Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 9 Takfier Dengan Ucapan-Ucapan Atau Perbuatan-Perbuatan Yang Ihtimal Dilalahnya Tanpa Memandang Maksud Orang Yang Mengucapkannya Atau Yang Melakukannya )

Takfier Dengan Ucapan-Ucapan Atau Perbuatan-Perbuatan Yang

Ihtimal Dilalahnya Tanpa Memandang Maksud

Orang Yang Mengucapkannya Atau

Yang Melakukannya

Dan di antara kekeliruan yang umum dalam takfier juga adalah takfier dengan ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan yang dilalahnya muhtamal tanpa memandang kepada maksud orang yang mengucapkanya atau yang melakukannya. Dan ini yang dikenal dengan takfier dengan hal-hal yang muhtamal, yaitu keberadaan ucapan atau perbuatan seseorang itu tidak sharih (jelas) dilalahnya terhadap kekafiran namun memiliki kemungkinan lain.

Syaikul Islam berkata di dalam Ash Sharimul Maslul: (Takfier itu tidak boleh dengan hal yang muhtamal). Hal 517.

Sesungguhnya perbuatan atau ucapan mukallaf itu tidak menjadi sebab yang shahih untuk takfier kecuali dengan dua syarat:

v      Pertama: Syarat dalam dalil syar’iy yang dijadikan dalil atas hal itu, yaitu dalil tersebut qath’iy dilalahnya terhadap kekufuran perbuatan atau ucapan, dan telah lalu pembahasan atas hal ini dalam tempat yang lalu.

v       Kedua: Syarat pada ucapan atau perbuatan mukallaf itu sendiri. Ucapan atau perbuatan (yang merupakan sebab takfier) yang muncul darinya harus jelas dilalahnya terhadap kekafiran, yaitu ia mengandung secara jelas dan bukan secara ihtimal (sekedar kemungkinan) memuat  sebab yang mengkafirkan yang ada pada nash syar’iy yang dijadikan dalil terhadap takfier itu.

Oleh sebab itu para ulama ushul memberikan definisi bagi sebab sebagaimana yang telah lalu dengan ucapan mereka: (Sifat yang dhahir lagi baku yang dengannya hukum menjadi terbukti, dari sisi di mana syari’at mengaitkan hukum itu dengannya).

Adapun ucapan-ucapan maupun perbuatan-perbuatan yang ihtimal (memiliki banyak kemungkinan) yang bisa berarti kekafiran dan bisa juga tidak, maka tidak halal bersegera untuk melakukan takfier dengannya, karena ia adalah sifat-sifat yang tidak pasti.

Dan supaya menjadi mundlabith (baku) maka mesti memperhatikan beberapa hal untuk menentukan dilalahnya, apakah dibawa kepada kekafiran yang nyata atau tidak, dan ia adalah yang dinamakan dengan isthilah melihat pada murajjihat (hal-hal yang menguatakan), yaitu:

–          Tabayyun (mencari kejelasan) maksud orang yang melakukan atau yang mengucapkannya.

–          Memperhatikan qarinah-qarinah keadaan yang menyertai ucapan atau perbuatan.

–          Dan mengetahui adat si pembicara atau adat kabilahnya atau penduduk negerinya.

Adapun tabayyun maksud si pelaku, yaitu dengan menanyakan tentang apa yang dia maksudkan dengan ucapan atau perbuatannya itu, contohnya: Seandainya orang mencaci nama Muhammad, maka dhahir ini bahwa ia telah mengucapkan ucapan kekafiran, akan tetapi ada kemungkinan bahwa dia memaksudkan sosok selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama bila orang itu tidak terkenal dengan kezindiqan atau suka meremehkan dien ini, sehingga perlu ditanya tentang maksudnya sebelum dia divonis kafir. Dan contoh lain: Seandainya muncul darinya ucapan yang tidak jelas berbentuk celaan, maka mesti tabayyun dari maksud ucapannya sebelum divonis. Oleh sebab itu Ibnu Mundzir menukil kesepakatan bahwa orang yang mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sharih maka wajib dibunuh.

Abu Bakar Al Farisiy salah seorang tokoh madzhab Asy Syaf’iy menukil di dalam Kitabul Ijma’ bahwa orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan penghinaan yang jelas maka dia kafir dengan kesepakatan ulama.

