Seri Al Ghuluw Fit Takfier ( Seri ke 7 Pembatasan Firqah Najiyah Hanya Pada Kumpulan, Atau Jam’ah, Atau Partai Atau Kelompok Tertentu Di Antara Umum Kaum Muslimin )

Pembatasan Firqah Najiyah

Hanya Pada Kumpulan, Atau Jam’ah, Atau Partai Atau Kelompok Tertentu Di Antara Umum Kaum Muslimin


Di antara kesalahan yang sangat buruk dalam takfier juga adalah pembatasan Firqah Najiyah pada kumpulan, atau jama’ah atau partai atau kelompok tertentu di antara umum kaum muslimin, dan mengkafirkan selainnya atau memvonis binasa (bid’ah) mereka.

Sunguh telah datang hadis yang mengabarkan perpecahan umat ini dan yang memberi kabar gembira terhadap Al Firqah An-Najiyah dari berbagai jalan dan dishahikan oleh banyak ulama, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ”Yahudi telah pecah menjadi 71 golongan, semuanya di neraka kecuali satu saja, dan Nashara telah pecah menjadi 72 golongan kecuali satu saja, serta umat ini akan pecah menjadi 73 golongan kecuali satu saja,” dan dalam satu lafadh ”umatku akan pecah“ dan dalam riwayat lainnya ”Millah ini akan pecah.!!”.

Dan dalam satu riwayat.”dikatakan “Wahai Rasulullah…! siapa mereka itu ? (Yaitu: Orang-orang yang selamat), maka  beliau berkata: (Al Jama’ah), dan dalam riwat lainnya: (Sesuatu yang mana aku dan para sahabatku berada di atasnya). Riwayat yang akhir ini di dlaifkan oleh sebagai ulama dan dihasankan oleh ulama  lainnya, di antaranya adalah At Tirmudzi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Hadits ini adalah shahih lagi masyhur di dalam As Sunnan dan Al Masanid, seperti Sunnan Abu Dawud, At Tarmidzi, An Nasai, dan ayang lainnya). Majmu Al Fatawa cetakan Dar Ibnu Hazm 3/215.

Al Hafidh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya: (Hadist pemecahan umat menjadi tujuh puluh sekian diriwayatkan dari jalan-jalan yang banyak).

Dan sungguh saya telah mendengar orang-orang yang ngawur dari kalangan yang berafiliasi kepada kelompok-kelompok atau (dari) kalangan yang intisab kepada jama’ah tertentu, dan anehnya sebagiannya adalah dari jama’ah-jama’ah Irja’ yang secara dusta mengaku salafy, dia bersikap wara’ dari mengkafirkan para thaghut dan tidak bersikap wara’ dari menyatakan perang atas setiap orang yang berupaya untuk menjihadi para thaghut itu atau dia itu tidak ragu-ragu dari bersikap bara’ dari setiap orang yang mengkafirkan para thaghut itu walaupun orang itu tergolong penganut islam pilihan.

Saya telah mendengar dan melihat mereka menggiring kandungan hadist ini dan sebutan Al Firqah An Najiyah – yang lazim darinya menurut mayoritas mereka kebinasaan selainya – terhadap panutan-panutan mereka, syaikh-syaikh mereka serta jama’ah-jama’ah mereka sendiri. Dan seseorang di antara mereka bahagia bila mendapatkan ucapan-ucapan ulama tentang ahli hadits dan bahwa mereka itulah Al Firqah An Najiyah; terus dia terbang dengan hal itu sambil mengira bahwa mereka itu adalah jama’ahnya dari kalangan Para Pengaku Salafiy karena sekedar pertengkaran dan saling dengki di antara mereka atas perniagaan pentahqiqkan manuskrif-manuskrif hadist.

Dia lupa atau pura-pura lupa bahwa Ahlul Hadits yang mana ucapan-ucapan mereka itu dijadikan sebagai dalil, semacam Imam Ahlissunnah Ahmad Ibnu Hanbal, Sufyan Ats Tsauri dan yang lainya, mereka itu tidak pernah diam dari kemungkaran atau bid’ah-bida’ah para penguasa, mereka tidak bermudahahah dengan mengorbankan dien mereka terus memejamkan mata dari sesuatu kebatilan para penguasa itu, dan mereka menaggung resiko disiksa, dipenjara dan berbagai ujian karena hal itu.

