Seri Al Ghuluw Fit Takfier ( Seri ke 11 Takfier Dengan Syubhat dan Praduga Tanpa Tatsabbut Dan Tidak Memperhatikan Jalur Pembuktian Yang Syar’iy Dan Mengharuskan Hukum Kafir Walau Si Tertuduh Mengelak )

Takfier Dengan Syubhat dan Praduga Tanpa Tatsabbut Dan Tidak Memperhatikan Jalur Pembuktian Yang Syar’iy Dan Mengharuskan Hukum Kafir Walau Si Tertuduh Mengelak

Di antara kekeliruan yang sangat keji dalam takfier juga adalah berpegang pada syubhat dan praduga tanpa tatsabbut atau tabayyun dan tidak memperhatikan jalur-jalur pembuktian yang syar’iy dan mengharuskan hukum kafir walau si tertuduh mengelak dan tidak mengakuinya serta bukti syar’iy yang mu’tabar belum tegak terhadapnya.  Dan sikap ini banyak terjadi di antara seteru (lawan), terutama pada orang yang lemah sifat wara’nya serta lemah ketaqwaan dan diennya, sehingga masuk di dalamnya kepentingan jiwa dan permusuhan pribadi atau aniaya dan hasud.  Dan jadilah orang di antara mereka mencari-cari ungkapan, kesalahan, dan kekeliruan lawannya untuk mentakfiernya atau mencorengnya (mencoretnya), sebagaimana ia adalah isthilah sebagian orang yang mengatasnamakan pena syari’at, mereka menulis atas nama syariat, mereka mencoret orang yang mereka kehendaki sesuai keinginan hawa nafsu dan perseteruan karena dorongan hawa nafsu atau buruknya niat, dia menakar dengan takaran-takaran yang tidak dia ridhai bila digunakan bagi dirinya, teman-teman, dan kawan-kawannya, sebagaimana dikatakan: “Mata kecintaan adalah berpaling dari melihat aib, namun mata kebencian adalah selalu mengungkap keburukan.

Bisa saja dia dalam menilai lawannya menggunakan kesaksian orang-orang yang cacat menurutnya dari kalangan orang yang tidak diterima kesaksiannya bila digunakan pada dirinya dan orang-orang yang dicintainya, sehingga di sana dia melupakan firman Allah Tabaraka wa ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menampakkan suatu musibah kepada kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas pebuatanmu itu” (Al Hujurat: 6)

Kemudian di sini dia selalu mengingatnya dan mendengung-dengungkannya!!!  Dan bisa saja dalam menilai lawannya dia menggunakan perkiraan, praduga, sangkaan serta kemungkinan-kemingkinan yang padahal itu ditolak dan digugurkan oleh dalil-dalil syar’iy bila ia dituduh atau teman-temannya dicerca.  Padahal sudah maklum di kalangan orang yang memiliki pemahaman dalam dienullah ini bahwa bayyinah syar’iyyah (bukti syar’iy) yang mana takfier bisa terbukti dengannya menurut jumhur ulama adalah dengan kesaksian dua orang laki-laki yang adil atau dengan pengakuan si tertuduh.

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy (Kitabul Murtad): (pasal dan kesaksian terhadap kemurtaddan itu diterima dari dua orang adil menurut mayoritas ahlul ilmi, dan inilah pendapat Malik, Al Auza’iy, Asy Syafi’iy, dan para penganut Ra-yu (pikiran).  Ibnul Mundzir berkata: Dan kami tidak mengetahui seseorangpun menyelisihi mereka kecuali Al Hasan, dia berkata: Dalam (hukum) bunuh tidak diterima kecuali empat (orang)….)

