Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 8 Takfir dengan nash yang muhtamal dilalahnya lagi tidak qathi’y dalam takfir )

TAKFIR DENGAN NASH – NASH YANG MUHTAMAL

DILALAHNYA LAGI TIDAK QATHI’Y

DALAM TAKFIR

Dan di antara kesalahan yang banyak terjadi di dalam Takfir juga adalah Takfir dengan bersandarkan kepada nash-nash atau dalil-dalil syar’iy yang muhtamal dilalahnya (memiliki banyak indikasi) lagi tidak qath’iy dalam takfir.

Dan yang benar adalah tidak boleh takfier kecuali dengan nash-nash yang shahih lagi sharih juga qath’iy dilalahnya terhadap kekafiran.

Adapun nash-nash yang muhtamal dilalahnya maka tidak layak untuk takfier, karena suatu yang nyata terbukti berupa keislaman, dan ‘ishmah (keterjagaan darah dan harta) dengan nash yang qath’iy maka tidak sah digugurkan dengan nash yang muhtamal, sedangkan dalil itu bila mengandung banyak kemungkinan maka gugurlah istidlal dengannya.

Dan penentuan yang dimaksud dari nash yang muhtamal dilalahnya itu bias terealisasi bukan dengan hawa nafsu belaka atau selera, istihsan (anggapan baik) ,atau anggapan mashlahat, akan tetapi bisa jadi dengan qarinah-qarinah dari nash itu sendiri atau dari nash-nash lain yang menjelaskannya. Dan tanpa itu maka pemahaman bisa menyimpang, sebagaimana yang terjadi pada diri Khawarij dan firqah-firqah sesat lainnya dengan sebab mereka mengambil nash-nash yang muhtamal lagi mutasyabih tanpa nash yang menjelaskannya.

Mereka lakukan itu dikarenakan nash yang qati’iy mematahkan kebatilan mereka, adapun nash yang muhtamal saja bila dijauhkan dari nash-nash yang menjelaskannya maka ia adalah mutasyabih yang mereka takwil dengan hawa nafsu mereka  dan digiring dengan talbis-talbis mereka kepada kebatilan  mereka. Dan ini adalah cara Ahluz Zaigh (orang-orang sesat) yang telah Allah tabaraka wa ta’ala hati-hatikan  darinya dalam kitab-Nya , dia berfirman.

Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara  (isi) nya ada ayat-ayat muhkamat itulah pokok-pokok  isi Al Quran dan yang lain ( ayat-ayat ) Mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya“ (Ali Imran: 7)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: (Allah ta’ala mengabarkan bahwa di dalam Al-Quran Al-Karim itu terdapat ayat-ayat muhkamat yang mana ia adalah Ummul Kitab, yaitu jelas nampak dilalahnya yang tidak ada kesamaran atas seorangpun, di antarannya ada ayat-ayat lain yang terkandung kesamaran dalam dilalahnya atas banyak manusia atau sebagianya. Siapa yang mengembalikan hal yang samar kepada yang jelas darinya dan merujukkan yang mutasyabih kepada yang muhkamnya maka dia telah mendapat perunjuk, dan siapa yang membalikkannya maka dia terjerembah (pada kesesatan). Dan oleh sebab itu  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “itulak pokok-pokok isi Al-Quran “ yaitu intinya yang dijadikan rujukan saat terjadi kesamaran “ dan yang lain  (ayat-ayat) mutasyabihat “ yaitu yang dilalahnya ada kemungkinan lain dari sisi lafadh dan tarkib bukan dari sisi maksud…) hingga ucapannya (Oleh sebab itu Allah tabaraka ta’ala berfirman (Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan) yaitu kesesatan dan keluar dari Al-Haq kepada kebatilan (maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat) yaitu mereka mengambil yang mutasyabih yang memungkinkan mereka untuk memalingkannya kepada maksud-maksud mereka yang rusak dan menempatkanya kepadanya karena ada ihtimal (kemungkinan) lafadhnya terhadap apa yang mereka palingkan. Adapun yang muhkam maka tidak ada bagian bagi mereka di dalamnya, karena ia bisa menghadang mereka dan hujjah atasnya, oleh sebab itu  Allah tabaraka wata’ala berfirman (untuk menimbulkan fitnah) yaitu penyesatan terhadap para pengikutnya sebagai bentuk image di hadapan mereka bahwa mereka itu berhujjah atas paham bid’ahnya itu dengan Al-Qur’an, padahal ia itu adalah hujjah atas mereka bukan bagi meraka  ).

Kemudian beliau menuturkan hadis ‘Aisyah radliyallahu ‘anha yang diriwayatkan Al Bukhari bahwa Rasulullah membaca ayat-ayat ini kemudian berkata:Bila engkau milihat orang-oarang yang mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasaybihat, maka merekalah orang-orang yang telah Allah beri tanda, karena itu maka hati-hatilah.”

Di antara contoh nash yang dilalahnya muhtamal dalam bahasan kita ini adalah datangnya lafadh kekafiran dengan bentuk nakirah كفر” ” sesungguhnya ia bila tidak diambil  bersama dalil-dalil yang menjelaskannya dan (tidak) di kembalikan kepada yang muhkam di dalamnya, maka ia itu secara menyendiri menjadi suatu yang mutasyabih yang bisa menghantarkan kepada fitrnah dan kesesatan .