Dan (Dia lupa atau pura-pura lupa) bahwa Ahlul Hadits itu berpaling dari pintu-pintu penguasa dan jabatan-jabatan mereka, serta mengingkari terhadap orang yang menjabat suatu dari jabatan-jabatan mereka, menilainya sebagai cacat yang membuat ruwayat haditsnya dipertanyakan dan menghajrnya, sedangkan itu pada masa-masa kekhilafahan dan penaklukan-penaklukan islam.[1]

Di waktu di mana para pengaku salafiy hari ini berguguran dan berlomba-lomba (mendekati) pintu-pintu para thaghut dan jabatan-jabatan syirik dan berhalaisme mereka.

Dan dia lalai (tidak ingat) bahwa Ahlul Hadits di generasi pertama tidak hanya cukup menggoreskan pena dalam lembaran-lembaran dalam rangka membela hadits Al Masththafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi mereka menggoreskan bukti-bukti jihad terbesar dalam rangka membela Islam dan kaum muslimin, dengan darah-darahnya. Di mana mereka meriwayatkan dengan darah-darah mereka kisah-kisah medan pertempuran dan jalan-jalan istisyhad. Dan semoga Allah merahmati Al Imam Abdullah Ibnul Mabarak saat berkata:

Wahai ‘Abidal Haramain andai engkau melihat kami …

Tentu engkau mengetahui bahwa engkau bermain-main dengan ibadah

Siapa yang pipinya basah dengan air mata

Maka leher kami berlumuran dengan darah kami

Atau dia melelahkan kudanya dalam kebatilan

Maka kuda-kuda kami lelah di hari penuh debu

Angin semerbak bagi kalian, sedangkan wangian kami

Kapulan telapak kuda dan debu yang wangi…

Hingga akhir bait syairnya….

Dan sudah maklum juga sikap Al Izz Ibnu Abdissalam terhadapa para penguasa zamannya.

Juga sikap-sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap para penguasa Tartar dan fatwa- fatwanya prihal pengkafiran Tartar dan jihad melawan mereka serta yang lain-lainnya.

Sungguh tidak malu orang-orang yang mengaku salafiy ini dari mengutarakan dan menyebutkan dalam jajaran para tokoh Al Firqah An Najiyah ini nama-nama para pentolan Jahmiyyah dan Murji’ah pada masa sekarang yang telah membancikan agama ini, mengkerdilkannya dan menundukannya buat kepantingan para penguasa. Mereka menjadikan para thaghut kekafiran itu sebagai Imam (Pemimpin) kaum mukminin, mereka berikan kepadanya kepatuhan dan bai’at, mereka rela menjadi bala tentara yang setia dan pemberi saran yang tulus baginya.

Namun demikian dia itu menjadikan orang-orang semacam itu  sebagai tokoh-tokoh Al Firqah An Najiyah bahkan (sebagai) Ath Thaifah Al Manshurah !! dikarenakan mereka itu – hebat sekali- telah memerangi – seperti yang dia tuturkan- syirik kuburan !! bid’ah-bid’ah tashawwuf !! dan hal lainnya yang tergolong hal yang tidak mempengaruhi politik-politik atau kekafiran para thaghut itu. Dan tidak apa-apa atas mereka serta tidak masalah baginya bila mereka menghidupkan dan melegalkan syirik Hukum, Undang-Undang dan UUD dengan fatwa-fatwa dan pengkaburan-pengkaburan mereka itu[2] !!!

Sebagaimana saya telah melihat sebagian orang-orang yang ghuluw mengklaim hal itu pada jama’ah-jama’ah mereka, dan atas dasar ini mereka tawaqquf prihal keIslaman selain golongan mereka atau mengkafirkan setiap orang yang berada di luar jama’ah mereka. Karena mereka itu telah meninggalkan (Al jama’ah), sedangkan menurut mereka ini adalah kekafiran ??

Dan termasuk jenis itu juga orang yang mensifati jama’ahnya atau menamakannya dengan nama Jama’atul Muslimin dengan hujjah bahwa ia adalah Al Jama’ah Al Haq dan Al Firqah An Najiyah dan selain mereka termasuk golongan yang binasa.

