perintah untuk berteguh hati atau tegar menghadapi beratnya berhadapan dengan thogut adalah kewajiban, dan ingat ini merupakan bentuk ‘seleksi alam’. Dan hasilnyapun akan nampak, bahwa sebagian akan tegar dan sebagian akan surrender (menyerah) –qodaralahu maasaa faala–.

Surender (menyerah) bentuknya sangat banyak, diantaranya : ketakutan membabibuta di hadapan musuh, menerima pemberian thogut dengan suka cita, tidak membenci mereka, tidak memusuhi mereka, tentram ‘disamping mereka’, selalu ingin berhubungan dengan mereka, sangat tergantung dengan mereka, mengantungkan rizki kepada mereka, melupakan dzikir dan tilawah Al-Qur’an ketika bergaul dengan mereka, melalaikan sholat karena asyik ngobrol dengan thogut, dll.

Lalu perintah kedua ketika berhadapan dengan thogut maupun musuh adalah banyak berdzikir kepada Allah. Dzikir disini banyak bentuknya, bisa tilawah Al-Qur’an & wirid harian yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah.

Al-Mujahid Ust. Fatrhurahman Al-Ghozy rahimahullah beberapa hari sebelum kesyahidannya memberikan nasehat yang berharga kepada para mujahidin. Beliau mengatakan yang maksudnya bahwa, “jika mujahidin sedang berhadapan dengan musuh atau dalam kondisi tertawan, maka banyak berdzikirlah kepada Allah. Karena itulah salah satu sarana untuk berteguh hati melawan keganasan & kejahatan mereka”.

Jadi orang-orang yang telah cukup “kenyang” menghadapi panasnya api ibtila’ adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menjadi mas’ul, kepemimpinan dan ketokohan dalam jihad, meski sebagian besar mereka tidak menginginkannya kecuali beramal, beramal, beramal dan beramal…

Karena itu janganlah seseorang memaksakan dirinya menjadi mas’ul, komandan atau pemimpin, jika belum pernah mengalami pahit getirnya merintis jihad dan dahsyatnya bala’ (ujian). Tipe orang seperti ini sebenarnya tidak berhak menjadi mas’ul atau pemimpin dan komandan jihad. Apalagi selama ini hidupnya terasa nyaman, sepi tanpa ujian apa-apa, adem-ayem tanpa beban, curigailah jangan-jangan justru banyaknya maksiat yang telah kita lakukan. Sehingga Allah tidak mengujinya sama sekali!!! Atau malah istidroj!! Naudzubillah!!

Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawy rahimahullah (Pemimpin Al-Qoidah di negeri dua aliran sungai, Iraq), berkata : “Dan barangsiapa yang tidak memiliki pengalaman dalam mengalami pahit getirnya merintis jihad dan tertimpa bala’ dalam membela agama ini, maka ia tidak berhak menempatkan diri pada posisi-posisi kepemimpinan dan ketokohan (dalam jihad), walau sebanyak apapun ilmu yang ia miliki dan sepandai apapun ia beretorika. Kalau ia tetap mencalonkan dirinya (menjadi pemimpin/mas’ul), berarti ia termasuk orang yang merasa besar dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, tak ubahnya ia seperti pemakai dua baju palsu”. (Li Tastabiina Sabiilal Mujrimiin, Syaikh Al-Mujahid Abu Mush’ab Az-Zarqowy)

Naudzubilahi mi sururi anfusina, wa min syayyiati a’malina… Subhanallah, ikhlaskanah niat-niat kami dalam I’dad dan jihad Ya Rahman…Ya ‘Alim Ya Aziz Ya Mujibu Da’waat.

