Kerugian dan Kekalahan ??

Pesimis Bisa Menang

* Sebagian pihak memandang usaha mujahidin dengan nada pesimis. Apa yang bisa dilakukan oleh segelintir anak-anak kemarin sore yang sangat tidak profesional dan berpengalaman ? Di hadapan aliansi musuh yang begitu besar, tak terhitung jumlah personal, persenjataan dan kecanggihan tekonologinya ? Dalam beberapa gebrakan musuh, mereka sudah tertawan, terluka dan menjadi buronan ? Maslahat dan keuntungan apa yang mereka peroleh ? Bukankah justru kerugian yang menimpa mereka ? Bahkan, kaum muslimin yang lain terpaksa ikut menanggung kerugian akibat ulah tak bertanggung jawab mereka !!
Barangkali rasa pesimis ini sangat beralasan, mengingat mujahidin dalam banyak hal belum profesional dan berpengalaman. Namun juga harus dipahami, insya Allah, mereka telah berusaha mempersiapkan kekuatan (i’dad) sesuai kemampuan dan kesempatan yang mereka miliki. Sejak lama, musuh telah bersatu padu untuk menghalangi umat Islam dari melakukan i’dad. Hal ini terjadi hampir di seluruh negara di dunia. Apabila mujahidin telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mempersiapkan kekuatan, kemudian mereka melawan aliansi salibis-zionis internasional, maka mereka telah dihitung melakukan i’dad dan memiliki kemampuan.
Inilah yang insya Allah disebutkan oleh syaikhul Islam imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, bahwa musuh yang menyerang negeri kaum muslimin harus dilawan sesuai kemampuan yang ada. Bukan berarti melakukan jihad tanpa persiapan yang matang, namun itulah kemampuan dan kematangan yang bisa mereka usahakan dalam kondisi yang serba sulit ini.
Sebagian kaum muslimin memang berpendapat, saat ini sebaiknya menunda operasi jihad dan berkonsentrasi mempersiapkan kekuatan sampai suatu saat di mana kemampuan dirasa telah cukup. Pendapat ini harus dihargai, namun juga perlu didiskusikan ulang sejauh mana keefektifan dan kebenarannya di lapangan. Apabila saat ini semua umat Islam di luar daerah-daerah yang diinvasi secara langsung oleh aliansi salibis-zionis harus bersabar, menunda jihad dan mempersiapkan kekuatan secara maksimal, sehingga seluruh atau sebagian besar mereka memiliki kemampuan, untuk selanjutnya melakukan jihad secara kolektif…bukankah musuh akan menghadapi perlawanan yang relatif “ringan” karena sekedar menghadapi mujahidin di daerah yang mereka invasi ? Bukankah dengan demikian musuh semakin kuat ? Bukankah kerugian personal dan pendanaan mereka juga relatif lebih kecil ? Bukankah hal ini justru memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikan satu persatu umat Islam yang melawan mereka ?
Sekiranya mereka meraih kemenangan atas mujahidin di daerah yang mereka invasi — laa samahallahu, semoga Allah tidak memperkenankan hal itu —, bukankah mereka semakin kuat ? Sementara umat Islam yang masih dalam taraf mempersiapkan kekuatan, belum menuntaskan persiapannya. Terlebih, bila konsentrasi dan keseriusan mempersiapkan kekuatan militer tersebut jauh lebih kecil dari keseriusan menggarap bidang dakwah, pendidikan, politik, ekonomi atau kegiatan sosial keislaman lainnya. Dalam kondisi seperti itu, bukankah mereka lebih mudah memukul kaum muslimin yang belum cukup kekuatan tersebut ?
Secara matematika, dalam kondisi seperti itu ; setiap hari musuh semakin kuat, dan sebaliknya setiap hari umat Islam semakin lemah. Perlu juga dipahami, di saat aliansi salibis-zionis internsional sibuk menghadapi perlawanan mujahidin di daerah yang yang mereka invasi, di daerah-daerah lain mereka menggalang kekuatan antek-antek sekuler-nasionalis mereka untuk membantu mereka dalam memerangi mujahidin.
Bentuk bantuan tentu beragam, salah satunya menekan gerakan-gerakan Islam di bawah kekuasaan para antek sekuler – nasionalis tersebut. Dan tentu saja, manakala umat Islam di bawah kekuasaan antek sekuler-nasionalis tersebut menunda jihad, para antek tersebut juga semakin kuat dan berkesempatan luas memukul umat Islam sebelum umat Islam menuntaskan persiapannya. Perusahaan-perusahaan salibis-zionis tersebut juga terus menerus mengeruk kekayaan daerah-daerah Islam yang tidak mereka invasi, dan tentu saja sebagian kekayaan tersebut untuk membiayai pasukan aliansi zalibis-zionis di daerah-daerah invasi.
Pertimbangan sudah mempunyai kekuatan dan kemampuan atau belum, memang merupakan sebuah permasalahan yang bersifat ijtihadi dan benuansa “subyektif”. Bisa jadi sebuah kelompok umat Islam memandang dirinya telah memiliki kemampuan minimal untuk menolong saudara-saudara seiman yang diinvasi musuh. Sementara kelompok-kelompok Islam lainnya memandang kelompok tersebut belum memiliki kemampuan. Namun paling tidak standar ukuran mempersiapkan kemampuan telah jelas disebutkan dalam nash-nash Al-Qur’an ; yaitu mempersiapkan maksimal kekuatan sesuai kemampuan dan kondisi yang ada.
Dengan standar ini, sebuah kelompok umat Islam yang telah berusaha maksimal untuk mempersiapkan kemampuan, boleh dan bahkan —dalam beberapa kondisi tertentu— wajib menerjuni kancah perlawanan terhadap invasi salibis-zionis internasional. Kelompok umat Islam lain yang belum mempersiapkan kekuatan secara maksimal, sehingga beranggapan dirinya belum mempunyai kemampuan, tidak seharusnya mencela atau menyalahkan kelompok umat Islam yang telah menerjuni kancah perlawanan tersebut. Bahkan, seharusnya turut bersyukur dan membantu sesuai kemampuan yang ada.
Jihad mujahidin saat ini adalah jihad defensif, mempertahankan wilayah umat Islam dan membantu kaum muslimin yang ditindas di daerah-daerah invasi. Jihad seperti ini, sebagaimana ditegaskan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, adalah jihad dalam kondisi darurat. Kondisi darurat menuntut umat Islam untuk melakukan perlawanan sesuai kemampuan yang ada —setelah melakukan persiapan sesuai kemampuan dan kondisi yang ada—. Kemampuan tersebut tentu saja tidak bisa dipatok harus sampai taraf sempurna, semua umat Islam telah siap, atau mencapai jumlah personal dan persenjataan tertentu .
Dengan demikian, komentar “apa untung dan ruginya” perlawanan mujahidin yang tidak profesional dan berpengalaman tersebut, tidak sewajarnya muncul. Minimal, mujahidin telah berusaha maksimal melaksanakan sebuah kewajiban syariat dan melepaskan tanggung jawab mereka.

