Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 5 Takfier Karena Sekedar Memuji Orang-Orang Kafier Atau Mendo’akan Sebagian Mereka Tanpa Rincian )

Takfier Karena Sekedar Memuji Orang-Orang Kafier Atau

Mendo’akan Sebagian Mereka Tanpa Rincian

Dan di antara kekeliruan yang umum di dalam takfier juga adalah pengkafiran dengan sebab sekedar memuji orang-orang kafir atau mendoakan sebagiannya tanpa rincian dan tidak mengudzur karena kejahilan dalam hal itu, serta membangun hukum cabang di atasnya dengan tidak boleh shalat di belakang setiap orang yang mendoakan para thaghut dengan bentuk doa apapun.

Dan yang benar bahwa hal ini tergolong sesuatu yang diudzur dengannya karena kejahilan, sehingga merinci dalam hal ini adalah wajib, karena do’a itu beraneka ragam dan berbeda-beda, dan yang dikafirkan itu hanyalah orang yang memuji orang-orang kafir karena kekafirannya atau memuji dan menyanjung kekafirannya itu sendiri.

Kekafiran karena memuji kekafiran mereka adalah lebih nampak dari kekafiran karena memuji diri mereka itu sendiri, dan ini contohnya seperti menamakan undang-undang kafir mereka sebagai kebenaran atau mensifatinya dengan bersih dan adil, sedangkan  Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa ia adalah kekafiran dan kesesataan, atau menampakkan penghormatan dan tawalli terhadapnya, atau sumpah untuk setia kepadanya dan menjaganya, atau menuntut untuk menerapkan dan memberlakukannya, atau berdoa untuk keberlangsungan dan kesinambungannya, karena menginginkan keberlangsungan kekafiran adalah kekafiran. (lihat Al Furuq karya Al Qarafiy/4/118)

Adapun memuji diri orang kafir adalah masih memiliki banyak kemungkinan, dan tujuan itu terkadang berbilang tergantung para pelakunya, sehingga wajib ada rincian.

Sekedar memuji sebagian orang-orang kafir karena kejujurannya atau karena sebagian mereka menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak terpuji adalah tidak berdosa. Seperti memuji sebagian perkumpulan-perkumpulan mereka atau koalisi-koalisinya atau yayasan-yaysannya yang berdiri untuk membela orang yang didzalimi atau amal-amal kebaikan dan akhlak-akhlak terpuji.

Sungguh  Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah berfirman:

Dan di antara  Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, di kembalikanya kepadamu ; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan kepadamu kecuali kamu selalu menagihnya… (Ali Imran: 75)

Dan ini dibuktikan dengan jelas oleh pujian Rasulullah terhadap Hilful Fudlul atau Hilful Muthyyibiin ini adalah koalisi zaman jahiliyyah di antara kaum yang kafir, akan tetapi tatkala dalam rangka menolong orang yang dalam kesulitan dan membela orang yang didzalimi serta mengembalikan hak kepada pemiliknya, maka bolehlah memujinya karena hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Saya menyaksikan Hilful Muthayyibin  bersama paman-pamanku sedangkan saya masih kecil, saya tidak suka bila memiliki unta yang merah sedangkan saya melanggarnnya.) Diriwayatkan oleh Ahmad 1/190 dan 193, Al Hakim 2/220 dan yang lainnya  dari Abdurahman Ibnu Auf secara marfu’ ).

Hilful Muthayyibin -sebagaimana dalam An-Nihayah: (Banu Hasyim, Banu Zahra dan Taim berkumpul di rumah Ibnu Ju’dan  di zaman jahiliyyah, mereka menuangkan minyak wangi di nampannya dan mereka mencelupkan  tangan-tangan mereka ke dalamnya, serta mereka saling berjanji untuk saling tolong menolong  dan mengambilkan hak orang yang didzalimi dari yang dzalim, maka mereka menamakanya  muthayyibin (orang-orang yang memakai minyak wangi)

Dan yang dimaksud dengan hilf ini adalah hilful fudlul, sebagaimana yang dipastikan oleh Al Hafidh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah 2/291, dan bukan hilf dahulu yang pernah terjadi setelah kematian Qushaiy dan persengketaan Quraisy seputar siqayah (pemberian minum jama’ah haji), rifadah (jamuan makan jama’ah), liwaa’ (panji peperangan), nadwah (tempat berkumpul) dan hijabah (penjagaan pintu Ka’bah), kemudian setiap kelompok dari mereka berkoalisi atas kelompok yang lain, maka kawan-kawan Bani Abdi Manaf menghadirkan nampan yang berisi minyak wangi, terus meletakan tangan-tanganya di atas nampan tersebut dan mereka saling berjanji, kemudian tatkala mereka bangkit maka mereka mengusapkan tangan-tangannya pada dinding-dinding Baitullah, maka mereka dinamakan Al Muthayyibin. Ini bukan yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir: (Yang dimaksud dengan hilf ini -yaitu yang dinamai Al Muthayyibin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memujinya adalah hilful fudlul dan itu terjadi di rumah Abdullah Ibnu Jud’an sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Humaidi dari Sufyan Ibnu ‘Uyainah dari Abdullah, dari Muhammad dan Abdurrahman, kedua putra Abu Bakar, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Sungguh saya telah menyaksikan di rumah Abdullah Ibnu Jud’an hilf yang seandainya saya diundang kepadanya di Islam tentu saya memenuhi undanganya, mereka berjanji mengembalikan fudlul (hak) kepada pemiliknya dan agar yang dzalim tidak aniaya kepada orang yang didzalimi), mereka berkata: Dan hilful fudlul terjadi dua puluh tahun sebelum beliau diutus (menjadi Rasul), dan Ibnu Katsir berkata: (Hilful Fudlul adalah hilf yang paling mulia yang pernah didengar dan yang paling mulia di tengah bangsa Arab).Al Bidayah Wan Nihayah 2/291.

Sehingga terbukti secara pasti bahwa tidak ada dosa dalam hal ini.

Dan termasuk jenis ini apa yang diriwayatkan oleh Muhammad Ibnu Ishaq bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya tatkala penindasan Quraisy makin dasyat terhadap: (Seandainya kalian keluar ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang tidak seorangpun didzalimi di sisinya, dan ia adalah negeri kejujuran, sampai  Allah menjadikan bagi kalian jalan dari apa yang kalian alami sekarang).

Dan di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Al Baihaqiy bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada putri Hatim Ath Thaiy terkala meminta kepada beliau untuk melepaskannya dan dia menyebutkan sebagaian sifat-sifat ayahnya yang terpuji: (Lepaskan dia, karena bapaknya mencintai ahlak-ahlak terpuji, sedangkan  Allah ta’ala mencintai ahlak-ahlak tepuji)

Dan di antaranya ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dan yang lainya dari hadits Abu Hurairah: (Ucapan yang paling benar yang pernah diucapkan oleh penyair adalah ucapan Lubaid; Ketahuilah, segala sesuatu selain  Allah adalah Batil), dan Lubaid telah mengatakan hal itu di masa jahliyyahnya sebelum masuk Islam, karena sesungguhnya ia meninggalkan sya’ir setelah keislamannya dan tidak mengatakan kecuali satu bait syair saja yang bukan sya’ir tadi, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keberatan dari memuji kalimat yang telah dikatakan oleh orang kafir saat dia kafir, selama itu haq.

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: (Manusia itu barang tambang. Yang terbaik dijaman jahiliyyah adalah yang terbai dalam Islam bila mereka faqih). Di riwayatka Al Bukhari dan Muslim, beliau menetapkan orang-orang terbaik bagi ahlil jahiliyyah.

Begitu juga berterima kasih kepada mereka dengan lisan atau perbuatan sebagai balasan kebaikan yang pernah mereka berikan kepada orang muslim dengan yang setimpal, adalah tidak apa-apa pula. Dalil untuk yang pertama adalah keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Tidak bersyukur kepada  Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” Diriwayatkan Abu Dawud. At Tirmidzi dan berkata: Shahih.

Adapun yang kedua dalilnya adalah sebda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang para tawanan perang badar: (Seandainya Al Muth’im Ibnu ‘Adiy masih hidup, terus dia mengajak bicara saya tentang orang-orang busuk itu tentu saya melepaskan mereka untuknya) Diriwayatkan Al Bukhari dari Jubair Ibnu Muth’im.

Dan itu dikarenakan Al Muth’im Ibnu ‘Addiy adalah tergolong pemuka Quraisy, dan dia pernah memiliki jasa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana dia pernah memberikan perlindungan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kembali dari Thaif setelah beliau mendakwahi Tsaqif. Dan juga dia adalah salah seorang dari orang-orang yang bangkit merobek shahifah yang ditulis Quraisy untuk membaikot Bani Hasyim, dan dia meninggal dunia tujuh bulan sebelum badar, (Lihat Al Isti’aab Fi Ma’rifatil Ashhab, dalam biografi anaknya Jubair Ibnu Muth’im)

Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah justru bentuk dari balasan bagi Muth’im dan balasan atas kebaikannya, terutama sesungguhnya beliau ini telah mengatakan hal itu kepada anaknya sebelun dia masuk Islam juga. Dan dia hadir untuk memberikan syafaat bagi tawanan Badar.

Ibnu Baththal berkata: (Sisi pengambilan hujjah denganya adalah bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh baginya mengabarkan sesuatu yang seandainya terjadi, tentu beliau melakukannya, sedang ia adalah perbuatan yang tidak boleh). (Dari Fathul Bari, Kitab Fardlul Khumus) (Bab Maa Mannan Nabiyyu shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Alal Usaaraa….) pada hadits no 3139)

Dan di antara hal ini larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh Abul Buhtury Ibnu Hisyam di perang Badar padahal dia itu kafir yang tidak memiliki jaminan keamanan, dikarenakan dia tidak menyakitinya dan perbuatan baiknya dengan upaya merobek lembaran shahifah kedzaliman.

Dan hal itu telah disebutkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Ash-Sharimul Masluul hal (163) dan beliau menyebutkan hadits Al Muth’im, kemudian berkata: (Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas orang yang berbuat baik kepadanya dengan sebab perbuatan baiknya itu meskipun dia itu orang kafir).

Dan tergolong jenis ini apa yang ada di dalam ijtihad-ijtihad sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membalas ihsan dengan yang semisalnya, adalah seperti membalas ucapan tahiyyah (ucapan salam) bila ia itu salam yang jelas, bahkan doa juga, walaupun salam itu adalah doa.

Dan di antara hal itu apa yang diriwayatakan Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrid (1101) dengan sanad yang jayyid: (Abu Musa menulis surat kepada Dahqan seraya mengucapkan salam terhadapnya, maka ada yang bertanya: “Apakah engkau mengucapkan salam kepadanya sedang dia itu kafir,” beliau berkata: Sesungguhnya dia menulis surat kepadaku dan mengucapkan salam kepadaku, maka aku membalas salamnya). Ini adalah ijtihad dari beliau radliyallahu ‘anhu sebagai pengamalan keumuman firman  Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balas penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa.”  (An-Nisaa: 86)

Dan di antaranya juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrid (1113) dari Sa’id Jubair dari Ibnu ‘Abbas, berkata: (Seandainya Fir’aun mengatakan kepadaku (Semoga  Allah memberkatimu) tentu saya katakan: Dan engkau juga, sedangkan Fir’aun itu telah mati). Perhatikanlah: Padahal Fir’aun tergolong thaghut bumi ini yang paling dasyat !! maka apa yang akan dikatakan orang yang berlebihan yang mengkafirkan dengan sebab hal-hal yang di bawah ini terhadap ijtihad Habrul Qur’an (Ibnu Abbas) di sini??

