Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 14 Takfier Orang Yang Mati Di Atas Sesuatu dari Dosa Yang Belum Dia Taubati )

Takfier Orang Yang Mati Di Atas Sesuatu dari Dosa Yang

Belum Dia Taubati

Termasuk kekeliruan yang sangat buruk dalam takfier juga adalah takfier orang yang mati di atas sesuatu dari dosa yang belum dia taubati.  Dan sungguh saya telah melihat sebagian Ghulatul Mukaffirah mengatakan hal seperti ini, dan mereka mengecualikan dosa-dosa kecil seraya mengira bahwa mereka dengan hal itu bisa menutupi madzhab mereka yang syadz (ganjil) dari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, atau mereka membedakannya dari madzhab Khawarij, dan sudah maklum bahwa di antara Khawarij ada yang tidak mengkafirkan dengan dosa-dosa kecil, bahkan di antara mereka ada yang mengudzur  dengan kejahilan dan di antara mereka ada yang tidak mengkafirkan dengan dosa-dosa besar, sebagaimana yang akan datang di akhir kitab ini.

Dan sungguh dahulu saya telah mengatakan kepada sebagian mereka dalil-dalil yang menunjukkan kerusakan madzhab mereka ini, berupa ayat –ayat yang di dalamnya disebutkan ampunan Allah terhadap dosa-dosa secara umum, baik dosa kecil maupun besar, selain syirik atau kekafiran bagi orang yang mati di atasnya, seperti firman-Nya  Tabaraka Wa ta’ala:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) penyekutuan terhadap-Nya dan akan mengampuni dosa dibawah itu bagi orang yang dikehendaki-Nya”  dan hadits-hadits syafa’at yang di dalamnya disebutkan keluarnya banyak para pelaku dosa dari neraka  setelah mereka diadzab sesuai kadar dosa mereka atau mereka tidak masuk neraka sama sekali dengan rahmat Allah ta’ala  terhadap mereka.” (An Nisa: 48)

Mereka (para ghulat) mentaqyid hal itu bagi orang yang taubat di dunia sebelum dia mati, padahal sudah maklum bahwa taubat yang benar di dunia ini menghapus dosa sebelumnya, sehingga setelahnya tidak ada adzab atas seseorang, dan pintu taubat ini adalah luas lagi mencakup kekafiran, syirik dan yang lainnya, serta ia tidak khusus bagi dosa besar dan kecil namun ia umum.

Adapun ayat An-Nisa yang lalu, maka Ahlussunnah telah berhujjah dengannya sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam atas ahlul bid’ah yang mengatakan: Tidak diampuni bagi Ahlul Kabair bila mereka tidak taubat….Sebagaimana dalam Majmu Al Fatawa (7/416)

Dan beliau merinci hal itu ditempat lain, beliau rahimahullah berkata: (Allah ta’ala adalah pengampunan segala dosa, penerima taubat lagi dahsyat siksanya.  Dosa meskipun besar dan kekafiran meskipun dahsyat dan besar maka sesungguhnya taubat menghapus itu semua, sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala  tidak memandang besarnya dosa untuk dia ampuni bagi orang yang taubat, dia justeru mengampuni syirik dan yang lainnya bagi orang-orang yang taubat, sebagaimana firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-ku  yang telah berbuat aniaya terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya, sesungguhnya dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang” (Az Zumar: 53)

Ayat ini umum lagi muthlaq, karena ia bagi orang-orang yang bertaubat adapun firman-Nya:Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa penyekutuan terhadap-Nya dan mengampuni dosa yang dibawah itu bagi orang yang dikehendaki-Nya”, maka ia dibatasi lagi khusus, karena ia berkenaan dengan orang-orang yang tidak taubat, Allah tidak mengampuni dosa syirik, sedangkan yang dibawah syirik maka ia digantungkan dengan kehendak Allah ta’ala. (Majmu Al Fatawa cet. Ibnu Hazm 2/217)

Dan Ibnu Hazm telah menyebutkan firman-Nya ta’ala:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujurat: 9-10)

Dan firman-Nya ta’ala tentang qishash pembunuhan:

Barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya hendaklah  (yang mema’afkan) yang mengikuti dengan cara yang baik….” (Al Baqarah: 178)

Dan beliau menjelaskan bahwa Ukhuwwah Imaniyyah itu memestikan bahwa ia itu bukan orang kafir….. Kemudian berkata: ( Dan seorangpun tidak berhak mengatakan: Bahwa Allah ta’ala hanyalah menjadikan mereka sebagai ikhwan kita bila mereka taubat, karena nash ayat menyatakan bahwa mereka itu ikhwan dalam keadaan membangkang dan sebelum kembali kepada Al Haq) Al-Fash 3/236.