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata:”Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan azab yang amat keras”. Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu, dan supaya mereka bertaqwa”. (QS. 7, Al-A’raf :164).
Imam Al Izz bin Abdu Salam mengatakan :

مَنْ كُلِّفَ بِشَيْءٍ مِنَ الطَّاعَاتِ فَقَدَرَ عَلَى بَعْضِهِ وَعَجَزَ عَنْ بَعْضِهِ, فَإِنَّهُ يَأْتِي بِمَا قَدَرَ عَلَيهِ، وَيَسْقُطُ عَنْهُ مَا عَجَزَ عَنْهُ ا- هـ.
“ Siapa yang dibebani dengan sebuah beban (perintah) ketaatan ;sementara ia mampu mengerjakan sebagiannya dan tidak mampu melaksanakan kewajibannya, maka ia (harus) mengerjakan apa yang ia sanggup melaksanakannya, sedang kewajiban yang ia tidak mampu melaksanakannya ; gugur atas dirinya.”
Terlebih, ada kemungkinan menang. Kalaupun kalah secara fisik dan militer, kemenangan spiritual tetap diraih. Dalam perang Badar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak menduga sama sekali akan bertemu dengan pasukan musuh yang tiga kali lebih kuat. Tujuan semula hanyalah menghadang kafilah dagang Quraisy. Dalam kondisi kritis tersebut, justru para sahabat menyarankan untuk terus maju. Pertempuran terjadi, dan di luar dugaan kaum muslimin meraih kemenangan.
Dalam perang Mu’tah, kaum muslimin dibuat kebingungan dan bimbang melihat kekuatan musuh yang 66 kali lebih kuat dari pasukan Islam. Ketika sebagian sahabat menyarankan untuk menunggu bantuan dari Madinah, sahabat Abdullah bin Rawahah justru menyarankan untuk tetap menyambut musuh tanpa menunggu bantuan dari Madinah. Perang pun meletus, dan ketiga jendral Islam terbunuh sebagai syuhada’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak mencela Abdullah bin Rawahah, atau anggota pasukan lainnya Beliau bahkan menghibur dan memuji mereka.
Apa daya dan upaya yang bisa dilakukan oleh seorang Salamah bin Akwa’ radiyallahu ‘anhu dalam melawan dan mengejar pasukan Bani Fazarah yang merampas harta ternak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dalam perang Dzi Qard ?
Apa pula daya dan upaya yang bisa dilakukan oleh sepuluh orang sahabat di bawah pimpinan ‘Ashim bin Tsabit radiyallahu ‘anhu, dalam menghadapi 200 pasukan pemanah bani Lihyan ???
Kerugian apa yang bisa mereka radiyallahu ‘anhum timpakan kepada musuh ? Tentu saja, perhitungan untung dan rugi tidak semata diukur dari jumlah lawan yang berhasil dibunuh, harta benda yang dihancurkan atau ghanimah yang berhasil diraih mujahidin.
Dengan demikian, selama mujahidin telah berusaha maksimal baik dalam mempersiapkan kekuatan maupun dalam memberikan perlawanan kepada musuh, mereka tidak dikatakan merugi. Mereka sejatinya berada di antara dua kebaikan ; menang atau mati syahid. Di antara kedua kemungkinan tersebut, ada kemungkinan terluka, tertawan atau diburu lawan. Itu semua juga sebuah kebaikan yang berpahala dan besar nilainya di hadapan Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ {51} قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَآ إِلآ إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ
Katakanlah:”Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. 9:51) Katakanlah:”Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. (QS. 9, Al-Taubah : 51-52).
Dua kebaikan tersebut disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu :

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. (QS. 3, Ali Imran :169).
وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرُُ مِّنَ اللهِ وَفَتْحُُ قَرِيبُُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya).Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (QS. 61, Al-Shaf :13).
Sah-sah saja bila sebagian kaum muslimin menyatakan diri mereka belum mempunyai kemampuan untuk berjihad. Namun, ketidak mampuan mereka hendaknya tidak diikuti dengan menyalahkan sebagian kaum muslimin lain yang meyakini dirinya sudah mempunyai kemampuan, dan berniat melepaskan tanggung jawabnya di hadapan Allah Ta’ala. Cukuplah mereka diam dan menonton.
Mereka tidak sewajarnya mencela tindakan mujahidin sebagai sebuah upaya yang gagal dan merugi. Bukankah semua manusia sepakat bisa memahami sebuah keluarga yang mengorbankan seluruh kemampuannya ; waktu, tenaga dan harta; demi mencari kesembuhan bagi anggota keluarganya yang mengalami penyakit kronis dan kritis semisal stroke, jantung, kanker atau bahkan aids ! Padahal kemungkinan sembuh sangat kecil, mungkin sekitar 10 % semata ! Kenapa untuk urusan menyelamatkan nyawa seorang anggota keluarga, seluruh usaha yang belum tentu berhasil —mungin bisa dikatakan sia-sia— ini bisa dimaklumi ? Sementara urusan menyelamatkan prinsip agama dan nyawa jutaan kaum muslimin, usaha yang sama tidak bisa dimaklumi, dan bahkan dicela ???
Jika ulama telah bersepakat bahwa menebus seorang muslim yang ditawan musuh adalah fardhu kifayah, sekalipun menghabiskan seluruh dana umat Islam. Kenapa, kesepakatan ulama ini tidak dianggap sebagai sebuah kecerobohan, dan tindakan kesia-siaan atau kerugian ? Sementara upaya segelintir mujahidin yang “tidak profesional dan berpengalaman” untuk membantu nasib jutaan kaum muslimin yang tertindas, diangggap sebagai sebuah kerugian ?
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata ;

(( وَإِنْ كَانَ الْعَبْدُ عَاجِزاً عَنْ مَعْرِفَةِ بَعْضِ ذَلِكَ أَوِ ْالعَمَلِ بِهِ فَلاَ يَنْهَى عَمَّا عَجَزَ عَنْهُ مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ  ،بَلْ حَسِبَهُ أَنْ يَسْقُطَ عَنْهُ اللَّوْمُ لِعَجْزِهِ ،وَلَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَفْرَحَ بِقِيَامِ غَيْرِهِ بِهِ وَيَرْضَى بِذَلِكَ وَيَوَدُّ أَنْ يَكُوْنَ قَائِماً بِهِ )).
” Jika seorang hamba tidak mampu mengetahui atau mengamalkan sebagian kewajiban, maka ketidak mampuannya tersebut tidak seharusnya menghalanginya dari (mengetahui atau melaksanakan) ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam (yang ia mampu).
Cukuplah ketidak mampuannya menggugurkan celaan atas dirinya. Namun, hendaknya ia bergembira dengan adanya orang lain yang melaksanakan kewajiban tersebut. Hendaknya ia ridha atas hal itu, dan berharap ia mampu melaksanakannya.”