Sungguh Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mensyaratkan keadilan dalam hal-hal yang lebih rendah dari takfier yang berkaitan dengannya penumpahan darah dan penghalalan ‘ishmah, Dia subhanahu wa ta’ala berkata dalam halnya:

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu” (Ath Thalaq: 2)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berkata tentang hutang:

“Dan saksi-saksi yang kamu ridhai”(Al Baqarah: 282)

Dan telah lalu hadits: “Tidak boleh kesaksian laki-laki pengkhianat dan wanita pengkhianat, dan juga tidak boleh orang dengki terhadap saudaranya” (Dan telah lalu ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: tidaklah diterima kesaksian musuh terhadap musuhnya walaupun ia itu adil) 35/120.[1]

Adapun kesaksian perorangan, anak-anak, orang-orang tidak dikenal, orang-orang yang tertuduh, musuh dan lawan terhadap satu sama lain, maka hujjah tidak layak dengannya dalam hal yang berbahaya ini yang mana dibangun di atasnya penghalalan harta dan darah.  Maka apa gerangan bila hal (tuduhan) itu ditolak oleh si tertuduh dengan sumpah, penolakan dan pengingkaran??

Syaikhul Islam menuturkan: (Bahwa madzhab Asy Syafi’iy, Abu Hanifah, dan Ahmad juga dalam riwayat yang mahsyur darinya, bahwa orang yang telah terbukti kemurtaddannya dengan bukti, akan tetapi dia mengingkari dan mengemukakan dua kesaksian yang mu’tabar, maka dia dihukumi sebagai muslim dan tidak butuh dia mengakui apa yang dipersaksian terhadapnya, maka apa gerangan bila tidak ada saksi yang adil atasnya) Majmu Al Fatawa (35/124)

Ibnul Qayyim berkata dalam I’lamul Muwaqqi’in (3/398): (Bila dipersaksikan kemurtaddan terhadapnya, terus dia berkata “saya masih senantiasa bersaksi bahwa tidak ada Illah yang berhak diibadati selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah semenjak saya berakal hingga sekarang” maka tidak usah dikorek tentang apapun dan tidak ditanya baik dia maupun para saksi tentang sebab kemurtaddannya, sebagaimana yang dituturkan Al Kharqiy dalam Mukhtasharnya[2] dan para pengikut Asy Syafi’i lainnya. Bila diklaim atas dia bahwa dia mengatakan ini dan itu, lalu dia berkata: (Bila saya telah mengatakannya, maka saya taubat darinya, atau saya telah taubat, maka sungguh telah dianggap cukup darinya dengan jawaban ini, dan tidak dikorek tentang sesuatupun darinya setelah itu).  Dalam kitab Al Umm, Al Imam Asy Syafi’i berkata: (Orang yang dikatakan bahwa ia tidak shalat, kemudian ia menganggap dusta ucapan mereka, maka ia itu dibenarkan ucapannya.) (1/390)

Para Ulama itu berdalil untuk hal itu dengan hadits Mihjan Ad Dailiy radliyallahu ‘anhu: (Bahwa ia di suatu majelis bersama Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan adzan dikumandangkan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit pergi untuk shalat, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali sedangkan Mihjan masih ada di majelisnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:” Apa yang menghalangimu untuk Shalat bersama orang-orang” ? Bukankah engkau seorang muslim? Dia berkata:” Ya Rasulullah akan tetapi saya telah shalat bersama keluarga saya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:Bila kamu datang, maka shalatlah bersama orang-orang walaupun kamu sudah shalat.” Dikeluarkan oleh Malik dalam Al Muwaththa, Ahmad, An nasai serta Al Hakim dan beliau menilainya shahih.

Ibnu Abdil Barr telah beristinbath dalam Al Tamhid 4/222 darinya: Bahwa orang yang mengakui Shalat dan pelaksanaannya, sesungguhnya ia diserahkan pada hal itu, dan bila ia berkata: Saya telah shalat, karena Mihjan berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:”Saya telah shalat di keluarga saya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima ucapannya.

An Nawawi berkata: (Bila penguasa ingin membunuhnya, kemudian ia berkata: “Saya telah shalat di rumah saya.” Maka ia dibiarkan (Raudlatuththalibin hal 2/147).