Sebagai contoh silakan ambil hadits:Janganlah kalian kembali kafir setelahku, di mana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain(HR Al Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan sikap saling berperang di antara kaum muslimin sebagai kekafiran, sebagai tanfir (penjera) darinya, takhwif (membuat orang takut) dan tahdzir darinya.

Dan orang yang membawanya kepada kufur akbar, maka tindakannya itu menghantarkan dia kepada sikap mengkafirkan banyak orang dari kalangan para sahabat dan kaum muslimin yang mana telah terjadi peperangan di antara mereka. Dan nash-nash lain yang menjelaskannya telah menujukan bahwa taqaatul (saling berperang)  di antara kaum muslimin tidaklah mengeluarkan dari Millah, sebagaimana di dalam firman-Nya ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qishsh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita, maka barang siapa yang mendapat sesuatu pemaafan dari sauDaaranya maka hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik dan hendaklah (yang diberi maaf ) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)….” (Al Baqarah: 178)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: (Allah ‘azza wa jalla memulai dengan mengkhitabi) orang-orang yang beriman, siapa saja orangnya di antara mereka, baik si pembunuh atau yang dibunuh, dan  Allah ta’ala menegaskan bahwa orang yang membunuh secara sengaja dengan wali si terbenuh adalah dua bersaudara, sedangkan  Allah ta’ala telah berfirman “Sesunguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara“ maka sahlah bahwa oarang yang membunuh secara sengaja adalah mu’min dengan nash Al-Quran ) Al Fash 3/255.

Dan seperti dalam firman-Nya ta’ala:

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujurat: 9-10)

Walaupun mereka saling berperang tetap saja Allah subhaanahu menamakan mereka mu’min. dan ini semua menjelaskan dan menunjukan bahwa kekafiran yang ada dalam hadis ini adalah kekafiran yang tidak hilang bersamanya Al-Iman Asy Syar’iy yang mana ia adalah Al Islam sehinggah jadilah denganya sebagai kufur ashghar, yaitu ia dosa yang tidak mengkafirkan. Dan Allah menamakannya sebagai kekafiran dalam rangka tahdzir dan tanfir darinya, karena suatu dosa yang dinamakan sebagai kekufuran oleh pemilik syari’at ini adalah tidak seperti dosa-dosa yang lainnya, sehingga dengan hal itu ia adalah salah satu dosa besar atau bila mau silahkan katakan: kufrun duna kufrin atau kufr muqayyad lagi ditafsirkan dengan kufur nikmat persaudaraan, bukan kufur muthlaq.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata dalam Iqtidla Ash Shiratil Mustaqim: (Ada perbedaan antara makna nama yang muthlaq bila dikatakan “kafir” atau “mu’min” dengan makna yang muthlaq bagi suatu nama dalam semua penggunaannya, sebagaimana dalam sabdanya  “Janganlah kalian kembali kafir setelahku, sebagian kalian membunuh sebagian yang lain“ sabdanya ”sebagian kalian membunuh sebagian yang lain“ adalah tafsir bagi “orang-orang kafir” ditempat ini. Dan mereka dinamai sebagai orang-orang kafir dengan penamaan yang muqayyad dan mereka tidak masuk dalam nama yang muthlaq bila dikatakan “ kafir” dan “ mu’min” )

Dan sebagaimana bahwa firma-Nya ta’ala:

“Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,” (Ath Thariq: 6)

Mani dinamakan air dengan penamaan yang muqayyad dan ia tidak masuk dalam nama yang muthlaq, di mana dia berfirman:

“lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah” (Al Maidah: 6))) selesai hal 82-83.

Dan contohnya juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Kitabul Iman di Shahihnya bab (kufranul ‘asyyiir wa kufrun duna kufra) dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:Neraka di perlihatkan kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita; mereka itu kafir” Ada seseorang bertanya:”Apakah mereka kafir kepada Allah? Beliau bekata: Mereka ingkar kepada suami dan mengingkari kebaikan. “ Dan diriwayatkan juga dalam kitabul haidl (Bab Tarkil Haaidli Ash Shaum) dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam Iedul Adlha atau Iedul Fithri, terus beliau melewati para wanita, kemudian beliau berkata: (Wahai sekalian wanita bersedekalah, karena saya diperlihatkan kalian sebagai  mayoritas penghuni neraka ) mereka berkata: Apa alasanya wahai Rasulillah? beliau berkata:Kalian banyak melaknat dan mengingkari suami

Di dalamnya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan ketidakmengakuan perempuan akan jasa suaminya dan tidak berterimakasihnya terhadap ihsanya (kebaikanya) sebagai kekafiran. Siapa yang mengambil ini saja tanpa dalil yang menjelaskannya maka dia telah sesat dan tergelincir bila membawanya terhadap kufur akbar. Adapun bila dia melihat kepada qarinah-qarinah yang menjelaskan dan menafsirkanya dengan yang seharusnya, maka dia mengetahui bahwa yang dimaksud dengannya adalah kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari millah.