Kalah Bukan Berarti Tamat Riwayat

* Sebagian kaum muslimin mengukur kebenaran atau kesalahan jalan yang ditempuh oleh mujahidin dari kemenangan fisik dan militer dalam pertempuran. Bila mujahidin menang dalam sebuah pertempuran, berarti jalan jihad yang ditempuh betul. Sebaliknya, bila mujahidin kalah berarti jalan jihad yang ditempuh juga salah.
Persepsi ini adalah persepsi yang salah. Kebenaran dan kesalahan jalan perjuangan tidak bisa diukur dari keberhasilan mengalahkan musuh dalam sebuah pertempuran semata. Hal ini berdasar dua alasan :
– Secara logika, tidak ada kaitan antara kegagalan meraih hasil dengan usaha untuk meraihnya. Kegagalan meraih hasil tidak mesti berarti jalan dan usaha untuk meraihnya juga salah. Seringkali terjadi, usaha yang benar dan serius, belum membuahkan hasil yang diharapkan. Seringkali terjadi pula, usaha yang pas-pasan dan cenderung kurang serius, justru membuahkan hasil yang tak disangka-sangka. Seorang penilai juga harus melihat kebenaran dan keseriusan usaha untuk meraih hasil, bukan sekedar melihat hasil semata.
– Secara syar’i, nash-nash menyebutkan bahwa manusia berkehendak dan berusaha, namun tidak keluar dari ketentuan dan kehendak Allah Ta’ala. Ada nabi yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk berdakwah selama puluhan bahkan ratusan tahun, namun hanya mendapat sepuluh, dua, satu atau bahkan tidak seorang pengikutpun. Sebaliknya, banyak da’i di zaman sekarang yang tidak memahami tauhid, fiqih, tafsir, hadits, ilmu lughah dan nash-nash syariat, namun berhasil meraih ribuan pengikut. Hasil dakwah ini tidak bisa dijadikan parameter untuk menilai kebenaran dan kesalahan jalan dakwah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّه عَنْهمَا قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
Dari Ibnu Abbas, ia berkata,” Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menemui kami dan bersabda,” Diperlihatkan kepada umat-umat manusia. Ada seorang nabi yang mempunyai seorang pengikut. Ada seorang nabi yang mempunyai dua orang pengikut. Ada seorang nabi yang mempunyai beberapa orang pengikut. Dan ada seorang nabi yang sama sekali tidak mempunyai pengikut.”
Dalam sejarah, tercatat beberapa kali umat Islam mengalami kekalahan telak sehingga manusia mengira Islam tidak akan pernah tegak lagi sesudahnya. Di antaranya adalah masa perang melawan pasukan Tartar. Pada tahun 617 H (1219 M), Jengish Khan memimpin pasukan Tartar menyerbu daerah-daerah Islam di Asia Tengah. Terjadi pertempuran dahsyat melawan penguasa muslim di kawasan ini, yaitu sultan Alaudin Muhammad Khawarizm Syah (1199-1220 M).
Satu persatu wilayah Islam di kawasan Asia Tengah jatuh ke tangan Tartar ; Bukhara, Balakh,Turmudz, Marwa, Herat dan Samarkand. Bahkan pada tahun 618 H (1220 M), dalam pertempuran dahsyat di selatan laut Kaspia, sultan Alaudin terbunuh. Peperangan melawan Tartar dilanjutkan oleh purtanya, sultan Jalaludien Khawarizm Syah (1220-1230 M). Pertempuran terjadi di sepanjang Khurazan dan Afghanistan. Pasukan Islam terus terdesak sampai di Chyber Pass dan Peshawar. Dalam pertempuran penghabisan di Allock, pinggir sungai Indus, tahun 621 H (124 M), sisa-sisa pasukan Islam mengalami kekalahan telak, sebagian besar terbunuh dan sultan Jalaludin berhasil meloloskan diri.
Sejak kekalahan ini, pasukan Islam tak pernah mampu menghadang serbuan pasukan Tartar. Di setiap wilayah Islam yang ditaklukkan, pasukan Tartar melakukan pembantaian, pembumi hangusan dan perusakan. Satu per satu wilayah Islam merka taklukkan, sampai akhirnya berhasil menaklukkan pusat kekhilafah Islam Daulah Abbasiyah, Baghdad, pada tahun 656 H. Pembantaian, pembumi hangusan dan perusakan masal pun terjadi di Bagddad. Lebih dari satu setengah juta umat Islam dibantai, wabah kolera menyebar sampai ke negeri-negeri Syam dan ketakutan terhadap kekejian Tartar merasuki setiap muslim.
Dari satu pertempuran ke pertempuran, pasukan Tartar semakin kuat, sementara pasukan Islam semakin lemah. Namun, hanya dalam tiga tahun setelah jatuhnya Baghdad, tepatnya Ramadhan 659 H, pasukan Islam yang sangat kecil bila dibandingkan dengan pasukan Tartar, berhasil menimpakan kekalahan telak kepada pasukan Tartar di medan perang ‘Ain Jaluth. Sejak kemenangan telak itu, pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan Tartar di sebagian besar medan peperangan.
Demikian juga dengan perang salib. Jarak antara jatuhnya kota Al-Quds ke tangan pasukan salib yang disusul dengan pendirian kerajaan-kerajaan Nasrani di Syam dan Turki (Perang Salib 1:1096- Juli 1099 M), dengan pembebasan Al-Quds oleh sultan Shalahudin Al-Ayubi (Perang Salib 3 : 1189-1191 M) hampir seratus tahun. Lewat episode panjang perang salib tersebut, kekuatan salibis Eropa bertahan di Timur Dekat (Syam, Turki, Laut Mediterania dan sekitarnya) selama hampir 200 tahun.
Demikian juga peperangan di zaman nubuwah. Setelah kemenangan telak dalam pertempuran perdana di Badar, kaum muslimin mengalami “kekalahan” cukup telak di Uhud, disusul dengan kegoncangan dan tekanan luar biasa dalam perang Ahzab. Namun peperangan belum berakhir, sempat terjadi perdamaian sampai akhirnya terjadi kemenangan gemilang dalam Fathu Makkah.
Hal yang sama terjadi di masa sahabat. Kekalahan kaum muslimin di perang Jisr tahun 13 H dengan terbunuhnya delapan jendral sekaligus, bukan berarti tidak tegaknya lagi panji-panji jihad. Kekalahan itu justru diikuti oleh kemenangan-kemenangan besar ; Qadisiyah, Jalula, Madain dan seterusnya, sampai akhirnya imperium Persia berhasil diruntuhkan.
Demikianlah, kekalahan dan kemenangan senantiasa bergilir. Kemenangan akhir atas lawan, tidak diraih lewat sekali dua kali kemenangan di medan perang. Kemenangan menuntut proses panjang yang diwarnai oleh pergiliran kemenangan dan kekalahan, namun hasil akhirnya akan senantiasa sama ; kebenaran akan selalu menang. Kemenangan maupun kekalahan, adalah kehendak Allah Ta’ala yang pasti mengandung hikmah yang mendalam.

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحُُ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحُُ مِّثْلُهُ وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهاَ بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ {140} وَلِيُمَحِّصَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (QS. 3:140).
dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. 3, Ali Imran ;140-141).

Kapan Mujahidin Meraih Kemenangan ?

* Sebagian kaum muslimin beranggapan, setiap orang yang berjihad harus dan pasti meraih kemenangan fisik dan militer dalam pertempuran. Kekalahan, tertangkap, terbunuh, terluka atau diburunya sebagian orang-orang yang berjihad, menurut mereka adalah sebuah kekalahan. Sulit bagi mereka membayangkan kekalahan fisik tersebut akan menimpa ibadah jihad fi sabilillah.
Mereka tidak menyadari, bahwa kekalahan dan kemenangan adalah hukum Allah (sunah kauniyah) yang senatiasa dipergilirkan, penuh hikmah dan kebaikan. Mereka juga kurang memahami, bahwa setiap orang yang berjihad fi sabilillah sebenarnya telah meraih kemenangan, sekalipun fisik mereka terbunuh, tertawan, terluka atau dikejar oleh musuh. Boleh jadi mujahidin mengalami kekalahan fisik dan militer di medan pertempuran, nmaun sebenarnya mereka telah meraih kemenangan-kemenangan lain. Alhasil, kmenangan bukan sekedar kemenangan fisik dan militer semata.
Al-Qur’an dan As-Sunnah menyebutkan beberapa bentuk kemenangan yang diraih oleh orang-orang yang berjihad di jalan Allah.

(1)- Kemenangan atas hawa nafsu dan setan
Kemenangan terbesar yang diraih oleh seorang muslim yang berjihad di jalan Allah, adalah kemenangan iman dan jiwanya atas hawa nafsu dan setan. Hawa nafsu dan setan mengajak setiap jiwa untuk cenderung kepada kenikmatan dunia, berbuat keji dan mungkar, serta mendahulukan kepentingan hawa nafsu atas kecintaan kepada Allah, Rasulullah dan jihad fi sabilillah.
Seorang muslim yang berjihad berarti telah memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, dan mengabaikan seruan setan dan hawa nafsu. Selanjutnya, ia meraih kemenangan lain yaitu terbebas dari sifat orang fasik dan munafik yang diancam dengan adzab di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9, Al-Taubah :24)

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ
Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 3, Ali Imran :31).