Ibnu Waziir berkata: (Dan di antara takfir yang paling buruk adalah takfir yang bersandar pada arah yang diingkari oleh orang yang menyelisihi dari kalangan ahli mahdzab, seperti mengkafirkan kaum Asy’ariyyah dengan sebab jabr murni yang mana ia adalah perkataan Jahmiyyah Jabriyyah, sedangkan Asy’ariyyah itu mengingkarinya, padahal Allah subhanahu wa ta’ala brefirman: “Dan janganlah kamu mengatakan pada orang yang mengucapkan salam kepadamu” kamu bukan seorang mu’min.” (An Nisa: 94) Itsarul Haq ‘Alal Khalq (418).

Sungguh saya telah melihat orang-orang yang sampai kepada mereka kekeliruan atau kesalahan yang bersumber dari seseorang dari kalangan lawannya dengan penukilan orang yang tercoreng keadilannya menurut mereka atau orang yang tidak dzabith dari kalangan orang-orang jahil dan bodoh, kemudian mereka menganggapnya dan memegangnya tanpa mengecek atau mencari kejelasan darinya, karena itu tidak penting bagi mereka, sebagaiman mereka tidak peduli dengan peninjauan terhadap mawani’ atau syuruth takfier, karena keinginan mereka yang pertama dan terakhir adalah mencoreng lawan dan mengkafirkannya..bahkan terkadang sikap  kebencian dan aniayayanya itu mendorong mereka untuk menolak taubat orang itu, alasannya atau permohonan maafnya.

Dan bila orang yang berakal mengeceknya seraya mencari kejelasan, kemudian orang itu mengingkari dan bersumpah atas batilnya penukilan tersebut atau atas menipulasinya, mereka malah tidak menoleh pada hal itu dan mereka bahkan tidak menganggap sumpahnya sama sekali. Dan seolah ia adalah tuduhan dan kesempatan yang mereka tunggu-tunggu dan mereka nantikan, dan cap itu akan terus melekat pada dia selama selama perseteruan itu masih berlangsung, padahal sesungguhnya tuduhan itu tidak terbukti sama sekali dengan jalan-jalan pembuktian yang syar’iy dan ia telah ditolak oleh si tertuduh dengan pengingkaran dan sumpahnya!!

Dan siapa saja yang tidak terbukti tuduhan atasnya dengan jalan-jalan pembuktian yang syar’iy maka tuduhan itu dianggap tidak ada baginya secara hukum meskipun ia itu ada pada hakikat yang sebenarnya, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak membebani kita dalam hukum-hukum dunia ini dengan hal-hal yang batin, yang ada di hati dan hal-hal yang ghaib. Siapa orang  yang berzina namun perbuatan zinanya tidak terbukti dengan jalan syar’iy yang shahih, maka secara hukum ia tidak berzina meskipun secara hakikat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dia itu berzina, sedangkan hukum-hukum syar’iy di dunia ini hanyalah berdiri di atas jalan-jalan yang syar’iy, maka seperti hal ini tidak dianggap dalam hukum dunia dan tidak ditegakan had atasnya. Dan siapa yang menuduhnya dengan tuduhan zina, maka dia didera dengan had qadzaf, keadilannya digugurkan dan ia tergolong orang-orang yang fasik bila ia tidak menyertakan bersamanya tiga orang saksi lain, dan begitulah hukum-hukum dunia lainnya bila tidak terbukti dengan bukti, meskipun pelakunya memang terkena sanksi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala lagi diadzab bila Allah subhanahu wa ta’ala tidak meliputi di dengan rahmat-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Ash Sharimul Maslul (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menegakan had berdasarkan pengetahuannya dan juga tidak berdasarkan berita seorang diri, tidak pula dengan sekedar wahyu, serta tidak juga dengan tanda-tanda dan ciri-ciri, sampai terbukti status pengharusan had itu dengan bayyinah (saksi-saksi) atau pengakuan. Coba lihat saja, bukanlah beliau mengabarkan tentang wanita yang melakukan li’aan bahwa ia bila datang dengan anak sesuai dengan sifat ini dan itu, maka anak itu berasal dari laki-laki yang dituduh berzina dengannya, dan ternyata dia datang dengan anak yang sesuai dengan sifat yang beliau sebutkan, Terus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Seandainya tidak ada sumpah tentulah aku punya urusan dengan di (wanita itu)” dan di kota Madinah ada seorang wanita yang terang-terangan dengan perbuatan buruk, maka beliau berkata: “Seandainya saya boleh merajam seseorang tanpa bayyinah, tentulah saya merajamnya” hingga perkataan Ibnu Taimiyyah: (Maka sikap beliau tidak membunuh mereka, yaitu orang-orang kafir padahal mereka itu kafir adalah karena tidak nampaknya kekafiran dengan hujjah syar’iyyah) {hal 356}

