Kado untuk para Mujahidah

KATA PERSEMBAHAN

Kepada Ummu Kholid Al-Islambuli
Dan Ummu Muhammad bin ‘Abdullah ‘Azzam

Kepada wanita –wanita di pegunungan hindukush
Dan wanita-wanita di lembah kaukasus… …

Kepada putri-putri bumi Isro’ dan mi’roj
Dan putri-putri Sungai eufrat dan tighris… …

Kepada para Istri yang di tinggal Berjihad oleh suaminya… …

Kepada ibu-ibu yang berpisah dengan Anak-anaknya karena Jihad… …

Kepada Para Wanita Islam yang menjaga izzah dan kehormatannya… …

Kepada para Mujahidah dan Para Syahidah Ummat ini,
Yang telah menggoreskan kisah kepahlawanan mereka di gerbang pintu Jihad… …

KEPADA KALIAN SEMUA KAMI PERSEMBAHKAN
BUKU INI

Pendahuluan :

Segala puji bagi Allah Rob semesta alam. Sholawat serta salam untuk Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para pengikut yang setia.
Para pembaca yang budiman…….
Buku ini sengaja kami sajikan kepada para Akhwat terkhusus kami hadiahkan kepada para istri dan ibu para Mujahid yang hari ini sedang di uji, diantara mereka ada yang suami dan anaknya telah syahid Insya Allah, ada yang di penjara dan ada yang masih dikejar-kejar oleh thoghut – la’natullah ‘alaihim -.
Sungguh isi buku ini bagaikan air embun yang menyejukkan kalbu, bagaikan hujan yang membasahi hati setelah lama kering. Buku ini kami berikan sebagai tanda kasih sayang kami kepada mereka semua, karena mereka telah mencampakan dunia di saat kebanyakan manusia malah memperebutkannya, kami berikan karena kesetian mereka kepada singa-singa Allah seraya tidak pernah mengeluh, kami berikan karena kami mengetahui betapa besarnya pengaruh para wanita muslimah itu diatas Jalan Jihad ini.
Walau buku ini belum sempurna, karena masih banyak lagi kisah kepahlawanan para Muslimah yang belum kami masukkan di sini. Tapi kami tetap berharap buku ini bermanfaat bagi kita semua, baik bagi para istri dan ibu mujahid yang sedang di uji ataupun para muslimah yang masih lajang yang siap menjadi pendamping para Mujahid dalam membina Bahtera keluarga.
Semoga Allah mencatat ini semua sebagai amal sholih. Amien ……….
[Al-Qa’idun Group]
Untaian Surat :

Sepucuk Surat
Buat Seorang Istri
Asy Syahid
“ Ibrahim Ar Royyisi “ rohimahullah

Saudariku …..
Apa kiranya yang layak untuk mengawali surat yang aku untaikan untukmu ? apakah aku akan memberimu madu ? apakah aku akan menghiburmu ? Tidak ….. sekali-kali tidak ….. aku tak akan mempersembahkan hiburan dan juga madu kepadamu …..Akan tetapi aku ingin mengungkapkan kata : “ Berbahagialah engkau ….. kemudian berbahagialah engkau …..benar, engkau adalah seorang istri mujahid sang pahlawan, yang telah mengangkat kemulianya pada hari dimana para lelaki menjadi hina. Beliau telah sampai ke medan jihad, pada hari batok kepala mereka diinjak-injak dipenjuru dunia. Maka berbahagialah engkau karena engkau akan mendapatkan syafaat dari as syahid – insya Allah -, karena ia dapat memberi syafaat tujuh puluh kerabatnya “.
Sementara engkau sendiri wahai saudariku ….. engkau seorang sosok wanita penyabar, yang telah setia mendampingi sang suami dalam menghadapi berbagai macam ujian dengan sabar sampai akhir hidupnya. Engkau selalu ridho kepada Robmu dan ridho kepada suamimu. Maka selamat berbahagia wahai saudariku dengan datangnya nikmat ini….. engkaulah yang telah dipilih oleh Allah diantara keluargamu, bahkan diantara kaum wanita sedunia untuk menjadi ranjang bagi seorang pemuda Islam yang telah menjual dunianya dengan akhirat, dan Allah memilihmu dengan diberi ujian ini. Yang semuanya jika tidak datang kepadamu dari suamimu maka itu semua cukup membuatmu dengan ujian itu menjadi suatu kebanggaan, dan menjadi pahala yang paling besar. Semoga Allah menetapkan bagimu kedudukan yang agung di dalam Jannah, yang tidak akan engkau dapatkan kecuali dengan amalmu dalam menghadapi besarnya musibah yang menimpamu. Maka pebaikilah selalu kesabaranmu dan pasrahkanlah dirimu hanya kepada Allah…..
Sesungguhnya orang-orang menyaksikan dirimu dengan pandangan marah ….. karena engkau adalah seorang istri yang mengusik pembaringan mereka, sementara mereka takut dengan perbuatan yang mereka lakukan. Mereka takut kalau sekiranya engkau menuntut balas akan perbuatan yang mereka lakukan terhadap suamimu, atau engkau didik anak-anakmu diwaktu kecil sepeninggal suamimu menjadi seperti bapaknya yang mulia dan gagah berani. Sungguh ! engkau telah membuat ketakutan mereka – musuh-musuh Allah -.
Angkatlah kepalamu tingi-tinggi dan katakanlah dengan lantang ….. “ Sesungguhnya aku adalah istri seorang mujahid yang suamiku selalu dituntut dan dikejar-kejar oleh orang-orang kafir budak Yahudi, mereka ingin membeli suamiku dengan menggadaikan budak-budak mereka, akan tetapi suamiku menolak untuk menjadi begundal mereka. Suamiku adalah seorang yang taat dalam beragama, selalu merendah diri. Hidup berdamping dengannya aku rasakan ketenangan dan kebahaiaan, hidup berdamping dengannya bisa menjadi seperti layaknya orang banyak, akan tetapi ia tinggalkan kemewahan itu sampai ia dewasa lalu ia nikah dan punya anak kemudian meninggal. Ia selesaikan keperluannya sepanjang masa, akan tetapi ia tidak tertipu dengan dunia yang hina itu. Beliau adalah orang yang bercita-cita tinggi, beliau angkat kemuliaan ummatnya , akan tetapi ia tidak pernah menampakkan namanya. Kehidupan beserta isinya semua tidak beliau hiraukan….. dan sungguh beliau telah menuju kepada kehidupan yang lain – yaitu akhirat -. Dikarenakan kenikmatan akhirat tidak akan pernah habis…… “.
Ya Allah ! rahmatilah beliau dan kumpulkanlah beliau dengan istrinya di dalam Jannah kelak…..

Saudariku …..
Semoga kesedihan yang telah menyetrika hatimu dengan berpisah dengan suamimu akan dimuliakan dan ditinggikan derajatnya disisi Allah. Semoga engkau menjadi contoh yang baik bagi kebanyakan orang, dan mudah-mudahan banyak akhwat yang mencontoh dirimu karena Allah. Kami berharap akan muncul para pemberani di negeri ini yang berbuat dengan anak-anak kami seperti yang telah dilakukan oleh suamimu. Berapa banyak para ibu yang patah hatinya, berapa banyak anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, bahkan berapa banyak ibu yang dicegah untuk melihat anak-anaknya yang dipenjara dalam masa yang lama. Mereka tidak menginginkannya dapat melihat, karena pada saat itu anak-anaknya sedang dicambuk….. semuanya ini mereka lakukan dalam rangka mencari keridhoan musuh-musuh Allah dari orang Yahudi dan Salibis…..
Maka katakanlah dengan lantang wahai saudariku ….. “ Cukup Allah pelindung kami atas kalian wahai negara dzolim dan melampaui batas “.
Angkatlah kedua telapak tanganmu tinggi-tinggi dengan selalu berdoa tidak putus-putus, karena do’a orang yang terdzolimi itu tidak ada pembatas antara dia dengan Allah. Dan janganlah kamu merasa putus asa dengan rahmat Allah dan jangan putus asa khawatir tidak dikabulkan permintaan.
Sebelum saya akhiri risalah ini, aku ingin membisikkan di kedua telingamu kabar gembira yang agung ….. “ Bergembiralah wahai saudariku, sesungguhnya suamimu telah menyibakkan kegelapan dunia, dan menjadikan malam menjadi terang benderang….. sebantar lagi engkau akan menghapus derita kami, dan derita ummat kami yang terluka. Dan sebentar lagi kita akan dapat mengusir orang-orang kafir dari bumi kita dan kita bunuh mereka dengan pembunuhan yang menghinakan mereka. Dan sebentar lagi kita akan dapat menunaikan sholat di Masjidil Aqsho – insya Allah – “.

Saudarimu Fillah :

( Khonsa’ )

Disadur dari majalah Shoutul Jihad,
edisi ke-tujuh, Dzul Hijjah 1424 H.

Instropeksi:

Kepada Mujahidah
yang sedang diuji
dengan kepergian suaminya

Dia keluar dari rumahnya dan pulang ke rumah keluarganya dengan menangis dan mengadukan permasalahannya.
Belum genap dua tahun dia meninggalkan rumah keluarganya bersama suaminya, dan pada hari ini dia kembali lagi. Dia kembali dengan membawa bayinya yang masih kecil. Semua yang dia miliki dia bawa pulang…
Tahukah anda ke mana suaminya? Dan kenapa dia meninggalkannya? Apakah dia menceraikannya?
Ketika ditanya dia menjawab; “Dia telah berpamitan untuk selamanya, dia mengatakan mau keluar untuk berjihad di jalan Alloh.”
Duh…. seandainya dia mau berjihad di negeri yang jauh … Dia mau berjihad di sini .. Di dalam negeri ini…
Keluarga dan kerabatnya pun ribut dan mengatakan: “Gila …bodoh… sinting …dst.”
Bagaimana dia tinggalkan keluarganya? Jika dia belum menikah itu lebih baik baginya.. bagaimana dia rela istrinya menjanda? Dan bagaimana dia rela anaknya menjadi yatim? Bagaimana dia bisa meninggalkan pekerjaannya? Sedangkan dia berkeinginan untuk menekuninya… sesungguhnya dia bisa beramal dibidang dakwah dan dapat membela agama Alloh jika dia memang sungguh-sungguh. Dia bisa ikut bekerja untuk membuat majalah yang bertujuan untuk berjihad, bukankah jihad itu juga bisa dengan pena..
Temannya mengatakan: “Aku tahu apa yang mendorong dia untuk meninggalkanmu. Kamu tidak bisa berbuat baik dan berdandan di hadapannya… Seandainya kamu bisa melakukan hal itu dengan baik pasti dia tidak akan meninggalkanmu.
Dan saudara perempuannya mengatakan: “Aku telah ingatkan kamu agar jangan menikah dengan pemuda semacam dia ini. Mereka itu tidak bertanggung jawab… dan tidak mampu mengendalikan semangatnya.
Wahai saudariku… Jangan kau hiraukan manusia-manusia itu. …Teguhkanlah pendirianmu sesungguhnya kamu diatas kebenaran….. Sungguh suamimu telah keluar untuk berjihad … dia pergi bukan karena tidak mencintaimu…Tapi dia pergi untuk melaksanakan perintah Alloh dan kamu akan ikut menuai pahalanya jika kamu bersabar dan ikhlas. Jangan terpedaya dengan sedikitnya orang yang menempuh jalan ini. Sungguh itulah keterasingan dikatakan oleh rosululloh saw., :
طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Sungguh orang-orang asing itu akan mendapatkan Thuba (sebuah pohon di syurga).”
Sungguh apa yang telah kamu dengar itu sangat sedikit jika dibanding dengan apa yang menimpa Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istrinya dan anak-anaknya. Sungguh Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa sallam, berhijroh dan beliau tinggalkan anak-anaknya di Makkah. Dan begitu pula Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sesungguhnya itu semua adalah demi Dienul Islam yang hanya untuk itulah kita diciptakan. Dan semuanya jika untuk Dienul Islam menjadi ringan.
Dan janganlah kamu terpengaruh dengan seorang syaikh yang berceramah di televisi dan mengatakan: “Jihad itu adalah bencana …” Sesungguhnya bencana itu jika kamu mengikuti keinginan pemerintah.. Jangan sekali-kali kamu terkecoh dengan para syaikh itu. Alloh berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ
“ Jika kamu mentaati kebanyakan orang di muka bumi ini pasti mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka itu hanyalah mengikuti prasangka belaka “. (QS. Al An’am : 116).
Apakah kamu melihat mereka mengatakan sesuai dengan Agama Alloh.? Ataukah kamu melihat mereka bertoleransi dengan pemerintah?
Jika kamu mengatakan : ” Suamiku akan meninggalkanku selamanya…” Perkataanmu ini tidaklah benar, tidak….tidak selamanya… besok kamu akan berjumpa dengannya di Syurga kelak jika kamu tetap teguh pendirian.
Dan kamu juga tahu bahwa tidak ada seorang pun kecuali pasti berpisah dengan kekasihnya, namun Alloh mempercepat perpisahanmu dengan suamimu. Dan Alloh telah tetapkan sebagian manusia sebentar dalam bersenang-senang dengan kekasih mereka lalu akhirnya mereka berpisah… Temanmu itu pasti juga akan berpisah dengannya yang dia kira dia tidak akan meninggalkannya karena dia mencintainya.. Pasti dia akan meninggalkannya meskipun dia tidak suka… dia pasti mati… atau temanmu itu akan mati terlebih dahulu lalu suaminya menikah lagi dan melupakannya.
Ini semua adalah hukum alam, pasti semuanya itu akan berakhir… Adapun di akherat, di sanalah kehidupan kekal itu…kekal dan tidak akan berakhir…. Maka tutuplah matamu dari ujian yang menimpamu di dunia ini, betapapun beratnya dan beramallah… bersungguh-sungguhlah dalam beramal… sampai kamu berjumpa dengan Robbmu dalam keadaan ridlo kepadamu.. supaya kamu dapat berjumpa dengan orang-orang yang kamu cintai disana… kedua orang tuamu…suamimu… saudara-saudaramu.

Disadur dari majalah Shoutul Jihad,
edisi ke-Sembilan, Dzul Hijjah 1424 H.

Suri Tauladan :

Ummu Hamzah
(Khonsya Abad Ini)

Segala puji bagi Alloh robb semesta alam, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi dan rosul yang paling mulia. Amma ba’du:
Adapun menjawab pertanyaan tentang Ummu Hamzah [semoga Alloh memberikan rahmat yang luas kepadanya, menempatkannya di dalam syurgaNya yang luas, dan semoga Alloh mengumpulkan saya bersamanya di syurga ‘Adn di sisi Allah Raja Yang Maha Kuasa] Sungguh menjadikan air mata akan berlinang dan hati akan pilu atas kepergian orang-orang yang dicintai. Dan sungguh kami rela menerima ketentuan Alloh baik yang pahit maupun yang manis.
Kata-kata ini kutuliskan untuk mengkisahkan sejarah seorang wanita yang agung, supaya dapat menjadi tauladan bagi kaum wanita pada zaman ini. Kutuliskan sejarahnya supaya musuh-musuh Alloh tahu bahwasanya ada wanita yang tegar di atas jalan kebenaran, yang tidak terpengaruh oleh tipudaya musuh. Saya tulis sejarah ini supaya kaum laki-laki betul-betul mengetahui bahwa ada wanita yang tidak bersikap pengecut dan tidak enggan untuk beramal dengan sungguh-sungguh.

 Ummu Hamzah dan harta

Ummu Hamzah menginfaqkan semua apa yang dia miliki berupa emas dan harta pada pintu-pintu kebaikan, dalam rangka membela kaum muslimin yang tertindas.
Ketika Ummu Hamzah mengetahui ada sebuah program yang baik yaitu pertemuan mingguan di sebuah Villa yang diadakan oleh seorang da’i atau seorang santri dia sampaikan ceramah di villa tersebut, Ummu Hamzah tahu bahwa villa tersebut membutuhkan mesin pembangkit listrik, maka Ummu Hamzah pun menjual emas yang dia miliki untuk membeli mesin pembangkit listrik supaya Alloh menyebut namanya di dalam majlis itu. Dan ketika Ummu Hamzah mengetahui bahwa mujahidin membutuhkan harta, ia serahkan semua hartanya untuk membela mujahidin dan dia mengumpulkan sumbangan dari wanita-wanita kerabatnya dan wanita-wanita yang baik.
Ya Alloh, alangkah baiknya engkau wahai Ummu Hamzah. Sungguh ia wafat sedangkan dia tidak memiliki emas kecuali dua cincin, setahu saya.

 Ummu Hamzah dan pembelaannya terhadap mujahidin

Ummu Hamzah telah memberikan tempat tinggal kepada mujahidin, ketika kaum laki-laki ketakutan dan mereka enggan menolong saudara-saudara mereka. Dia telah menyediakan tempat untuk mujahidin di rumahnya bersama suaminya, dan dia memasakkan dan mencucikan dan dia tidak pernah merasa malas, akan tetapi dia sabar dan mengharapkan pahala disisi Alloh dalam melakukan itu semua. Ya Alloh alangkah baiknya engkau wahai Ummu Hamzah.

 Ummu Hamzah dan hijroh

Ketika Ummu Hamzah mulai memahami benar bahwa penguasa Nejd dan Hijaz (Saudi) adalah thoghut yang murtad dari agama Islam, ia mengkafirkan penguasa tersebut, berbaro’ dari mereka dan membenci mereka, dan meminta kepadaku untuk berhijroh ke Afghanistan, yang disana terdapat pemerintah Islam Tholiban namun aku menolaknya karena aku belum jelas betul tentang keadaan Tholiban yang ketika itu tahun 1420 H.

 Keadaannya di rumahnya.

