Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 16 Tidak membedakan Antara Al Iman Al Haqiqiy Dengan Al Iman Al Hukmiy)

Tidak membedakan Antara Al Iman Al Haqiqiy Dengan

Al Iman Al Hukmiy

Termasuk kekeliruan yang sering terjadi dalam takfier juga adalah tidak membedakan antara al iman al haqiqiy dengan al iman al hukmiy, serta antara taubat bathinah (yang tersembunyi) dengan taubat hukmiyyah.

Al Iman Al Haqiqiy: adalah tergolong hal-hal ghaib yang tersembunyi yang hukumnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan inilah yang berlaku atas dasarnya hukum-hukum akhirat di sisi Allah Ta’ala berupa pahala dan siksa.

Sedangkan Al Iman Al Hukmiy: adalah suatu yang nampak, yang dengan dasarnya dibedakan antara orang muslim dengan orang kafir, dan inilah yang sama artinya dengan al islam al hukmiy yang dengannya darah dan harta terjaga. Keterjagaan (‘ishmah) ini tetap di awal mulanya dengan ikrar akan dua kalimat syahadat, atau dengan suatu yang menempati posisi dua kalimat syahadat berupa ciri-ciri khusus islam dengan disertai tidak melakukan satupun dari pembatal-pembatal keislaman yang nyata.

Syaikhul islam berkata dalam Kitabul Iman: (Al Iman adh dhahir yang berlaku di atasnya hukum-hukum di dunia ini tidak memastikan (keberadaan) al iman al bathin yang mana orangnya tergolong orang-orang yang bahagia di akhirat). Al Fatawa terbitan Daar Ibnu Hazm 7/133.

Dan berkata pula (7/136) (Allah ta’ala tatkala memerintahkan memerdekakan budak yang mu’min dalam kaffarah, maka tidak ada kewajiban atas manusia untuk memerdekakan orang yang mereka ketahui ada keimanan di dalam hatinya, karena sesungguhnya hal ini adalah seperti seandainya dikatakan kepada mereka: Bunuhlah kecuali orang yang telah kalian ketahui bahwa iman ada di hatinya: Dan mereka tidak diperintahkan untuk mengorek hati manusia dan untuk merobek perut mereka, kemudia bila mereka melihat orang yang menampakkan keimanan maka boleh bagi mereka memerdekakannya, di mana pemilik budak wanita berkata bertanya kpd Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam:”Apakah dia mu’minah? Dia itu hanya memasukan al iman adh dhahir yang dengannya dibedakan antara muslim dengan kafir.

Dan berkata (7/137): (Dan yang dimaksud adalah bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam hanyalah mengabarkan tentang budak wanita itu dengan keimanan yg nampak yang dengannya dikaitkan hukum-hukum yang dhahir).

Hingga ucapannya: (Maka wajib dibedakan antara ahkamul mu’minin yg dhahir yang mana manusia dihukumi dengannya di dunia dengan hukum mereka di akhirat berupa pahala dan siksa. Orang mu’min yang berhak akan surga mesti sebagai mu’min dalam hukum bathin dengan kesepakatan semua ahli qiblat).

Dan berkata (7/138): (Dan pekuburan yang diperuntukan bagi kaum muslimin pada masa beliau dan masa khalifah dan sahabatnya dikubur di dalamnya setiap orang yang menampakkan keimanan walaupun dia itu munafiq dalam hukum bathin, dan kaum munafiqin tidak memiliki kuburan khusus yang berbeda dari pekuburan kaum muslimin di Negara Islam, sebagaimana kaum yahudi dan nasrani memiliki pekuburan khusus. Dan siapa yang dikubur di pemakaman kaum muslimin maka kaum muslimin menshalatinya, sedangkan menshalatkan orang yang diketahui kenifakannya adalah tidak boleh dengan nash Al Qur’an, maka diketahuilah bahwa hal itu di bangun di atas iman yang dhahir, dan Allah Ta’ala lah yang menangani hal-hal yang tersembunyi). Terbitan Daar Ibnu Hazm.