10. Tanda benarnya perjalanan

وكذلك اليوم يقول المجاهدون للعلماء والدعاة الذين يحبون الحق ولا يداهنون الباطل؛ فأنتم قد رفعتم راية دين الإسلام، وتعلمون أنه دين رسول الله حقا،ً وإن حملكم له بحق يعني مفارقة حكومات العرب والعجم في الأرض كافة وقتل خياركم، وأن تعضكم السيوف، فإما أنتم تصبرون على ذلك فحافظوا على الراية وأجركم على الله، وإما أنتم تخافون من أنفسكم خيفة فذروا راية المدافعة والمقاتلة ولا تحولوا بين شباب الأمة والجهاد في سبيل الله، فهو أعذر لكم عند الله.
“Pada hari ini, mujahidin mengatakan kapada para ulama’ dan da’i yang masih mencintai kebenaran dan tidak mau berkompromi dengan kebatilan; Kalian telah mengangkat bendera Islam dan kalian tahu bahwa apa yang kalian angkat itu adalah benar-benar ajaran Rasulullah. Ketahuilah sesungguhnya jika kalian mengemban ajaran itu dengan benar, artinya kalian memisahkan diri dari semua pemerintahan baik Arab maupun non Arab di seluruh muka bumi ini, orang-orang terbaik kalian akan dibunuh dan kalian akan dihimpit oleh pedang. Maka jika kalian dapat bersabar menghadapi hal itu maka jagalah panji itu niscaya Allah akan memberikan pahala kepada kalian. Dan jika kalian takut maka biarkanlah panji perlawanan dan peperangan itu berlangsung, jangan halang-halangi pemuda Islam untuk berjihad fii sabiilillaah, hal itu lebih ringan bagi kalian di sisi Allah”. (Usamah bin Ladin, 16 februari 2003)

Ikhwan sekalian perhatikanlah!!!
Tidak keliru!! Fir’aun dan bala tentaranya memusuhi Nabi Musa…
Tidak keliru!! Abu jahal dan Abu Lahab, memusuhi Rasulullah…
Tidak keliru!! kafir Quraiys memusuhi para sahabat Nabi…
Tidak keliru!! Amerika & kroninya memusuhi Syaikh Usamah bin Ladin…
Tidak keliru!! orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, murtadin, dan munafiqin memusuhi para mujahidin diseluruh dunia…

Jika para mujahidin diancam, dikejar, ditangkap, dipenjara, dibunuh, dan diusir dari negerinya… berbahagialah, ini menujukkan benarnya perjuangan dalam menegakkan kalimat Allah di bumi… Benarnya para mujahidin mengemban misi kenabian, untuk menghambakan setiap manusia kepada Rabb yang satu dan melenyapkan penghambaan sesama manusia. Ini menggambarkan kedekatan keadaan yang dialami mujahidin dengan keadaan para anbiya yang dimusuhi, dicaci maki, dianggap gila, diancam, dikejar-kejar, akan dibunuh, bahkan dibunuh.

Melakukan irhab, ightiyalat, terjun di kancah-kancah jihad yang karenanya menyebabkan berbagai malapetaka yang menimpa para mujahidin dan keluarganya, itu semua merupakan pahala yang sangat besar, dan merupakan pilihan yang hanya diambil oleh jiwa-jiwa yang yakin akan janji-janji Allah, yakin kemenangan akan dinampakkan… Hidup mulia atau mati syahid.

Jadi demikianlah tabiat jalan ini…. Jadi pahami permasalahan ini, agar para mujahidin tidak menyalahkan makhluq Allah, tidak selalu menyalahkan syaikh fulan bin fulan yang telah diekskusi oleh tentara-tentara Fir’aun… Inilah jalanya para perwira, jalannya para kesatria, jalanya para peggenggam bara, jalanya para perindu syurga, dan jalannya para pejuang di medan laga.

Jika ada seorang ‘calon’ mujahid yang ingin berjihad namun akrab dengan kemewahan, kesenangan, larut dengan perhiasan dunia, senang dengan membangun rumah dan membeli kendaraan mewah, kemudian menjauhi kesukaran, kesulitan dalam jihad, menjauhi I’dad, irhab, amaliyat dan sulitnya pergi ke medan-medan peperangan… dan mereka lari dari berbagai bala’ dan malapetaka dalam jihad, maka, saksikanlah sesungguhnya ia adalah pendusta… dia berdusta jika dia mengatakan : “saya akan berjihad!!”, “kelak saya akan pergi ke medan jihad”, “saya ini pendukung jihad” dll… jauh panggang dari api… jauh panggang dari api… Meski ia termasuk kibar jama’ah… meski ia ustadz Senior… meski ia telah berpuluh tahun berbai’at dengan sebuah jama’ah jihad, meski ia ustadz yang bergelar Lc, MA. Atau Doktor tafsir, syariah, atau hadits.

