Seri Al Ghuluw Fit Takfier {Seri ke 17 Tidak Membedakan Antara Tawali Yang Mengkafirkan Dengan Mempergauli Orang Kafir Dengan Ma’ruf }

Tidak Membedakan Antara Tawali Yang Mengkafirkan

Dengan Mempergauli Orang Kafir Dengan Ma’ruf

Diantara kekeliruan yang sering terjadi dalam hal takfir juga adalah tidak membedakan antara tawalli mukaffir dengan memperlakukan orang kafir dengan baik atau ihsan kepadanya dan baik kepadanya untuk mashlahat dakwah atau yang serupa dengannya.

Mempergauli kedua orang tua yang kafir dengan baik adalah sah lagi benar dengan berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”. (Luqman : 15)

Mencintai kebaikan dan hidayah bagi keduanya atau orang-orang kafir lainnya adalah sesuatu di luar mencintai mereka, dan di luar sikap berkasih sayang dengan mereka dan loyalitas terhadap mereka yang terlarang. Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah membedakan antara dua hal dengan firman-Nya yang indah:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusik kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesunggunya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”. (Al Mumtahanah: 8-9)

Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara berbuat baik, bersikap adil dan ihsan dengan tawalli yang mengkafirkan. Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak melarang yang pertama dan melarang dari yang kedua di sini dan di ayat-ayat lainnya.

Dan sudah dimaklumi bahwa laki-laki muslim boleh menikah wanita ahlul kitab (padahal dia itu) kafir. Bila saja hal itu boleh, maka tidak ragu lagi boleh duduk bersamanya, makan bersamanya, menjabat tangannya, bercumbu dengannya dan yang lainnya berupa mu’asyarah bil ma’ruf (pergaulan dengan baik) yang mana Allah Ta’ala memerintahkan sang suami untuk melakukannya dengan perintah yang bersifat umum. Dan dia juga menjadikan di antara mereka kasih sayang dan kecintaan yang bersifat thabi’iy (alami). Jadi bagi si isteri yang kafir dari hal itu ada kecintaan khusus yang dikecualikan dari umumnya larangan dari menjalin cinta kasih dengan orang-orang kafir.

Dan ini semuanya mengisyaratkan kepada ketidakbenaran lontaran sebagian orang-orang yang sembarangan tentang takfier dalam bab-bab ini. Dan yang penting bagi saya untuk mengingatkannya di sini adalah bahwa kondisi mendakwahi, melunakan hati (ta-liful qulub) dan menjelaskan dien dengan hikmah dan mau’idhah hasanah (cara yang baik), disyariatkan di dalamnya sikap lembut dalam mengajak bicara, jidal (berdebat) dengan cara yang lebih baik, mempergauli dengan cara terbaik serta wajah berseri. Dan hal itu lebih ditekankan lagi dilakukan terhadap orang-orang yang antusias terhadap mendengarkan dakwah ini. Itu sama sekali tidak bertentangan dengan sikap keras, kasar dan memanas-manasi yang Allah perintahkan hal itu di tempatnya dalam medan jihad dan qital. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahannam dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali (At Tahrim: 9)

Dan Allah Ta’ala berfirman juga:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menentukan kekerasan dari padamu. Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. (At Taubah: 123)

Kondisi qital (perang) memberikan pelajaran musuh-musuh Allah, membuat jera orang-orang yang mencela Islam, serta menjihadi kaum zanadiqah (zindiq), para penghina dan para pengolok-olok dien Allah Ta’ala serta yang lainnya … Berbeda dengan kondisi mendakwahi dan menyampaikan yang telah Allah subhanahu wa Ta’ala firmankan tentangnya:

“Dan bila seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui “. (At taubah: 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk melindungi orang musyrik, menjaganya dan memberikan jaminan keamanan baginya meskipun dia itu harbiy selama dia telah menampakkan keinginan untuk mendengarkan dakwah. Sedangkan ini memastikan dan menunjukan secara isyarat atas kebolehan menghormatinya, yaitu berupa menyediakan makanannya, memberikan tempat tinggal untuknya, memperlakukannya serta mempergaulinya dengan baik sampai ia mendengar dakwah ini secara sempurna lagi jelas. Kemudian seandainya ia tidak beriman, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengantarkannya setelahnya ke negerinya dengan aman sejahtera tanpa ada gangguan dan teror.

Dalam ini semuanya terdapat dalil terhadap wajibnya membedakan antara orang yang memiliki keinginan untuk mendengarkan dakwah atau orang yang baru didakwahi, baik dari kalangan harbiy atau lainnya, dengan orang yang berpaling atau mustakbir (keras kepala).