Dia adalah wanita yang taat kepada suaminya. Pernah satu tahun dia tidak pernah meminta sesuatu pun dari pasar. Dia sangat jarang keluar rumah. Dia tidak mengunjungi keluarganya kecuali sebulan sekali. Dia selalu mengulang-ulang ayat:
وَ قَرْنَ فِيْ بُيُوتِكُنَّ

“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.” (QS. Al Ahzab : 33).

Dia mengatakan: “Sesungguhnya wanita itu jika dia banyak keluar rumah berarti dia tidak melaksanakan ayat tersebut “. Dia tidak pergi mengikuti pertemuan-pertemuan umum dan pesta-pesta karena pada tempat-tempat tersebut banyak terjadi kemaksiyatan dan banyak wanita berhias.
Wahai Ummu Hamzah, sungguh sangat sedikit wanita yang sepertimu. Dia kadang pergi mengikuti dauroh (training) wanita untuk ikut mendengarkan ceramah.

 Ummu Hamzah dan kelantangannya dalam menyampaikan kebenaran.

Ummu Hamzah dengan lantang menyampaikan ajaran agama dan kebenaran ketika para ulama’ diam. Dia menyebarkan buku-buku agama ketika kaum laki-laki mulai pengecut. Dan di antara buku-buku yang dia sebarkan adalah buku Syaikh kita Abu Muhammad Al-Maqdisi yang berjudul Al-Kawasyif Al-Jaliyah (Buku yang menyingkap kekafiran negara Saudi), Millah Ibrohim dan Imta’un Nadz-ri Fii Kasyfi Murji’atil ‘Ash-ri.

 Ummu Hamzah dan mati syahid fii sabiilillah

Dia sangat bahagia ketika mendengar sebuah amaliyah istisyhadiyah yang dilakukan oleh seorang wanita, baik di Palestina maupun di Cechnya. Dan demi Alloh dia menangis dan ingin untuk melakukan amaliyah istisyhadiyah melawan kaum salibis di Jazirah Arab.
Ya Alloh alangkan baiknya engkau wahai Ummu Hamzah

 Ummu Hamzah pada saat-saat menjelang kematiannya.

Kira-kira sepuluh hari sebelum meninggalnya dia menulis ayat-ayat Al-Qur’an pada sebuah pisau, seolah-olah dia mengatakan: “Pisau… pisau…”
Dia menulisnya pada secarik kertas dan diletakkannya di dekat kepalanya, dan saya tidak memperhatikan ayat-ayat tersebut kecuali setelah kematiannya.
Dia melihat ke atas dan mengatakan kepada keluarganya sebelum kematiannya: “Sungguh aku melihat (Surga) ‘Illiyyiin.” Dan dia juga mengatakan sedangkan dia melihat ke langit dan tersenyum: “Saya melihat tempat tinggalku di Firdaus yang paling tinggi.” Dan dia mengatakan kepada ibunya: “Jangan bersedih, saya akan melihatmu di syurga.” Dan di antara yang terakhir dia katakan adalah: “Bejihadlah kalian melawan orang-orang kafir.” Lalu dia mengucapkan syahadat kemudian keluarlah ruhnya menuju penciptanya dalam keadaan tersenyum berseri-seri.
Semoga Alloh merahmatimu dan mengampunimu wahai Ummu Hamzah. Alangkah baiknya kehidupanmu dan alangkah baiknya kematianmu. Ya Alloh sungguh aku ridlo kepadanya maka ridloilah dia wahai Yang Maha Penyayang.”
Ayat-ayat yang ditulis oleh Ummu Hamzah dalam kertas sebelum meninggal :

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ ءَالُ مُوسَى وَءَالُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلاَئِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“ Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketengan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman “. (QS. Al-Baqoroh:248)

ثُمَّ أَنزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَآءُ الْكَافِرِينَ

“ Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada oang-orang yang beriman, dan Allah telah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada orang-orang yang kafir “. (QS. At-Taubah:26)

فَأَنزَلَ اللهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “. (QS. At-Taubah:40)

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَكَانَ اللهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“ Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana “, (QS. Al-FAth:4)

لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) “. (QS. Al-Fath:18)

Suri Tauladan :

SHOHIBATUS SYAKKAL
Si-Pemilik Ikalan Rambut Pelana Kuda
( Tauladan Ibu Sholihah )

Di kota Rosulullah shollallhu ‘alaihi wasallam (Madinah Munawwaroh) hiduplah seorang lelaki yang bernama “ ABU QUDAMAH AS SYAAMI “. Allah telah memberikan rasa cinta mendalam kepadanya terhadap Jihad fie sabilillah dan berperang di negeri Romawi.
Suatu hari beliau sedang duduk-duduk sambil bercengkrama di Masjid Rosulullah shollallhu ‘alaihi wasallam (Masjid Nabawi) bersama teman-temannya. Teman-temannya berkata kepada beliau : “ Ceritakanlah kepada kami kejadian yang paling mengagumkan yang pernah engkau lihat di medan jihad ! “. Abu Qudamah berkata : “ Baiklah ”.
Aku pernah masuk kota RIQQOH untuk membeli onta yang akan saya gunakan membawa senjata.
Suatu hari ketika aku sedang duduk-duduk datanglah kepadaku seorang perempuan, lalu ia berkata kepadaku : “ Wahai Abu Qudamah ! Aku telah mendengar tentang dirimu bahwa kamu suka bercerita tentang jihad dan senang menghasung (orang) untuk berjihad. Aku telah diberi Allah rambut yang tidak dimiliki oleh wanita selainku. Rambut itu telah aku anyam dan ikal menjadi tali pelana kuda dan aku lumuri ikalan itu dengan debu biar tidak tampak oleh orang (kalau itu ikalan rambut) dan aku sangat senang kalau kamu mau mengambilnya. Maka jika engkau telah sampai di negeri orang kafir dan para pahlawan dan pemanah telah melepaskan anak panahnya, pedang telah dihunus dan tombak telah disiapkan maka Jika kamu membutuhkannya maka ambillah, jika tidak maka berikanlah ini kepada orang lain yang membutuhkannya agar rambutku bisa ikut serta dan terkena debu fie sabilillah. Aku adalah seorang janda. Suamiku dan kerabatku telah terbunuh fie sabilillah (peperangan), seandainya jihad diwajibkan atasku sungguh aku berangkat berjihad dan ikalan rambut ini aku bawa sendiri.
Wanita itu berkata : “ Perlu kamu ketahui wahai Abu Qudamah ! Bahwa ketika suamiku syahid, beliau meninggalkan anak, anak itu termasuk remaja yang baik, ia telah mempelajari Al Qur’an, lihai mengendarai kuda, lihai memanah, ia selalu Qiyamullail di malam hari dan shoum disiang hari sementara umurnya baru 15 tahun. Ia tidak tahu ketika ditinggal syahid ayahnya, semoga ia mendatangimu sebelum engkau berangkat (ke medan perang). Aku persembahkan (anakku) bersamamu sebagai hadiah kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Dan aku minta kepadamu dengan kemuliaan Islam, janganlah engkau tolak usahaku untuk mendapatkan pahala”.
(Kata Abu Qudamah) : “ Maka ikalan rambut itu aku ambil darinya”. Wanita itu berkata : “ Pasangkan (ikalan rambutku itu) pada kendaraanmu biar aku dapat melihatnya dan hatiku menjadi tenang ”. Maka ikalan rambut itu aku pasangkan pada kendaraanku dan aku keluar dari ARRIQQOH. Aku keluar bersama teman-temanku.
Ketika kami telah sampai di samping benteng Maslamah bin Abdul Malik ( di Paris), tiba-tiba dari belakang ada yang menyeruku : “ Wahai Abu Qudamah ! Berhentilah sebentar untukku – semoga Allah merahmatimu – “. Maka akupun berhenti dan aku katakan kepada teman-temanku : “ Majulah kalian agar aku dapat melihat (orang yang menyeruku). Tiba-tiba ada seorang yang menunggang kuda berada di dekatku “. (Orang yang menyeru tadi) berkata : “ Segala puji bagi Allah yang tidak menghalangiku untuk bergabung denganmu (dan semoga engkau) tidak menolakku (untuk bergabung)”. Aku (Abu Qudamah) berkata kepada anak itu : “ Tengadahkanlah mukamu kepadaku, jika engkau sesuai maka aku ikutkan berangkat berperang, jika tidak sesuai maka aku tolak engkau untuk ikut serta. Maka iapun menengadahkan mukanya, ternyata ia adalah anak yang baik, seakan-akan wajahnya seperti rembulan pada malam Badar dan terpancar dari mukanya pengaruh kenikmatan (bekas sujud).
Aku katakan kepada anak itu : “ Apakah kamu masih mempunyai ayah ? Tidak (jawab anak itu). Aku ingin keluar bersamamu untuk mencari jejak ayahku, karena beliau telah syahid. Semoga Allah menganugerahkan kepadaku syahadah (mati syahid) sebagaimana yang dianugerahkan kepada ayahku ”. Aku tanyakan lagi kepada anak itu : “ Apakah kamu masih mempunyai ummi (ibu) ? Anak itu menjawab : “ Ya “. Aku katakan kepadanya : “ Kembalilah kepada ummimu, (mintalah izin kepadanya), jika ia mengizinkanmu (maka aku akan menyertakan kamu pada perang ini), dan jika ia tidak mengizinkanmu maka dampingilah ibumu, karena ketaatanmu padanya lebih utama dari pada jihad (ketika fardhu Kifayah), karena Jannah itu berada di bawah kilatan pedang dan Jannah juga berada di bawah telapak kaki ibu”. Anak itu berkata : “ Wahai Abu Qudamah ! Tidakkah kamu mengenalku ? “ Aku jawab : “ Tidak “. Anak itu berkata : “ Aku adalah putra seorang wanita yang telah menitipkan (sesuatu kepadamu). Bukannya aku tergesa-gesa, aku tidak akan melupakan wasiat ummiku si pemilik ikalan rambut itu. Dan aku insya Allah Syahid ibnu Syahid, aku minta kepadamu karena Allah (untuk mengikut sertakan aku dalam jihad ini). Jangan kau larang aku untuk ikut sarta berperang (jihad) bersamamu fie sabilillah. Aku telah hafal Al Qur’an, mengerti sunnah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, aku ahli menunggang kuda, aku ahli memanah, dan tidak ada remaja sebayaku yang lebih lihai dalam mengendarai kuda dariku, maka janganlah kamu meremehkanku karena aku masih kecil. Karena ibuku telah bersumpah agar aku tidak kembali pulang. Ibuku berkata kepadaku : “ Jikalau kamu bertemu dengan musuh maka janganlah kamu mundur, berikanlah dirimu untuk Allah dan mintalah untuk didekatkan dengan Allah dan didekatkan dengan ayahmu dan didekatkan dengan teman-temanmu yang sholih di dalam Jannah. Jikalau kamu telah diberi syahadah (mati syahid) maka berilah aku syafaat karena syafaatmu akan sampai kepadaku. Dan sesungguhnya orang yang mati syahid itu dapat memberi syafaat 70 keluarganya dan 70 tetangganya “. Kemudian aku didekap oleh ibuku dan ia tengadahkan mukanya ke langit sambil berkata : “ Ya Ilahy, Tuanku, Pelindungku ! Ini adalah anakku, buah hatiku, penyejuk kalbuku, ia telah aku persembahkan untukmu, maka dekatkanlah ia dengan ayahnya”.
(Abu Qudamah berkata) ketika aku mendengar perkataan anak itu aku menangis dengan tangisan keras karena melihat kebaikannya, masa remajanya yang baik, dan karena melihat kasih sayang hati ibunya dan kagum akan kesabaran ibunya.
Anak itu berkata : “ Wahai paman ! Mengapa engkau menangis ? Jika yang menyebabkan paman menangis itu karena aku masih kecil, maka sesungguhnya Allah akan mengadzab anak yang lebih kecil dariku jika ia durhaka”. Aku (Abu Qudamah) berkata : “ Aku menangis bukanlah karena melihatmu masih kecil, akan tetapi aku menangis karena (melihat) hati ibumu (yang mulia) dan bagaimana (perasaannya) setelah kamu pergi (syahid) nanti”. (Akhirnya) kamipun melanjutkan perjalanan sampai malam hari.
Ketika dipagi harinya, kami berjalan kembali dan (kami melihat) anak itu tidak henti-hentinya dari dzikir kepada Allah. Aku amati dia ternyata dia lebih hebat dalam mengendarai kuda dari kami dan jika kami berhenti maka ia selalu melayani kami. Ketika dalam perjalanan ia selalu menguatkan azamnya dan meningkatkan semangatnya dan selalu membersihkan niatnya dan selalu menampakkan tanda senang (tidak manja kepada kami). Kami tidak berhenti sampai kami sampai negri orang-orang musyrik pada waktu tenggelamnya matahari, maka kami semua turun dan anak itu langsung memasakkan makanan untuk kami buat buka puasa karena kami semua shiyam.
(Setelah membereskan pekerjaannya) ia merasakan kantuk yang sangat, akhirnya dia tidur lama sekali. Ditengah-tengah tidurnya aku melihat ia sedang tertawa simpul (tertawa terseyum). Lalu aku berkata kepada teman-teman : “ Apakah kalian tidak melihatnya terseyum dalam tidurnya ? ”. Maka ketika ia bangun aku tanyakan kepadanya : “ Wahai anakku ! Aku tadi melihatmu tersenyum ketika kamu sedang tidur ”. Anak itu berkata : “ Aku tadi mimpi dan melihat sesuatu yang mengherankanku sehingga aku tertawa simpul (senyum) “. Aku bertanya kepadanya : “ Apa itu ? “. Anak itu menerangkan : “ Aku merasakan berada di sebuah taman hijau yang indah, ketika aku sedang berjalan aku melihat istana yang terbuat dari perak dan atapnya dari intan dan permata, pintu-pintunya terbuat dari emas dan para bidadari menyibakkan satir dan aku dapat melihat wajahnya bagaikan rembulan. Ketika bidadari itu melihatku mereka berkata : “ Marhaban (selamat datang), maka aku pun ingin memegang tangan salah satu diantara mereka. Mereka berkata kepadaku : “ Jangan tergesa-gesa aku bukanlah untukmu. Aku mendengar sebagian mereka berkata kepada yang lainnya : “ Ini adalah suami Al Mardhiyyah “. Mereka berkata : “ Majulah – Semoga Allah merahmatimu – ! ”. Maka akupun maju ke depan, maka ketika itu aku melihat Istana yang diatasnya ada sebuah kamar yang terbuat dari emas yang berwarna merah, di dalamnya terdapat dipan dari permadani hijau, tiangnya dari perak di atasnya ada seorang bidadari yang mukanya seperti matahari. Jikalau Allah tidak meneguhkan penglihatanku sunguh aku akan buta dan hilanglah akalku (Gila) karena melihat indahnya kamar dan cantiknya wajah bidadari itu. Ketika bidadari itu melihatku ia berkata : “ Marhaban, ahlan wa sahlan (selamat datang) wahai kekasih Allah, engkau adalah untukku (calon suamiku) dan aku adalah untukmu (calon istrimu), maka pada saat itu aku ingin memeluknya ke dadaku. Ia berkata : “ Sebentar lagi, jangan tergesa-gesa (wahai kekasihku), sesungguhnya engkau sangatlah jauh dengan kehinaan, sesungguhnya waktu yang dijanjikan (bertemu) antara aku dan kamu adalah besok setelah sholat dhuhur, maka bergembiralah “. Abu Qudamah berkata : “ Aku katakan pada anak itu : “ Sungguh kamu bermimpi baik dan kebaikan itu akan terjadi “. Maka sepanjang malam kamipun terkagum-kagum dengan mimpi anak itu.
Ketika pagi hari tiba kami bergegas memacu kuda kami. Maka ada seorang penyeru yang memanggil kami : “ Wahai Kuda Allah melajulah dan dengan Jannah bergembiralah ! Berangkatlah berperang baik dengan perasaan ringan maupun berat dan berjihadlah ! “. Maka dalam waktu sekejap saja ternyata tentara kafir – semoga Allah menghinakannya – telah menghadang kami dan menyebar seperti belalang yang bertebaran. Maka orang yang pertama kali menyerang musuh dari kami adalah anak itu. Ia yang membelah pasukan kafir dan memporak-porandakan barisan mereka dan menceburkan diri ke tengah-tengah pasukan kafir. Iapun telah membunuh banyak tentara musuh dan membunuh pula pahlawan-pahlawannya. Ketika aku melihatnya dalam keadaan seperti itu aku tarik pelana kudanya dan aku katakan kepadanya : “ Wahai anakku ! Mundurlah, karena kamu masih kecil dan tidak mengerti tipu daya perang !”. Ia menjawab : “ Wahai pamanku ! Apakah kamu belum pernah mendengar firman Allah (yang artinya) : “ Wahai orang-orang yang beriman ! jikalau kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka janganlah kamu lari ke belakang “. (QS. Al-Anfal : 15) Apakah kamu ingin aku masuk ke dalam neraka ?. Disela-sela anak itu berbicara kepadaku tiba-tiba orang-orang musyrik menyerang kami dengan serempak. Mereka bergerak diantara aku dan anak itu mereka menghalangiku dari anak itu, sementara para (mujahidin) telah sibuk dengan diri masing-masing. (Dalam peperangan) terbunuhlah banyak dari kaum muslimin. Maka ketika semuanya telah berpisah (antara musuh dan mujahidin), ternyata yang terbunuh sangat banyak dan tidak dapat terhitung. Maka aku berjalan meneliti dengan menunggang kudaku, sementara darah mengalir membasahi bumi . Muka (para syuhada) tidak dapat dikenali dikarenakan banyaknya debu yang menempel dan darah yang mengalir (melumuri tubuh mereka). Disela-sela aku berjalan diantara yang terbunuh, ketika itu aku (melihat) anak tersebut berada di bawah tapal kuda yang telah tertumpuki debu dan dia sedang berlumuran darah. Dia berkata : “ Wahai kaum muslimin ! Demi Allah datangkanlah kepadaku paman Abu Qudamah”. Maka aku hampiri dia. Ketika aku mendengar rintihannya aku tidak dapat mengenali wajahnya dikarenakan berlumuran darah dan penuh dengan debu dan terinjak-injak oleh binatang. Aku katakan kepadanya : “ Aku adalah Abu Qudamah “. Ia berkata : “ Wahai paman ! Sungguh benarlah mimpiku, demi Rob Pemilik Ka’bah aku adalah anak pemilik ikalan rambut itu”. Ketika (kejadian itu) aku sangat gelisah dan aku ciumi dia diantara kedua matanya dan aku usap debu dan darah yang menempel di (mukanya) yang tampan. Aku katakan kepadanya : “ Wahai anakku ! Jangan kau lupakan pamanmu Abu Qudamah dalam syafaatmu di Jannah kelak “. Dia menjawab : “ Orang sepertimu tak mungkin akan dapat terlupakan. Janganlah kau usap wajahku dengan pakaianmu, sungguh pakaianku lebih berhak untuk mengusap dari pakaianmu. Biarlah engkau usap dengan pakaianku biar dia berjumpa dengan Allah Ta’ala (dengan debu dan darahku). Wahai pamanku ! Sesunguhnya para bidadari yang telah aku ceritakan kepadamu telah berdiri di atas kepalaku menunggu (keluarnya) ruhku. Dia (bidadari) mengatakan kepadaku : “ Segeralah keluar karena aku sudah sangat rindu ingin berjumpa denganmu”. Wahai pamanku ! Jikalau engkau dapat kembali dengan selamat maka bawalah pakaianku yang bersimbah darah kepada ibuku yang sedang dirundung duka dan kesedihan dan sampaikan salamku kepadanya agar dia tahu bahwa aku tidak menyia-nyiakan wasiatnya dan aku tidak menjadi pengecut ketika bertemu orang-orang musyrik dan sampaikanlah salamku kepadanya. Katakanlah kepadanya bahwa hadiah yang telah ia persembahkan (untuk Allah) telah diterima-Nya. Wahai pamanku ! Aku juga mempunyai seorang adik perempuan yang umurnya baru 10 tahun, setiap aku masuk rumah ia selalu menyambutku dan menyalamiku, ketika aku keluar (pergi) ia menitipkan (pesan) kepadaku , ia berkata : “ Wahai kakakku ! Demi Allah jangan melalaikan kami “. Maka jika engkau berjumpa dengannya sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya : “ Kakakmu memesankan kepadamu : “ Allah adalah penggantiku yang menjagamu sampai hari kiamat”, kemudian ia (kakak) tersenyum sambil mengucapkan ASYHADU ANLA ILAHA ILLALLAH (Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah) tiada sekutu bagi-Nya, dan ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WAROSULULLUHU (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Ini adalah yang telah Allah dan Rosul-Nya janjikan kepada kita dan benarlah janji Allah dan Rosul-Nya. Lalu keluarlah ruhnya. Maka kami kafani dia dengan pakaiannya – semoga Alloh meridloinya -.
Ketika kami pulang dari peperangan dan masuk daerah Ar-Riqqoh, tiada keinginan yang paling kuat dalam benakku kecuali (mendatangi) rumah ibu anak itu. (Aku dapati) seorang perempuan yang mirip mukanya dalam kecantikan dan kebagusannya, ia sedang berdiri di depan pintu rumah, dan ia tanya setiap orang yang lewat di depannya: “ Wahai paman dari manakah engkau ? Dari berperang (jawab orang yang ditanya). Ia bertanya lagi : “ Apakah kakakku pulang bersama kalian ? “. Tidak tau (jawab orang yang ditanya). Ketika aku mendengarnya aku datangi dia dan dia bertanya kepadaku : “ Wahai paman ! Dari manakah engkau ? “. Aku jawab : “ Dari berperang “. Kemudian adik itu menangis dan berkata : “ Aku tak peduli apakah mereka pulang bersama kakakku, sungguh aku telah mendapatkan pelajaran “. Lalu aku berkata kepadanya : “ Wahai anak perempuan ! Katakanlah kepada pemilik rumah ini bahwa Abu Qudamah ada di depan pintu “. Maka keluarlah perempuan (pemilik rumah) ketika mendengar suaraku. Maka berubahlah (roman mukanya). Aku salami dia dan diapun menjawab salamku. Dia berkata : “ Apakah kedatanganmu membawa kabar gembira ataukah kabar sedih ? “. Aku bertanya : “ Terangkanlah kepadaku maksud kabar gembira dan kabar sedih – semoga Allah merahmatimu – ! “ Ia menjawab : “ Jikalau anakkku pulang bersamamu dalam keadaan selamat maka itu kabar menyedihkan bagiku, dan jikalau anakku terbunuh fie sabilillah (Syahid) berarti kamu membawa kabar gembira “. Aku katakan kepadanya : “ Bergembiralah karena hadiahmu telah diterima (Allah) “. Maka ia menangis dan berkata : “ Segala puji bagi Allah yang telah menjadikannya sebagai simpanan besok pada hari kiamat”. Aku tanyakan kepadanya : “ Apa yang dilakukan oleh adiknya itu ? “. Jawab ibu itu : “ Dialah yang telah berbincang-bincang denganmu tadi “. Maka anak itu mendekatiku, dan aku katakan kepadanya : “ Kakakmu menitipkan salam buatmu dan dia mengatakan : “ Allah adalah penggantiku yang menjagamu sampai hari kiamat ”. Maka berteriaklah anak itu dan jatuh pingsan. Lalu ibunya menggerak-gerakkannya setelah sesaat, ternyata anak itu telah meninggal. Sungguh aku sangat kagum sekali (atas kejadian itu). Kemudian aku serahkan pakaian yang dititipkan anak itu kepada ibunya. Lalu aku tinggalkan ibu itu dengan perasaan sedih atas anak (yang telah syahid) dan adiknya (yang ikut meninggal) serta atas kesabaran ibunya.