Dan berkata juga: (Iman yang dikaitkan dengannya hukum-hukum dunia adalah al iman adh dhahir, yaitu islam. Penamaan adalah satu dalam hukum-hukum dhahir, oleh sebab itu tatkala Al Atsram menuturkan kepada Ahmad berhujjahnya kaum Murji’ah dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam: ”Merdekakanlah dia karena dia itu mu’minah”, maka beliau menjawabnya bahwa yang dimaksud adalah hukum dia pada hukum dunia ialah hukum mu’minah, beliau tidak memaksudkan bahwa dia itu mu’minah di sisi Allah Ta’ala lagi berhak masuk surga tanpa (terlebih dahulu masuk) neraka bila dia berjumpa Allah dengan sekedar pengakuan ini).

Dan berkata pula saat beliau menuturkan perselisihan ulama tentang status anak-anak orang kafir: (Dan sumber kesamaran dalam masalah ini, tersamarnya hukum-hukum kekafiran di dunia dengan hukum-hukum kekafiran di akhirat, karena sesungguhnya anak-anak orang kafir tatkala berlaku atas mereka hukum-hukum kufur dalam urusan dunia, seperti tetapnya perwalian mereka bagi bapak–bapak mereka, hadlanah (pengurusan) bapak-bapak mereka terhadapnya, pemberian keleluasaan bagi bapak-bapak mereka untuk mengajari dan mendidik mereka, saling mewarisi antara mereka dengan bapak-bapak mereka, menjadikan mereka sebagai budak bila bapak-bapak mereka itu kafir harbiy, dan hal lainnya, maka mendugalah orang yang menduga bahwa mereka itu adalah orang-orang kafir pada keadaan sebenarnya, seperti orang yang mengucapkan dan melakukan kekafiran. Bila diketahui bahwa keberadaan mereka telah dilahirkan di atas fithrah itu tidak menafikan keberadaan mereka mengikuti bapak-bapaknya dalam hukum-hukum dunia, maka lenyaplah syubhat itu.

Bisa saja di negeri kafir ada orang mu’min secara rahasia yang menyembunyikan imannya di mana kaum muslimin tidak mengetahui keadaannya, yang bila kaum muslimin memerangi orang-orang kafir maka mereka membunuhnya, dia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan dikubur bersama kaum musyrikin, sedangkan ia di akhirat tergolong kaum mu’minim ahlul jannah, sebagaimana kaum munafiqin berlaku atas mereka hukum-hukum kaum muslimin, sedangkan mereka di akhirat berada di dasar yang paling bawah dari api neraka. Jadi hukum negeri akhirat berbeda dengan hukum negeri dunia). (Dar’u Ta’arudlil ‘Aqli wan Naqli 8/432-433).

Sungguh Allah Ta’ala telah membedakan antara dua macam ini dalam firman-Nya Ta’ala:

”Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir.” (Al Mumtahanah: 10)

Firman-Nya Ta’ala: “Allah lebih mengetahui tentang keimanaan mereka“yaitu hakikat keimanan mereka

Dan firman-Nya Tabaraka wa Ta’ala: “Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman“yaitu sesuai apa yang nampak bagi kalian, yaitu al iman al hukmiy oleh sebab itu Sufyan Ats tsaury, Ibnul Mubarak dan kalangan salaf lainnya berkata: (manusia di sisi kita adalah mu’minun dalam hal warisan dan hukum-hukum (lainnya), dan kita tidak mengetahui bagaimana mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla). (Dikeluarkan oleh Al Khallal dalam As SUnnah 3/567, Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra 2/872).

Dan atas dasar ini maka syarat-syarat (Laa ilaaha illallah) dan pembatal-pembatal keislaman yang disebutkan para ulama dalam kitab-kitab mereka; di antaranya ada yang berkaitan dengan al iman al haqiqiy, yaitu syarat-syarat dan pembatal-pembatal yang tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala, seperti ikhlas atau syirik bathin yang merupakan lawannya, shidq (jujur/benar) dan apa yang menggugurkannya berupa takdzib qalbiy (pendustaan hati), dan al yaqin yang menggugurkannya berupa keraguan, serta hal-hal serupa itu berupa hal-hal tersembunyi yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Tidaklah sah dan tidak layak takfier dengannya dalam hukum dunia, karena ia adalah sebab-sebab yang tidak nampak lagi tidak mundlabith (baku). Maka bagaimana hukum takfier dikaitkan dengannya? Dalam hukum dunia yang dilihat itu hanyalah apa yang nampak dari syarat-syarat atau pembatal-pembatal itu, sehingga terbuktilah hukum keislaman bagi seseorang dan dia di perlakukan sebagai kaum muslimin, di mana darah dan hartanya terjaga bila ia mendatangkan syarat-syarat islam hukmiy, sedangkan sarirahnya (bathinnya) diserahkan kepada Allah.