Salah satu qarinah adalah berpalingnya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kafur akbar tatkala mereka bertanya kepada beliau “Apakah mereka kafir kepada Allah? dengan sabdanya:Mereka mengingkari suami”.

Dan qarinah yang lain ada di dalam riwayat Abu Sa’id bahwa beliau memerintahkan mereka bersedekah dalam rangka menebus dosa pengingkaran kepada suami, sedangkan shadaqah hanyalah menghapuskan maksiat-maksiat dan dosa-dosa yang tidak mengkafirkan, dan ia (shadaqah) tidak menghapuskan syirik akbar dan kufur yang mengeluarkan dari millah.

Dan begitulah hal-hal semacam itu yang terdapat dalam As Sunnah yang datang dengan lafadhnya dalam bentuk fi’il madli atau mudlari (فقد كفر ) (يكفر ) atau kufur dengan bentuk nakirah baik mufrad atau jama (كافر ) (كفار ).

Semuanya tergolong nash-nash yang muhtamal yang tidak boleh bersegera atau memastikan takfier dengan hal itu saja.

Adapun lafadh kufur dengan bentuk isim ma’rifat seperti الكفار, الكافر, الكفر  ,الكافرون  dan الكوافر , maka biasanya yang dimaksud adalah kufur akbar.

Syaikhul Islam berkata dalam Iqtidlaaush Shirathil Mustaqim saat menjelaskan hadits Muslim:

اثنتان في الناس هما بهم كفر: ألطعن في السب والنياحة على الميت

Dua hal yang ada pada manusia, keduanya kekufuran pada mereka: mencela garis keturunan dan meratapi mayit”

(Sabdanya ”Keduanya kekafiran pada mereka” yaitu dua perbuatan ini adalah kekafiran yang ada pada manusia. Dua perbuatan ini adalah kekafiran, di mana keduanya adalah termaksuk perbuatan orang-orang kafir, dan keduanya ada pada manusia. Akan tetapi tidak setiap orang yang ada padanya cabang kekafiran, dia menjadi kafir muthlaq dengannya sehingga tegak padanya hakikat kekafiran, sebagaimana tidak setiap orang yang ada padanya cabang keimanan, dia menjadi mu’min  sehingga ada padanya ashlul iman

Dan ada perbedaan anatara الكفر  yang mari’fat dengan lam, sebagaimana dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ليس بين العبد وبين الكفر والشرك الا ترك الصلاة

Tidak ada penghalang antara hamba dengan kekafiran atau kemusyrikan kecuali meningalkan shalat.”

dengan ” كفر “ yang nakirah dalam kontek itsbat) (hal: 82)

Para ahli ilmu telah menuturkan dalam ushul fiqh pada pembahasan lafadh-lafadh Al kufri terutama yang ma’rifat darinya suatu kaidah yang intinya membawa lafadh الكفر dalam lafadh syar’iy kepada hakikat sebenarnya, yaitu kufur akbar, dan mereka menjadikan itu sebagai asal sehingga ada yang memalingkannya dari hal itu kepada kufur ashghar.

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Alu Asy Syaikh berkata: (Lafadh  الشرك, الفسوق, الظلم dan yang lainnya merupakan lafadh-lafadh yang datang dalam Al kitab dan As Sunnah terkadang dimaksudkan namanya yang muthlaq dan haqiqatnya yang muthlaq, dan terkadang juga dimaksudkan muthlaqul haqiqat, sedangkan yang pertama adalah makna yang asal menurut para ulama ushul, dan yang kedua tidak dirujuk kecuali dengan qarinah lafdhiyyah atau ma’nawiyyah. Dan itu bisa diketahui hanyalah dengan penjelasan Nabi dan tafsir Sunnah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. “ (Ibrahim: 4)

Selesai dari (Ar Rasaail Al Mufidah 21- 22).

Pemberlakuan hukum asal ini ditunjukan dan dibenarkan oleh pemahaman para sahabat saat mereka mendengar pensifatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap wanita dalam hadits tadi dengan sabdanya “ يكفرن / mereka kafir “ di mana mereka langsung menyusul dengan pertanyaan “apakah mereka kafir terhadapa Allah?”

Itu menunjukan bahwa ini adalah hukum asal atas lafadh الكفر  bagi mereka, akan tetapi tatkala lafadh tersebut adalah muhtamal maka mereka tidak memastikan dengan hal itu, namun mereka bertanya dan merujuk dan mencari pemahaman hal itu kepada orang yang memiliki penjelasan. Dan begitulah keadaan dalam lafadh-lafadh muhtamal lainnnya.