Dan perhatikan firman-Nya yang Dia firmankan berkenaan dengan dosa-dosa yang tidak mukaffirah, serta perbedaan antara ini dengan apa yang dia fimankan berkenaan dengan kekafiran, di mana dia mengaitkan ukhuwwah fid dien serta mengukuhkannya di atas taubat darinya dalam surat At-Taubah:

Kemudian bila mereka taubat (dari syirik/kekafiran), mereka shalat dan mereka menunaikan zakat, maka (mereka itu adalah) ikhwan kalian dalam dien ini, dan kami menjelaskan ayat-ayat kami bagi orang-orang yang memahami(At Taubah: 11)

Al Bukhari, muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ubadah Ibnu Ash Shamit bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya: (Marilah kalian bai’at saya untuk kalian tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, kalian tidak mencuri, tidak berzina, dan tidak membunuh anak-anak kalian ….) Hingga sabdanya: “( Dan siapa yang melakukan sesuatu dari hal itu kemudian Allah menutupinya, maka ia (dikembalikan) kepada Allah bila Dia menghendaki maka Allah memaafkannya dan bila Dia menghendaki maka Allah menyiksanya)”, Di dalamnya ada faidah bahwa orang yang melakukan sesuatu dari dosa-dosa itu dan belum ditegakkan  had atasnya serta Allah menutupinya hingga dia mati maka itu dikembalikan kepada masyi’ah-Nya, bila Allah menghendaki maka Dia mengadzabnya sesuai kadar dosa itu dan bila Allah menghendaki maka Dia memaafkannya, sedangkan orang seperti itu maka bukanlah orang kafir.  Ini umum, masuk di dalamnya orang yang belum taubat dan orang yang taubat yang tidak memenuhi syarat-syarat taubat yang haqiqiyyah lagi diterima di sisi Allah.  Adapun orang yang taubat dengan taubat kamilah haqiqiyyah mutaqabbalah (taubat yang sempurna lagi sebenarnya lagi diterima), maka tidak ada adzab atasnya, dan hal itu tidak dikeruhi oleh penyebutan syirik, karena ( keumuman hadits ini, sebagaimana yang dikatakan An-Nawawi– dikhususkan dengan firman-Nya ta’ala:(Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni ( dosa) penyekutuan terhadap-Nya)” (An Nisa: 48) Dan orang murtad bila dibunuh di atas riddahnya maka qatl (hukum bunuh) bagi dia itu bukanlah sebagai kafarat)

Al Hafidh berkata dalam (Kitabul Iman) … Fathul Bariy: (Dan dikatakan: Kemungkinan yang dimaksud ialah apa yang disebutkan setelah syirik dengan qarinah bahwa yang dikhitabi dengan hal itu adalah kaum muslimin, maka syirik tidak masuk sehingga butuh dikeluarkan, dan ini dikeluarkan oleh riwayat Muslim dari jalan Abul Asy’ats dari Ubadah dalam hadits ini: “Dan siapa yang mendatangkan had di antara kalian” karena qatl syirik tidak dinamai had)

Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Allah Azza Wa jalla) berkata: Siapa yang datang dengan kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat dan Aku menambahnya, dan siapa yang datang dengan keburukan, maka balasan keburukan  adalah semisalnya  atau aku mengampuni ….. “ Hingga firman-Nya: Dan siapa yang berjumpa dengan Aku dengan membawa sepenuh bumi seraya ia tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, maka Aku menjumpainya dengan ampunan semisalnya) di dalamnya ada dua indikasi yang menunjukkan untuk tidak takfier orang yang mati di atas dosa selain syirik, pertama sabdanya: dan siapa yang datang dengan keburukan, maka balasan keburukan adalah  semisalnya atau aku mengampuni)

Di dalamnya terkandung faidah bahwa orang yang datang kepada Allah dengan keburukan yang belum dia taubati, maka ia kembali kepada Allah, bila Dia menghendaki maka Allah membalasnya dengan yang semisalnya, dan bila Dia menghendaki maka Dia mengampuninya.  Dan kedua firman-Nya: Dan siapa yang berjumpa dengan-Ku dengan sepenuh bumi dosa seraya tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, maka Aku menjumpainya dengan ampunan semisalnya.”