Dan atas dasar ini, seandainya sebagian orang mengucapkan terima kasih terhadap penguasan thaghut atau memuji mereka dikarenakan mereka telah meringankan sedikit dari kedzalimannya dan aniyanya sesekali dari sebagian manusia atau karena mereka memberikan sebagian pelayanan yang pada dasarnya ia adalah dari darah rakyat !! atau karena mereka memberikan sebagian tunjangan dan sembako yang mana mereka dan para auliyanya memakan lebih banyak dari berlipat-lipat ganda. Perbuatan ini walaupun menunjukan kejahilan akan realita para thaghut dan sabilul mujrimin, dan bisa jadi di dalamnya terdapat kesesatan dan talbis, akan tetapi itu saja tidak sampai kepada derajat kekafiran terutama disertai pentakwilan pelakunya dan istidlal-nya dengan apa yang telah lalu.

Kami katakan ini, padahal kami mengetahui perbedaan yang nampak antara interaksi dengan yang lalu bersama orang-orang kafir secara umum, dengan memberikannya terhadap orang-orang khusus mereka dari kalangan para thaghut dan arbab mereka yang beraneka ragam.

Dan kami mengetahui bahwa munculnya hal itu dari orang-orang yang intisab kepada ilmu dan dakwah adalah lebih buruk dan lebih jelek dari kemunculannya dari orang-orang awan yang terpedaya oleh mereka terutama bila mereka berlebih-lebihan dalam sanjungan dan terlalu berlebihan di dalam pujian terhadap para thaghut, di mana dengan hal itu terjadi talbies, tadlies dan penyesatan terhadap orang-orang awan dan para pengekor yang akibatnya hanya Allah-lah yang mengetahuinya, akan tetapi bersama ini semua sesungguhnya takfier adalah hal lain di luar ini semua.

Kemudian bila orang yang melakukan hal itu melampau batas sehingga memuji kekafiran mereka dan hukum-hukum thaghutnya dan undang-undang buatannya (negatifnya) atau demokrasinya (agama kafir mereka), maka dia telah terjerumus masuk dalam pintu-pintu yang mengkafirkan.

Dan lebih buruk dan lebih busuk dari itu adalah orang yang mengedepankan mereka atas kaum muslimin, dengan cara mereka mengedepankan hukumnya dan aturannya atau demokrasinya atas hukum dan aturan Islam, sebagaimana keadaan banyak orang-orang yang buta yang mengklaim bahwa hukum Islam itu mengandung pemberian kesempatan terhadap kediktatoran individu dan tidak mengandung keragaman demokrasi serta kebodohan dan kesesatan lainnya.

Mereka itu dan yang semisal mereka dari kalangan yang mengedepankan hukum-hukum kafir atas hukum-hukum Islam adalah bagian dari orang-orang yang difirmankan  Allah tabaraka wa ta’ala:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi sebahagian dari Al Kitab ? mereka beriman kepada Jibt dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuk Allah. Barangsiapa yang dikutuk  Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (An-Nisa: 51-52).

Dan Al Imam Ahmad telah meriwayatkan juga, Ibnu Jarir dalam tafsirnya serta yang lainya dari Ibnu Abbas bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Ka’ab Ibnul Asyaf tatkala dia pergi ke Mekkah seraya mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata kepada orang-orang kafir Quraisy: “Kalian lebih baik dan lebih lurus dari Muhammad.” Sedangkan sebelum itu dia itu adalah kafir mu’ahid, maka perjanjiannya batal dan dia dibunuh oleh kaum muslimin. Dan silahkan lihat faidah-faidah yang berkaitan dengan kisahnya dalam Ash Sharim Al Maslul.

Adapun bila dia maksudkan pengedepankan orang-orang di antara mereka dari sisi berpegang teguhnya kepada sebagian ahlak-ahlak terpuji dan etika-etika yang mulia atas sebagian orang-orang fasiq kaum muslimin yang tidak memperhatikan ahlak-ahlak itu, maka ini tidak boleh dikafirkan, akan tetapi mesti diberi pemahaman bahwa inti tauhid dan Islam yang dimiliki orang-orang fasiq yang muslim itu adalah lebih baik dan lebih selamat bagi mereka dari apa yang dimiliki orang-orang kafir itu berupa ahlak-ahlak yang kosong dari tauhid.

Adapun memuji mereka secara umum tanpa alasan dan menganggap baik kebiasaan-kebiasaan mereka yang bukan kufur, maka para ulama telah menganggapnya sabagai salah satu dosa besar.

Oleh sebab itu wajib meminta rincian dan tabayyun (mencari kejelasan) di dalam lafadz-lafadz dan lontaran-lontaran yang muhtamal (memiliki banyak kemungkinan) seperti ini, serta tidak cepat-cepat melakukan takfier dengan sekedar hal itu.

Shiddieq Hasan Khan berkata dalam kitabnya (Al ‘Ibrah Fiimaa Warada fil Ghazwi Wasy Syahadah Wal Hijrah) hal: 246: (Memuji orang-orang kafir karena kekafiran mereka adalah kemurtaddan dari dienil Islam, dan memuji mereka seraya kosong dari maksud ini adalah dosa besar yang pelakunya haru dita’zir dengan sangsi yang membuat dia jera. Dan adapun ucapan orang: “Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang adil, maka bila dia memaksudkan bahwa hal-hal kufur yang di antaranya undang-undang positif mereka adalah keadilan, maka ia adalah kekafiran yang nyata lagi jelas, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah mencelanya, mengecamnya dan menamakan hal itu sebagai tindakan melampaui batas, pembangkangan, aniaya, dusta, dosa yang nyata, kerugian yang nyata dan mengada-ada, sedangkan keadilan hanyalah syariat  Allah yang dikandung oleh Kitab-Nya yang muliah dan sunah Nabi-Nya yang lembut lagi penyayang,  Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan ihsan”. (An Nahl: 90)

Seandainya hukum orang-orang nasrani itu adalah adil tentulah diperintahkan). Selesai.

Perhatikanlah rincian beliau dalam memuji orang-orang kafir, dan bahwa ia tidak satu status, dan ucapannya (bila dia memaksudkan begini..) sesungguhnya ia termasuk istifshal (pencarian rincian) dan tafshil (pemberian rincian) yang penting dalam fatwa dan memutuskan dalam hal-hal yang muhtamal sebagaimana yang akan datang, karena sesungguhnya tujuan dalam ucapan-ucapan yang muhtamal seperti ini adalah sangat diperhatikan, dan tidak boleh segera mengkafirkan di dalamnya tanpa istifshal dan tabayyun, terutama bila hal itu muncul dari orang yang memiliki ashlul Islam (tauhid) karena sesuatu yang tsabit (terbukti) dengan yakin tidaklah bisa lenyap, gugur dan batal dengan ihtimal (kemungkinan).

Di samping hal ini bahwa banyak awam kaum muslimin, nenek-nenek dan kakek-kakeknya tidak mengetahui hakikat dari realita para thaghut zaman ini, mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitar mereka, mereka tidak memiliki bashirah akan makar para thaghut, dan samar atas mereka pengkaburan-pengkaburan para thaghut, sehingga mereka tertipu dengan pembangunan mesjid-mesjid, shalat-shalat dan hal lainnya dari hal-hal yang mereka saksikan dan mereka dengar dari ucapan mereka yang dihiasi, direka-reka dan dikaburkan… Mereka itu bila tergolong orang-orang yang menjauhi kekafiran dan kemusyrikan para thaghut, akan tetapi tersamar atas mereka statusnya dan tidak nampak bagi mereka kekafirannya, serta mereka terpukau dengan apa yang mereka tampakkan sesekali berupa amalan-amalan kebaikan, sehingga mereka memuji para thaghut itu karena hal itu atau karena sebagian pelayanan-pelayanan mereka, atau mereka mengucapkan terima kasih terhadap para thaghut atas sebagian keberhasilan-keberhasilannya yang secara dhahir adalah kebaikan dan manfaat bagi manusia sedangkan dalamnya adalah racun yang disisipkan pada lemak. Orang-orang semacam itu tidak dikafirkan karena sebab hal itu saja kecuali oleh orang yang ngawur yang telah mempertaruhkan diennya, selama mereka memiliki ashluttauhid (inti tauhid), bahkan andaikata mereka mendo’akannya dengan sebab hal itu dan karenanya agar panjang umur atau taufiq bahkan kemenangan dan kejayaan, dan kata-kata lainnya yang terkadang menghantarkan kepada kekafiran bagi orang yang mengetahui kekafiran mereka dan kekafiran undang-undang mereka, dan mengetahui apa yang menjadi kemestian dari doa-doa semacam ini berupa harapan berlangsungnya kekafiran, kejayaannya, serta lamanya masa hukum dan undang-undangnya, akan tetapi dikarenakan ini adalah tergolong takfier dengan sebab apa yang dimestikan oleh ucapan mereka –dan akan datang bahasannya nanti– dan karena ada kemungkinan orang yang mendoakan mereka itu tidak iltizam (komitmen) dengan hal itu dan tidak mengetahuinya, akan tetapi sebagaimana yang telah kami ketengahkan dia itu hanya mendoakan sosok-sosok mereka karena sebab pelayanan-pelayanan yang telah mengecoh mereka dengannya, maka kita tidak tergesa-gesa mengkafirkan orang mu’ayyannya (Individunya) kecuali setelah iqamatul hujjah, bayan dan pemberitahuan akan realita para thaghut itu dan penohokannya terhadap tauhid dan Islam serta penjelasan akan konsekuensi dari doa semacam itu, kemudian bila dia bersekukuh dan komit dengan konsekuensi-konsekuensi itu, maka enyahlah, kemudian enyahlah, kemudian enyahlah.

Dan sebab kami mengudzur karena kejahilan di sini dan kami mensyaratkan adanya bayan, iqamatul hujjah dan istifshal sebelum melontarkan hukum-hukum takfier, dikarenakan keadaan-keadaan manusia itu berbeda dari keadaan undang-undang atau kekafiran itu sendiri, dan dikarenakan talbies yang terjadi dengan sebab apa yang dilakukan para thaghut berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang indah yang menjadi sumber kesamaran atas banyak manusia, serta disebabkan beragamnya tujuan-tujuan manusia dalam memuji dan menyanjung orang-orang tertentu, dan adanya ihtimal apa yang mereka maksud dalam doa itu. Ini berbeda seandainya dia melakukan salah satu sebab dari sebab takfier yang tegas lagi nyata yang tidak ada ihtimal, maka tidak bermanfaat bagi dia -sedang keadaanya seperti itu- pemberian alasan dengan talbies dan ucapan-ucapan dan amalan-amalan yang indah.

