Realita Juru Dakwah

TIGA KELOMPOK YANG SELAMAT

DAN TIGA JURU DAKWAH YANG BINASA

KARENA TERJEBAK FENOMENA KITMAN, TALBIS DAN TAWALLI

OLEH

ABU SULAIMAN

Tiga Golongan Orang Mukmin Yang Selamat

Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘aalamiin, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

‘Amma ba’du:

Ikhwani fillah… materi kali ini kita akan membahas kandungan hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Orang mu’min yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik daripada orang mu’min yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka” (HR. Ibnu Majah, hasan, dari Ibnu Umar, diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan At Tirmidziy)

Hadits ini sederhana tapi kandungannya sangat besar dan sangat berkaitan dengan masalah Millah Ibrahim. Di sini Rasul saw mengatakan : “Orang mukmin yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka…” dalam arti dia tampil di hadapan manusia dan berinteraksi dengan mereka, tidak mengurung diri atau tidak mengasingkan diri. Dia sabar terhadap berbagai sikap buruk yang ditimbulkan oleh kaumnya.

Kata sabar tidak muncul kecuali setelah terjadi sesuatu yang mendorong orang tersebut untuk bersabar. Maksudnya adalah orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan dia mendakwahkan ajaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjaharkan dakwah tauhid yang dia anut, dia menampakkan Millah Ibrahim. Dan tentunya ketika orang menampakkan Millah Ibrahim akan mendapatkan penindasan daripada manusia.

Sebagaimana kita tahu bahwa sejarah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau menampakkan Millah Ibrahim karena diperintahkan Allah, maka yang terjadi adalah beliau dilempari, beliau dicekik, beliau juga dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang sangat keji. Para shahabat pengikutnya seperti Bilal di siksa, Sumayyah dibunuh, Yassir dibunuh, Amar disiksa hingga patah tulang rusuknya, Khabab disiksa, dan shahabat yang lain -karena mereka tidak tahan dengan berbagai penindasan yang dilakukan orang-orang kafir Quraisy-, maka mereka diizinkan untuk hijrah ke Habasyah (Etiophia). Ini semua terjadi karena mereka menampakkan Millah Ibrahim.

Jadi di sini maksudnya adalah, bahwa ketika seseorang tampil di hadapan manusia dan dia ingin mendapatkan predikat orang mu’min yang mendakwahkan dienullah yang diberikan keutamaan seperti dalam hadits di atas, maka dia harus tampil dengan menampakkan Diennya, mengikuti uswah (teladan) para rasul sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan :

“Sesungguhnya telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia saat mereka berkata di hadapan kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran)kalian dan nampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja”. (Al Mumtahanah : 4)

dan firman-nya Subhanahu Wa Ta’ala:

Artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ”Ikutilah  Millah Ibrahim seorang yang hanif”, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (An Nahl : 123)

Dalam ayat-ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentauladani mereka, untuk mengikuti mengikuti Millah Ibrahim ”Ikutilah  Millah Ibrahim seorang yang hanif”.

Millah Ibrahim adalah apa yang dinyatakan dalam surat Al Mumtahanah: 4 tadi. Di dalamnya Allah memerintahkan kita untuk menyatakan keberlepasan diri di hadapan kaum musyrikin atau di hadapan orang-orang kafir (Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah). Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengedepankan keberlepasan diri dari para pelakunya daripada keberlepasan diri dari kemusyrikan mereka, karena bisa saja ada orang yang berlepas diri dari kemusyrikan mereka akan tetapi belum berlepas diri dari pelakunya.

Allah menekankan keberlepasan diri dari orangnya, karena jika berlepas diri dari orangnya maka otomatis akan berlepas diri perbuatan musyriknya, akan tetapi jika orang berlepas diri dari perbuatan kemusyrikannya maka belum tentu dia berlepas diri daripada orangnya. Dan ini adalah realita yang bisa kita saksikan, dimana banyak sekali orang berlepas diri dari kemusyrikan, akan tetapi mereka belum bara’ (berlepas diri) dari para pelakunya. Jika belum bara’ dari para pelakunya berarti belum merealisasikan Millah Ibrahim. Bahkan dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendahulukan keberlepasan diri dari para pelaku kemusyrikan sebelum berlepasa diri dari kemuyrikannya itu sendiri, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tentang perkataan Ibrahim ‘alaihissalam :

“Dan saya menjauhi kalian dan menjauhi apa yang kalian seru selain Allah” (Maryam: 48 )

Yang didahulukan adalah berlepas diri dari “kum” (kalian), yaitu dari orangnya atau para pelakunya lalu kemudian berlepas diri dari perbuatannya. Ayat berikutnya adalah firman Allah :

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadati selain Allah…” (Al Kahfi : 16 )

Millah Ibrahim adalah menampakkan keberlepasan diri dari kaum musyrikin dan dari perbuatan kemusyrikan atau kekafiran mereka. Di sini Allah mengedepankan keberlepasan diri dari orangnya terhadap keberlepasan diri dari perbuatan kemusyrikannya, supaya tidak ada orang yang mengaku telah berlepas diri dari kemusyrikan, akan tetapi dalam realitanya dia tidak berlepas diri dari para pelakunya.

