Seri Al Ghuluw Fit Takfier (Seri ke 3 Takfier Berdasarkan Kaidah “Hukum Asal Pada Manusia Adalah Kafier“ Karena Negeri Ini Adalah Negeri Kafir)

Takfier Berdasarkan Kaidah “Hukum Asal Pada Manusia Adalah Kafier“ Karena Negeri Ini Adalah Negeri Kafir

Di antara kekeliruan yang sangat buruk di dalam takfier adalah takfier berdasarkan kaidah “Hukum Asal Pada Manusia Adalah Kafir“ karena negeri ini adalah Negeri Kafir, dan memperlakukan mereka sebagai orang kafir serta menghalalkan Daarah, harta serta kehormatan mereka berdasarkan kaidah ini yang mereka bangun sebagai kaidah asal seraya menginduk terhadap dasar keberadaan negerinya adalah negeri kufur.

Dan kekeliruan ini banyak tersebar di tengah-tengah ahlul ghuluw, dan sebagian orang-orang jahil mengambilnya Dari mereka tanpa mengetahui asal (landasan)nya dan konsekuensi- konsekuensi logisnya

Sedangkan kami –walillahulhamdu wal minnah- tidak mengatakan dengan ta-shil (penetapan hukum asal) ini dan tidak pernah menganutnya, namun kami senantisa dan terus tergolong orang-orang yang sangat mengingkarinya, sampai-sampai sebagian kalangan yang ghuluw di dalam takfier mereka itu mengkafirkan saya takkala saya menyelihi mereka dalam hal ini, dan saya mendebat mereka dalam rangka menggugurkannya. Dan pada hari itu saya tidak mendapatkan pada mereka sesuatu yang mereka jadikan sebagai hujjah untuk tas-hil ini, kecuali ungkapan yang terpotong milik Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang mereka cuplik Dari fatwa beliau seputar negeri Mardin yaitu ungkapanya: “(Dan ia) tidak seperti Daar Al Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir)”.

Dan mereka merubahnya kemudian menjadikannya: “Daar Al Kufri yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir )”

Kemudian mereka keluar Dari itu (dengan kesimpulan) bahwa setiap negeri kufur -walau ia mendadak muncul lagi baru bukan asal- maka penduduknya seluruhnya adalah kafir, kecuali orang yang mereka ketahui rincian-rincian keyakinannya.

Dan pada hari itu telah saya jelaskan kapada mereka bahwa lafadh ini -terutama pada negeri Mardin dan negeri-negeri kufur yang muncul baru yang semisal dengannya- tidak lain adalah isthilah para fuqaha buat negeri yang dikuasai orang-orang kafir dan hukum-hukum mereka berdiri tegak di atasnya, dan tidak ada kaitannya bagi penduduknya dengan cap kafir kecuali orang yang melakukan salah satu sebab Dari sebab-sebab takfier.

Dan saya tuturkan kepada mereka sebagian rincian yang akan datang, akan tetapi mereka tidak mau beranjak Darinya dan malah bersikukuh memegang ucapan itu sehingga saya terheran-heran bagaimana hawa nafsu bisa membalikkan mawazin (tolak ukur) dan menjadikan orang yang mengakui bahwa ucapan seorang sahabat itu bukan hujjah dan tidak menerima ucapan yang lainnya Dari kalangan tiga generasi terbaik dalam suatu masalah furu’ terus malah dia berhujjah dengan ucapan yang terpotong yang dikutip Dari ucapan seorang ulama pada abad ke tujuh dan (itu) dalam masalah yang mana ia tergolong masalah-masalah dien yang paling rentan (berbahaya), di saat ia mengira bahwa ucapan itu selaras dengan nafsunya atau melempangkan keinginan dan hajatnya… Padahal mereka itu mengakui bahwa seluruh mahkluk setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ucapan mereka perlu itu harus dilandasi hujjah dan bukan dijadikan sebagai hujjah, serta (ucapan itu) butuh terhadap dalil dan bukti dan bukan ia itu sebagai dalil dan bukti dengan sendirinya.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan sebagian dorongan-dorongan nafsu dan keinginannya dalam sikap langsung melakukan takfier serta terkadang tergesa-gesa di dalamnya, dalam firmanNya:

Dan jangan kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: ” kamu bukan orang mu’min”. (An Nisa: 94)

kemudian  Allah mengatakan:

“dengan maksud kamu mencari harta benda kehidupan di dunia…”. (An Nisa: 94).

