julukan baruku, Terroris (terlihat indah, romantis dan Manis)

Subhanallah,… ada-ada aja orang, dulu ketika kami sama-sama di bangku kuliah, belum pernah terdengar panggilan itu kepadaku. Tapi kini setelah aku bergaul dan kedekatanku pada para aktivis islam yang sedang berjuang membela hak-haknya demi tegaknya izatulislam(kemuliaan islam), julukan baru itu disandangkan kepadaku..
ah, biarlah kata orang apa, yang penting aku menikmati apa yang ku pilih dalam kehidupan ini, sekalipun sebagain keluargaku mengkhawatirinya. Hmm…terkadang penilaian orang terhadap julukan terroris langsung berimage negatif, karena informasi tentang hal itu mereka dapati dari media-media barat yang tak mau bersikap obyektif.
Ketika aku pulang ke rumah ortu, di akhir tahun 2004, terjadilah reuni kecil-kecilan dengan teman-teman satu gank waktu di bangku kuliah, mereka pun sebagian kaget melihat penampilanku yang berbeda dengan yang dulu, waktu dulu celana bolong-bolong, rambut panjang, ngerokok and ikut juga konsumsi narkoba, wah kaga karu-karuan deh…tapi dalam pertemuan reuni itu ada suatu yang berbeda menurut mereka dengan penampilanku ini, maka ada sebagian dari teman-temanku yang latah, memanggilku terrroris…kamu telah jadi terroris ya?…ku balik nanya sama mereka, emang kenapa gitu?…mereka menjawab : “nggak, cuman kamu sama penampilannya kaya orang-orang yang di tangkap dengan tuduhan terroris, cirinya yaitu berjenggot, pakaian tidak isbal, dan di jidatnya ada tanda hitam bekas sujud..hehehe…” mereka sambil tertawa dan aku pun tersenyum. Wah, begitu dahsyatnya Opini yang di tiupkan oleh media kuffur sehingga salah satu ciri-ciri orang sholeh mereka imagekan negatif dan di gelari terroris. Laahaula wuala quatailabillah…
Tapi lain hal dengan temanku yang satu ini, dia teman satu kajianku dalam halaqohan di mesjid kampus, di memanngilku terroris juga, loch kok bisa? di menjawab keherananku, “positifkanlah pikiranmu, tidak setiap kata itu berarti jelek, tahukan kamu apa yang aku maksud “, aku geleng-geleng kepala, dia melanjutkan jawabanya: “tidak setiap orang sama memaknai kata terroris, tergantung dia pake kacamata idiologi apa?, lah kalo kita, memaknai terroris itu adalah terlihat indah, romantis dan manis”, dan dia tersenyum. lalu menjelaskan tentang itu.
Terlihat indah, kita harus memberikan uswah(contoh) yang baik pada saudara-saudara kita, dalam hal ahlaq, adab-adab ibadah lainnya, sebagaimana Rosulallah Sholallahu Alaihi Wassalam, dan para Sahabat serta tabi’in dan tabi’ut telah mencontohkannya. Bagaimana kita berkasih sayang terhadap makhluk-makhluk lainnya, dan bagaimana kita mencintai sesama kita, sebagaimana islam Rahmatanlil’alamin.
Romantis, disinilah kita bisa merasakan ketentraman dengan cinta, islam telah mengatur tentang bagaimana kita, satu sama lainnya saling memberikan ketentraman. Salah satunya adalah dengan keluarga SAMARA (sakinnah Mawwadah dan Warrahmah), sakinnah dimana kita bisa saling mencurahkan kasih sayang dengan kejujuran dan saling percaya dengan sepenuh hati, mawwadah dimana kita saling menentramkan satu sama lainnya dengan ketulusan kita dalam memberikan kasih sayang, hal ini tidak akan mudah kita dapati kecuali kita ikhlas dalam ujian-ujian yang di berikan kepada kita. Karena suami adalah ujian bagi istrinya begitu pula istri ujian bagi suaminya, dan semuanya itu adalah ladang amal bagi yang ridho. Serta warrahmah, Allah akan menurunkan rahmatnya kepada sesiapa saja yang ikhlas dalam menghadapi berbagai ujian, dengan memberikan rezeky berupa harta dan anak, bahkan Allah memberikan pahala sebagai imbalan di jannahnya. Amiin..
Manis(Manusia Islam), nah untuk hal ini, agar kita kelihatan manis banyak-banyaklah bersedakoh sama orang, dengan harta dan kelembutan hati serta senyum. subhanallah…