Kemudian selanjutnya ayat “kami ingkari (kekafiran) kalian”, adalah mengingkari perbuatan kemusyrikan atau pengingkaran terhadap ajaran mereka. Ayat ini juga memakai khithab “kum” (kalian), maka berarti orang yang diseru ada di hadapan. Pengingkaran terhadap ajaran-ajaran syirik, falsafah-falsafah syirik, sistem-sistem syirik, hukum-hukum syirik, dan isme-isme yang bertentangan dengan ajaran Laa ilaaha illallaah.

Ayat “dan nampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja”. Yang dimaksud nampak adalah diluar, bukan di dalam hati. Allah juga mendahulukan penampakkan permusuhan daripada kebencian, karena bisa saja orang mengklaim bahwa dia membenci kemusyrikan, tapi ternyata realitanya dia tidak memusuhi pelakunya sehingga dia tetap berteman dekat dengan para pelakunya. Tapi jika orang memusuhi maka sudah pasti dia membencinya.

Ketika mempraktekkan Millah Ibrahim ini, di mana kita menyatakan keberlepasan dari itu semua di hadapan kaum musyrikin, dan ketika tampil dakwah di forum lalu kita nyatakan ini semua di hadapan mereka, dan ketika menjelaskan hal ini di hadapan mereka, maka yang akan ada adalah penerimaan yang total dan penolakan yang total juga. Ketika kita menampakkan sikap permusuhan maka mereka juga akan menampakkan sikap permusuhan, sehingga yang terjadi adalah penindasan dari mereka bila mereka memiliki kekuasaan…

Ketika ada penerimaan dan ada penolakan, maka yang akan terjadi adalah tafriq (pecah belah) antara dua kelompok, oleh sebab itu Rasulullah disifati oleh Jibril ‘alaihissalam dalam hadits Al Bukhariy: “Muhammad memecah belah di antara manusia” dan dalam riwayat yang lain “Muhammad pemecah belah di antara manusia”.

Jika ada satu keluarga kafir, lalu di antara salah satu anggota keluarganya ada yang menerima tauhid, sedangkan konsekuensi tauhid adalah adanya keberlepasan diri, permusuhan, dan pengingkaran dari perbuatan kekafiran atau kemusyrikan, maka yang akan terjadi ketika tauhid ditampakkan adalah permusuhan, kebencian, dan perpecahan di antara keluarga tersebut. Suami yang menerima tauhid akan pisah dari isterinya yang kafir, atau ayah yang kafir pisah dari anaknya yang menerima tauhid. Oleh karena itu juga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dtuduh sebagai “tukang sihir lagi pendusta”, dikarenakan di antara pengaruh sihir adalah memecah hubungan suami isteri.

Itulah peristiwa yang menimpa orang-orang terdahulu, juga yang menimpa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di Mekkah ketika dalam kondisi tertindas dan belum memiliki masyarakat yang mendukungnya. Oleh karena itu ketika beliau melihat keluarga Yassir yang sedang ditindas, beliau mengatakan: “Sabarlah wahai keluarga Yassir, …….”. Keluarga Yassir diperlakukan seperti itu karena menampakkan “tauhid”, Millah  Ibrahim.

Jadi kata sabar dalam hadits “Orang mukmin yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik …” adalah setelah menampakkan Millah Ibrahim.

Ketika orang tampil di hadapan masyarakat, sedangkan dia memposisikan dirinya sebagai du’at ilallaah, dia berada di posisi yang memberikan bayan, maka kewajiban yang pertama bagi dia adalah menjelaskan hakikat dien ini atau ajaran Allah yang sebenarnya yaitu tauhid (Laa ilaaha illallaah) al kufru bit thaghut wal iman billah serta konsekuensi-kensekuensinya, karena permasalahan sudah di depan mata dan karena kita hidup di negeri yang seperti ini,  ia harus siap menerima apapun  konsekuensi yang mungkin akan menimpanya. Inilah penjelasan yang dibutuhkan oleh masyarakat, yaitu penjelasan akan Laa ilaaha illallaah, hakikat thaghut dan rinciannya.