Begitulah memang keinginan orang-orang yang terperdaya itu yang mana sebagian mereka itu telah saya debat. Sungguh memang mereka itu suka mencari-cari kesempatan terdekat dan termudah untuk merampas dan mencuri apa yang mereka dapatkan berupa harta benda milik orang-orang yang telah mereka vonis kafir, walaupun yang divonis kafir itu Dari kalangan du’at dan mujahidin atau kaum muslimin mustadl’afin (yang lemah). Harta-harta itu menurut orang-orang yang ghuluw itu adalah ghanimah, dan telah saya saksikan banyak contoh Dari itu, dan pada akhirnya mereka bertikai di antara mereka sendiri dan berselisih atas sebagian harta-harta itu.

Saya memohon kepada  Allah subhanahu wa ta’ala agar membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan menjauhkan pemuda kaum muslimin Dari fitnah-fitnah yang menyesatkan ini. Karena sikap berani mengkafirkan kaum muslimin serta menghalalkan Daarah dan harta kaum muwahhidin tanpa alasan syar’iy adalah tidak ada yang berani lancang terhadapnya kecuali jiwa-jiwa yang sakit yang tidak pernah mencium aroma wara’ dan taqwa.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda dalah haji Wada’: “Sesungguhnya Daarah-Daarah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti keharaman hari kalian ini di bulan kalian ini di negeri kalian ini”.

Dan sabdanya juga dalam hadits Al Bukhari dan Muslim: “Tidak halal Daarah orang muslim kecuali dengan salah satu Dari tiga hal: Tsayyib yang berzina, jiwa dengan jiwa (qishash), dan yang meninggalkan diennya lagi meninggalkan jamaah“.

Dan sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Senantiasa orang mu’min dalam kelapagan Dari diennya selama ia tidak menumpahkan Daarah yang haram.“ (HR Al Bukhari Dari Ibnu Umar).

Dan dalam Al Bukhari:Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya termasuk keterpurukan yang tidak ada jalan keluar bagi orang yang terjatuh di dalamnya adalah penumpahan Daarah yang haram tanpa ada penghalalnya.”

Dan dalam Al Bukhari juga, Maimun Ibnu Siyah bertanya kepada Anas Ibnu Malik,       berkata: Wahai Abu Hamzah, apa yang mengharamkan Daarah dan harta seorang hamba?

Maka beliau berkata:Siapa yang bersaksi akan laa ilaaha illallah, menghadap kiblat kami, shalat seperti shalat kami dan makan sembelihan kami, maka dia muslim, baginya apa yang menjadi hak orang muslim dan atasnya apa yang menjadi kewajiban orang muslim”.

Dan telah lalu apa yang dituturkan oleh Al Qadli ‘Iyadl dalam Asy Syifa 2/277 Dari para Ulama muhaqqiqin, ucapan mereka: Sesungguhnya penghalalan Daarah orang-orang yang shalat lagi bertauhid itu adalah berbahaya, sedangkan keliru dalam membiarkan seribu orang kafir adalah lebih ringan Dari keliru dalam menumpahkan satu semburan Dari Daarah satu orang muslim.”

Dan beliau menukil ucapan Al Qabisiy: Dan Daarah tidak boleh ditumpahkan kecuali dengan hal yang jelas, sedangkan sangsi dengan cambuk dan penjara terkandung hukuman yang membuat jera bagi orang-orang yang dungu“  (2/262)

Dan seandainya mereka itu menyibukan diri di dalam pencarian ilmu dan mengkaji kitab-kitab para ulama serta muthala’ah masalah-masalah ushul dan furu’, tentulah mereka akan mengetahui bahwa sebelum penghalalan Daarah dan harta seandainya muncul ucapan atau perbuatan mukaffir pada diri seseorang; adalah ada tahapan-tahapan dan syarat-syarat dan mawani’ yang terkadang menghalangi Dari takfier apalagi Dari penghalalan (Daarah dan harta), terutama bagi macam orang-orang yang mereka cengkram Dari kalangan kaum muslimin yang lemah atau para da’i dan kaum mu’minin yang tidak melindungi diri dengan kekuatan para thaghut atau dengan hukum dan undang-undang mereka. Dan bahwasanya tidak mesti Dari vonis kafir terhadap suatu perbuatan atau ucapan tertentu, orang mu’ayannya langsung dikafirkan sebagaimana yang telah lalu, sehingga tentunya tidak terbukti atas hukum tersebut konsekuensi-konsekuensi logis yang mereka inginkan dan mereka cari-cari.

