Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 13 Takfir Dengan Ma-aal Atau Dengan Lazimul Qaul)

Takfir Dengan Ma-aal Atau Dengan Lazimul Qaul

Termasuk kekeliruan yang sering terjadi dalam takfir juga adalah takfir dengan ma-aal atau dengan lazimul qaul, dan ia maknanya: adalah seorang mukallaf tidak terang-terangan dengan ucapan yang membuatnya kafir, namun ia mengatakan ungkapan yang lazim (mesti menimbulkan) darinya kekafiran, sedangkan dia itu tidak meyakini makna yang ditimbulkan itu[1], bahkan bisa saja dia tidak mengetahuinya dan sama sekali tidak terbesit di hatinya.  Dan bila si shahibul qaul (pemilik ungkapan) tidak mengetahui lazim dari ucapannya serta tidak memegangnya, maka tidak boleh mengharuskan dia untuk menerimanya, atau menyandarkan atau menisbatkan kemestian ucapan itu kepadanya, dan kemudian dari sana dia mengkafirkannya dengan lazimul qaul itu.

Sungguh saya telah melihat di antara orang-orang yang ghuluw di zaman kita ini ada orang  yang mencari-cari kekeliruan (orang lain) dan dia berburu di air yang keruh, kemudian dia mengkafirkan  orang dengan sebab lazimul qaul bahkan juga dengan lazim dari lazimul qaul itu….!!!

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: (Dan adapun orang yang mengkafirkan manusia dengan ma-aal ucapan mereka, maka itu adalah salah, karena itu adalah dusta atas nama lawan dan penyandaran ucapan terhadapnya yang tidak pernah dia lontarkan, dan bila dia istiqamah (iltizam) terhadapnya maka dia tidak mendapatkan kecuali tanaqudl (kontradiksi) saja, sedangkan tanaqudl itu bukan kekafiran, bahkan dia telah baik karena ia telah lari dari kekafiran ….) Hingga beliau berkata: (Maka benarlah bahwa tidak boleh seseorang dikafirkan kecuali dengan ucapannya itu sendiri dan penegasan keyakinannya, dan tidak ada manfa’atnya seseorang mengungkapkan tentang keyakinan orang lain dengan ungkapan yang dengannya dia memperindah kejelekannya, akan tetapi yang divonis dengannya adalah makna ungkapannya saja)” Al-Fashl 3/294.

Jika kebenaran yang baku di antara para ulama adalah bahwa (lazim suatu madzhab itu bukanlah madzhab (itu)).

Bisa saja seseorang menganut suatu pendapat atau madzhab tertentu dan dia tidak komitmen dengan lawazim (konsekuensi-konsekuensinya) yang membuat kafir atau tidak membuatnya kafir, meskipun itu kontradiksi (Tanaqudl).  Ini seperti ucapan orang Mu’tazillah tentang sifat-sifat Allah: (Dia adalah ‘Alim tetapi tidak memiliki ilmu) dan (Dia Maha Hidup tapi tidak ada kehidupan bagi-Nya).  Dia itu menetapkan ilmu, dan bahwa Allah itu ‘alim juga hayy (Maha Hidup), serta dia sama sekali tidak mendustakan sedikitpun dari hal itu sehingga dia (boleh) dikafirkan.  Akan tetapi ucapannya: “Tidak ada ilmu bagi-Nya dan tidak ada kehidupan- bagi-Nya”, menyebabkan adanya kesamaran dengan mengkafirkannya karena sesungguhnya penafian ilmu dan kehidupan (hayah) itu memastikan dari (lontaran) ini bahwa Allah itu tidak ‘alim dan tidak hidup.  Akan tetapi orang Mu’tazillah tidak komitmen dengan itu, justeru ia mengakui bahwa Allah Ta’ala itu ‘alim, jadi penafian ia terhadap ilmu bukan sebagai penafian bahwa Alllah itu ‘alim.  Sedangkan isykal ini mengharuskan kerancuan Mu’tazillah, tanaqudl mereka dan kesesatannya akan tetapi itu saja tidak mengharuskan untuk mengkafirkan mereka dengan sebabnya”….[2]

Al-Qadli ‘Iyadl berkata setelah menuturkan perselisihan para ulama tentang pengkafiran orang yang jahil akan sebagian sifat-sifat Alllah Ta’ala: (Dan adapun orang yang menetapkan  Washf dan menafikan shifat, maka ia mengatakan: saya katakan (Dia) ‘alim tapi tidak ada ilmu bagi-Nya, mutakallim tapi tidak ada kalam bagi-Nya, dan begitulah dalam semua sifat sesuai madzhab Mu’tazillah.  Siapa yang berpendapat booleh mengkafirkan dengan ma-aal ucapannya dan apa yang digiringkan oleh madzhabnya maka dia mengkafirkannya, karena bila dia menafikan ilmu berarti lenyaplah pensifatan ‘alim, karena tidak disebut ‘alim kecuali yang memiliki ilmu, maka seolah mereka menegaskan  baginya dengan sesuatu yang ditimbulkan oleh ucapannya, dan begitulah bagi seluruh firqah ahlut takwil dari kalangan musyabbihah, Qadariyyah, dan yang lainnya.  Dan orang yang tidak mengambil sikap terhadap mereka dengan ma-aal ucapannya dan tidak mengilzamkan mereka dengan wajib (keharusan yang ditimbulkan) madzhab mereka, maka ia tidak mengkafirkan mereka.  Dia berkata: Karena mereka seandainya disuruh mengakui atas hal ini tentulah mereka berkata: Kami tidak mengatakan Dia itu tidak ‘Alim dan kami menolak pendapat dengan ma-aal yang kalian tuduhkan kepada kami, kami dan kalian meyakini bahwa itu adalah kekafiran, bahkan kami katakan bahwa ucapan kami ini tidak mengarah ke sana sesuai dengan apa yang kami gariskan.

