Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 4 Tidak Membolehkan Shalat Bermakmum Di Belakang Muslim Yang Tidak Diketahui Keadaannya Hingga Diketahui Aqidahnya )

Tidak Membolehkan Shalat Bermakmum Di Belakang

Muslim Yang Tidak Diketahui Keadaannya Hingga

Diketahui Aqidahnya

Di antara kekeliruan tekfier yang umum adalah pendapat sebagian orang bahwa tidak boleh shalat kecuali di belakang orang yang telah mereka ketahui akidahnya atau mereka itu mengetesnya padahal orang tersebut menampakkan syiar-syiar Islam dan ciri-ciri khususnya serta tidak menampakan satupun dari Nawaqidul Islam/pembatal keIslaman (Dan dia adalah muslim mastuurul haal), bahkan mereka mensyaratkan mengetahui kekafirannya terhadap thaghut dan takfiernya terhadapnya dengan rincian yang ada pada mereka. Dan pensyaratan ini (batasan) ini menjadikan sikap memperluas dalam kaidah ini beragam dengan beragamnya hawa nafsu mereka, di mana di antara mereka ada yang menganggap ulama yang mudahanah lagi cenderung kepada thaghut atau yang tidak mengkafirkan para thaghut sebagai ahbar dan ruhban, dan dari dasar itu maka para ulama itu adalah thawaghit, dan orang yang tidak terang-terangan mengkafirkan para ulama itu maka mereka kafirkannya juga dan merekatidak shalat di belakangnya, karena dia itu tidak kafir terhadap para thaghut, sehingga dia bukan mukmin walaupun dia menganggap sesat ulama itu, bara’ dari kebatilan mereka dan kafir terhadap para thaghut hukum serta memusuhinya. Dan hal itu telah terjadi dahulu pada saya bersama sekelompok dari mereka, di mana mereka itu tidak merasa cukup dengan mengkafirkan saya, bahkan mereka itu mengkafirkan setiap orang yang shalat di belakang saya.

Dan pendapat yang shahih yang kami yakini dan kami mengamalkannya adalah bahwa orang yang menampakan sesuatu dari ciri-ciri khusus Islam yang dhahir maka dia dihukumi muslim dalam hukum-hukum dunia tanpa menengok kepada apa yang disembunyikan bathinnya, karena hal itu bukanlah patokan hukum itu di dunia, akan tetapi ia diserahkan kepada  Allah, sehingga boleh shalat di belakangnya, menshalatkannya, mengucapkan salam terhadapnya, dan memakan sembelihanya serta perlakuan ahlul kiblat lainnya, selama dia tidak menampakan satupun dari nawaqidul Islam, Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Siapa yang shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita serta memakan sembeliham kita, maka dia itu muslim.HR. Al Bukhari dari hadits Anas.

Al Qurthubi telah menukil ijma atas hal itu dari Ishaq Ibnu Rahwiyah.

Dan yang dimaksud dengan “ Serta memakan sembelihan kita ” yaitu bahwa dia tidak memakan kecuali apa yang disembelih sesuai dengan cara kita, dia tidak makan bangkai yang  Allah haramkan sebagaimana kaum musyrikin memakannya, dan hal itu ditafsirkan dengan apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhari juga secara marfu’:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan Laa ilaha illallah, bila mereka telah mengatakannya, shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat kita dan menyembelih seperti sembelihan kita, maka telah haram atas kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisabnya atas  Allah”.

Dan perhatikanlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan masalah sembelihannya seraya disandarkan kepada ciri-ciri khusus Islam lainnya, dan beliau tidak menyebutkannya secara menyendiri sebagai bukti atas keIslaman. Itu dikarenakan masalah sembelihan adalah masalah yang berserikat di dalamnya kita dengan sebagian pemeluk agama-agama lainnya, seperti yahudi, kaum nasrani yang taat dan yang lainnya, di mana masalahnya sama seperti hal-hal lain yang tidak khusus bagi kaum muslimin, seperti shadaqah, sebagian perbuatan baik, akhlak-akhlak yang mulia, al amru bil ma’ruf dan perbuatan baik. Dan hal-hal ini walaupun termasuk cabang-cabang Al Iman bagi kaum muslimin, namun ia tidak khusus bagi mereka saja, tetapi ia itu adalah suatu hal yang sama dilakukan oleh orang muslim dan orang kafir. Dan kisah Hatim Ath Thaa”iy adalah sangat masyhur sekali[1], dan hadits Hakim Ibnu Hizam bahwa beliau berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ Beri kabar kepadaku tentang hal-hal yang dahulu di masa jahiliyyah saya mendekatkan diri kepada Allah dengannya, berupa shadaqah, memerdekakan budak atau shilaturahmi, apakah ada pahala di dalamnya? maka Rasulullah berkata: “Engkau masuk Islam di atas kebaikan yang lalu” (Muttafaq  ‘Alaih).

Dan dari ‘Aisyah radliyallahu ‘anhu berkata: Wahai Rasullulah, Ibnu Jud’an pada jaman jahliyyah suka shilaturahmi dan memberi makan orang-orang miskin apakah hal itu bermanfaat baginya? Beliau berkata: Tidak hai ‘Aisyah, sesungguhnya dia tidak pernah mengatakan seharipun “ya Tuhanku ampunilah bagiku kesalahanku di hari pembalasan” “(HR Ahmad 6163, Muslim dan yang lainnya).

Hal-hal musytarak ini tidak cukup untuk memastikan keIslaman walaupun itu sumber dugaan ke sana dan alasan pendorong untuk tatsabbut (mencari kejelasan) sebagaimana yang akan dating.

Adapun ciri-ciri khusus Islam, maka ia adalah syiar-syiar dan hal-hal yang khusus bagi orang Islam tanpa pemeluk agama lainnya. Dan dengan hal itu orang yang menampakannya dihukumi muslim dan diperlakukan dengan hukum Islam dalam hukum-hukum dunia, meskipun dia menyembunyikan hal yang berbeda dengannya selama tidak nampak pembatal darinya.