Di samping ini sesungguhnya jumhur ulama, bahkan Ibnul Muhdzir menuturkan ijma mereka; bahwa kepemilikan orang murtad itu tidak hilang dengan sekeDaar riddahnya[1] bila riddahnya tidak munghalladhah dan tidak pula dia mumtani’ (melindungi diri dengan kekuaatan), sesungguhnya dia itu disuruh taubat sedangkan keadaannya seperti itu, dan terkadang dia kembali kepada Islam

Dan setiap orang yang mengamati fatwa Syaikhul Islam yang mana orang-orang yang ghuluw menjadikannya sebagai hujjah, maka dia pasti mendapatkannya Dari awal hingga akhir sebagai hujjah atas mereka. Sungguh beliau rahimahullah telah ditanya tentang negeri Mardin yang dijajah Tartar dan mereka menguasainya sedangkan di sana terdapat kaum muslimin. Maka beliau rahimahullah menjawab: (Segala puji bagi Allah, Daarah dan harta kaum muslimin adalah diharamkan di mana saja mereka berada di Mardin atau tempat lainnya. Dan orang yang menetap di sana bila tidak mampu menegakkan diennya maka wajib hijrah atasnya, dan kalau tidak demikian maka hijrah adalah sunnah dan tidak wajib…) hingga ucapannya: (Dan tidak halal mencela mereka secara umum serta (tidak halal) mencap mereka munafik, namun celaan dan tuduhan nifaq itu dilakukan terhadap sifat-sifat yang disebutkan dalam Al Kitab dan As sunah, sehingga masuk di dalamnya sebagian penduduk Mardin dan lainnya. Adapun statusnya sebagai Daarul harbi atau negeri Islam, maka ia adalah gabungan: Di dalamnya ada dua makna, ia tidak berkedudukan sebagai Daar Al Islam yang mana berlaku di atasnya hukum-hukum Islam dikarenakan tentaranya adalah kaum muslimin, dan tidak berkedudukan sebagai Daarul Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir, namun ia adalah macam ketiga yang mana kaum muslimin diperlakukan dengan yang semestinya). Diikhtishar Dari Majmu Al Farawa 28/135.

Maka beliau menerapkan     :

–          Bahwa Daarah dan harta kaum muslimin, hukum asal yang paling mendasar di dalamnya adalah haram dan terjaga di mana saja mereka berada. Sedangkan status negeri itu tidak ada campurtangan di dalam hal itu, namun tolak ukur keterjagaan (Daarah dan harta) itu adalah penampakan orang itu terhadap Islam, bukan penampakkan Daar negeri itu terhadap Islam.

–          Dan bahwasannya tidak halal menuduh kaum muslimin dengan sesuatu Dari sifat-sifat nifaq dan yang lainnya dengan alasan sekeDaar bahwa negerinya[2] itu telah berada dibawah kekuasaan orang-orang kafir padahal kaum muslimin itu sendiri tidak melakukan sesuatu (pembatal).

–          Dan sesungguhnya Daar (negeri) yang beliau ditanya tentangnya dan yang semisal dengannya, meskipun ia itu telah mendapatkan cap para fuqaha sebagai Daarul Kufri karena penguasaan orang-orang kafir di atasnya, akan tetapi berkaitan dengan status hukum yang diterapkan terhadap penduduknya adalah murakkabah (gabungan).

Ia tidak seperti Daarul Islam yang asli yang mana Ahlul Kitab membedakan dirinya di sana dengan pakaian yang membedakan mereka serta orang murtad tidak diakui sama sekali di dalamnya. Maka hukum asal bagi setiap orang selain Ahlil Kitab Dari para penduduknya bahwa ia itu tergolong kaum muslimin, dan oleh karenanya Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seseorang dalam kondisi seperti itu untuk mengucapkan salam terhadap orang yang dikenal dan orang yang tidak dikenalnya[3]. Dan oleh karena itu para fuqaha menegaskan dan berdalil sering sekali dalam furu fiqh dengan ungkapannya: Hukum asal di Daarul Islam adalah Islam “.

