Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 6 Mengkafirkan Orang Yang Tidak Membai’at Imam Tertentu )

Mengkafirkan Orang Yang Tidak Membai’at Imam Tertentu

Termasuk kekeliruan yang sangat buruk dalam takfier juga adalah takfier orang yang tidak membai’at imam tertentu seraya berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya:

من ما ت وليس في رقبته بيعة مات ميتة جا هليه

Siapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada bai’at, maka dia mati secara Jahiliyyah

Dan dengan apa yang diriwayatkan Muslim juga:

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتة جاهلية

Siapa yang meninggalkan jama’ah, terus dia mati, maka matinya mati ‘ala Jahiliyyah “.

Terus mereka jadikan mati ‘ala Jahiliyyah itu sebagai kekafiran yang mengeluarkan dari millah. Padahal ia itu adalah lafadh yang tidak sharih atas penunjukan terhadap hal itu, bahkan mengandung banyak kemungkinan, sehingga wajib memahaminya dengan berlandaskan pancaran nash-nash yang muhkam (baku) yang menjelaskan maksudnya, sebagaimana hal itu diberlakukan secara umum terhadap nash-nash yang muhtamal lagi mutasyabih (mengandung kesamaran). Dan penjelasan ini akan datang pada bahasan dalil-dalil yang dilalahnya muhtamal lagi tidak qath’iy terhadap maksud kekafiran.

Maka kita melihat dalam dalil-dalil syar’iy yang menjelaskan hal ini ternyata kita mendapatkan bahwa orang yang membangkang lagi memberontak terhadap Jama’atul Muslimin dan imamnya adalah tidak keluar dari Islam dengan sebab hal itu saja. Sungguh  Allah Ta’ala telah berfirman:

”Dan bila dua kelompok dari kalangan kaum mukminin saling berperang, maka damaikanlah di antara dua (kelompok itu…)….. “Hingga firman-Nya “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudara kalian”. (Al Hujurat: 9-10)

Allah subhanahu wa ta’ala menamakan mereka kaum mukminin walaupun mereka itu bughat (orang-orang yang membangkan), maka ini adalah qarinah yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Jahiliyyah di dalam hadist itu  adalah sesuatu yang di bawah kekafiran yang mengeluarkan dari Millah berupa maksiat dan sifat-sifat serta kebiasaan-kebiasaan yang tercela. Dan disifati dengan hal itu sebagai bentuk kecaman terhadap status dosa yang memecah persatuan dan jama’ah kaum muslimin, serta sebagai bentuk tanfier (penjauhan orang) darinya karena di dalamnya terdapat penyerupaan dengan orang-orang jahiliyyah yang tidak dipersatukan oleh satu imam atau satu jama’ah, yang mana mereka itu kelompok-kelompok yang terpecah belah, dan kabilah-kabilah yang saling bertengkar, yang satu sama lainn saling menghajar dan saling memerangi.

Dan dikuatkan bahwa lafadh (Jahiliyyah) telah sering datang dalam pemakaian syari’at untuk maksiat-maksiat yang di bawah kekafiran dan kemusyrikan, sebagaimana di dalam firman-Nya:

Dan diamlah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarruj Jahiliyyah pertama”. (Al Ahzab: 33)

Tabarruj adalah termasuk akhlak para wanita pada zaman Jahiliyyah, dan ia itu bukan kekafiran yang mengeluarkan dari millah dengan sendirinya.

Dan di antara hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Ath Thabraniy dalam Al Ausath dengan isnad yang hasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:Khamar itu adalah ibu segala perbutan buruk, dan siapa yang meminumnya maka Allah tidak akan menerima darinya shalat empat puluh hari, sedangkan bila dia mati sedangkan khamar itu ada di dalam perutnya, maka dia mati dengan mati Jahiliyyah.”

Sedangkan minum khamr tanpa Istihlal itu bukan kekafiran.

