Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 15 Tidak Membedakan Dalam Takfier Antara Suatu Yang Tergolong Ashlul Iman Atau Nawaqidl-nya Dengan Suatu Yang Tergolong Al-Imam Al Wajib Atau Al Mustahabb)

Ngawur Dan Tidak Membedakan Dalam Takfier Antara Suatu Yang Tergolong Ashlul Iman Atau Nawaqidl-nya Dengan Suatu Yang Tergolong Al-Imam Al Wajib Atau Al Mustahabb

Di antara kekeliruan yang sering terjadi dalam takfier juga adalah ngawur dan tidak membedakan dalam takfier antara suatu yang tergolong ashlul Iman atau pembatal-pembatalnya dengan suatu yang tergolong Al-Iman Al Wajib atau yang Al Iman Al Mustahabb.  Sikap ngawur ini menjerumuskan dalam sikap serabutan dalam takfier.  Dan penjelasan itu adalah bahwa iman itu terbagi menjadi: Ashl (pokok/inti), wajib dan mustahabb.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Kitabul Iman pada Definisinya: (Dan ia (iman) itu terdiri dari ashl yang mana ia tidak sempurna tanpanya[1], dan (terdiri) dari iman yang wajib yang mana iman menjadi kurang dengan meninggalkannya dengan kekurangan yang mana pelakunya berhak mendapatkan sangsi, serta terdiri dari iman yang mustahabb yang dengan ketinggalannya lenyaplah derajat yang tinggi).

Ashlul iman: Adalah suatu yang mana Al-Iman tidak ada tanpanya dan tidak ada keselamatan dari kekafiran kecuali dengannya, dan ini yang dinamakan dengan muthlaqul  iman.  Dan ia itu meliputi cabang-cabang yang mana Al-Iman tidak sah kecuali dengannya:

Atas hati: Mengetahui apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara gelobal, membenarkannya, tunduk kepadanya disertai mendatangkan amalan-amalan hati yang mana Al-Iman tidak sah kecuali dengannya, seperti mahabbah (mencintai) apa yang dibawa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, ridla dan berserah diri terhadapnya serta amalan-amalan hati lainnya.

Atas Lisan: Iqrar (pengakuan) akan dua kalimah syahadat.

Atas anggota Badan: Shalat yang mana orang yang meninggalkannya dikafirkan, dan begitu juga rukun-rukun Islam lainnya menurut sebagian ulama sesuai perbedaan tentang kekafiran orang yang meninggalkannya.

Sedangkan dlabith (batasan) suatu yang tergolong masuk dalam ashlul iman: bahwa setiap ucapan atau perbuatan yang mana orang yang meninggalkannya dikafirkan, maka mengerjakannya termasuk ashlul iman, dan setiap ucapan atau perbuatan yang mana pelakunya dikafirkan, maka meninggalkannya tergolong ashlul iman.  Dan siapa yang membawa ashlul iman maka dia masuk syurga, baik langsung atau di kemudian hari, sebab ia tergolong kaum muwahhidin, sedangkan surga itu dipersiapkan buat kaum muwahhidin, dan ia adalah tempat kembali mereka meskipun mereka melakukan taqshir (keteledoran) dalam Al-Iman Al-Wajib.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam (Iqtidlaush Shirathil Mustaqim): (Tidak setiap orang yang ada padanya suatu cabang dari cabang-cabang keimanan menjadi mu’min sampai ada padanya ashlul iman) (hal 82)

Al-Iman Al-Wajib: Yaitu suatu yang lebih dari sekedar ashlul iman, berupa mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.  Sedangkan dlabith  suatu yang masuk dalam Al-Iman Al-Wajib adalah bahwa setiap amalan yang ada ancaman dalam hal meninggalkannya dan yang meninggalkannya itu tidak dikafirkan, maka mengerjakannya itu termasuk Al-Iman Al-Wajib, seperti penunaian amanah, berbakti kepada kedua orang tua, jihad yang wajib, silaturahim dan yang lainnya