MAKA bila dia tidak menjelaskan hakikat dien ini di hadapan mujtama (masyarakat) padahal dia memposisikan dirinya sebagai orang yang tampil di atas mimbar yang mana masyarakatnya selalu menunggu apa yang dia ucapkan dan masyarakat sangat membutuhkan penjelasan yang segera, namun ketika dia tidak menjelaskannya karena sebab apa saja, maka itu adalah kitman (menyembunyikan ilmu), sedangkan kita tahu posisi orang yang menyembunyikan ilmu ketika orang sangat membutuhkan penjabarannya adalah sebagaimana yang Allah firmankan :

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan kepada kamu berupa bukti-bukti yang nyata tentang kebenaran dan petunjuk setelah Kami jelaskan hal itu kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh setiap makhluk yang dapat melaknati” (Al Baqarah : 159)

dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan :

“Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu terus dia menyembunyikannya maka dia diikat dengan kendali dari api neraka” (HR. Abu Dawud)

Sedangkan permasalahan yang paling dibutuhkan oleh masyarakat pada zaman sekarang ini dan yang paling utama adalah masalah tauhid, karena itu adalah pertanyaan yang ada disetiap benak manusia, dan bila dia tidak mejelaskannya maka dia masuk ke dalam ancaman ayat dan hadits di atas tadi.

Dan orang yang lebih parah dari orang yang kitman ini adalah orang yang memberikan pengkaburan al haq di hadapan manusia. Dia berada pada posisi sebagi orang yang memberikan bayaan (penjelasan) atau sebagai du’at ilallah, kemudian dia memberikan pengkaburan antara al haq dengan al bathil di hadapan manusia. Bila saja orang yang kitman (menyembunyikan) masuk ke dalam ancaman ayat di atas : “itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh setiap makhluk yang dapat melaknati”, sedangkan orang yang melakukan talbis (pengkaburan atau mencampurkan al haq dengan al bathil) maka ancamannya lebih keras dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seperti ulama-ulama yang memberikan pengkaburan di hadapan manusia tentang status thaghut dan ansharnya, dengan cara membela-bela mereka atau mengutarakan syubhat-syubhat untuk menetapkan keislaman mereka dan untuk membentengi dari pengkafiran terhadap mereka, maka ini adalah ulama yang melakukan talbis di hadapan manusia.

Selanjutnya, jika orang mukmin atau du’at itu tidak mampu untuk berdiri dalam posisi orang yang memberikan penjelasan kepada manusia, karena dia tahu konsekuensinya sangat berat dan belum siap untuk memikulnya, maka daripada dia terjatuh ke dalam kitman atau ke dalam talbis, maka lebih baik dia mundur atau turun dari mimbar, dia masuk ke dalam rumah untuk mengurusi diri dan keluarga atau pergi ke lereng gunung. Inilah adalah maksud dari lanjutan hadits “…orang mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka”.

Ini adalah orang yang tidak tampil di hadapan manusia, tapi dia sibuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya dengan tetap komitmen di astas tauhid, tidak berbaur dengan manusia, dia adalah golongan orang mu’min yang selamat. Dan ini ada dua macam :

Pertama: yaitu orang yang mengurung diri di rumahnya dan menjauhkan keluarganya dari sarana-sarana kekufuran dan kemusyrikan, dia memfokuskan untuk mempertahankan tauhid bersama keluarganya. Dia menyadari ketika mau menjaharkan dia tidak siap dengan segala resiko tadi, oleh karena itu dia mengurusi dirinya sendiri di rumahnya. Ini adalah orang mu’min, akan tetapi tingkatannya lebih rendah daripada orang mu’min yang pertama yang mendakwahkan tauhid dengan jelas dan siap menanggung segala resiko yang akan menimpanya.

Kedua: Yaitu orang mukmin yang mempertahankan tauhidnya dengan cara pergi ke lereng-lereng gunung, dia mengasingkan diri dari manusia-manusia yang rusak, dia mengurusi kambing-kambingnya. Orang mu’min ini tingkatannya sama dengan orang mukmin yang mengurus diri dan keluarganya di dalam rumahnya. Orang mu’min ini adalah seperti apa yang dikatakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Hampir saja harta orang muslim paling baik adalah kambing-kambing yang dia bawa pergi ke lereng-lereng gunung, dia lari mempertahankan diennya”. (HR. Abu Dawud)

dan dalam hadits:“Jika kamu sudah melihat hawa nafsu yang diikuti, kikir yang ditaati, dan orang merasa bangga dengan pendapatnya, maka uruslah urusan kamu pribadi dan tinggalkan urusan orang umum”

Kedua golongan mukmin yang mencari selamat ini jauh lebih baik dari pada orang-orang atau para du’at dan ulama yang melakukan kitman atau talbis. Akan tetapi yang lebih utama dari kedua golongan mukmin ini adalah orang yang menjaharkan Millah Ibrahim di tengah masyarakatnya.