Dan ia juga tidak seperti Daarul Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir dan belum pernah mengalami seharipun sebagai Daar Islam serta mayoritas penduduknya bukan orang-orang Islam. Jadi ia bukan negeri kufur asli, akan tetapi sebelum penguasaan orang-orang kafir tehadapnya ia adalah negeri Islam dan mayoritas penduduknya adalah Dari kaum muslimin. Dan oleh karena itu hukum terhadap penduduknya serta perlakuan terhadap mereka tidaklah dikaitkan mengikuti sesuatu Dari isthilah-isthilah itu karena tidak adanya kebakuan hal itu, namun siapa saja yang menampakkan Islam maka harta dan Daarahnya terjaga serta ia diperlakukan layaknya kaum muslimin, dan siapa saja yang keluar Dari syariat Islam maka ia diperlakukan dengan perlakuan yang layak baginya. Perkataan beliau rahimahullah adalah jalas lagi tidak ada kesamaran di dalamnya…

Namun masalahnya adalah seperti apa yang beliau tuturkan ditempat lain, bahwa berkumpulnya syahwat dengan syubhat menguatkan pendorong pada syubhat dan mewariskan rusaknya ilmu dan pemahaman.

Sedangkan mereka itu telah mendapatkan pada pemahaman yang sakit itu sesuatu yang mengokohkan syubhat-syubhat mereka dan melegalkan syahwat-syahwat mereka yang bersifat mencari ghanimah. Sehing mereka berpegang erat dengan ucapan Ibnu Taimiyyah (dan ia tidak seperti Daarul Harbi yang mana penduduknya adalah orang-orang kafir) terus mereka menjadikan kekafiran sebagai hukum asal pada penduduk setiap negeri yang masuk dalam isthilah Daarul Kufri walaupun sifat kekafiran di dalamnya adalah thari’ (baru muncul) karena penguasaan hukum orang-orang kafir. Terus akhirnya mereka mengkafirkan seluruh penduduknya walaupun mayoritas mereka itu Dari kalangan yang mengaku Islam, dan berpegang teguh dengan hal itu dan mereka bersikeras di atasnya.

Inilah, dan sungguh dulu saya pernah menelusuri isthilah Daarul Kufri dan Daarul Islam, saya kumpulkan perkataan-perkataan banyak ulama dan definisi mereka akan daar (negeri), serta saya lihat pengaruh isthilah ini menurut mereka terhadap penduduknya, namun ternyata saya tidak mendapatkan pada seorang ulama muhaqqiqin pun sesuatu Dari apa yang diinginkan oleh mereka (ahlul ghuluw), terutama pada Daarul Kufri yang muncul baru yang mana mayoritas penduduknya adalah orang-orang Islam.

Ya, memang saya telah menemukan sesuatu yang serupa dengan pendapat mereka pada sebagian kelompok Khawarij yang sesat.

Azariqah pengikut Nafi Ibnul Azraq berkata: (Sesungguhnya orang yang muqim di Daarul Kufri adalah kafir, tidak ada jalan lain baginya kecuali keluar). Dan sudah maklum bahwa mereka memandang bahwa negeri orang-orang yang menyelisihi mereka Dari kalangan kaum muslimin adalah negeri kufur.

Baihasiyyah dan ‘Aufiyyah berkata: (Bila Imam (pemimpin) telah kafir maka seluruh rakyatnya kafir, baik yang ghaib di antara mereka ataupun yang menyaksikan).

Ini semua berasal Dari kejelekan dan kebodohan mereka, dan nanti akan ada urusannya di Pasal IV Dari kitab ini.

Adapun para ulama muhaqqiqin, maka sungguh saya telah mengamati pernyataan banyak di antara mereka, namun saya tidak mendapatkan pada mereka sesuatupun Dari lontaran-lontaran ini. Dan lontaran saya ini tidak dikeruhi oleh apa yang ada dalam Ahkamul Qur’an Karya Al Jashshash dan yang lainnya, yang mana ia bisa diduga oleh orang yang tergesa-gesa sebagai hal yang serupa dengan hal itu, padahal ia bukan tergolong bahasan ini. Dan itu dikarenakan ungkapan tersebut berkenaan dengan tanah musuh yang ulama maksudkan dengan isthilah Daarul Harbi atau Daarul Kufri yang asli dan di saat adanya payung Daar Islam dan Jama’atul Muslimin yang mana orang muslim mampu pindah kepada mereka terus ia tafrith (tidak ada upaya) dalam hal itu dan tinggal seraya memperbanyak jumlah orang-orang musyrik.