Dan setiap amalan yang ada ancaman dalam hal melakukannya namun mengerjakannya itu tidak dikafirkan, maka meninggalkannya itu termasuk Al-Iman Al-Wajib seperti: Zina, Riba, Mencuri, minum khamr dan dusta.  Siapa yang taqsir di dalam Al-Iman Al-Wajib, di mana ia meninggalkan suatu kewajiban atau melakukan suatu yang haram, bila dia itu memiliki ashlul iman, maka ia itu termasuk ashhabul kabair (pelaku dosa besar) atau ‘ushatul muwahhidin (kaum muwahhid yang maksiat) atau orang yang dinamakan (al-fasiq al maliy) yaitu bahwa dia bersama kefasiqannya itu tidak keluar dari millah.  Siapa yang mati dalam hal ini, maka ia itu termasuk ahlul wa’id (orang-orang yang mendapat ancaman), akan tetapi ia itu berada dalam masyi’ah (kehendak Allah) -menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, berbeda dengan dengan Khawarij dan Mu’tazillah-  bila Allah menghendaki maka Dia mengampuninya dan memasukkannya kedalam syurga langsung tanpa ada adzab, dan bila Dia menghendakinya maka Dia mengadzabnya sesuai kadar dosanya, kemudian tempat kembali akhirnya adalah ke syurga, tempat kembali kaum muwahhidin dengan sebab ashlul iman yang ada padanya.

Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al-Bukhariy bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Sehingga bila Allah telah selesai dari memutuskan di antara para hamba  dan Dia ingin mengeluarkan dengan rahmat-Nya orang yang Dia inginkan dari penghuni neraka,  Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka orang yang tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah dari golongan orang yang Allah inginkan untuk merahmatinya dari orang-orang yang bersaksi akan laa ilaha illallah, maka para malaikat mengenal mereka di dalam neraka dengan bekas sujud)

Siapa yang mendatangkan Al-Iman Al-Wajib dengan ashlul iman, dia tidak taqshir  di dalamnya dan tidak menambahkan atasnya, maka ia adalah mu’min yang berhak mendapatkan masuk surga langsung tanpa ada adzab sebelumnya.  Dan berkenaan dengan macam mereka ini dikatakan di dalam hadits (Dia  beruntung bila jujur) tatkala seorang sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Demi dzat yang memuliakan engkau dengan al haq saya tidak akan melakukan tathawwu (tambahan yang mustahabb) satupun dan tidak akan mengurangi suatupun dari yang Allah Fadlukan kepada saya) HR.  Al-Bukhari.

Adapun Al Iman Al Mustahabb: maka ia adalah suatu yang melebihi dari Al Iman Al Wajib, berupa pelaksanaan Al-Mandubat (hal-hal yang dianjurkan) dan Al Mustahabbat, serta meniggalkan hal-hal makruh dan Al Musytabihat.  Siapa yang mendatangkan hal ini disertai ashlul iman dan al iman al wajib, maka ia tergolong As- Sabiqunal Bil Khairat (orang-orang yang terdepan dengan kebaikan) dengan izin Allah.  Dan lenyapnya tingkatan ini melenyapkan derajat yang tinggi, tapi tidak ada siksa atasnya serta tidak ada adzab.  Dan dari rincian ini teringkaslah bagi kita kaidah ini: (bahwa setiap ketaatan adalah iman dan bukan setiap maksiat adalah kufur akbar), sebagaimana ketaatan itu beraneka ragam tingkatannya, di antaranya ada yang masuk dalam ashlul iman  dan dianggap sebagai syarat bagi keimanan, ada juga yang masuk dalam Al-Iman Al Wajib, dan ada juga yang masuk dalam Al-Iman Al Mustahabb, sebagaimana dalam hadits “(Iman itu 60 sekian cabang, yang paling tinggi adalah pengucapan laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan kotoran dari jalan, sedangkan rasa malu itu adalah cabang dari keimanan)” Muttafaq ‘alaih.