Penulis berkata : “ Al ‘Allamah Abu Mudzoffar bin Jauzy menyebutkan bahwa ketika beliau mendengar kisah ini maka beliau segera mengumpulkan rambut yang dimilikinya. Maka terbuatlah darinya 300 ikalan rambut “.

Kisah ini diambil dari situs internet :
“ WWW : ARABFORUM.NET “
Profil

Ayah! kenapa engkau tidak pergi berjihad?
Oleh: Ummu Asy Syahid

Seorang anak perempuan yang masih kecil berumur sekitar tujuh tahun datang kepada bapaknya, dia menanyakan suatu pertanyaan: “Wahai ayah kenapa engkau tidak pergi berjihad?” Ayah anak perempuan kecil ini terheran dengan pertanyaan itu, dan ia ingin mengujinya, maka dia bertanya: “Nak! Jika aku pergi untuk berjihad, bisa jadi ayah nanti akan terbunuh, dan kamu nanti tidak punya bapak seperti anak-anak lainnya”. Maka mujahidah kecil itu menjawab: “Jika engkau terbunuh maka itu yang lebih utama, karena engkau akan menjadi seorang syuhada’ dan masuk jannah dan kita akan masuk jannah bersama-sama”.
Inilah iman yang kuat dan fitroh yang bersih serta bentuk pelaksanaan perintah Alloh SWT yang telah tertanam di dalam diri dan sikap anak perempuan kecil itu, dia itulah yang kita butuhkan hari ini di dalam mendidik anak-anak laki-laki dan perempuan kita, kita ingin mendidik mereka dengan tarbiyah iman dan jihad. Maka kita mulai dengan menanamkan aqidah yang benar, yang tidak ada penyakit-penyakit dan tidak ada penyelewengan dari orang-orang yang bersikap toleran dan kaum munafik. Serta mengajari mereka agama yang benar sebagaimana yang telah dibawa oleh Nabi SAW dan salaf sholeh kita, kemudian kita menanamkan pada diri mereka bahwa mereka adalah bagian dari kesatuan umat Islam ini, dan bahwa mereka adalah harapan umat ini setelah Alloh di dalam menyelamatkan dan mengangkat umat dari cengkeraman cakar-cakar kehinaan dan kenistaan serta menyatakan permusuhan secara terang-terangan terhadap umat-umat kafir di muka bumi pada zaman ini. Dan diharapkan mereka dapat mengembalikan kemuliaan dan kekuatan serta puncak kejayaan umat Islam pada zaman ini. Penting juga kita mempersiapkan mereka baik fisik maupun mental, sehingga mereka harus dilatih tentang cara memanggul senjata, berani, dan bertempur mati-matian di medan perang serta mencari kesyahidan di jalan Alloh dan bahwa semua itu adalah sebagai bentuk mendekatkan diri dan ketaatan kepada Alloh yang paling utama, yang dia beribadah kepada Alloh dengannya.
Kita ingin menghantarkan mereka hingga sampai pada tahapan dimana dia menyerap seluruh makna-makna kemuliaan dan jihad sehingga hiduplah salah satu dari mereka menjadi seorang yang mulia, mujahid, bangga dengan agamanya, pembela umatnya, bahkan dia bangga bahwa dia adalah seorang mujahid yang dapat menjadi pengganjal di leher-leher orang-orang kafir dan munafik.
Kita memohon kepada Alloh untuk memberikan kebaikan kepada anak-anak kita, dan menjadikan kita dan mereka termasuk dari para mujahid di jalan Alloh dan memberikan rizki kepada kita dan mereka dengan kesyahidan serta mengumpulkan kita di Firdausil A’la.

Disadur dari:
Majalah Shouthul Jihad IV Romadhon 1424 H

Oase

Ibu Mu’adzah

Tsabit telah menghabarkan kepada kami bahwa Silah pernah mengikuti peperangan bersama anaknya, ia berkata : “ Wahai anakku ! Majulah dan berperanglah sehingga aku dapat pahala Allah dari kesabaranku atas kehilanganmu “. Maka sang anak pun maju dan berperang dan terbunuh. Kemudian silah sendiri juga maju berperang dan terbunuh, maka kaum wanita pun berkumpul disisi istrinya Silah yaitu Mu’adzah. Namun si istri justru berkata : “ Selamat datang ku ucapkan kepada kalian Bila kalian datang untuk memberikan ucapan selamat kepadaku. Tapi kalau kalian datang untuk tujuan lain – ta’ziyah/bela sungkawa -, maka pulanglah kalian semua “. (Lihat dalam kitab Siyar A’lam An Nubala’ : III/498).

Untaian Wasiyat :

Wasiyat Syekh Asy-yahid
DR. Abdulloh Azzam
Untuk Istrinya Dan Kaum Wanita

Wahai kaum wanita….

Jagalah diri kalian dari kemewahan, karena kemewahan adalah musuh jihad. Kemewahan mengkerdilkan jiwa manusia. Hati-hatilah terhadap keadaan yang berlebih-lebihan. Cukuplah dengan yang perlu-perlu saja.
Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, dengan sifat kejantanan dan kepahlawanan serta kemauan untuk berjihad. Jadikanlah rumah kalain sebagai kandang singa, bukannya kandang ayam yang setelah gemuk dijadikan sembelihan penguasa durhaka. Tanamkanlah dalam jiwa putra-putri kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kuda dan medan-medan pertempuran.
Hiduplah dengan selalu menyertai segala kesulitan kaum muslimin. Usahakan dalam satu minggu sekali – minimal – untuk hidup seperti hidupnya kaum muhajirin dan mujahidin, yaitu hanya dengan sepotong roti kering dengan lauk yang tidak berlebihan dan beberapa teguk air teh.

Wahai para remaja….

Tumbuhlah kalian dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jauhilah kenikmatan hidup, dendangan musik dan kasur-kasur yang empuk.

Adapun engkau wahai istriku….

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu wahai ummu Muhammad. Semoga Allah melimpahkan balasan pahala kepadamu karena pengorbananmu kepadaku dan kepada kaum muslimin, juga karena dukunganmu kepadaku. Eangkau telah lama bersabar bersamaku menempuh jalan ini, dan engkau telah merasakan pahit dan manisnya hidup bersamaku. Dan engkau adalah sebaik-baik penolong bagiku dalam menempuh perjalanan yang penuh berkah ini, dan untuk berjuang di medan jihad. Engkau telah kutinggalkan di rumah sejak tahun 1969 M., pada saat itu kita baru mempunyai dua anak kecil perempun dan seorang bayi laki-laki. Engkau hidup di sebuah kamar yang terbuat dari tanah liat yang tidak ada dapur dan perabotnya. Dan kutinggalkan engkau dirumah ketika hamil tua dan bertambah anggota keluarga, anak-anak sudah mulai besar, dan semakin banyak kenalan kita dan semakin bertambah pula tamu-tamu kita. Engkau terima semua itu hanya karena Alloh kemudian karena aku. Maka semoga Alloh membalas jasamu terhadap diriku dan terjadap kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan. Kalau bukan karena Allah, kemudian karena kesabaranmu atas kepergianku yang sekian lama dari rumah, tidaklah aku mampu memikul beban begitu berat sendirian.
Benar-banar aku telah mengerti bahwa engkau seorang wanita zahidah (ahli zuhud), bagimu materi dunia ini tidak ada nilainya dalam hidupmu. Engakaupun tidak pernah mengeluh pada hari-hari yang berat karena sedikitnya uluran tangan pertolongan. Dan engkau pun tidak pernah bermewah-mewah juga tidak membanggakan diri pada hari-hari Allah membukakan sedikit pintu kenikmatan dunia. Dinia ini tidak pernah tinggal dalam hatimu, padahal sebagian besar kesempatan ada di tanganmu.
Sesungguhnya kehidupan jihad adalah kehidupan yang paling lezat, serta menahan sabar atas kesempitan lebih indah daripada bergelimang diantara bermacam-macam kenikmatan dan tumpukan kemewahan.
Berpegang teguhlah pada sifat zuhud, niscaya Allah akan mencintaimu. janganlah mencintai apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.
Al Qur’an adalah kenikmatan hiburan dalam kehidupan. Bangun sholat malam (tahajud), puasa sunnah, serta beristighfar pada waktu-waktu sahur (sepertiga malam terakhir) menjadikan hati lembut, beribadah menjadi manis. Bersahabat dengan orang-orang yang baik, tidak berlebih-lebihan di dunia, jauh dari glamour dan orang-orang yang sibuk dengan dunia semua itu akan menjadikan hati tenang..
Harapan kita hanya kepada Allah, mudah-mudahan kita dikumpulkan di Jannah Firdaus, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di dunia.

Adapun kalian wahai anak-anakku….

Sungguh kalian hanya mendapatkann sedikit saja dari waktuku, juga hanya sedikit pendidikan dariku.
Ya ! aku sibuk dan tidak sempat mengurus kalian. Tapi apakah yang harus aku perbuat, sedangkan bencana yang menimpa kaum muslimin seakan membuat wanita yang menyusui tak ingat akan nasib susuannya. Dan malapetaka yang menyiksa umat Islam begitu dahsyat seolah-olah jambul anak-anak muda beruban karenanya.
Demi Allah, tak kuat aku hidup bersama kalian sebagaimana induk ayam dalam sangkarnya hidup bersama anak-anaknya. Tak sanggup aku hidup dengan hati dingin sedangkan api ujian membakar hati kaum muslimin tak rela aku tinggal besama kalian sepanjang waktu sedangkan derita dan kaum muslimin merobek-robek setiap orang yang memiliki hati nurani atau masih tersisa akalnya. Tidaklah kesatria hidup diantara kalian sambil bergelimang dengan kenikmatan yang sebagian dihamparkan untukkku dan sebagian lagi diangkat, diantara tumpukan daging dan beraneka ragam jajanan.
Demi Allah, dalam hidupku aku telah membenci kemewahan baik berupa pakaian, makanan, ataupun tempat tinggal. Aku telah berusaha semampuku untuk mengangkat kalian kepada tingkatan para zahidin (ahli zuhud) dan menjauhkan kalian dari gelimangan orang-orang yang hidup dalam kemewahan.
Aku wasiatkan kepada kalian berpeganglah pada aqidah kaum salaf, yaitu aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, dan jauhilah sifat berlebih-lebihan. Aku wasiatkan kepada kalian, untuk membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Jagalah juga lidah kalian. Begitu juga sholat malam, berpuasa, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan bergabunglah bersama gerakan Islam. Tapi hendaklah kalian ketahui bahwa pemimpin gerakan itu tidak berhak melarang kalian berjihad, atau mengasikkan kalian dalam bidang dakwah hingga melalaikan dari medan-medan kejantaan dan medan-medan perang. Kalian tidak perlu minta ijin kepada seorang pun untuk berjihad di jalan Allah.
Belajarlah bagaimana menghentakkan senjata dan mengendarai kendaraan perang. Tapi, menembak lebih aku sukai.
Aku wasiatkan kepada kalian, wahai anak-anakku agar kalian taat kepada ibumu, menghormati kakak-kakak perempuanmu (ummu Al Hasan dan ummu Yahya). Hendaklah kalian menekuni ilmu syari’ah yang bermanfaat. Hendaklah kalian taat kepada kakak laki-lakimu (Muhammad).
Saya nasehatkan kalian untuk saling mencintai dan berbakti kepada kakek dan nenek kalian, hormatilah keduanya. Dan berbaktilah kepada kedua bibimu (ummu faiz dan ummu Muhammad). Karena kedua beliau itu memiliki jasa dan keutamaan besar kepadaku sesudah Allah.
Sambunglah kekerabatan kita dan berbuat baklah kepada keluarga dan tunaikanlah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat dengan kita

Diterjemahkan dari kitab :
Wasyiyyatu As Syekh As Syahid Abdullah Azzam

Renungan :

Seorang istri mujahid
yang menjadi buron.
Oleh :Ummu Da’da.