Jadi, jika kita ingin tampil di forum di hadapan manusia, maka kita harus menjaharkan dan menyampaikan tauhid, karena hal ini adalah pertanyaan yang paling dibutuhkan oleh manusia, karena memang mereka hidup seperti pada kondisi Rasulullah di Mekkah, di mana tidak ada Daulah Islamiyyah yang menaungi dan kaum muslimin berada di bawah kungkungan penguasa thaghut yang kafir.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan (aku telah diperintah): Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan  ikhlash dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik” (Yunus: 105)

Aimmatud Dakwah Tauhid Najdiyyah ketika menjelaskan ayat-ayat ini, mereka mengatakan : “Ayat-ayat ini menjelaskan perihal dakwah ilallah dan membedakan diri dari kaum musyrikin serta menjauhi mereka, menjihadi mereka dengan hujjah dan lisan dan dengan pedang dan tombak”, kemudian mereka mengatakan : “penjelasan ini (yaitu menjelaskan pentingnya menampakkan perbedaan dengan kaum musyrikin dan dalam mengajak mereka kepada Allah) di dalamnya banyak manusia tergusur ke dalam keterpurukan, syaitan juga memiliki bagian untuk menyesatkan di dalamnya, di mana syaitan menggusur mereka ke dalam kitman atau talbis, bahkan ada yang menggusur mereka ke dalam muwaalah dan tawalliy kepada kaum musyrikin”

Itulah sebabnya Allah memerintahkan kita untuk mendahulukan keberlepasan diri dari kaum musyrikin sebelum berlepas diri dari kemusyrikan itu sendiri, supaya tidak ada peluang atau celah untuk terjatuh ke dalam muwaalah atau tawalliy. Karena ketika kita berlepas diri dari mereka dan merekapun berlepas diri dari kita, maka tentu akan ada batasan jarak antara diri kita dengan mereka. Dan ketika kita menyatakan permusuhan dan merekapun menyatakan permusuhan, maka tidak akan ada celah untuk muwaalah atau tawalliy kepada orang kafir. Akan tetapi bila keberlepasan diri ini tidak dilakukan secara total, maka mau tidak mau akan terjatuh minimal ke dalam muwaalah shughra yang merupakan dosa besar.

Dan du’at atau ulama yang memiliki pemahaman Irja, maka dia akan mudah sekali untuk terjatuh ke dalam tawalliy kepada orang-orang musyrik. Oleh karena itu para ulama salaf menghati-hatilkan bahwa Irja itu lebih busuk daripada Azzariqah (Khawarij), karena Irja ini mudah menghantarkan orang ke dalam kekafiran, apalagi dalam payung negara kafir seperti ini. Kita bisa melihat banyak kelompok atau jama’ah-jama’ah yang masuk ke dalam sistem demokrasi, mereka pada dasarnya berpaham Irja dari sisi Al Iman, mereka mengatakan “Yang penting saya meyakini di dalam hati….”, mereka terlalu mengenteng-enteng ajaran Allah sehingga banyak dari mereka melepaskan ajaran Islam tanpa  diri mereka sadari.

Kita kembali kepada materi, Jadi hadits “Orang mukmin yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka” (Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah) adalah isyarat yang pertama kepada penampakkan Millah Ibrahim yang merupakan inti ajaran para Nabi.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para shahabat dan para pengikutnya sampai hari kiamat. Alhamdulillahirabbil’alamin[1]

Fenomena

Kitman

Talbis & Tawalliy

Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘aalamiin, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

‘Amma ba’du:

Ikhwani fillah… Pada uraian yang lalu telah dibahas tentang macam-macam orang mukmin yang selamat, yaitu orang yang terang-terangan dalam mendakwahkan tauhid ini, dan ini adalah yang paling utama, kemudian orang yang mengurung diri dengan keluarganya menjauhkannya dari segala sarana kemungkaran dan kemusyrikan, dan ini adalah maksud hadits:

“Orang mu’min yang berbaur di tengah manusia dan dia sabar terhadap sikap buruk (penindasan) mereka adalah lebih baik daripada orang mu’min yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar terhadap sikap buruk mereka” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain.)