Sungguh saya telah melihat banyak orang yang berlebih-lebihan tanpa ada dalil, mereka bersikap keras dan mempersulit terhadap orang yang berbuat baik terhadap sebagian orang-orang kafir atau bergaul dengan mereka atau bermu’amalah dengan mereka atau mengajak bicara mereka dengan lembut dalam rangka menyampaikan dakwah kepada mereka dengan cara terbaik tanpa sedikitpun mudahanah atau kecenderungan, terutama keadaan sekarang adalah keadaan istidl’af (ketertindasan/lemah) dan kondisinya bukan kondisi perang.

Namun demikian, bila saja realita, saya melihat dan mendengar dari mereka berupa sikap kasar dan keras, yang mana itu menyumpal kerongkongan mereka dan membuat sempit dada mereka… Dan bersama itu semua orang-orang yang berlebih-lebihan itu mengingkari sikap lembut ini dan menjadikannya sebagai mudahanah, bahkan di antara mereka ada yang menjadikannya sebagai bentuk tawalli. Kita memohon kepada Allah Ta’ala keselamatan dan ’afiyah.

Dan bisa jadi sebagian mereka berhujjah dengan ayat-ayat Al Mumtahanah yang telah disebutkan, padahal ayat-ayat itu adalah hujjah atas mereka dan bukan hujjah bagi mereka. Di dalamnya Allah Yang Maha Terpuji sama sekali tidak melarang dari berbuat baik dan berbuat adil, terutama dalam rangka dakwah dan menyampaikan, namun Dia hanya melarang dari tawalli dengan bentuk larangan umum dalam banyak ayat-ayat Kitab-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian mereka mengklaim bahwa Al Muharibin (orang-orang kafir harbi) secara umum (keseluruhan) tidak ada (sikap) bagi mereka kecuali keras dan kasar dan bahkan sebagian mereka memasukan dalam hal itu dan menganggapnya termasuk sikap keras yang disyariatkan; ucapan kasar dan hinaan murni yang padahal Allah Ta’ala telah melarang kaum mu’minin dari melakukannya… Sehingga pada akhirnya dengan sikap itu mereka telah mencoreng wajah dakwah yang bercahaya dan telah berbuat aniaya terhadap dien ini dengan sebab pemahaman mereka yang buruk.

Mereka lalai (tidak jeli) bahwa kata muharabah(memerangi) dalam istilah para fuqaha mencakup : setiap orang (kafir/musyrik) yang tidak ada antara dia dengan kaum muslimin ’ahd (perjanjian damai), dzimmah (ahlu kitab dan yang lainnya yang mau hidup dalam naungan islam dan dia tetap di atas diennya dengan syarat bayar jizyah), amaan (jaminan keamanan) dan jiwaar (jaminan perlindungan), meskipun dia dari kalangan yang tidak ikut berperang, sehingga masuk didalamnya para wanita yang tidak ikut berperang, anak-anak, lanjut usia dan semacam mereka dari kalangan yang bukan ahlul qital, dan mereka tidak mampu mengusir kita dari negeri kita dan tidak membantu (orang lain) untuk mengusir kita. Sesungguhnya mereka itu seluruhnya masuk dalam istilah harbiyyin dari kalangan penduduk Darul Harbiy meskipun mereka itu bukan tergolong ahlul qital. Jadi Muqatil itu lebih khusus dari Muharib. Dan oleh karena itu para mufassirun menyebutkan dalam asbab nuzul ayat-ayat (Al Mumtahanah) itu hadits tibanya Ibu Asma Binti Abu Bakar radhiyallahu anha dari Mekkah dengan membawa hadiah, pakaian, keju, dan Iqth (macam makanan) untuk menziarahi Asma radhiyallahu anha, dan Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa salam mengizinkan Asma radhiyallahu ’anha untuk memperbolehkannya masuk rumahnya dan menerima bingkisan-bingkisannya.

Dan kesimpulannya bahwa kondisi mendakwahi dan sikap yang diperbolehkan di dalamnya terhadap Harbiyyin atau yang lainnya adalah berbeda dengan kondisi perang, memberikan pelajaran terhadap tokoh-tokoh kekafiran dan mengusir para pencela dan kaum keras kepala dari kalangan orang-orang yang berpaling dari dakwah atau orang-orang yang memperolok-olokannya.