Maka begitu pula halnya dengan maksiat, di antaranya ada yang mencoreng ashlul iman, dan ini dinamakan kekafiran atau pembatal. Di antaranya ada yang mencoreng Al-Iman Al-Wajib, dan ini dinamakan fisq maka mesti mengetahui setiap derajat dan apa yang berkaitan dengannya, dan membedakan antara suatu yang dikafirkan dengannya dengan sesuatu yang tidak dikafirkan dengannya, Allah Ta’ala:

Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatinya serta menjadikan kami benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan(Al Hujurat: 7)

Perhatikanlah pemilahan Allah Ta’ala antara kekafiran dengan kefasiqan  dan maksiat, maka sikap keberserahan diri seorang hamba tidak akan selamat sehingga ia membedakan antara apa yang telah Allah bedakan, dan ia menggabungkan serta menyatukan antara apa yang telah Allah satukan.

Dia mesti membedakan antara apa yang menggugurkan ashlul iman yaitu al mukkaffirat, dengan apa yang mengurangi Al Iman Al Wajib atau Al mustahabb dan tidak menggugurkan ashlul iman.  Sebagian ulama menggunakan istilah al iman al wajib atau wajibatul iman, dan mereka menggabungkan di dalamnya antara suatu yang tergolong ashlul iman dan tingkatan al iman al wajib, karena seluruhnya itu tergolong al wajibat, akan tetapi  yang pertama termasuk syarat Al Iman yang mana al iman menjadi gugur dengan kurangnya suatu darinya, sedangkan yang kedua termasuk wajibatul iman saja dan bukan termasuk syarat-syarat al iman, ia menjadi kurang dengan kekurangan  hal ini dan tidak menjadi gugur (batal/lepas).  Dan masalah ini adalah perbedaan istilah dan tidak ada pengaruh di dalamnya selama yang dimaksud adalah selaras/sejalan dengan ushul ahlus sunnah, dan itu bisa dipahami dari konteks sebagaimana yang disebutkan dalam contoh berikut ini:

Sungguh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah memperumpamakan bagian-bagian al iman dengan pohon, beliau berkata:

(Sesungguhnya sebatang pohon umpamanya adalah nama bagi gabungan batang, daun-daun dan dahan-dahan[2], dan ia setelah lenyapnya daun-daun tetap disebut pohon, dan setelah lenyapnya dahan ia tetap disebut pohon namun tidak sempurna dan kurang[3], maka hal seperti itu diberlakukan pada penanaman Al Iman dan Ad Dien.

Sesungguhnya iman itu tiga tingkatan:

–          Iman As-Sabiqunal Al-Muqqarrabun, yaitu iman yang didatangkan di dalamnya Al-Wajibat[4] dan mustahabbat berupa mengerjakan dan meninggalkan.

–          Iman Al Muqtashidin Ashhabul Yamiin, yaitu iman yang didatangkan di dalamnya Al Wajibat[5] berupa mengerjakan atau meninggalkan.

–          Iman Adh-Dhalimin, yaitu iman yang ditinggalkan di dalamnya sebagian al wajibat atau yang dikerjakan di dalamnya sebagian yang diharamkan.

Oleh sebab itu ulama As-Sunnah berkata ketika mensifati “i’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah”: (Sesungguhnya mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari kalangan ahlul qiblat dengan sebab dosa)” sebagai isyarat kepada bid’ah khawarij yang mengkafirkan dengan dosa apa saja.  Adapun ashlul iman yang mana ia adalah pengakuan terhadap apa yang dibawa para Rasul dari Allah sebagai bentuk tashdiq terhadapnya dan inqiyad kepadanya, maka ia adalah ashlul iman yang mana orang yang tidak mendatangkannya bukanlah sebagai orang mu’min……) 12/254 cet Daar Ibni Hazm

Kemudian berkata hal: 256 (Dan bila telah diketahui penggunaan nama al iman, maka saat disebut keberhakan surga dan keselamatan dari neraka dan (saat disebutkan) celaan terhadap orang yang meninggalkan sebagiannya dan yang lainnya, maka yang dimaksudkan dengannya adalah Al-Iman Al Wajib, seperti firman-Nya  Ta’ala: Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. “(Al-Hujurat: 15)

Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:Tidaklah pezina berzina saat dia berzina sedangkan dia itu mukmin, dan tidaklah pencuri mencuri saat dia mencuri sedangkan dia itu mukmin, serta tidaklah meminum khamr saat dia meminumnya sedangkan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Beliau menafikan darinya Al iman al wajib yang dengannya dia berhak dapat surga, namun tidak mesti hal itu menafikan ashlul iman dan bagian-bagian serta cabang-cabang lainnya.  Sampai ucapannya: (Dan di antara bab ini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Siapa yang menipu kami maka ia bukan tergolong kami”[6] bukan dimaksud dengannya bahwa dia itu kafir sebagaimana yang ditakwil oleh khawarij, dan bukan juga yang dimaksud dengannya bahwa ia bukan tergolong orang-orang pilihan kami sebagaimana yang ditakwil oleh murjiah.