Dia beristirahat diatas ranjangnya setelah melewati hari yang begitu berat dan melelahkan, juga setelah melakukan perdebatan yang panas serta berdialog tanpa ada aturan bersama orang-orang yang tidak jelas. Mereka telah membeli sesuatu yang fana dengan sesuatu yang kekal, mereka ridho dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akherat.
Dia bertanya-tanya: “Ya Robbi, disekitarku banyak orang-orang yang mencelaku. Suara mereka selalu terngiang-ngiang di telingku: “Bagaimana kamu bisa rela dengan suami seperti ini? Dia meninggalkanmu dan pergi begitu saja…
Sudahlah… berpisahlah dengannya, dia itu tidak mencintaimu, jika mencintaimu pasti dia tidak akan berbuat seperti itu. Bagaimana dia bisa meninggalkan anaknya dan pergi begitu saja?”
Sungguh… orang-orang itulah yang mesti dikasihani. Apakah mereka tidak pernah mendengar kata jannah? Apakah mereka tidak tahu pahala orang yang mati syahid? Apakah aku harus menjelaskan kepada mereka apa motivasi suamiku pergi untuk berperang? Apakah mereka tidak mengetahui kewajiban jihad? Atau apakah mereka terpengaruh dengan para ulama’ bingung itu? Dan membenarkan bahwa jihad adalah sebuah kejahatan yang berhak mendapatkan hukuman had?
Saudarinya berkata: “Aku tinggal selama dua hari dan terus menangis disebabkan engkau telah menjanda wahai saudariku, dan juga karena anak-anakmu menjadi yatim!” “Padahal suamiku belum terbunuh sama sekali! Dan seakan-akan kematian tidak akan datang kecuali ketika perang saja”.
Inilah Iblis berkata: “Lihatlah temanmu ini, dia merasa bahagia berada di rumah. Suaminya menghibur dia dan mendatanginya serta berpergian dengan istrinya ke mana yang dia suka dan menginap di vila yang megah. Kenapa kamu tidak seperti dia? Kamu hidup dalam keadaan terpisah, ketakutan dan kekhawatiran, sedangkan dia bersama suaminya penuh dengan kenikmatan dan kehidupan yang lapang dan bahagia”.
Akan tetapi ketika dia mengingat akan dekatnya kematian, dan bahwa dunia itu seakan-akan manis dan hijau, namun cepat hilang dan sirna maka dia berkata: “Celakalah engkau hai dunia!”
Aku tidak akan hidup melainkan hanya sehari atau dua hari saja, kemudian aku akan bertemu dengan Robb ku, maka demi Alloh, aku merasa senang dengan ujian dan perpisahan yang menimpaku, maka ya Alloh! Alhamdulillah (Aku memuji Mu), Ya Alloh! Alhamdulillah (aku memuji Mu).
Seorang mujahid itu adalah orang asing di dunia ini, semua orang membencinya dan orang-orang melihat istrinya dengan ketakutan dan kekhawatiran. Seakan-akan dia adalah istri seorang penjahat.
Ya! Dia memang istri (seorang penjahat) akan tetapi itu menurut orang-orang Yahudi dan menurut pandangan media massa pendusta itu.
Sedangkan menurut Al Qur’an dan As Sunnah maka dia adalah istri seseorang yang pergi berperang di mana manusia duduk-duduk tidak mau melakukannya dan:
لاَّ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah” (QS. An Nisaa’ : 95).
Dia adalah istri seseorang yang berhijroh, yang mendepak dunia setelah dunia itu datang kepadanya walaupun dia sebenarnya menginginkannya.
ومهاجر في الله ودع أهله لم يلتفت يوم الفراق وراءاً
“Dan orang yang berhijroh karena Alloh meninggalkan keluarganya….
Tidak menoleh kebelakang sedikitpun di hari perpisahan….”
Dia juga istri seseorang yang mati syahid, yang memakai tiara dari yaquth yang lebih baik dari dunia dan seisinya.
Ya Alloh! Segala puji bagimu atas kenikmatanMu, dan segala puji atas ketentuanMu, janganlah engkau halangi kami untuk mendapatkan kemurahanMu, dan sabarkanlah kami di atas cobaan dunia serta muliakanlah kami dengan kenikmatan akherat.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ.
” Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka” (QS. Ath Thur : 21)

Disadur dari Majalah Shouthul Jihad Syawal V 1424 H

Barometer :

Kenikmatan & Kemuliaan
yang paling besar
Oleh : Ummu Asy Syahid

Sesungguhnya termasuk kenikmatan Alloh yang paling besar dan agung yang diberikan kepada kita (para wanita mujahidin) yaitu Alloh memberikan kemuliaan kepada kita dengan menjadikan kita termasuk istri-istri sekelompok orang-orang yang berbarokah bi idznillah….
Maka kewajiban kita adalah memuji Alloh dan bersyukur kepada Nya dengan memilih kita untuk menjadikan kita mentaati Nya dan menolong agama Nya pada zaman ini, dimana kita sekarang hidup di dalam keadaan keterasingan Islam di negerinya dan ditengah-tengah generasinya.
Sesungguhnya…. merupakan kebahagiaan kita dan suatu kebahagiaan dengan izin Alloh, jika kita menjadi bagian dari orang-orang asing yang mereka – insyaAlloh – adalah Firqoh Najiyah dan Thoifah Manshuroh yang tidak merasa takut dengan orang-orang yang menyelisihi dan menghinanya hingga hari kiamat nanti.
Ya… Demi Alloh, sesungguhnya kebahagiaan hakiki bagi seorang perempuan adalah dia membeli surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan kehidupan dunia. Bukanlah kebahagiaan itu diukur dengan makanan dan minuman, tempat duduk dan tempat tinggal yang mewah, nafkah yang banyak dan kenikmatan dunia yang fana. Akan tetapi kebahagiaan itu diukur dengan mengikuti apa yang terdapat di dalam kitab Alloh SWT dan sunnah nabi Nya, juga mengikuti para wanita salafus sholeh, para ibu-ibu sahabat wanita nabi di dalam membela agama Alloh dan andil mereka di dalam menolong keutuhan agama dengan jiwa dan harta mereka yang berharga, harta benda, keluarga, suami dan anak.
Sejak terbitnya cahaya kenabian para wanita muslimah telah lama memiliki andil di dalam membela agama Alloh SWT. Inilah Ummul Mukminin Khodijah binti Khuwailid – ra – ketika petunjuk datang kepada Nabi SAW dalam keadaan takut dan tergoncang hatinya setelah datang wahyu pertama kalinya, ditemui oleh istrinya yang penyayang untuk menenangkan beliau, dan dia berkata: “Tidak demi Alloh, selamanya Alloh tidak akan menghinakanmu, karena sesungguhnya orang yang suka menyambung tali silaturrohim, menanggung beban tanggungan orang lain dan menolong orang yang meminta haknya”.
Perkataan yang ringkas dari istrinya seorang pemimpin mujahidin di hadapan suaminya sebagai bentuk pertolongan baginya, yang dapat menguatkan tekadnya serta menenangkan hatinya. Setelah dia mengetahui kebenaran maka menjadi jelaslah jalannya. Bahkan istri yang berbarokah ini tidak hanya cukup disitu saja pertolongannya, bahkan sampai menolong perjuangannya dan memberikan pengorbanan hingga akhir hayatnya.
Dia adalah seorang perempuan yang pertama kali beriman kepada Rosululloh SAW dan membelanya baik dengan moril dan materiil, dia tidak kikir untuk berdakwah dengan segala fasilitas yang dia miliki. Dan itu menjadi contoh yang baik bagi kita.
Sebagai penutup sesungguhnya kemuliaan yang paling besar bagi seorang wanita mukminah adalah jika Alloh memilihnya sebagai seorang syahidah di jalanNya. Demi Alloh, ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh para mujahidah fi sabilillah.
Di terjemahkan dari Majalah:
Shouthul Jihad VI Syawal 1424 H.

Pernyataan :

Biarkan kami menyembah Alloh di tepian jurang!!!
Oleh : Ummu Badr

Bapakku yang penyayang….
Saudaraku yang mulia….
Dan syaikhku yang terhormat….
Ini adalah ungkapan yang telah didahului pengungkapannya, dan satu berita yang bukan kabar baru lagi, akan tetapi ungkapan itu adalah bisikan-bisikan kepada orang-orang pilihan, yaitu orang-orang yang berjaga-jaga dan berjihad, orang-orang yang mencari kesyahidan fi sabilillah.
Ahlu tsughur (orang-orang yang berperang), orang-orang yang telah meninggalkan harta kekayaan mereka, dan juga meninggalkan keluarga serta rumah mereka, mereka tidak rela melainkan untuk mendapatkan pahala yang paling utama, maka mereka berjalan di atas jalan cahaya, dan mereka mempersembahkan mahar yang paling mahal, yaitu darah dan potongan anggota badan tanpa dapat dikubur lagi, yang tercium semerbak bau wewangian minyak kesturi dan dia mengadakan pesta perkawinan menuju mempelai bidadari, di surga yang kekal dan penuh dengan gemerlapan dan kemewahan.
Wahai orang-orang yang mulia…
berapa banyak keluarga orang yang mempunyai manhaj yang melaksanakan perintah karena Alloh dan dia jujur, juga tidak takut dengan orang fasik manapun, dia tidak menghiraukan setiap rintangan. Dia tidak mau menjadi orang yang mencari muka atau merendahkan dirinya atau menjadi munafiq, tidak mau keinginannya tunduk kepada selain pelindungnya, Alloh yang Maha Pencipta, sumbernya jernih seperti air murni. Sehingga dia bersinar kilaunya diantara kilatan, dan meninggikan derajatnya ditengah-tengah manusia. Baik seperti korma yang tidak didapatkan melainkan di kebun-kebun korma. Pemberani seperti singa yang tidak pernah meninggalkan parit-parit. Sungguh merupakan kebahagiaan bagi kami jika kalian kembali kepada kami, dan sungguh kebahagiaan bagi kami jika orang-orang seperti kalian hidup ditengah-tengah kami. Kalian telah memberikan contoh kepada kami di dalam bersikap teguh diatas prinsip kebenaran dan bersabar atas apa yang telah ditentukan oleh Robb kami jika dia mendapatkan kesulitan.

Wahai saudaraku yang mulia….
Hati-hatilah, jangan sampai kalian mengatakan jika kami tidak mengalami seperti ini pasti kami akan begini dan begini….
Janganlah kalian bersedih, kami telah gantikan kepenatan kalian. Ya… Kepenatan… Kami hidup menggantikan kalian dalam keadaan hina dan merasa aman, bahagia dan nista serta kesenangan hidup dan damai.
Kami tidak diburu kecuali oleh dosa-dosa kami, tidak dituntut melainkan oleh syahwat (hawa nafsu) kami, sedangkan kalian, jika bukan karena apa yang ada padamu selain menambah kemuliaan bagimu maka cukuplah kami hidup begini dan kalian hidup seperti itu. Sungguh sangat jauh berbeda:
Kami hidup dalam keadaan munafik dan riya’, takut dan hina, dusta dan jauh dari Alloh.
Sedangkan kalian kami kira sangat dekat dengan Robb kalian, sangat dekat sekali. Maka balasan bagi kalian – dengan izin dari Alloh – itu lebih banyak. Karena kesulitan yang kalian hadapi lebih berat.
Kalian telah menolak lezatnya tidur diatas kasur empuk, dan ketika hari raya kalian tidak bisa bercanda dengan keluarga dan anak-anak, wajah kematian tidak membuat kalian menangis dan suaru tangisan anak yang baru lahir tidak membuat kalian senang.
Maka jawablah, dari apa kalian itu diciptakan? Apakah terbuat dari baja atau badan seperti kita ini?
Kesempitan semakin berat bagi kalian, lalu kalian menikmatinya dengan kelezatan munajat, dan kalian bersenang-senang dengan pemberian dari Robb kalian. Sedangkan kami menggunakan kenikmatan dengan syahwat dan sedikit, dan kami bersenang-senang dengan hilangnya kelezatan khusyu’ di dalam sholat, dan kami juga lupa untuk menangis ketika berkholwat.

Wahai orang-orang yang mulia….
Kalian telah mengajari kami bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan, bisa jadi berjalan menuju jannah dan bisa jadi berjalan menuju neraka Saqor.
Kalian telah meneguhkan kami bahwa pada diri kami ada Mutsanna, Sa’ad dan Umar. Namun diantara kami juga ada Abu Jahal dan Ibnu Salul, dan bahwa dia hidup kembali kepada Hubbal. Kalian telah mengajari kami bahwa di dalam peperangan ada tempat untuk beristirahat dan bagi umat terdapat siahah (perjalanan) serta bahwa pada diri kami masih ada Ibnu Rowahah.

Wahai orang-orang yang mulia….
Tetap teguhlah berada diatas kebenaran, dan janganlah kalian rela dengan kehinaan dan kerendahan. Teguhkanlah kaki-kaki kalian diatas tanah, dan naiklah diatas manusia dengan tekad kalian, naiklah ke atas awan dengan ruh-ruh kalian dan ketuklah setiap pintu untuk kemuliaan. Hati-hatilah dengan kegelinciran dan jangan menyerah dengan kebosanan, janganlah merasa bersedih dengan hinaan, janganlah merasa aman pada diri anda dari fitnah. Demi Alloh, sungguh kami mengetahui suatu kaum yang jernih, dan bagi umat terdapat para pemberi pelajaran dan contoh, mereka disakiti di jalan Alloh, mereka dipenjara dan disiksa. Kemudian apa yang terjadi?
Ketika mereka mendapatkan jalan keluarnya, seakan terasa lama sekali, diantara mereka ada yang mengganti langkahnya, diantara mereka ada yang bertoleransi dan mundur dan diantara mereka ada yang berbalik sikap dan berubah. Maka hati-hatilah dan berhati-hatilah! Janganlah kalian lepas baju kemuliaan dan karomah yang Alloh telah berikan kepada kalian.

Wahai orang-orang yang mulia….
Sesungguhnya orang yang tidak digunakan pasti akan diganti, maka janganlah kalian tertipu dengan orang-orang yang mengganti langkahnya, dan sebutkanlah anaknya Nabi Nuh dan anaknya Hanbal. Jagalah hubungan baik kalian dengan Robb kalian, jika kalian baik hubungannya antara kalian dengan Robb kalian maka akan baik pula hubungan kalian dengan manusia. Dan katakan dengan lisan kalian. Ilahiy:
“Semoga engkau senang sementara kehidupan terus berlalu….
Dan semoga engkau ridho walaupun manusia marah….
Dan semoga antara diriku dan diri Mu berdiam bersama terpelihara….
Dan antara diriku dan seluruh manusia hancur….
Jika datang kemaafan dari Mu maka semuanya jadi hina….
Dan setiap apa yang di atas tanah adalah tanah….
Ingatlah akan ayat Alloh:
وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنصُورُونَ * وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ
“Sungguh telah kami tetapkan sebelumnya bagi hamba-hamba kami yang mendapatkan utusan, dan sungguh mereka akan mendapatkan pertolongan. Dan sungguh tentara kami pasti akan menang”.
Maka kemenangan itu akan datang dan hal itu tidak mustahil, akan tetapi melalui tangan siapa?
Maka beruntunglah dengan kemuliaan ini, sungguh kalian telah berada di kamp-kamp latihan, dan sekarang inilah saatnya telah tiba untuk mempraktekkannya. Dan jika ketakutan kalian semakin bertambah di dunia ini, maka ingatlah bahwa Alloh tidak akan mengumpulkan hambanya dengan dua ketakutan. Dan jika kalian merasa sakit dengan hinaan dan beratnya hukuman maka ingatlah bahwa siapakah yang membuat makar bagi Yusuf dan suadara-saudaranya, siapakah menjadikan istri nabi Luth berkhianat kepada nabi Luth, siapakah yang menghinakan nabi Nuh dari kalangan keluarganya, serta siapakah yang pertama kali keluarga Rosululloh yang memeranginya?
Dan jika mereka mengatakan kepada kalian siapakah yang membuat kalian seperti itu?
Ingatlah, sesungguhnya para Ashabul Kahfi itu adalah para pemuda, dan sesungguhnya agama dan pemeluknya diakhir zaman ini adalah orang-orang asing. Cukuplah kalian hanya dikenal oleh Robb kalian, maka berbahagialah orang-orang yang ghuroba’ (asing), yang mereka itu adalah manusia-manusia yang sholeh berada ditengah-tengah orang-orang yang jelek, orang yang bermaksiat lebih banyak daripada orang yang berbuat ketaatan.

Kalian wahai orang-orang yang asing!
“Kalian adalah gudang permata dan yaquth di tengah-tengah….
Hiruk pikuk dunia, dan jika mereka tidak mengenalmu…..
Tempat pesta kemuliaan dibutuhkan oleh….
Suaramu yang tinggi walaupun mereka tidak mendengarmu….
Ingatlah ujian Ya’kub, kesabaran Ayyub, dan Yunus ketika diseru oleh Robb nya di dalam perut ikan hiu: Laa ilaaha anta subhaanaka inni kuntu minadz dzolimiin. Walaupun itu menimpamu maka itu tidak akan sampai menyamai sakitnya tercebur ke dalam neraka jahannam, maka bersabarlah wahai orang-orang mulia, bersabarlah. Sesungguhnya selalunya setiap kesulitan itu ada kemudahan.

Wahai orang-orang yang mulia….
Tinggalkanlah kami dan pergilah serta tinggallah dipuncak-puncak bukit. Biarkan kami tinggal di tengah-tengah kemewahan. Janganlah kalian mengingatkan kami dengan ayat-ayat jihad, dan janganlah menuntut kami untuk melakukan i’dad, bunuhlah musuh-musuh kami dan kalian akan mendapatkan kemuliaan. Dan tinggalkanlah kami berada di dalam lingkaran ketakutan. Biarkanlah kami membangun bangunan-bangunan kami diatas mulut jurang, pergilah kalian beserta Robb kalian dan berperanglah bersama di dalam barisan. Biarkanlah kami beribadah berada di tepian jurang!