Seandainya mereka mentadabburi tuntunan Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam tentulah bagi mereka di dalamnya terdapat tauladan yang baik,  sesungguhnya kaum munafiqin pada zaman beliau tidak berani terang-terangan menyatakan kekafiran mereka di hadapan orang yang mereka segani dari kalangan kaum muslimin, karena mereka tahu bahwa mereka bakal dikenakan sangsi dengan sebab itu…  Ya bisa saja mereka mengisyaratkan isyarat yang menampakkan kekafiran yang tersembunyi di dada mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka”  (Muhammad: 30)

Di antara mereka ada yang terang-terangan dengan hal itu, akan tetapi tidak terbukti atasnya secara syar’iy karena tidak sempurnanya bayyinah, terus mereka menolak  tuduhan itu dengan sumpah seraya menjadikannya sebagai perisai.  Dan mereka itu seperti orang-orang yang Allah Ta’ala firmankan:

Mereka (kaum munafiqin) itu bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan, sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran(At Taubah: 74)

Dan Allah Ta’ala:

“Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai” (Al Munafiqun: 2)

Terkadang mereka itu didengar oleh anak kecil, wanita, atau seorang laki-laki dari kaum muslimin, terus dia bersaksi terhadap apa yang dikatakan, namun ini tidak cukup untuk itsbat (penetapan), terus kesaksiannya ditolak dan mereka tidak dikenakan sangsi dengannya, sebagaimana Zaid Ibnul Arqam bersaksi bahwa Abdullah Ibnu Ubayy telah berkata:

“Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya.” (Al Munafiqun: 8)

Sebagaimana dalam Ash-Shahih[3] kemudian tatkala mereka telah kembali maka Ibnu Ubbay bersumpah bahwa ia tidak melakukannya, sampai orang-orang mengatakan: Zaid telah dusta kepada Rasulullah. Dan walaupun wahyu membenarkan Zaid, serta Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengetahui benar individu-individu kaum munafikin lewat wahyu, akan tetapi beliau tidaklah menghukumi berdasarkan wahyu dan dengan kemungkinan-kemungkinan  atau perkiraan-perkiraan atau tanda-tanda yang tidak cukup, dan beliau hanyalah memperlakukan mereka dengan jalan-jalan pembuktian yang syar’iy yang mana ia adalah bayyinah (saksi) atau pengakuan, sebagai bentuk pemberian pelajaran terhadap umatnya.

Dan lihat dalam hal ini apa yang dikatakan Al Qadli ‘Iyadl rahimahullah di dalam Asy Syifa (2/224-230) (pasal) (bila engkau menyatakan: kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang yahudi yang telah berkata kepada beliau “Assaamu ‘alaikum” dan ini adalah doa untuk mencelakakan beliau…  Hingga ucapannya: Dan kenapa beliau tidak membunuh orang-orang munafiq yang sering menyakiti beliau? Di sana beliau telah merinci permasalahan dalam apa yang telah kami ringkaskan bagi anda disini…  Silahkan rujuk ke sana, karena ia sangat penting.