Adapun pelontaran kaidah ini dan istilah itu serta penggunaannya secara muthlaq terhadap negeri yang mana kekafirannya muncul kemudian di atasnya padahal mayoritas penduduknya adalah Dari kalangan orang-orang yang mengaku Islam, tanpa mempertimbangkan Istidl’af (ketertindasan) kaum muslimin dan tidak adanya Daar Islam yang bisa dijadikan tempat Hijrah dan tempat berlindung orang muslim, dan tanpa orang muslim itu bermufakat dan membantu atas kekafiran, maka ini yang tidak saya dapatkan sama sekali. Dan di akhir uraian ini adalah sangat senang sekali saya menuturkan perkataan Asy Syaukani dalam As-Saul Jarrar: (Ketahuilah sesungguhnya menyinggung penyebutan Daarul Islam dan Daarul Kufri adalah sedikit faidahnya, berdasarkan bahasan yang telah kami utarakan kepadamu dalam bahasan tentang Daarul Harbi, dan bahwa Kafir Karbi itu halal Daarah dan hartanya bagaimanapun keadaannya, selama tidak diberi jaminan keamanan Dari kaum muslimin, dan bahwa harta dan Daarah orang muslim itu terjaga dengan keterjagaan Islam baik di Daarul Harbi dan yang lainnya). 4/576

Inilah yang penting bagi kami di sini Dari hal itu, dan ia itu selaras dengan kesimpulan ucapan Syaikhul Islam tentang penduduk Mardin dan yang lainnya.

Dan para ulama seluruhnya berpendapat seperti itu, sehingga engkau berkesimpulan Dari penelusuran definisi mereka terhadap Daarul Kufri dan Daarul Islam, bahwa penamaan-penamaan ini adalah isthilah Fiqh yang tidak ada pengaruhnya dalam menghukumi orang yang memungkinkan untuk mengetahui diennya Dari penduduk negeri-negeri itu, dan bahwa orang yang menampakkan Islam serta tidak mendatangkan satupun Dari pembatal-pembatalnya yang dhahir maka sesungguhnya dia itu terjaga Daarah dan hartanya di mana saja berada.

Definisi-definisi mereka meskipun ada sedikit perbedaan, namun sesungguhnya jumhur mereka menyatakan bahwa penamaan ini digunakan sesuai mengikuti hukum-hukum yang berlaku dan pendominasian kekuatan yang berdiri di atas negeri itu. Bila hukum-hukum kufur berkibar di atas negeri itu atau pendominasian kekuatan di dalamnya berada di tangan orang-orang kafir, maka para ulama biasa menamakanya sebagai Daarul Kufri maskipun mayoritas penduduknya orang-orang Islam. Dan bila ghalabah (dominasi kekuatan) di dalamnya dan hukum-hukum yang berlaku adalah bagi kaum muslimin, maka ia adalah Daarul Islam meskipun mayoritas penduduknya Dari orang-orang kafir sebagaimana keadaan negeri-negeri yang dihuni oleh kaum kafir dzimmi dan dikuasai oleh kaum muslimin.

Ibnu Hazm (456 H) bekata: (Dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamSaya berlepas diri Dari setiap muslim yang tinggal di tengah orang-orang musyrik” beliau hanya memaksudkan dengannya Daarul Harbi, karena sesunguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengangkat para pengawainya untuk mengurusi Khaibar sedangkan seluruh penduduknya adalah yahudi. Dan bila saja orang-orang  kafir dzimmiy di negeri-negeri mereka lagi tidak dicampuri oleh orang-orang lain, orang yang tinggal di tengah mereka untuk menjadi amir mereka atau untuk berdagang di antara mereka adalah tidak dinamakan kafir dan tidak dinamakan orang yang salah akan tetapi dia itu muslim yang baik, sedangkan negeri mereka adalah Daar Islam bukan Daar Syirik, karena Daar itu hanya dinisbatkan kepada yang kekuatan yang mendominan di atasnya, dan penguasaan di dalamnya serta pemiliknya). Al Muhalla 11/ 200

Al Qadli Abu Ya’la Al Hanbaly (450 H): (Setiap negeri yang mana pendominasian kekuatan di dalamnya bagi hukum-hukum kafir bukan hukum-hukum Islam, maka ia adalah Daar Kufri ) Al Mut’tamad Fi Ushuliddien 276.