Al Bukhari meriwayatakan dalam Al Adab Al Mufrid (1112) dan Al Baihaqiy dalam As Sunan (9/203) dengan isnad yang hasan dari Uqbah Ibnu Amir Al Juhanniy ( Bahwa dia melewati seorang laki-laki yang penampilanya penampilan laki-laki muslim, orang itu mengucapkan salam kepadanya, maka Uqbah menjawabnya : Wa ‘Alaikassalam wa rahmatullahi wa barakatuhu’’ Maka seorang budak berkata kepadanya: Apakan engkau tahu terhadap siapa engkau membalas salam? Beliau berkata: Bukankah dia itu muslim? Mereka menjawab: Bukan, akan tetapi dia itu Nasrani, maka Uqbah berdiri terus menyusulnya hingga dia mendapatkannya, kemudian dia berkata: Sesungguhnya rahmat dan limpahan berkat itu atas orang-orang mu’min, akan tetapi semoga  Allah memanjangkan hidupmu dan memperbanyak hartamu…”

Dan doa ini dari beliau radliyallahu ‘anhu bukan seperti doa terhadap tokoh-tokoh dan imam-imam kekafiran serta para thaghutnya, karena orang nasrani itu adalah dzimmiy sedangkan maksudnya dari doa tersebut adalah memperbanyak harta kaum muslimin dari jizyah orang ini dan yang semisal dengannya, sebagaimana yang ditakwil oleh para sahabat dan sebagaimana hal yang serupa diriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu bahwa beliau melewati seseorang, terus beliau mengucapkan salam terhadapnya, kemudian dikatakan kepadanya: Sesungguhnya dia itu kafir, maka beliau berkata: (Kembalikan kepadaku salam yang aku ucapkan kepadamu, “Terus beliau berkata: Semoga Allah memperbanyak harta dan anakmu”. Kemudian beliau menoleh kepada para sahabatnya seraya berkata: Supaya lebih banyak jizyahnya). (Dinukil dari Al Mughniy (Kitabul jizyah) (Pasal: Tidak boleh mengedepankan mereka dalam majelis dan tidak boleh mengucapkan salam terlebih dahulu kepada mereka).

Perhatikanlah bagaimana ihtimal itu masuk dalam doa, dan bahwa doa itu tidak mesti selamanya memestikan langgengnya kekafiran.

Dan ini berbeda dengan memuji kekafiran mereka yang nyata itu sendiri, atau menyanjung kekafiran-kekafiran mereka yang jelas dengan undang-undang mereka dan hukum-hukum buatannya yang bertentangan dengan syariat Allah ta’ala, atau mendoakannya untuk jaya, maju dan langgeng, maka ini adalah kekafiran nyata yang tidak ada kasamaran di dalamnya, yang tidak berani melakukan dan memasukinya kecuali orang yang berada di atas millah dan ajaran thaghut mereka.

Kecuali bila pujian atau doa itu tidak sharih dalam pencakupannya terhadap kekafiran dan syirik mereka yang menolok dienullah, akan tetapi memiliki kemungkinan makna-makna lain yang tidak mengkafirkan, seperti orang yang mengucapkan terimah kasih kepada mereka atau mamuji mahkamah-mahkamah mereka karena membantu mengembalikan haknya atau memuji demokrasi sedangkan ia tidak mengetahui dari maknanya kecuali apa yang diduga oleh banyak orang-orang awan, berupa makna-makna yang menyelisihi dan lawan dari otoriter, diktatorisme dan terror, dan mereka tidak memaksudkan atau mengetahui maknanya yang syirik lagi pembuatan hukum, sehingga mendoakan dalam keadaan ini masuk dalam bagian ucapan-ucapan yang muhtamal yang akan datang bahasannya yang mana wajib di dalamnya istifshal dan mencari kejelasan maksud orang yang mengucapkannya.

Dan telah kami ketengahkan kepada anda dalam mawani’ takfier pada bahasan intifaul qashd (ketidakadaan maksud) bahwa orang yang mengucapkan ucapan atau kalimat kekafiran yang tidak dia ketahui maknanya atau kandungannya atau hakikatnya, maka dia tidak dikenakan sangsi dengannya dan tidak dikafirkan.

Dan kesimpulannya bahwa wajib membedakan antara doa untuk pribadi orang kafir dengan doa untuk kekafirannya yang nyata lagi jelas, sebagaimana wajib istifshal dan tabayyun dalam hal-hal yang ada ihtimal di dalamnya.

Seandainya imam atau khatib berdoa untuk sebagian para thaghut hukum, maka wajib melakukan tafshil, karena tidak setiap doa dihukumi kafir pelakunya di dalamnya, dan dari itu tidak boleh shalat di belakangnya atau menganggap batal shalat itu terutama di negeri-negeri yang mana para khatib diharuskan berdoa untuk para penguasa.

Seandainya dia mendoakan hidayah bagi mereka umpamanya atau kebaikan dan agar Allah mengembalikan mereka kepada diennya, dan doa-doa seperti itu, maka tidak boleh mengkafirkannya dan tidak boleh meninggalkan shalat di belakangnya. Dan dalam hadits muttafaq ‘alaih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan kepadanya:Wahai Rasulullah sesungguhnya Daus telah membangkang dan enggan, maka berdoalah untuk kebinasaan mereka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ya Allah berilah Daus petunjuk dan datangkanlah merekaAl Bukhari menuturkannya dalam kitabul jihad was sair dan memberikan baginya bab dengan ucapannya: (Bab mendoakan kaum musyrikin dengan hidayah untuk melunakan (hati) mereka).

Dan hal yang sama adalah apa yang diriwayatkan Al Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan yang lainnya dari abu Musa bahwa dari orang-orang yahudi berusaha bersin di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harapan beliau mengucapkan kepada mereka “Semoga  Allah merahmati kamu”. Namun beliau mengatakan kepada mereka “Semoga Allah memberikan hidayah kepadamu dan membenahi hatimu”.

Di dalam hadits ini ada doa bagi mereka dengan hidayah dan pembenahan hati, sedangkan benahnya hati mereka adalah hanya dengan keIslaman mereka, sebagaimana firman Allah tabraka wa ta’ala:

Dan orang-orang beriman (kapada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mefeka dan memperbaiki keadaan mereka. (Muhammad: 2).

Dan begitulah andai dia medoakan mereka agar menegakan kitabullah dan mengamalkanya serta agar Allah mengkaruniakan buat mereka pendamping-pendamping yang saleh dan yang lainnya, maka tidak mengkafirkan mereka dengan hal seperti ini kecuali orang yang ngawur, walaupun kami membenci doa seperti itu, karena doa bagi para penguasa secara umum meskipun mereka itu penguasa muslim adalah termasuk bid’ah jum’at yang dibeci para ulama.

Dikatakan dalam Al Majmu Syarhul Muhadzdzab (4/393): (Dan adapun doa buat penguasa, maka para ulama kami sepakat bahwa itu tidak wajib dan tidak dianjurkan, sedangkan dhahir ucapan mushannif (penulis) dan yang lainnya itu adalah bid’ah, baik itu makruh atau menyelisih hal yang utama…)

Dan begitu juga dalam Al Ithsham karya Asy Syathibiy (1/29), di dalamnya beliau telah menukil dari Ishbigh, sedang beliau itu tergolong ahli fiqh Madzhab Maliky (273H) bahwa beliau berkata tentang doa khathib buat para khalifah terdahulu: (Itu bid’ah dan tidak selayaknya diamalkan, dan yang terbaik adalah dia mendoakan kaum muslimin secara umum).

Dan dinukil dari Izzudien Ibnu Abdussalam (660 H): (Bahwa doa buat para khalifah di dalam khutbah adalah bid’ah yang tidak disukai). (1/30) (Cetakan Darul Khany).

Saya berkata: ini (doa) buat para khalifah, maka bagiamana dengan doa buat para thaghut ??.

Dan lihat juga Al Fatawa milik Syaikhul  Islam, (Cetakan Dar Ibnu Hazm 24/118)

Dan dikarenakan terdapat di dalam sebagian doa-doa -ini meskipun bukan kekafiran- semacam kejahilan dan talbies, maka doa bagi mereka agar diberikan pendamping yang baik bisa memberikan image bahwa mereka itu orang-orang yang baik dan bahwa kerusakan itu hanyalah berasal dari orang-orang yang di sekitar mereka. Dan doa bagi mereka supaya mereka menerapkan Kitabullah memberikan image bahwa mereka itu layak untuk hal tersebar atau bahwa jalan tersebut penerapan Kitabullah tabaraka wa ta’ala hanya terbukti dengan terus menerus berdoa bagi mereka dan menangis di pintu mereka serta memelas kepada mereka, bukan dengan menghabisi mereka.

Di samping itu bahwa mendoakan penguasa di mimbar jum’at setelah menyebar dan merebak kebid’ahannya adalah telah menjadi tanda pada kebiasaan orang-orang lalu terhadap sikap wala (loyalitas) kepada orang didoakan dan sebagai bukti ketundukan terhadapnya serta masuk dalam kekuasaannya (perwaliannya). Oleh karena itu engkau bisa melihat mereka mengatakan dalam Tarikh: (Dan dia menjabat khilafah tahun sekian dan didoakan baginya dalam khutbah di atas mimbar ).

Atau (dia menguasai Halb dan menggugurkan doa bagi ‘Ubbaidiyyin di dalamnya serta menegakkan doa bagi Banu Al ‘Abbas ) Atau ( Dia dibai’at tahun sekian dan didoakan di atas mimbar )

Dan mereka menganggap pengguguran doa dan meninggalkannya semacam sikap keluar dari ketaatan atau celaan terhadap kekuasaannya terutama hal itu disertai doa bagi selain mereka (sebagai contoh silahkan lihat Al Bidayah wan Nihayah, Al Kamil karya Ibnu Atsir, dan kitab-kitab tarikh lainnya ).

Seadainya kebiasaan itu berlangsung hingga sekarang, tentulah terdapat bahaya (besar) dalam setiap doa bagi mereka, hari ini. Terutama sesungguhnya mereka itu tidak mengharuskan seorangpun atau memaksakannya untuk menjabat sebagai Iman dan Khatib, bahkan justru sesungguhnya orang yang menjabatnya adalah mengerahkan berbagai upaya untuk meraihnya, dan dia tidak mendapatkannya sehingga setelah melewati banyak hambatan dan test-test tertentu, dan terkadang dia mencari-cari berbagai koneksi dan perantara untuk mendapatkannya.

Oleh karena itu kami berupaya dan menganjurkan untuk shalat di belakang Imam yang tidak berdoa bagi mereka dengan bentuk doa apapun.