Disadur dari:
Majalah Shothul Jihad VIII Dzul Qo’dah 1424 H

Seruan :

Beginilah seharusnya wanita!
Oleh: Ummu Azzam

Dia meninggalkan dunia dan segala perhiasannya, meninggalkan kehidupan mewah dan memilih mengutamakan kehidupan zuhud. Dia meninggalkan kehidupan berleha-leha dan rasa damai menuju kehidupan yang susah dan jihad. Menjual kenikmatan dunia dan kelezatannya yang cepat hilang. Dan dia ridho kepada Alloh dan taat kepada perintah Alloh yang telah ditinggalkan oleh kebanyakan manusia, maka dia memilih kehidupan jihad sebagai istri disisi seorang mujahid, semua ini untuk mendapatkan pahala jihad fi sabilillah, yang selalu mengingat firman Alloh SWT:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا * وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu:”Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar” (QS. Al Ahzab : 28-29).
Sungguh… dia adalah isteri seorang mujahid, pahlawan yang membantu suaminya dan orang-orang yang semisal dengannya dari kaum mujahidin hingga detik terakhir dari kehidupannya, dan yang telah membuat adanya peristiwa karomah-karomah Alloh, yang Alloh tidak akan memberikannya kecuali kepada para walinya yang sholeh, ketika dia berkata: “Sesungguhnya aku melihat ‘Illiyyin, sungguh aku melihat kedudukanku di Firdausil A’la”.
Allohu Akbar! Alangkah agungnya perempuan itu!! Semoga Alloh memberikan rohmat kepadanya dengan rohmat yang luas dan mengumpulkannya bersama suaminya di Firdausil A’la.
Beginilah kami memandang para wanita, kami menginginkan mereka bersabar terhadap apa yang telah menimpanya fi sabilillah yang berupa musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan, jarak yang jauh dan menemui perpisahan dengan keluarganya, meyakinkannya ketika takut dengan makar-makar musuh, meningkatkan semangatnya jika terkena penyakit bosan dan putus asa, menyertainya di dalam kesendirian dan keterasingannya, mengingatkannya bahwa surga itu harganya mahal dan berdiri di sisinya diwaktu lapang dan sulit. Demi Alloh, dia itu adalah wanita sholehah, inilah yang dikatakan oleh nabi kita Muhammad SAW, sedangkan dia dalam keadaan takut sembari berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!” di sisinya dia berkata: “Demi Alloh! Selamanya Alloh tidak akan menghinakan engkau, karena engkau selalu menyambung tali silaturrohim, menanggung beban orang lain, dan membantu orang yang semestinya mendapatkan haknya”.
Maka bagi para wanita sholehah baik dia sebagai ibu, istri atau saudara… hendaknya dia membantu anaknya, suaminya dan saudara-saudaranya untuk berjihad, dan memberikan bantuan kepadanya setiap kebutuhan hidup yang diinginkannya. Menyingsingkan lengan bajunya di dalam membatunya dan membantu orang-orang yang semisalnya dari kaum mujahidin walaupun sampai menghabiskan seluruh waktu dan harinya untuk itu. Ketahuilah bahwa setiap waktu menuntutnya untuk melaksanakan hal ini fi sabilillah, dan merasakan di dalam beramal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para shohabiyat ra ketika membantu para mujahidin di medan perang seperti mensuplai makanan, pengobatan dan amal-amal wanita lainnya.
Janganlah anda lupa dengan istri-istri para mujahidin bahwa dengan kemampuan mereka, dapat melakukan sesuatu yang dapat menggetarkan musuh-musuh Islam di belahan bumi dari timur hingga barat. Dapat menggoncangkan bumi dari bawah kursinya, dan juga dapat meninggikan bendera para pembela Islam yang bertauhid dari kaum mujahidin yang berkibar di setiap negeri yang telah injak-injak oleh kaki-kaki Yahudi dan Nashroni dari rumah-rumah kaum muslimin… Yaitu kemampuan “DOA”, doa adalah senjata orang mukmin yang sangat luar biasa dan mengagumkan, yang dengan karunia Alloh dapat menurunkan karomah-karomah dan keajaiban-keajaiban Alloh bagi para mujahidin di medan perang. Maka berjanjilah kepada diri anda sendiri wahai saudari muslimahku, bahwa anda akan berdiri melaksanakan sholat di sepertiga terakhir di setiap malamnya dan berdoalah untuk saudaramu kaum mujahidin, karena mereka sangat membutuhkan sekali doa anda.
Ya Alloh… Berilah pertolongan kepada kaum mujahidin di Afghonistan, Irak, Palestina, dan Checnya. Ya Alloh… Berilah pertolongan kepada kaum mujahidin di Jazirah Arab. Ya Alloh… Berilah pertolongan kepada orang-orang yang menolong mereka, dan hinakanlah orang-orang yang menghinakan mereka. Ya Alloh… Tepatkanlah sasaran tembak mereka, sembuhkanlah rasa sakit mereka dan bebaskanlah tawanan diantara mereka. Ya Alloh… Jagalah mereka dari depan mereka, belakang mereka, dari kanan mereka, kiri mereka, dari atas mereka dan kami berlindung dengan keagunganmu dari ditelikung dari bawah mereka. Amiiin…

Disadur dari :
Majalah Shouthul Jihad VIII Dzul Qo’dah 1424 H.

Peringatan :

Wahai para wanita Islam….
Oleh: Ummu Azzam

Aku memasuki satu komunitas yang lapang, lalu aku berjalan di sisinya, dan berada di halamannya, aku ingin mengintip keadaannya dan ingin menyingkap rahasianya, maka aku simpulkan bahwa hal itu tidak perlu diintip dan disingkap, karena pintunya selalu terbuka, dan rahasianya juga selalu tersingkap. Lalu aku bertanya tentang para pemudi negeri ini?
Maka aku lihat mereka itu telah terperdaya dengan penampilan-penampilan yang menipu, terkena fitnah dengan pemandangan yang memikat, mengikut dibelakang kebid’ahan yang menarik dan menyihir mata, dan tunduk di belakang syiar-syiar palsu dan saling berlomba-lomba agar setiap orang diantara mereka mengatakan: “Aku lah yang paling baik”.
Maka kita melihat mereka sedang shopping di swalayan-swalayan, berputar-putar di jalan-jalan tanpa tujuan, menghambur-hamburkan harta dan berpakaian namun telanjang serta mengumbar aurat di pesta-pesta pernikahan. Masing-masing membanggakan pakaian mereka yang mahal, sepatu mereka yang tinggi dan perhiasan-perhiasannya yang terbuat dari intan. Kamu melihat dia di setiap pestanya dengan satu pakaian khusus, dan setiap satu set pakaiannya untuk satu plesiran. Mereka di setiap plesiran itu selalu membanggakan diri, dengan berbagai warnanya yang cemerlang dan modelnya yang termasuk kwalitas papan atas.
Sehingga kita melihat yang ada hanyalah penghamburan dan pemborosan, kelalaian yang tidak membuat mereka sadar-sadar, mereka telah menutup pintu diri mereka sendiri, dan menutupinya dengan sebuah pembatas, supaya tidak keruh kejernihan kehidupan mereka oleh udara panas, debu yang membuat lusuh, rintihan kesakitan dan erangan penderitaan serta teriakan yang keras dan panas yang meluap-luap.
Seakan-akan mereka diciptakan sendirian saja, mereka telah tertipu dengan dunia dan perhiasannya yang berkilauan, serta pemandangannya yang palsu. Entah apakah mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa mereka memiliki keluarga selain keluarganya, dan mereka punya saudara selain saudaranya, yang mengikatnya dengan ikatan kemanusiaan yang paling utama. Dirumah-rumah mereka sendiri terusir, diri mereka ditekan, dan harta mereka dirampas. Sehingga kita melihat para lelaki telah dibunuh dan dipenjara oleh kedholiman orang-orang yang dholim, dengan perintah penghancuran. Kita juga melihat para wanita hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan kelaparan di rumah-rumah yang reot disebabkan ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya, raibnya pemilik rumah, suasana kegelapan disebabkan putusnya lampu dan akibat penghancuran.
Dia takut dari tentara musuh jika mereka memecahkan pintu, dan merobek aib kemuliaan orang-orang yang dicintainya. Dia mengusap airmata anak kecil yang malang dan miskin, dia menahan perutnya yang sakit karena rasa lapar yang melilitnya, dia tidur di dalam ruang kosong dalam keadaan menderita, tidak dapat membela diri kecuali dengan mendekap ibunya yang mengasihinya, yang dia hampir-hampir tidak dapat tidur karena selalu dibuat kaget dengan kebisingan tank-tank dan suara ledakan.
Semua itu adalah dampak perlakuan musuh, mereka menginjak-injak tanah kita secara dholim dan paksa, dengan kekuatan dan tekanan, kebencian dan permusuhan, serta perampasan dan pengusiran.
Sehingga yang kita lihat adalah darah dan potongan-potongan tubuh, penawanan dan penindasan serta pembakaran dan penghancuran. Para wanita kita, mereka masih tertutup kemuliaannya, mengingkari dengan hati mereka, lalu sampai kapan perlawanan dan pengingkaran ini? dan sampai kapan kelalaian dan kealpaan ini?.
Wahai saudariku…
Bagaimana anda tidur dalam keadaan tenang dan senang padahal di sana dia tidak tidur di malam harinya karena ulah para musuh?.
Atau bagaimana kalian hidup dalam keadaan senang sedangkan saudara-saudaramu menjumpai pembantaian yang tragis dan berbagai macam ujian? Atau bagaimana kamu bisa hidup tenang sedangkan saudari-saudarimu menemui apa yang membuat ranjang hancur dan memekakkan pendengaran?
Wahai para cucu-cucu Khodijah, Asma’ dan Aisyah…
Sekarang ini bagi anda adalah mengetahui bahwa di dunia ini ada kehidupan dan kematian, haq dan bathil, ujian dan kenikmatan, fitnah dan siksaan, dan juga di dalamnya ada Islam dan kafir.
Apakah anda melihat siapakah dari kalangan wanita hari ini yang memperjuangkan tekad umat? Siapakah wanita yang menangisi pembantaian yang terjadi di Jenin, Nablus dan Rofah?
Dan siapakah wanita yang menangisi jatuhnya Kabul? Bahkan siapakah wanita yang menangisi jatuhnya kota Baghdad?
Demi Alloh kamu tidak dapat melihat para wanita tersebut kecuali yang menangisi orang-orang yang dia cintai, namun dia tidak perhatian dengan apa yang menimpa agama dan keluarganya.
Wahai saudariku…
Wajib bagimu untuk membangunkan hati-hati para lelaki, dan kamu dongkrak tekad para pahlawan, katakan: kami tidak mau tunduk di bawah kehinaan dan kerendahan, kenistaan dan keterpaksaan, kami ingin membebaskan diri dari ruku’ di depan para penyembah salib.
Hendaklah anda mempersembahkan orang-orang yang anda cintai untuk di kirim di medan-medan jihad, karena sesungguhnya Alloh yang paling berhak dengan pengorbanan kita di jalannya dengan sesuatu yang paling mulia dari apa yang kita miliki berupa jiwa dan harta.
Kukatakan padamu hai saudariku muslimah: “Sesungguhnya minimal yang dituntut darimu berkaitan dengan keluarnya para lelaki untuk berjihad adalah engkau diam tidak mengeluh dan ridho dengan perintah Alloh, hati-hatilah dari menghalang-halangi dari jalan Alloh dan menjadi perusak jalan mereka menuju jannah dan untuk mendapatkan ridho Ar Rohman.
Alloh SWT berfirman:
الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجاً أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ
“Orang-orang yang mencintai kehidupan dunia daripada akherat dan menghalang-halangi dari jalan Alloh dan menginginkan supaya jalan itu bengkok mereka itu berada di dalam kesesatan yang sangat”.
Maka jadilah seperti Khonsa’, Nashibah binti Ka’ab dan Shofiyyah binti Abdul Muthollib yang pada sekarang ini tidak ada para wanita seperti mereka, dan yang menginginkan untuk mengangkat kehinaan dan kenistaan dari kepengecutan umat, hendaknya meninggikan bendera pertolongan untuk Islam dan kaum muslimin dengan darah anak-anak dan buah hati mereka, serta menghentikan gerakan orang-orang komunis kafir dari negeri-negeri Islam dan penduduknya”.
Wahai saudariku….
Kenapa engkau tidak menjadi seperti Ummu Suroqoh? Apa yang terjadi dengan Ummu Suroqoh? Dia telah mempersembahkan anaknya untuk berjihad di Afghonistan, dan ketika anaknya terbunuh, mereka berkata: “bagaimana kita memberitahukan kepadanya akan kematian anaknya?”.
Kemudian mereka berpendapat jika hal itu yang menyampaikan adalah Syaikh Abdulloh Azzam pasti dia akan menganggap ringan musibahnya, maka Syaikh rh menghubungi ibunya dan memberitahukan berita gembira akan kematian anaknya, serta menghiburnya dengan kata-kata kesabaran, namun dia tidak membutuhkan kata-kata itu, dan seakan-akan dia menunggu-nunggu berita akan kematian anaknya dengan penuh kerinduan, lalu dia menjawab perkataan Syaikh: “Alhamdulillah, segala puji milik Alloh akan kesyahidan Suroqoh dan aku akan mengirimkan saudaranya kepada kalian supaya menggantikan kedudukannya”

Disadur dari:
Majalah Shouthul Jihad X Dzul Hijjah 1424 H
La Tahzan :

Ummu Asy Syahiid…
Oleh: Ummu Da’da

Janganlah sedih wahai Ummu Asy Syahid…
Sesungguhnya anakmu telah mati syahid walaupun orang-orang bathil dan sesat itu membencinya, mereka mengatakan apa yang diinginkan oleh thoghut, dan tidak mengatakan apa yang diinginkan oleh agama mereka yang telah mereka jadikan baju. Mereka mengatakan apa yang diinginkan oleh thoghut pada hari ini, mereka berkata bahwa jihad itu haram, disetiap zaman dan tempat. Mereka menginginkan untuk membacakannya dari ayat-ayat Al Qur’an.
Akan tetapi sangat jauh… karena Al Qur’an memiliki Robb sebagai penjaganya…
Mereka berkata bahwa anakmu yang telah tertumpah darahnya sebagai pembela agama tengah berjalan mengekor dibelakang fitnah. Bahwa dia hanyalah seorang anak yang tertipu, dia itu khowarij… dia itu memiliki pemikiran yang rusak dan menular…
Mereka juga membolak balikkan ayat-ayat Al Qur’an sesuai apa yang diinginkan oleh thoghut yang mereka sembah-sembah, mereka telah menyembunyikan apa yang Alloh berikan kepada mereka berupa keterangan-keterangan dan petunjuk. Mereka sebenarnya mengetahui ilmunya akan tetapi mereka diam tidak mengatakannya. Alloh telah mengancam orang yang melakukan amalan mereka itu dengan pecutan dari api neraka pada hari kiamat nanti, akan tetapi mereka tidak menghiraukannya.
Karena para thoghut itu menginginkan mereka untuk itu, dan memperalat mereka untuk kebutuhan mereka yang keji dan jahat. Jika besok Amerika jatuh maka para thoghut tersebut akan bersekutu dengan para musuh Amerika supaya dapat mengalahkan peperangan melawannya. Dan menganggapnya sebagai amal yang paling utama.
Jika kutanyakan kepadanya apa dalil kalian? Dan apa yang merubah kalian?
Mereka akan menjawab: Kemaslahatan atau kepentingan umum… mereka telah mendahulukan kepentingan dari pada semua ayat Qur’an dan daripada sebaik-baik perkataan manusia.

Wahai Ummu Syahid…
Mereka telah menuduh anakmu dengan sifat-sifat keji dan kotor. Padahal sebenarnya demi Alloh… mereka itulah yang keji dan kotor. Mereka itulah yang telah mengkhianati agama Alloh ketika mereka dibutuhkan, dan diwaktu hanya sedikit sekali para penolong agama. Maka kukatakan kepada mereka: Celakalah dan hancurlah mereka… Ya demi Alloh!!
Sesungguhnya Ummu syahid telah menemui perpisahan dengan anaknya, kemudian ditambah lagi dengan musibah dan ujian oleh orang-orang tersebut, wahai seandainya mereka itu diam dan tidak bicara tentang kehinaan mereka, sampai-sampai orang-orang awampun percaya dengan berita dusta mereka. Diantara manusia ada yang menjauhinya walaupun hanya sekedar untuk mengatakan berbela sungkawa kepada ummu syahid disebabkan dia mengikuti fatwa-fatwa yang telah yang menguatkannya. Semoga dia disegerakan untuk ke neraka.
Mereka telah menghukuminya dengan masuk ke dalam api neraka!!! Padahal mereka katanya menghindari sikap mengkafirkan orang!! Manakah yang lebih berat di sisi Alloh bagi kalian? Mengkafirkan orang atau menghukumi dengan neraka?.
Maka benarlah sabda Rosululloh SAW bahwa mereka itu adalah para pemimpin kebodohan, penyeru kesesatan, dan mereka itu dimintai fatwa lalu memberikan fatwa tanpa ilmu.
Demi Alloh… kami tidak mencela pemimpin yang berdosa dan dholim dengan dosa dan kedholiman dia sebagaimana kami mencela mereka. Kebanyakan yang ditunggu oleh umat dari para pemimpin dholim adalah kekerasan, kedholiman dan kekejaman. Akan tetapi apa yang ditunggu dari orang-orang itu? Umat menunggu mereka supaya menerangkan kebenaran, namun mereka menutupi kebenaran dari umat dan telah mencampur adukkan kebenaran dengan kebathilan, dan mereka berkata untuk kebathilan. Ini adalah bathil!! Maka jangalah engkau perhatikan wahai Ummu Syahid… bahkan janganlah kalian dengarkan dari mereka wahai umat Islam…
Dan berhati-hatilah sebagaimana kamu berhati-hati dari musuhmu. Karena sesungguhnya hari ini mereka telah berdiri di barisan musuh. Maka bersihkanlah tanganmu dari kekotoran dan kenistaan mereka, sesungguhnya hati mereka telah dipenuhi dengan kecintaan kepada dunia dan perbendaharaan mereka juga dipenuhi dengan emas dan rasa takut mati sampai mereka menemui kaki-kaki musuh mereka yang mereka takuti.