Pensyarah Ath Thahawiyyah berkata: (Yang shahih adalah bahwa dia menjadi muslim dengan sebab (penampakan) apa yang termasuk ciri-ciri khusus Islam).

Dan di antara cirri khusus islam adalah:

1. Mengucapkan dua kalimat syahadat, berdasarkan hadits: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah, bila mereka telah mengucapkannya, maka mereka telah menjaga dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya, sedangkan penghisabannya atas  Allah ‘azza wa jalla(Muttafaq ‘Alaih).

Dan hadits Usamah Ibnu Zaid :Apakah kamu membunuhnya setelah dia mengucapkan laa ilaaha illalllaah ? “ (Muttafaq ‘Alaih).

Siapa saja yang menampakan dua kalimat syahadat, maka dia dihukumi sebagai orang muslim, darah dan hartanya terjaga, dan dia perlakukan sebagai  ahli kiblat, selama tidak nampak darinya satupun pembatal, karena Laa ilaaha illallah memiliki syarat syarat dan pembatal-pembatal yang sebagiannya qalbiy bathiniy (bersifat batin yang ada di dalam hati) yang diserahkan kepada  Allah, sedangkan sebagiannya dhahir yang mengikuti Islam hukmi (hukum-hukum dunia), dan inilah yang kami maksud di sini.

Pengucapan kalimah syahadat ini bila disertai keterjerumusan ke dalam sesuatu dari mawani’ (penghalang-penghalang) atau nawaqidl (pempatal-pembatal) atau pemutus-pemutusnya, dan tidak mencabut diri dari hal itu serta tidak bara’ darinya adalah tidak bermanfaat sedikitpun bagi si orangnya walaupun dia itu shalat dan shaum serta mengaku muslim, karena dua kalimat syahadat hanya menjadi dalil atas keIslaman adalah dengan pertimbangan penganggapan bahwa dua kalimah syahadat tersebut adalah akad di antara si hamba dengan Rabb-nya untuk komitmen terhadap hukum-hukum syari’at, ridla dengannya, istislam terhadapnya dan tidak mendatangkan pembatal-pembatalnya. Bila nampak darinya suatu perbuatan atau ucapan yang membatalkannya, maka ‘ishmah (keterjagaan darah dan harta) yang dia masuk ke dalamnya dengan pengucapan dua kalaimat syahadat itu adalah tidak berlangsung terus (yaitu terputus.-Ed), seperti orang yang mengucapkannya sedangkan dia tidak mencabut diri dari sujud kepada berhala, atau mengucapkannya sedangkan dia tidak berlepas diri dari penisbatan uluhiyyah kepada Isa Ibnu Maryam, atau mengucapkannya sedangkan dia tidak meninggalkan celaan terhadap dienullah tabaraka wa ta’ala, atau mengucapkannya sedangkan dia tidak meninggalkan pembuatan undang-undang dan penerapan undang-undang buatan.

Kesimpulannya: Bahwa dua kalimat syahadat itu dianggap sebagai salah satu ciri khusus Islam dan orang yang mengucapkannya dihukumi muslim selama tidak nampak darinya apa yang membatalkannya. Bila dia tergolong dari kaum murtaddin yang selalu mengucapkannya, namun mereka murtad itu dengan sebab pembatal-pembatal keislaman selain pengingkaran dua kalimat syahadat atau menolak dari mengakui keduanya maka pengucapannya saja tidaklah bermanfaat bagi mereka sampai mereka mencabut diri dari pembatal-pembatal itu dan taubat darinya.

Al Kasymiriy berkata dalam (Ikfarul Mulhidien) hal 36: ( Orang yang kekafirannya dengan mengingkari hal yang diketahui secara pasti seperti haramnya khamar umpamanya, sesungguhnya dia harus berlepas diri dari apa yang diyakininya,  karena dia itu mengakui dua kalimat syahadat bersamanya, sehingga dia harus berlepas diri dari kayakinan itu sebagaimana yang ditegaskan oleh kalangan Syafi’iyyah…) hingga ucapannya: ( Kemudian seandainya dia mengucapkan syahadat sebagai kebiasaan saja maka hal itu tidak bermanfaat baginya selama dia belum rujuk dari apa yang telah diucapkannya, karena kekafirannya tidak lenyap dengan hal itu).

Dan ini ditunjukan oleh ijma shahabat dalam kasus Qudamah Ibnu Madh’un atas istitabah (proses pembuktian hukum dan penyuruhan taubat) yang diberlakukan kepada dia dan para shahabatnya, kemudian bila mereka mengakui hukum haram maka mereka didera dengan had khamar, dan bila mereka tidak mengakuinya maka mereka telah kafir dan (harus) dibunuh. Sesungguhnya para shahabat tidak menjadikan terangkatnya kekafiran dari mereka dengan sekedar pengucapan dua kalimat syahadat itu, karena mereka masih senantiasa mengakui hal itu. Dan justru para sahabat menjadikan keterangkatan kekafiran itu hanyalah dengan pengakuan mereka akan keharaman apa yang mereka halalkan.