Dan orang-orang yang ghuluw yang paling minimal keburukannya adalah orang yang engkau lihat memperlakukan setiap orang yang keluar dari kelompoknya atau di luar batasan jama’ahnya: dengan perlakuan terhadap orang-orang kafir, dia gugurkan hak-hak keIslaman mereka serta menghalalkan kehormatannya atau melampaui aturan-aturan Allah tentang mereka, dia tidak menjaga dzimmah dan hak syar’iy pada mereka, walaupun dia itu saat dimintai kejelasan tentang hal itu, maka dia itu tidak terang-terangan mengkafirkan mereka. Dan ini semua termasuk kebatilan dan kesesatan yang nyata di mana kami berlepas diri di hadapan  Allah darinya.

Dan ia termasuk jenis yang telah lalu, yaitu takfir orang yang tidak memba’at imam tertentu, karena sesungguhnya sebagian pemegang pendapat ini berhujjah juga prihal kekafiran orang yang meninggalkan jama’ah mereka dengan hadits Muslim:Siapa yang meninggalkan jama’ah terus dia mati, maka (dia) mati jahiliyyah”, Kemudian mereka mempersulit dan mempersempit suatu yang telah Allah lapangkan di mana mereka membatasi lafadh jama’ah di sini terhadap jama’ah mereka. Sedangkan telah lalu jawaban atas masalah acaman dengan mati jahiliyyah dan bahwa indikasinya terhadap kekafiran adalah tidak jelas.

Dan begitu juga keadaannya di sini berkaitan dengan ancaman yang ada dengan neraka bagi selain penganut Al Firqah An Najiyah dari kalangan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia juga tidak terang indikasinya terhadap takfier. Dan sudah maklum bahwa sekedar ancaman dengan neraka tidak menunjukan kekal di dalamnya, sedangkan orang yang boleh (secara hukum) keluar dari neraka walau setelah sekian lama diadzab di dalamnya, maka dia itu tidak tergolong kalangan yang binasa secara muthlaq, bahkan justru dia tergolong kalangan yang selamat dan menang walau setelah waktu yang lama.  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah beruntung”. (Ali ‘Imran: 185)

Dan akan datang bahwa ancaman dengan neraka itu telah ada pada banyak dosa-dosa yang tidak mengkafirkan, dan bahwa ancaman dengan kekal di neraka selama-lamanya adalah yang dibawa pada umumnya kepada kekafiran, berbeda dengan sekedar ancaman masuk ke dalamnya. Maka diketahuilah dari itu bahwa tidak setiap orang yang diancam masuk neraka dari kalangan yang menyelisihi Al-Firqah An-Najiyah dari kalangan yang masih tergolong umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (umat ijabah) adalah bahwa dia itu menjadi kafir dengan hal itu.

Akan tetapi di antara orang-orang yang masuk dalam ancaman ini ada orang-orang yang seperti itu, yaitu kafir, dan merekalah orang-orang kekal di dalamnya lagi binasa, dan mereka itu masuk di bawah keumuman lafad umat, yaitu umat dakwah, yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada mereka, dan di antara mereka ada yang tidak keluar dari Islam dengan sebab penyelisihannya atau dengan sebab penyimpangannya dari manhaj Al-Firqah An Najiyah, dan mereka itu bila masuk neraka, maka mereka tidak tergolong yang kekal di dalamnya…

Oleh sebab itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Kitabul Iman: (Dan siapa yang menyatakan bahwa yang 72 firqah itu, masing-masing dari mereka itu kafir yang mengeluarkan dari millah, maka dia telah menyelisihi Al-Kitab As-Sunnah dan ijma sahabat radliyallahu ‘anhum, bahkan ijma imam yang empat dan yang lainnya, karena tidak ada di antara mereka orang yang mengkafirkan setiap firqah dari dari ke72 firqah itu, dan hanya yang terjadi adalah sebagian mereka itu mengkafirkan sebagian yang lain dengan sebab sebagian pendapat yang dianutnya) Majmu Al-Fatawa 7/139.

Dan Asy Syathibiy telah mengomentari hadits ini juga dalam Al I’tisham dan beliau menjelaskan di hal (2/226) bahwa firqah-firqah yang disebutkan di dalam hadits itu ada  kemungkinan mereka itu menjadi keluar dari millah dengan sebab apa yang mereka ada-adakan, mereka itu telah meninggalkan Ahlul Islam secara total, dan itu tidak lain adalah kekafiran ).

