Nasehat : Antara Iman dan Ujian

Antara Iman dan Ujian

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (al-Ankabut 2-3)

Ketika perkara (ayat) ini diturunkan, keadaan di Mekah sangat mengkhawatirkan. Siapapun yang menerima, membenarkan apalagi sampai memeluk / masuk Islam maka akan menjadi sasaran penganiayaan, penghinaan dan penyiksaan. Sekiranya dia seorang hamba atau orang miskin, dia akan dipukul dan disiksa dengan siksaan yang sangat kejam. Sekiranya dia seorang pedagang, dia akan menghadapi tekanan ekonomi (boikot) yang sangat berat malah keterlaluan. Sekiranya dia dari kalangan keluarga yang berkedudukan, kaum keluarganya sendiri akan menghina dan menyakitinya dengan berbagai macam cara dan menyusahkan kehidupannya, menyempitkannya.

Hal ini menimbulkan suasana ketakutan di Mekah. Kebanyakan orang takut untuk beriman dengan Rasulullah SAW walaupun mereka percaya -di dalam hati-hati mereka- bahwa beliau adalah utusan Allah yang sebenarnya. Malah ada juga mereka yang pada mulanya beriman tetapi kemudian tunduk dan mengalah kembali kepada orang-orang musyrik ketika diancam dengan siksaan-siksaan yang kejam. Namun begitu, perkara-perkara ini tidak dapat menggoncangkan keimanan para sahabat yang teguh, meski tetap ada di kalangan mereka yang kadang-kadang tidak tahan dengan ketakutan dan kesusahan yang dihadapi.

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Nasaie, Khabbab bin Arat berkata, “Pada masa kami menjadi sakit akibat penyiksaan oleh orang -orang musyrik, pada suatu hari aku melihat Rasulullah SAW sedang duduk di bawah lindungan bayangan dinding Ka’bah. Aku pergi pada Rasulullah dan berakata, `Ya Rasulullah, tidakkah kamu berdoa untuk kami?’ Mendengar pertanyaanku ini , muka beliau menjadi merah dan baginda berkata `Orang-orang yang beriman sebelum kamu telah dihadapkan dengan penyiksaan yang lebih berat dari yang kalian rasakan kali ini. Sebagian dari mereka didudukkan di dalam parit dalam tanah dan digergaji menjadi dua bagian dari kepala sampai ke kaki.. Sendi-sendi seorang itu digosok dengan sikat besi untuk menghalangnya daripada keimanan. Demi Allah, misi ini akan terlaksana dan masanya tidak lama lagi sampai seorang akan bermusafir tanpa ketakutan apapun dari San’a ke Hadramaut dan tidak ada sesuatupun melainkan Allah yang dia takuti.’”

Ketahuilah, tidak ada seorang pun yang akan layak menerima janji Allah untuk kejayaan di dunia dan di akhirat semata-mata dengan pernyataan keimanan dari mulut, sebaliknya setiap pengakuan keimanan mesti melalui ujian dan cobaan untuk membuktikan kebenaran pengakuannya. Surga Allah tidaklah murah, dan kurnia Allah di dunia ini bukanlah tidak berharga, dan Allah mesti akan memberikannya kepada kita sebaik pengakuan keimanan kita kepada Allah. Semuanya itu ada syaratnya. Kita akan melalui kesusahan semata-mata karena Allah, menderita kehilangan nyawa dan harta, menghadapi bahaya dan kesusahan; kita akan diuji dengan ketakutan dan kebakhilan; kita akan mengorbankan segala yang kita sayangi demi keredhaan Allah, dan mengalami segala kesulitan di jalan Allah. Sesudah itu semua barulah nyata adakah pengakuan keimanan kita terhadap Allah itu benar atau palsu.

Perkara ini banyak disebutkan dalam Al-Quran disaat muslimin berada dalam kesusahan, kepayahan dan penuh dengan ketakutan dan kebimbangan. Disaat kaum muslimin baru saja berhijrah ke Madinah, mereka menghadapi tekanan ekonomi yang sangat berat dan bahaya dari luar dan dalam akibat angkara orang-orang Yahudi dan munafik, Allah swt berfirman;        “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana berlaku atas orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam -macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (al Baqarah 214) Asalkan bersabar dan berpegang teguh.

Begitu juga selepas peperangan Uhud umat Islam sekali lagi harus menghadapi suasana musibah. Maka Allah swt berfirman;

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (ali Imran 142 )

Juga perhatikan ayat ayat berikut; “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. /Ali Imran 179/

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.

oleh : diary sang teroris

Pos ini dipublikasikan di Al Jihad, NASEHAT. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s