Adapun lafadh-lafadh atau ucapan-ucapan yang ihtimal lagi tidak sharih, maka ini diijmakan dan tidak disepakati, dan mereka tidak mengharuskan takfier dengannya dan tidak pula vonis hukuman mati kecuali setelah tabayyun dan mencari kejelasan serta meminta pernyataan jelas dari si pelaku atau orang yang mengucapkannya. Asy Syafi’y berkata dalam Al Ummu (7/297): (Ucapan yang dipegang adalah ucapan dia di dalam hal yang memiliki kemungkinan suatu yang tidak dhahir, sehingga tidak divonis selamanya kecuali dengan hal yang dhahir) Dan lihat I’lamul Muwaqqi’in 3/115

Al Hafidh Ibnu Hajar telah menukil hal itu dari Ibnu Mundzir dan Abu Bakar dalam kitab Istitabatul Murtaddin di mana Al Bukhari menuturkan hadits-hadits ucapan salam orang-orang Yahudi terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan mereka ” السام عليكم / kematian atasmu “ dan beliau menetapkan suatu bab baginya “ (Bab bila kafir dzimmy atau yang lainnya mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ucapan yang tidak terang-terangan seperti ucapannya: السام عليكم.

Para ulama telah menyebutkan di antara sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang yahudi itu, bahwa dia tidak terang-terangan dalam celaannya, namun dia mengucapkan ucapan yang muhtamal, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menghukumi kecuali dengan hal yang jelas yang tidak diperselisihkan oleh manusia, sehingga bila pelakunya dihadirkan dan dibunuh maka tidak ada yang mempermasalahkannya, oleh sebab itu belaiu cukup membalas mereka dengan ucapannya “ وعليكم  “

Dan mereka telah menyebutkan sebab-sebab lain selain ini, dan silakan lihat Asy Syifa karya Al Qadli Iyadl 2/224-230 (Fasal, bila engkau berkata: Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membunuh orang yahudi yang menyatakan kepadanya “السام عليكم ) dan sebagiannya akan dating di dalam bahasan setelah ini, dan dalam hal itu lihat juga Ash Sharim Al Maslul dan Fathul Bari di dalam tempat yang telah kami isyaratkan tadi

Contoh lain, Andai seseorang berdoa di samping kuburan dan suaranya tidak kedengaran, maka mesti ditanya tentang doanya. Bila dia berkata: “Saya berdoa kepada  Allah di sisi kuburan orang saleh ini dengan harapan doa diterima“ maka perbuatan ini bid’ah ghair mukaffirah, dan dia mesti dilarang dari hal itu karena ia adalah sarana kepada kemusyirkan.

Bila ia berkata “Saya memohon kepada orang yang dikubur ini agar ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan saya“ maka perbuatannya adalah membuat dia kafir … dan begitulah seterusnya.

Mencari kejelasan maksud itu bisa menentukan apa yang dimaksud dari perbuatan yang ihtimal dilalahnya, dan bisa memastikan sebab takfier.

An Nawawiy menukil dari Ash Shaimuri dan Al Khathib: (Bila ditanya -yaitu si mufti- tentang orang yang mengatakan ini dan itu, berupa sesuatu yang memiliki banyak kemungkinan yang sebagian kemungkinan-kemungkinan itu bukan kekafiran, maka seyogyanya si mufti berkata: Orang itu mesti ditanya tentang apa yang dia maksudkan dari apa yang dia katakan: Bila dia memaksudkan begini maka jawabannya ini dan bila dia memaksudkan begitu maka jawabannya itu). Al Majmu karya An-Nawawi 1/49.