(Dan ada kemungkinan mereka itu tidak keluar dari Islam secara total, walaupun mereka telah keluar dari sejumlah syariat dan ushulnya) …2/228

(Dan ada kemungkinan ketiga, yaitu mereka itu tidak tergolong orang yang telah meninggalkan Islam, akan tetapi ucapannya kufur dan mengandung makna kekafiran yang nyata, dan di antara mereka ada yang tidak meninggalkan Islam akan tetapi hukum Islam masih melekat padanya, meskipun pendapatnya sangat bahaya dan madzhabnya sangat buruk, akan tetapi tidak sampai pada tingkatan keluar kepada kekafiran murni dan penggantian agama yang nyata ). 2/228-229.

Kemudian beliau menuturkan ucapan yang akan kami nukil dalam kekeliruan Takfier Bil Ma-aal, yang intinya (Bahwa kekafiran dengan ma-aal (apa yang dihantarkan oleh pendapatnya) bukanlah kekafiran di saat itu pula)

Sampai beliau mengatakan 2/230: (Dan bila penukilan perbedaan telah diketahui maka mari kita kembali kepada apa yang dituntut oleh hadits yang sedang kita bicarakan dari pendapat-pendapat ini.

Adapun yang shahih darinya, maka ia  tidak menunjukkan atas sesuatupun, karena di dalamnya tidak ada kecuali penyebutan bilangan firqah-firqah itu secara khusus. Dan adapun riwayat orang yang dikatakan di dalam haditsnya : “Semuanya masuk neraka kecuali satu“ maka ia hanya menuntut penerapan ancaman secara dhahir, sedangkan masalah kekal dan tidaknya adalah tidak disinggung, sehingga di dalamnya tidak ada dalil terhadap sesuatupun dari apa yang kami inginkan, karena ancaman dengan neraka bisa berkaitan dengan kaum mukminin sebagaimana ia berkaitan dengan orang-orang kafir secara umum, meskipun keduanya ada berbeda dari sisi kekal dan tidaknya).

Kemudian beliau menuturkan rincian dan kemungkinan-kemungkinan lainnya..

Maka terbuktilah bahwa indikasi hadits tersebut terhadap kekafiran firqah yang menyelisih Al Firqah An Najiyah adalah tidak qathi’iy akan tetapi ia adalah muhtamal, sedangkan yang rajih bahwa di antara firqah-firqah itu ada orang-orang yang binasa yang telah murtad ke belakang, dan di antara mereka ada orang yang penyelisihannya tidak mengeluarkan dari Islam.

Ini dari satu sisi, dan dari sisi yang lain sesungguhnya Al Firqah An Najiyah atau Al Jama’ah itu tidak halal dibatasi pada perkumpulan atau kelompok atau partai tertentu saja dari keumuman Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, namun setiap orang yang berada di atas Ushul Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, maka dia itu tergolong mereka walaupun tidak mengikuti sosok dari sosok-sosok yang ada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun terdapat padanya berbagai maksiat atau penyimpangan- penyimpangan yang tidak mengkafirkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata 3/125: (Dan oleh sebab itu Al Firqah An-Najiyah disebut sebagai ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dan mereka itu adalah Al Jumhur Al Akbar dan As Sawaad Al Adham).

Dan berkata dalam tempat yang sama 3/216: (Maka banyak dari manusia menggambarkan tentang firqah-firqah ini dengan hukum dhann (persangkaan) dan hawa nafsu, terus dia menjadikan kelompoknya dan orang-orang yang intisab kepada tokoh yang diikutinya lagi loyalitas kepadanya sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan dia menjadikan orang yang menyelisihinya sebagai Ahlul Bid’ah, dan ini adalah kesesatan, karena Ahlul Haq Was Sunnah tidak ada orang yang mereka ikuti kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berkata dari hawa nafsu, ia tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan, beliaulah yang wajib dibenarkan dalam apa yang beliau kabarkan, dan wajib ditaati dalam setiap apa yang beliau perintahkan. Dan kedudukan ini tidak berlaku bagi selain beliau dari kalangan para imam, akan tetapi setiap orang dari manusia ini diambil ucapannya dan ditolak kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa yang menjadikan satu sosok dari sosok-sosok yang ada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang mencintainya dan selaras dengannya maka dia tergolong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dan siapa yang menyelishkannya maka dia tergolong ahlul bid’ah Wal Furqah –sebagaimana hal itu ditemukan pada kelompok-kelompok pengikut para imam dalam membicarakan dien ini dan yang lainnya. Maka orang itu tergolong ahlul bid’ah waldldlalaal wat tafarruq (orang-orang penganut bid’ah dan kesesatan serta perpecahan).