Syaikh Hafidh Al Hakamiy berkata dalam Ma’arijul Qabul 2/608: (Kemudian ketahuilah wahai saudaraku semoga Allah ta’ala meluruskan kami dan engkau, bahwa komitmen dengan dien yang dengannya dikaitkan keselamatan dari kenistaan dunia dan adzab akhirat, serta dengannya seorang hamba meraih surga dan dijauhkan dari neraka, ia itu hanyalah komitmen yang sesuai dengan hakikat sebenarnya dalam setiap apa yang di sebutkan dalam hadits Jibril ‘alaihi salam, dan ayat-ayat serta hadits-hadits lain yang semakna.

Sedangkan komitmen yang tidak sesuai dengan hakikatnya dan tidak nampak dari orang itu suatu yang membatalkannya, maka diberlakukan atasnya hukum-hukum kaum muslim di dunia, dan sarirahnya (bathinnya) diserahkan kepada Allah ta’ala. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kemudian bila mereka taubat (dari syirik atau kekafirannya), mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka lepaskanlah mereka” (At Taubah: 5)

Dan dalam ayat lain:

”Maka mereka itu ikhwan kalian dalam dien (ini)” (At Taubah: 11)

Serta ayat-ayat lainnya.

Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menggantungkan keterjagaan darah dan harta, serta mengantungkan ukhuwwah fiddien dengan hukum-hukum, syiar-syiar dan bangunan-bangunan (islam) yang dhahir, tidak dengan suatu yang samar dan tersembunyi.

Dan juga tidak disyaratkan untuk islam hukmi bahkan tidak pula untuk islam haqiqiy apa yang diduga sebagian orang berupa kemestian menghafal syarat-syarat (Laa ilaaha illallah) atau menghafal maknanya dan pembatal-pembatalnya serta mengetahui rinciannya  sebagaimana yang dijabarkan ulama dalam kitab-kitab mereka. Sungguh tidak seorangpun yang  bisa  mengklaim bahwa budak wanita yang ditanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam “Di mana Allah” dan beliau hukumi sebagai wanita mukminah, atau orang lainnya dari kalangan arab baduai dan awam kaum muslimin yang diperlakukan sebagai muslim secara dhahir oleh Rasulullah, bahwa mereka itu mengetahui rincian-rincian itu semuanya, atau bahwa mereka itu atau yang lainnya diharuskan untuk menghapal hal itu atau disyaratkan terhadap mereka menguasai hal itu agar dihukumi sebagai orang islam.

Syaikh Hafidh Al Hakami berkata dalam Ma’arijul Qabul pada ucapannya: Dengan tujuh syarat ia telah dibatasi.

Dan memang itulah yang telah terdapat dalam nash-nash wahyu-Nya.

Karena sesungguhnya orang yang mengatakannya tidak mengambil manfaat

dengan sekedar pengucapan kecuali bila ia menyempurnakan syarat-syaratnya.

Dan makna penyempurnaan (syaratnya) adalah terkumpulnya hal itu pada seorang hamba dan ia komitmen dengannya tanpa penohokan darinya akan suatu apapun darinya. Dan yang dimaksud dari hal itu bukanlah menghitung lafadh-lafadhnya dan menghafalnya. Berapa banyak orang awam yang mana hal-hal itu tidak terkumpul padanya dan ia komitmen dengannya, dan seandainya dikatakan kepadanya “Coba sebutkan satu persatu” tentu dia tidak cakap dengannya. Dan berapa banyak orang yang hafal TERHADAP kata-katanya lancar bagaikan panah melesat, dan ternyata engkau lihat dia sering jatuh ke dalam hal-hal yang membatalkannya, sedangkan taufiq hanyalah di Tangan Allah. Wallahul Musta’an. (2/418).

Yang ia maksudkan di sini pengambilan manfaat yang sempurna di dunia dan di akhirat,  oleh sebab itu disyaratkan pemenuhan semua syarat-syaratnya dan tidak membedakan antara apa yang nampak dengan apa yang tersembunyi dari hal itu, karena ia memaksudkan islam haqiqiy.