Di dalamnya terkandung faidah bahwa orang yang mati di atas dosa yang belum dia taubati, maka sesungguhnya Allah mengampuninya bila dia realisasikan tauhid  dan menjauhi syirik  dan tandid.  dari Ibnu Umar  radliyallahu ‘anhu, berkata: Kami masih menahan diri dari memintakan ampunan bagi para pelaku dosa besar sampai kami mendengar dari mulut Nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam bekata: (Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang dibawah itu bagi orang yang Dia kehendaki, sesungguhnya aku simpan syafa’atku buat ahlul kabaair dari kalangan ummatku di hari kiamat) maka kami menahan diri dari banyak hal yang ada dalam jiwa).  HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah.

Dan Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dalam (kitabul iman) (bab dalil yang menunjukkan bahwa orang yang bunuh diri itu tidak kafir) hadits laki-laki yang hijrah bersama Ath-Thufail Ibnu ‘Amr, terus dia jatuh sakit, kemudian dia keluh  kesah dan memotong sendi-sendi jarinya dengan tombak yang tajam, darahnyapun mengalir sampai dia mati.  Kemudian, Ath-Thufail mimpi melihat dia dalam tidurnya, tampangnya bagus dan dia melihatnya menutupi kedua tangannya, maka Ath-Thufail bertanya kepadanya : Apa yang dilakukan Tuhanmu terhadapmu? Maka orang itu menjawab: Allah mengampuniku karena hijrahku…….., Ath Thufail berkata: Mengapa aku melihatmu menutupi kedua tanganmu? Ia berkata: Dikatakan kepadaku: Kami tidak akan memperbaik apa yang kamu rusak.” Maka Ath-Thufail menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah berkata: Ya Allah kedua tangannya ampunilah juga”

An-Nawawi berkata: (……. Di dalamnya terdapat hujjah bagi satu kaidah yang agung bagi Ahli Sunnah, bahwa orang yang bunuh diri atau melakukan maksiat lainnya dan mati tanpa taubat maka ia bukan kafir dan tidak boleh dipastikan neraka baginya, akan tetapi ia dalam stasus masyi’ah)

Dan beliau berkata di tempat lain: (madzhab ahlul haq: Bahwa maksiat maksiat yang bukan kekafiran tidak boleh dipastikan  dengan vonis neraka bagi pelakunya bila mati sedang ia belum taubat darinya, akan tetapi ia tergantung masyi’ah Allah Ta’ala, bila Dia menghendaki  maka Dia mema’afkannya dan bila Dia menghendaki maka Dia mengadzabnya, berbeda halnya dengan Khawarij dan Mu’tazillah). Syarh Muslim 4/297

Inilah ……. Dan di antara hal yang menunjukkan atas rusaknya madzhab orang yang mengakfirkan dengan sebab dosa secara umum adalah keragaman hudud dan sangsi-sangsi syar’iy yang Allah Ta’ala tetapkan bagi hamba-hamba-Nya di dunia, karena Allah Subhanahu Wa ta’ala tidak menjadikan sangsi dosa seluruhnya al-qatl, sebagaimana ia keberadaan had riddah yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Siapa yang merubah diennya maka bunuhlah dia.” (HR. Jama’ah, kecuali Muslim dan Hadits Ibnu Abbas)

Andaikata kabair  atau dosa-dosa lainnya adalah kekafiran yang mengeluarkan dari millah, tentulah sama had dosa-dosa itu semua dengan had riddah, akan tetapi tatkala sangsi-sangsinya beraneka ragam maka itu menunjukkan pada aneka ragamnya hukum Allah tentang hal itu  dan bahwa ia bukanlah kufur akbar.  Oleh sebab itu tidak ditegakkan hudud yang di bawah hukum bunuh terhadap orangorang yang sakit dan dikhwatirkan atasnya, kecuali setelah kesembuhannya.

Dan siapa yang maksiatnya hadnya adalah Al-Qatl seperti zina muhshan dan pembunuhan orang muslim, maka ia dishalatkan setelah dia dibunuh, dan dikuburkan di pekuburan kaum muslimin dan hartanya diwarisi ahli warisnya.  Dan ini semuanya hukum-hukum yang berbeda dengan hukum-hukum murtad.