Janganlah engkau bersedih hati wahai Ummu syahid…
Dan ingatlah bahwa anakmu akan datang pada hari kiamat dengan izin Alloh, sebagai seorang yang mati syahid, lukanya mengalirkan darah, warnanya warna darah dan baunya bau Misk (minyak kesturi), tidak hanya dapat memberikan syafaat untukmu seorang saja, tidak! Tapi untuk tujuh puluh dari keluarganya… dan diletakkan diatas kepalannya tiara dari yaqut yang itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Selamat bagimu wahai Ummu Syahid…
Engkau akan bangga pada waktu itu, walaupun mereka itu banyak yang mencela. Kepalamu akan tegak tinggi-tinggi menghadapinya.

Ummu Syahid… Engkau mengingat anakmu sedangkan dia melantunkan sebuah lagu dengan penuh kesabaran dan keteguhan:
“Wahai ibuku, jika air matamu mengalir….
Atau engkau mengingat pertemuan….
Maka akan dijanjikan bagimu memory….
Dan menjadikan tangismu semakin bergolak….
Maka teguhkanlah dengan kesabaran sesaat….
Kemudian kirimkan doa kepadaku….
Dan ingatlah suatu hari yang sangat dekat….
Di sisi Robbku di atas langit….
Inilah pelipur lara wahai hatiku….
Ketika pelipur lara itu bermanfaat bagimu….

Wahai Ummu Syahid…
Bersabarlah karena sesungguhnya janji untukmu adalah surga.

Disadur dari :
Majalah Shouthul Jihad XI Muharrom 1425 H
Harapan :

Andaikan suamiku seperti mereka….
Ummul Ghuroba’

Ketika aku keluar rumah sambil bendiri melihat foto-foto para buronan mujahidin yang mulia dan yang menjaga keutuhan agama dan kaum muslimin, maka aku sangat berharap bahwa seberkas kertas itu tertera foto suamiku dan tertulis namanya supaya kami mendapatkan kemuliaan pada seluruh umur kami, dan hal itu bukan hanya dia saja. Juga supaya anaknya bahagia ketika melihat bapaknya menjadi salah satu dari para pahlawan itu dan bangga dengan keberaniannya ketika diwaktu yang sama tetangga mereka dan bapak teman-teman mereka bersikap diam tenang dan tidak bergerak untuk memperjuangkan umat!!
Bahkan supaya Alloh dan orang-orang beriman mencintai bapak mereka dan supaya Alloh menerima amal mereka, karena barang siapa yang ridho kepada Alloh maka dialah yang akan diridhoi oleh Alloh, dan manusia juga akan meridhoinya, bahkan Alloh akan mencintainya, dan barangsiapa yang dicintai oleh Alloh maka dia akan dicintai oleh orang yang berada di langit dan di bumi.
Ketika para Ummahatul Mukminin yang suci mencintai Rosululloh SAW…
Maka mereka mencintainya karena beliau adalah seorang pemberani yang Jibril turun dengan membawa wahyu sedangkan beliau waktu itu beribadah di sebuah gua yang gelap gulita.
Mereka mencintai beliau karena beliau seorang pemberani di dalam menyampaikan risalah Robbnya dan berkata kepada kaum Quroisy:
لقد جئتكم بالذبح
“Sungguh aku datang kepada kalian dengan penyembelihan”.
Mereka mencintainya karena beliau seorang pemberani yang melindungi sahabat-sahabatnya dengan punggungnya ketika siksaan semakin bertambah berat.
Maka beliau dicintai oleh Alloh dan seluruh kaum muslimin….
Dan ketika istri Ash Shiddiq mencintai suaminya….
Dia mencintainya karena dia adalah seorang pemberani, dia adalah orang yang pertama kali beriman kepada Alloh SWT, mencintainya karena beliau seorang pemberani, beliau orang yang pertama kali membenarkan Rosululloh SAW, mencintainya karena dia berani memerangi orang-orang murtad dengan penuh kegagahan sehingga Alloh menjaga agamaNya melalui tangan beliau.
Maka dia dicintai oleh Alloh dan seluruh kaum muslimin….
Dan ketika istri Umar mencintai Umar bin Khottob ra. mencintainya karena dia adalah seorang pemberani, beliau orang yang pertama kali memisahkan yang haq dari yang bathil, mencintainya karena dia seorang pemberani yang dimana jika dia berjalan di suatu lembah sedangkan syetan berjalan di lembah yang lain untuk menghindarinya, mencintainya karena dia pemberani yang mengatakan suara kebenaran dengan terang-terangan sebagai balasan terhadap Abu Sufyan ketika perang Uhud.
Maka dia dicintai oleh Alloh dan seluruh kaum muslimin….
Mereka itulah orang-orang yang dicintai oleh Alloh dan dicintai oleh umat Islam, mereka dan orang-orang yang berjalan diatas manhaj mereka, membela apa yang mereka bela, mempertahankan sebagaiman mereka mempertahankan, menolong orang-orang yang mereka tolong. Mereka adalah para pemimpin umat ini, para pemberani umat ini seperti Saifulloh Al Maslul (yang selalu terhunus), Abu Dujanah, Al Barro’, Malik, Abdulloh bin Zubair, Said bin Jubair, Ahmad bin Taimiyyah, Sholahuddin, Umar Mukhtar, Marwan Hadid, Kholid Al Islambuliy, Yahya Ayyasy, Saamir As Suwailim (Khottob), Yusuf Al Uyairiy, Turki Ad Dandaniy dan Sulthon Al Qohthoniy semoga Alloh meridhoi mereka semuanya.
Mereka itulah orang-orang yang berhak untuk dicintai….
Mereka itulah orang-orang yang berhak untuk disebut orang-orang yang menepati janji….
Mereka itulah orang-orang yang mulia….
Setiap singa dari mereka berhak untuk kita cintai, karena dia dicintai oleh Alloh dan RosulNya, juga dicintai ummat dan dibelanya….
Setiap singa dari mereka berhak disebut orang yang menepati janji karena dia memiliki perjanjian dengan Alloh, dan memiliki perjanjian dengan Rosululloh SAW dengan mengikuti petunjuknya, memiliki perjanjian dengan umatNya ketika dia menjadikan kepala umat tegak dengan mempertahankan agamanya….
Setiap singa dari mereka berhak untuk mendapatkan kemuliaannya karena dia telah menjaga kemuliaan dan kehormatan umat, maka seorang pemberani dan mulia itu jika dicintai, dia memenuhi setiap perjanjiannya dengan mengorbankan jiwanya yang suci, sehingga selain dari itu semua, dia adalah seorang penakut dan pengecut, tidak berhak untuk mendapatkan sesuatupun.

Majalah Shoutul Jihad Edisi 14 Muharrom 1424 H.

Kafilah syuhada’ wanita I

Angkat senjata….
Hai para wanita Jaziroh….

Diantara yang membuat ada harapan di hati kaum muslimin dan mengasah tekad untuk melawan musuh adalah ketabahan para pahlawan mujahidin secara terus menerus dan keteguhan mereka diatas jalan jihad melawan kaum salibis dan Yahudi di Irak, Afghonistan, Palestina dan Jazirah Arab. Dimana kita melihat singa-singa Islam telah memberikan kerugian yang sangat besar dan menyakitkan di barisan mereka, dan kita melihat di barisan kaum muslimin mungkin ada para wanita mujahidah yang telah menjual dunia yang fana ini dan mereka mencari keridhoan Alloh dan negeri akherat, maka mereka bersegera untuk membela Islam dan kaum muslimin.
Mereka berpendapat keluarnya para lelaki untuk berjihad belum mencukupi untuk membalas musuh-musuh agama, membuat sebagian dari mereka tidak dapat duduk-duduk menolak untuk bergabung di jalan jihad bersama kaum mujahidin fi sabilillah.
Inilah dia “Royyim Ar Royaasyiy” seorang pahlawan wanita Palestina yang telah menjadi sebaik-baik contoh bagi kaum muslimah, dia telah menjual ruhnya dengan murah fi sabilillah – menurut perkiraan kami dan hanya Alloh yang maha mengetahuinya -, dia lupa dengan teriakan bayinya yang masih menyusui dan anak lakinya yang masih kecil, dia menjawab seruan Robbnya dan melaksanakan perintahnya. Alloh SWT berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At Taubah : 24).
Dan kami juga tidak akan melupakan Sana’ Al Muhaidiliy….
Pahlawan wanita ini yang telah meledakkan dirinya yang suci ditengah-tengah pasukan marinir Amerika di Beirut pada tahun 1982 M, dan yang telah datang ke Libanon dibawah penyamaran penjaga kepentingan dan melindungi ketetapan, orang yang terbunuh dengan aksi wanita ini 300 orang kafir Amerika di dalam suatu operasi militer yang sangat jarang sekali terjadi seperti itu baik secara hukum maupun hasil.
Dan kafilah para wanita syuhada’ akan terus berkelanjutan di negeri-negeri kaum muslimin yang terjajah. Juga inilah Nausyah Asy Syammariy dan Waddaad Ad Dulaimiy yang sangat menawan kita dari kota Ramadiy di bumi Irak ketika keduanya melihat pasukan salib yang besar menginjak bumi Islam, maka hati keduanya dipenuhi dengan rasa kemarahan yang mendidih terhadap kondisi kaum muslimin serta ghirohnya untuk mempertahankan bumi dan kehormatan mereka, maka keduanya melakukan amaliyat fida’iyah nisa’iyah (aksi wanita untuk kebebasan) yang pertama kali di Irak, keduanya dapat membunuh dan melukai sepuluh tentara dari pasukan penjajah.
Di sana, di negeri Kaukasus telah menyebarkan bau wangi Islam, dan para wanita Checnya telah menghirupnya, maka mereka mempersembahkan dirinya untuk membela Islam dan pemeluknya, dan mengalahkan musuh di tanah negerinya. Ada beberapa amaliyat istisyhadiyah (aksi bom syahid), yang terakhir kalinya adalah ledakan besar di salah satu stasiun kereta di Rusia yang telah membunuh banyak orang-orang komunis Rusia.
Akan tetapi apa yang terjadi dengan kalian wahai para wanita Jazirah? Apa yang terjadi pada kalian yang dimana masih melekat kisah Shofiyyah binti Abdul Muthollib ra dan kepahlawanan Ummu Ammaroh terekam di pikiran kalian?
Apa yang akan kalian perbuat jika musuh menginjak-injak tanah negeri kalian? Wahai saudariku, apakah kalian akan menunggu supaya dia menawanmu dan menimpakan berbagai macam rasa kehinaan, siksaan dan perampasan? Apakah kalian menunggu untuk melihat anak-anak kecil kalian dibunuh dan disembelih? Sedangkan kalian hanya bisa berteriak-teriak dan menjerit-jerit?
Maka kalian wahai para wanita muslimah, hasil akhirnya adalah salah satu dari dua hal ini: Mati dengan mulia yang mengakibatkan kehidupan yang sejahtera dan bahagia di surga yang kekal abadi, ini tidak didapatkan melainkan dengan melakukan I’dad dan perang fi sabilillah hingga dia mendapatkan kemenangan atau mati syahid.
Atau hidup dengan hina dan tertawan serta dipenjara di markas-markas militer musuh, dan ini adalah kehinaan yang tidak ada kehinaan yang lebih hina dari ini, seorang penyair berkata:
ذل من يغبط الذليل بعيشٍ ربَّ عيشٍ ألذ منهالحِمام
“kehinaanlah bagi orang yang menginginkan kehidupan yang hina….
Mungkin kehidupan itu lebih baik daripada kematian….”
Ukhti muslimah… Tidakkah kalian mempersiapkan diri kalian untuk berdiri menghadapi musuh? Tidakkah anda mencari mati syahid fi sabilillah?
Hendaklah kalian mempersiapkan diri untuk jihad, dan teguh di depan para musuh, hendaklah kalian melatih dengan baik dalam hal menembakkan senjata, senjata ringan atau Klashinkov, dan tidaklah mencelakanmu dari para laki-laki di sekitarmu yang mereka duduk-duduk tidak mau melakukan I’dad untuk membela diri dan kehormatan mereka apalagi keluar untuk melawan para musuh dari negeri mereka yang terjajah.
Saya tidak yakin bahwa hal itu bukan merupakan halangan bagi para wanita seperti kita ini, aku tidak yakin hal itu menjadi halangan jika dia memiliki iman yang kuat dan dalam, memiliki keinginan yang jujur dan ikhlas serta kemauan yang kuat.
Sulitnya mempelajari senjata tidak menghalangimu untuk melakukan I’dad (persiapan) bagi dirimu sendiri, hal itu sebenarnya tidak sulit jika Alloh memberikan petunjuknya selama disana ada keinginan dan tekad yang kuat. Dan anda bisa memiliki edaran majalah Mu’askar Al Battar yang dapat membantumu – insyaAlloh – untuk persiapan dirimu dengan persiapan yang mencukupi sehingga engkau menjadi ganjalan di leher-leher musuh.
Bisa juga jika anda membaca apa yang dilakukan oleh para wanita kaum muslimin ketika memerangi para penjajah negeri-negeri kaum muslimin pada awal-awal abad sebelumnya dan dimasa yang akan datang di Bosnia, Kosovo dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya, itu juga bisa menjadi motivasi penting bagi dirimu untuk berjihad fi sabilillah, maka bangkitlah segera untuk mempelajari senjata karena anda adalah seorang pendidik bagi generasi dan orang yang melahirkan para pahlawan.
Disadur dari :
Majalah Shoutul Jihad 14 Shofar 1425

Kafilah syuhada’ II :