Akan tetapi bila kita terkena bencana dengan shalat di belakang orang muslim mastuurul hal yang tidak kita ketahui, kemudian kita dkagetkanya dengan doa-doa semacam itu yang tidak mukaffirah, maka kami tidak meninggalkan shalat di belakangnya itu dan kami tidak memerintahkan untuk mengulanginya  termasuk walaupun hal itu mengandung beberapa lawazim (konsekuensi ucapan) yang rusak, karena sesungguhnya termasuk hal yang sudah tetap –sebagaimana yang akan datang– bahwa konsekuensi suatu pendapat itu bukanlah pendapat, selama pemilik ucapan atau pendapat itu tidak terang-terang mengakui dan menganutnya. Dan selama jum’at itu dilaksanakan pada banyak tempat di zaman kita ini maka kesempatan memilih itu sangat luas, sehingga seyogyanya bagi orang muslim untuk berupaya shalat di belakang orang-orang dari kalangan Ahlus Sunnah, terutama saat menyebarnya bid’ah-bid’ah mukaffirah dan riddah. Tidak selayaknya dia menyerahkan kendali diennya terhadap orang-orang fasiq dan orang-orang fajir yang mana mereka itu sumber kekacauan pada dien ini, kecuali takut fitnah atau takut ketinggalan shalat oleh sebab susahnya cari pengganti atau orang yang utama.

Sesungguhnya keadaan jum’at atau jama’ah pada zaman kita ini adalah sangat leluasa dan tidak sempit seperti pada zaman dahulu, di mana dahulu jum’at tidak berbilang dalam satu negeri, sehigga siapa yang meninggalkan di belakang mereka berarti dia menyia-nyiakannya, karena di sana tidak ada pengganti, dan oleh karena itu salaf shalat di belakang orang-orang fasiq dan fajir bahkan di belakang ahli bid’ah . Kemudian ada perbedaan pendapat tentang keharusan mengulangnya sejalan dengan perselisihan dalam pengkafiran penganut paham bid’ah.

Syaikhul Islam berkata: (Bahkan mereka mewajibkan pelaksanaan jum’ah, ‘Iedain, shalat khauf[1], ibadah haji dan lainnya di belakang para penguasa yang fajir dan di tempat-tempat yang hasil dari ghashab, bila meninggalkan hal itu mengantarkan pada meninggalkan jum’ah dan jam’ah atau pada fitnah di tengah umat ). Majmu Al Fatawa 23/142.

Meninggalkan jum’at adalah dikhawatirkan atas orang yang meninggalnya di belakang mereka karena keberadaannya tidak berbilang, adapun fitnah, maka ini dikarenakan orang yang menangani urusan jum’at dan semisalnya adalah para penguasa atau para wakil mereka, dan merekalah orang-orang yang dimaksud dengan ucapan Ibnu Taimyyah (Di belakang penguasa yang fajir), dan dengan ucapan salaf (dan kita melihat (bolehnya) shalat, haji dan jihad di belakang imam-imam kita, baik mereka itu orang-orang baik ataupun fajir). Dan oleh karena itu maka di dalam sikap meninggalkan shalat di belakang mereka itu adalah ada semacam fitnah, karena terkandung di dalamnya celaan kepada pemimpinan mereka, dan menyerupai Khawarij yang memberontak kepada para gubernur dan penguasa dengan sekedar maksiat dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak sampai kepada kekafiran, dan bukan dimaksud dengan hal itu seluruh para imam-imam kampung dan mesjid, karena peluang memilih di tengah mereka adalah lapang dan tidak ada fitnah yang timbul pada sikap yang meninggalakan shalat di belakang salah seorang mereka, Syaikhul Islam berkata: (Dan sunnah yang berlaku adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat jum’at dan dan jama’ah bersama kaum muslimin. Dan para panglima perang yang mana mereka itu adalah wakil penguasa di pasukan menyampaikan khutbah terhadap mereka) …. Sehingga ucapan: (Dan begitu juga para khalifah sesudahnya, dan setelah mereka dari kalangan para raja Bani Umayyah dan sebagian ‘Abasiyyah ) … Majmu Al Fatawa (28 / 146).

Oleh sebab itu terdapat dalam Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Al Lalikaiy (418 H) dalam penuturan I’tiqad Abu Abdillah Sufyan Ibnu Sa’id Ats Tsaurry yang diceritakan terhadap Syu’aib Ibnu Harb, di mana beliau berkata di akhirnya (2/154), (Wahai Syu’aib, apa yang kamu tulis tidak bermanfaat sehingga engkau berpendapat (bolehnya) shalat di belakang setiap orang yang baik dan fajir, dan (berpendapat bahwa) jihad itu terus berlangsung hingga hari kiamat, serta sabar di bawah panji penguasa, baik zalim atau adil. Syu’aib berkata: Maka saya berkata kepada Sufyan: Wahai Abu Abdillah, shalat seluruhnya? Dia berkata: Tidak, tetapi shalat jum’at dan dua ‘ied, shalatlah di belakang orang yang engkau dapatkan. Dan adapun selain hal itu maka engkau boleh memilih-milih, janganlah engkau shalat kecuali di belakang orang yang engkau percayai dan engkau ketahui bahasa ia termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. (Dan hal itu disebutkan juga oleh Adz Dzahabiy dalam Tadzkiratul Huffadh (1/207) dan berkata setelahnya: (Dan ini Tsabit dari Sufyan).

Adapun bila mungkin shalat di belakang selain mereka karena berbilangnya pelaksanaan jum’at, maka tidak seorang pun dari salaf mengatakan bahwa itu wajib dan harus di belakang orang-orang fajir, di mana orang yang meninggalkannya di bid’ahkan atau diingkari. Dan oleh sebab itu (Para Ulama berbeda pendapat tentang imam bila dia fasiq atau ahli bid’ah, sedangkan mungkin shalat di belakang orang adil, maka dikatakan sah shalat di belakangnya, dan menurut pendapat lain: Tidak sah bila memungkinkan shalat di belakang orang adil, dan ia adalah salah satu dari dua riwayat yang berasal dari Malik dan Ahmad…) Al Fatawa 23/204.

Adapun bila doa si khatib buat si thaghut agar panjang umur atau sembuh dari penyakit atau agar tetap berkuasa, jaya dan menang dan lainnya yang memestikan darinya keinginan tetap, menang dan kuatnya kekafiran serta panjangnya masa kekuasaan dan pemerintahanya, maka hal ini selama si pembicaraannya tergolong orang yang berilmu dan bukan tegolong orang yang jahil akan keadaan mereka maka tidak halal menyamakannya dengan orang yang telah disebutkan dari kalangan  awam, lanjut usia, dan yang lainnya dan yang samar atas mereka keadaan para thaghut itu dan muncul dari mereka ungkapan-ungkapan doa atau pujian terhadapnya, yang biasanya ini disebabkan pelayanan atau bantuan yang muncul dari mereka atau atas nama mereka.

Justru hal ini bersumber dari orang yang mengaku  berilmu adalah lebih busuk dan lebih buruk, dan pelakunya selama keadaannya seperti itu adalah lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan, akan tetapi tatkala pernyataan-pernyataan ini kembali kepada bab takfier dengan kemestian konsekunsi pernyataan karena ada ihtimal keinginannya berdoa bagi dia dengan kemenangan atas yahudi atau Amerika atau yang lainnya yang suka didegung-degungkan oleh sebagian para khatib yang dungu dalam kondisi-kondisi krisis yang dibuat-buat antar berbagai Negara, maka itu tidak halal takfier dengan hal itu saja.

Semestinya dijelaskan kepadanya lawazim (konsekuensi kemestian) doanya yang kufur, kemudian bila dia iltizam (komitmen) dengannya maka dia telah kafir dan tidak halal shalat di belakangnya.

Adapun sebelum itu, maka sesungguhnya hukum shalat di belakang orang-orang semacam dia adalah seperti hukum shalat di belakang penganut bid’ah mukaffirah yang mana pendapat-pendapat mereka itu memestikan kekafiran, seperti Jahmiyyah, Qadariyyah dan yang lainnya, sedangkan telah lalu perselisihan salaf dalam penerapan vonis kafir terhadap individu mereka, serta cabang dari perselisihan ini adalah perselisihan mereka tentang hukum shalat di belakang mereka.

Dan telah lalu ucapan Syaikhul Islam: (Adapun shalat di belakang orang yang dikafirkan dengan sebab bid’ah dari kalangan ahlul ahwa, maka di sana mereka telah berselisih tentang hukum shalat jum’at di belakangnya, orang yang berpendapat bahwa orang itu kafir, maka dia menyuruh untuk mengulang shalatnya. Akan tetapi masalah ini berkaitan dengan takfier Ahlul Ahwa (penganut paham bid’ah), sedangkan orang-orang masih berselisih dalam masalah ini). Majmu Al Fatwa 23/195.

Inilah, sungguh saya telah memberikan rincian dalam hal ini, dan saya kutip ucapan para imam dalam hal meninggalkan shalat di belakang mereka dan perintah mereka terhadap orang yang shalat (di belakang mereka) karena takut atau taqiyyah untuk mengulangi, serta sikap keras banyak dari mereka dalam hal ini (yang saya cantumkan)  dalam tulisan saya (Mesjid Dlirar dan hukum shalat di belakang wali-wali thaghut dan para wakilnya). Dan pendapat yang kuat bagi saya adalah pendapat meninggalkan shalat di belakang mereka walau sebagai bentuk hajr mereka untuk membuat mereka jera, pengingkaran terhadap mereka dan tidak mengakui mereka atas kebatilan dan kemungkarannya yang selalu mereka dengung-dengungkan…

Dan sungguh serupa sekali mereka itu dengan sebagian orang-orang yang membela-bela para thaghut yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab saat beliau berkata: “Dan siapa yang membela-bela mereka atau mengingkari atau terhadap orang yang mengkafirkan mereka atau mengklaim bahwa perbuatan mereka ini walaupun memang batil (tetapi) tidak mengeluarkan mereka kepada kekafiran, maka status minimal orang yang membela-bela ini adalah fasiq yang tidak diterima tulisannya, dan kesaksiannya serta tidak (boleh) shalat di belakangnya…) (Ad Durar As Saniyyah, Kitab Hukum Al Murtad hal: 71).

Dan ini sangat kuat dengan berbilangnya jum’at dan jama’ah pada zaman kita ini, sehingga orang memiliki kelapangan dalam urusannya, dan keberadaan dia meninggalkan shalat di belakang mereka itu tidak menyebabkan dia meninggalkan jum’at dan jama’ah.

Akan tetapi tatkala masalah ini adalah masalah ijtihadiyyah dan salaf sendiri telah berselisih dalam hal yang serupa dengannya, maka kami tidak mengingkari orang yang shalat di belakang mereka dan tidak menyuruhnya untuk mengulangi shalat, sebagaimana tidak halal bagi seorangpun mengingkari kami atau yang lainnya karena sikap tidak shalat di belakang orang-orang semacam mereka, apalagi kalau membid’ahkan atau menuduh ghuluw dan takfier karenanya, karena sesungguhnya orang yang mencerna ucapan-ucapan salaf dalam tentang orang seperti ini, maka ia akan mendapatkan bahwa mayoritas mereka berpendapat untuk meninggalkan shalat di belakang mereka, dan di antara mereka ada yang memerintahkan untuk mengulangi shalat.