Dan ini ditujukan juga oleh apa yang dituturkan para ulama, yaitu bahwa orang yahudi yang mengakui tauhid bisa menjadi muslim dengan sekedar kesaksian bahwa Muhammad Rasulullah. Padahal pengakuan akan syahadat laa ilaha illallaah itu saja tidak cukup bagi dia, karena kekafirannya itu terjadi dengan sebab pengingkaran risalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dia tidak dihukumi muslim kecuali dengan bara’nya dan taubatnya dari kekafiran ini dan dengan pengkuannya bahwa Muhammad Rasulullah. Dan untuk hal itu mereka berdalil dengan haidts Anas: Bahwa seorang yahudi berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “ Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, terus dia meninggal, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “ Shalatkanlah kawan kalian”.[2]

2.   Ucapan seseorang (Sesungguhnya saya muslim), sebagaimana dalam hadits Furat Ibnu Hayyan dan pembenaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya[3] atau ucapannya (Saya telah masuk Islam) atau (Saya berserah diri kepada Allah, sebagaimana dalam hadits Al Miqdad yang Muttafaq ‘Alaih, berkata: Wahai Rasulullah bagaimana pendapat engkau bila saya bertemu dengan seorang dari orang-orang kafir, terus dia menyerang saya kemudian dia memukul salah satu tangan saya dengan pedang terus dia mencari perlindungan dengan satu pohon dari saya  dan berkata ( Saya telah masuk Islam) apakah saya boleh membunuhya wahai Rasulullah setelah dia mengatakannya? beliau berkata: Jangan engkau membunuhnya…

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy (Kitabul Murtad): (Bila dia mengatakan saya mu’min atau saya muslim, maka Al Qadli berkata: Dia dihukumi muslim dengan hal ini) dan beliau menyebutkan hadits ‘Imran Ibnu Hushain dalam Shahih Muslim: Kaum muslimin telah menangkap seorang laki-laki dari Banu Uqail terus mereka membawahnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terus laki-laki itu berkata wahai Muhammad sesungguhnya saya muslim”, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:” Seandainya kamu ini seperti apa yang kamu ucapkan saat kamu masih memiliki urusanmu ini tentulah engkau beruntung sekali”[4]

Dan beliau berkata (Dan ada kemungkinan bahwa hal ini berlaku bagi kafir asli atau orang yang mengingkari keesaan Allah. Adapun orang yang kafir dengan sebab mengingkari Nabi atau Kitab atau hal fardlu dan yang lainnya, maka dia tidak menjadi muslim dengan sebab hal itu, karena dia bisa jadi meyakini bahwa Islam itu apa yang dipegangnya, karena sesungguhnya ahli bid’ah itu seluruhnya meyakini bahwa merekalah orang-orang islam padahal di antara mereka itu ada yang kafir).

Saya berkata: Ini adalah batasan yang penting, karena banyak kaum martaddin pada hari ini dari kalangan para thaghut dan anshar mereka yang memerangi agama Allah, mereka itu mengatakan bahwa mereka itu muslim, padahal ini tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka itu masih menetap di atas sebab-sebab kemurtaddan mereka, mereka tidak mencabut diri darinya dan tidak bara’ darinya, oleh sebab itu kami katakan di sini  sebagaimana yang telah kami katakan dalam bahasan dua kalimah syahadat: Bahwa hukum asal bagi orang yang mengatakan hal itu adalah Islam selama tidak melakukan salah satu pembatal keIslaman, namun bila dia juga melakukan pembatalnya maka dalam keadaan seperti ini dia tidak menjadi muslim sampai mencabut diri dari pembatal itu. Bila seorang muslim yang terpecaya bersaksi baginya bahwa dia itu telah mencabut diri dari hal itu dan masuk Islam, maka diterima kesaksian itu darinya. Atau bersaksi bagi orang kafir asli bahwa dia telah masuk Islam maka diterima darinya. Dan itu seperti kesaksian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi An Najasyi Ushhumah dengan keIslamannya tatkala beliau menshalatkan jenazahnya sebagaimana di dalam hadits yang Mutafaq  ‘Alaih, dan para sahabat tidak mengetahui keIslamannya kecuali saat itu, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam[5] sampai-sampai sebagaian para sahabat mengatakan: (Engkau menshalatkan si Nasrani itu sedang dia di negerinya ?) maka turunlah firman-Nya Ta’ala:Dan di antara ahli kitab itu sungguh ada orang yang beriman kapada  Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu …”

Dan di antara itu juga kesaksian Ibnu Mas’ud akan keIslaman Sahl Ibnu Baidla  dalam kisah para tawanan badar dan hadistsnya ada pada Al Hakim (3/ 21) dan Ahmad (1/383) dan lainnya, lihat Al Bidayah Wan Nihayah (3/298) sedangkan dalil darinya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tarkala berkata tentang tawanan Badar:Tidak seorangpun pergi kembali di antara kalian kecuali dengan tebusan atau tebasan leher,” Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: (Saya berkata; kecuali Sahl Ibnu Baidla, sesungguhnya dia jangan dibunuh, karena saya mendengar dia mengucapkan keIslaman. “

(Dan dalam Al Isti’ab: Dia bersaksi bahwa dia melihatnya shalat di Mekkah) maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : (Kecuali Sahl Ibnu Baidla)[6].

3. Shalat, baik sendiri maupun berjamaah: Karena shalat adalah termasuk ciri-ciri khusus orang Islam, di sana ia mencakup dua kalimah syahadat, dan telah lalu hadits Anas yang marfu: ”Siapa yang shalat seperti kami, menghadap kiblat kami dan makan sembelihan kami maka dia itu muslim”, dan berdasarkan hadits: “ Pembatas antara kita dengan mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya maka dia kafir.” diriwayatkan Al Imam Ahmad, Abu Dawud, Dan An-Nasai: Dan At Tirmidzi dari Buraidah dah secara marfu’.

Dan hadits:Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat,” Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir secara marfu.