Maka atas dua penilaian inilah manusia berselisih tentang pengkafiran ahlu takwil, dan bila engkau telah memahami hal di atas maka pasti jelas bagimu penyebab yang menimbulkan perselisihan mereka dalam hal itu, dan yang benar adalah meninggalkan takfier mereka, berpaling dari menvonis kerugian atas mereka, dan memberlakukan hukum Islam atas mereka dalam qishash, warisan, pernikahan, diyat, menshalatkan mereka, menguburkan mereka di pekuburan kaum muslimin dan perlakuan terhadap mereka lainnya, namun mereka mesti diberikan diberikan sikap keras dengan pelajaran yang menyakitkan, celaan yang pedas dan hajr sampai mereka meninggalkan bid’ahnya.  Dan inilah sikap generasi pertama terhadap mereka.  Sungguh pada zaman sahabat dan sesudahnya zaman tabi’in ada yang melontarkan ucapan-ucapan ini, seperti qadar, pemikiran khawarij dan i’tizal, namun mereka tidak menyingkirkan kuburannya dan tidak pula memutus warisannya, akan tetapi mereka menghajrnya dan memberikannya pelajaran dengan pukulan, pengasingan dan dibunuh sesuai dengan keadaan mereka, karena mereka itu adalah fasiq, sesat, ahli maksiat lagi pemikul dosa besar menurut ulama muhaqqiqin dan ahlussunnah dari kalangan yang tidak mengkafirkan mereka di antara ulama-ulama itu, berbeda dengan orang-orang yang berpendapat lain.  Wallahul Muwwafiq Lishshawab.  “Asy-Syifa 2/293-295.

Dan di antara contoh hal itu juga adalah perselisihan ulama dalam takfier khawarij yang tidak terang-terangan dengan kekufuran atau tidak melakukan satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang sharih, namun mereka hanya melontarkan ungkapan-ungkapan yang bisa menghantarkan kepada kekafiran, sebagaimana yang tadi di isyaratkan oleh Al-Qadli dan beliau nukil dari Al Maziriy ucapannya: ( Para ulama berselisih tentang takfier khawarij, dan sungguh mereka ini hampir menjadi masalah yang paling isykal dibandingkan dengan masalah-masalah lainnya.  Dan sungguh telah saya lihat Abul Ma’aliy, beliau dipersilahkan oleh Al-Faqih Abdul Haq rahimahumullah ta’ala untuk berbicara dalam masalah ini. Maka beliau menghati-hatikannya dari hal itu, dan beralasan bahwa keliru di dalamnya sangat besar pengaruhnya karena memasukkan orang kafir dalam Islam dan mengeluarkan orang muslim darinya adalah besar dalam dien ini, sedangkan telah bimbang perkataan Al-Qadli Abu Bakar Al Baqilaniy dalam hal ini padahal jangan tanya tentang beliau akan kehebatannya dalam ilmu ushul dan ilmu, Al-Baqilaniy telah mengisyaratkan bahwa masalah ini tergolong yang pelik, karen Khawarij tidak terang terangan dengan kekufuran, namun mengucapkan ungkapan-ungkapan yang menghantarkan kepada kekafiran……….)  dari Syarh Muslim karya An-Nawwawiy 7/142 dan lihat Fathul bari (Kitab Isititabatul Murtaddin…..) Bab (Man Taraka Qital Al-Khawarij……..)  Lihat Asy-Syifa 2/276-277

Begitu juga Murjiatul Jahmiyyah, sesungguhnya defenisi iman menurut mereka bahwa ia adalah ma’rifah memastikan darinya (pernyataan) imannya Fir’aun berdasarkan firmannya subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mengingkarinya Karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. (An-Naml:14)

Dan berdasarkan ucapan Musa sebagaimana yang Allah kabarkan:

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu Telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi (Al-Israa:102)

Dan (memastikan darinya) pernyataan imannya Yahudi dan Nasrani, berdasarkan firman Allah ta’ala:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri al-kitab (taurat dan injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri” (Al-Baqarah: 146)