Dan di antara hal itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Abu Dzarr tatkala ia mengejek seorang laki-laki dengan sebab ibunya:Apakah engkau mengejek dia dengan sebab ibunya? Sesungguhnya kamu adalah orang yang terdapat sifat kejahiliyyahan pada dirimu.” Di riwayatkan oleh Al Bukhariy dalam Kitabul Iman, dan beliau menambahkan dalam Kitabul Adab (Bab Ma Yunha ‘Annis Sibab Walla’ni):Terdapat pertengkaran antaraku dengan seorang laki-laki, sedangkan ibunya seorang ‘ajam, maka saya mencela ibunya, dan celaan ini yaitu ucapan Abu Dzaar (wahai anak wanita hitam)”. Sebagaimana dalam riwayat lain, adalah maksiat dan secara pasti bukan kekafiran, oleh sebab itu Al Bukhari menerapkan satu bab dalam Shahih beliau pada Kitabul Iman (Bab maksiat-maksiat itu termasuk urusan Jahiliyyah, dan pelakunya tidak dikafirkan dengan sebab melanggarnya kecuali dengan sebab syirik, berdasarkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:Sesungguhnya engkau adalah orang yang terdapat sifat kejahiliyahan pada dirimu “ dan firman  Allah Tabarakah Wa ta’ala:

Sesungguhnya  Allah tidak mengampuni penyekutuan pada-Nya, dan dia mengampuni (dosa) yang di bawah itu bagi orang yang di kehendaki-Nya”.) (An Nisaa: 48) Dan di dalamnya beliau menyebutkan hadist Abu Dzar kemudian firman  Allah Ta’ala:

Dan bila dua kelompok kaum muslimin saling berperang maka damaikanlah di antara mereka berdua”. (Al Hujurat: 9)

Dan beliau berkata:(Allah menamakan mereka sebagai kaum muslimin) selesai

Ibnu Hajar berkata dalam Kitabul Adab (Bab Maa Yunhaa Anis Sibab Walla’ni) tentang lafadh Jahiliyyah dalam hadits Abu Dzar (Dan ada kemungkinan dimaksud dengannya di sini adalah kejahilan, yaitu padamu terdapat kejahilan) selesai Dari Fathul Bari.

Dan di antara hal itu adalah apa yang ada dalam Shahih Muslim dari ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang mati sedang dia belum pernah berperang dan tidak membisikan dirinya untuk berperang, maka dia mati dengan mati Jahiliyyah”. Sedangkan meninggalkan berperang itu bukanlah suatu kekafiran, dan mati Jahiliyyah di sini bukanlah kekafiran yahg mengeluarkan dari millah dengan dalil firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Tidaklah sama antara yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak memiliki uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melabihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atau orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka  Allah menyajikan surga (An Nisa: 95).

Perhatikanlah bagaimana Allah telah menjelaskan bahwa di antara orang-orang yang tidak ikut berjihad tanpa alasan ada orang-orang mu’min, ketidakikutsertaan mereka di dalam jihad itu tidak mencabut nama iman dari mereka dan bahwa  Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan surga kepada orang-orang yang tidak ikut berjihad dan kepada para mujahidin karena keimanan mereka, meskipun para mujahidin itu lebih besar tingkatannya.

Maka nampak dari ini semua bahwa syari’at menggunakan lafadh ini pada maksiat-maksiat yang mana meninggalkannya termasuk iman yang wajib, dan melanggarnya tergolong kejahilan yang di bawah kekafiran yang mengeluarkan dari millah. Dan bila ternyata lafadh ini telah ada penggunaannya sesekali pada perbuatan yang merupakan bagian dari kekafiran jahiliyyah, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala:

Apakah hukum Jahiliyyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin(Al Maidah: 50)

Maka lafadh ini sebagaimana yang telah kami katakan telah menjadi bagian dari lafadh-lafadh yang muhtamal (memiliki banyak kemungkinan) yang wajib dipahami dengan berlenterakan nash-nash yang menjelaskannya.