Akan tetapi yang disembunyikan (mudlmar) adalah selaras dengan yang dinampakkan (mudhar), dan Al-Mudhar (yang ditampakkan) adalah orang-orang mukmin yang berhak akan pahala lagi selamat dari adzab, dan orang yang menipu itu bukan tergolong kami karena ia terancam dengan murka dan adzab Allah secara ikhtisar.

Dan kesimpulannya adalah bahwa al iman yang lawannya kekufuran ia saja adalah suatu yang tergolong ashlul iman.

Adapun al iman al wajib, maka ia adalah yang lawannya kefasikan, sedangkan al iman al mustahab adalah suatu yang lawannya meninggalkan yang tidak mengkafirkan dan tidak membuat fasiq.

Maka hati-hatilah dari sikap mencampuradukan antara nash-nash ketiga tingkatan, karena dalam hal itu terdapat sumber ketergelinciran pemahaman.

Hendaklah mengamati ayat-ayat dan hadits-hadits, dan hendaklah mentadabburinya serta hendaklah mengembalikan nash ynag musykil kepada nash yang terang lagi jelas, karena sesungguhnya tidak dikeluarkan dari lingkungan al iman dan al Islam kecuali orang yang mendatangkan dosa mukaffir yang melenyapkan ashlul iman, sama saja baik itu:

Meninggalkan suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban ashlul iman, seperti meninggalkan ikrar akan dua kalimah syahadat, atau meninggalkan shalat, atau lenyapnya tashdiqul qalbi, yaitu kufr takdzib, atau lenyapnya keyakinan hati, yaitu kufr syakk (keraguan) dan cabang-cabang serta wajibbat ashlul iman lainnya, baik itu tergolong amalan-amalan hati atau lisan atau jawarih (anggota badan)

Atau melakukan suatu keharaman dari keharaman-keharaman yang berlawanan dengan ashlul iman, sama saja baik itu tergolong amalan-amalan hati atau lisan atau jawarih, seperti tahakkum kepada thaghut atau mencela Allah dan rasul-Nya serta menyeru selain Allah atau menyembelih dan sujud kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala atau memalingkan tasyri’, tahlil, dan tahrim kepada selain-Nya.

Adapun yang mencoreng al-iman al wajib, maka sesungguhnya ia mengurangi al-iman dan tidak menggugurkannya, maka hati-hatilah dari melakukan takfier dengan hal itu saja.  Dan sebelum menutup bahasan ini saya ingin mengingatkan pada lima hal penting:

Pertama: Sesungguhnya kekafiran meskipun memang seperti apa yang telah engkau ketahui dengan mencoreng cabang mana saja dari cabang-cabang ashlul iman, akan tetapi sesungguhnya takfier dalam hukum-hukum dunia hanyalah dengan suatu yang menohok ashlul iman dengan lisan dan anggota badan (jawarih) secara pastinya, yaitu dengan ucapan-ucapan dan amalan dhahir saja.

Dan tidak ada kaitannya bagi amalan dalam hal takfier di hukum dunia ini, karena ia adalah hal yang ghaib yang tidak mungkin dilihat dan tidak bisa dijadikan patokan selama keyakinan itu tidak nampak pada ucapan dan amalan.   Dan engkau telah mengetahui bahwa syar’iy telah menetapkan bagi hukum-hukum syariat dalam hukum dunia ini sebab-sebab dan alasan-alasan yang dhahir lagi mundlabith (baku), sedangkan apa yang ada di lubuk hati adalah tidak nampak dan tidak mungkin diberikan patokan, oleh sebab itu hal tersebut tidak dibebankan kepada kita namun diserahkan kepada Allah.