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِى الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka jika mereka tidak menjawab seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 28, Al-Qashash:50).

(2)- Kemenangan atas setan spesialis penghalang jihad.
Seorang muslim yang berjihad berarti telah lolos dari godaan setan yang menekuni tugas menghalangi orang beriman dari jihad fi sabilillah. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih :

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ ِلابْنِ أَدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ اْلإِسْلاَمِ فَقَالَ لَهُ تُسْلِمُ وَ تَذَرُ دِيْنَكَ وَ دِيْنَ أَبَائِكَ وَ أَبَاءِ أَبِيْكَ ؟قاَلَ: فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ اْلِهجْرَةِ فَقَالَ لَهُ:تُهَاجِرُ وتَدَعُ ُأَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ وَإِنَّمَا مَثَلُ اْلمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِيْ الطِّوَلِ فَقَالَ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ.قَالَ ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيْقِ الْجِهَادِ فَقَالَ لَهُ: هُوَ جُهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتَُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَ يُقَسَّمُ الْمَالُ ؟ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ.فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كاَنَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ.أَوْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ, وَ إِنْ غَرَقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخلَِهُ الْجَنَّةَ.
Dari Sibrah bin Abi Fakihah bahwasanya Rasulullah bersabda,” Sesungguhnya setan menghadang manusia di setiap jalan kebaikan. Ia menghadang manusia di jalan Islam,” Apakah kau mau masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapakmu dan agama moyangmu ?” Ia tidak menururti setan dan masuk Islam.
Maka setan menghadangnya di jalan hijrah,” Kau mau hijrah, meninggalkan tanah air dan langit yang menanungimu ? Ia tidak menururti setan dan berhijrah maka setan menghadangnya di jalan jihad,” Kau mau berjihad, sehingga terbunuh dan istrimu diambil orang serta hartamu dibagi-bagi ?” Ia tidak menururti setan dan tetap berjihad.
Siapa saja melakukan hal, itu maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Dan siapa saja terbunuh maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Dan siapa saja tenggelam (karena jihad atau hijrah, pent) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga. Dan siapa saja terlempar dari kendaraannya (saat hijrah atau jihad) maka sudah menjadi kewajiban Allah untuk memasukkannya ke surga.”

(3)- Kemenangan mendapat hidayah dan taufiq
Seorang muslim yang berjihad di jalan Allah, akan mendapatkan hidayah menuju semua jalan Allah Ta’ala. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata :

وَلِهَذَا كَانَ اْلجِهَادُ مُوجِباً لِلْهِدَايَةِ الَّتِي هِيَ مُحِيطَةٌ بِأَبْوَابِ الْعِلْمِ , كَمَا دَلَّ عَلَيهِ قَوْلُهُ تَعَالَى {وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُم سُبُلَنَا } فَجَعَلَ لِمَنْ جَاهَدَ فِيهِ هِدَايَةَ جَمِيعِ سُبُلِهِ تَعَالَى , وَلِهَذَا قَالَ اْلإِمَامَانِ عَبْدُ اللهِ بْنُ اْلمُبَارَكِ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَغَيْرُهُمَا : إِذَا اخْتلَفَ النَّاسُ فِي شَيْءٍ , فَانْظُرُوا مَاذَا عَلَيهِ أَهْلُ الثُّغُورِ , فَإِنَّ اْلحَقَّ مَعَهُمْ , ِلأَنَّ اللهَ يَقُولُ { وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُم سُبُلَنَا }
” Oleh karena itu, jihad menyebabkan datangnya hidayah (petunjuk) yang mengelilingi pintu-pintu ilmu. Sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala.” Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” [QS. Al-Ankabut :69].
Allah menjadikan hidayah (petunjuk) bagi orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) mencari keridhaan-Nya. Oleh karenanya, imam Abdullah bin Mubarak, Ahmad bin Hambal dan lain-lain mengatakan :” Jika manusia berbeda pendapat dalam sebuah permasalahan, maka lihatlah pendapat para ahlu tsugur (orang-orang yang menjaga daerah perbatasan kaum muslimin dengan daerah musuh, murabithun), karena kebenaran bersama mereka, karena Allah telah berfirman: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami).”

(4). Kemenangan atas para pelemah semangat
Seorang muslim yang berjihad berarti telah meraih kemenangan atas orang-orang yang berbaju Islam namun menyebar luaskan perkataan dan tindakan yang melemahkan semangat umat Islam untuk berjihad. Allah berfirman :

لَوْ خَرَجُوا فِيكُم مَّازَادُوكُمْ إِلاَّ خَبَالاً وَلأَوْضَعُوا خِلاَلَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka bergega-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. (QS. 9, Al-Taubah :47).

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُولِ اللهِ وَكَرِهُوا أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَقَالُوا لاَتَنفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata:”Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah:”Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, jikalau mereka mengetahui. (QS. 9, Al-Taubah :81).

(5). Kemenangan berupa keteguhan dan keistiqamahan di atas prinsip
Ketika seorang muslim tetap teguh berjihad dan memegang prinsip, sekalipun menghadapi berbagai tekanan dari orang-orang kafir dan saudara-saudara seiman yang tidak menyetujui langkah perjuangannya, sejatinya ia telah meraih sebuah kemenangan yang besar.
Betapa banyak orang yang sukses dan meraih kemenangan fisik di medan peperangan, namun justru mengalami kekalahan pirnsip. Hasil—hasil jihad yang diraih, justru membuatnya mengutamakan hawa nafsu, kekuasaan dan dunia atas prinsip-prinsip Islam. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. 41:30) Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; (QS. 41, Al-Fushilat :30-31).