Ingatlah!!! Wahai ikhwan, thoifah manshuroh itu tanda utamanya hanya ada dua, yaitu mereka berilmu dan mereka berjihad dengan sungguh-sungguh, untuk menegakkan kalimah Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan kelompok yang paling berhak mendapat sebutan thaifah manshurah adalah kelompok yang berjihad. Ketika berbicara tentang umat Islam di Syam dan Mesir yang berjihad melawan tentara Tartar yang beragam Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq (hukum positif rancangan Jengish Khan), beliau berkata : “Adapun kelompok umat Islam di Syam, Mesir dan wilayah lain yang saat ini berperang demi membela Islam, mereka adalah manusia yang paling berhak masuk dalam golongan thaifah manshurah yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits shahih yang sangat terkenal”. (Majmu’ Fatawa 28/531)

Maka tak diragukan lagi, para ulama yang berjihad adalah kelompok muslim yang paling berhak disebut sebagai thaifah manshurah. Bahkan Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah menyatakan, kelompok umat Islam —sekalipun mereka adalah para ulama besar— yang tidak berjihad ketika jihad telah menjadi fardhu ‘ain adalah kelompok penggembos (thaifah mukhadzilah), bukan thaifah manshurah. Pada tahun 699 H tentara Tartar yang beragama Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq, bergerak akan menyerang kota Halb (Syiria), pasukan Islam dari Mesir mundur sehingga hanya tersisa pasukan Islam Syam yang akan berjihad melawan Tartar.

Saat itu beliau (imam Ibnu Taimiyah) menulis surat kepada kaum muslimin dan menyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok ;
“Dalam menghadapi fitnah ini, manusia terpecah menjadi tiga kelompok :
1. Thaifah Manshurah (kelompok yang selamat) ; yaitu kaum mukmin yang berjihad melawan kaum yang merusak (tartar ketika itu).
2. Thaifah mukhalifah (kelompok yang memihak musuh) ; yaitu kaum perusak (tartar) dan “sampah-sampah” kaum muslimin yang bergabung (memihak) kepada mereka.
3. Thaifah mukhadzilah (kelompok penggembos) : yaitu umat Islam yang tidak berjihad melawan mereka (musuh), –Tetapi ucapan-ucapanya menghalangi (melemahkan) manusia untuk berjihad memerangi musuh–.

Maka hendaklah setiap orang melihat, termasuk kelompok manakah dirinya ; Thaifah Manshurah, Thaifah mukhadzilah ataukah Thaifah mukhalifah, karena tidak ada kelompok keempat !!!?”. (Majmu’ Fatawa, 26/416-417)

Ya demikianlah!!! Thaifah manshurah adalah kelompok umat Islam yang tidak malu bila dituduh menegakkan Islam lewat jalan kekerasan senjata, dianggap terroris, fundamentalis, dan sebutan-sebutan serem lainnya, karena yang penting dinilai adalah ‘musamma-nya, bukan isim-nya’ –-jadi, jangan tertipu dengan isim–. Karena itu Islam hanya bisa tegak dengan kokoh ketika Al-Qur’an ditopang dengan pedang, kekuatan pasukan, dan tanah-tanah yang didapat dengan tertumpah-tercecernya darah dan remuknya tulang belulang para syuhada. Bukan dengan ongkang-ongkang, kumpul-kumpul bertahun-tahun, duduk di halaqoh-halaqoh puluhan tahun, senang tinggal di ruang-ruang AC, hidup bergelimang kemewahan… kemudian mengharapkan daulah islam jatuh dari langit… tinggal menikmati saja… pemahaman dari mana ini ? Pemahaman ganjil…!!! Pemahaman katak dalam tempurung…!!!

Sebagaimana firman Allah Ta’ala [QS. Al Hadid : 25] dan sabda Rasulullah :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا ( بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلُّ وَ الصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ).

Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah bersabda : “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, supaya hanya Allah semata saja yang diibadahi tanpa disekutukan dengan sesuatu apapun selain-Nya, dan dijadikan rizkiku berada di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan rendah dan hina orang yang menyelisihi urusanku. Dan barang siapa meniru-niru sebuah kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. (HR. Ahmad dan Al-Thabrani. Dishahihkan syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 2831 dan Irwaul Ghalil Takhriju Manari Sabil no. 1269)

Pos ini dipublikasikan di Al Jihad, Hukum, NASEHAT, True Story. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s