Adapun bila si khatib dalam doanya buat thaghut agar menang, jaya dan lain-lain itu tegas-tegasan menyatakan keinginan agar thaghut itu menang atas para muwahhidin dari kalangan mujahidin yang menentang pemerintahanya, maka sikap ini termasuk bentuk tawalli, dan membantunya atas para muwahhidin dan yang mendukungnya atas mujahidin yang berupaya menghancurkan dan menjatuhkan kemusyrikan dan undang-undangnya untuk merealisasikan tauhid dengan menerapkan syariat  Allah tabaraka  wa ta’ala saja dan mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada makhluk kepada peribadatan kepada  Allah saja, serta dari sikap mengikuti arbab yang membuat undang-undang cerai berai kepada ibadah terhadap Allah yang maha Esa lagi Maha Perkasa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan siapa yang tawalli kepada mereka di antara kalian, maka sesungguhnya dia itu tergolong mereka”. (Al Maidah: 51)

Dan para ulama telah menegaskan bahwa membela kaum musyirikin atas kaum muwahiddin adalah kekafiran, dan mereka berdalil untuk hal itu dengan dalil-dalil yang banyak sekali yang diambil dari Al Kitab dan As Sunnah dan telah kami paparkan sebagiannya ditempat lain[2].

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam banyak tempat di kitab Ash Sharimul Maslul (206-207) bahwa pembelaan, jihad dan muharabah (sikap memerangi) itu bisa dengan lisan seagaimana bisa dengan tangan, bahkan dengan lisan terkadang lebih kuat dari pada tangan.

Maka apa gerangan bila hal itu disertai talbies (pengkaburan), tadlies (manipulasi) dan pembelaan bagi thaghut dengan dalil-dalil syar’iy dan penuh wahyu, beliau radliyallahu ‘anhu berkata: (Al muharabah itu ada dua macam: muharabah dengan tangan dan muharabah dengan lisan, sedangkan muharabah dengan lisan dalam masalah dien ini adalah lebih menyakitkan daripada muharabah dengan tangan ). Ash Sharimul Maslul 385.

Dan sudah maklum bahwa  orang yang melakukan hal seperti hal ini, hanyalah melakukannya dan menjerumuskan dirinya kedalamnya seraya dalam keadaan tidak dipaksa, sebagai bentuk kemunafikan dan mencari muka di hadapan mereka, karena kalau tidak demikian sesungguhnya pemerintah-pemerintah yang ada tidak mengharuskan si khatib untuk melakukan hal itu, justru pemerintah itu merasa cukup dengan sesuatu di bawah itu berupa doa apa saja darinya sebagaimana yang bisa disaksikan dari realita keadaan banyak para imam dan para khatib. Andai saja pengharusan mereka terhadapnya dianggap sebagai ikrah syar’iy, tentulah pada sikap terus menerus dan melampai batas orang yang melakukan hal itu dengan melebihi doa yang mereka paksakan terhadapnya terdapat pengguguran alasan ikrah itu. Dan telah lalu dalam syarat-syarat sahnya ikrah dan penganggapannya bahwa tidak nampak pada orang yang dipakasa itu sesuatu yang menunjukkan pada sikap terus menerus (di atas kekafiran itu).

Maka bagaimana, sedangkan ilzam (pengharusan) mereka untuk berdoa itu pada dasarnya tidak sampai pada batasan ikrah yang sebenarnya yang denganya diudzur orang yag menampakkan sesuatu dari hal-hal yang membinasakan ini. Coba siapa yang memaksa si khatib atau si imam itu untuk terus memegang jabatan khatib atau imam tersebut??

Dan persis seperti itu dan bahkan lebih buruk, bila si imam atau si khatib itu terang-terangan memuji demokrasi mereka (Yaitu agama kafir mereka) atau mengajak ikut serta dalam (PS=Pesta Syirik) demokrasi, dan memuji undang-undang yang kafir, atau dia sendiri ikut serta dalam menerapkan atau membuat undang-undang ini, atau dia terolong bala tentaranya, ansharnya dan aparat pelindungnya, atau dia tergolong orang yang terjun langsung tawalli terhadap mereka atas para muwahhidin serta memberikan laporan-laporan (mereka kepada para thaghut), sesungguhnya di antara macam orang jenis ini ada orang-orang yang menjadi tentara yang selalu hadir lagi sukarela buat mereka serta lebih tulus terhadap mereka daripada angkatan bersenjata dan dinas keamanannya yang resmi.

Dan Allah tabaraka wa ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,”. (An NIsa: 140)

Di dalam ayat itu Allah tabaraka wa ta’ala telah menghukumi dengan hukum yang nyata bahwa orang yang duduk bersama orang-orang yang membicarakan kekafiran tanpa dipaksa, maka sesungguhnya dia itu kafir seperti mereka, dan bahwa  Allah subhanahu akan mengumpulkannya bersama mereka di Neraka jahanam, tempat kembali mereka di akhirat, sebagaimana mereka berkumpul bersamanya dan tidak menjauhi mereka atau berlepas diri dari mereka di dunia saat mereka mengucapkan kekafiran tanpa paksaan.

Syaik Sulaiman Ibnu Abdullah Ibnu Muhmmad Ibnu Abdil Wahab rahimahullah berkata: (Ayat ini sesuai dhahirnya, yaitu sesungguhnya seseorang bila mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, terus dia malah duduk di sisi orang-orang kafir yang memperolok-olokkan itu tanpa paksaan dan tanpa pengingkaran serta tanpa berdiri meninggalkan mereka sampai mereka memasuki pembicaraan lain, maka dia itu kafir seperti mereka meskipun tidak melakukan apa yang mereka lakukan ..) Ad Durar As Saniyyah Fil Ajwibah An Najdiyyah Juz Al Jihad 72

Namun orang zalim itu malah mengganti ucapan yang telah dikatakan kepada mereka, yaitu seharusnya mereka itu memenuhi perintah  Allah ta’ala untuk tidak duduk beserta mereka di saat mendengar kekafiran mereka dan sanjungan mereka terhadap undang-undangnya atau mengajak untuk andil dalam menerapkan atau merencanakan serta  menerapkan demokrasinya: Eh mereka malah duduk-duduk bersama mereka dan tidak merasa cukup dengan duduk-duduk dan mendengarkan hal itu dari mereka dalam khutbahnya tanpa pengingkaran, bahkan justru mereka menambahkan terhadap hal itu sikap mereka menyelisihi perintah  Allah dan hukum-Nya, di mana Dia berfirman:

“Dan Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas kaum mukminin ”. (An Nisa: 141).

Di mana mereka mengedepankan orang-orang yang membicarakan kekafiran dan bermakmum terhadap mereka di dalam shalat.

Di mana di dalam pengedapanan mereka, shalat di belakang mereka dan bermakmun terhadap mereka terkandung sikap pemuliaan terhadap kekafiran mereka atau pengakuan terhadap mereka atas kekafirannya, yang lebih dahsyat dan lebih nampak dari sekedar duduk beserta mereka. Sehingga ia itu masuk secara lebih utama dalam larangan. Dan seandainya dalam hal itu tidak ada kecuali keumuman firman Allah tabaraka wa ta’ala:“Maka janganlah kamu duduk bersama mereka”. Tentulah dia cukup dalam larangan shalat di belakang mereka, karena shalat itu tidak luput dari duduk.

Sedangainya bahaya di sini; adalah bahwa menyelisihi hal itu adalah masuk dalam ancaman “Tentulah kamu serupa dengan mereka“ dan ini bukan hanya sekedar terkandung batalnya shalat, akan tetapi batal dan runtuhnya keIslaman dan tauhid sebagaimana yang engkau ketahui.

Kemudian sesungguhnya para imam dan para khatib yang keadaannya seperti ini, sungguh mereka itu bukan bagian dari kita dan kita bukan bagian dari mereka, dan tidak ada penghargaan dan tidak ada kehormatan bagi mereka atau untuk shalat di belakang mereka. Dan telah lalu hadits yang telah diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim Dan An Nasai dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Bila mereka bertiga, maka salah seorang hendaklah mengimani mereka…) dan setiap khatib atau imam yang keadaannya seperti mereka, maka dia itu bukan bagian dari kaum muslimin, namun dia itu tergolong kaum kafir dan kaum musyrikin serta bala tentaranya.

Dan firman-Nya tabaraka wa ta’ala: “Dan Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas kaum mukmin” adalah perintah dan hukum bahwa tidak ada kekuasaan yang bersifat dien bagi orang kafir atas orang muslim, dan tidak boleh menjadikannya sebagai imam, dan tidak boleh mengedepankan orang kafir atas orang mukmin.

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman seraya mengingkari orang yang menyamakan antara orang muslim dan orang kafir:

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka ? amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (Al Jatsiyah: 21)

Maka apa gerangan dengan orang yang mendahulukan orang kafir atas orang muslim?

Dan Dia tabaraka wa ta’ala:

“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah,” (Al Hasyr: 20)

Sedangkan kata kerja yang terdapat dalam konteks atau penafian adalah mengandung nakirah, sehingga ia sama sekuat ungkapan “Tidak sama“. Makanya ia mencakup setiap hal kecuali apa yang dikhususkan dalil. Sedangkan ini adalah berkaitan dalam hal menyamakan.

Maka apa gerangan dengan mengedepankan mereka dan memuliakannya melebihi orang muslim dengan memberikan kepada mereka perwalian dan kepemimpinan di dalam urusan agama …?

Dan tidak diragukan lagi bahwa imamah itu terkandung sikap pemuliaan dan pengedepanan, oleh sebab itu penghapal Al Qur’an didahulukan di dalamnya.

Bila mereka sama dalam hal qira’ah (bacaan)nya, maka didahulukan orang yang paling alim akan Sunnah, kemudian yang lebih dahulu hijrah, terus paling tua. Ini digariskan oleh penutup Nabi, kemudian datang orang yang tidak memiliki bagian (dalam Islam ini), mereka mengedepankan kaum musyirikin dan murtadin atas itu semua …Enyahlah …Enyahlah …

Dan di dalam hadits dituturkan Al Bukhari dalam shahihnya secara ta’liq:“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya”

Dan itu telah lalu….

Dan  Allah ta’ala berfirman terhadap Ibrahim ‘alaihissalam:

“Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Al Baqarah: 124)

Maka tidak sah bagi muwahhid untuk ridla seraya tidak dipaksa menjadikan orang kafir sebagai pemimpinnya di dalam  urusan dunianya, apalagi urusan agamanya.

Sesungguhnya manusia di hari kiamat dipanggil dengan orang-orang yang dia bergabung dengannya di dunia, dan mereka digiring di belakang orang-orang yang diikuti dan yang dicontohnya, sehingga mereka sama-sama dan berkumpul di tempat kembali, sebagimana  mereka sama-sama dan berkumpul pada urusan mereka di dunia. Bila buruk ya buruk dan bila baik ya baik

Allah swt berfirman:

“(Ingatlah) suatu hari (Yang dihari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinya, dan barang siapa yang diberikan kitab amalanya di tanggan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Dan barang siapa yang buta (Hatinya) di dunia ini niscaya di akhirat (Nanti) ia akan, lebih buta (Pula) dan lebih tersesat dari jalan (Yang benar). (Al Isra: 71-72).