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَايَشَآءُ
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dala kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. 14, Ibrahim :27).

(6). Kemenangan berupa kesediaan berkorban demi prinsip
Ketika seorang muslim yang berjihad telah rela mengorbankan segala yang ia miliki; waktu, tenaga, fikiran, harta dan nyawa; demi membela prinsip, akidah dan agamanya, ia telah meraih kemenangan dan mencapai tingkat ketinggian serta kemuliaan, sekalipun barangkali mengalami kekalahan fisik dan militer.
Allah Ta’ala memuji para sahabat pasca pukulan telak dalam perang Uhud :

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ اْلأَعْلَوْنَ إْن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. 3, Ali Imran :139).
Ketika beberapa gelintir mujahidin yang miskin dan tak memiliki senjata kecuali beberapa biji, menerjuni jihad melawan aliansi paukan salibis-zionis internasional dengan seluruh kelengkapan persenjataan dan kecanggihan teknologinya, bukankah ini sebuah kemenangan dan “ketinggian” tersendiri ? Untuk apa mereka berjihad sementara menurut perhitungan matematika mereka pasti kalah ?? Sesungguhnya kesediaan berkorban demi membela prinsip dan agama, adalah sebuah kemenangan. Ya, kemenangan sebagaimana yang diraih oleh tukang sihir Fir’aun dan ashabul ukhdud.

لأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلاَفٍ ثُمَّ لأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ قَالُوا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنقَلِبُونَ {125} وَمَاتَنقِمُ مِنَّآ إِلآ أَنْ ءَامَنَّا بِئَايَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتْنَا رَبَّنَآ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
(Fir’aun berkata): ” Sumpah, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kalian semuanya”.
Ahli-ahli sihir itu menjawab:”Sesungguhnya kepada Rabblah kami kembali.
Dan kamu tidak menyiksa kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Rabb kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (Mereka berdo’a):”Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (QS. 7, Al-A’raf :124-126).

قَالَ ءَامَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ ءَاذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلاَفٍ وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ وَأَبْقَى {71} قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَى مَاجَآءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا فَاقْضِ مَاأَنتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَآ
Berkata Fir’aun:”Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”.
Mereka berkata:”Kami sekali-kali tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu’jizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan Kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (QS. 20, Thaha :71-71)

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُُ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar. (QS. 85, Al-Buruj :11).

(7). Kemenangan argumen (hujah) dan dakwah
Terkadang, seorang yang berjuang dan berjihad demi membela Islam mengalami kekalahan di medan fisik dan militer, namun argumen dakwahnya diterima dan diyakini oleh sebagian manusia, sekalipun mereka tertindas. Dakwah dan argumen ghulam dalam kisah ashabul ukhdud telah diterima dan diyakini oleh rakyat yang tertindas. Mereka semua akhirnya dibakar hidup-hidup, namun keyakinan mereka mengalahkan kekafiran si raja dan bala tentaranya. Argumen Nabi Ibrahim ‘alaihi salam juga mementahkan argumen raja Namrudz, sekalipun kaum beliau tidak mengimani dakwah beliau.

(8). Kemenangan berupa bencana atas musuh.
Terkadang, mujahidin telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah Ta’ala. Namun kekuatan mereka jauh lebih kecil dari kekuatan musuh. Mujahidin tidak mampu mengalahkan musuh, namun Allah Ta’ala berkehendak menimpakan bencana dan azab kepada musuh yang telah memerangi para wali-Nya, kaum mujahidin.
Allah Ta’ala menghancurkan Fir’aun dan bala tentaranya, setelah nabi Musa ‘alaihi wa salam berdakwah sungguh-sungguh kepadanya. Begitu juga dengan kaum para nabi terdahulu yang dihancurkan, setelah para nabi ‘alaihi salam berdakwah dan sesuai kemampuan maksimal mereka.
Ketika kaum Quraisy begitu gencar menindas kaum beriman, dan mereka menampakkan keengganan untuk memeluk Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam berdoa agar mereka ditimpa tujuh tahun paceklik.

عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عَبْدِاللَّهِ فَقَالَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا رَأَى مِنَ النَّاسِ إِدْبَارًا قَالَ اللَّهُمَّ سَبْعٌ كَسَبْعِ يُوسُفَ فَأَخَذَتْهُمْ سَنَةٌ حَصَّتْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى أَكَلُوا الْجُلُودَ وَالْمَيْتَةَ وَالْجِيَفَ وَيَنْظُرَ أَحَدُهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرَى الدُّخَانَ مِنَ الْجُوعِ فَأَتَاهُ أَبُو سُفْيَانَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ تَأْمُرُ بِطَاعَةِ اللَّهِ وَبِصِلَةِ الرَّحِمِ وَإِنَّ قَوْمَكَ قَدْ هَلَكُوا فَادْعُ اللَّهَ لَهُمْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ( فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ ) إِلَى قَوْلِهِ ( إِنَّكُمْ عَائِدُونَ يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى إِنَّا مُنْتَقِمُونَ ) فَالْبَطْشَةُ يَوْمَ بَدْرٍ وَقَدْ مَضَتِ الدُّخَانُ وَالْبَطْشَةُ وَاللِّزَامُ وَآيَةُ الرُّومِ *