Dan dalam hadist itu ada faidah lain yang bisa dianggap sebagai contoh lain bagi beberapa dilalah yang muhtamalah, yaitu sabdanya dalam hadits Abu Sa’id “ Saya diperlihatkan kalian sebagai mayoritas penghuni neraka” maka ini juga, yaitu sekedar wa’id (ancaman) atas dosa tertentu dengan masuk neraka, tidaklah dengan sendirinya menunjukkan terhadap kekafiran yang mengeluarkan dari millah karena adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa di antara kaum maksiat dari kalangan mukminin itu ada orang yang dimasukkan neraka kemudian dikeluarkan darinya dan tempat akhirnya adalah tempat akhir kaum muwahhidin, baik setelah diadzab dengan sekedar dosanya, atau dengan syafa’at pemberi syafa’at yang ditaati lagi telah Allah ridhai, atau dengan karunia dan rahmat Allah tabaraka wa ta’ala tanpa syafa’at seorang mahlukpun, sebagaimana di dalam hadits-hadits yang mana di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa  Allah ta’ala berfirman: Pergilah, siapa yang kamu dapatkan di dalam hatinya ada seberat dinar dari keimanan maka keluarkan dia

Dan di dalamnya ada sabdanya (terus Dia berfirman: pergilah, siapa yang kamu dapatkan di dalam hatinya ada sebatas dzarrah dari keimanan maka keluarkanlah dia …) hingga ucapannya: (Maka para Nabi, para malaikat dan orang-orang mukmin memberikan syafa’at, kemudian Al Jabar berfirman: Tinggalah syafa’atku” Dia menggenggam satu genggaman dari neraka, terus Dia mengeluarkan orang-orang yang telah gosong, kemudian mereka dicelupkan kedalam sungai di mulut surga disebut Maa-ul hayah (Air kehidupan), maka mereka tumbuh di kedua tepinya sebagaimana biji tumbuh di tanah bekas banjir …) Shahih Al Bukhari No 7439

Dan di antara jenis itu apa yang diriwayatkan Al Bukhari dari Abdullah Ibnu ‘Amr, berkata: (Adalah di antara orang yang meninggal dalam pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang laki-laki yang disebut Karkarah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Dia itu neraka) maka para sahabat mencarinya ternyata mereka mendapatkan ‘aba’ah (jubah) yang telah dia curi).

Dan di antaranya juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Orang yang mencekik diri maka dia akan mencekiknya di neraka, orang yang menusuk dirinya sendiri maka ia akan menusuk dirinya di neraka dan orang yang menceburkan dirinya maka ia  akan menceburkannya di neraka)”.

Syaikhul Islam berkata: (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menshalati orang yang mencuri ghanimah, dan yang bunuh diri. Seandainya mereka itu kafir dan munafiq tentulah tidak boleh menshalatkan mereka). Majmu Al Fatawa 10/358-359.

Dan di antara hal itu adalah apa yang di riwayatkan Abu Dawud dari Aisyah radliyallahu ‘anhu, berkata: Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Senantiasa orang-orang memperlambat diri dari barisan pertama sehingga  Allah membelakangkannya di api neraka)”.

Dan contoh-contoh itu sangat banyak

Dan seperti itu wa’id dengan lafadh “ فليتبوأ مقعده من النار “ Hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka

Dan termasuk wa’id (ancaman) “خالدين فيها” “mereka kekal di dalamnya

Sesungguhnya sesuai penelitian yang cermat terhadap dalil-dalil syar’iy, ia adalah muhtamal dilalahnya.

Adapun bila disertai lafadh ta-biid (ابدا /selama-selamanya \) maka telah (dikatakan bahwa ia tidak didatangkan kecuali bersama kekafiran, ini ditegaskan oleh Syaikhul Islam dalam Al Fatawa 7/42,51 dan beliau tidak memastikannya, namun beliau berkata dalam dua tempat: (Dan telah dikatakan).

Dan begitu juga lafadh-lafadh: لا ينظر الله اليهم “Allah tidak memperhatikan mereka” dan lafadh لا يكلمهم “ Tidak mengajak bicara mereka” dan  ولهم عذاب اليم أو عظيم “ bagi mereka adzab yang pedih atau yang besar “ Semua itu adalah muhtamal lagi tidak menunjukkan secara pasti terhadap kekafiran, dengan dalil bahwa hal itu datang pada dosa-dosa yang di bawah syirik, dan dalil-dalil syar’iy telah menunjukkan bahwa ia adalah tidak membuat kafir.

Syaikhul Islam berkata dalam Ash Sharim hal 52: (Dan adapun adzabul adhim (siksa yang besar), maka ia telah ada sebagai ancaman bagi kaum mu’minin dalam firman-NYa:

Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari  Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil “. (Al Anfal: 68)

Berbeda dengan Al Adzabul Muhin (siksa yang menghinakan), karena sesungguhnya ia sebagaimana yang dikatakan oleh syaikhul Islam dalam tempat yang sama: (tidak datang penyiapan adzab yang menghinakan dalam Al Qur’an kecuali bagi orang-orang kafir, sebagaimana dalam firman-firman-Nya ta’ala:

Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An Nisa: 151).

Dan firman-Nya:

“Karena itu mereka mendapatkan murka sesudah (mendapatkan) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.(Al Baqarah: 90) hingga ucapannya hal 53: (Dan Allah Subhanah telah berfirman:

Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya(Al Hajj: 18)

Itu dikarekan penghinaan adalah penyepeleaan, pelecehan dan kenistaan, dan itu adalah kadar lebih atas kepedihan adzab, terkadang orang mulia disiksa tapi tidak dihinakan). Selesai

Oleh karena itu beliau rahimahullah Mentarjih bahwa firman-Nya ta’ala:

Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam api nereka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan(An Nisa: 14) bahwa ia (tentang orang yang mengingkari faraa-idl dan meremehkannya). (Hal 52).