Ibnul Qayyim (751 H) berkata: “Selagi tidak berjalan di atasnya hukum Islam, maka ia bukan Daarul Islam meskipun berdampingan dengannya. Contohnya Thaif, di mana ia dekat sekali dengan Mekkah namun tidak menjadi Daarul Islam dengan Futuh Mekkah”. Ahkam Ahlidz dzimmah  1/ 366.

Asy Syaukaniy berkata (1250 H) dalam As Sail Al Jarrar 4/ 575: “Yang dianggap jadi patokan adalah nampaknya kekuasaan, bila perintah-perintah dan larangan-larangan di suatu negeri itu di tangan kaum muslimin, maka negeri ini adalah Daarul Islam, sedangkan tampaknya cabang-cabang kekafiran di dalamnya adalah tidak mempengaruhi (status negeri ini), karena cabang-cabang kekafiran itu tidak nampak dengan kekuatan dan kekuasaan orang-orang kafir, sebagaimana ia disaksikan pada orang-orang kafir dzimmi Dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan kafir-kafir mu’ahid yang tinggal di kota-kota Islamiyyah, dan bila masalahnya sebaliknya maka status negerinya juga sebaliknya.”

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman (1349H) berkata di dalam sya’irnya:

Bila orang kafir berkekuatan menguasai

Negeri Islam dan rasa takut menyelimuti

Dan dia berlakukan hukum kafir terang-terangan

Dia tampakkan di dalamnya tanpa sungkan

Dan dia lemahkan dengannya hukum syariat Muhammad

Serta Islam tidak nampak dan tidak dianut di sana

Maka ia Daaru Kufr menurut setiap ahli  Tahqiq

Sebagaimana dikatakan para ahli ajaran agama

Namun tidak setiap orang di dalamnya di cap kafir

Bisa jadi di dalamnya ada orang salih dalam beramal.

Engkau dapat melihat Dari pengamatan definisi-definisi ini dan yang lainnya bahwa para ulama biasa menggunakan isthilah ini sebagai bentuk penunjukan pada macam ghalabah (dominasi kekuatan) dan hukum-hukum yang berlaku di negeri itu, dan mereka pada umumnya mengingatkan sebagaimana yang telah engkau lihat bahwa orang muslim itu terjaga darah dan hartanya di mana saja mereka berada, dan bahwa keislaman mayoritas penduduk negeri atau kekafirannya adalah tidak ada pengaruhnya di dalam menghukumi suatu negeri, sebagaimana status negeri itu tidak ada pengaruhnya di dalam menilai keislaman atau kekafiran penduduknya, terutama bila negeri itu adalah negeri kafir yang baru muncul (negeri yang murtad)  bukan negeri kafir asli.

Namun tidak setiap orang di dalamnya di cap kafir

Bisa jadi di dalamnya ada orang shalih dalam beramal

Sebagaimana yang dikatakan oleh Sulaiman Ibnu Sahman………….

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menaklukan Khaibar tahun 7H, sedangkan seluruh penduduknnya adalah Yahudi, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui mereka di sana dan bersepakat dengan mereka atas hasil pertaniannya, sehingga dominasi kekuatan kaum muslimin dan tegaknya hukum-hukum islam di sana menjadikannya sebagai Daarul Islam, dan bolehlah tinggal menetap dan bermuqim di dalamnya. Dan Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak pegawai di sana.

Dan sebaliknya, tatkalah Aswad Al’Insiy mengaku nabi di Yaman dan banyak orang Dari kalangan penduduknya murtad serta menjadi pengikutnya sehingga ia bisa menguasai San’a -dan itu terjadi di akhir hari-hari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup dunia ini- dan Aswad membunuh gebernurnya Syahr Ibnu Badzan yang mana ia telah diakui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai gubernurnya, dan sebagian pegawai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lari ke Madinah tatkala pengaruh Al ‘Insiy menyebar dan banyak orang menjadi murtad bersamanya (sedangkan kaum muslimin mempergauli dia di sana dengan taqiyyah)[4], namun mereka tidak menjadi kafir dengan sebab menetapnya mereka di negeri murtad dan tidak melarikan diri Darinya, justru di antara mereka ada Fairuz Ad Dailamiy dan para sahabatnya yang teguh dan berbuat rekayasa sehingga bisa membunuh Al Aswad Al ’Insiy dan akhirnya dominasi (ghalabah kekuatan) kembali di Yaman kepada tangan kaum muslimin.