Kemudian orang yang ‘uzlah ke lereng-lereng gunung sebagaimana dalam hadits:

“Hampir saja harta orang muslim paling baik adalah kambing-kambing yang dia bawa pergi ke lereng-lereng gunung, dia lari mempertahankan diennya”. (HR. Abu Dawud)

Juga wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Bagaimana engkau wahai Abdullah ibn Amr bila engkau berada di tengah manusia-manusia hina yang janji-janji serta amanah mereka kacau dan mereka berselisih sehingga menjadi seperti ini –seraya beliau menyilangkan jari-jarinya-“ dia berkata: “Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada saya ?”” Beliau berkata: “Urusilah keluarga kamu dan tinggalkanlah urusan orang umum”” (Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya, shahih)

Dan materi kali ini adalah sekitar fenomena kitman, talbis dan tawalliy dalam dakwah. Atau masalah-masalah yang berkaitan dengan tiga golongan manusia yang binasa. Materi ini adalah kebalikan dari macam-macam golongan orang mu’min yang selamat pada materi yang lalu.

  1. I. Orang yang menyembunyikan Al Haq (Kitman)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan:

“Janganlah kamu mengkaburkan al haq dengan al bathil, dan janganlah kamu menyembunyikan al haq sedangkan kamu mengetahuinya” (Al Baqarah: 42)

Dan firman-nya Subhanahu Wa Ta’ala:

“Hai ahli kitab, kenapa kalian mencampurkan al haq dengan al bathil, dan kalian menyembunyikan al haq sedangkan kalian mengetahuinya?” (Ali Imran: 71)

Dan firman-nya Subhanahu Wa Ta’ala:

“Dan ingatlah tatkala Allah mengambil janji dari orang-orang yang diberi (ilmu) dari kitab Allah, kamu akan menjelaskannya kepada manusia dan kamu tidak menyembunyikannya, namun mereka mencampakkannya ke belakang dan mereka menjualnya dengan harga yang murah, sungguh sangat buruk sekali jual-beli yang mereka lakukan” (Ali Imran: 187)

Dan firman-nya Subhanahu Wa Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan kepada kamu berupa bukti-bukti yang nyata tentang kebenaran dan petunjuk setelah Kami jelaskan hal itu kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh setiap makhluk yang dapat melaknati” (Al Baqarah: 159)

Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu terus dia menyembunyikannya maka dia diikat dengan kendali dari api neraka” (HR. Abu Dawud)

Dalil-dalil di atas berbicara tentang kitman dan talbis. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengambil perjanjian kepada orang yang berilmu untuk menyampaikan al haq kepada manusia.

Ketika seseorang tampil sebagai du’at di atas forum, maka dia ada dalam posisi yang memberikan bayaan (penjelasan) di hadapan masyarakat. Karena yang namanya orang tampil di atas forum, berarti dia siap menjelaskan al haq. Sebab itu Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : “Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu terus dia menyembunyikannya maka dia diikat dengan kendali dari api neraka”, dan yang harus dipahami adalah yang namanya pertanyaan tidak mesti harus terlontar dari mulut, tapi permasalahan yang ada di depan mata yang mana semua orang mengalaminya dan semua orang membutuhkan jawabannya sedang kita hidup di dalamnya, maka itu adalah pertanyaan yang perlu cepat di jawab dan tidak bias ditangguhkan, pertanyaan ini adalah apa yang disebut pertanyaan al hal (kondisi real).

Di dalam Al Qur’an, orang yang menyembunyikan al haq atau kebenaran atau pertunjuk-petunjuk setelah jelas Allah jabarkan di dalamnya, maka orang-orang seperti itu “yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh setiap makhluk yang dapat melaknati”. Dan hal yang paling dibutuhkan oleh manusia kapanpun di manapun adalah yang berkaitan dengan kandungan Laa ilaaha illallaah serta hal-hal yang bisa menggugurkannya, yaitu syirik dan rinciannya.

Dan ketika kita hidup di negeri seperti ini, di mana kemusyrikan sudah menjalar ke setiap lapisan masyrakat, di sekeliling dan di atas kita bertengger kemusyrikan, maka kewajiban du’at yang paling pertama dan yang paling harus didahulukan adalah menjelaskan hakikat Laa ilaaha illallaah dan menjelaskan tentang masalah syirik serta status orang-orang yang ada di sekitar kita. Terutama yang berkaitan dengan masalah status manusia-manusia yang telah menjajah kaum muslimin yaitu masalah thaghut dan ansharnya.

Oleh karena itu, kewajiban du’at yang tampil di hadapan masayarakat umum, yang mana dia memposisikan dirinya sebagai orang yang memberikan bayaan (penjelasan) kepada manusia, adalah menjelaskan tentang tauhid dan syirik serta menjelaskan status penguasa ini beserta ansharnya sebelum menjelaskan tentang tatacara atau fiqh berbagai ibadah atau akhlaq hubungan antar manusia, sehingga kaum muslimin mengetahui bagaimana mereka berbuat dan bersikap terhadap penguasa ini.