Dan di antara perkataaannya (2/226): (Dan bisa saja tidak terbukti di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ucapan-ucapan mereka apa yang diajukan, namun hanya dinukil oleh seorang saja dan orang yang tidak sampai pada tingkatan kesaksian dalam hal ini, baik itu anak kecil, budak, atau wanita, sedangkan darah tak boleh dihalalkan kecuali dengan dua laki-laki adil, dan atas hal inilah permasalahan orang yahudi dalam hal pengucapan salam dibawa, dan bahwa mereka memalingkan lisan mereka dengan ucapannya dan tidak menjelaskannya, coba saja bagaimana hal itu diingatkan oleh Aisyah, dan seandainya dia terang-terangan dalam hal itu tentulah beliau tidak menyendiri dalam mengetahuinya[4]

Dan di antaranya ucapan beliau juga (228): (dan begitu juga dikatakan berkenaan dengan orang-orang yahudi bila mereka mengatakan “AS Saamu ‘alaikum” di dalamnya tidak terdapat hinaan yang sharih dan tidak pula doa kecuali dengan suatu yang mesti terjadi, yaitu kematian yang mesti dialami oleh seluruh manusia).

Syaikhul Islam dalam hal ini memiliki penjelasan yang rinci, beliau sebutkan di banyak tempat dalam Ash Sharim Al Maslul, sebagai contoh silahkan lihat hal (354-358) Apakah setelah ini tidak lapang bagi kita seperti yang lapang bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?!  An-Nawawiy berkata dalam bahasan tentang fatwa yang dilontarkan mufti dalam masalah masalah riddah: (Ash-Shumairiy dan Al Khatib berkata: Bila ditanya tentang orang yang mengatakan: Saya lebih jujur dari Muhammad Ibnu Abdillah, atau shalat itu main-main, dan hal serupa itu, maka tidak boleh cepat divonis: ini halal darahnya, atau wajib dibunuh, namun ia (mufti) mesti berkata: Bila ucapan ini benar dengan pengakuannya atau dengan bayyinah (dua saksi laki-laki, Pent) maka harus disuruh taubat oleh penguasa, bila dia taubat maka diterima taubatnya[5], dan bila tidak taubat maka ia mesti diperlakukan gini dan gitu, dan dia bersikap tegas dan keras dalam hal itu).  dari Al Majmu (1/49) dan sambungannya yang sangat penting telah lalu dalam tempat yang lalu.

Di samping ini, pentingnya mengingatkan bahwa dalam pemberian kesaksian dalam takfier dan riddah mesti ada rincian, agar bayyinah itu menjadi shahih, sempurna dan jelas.  Al-Qadli al Burhanuddin Ibnu Farhun Al-Malikiy: (Dan dalam hal riddah tidak diterima kesaksian yang global, seperti ucapan saksi-saksi bahwa si fulan telah kafir atau murtad, akan tetapi mesti merinci apa yang mereka dengar dan yang mereka lihat darinya, karena berbedanya manusia dalam hal takfier, bisa jadi para saksi meyakini kekafiran sesuatu yang bukan kekafiran (2/277)

Berkata Al-Mughniy dalam Kitabul Qadla (Pasal: Dan jarh (penilaian negatif) tidak didengar kecuali dengan penjelasan)  Dan atas dasar ini, bila didengar kekafiran dari seseorang dan bayyinah yang sempurna tidak tegak di sisinya serta orang itu tidak mengakui ungkapannya, namun justeru dia mengingkari dan menampakkan keIslaman, maka tidak layak bagi orang yang mendengarnya  meskipun boleh baginya mengkafirkannya bila ia tegolong orang yang memiliki kemampuan  dalam mengetahui jalan-jalan istidlal dan bisa membedakan Al-Mukaffirat, serta melihat mawani dan syarat-syaratny[6] (tidak layak baginya) mengharuskan orang lain untuk mengkafirkannya, karena tidak adanya bayyinah yang syar’iy lagi sempurna.  Dan tidak boleh baginya atas dasar ini mengingkari orang lain bila memperlakukan orang itu dengan perlakuan kaum muslimin selama ia menampakkan keIslaman lagi mengingkari kekafiran yang dituduhkannya kepadanya, apalagi kalau memberlakukan kepadanya kaidah (siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir maka dia orang kafir)