Kedua: Sesungguhnya banyak dari shighat-shighat wa’id sebagaimana yang telah lalu, memiliki kemungkinan menohok ashlul iman atau mengurangi pada Al Iman Al Wajib, sehingga wajib menguji shighat-shighat yang muhtamal dengan dikembalikan kepada (nash) yang muhkam lagi mafashshal (yang diperinci) dari nash-nash yang menjelaskannya untuk mengetahui maksud syar’iy darinya, sehingga tidak terjadi kesamaran dan ketergesa-gesaan dalam hal takfier dengan suatu yang bukan kekafiran yang mengeluarkan dari millah.

Ketiga: Sesungguhnya ulama terkadang melontarkan lafadh (penafian) kesempurnaan iman, dan mereka memaksudkan penafian Kamalul Iman Al wajib dengan hal itu, maka hati-hati dari mengartikannya pada penafian hakikat Al –Iman yaitu (Ashlnya) terus engkau dengan landasan ucapan-ucapan para ulama itu mengkafirkan  orang yang tidak dikafirkan oleh syar’iy, atau malah mengartikannya pada (penafian) kamalul iman al mustahabb, sehingga engkau salah memahami maksud, karena syar’iy tidak mengancam atas sikap meninggalkan suatu dari cabang-cabang al iman  al mustahabb, bahkan ancaman itu tidak datang kecuali pada sikap meninggalkan suatu kewajiban dari wajibatul iman, baik itu tingkatan ashlul iman atau tingkatan Al-Iman Al wajib.

Syaikhul Islam berkata 12/256: (Makna ucapan mereka “penafian kamalul iman bukan hakikatnya) yaitu al kamal al wajib, bukan ia al kamal al mustahabb).

Dan berkata (7/14): (kemudian sesungguhnya penafian “al iman” saat tidak adanya (yaitu: cabang-cabang al iman) menunjukkan bahwa itu adalah (cabang) yang wajib, dan bila disebutkan keutamaan iman pelakunya dan tidak menafikan imannya maka ia menunjukkan bahwa ia adalah (cabang) yang mustahabb[7].  Karena sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya tidak menafikan nama penyebutan suatu yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kecuali bila ditinggalkan sebagian kewajiban-kewajibannya, seperti sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا صلاة الا بأم القرأن

Tidak ada shalat kecuali dengan Ummul Qur’an[8], dan sabdanya:

لا ايمن لمن لا أمانة له ولادين لمن لا عهدله

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada dien bagi orang yang bisa dipegang janjinya.[9]

Dan yang lainnya, adapun bila perbuatan itu mustahabb dalam ibadah maka tidak dinafikannya karena lenyapnya hal mustahabb itu…. “Hingga ucapannya: (Seandainya orang yang tidak mendatangkan kesempurnaannya yang mustahabb boleh hal itu dinafikan darinya, tentu bolehlah hal itu dinafikan dari jumhurul muslimin dari kalangan terdahulu dan kemudian, sedangkan ini tidak dikatakan oleh seorangpun yang berakal.

Maka siapa yang mengatakan: Sesungguhnya yang dinafikan adalah al kamal, maka bila ia memaksudkan sesungguhnya ia adalah penafian al kamal al wajib yang dicela orang yang meninggalkannya dan ia terancam siksaan, maka ia telah benar, dan bila ia memaksudkan bahwa itu adalah penafian al kamal al mutahabb, maka ini sama sekali tidak pernah ada di dalam firman Allah dan sabda Rasul-Nya dan tidak boleh terjadi, karena orang yang melakukan hal yang wajib sebagaimana mestinya dan tidak mengurangi sedikitpun dalam kewajibannya maka tidak boleh dikatakan bahwa ia: tidak melakukannya baik hakikat ataupun majaz.)

Dan berkata pula (7/30): (Dan begitu juga orang yang tidak mencintai bagi saudaranya yang mukmin apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri adalah berarti tidak ada bersamanya apa yang telah Allah wajibkan atanya berupa keimanan.  Bila Allah menafikan keimanan dari seseorang, maka itu tidak terjadi kecuali karena kurangnya suatu yang wajib atasnya berupa keimanan, dan ia itu tergolong orang-orang yang terkena ancaman lagi bukan tergolong orang-orang yang berhaq akan janji yang muthlaq.