Jika orang yang memposisikan dirinya sebagai du’at yang memberikan bayaan di tengah masyarakat dan ia tidak terikat oleh instansi manapun atau tidak berada di bawah kendali siapa-siapa dan tidak ada kaitannya dengan thaghut, maka yang paling wajib dan yang paling pertama dia harus jelaskan adalah tentang tauhid dan syirik juga status penguasa dan bagaimana kaum muslimin harus bersikap kepadanya. Akan tetapi jika si du’at yang tampil di forum ini tidak mandahulukan untuk menjelaskan tauhid dan syirik serta rincian-rinciannya, tapi dia malah menjelaskan masalah-masalah fadlail yang bersifat furu’ (cabang), maka dia sudah menyembunyikan al haq (kitman).

Orang yang terjatuh ke dalam fenomena kitman ini telah di ancam oleh firman Allah:

“Mereka itu adalah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh setiap makhluk yang dapat melaknat” (QS Al-Baqarah: 159)

Jika kita menelusuri ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah kitman, maka kita akan mengetahui bahwa orang-orang yang menyembunyikan al haq ini takut kedudukannya di tengah masyarakat atau dunianya hilang, mereka mencari selamat dan kemudahan untuk kepentingan dunianya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan ingatlah tatkala Allah mengambil janji dari orang-orang yang diberi (ilmu) dari kitab Allah, kamu akan menjelaskannya kepada manusia dan kamu tidak menyembunyikannya, namun mereka mencampakkannya ke belakang dan mereka menjualnya dengan harga yang murah, sungguh sangat buruk sekali jual-beli yang mereka lakukan” (Ali Imran: 187)

Seorang du’at yang paham akan tauhid serta konsekuensi-konsekuensinya, akan tetapi dia tidak menyampaikan masalah tauhid dan syirik, karena takut masyarakat lari dari dirinya, atau dia takut kehilangan jama’ah yang mana nantinya dia akan kehilangan lahannya untuk mendapatkan ‘materi’ atau dia takut disorot oleh thaghut, sehingga akhirnya dia lebih cenderung menyembunyikan al haq supaya kedudukannya tetap aman dan tetap dipakai oleh jama’ahnya atau masyarakatnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“…mereka memakan harta manusia dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi dari jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 34)

Menyembunyikan al haq sama dengan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Ketika tidak menjelaskan kebenaran, maka ini artinya menghalangi orang untuk tahu jalan Allah yang sebenarnya.

Jadi, semua ayat yang berkaitan dengan larangan untuk kitman atau talbis, maka pasti disertai dengan pernyataan “jangan menjual ayat Allah dengan harga murah”, ini artinya adalah jika ada orang yang kitman atau ada orang yang talbis pasti karena dia lebih mengutamakan dunia.

Lebih baik menjadi orang biasa daripada menjadi du’at tapi menyembunyikan al haq. Lebih baik tidak tampil di hadapan manusia atau mengurus diri sendiri dan menjauhkan keluarga dari sarana-sarana kemungkaran dan kemusyrikan. Lebih baik seperti itu daripada tampil di hadapan masyarakat tapi tidak menyampaikan al haq. Karena dengan begitu berarti dia telah menyembunyikan al haq dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, dan yang lebih parah adalah dia akan menimbulkan kerusakan pada dien dan bagi ummat ini.

Dengan semakin bercokolnya thaghut di tengah masyarakat adalah karena ulah dari para du’at atau ulama yang tampil ditengah masyarakat namun dia tidak menjelaskan tentang tauhid dan syirik, serta status pemerintahan thaghut ini dan juga tidak menjelaskan bagaimana seharusnya sikap kaum muslimin terhadap pemerintahan thaghut ini.

Jadi kitman ini terjadi pada du’at yang bebas, tidak terikat oleh lembaga manapun dan tidak berada dibawah kendali siapapun, akan tetapi ketika tampil dia sama sekali tidak menyinggung masalah hal yang berkaitan dengan fenomena yang sebenarnya harus dia jelaskan terlebih dahulu sebelum menjelaskan yang lainnya… ini adalah du’at yang terjatuh ke dalam kitman.

  1. 2. Talbis (pengkaburan al haq)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hai ahli kitab, kenapa kalian mencampurkan al haq dengan al bathil, dan kalian menyembunyikan al haq sedangkan kalian mengetahuinya?” (Ali Imran: 71)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Janganlah kamu mengkaburkan al haq dengan al bathil, dan janganlah kamu menyembunyikan al haq sedangkan kamu mengetahuinya” (Al Baqarah: 42)

Ketika orang melakukan talbis maka sudah pasti dia melakukan kitman, oleh karena itu talbis lebih parah daripada kitman. Jika yang kitman saja Allah katakan: “mereka itu adalah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh setiap makhluk yang dapat melaknat”, maka yang talbis lebih parah lagi ancamannya.