Tidak memperhatikan hal seperti ini dan tidak mengembalikannya kepada dalil-dalil yang menjelaskannya, ia dan nash-nash wa’id (ancaman) lainnya, bisa menjerumuskan pada sikap gluluw dan ngawur dalam takfier. Sungguh saya telah melihat hal itu pada orang-orang yang mengambil muthlaq firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya(Al Jinn: 23) dan tidak membatasinya dengan nash yang menjelaskannya dari firman-Nya ta’ala:

Sesungguhnya  Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi yang dikehendaki-Nya. (An Nisa: 48)

Kemudian mereka memuthlaqkan takfier dalam semua maksiat dan dosa, dan ia tidak membedakan antara yang tergolong syirik akbar dengan maksiat-maksiat lain yang tidak membuat kafir. Inilah salah satu cara Khawarij dahulu.

Dan di antara shighat (konteks) yang muhtamal dilalahnya juga adalah ancaman atas sebagian perbuatan dengan datangnya pelaknatan para pelakunya lewat lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya apa yang di riwayatkan Al Imam Ahmad (1/136) (2/97) dan Abu Dawud (3674) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat khamr, pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, yang menuangkannya, pembawanya, yang diantarkannya kepadanya, penjualnya, pembelinya, dan yang memakan uangnya). Dan laknat adalah menjauhkan dari rahmat dan mengusir darinya. Bila dia mengambil ancamannya ini saja dan memuthlaqkan tanpa memahaminya dengan landasan nash-nash yang menjelaskannya, maka nash itu menjadi mutasyabih yang tergolong jenis apa yang diikuti oleh orang-orang sesat. Akan tetapi dengan merujuk kepada nash-nash yang menjelaskannya yang lain, ternyata kita mendapatkannya bahwa had (sangsi) peminum khamr dalam syari’at ini adalah didera dan bukan dibunuh seperti halnya orang murtad, maka ini menunjukkan bahwa peminum kharm itu tidak kafir, dan bahwa laknat saja bila datang dengan shighat doa yang muthlaq tidaklah cukup untuk menunjukkan atas kekafiran.

Dan itu ditunjukkan juga dengan apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitabul hudud (Bab maa yukrahu min la’ni syaaribil khamr wa annahu laisa bikharijin minal millah) dari Umart Ibnu Khaththab: (Bahwa ada seseorang laki-laki pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namanya Abdullah dan diberi laqab (gelar) Al Himar dan ia suka membuat tertawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menderanya dalam kasuus minum (khamr), kemudian suatu hari ia didatangkan dan diperintahkan untuk didera, tiba-tiba seorang laki-laki dari kaum berkata: Ya Allah laknatkan dia, sungguh sering sekali dia digiring ! maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: jangan kalian laknat dia, demi  Allah saya tidak mengetahui kecuali dia itu mencintai  Allah dan Rasul-Nya).

Dan beliau menuturkan juga di dalamnya hadits Abu Hurairah, berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan orang yang mabuk, kemudian beliau memerintahkan untuk memukulnya, di antara kami ada yang memukulnya dengan tangan, dan ada yang memukulnya dengan sandal dan ada yang memukulnya dengan pakaian. Dan tatkala orang itu pergi, seorang laki-laki berkata: Kenapa dia itu, semoga Allah menghinakannya, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Janganlah kalian menjadi pembantu syaitan atas saudara kalian”.)

Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallamJanganlah kalian menjadi pembantu syaitan atas sadara kalian” adalah qarinah yang jelas yang menjelaskan bahwa pelaknatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap peminum khamr tidaklah menunjukkan kekafirannya, karena meminum khamr itu tidak mengeluarkan dia dari lingkungan ukhuwwah Imaniyyah.

Dan sabdanya dalam hadits pertama: Jangan kalian laknat dia” adalah dalil yang menunjukkan bahwa pelaknatan muthlaq tidaklah memastikan darinya pelakanatan orang mu’ayyan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : (Beliau melarang melaknatnya walaupun dia terus menerus meminumnya, dikarenakan dia mencintai  Allah dan Rasul-Nya, padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat dalam khamr 10 pelaku..) dan beliau menyebutkan haditsnya terus berkata: (Akan tetapi laknat muthlaq tidak memastikan pelaknatanya orang mu’ayyan yang ada padanya suatu hal yang menghalangi jatuhnya laknat kepada dia … dan begitu juga (Takfier muthlaq dan (Wa’id muthlaq), oleh sebab itu wa’id muthlaq dalam Al Kitab dan As Sunnah disyaratkan dengan keterpenuhan syarat-syarat dan tidakadanya mawani, sehingga orang yang taubat dari dosa tidak masuk dalam ancaman dengan kesepakatan kaum muslimin, tidak pula orang yang memiliki kebaikan yang bisa menghapuskan kesalahan-kesalahnya, tidak pula orang yang mendapatkan syafa’at dan orang yang diampuni, …)  Majmu Al Fatawa 10/191.