Abdullah Ibnu Mas’ud berkata,” Ketika Nabi shallalahu ‘alaihi wa salam melihat kaumnya tidak mau masuk Islam, beliau berdoa : “Ya Allah, timpakanlah tujuh tahun paceklik sebagaimana tujuh tahun paceklik Nabi Yusuf.” Maka terjadilah paceklik yang menghabiskan segala sesuatu. Mereka sampai memakan kulit, bangkai dan mayat. Salah seorang mereka memandang ke langit dan melihat awan, karena kelaparan yang melilitnya. Maka Abu Sufyan datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam,”Wahai Muhammad, engkau senantiasa memerintahkan untuk mentaati Allah dan menyambung tali silaturahmi. Sungguh kaummu telah binasa, maka memohonlah kepada Tuhan-Mu untuk kebaikan mereka.”
Maka Allah menurunkan ayat (” Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata. Yang meliputi manusia.Inilah azab yang pedih…Ingatlah hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.”) (QS. 44, Al-Dukhan ;10-16).”
Jumlah pasukan Quraisy yang terbunuh dalam peperangan dengan kaum muslimin, sekitar 200 orang. Namun dengan musibah paceklik ini, Allah telah menghancurkan sebagian mereka dan menekan sebagian lainya untuk menerima dakwah Islam.
Keruntuhan Uni Soviet adalah contoh lain dari bencana yang menimpa musuh-musuh Allah yang memerangi Islam dan mujahidin. Runtuhnya Uni Soviet bukan karena banyaknya hutang, karena AS pun saat itu lebih banyak hutangnya namun tidak runtuh. Pun bukan karena sistem komunis, karena negara-negara komunis lainnya pun tetap tegak berdiri sampai hari ini (Kuba, Korea Utara, China). Pun bukan karena rezim diktator, karena banyak rezim diktator lainnya yang sampai hari ini masih tegak berdiri. Sebab utama, tak lain adalah memerangi Islam. Jihad mujahidin melawan mereka telah menjadi sebab Allah menurunkan bencana kepada Uni Soviet.

(9). Jihad menjadi sebab kemiskinan dan kematian orang kafir di atas kekufuran.
Peperangan dan penindasan kaum kafir kepada mujahidin dan kaum muslimin secara umum, telah menjadi sebab Allah Ta’ala menimpakan kesesatan, kemiskinan dan kematian di atas kekufuran atas orang-orang kafir.
Allah berfirman :

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَآ إِنَّكَ ءَاتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِيْنَةً وَأَمْوَالاً فِي اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَيُؤْمِنُوا حَتىَّ يَرَوُا اْلعَذَابَ اْلأَلِيْمَ
Musa berkata:”Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Rabb kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS. 10, Yunus :88).

(10)- Kemenangan berupa dipilih sebagai syuhada’.
Setiap muslim bersusah payah dan beramal shalih agar mendapat ridha Allah dan diperkenankan masuk surga. Demikian pula seorang yang berjihad, ia berusaha dan beramal agar mendapat ridha Allah, surga dan terpilih sebagai seorang yang mati di medan jihad (syahid). Hanya orang-orang pilihan yang mampu meraih kemenangan jenis ini.
” Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” (QS. 3, Ali Imran :140).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bahkan berharap sebanyak tiga kali untuk mati terbunuh di medan jihad.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ عَنْ النَبِيِ قَالَ: مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِليَ الدُّنْيَا وَ لَهُ مَا عَلَى اْلأَرْضِ مِنْ شَيْئٍ إِلَّا الشَهِيْدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيَقْتُلْ عَشْرَ مَرَاتٍ لَمَا يَرَى مِنْ الْكَرَامَةِ.
Dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Tidak ada seorang pun masuk surga yang ingin kembali ke dunia padahal ia (di surga) mempunyai seluruh apa yang ada di dunia, kecuali orang yang mati syahid. Ia berangan-angan kembali ke dunia dan terbunuh sepuluh kali, karena ia mengerti keutamaan (bila mati syahid di medan perang).”
Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaan mati syahid, sebagai sebuah kemenangan terbesar dalam jihad, sangat banyak.

(11)- Kemenangan militer di medan peperangan.
Sebagian besar kaum muslimin memahami kemenangan hanya sebatas kemenangan fisik dan militer, karena bentuknya yang konkrit dan terindrai. Kemenangan fisik dan militer memang merupakan sebuah bentuk kemenangan jihad, namun bukan satu-satunya bentuk kemenangan dalam jihad.
Kemenangan militer ini telah Allah tunjukkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam di masa akhir perjuangan beliau. Beliau menyambutnya dengan suka cita. Allah berfirman :

إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ {1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فيِ دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا {2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا {3}
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. 110, Al-Nashr : 1-3).

Kapan Dikatakan Menderita Kekalahan ?

* Pada dasarnya, pertarungan antara pengikut kebenaran dengan pengikut kebatilan adalah pertarungan prinsip dan ideologi. Di samping adanya perintah Allah Ta’ala untuk melakukan pertarungan fisik. Karenanya, pokok kekalahan dalam pertarungan adalah ketika seorang pengikut kebenaran rela melepaskan sebagian prinsipnya, demi mendapatkan kerelaan pengikut kebatilan atau meraih keuntungan duniawi.
Di antara bentuk-bentuk kekalahan seorang muslim adalah :
(1)- Mengikuti sistem dan ideologi (milah) atau keinginan (hawa nafsu) orang kafir.