Dan begitu juga sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam “Siapa yang menipu kami maka ia bukan tergolong golongan kami dan siapa yang menenteng senjata di hadapan kami maka ia bukan golongan kami.”[10] semuanya termasuk bab ini, tidak dikatakan kecuali terhadap orang yang meninggalkan apa yang telah Allah wajibkan atasnya, atau yang melakukan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasulnya sehingga ia telah meninggalkan dari iman yang difardlukan atasnya suatu yang menafikan darinya nama (iman) karenanya, sehingga ia tidak tergolong orang-orang mukmin yang berhak mendapatkan wa’d (janji) lagi selamat dari ancaman (wa’id)). Cetakan Daar Ibnu Hazm.

Dan atas dasar ini, maka sesungguhnya ucapan Al Hafidh Ibnu Hajar atau yang lainnya pada penjelasan hadits “tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya” sebagai contoh: (yang dimaksud dengan penafian adalah kamalul iman)[11], wajib membawanya pada penafian kamalul iman al wajib bukan al mustahabb, karena penafian nama al iman tidak terjadi karena meninggalkan hal yang mustahabb, akan tetapi  itu tidak terjadi kecuali karena meninggalkan hal yang wajib, baik itu dari ashlul iman atau dari tingkatan iman al wajib.  Sedangkan ucapan Al Hafidh hanyalah untuk mengingatkan bahwa hal itu bukan penafian ashlul iman sebagaimana yang dikatakan oleh khawarij, oleh sebab itu beliau berkata dalam tempat itu sendiri: (secara pasti bahwa orang yang tidak memiliki sifat ini bukan orang kafir).

Keempat: Bahwa batasan istihlal yang disebutkan sebagai syarat buat takfier dalam sebagian dosa hanyalah pensyaratannya di dalam dosa-dosa yang berpengaruh dalam tingkatan la iman al wajib, adapun suatu yang menggugurkan ashlul iman, maka tidak ada tempat bagi syarat ini di dalamnya, sebab ia tergolong mukaffirat (hal-hal yang mengkafirkan) dengan sendirinya yang tidak butuh terhadap syarat ini, namun bila dibarengi dengannya maka ia adalah tambahan dalam kekafiran.

Kelima: Sering terdapat dalam perkataan ulama pemisahan antara al iman al muthlaq dengan muthlaqul iman

Al Iman Al muthlaq Adalah iman yang sempurna lagi penuh yang menggabungkan antara ashlul iman, al iman al wajib dan al iman al mustahabb. Itu karena pada ucapanmu (al iman al muthlaq) adalah kamu memasukan laam pada kata al iman, sedangkan dia (laam) itu memberikan faidah umum dan syumul (mencakup), kemudian engkau mensifati al iman dengan al ithlaq dengan arti bahwa ia belum dibatasi dengan batasan yang mengharuskan pengkhususannya, maka ia itu umum mencakup setiap individu dari individu-individunya.

Adapun Muthlaqul Iman, maka ia digunakan dalam al iman yang kurang dan al iman yang sempurna.

Idlafat (penyandaran) di dalamnya bukanlah untuk faidah umum akan tetapi untuk membedakan, maka ia adalah kadar musytarak (yang berserikat di dalamnya) yang muthlaq bukan umum sehingga pantas digunakan buat semua individunya.

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manafikan al iman al muthlaq dari pezina, peminum khamr dan pencuri sebagaimana dalam hadits yang lalu, agar tidak masuk dalam firman-Nya:

Dan Allah adalah pelindung orang-orang mu’min” (Al Baqarah: 257)

Dan firman-Nya:

Sungguh telah beruntunglah orang-orang mu’min” (Al Mukminun: 1)

Dan firman-Nya:

“Orang-orang mu’min itu hanyalah orang-orang yang bila disebut (nama) Allah, maka hati mereka menjadi takut” (Al Anfal: 2)

Dan ayat-ayat lainnya.