Dua Peringatan Penting

Sebelum saya meninggalkan tempat ini saya mesti mengingatkan pada dua hal penting:

* Pertama: Bahwa persyaratan bayyinah syar’iyyah yang sempurna atau pengakuan adalah hanya dalam takfier dan hukum yang bangun di atasnya, berupa kebolehan menumpahkan darah dan hartanya.  Adapun dalam penghati-hatian dari keburukan mereka, kebejatannya, kefasiqannya, dan permainannya, atau kebid’ahannya, maka masalahnya adalah lebih ringan dari itu karena tahdzir itu masuk dalam bab ikhbar (pemberitahuan), dan sudah ma’lum bahwa syarat-syarat diterimanya khabar menurut para ulama adalah tidak seperti syarat-syarat kesaksian, namun ia adalah lebih ringan darinya[7], dan Abdullah Ibnu Mas’ud telah berkata: “Nilailah manusia dengan teman-teman dekat mereka.

Bila seseorang dalam perjalanannya dan hidupnya berbaur dengan orang-orang buruk dan kaum zindiq seraya tidak melarang mereka dari kebatilannya serta tidak mengingkarinya, atau ia itu mengajak kepada bid’ah atau yang lainnya, maka boleh tahdzir darinya, dan tidak disyaratkan dalam tahdzir seperti apa yang disyaratkan di dalam takfier, kecuali memperhatikan perintah Allah yang umum untuk  tabayyun dan tatsabbut dalam pemberitaan:

“jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu “ (Al Hujurat: 6)

Orang yang mengajak kepada bid’ah andai diperkirakan dia itu tidak berhak mendapatkan hukuman atau tidak mungkin menghukumnya, maka mesti dari menjelaskan bid’ahnya dan mentahdzir darinya[8], Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwwaqi’in  menyebutkan dari Al-Kausaj, dia berkata: saya berkata kepada Ahmad: (bagaimana orang murjiah bila mengajak kepada bid’ahnya? Beliau berkata: Ya demi Allah dia di jauhi dan dijauhkan)  (4/168)

*Kedua: Bahwa orang yang terkenal kefajirannya atau kezindiqqannya, atau permainannya terhadap dien ini atau diketahui kekafiran dan celaannya (terhadap dien ini) berulang-ulang, maka hal ini cukup bagi ahlul ilmi untuk mencela keadilan dan diennya serta menganggap cacat dan menjelaskan keadaannya dengan apa yang dikenal dan mahsyur darinya dengan istifadlah.  Lihat dalam berpegang pada istifadlah.  Al-Mughni kitabusy syahadat (masalah ma thadaharat bihil akhbaar)