Dan kesimpulannya bahwa laknat bila datang dengan shighat (bentuk) doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia tidak menunjukkan terhadap takfier dengan sendirinya. Di antara contoh hal itu sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Allah melaknat si pencuri..) dan (Allah melaknat orang yang merubah batas tanah) dan (Allah melaknat pemakai riba dan orang yang memberikannya) dan (Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambung dan wanita yang bertato serta yang  minta ditato) dan yang lainnya ..

Berbeda halnya bila bentuk kalimatnya khabar tentang laknat Allah terhadapnya di dunia dan akhirat, maka sesungguhnya ini tidak terbukti kecuali kepada orang kafir, sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Ash-Sharim dalam bahasan firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat, dan dia mempersiapkan bagi mereka adzab yang menghinakan(Al Ahzab: 57) Hal 41-43.

Dan di antara bentuk dilalah yang muhtamal juga adalah shighat penafian iman, seperti sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: Tidak berzina si pezina saat dia berzina sedang dia itu mu’min, dan tidak minum khamr (si peminum) saat dia minum sedang dia itu mu’min, dan tidak mencuri (si pencuri) saat dia mencuri sedang dia mu’min..) dikeluarkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Dan telah lalu penamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap peminum khamr dengan ucapannya “sauDaara kalian”.

Dan telah terbukti keberadaan zina, pencurian dan minum khamr pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak menvonis mereka dengan hukum orang yang kafir, serta tidak memutus muwalah antara mereka dengan kaum muslimin, namun beliau mendera ini, memotong tangan ini, dan beliau dalam hal itu memerintahkan ampunan bagi mereka dan berkata:Janganlah kalian menjadi penolong syaitan atas saudara kalian ..) Majmu Al Fatawa cet Daar Ibnu Hazm 7/409.

Dan seperti hadits “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehinga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya.” (Muttafaq’ Allah)

Dan hadits:Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga saling mencintai…”) (HR Muslim) ..

Dan hadits:Bukan orang mu’min orang yang tetangganya tidak merasa aman dari ganggungan dia.” Dikeluarkan oleh Al Hakim 4/165 dari Anas secara marfu’.

Dan hal yang sama hadits:Demi Allah tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.(HR Al Bukhari dan Muslim).

Dan hadits:Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai dari anaknya, bapaknya dan manusia semuanya.” (HR Al Bukhari)

Dan hadits-hadits lainnya…

Ini adalah shighat yang muhtamal dilalahnya, dan tidak boleh memastikan bahwa penafian di sini adalah penafian ashlul iman dan terus mengkafirkan setiap orang yang masuk di bawah wa’id ini. Sungguh saya telah melihat di antara orang-orang yang ngawur dan yang sangat menggebu-gebu, orang yang mengkafirkan banyak para pelaku maksiat seraya berdalil dengan hadits-hadits semacam ini dan wa’id yang ada di dalamnya.

Saya telah mendengar orang yang menvonis kafir orang yang bermalas-malas dari melaksanakan shalat jama’ah atau disibukkan dengan dunia darinya, dengan dalil bahwa dia telah mengedepankan hal itu dan mengutamakannya atas cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari itu dia bukan mu’min.

Dan seperti itu mereka katakan pada orang yang taqshir (teledor) dalam jihad dan pembelaan agama karena berat terhadap dirinya dan anaknya.

Dan begitu juga orang yang tidak mengutamakan saudaranya dalam sebagian urusan… mereka berkata: (Dia tidak mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya) berarti dia bukan mu’min sebagaimana ada dalam hadits tadi: Yaitu kafir.

Tidak seperti itu nash dipahami

Engkau telah tahu bahwa shighat ini dan yang semisalnya adalah muhtamalah yang tidak cukup dengan sendirinya untuk memastikan takfier.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperlakukan orang yang melanggar dosa dan maksiat yang lebih dahsyat dari ini dengan perlakuan sebagai kaum muslimin dan beliau tidak mengkafirkan mereka atau menegakkan atas mereka hukuman buat orang-orang murtad. Jadi mesti memahami nash-nash semacam ini dengan merujuk kepada nash-nash lain yang menjelaskannya. Dan kaidah Ahlus Snnah wal jama’ah dalam hal ini adalah firman Allah ta’ala:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu bagi orang yang dikehendakinya.”(An Nisa: 48)

Dan sebaliknya tidak sah dikatakan bahwa penafian yang ada dalam hadits-hadits ini adalah penafian kesempurnaan iman, yaitu dengan maksud Al Iman Al Mustahabb (Yang sunnah) sebagaimana yang saya baca dalam sebagian tulisan-tulisan.

Kecuali bila dimaksudkan penafian Al Kamaalul wajib (Kesempurnaan yang wajib) yang mana pelakunya dicela dan terancam siksaan (Lihat Al Fatawa 7/14 cet Daar Ibnu Hazm)

Karena kurang dari (memenuhi) Al Iman Al Wustahabb tidaklah memastikan celaan, dan shighat penafian iman tergolong shighat wa’id, sedangkan wa’id itu sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam di dalam kitabul iman tidak digunakan kecuali bagi orang yang meninggalkan kewajiban, baik itu termasuk Ashlul iman atau termasuk Al iman Al Wajib.