Dan imannya Iblis karena ia mengetahui Allah dan ke-esaan-Nya, dan sesungguhnya ia tidak mendustakan khabar dan tidak pula mengingkarinya, karena Allah memerintahnya tanpa perantaraan utusan (rasul),  akan tetapi mayoritas Murjiatul Jahmiyyah tidak memegang kemestian dari keyakinannya itu.  Dan seandainya mereka iltizam (memegang kemestian pendapatnya) tentulah mereka kafir dengannya, karena di dalamnya terdapat pendustaan yang nyata terhadap nash-nash Al-Kitab yang mengkafirkan orang-orang tersebut, maka tidak boleh bila keadaannya seperti itu (memaksa mereka untuk memegang kemestian dari ucapannya meskipun mereka itu tanaqudl (kontradiksi) selama mereka tidak terang-terangan memegang kemestiannya itu. Meskipun di antara salaf seperti Waqi’ Ibnul Jarrah dan Ahmad Ibnul Hanbal ada orang yang melontarkan kafirnya orang yang mengatakan bahwa iman itu sekedar ma’rifatul Qalbi (mengenal di hati), dan mereka telah mengkafirkan Ghulatul Murjiah karena hal-hal lain, akan tetapi bagi orang yang mendebat mereka boleh berdalil atas rusaknya mereka dalam hal pemahaman iman  dengan mengutarakan lawazim (keharusan-keharusan) yang rusak ini atas mereka, karena rusaknya lazim bisa dijadikan dalil atas rusaknya malzum.

Orang yang memegang lawazim ini seperti ittihadiyyah dan hululiyyah dari kalangan jahmiyyah maka dia kafir dengan sikap memegangnya ini, dan bila tidak, maka tidak halal memaksakan mereka dengannya selama mereka itu menolaknya dan tidak mau menerimanya meskipun mereka tanaqudl, atau mereka kafir dari pintu-pintu lain.

Dan di antara contoh hal itu dalam realita sekarang di antara para pemuda:

Sebagian mereka mengklaim bahwa tidak mengkafirkan kaum musyrikin, atau para thaghut atau para ansharnya itu adalah mengharuskan darinya muwalah  (loyalitas) terhadap mereka dan tidak bara’ dari mereka, dan (dari) keyakinan itu maka (menurut dia) setiap orang yang tidak mengkafirkan mereka maka dia itu kafir berdasarkan firman-Nya ta’ala:

“barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  (Al Maidah:51)”

Karena tidak mengkafirkan mereka dan menjadikan mereka sebagai bagian kaum muslimin itu menjadikan bagi mereka bagian dari muwalah imaniyyah dan tidak mengeluarkan mereka dari lingkarannya, karena orang muslim tidak boleh dibara secara total darinya. Inilah salah satu pengarahan para pemuda itu terhadap kaidah (Siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir) ….

Dan sebagian mereka mengarahkan hal ini pada arah lain, dia berkata: Dikarenakan kufur terhadap thaghut itu adalah separuh tauhid dan syaratnya, maka orang yang tidak mengkafirkan para thaghut itu berarti belum kufur terhadap thaghut, dan berarti dia itu belum merealisasikan tauhid yang merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya yang mana Allah telah menjadikannya sebagai Al urwatul wutsqa yang mana keselamatan bergantung padanya

Dimana Dia berfirman:

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus.” (Al-Baqarah: 256)

Sedangkan orang yang tidak kufur terhadap thaghut dan tidak bara’ darinya adalah belum merealisasikan tauhid dan belum berpegang pada tali keselamatan yang amat kuat, dan berarti dia itu tergolong orang-orang yang celaka.

Dua pengarahan ini pada hakikatnya kembali pada satu hal yaitu mengilzam (mengharuskan) orang yang menyelisihi dia dengan (status dia itu) tidak bara’ dari thaghut  dan (mengilzamnya) dengan sikap muwalah terhadap thaghut karena si thaghut itu baginya masih muslim. Dan sudah pastilah sesungguhnya sikap pengkafiran mereka dengan lazim ini menjadikan mereka mengeluarkan dari Islam kelompok-kelompok dan jumhur kaum muslimin yang awam pada zaman ini, bahkan menyebabkan para pemuda itu mengkafirkan orang-orang khusus kaum muslimin dari kalangan mujahidin, du’at, thalabatul ilmi  dan para ulama, dikarenakan orang-orang khusus itu tidak mengkafirkan sebagian para syaikh yang memiliki hubungan dengan pemerintah.  Dan hal itu sebagai efek sikap para pemuda itu memperluas istilah thaghut yang wajib kafir terhadapnya sebagai syarat untuk perealisasian tauhid.

(Menurut para syabab itu) syaikh fulan atau syaikh ‘alan yang memiliki hubungan dengan pemerintah thaghut dan tidak mengkafirkannya adalah tergolong ahbar dan ruhban, maka ia adalah thaghut, dan dari itu siapa yang tidak mengkafirkannya maka ia belum kufur terhadap thaghut dan belum merealisasikan tauhid.

Dan itu sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah” (At-Taubah: 31)

Sedangkan  yang shahih bahwa ahbar dan ruhban itu statusnya sama dengan para wakil rakyat yang membuat undang-undang (anggota parlemen, MPR, DPR, pent), para amir, president, dan para raja.  Mereka itu tidak dianggap tuhan (arbab) bagi setiap orang yang tidak mengkafirkannya.  Dan mereka itu hanya menjadi arbab dan thaghut, thaghut yang diibadati bagi orang yang mengikuti mereka terhadap kekafirannya dan menuruti mereka dalam hukum-hukumnya…. Inilah yang dimaksud dengan menjadikan mereka sebagai arbab dan mengibadatinya sebagai thaghut, sebagaimana yang ada penafsirannya dalam hadits Adi Ibnu Hatim:

أليس يحرمون ما أحل الله فتحرمو نه ويحلون ما حرم الله فتحلونه

“Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian (ikut) mengharamkannya, dan (bukankah) mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian (ikut) menghalalkannya.” (HR. At-Tirmidzi, dan terdapat kelemahan di dalamnya, namun tidak terlalu dahsyat, sehingga menjadi kuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (16634) dari Hudzaifah secara mauquf).