Dan tidak menafikan darinya muthlaqul iman agar tetap ia berada dalam firman-Nya Tabaraka wa ta’ala:

Maka (hendaklah) memerdekakan hamba yang mu’min” (An Nisa: 92)

Dan firman-Nya:

Dan bila dua kelompok dari kaum mu’minin saling berperang” (Al Hujurat: 9)

Dan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا يقتل المؤمن بكافر

Orang mu’min tidak dibunuh (qishash) dengan sebab (membunuh) orang kafir”  (HR. Al-Bukhari dan yang  lainnya).

Oleh sebab itu terbuktilah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Orang-orang arab badui berkata: “ kami telah beriman” katakanlah “kalian belum beriman akan tetapi katakanlah: “kami telah Islam.” (Al Hujurat: 14)

adalah sebagai penafian akan al iman al muthlaq bukan muthlaqul iman[12].

Dan persis seperti itu muthlaqul tauhid dengan At-Tauhid Al Muthlaq:

Di mana Muthlaqul Tauhid: Masuk di dalamnya seluruh para muahhidin, baik kalangan khusus maupun kalangan awam, kalangan yang bertaqwa, maupun kalangan fasiq.  Seluruh orang yang beriman kepada Allah dan menjauhi ibadah terhadap thaghut serta tidak melakukan sesuatupun dari nawaqidl Tauhid maka ia termasuk dalam muthlaqul Tauhid meskipun ia taqshir dalam lawazim (konsekuensi-konsekuensinya) dan kewajiban-kewajibannya yang bukan tergolong ashlut Tauhid.

At-Tauhid Al-Muthlaq: Digunakan pada kamalut Tauhid yang sempurna yang mana si mukallaf di samping mendatangkan ashlut Tauhid dia juga mendatangkan wajibat, lawazim, dan mukammilat-nya, seperti menjihadi para thaghut, menampakkan permusuhan terhadap mereka, terang-terangan menyatakan bara’ah dari mereka dan dari wali-wali mereka dan berupaya dalam menjatuhkan kemusyrikan dan mengeluarkan manusia darinya. Dan tidak ada perselisihan dalam istilah akan tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui hal itu

Oleh karena itu, kami meskipun menggunkan lafadh “Al Muwahhid” sering sekali, dan kami maksudkan dengannya kalangan khusus penganut dien ini dan ansharnya,  kami menamai mereka dengan hal terpenting dalam dien ini yang mana mayoritas manusia taqshir  dalam lawazim dan wajibat-nya sebagai penguatan akan pentingnya tauhid yang mana ia adalah inti dakwah para rasul dan para pengikutnya.

Akan tetapi kami tidak menyukai dan menghati-hatikan dari menafikan tauhid dari orang-orang yang menyelisihi kami dalam hal takfier para thaghut dan menjihadinya; selama orang-orang yang menyelisihi itu termasuk kaum muslimin, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang.  Kami meskipun bersikap tasaahul (memperenteng) dengan itsbat (penerapan tauhid) dalam bab ini, akan tetapi kami tidak menyukai penafian di dalamnya serta melarang dari hal itu, karena itsbat itu tidak menimbulkan praduga suatu yang terlarang kecuali dengan (dilalah) mafhum, sedangkan ia itu tidak mesti, beda halnya dengan penafian, karena sesungguhnya dengan penggunaan an-nafyu (penafian) adalah dikhawatirkan menimbulkan praduga takfier setiap oang yang dinafikan hal itu darinya, sehingga wajib meninggalkannya, terutama sesungguhnya lawan tauhid dalam ‘urf kaum muslimin adalah syirik.  Sedangkan mayoritas manusia tidak terjurus pemahaman mereka terhadap istilah (yang berlaku) sampai orang mengatakan sesungguhnya ia memaksudkan dengan hal itu penafian At-Tauhid al Muthlaq bukan muthlaqut Tauhid, mereka tidak bisa membedakan ini dan itu, maka wajib menjauhinya dan menghindar darinya agar tidak menimbulkan praduga takfier orang yang menyelisihi dari kaum muslimin dan agar tidak memberikan kesempatan bagi musuh-musuh tauhid untuk berburu di air yang keruh.

