Jihad Menyebabkan Reaksi Keras Musuh

• Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memimpin 300-an sahabat keluar dari Madinah untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang pulang dari Syam. Penghadangan kali ini adalah kali yang kesekian, setelah sebelumnya beberapa pasukan beliau berangkatkan untuk menghadang kafilah-kafilah dagang Quraisy. Bisa dipastikan, gangguan terhadap kekuatan utama ekonomi Quraisy ini akan menimbulkan reaksi keras kaum kafir Quraisy.
Ternyata, dugaan ini terbukti. Kaum kafir Quraisy memberangkatkan 1000 personal bersenjata lengkap untuk mengamankan sumber utama ekonominya. Terjadi perubahan besar diluar dugaan ; kafilah dagang yang dihadang berhasil lolos, 1000 pasukan musuh bergerak terus menuju kaum muslimin, sementara kaum muslimin tidak mempunyai persiapan perang. Dengan semua fakta ini, adakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membatalkan operasi ???
• Perang Uhud, tidak lain adalah bentuk reaksi dan pembalasan dendam kaum kafir Quraisy atas kekalahan dalam perang Badar. Mereka bahkan akan menyerang langsung ke kota Madinah, sehingga menimbulkan perbedaan di kalangan sahabat ; kalangan tua ingin menghadapi musuh di kota Madinah, sedang kalangan muda menginginkan musuh disambut di luar Madinah. Perang akhirnya terjadi di luar Madinah, dan kaum muslimin mendapatkan musibah. Apakah dengan adanya musibah ini, turun wahyu dari langit mencela ketergesaan menerjuni perang Badar yang menimbulkan reaksi dan pembalasan keras kaum kafir Quraisy di medan Uhud ? Ataukah wahyu turun mencela kecintaan kepada harta duniawi (ghanimah) dan ketidak disiplinan sebagian pasukan Islam dalam mentaati perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam ?
• Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar, semula di luar perkiraan mereka, mengingat sama sekali tidak ada niatan dan persiapan perang. Misalkan, dalam perang Badar kaum muslimin mengalami musibah. Apakah lantas hukum jihad mereka berubah, dalam artian jihad mereka dicela karena menerjuni peperangan yang tidak seimbang dan menarik reaksi keras musuh ??? Pertanyaan yang sama bisa diajukan atas perang Hunain, Tabuk dan Mu’tah.
• Logika bijaksana “kekhawatiran operasi-operasi jihad akan menarik reaksi keras musuh” ini, pada akhirnya akan menihilkan bentuk-bentuk jihad fi sabilillah, bahkan jihad dengan pena, lisan, amar ma’ruf dan nahi munkar sekalipun.
Masing-masing amal sholih yang dibenci oleh kaum kafir, munafik, zalim dan orang-orang yang menyimpang ini, pasti akan mendapatkan reaksi keras dari musuh-musuh Islam. Tingkatan kuat dan lemahnya reaksi tersebut tentu berbeda-beda, tergantung seberapa kuat amal shalih yang dilakukan kaum muslimin. Reaksi keras para preman dan aparat yang menjadi backing tempat-tempat kemaksiatan terhadap laskar FPI, misalnya, tentu berbeda dengan reaksi keras kaum sekuler terhadap para cendekiawan muslim yang anti gerakan sekulerisme-pluralisme-liberalisme, dan tentu berbeda dengan reaksi keras aparat taghut terhadap mujahidin yang melakukan operasi-operasi bersenjata.
Jika musuh-musuh Islam —baik kaum kafir, munafik, zalim maupun orang-orang bodoh— mengetahui mentalitas dan logika “bijaksana” para pengikut kebenaran seperti ini, tentu mereka akan melancarkan teror media massa dan media elektronik secara besar-besaran, untuk menggentarkan nyali para pengikut kebenaran. Teror mass media secara terus menerus akan memperdalam “logika bijaksana” ini dalam mental para pengikut kebenaran. Akhirnya, akan menjadi benteng pertahanan yang kuat bagi musuh-musuh Islam. Mereka tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, tenaga dan kemampuan untuk memukul para pengikut kebenaran. Cukup dengan propaganda dan pembentukan opini public di mass media; murah, meriah dan efektif.
Siapa yang menganut “logika bijaksana” ini, — mau tidak mau, sadar maupun tidak sadar— juga harus menolak dan melarang berbagai operasi jihad di Palestina, Chechnya, Afghanistan, Iraq dan tempat-tempat jihad lainnya. Sebuah operasi istisyhad di Palestina yang menewaskan dan mencederai beberapa gelintir Yahudi, akan mendapat reaksi sangat keras dari tentara Israel ; tank-tank melabrak para pejuang Palestina, buldozer-buldozer meruntuhkan kampung-kampung pemukiman muslim Palestina, pengangkapan para pemuda muslim Palestina dan otomatis para pekerja muslim Palestina yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja di daerah pemukiman Yahudi akan kehilangan pekerjaan. Keuntungan operasi-operasi jihad di Palestina sangat kecil bila dibandingkan dengan kerugiaan yang harus dtanggung oleh bangsa muslim Palestina.
• Cara menimbang sebuah amal secara benar, bukanlah dengan melihat hasil akhir amal tersebut, namun dengan melihat landasan amal tersebut. Jika amal tersebut dibangun di atas dasar pemenuhan seluruh syarat-syaratnya, maka amalan tersebut sudah benar, dan hasil akhir tidak mempengaruhi keabsahan amal.
Kewajiban seorang hamba adalah beramal dan berusaha, Allah Ta’ala yang menentukan hasilnya. Kewajiban hamba adalah berusaha maksimal, berhati-hati, mempersiapkan diri, mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan bermusyawarah dengan orang-orang yang mempunyai keahlian di bidangnya. Setelah itu, membulatkan tekad, bertawakal dan beramal.
Allah Ta’ala berfirman :

وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
” Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran :159).
Jika semua hal ini telah dilaksanakan, ia dianggap telah berijtihad. Jika benar mendapat dua pahala, dan jika salah mendapat satu pahala. Adapun memberikan komentar “jika amalmu tidak mencapai hasil yang ditargetkan, atau mendatangkan mafsadah, berarti amalmu salah, atau tergesa-gesa”, adalah sebuah penilaian yang zalim dan tidak proporsional.

وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ
” Dan timbanglah dengan neraca yang benar.” (QS. Al-Isra’ :35).

وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا
” Dan apabila kamu berkata, hendaklah kamu berlaku adil.” (QS. Al-An’am :152).
Banyak ayat dan hadits yang menunjukkan, kewajiban seorang hamba hanyalah berusaha, dan hasil di tangan Allah Ta’ala.
Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (QS. 5:99)

وَإِن ماَّنُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ
Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka. (QS. 13:40).
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya 13/172 menerangkan makna ayat ini, bahwa kewajiban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam hanyalah menyampaikan risalah. Urusan sempat melihat adzab yang menimpa orang-orang kafir sebelum beliau meninggal, atau tidak sempat melihatnya karena lebih dahulu meninggal, bukan menjadi urusan beliau.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّه عَنْهمَا قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
Dari Ibnu Abbas, ia berkata,” Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menemui kami dan bersabda,” Diperlihatkan kepada umat-umat manusia. Ada seorang nabi yang mempunyai seorang pengikut. Ada seorang nabi yang mempunyai dua orang pengikut. Ada seorang nabi yang mempunyai beberapa orang pengikut. Dan ada seorang nabi yang sama sekali tidak mempunyai pengikut.”
Tentu tidak ada seorang muslim yang berani mengatakan para nabi ‘alaihim shalatu wa salam terlalu meremehkan urusan mengambil sebab atau gagal dalam berdakwah. Demikian juga dengan jihad. Adanya sebagian yang terbunuh, tertawan, terluka dan diburu musuh, tidak bisa dijadikan tolok ukuran kesalahan dasar operasi jihad, selama operasi tersebut dibangun di atas landasan yang benar.