Mujahid, Qatadah dan yang lainya berkata: (Al Imam adalah orang yang diikuti. Sehingga dikatakan: Datangkan para pengikut Ibrahim ‘Alaihissalam , datangkan pengikut Musa ‘Alaihissalam, datangkan pengikut syaithan, datangkan pengikut berhala. )…

Sedangkan ayat ini adalah umum, dan ucapan para ulama di dalamnya sangat beragam. Dan keumumannya menjadikan bagi orang yang ridla dengan imamah orang kafir dalam shalat bagian dari ancaman ini.

Di dalam hadis Muttafaq ‘alaih tentang melihatnya orang-orang mu’min terhadap Tuhannya di hari kiamat, ada ungkapan : Maka sang penyeru, berseru : Siapa yang menyembah sesuatu maka hendaklah mengikutinya. Maka orang yang menymbah matahari, mengikuti matahari. Siapa yang menyembah bulan maka dia mengikuti bulan, dan orang yang menyembah thaghut maka dia mengikuti thaghut… hingga ucapannya : Sehingga tersisalah orang yang menyembah Allah… terus dikatakan kepada mereka : Apa yang menahan kalian sedangkan manusia telah pergi ? Maka mereka menyatakan: Kami telah meninggalkan mereka sedangkan kami lebih membutuhkan kepadanya pada hari ini dari pada diri kami…hingga akhir hadits.

Dalam hal ini terdapat ancaman yang dasyat dan tahdzir yang kuat bagi orang yang terang-terangan mengikuti aimmatul kufri atau mengekor kepada mereka atau terhadap anshar dan auliya mereka. Dia memilih untuk mengikuti mereka dan mengekor terhadapnya daripada meninggalkan mereka yang merupakan jalan keselamatan dan penghindaran dari mengikuti dan ikut serta dengan mereka di tempat kembalinya pada hari kiamat.

Oleh karena itu kami tidak memandang shalat di belakang orang yang keadaannya seperti ini, dan kami memandang sikap menjauhi shalat di belakang mereka adalah tergolong lawazim bara’ah kami dari thaghut dan auliyanya. Para imam yang sifatnya seperti ini mereka itu pada hakikatnya tergolong wali-wali thaghut dan ansharnya, mereka memilih untuk berada di barisan, golongan, jajaran dan hizbnya. Sehingga mereka berada di satu lembah dan sisi, sedangkan kami berada di lembah dan sisi yang lain. Kami dan mereka adalah dua seteru yang berselisih tentang rabb mereka dan tentang tauhid-Nya.

Kami telah menadzarkan diri kami untuk membentengi syari’at dan tauhid, sedangkan mereka telah mengerahkan jiwa dan umur mereka untuk membentengi undang-undang, syirik dan tandid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk meninggalkan dan menjauhi kaum musyrikin dan agar api kita dengan api mereka tidak saling melihat sebagai bentuk sikap yang lebih dalam hal mufaraqah (sikap meninggalkan), saling menjauh dan bara’a, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah :

Aku berlepas diri dari setiap muslim yang muqim di tengah kaum musyrikin, mereka berkata: Wahai Rasululla, memang bagaimana? Beliau berkata: “Api keduanya tidak saling melihat “.

Al Imam Ahmad (5/5), An-Nasai dan Al Hakim (4/600), beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy, mereka meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

Setiap muslim atas muslim adalah haram, dua bersaudara yang saling menolong,  Allah ‘azza wa jalla tidak menerima amalan dari orang musyrik setelah dia masuk Islam sehingga ia meninggalkan kaum musyrikin kepada kaum muslimin ”.

Maka bagaimana masuk akal setelah ini kita ridla dengan mereka atau menjadikan mereka sebagai Imam-Imam yang dikedepankan?

Oleh sebab itu kami suka menampakan terang-terangan biasanya dengan meninggalkan shalat di belakang mereka. Dan seandainya kami dikagetkan dengan sesuatu dari hal itu di tengah-tengah khutbah orang yang sebelumnya bagi kami adalah mastrul hal, maka kami sama sekali tidak keberatan dari memutuskan shalat atau keluar dari khutbah, karena sesungguhnya kami sangat senang menampakan bara’a kami dari thaghut dan ansharnya, dan kami bersengaja menampakan permusuhan kami terhadapnya dan terhadap wali-walinya yang membelanya dengan lisan atau dengan senjata, sebagaimana itu sikap Tha-ifah Manshurah yang nampak di atas perintah Allah yang mana kita mengikuti jejaknya. Dan sebagaimana hal itu sebelumnya ditampakan oleh Al Khalil Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dan yang berada di atas jalannya dari kalangan para nabi dan kaum mu’minin yang telah  Allah jadikan sebagai uswah dan qudwan bagi kita dalam hal ini,  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya : “Sesungguhnya kami telah berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain  Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan tampak antara kami dengan kalian permusuhan den kebencian selama-lamanya sehingga kalian beriman kepada  Allah saja”. (Al Mumtahanah: 4)

Dan terakhir, bila saja meninggalkan shalat di belakang umara yang dzalim yang belum keluar dari Islam adalah hal  tercela yang telah dihati-hatikan darnyai oleh salaf dan ulama kita  terdahulu, karena dalam sikap itu terkandung macam penentangan dan pengusikan akan kekuasaan mereka serta penyerupaan akan thariqah Khawarij yang mana mereka itu menentangnya dan meninggalkan shalat di belakang mereka serta mengobarkan perang karena sekedar sebagian maksiat yang dilakukan para penguasa itu tanpa mereka menampakan kekafiran yang nyata, maka sesungguhnya meninggalkan shalat tersebut pada hari ini di belakang aimatul kufri dan auliyanya setelah mereka menampakan berbagai macam kekafiran yang nyata dan syirik yang nampak adalah menjadi tanda bagi Anshar Tauhid dan pengusung Thaifah Dhahirah Manshurah yang tidak perduli dengan orang yang menyelisihi dan yang menggembosi.

Dan bila dalam hal itu terkandung macam penentangan dan pengusikan akan pemerintahan para thaghut itu dan kekuasaan para auliya mereka atas urusan dien dan dunia kita, maka itulah hal baik yang diharapkan.

Oleh karena itu kami menampakan dan menjaharkannya serta bersemangat terhadapnnya sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada  Allah Ta’ala, serta sebagai bentuk perealisasian tauhid-Nya subhanah dan sebagai bentuk bara’a dari para thaghut dan auliya mereka di mana saja berada dan bagaimanapun status mereka itu.

Perhatian akan kekeliruan sebagian orang yang tergesa-gesa dan kaum yang ghuluw di dalam pengkafiran mereka terhadap orang muslim karena sekedar pujian orang-orang kafir terhadapnya atau pujian mereka terhadap akhlaknya.

Dan yang mesti diingatkan di sini dalam hal kebalikan ini bahwa sesungguhnya tidak boleh menetapkan sangsi apalagi menganggap bid’ah atau mengkafirkan dengan sebab pujian atau sanjungan orang-orang kafir terhadap akhlak atau metode sebagian muwahhidin, selama kaum muwahhidin itu istiqamah di atas millah Ibrahim lagi menampakan bara’nya dari orang-orang kafir atau musyrikin itu, juga pujian itu tidak membahayakan mereka atau memalingkannya dari jalan yang benar.

Dosa apa atas mereka dan dengan sebab kesalahan apa mereka dikecam, terutama bila hal itu dikatakan sebagai pujian terhadap metode mereka dalam dakwah dan interaksi: Sebagai kebalikan apa yang ditampakan oleh sebagian orang berupa sikap kaku atau celaan murni atau lontaran-lontaran yang tidak ilmiyyah dan tidak teratur dengan batasan-batasan syariat.

Sama saja pujian orang-orang kafir itu muncul atas dasar penerimaan dan sikap obyektif ataupun atas dasar tujuan makar, tipu daya dan penggebosan di tengah barisan, karena mereka tahu benar bahwa hal ini atas sebagian orang-orang yang akalnya lemah akan menjadi fitnah atau faktor pendorong untuk bersikap dengki, aniaya dan hasud. Dan yang mana hal itu terkadang membuahkan permusuhan dan perpecahan dan itu adalah apa yang selalu diupayakan dan diinginkan oleh orang-orang kafir, dan saya telah mengalami hal seperti, serta saya melihat orang yang mencela saudara-saudaranya Al Muwahhidin dengan sebab pujian orang-orang kafir terhadap akhlaq mereka dan menjelek-jelekan mereka karena sebab pujian kaum kafir terhadap metode mereka dalam bergaul dan berinteraksi. Ini adalah termasuk makar musuh-musuh Allah yang dilakukan siang malam, seandainya para du’at itu taqwa kepada  Allah pada diri mereka dan para ikhwannya, dan mereka mau memahami sirah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersabar di atas jalannya serta berpandangan jeli akan jalan dan metode-metode kaum mujrimin dalam membuat tipu daya terhadap dakwah dan para du’at, tentulah tipu daya itu tidak membahayakan mereka sedikitpun… karena  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali ‘Imran: 120)

Tarohlah bahwa mereka itu benar jujur dalam pujiannya lagi tidak bermaksud membuat tipu daya, maka aib apa atas muwahhid dalam hal itu selama aqidahnya nampak lagi jelas dan selama takfier dia terhadap mereka diketahui orang jauh dan dekat serta bara’anya dari mereka dan undang-undangnya nampak terang.

Bukankah telah dikatakan bahwa keutamaan itu adalah apa yang disaksikan oleh musuh ? (Itu adalah pengaduan yang nampak cacatnya di hadapanmu)

Bukankah orang-orang kafir Quraisy mensifati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ash Shadiq Al Amin?? dan di dalam Shahih Al Bukhari (Kitab Bad’il Wahyu) ada hadits pertanyaan-pertanyaan Heraklius terhadap Abu Sufyan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana di dalamnya ada ucapannya: “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum mengatakan apa yang dia katakan? Abu Sufyan berkata:”Tidak.“ Dia bertanya: “Apakah dia berkhianat?” Dia menjawab: “Tidak”, hingga pertanyaannya: “Apa yang dia perintahkan kepada kalian? Dia menjawab: Dia berkata: Beribadahlah kalian kepada Allah saja dan janganlah kalian menyekutukan sesuatupun dengannya serta tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian…” Dan dia memerintahkan kami untuk shalat, jujur, menjaga harga diri dan shilaturrahmi).

Dan di dalam Musnad Al Imam Ahmad dari hadits Abdillah Ibnu “Amr -akan datang isyarat ke arah sana- bahwa orang-orang kafir Quraisy selalu mengingatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengancamnya karena beliau mencela tuhan-tuhan mereka, dan di dalam hadits itu bahwa beliau lewat ke depan mereka sedangkan mereka sedang melakukan hal itu dan beliau memperdengarkan kepada mereka apa yang membuat mereka tidak suka, Abdullah berkata: Sehingga orang yang paling dengki sebelum itu membujuk rayunya dengan perkataan yang paling baik yang ia dapatkan, sampai-sampai ia mengatakan: “Pergilah wahai Abdul Qasim…Pergilah dalam keadaan baik…. demi  Allah engkau ini tidak bodoh”.