Dan dengan ini jelaslah bahwa orang yang paling berhak mendapatkan predikat Al Firqah An Najiyah adalah ahlul hadits was sunnah yang tidak memiliki matbu’ (yang diikuti) yang mana mereka ta’ashshub terhadapnya selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)…)

Kemudian beliau menuturkan sifat-sifat terpenting mereka.

Dan Asy Syathibiy juga telah menyatakan dalam hal 290 dan yang sesudahnya dalam penjelasan tafsir Al Firqah An Najiyah dan makna Al Jama’ah, dan beliau menuturkan hadits-hadits yang mendorong untuk komitmen dengan Al Jama’ah serta beliau menjelaskan perselisihan manusia tentang maknanya menjadi lima pendapat.

Pertama : Ia adalah As Sawadul A’dham dari Ahlul Islam, dan siapa yang menyelisihinya maka dia mati jahiliyyah.

Kedua : Sesungguhnya ia adalah jama’ah aimmatil ulama wal mujtahiddin, siapa yang keluar dari apa yang dipegang oleh ulama umat ini, maka ia mati jahiliyyah, seolah ia mengisyaratkan dengan hal ini dan yang sebelumnya terhadap apa yang dituturkan oleh para ulama tentang ijma, dan akan ada bahasanya.

Ketiga : Sesungguhnya mereka adalah sahabat secara khusus, merekalah yang tidak mungkin sepakat di atas kesesatan.

Dan berkata hal (294): (Atas dasar pendapat ini maka lafadh Al Jama’ah selaras dengan riwayat yang lain dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesuatu yang saya dan para sahabt saya berada di atasnya”)

Keempat : Sesungguhnya mereka adalah Jama’atu Ahlil Islam, dan telah dijelaskan bahwa yang lebih nampak dalam pendapat ini adalah kembalinya pada pendapat pertama.

Kelima    : Apa yang dipilih oleh Ath Thabari, bahwa Al Jama’ah adalah jama’atul muslimin bila telah berkumpul atas seorang amir … dan berdalil dengan hadits “Siapa yang datang kepada umatku untuk memecah jama’ah mereka, maka penggallah lehernya siapa pun dia” dan inti pendapat ini adalah sebagaimana yang beliau katakan (296) (sesungguhnya jama’ah itu kembali kepada berkumpul kepada imam yang selaras dengan Al Kitab dan As Sunnah, dan ia adalah dhahir (menunjukkan bahwa ijtima (kumpul / sepakat) atas selain sunnah adalah keluar dari makna jama’ah yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang lalu, seperti Khawarij dan orang yang sejalan dengan mereka).

Berkata  : (ini adalah lima pendapat yang berkisar seputar penganggapan ahlus Sunnah Wal Ittiba, dan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang dimaksud dengan hadits-hadits itu, maka hendaklah kita mengambil itu sebagai landasan …) (2/296)

Dan atas dasar ini, maka tidak sah membatasi Ahlus Sunnas Wal Jama’ah yang mana mereka itu Al Firqah An Najiyah, menyempitkannya serta mengkhususkannya bagi jama’ah atau kelompok (tertentu), dia loyalitas dan memusuhi di dalamnya tanpa kaum muslimin lainnya … sesungguhnya ini adalah metode Ahlul Bid’ah sebagaimana yang dituturkan para ulama.

Asy Syathibiy telah menyebutkan dalam Al Itisham 2/283 bahwa setiap firqah dan firqah-firqah yang sesat adalah tidak meyakini bahwa firqah yang lainnya itu adalah firqah yang selamat.

–          Orang yang menafikan sifat-sifat  Allah mengklain bahwa dialah muwahid

–          Mutazilah menamakan diri mereka sebagai Ahlul ‘Adli Wat Tauhid

–          Dan Musyabbih (orang yang menyerupakan  Allah) mengklaim bahwa dia itu orang yang menetapkan Dzatullah dan sifat-sifat-Nya[3].