Dan karena itu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab menuturkannya dalam kitab Tauhid bab:

من أطاع العلماء والا مر فى تحريم ما أحل الله أو تحليل ما حرم الله فقد اتخذهم أربابا من دون الله

“Barangsiapa mentaati para ‘ulama dan umara di dalam pengharaman apa yang Allah halalkan atau di dalam penghalalan apa yang Allah haramkan, maka dia telah menjadikannya sebagai arbab selain Allah.”

Jadi sekedar tidak mengkafirkan mereka tidaklah dianggap sebagai bentuk menjadikan mereka sebagai arbab dan thaghut yang diibadati, kecuali bila dia melakukan hal itu atau komitmen dengannya, dan apalagi bila sikap tidak mengkafirkannya karena syubhat adanya salah satu mawani’ takfier, atau jahil akan nash, atau belum sampai kepadanya, atau samarnya dilalah nash-nash atau (dugaan) kontradiksi antara nash-nash  itu dibenak orang-orang awam yang lemah dalam ilmu syar’iy.

Dan sekedar kesesatan seorang ulama, atau penyesatannya atau talbisnya, atau hubunganya dengan pemerintah kafir, meskipun dia itu dengannya menjadi tokoh kesesatan atau menghantarkan terhadap kekafirannya dengan sebab dia melakukan salah satu  sebab kekafiran, tidaklah mesti dengannya dia menjadi thaghut, karena setiap thaghut adalah kafir sedangkan tidak setiap orang kafir dinamakan thaghut.  Dan ringkasnya sesungguhnya dia hanya menjadi thaghut bila terpenuhi padanya definisi thaghut yang diambil dari syari’at yaitu: Setiap yang diibadati selain Allah macam apa saja dari macam-macam ibadah yang mana orang yang memalingkannya kepada selain Allah dikafirkan, sedangkan yang menerima pemalingan itu ridla dengannya.  Seperti orang yang membuat hukum selain Allah yang tidak Allah izinkan, atau orang yang dijadikan rujukan hukum selain apa  yang Allah turunkan atau yang lainnya yang masuk dalam definisi syar’iy ini, bukan definisi-definisi bahasa yang bersifat umum yang terkadang masuk di dalamnya orang-orang ahli maksiat, orang-orang dhalim dan yang lainnya dan bukan pula istilah-istilah sebagian orang yang bersifat karet yang mana mereka memasukkan apa yang mereka sukai dan mereka inginkan di bawahnya.

Orang yang merujuk hukum kepada ulama atau dukun atau yang lainnya (yang memutuskan) dengan selain apa yang telah Allah turunkan atau mengikutinya atas pembuatan hukum apa yang tidak Allah izinkan, seperti tahrim al-halal atau tahlil al haram atau mengganti hukum-hukum Allah yang Dia tetapkan buat makhluk atau merubah hudud-Nya yang telah Dia gariskan buat manusia, maka orang ini telah menjadikannya sebagai thaghut dan tuhan selain Allah, dan inilah yang mana seseorang tidak menjadi muslim meskipun dia shalat, shaum, dan mengaku muslim sampai ia bara’ dari thagutnya dan kufur terhadapnya, baik dia mengkafirkannya atau tidak mengkafirkannya.

Ini dari satu sisi……

Dan dari sisi lain, sesungguhnya apa yang dimestikan terhadap penganut pendapat ini, yaitu orang yang tidak mengkafirkan para thaghut dan ansharnya, berupa keharusan loyalitas terhadap mereka dan tidak bara’ah dari mereka, maka sungguh mayoritas orang-orang itu tidak memegangnya, dan apa yang menjadi keharusan setelahnya atas hal itu berupa hal-hal yang mereka haruskan atasnya adalah tidak memestikan kecuali (bagi) orang yang terang-terangan memegangnya (baik) dengan berupa ucapan atau perbuatan yang terang, yaitu bila dia mendatangkan sesuatu yang membuatnya kafir yan terang lagi jelas berupa ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan yang mukaffirah yang mana ia adalah sebab-sebab kekafiran. Dan adapun selama ia tidak mendatangkan sesuatupun dari hal itu maka tidak bolehlah menetapkan baginya sesuatu dari lawazim itu.

Dan contoh-contohnya sangat banyak dari realita masa sekarang yang menunjukkan bahwa mayoritas manusia tidak memegang lawazim itu, meskipun mereka tanaqudl seperti tanaqudl Mu’tazillah yang lalu, akan tetapi tanaqudl, kerancuan dan kejahilan adalah sesuatu dil uar takfir yang tidak terjadi kecuali dengan salah satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang nampak.