Fenomena talbis adalah seperti du’at yang masuk ke Departemen Agama. Ketika dia berbicara di hadapan masyarakat, meskipun -seandainya- yang dia sampaikan itu adalah al haq, maka masyarakat akan menilai bahwa seandainya pemerintahan ini kafir, maka tidak mungkin si ustadz ini mau berdakwah melalui lembaga milik thaghut, ini membuat masyarakat menilai bahwa pemerintah ini bukan pemerintah kafir atau pemerintah thaghut.  Dan si thaghutnya sendiri akan merasa bahwa dirinya bukan orang kafir atau merasa dirinya adalah muslim.

Dan akan banyak hal-hal pokok dalam Islam ini yang ditinggalkan ketika si du’at berada di bawah kendali pemerintah thaghut ini, di antaranya; keberadaan dirinya sendiri merupakan talbis (pengkaburan) di hadapan masyarakat meskipun dia tidak berbicara dan hanya hadir dalam suatu majelis atau forum. Sehingga masyarakat akan menilai bahwa seandainya sistem negara ini kafir maka tidak mungkin si ustadz mau membantu sistem mereka.

Sedangkan tauhid dan syirik adalah dua hal yang berbeda yang tidak dapat bersatu, orang yang memperjuangkan tauhid tidak mungkin bisa bergandeng tangan dengan orang yang memperjuangkan syirik. Dan tidak mungkin thaghut yang memperjuangkan syirik bisa memberikan fasilitas-fasilitas atau berbagai kemudahan kepada du’at yang memperjuangkan tauhid.

Ketika kita mufashalah (berlepas diri secara total) dari thaghut, maka di antara keuntungannya adalah dakwah tauhid akan tampak di hadapan thaghut dan di hadapan masyarakat, dan bahwa kita itu tidak sejalan dengan mereka, meskipun kita tidak berbicara tapi tindakan kita dengan tidak bergabung dengan mereka, maka itu sudah menjadi dakwah bahwa kita itu bara’ dari mereka, masyarakat akan tahu dan thaghut pun akan mengetahuinya. Selain itu, dengan cara seperti itu maka ketika ada orang yang belajar atau bertanya kepada kita, maka orang tersebut kemungkinan besar adalah orang yang benar-benar mau belajar, bukan karena sebab ingin mencari muka di hadapan thaghut.

Jadi, bila du’at larut di dalam sistem mereka, maka ini akan mengkaburkan al haq di hadapan masyarakat. Dengan bertambah jauhnya masyarakat dari kebenaran Islam zaman sekarang, hal itu adalah karena keberadaan departemen agama dan instansi-instansi semacam ini. Orang-orang Depag itu lebih berbahaya dan lebih besar kerusakan yang ditimbulkannya terhadap dien ini daripada keberadaan orang-orang di departemen yang lainnya, karena Depag atau departemen yang sejenisnya mengatasnamakan agama sedangkan departemen yang lain tujuannya adalah dunia. Maka ini adalah talbis di hadapan ummat.

Imam Sufyan Ats Tsauriy mengatakan: “Janganlah kamu duduk bersama ahlu bid’ah, karena akan melahirkan tiga hal…” dan salah satunya adalah “Kamu akan menjadi fitnah bagi orang lain” karena ketika seorang du’at duduk-duduk bersama ahli bid’ah, maka kebid’ahan yang dilakukan ahli bid’ah itu akan terkaburkan di hadapan masyarakat karena sebab kehadirannya, atau bahkan masyarakat tidak akan menganggap itu bid’ah.

Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata seraya melanjutkan ucapan Sufyan Ats Tsauriy di atas, beliau berkata: “Bila ini ucapan salaf tentang pentahdziran (penghati-hatian) duduk-duduk bersama dengan ahli bid’ah —karena bisa melahirkan hal-hal yang tadi—, maka bagaimana dengan orang yang duduk-duduk (mujalasah) dengan orang-orang kuffar dan murtaddun dari kalangan ‘Ubadul Qubur?”

Dan Syaikh Ali Khudlair mengatakan di dalam Kitab Ath Thabaqat tentang ‘Ubadul Qubur: “Di antara ‘Ubadul Qubur adalah para pengusung undang-undang buatan manusia”. Sedangkan anshar thaghut; mereka bekerja dalam rangka menegakkan hukum thaghut ini. Jadi, bagaimana bisa du’at yang berdakwah berjuang di jalan Allah untuk menegakkan hukum Allah dapat bekerjasama dan bergandeng tangan dengan orang-orang yang memerangi hukum Allah dan wali-wali-Nya. Ini adalah sesuatu yang mengherankan…

Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab di dalam Kitab Minhajut Ta-sis dan ayahnya Syaikh Abdurramhan Ibnu Hasan di dalam Syarhu Ashli Dienil Islam menyatakan “bahwa Syirik dan tauhid adalah dua hal yang kontradiktif yang tidak bisa menyatu…” dan jika dua hal ini bisa menyatu, maka berarti ada satu prinsip yang dikorbankan dari salah satunya.