Berkata 2/286: (Khawarij berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Akan senantiasa sekelompok dari umatku  nampak di atas Al Haq sampai datang ketentuan  Allah

Dan Murji’ah berdalil dengan sabdanya:Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah seraya tulus dari hatinya maka dia masuk surga meskipun  dia berzina dan meskipun dia mencuri.” Kemudian dia menyebutkan Qadariyyah, Mufawwidlah, Rafidlah dan yang lainnya.

Dan berkata 2/283: (Dan itu dikarenakan bahwa setiap yang masuk di bawah penamaan “Al Islam“ baik sunny atau ahli bid’ah mengklaim bahwa dialah yang mendapatkan keselamatan dan masuk dalam barisan firqah itu, karena tidak mengklaim hal selain itu kecuali orang yang telah melepas ikatan Al Islam dan bergabung dengan firqah kekafiran). Selesai.

Dan kesimpulan yang lalu bahwa Al haq yang kami yakini dan yang kami anut di dalam dienullah ini adalah bahwa kami meskipun intisab kepada Al Firqah An Najiyah (Ahlus Sunnahn Wal Jama’ah) dan kami berupaya terus agar kami tergolong Barisan Thaifah yang menegakkan dienullah yang nampak di atas perintahnya, dan yang mana mereka itu adalah tergolong kalangan khusus Ahlis Sunnah Wal Jama’ah dan Ahlul Firqah An Najiyah, kami memohon kepada  Allah Tabaraka Wa Ta’ala agar meneguhkan kami di atas jalan mereka dan menutup umur kami dengannya.

Namun kami tidak membolehkan bagi diri kami dan bagi yang lainnya untuk membatasi Al Firqah An Najiyah pada jama’ah atau golongan tertentu di antara kaum muslimin, dan tidak pula mengkhususkan Ath Thaifah Al Manshurah pada jama’ah-jama’ah tertentu atau perkumpulan yang terbatas tanpa yang lainnya dari kalangan para pembela dien ini.

Tidak sama sekali, kami berlindung kepada Allah dari mengkalim hal itu, sungguh saya telah mengetahui bahwa ini adalah jalan Khawarij dan orang-orang sesat lainnya yang mana kami berlepas diri kepada Allah dari jalan-jalan mereka.

Dan yang kami yakini adalah bahwa setiap muslim yang merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik dan tandid serta tidak pernah melakukan satupun dari nawaqidlul (penggugur) Islam dan pembatal-pembatalnya, maka sesungguhnya dia tergolong golongan Al Firqah An Najiyah, dan tempat kembalinya dengan rahmat Allah kepada keselamatan yang sempurna bila ia tergolong orang yang merealisasikan Ashlul Iman dan kewajiban-kewajibannya atau di penghujungnya dia itu mendapatkan keselamatan walaupun setelah waktu yang lama bila ia mendatangkan Ashlul Iman dan menelantarkan sebagian kewajiban-kewajiban al iman, sehinga ia tergolong orang-orang yang mendhalimi diri mereka sendiri.  Allah tabaraka wa ta’ala beriman;

Kemudian Kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiyaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin  Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (bagi mereka) surga ‘Adn, mereka masuk kedalamnya(Fathir:32-33).

Dan bahwa Pengusung Ath Thaifah Al Manshurah Al qaa-imah bl amrillah, dan mereka itu adalah kalangan khusus Al Firqah An Najiyah ini sebagaimana yang akan datang penjelasannya di penutup kitab ini, adalah setiap orang yang menegakkan dien ini, membelanya dan menampakannya, maka ia tergolong Thaifah ini di mana saja berada dan hingga kiamat.

Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan kita bagian dari tentara dan barisan Thaifah ini, dan meneguhkan kita di atas hal itu hingga hari perjumpaan dengan-Nya. Dialah penolong kita, sebaik-baiknya Pelindung dan sebik-baiknya Penolong.


[1]Dan contoh-contoh akan hal itu adalah banyak, silahkan lihat sikap sebagian salaf terhadap Az Zuhry karena sebab dia masuk kepada khalifah-khalifah dan sikap Ibnu Mubarak terhadap Ismail Ibnu ‘Ulayyah saat dia menjabat qadli, dan syair yang beliau ucapan dalam rangka mengingkarinya.