Dan sungguh saya telah melakukan munadharah (diskusi) dalam waktu-waktu yang berlainan dengan individu-individu dari jama’ah-jama’ah  Islamiyyah yang beraneka ragam dalam masalah ini, dan saat saya utarakan atas mereka sesuatu dari lawazim  yang mesti (ada) dari (sebab sikap) tidak mengkafirkan para thaghut itu, maka ternyata mayoritas mereka tidak memegang lawazim itu.  Dan saya mengalahkan mereka dan menyudutkan mereka dengan (cara) menampakkan tanaqudl mereka, akan tetapi mereka itu pada umumnya ridla dengan tanaqudl ini daripada memegang sesuatu dari lawazim yang mukaffirah itu.

Dan di antara lawazim yang membuat orang yang merestuinya kafir adalah: Pengakuan akan muwalah (loyalitas) terhadap thaghut atau terhadap hukumnya dan aturannya yang mana mayoritas  mereka mengakui bahwa ia adalah hukum dan aturan kafir.

Saya ingat, pernah saya memojokkan sebagian mereka, bahwa tidak boleh baginya bersikap bara’ dari thaghut dengan bara’ yang sepenuhnya karena (thaghut) itu baginya adalah muslim, maka orang itu mengiakan hal itu.  Kemudian tatkala saya katakan terhadapnya: Jadi kamu tawalli terhadapnya? Ternyata dia tidak mau menerimanya, padahal sesungguhnya  (sikap) tidak bara’ darinya dan tawalli terhadapnya, keduanya pada hakikatnya  adalah satu, akan tetapi tatkala Allah nashkan atas kafirnya orang yang tawalli terhadap orang-orang kafir, maka jadilah  hal itu sesuatu yang dijauhi oleh mereka itu yang mana mereka tidak menegaskan akan komitmen dengannya, sehingga tidaklah sah mengilzam  dengannya selama mereka tidak iltizam (komitmen) dengannya  dengan berupa ucapan atau perbuatan, sebagaimana tidak sah menyudutkan mereka dengan lazimul  lazim, meskipun mereka itu tanaqudl  dan takhabbuth (rancu/ngawur), tidak ada kepentingan bagi kita mencari-cari dan mengorek-ngorek sebab-sebab kekafiran selama mereka tidak menampakkannya.  Dan kepentingan  kita bukanlah mengkafirkan mereka atau mengkafirkan yang lainnya  sama sekali, karena takfir  yang harus dilakukan dengan sebab mereka melakukan salah satu sebab dari sebab-sebab kekafiran adalah sesuatu  hal, sedangkan  sekedar tanaqudl  mereka tanpa ada pelanggaran sesuatu  dari (sebab-sebab) itu adalah hal lain.

Kemudian  takhabbath mereka itu tidak terbatas pada hal ini saja, di mana engkau melihat banyak dari mereka di sisi lain bara’ dari lawan mereka dari kaum muwahhiidin yang menentang para thaghut  dengan bentuk bara’ yang lebih dahsyat dari bara’ mereka dari orang-orang kafir, bahkan banyak dari mereka mengumumkan hal itu di lembaran koran-koran sekuler lagi kafir, dan itu sering kami lihat, mereka memusuhi kaum muwahhidin, mengada-ada terhadap mereka, mencoreng kehormatan mereka, menggugurkan hak-hak Islamiyyah mereka dan memperlakukan mereka layaknya orang kafir. Dan bila engkau pojokkan  dia untuk mengkafirkan kaum muwahhidin itu atau membencinya dan memusuhinya  karena apa yang mereka bawa atau mereka anut berupa dien  tauhid dan jihad, ternyata mereka menolak pemojokkan itu.  Inilah termasuk takhabbuth dan tanaqudl  mereka yang sering terjadi.[3]

Bahkan sebagian orang berpandangan bolehnya memerangi penguasa dan memberontak mereka serta konfrontasi  dengan mereka padahal dia itu tidak mengkafirkan penguasa itu. Maka bagaimana mungkin menyudutkan orang-orang semacam mereka dengan tawalli terhadap penguasa itu sebagai bentuk lazim dari lawazim sikap tidak mengkafirkan mereka?  Dan di antara contoh praktek yang nyata atas hal ini adalah Juhaimun rahimahullah dan kelompoknya,  sungguh saya telah pernah berbaur dengan jama’ahnya dan telah saya baca kitab-kitabnya semua, saya hidup bersama mereka dan saya mengetahui mereka dari dekat.  Juhaiman rahimahullah tidak  mengkafirkan para penguasa Saudi hari ini karena kekurangan pengetahuannya terhadap realita undang-undang dan kekafiran-kekafiran mereka, dan begitulah status para penguasa Saudi baginya, dan beliau telah menegaskan hal itu di tulisan-tulisannya, sebagaimana dalam Kasyful Iltibas dan Al Imarah.

Namun beliau ini menjadi sumber kemurkaan mereka, dan duri di kerongkongan mereka serta lebih dahsyat atas mereka dari banyak orang–orang yang mengkafirkan mereka. Beliau mencela bai’at terhadap mereka dan menggugurkannya serta tidak mendiamkan sedikitpun dari kemungkaran  mereka yang dia ketahui, sehingga pada akhirnya dia memberontak terhadap mereka dan memeranginya, beliau dan orang-orangnya dalam tragedi Al-Haram tahun 1400 H. Dan tidak penting bagi saya di sini apa yang menyertai fitnah ini dan mendahuluinya berupa pentakwilan-pentakwilan  seputar Al-Mahdiy  dan bai’atnya serta perkiraan  mereka bahwa ia adalah salah saeorang dari mereka.