Perhatikan ucapannya: (Membujuk rayunya dengan perkataan yang paling baik yang ia dapatkan). Dan seperti hal itu apa yang  Allah Ta’ala sebutkan dalam kitabnya berupa ucapan sebagian penghuni penjara kepada Nabiyyullah Yusuf sedangkan mereka itu berlainan agama dengan Yusuf:

“Sesungguhnya Kami memandang kamu Termasuk orang-orang yang pandai (mena’birkan mimpi).” (Yusuf: 36)

Dan:

“(setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf Dia berseru): “Yusuf, Hai orang yang Amat dipercaya,” (Yusuf: 46)

Dan itu dikarenakan mereka melihat keadaan, akhlak dan perilakunya.

Juga ucapan istri Al Aziz tatkala jujur mengaku:

“Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf: 51)

Dan sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sarat dengan contoh hal itu. Al Bukhari meriwayatkan dalam Ash-Shahih di (Kitab Manaqib Al Anshar) dari hadits Aisyah radliyallahu ‘anhu pada kisah hijrah Abu Bakar radliyallahu ‘anhu menuju Habasyah serta jiwar (perlindungan) Ibnu Ad Dughnah baginya dan mengembalikannya ke Mekah, dan di dalamnya ada ucapan Ibnu Ad Dughnah terhadap Abu Bakar: (Sesungguhnya orang sepertimu tidak (layak) keluar dan dikeluarkan, sesungguhnya engkau mengusahakan (mendatangkan) sesuatu yang tidak ada dan menyambungkan hubungan (shilaturrahmi), menanggung beban tanggung jawab, menjamin tamu, membantu yang dalam kesusahan, maka aku adalah pelindung bagimu kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negerimu). (3905)

Dan seperti hal itu juga apa yang diriwayatkan Al Bukhari dalam (Kitabul Jihad was Siyar) dalam kisah penawanan Khubaib Al Anshariy, dan di dalamnya ada pujian Bintul Harits Ibnu ‘Amir terhadap Khubaib saat beliau menjadi tahanan di tengah mereka, terus beliau meminjam pisau dari untuk mencukur kemaluannya, maka wanita itu meminjamkannya, kemudian beliau mengambil anak wanita itu saat ibunya lengah, wanita itu berkata: (Saya dapatkan dia telah mendudukan anak itu di atas pahanya, sedangkan pisau itu di tangannya, maka saya tersentak dengan sentakan yang diketahui Khubaib pada wajahku), Khubaib berkata: Kamu takut saya membunuhnya? saya tidak mungkin melakukan hal itu. Wanita itu berkata: (Demi Allah saya tidak melihat tawanan yang lebih baik Khubaib, demi Allah sesungguhnya saya telah melihatnya suatu hari makan anggur segar di tangannya, sedangkan dia itu dibelenggu besi dan di Mekah itu tidak ada buah-buahan) (3045).

Dan menelusuri hal itu adalah sangat panjang dan yang menjadi bukti dari hal itu adalah sangat nampak.

Dan di sisi lain juga, tidak selayaknya bagi orang yang berakal memperdulikan atau menoleh celaan musuh-musuh Allah dan kaki tangan mereka terhadap salah seorang ikhwan tauhid, atau menengok pada tuduhan-tuduhan yang mereka labelkan terhadapnya, seperti tuduhan tasyaddud (bersikap mempersulit), atau ta’ashshub (fanatik) dan takfieriy atau kasar atau teroris atau tuduhan lainnya, selama dengan lebel-lebel ini mereka dicela karena sebab hal-hal kebenaran pada posisinya yang terpuji, karena dalam banyak tempat di Kitab-Nya Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan sikap keras dan kasar terhadap musuh-musuh-Nya yang memerangi dien-Nya dan terhadap kaum munafiqin serta orang-orang lainnya yang tidak suka terhadap  syariat-Nya. Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai Nabi jihadilah orang-orang kafir dan kaum munafiqin, dan bersikap keraslah terhadap mereka ”. (At Taubah: 73)

Dan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman perangilah orang-orang kafir disekitar kamu dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu”.  (At Taubah: 123)

Dan firman-Nya:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (Al Fath: 29)

Dan firman-Nya:

“Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,” (At Taubah: 120)

Dan dia berfirman dalam mansifati ahli dakwah tauhid dan ansharuddin:

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mu’min yang bersikap kasar terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela ”. (Al Maidah: 54)

Dan ayat-ayat Al Qur’an lainnya…

Sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sarat dengan praktek-praktek amaliy akan hal itu dan sangat panjang menelusurinya…

Semua itu disyariatkan di tempat dan posisinya, dan tidak apa-apa bagi seorangpun untuk mengikuti dan mencontoh serta mempraktekannya, akan tetapi yang menjadi dosa atas orang-orang yang tafrith dan taqshir di dalamnya serta lemah dari menegakkannya adalah dia mencela orang-orang yang menegakkannya, mencibir mereka dan mencela mereka karenanya dan dengan sebabnya, itu adalah pengaduan yang aibnya nampak (jauh) darimu. Dan tidak layak bagi orang yang berakal menghiraukan celaan selama orang-orang yang dimaksud itu berada di atas minhaj Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam, lagi berpegang teguh pada Millah Ibrahim, mencontoh tuntunan salaf mereka lagi tidak cenderung kepada ifrath atau tafrith. Dan saya tegaskan batasan penting ini, karena sesungguhnya sebagian orang yang menyimpang dari minhajun Nubuwwah kepada ifrath atau tafrith ini serta berbuat aniya kepada diri dan dakwah mereka dengan hal itu engkau bisa melihat mereka menghibur diri mereka dengan hal seperti ini yang kami ingatkan dengannya di sini, padahal tidak ada penghiburan bagi mereka dengan hal seperti ini selama mereka itu telah melakukan hal itu dengan tangan mereka sendiri dan aniaya terhadap dakwahnya dengan penyimpangan-penyimpangan dan sikap ngawurnya, justeru hiburan (‘azaa) dengan hal itu hanyalah bagi orang yang mengupayakan dirinya untuk istiqamah di atas manhaj dakwah para Nabi, merekalah orang-orang yang berbuat baik yang dijanjikan kemenangan dan kebersamaan oleh Allah tabaraka wa ta’ala Dia berfirman:

Dan orang-orang berjihad untuk (mencari keadilan) kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya  Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik ”.  (Al ‘Ankabut: 69)

Dan selama mereka itu termasuk para pewaris dakwah para Nabi dan Rasul, maka mereka itu mesti mendapatkan sebagian konsekuensi logis warisan ini. Dahulu Fir’aun berkata tentang Musa ‘alaihissalam:

Sesunguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi(Al Mukmin: 26)

Dan sebelumnya pernah dikatakan kepada Nuh dan kaum mu’minin para pengikutnya:

Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta(Hud: 27)

Dan orang-orang kafir Quraisy juga mensifati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ini menganggap bodoh pemikiran mereka, mencela nenek moyang mereka, menghina dien mereka, memecah belah persatuan mereka dan memaki tuhan-tuhan mereka[3] padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela nenek moyang mereka dan apa yang mereka ibadati dengan celaan begitu saja, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang dari melakukan hal itu selama itu menjadi pintu yang bisa mendorong orang kafir untuk mencela Allah secara aniaya tanpa ilmu, dan juga sesungguhnya di antara yang mereka ibadati itu adalah malaikat dan orang-orang saleh yang tidak boleh dicerca, akan tetapi bila beliau menelanjang alihah mereka yang batil dan menampakan bahwa ia tidak bisa mendatangkan manfaat dan madlarat dan tidak bisa menolong mereka sedikit pun, serta mengajak untuk kufur terhadapnya dan bara’ dari peribadatannya, menjelaskan kesesatan nenek moyang mereka dalam mengada-ada dan mereka-rekanya, dan menghati-hatikan dari taqlid terhadap mereka atau mencela sikap mengikuti mereka atas hal itu, maka mereka menjadikan hal itu sebagai celaan, dan mereka mengatakan: Dia telah menghina tuhan-tuhan kami, mencerca nenek moyang kami dan memecah belah persatuan kami.

Dan begitulah para pewaris mereka dari kalangan kaum musyrikin undang-undang dan para penyembah UUD hari ini, bila kami menjelaskan kebusukan undang-undang mereka, kami tampakan kekafiran dan kontradiksinya, kami hati-hatikan dari aturan-aturan mereka yang sama sekali bukan berasal dari Allah, dan kami jelek-jelekan dia dan para pembuatnya, maka mereka mengatakan tentang kami: Kaum militan, Khawarij, Takfiriyyun dan para teroris…yang membangkang  terhadap dien mereka (undang-undang). Dan mereka mencap dakwah jihad dan kekafiran kami terhadap mereka sebagai tindakan yang tidak syar’iy (tidak sah) yaitu tidak sesuai undang-undang, dan mereka menuduh kami sebagai pemecah belah persatuan nasional mereka yang bersipat berhalaisme lagi jahiliyyah,[4] persis apa yang dikatakan kaum musyrikin Quraisy (Dia memecah belah persatuan kami (Hati mereka sangat serupa)

Tidak ada dosa seorangpun dari kalangan muwahhidin dalam satupun dari tuduhan-tuduhan itu semuanya selama mereka itu berjalan di atas tuntunan Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi tidak cenderung kepada ifrath atau tafrith. Sungguh itu adalah tuduhan-tuduhan para penentang tauhid dan para pemeluknya sejak dulu yang saling mewarisi satu sama lain di setiap zaman, seolah satu sama lain saling mewasiatkan hal itu :

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang di katakan itu sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas(Adz-Dzariyat: 53)

Di samping ini sesunguhnya mayoritas apa yang dicela oleh musuh-musuh Allah sebagaimana apa yang telah engkau saksikan terhadap sebagian para pemula yang intisab kepada dakwah tauhid adalah semangat mereka dan sikap kerasnya yang berlebihan yang terkadang tidak terkontrol dengan batas-batasan syari’at, atau karena penempatannya bukan pada tempatnya di mana hal itu menggiringnya pada sikap mempersulit dan mempersempit diri pada sebagian apa yang telah Allah lapangkan di dalamnya pada kesempatan lainnya, atau hal-hal semacam ini…

Inilah, meskipun hal yang wajib atas penyeru dakwah ini adalah menanggulanginya dan tidak membiarkan atau mengakunya karena khawatir menjadi penyebab tercorengnya wajah dakwah yang berisih ini atau menjadi biang penyebab orang lari darinya, sedangkan keberadaan hal seperti itu di dalam barisan adalah tidak aneh, dan jarang orang selamat darinya terutama pada fase-fase pertama belajar dan pengalamannya, dan saya tidak membebaskan diri saya dari hal itu, sungguh pernah saya mengalami sikap kasar dan tidak lembut yang semoga Allah mengampuni dosa saya itu, saya selalu ingat orang yang tulus memberikan masukan tentang sesuatu dari masalah ini, dan tidak layak menolak nasehat karenanya, karena peringatan itu bermanfaat bagi saya, mereka dan seluruh kaum muslimin :

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz Dzariyat: 55)

Sedangkan orang yang ma’shum adalah orang yang dijaga  Allah ta’ala.