Dan termasuk jenis ini adalah penggunaan banyak para du’at masa kini akan lafadh (akhuna/saudara kita) atau (Ikhwanuna/ saudara-saudara kami) bagi perkumpulan-perkumpulan dan tandzim-tandzim mereka – dan saya telah menghidupi realita ini – tidak untuk orang-orang yang menyelisihi mereka atau orang-orang yang tidak di atas thariqah dan dakwah mereka, dan mereka terkadang menafikannya dari mereka itu, di mana mereka mengatakan (mereka bukan tergolong ikhwan kita) yaitu: Bukan tergolong jama’ah mereka.  Dan ini tidak halal digunakan terhadap kaum muslimin, karena ia menimbulkan praduga bara’ah total dari mereka, dan ia itu buruk pengaruhnya terhadap para pengikut dari kalangan para pemuda.  Dan pengaruh negatif yang paling minimal adalah mewariskan hizbiyyah yang buruk, ini bila tidak mewariskan perlakuan  terhadap orang yang di luar (ikhwanuna) dengan perlakuan sebagai orang-orang kafir atau menghukumi mereka sebagai orang-orang kafir.

Dan Allah ta’ala telah menetapkan ukhuwwah imaniyyah antara kaum muslimin dalam kondisi terdahsyat permusuhan dan aniaya, yaitu pembunuhan dan saling berperang.. Allah ta’ala berfirman:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujurat: 9-10)

Sebagaimana Dia menggabungkan dengan persadaraan ini antara wali orang yang terbunuh dengan si pembunuh, Dia berfirman:

“Maka barangsiapa mendapat suatu penafian dari saudaranya” (Al Baqarah:178).


[1] Seandainya beliau rahimahullah berkata: (ashl yang mana ia tidak sah tanpanya) tentulah lebih jeli dan lebih tepat, kerena iman itu tidak sempurna dengan ashlnya saja, akan tetapi dengan ketiga tingkatannya yang dengan semuanya dinamakan Al-Iman Al-Kamil At-Taam (iman yang sempurna total).

[2] Ini isyarat pada iman yang sempurna dengan gabungan tingkatannya yang tiga

[3] Yaitu bahwa Al Iman dengan ketiga derajatnya adalah seperti sebatang pohon yang sempurna, dan setelah lenyap kesempurnaannya yang mustahabb dan yang wajib maka iman tidaklah gugur  dan tidak lenyap sebagaimana yang dikatakan oleh Khawarij dan Mu’tazillah, namun masih tetap ashlnya meskipun dinamakan iman yang kurang, seperti pohon bila telah lenyap daun-daunnya dan dahannya, dan masih tersisa batang dan pangkalnya, tidak lenyap meskipun kurang.

[4] Dan Al Wajibat di sini adalah mencakup wajibat ashlil iman dan al iman al wajib sebagaimana yang nampak.

48  Yang dimaksud di sini adalah meninggalkan suatu yang tergolong tingkatan al iman al wajib bukan ashlul iman, karena pengurangan dari ashlul iman merupakan pengguguran akan Al-Iman, terutama sesungguhnya beliau telah menggunakan pengklasifikasian yang ada dalam firman-Nya ta’ala  “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih  di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan…” orang – orang yang menganiaya diri mereka sendiri di sini tergolong orang – orang yang ALLAH subhanahu wa ta’ala pilih dengan sebab ushlul iman yang mereka miliki meskipun mereka berbuat taqshir pada wajibatnya.

[6] HR. Muslim

[7] Perhatikanlah hal ini, karena ia tergolong hal yang membantumu untuk membedakan antara suatu yang tergolong al iman al wajib dengan suatu yang tergolong al iman al mustahabb

[8] HR Al Bukhari dan Muslim secara lainnya

[9] Al Haitsamiy berkata dalam Al Majma (1/101): (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Al-Bazaar, dan Ath Thabrani dalam Al Ausath dan di dalamnya ada Abu Hilal, ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in dan yang lainnya, namun di dhaifkan oleh An Nasa’i  serta yang lainnya

[10] HR Muslim

[11] Fathul Bari (kitabul Iman) (Bab termasuk iman, orang mencintai bagi saudaranya yang ia cintai bagi dirinya sendiri).

[12] Lihat Badaiul Fawaid karya Ibnul Qayyim juz 4

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s