Dan yang ingin sata utarakan di sini hanyalah (realita) bahwa Juhaiman ini padahal ia itu tidak mengkafirkan penguasa Saudi dan tidak loyal kepada mereka atau mencintainya, tapi justeru memusuhi mereka, membencinya, menentangnya, dan mencela terhadap bai’atnya. Dia  dan jama’ahnya  menjauhi pekerjaan-pekerjaan  yang bersifat negeri (PNS, Militer dan lainnya, pent) semuanya[4].  Sebagaimana mereka menjauhi sekolah-sekolahan, perguruan tinggi-perguruan tinggi pemerintah, bahkan mereka berlepas diri dari surat-surat penting mereka dan pasport-pasportnya, kemudian pada akhirnya mereka memeranginya, dan beberapa waktu sebelumnya Juhaiman selalu dicari dan diincar, ia berdakwah dan berpindah-pindah secara diam-diam, sampai akhirnya penguasa mendapatkannya di Al-Haram  dan kemudian membunuhnya.

Inilah contoh yang jelas yang menunjukkan rusaknya lawazim-lawazim yang lalu atas setiap orang yang tidak mengkafirkan thaghut-thaghut.

Dan juga sudah maklum bahwa tawalli yang membuat kafir adalah membela orang-orang kafir atas kaum muwahhidin atau membela kekafiran itu sendiri baik dengan lisan ataupun dengan senjata, yaitu dengan cara si orang menampakkannya sebagai satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang berupa ucapan  atau amalan dhahir.  Inilah yang memungkinkan pelakunya dikafirkan dengannya dalam hukum-hukum dunia.  Adapun apa yang ada di bathin dan tersembunyi dari hal itu seperti klaim bahwa orang yang tidak mengkafirkan mereka berarti mesti tawalli kepada mereka, meskipun tidak nampak darinya  sesuatupun dengan lisannya atau perbuatannya, maka hal ini sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam hukum-hukum dunia dan tidak sah mengkafirkan dengan sebabnya, dan juga dengan yang semisal dengannya berupa hal-hal yang tidak nampak, perkiraan dan praduga-praduga.  Dan selama seseorang tidak komitmen dengan sesuatu dari lawazim-lawazim  itu baik berupa ucapan atau amalan, maka tidak boleh mengilzamnya dengan hal-hal itu, dan terus setelah itu dia mengkafirkannya.  Meskipun dia itu tanaqudl dan takhabbuth dalam madzhab dan pilihannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya: Apakah lazim (kemestian) suatu madzhab itu madzhab atau bukan?

Maka beliau menjawab: (Yang benar bahwa lazim madzhab seseorang itu bukan madzhabnya bila dia tidak memegangnya, karena sesungguhnya bila dia telah mengingkarinya dan menafikannya maka penisbatannya kepada dia adalah dusta  atas namanya, namun (pengingkarannya) itu menunjukkan rusaknya pendapat dia dan tanaqudlnya dalam ungkapan, selain iltizamnya akan lawazim yang ternyata nampak bahwa lawazim tersebut tergolong kekafiran dan yang dialihkan dari sesuatu yan mana ia lebih banyak.  Orang-orang yang menyatakan pendapat-pendapat yang memestikan adanya ungkapan-ungkapan  yang dia mengetahui bahwa ia memegangnya namun ia tidak mengetahui bahwa ungkapan itu mengharuskan dia, dan seandainya lazim madzhab orang itu adalah madzhabnya tentulah harus mengkafirkan setiap orang yang berkata tentang istiwa’ atau sifat lainnya bahwa itu adalah majaz bukan hakikat dari nama-nama dan sifat Allah)…Hingga ucapannya: (Tapi kita mengetahui bahwa banyak dari kalangan yang menafikan hal itu tidak mengetahui lazim ucapannya, bahkan banyak dari mereka menduga bahwa hakikat itu tidak lain hanyalah murni hakikat-hakikat makhluk[5] dan mereka itu jahil akan maksud hakikat dan majaz, dan ucapan mereka itu adalah pengada-adaan  dusta terhadap  bahasa dan Syar’iy…..)  Majmu Al Fatawa  20/121 cetakan Daar Ibni Hazm.

Dan beliau berkata juga dalam Al Fatawa  29/25-26: (Lazim ucapan orang ada dua macam.):

Pertama: Lazim ucapannya yang haq, maka ini tergolong yang wajib atas dia untuk memegangnya, karena lazim Al-Haq adalah Haq dan boleh disandarkan kepada dia bila diketahui dari keadaannya bahwa ia tidak menolak dari memegangnya setelah nampaknya hal itu

Kedua: Lazim ucapannya yang tidak haq, maka ini tidak wajib memegangnya, karena maksimal apa yang ada di dalamnya adalah bahwa ia telah tanaqudl, sedangkan telah tsabit bahwa tanaqudl itu terjadi dari setiap orang alim selain para Nabi, kemudian bila diketahui dari keadaannya bahwa ia memegangnya setelah hal itu nampak terhadapnya, maka terkadang disandarkan kepadanya, dan kalau tidak maka tidak boleh disandarkan kepadanya suatu ungkapan yang seandainya nampak bagi dia rusaknya  hal itu tentu ia tidak memegangnya, dikarena ia telah mengatakan sesuatu yang mengharuskannya, sedangkan ia tidak sadar akan rusaknya ungkapan itu dan apa yang mengharuskannya.