Dan sudah maklum bahwa mencari-cari nash-nash yang mutasyabihah lagi muhtamal, memilih-milihnya serta mengambil itu saja tanpa mengembalikannya kepada nash yang muhkam lagi menjelaskannya berupa Ummul Kitab adalah tergolong metode orang-orang sesat lagi ahli bid’ah, sebagaimana telah  Allah Ta’ala sebutkan dalam kitabnya.

Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesataan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang Mutasyabihah untuk menumbuhkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya(Ali Imran: 7).

Dan begitu juga ancaman dengan lafadh-lafadh yang muhtamal, yang di antaranya: (Mati Jahiliyyah)

Ini… Dahulu saya pernah berdebat dengan sebagian Ghulatul Mukaffirah (orang-orang yang ghuluw di dalam takfier)  seputar hadits bab ini, dan mereka ini berkeyakinan bahwa itu adalah Kufur Akbar, serta atas dasar ini mereka mengajak (orang) untuk membaiat amir mereka, dan siapa yang tidak membaiatnya maka mereka vonis kafir, setelah penegakkan hujjah terhadapnya tentang hal itu dan bahwa mereka itulah Jama’ah Al Haq yang sejengkalpun tidak boleh ditinggalkan, dan kalau tidak maka matinya ‘Ala Jahiliyyah !!!

Inilah ucapan mereka, saya sangat berupaya untuk mendengar langsung dari mereka dan tidak lewat perantaraan seorangpun.

Dan pada hari itu pula saya berdalil dengan apa yang telah lalu, dan dengan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Hudzaifah setelah pertanyaanya: Bila kaum muslimin tidak memiliki jamaah dan iman? Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tinggalkan firqah-firqah itu walau kamu menggigit kuat akar pohon sampai kamu menemui kematian sedangkan engkau tetap di atas hal itu

Di dalam hadits ini ada faidah bahwa sah saja keIslaman seseorang walaupun tidakadanya Jama’atul Muslimin dan imam mereka yang umum lagi memiliki tamkin, dan bahwa keabsahan keIslaman itu tidak ada hubungannya dengan pembai’atan imam tertentu atau amir tertentu saat pecah belahnya Jama’atul Muslimin.

Dan kalau ada kaitanya tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Hudzaifah tatkala bertanya: “Bila kaum muslimin tidak memiliki jama’ah dan iman? untuk membentuk jama’ah baginya atau tandhim dan membai’at bagi dirinya atau bagi yang lainnya sebagai imam, dan kalau tidak maka dia mati ‘ala jahiliyyah, dan sudah ma’lum bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan kepada sesuatupun dari hal-hal itu di dalam jawaban-jawabannya terhadap Hudzaifah yang sering bertanya dalam masalah ini serta meminta rincian sebagai bentuk keseriusannya untuk mengetahui keburukan karena khawatir terjatuh ke dalamnya, sebagaimana perkataannya:Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir saya terjatuh kedalam”.

Seandainya tidak membaiat imam saat tidak adanya Jama’atul muslimin dan imam mereka adalah keburukan atau kekafiran, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghati-hatikan darinya dan tentulah beliau menjelaskan kepadanya, karena tidak boleh mengakhirkan bayan dari waktu yang dibutuhkan.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling perhatian terhadap umatnya, beliau tidak meninggalkan sedikitpun dari kebaikan yang bisa mendekatkan mereka ke surga melainkan beliau telah menunjukkan mereka terhadap hal itu, dan tidak meninggalkan sedikitpun dari keburukan yang bisa mendekatkan mereka kepada api neraka melainkan beliau menghati-hatikan mereka darinya, maka apa gerangan dengan kekafiran dan kemusyirikan yang membuat kekal pelakunya di neraka?