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)

وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم مِّن بَعْدِ مَاجَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ
Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. (QS. 2:145).
Ketika seorang muslim telah keluar dari Islam dengan mengikuti sistem dan ideologi kafir, baik ideologi samawi seperti Yahudi dan Nasrani, maupun ideologi produk akal semata seperti sekulerisme, nasionalisme, demokrasi, kapitalisme, liberalisme, sosialisme dan humanisme…ia telah mengalami puncak kekalahan. Sekalipun orang-orang kafir meridhai, menghormati dan memuliakannya. Bahkan mungkin mengangkatnya sebagai penguasa atau mengakui kekuasaannya.
Ketika seorang muslim telah menuruti sebagian keinginan dan hawa nafsu orang-orang kafir baik dalam sedikit perkara maupun banyak…ia telah mengalami puncak kekalahan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
” Lalu Allah Ta’ala menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam di atas syariat yang telah Ia tetapkan. Allah memerintahkan kepadanya untuk mengikuti syariah tersebut dan melarangnya dari mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
Termasuk orang-orang yang tidak mengetahui adalah setiap orang yang menyelisihi syariat-Nya. Makna hawa nafsu mereka adalah keinginan mereka, dan tingkah laku (al-hadyu al-dhahir) orang-orang kafir yang merupakan kewajiban dalam ajaran agama batil mereka dengan segala ekornya. Itulah hawa nafsu mereka.”

(2)- Kompromi dan melunak (mudahanah) dengan orang-orang kafir
Allah Ta’ala berfirman :

فَلاَ تُطِعِ اْلمُكَذِّبِيْنَ () وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُوْا فَيُدْهِنُوْنَ ()

Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak kepada mereka, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. 68, Al-Qalam :8-9).
Imam Abu Sa’ud dalam tafsirnya 9/13 berkata,” Maknanya, tetaplah kamu diatas jalanmu dengan tidak mentaati mereka, dan keraslah dalam memegang prinsip itu. Atau, ayat ini adalah larangan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa salam untuk melakukan mudahanah (kompromi) dan mudarah (pura-pura setuju) dengan menampakkan apa yang sebenarnya bertentangan dengan isi hati beliau shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau melakukan hal itu dengan tujuan menarik mereka agar masuk Islam, bukan karena mentaati mereka.”
Imam Ibnu Bathal rahimahullah menyebutkan bahwa para ulama menafsirkan “mudahanah” dengan makna berinteraksi dengan para pelaku dosa (orang fasiq) dengan menampakkan sikap ridha atas perbuatan mereka, tanpa disertai sikap pengingkaran.
Imam Al-Qurthubi dan qadhi ‘Iyadh menyatakan, mudahanah adalah meninggalkan sebagian ajaran agama demi meraih keuntungan duniawi.
Berdasar ayat ini, bila seorang muslim rela melepas sebagian ajaran diennya demi meraih ridha, persetujuan dan keuntungan dari orang-orang kafir, sejatinya ia telah mengalami kekalahan. Keinginan orang-orang kafir adalah kaum muslimin yang berjuang mau menerima tawar menawar dan bersikap kompromis dan kooperatif. Si muslim melepaskan sebagian ajaran diennya, dan sebaliknya si kafir melepaskan sebagian dunianya yang sebenarnya tak ada nilainya menurut kaca mata si kafir. Dengan sikap kooperatif dan kompromi seperti ini, si muslim telah melepaskan prinsip hanya demi meraih secuil keuntungan materi dan duniawi yang tak bernilai.
Betapa banyaknya hal ini terjadi dalam kancah jihad umat Islam. Ketika perjuangan jihad telah berlalu dalam rentang waktu yang lama, dan kemenangan tak kunjung datang, akhirnya jalan tawar menawar, perundingan dan melepaskan sebagian tuntutan (ajaran Islam) dilakukan. Benar, si muslim mendapatkan kedudukan (misalnya, pemerintahan otoritas Palestina). Namun nilainya tak seberapa, masih di bawah kendali musuh dan sebenarnya ia telah membuang akidah dan prinsipnya ke tempat sampah. Inilah kekalahan telak si muslim yang berjuang.

(3)- Cenderung kepada orang-orang kafir
Allah Ta’ala berfirman :

وَ إِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً {73} وَلَوْلآَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً {74} إِذًا َّلأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَتَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا
Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. ()
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. ()
kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. 17, Al-Isra’ :73-75).
Imam Asy-Syanqithi berkata,” …ada pendapat yang menyatakan bahwa makna ayat ini adalah terbetik dalam hati beliau shallallahu ‘alaihi wa salam untuk menyetujui sebagian hal yang disenangi oleh orang-orang kafir, untuk menarik mereka masuk Islam, disebabkan oleh keinginan beliau yang sangat kuat agar mereka masuk Islam.”
Ayat ini menyebutkan, sedikit kecenderungan dan keinginan untuk menuruti apa yang diinginkan orang-orang musyrik, akan menyebabkan datangnya siksa pedih di dunia dan di akhirat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Terlebih lagi, dengan umat beliau.
Ayat ini ditegaskan kembali oleh ayat lain :

وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً.
Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18, Al-Kahfi :28)

وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَالَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkanmu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. 11, Huud :113).
Imam Qatadah menerangkan makna “cenderung” dalam ayat-ayat ini dengan mengatakan : Jangan mencintai dan mentaati mereka. Imam Ibnu Juraij berkata : Jangan condong kepada mereka. Imam Abul ‘Aliyah berkata : Jangan meridahi perbuatan mereka. Imam Ibnu Zaid berkata : artinya adalah mudahanah, yaitu tidak mengingkari kekafiran mereka.
Berbagai pendapat para ulama tafsir ini berdekatan maknanya. Bisa disimpulkan, bahwa cenderung kepada orang yang zalim maksudnya bergaul dengan mereka disertai sikap meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, maka dibolehkan.
Selain mendapat ancaman siksa di dunia dan akhirat, seorang muslim yang cenderung kepada orang kafir juga telah mengalami kekalahan telak, sekalipun barangkali ia menjadi seorang penguasa dan dihormati oleh orang-orang kafir.
Wallahu A’lam bi-Shawab.

BY : ABDULLOH AL BANTANY

Pos ini dipublikasikan di Al Jihad, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s