  1. 3. Tawalliy

Dia larut dan menyatu dalam sistem yang ada, menyetujui, merestui dan mengikuti kekafiran, seperti para du’at yang masuk partai atau masuk parlemen dan masuk ke dalam sistem demokrasi, bahkan mengajak manusia untuk masuk ke dalam demokrasi. Dan ini sudah jelas kafirnya.

Ini adalah seperti apa yang dianut oleh kelompok-kelompok jama’ah irja, seperti orang-orang PKS dan yang serupa dengannya. Mereka tawalliy karena masuk ke dalam sistem kafir demokrasi, dan ini lebih parah daripada sekedar  talbis dan kitman.

Yang menyebabkan mereka jatuh ke dalam keterpurukan ini adalah seperti apa yang Allah firmankan dalam Al Qur’an:

“Seandainya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi, dan kitab yang diturunkan kepadanya, tentulah mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir sebagai auliya, akan tetapi kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang fasiq” (QS. Al Maidah: 81)

Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah manyatakan ketika menjelaskan ayat ini di dalam Kitab Ad Dalaail bahwa yang menyebabkan mereka jatuh ke dalam tawalliy ini adalah karena keberadaan mereka sebelumnya sebagai orang-orang fasiq, keadaan ini telah menghantarkan mereka jatuh ke dalam tawalliy kepada orang-orang kafir.

Sedangkan salah satu bentuk ke-fasiq-an yang sangat parah adalah keyakinan Irja (orang yang meyakini “iman itu di hati”).

Irja ini memiliki pemahaman bahwa bila hati meyakini kebenaran walaupun dhahir mengikuti kekafiran, maka itu bukan merupakan kekafiran. Banyaknya para du’at yang masuk sistem demokrasi karena sebelumnya mereka memiliki pemahaman yang seperti ini, yang mana ini merupakan bid’ah i’tiqad yang minimal pelakunya adalah orang fasiq. Pemahaman yang seperti ini adalah pemahaman yang menghantarkan mereka ke dalam tawalliy, sehingga ketika telah tawalliy kepada orang-orang kafir maka mereka divonis kafir.

Orang yang beriman kepada Allah, kepada Nabi, dan kitab yang diturunkan kepadanya tidak mungkin tawalliy kepada orang kafir, berarti jika ada orang yang tawalliy kepada orang kafir, maka dia bukan orang yang beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada kitab walaupun dia mengklaim iman kepada Allah, Nabi, dan Al Kitab. Sebagaimana Allah menafikan orang yang mengaku beriman Al Qur’an dan kitab yang diturunkan sebelumnya, akan tetapi mereka ingin berhakim kepada thaghut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk  mengingkari Thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (An Nisa: 60)

Orang yang tawalliy kepada orang kafir adalah layak untuk dikafirkan apapun keyakinannya, baik itu dia mengaku berkeyakinan Ahlus Sunnah Wal jama’ah atau tidak.

Dan yang diinginkan oleh thaghut yang kafir itu adalah bukan kaum muslimin merubah keyakinannya, akan tapi yang diinginkan oleh mereka adalah orang yang asalnya Islam ini mengikuti sistem mereka, sebagaimana firman-Nya :

“Orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepada kamu sampai kamu mengikuti millah mereka, mereka ingin agar kalian kafir sama seperti mereka” (QS. Al-Baqara : 120)

Yang diingingkan mereka dari manusia adalah apa yang terlihat oleh mereka, yaitu keadaan dhahir dan ucapan yang mengikti keinginan system mereka tanpa peduli terhadap keyakinan di hatinya. Karena soal keyakinan di dalam hati mereka tidak mengetahui dan tidak perduli dengannya.

Ini adalah tiga macam sikap para du’at yang bertentangan dengan al haq, yaitu kitman, talbis dan tawalliy. Kita harus menghindari diri darinya supaya tidak diancam Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan ayat-ayat dan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tadi.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para shahabat dan para pengikutnya sampai hari kiamat. Alhamdulillahirabbil’alamin[2]


[1] Materi ini disadur dari rangkaian kajian materi-materi tauhid Ust Abu Sulaiman.

[2] Materi ini disadur dari rangkaian kajian materi-materi tauhid Ustadz Abu Sulaiman.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, NASEHAT. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s