Adapun islam hukmi yang dhahir di dunia, maka engkau telah mengetahui bahwa keberadaanya adalah lebih rendah dari itu. Dan sesungguhnya yang disyaratkan baginya adalah seseorang menampakan sesuatu yang dengannya dia menjadi muslim. Berupa sesuatu yang tergolong ashlul iman dan tauhid, yaitu ia mendatangkan syarat-syarat islam yang dhahir dan ia tidak terjatuh pada satupun dari pembatala-pembatalanya yang dhahir.

Dan telah kami ketengahkan kepadamu bahwa kekafiran meskipun bisa terjadi dengan salah satu sebab yang empat: ucapan, perbuatan, keraguan atau keyakinan, atau dengan lebih dari  satu sebab darinya, akan tetapi takfier dalam hukum-hukum dunia hanyalah terbatas akan ucapan mukaffir atau perbuatan mukaffir atau dengan kedua-duanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan (orang murtad: setiap orang mendatangkan setelah dia muslim ucapan atau perbuatan yang menggugurkan keislaman di mana hal itu tidak mungkin berkumpul bersama (keislaman) nya). Ash Sharimul Maslul 459.

Dan berkata juga di dalamnya (370): “Bila ilmu iman yang difardlukan tidak menjadi sifat bagi hati orang lagi tidak menyertainya maka hal itu tidak bermanfa’at baginya, karena sesungguhnya hal itu setara dengan bisikan jiwa dan suatu yang terlintas di hati, sedangkan keselamatan (di akhirat) itu tidak tercapai kecuali dengan keyakinan di hati walaupun itu seberat dzarrah, ini adalah di antara dia dengan Allah Ta’ala. Adapun dalam hukum dhahir (dunia) maka hukum-hukum itu diberlakukan atas apa yang ditampakkannya berupa ucapan atau perbuatan”.

Adapun keyakinan dan syakk (keraguan), maka ia tergolong sebab-sebab kekafiran ukhrawiyyah bathiniyyah yang urusanya dikembalikan kepada Allah Ta’ala dan bukan kepada kita. Karena dalam hukum dunia tidak ada jalan untuk memegangnya, memperlakukannya serta mempertimbangkannya, sedangkan syar’i telah mengaitkan hukum-hukum dan musabbabat (hal-hal yang disebabkan) di dunia ini dengan dengan sebab-sebab dan sifat-sifat dhahirah lagi mundlabithah (baku) yang tidak tersembunyi. Dan itu supaya orang-orang mukallaf memungkinkan untuk menyikapinya, oleh sebab itu orang yang menyembunyikan kekafiran dan tidak menampakkanya dengan ucapan atau perbuatan-perbuatan sebagaimana keadaan kaum munafiqin maka mereka diperlakukan sebagai kaum muslim dalam hukum-hukum dunia, sehingga keislaman mereka yang hukmiy lagi dhahir menjaga darah dan harta mereka kemudian tempat kembali mereka  di akhirat kelak di tempat paling bawah dari neraka.

Sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya“ (Al-Isra : 36).

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan bagi kita ilmu akan hal-hal ghaib dan hal-hal tersembunyi yang dengannya kita mengaitkan hukum-hukum dunia. Dan Dia Ta’ala berfirman pula dalam rangka menghikayatkan tentang Nabi– Nya Nuh ‘alaihi salam:

“Dan tidak pula aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu; “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka”. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya aku kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang dzalim.” (Huud: 31)

Nuh ‘Alaihi salam mengaitkan hukum terhadap dhahir iman mereka, serta mengembalikan pengetahuan apa yang ada dalam jiwa mereka kepada Dzat yang mengetahui segala rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Asy syafi’iy rahimahullahu ta’ala berkata: “Allah Ta’ala memfadlukan atas makhluk-makhluknya taat kepada Nabi-Nya, dan dia tidak menjadikan bagi mereka suatu apapun dari urusan maka lebih pantas lagi mereka tidak diperkenakan untuk menghukumi atas hal ghaib seseorang dengan dilalah dan paraduga…..”.

Dan: “Allah tidak menyerahkan kepada mereka hukum di dunia ini kecuali dengan apa yang nampak dari orang yang divonis (mahkum ‘alaih), kemudian dia memfardlukan atas Nabi-Nya memerangi para penyembah berhala sampai mereka masuk islam sehingga darah mereka terjaga bila mereka menampakkan islam, dan beliau memberitahukan bahwa tidak ada yang mengetahui kejujuran mereka terhadap islam kecuali Allah Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukan kepada Rasul-Nya orang-orang yang menampakan keislaman dan menyembunyikan selainnya, kemudian Dia tidak menjadikan baginya untuk menghukum mereka dengan selain hukum islam, dan Dia tidak menjadikan (kebolehan) bagi mereka untuk memutuskan atas mereka di dunia ini dengan apa yang menyelisihi apa yang mereka tampakkan.” (Dinukil  dari I’lamul Muwaqqi’in 3/112).