Al Qurthubiy berkata dalam Tafsirnya: (Iman itu tidak jadi  kecuali dengan Laa ilaaha illallah tidak dengan perbuatan-perbuatan lainnya kecuali di dalam shalat, Ishaq Ibnu Rahwiyah berkata: “Mereka telah ijma di dalam masalah shalat atas sesuatu yang tidak mereka ijmakan atasnya di dalam masalah syari’at-syari’at lainnya, karena mereka berkata: Orang yang diketahui kafir kemudian mereka melihatnya shalat pada waktunya sampai shalat-shalat yang banyak, dan tidak diketahui darinya pengakuan dengan lisan, sesungguhnya dia dihukumi mu’min, dan mereka tidak menghukumi baginya dengan hal itu dalam shaum dan zakat.” Al Jami Li Akhamil Qur’an 8/207

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy: (Babul Imamah) (pasal: para ulama madzhab kami menghukumi keIslamannya dengan sebab shalat baik dia itu di Daarul Harbi atau Daarul Islam, dan sama saja baik shalat jama’ah atau sendiri-sendiri), dan menyebutkan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (antara kita dan mereka adalah shalat), kemudian berkata: (Beliau menjadikan shalat sebagai pembatas antara Islam dengan kekafiran, siapa yang shalat, maka dia telah masuk dalam batasan Islam …Dan karena shalat itu adalah ibadah yang khusus bagi kaum muslimin, maka mendatangkannya adalah keIslaman seperti dua kalimah syahadat).

Dan beliau berkata dalam (Kitabul Murtad) (Pasal, dan bila orang kafir shalat maka dia dihukumi Islam, baik dalam Daarul Harbi atau Daarul Islam atau shalat jama’ah atau shalat sendiri-sendiri…) hingga ucapan (Sesungguhnya dia adalah perbuatan-perbuatan yang berbeda dari perbuatan orang-orang kafir, dan penganut Islam memiliki ciri khusus dengannya, dan Islam tidak tetap sampai dia mendatangkan shalat yang membedakan dengannya dari shalat orang-orang kafir berupa menghadap kiblat kita, ruku dan sujud …dan tidak ada perbedaan antara akfir asli dengan orang murtad dalam hal ini, karena sesuatu yang dengannya keIslaman terbukti pada kafir asli, maka ia terbukti juga dengannya pada orang murtad seperti dua kalimah syahadat …) secara ikhtishar.

Saya berkata: Kecuali bila riddahnya terjadi dengan sebab pembatal selain meninggalkan shalat atau mengingkarinya; Yaitu bahwa ia telah melakukan satu sebab dari sebab-sebab kekafiran atau satu pembatal dari pembatal-pembatal keIslaman sedang dia itu masih shalat lagi tidak meninggalkannya, maka kembalinya kepada Islam ini bukanlah dengan shalat saja namun mesti mencabut diri dari sebab (kekafiran) atau pembatal (keIslaman) itu dan bara’ serta taubat darinya.

Oleh sebab itu Ibnu Qudamah setelah ucapannya yang lalu berkata: (Kecuali bila terbukti bahwa dia itu murtad setelah shalatnya atau riddahnya dengan sebab mengingkari kewajiban atau Kitab atau Nabi, atau yang serupa dengan hal itu berupa bid’ah-bid’ah yang mana penganutnya menisbatkan dirinya kepada Islam, maka sesungguhnya dia itu tidak dihukumi sebagai orang muslim dengan sebab shalatnya itu karena memang dia menyakini wajibnya shalat dan mengerjakannya padahal dia itu kafir.

Dan ini seperti kondisi para thaghut dan yang lainya dari kalangan orang-orang musyrik, anshar mereka dan para pelindung undang-undang buatannya, karena di antara mereka itu ada yang shalat, namun shalatnya itu tidak berguna bagi dia dalam menghukumi keIslamannya dan keterjagaan darah dan hartanya, karena dia itu tidak menjadi kafir dengan sebab mengingkarinya atau meninggalkannya sehingga dihukumi Islam dengan sebab mengerjakannya, akan tetapi dia melakukan apa yang dia lakukan berupa sebab-sebab kekafiran, baik itu tawalli kepada para thaghut atau membela kemusyrikannya atau undang-undangnya yang kafir atau ikut serta di dalam membuatnya, bersumpah untuk menghormatinya, loyalitas terhadapnya, menjaganya dan melindunginya serta sebab-sebab kekafiran lainnya… dia lakukan itu sedangkan dia suka shalat dan mengaku Islam, maka untuk kembalinya kepada Islam ini dia harus bara’ dan taubat dari yang menyebabkan dia kafir di samping dia shalat dan mengerjakan bangunan-bangunan Islam serta rukun-rukunnya sehingga hal itu diterima darinya, karena keadaan mereka itu bukan seperti orang kafir asli yang mana shalat darinya adalah bermakna masuk ke dalam Islam dan mengakui dua kalimat syahadat.

Dan kesimpulannya di sini adalah: sebagaimana telah lalu dalam ciri-ciri khusus yang lain bahwa kita menghukumi orang yang shalat yang masturul hal lagi tidak nampak bagi kita darinya satupun pembatal-pembatal keIslaman yang telah disebutkan atau yang lainnya sebagai orang Islam dengan sekedar shalatnya, maka kita shalat di belakangnya dan memperlakukannya sebagai kaum muslimin, dan hukum asal padanya bagi kami adalah Islam sehingga dia mendatangkan satu dari pembatal-pembatal keIslaman yang nampak. Kita tidak menjadikan pembatal-pembatal dan mukaffirat itu sebagai asal pada hak dia meskipun menampakan Islam atau ciri-ciri khususnya dengan klaim menyebarnya kekafiran itu di masyarakat-masyarakat zaman kita ini, sebagaimana yang  dianut oleh banyak kalangan yang ghuluw.

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy: (Pasal bila shalat di belakang orang yang diragukan keIslamannya, maka shalatnya sah selama tidak nampak kekafirannya, karena yang nampak pada orang-orang yang shalat adalah Islam apalagi bila dia itu imam). Secara ringkas dari Bab Al Imamah…

4. Adzan dan Iqamah, karena keduanya mengandung dua kalimat syahadat, dan telah lalu pembicaraan tentang keduannya, dan berdasarkan hadits Anas Ibnu Malik, berkata: (Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyerang kecuali saat shalat fajar, bila beliau mendengar adzan, maka beliau menahan diri, dan bila tidak maka beliau menyerang…) HR Muslim dan yang lainnya.