Dan saya juga berdalil atas hal itu dengan kisah Abu Bashir, Abu Jandal dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka menetap di tempat antara Makah dan Madinah dan mereka tidak memiliki kemungkinan dari membai’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan (dari) bergabung dengan Jama’atul Muslimin dengan sebab syarat yang terjadi antara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan orang-orang kafir Quraisy pada perjanjian Hudaibiyyah. Dan mereka tetap dalam kondisi seperti itu hingga akhirnya Quraisy menggugurkan syarat itu dan mereka bisa bergabung ke Madinah. (Lihat Khabarnya dalam Shahih Al Bukhari (kitab Asy Syurut) (Bab Asy Syurut Fil Jihad wal Mushalahah Ma’a Ahlil Harbi) Hadits No. 2731-2732.

Adapun Abu Bashir, maka beliau meninggal dunia ditempat itu sebelum memiliki kesempatan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengingkari mereka atas hal itu, apalagi mengkafirkannya. Beliau juga tidak pernah menghukumi Abu Bashir bahwa dia sudah mati ‘ala Jahiliyyah … Seandainya sesuatu dari hal yang mereka lakukan itu adalah kekafiran tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengakui mereka, dan tidak mungkin beliau menerimanya dalam syaratnya bersama Quraisy, sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling wara’ dan paling bertakwa kepada Allah Tabaraka Wa ta’ala

Para ‘ulama telah berdalil bahwa Abu Bashir tidak berada dalam wilayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pula bergabung dengan jama’atul muslimin, dengan keberadaan bahwa Quraisy tidak menekan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula menuntut beliau dengan diyat orang ‘amiriy yang telah dibunuh Abu Bashir tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikannya kepada Quraisy bersamanya dan bersama satu orang lagi yang lari, padahal keduanya adalah kafir mu’ahid, namun tatkala Abu Bashir ini tidak berada dibawah wilayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bergabung (berkoalisi) dengan jama’atul muslimin maka apa yang diperbuatnya itu tidak membebani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak terikat dengan perjanjian beliau dengan Quraisy.

Namun dalil-dalil itu semua tidak mempan meyakinkan kaum Ghulat itu, hingga akhirnya saya hujjah mereka dengan hadits:Hasan dan Husein itu penghulu para pemuda ahlul jannah[1]

sedangkan Hasan radliyallahu ‘anhu itu telah meninggal dalam keadaan tidak membai’at imam pada zamannya, bahkan beliau bersama orang-orangnya khuruj terhadapnya …Maka apakah beliau mati jahiliyyah?

Dan apa beliau kafir dengan hal itu ?

Bagaimana bisa sedangkan Ash Shadiqul Mashduq telah mengabarkan bahwa dia adalah penghulu para pemuda surga ?

Maka mereka terputus hujjahnya dan tidak mendapatkan jawaban …karena mereka telah berada antara dua api yang salah satunya lebih panas dan lebih pahit dari yang satunya lagi.

Mereka harus pilih apakah mengkafirkan penghulu para pemuda ahli surga -kita berlindung kepada Allah- !!!

Atau mereka meninggalkan madzhab mereka yang mana mereka bangun di atasnya salah satu ushul jama’ah mereka, terus mengakui bahwa itu bukan kekafiran…

TANBIH:

Dan apa yang pantas dingatkan di sini yaitu kesalahan orang yang mengaggap dosa setiap orang yang tidak membaiat imamnya yang telah dia baiat pada kondisi istidh’af.

Bagi orang yang mau mengharuskan dirinya untuk membai’at orang dari kalangan kaum muslimin yang dia anggap telah memenuhi syarat-syarat Khilafah dan berupanya untuk berperang bersamanya karena dia memiliki kekuasaan dan nushrahnya untuk menegakkan dienullah di bumi ini, akan tetapi dia tidak boleh mengganggap dosa orang lain yang menyelisihinya atas dasar ijtihadnya, atau orang yang tidak membai’at imamnya, terutama telah ada dari macam imam yang telah memiliki tamkin ini banyak sekali, dan sebelumnya telah dibai’at mereka itu sebelum yang lainnya, dan masing-masing mengklaim dirinya yang paling berhak dalam hal itu dan menuntut bai’at bagi dirinya, dan berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya tidak ada Nabi setelah aku dan akan ada banyak Khalifah”,Para sahabat bertanya: “ Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami ? Beliau berkata, ”Penuhilah bai’at yang pertama kemudian seterusnya, dan berikanlah kepada mereka haknya

Sedangkan kaum muslimin dalam kondisi istidl’af mereka berada di antara penganggapan dosa oleh mereka dan oleh yang lainya, ini bila mereka selamat dari takfir orang-orang yang pertama!!!