Dan hal seperti itu adalah apa yang dijawab oleh Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang pertanyaan seputar orang yang melaknat agama yahudi dan mencaci Taurat, maka beliau berkata: (Al Hamdulillah, tidak seorangpun boleh melaknat Taurat, bahkan siapa yang melaknat Taurat, maka dia disuruh taubat, kemudian bila dia bertaubat (maka dia dilepas) dan bila tidak bertaubat maka dia dibunuh. Dan bila ia tergolong orang yang mengetahui bahwa Taurat itu diturunkan dari  Allah dan bahwa wajib iman terhadapnya, maka orang ini langsung dibunuh dengan sebab celaan dia terhadapnya dan taubatnya tidak diterima dalam pendapat yang paling benar dari dua pendapat ulama. Dan adapun bila ia melaknat agama yahudi yang mereka pegang pada zaman sekarang ini, maka ini tidak apa-apa, karena sesungguhnya mereka itu dilaknat, mereka dan agama mereka. Dan begitu juga mencela taurat yang ada pada mereka, yang mana memberikan penjelasan bahwa maksudnya adalah penyebutan tahrif taurat itu, seperti dikatakan: Cetakan taurat ini telah dirubah, tidak boleh mengamalkanya yang ada di dalamnya, dan siapa yang mengamalkan ajaran-ajarannya yang telah dirubah lagi diganti maka dia itu kafir. Ucapan ini dan yang semisalnya adalah haq tidak apa-apa atas yang mengucapkannya, wallahu a’alam). Majmu Al Fatawa dari Ibnu Hazm 35/121.

Adapun dalam sesuatu yang tidak memiliki ihtimal kecuali apa yang nampak, yaitu jelas dilalahnya terhadap kekafiran, maka tidak perlu melihat pada niat dan maksudnya. Dan andaikata hal itu mesti diperhatikan tentulah itu menjadi jalan masuk bagi permainan kaum zindiq terhadap syariat ini.

Oleh sebab itu Al Qadli Iyadl menukil dalam Asy Syifa dari Habib Ibnu Ar Rubaiy -dari kalangan Fuqaha Malikiyyah: (Sesungguhnya klaim takwil di dalam lafadh yang jelas adalah tidak diterima) 2/217, dan Syaikhul Islam telah menukilnya seraya berhujjah dengannya dalam Ash-Sharimul Maslu l/327.

Dan sebelumnya Al Qadli telah menuturkan secara langsung contoh atas kekafiran yang nyata, beliau menukil dari Ahmad Ibnu Abi Sulaiman sahabat Sahnun (Berkata tentang laki-laki yang dikatakan kepadanya: Tidak, demi hak Rasulullah, semoga Allah memperlakukan Rasulullah dengan hal seperti itu,  dan ia menuturkan ucapan yang buruk –maka dikatakan kepadanya: Apa yang kamu katakan wahai musuh Allah? maka dia mengatakan ucapan yang lebih dahsyat dari ucapan dia pertama, kemudian berkata: Yang dimaksud dengan ucapan saya Rasulullah adalah kalajengking “maka Ibnu Abi Sulaiman berkata kepada orang yang ada bersamanya: Jadilah kamu saksi terhadanya, sedang saya adalah serikatmu, maksudnya dalam hal membunuhnya dan pahala hal itu) 2/217.

Dan kesimpulannya: Bahwa mencari kejelasan maksud si pelaku itu hanya dianggap dan diperhitungkan serta  penting lagi harus di dalam hal yang ihtimal dilalahnya (yaitu dalam takfier dengan hal-hal yang muhtamal) dan tidak di perhitungkan dalam kekafiran yang nyata.

Tanbih: Telah kami ketengahkan kepada anda dalam mawani’ takfier bahwa maksud yang dianggap lagi dimaksud kejelasannya di sini dan yang berpengaruh di dalam hukum takfier adalah penentuan apa yang dimaksud dari perbuatan atau ucapan yang muhtamal itu, bukan mencari kejelasan keinginannya untuk menjadi kafir dan keluar dari agama, sebagaimana yang diduga dan disyaratkan oleh sebagian orang.

Dalam contoh orang yang menghina (Muhammad), maksud yang membuatnya kafir yang dituntut untuk dicari kejelasannya adalah ucapan orang itu (Saya memaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan yang lainnya).

Dan dalam contoh kedua adalah ucapannya (Saya memohon terhadap si mayyit untuk melepaskan kesulitan saya).

Inilah maksud yang berpengaruh dalam hukum takfier dengan hal-hal yang muhtamal dan tidak mesti ditanya: “Apakah kamu bermaksud untuk kafir dengan hal itu, atau apakah kamu menghalalkan hal itu dengan hatimu“ sebagaimana yang disiyaratkan oleh para pewaris Murjiatul Jahmiyyah.