Dan yang lucu sesungguhnya para pewaris Murji’ah dan para pengekor ulama pemerintah menyerang kami habis-habisan dan selalu menghujat kami tatkala kami meminjam ujung bait syair Ibnul Mubarak “Zalla Himaar Ilmi Fith Thiin (Kedelai Ilmu terpeleset di tanah)” dan kami menyediakannya sebagai judul bagi ungkapan-ungkapan yang kami tulis sebagai reaksi marah karena dienullah dan karena ikhwan kami kaum muwahhidien yang dihalalkan darahnya oleh para syaikh jahat dengan sebab jihad mereka dan perang mereka terhadap orang-orang kafir, para syaikh jahat itu telah menjadikan jihad terhadap orang-orang kafir sebagai bentuk sikap memerangi Allah dan Rasul-Nya dan sebagai bentuk penebaran kerusakan di muka bumi serta sebagai bentuk terror terhadap orang-orang yang mereka sebut sebagai Al Aaminiin (orang-orang yang diberi jaminan keamanan) !! dari kalangan murtaddin, kafirin dan kaum musyrik harbi, semua itu dalan rangka mencari ridla raja mereka dan auliyanya dari kalangan orang-orang Amerika .

Dan saya tidak tahu bila Ibnul Mubarak mengucapkannya terhadap Ibnu ‘Ulayyah karena sekedar beliau menjabat sebagai gadli pada masa Khilafah !! maka apa yang akan beliau katakan terhadap pada syaikh itu?? andaikata beliau melihat penyimpangan-penyimpangann dan kerancuan-kerancuan mereka serta mengetahui pembai’atan para syaikh itu terhadap para thaghut dan pelegalannya terhadap berbagai kemusyrikan mereka seperti tawalli kepada kaum musyirikin dan negara-negaranya, tawalli kaum murtaddin dan undang-undangnya serta dukungannya kepada mereka dalam memerangi para mujahidin di bawah payung kesepakatan-kesepakatan yang mereka namakan “Memerangi Terorisme” dan yang lainya, itu semuanya ada pada mereka ! sampai-sampai mengenakan salib pun (adalah hal-hal biasa) !! dan bukan kekafiran juga bukan kemusyrikan !.

[2] Silahkan contoh Dari hal itu lontaran Rabi’ Ibnu Hadi Al Madkhaliy dalam kitabnya (Ahlul Hadits Hum Ath Thaifah Al Manshurah An Najiyah), di mana dia menuturkan di antara kalangan yang termasuk Ahluth Thaifah Al Manshurah nama-nama orang dan jama’ah-jama’ah yang sebagian mereka itu telah menjual dien mereka kepada para penguasa dengan bentuk bai’atnya kepada para thaghut itu, dan sebagian mereka dari kalangan yang melegalkan (pemilu) atau yang ikut serta dalam parlemen-parlemen kufur di negara-negara murtad. Dan yang paling minimal kejahatan dan keburukannya adalah orang yang mencap para Muwahhidin yang menjihadi para thaghut sebagai Khawarij dan Takfiriy di waktu yang mana dia meremehkan kekafiran para thaghut dan menganggapnya ringan di mana dia jadikan kemusyrikan mereka, pembuatan hukum yang mereka lakukan serta kekafiran mereka yang nyata sebagai kufrun duna kufrin ??

[3] Menyerupakan Allah ta’ala dengan salah satu makhluk-Nya adalah termasuk kebatilan yang mana Ahlus Sunnah terlepas diri darinya, akan tetapi mesti diingatkan bahwa di antara seteru-seteru Ahlus Sunnah ada yang mencapnya sebagai musyabbihah karena sebab mereka menetapkan sifat yang telah ditetapkan Allah tabaraka wa ta’ala bagi diri-Nya, padahal sesungguhnya kaidah Ahlus Sunnah dalam hal itu bukan itsbat mujarrad (sekedar penetapan), akan tetapi itsbat dan penafiyan yang mana ia adalah tanzih (pensucian Allah) dari syabih (yang menyerupai) dan matsil (yang sepadan) sebagaimana dalam firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

“Tidak ada sesuatupun seperti Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi maha Melihat.” (Asy Syura: 11)

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s