Dan ini sejalan dengan apa yang telah sering diingatkan bahwa orang murtad bila  kemurtaddannya itu dengan pembatal atau sebab selain pengingkaran Islam secara total atau selain penolakan terhadap shalat dan adzan, sebagaimana realita para thaghut hukum dan para anshar mereka hari ini, di mana sesungguhnya adzan itu bisa didengar di pangkalan-pangkalan dan asrama-asrama mereka, dan ini tidak bermanfaat bagi mereka, karena mereka itu adalah bukan orang-orang kafir asli namun orang-orang murtad, dan dikarenakan kemurtaddan mereka itu bukan dengan sebab penolakan akan shalat dan adzan atau yang lainnya yang mana orang murtad menjadi muslim di dalamnya dengan kembali dan menampakan syariat-syariat Islam itu, justru mereka itu memerangi tauhid, dan muwahhidin, dan membela syirik dan tandid, dan banyak dari mereka shalat, adzan, iqamah, dan mengucapkan dua kalimat syahadat sedang dia muqim di atas pembelaan kepada syirik dan perang terhadap tauhid, sehingga kembalinya kepada Islam tidak terealisasi dengan adzan yang sama sekali tidak mereka tinggalkan dan tidak mereka ingkari, namun (harus) dengan bara’ dari sebab-sebab kemusyrikan mereka itu dan menjauhinya.

Dan telah kami utarakan kepada anda kisah orang-orang yang telah Allah tabaraka wa ta’ala kafirkan di dalam surat Al Bara’ah karena sebab perolok-olokannya  terhadap para qurra, padahal mereka itu shalat seraya mengucapkan syahadat, adzan dan iqamah, dan mereka itu telah keluar untuk berjihad bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tatkala mereka kafir dengan perolok-olokkan, maka taubat mereka adalah dengan mencabut diri darinya menampakkan penyesalan atasnya dan bukan menampakkan adzan, shalat atau yang lainnya, karena mereka itu tidak kafir dengan sebab penolakan akan hal itu.

Adapun orang yang tidak nampak darinnya satupun dari sebab-sebab kekafiran dan pembatal-pembatal keIslaman, maka hukum asal bagi orang yang menampakan adzan atau iqamah dari mereka adalah  (muslim) yang terjaga darah dan hartanya, sehinga nampak apa yang membatalkannya….inilah hukum asalnya dan bukan ia itu memperkirakan (adanya) pembatal-pembatal lagi memberlakukannya serta mengabaikan hukum asal yang diterangkan oleh Nabi.

5. Haji, Haji adalah termasuk syiar-syiar Islam dan ciri-ciri khusus yang nampak dan masyhur, dan tidak usah dihiraukan apa yang dituturkan oleh Ibnu Qudamah, yaitu klaim bahwa kaum musyrikim dahulu menunaikan haji pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena itu beliau menegaskan  bahwa orang kafir tidak dihukumi muslim dengannya[7],  dan itu dikarenakan ibadah haji pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ikut serta di dalamnya kaum musyrikin yang mengaku bahwa mereka itu di atas millah Ibrahim, mereka haji sedangkan mereka di atas syiriknya tanpa masuk ke dalam Islam … sampai akhirnya turun surat Al Bara’ah yang di dalam-Nya ta’ala:

Sesunguhnya orang-orang musrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil  haram sesudah tahun ini” (At-Taubah: 28)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Setelah tahun ini tidak seorang musyrikpun boleh  naik haji.”

Sehinga keadaanya adalah seperti itu sampai sekarang, yaitu tidak ada yang menunaikan haji ke Baitullah kecuali orang mengaku Islam, sehingga haji telah menjadi bagian ciri-ciri khusus kaum muslimin, selama ia tidak melakukan satupun dari pembatal keislaman, seperti keadaan para thaghut, anshar mereka dan yang lainya dari kalangan orang-orang murtad lainnya yang diizinkan dan dibolehkan untuk menunaikan haji dan masuk Masjidil Haram oleh Negara Saudi yang mengurusi haji hari ini[8], mereka itu tidak manfaat baginya haji, shalat dan syahadat untuk menghukumnya sebagai orang Islam, dan hal itu tidak menghalangi dari mengkafirkan mereka, karena kekafiran mereka sebagaimana yang telah engkau ketahui berdiri sendiri (tidak berkaitan dengan) masalah-masalah dan rukun-rukun islam ini, sehingga mereka tidak dihukumi sebagai orang muslim sampai mereka bara’ dari kemusyrikan, undang-undang dan hukum-hukum mereka, dan dikarenakan mereka itu melumuri diri dengan pembatal-pembatal (KeIslaman) mereka dan kemusyrikan-kemusyrikannya sedangkan banyak dari mereka itu mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat dan haji, namun pengucapan dua kalimah syahadat yang mereka lakukan itu tidak berarti bahwa mereka bara’ dari syirik dan kafur terhadap para thaghut, sehingga pengucapan mereka terhadapnya itu tidaklah cukup untuk kembali kepada Islam sampai mereka kafur terhadap hukum-hukum mereka dan memurnikan semua ibadah kepada Allah yang Esa lagi Maha Perkasa, sebagaimana dalam hadits Abu Malik Al Asyaja’i dari ayahnya secara marfu:Siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah dan dia kafir kepada segala yang diibadati selain Allah, maka haram harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya adalah kepada  Allah.”

Sesunguhnya meskipun kalimat tauhid itu mencakup kufur terhadap segala sesuatu yang diibadati selain  Allah tabaraka wa ta’ala dan ia adalah rukun penafian di dalamnya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan hal itu dan mengkhususkannya dengan penyebutan dalam rangka menjelaskan bahwa orang yang mengatakannya sedangkan dia muqim di atas peribadatan kepada selain  Allah tabaraka wa ta’ala lagi tidak bara’ dari syirik dan tidak kufur terhadapnya, maka hal itu tidak bermanfaat baginya dan tidak terjaga darah dan hartanya.