Adapun mendakwahi mereka untuk pertama kalinya, maka sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus Nabi-Nya Musa ’alaihis salam kepada thaghut zamannya dan tokoh pimpinan Al Muharibin dan Al Muqatilin terhadapnya dan terhadap kaumnya. Dia memerintahkan Musa ’alaihis salam dan saudaranya untuk memulai mendakwahi Fir’aun dengan ucapan yang lembut padahal Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mensifati Fir’aun, dengan thugyan (Thaghut /melampui batas), Dia berfirman:

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampui batas, maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat (sadar) atau takut. (Thaha : 43-44)

Maka beliau memulainya dengan hal itu sebagaimana yang Allah Subahanahu wa Ta’ala firmankan kepada mereka, kemudian tatkala dia berpaling, menolak, bersikukuh dan keras kepala serta justru mengancam, menteror, menakut-nakuti, maka Dia berkata kepada Musa ’alaihis salam:

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, Maka Tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, Hai Musa, seorang yang kena sihir”. (Al Isra: 101)

Maka Musa berkata kepadanya :

”Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan Sesungguhnya aku mengira kamu, Hai Fir’aun, seorang yang akan binasa”. (Al isra’: 102)

Dan begitu juga Khalilur Rahman Ibrahim ’alahis salam, dia mengajak bicara kaumnya dalam status mendakwahi dengan bijaksana dan mau’idhah hasanah, beliau mendebat mereka dengan hujjah serta menampakkan keseriusannya agar ayahnya mendapat hidayah, di mana engkau bisa mendapatkan beliau berkata:

”Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. (Maryam: 43-45)

Dan yang serupa dengannya.

Dan dalam kondisi keberpalingan mereka, serta sikap membantah mereka dengan kebatilan yang mereka lakukan padahal hujjah sangat jelas, Ibrahim ’alaihis salam berkata kepada kaumnya yang di antaranya ayah Ibrahim ’alaihis salam:

“Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami?”. (Al Anbiya’ : 67)

Dan firman Nya Subhanahu wa Ta’ala :

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Al-Mumtahanah: 4)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim ’alaihis salam dalam sikap terhadap ayahnya :

”Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya.” (At Taubah: 114)

Dan begitu juga Khatamul Anbiya wal Mursalin shalallahu ’alaihi wa salam, beliau sungguh orang yang sangat serius menginginkan kaumnya dan keluarga terdekatnya mendapatkan hidayah, beliau mengingatkan mereka dengan siksa neraka serta mengajak mereka untuk menyelamatkan diri mereka darinya.

Beliau terus menerus selalu mendakwahi pamannya Abu Thalib, dan beliau berharap dia mendapat hidayah, (beliau lakukan itu) hingga akhir nafasnya.

Dan dalam kondisi kaumnya memperolok-olokan beliau dan melecehkannya serta bersikap menentang, engkau dapatkan beliau berkata kepada mereka: “Kalian dengar wahai sekalian Quraisy, sungguh demi Dzat Yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya aku tidak telah kepada kalian dengan penyebelihan” (Musnad Ahmad (7036) Tahqiq Ahmad Syakir).

Jadi wajib membedakan dalam dialog dan adu bicara antara orang yang mau mendengar terhadap dakwah, mau memperhatikan serta berkeinginan untuk mengetahuinya, dengan orang yang menjadikan dakwah ini sebagai bahan perolok-olokan dan mainan atau berpaling dan keras kepala.

Dan juga wajib dibedakan antara orang yang baru didakwahi dengan orang yang sudah lama dan justru tenggelam dalam keberpalingan dan sikap keras kepala padahal sudah didakwahi dan dakwah sampai kepadanya. Ini semuanya tergolong hikmah dan mau’idhah hasanah serta siasat syar’iyyah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, dan juga sudah dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa salam dalam sirahnya, sunahnya, dan tuntunannya.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merinci hal itu dalam Kitab-Nya. Dia menyebutkan sikap keras dan kasar dalam suatu kondisi, dan Dia Ta’ala menyebutkan lemah lembut dalam suatu kondisi, juga Dia sebutkan hikmah dan mau’idhah hasanah di suatu kondisi, serta beliau sebutkan ungkapan yang keras di suatu kondisi. Siapa orang yang menjadikan masing-masing pada tempatnya yang sesuai maka dia mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berhasil sekali di dalam dakwahnya.

Dan diantaranya Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl: 125)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata saat menjelaskan ayat ini :

(Manusia ada tiga macam):

F      Orang yang mengakui kebenaran dan mengikutinya, maka ia adalah orang (yang didakwahi dengan) hikmah.

F      Orang yang mengakui kebenaran, namun tidak mengamalkannya maka ia diberi nasehat sampai mengamalkan.

F      Dan orang yang tidak mengakuinya, maka dia ini dibantah dengan cara yang baik.

Dikarenakan bantahan biasanya sumber mendatangkan kemarahan, bila ia dilakukan dengan cara yang lebih baik maka terbuktilah manfaatnya semaksimal mungkin seperti menahan musuh yang menyerang). Majmu Al Fatawa 2/33 Dar Ibnu Hazm.

Di tempat lain beliau berkata (Al Fatawa 3/159). (Dan Allah Ta’ala berfirman):

“Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (Al ‘Ankabut: 46).