Akan tetapi andai dia berkata: “Saya tidak bermaksud untuk kafir dengan hal itu“ tentulah penafian ini tidak berpengaruh dalam hukum tersebut, karena hukum yang memiliki sebab sebagaimana yang telah lalu tidaklah mungkin tertinggal dari sebabnya secara syar’iy, baik orang yang melakukan sebab itu memaksudkan melekatnya status hukum yang disebabkan ataupun tidak memaksudkannya, bahkan bila sebab yang disebabkan atasnya atau tidak, namun justeru bila sebabnya ada dan syarat-syaratnya  terpenuhi serta mawani’nya tidak ada, maka yang status hukumnya itu melekat padanya walaupun si mukallaf itu tidak memaksudkan keterjalinan hukum itu padanya. Si mukallaf tidak punya kewenangan untuk melepaskan ikatan yang dengannya syari’at telah mengikat hukum dengan sebab-sebabnya, walaupun dia itu berangan-angan atas  Allah.

Oleh sebab itu Syaikhul Islam berkata dalam Ash-Sharim hal 177-178: (Dan secara umum, siapa yang mengatakan atau melakukan sesuatu yang merupakan kekafiran, maka dia telah kafir dengan hal itu meskipun tidak bermaksud untuk kafir, sebab tidak ada seorangpun yang bermaksud untuk kafir kecuali apa yang Allah kehendaki) dan ungkapan serupa telah lalu dalam bahasan syarat-syarat dan mawani’ takfier.

Adapun peninjauan qarinah-qarinah keadaan yang menyertai suatu perbuatan, maka ia adalah apa yang telah kami isyaratkan kepadanya, yaitu keberadaan orang yang melontarkan ucapan yang muhtamal itu terkenal dengan sikap permainannya terhadap agama ini dan pertemanannya dengan orang-orang zindik, atau dia sendiri tertuduh dengan kezindiqan. Di mana qainah-qarinah ini dan yang serupa dengannya adalah menguatkan maksud kekafiran.

Ibnu Rajab berkata: (Indikasi keadaan menjadikan indikasi ucapan-ucapan itu berbeda, dengan diterimanya klaim suatu yang selaras dengannya dan ditolaknya suatu yang menyelisihinya, dan terbangun hukum-hukum di atasnya dengan sekedar hal itu). Al Qawaaid hal 322 no: 151.

Contoh hal itu adalah apa yang telah disebutkan Al Qadli Iyadl, berkata: (Saya telah menyaksikan Syaikh kami Al Qadli Abu Abdillah Ibnu Isa saat beliau menjadi qadli, di mana didatangkan seorang laki-laki yang telah menghina orang yang namanya Muhammad, terus dia menghampiri seekor anjing kemudian memukulnya dengan kakinya, terus berkata kepadanya: Bangkit kamu wahai Muhammad ! kemudian laki-laki itu mengingkari bahwa ia telah mengatakan hal itu dan bersaksi atasnya sejumlah orang, maka beliau menyuruh memenjarakan orang itu dan meneliti keadannya, dan apakah ia berteman dengan orang yang suka mempermainkan dienya? dan tatkala ia tidak menemukan suatu yang menguatkan kecurigaan terhadap keyakinannya, maka beliau memukulnya dengan cemeti dan membebaskannya) dari Asy Syifa 2/237.

Beliau tidak membunuhnya karena lawan/sekutu laki-laki itu sebagaimana yang dia katakan namanya Muhammad, ini adalah qarinah, disertai ketidakterkenalan laki-laki itu dengan sikap kezindiqan atau bersahabatnya dengan orang-orang zindiq, semua itu menunjukkan bahwa laki-laki itu bermaksud mencari temannya yang telah menghina dia, dan tidak bermaksud mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang menghalangi dari mengkafirkannya dan darahnya masih terjaga, dan beliau mencukupkan saja dengan memukulnya sebagai ta’zir, agar ia hati-hati dan menjaga diri dari celaan yang ihtimal seperti ini, dan agar tidak menjadi jalan untuk mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membiasakan manusia terhadap hal itu.

Adapun tinjauan terhadap adat kebiasaan, maka sungguh suatu kata di adat suatu kabilah atau daerah atau kelompok manusia bisa jadi berbada maksudnya bagi adat orang-orang lain.