Di bumi Kandahar
yang agung

Pada malam ahad, dihari ke tiga pada bulan Romadhon yang berbarokah dan setelah jam menunjukkan pukul 01.00 malam, aku terbangun dan merasa terguncang, aku merasa bahwa ada suatu bahaya berada di dekatku, maka aku segera membangunkan ikhwah yang tidur bersamaku, mereka adalah Abu Muhammad Al Abyadh, Abdurrohman Al Mishriy dan Abu Usamah Al Falistiniy, dan pada hari itu juga ada ikhwah yang bermalam bersama kami yaitu Akh Abu Husain Al Mishriy dan Faruq As Suuriy, karena disana kami diwaktu siang hari bekerja pada beberapa tempat dan diwaktu malam hari kami tidur di rumah pamanku, aku bangunkan semuanya dan kuberitahukan kepada mereka tentang kegoncanganku, dan kukatakan kepada mereka: “Sekarang kita memasuki waktu sahur, dan Alloh maha tahu apa yang akan terjadi, tapi jika kalian mendengar suara bom maka ketahuilah bahwa hal itu tidak akan mengenai kita.
Jarak waktu setiap bom dengan bom yang lain jika tidak dijatuhkan secara bersamaan sekitar lima sampai tujuh menit, pada masa tenggang waktu itulah kami mengumpulkan diri kami dan perbekalan kami lalu kami keluar. Tiba-tiba kami mendengar suara ledakan yang sangat besar dari jauh, maka kutanyakan kepada ikhwah di bagian pengintai, lalu aku ketahui bahwa rumah kedua milik Yayasan Al Wafa’ Al Khoiriyyah tepat terkena sasaran dan juga terkena bom Cluster, gara-garanya ada seorang pemuda yang membuka satelit di dalam rumah tersebut, yang akhirnya bom itu membuat Akh Abdul Wahid menemui kesyahidan.
Lalu para pemuda terheran dengan keguncanganku tadi dan kami menyiapkan makan sahur dan kami duduk makan bersama, sebelum kami menghabiskannya kami mendengar suara rudal lewat diatas kepala kami secara langsung, dan meledak pada jarak sekitar seratus meter dari rumah, dengan segera kami keluar dari rumah khawatir jika kami yang dijadikan sebagai target sasaran bom tersebut, dan memang benar-benar kami menjadi targetnya, kami keluar dari rumah dan bekas-bekas asap masih ada di pinggiran jalan sedangkan pesawat-pesawat mengitari di atas langit!!!
Pada titik yang terkena rudal ada dua rumah yang salah satunya adalah keluarga orang-orang Arab, akan tetapi rumah itu sudah kosong dan yang lainnya (pos penjagaan) milik Tholiban. Saya kira mereka pos tersebut sebagai sasaran, lalu kami terus mengikuti arah pesawat dan ternyata menembakkan rudal kedua setelah lima menit, maka kami bersembunyi darinya, lalu rudal itu jatuh ditengah-tengah jalan, lalu kami bersama ikhwah semua pindah ke depan ke tempat yang lebih dekat lagi, ketika ditengah jalan kami diberitahukan oleh petugas ronda Tholiban tentang rumah yang ditempati oleh para wanita Arab, ada sebagian yang telah syahid dan ada yang terluka, mereka memindahkannya ke rumah sakit. Sedangkan para wanita telah keluar semuanya dan pergi ke desa-desa.
Maka aku bergerak menuju rumah sakit untuk mengetahui secara rinci siapa saja para ikhwah yang terluka, dan ketika aku telah sampai di rumah sakit aku meminta supaya dapat melihat yang mati syahid, ternyata beliau adalah Akh Ashim Al Yamani, pelatih di kamp Al Faruq, dan aku menuju ke tempat orang yang terluka ternyata dia adalah Abu Abdurrohman Al Libbiy (Akh senior), namun lukanya tidak mematikan akan tetapi akan mengakibatkan cacat.
Lalu aku tanyakan bagaimana kejadiannya, dia menjawab : “Kami tinggal di dekat rumah Yayasan Al Wafa’, ketika bom Cluster jatuh dan ketika kami sudah selesai mengangkat para pemuda dan mengeluarkan Akh Abdul Wahid dari rumah tersebut, para ikhwah bermusyawarah di rumah tersebut, namun mereka masih khawatir juga jika terlihat, maka kami mengeluarkan para wanita dari rumah dan kami bergerak menuju rumah disampingnya, dan Akh Marwan, sopir mobil Pick Up masih membantu untuk mengeluarkan para pemuda yang mereka berada di rumah Yayasan Al Wafa’ ke tempat yang lain, kemudian dia kembali lagi pada malam harinya dan belum sampai dia masuk, hingga kami mendengar suara rudal mengenai mobil Marwan, dengan jelas mereka mengincar gerakan mobil dan selalu mengikutinya, maka dengan segera kami mengeluarkan lagi para wanita dari rumah tersebut dan kami kirim mereka ke desa-desa, kami memiliki dua mobil dan tinggallah saya dan Abu Ashim Al Yamani yang berada di dekat rumah tersebut, kami berusaha mengangkat beberapa harta benda, dan ketika sedang mengerjakan itu, tiba-tiba rudal ditembakkan yang kedua kalinya, aku melihat rudal itu menuju ke arah kami, maka aku segera tiarap, ternyata rudal itu jatuh di dekat Akh Ashim dan setelah itu aku tidak tahu lagi bagaimana kejadiannya “.
Lalu aku menenangkan Ashim dan dirinya dan aku menanyakan dokter tentang keadaannya, maka dia memberi surat rujukan untuk pergi ke Pakistan untuk kesempurnaan penyembuhannya, lalu aku sampaikan kepada ikhwah untuk membayar biaya dalam hal itu di pagi harinya.
Lalu aku kembali ke tempat kejadian yang baru, yang sebelumnya ikhwan-ikhwan saya tinggalkan disitu, belum sempat aku memasukinya sampai aku mendengar suara rentetan tembakan dari jauh di ujung barat, dan tembakan itu dari helikopter dan C130 yang dilengkapi dengan syalka, tembakan terus berlangsung selama kira-kira setengah jam, dan markas Shoqr memberitahukan kepadaku bahwa serangan mengarah ke desa Banjawa, maka aku langsung khawatir akan nasib keluarga yang sedang bergerak di jalan menuju ke sana, lalu aku diam berpikir, tapi suara Abu Ali As Suuriy membuyarkan diamku dan dia memanggil dengan penuh fanatisme “Wahai Abdul Ahad, anjing-anjing telah menembaki kami dan membunuh para wanita” lalu aku bertanya kepadanya: “Dimana?” dia menjawab: “Di tengah jalan menuju Banjawa”. Maka kukatakan padanya: “Aku akan menuju ke jalan kalian”, para ikhwah semuanya juga mendengarkan kabar tersebut, maka mereka bergerak menuju ke sana, dan waktu itu fajar sudah masuk, maka cepat-cepat aku sholat subuh, aku bersama Abu Abdurrohman Al Mishriy bergerak menuju ke desa tersebut.
Di tengah jalan kami dapati sebuah tragedi yang melahirkan cerita ini, dan pelajaran yang sangat menakjubkan, ketika Alloh mentakdirkan sesuatu maka tidak akan ada yang dapat menolak takdir tersebut. Dan ketika beberapa ikhwah merasa di desa Banjawa mendapatkan banyak serangan di ujung kota, juga banyaknya pesawat yang berada di wilayah Kandahar dan korbannya, maka mereka khawatir terhadap anak-anak mereka. Di dalam satu rumah ada enam keluarga dari ikhwan-ikhwan Arab yang mereka semua menikah dengan orang dari arab Maghribiy, akhirnya laki-lakinya memutuskan untuk keluar dengan membawa istri-istrinya dengan empat mobil, dan mereka itu tidur di kamar kosong, pada waktu yang bersamaan disana ada dua mobil datang dengan membawa para wanita yang baru saja rumahnya terkena bom, lalu mereka melihat sebuah mobil asing berhenti di sekitar seratus meter di sisi jalan. Lalu mereka bertemu di jalan dan mereka dapati ternyata dia Akh Suroqoh Al Yamani bersama Akh Abu Hamzah As Suuriy. Mobil itu berhenti mengikuti pesawat, kemudian ikhwan-ikhwan ngobrol sebentar kemudian mereka pergi menuju ke desa.
Belum sampai kedua mobil tersebut pada jarak kira-kira 1,5 km, tiba-tiba muncul helikopter dengan terus menembaki mereka, dan sampai-sampai C130 ikut menyerang para wanita. Mobil pertama yang di dalamnya ada Abu Ali Al Yafi’iy dan istrinya serta empat orang wanita dan dua anak kecil terkena serangan, begitu juga mobil kedua yang di dalamnya terdapat Suroqoh Al Yamani dan Hamzah As Suuriy, sedangkan mobil ketiga yang di dalamnya ada Abu Ali Al Malikiy dan keluarganya ketika melihat bom telah mengenai kedua mobil tersebut maka dia cepat-cepat melajukannya ke arah gunung berusaha untuk lari dari kejaran pesawat, maka dia mematikan cahaya lampu, lalu melajukan mobilnya seakan terbang di atas tanah yang tidak rata (semua mobilnya menggunakan Corolla Citizen) sampai tersembunyi dari pesawat.
Pada waktu serangan pertama memang tidak mematikan, hanya saja mobilnya tidak dapat digunakan sehingga para wanita cepat-cepat lari dari mobil tersebut di tengah padang pasir menuju ke gunung, mereka bersama tiga orang laki-laki, anak kecil berumur 3 tahun dan saudarinya yang masih di susui digendong oleh ibunya. Para wanitanya pada waktu itu menggunakan cadar ala orang-orang Afghon dan mereka itu jelas-jelas nampak wanita, namun karena kedengkian tanpa pandang bulu dari para komandan pesawat helikopter penjahat itu tetap tidak membedakan antara perempuan dengan laki-laki dan anak-anak, sehingga mereka tetap menembakkan rudalnya dan menembaki dengan pelurunya sampai mereka terjatuh diatas tanah menemui kesyahidan.
Para penjahat tersebut masih terus menembaki tubuh-tubuh mereka yang suci dan bersih sampai-sampai tubuh mereka tercabik-cabik dan terpotong menjadi kecil-kecil, dan tubuh bayi yang masih disusui itu juga tercabik-cabik, begitu juga tubuh anak kecil itu terpotong berserakan, dan tidak ada yang tersisa selain wajah mereka yang bersinar dan kepasrahan ruh mereka kepada Robb mereka di kafilah kedua dari para wanita yang menemui kesyahidan. Sedangkan laki-lakinya, badan mereka baik dan selamat.
Disisi lain mobil asing itu terkena bom diwaktu mereka mendengar tembakan, mereka segera bergerak. Diantara mereka ada yang terkena tembakan yaitu Abdul Wahhab Al Mishriy dan Abu Ali As Suuri, dan wanita dari Arab Maghribiy yang pertama kali mati syahid setelah badannya yang suci terkena lebih dari dua puluh tembakan.
Orang Arab maupun ajam berkumpul dari setiap tempat ke TKP. Pemandangannya sungguh sangat mengerikan, namun orang arab itu lebih banyak kesabarannya dari pada orang Afghon yang telah runtuh disebabkan rasa takut dengan apa yang telah mereka lihat.
Maka para pemuda mulai mengumpulkan potongan-potongan daging, disini ada tangan anak kecil, disitu ada kulit kepala dengan rambutnya, ini ada potongan daging dan disini ada kulit yang kami tidak tahu milik siapa.
Aku menyuruh para ikhwah untuk segera meninggalkan diri khawatir pesawat akan datang lagi. Lalu aku kirimkan beberapa orang ke desa untuk menggali kuburan, dan sebagian lagi aku perintahkan untuk mengumpulkan potongan-potongan daging tersebut, lalu mereka mengumpulkan sisa-sisa anggota tubuh dari lima orang wanita dan dua anak kecil disatu mobil dan aku mengangkat tubuh ikhwan-ikhwan dan kami kuburkan semuanya di desa Banjawa selain ukhti dari Maghribiy, dia dikubur di Kandahar yang disana ada Syaikh Abu Hafs dan saudara-saudaranya.
Jadi pada malam kemarin jumlah para syuhada’ dari laki-laki adalah (Abu Ashim, Abu Ali Al Yaafiy yang sedang berjaga-jaga di waktu ada ledakan di rumah Syaikh Abu Hafs dan dia selamat dari bom pada waktu itu, Suroqoh Al Yamani, Abu Hamzah As Suuriy yang kami keluarkan sebelum dua hari dari bawah reruntuhan bangunan bersama Abu Hafs) sedangkan dari para wanita semuanya dari Yaman kecuali satu saja, mereka adalah (Istri Abu Ali Al Yaafiy, istri Usamah Al Kiiniy, istri Royyan At Ta’ziy, istri Abu Usamah At Ta’ziy dan anaknya yang masih kecil, istri Az Zubair Adh Dholi’iy yang sedang menunggu suaminya untuk menjemputnya, istri Abul Barro’ Al Hijaaziy , yang dia dari Arab Maghribiy).
Lalu aku bergerak ke desa untuk mengikuti acara penguburan dan di dalam dadaku berulang-ulang membaca firman Alloh SWT:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah:”Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Al Jumu’ah : 8).
“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu” Ya! Akan menemuimu! Akan menemuimu!”
Subhanalloh! Sungguh kata-kata itu sangat dalam artinya dan persis sesuai dengan kejadian itu, para ikhwah telah bergerak bersama para wanita dari ujung kota Kandahar ke tengah-tengahnya khawatir akan mati, kemudian mereka bergerak kedua kalinya dari tengah-tengah kota Kandahar ke desa untuk memenuhi perjanjian dengan kesyahidan di dataran bumi yang terbatas dan tepat pada waktunya, tidak bertambah dan juga tidak berkurang.
Aku bertemu dengan para ikhwan dan Alloh telah memberikan rizki dengan beberapa kalimat yang aku berbicara dengan mereka untuk meneguhkan mereka dan menguatkan bahwa semua ini adalah karunia dari Alloh terhadap para hambanya yang dinampakkan dan diperlihatkan kepada mereka.
Wahai orang-orang yang Alloh perlihatkan kepada mereka untuk supaya dipilih para lelaki, wanita dan anak-anak termasuk dari orang yang bergabung dengan kafilah syuhada’.
Aku menekankan bahwa istri-istri kita dan anak-anak kita mereka adalah amanah dari Alloh dan ketika Alloh ingin mengambil amanah tersebut maka kita tidak memiliki kekuatan melainkan berserah diri kepadaNya dan bersabar atas apa yang Alloh inginkan. Aku juga mengingatkan kepada Akh Abu Usamah At Ta’ziy bahwa kedua anaknya akan mengambilnya menuju surga pada hari kiamat nanti insyaAlloh.
Kemudian aku pergi untuk menemui keluargaku yang aku belum melihatnya sejak aku bergerak ke Kabul, untuk ingin mengerti reaksi dia atas kejadian yang menimpa para wanita tersebut, maka keluargaku menyambutku dengan senyuman yang penuh dengan keceriaan dan mengucapkan kata-kata selamat “Dan Alloh sebagai saksi atas apa yang aku katakan”, dia berkata: “Apakah kamu mendengar apa yang telah terjadi, sungguh saudari Ummu Ali Al Yaafiy dan suaminya telah mati syahid, sekarang ini aku memohon kepada Alloh supaya memberikan rezeki kesyahidan kepadaku dan kepadamu serta anak-anak bersama-sama seperti mereka berdua”.
Ini bukan suatu hal yang mengherankan keluar kata-kata darinya, karena saudaranya mati syahid pada tahun 1988, bapaknya Syaikh mujahid Abu Walid orang yang pertama kali datang untuk berjihad dari kalangan arab pada tahun 1979 dan juga komandan amaliyat penutupan bandara Khost pada tahun 1990. Maka aku langsung bergembira dengan jawabannya dan aku mengucapkan salam kepada lima anakku, lalu aku berangkat ke Kandahar ketika mendekati waktu dhuhur”.

Disadur dari :
Majalah Shoutul Jihad II Sya’ban 1424 H

Siroh waqi’iyah

REALITA JIHAD
Oleh: Dr. Abu Mujahid

Dari Ummu Athiyah Nasiibah ra, dia berkata: Rosululloh SAW membai’at kami untuk tidak meratap. (HR. Al Bukhori dan Muslim) di dalam shohihnya III/141, dan Muslim no. 639.
Saya kira umat ini telah mandul untuk melahirkan seorang sosok seperti Khonsa’ dan Haulah binti Azwar, akan tetapi saya melihat para wanita abad dua puluh ini ada orang-orang yang ingin menjadi seperti para pahlawan wanita ini. Saya lihat seperti Ummu Muhammad istri Asy Syahid Abdulloh Azzam, dalam satu hari dia kehilangan tiga orang yang termasuk manusia-manusia paling mulia, suaminya dan kedua buah hatinya (Muhammad dan Ibrohim) dan dia mengira bahwa hal itu adalah di jalan Alloh.
Demi Alloh, yang tidak ada ilah selain Alloh, sungguh aku sangat bingung apa yang harus kita lakukan untuk berbela sungkawa kepadanya ketika dia masuk untuk bertemu dengan mereka untuk melihat mereka untuk mengucapkan perpisahan yang terakhir. Saya katakan: “Bagaimana mungkin seorang perempuan seperti dia dalam kondisi seperti ini masih ingin melihat mereka? Akan tetapi dia yakin bahwa Alloh SWT menurunkan kesabaran sesuai dengan ujian yang dia hadapi. Diriku merasa kecil jika membayangkan kondisinya ketika dia melihat mereka.
Ummu Muhammad berkata: “Ketika kami sampai dirumah Syaikh maka segera saya ingin bertemu untuk melihat mereka yang terakhir kalinya, aku dapati tiga orang dalam keadaan tertutup, kemudian aku dapati anakku yang pertengahan Khudzaifah berdiri di depanku. Maka aku yakin bahwa orang itu adalah suamiku, dan anakku yang paling besar Muhammad (21 tahun) serta anakku yang ketiga (16 tahun), maka aku masuk ke dalamnya dan aku ucapkan perpisahan terakhir kemudian aku kembali ke rumahku, dan aku telah berjanji kepada Alloh untuk tidak menangisi mereka, karena suamiku sebelum kesyahidannya dia pernah bertanya kepadaku: “Apa yang akan engkau lakukan jika Alloh memberikan rezeki kesyahidan kepadaku?” Lalu aku menjawab: “Aku akan bersabar dan tabah insyaAlloh”. Dan sungguh benar-benar aku telah memenuhi janjiku kepadanya, dan aku memohon kepada Alloh untuk memberikan kepadaku kesabaran dan keteguhan hingga mati. (Disadur dari pertemuan di majalah Al Mujtama’ edisi 849, 2 January 1990 M.
Sesungguhnya itu adalah pendidikan Islam secara praktek dari beberapa kejadian-kejadian yang membuat umat ini sebagai sumber yang tidak akan habis airnya untuk mengeluarkan bagi kita orang seperti wanita mujahidah dan sholihah ini, supaya menjadi pelita dan panutan bagi seluruh wanita di dunia ini pada zaman sekarang ini.
Tidak diragukan lagi bahwa istri mujahid ini masih akan terus menjadi contoh yang paling baik bagi para wanita umat ini. Dan dia berada di barisan wanita yang terdepan di medan jihad. Dialah pendiri Al Lajnah An Nisa’iyah Al Arobiyyah (Yayasan Wanita Arab) yang memiliki andil yang sangat besar di dalam berkhidmat untuk jihad. Dibidang pengajaran dan kesehatan serta kesejahteraan keluarga para syuhada’ dan anak yatim.
Sesungguhnya bagi para wanita di dalam Islam memiliki peran yang sangat penting dan jelas di medan jihad. Telah disebutkan di dalam hadits shohih dari Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dari Rubai’ binti Muawwidz ra dia berkata: “Kami berperang bersama Nabi SAW, kami memberi minum para prajurit dan membantu mereka, mengembalikan yang terluka dan yang terbunuh ke Madinah”.
DR. Abdulloh Azzam berkata tentang hukum keikut sertaan wanita di dalam berjihad: “Peran wanita di dalam jihad adalah perkara yang telah disebutkan di dalam syareat, akan tetapi wajib menjaga syarat-syarat yang disyareatkan: seperti adanya mahrom, tidak bercampur dengan laki-laki, aman dari fitnah, dan ketika dalam keadaan terpaksa yang tidak mampu dilakukan oleh laki-laki. Bisa juga para wanita berada di barisan belakang untuk melakukan kegiatan memasak, mengobati yang sakit dan semisalnya dari kegiatan-kegiatan wanita.
Sedangkan membuka pintu di dalam masalah ini adalah kerusakan yang besar. “Dan jika aku pernah lupa maka aku tidak lupa peran wanita muslimah Afghon di dalam pelaksanaan jihad Afghonistan. Berapa banyak sikap wanita Afghoni di utara Afghonistan dapat membangkitkan semangatku, di desa Khoniz, berkata Syahid Umat Islam ini Abdulloh Azzam: “Kami ketika berada di jalan antara Bazarik dan Rokho kami melewati desa yang namanya Khoniz kemudian Ahmad Mas’ud menunjuk desa tersebut dan berkata: “Di desa ini ada seorang wanita dan anak-anaknya membantu kami pada tahun 1982 M, dan di desa itu tidak ada yang lain selain dia, anaknya seorang mujahid yang berjihad bersama kami, dan kami sangat takjub dengan keberanian wanita tersebut. Jika kami melihat bom itu semakin deras maka kami bersembunyi, namun dia tidak bersembunyi, padahal pada tahun itu peperangan sangat sengit sekali, dan kekuatan itu sangat dekat dengan kami.
Wanita tersebut yang membuat roti buat kami, dia memasak makanan kemudian memberikannya kepada kami dan anaknya. Pada suatu hari langit menghujani kami dengan awannya yang sangat panas, dan tank-tank menyalakkan kobaran apinya, dan kami pada waktu itu berada di sebuah kamar, lalu kami berusaha untuk berpencar, ternyata perempuan tersebut berdiri di depan pintu dan berkata: “Janganlah kalian keluar! Karena api ada dimana-mana nanti akan mengenai kalian”. Dan anak perempuannya ikut membantunya membuat roti dan memasak, tiba-tiba dia terkena serpihan bom dan membunuhnya, maka kemudian dia menutupi anaknya dengan kain penutup lalu perempuan tersebut melanjutkan memasaknya. Kemudian suaminya juga menemui kesyahidan dan tidak ada yang tersisa lagi selain anaknya yang mujahid, lalu anaknya tersebut juga mendapatkan karunia kesyahidan.
Maka seluruh kaum mujahidin bersedih hati dengan hilangnya anak tersebut, lalu kami datang untuk bertakziyah kepadanya. Lalu wanita itu mengatakan: “Sungguh kesediahnku karena tidak dapat memberikan bantuan makanan kalian itu lebih aku rasakan daripada kesedihanku karena kehilangan anak kesayangan hatiku, oleh karena itu sesungguhnya mulai hari ini aku akan terus memasak makanan untuk kalian, dan aku akan membuat roti untuk kalian, aku tinggalkan dan kalian datang untuk membawanya sendiri”. Mas’ud berkata: “Aku kehilangan wanita itu, mungkin dia berhijroh ke Kabul. Dan demi jiwaku jika aku mengetahui tempatnya pasti aku akan membalas atas bantuannya kepada kami”.
Aku berdiri dihadapan keadaan ini dengan pengagungan dan kekaguman! Maka kukatakan Subhanalloh! wanita ini telah mengembalikan perjalanan para shohabiyat yang seperti wanita itu dari seorang wanita kalangan bani Abdud Daar ketika sampai kepadanya kabar kesyahidan suaminya dan saudaranya serta bapaknya, lalu dia berkata: “Apa yang terjadi dengan Rosululloh SAW?” Mereka berkata: “Dia baik-baik saja”. Wanita tersebut berkata: “Setiap musibah selain pada dirimu wahai Rosululloh SAW adalah kecil” artinya “remeh dan sepele”.
Mana sikap sebagian wanita kaum muslimin di negara-negara Arab? Kalian melihat salah seorang diantara mereka yang takut dari kalajengking dan tikus jika masuk ke dalam rumahnya?
Pernah terjadi suatu kejadian di salah satu kota di Arab bahwa ada seorang perempuan yang suaminya bekerja sebagai guru di sebuah sekolahan Tsanawiyah dan tiba-tiba dia ditelpon oleh istrinya dan bilang cepat-cepatlah pulang karena ada sesuatu yang sangat penting!! Maka suaminya pulang dengan cepat sambil terengah-engah, ternyata istrinya bilang bahwa ada tikus di kamar ini!!.
Sesunggunya wanita seperti ini tidak dapat diandalkan untuk memberikan kemampuannya untuk kaum muslimin di medan-medan perang, apalagi untuk mendidik singa-singa dikandangnya untuk menjadi tentara Alloh, Robbul Alamin