Dan Ibnul Qayyim berkata: “Dan syar’i tidak membangun hukum-hukum-Nya atas sekedar apa yang ada dalam jiwa tanpa ada dilalah perbuatan atau ucapan”. (I’lamul Muwaqqi’in 3/117), dan ini dalam hukum-hukum dunia sebagaimana hal itu nampak.

Dan di antara dalil-dalil yang shahih atas hal ini adalah sabda Nabi Shalallahu a’alaihi wa salam di dalam hadits yang diriwayatkan Al Bukhari, Muslim dan yang lainnya: “Sesungguhnya kalian mengadu kepada saya…… Dan saya hanya memutuskan dengan dasar apa yang didengar…..”. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam mengabarkan bahwa beliau hanya memutuskan hal yang dhahir. Dan dalam Shahih Muslim: “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk membelah hati manusia dan merobek perutnya”.

Dan dalam Shahih Muslim ada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kepada Usamah seraya mengingkarinya: “Apakah kamu merobek (untuk mengetahui isi hatinya)??!”.

Abu Ja’far Ath-Thahawiyyah berkata tentang Ahlul Qiblat: “Dan kami tidak menjadikan saksi atas mereka dengan kekafiran dan kemunafikan selama tidak nampak atas mereka sesuatu dari hal itu, dan kami biarkan rahasia mereka kepada Allah Ta’ala”

Dan pensyarah Ath-Thahawiyyah berkata “Karena kita telah diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan dhahir, dan kita dilarang dari praduga dan mengikuti apa yang tidak kita kuasai ilmunya”.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bariy (Kitab Istitabatil Murtaddien (bab hukmul murtad wal murtaddah wastitabatuhum)) dalam bahasannya terdapat “Siapa yang mengganti diennya, maka bunuhlah dia” (6922): dan sabdanya “Siapa” adalah umum yang  dikhususkan darinya orang yang mengganti diennya di dalam bathin dan hal itu tidak terbukti atasnya dalam hal dhahir, maka ini diberlakukan atasnya hukum-hukum dhahir….

Dan berkata setelah menuturkan firman-Nya Ta’ala:

”Mereka menjadikan sumpah-sumpahnya sebagai perisai” (Al Munafiqun: 2) “Maka ini menunjukan bahwa penampakan iman itu melindungi dari al qatl (pembunuhan), dan semua sepakat bahwa hukum-hukum dunia itu dibangun atas hal yang dhahir dan Allah Ta’ala yang menangani hal-hal yang tersembunyi, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam telah berkata kepada Usamah “Apakah kamu telah merobek hatinya…?” dan bersabda pula kepada orang yang membisikan beliau untuk membunuh seseorang “Bukankah dia shalat?” Dia berkata: “Ya,” Beliau berkata: “Merekalah orang-orang yang saya di larang dari membunuhnya”.

Dan menyebutkan hadits Khalid Ibnul Walid tatkala meminta izin untuk membunuh orang yang mengingkari pembagiannya, dan berkata: “Berapa banyak orang yang shalat mengatakan dengan lisannya suatu yang tidak ada di dalam hatinya” Maka Beliau shalallahu ‘alaihi wa salam berkata: “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan mengorek isi hati manusia” dikeluarkan Muslim dan hadits-hadits serupa dengan hal itu sangatlah banyak.

Dan seperti hal itu dikatakan pada taubat bathinah haqiqiyyah yang menyelamatkan di akhirat dan taubat hukmiyyah yang cukup di dunia untuk keterjagaan darah dan harta dan untuk menghukumi keislamannya.

Taubat haqiqiyyah: adalah yang diterima di sisi Allah Ta’ala, dan dia yang memenuhi syarat-syarat taubat bathinah dan dhahirah, berupa penyesalan, mencabut diri dari dosa, berazam untuk tidak mengulanginya kembali, istighfar dengan lisan dan menunaikan hak-hak hamba bila dosa itu berkaitan dengannya.

Inilah taubat yang diterima dan selamat di sisi Allah Ta’ala.