Di akhir penjelasannya dia membacakan al-quran surat 5 : 54 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa saja yang di kendaki-Nya, dan Allah maha luas(pemberian-Nya) dan Maha mengetahui”.
subhanallah, allahu akbar…aku terharu mendengar penjelasan itu, biarlah orang yang tidak suka mau mencela apa, yang terpenting bagaimana Allah ridho(cinta) pada kita dan kita pun ridho(cinta) pada Allah, sekalipun kita laksana memegang bara. Dan bahan renungan bagi kita, apakah kita termasuk kaum yang di ganti(murtad) atau kaum yang mengganti(Mu’min) dari ayat alqur’an tersebut di atas. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang sujud ruku bersama dalam rangka berserah diri kepada Allah dengan mengharap ridho-Nya.
The smile of terrorist, wah-wah, ada gaya baru nih, ‘menerror’ dengan senyuman. inilah salah satu saudara kita punya gaya Assyahid Amrozi Rahimatullah, walaupun di dalam kerangkeng besi dengan tangan di borgol, dia tetap tegar dan terus tersenyum, walaupun siksaan bertubi-tubi menderanya, tapi beliau tetap tabah dan ikhlas terhadap apa yang menimpanya, dengan ketegaranya dia tetap tersenyum, walaupun sebagian orang lirih melihatnya. Subhanallah senyuman dalam ketegaran, menggentarkan nyali-nyali si pecundang yang telah menjadi budak dan menjual negrinya kepada Amerika.
Allahu akbar…allahu akbar…allahu akbar…!!! bergembiralah wahai saudaraku sekalipun gelaran terroris kita sandang, InsyaAllah, pertolongan Allah akan datang, kita akan menang…
Wallahu’alam…