Dan yang dimaksud adalah bahwa kita menghukumi bagi orang yang nampak darinya ibadah haji dengan status muslim, sebagaimana halnya dengan hal-hal yang lalu berupa ciri-ciri khusus Islam dan syi’ar-syi’arnya, serta kita memperlakukannya sebagai kaum muslimin, selama dia  tidak melumuri diri dengan salah satu pembatal keIslaman, orang yang ihram haji bukanlah orang yang majhulul hal bagi kami, kami tidak tawaqquf dalam menghukumi keIslamanya, justru dia itu muslim dalam hukum yang nampak bagi kami, dan kami menghukuminya dengan apa yang dia tunjukan berupa keIslaman, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan orang muhrim yang jatuh dari untanya dengan perlakuan kaum muslimin, beliau memerintahkannya untuk dimandikan, dikafani dengan pakaian ihramnya, tidak diberi wangi-wangian dan tidak ditutupi wajahnya[9], maka begitu juga kita memperlakukan dalam hukum-hukum dunia orang yang kita lihat dari kalangan orang-orang ihram dan jama’ah haji di Mina, Muzdalifah, Arafah dan yang lainnya dengan jumlah mereka yang berjuta-juta, hukum asal pada mereka bagi kami adalah Islam, kita menghukumi mereka dengan hal yang nampak bagi kita dan kita memperlakukannya sebagai kaum muslimin -walau orang-orang yang ghuluw menolaknya- kecuali bila nampak dari salah seorang mereka suatu pembatal keislaman atau kekafiran yang nyata ….Ya  Allah saksikanlah.

Dan atas dasar ini, kami memandang bolehnya shalat di belakang orang muslim mastuurul hal (yang keadaan sebenarnya tidak diketahui), yaitu orang yang dihukumi sebagai orang muslim hukmi, dikarenakan dia menampakkan sesuatu dari ciri-ciri khusus Islam dan tidak dibatalkan dengan suatu pembatal dhahirpun. Dan kami tidak menggugurkannya atau menghalangi darinya atau mensyaratkan untuk hal itu mengetahui keyakinan di dalamnya serta keimananan bathin yang sebenarnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Dan boleh shalat di belakang setiap mastuurul haal dengan kesepakatan para Imam yang empat dan para Imam kaum muslimin lainnya. Siapa yang mengatakan: Saya tidak shalat jum’ah dan jama’ah kecuali di belakang orang yang saya ketahui aqidahnya di batinnya, maka dia itu ahli bid’ah yang menyelisihi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan para Imam kaum muslimin yang empat serta yang lainnya …. Wallahu Ta’ala A’lam). Majmu Al fatawa 4/331.

Dan berkata juga (23/199): (Boleh bagi orang melaksanakan shalat yang lima waktu, jum’at dan yang lainnya di belakang orang yang tidak diketahui darinya bid’ah dan kefasikan dengan kesepakatan imam yang empat dan imam kaum muslimin lainnya, dan bukan syarat bermakmum keberadaan si makmum itu mengetahui keyakinan si imamnya dan tidak (boleh juga) mengujinya seraya berkata : Apa yang kamu yakini? “ akan tetapi ia shalat di belakang masturul hal”).

Dan beliau rahimahullah berkata 3/175-176: (Shalat di belakang mastuurul hal adalah boleh dengan kesepakatan ulama kaum muslimin. Dan siapa yang mengatakan bahwa shalat di belakang orang yang tidak diketahui keadaannya adalah haram atau batil, maka dia telah menyelisih ijma Ahlus Sunnah wal jama’ah…)

Sebagian orang berdalil dengan kesungguhan Imam Ahmad untuk shalat di belakang orang yang beliau ketahui keyakinannya saat tersebar bid’ah Jahmiyyah. Dan kami tidak mengingkari bolehnya kesungguhan orang muslim untuk shalat di belakang orang yang utama, dan kami tidak mengingkari bolehnya menghajr ahli bid’ah untuk membuat dia jera dan mengingkari bid’ahnya, namun pembicaraan ini adalah hanya tentang larangan shalat dan tidak membolehkannya atau kewajiban mengulanginya di belakang orang yang tidak dikafirkan dengan sebab bid’ahnya, apalagi melarangnya atau mengulangnya dibelakang mastural hal dengan dalih menyebarnya bid’ah dan kekafiran atau kemurtaddan.

Dan lebih buruk dari hal itu adalah sikap tawaqquf dari menghukumi keIslamanya atau menganggap batal shalat di belakangnya, padahal dia itu tidak menampakan satupun pembatal atau sebab kekafiran.

Justru hukum asal adalah bolehnya shalat di belakang orang muslim yang masturul hal yang asal padanya adalah Islam, selama tidak nampak pembatal darinya. Bila dia menampakan pembatal maka dia bukan masturul hal. Bila kita mendapatkan orang masturul hal di waktu shalat, maka kita shalat dan tidak keberatan di dalamnya. Dan ini tidak menghalangi kita dari berupaya sungguh dalam kodisi-kondisi normal untuk shalat di belakang orang-orang yang utama serta mencari para pengikut sunnah, terutama dalam shalat jum’at supaya kita tidak dikagetkan dalam khutbah dengan apa yang membuat kita tidak senang.