Maka bila orang yang diajak dialog itu berbuat zalim, berarti kita tidak diperintahkan untuk menanggapinya dengan cara yang lebih baik, justru Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu berkata: “Sesungguhnya saya melihat para penakut di antara manusia, layak mereka itu lari dan meninggalkan engkau” Beliau berkata: “Jilatlah kemaluan Latta, apakah kami lari darinya dan meninggalkannya”. (HR Al Bukhari Kitab Asy Syuruth 2731-2732).

Padahal sudah maklum bahwa kekuatan itu hanyalah bagi Allah tabaraka wa Ta’ala, Rasul-Nya dan orang-orang mu’min, siapa saja mereka itu, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”  (Ali Imran: 139).

Siapa saja orang yang beriman, maka ialah yang tinggi (derajatnya) siapa saja orangnya. Dan siapa yang menentang Allah dan RasulNya, maka Dia Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan RasulNya, mereka Termasuk orang-orang yang sangat hina.” (Al Mujadilah: 20)

Perhatikanlah ucapannya ini dan ucapannya itu, sesungguhnya bagi setiap kondisi ada ungkapan (yang sejalan dengannya) … Dan siapa yang membaurkannya, maka terkaburlah urusannya dan iapun membuat pengkaburan atas manusia.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah menjadi tauladan tertinggi dalam hal berbuat baik dan ihsan kepada kaumnya yang memeranginya karena dasar agama, mereka menindas para sahabatnya, mereka mengusirnya dari kampung halamannya dan membantu (orang lain) untuk mengusirnya, sungguh beliau berbuat baik kepada mereka dengan sebaik-baiknya saat beliau masuk ke  kota Mekkah saat penaklukkannya, kemudian beliau membebaskan mereka padahal mereka itu orang-orang kafir, dan hari itu pula mereka berkata: “Saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia.” Kemudian mereka masuk islam berbondong-bondong.

Beliau memberikan kebebasan sebelumnya kepada sekelompok orang di lembah Mekkah, padahal mereka itu telah berniat membunuh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Kemudian Allah Ta’ala memberikan kesempatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk menawan 80 orang, terus beliau membebaskan mereka tanpa tebusan. Apakah di atas ini ada ihsan yang menandinginya?.

Dan seandainya kita menelusuri petunjuk beliau Shalallahu ‘alahi wa salam dan sikapnya dalam hal ini, tentulah bahasannya panjang. Dan sudah diketahui pengaruh hal ini terhadap ketertarikan manusia kepada dienullah.

Dan di antara hal itu: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terkadang menerima hadiah orang-orang kafir dan membalas memberi hadiah kepada mereka, sebagaimana dalam Shahih Al Bukhari (Kitab Al Hibah) (Bab menerima hadiah dari Musyrikin) dan (bab memberi hadiah kepada kaum musyrikin) dan juga dalam Al Bukhari (Kitab Al Mardla) (Bab menjeguk orang musyrik).

Dari Anas radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam menjenguk anak kecil yahudi yang pernah membantu-bantu beliau, dan beliau mengajaknya kepada Islam, terus dia masuk islam sebelum meninggal.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu “bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam didatangi tamu kafir, maka beliau menyuruh (orang) untuk memerah susu kambing, kemudian orang kafir itu meminumnya, kemudian kambing lain, kemudiam kambing lain sampai ia minum tujuh kali perahan 7 kambing, kemudian dia masuk islam di pagi hari, dan beliau menyuruh diperahkan baginya dan dia meminumnya, kemudian kambing lain, dan ia tidak bisa menghabiskannya.” Asal hadits ini ada di dalam Al Bukhari.

Allah tabaraka wa Ta’ala berfirman saat memuji orang-orang mukmin:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al Insan: 8)

Sedangkan pada umumnya tawanan kaum muslimin adalah dari kalangan orang-orang kafir harbi yang terjun perang.

Dan jika menelusuri ini maka panjang sekali……. Dan ia bermanfaat bagi setiap yang mencari al haq.

Dan bermanfaat juga bagi orang-orang yang berlebih-lebihan itu, dengannya mereka memperluas wawasannya, serta mereka semakin bertambah bashirah, hikmah dan kematangannya.

Jadi harus membedakan dalam hal takfir antara tawalli mukaffir yang telah Allah Subahnahu wa Ta’ala nashkan dalam Kitab-Nya bahwa itu salah satu sebab kekafiran yang nyata, dengan mempergauli orang kafir dengan baik, ihsan kepadanya serta lemah lembut dalam mengajak bicara dia dalam rangka mendakwahinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan yang lainnya.

Jadi tidaklah mengkafirkan (orang) dengan sebab perlakukan ini kecuali orang yang ngawur yang telah mempertaruhkan agamanya …. Maka dosanya ditanggung sendiri.

//

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s