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ اْلأَعْلَوْنَ إْن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ {139} إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحُُ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحُُ مِّثْلُهُ وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهاَ بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ {140} وَلِيُمَحِّصَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,
dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. Ali Imran : 139-141).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ غَازِيَةٍ أَوْ سَرِيَّةٍ تَغْزُو فَتَغْنَمُ وَتَسْلَمُ إِلَّا كَانُوا قَدْ تَعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أُجُورِهِمْ وَمَا مِنْ غَازِيَةٍ أَوْ سَرِيَّةٍ تُخْفِقُ وَتُصَابُ إِلَّا تَمَّ أُجُورُهُمْ *

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata,” Rasulullah Shallallahu ‘alaihii wa salam bersabda : Tidaklah sebuah pasukan atau ekspedisi perang berperang dan selamat kecuali mereka telah menyegerakan penerimaan 2/3 pahala mereka. Dan tidaklah sebuah pasukanatau ekspedisi perang gagal dalam peperangan dan mereka terbunuh, kecuali pahala mereka telah disemurnakan.” Dalam riwayat Muslim lainnya :

مَا مِنْ غَازِيَةٍ تَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُصِيبُونَ الْغَنِيمَةَ إِلَّا تَعَجَّلُوا ثُلُثَيْ أَجْرِهِمْ مِنَ الْآخِرَةِ وَيَبْقَى لَهُمُ الثُّلُثُ وَإِنْ لَمْ يُصِيبُوا غَنِيمَةً تَمَّ لَهُمْ أَجْرُهُمْ *

” Tidaklah sebuah pasukan berperang di jalan Allah dan mendapat ghanimah, kecuali mereka telah menyegerakan 2/3 pahala mereka di akhirat, sehingga tinggal tersisa 1/3 pahala. Jika mereka tidak mendapat ghanimah, maka pahala mereka telah sempurna.”
Peristiwa terbunuh, tertawan, terluka atau diburunya sebagian mujahidin memang menimbulkan kesedihan dalam hati sebagian kaum muslimin. Namun semua itu tidak selayaknya membuat lupa terhadap hakekat makna yang dijelaskan oleh berbagai ayat dan hadits ini. Semua itu adalah karunia dan pilihan dari Allah ; untuk membersihkan barisan, menghapus dosa, meninggikan derajat dan menjayakan Islam.
Allah Ta’ala menerangkan, mencela sebuah operasi jihad dan mujahidin dengan melihat kepada hasil akhir sebuah operasi jihad, bukanlah sifat kaum beriman.

يَاأَيًّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لإِخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي اْلأَرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَّوْ كَانُوا عِندَنَا مَامَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللهُ يُحْيِ وَيُمِيتُ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرُُ {156}
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:”Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran :156).

الَّذِينَ قَالُوا لإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang:”Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah:”Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imran ;168).

وَإِنَّ مِنكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةُُ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللهُ عَلَىَّ إِذْ لَمْ أَكُن مَّعَهُمْ شَهِيدًا
Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang-orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata:”Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka”.(QS. An-Nisa’ : 72).
• Operasi-operasi jihad yang telah dilakukan mujahidin, dengan izin Allah, telah memberikan pukulan surprise kepada AS dan sekutu-sekutu serta antek-anteknya. Operasi ini telah mengganggu ekonomi dan keamanan AS di seantero dunia, memaksa AS untuk mengeluarkan anggaran lebih besar untuk menghadapi front di seluruh dunia, dan yang tak kalah pentingnya membuka kedok pemerintahan taghut sekuler yang berwala’ kepada AS, rela melakukan penindasan kepada rakyatnya sendiri demi meraih restu dan dukungan AS dan sekutunya.
Ini adalah sebuah kemenangan besar yang tak bisa diukur dengan materi. Kemenangan tauhid dan wala’, sebuah hasil yang sulit dilakukan oleh gerakan dakwah, tarbiyah dan gerakan sosial Islam selama puluhan tahun. Allah Ta’ala berfirman tentang urgensi membuka kedok musuh :

وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
Dan demikianlah Kami menerangkan ayat-ayat al-Qur’an. (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. (QS. Al-An’am:5).

by: Abdulloh Al Bantany

Pos ini dipublikasikan di Al Jihad, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s