Sedangkan perbuatan Al Imam Ahmad itu adalah dibawa kepada makna anjuran saja bukan kepada makna wajib, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam: (Senantiasa kaum muslimin setelah Nabi mereka shalat di belakang muslim masturul hal…. Sampai beliau berkata: (Adalah sebagian orang bila bid’ah merebak, mereka itu lebih suka untuk tidak shalat kecuali di belakang orang yang diketahui, atas dasar istihbab sebagaimana hal itu dinukil dari Ahmad, sesungguhnya beliau menyebutkan hal itu kepada orang yang bertanya kapadanya, dan Ahmad tidak mengatakan: Sesungguhnya tidak sah shalat kecuali di belakang orang yang saya ketahui keadaannya). Majmu Al Fatawa 3/280.

Adapun shalat di belakang ahli bid’ah dari kalangan penganut bid’ah mukaffirah, maka perselisihan tentang tidak bolehnya atau perintah untuk mengulangnya adalah cabang dari perselisihan tentang pengkafirannya.

Syaikhul Islam berkata: (Dan adapun shalat di belakang orang yang dikafirkan dengan sebah bid’ahnya dari kalangan ahli bid’ah, maka di sana mereka telah berselisih tentang shalat jum’ah di belakangnya. Orang yang mengatakan dia itu kafir, maka dia memerintahkan untuk mengulanginya, karena ia adalah shalat di belakang orang kafir, akan tetapi masalah ini berkaitan dengan takfier ahli bid’ah, sedangkan manusia masih berselisih tentang masalah ini. Dalam hal ini dari Malik  dihikayatkan dua riwayat, dari Asy Syafi’iy dua pendapat dan dari Ahmad dua riwayat juga, serta begitu juga ahli kalam, mereka menyebutkan dua pendapat milik Al Asy’ariy di dalamnya, sedangkan umumnya madzhab para Imam adalah memiliki rincian di dalamnya.

Dan hakikat masalah dalam hal itu adalah bahwa ucapan bisa jadi merupakan kekafiran, sehingga dilontarkan saja pengkafiran penganutnya secara muthlaq, di mana dikatakan siapa yang mengatakan begini maka dia kafir, akan tetapi orang mu’ayyan yang mengatakannya tidak dihukumi kafir sehingga ditegakan atasnya hujjan yang mana dikafirkan orang yang meninggalkannya) Majmu Al Fatawa 23/195.

Adapun orang yang menampakan suatu dari sebab-sebab kekafiran yang nyata atau menampakan suatu dari macam-macam kemurtaddan yang nampak, seperti mengajak untuk ikut serta dalam lembaga legislatif, atau menampakan dukungan kepada undang-undang buatan, atau ikut serta di dalam membuatnya atau dalam memutuskan denganya, dan memujinya atau bersumpah untuk menghormatinya atau loyal terhadap thaghut-thaghutnya, maka ini tidak ada kehormatan baginya, sehingga tidak boleh shalat di belakangnya, karena dia bukan termasuk orang-orang yang bertauhid, namun dia itu tergolang jajaran kaum masyrikin murtaddin. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kaum muslimin untuk shalat sebagaimana mereka melihat beliau shalat dan agar mereka bermakmum kepada salah seorang di antara mereka bukan orang-orang selain mereka, sebagaimana dalan hadits Malik Ibnul Huwairits dalam Al Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya dan kepada orang-orang yang bersamanya: (Pulanglah kekeluarga kalian, menetaplah di tengah mereka dan ajarilah mereka serta shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat, bila telah hadir (waktu) shalat maka adzanlah salah seorang di antara kalian dan hendaklah mengimami kalian orang yang paling tua di antara kalian). Dlamir (kata ganti) yang ada pada (Orang yang paliang tua di antara kalian) kembali kepada salah seorang dari kaum muslimin bukan dari selain mereka. Dan di dalam Shahih Muslim dari Abu Sa’id berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (Bila mereka bertiga hendaklah salah seorang mereka memimpin mereka) dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dan An Nasai. Sedangkan orang kafir itu bukan bagian dari kita, sehingga tidah kalal bagi muslim mengedepankan orang kafir untuk menjadi imam shalat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan  Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman” (An Nisa 141)

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Al Bukhari secara Ta’liq[10]:Islam itu tinggi dan tidak ada yang di atasnya

Dan orang yang shalat di belakang orang yang menampakkan kekafiran atau kemurtaddan atau orang yang menghiasinya dan mengajak kepadanya, maka dia tidak shalat sebagaimana shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seperti apa yang beliau perintahkan, bahkan ia adalah mengada-ada di dalam dien ini yang bukan bagian darinya ….

Dan di dalam Ash Shahihain dari hadits ‘Aisyah Ummul Mu’minin radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:Siapa yang mengada-ada dalam urusan kami apa yang bukan bagian darinya, maka ia itu ditolak “.

Dan sesuatu yang maklum bahwa hukum asal di dalam ibadah adalah dilarang sehingga ada dalil yang mensyariatkan, karena ia adalah tauqifiyyah (hal-hal yang tergantung dalil)…dan sesungguhnya tidak diterima dan tidak sah dari berbagai ibadah kecuali apa yang murni karena  Allah Tabaraka Wa Ta’ala dan benar, yaitu sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughny (Bab Al Imamah) (Masalah: Dan bila shalat di belakag orang musyrik…) : (dan secara umum bahwa orang kafir itu tidak sah shalat di belakangnya bagaimanapun keadaannya, baik ia mengetahui kekafirannya setelah selesai shalatnya atau sebelum itu, dan orang yang shalat dibelakangnya harus mengulang. Inilah pendapat Asy Syafi’iy dan para penganut Ra’yu (pendapat akal)

Abu Tsaur dan Al Muzanny berkata: Tidak wajib mengulang atas orang yang shalat di belakangnya sedang dia tidak mengetahui, karena dia bermakmum terhadap orang yang tidak dia ketahui keadaannya, maka ini sama andaikata dia bermakmum dengan orang yang berhadats)

Ibnu Qudamah berkata: (Dan hujjah kami bahwa dia bermakmum terhadap orang yang bukan ahli shalat, maka tidak sah shalatnya seperti andaikata dia bermakmum kepada orang gila).