Padahal sesungguhnya imam masing-masing dari mereka itu tidak memilki tamkin, tidak mempunyai syaukah (kekuatan) dan juga ia bukan junnah (perisai) berlindung dengannya setiap orang yang membai’atnya, maka atas dasar apa dia mengharuskan kaum muslimin untuk membai’atnya ? Sedangkan ada dalam hadits shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata tentang sifat imam yang mengemban tanggung jawab atas ahlul Islam:Imam itu hanyalah perisai yang (orang) berperang di belakangnya dan berlindung dengannya”. (HR Al Bukhari, Muslim dan yang lainnya).

Maknanya: Bahwa Al Imam itu (suatu yang) dijadikan pelindung, dan bahwa dia itu tempat keterjagaan dan perlindungan bagi rakyat. Dia itu bagaikan perisai dan tameng bagi mereka, karena sesungguhnya orang yang berlindung di balik perisai berarti dia itu telah menjaga dirinya dari serangan musuh.

An Nawawi berkata: (Yaitu seperti perisai, karena ia menghalangi musuh dari menyakiti kaum muslimin, menghalangi manusia dari (menyakiti ) satu sama lain, dan melindungi keutuhan Islam, serta ditakuti oleh manusia dan ditakuti kekuasaannya).

Dan ini telah ditafsirkan dengan apa yang disyaratkan oleh para Fuqahah, berupa kewajiban Khalifah di antaranya menjaga keutuhan (jama’atul muslimin), menunaikan hak-hak kaum muslimin, menegakkan apa yang menjadi kewajiban mereka berupa penegakkan jihad, menjaga dien mereka dan kepentingan-kepentingan dunia mereka, sehingga bila ia terhalang dari menegakkan hal itu, baik karena ia tertawan atau ia itu dicekal, atau lemah atau yang lainnya, maka ia itu tercopot dan tidak dianggap sebagai Imam atau Khalifah. Dan begitu juga andai dia itu mustadl’af (tertindas) lagi tidak memiliki daya dan kekuatan, maka bagi kelompok mana saja boleh rela dia menjadi amirnya, walau dalam kondisi istidla’fnya, akan tetapi dia tidak boleh -sedangkan kondisinya seperti ini- mengharuskan kaum muslimin untuk membaiatnya, dan menjadikannya sebagai imam tertinggi atau khalifah atas seluruh kaum muslimin atau dia sendiri tidak kuasa akan urusannya dan urusan keluarganya sedikitpun di bawah payung hukum para thaghut dan penindasan mereka. Apalagi dari status mampu menjadi perisasi bagi kaum muslimin lainnya.

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (Sabdanya “Imam itu hanyalah prisasi (junnah)” dengan jim berharakat, karena ia menghalangi musuh dari menyakiti kaum muslimin dan menahan tindakan aniaya satu sama lain, dan yang dimaksud dengan imam adalah setiap orang yang menegakkan urusan-urusan kaum muslimin).

Dan Al Qalqsyandiy berkata dalam Ma-aatsirul Anaaqah Fi Ma’alimil Khilafah: Dan kebiasaan yang berlaku semenjak awal Islam dan seterusnya adalah penggunaan nama Khalifah atas setiap orang yang menegakkan urusan kaum muslimin dengan penegakan yang menyeluruh) (1/13).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Minhajus Sunnah: (Siapa yang berpendapat bahwa orang menjadi imam dengan persetujuan seseorang atau dua atau empat orang, sedangkan mereka itu tidak memiliki kemampuan dan kekuatan, maka dia itu telah salah). (1/141).

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s