Pencuri dipotong tangannya karena sebab mencuri, dan ia diberi (tunjangan) dari baitul mal karena ia punya hak di dalamnya seperti kaum muslimin pada umumnya.  Dan tatkala sebagian sahabat melaknat seorang laki-laki yang terkena had khamr, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dari melaknat dia, dan beliau menyebutkan bahwa dia itu mencintai Allah dan Rasul-Nya[1].

Ini dan yang lainnya tergolong hal yang menunjukkan bahwa terkadang berkumpul pada seseorang keburukan bersama kebaikan, dan bahwa ia tidak keluar dari lingkungan Islam selama keburukan itu di bawah syirik

Dan kemungkinan berkumpulnya maksiat bersama iman adalah ajaran inti yang membedakan ahlus sunnah wal jama’ah dengan seluruh firqah-firqah besar seperti khawarij, mu’tazillah dan yang lainnya oleh karena itu mereka mengatakan: Bahwa iman itu bertingkat-tingkat dan berbagi-bagi.  Abu Manshur Abdul Qadhir Ibnu Thahir Al Baghdadi Berkata (429 H) dalam bantahannya terhadap khawarij yang mengkafirkan setiap pelaku maksiat, sedangkan beliau menuturkan ushul yang disepakati Ahlus Sunnah Wal Jama’ah: (Seandainya para pelaku dosa seluruhnya adalah kafir tentulah mereka murtad dari Islam, dan seandainya mereka seperti itu tentulah hukum yang wajib adalah membunuh mereka bukan penegakkan hudud atas mereka, dan tentulah tidak ada faidah akan wajibnya  pemotongan tangan si pencuri, penderaan si penuduh zina serta perajaman pezina muhshan[2], karena orang murtad tidak ada had baginya kecuali qatl (bunuh) Hal (351-352)

Syaikhul Islam berkata dalam kontek penyebutan madzhab khawarij, dan bahwa mereka berkata: (Orang mukmin adalah  orang yang melakukan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan, siapa yang tidak seperti itu maka dia kafir, kekal di neraka, terus mereka menjadikan semua yang menyelisihi pendapat mereka (kafir) seperti itu, mereka berkata: Sesungguhnya Usman, Ali dan yang lainnya telah memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan dan berbuat dhalim, maka mereka menjadi kafir), beliau berkata: (Dan madzhab mereka adalah bathil dengan dalil-dalil yang banyak dari Al-Kitab dan As-Sunnah, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan untuk memotong tangan pencuri tidak membunuhnya, seandainya ia itu kafir murtad tentulah wajib membunuhnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Siapa yang mengganti diennya maka bunuhlah dia) dan bersabda: (Tidak halal darah orang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga hal: kufur setelah Islam, zina setelah ihshan atau membunuh jiwa yang dia bunuh dengannya) dan Dia subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk mendera laki-laki pezina dan wanita pezina seratus deraan dan seandainya keduanya kafir tentulah dia perintahkan untuk membunuhnya dan Dia memerintahkan untuk mendera orang yang menuduh zina wanita yan baik-baik delapan puluh deraan, seandainya ia itu kafir tentu Dia perintahkan untuk membunuhnya…….) Majmu Al Fatawa 7/296-297 cat. dar Ibnu Hazm

Al-Imam Abu Usman Ismail Ash-Shabuniy (449): (Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa orang mukmin meskipun banyak melakukan dosa, baik kecil maupun besar, maka ia itu tidak kafir dan bila ia keluar meninggalkan dunia tanpa taubat darinya dan mati di atas tauhid dan ikhlas maka urusannya kembali kepada Allah azza wa jalla, bila Dia menghendaki maka ia mengampuninya dan Dia memasukkannya ke syurga hari kiamat dalam keadaan selamat menang tanpa dicoba dengan neraka serta tidak disiksa atas apa yang dia langgar dan dia lakukan serta dia bawa ke hari kiamat berupa dosa dan kesalahan, dan bila Dia menghendaki maka Dia mengadzabnya maka ia tidak kekal di dalamnya, akan tetapi Dia memerdekakannya dan mengeluarkannya darinya kepada kenikmatan Daarul Qarar…) (Aqidah As-Salaf wa Ashhabul Hadits)


[1] HR. Al  Bukhari dalam Al-hudud (6780)

[2] Begitulah dalam cetakan, bisa jadi yang benar adalah (Dan penderaan pezina yang belum muhshan)

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s