Yang jelas bagaimanapun jarang sekali setiap perkumpulan selamat dari hal seperti ini, bahkan sesuatu dari hal itu telah ada di generasi terbaik namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mengakui dan tidak mendiamkannya, akan tetapi beliau berupaya keras untuk mengingkari dan menanggulanginya saat seorang laki-laki mengadukan kepada beliau bacaan panjang Imamnya di dalam shalat, sampai-sampai orang itu keluar dari shalat subuh karenanya, Abu Mas’ud Al Anshariy berkata: Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dalam suatu wejangan yang melebihi kemarahannya saat itu, beliau berkata: (Wahai manusia sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat lari (orang lain dari) HR Muslim.

Akan tetapi di antara yang wajib diketahui dan diperhatikan serta dijaga di sini adalah bahwa mayoritas metode-metode yang dicela atas sebagian duat tauhid itu terkubur beserta kekeliruan-kekeliruan lainnya di dalam sisi yang dibawa oleh para pemuda itu, berupa pembelaan terhadap tauhid, penegakan akan hal itu serta sikap bara’ah dari syirik dan para pelakunya. Ini adalah dasar penilaian kami terhadap ahlut tauhid, dan tidak halal sama sekali mengenyampingkan keutamaan yang agung ini, dan bagian yang penting yang kartu lembarannya melebihi berat puluhan lembaran dosa, maksiat dan kesalahan, dengan sebab sebagian kekeliruan yang mana ia itu termasuk hal furu’, dan itu bisa hilang bagi orang-orang yang ikhlas dengan pencarian ilmu, pengalaman dan kematangan serta dengan nasihat dan pembenahan dari orang-orang yang bertanggung jawab atas pengarahan mereka atau orang-orang yang menangani urusan mereka atau orang-orang yang bergaul langsung dengan mereka. Dan itu adalah sesuatu yang selalu kami upayakan dengan karunia  Allah. Dan lembaran ini membahas bagian dari hal itu, sebagaimana yang engkau lihat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memiliki risalah yang sangat bagus dalam awal jilid keempat Majmu Fatawa beliau yang telah kami isyaratkan di awal pasal ini, di mana di dalamnya beliau membela Ahlul Hadits dan Ansharus Sunnah, dan beliau menyebutkan kritikan lawan-lawan mereka terhadap mereka dan celaan ahlul kalam wal bida’ terhadap sebagian mereka. Kecintaan beliau terhadap ahlul hadits dan keberadaan beliau sebagai ansharus sunnah tidaklah menghalangi beliau dari mengakui keberadaan sebagian kritikan dan kekeliruan, dan mengakui keberadaannya, dan beliau tidak merasa tidak enak terhadap seseorang dalam mengeritik kekeliruannya, sebagai bentuk kesungguhan dari beliau untuk merubah dan meluruskannya, sebagaimana beliau membantah berbagai tuduhan lainnya yang diadakan-adakan.

Kemudian berkata ditengah itu seraya membandingkan antara dua kelompok (4/20): (Dan bila kita bandingkan antara dua kelompok  -yaitu ahlul hadits dan ahlul kalam-, yang mencela ahlul hadits dan ahlul jama’ah dengan tuduhan hasywul qaul (leterlek/harfiyah), hanyalah menuduh mereka dengan kurangnya pengetahuan atau kurangnya pemahaman. Adapun yang pertama adalah dengan bentuk mereka berhujjah dengan hadits-hadits dlaif atau palsu atau dengan atsar-atsar yang tidak pantas dijadikan hujjah.

Dan adapun yang kedua adalah dengan keberadaan mereka itu tidak memahami makna hadits-hadits yang shahih, bahkan bisa jadi mereka memiliki dua pendapat yang saling kontradiksi dan mereka tidak mengetahui jalan keluar dari itu. Dan masalahnya kembali kepada dua hal: Bisa jadi tambahan ungkapan yang tidak berfaidah yang diduga bahwa ia berfaidah seperti hadits-hadits palsu, dan bisa saja ungkapan-ungkapan yang berfaidah tapi mereka tidak memahaminya. Jadi mengikuti hadits itu membutuhkan: Pertama terhadap keshahihan hadits, dan kedua terhadap pemahaman maknanya, seperti mengikuti Al Qur’an. Sehingga ketimpangan itu masuk terhadap mereka karena sebab meninggalkan salah satu dari dua muqaddimah itu, dan orang yang mencela mereka dari kalangan manusia hanyalah mencela dengan sebab hal ini.

Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini ada pada sebagian mereka, mereka berhujjah dengan hadits-hadits dalam masalah-masalah (ushul dan furu) dan dengan atsar-atsar yang diada-adakan serta cerita-cerita yang tidak shahih, dan mereka menyebutkan dari Al Qur’an dan hadits apa yang tidak mereka pahami maknanya, dan bisa jadi mereka mentakwilnya dengan yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya dan menempatkannya bukan pada tempatnya.

Kemudian mereka dengan manqul (atsar) yang dlaif dan dengan pemahaman yang rendah ini terkadang mengkafirkan, menganggap sesat dan membid’ahkan orang-orang dari tokoh-tokoh umat ini dan menganggap bodoh mereka. Pada sebagian mereka terdapat tafrith dalam al haq dan aniaya terhadap manusia yang mana sebagian sikap itu bisa jadi berupa kekeliruan yang diampuni, dan bisa jadi kemungkaran dan ucapan kebohongan, dan bisa jadi tergolong bid’ah dan kesesatan yang mengharuskan sangsi-sangsi yang besar. Maka hal ini tidak diingkari kecuali oleh orang jahil atau dzalim, dan saya sungguh telah melihat berbagai keajaiban[5] dari hal ini.

Akan tetapi mereka itu bila dibandingkan dengan yang selain mereka dalam hal itu adalah seperti kaum muslimin bila di bandingkan dengan para pemeluk agama-agama lain. Dan tidak diragukan lagi bahwa pada banyak kaum muslimin terdapat kedzaliman, kebodohan, bid’ah dan fujur yang tidak diketahui kecuali oleh Dzat yang mengetahui segala sesuatu, akan tetapi setiap keburukan yang ada pada sebagian kaum muslimin, maka hal itu pada selain mereka adalah lebih banyak. Dan setiap kebaikan yang ada pada selain mereka, maka ia di tengah kaum muslimin adalah lebih tinggi dan lebih besar. Dan begitulah ahlul hadits bila dibandingkan dengan selain mereka…)

Kemudian beliau mulai membandingkan antara dua kelompok, dan beliau jelaskan bahwa ahlul hadits -walaupun mendapatkan kritikan- memiliki keistimewaan yang berlipat-lipat atas lawan-lawan mereka dari kalangan ahlul kalam dan kelompok-kelompok lainnya yang menyimpang dari garis kebenaran ahlul haq, dan pada kalangan khusus mereka bahkan kalangan awamnya terdapat keyakinan dan ilmu yang bermanfaat yang sedikitpun dari hal itu tidak ada pada para Imam ahli kalam, dan bahwa kekeliruan-kekeliruan lawan mereka adalah melebihi kekeliruan-kekeliruan mereka dari berbagai sisi karena kebersihan ushul mereka…

Dan beliau rahimahullah berbicara panjang dalam hal itu, sungguh ia sangat berharga… silahkan rujuk ke sana.

Begitulah keadaannya dalam hal apa yang dikritikan terhadap sebagian pengikut dakwah yang penuh berkah ini, sesungguhnya celaan yang dilontarkan terhadap mereka berupa kekeliruan sebagian para pemula di antara mereka, tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kesesatan-kesesatan yang membinasakan berupa penyimpangan-penyimpangan yang ada di musuh-musuh dan lawan-lawan mereka.

Dan hal yang menjadi pujian berupa hal-hal furu’ yang ada pada lawan-lawan mereka, ia itu ada pada pengikut dakwah ini terutama (pada) kalangan orang-orang yang matang ilmunya di dalam dakwah ini (dengan keberadaan) yang lebih sempurna, lebih tinggi, lebih besar, lebih nampak dan lebih jelas. Dan itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada orang yang dia kehendaki.

Karena sesungguhnya di antara faktor pendorong pancaran ilmu dan pemahaman, serta sebab terpenting keberlangsungannya hidayah dan taufiq adalah taqwa kepada Allah tabaraka wa ta’ala dan taat kepada Rasul-Nya serta nushrah tauhid-Nya sebagaimana firman-Nya:

Dan bertaqwalah kepada  Allah,  dan Allah mengajarimu”  (Al Baqarah: 282)

Dan firman-Nya:

Jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan(Al Anfal: 29)

Dan Firman-Nya:

Dan jika kamu mentaati-Nya tentu engkau mendapat petunjuk”. (An Nur : 54)

Dan Firman-Nya:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) kami, benar-benar akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami(Al Ankabut: 69)

Sebagaimana di antara sebab penguncian hati dan terhalangnya pemahaman serta dicabutnya pemahaman dan ilmu yang mendorong lawan-lawan dan musuh-musuh dakwah ini untuk bersikap ngawur di dalam lembah-lembah kejahilan, kebutaan dan kesesatan, adalah diam diri duduk-duduk dan tidak melibatkan diri dalam pembelaan tauhid ini, sebagaimana firman-Nya:

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad)” (At Taubah: 87)

Dan firman-Nya:

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan  Allah mengunci mati hari mereka, maka mereka tidak mengetahui (Akibat perbuatan mereka)(At-Taubah: 93).


[1] Begitu dalam cetakan Ibnu Hazm, dan bisa jadi (khusuf). Perhatikan bahwa beliau menyebutkan shalat-shalat yang biasa tidak terbilang, berbeda dengan shalat yang lima waktu, sesungguhnya ia didirikan biasanya di masjid-masjid kampung dan berbilang, sehingga peluang memilih dalam hal itu adalah luas bagi mereka.

[2] Sebagai contoh dalam hal ini silahkan lihat kitab (Hukmu Muwalati Ahli Isyrak) yang dikenal oleh penduduk Nejd dengan nama (Ad-Dalaa-il) karena berisi dalil-dalil syar’iy yang banyak tentang hal ini. Para penuntut ilmu di Nejd dahulu menghafalnya di luar kepala. la adalah tulisan Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (1233H) penulis Kitab Taisiril ‘Aziz Al Hamid Syarh Kitab At Tauhid.

[3] Lihat musnad Imam Ahmad hadits No: 7036  Tahqiq Ahmad Syakir

[4] Dalam hal ini kami punya tulisna berjudul “Al Farqul Mubin Baina Tauhid Wathaniyyiin wa Tauhidil  Mursalin” yang kami tulis di penjara

[5] Perhatikan ucapannya ini dan keselarasannya terhadap keadaan sebagian orang-orang yang intisab kepada dakwah tauhid dari kalangan para pemula dan orang-orang yang bersemangat tinggi dan yang lainnya. Sungguh saya telah melihat juga keajaiban-keajaiban darinya. Dan pengobatan hal seperti ini dan pelurusannya adalah hal yang mendorong apa yang kami tulis di sini akan tetapi masalahnya adalah seperti apa yang beliau katakan setelahnya….

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s