Dan lihat juga Al Fatawa bab kesaksian  (Syaikhul Islam ditanya tentang kesaksian atas ahlu maksiat dan ahlul bid’ah: apakah boleh dengan istifadlah dan syuhrah (masyhur) atau mesti dengan mendengar dan melihat langsung? Hingga akhir.  Maka beliau menjawab: (Apa yang membuat saksi dan lainnya tercoreng adalah tergolong apa yang mencoreng keadilan dan diennya, karena sesungguhnya dia bersaksi dengannya bila diketahui oleh si saksi dengannya dengan cara istifadlah, dan hal itu menjadi celaan (corengan) syar’iy, sebagaimana hal itu ditegaskan oleh banyak kelompok fuqaha dari kalangan Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabillah dan yang lainnya dalam kitab-kitab mereka yang besar dan kecil, mereka menegaskan dalam hal bila seseorang dijarh (dicoreng) dengan jarh yang mufassar (dijelaskan), sesungguhnya yang menjarh  dengan apa yang dia dengar darinya atau yang dia lihat, dan istifadhah dan dalam hal ini saya tidak mengetahui penyelisihan di antara manusia, karena sesungguhnya kaum muslimin seluruhnya bersaksi pada zaman kita tentang orang semacam Umar Ibnu Abdil Azis, Al Hasan Al Bashriy dan yang seperti keduanya. Bahwa mereka itu tergolong orang-orang yang adil lagi taat dengan apa yang mereka tidak ketahui kecuali dengan istifadhah, dan kaum muslimin bersaksi tentang orang semacam Al Hajjaj Ibnu Yussuf, Al Mukhtar Ibnu Abi Ubaid, ‘Amr ibnu Ubaid, Ghailan Al Qadary, Abdullah Ibnu Saba’ Ar Rafidli dan yang lainnya akan kedzhaliman dan bid’ah mereka dengan apa yang tidak mereka ketahui kecuali dengan istifadhah. Dan telah terbukti dalam Ash Shahih[9] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: bahwa jenazah dibawa melewati beliau, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya, “kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mesti”, dan terus jenazah lain dibawa melewati beliau, kemudian mereka mengalamatkan keburukan atasnya maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mesti, Mesti.” Mereka berkata:” Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa ucapan engkau:“mesti,mesti.?” Beliau berkata: “jenazah ini engkau puji kebaikan atasnya, lalu aku mengatakan mesti surga baginya, dan jenazah ini kalian katakan keburukan atasnya, lalu aku berkata “mesti neraka atasnya,” kalianlah para saksi Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi.

Ini bila yang dimaksud adalah menghukumi fasiq untuk menghukumi kesaksian dan perwaliannya. Adapun bila yang dimaksud adalah tahdzir darinya dan menjauhi keburukannya, maka cukuplah dengan hal yang lebih rendah dari itu.  (Majmu Al Fatawa 35/241-242).

Adapun dalam hudud syar’iyyah maka sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjabarkan dalam hadits Mula’anah (saling melaknat) bahwa beliau tidak merajam seseorang kecuali dengan bayyinah walaupun nampak keburukan orang itu.

Syaikhul Islam berkata 15/179: (Dan bila masyhur perbuatan fahisyah dari seseorang di antara manusia, maka tidak dirajam, berdasarkan yang terbukti dalam Shahih dari Ibnu Abbas bahwa dia tatkala menuturkan hadits mula’anah dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Bila dia datang dengan anak yang menyerupai suami, maka dia (suami) telah berdusta terhadapnya (isteri), dan bila dia datang dengan anak yang menyerupai laki-laki yang dituduh zina dengannya, maka dia (suami) telah benar menuduhnya,“  dan ternyata dia datang dengan sifat yang tercela, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata:”Seandainya tidak ada sumpah tentulah aku punya urusan dengan dia (wanita itu)”[10] maka dikatakan kepada Ibnu Abbas: Apakah ini  yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya: “Seandainya aku boleh merajam seseorang tanpa bayyinah tentulah aku telah merajam dia.” maka Ibnu Abbas berkata:”Bukan, itu adalah wanita yang terang-terangan melakukan keburukan dalam Islam[11], sungguh beliau telah mengabarkan bahwa beliau tidak merajam seseorang kecuali dengan bayyinah,  meskipun nampak perbuatan dari seseorang ..) Kemudian menyebutkan hadits jenazah yang lalu dan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya:”Kalian adalah para saksi Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi,” dan beliau berkata:“beliau telah menjadikan istifadlah sebagai hujjah dan bukti (bayyinah) dalam hukum-hukum ini, dan tidak menjadikannya sebagai hujjah dalam rajam). Dan An-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim dalam (kitab Al Li’an) tentang wanita yang terang-terangan melakukan perbuatan buruk di dalam Islam:(Makna hadits adalah bahwa telah terkenal dan tersebar tentangnya perbuatan fahisyah, namun tidak terbukti (ada) bayyinah dan pengakuan, maka di dalamnya terkandung faidah bahwa had tidak ditegakan dengan sekedar keterkenalan berita dan qarinah-qarinah, akan tetapi harus ada bayyinah dan pengakuan.)