Adapun di dunia, maka tidak sah apa yang disyaratkan sebagai orang dalam keterjagaan darah seseorang atau (dalam) menghukumi taubat orang murtad berupa mencari kejelasan taubat macam ini, karena sebagian syarat-syaratnya termasuk hal ghaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala dan tidak mungkin bagi makhluk untuk menguasainya.

Namun cukuplah dalam hal itu nampaknya taubat hukmiyyah, yaitu penampakkan si pelaku dosa akan taubatnya di hadapan manusia dengan mencabut diri dari dosa itu secara dhahir atau rujuk dan bara’ah dari sebab kekafiran itu (baik) berupa ucapan atau amalan dhahir atau dengan komitmen terhadap apa yang membuat dia kafir dengan imtina’ darinya berupa suatu yang tergolong pokok keimanan yang dhahir.

Catatan:

Sebagian orang mengecualikan zindiq[1] dari hal itu: yaitu orang yang berulang-ulang riddah (kemurtaddan)nya, masyhur lagi terkenal permainan dan celaannya terhadap dien ini, (masyhur) pengulangan dan istitabah (memohon taubat)nya lagi banyak (muncul) darinya hal-hal muhtamal (ucapan-ucapan yang menyerempet) dan ucapan sindir sampir, serta terkenal persahabatannya dengan para penebar keraguan dan kaum zindiq.

Madzhab Malik rahimahullah adalah tidak diterimanya taubat zindiq, dan begitu juga Ahmad rahimahullah dalam riwayat termasyhur darinya.

Madzhab Asy Syafi’iy menerima taubatnya.

Syaikhul Islam Ibnul Taimiyyah berkata: “Dan oleh sebab itu para fuqaha berselisih tentang istitabah zindiq (penyuruhan taubat orang zindiq). Ada yang mengatakan bahwa ia itu diperintahkan untuk bertaubat, dan orang yang berpendapat itu berdalil dengan kaum munafiqin yang mana Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menerima apa yang mereka tampakkan sedangkan urusan mereka sebenarnya diserahkan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Maka dikatakan kepadanya: “Ini memang di awal mula islam, dan setelah ini Allah Ta’ala menurunkan ayat:

“Dalam keadaan terlaknat, di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya” (Al Ahzab: 61)

Maka mereka mengetahui bahwa bila menampakkannya sebagaimana mereka dahulu pernah menampakkannya, maka mereka pasti dibunuh, kemudian mereka menyembunyikannya.

Zindiq: Dialah orang yang munafiq, dan orang yang membunuhnya membunuh dia itu hanyalah bila nampak darinya bahwa ia itu menyembunyikan kemunafikan.

Mereka berkata: “Dan tidak diketahui taubatnya, karena paling tidak apa yang ada padanya adalah bahwa ia menampakan apa yang dia tampakkan, dan ia itu sebelumnya adalah menampakkan keimanan sedangkan ia itu munafiq, dan seandainya taubat zindiq diterima tentulah tidak ada jalan untuk membunuh mereka, sedangkan Al Qur’an telah mengancam mereka dengan hukum bunuh). Majmu Al Fatawa 7/137.

Dan rujukan dalam hal ini Wallahu a’lam adalah ijtihad, pengukuran mashlahat dan mafsadat, serta mengetahui waqi’ berupa bertambahnya keburukan, pelecehan akan dien dan keberanian manusia atasnya. Dan kapan saja ditemukan hal seperti ini, maka diperketat terhadap orang-orang yang mempermainkan (dien) lagi zindiq dan dicerai beraikan orang-orang yang berada di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, terutama bila terpenuhi kemampuan terhadapnya, sungguh telah beragam tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dan sikapnya terhadap macam mereka pada kondisi lemah kaum muslimin dan saat kuat syaukah (kekuatan) mereka.


[1] Zindiq adalah kata ‘ajam (non arab) yang masyhur di dalam penggunaan para fuqaha tatkala banyak orang ajam di tengah kaum muslimin. (Al Fatawa 7/290). Sahl Ibnu Abdullah At Tustari berkata: (Sebab zindiq dinamakan zindiz itu adalah dikarenakan dia itu menimbang ucapan dengan kebusukan akalnya, meninggalkan atsar serta mentakwil Al Qur’an dengan hawa nafsunya) selesai dari Ma’arijul Qabul, dan asalnya dari Kitab Al ‘Uluww karya Adz Dzahabiy, lihat Al Mukhtashar hal 220.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s