Jadi shighat-shighat semacam ini adalah muhtamal lagi mungkin digunakan untuk penafian Ashlul Iman yang dengannya si pelaku menjadi kafir, atau bisa digunakan untuk penafian kamaalul Iman Al wajib, sehingga pelakunya menjadi fasiq bukan kafir. Dan penentuan salah satu dari dua indikasi yang merupakan maksud syar’iy adalah dengan mengembalikan nash-nash yang muhtamal ini kepada nash-nash muhkam yang menjadi penjelasan baginya.

Dan di antara jenis itu adalah shighat: ليس منا (Bukan termasuk golongan kami).

Sebagaimana dalam hadits:Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyanyangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua di antara kita“ (HR Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrid (358))

Dan hadits “Siapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami, dan siapa yang mengangkat senjata terhadap kami maka dia bukan termasuk golongan kami(HR Muslim).

Dan hadits “Siapa yang belajar memanah terus dia meninggalkannya, maka dia bukan termauk golongan kami.“ (HR Muslim dari hadits Uqbah Ibnu Amir secara marfu’).

Dan yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengannya bukanlah Al Kufru Al Mukhrij dari millah adalah riwayat yang lain dari hadits itu sendiri dengan shighat “  فقد عصى /sungguh dia telah maksiat.

Dan hadits-hadits lainnya, sesungguhnya ia adalah termasuk shighat-shighat yang muhtamal yang tidak boleh memastikan takfier dengannya, meskipun ia sebagaimana yang ditegaskan Syaikhul Islam adalah tergolong wa’id yang menunjukkan pengurangan pada iman yang fardhu atau yang wajib, dimana beliau berkata: (Di kala  Allah menafikan iman dari seseorang, maka ini tidak terjadi kecuali karena kekurangan sesuatu yang merupakan keimanan yang wajib di atasnya, dan berarti ia tergolong orang-orang yang berhaq mendapatkan janji yang muthlaq, dan begitu juga sabdanya “Siapa yang menipu kami maka ia bukan termasuk golongan kami dan siapa yang mengangkat senjata terhadap kami, maka ia bukan termasuk golongan kami. “Semuanya termasuk masalah ini, tidak dikatakan kecuali terhadap orang yang meninggalkan apa yang Allah wajibkan atasnya atau melakukan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, sehingga ia telah meninggalkan dari keimanan yang difardhukan atasnya suatu yang lenyap darinya nama itu karenanya, maka ia tidak tergolong orang-orang mu’min yang berhak mendapatkan janji lagi selamat dari ancamana). Al Fatawa 7/30-31.

Oleh sebab itu salaf tidak menyukai pembicaraan dalam pentakwilan nash-nash wa’id ini karena khawatir mengentengkan keberadan dosa-dosa yang diancamkannya dan keberanian orang-orang untuk melanggarnya. Dan mereka terpaksa berbicara dalam hal itu –seperti yang kami lakukan di sini– hanyalah untuk menjelaskan madzhab yang benar dan membantah syubhat-syubhat para ghulat (Extrimis dalam Takfier), karena kalau keadaannya tidak seperti itu, maka sesungguhnya wa’id itu pada dasarnya -bila aman dari hal itu- adalah dibiarkan sesuai dhahirnya seperti yang dilontarkan syar’iy, karena sesungguhnya ia lebih membuat jera. Oleh sebab itu An Nawawiy menukil dalam Syarah Muslim dari Sufyan Ibnu Uyainah bahwa beliau tidak menyukai ucapan orang yang menafsirkan sabdanya dalam hadits dengan (Tafsir) bukan di atas tuntunan kami, dan beliau berkata (Sungguh buruk sekali pendapat ini): Yaitu akan tetapi (semestinya) menahan diri dari mentakwilkannya supaya lebih mengena dalam jiwa dan lebih membuat jera) Kitabul Iman 2/29.

Dan di antara shighat yang muhtamal dilalahnya juga adalah wa’id ( Allah haramkan surga atasnya) atau (tidak masuk surga) atau (tidak mendapatkan wangi surga)

Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungna silaturrahim) (HR Al Bukhari dan Muslim).

Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallamTidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Muslim).

Dan ini dijelaskan dengan apa yang diriwayatkan Abu Dawud dari Abu Hurairah dalam kisah laki-laki yang telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengadukan tetangganya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk bersabar dan beliau tidak mengkafirkan tetangganya itu, terus beliau memerintahkan dia agar menaruh semua perabotan rumah tangganya di jalan, kemudian dia melakukannya, dan tatakala ditanya orang-orang dan dia kabari mereka tentang gangguan tetangganya terhadapnya, maka mereka mengutuk tetangganya itu, dan di dalamnya tidak ada sesuatu yang menunjukkan bahwa dia memperlakukannya seperti orang murtad.

Oleh sebab itu An Nawawi berkata dalam Syarah Muslim (Kitabul Iman): (Dan dalam makna “Tidak masuk surga“ ada dua jawaban yang keduanya berlaku pada setiap hal yang menyerupai hal ini.