Dan rincian ini dalam perselisihan manusia tentang lazimul madzhab: Apakah ia madzhabnya atau bukan ? Adalah lebih bagus daripada memuthlakkan salah satunya.  Di antara lawazim yang mana itu diridhai oleh si pembicara setelah hal itu nampak baginya, maka ia adalah perkataannya, dan apa yang tidak dia ridlai maka itu bukan ucapannya meskipun hal itu tanaqudl)”

Dan murid beliau Ibnul Qayyim berkata dalam Qashidhah Nuniyyah yang dinamai Al-Kafiyyah Asy-Syafiyyah Fil Intishar Lil Firqah An-Najiyyah:

ولوا زم المعنى تراد بذكره                          من عا رف بلزومه الحقان

وسواه ليس بلازم فى حقه                              قصد الوزم وهي ذات بيان

اذا قد يكون لزومه الجهول أو                         قد كان يعلمه بلا نكران

لكن عرته غفلة بلزومها                                 اذكان ذاسهووذانيان

ولذالك لم يك لازما لمذاهب                            العلماء مذبهم بلا برهان

Lawazim makna adalah dimaksudkan dengan penyebutannya

Dari orang yang mengetahui lazimnya adalah kebenaran

Dan selainnya adalah bukan lazim baginya

Memaksudkan lawazim dan ia adalah butuh penjelasan

Karena bisa jadi kelazimannya itu adalah tidak diketahui atau

Bisa jadi diketahuinya tanpa dia ingkari

Namun ia tak menyadari kelaziman ucapannya

Karena manusia itu makhluk yang suka lalai dan lupa

Oleh sebab itu lazim madzhab ‘ulama itu

Bukanlah madzhabnya tanpa adanya bukti

Dinukil dari Syahrul Qashidhah karya Ahmad Ibnu Isa 2/394.  Dan ringkasan perkataan beliau dalam bait-bait itu: “Sesungguhnya lawazim madzhab itu bukan madzhab,  kecuali bila penganut madzhab itu mengetahui lagi mengenal lawazim madzhabnya itu terus dia mengkomitmeninya. Dan selagi dia itu jahil atau lalai darinya juga lupa lagi tidak merasa, maka lawazim itu tidak mengharuskan dia, dan tidak boleh memaksanya kepada dia tanpa dalil”.

Adz-Dzahabiy  (748 H) berkata: Tidak ragu lagi bahwa sebagian ulama ahli pikiran berlebihan dalam penafian, penolakan, tahrif, dan tanzih sesuai klaim mereka, sampai mereka jatuh dalam bid’ah atas pensifatan Allah Sang Pencipta dengan sifat-sifat suatu yang tidak ada, sebagaimana sesungguhnya jama’ah dari kalangan ulama atsar  berlebihan dalam itsbat (penetapan) dan penerimaan akan (hadits) dlaif dan munkar[6] serta berujar dengan sunnah dan ittiba, sehingga terjadilah kericuhan dan kebencian, dan yang ini membid’ahkan  yang itu, serta yang ini mengkafirkan yang itu. Dan kami berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan perdebatan dalam dien ini, dan dari sikap kami mengkafirkan muslim muwahhid dengan lazim ucapannya, sedangkan ia lari dari lazim itu, dan ia mensucikan serta menganggungkan Rabb) Ar Rad Al Wafir Libni Nashiruddien hal. 48

Abu Ishaq Asy-Syatibiy (790 H) dalam Al-I’tisham 2/229 berkata: (Yang pernah kami dengar dari para guru bahwa madzhab para ulama muhaqqiqin dari kalangan ahli ushul: “Bahwa kekufuran dengan ma-aal adalah bukan kekafiran fil haal (saat itu pula), maka bagaimana mungkin sedangkan orang kafir itu mengingkari ma-aal itu dengan sangat dan membuangnya jauh-jauh, dan andai jelas baginya sisi kemestian kekafiran dari ungkapannya itu tentulah ia tidak mengatakannya”.

Berkata dalam kitab yang sama: “Dan lazimul madzhab, apakah ia madzhab atau bukan? Ia adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ahlul ushul, dan yang dikatakan oleh syaikh-syaikh kami di kawasan Bija dan Maghrib, dan mereka memandang bahwa ia adalah pendapat para ulama Al Muhaqqin juga, bahwa lazimul madzhab itu bukan madzhab, maka dari itu bila dia disuruh mengakuinya, ternyata ia sangat mengingkarinya.”