by : Abdullah Al Bantany

Subhanallah,… ada-ada aja orang, dulu ketika kami sama-sama di bangku kuliah, belum pernah terdengar panggilan itu kepadaku. Tapi kini setelah aku bergaul dan kedekatanku pada para aktivis islam yang sedang berjuang membela hak-haknya demi tegaknya izatulislam(kemuliaan islam), julukan baru itu disandangkan kepadaku..
ah, biarlah kata orang apa, yang penting aku menikmati apa yang ku pilih dalam kehidupan ini, sekalipun sebagain keluargaku mengkhawatirinya. Hmm…terkadang penilaian orang terhadap julukan terroris langsung berimage negatif, karena informasi tentang hal itu mereka dapati dari media-media barat yang tak mau bersikap obyektif.
Ketika aku pulang ke rumah ortu, di akhir tahun 2004, terjadilah reuni kecil-kecilan dengan teman-teman satu gank waktu di bangku kuliah, mereka pun sebagian kaget melihat penampilanku yang berbeda dengan yang dulu, waktu dulu celana bolong-bolong, rambut panjang, ngerokok and ikut juga konsumsi narkoba, wah kaga karu-karuan deh…tapi dalam pertemuan reuni itu ada suatu yang berbeda menurut mereka dengan penampilanku ini, maka ada sebagian dari teman-temanku yang latah, memanggilku terrroris…kamu telah jadi terroris ya?…ku balik nanya sama mereka, emang kenapa gitu?…mereka menjawab : “nggak, cuman kamu sama penampilannya kaya orang-orang yang di tangkap dengan tuduhan terroris, cirinya yaitu berjenggot, pakaian tidak isbal, dan di jidatnya ada tanda hitam bekas sujud..hehehe…” mereka sambil tertawa dan aku pun tersenyum. Wah, begitu dahsyatnya Opini yang di tiupkan oleh media kuffur sehingga salah satu ciri-ciri orang sholeh mereka imagekan negatif dan di gelari terroris. Laahaula wuala quatailabillah…
Tapi lain hal dengan temanku yang satu ini, dia teman satu kajianku dalam halaqohan di mesjid kampus, di memanngilku terroris juga, loch kok bisa? di menjawab keherananku, “positifkanlah pikiranmu, tidak setiap kata itu berarti jelek, tahukan kamu apa yang aku maksud “, aku geleng-geleng kepala, dia melanjutkan jawabanya: “tidak setiap orang sama memaknai kata terroris, tergantung dia pake kacamata idiologi apa?, lah kalo kita, memaknai terroris itu adalah terlihat indah, romantis dan manis”, dan dia tersenyum. lalu menjelaskan tentang itu.
Terlihat indah, kita harus memberikan uswah(contoh) yang baik pada saudara-saudara kita, dalam hal ahlaq, adab-adab ibadah lainnya, sebagaimana Rosulallah Sholallahu Alaihi Wassalam, dan para Sahabat serta tabi’in dan tabi’ut telah mencontohkannya. Bagaimana kita berkasih sayang terhadap makhluk-makhluk lainnya, dan bagaimana kita mencintai sesama kita, sebagaimana islam Rahmatanlil’alamin.
Romantis, disinilah kita bisa merasakan ketentraman dengan cinta, islam telah mengatur tentang bagaimana kita, satu sama lainnya saling memberikan ketentraman. Salah satunya adalah dengan keluarga SAMARA (sakinnah Mawwadah dan Warrahmah), sakinnah dimana kita bisa saling mencurahkan kasih sayang dengan kejujuran dan saling percaya dengan sepenuh hati, mawwadah dimana kita saling menentramkan satu sama lainnya dengan ketulusan kita dalam memberikan kasih sayang, hal ini tidak akan mudah kita dapati kecuali kita ikhlas dalam ujian-ujian yang di berikan kepada kita. Karena suami adalah ujian bagi istrinya begitu pula istri ujian bagi suaminya, dan semuanya itu adalah ladang amal bagi yang ridho. Serta warrahmah, Allah akan menurunkan rahmatnya kepada sesiapa saja yang ikhlas dalam menghadapi berbagai ujian, dengan memberikan rezeky berupa harta dan anak, bahkan Allah memberikan pahala sebagai imbalan di jannahnya. Amiin..
Manis(Manusia Islam), nah untuk hal ini, agar kita kelihatan manis banyak-banyaklah bersedakoh sama orang, dengan harta dan kelembutan hati serta senyum. subhanallah…

Di akhir penjelasannya dia membacakan al-quran surat 5 : 54 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa saja yang di kendaki-Nya, dan Allah maha luas(pemberian-Nya) dan Maha mengetahui”.
subhanallah, allahu akbar…aku terharu mendengar penjelasan itu, biarlah orang yang tidak suka mau mencela apa, yang terpenting bagaimana Allah ridho(cinta) pada kita dan kita pun ridho(cinta) pada Allah, sekalipun kita laksana memegang bara. Dan bahan renungan bagi kita, apakah kita termasuk kaum yang di ganti(murtad) atau kaum yang mengganti(Mu’min) dari ayat alqur’an tersebut di atas. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang sujud ruku bersama dalam rangka berserah diri kepada Allah dengan mengharap ridho-Nya.
The smile of terrorist, wah-wah, ada gaya baru nih, ‘menerror’ dengan senyuman. inilah salah satu saudara kita punya gaya Assyahid Amrozi Rahimatullah, walaupun di dalam kerangkeng besi dengan tangan di borgol, dia tetap tegar dan terus tersenyum, walaupun siksaan bertubi-tubi menderanya, tapi beliau tetap tabah dan ikhlas terhadap apa yang menimpanya, dengan ketegaranya dia tetap tersenyum, walaupun sebagian orang lirih melihatnya. Subhanallah senyuman dalam ketegaran, menggentarkan nyali-nyali si pecundang yang telah menjadi budak dan menjual negrinya kepada Amerika.
Allahu akbar…allahu akbar…allahu akbar…!!! bergembiralah wahai saudaraku sekalipun gelaran terroris kita sandang, InsyaAllah, pertolongan Allah akan datang, kita akan menang…
Wallahu’alam…

Pos ini dipublikasikan di NASEHAT, True Story. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s