Salah satunya: Sesungguhnya ia diartikan pada orang yang menghalalkan sikap menyakiti tetangga padahal ia tahu bahwa itu diharamkan, maka ini kafir tidak mungkin masuk neraka.

Kedua: Maknanya: Balasannya dia tidak masuk surga di saat orang-orang berhasil masuk surga bila telah dibuka pintu-pintunya bagi mereka, tetapi dia mundur, kemudian terkadang diberi balasan dan dimaafkan sehingga dia bisa masuk terlebih dahulu.

Dan kami takwil ini dengan dua pentakwilan, karena kami telah ketengahkan bahwa madzhab ahlul haq sesungguhnya orang yang mati di atas tauhid seraya terus di atas kabaa-ir (dosa dosa besar) maka urusannya kepada  Allah tabaraka wa ta’ala bila Dia menghendaki Dia ampuni terus Dia masukan ke dalam surga terlebih dahulu, dan bila Dia menghendaki Dia menyiksanya terus memasukkannya ke dalam surga, wallahu ta’ala a’lam). 2/15-16.

Syaikhul Islam memiliki jawaban seputar pertanyaan dalam bab ini dalam Al Fatawa 7/413 di dalamnya beliau menuturkan perkataan ulama (Bahwa yang dinafikan itu adalah masuk surga langsung yang tidak ada adzab bersamanya, bukan masuk yang muqayyad yang terjadi bagi orang yang masuk neraka kemudian masuk surga) 7/414.

Dan di antara itu juga shighat (Al Jahiliyyah) atau (Da’wal Jahiliyyah) atau (Al Maitah Al Jahiliyyah) dan telah lalu…

Dan di antara shighat yang muhtamal dilalahnya juga adalah lafadh (Saya berlepas diri dari orang yang melakukan ini dan itu) atau (Sungguh telah lepas dzimmah darinya)

Seperti hadits:Jaminan telah lepas dari orang yang muqim bersama kaum musyrikin di negeri mereka” dikeluarkan Ath Thabarani dalam Al Kabir.

Dan hadits:Siapa yang tidur malam di atas rumah yang tidak ada perlindungan baginya, terus dia jatuh dan mati. Maka dzimmah lepas darinya, dan siapa yang naik perahu saat ombak berkecamuk, terus dia mati, maka dzimmah telah lepas darinya) (HR Ahmad 54/79)

Hal itu telah ada penafsirannya dalam hadits lain yang menunjukkan bahwa bara’a di sini tidak berarti kekufuran dan keluar dari millah, namun yang dimaksud di antaranya adalah gugurnya diyat di saat kaum muslimin membunuh orang yang pertama bersama kaum musyrikin, dan saat jatuhnya orang yang kedua dari dinding, matinya atau tenggelamnya.

Untuk menjelaskan yang pertama, Abu Dawud At Tirmudzi dan Ibnu Majah dari Jarir Ibnu Abdillah “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus pasukan ke Khats’am, terus orang-orang melindungi diri dengan sujud, kemudian mereka malah dibunuh. Dan berita itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memerintahkan bayar setengah diyat bagi mereka, dan berkata:Saya berlepas diri dari setiap muslim yang muqim ditengah kaum musyrikin “mereka berkata: “wahai Rasulullah kenapa? beliau berkata: Kedua perapian mereka tidak boleh saling melihat.”

Dan dalam penjelasan kedua, Ath Thabarany meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Ja’far bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:Siapa yang melempar kami di malam hari maka dia bukan golongan kami, dan siapa yang tidur dia atap yang tidak ada dinding pelindung baginya, maka darahnya tidak bernilai diyat

Kesimpulannya …Bahwa tidak membedakan dan tidak jeli dalam shighat-shighat muhtamal seperti ini dan membawanya pada kufur akbar yang mengeluarkan dari millah, serta tidak mengembalikannya kepada nash-nash yang menjelaskannya adalah sandungan besar yang tidak ditembus kecuali oleh orang yang tidak peduli dengan diennya, dan ia adalah inti keterelinciran Khawarij yang membawa seluruh shighat wai’d terhadap kufur akbar, padahal banyak darinya tidak sharih penegasannya terhadap kufur akbar, dan ia juga memiliki qarinah-qarinah dan nash-nash yang menjelaskannya yang memalingkannyan darinya. Mereka kafirkan kaum muslimin dan halalkan darahnya dan mengeluarkannya dari lingkungan Islam dengan sebab suatu yang bukan kufur akbar, sehingga dengan itu mereka keluar dari madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Maka wajib  atas pencari kebenaran agar hati-hati bagi diennya dan tidak menembus takfier dengan shighat-shighat yang ihtimal dilalahnya sebelum metadabburi dalil-dali syar’iy, pokok-pokok dasarnya dan maksud-maksudnya untuk mengetahui dan menentukan maksud Allah subhanahu wa ta’ala darinya. Bila dia tafrith di dalam hal ini dan melupakannya serta berinteraksi dengan nushush dengan semangat saja dan dengan ngawur, maka dia binasa dan membinasakan tanaman dan binatang ternak, dan sikap aniayanya adalah atas agamanya.

//

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s