Oleh sebab itu Ibnu Qayyim berkata dalam I’lamul Muwaqqi’in (faidah ke 43: (Tidak boleh bagi dia -yaitu mufti- memfatwakan dalam iqrar (pengakuan), sumpah, wasiat dan hal lainnya yang berkaitan dengan lafadh, dengan apa yang menjadi kebiasaan dia berupa  pemahaman lafadh-lafadh itu tanpa mengetahui kebiasaan pemilik bahasa itu dan orang-orang yang melontarkan ucapan itu, di mana dia membawa lafadh itu kepada apa yang menjadi adat dan kebiasaan mereka walaupun hal itu menyelisihi makna asal yang sebenarnya, dan bila dia tidak melakukan hal itu maka dia sesat dan menyesatkan …).

Dan beliau itu menyebutkan contoh-contoh atas hal itu terus berkata: (Dan ini adalah pintu yang besar yang terjatuh ke dalamnya mufti yang jahil, sehinga ia menipu manusia dan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya dan ia merubah diennya, dan dia mengharamkan apa yang tidak Allah haramkan, dan mewajibkan apa yang tidak Allah wajibkan .. Wallahu’ Musta’an). 4/228.229.

Dan contoh itu, yang mengikuti kebiasaan orang-orang zaman kita terutama di negeri ini bila mereka menyebut nama Muhammad dan memaksudkan dengannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka mengucapkannya dengan bahasa arab asli dan berkata: Muhammad, dan bila mereka memaksudkan dengannya orang lain, maka mereka mengucapkannya dengan bahasa ‘amiyah (pasaran) begini Amhammad. ‘Urf ini tergolong qarinah-qarinah yang mungkin dengannya dilakukan pentarjihan lafadh atau celaan yang muhtamal bila muncul terhadap orang yang namanya Muhammad. Di mana telah terbiasa di tengah orang-orang bila mereka berkomunikasi dan saling memaki adalah dengan menggunakan bahasa ‘amiyah. Adapun nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka tidak menuturkannya kecuali dengan bahasa arab yang benar.

Dan kesimpulan: Sesungguhnya takfier dengan hal-hal yang muhtamal adalah biang ketergelinciran dan keterpurukan pemahaman yang tidak halal bagi orang yang sayang terhadap agamanya menceburkan diri ke dalamnya tanpa memperhatikan batasan yang telah lalu.

Dan ini adalah contoh-contoh dari fatwa-fatwa ulama dan para qadli di dalam permasalahan seperti ini, yang mana hal seperti ini memperkenalkan kepadamu kehati-hatian para ulama dan ketelitian mereka di dalamnya.

Al Qadli ‘Iyyadl berkata dalam Asy Syifa: (fasal) (sisi keempat: Mendatangkan dari ungkapan suatu ucapan yang global, dan menuturkan ucapan yang musykil yang mungkin membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang yang lainnya, atau bimbang dalam hal yang dimaksud berupa keselamatan dia dari yang tidak disukai atau keburukannya maka di sinilah pandangan menjadi bimbang dan ungkapan jadi bimbang serta sumber perselisihan para mujtahid dan saat pembersihan diri para muqaliddin, supaya binasa orang yang binasa di atas kejelasan serta hidup orang yang hidup di atas kejelasan, maka di antara ulama ada yang mengunggulkan kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melindungi kepribadiannya sehingga dia berani menvonis pelakunya untuk dibunuh, dan di antara mereka ada yang menganggap besar kehormatan darah dan menolak had dengan syubhat karena ihtimal ucapan tersebut.