Dan As-Sakhawiy menuturkan dalam Fathul Mugits 1/334 ungkapan gurunya Ibnu Hajar, dia berkata: “ Dan yang nampak bahwa yang dihukumi kafir itu adalah orang yang kekafirannya adalah penegasan ucapannya, dan begitu juga orang yang kekufuran itu lazim ucapannya dan itu dipaparkan kepadanya terus ia memegangnya. Adapun orang yang tidak memegangnya dan bahkan menghindar darinya maka ia itu tidak kafir meskipun lazim (ucapannya) itu adalah kekafiran”.

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir As-Sa’diy berkata (1376): (Dan Tahqiq yang dibuktikan oleh dalil bahwa lazimul madzhab yang tidak ditegaskan oleh pemiliknya dan tidak ada isyaratkan kepadanya serta tidak memegangnya bukanlah madzhab, karena si pembicara bukanlah yang ma’shum, sedangkan ilmu makhluk bagaimanapun tingginya maka sesungguhnya  ia adalah kurang, jadi dengan dalil apa kita memestikan si pembicara dengan apa yang tidak dia pegang dan kita menisbatkan ucapan kepadanya padahal dia tidak mengucapkannya, akan tetapi kita mengambil dalil dengan rusaknya lazim atas rusaknya malzum, karena lawazim ucapan adalah tergolong dalil-dalil atas sah dan lemahnya pandapat itu serta atas kerusakannya, karena Al-Haq lazimnya haq pula, sedangkan yang bathil lazimnya adalah yang sesuai dengannya, sehingga rusaknya lazim terutama lazim yang diakui kerusakannya oleh si pembicara bisa dijadikan dalil atas rusaknya malzum. (Taudlih Al Kafiyah Asy Syafiyyah hal 113)

Dan ringkasnya: Sesungguhnya takfier dengan lazim dan ma-aal adalah termasuk masalah yang pelik sebagaimana telah lalu dari ulama.  Asy-Syaukaniy berkata: Takfier dengan cara Ilzam adalah termasuk sumber ketergelinciran pijakan yang paling besar, siapa orangnya yang ingin mempertaruhkan diennya, maka terhadap diri sendirilah dia telah aniaya.

As-Sail Al-Jarar 4/580.


[1] Lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd Al-Hafid 2/492

[2] Lihat syarh An-Nawawi atas Shahih Muslim (kitab zakat) dan apa yang dituturkannya dari Al-Mazariy dalam  bab ini 7/142

[3] Akan datang perbedaan  antara apa  yang terjadi karena permusuhan dengan sebab dunia atau karena sebab takwil, dan antara apa yang merupakan nushrah  dan mudhaharah  (bantuan) bagi orang-orang kafir atas kaum muwahhidin  atau permusuhan karena dien mereka.

[4] Dan saya tidak memaksudkan bahwa dia dan jama’ahnya mengharamkan semua pekerjaan  di (pemerintah) sama sekali tidak, sungguh  telah mengabarkan saya Abu Huzaa’ Abdullatif Ad-Dirbas  dan ia adalah tergolong orang dekat Juhaiman, dia ikut di penjara bersama anggota jama’ah lainnya  sementara waktu: bahwa Juhaiman menghadiri majelis Ibnu Baaz, dan mereka itu menyodorkan risalah-risalah dan tulisan-tulisan mereka kepada Ibnu Baaz, Juhaiman ditanya oleh Ibnu Baaz: Apakah benar wahai Juhaiman bahwa kalian mengharamkan seluruh pekerjaan di pemerintahan  ini? Maka Juhaiman menjawabnya sedangkan di tangannya ada cangkir kopi: Tidak benar wahai syaikh, seandainya saya mengharamkan semuanya tentulah saya tidak minum cangkir ini di sisimu, akan tetapi saya katakan kepada engkau wahai syaikh, sesungguhnya tidak ada bagian bagimu dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan sabar atas penganiayaan mereka adalah lebih baik dari pada mukmin yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak sabar atas penganiayaan mereka.  “Engkau mengetahui wahai syaikh sesungguhnya mereka melakukan ini dan itu… Juhaiman terus menyebutkan  sedikit kemungkaran-kemungkaran mereka, sedangkan engkau tidak mampu merubahnya…. Dan mereka melakukan ini dan itu dan mereka tidak perduli dengan pengingkaran para syaikh ….  Dan ia terus menyebutkan banyak hal… Sedangkan Syaikh (Ibnu Baaz) menundukkan kepalanya seraya mengangguk-angguk mengiakan.

[5] Yaitu ia mengira bahwa makna hakikat adalah apa yang disandang oleh makhluk berupa sifat-sifat, dan karenanya ia menafikan kata hakikat saat menyebut sifat-sifat Allah, dia berkata: Istiwa majaz bukan hakikat dan tangan adalah majaz bukan hakikat…

[6] Ada baiknya kami mengingatkan bahwa itsbat yang tercela adalah hanya menerapkan apa yang diriwayatkan  dengan hadits-hadits dhaif dan munkar, sebagaimana yang diutarakan Adz-Dzahabiy dan sebelumnya Syaikhul Islam seperti yang telah lalu dalam Al-Fatawa juz 4.  Adapun itsbat yang shahih maka itu bukan berlebihan dan tidak diingkari, sebagaimana tidak ada celaam terhadap Ulama Al-Atsar dengan sebab berujar dengan Sunnah dan Ittiba.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s