[1] (Dan telah lalu ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: tidaklah diterima kesaksian musuh terhadap musuhnya walaupun ia itu adil) 35/120.

[2] Lihat Al Mughniy (kitabul Murtad) masalah: (Siapa yang dipersaksikan atasnya tentang kemurtadan, kemudian dia berkata: Saya tidak kafir.) (Pasal kedua 8/99)

[3] Al Hadits dalam Ash-Shahihain, lihat Al Bukhari kitab At tafsir bab “mereka jadikan sumpah mereka sebagai perisai” dan dalam bab-bab sesudahnya.

[4] Dan karena itu Al Bukhari menerapkan bab 4 buat hal itu dalam shahihnya dalam kitab istibatul murtaddin… dengan ucapannya: (Bab bila dzimmiy atau yang lainnya menyindiri dengan celaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak terang-terangan…)

[5] Lihat ucapan Syaikhul Islam dalam Ash Sharim Al-Maslul (masalah-masalah) bahwa yang menghina  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibunuh dan tidak ada istitabah baik asalnya muslim atau kafir hal (300) dst.

[6] Maksud kami dengan ahliyyah (kemampuan) di sini bukanlah bahwa seseorang mencapai derajat imam Ahmad atau para imam mujtahid lainnya, serta bukan apa-apa yang lontarkan oleh kaum murjiah modern berupa batasan-batasan yang sukar dan syarat-syarat yang tidak Allah turunkan dalilnya yang hampir dengannya mereka menggugurkan hukum takfier secara total, mereka mempersulit bahkan menghalangi dari mengkafirkan orang-orang kafir muharibbin yang terang-terangan melakukan kufrun bawwah, namun maksud kami adalah memperhatikan syarat dan mawani ‘takfier yang lalu, dan hati-hatilah dari macam kesalahan ini.

[7] Di antara hal yang memperjelas hal itu bahwa riwayat wanita itu adalah seperti riwayat laki-laki dan kesaksian  wanita tidak seperti kesaksian laki-laki, sedangkan kesaksian di dalam masalah zina adalah harus 4 orang, padahal periwayatan tentangnya tidak butuh akan hal itu.  LIhat Mudzakiratul Al-Ushul karya Asy-Syingithiy, hal: 111, dan juga sesungguhnya riwayat itu tidak digugurkan dengan permusuhan dan kekerabatan, berbeda halnya dengan kesaksian, Mudzakkiratul Ushul juga hal: 119)

[8] Lihat majmu Al-Fatawa 35/242

[9] Lihat Shahih Al Bukhari Kitabul Janaiz (1367) dan Al Hafidh berkata: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” kalian para saksi di muka bumi” “( Orang-orang yang dikhithabi dengan itu adalah dari kalangan para kalangan sahabat, dan orang-orang yang sifatnya seperti mereka dalam hal iman. Dan Ibnu At Tien menghikayatkan bahwa itu dikhusukan bagi para sahabat, karena mereka itu berbicara dengan hikmah berbeda dengan orang-orang sesudah mereka, dia berkata: Dan yang benar bahwa itu khusus bagi wanita-wanita yang bertaqwa dan laki-laki yang bertaqwa.)

[10] Ini adalah lafadzh Abu Dawud (2253), dan dalam Shahihul Bukhari:(“Seandainya tidak ada ketentuan dalam   kitabullah tentu aku punya urusan dengan dia.”) (4747)

[11] Al Bukhari kitab Ath Thalaq (5316), Al Hafidh berkata dalam Fathul Bariy: (Dan diambil faidah darinya bahwa qadli tidak boleh mencukupkan diri dengan praduga dan isyarat dalam Al Hudud bila menyelishi hukum dzahir, seperti sumpah si tertuduh bila dia mengingkari dan tidak ada bukti). Hadits ini diriwayatkan juga oleh Muslim di dalam Al lian (1497)

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s