Para imam kita telah berselisih tentang orang yang dibuat marah oleh orang yang dia hutangi, terus dia berkata kepadanya: Ucapkanlah shalawat kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam! maka orang yang menagih berkata kepadanya: Semoga Allah tidak melimpahkan shalawat kepada orang yang mengucapkan shalawat kepadanya

Maka dikatakan kepada Sahnun: “Apakah ia seperti orang yang mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? maka beliau berkata: (Tidak, bila dia dalam kondisi marah yang kamu sebutkan, karena dia tidak menyembunyikan celaan). Dan Abu Ishaq Al Barqiy dan Ishbigh Ibnul Farj berkata: (Dia tidak dibunuh, karena sesungguhnya ia hanya mencela manusia), dan ini seperti ucapan Sahnun, karena ia tidak mengudzurnya dengan sebab marah dalam celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi tatkala ucapanya itu mengandung ihtimal baginya dan bersamanya tidak ada qarinah yang menunjukkan celaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau celaan terhadap malaikat, serta tidak ada muqaddimah yang ucapanya bisa di bawah kepadanya, akan tetapi justeru qarinah menunjukan bahwa yang dimaksud dia itu adalah orang-orang selain mereka, karena dasar ucapan pihak yang lain kepadanya: Ucapan salawat kepada Nabi,” sehingga ucapan dan celaannya dibawa kepada orang yang membaca salawat kepada beliau sekarang, karena dasar perintah orang lain itu kepadanya di saat marah, inilah makna ucapan Sahnun, dan ia sejalan dengan alasan dua sahabatnya.

Dan disebutkan bahwa selain mereka berpendapat pelakunya mesti dibunuh, kemudian menukil dari Abdul Hasan Al Qabisiy sikap tawaqqufnya juga dalam hal seperti ini serta ucapannya: (Dan darah orang muslim itu tidak boleh ditumpahkan kecuali dengan hal yang jelas, sedangkan suatu yang mengandung pentakwilan-pentakwilan adalah mesti dikaji ulang, inilah makna ucapannya. Dan dihikayatkan dari Abu Muhamad Ibnu Abi Zaid rahimahullah tentang orang yang mengatakan: Semoga  Allah melaknat orang-orang arab, semoga  Allah melaknat Bani Israil, dan semoga  Allah melaknat Banu Adam, “ dan ia menyebutkan bahwa ia tidak maksudkan Para Nabi namun memaksudkan orang-orang yang dzhalim di antara mereka, maka ia wajib diberi sangsi sesuai ijtihad penguasa. Dan begitu juga dia menfatwakan tentang orang yang mengatakan: Semoga Allah melaknat orang yang mengharamkan suatu yang memabukan, dan berkata:”Saya tidak mengetahui yang mengharamkannya.” Dan (Menfatwakan juga) tentang orang yang melaknat hadits“ orang kota tidak boleh menjualkan bagi orang yang datang dari desa“ dan melaknat apa yang dia bawa, bahwa dia itu diudzur karena kejahilan dan tidak mengetahuinya akan sunnah, dan dia wajib diberi pelajaran yang menyakitkan, Ini dikarenakan dia tidak memaksudkan dengan berdasarkan dhahir keadaannya untuk mencela Allah tabaraka wa ta’ala dan tidak pula mencela Rasul-Nya, namun ia hanya melaknat yang mengharamkanya dari kalangan manusia, sejalan dengan fatwa Sahnun dan para sahabatnya dalam masalah yang lalu. Dan sama seperti itu apa yang biasa muncul dari ucapan orang-orang dungu saat saling mencaci satu sama lain: Hai anak seribu babi, Hai anak seratus anjing, dan ucapan-ucapan kotor lainya. Dan tidak diragukan lagi masuk ke dalam bilangan seperti ini dari kalangan nenek moyangnya adalah sejumlah para Nabi, dan bisa jadi sebagian bilangan ini terputus kepada Adam ‘alaihissalam, sehingga seyogyanya dibuat jera darinya dan mencari kejelasan apa yang tidak diketahui oleh orang yang melontarkanya serta kerasnya sangsi yang diberikan kepada dia. Dan seandainya diketahui bahwa dia memaksudkan celaan terhadap para Nabi yang ada di dalam jalur nasab leluhurnya atas dasar ilmu, tentulah dibunuh. Dan permasalahan bisa dipersempit dalam contoh seperti ini seandainya orang berkata kepada seorang Bani Hasyim:Semoga Allah melaknat Bani Hasyim,” dan dia mengatakan bahwa maksud saya adalah orang-orang dhalim dari mereka, atau berkata kepada orang yang tergolong keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ucapan yang kotor tentang bapaknya atau orang yang termasud anak cucunya padahal dia tahu bahwa ia termaksud keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam dua masalah itu tidak ada qarinah yang menuntut pengkhususan sebagian bapak-bapaknya dan pengeluaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang yang di cela di antara mereka. Dan saya telah melihat (ucapan) Abu Musa Ibnu Manas tentang orang yang berkata kepada seseorang “Semoga  Allah melaknatmu hingga Adam ‘alaihissalam” bahwa bila ada bukti atasnya maka dia itu dibunuh). 2/234-237.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ditanya tentang orang yang berkata kepada seorang syarif yaitu turunan Ahlul Bait:Hai anjing, hai anak anjing” terus dikatakan kepadanya; Sesungguhnya dia itu syarif. Kemudian ia malah mengatakan:Semoga Allah melaknatnya dan melaknat orang yang mengagungkannya” maka apakah ia wajib dibunuh atau tidak? dan bersaksi atasnya musuh dia dengan hal itu.