Bila si imam tergolong orang yang terkadang menampakkan kekafiran dan terkadang bara, atau menampakkan suatu sebab kekafiran terkadang dan terkadang memcabut diri darinya serta taubat di lain kali, seperti orang-orang yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya: Segeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah yang seperti potongan malam yang gelap, di pagi hari seseorang mu’min dan sore hari dia kafir, di sore dia mu’min dan di pagi dia kafir, dia jual diennya dengan bagian dari dunia ”. Maka ini tidak boleh shalat di belakangnya sehingga diketahui keIslamannya dan batinnya dari syirik serta sikap menjauhinya.

Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughniy (Dan bila si Iman tergolong orang yang terkadang muslim dan terkadang murtad, maka tidak boleh shalat di belakangnya sehingga dia mengetahui di atas dien apa dia itu). ((dari Bab Al Imamah Pasal bila shalat di belakang orang yang diragukan keIslamannya).(Dari Bab Al Imamah, Pasal: Bila shalat di belakang orang yang diragukan keislamannya…)

Ini yang bisa kami ingatkan di sini, dan kami dalam hal ini memiiliki satu risalah khusus berjudul “Masaajidudl Dliraar Wa Hukmush Shalah Khalfa Auliyaait Thaghut Wa Nuwwabihi “


[1] Lihat sebagai kisahnya dalam Al Bidayah wan Nihayah 2/212. dan sesudahnya.

[2] Lihat Al Mughniy (kitabul murtad), dan hadits ini dishahihkan oleh Al Albaniy dalam Al Irwa (2480), namun beliau rancu dalam takhrij seraya membaurkan hadits ini dengan hadits Al Bukhari tentang anak yahudi yang pernah melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus dia sakit, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjunginya dan mengajaknya sehingga masuk Islam.

[3] Hadits ini diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud

[4] Telah lalu isyarat pada hadits ini, dan laki-laki ini termasuk sekutu Tsaqif, dia ditawan kaum muslimin dengan sebab pelanggaran Tsaqif  tetkala mereka membatalkan perjanjian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dituturkan dalam hadits ini, sedangkan sisi dalil darinya: Bahwa ucapan laki-laki itu (saya muslim) di dalamnya adalah terdapat keberuntungan, di antaranya keterjagaan darah dan harta, seandaianya dia mengucapkannya hal itu sebelum tertangkap padahal sebelumnya dia memiliki kekuatan, (tentulah bermanfaat). Adapun pengucapan hal itu setelah dia tertangkap sedangkan sebelumnya dia itu adalah orang yang melindungi dirinya dengan kekuatan (sebagaimana keadaan dia di sini, karena dia itu tergolong koalisi orang–orang yang membatalkan perjanjian) maka pengucapan itu serta pengakuan Islamnya setelah dia ditangkap tidaklah bisa menjaga darah dan hartanya sebagaimana yang ditunjukan oleh hadits itu, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghanimah untanya (Al ’Adlba) dari laki-laki ini, dan menebusnya dengan dua orang muslim yang ditawan mereka(Tsaqif) sebagaimana dalam hadis itu sendiri dan ia ada dalam Shahih Muslim (Kitab An Nadzr) (1614)  beliau memperlakukan dia layaknya orang–orang kafir padahal dia itu mengaku muslim, karena pengakuan ini ada setelah dia ditangkap.

[5] Majmu’ Al Fatawa 19/119

[6] Begitulah yang benar wallahu ‘alam, yaitu (Sahl) bukan (Suhail), dan (Suhail) telah banyak diriwayatkan dalam banyak tempat yang ada di tangan saya, seperti Al Mughniy (8/261), Al Bidayah Wan Nihayah (3/29), Dan Al Hafidl menisbatkannya di dalamnya kepada At Tirmidzi, dan begitu juga Al Muntaqa Bab (tawanan mengaku Islam sebelum ditawan dan ada satu saksi ) dan  diakui oleh Asy Syaukaniy dalam Nailul Authar 8/136-137 dan juga dalam Al Jami ‘ Fi Thalabil ‘Ilmi Asy Syarif hal 559, dan ada juga dalam Irwaul Ghalil 5/48, semua menyebutkannya Suhail Ibnu Baidla, dan ia seperti dalam Al Isti’ab 2/228 adalah saudara Sahl pemeran kisah ini, karena yang pertama telah masuk Islam di Mekkah dan hijrah ke Habasyah kemudian kembali ke Mekkah sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih ada di sana; kemudian muqim bersamanya hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah dan Suhail juga hijrah, sehingga dia mengumpulkan dua hijrah terus mengikuti Badar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh sebab itu Ibnu Katsir menyebutkannya juga dalam Al Bidayah Wan Nihayah 3/319 dalam jajaran Badriyyin. Adapun Sahl, maka dia adalah yang menyembunyikan keIslaman di Mekkah, tidak hijrah sampai akhirnya Quraisy memaksa dia keluar ikut perang Badar bersama mereka, kemudian ia ditawan di dalamnya bersama kaum musyrikin, begitulah dalam Al Isti’ab 2/221.

[7] Lihat Al Mughni Kitabul Murtad (pasal Bila orang kafir shalat, maka dia dihukumi muslim…)

[8] Agar engkau mengetahui sebagian kekafiran Negara Saudi, silakan rujuk kitab kami “ Al Kawasif Al Jaliyyah Fi kufrid Daulah As Su’udiyyah”.

[9] Asal hadits di dalam Ash Shahihain dari hadits Ibnu ‘Abbas.

[10] Dalam kitab Al Janaaiz (Bahwa Bila anak kecil shalat terus dia meninggal, apakah dishalatkan…?) secara mauqquf terhadap Ibnu Abbas dan diriwayatkan secara marfu dari berbagai jalan yang dihasankan dengan semua jalan-jalanya.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s