Disadur dari:
Kitab

Bekal :

KETIKA MUJAHIDAH DITINGGAL SUAMI PERGI BERJIHAD

Sesungguhnya tidak ada yang tak sepakat diantara para ulama’ bahwa ibadah jihad adalah ibadah yang sangat berat, dia adalah ibadah yang paling tinggi nilainya dalam Islam , untuk itu perlu keseriusan dan kesabaran dalam menjalankan ibadah ini. Apalagi menjadi seorang istri mujahid, tidak gampang, tidak mudah, antara banyaknya kebaikan yang ia terima dan tanggungjawab yang harus dipikul … itulah seni bersuamikan seorang mujahid …
Permasalahan yang pokok untuk menjadi istri seorang mujahid adalah bila suami bepergian menunaikan kewajiban ibadah jihad sebagai komitmen terhadap tuntunan Rosululloh shollallhu ‘alaihi wasallam .
Disana ada beberapa akhlak untuk istri-istri yang ditinggal suaminya pergi berjihad, atau ketika suami diuji oleh Allah berlari-lari menjauh dari kejaran musuh Allah yang selalu tidak rela terhadap seorang mukmin yang selalu komitmen dalam perjalanan untuk mencari ridho Allah, maka inilah akhlak-akhlak sederhana semoga membantu para mujahidah yang sepanjang kurun dan sampai akan datang tidak akan berhenti untuk melahirkan para mujaid yang berarti, seperti syekh Abdulloh Azzam , Ibnu Khottob, Yahya Ayyas dan lainnya …..
Adapun akhlaq-akhlaq tersebut adalah :
1. Akhlaq terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala
2. Akhlaq terhadap anak didiknya
3. Akhlaq terhadap suami sebelum bepergian
4. Akhlaq terhadap tetangga
5. Akhlaq terhadap orang tua
6. Akhlaq terhadap mertua
7. Akhlaq terhadap Jama’ah
8. Akhlaq terhadap sesama kaum muslimin
9. Akhlaq ketika suami datang dari berjihad

1 – Akhlaq terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Seorang Akhwat yang ditinggal suaminya berjihad hendaklah ia berakhlaq sebagai berikut :
a. Banyak berdoa untuk suaminya karena doa seorang dalam keadaan ghaib (tidak kelihatan ) sangat banyak dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
b. Ikhlash dengan perginya suami ke medan tempur, ikhlash karena Allah Subhanahu wa Ta’ala , dengan menyadari, sesungguhnya semua amal akan menjadi sia- sia bila tidak ada dua syarat pokok : Pertama : Ikhlas Kedua : Sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosul-Nya ….. Ibadah jihad ini sesuai dengan tuntunan Allah dan rosul-Nya, maka diperlukan syarat ikhlash.
c. Bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berkata Ibnu Qoyyim : “ Sesungguhnya tawakkal itu ada dua pertama bertawakkal yang disengaja dan kedua bertawakkal karena keterpaksaan “. Bertawakkal yang disengaja lebih utama daripada bertawakkal karena keterpaksaan. Contoh : Seorang yang bertawakkal dengan terpaksa, ketika ia mendapat musibah banjir kematian ….kemudian ia bertawakkal, maka tawakkalnya terpaksa karena ada musibah yang memaksa ia bertawakkal, namun di sana ada seorang yang bertawakkal dengan sengaja ….. karena ia mengetahui resiko-resiko akibat yang ia kerjakan. Seorang berda’wah dan berjihad ia sudah menyadari bahwa resikonya mati syahid ..… maka ia kerjakan ibadah tadi. Inilah yang lebih afdhol.
Sebagaimana bertawakkal, begitu pula bersabar. Ibnu Qoyyim membaginya dengan dua sebagaimana diatas tadi. Ciri-ciri seorang yang bersabar bila ditinggal suaminya ;
1. Tidak banyak mengeluh dengan ditinggalnya suami, baik mengeluh kepada akhwat atau yang lainnya
2. Tidak kecewa akan keberangkatan suaminya dengan menyadari bahwa ini adalah pilihan untuk akherat kelak
3. Tidak menyalahkan orang lain atas keberangkatan suami ke medan perang karena menyadari bahwa resiko ini akan berbuah di akherat nanti .

2-Akhlaq terhadap anak didiknya :

Anak adalah amanah Allah yang diberikan kita semua, seorang istri yang mempunyai anak momongan dan ditinggal suaminya berjihad hendaklah ia berakhlaq sebagai berikut ;
1. Mendidiknya dalam naungan Al Qur’an dan As Sunnah
2. Mengawasi anak dalam bergaul sesama mereka.
Kalau dahulu ada abi’-nya yang mengawasi, kini ia harus berekstra untuk lebih diawasi. Ada beberapa keluarga mujahid sementara ditinggal abi-nya pergi dan keadaan anaknya tak karuan .
Kalau tak bisa mengantar sekolah. Jauh-jauh hari bisa di musyawarahkan dengan abi-nya, dan Insya Allah ikhwan yang lain akan memikirkan hal ini, kecuali ada hal hal yang imigrensi.

3-Akhlaq terhadap suami sebelum bepergian ;

1. Menyiapkan segala keperluan suami saat mau bepergian baik pakaian, celana ….dll
2. Melunasi seluruh tanggungan, hutang piutang suami bila ada, karena dalam sebuah hadist yang artinya : ” Seluruh amalan seorang syahid diterima oleh Allah kecuali hutang ”.
3. Berpesan kepada suami, agar membuat surat wasiat sebelum berangkat, karena mati itu tidak menentu …wasiat untuk keluarga ..wasiat untuk istri, wasiat untuk anak, untuk Jama’ah, wasiat untuk segenap ummat Islam
4. Mendoakan suami mendapat ridho Allah
5. memberikan spirit, mendorong agar teguh dalam komitmen terhadap Islam .

4. Akhlaq terhadap tetangga :

Seorang tidak mungkin hidup menyendiri, itulah fithrah dariAllah.
Hidup dengan tetangga , sebaiknya berakhlaq sebagai berikut:
1. Memberikan hak tetangga sesuai dengan porsinya
2. Bila tetangga seorang kafir harus hati hati menyimpan rahasia kepergian suami
3. Bila tetangga seorang muslim taat, diceritakan dengan kalimat yang umum, dengan tujuan berda’wah semoga suaminya bisa berangkat
4. Disarankan untuk tidak terlalu mendetel menceritakan kepada anak, karena anak akan cepat bersosialisasi dengan tetangga sehingga tetangga tahu kepergian suami dari anak
5. Tidak sering berintraksi dengan tetangga walaupun ia seorang muslim karena akan cenderung ghibah, sehingga dikhawatirkan membuka rahasia suami.

5. Akhlaq terhadap orang tua :

Dengan orang tua dan keluarga sabaiknya berakhlaq sebagai berikut:
1. Bila orang tua muslim yang taat apalagi multazim hendaknya diceritakan apa adanya kecuali tehadap ibu, karena ibu jarang yang bisa memahami akan aktifitas suami
2. Bila seorang yang belum mengerti, diceritakan dengan kalimat yang global
3. Memohon doa dari orang tua semoga cepat pulang dan selamat

6. Akhlaq terhadap mertua :

1. Bila mertua orang yang mengerti, diceritakan apa adanya dan tidak terlalu mendetail
2. Mengajak anak anak untuk kunjung ke mertua dan tidak berlama -lama, karena dirumah mertua sudah dipastikan ketemu ipar-ipar, sedang sabda baginda rosululloh yang artinya : “ Ipar itu membuat mati ”.
3. Bila ditanya tentang khabar suami, dijawab seperlunya, tidak menceritakan berita sedih tentang suami, salah satu cobaan yang berat bila suami syahid, ini mempunyai adab sendiri untuk meceritakan hal ini, dan jama’ah yang akan memahamkan berita ini .

7. Akhlaq terhadap Jama’ah:

BerJama’ah atau menggabungkan diri dengan sebuah Jama’ah apalagi Jama’ah jihad bukan berarti ta’ashub dengan jama’ah tadi. Sseorang istri jauh jauh sudah memahami aktifitas suami apalagi lembaga yang ikut mengatur rotasi ibadah jihad ini. Untuk itu seorang mujahidah dalam berakhlaq dengan sebuah jama’ah hendaklah berperangai sebagai berikut:
1. Berhusnudhon terhadap Jama’ah, kepergian suami semata-mata karena untuk meringankan beban dalam menyeleseikan problematika ummat yang paling besar adalah “ Cinta dunia dan takut mati”
2. Tidak sering-sering menanyakan akan kepulangan suami. Insya Allah Jama’ah sudah mempunyai standar dalam merotasikan ibadah ini. Minimal empat atau enam bulan. Sesuai dengan kejadian pada masa umar rodhiyallahu ‘anhu, ada seoranag wanita muslimah yang di tinggal suaminya berjihad dan tidak pulang-pulang, maka Umar bertanya kepada muslimah tadi : “ Sebenarnya…berapa lama seorang muslimah kuat ditinggal suaminya ? “ jawab wanita tadi : “ Empat bulan “. ( Ini ketika jihad fardhu kifayah. Akan tetapi ketika fardhu ‘ain maka tidak ada batasnya sampai hokum jihad itu berubah menjadi fardhu kifayah ).
3. Tidak menerima informasi kecuali dari Jama’ah atau ikhwan yang ditugasi dalam menyampaikan informasi,sehingga tidak menyesal dikemudian hari. Sesungguhnya salah satu problem dalam Jama’ah ini kurang teraturnya lalu-lintas informasi sehingga banyak bias dari informasi yang benar atau banyak tafsiran-tafsiran yang akhirnya menimbulkan kesalah-pahaman sesama keluarga ikhwan
4. Tidak menyalahkan Jama’ah bila suami mengalami ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
5. Tidak terlalu membanggakan suami dengan kepergiannya ke medan perang (dengan mengumbar cerita sesama akhwat).
6. Menghadiri pertemuan ummahat bila tidak memberatkan, karena dengan tatap muka sesama akan menjadi perekat Jama’ah.

8. Akhlaq terhadap sesama kaum muslimin :

Terhadap segenap kaum muslimin hendaklah berakhlaq sebagai berikut:
1. Peduli akan ummat. Dengan selalu membaca berita tentang tertindasnya dhuafa’ul muslimin ( kaum muslimin yang lemah) di penjuru dunia
2. Mendukung segala aktifitas ummat dalam tahridhuljihad (program mengumandangkan jihad).
3. Membenci musuh musuh Islam dan muslimin dengan tidak membeli prodak- prodak musuh-musuh Allah terutama Yahudi dam Amerika.
4. Berdoa untuk ummat Islam yang tertindas.

9. Akhlaq ketika suami datang dari berjihad :

Setelah lama ditinggal, maka seorang istri mujahidah hendaklah dalam menjemput kedatangan suami mempunyai akhlaq sebagai berikut:
1. Menaburkan senyum pertama, sebagai ungkapan rindu berat karena lama ditinggal.
2. Menuangkan segala keluh kesah dihadapan suami tanpa berlebihan
3. Menceritakan kepada anak-anak bahwa abi-nya baru dari jihad agar dikemudian hari anak ketularan senang berjuang dijalan Allah.
4. Mendorong suami untuk lebih semangat lagi dalam urusan jihad .
5. Mengajak suami untuk bekerja keras mencari nafkah guna membiayai jihad yang akan datang. Sebagaimana para mujahidin Afghanistan. Bila dalam satu keluarga ada empat maka digulir yang dua berangkat yang lainnya mencari nafkah, dengan waktu min imal empat bulan. Inilah rotasi yang indah dikehidupan mujahidin …
6. Senantisa berdoa semoga suaminya tetap istiqomah karena tidak sedikit suami yang datang dari jihad malah tidak aktif lagi karena dikecewakan oleh personal anggota Jama’ah. Dengan menyadari bahwa ukuran sebuah Jama’ah bukan di ukur oleh personal yang ada, namun konsepnya apakah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosululloh shollallhu ‘alaihi wasallam.

Demikianlah sekilas serpihan dari untaian akhlaq muslimah, mujahidah, multazimah terhadap ajakan Allah dan Rosul-Nya. Khususnya ibadah jihad ini.
Kepada ummahat yang ditinggal suaminya….. Inilah indahnya bersuamikan seorang mujahid …
Kepada ummahat yang suaminya belum berangkat ….. akan lebih indah kehidupan berumah tangga bila suami berangkat. Karena hikmah dari indahnya perjalanan ini bahwa sangat tidak enak bila suami selalu berdampingan terus, bila di tinggal, maka akan menumbuhkan kehidupan yang baru dan menambah kesetiaan terhadap suami .
Untuk akhwat yang belum menikah…..apapun kekurangan mujahidin maka dia masih mempunyai nilai plus dibanding yang lainnya, ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat An nisa’ dan Sabda Rosululloh bahwa, sebaik -baik ibadah setelah beriman kepada Allah adalah berjihad di jalan Allah. Indah nya hidup bersama mujahid ….. ketika harus bersusah payah dalam mencari ridhoAllah …
Indahnya hidup bersama mujahid ..… ketika ia hidup dalam naungan Al Qur’an dan As Sunnah ..…
Indahnya bersuamikan seorang mujahid….. ketika ia harus mempertaruhkan segala kehidupan dunia untuk kehidupan akherat kelak.

Hiduplah semau kamu karena itu akan
engkau tinggalkan
Cintailah semua yang engkau cintai …..
Ingatlah semua itu akan berpisah …
Berbuatlah apa saja yang ingin anda berbuat …..
Ingatlah semua itu akan ada balasan nya….

Wallahu ‘Alam Bisshowab

Penutup
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan manusia mulia sebagai contoh dalam kehidupan, suri tauladan dan pelajaran bagi orang-orang yang mau memperbaiki diri.
Dengan izin Allah selesailah penyusunan buku ini. Walaupun sederhana namun isi dan maknanya tidak sesederhana bukunya.
Kisah ini bagaikan intan permata yang berharga, khususnya bagi yang sedang mengarungi bahtera keluarga. Kehidupan keluarga mujahid yang hidupnya dihabiskan untuk jihad fie sabilillah dan mengejar syahid.
Semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Amien

NB. Bila anda sudah selesai membaca buku ini, berilah kesempatan teman lainnya untuk dapat menikmati isinya. Jazakumullah khoiron

Bumi Allah, 12 Robiuts Tsani 1425 H.

Hamba Allah Yang Fakir

( Abdullah Amany Syahid )

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Al Jihad, NASEHAT, True Story. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s