Maka beliau menjawab: (Kesaksian musuh terhadap musuhnya tidaklah diterima walaupun dia itu adil, dan ucapannya ini bukan dengan sendirinya tergolong hinaan kepada Nabi yang mana pelakunya mesti dibunuh, akan tetapi mesti diminta penjelasan tentang maksud ucapannya “orang yang mengagungkannya”.

Kemudian bila telah terbukti dengan tafsirnya atau dengan qarinah-qarinah kondisinya atau ungkapannya bahwa ia itu memaksudkan pelaknatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib ia dibunuh.

Dan bila tidak terbukti hal itu, atau terbukti dengan qarinah-qarinah kondisinya atau ungkapannya bahwa ia memaksudkan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti ia memaksudkan pelaknatan terhadap orang yang mengagungkannya atau menyanjungnya atau pelakanatan orang yang meyakini dia itu syarif maka hal itu tidak memastikan hukum bunuh dengan kesepakatan ulama. Orang yang bukan zindiq tidak boleh diduga bahwa ia itu memaksudkan pelaknatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang diketahui dari keadaannya bahwa ia itu mukmin bukan zindiq, maka itu bukti bahwa ia tidak memaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak wajib membunuh muslim dengan sebab menghina salah seorang asyraf (keturunan Nabi) dengan kesepakatan para ulama, yang dibunuh itu hanyalah orang yang menghina para Nabi). Majmu Al Fatawa 35/20.

Dan berkata juga di dalamnya 34/87: (Dan siapa menghina Abu Hasyimi maka ia dita’zir atas hal itu, dan hal itu tidak dijadikan sebagai hinaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan andai ia menghina bapak dan kakek orang Hasyimiy maka hal itu tidak dibawa kepada hinaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena lafadhnya tidak nampak jelas dalam hal itu, karena kakek yang muthlaq adalah bapaknya bapak, dan bila seseorang menyebutkan kakek maka para kakeknya itu banyak sekali, sehingga tidak tertuju kepada orang tertentu, sedangkan hinaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekafiran yang mengharuskan hukum bunuh, maka iman yang jelas tidak hilang dengan sebab keraguan, dan darah yang ma’shum tidak dihalalkan dengan sebab keraguan, apalagi hal yang umum pada diri orang muslim itu adalah dia itu tidak bermaksud (menghina) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana keadaan dan ucapannya itu tidak menuntut hal tersebut, dan tidak diterima atasnya ucapan orang yang mengklaim bahwa dia itu memaksudkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa hujjah, wallahu a’lam).

Perhatikanlah pertimbangan keadaan dan ungkapan serta pentingnya penetuan maksud dalam hal-hal yang muhtamal seperti ini. Dan perhatikan rincian para ulama yang matang keilmuannya  dalam hal-hal seperti ini, maka oleh sebab itu perhitungkanlah dan pahamilah baik-baik, karena sesungguhnya kafur dan iman adalah termasuk hukum-hukum yang bahaya.

Dan ia itu seperti apa yang dikatakan Syaikhul Islam adalah (termasuk hukum-hukum yang diambil dari Allah dan Rasulnya, dan bukan termasuk hal yang dihukumi oleh manusia dengan praduga dan hawa nafsu mereka …!) Al Fatawa 35/101

Dan berkata dalam Ash Sharim Al Maslul: (Takfier itu tidak terjadi dengan hal yang muhtamal). Selesai hal 517.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s