Inilah San’a telah menjadi negeri kafir dengan dominasi kaum murtaddin dan orang-orang kafir terhadapnya setelah sebelumnya ia adalah negeri Islam, yaitu ia telah menjadi negeri riddah, dan tetap di bawah dominasi Al Aswad yang mengaku nabi selama empat bulan atau dekat Dari empat bulan. Dan itu tidak mencegah Dari keberadaan kaum muslimin yang shahih di dalamnya yang mana mereka mengambil sikap taqiyyah dan berupaya untuk mengembalikan ghalabah bagi muslimin, sehingga pada akhirnya meraka mampu membunuh Al Aswad dan mengembalikan Yaman kepada hokum kaum muslimin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu[5] dan tidak pula mengatakan bahwa mereka itu telah kafir dengan sebab menetapnya di San’a dan tidak lari saat ia telah menjadi negeri kafir dengan kemenangan orang-orang kafir atas mereka, sedangkan ini terjadi saat adanya Daarul Islam dan Jamaatul Muslimin.

Dan juga setelah itu, tatkala Mesir jatuh ke tangan ‘Ubaidiyyin yang kafir Dari keturunan Banu ‘Ubaid Al Qadah, mereka menguasainya dan mereka mengendalikan pemerintahan di sana, maka Mesir menjadi negeri kafir murtad setelah sebelumnya adalah Daar Islam dan mayoritas penduduknya Dari kaum muslimin. Mesir terus berada dalam cengkraman ‘Ubaidiyyin kurang lebih 200 tahun, di dalamnya mereka menampakkan paham Rafidhah, kekafiran serta kezindiqan, sehingga Ibnul Jauzi menulis kitab berjudul (An Nashr ‘Alaa Mishr). Namun demikian tidak seorangpun Dari ulama muhaqqiqin menyatakan bahwa hukum kufur yang telah dilebelkan pada negeri ini dan terhadap para perampasnya itu telah mencakup para penduduknya yang tertindas. Bahkan justru di dalamnya terdapat banyak ulama, fuqaha dan orang-orang shalih. Di antara mereka ada yang sembunyi-sembunyi dan tidak mampu menampakkan aqidahnya di hadapan Banu ‘Ubaid, bahkan (mereka tidak mampu) menyampaikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir dibunuh (sebagaimana Ibrahim Ibnu Said Al Hibal teman Abdul Ghaniy Ibnu Said menghikayatkan bahwa ia menolak Dari meriwayatkan hadits karena khawatir mereka membunuhnya). Majmu Al Fatawa 35/85.

Bersama ini semua, sesungguhnya umumnya kaum muslimin menyembunyikan kebencian kepada Bani ‘Ubaid dan berlepas diri dari mereka. Dan memang ada sebagian mereka menampakkan hal itu dengan cara yang mana ia tidak mendapatkan siksaan mereka di dalamnya, sebagaimana As Sayuthi menuturkan dalam Muqaddimah Tarikh Al Khulafa Dari Ibnu Khalkan bahwa ia berkata tentang Ubaidiyyin: (Mereka itu mengklaim tahu yang ghaib, dan berita mereka dalam hal itu sangatlah masyhur, sampai-sampai Al Aziz suatu hari naik mimbar terus melihat selembar kertas bertuliskan:

Dengan kezaliman dan aniaya kami telah relakan

Tapi bukan dengan kekafiran dan kedunguan

Bila kamu benar mengetahui Ilmul ghaib

Jelaskan kepada kami siapa penulis surat kaleng ini?

Dan seorang perempuan mengirimkan kisah kepadanya, yang di dalamnya ada: Dengan Dzat Yang memuliakan kaum Yahudi dengan Misya dan Nashara dengan Ibnu Nasthur serta menghinakan kaum muslimin dengan kamu, tolong selesaikan urusan saya)[6]

Siapa di antara pada ulama muhaqqiqin -bukan orang-orang yang ngawur- yang mengatakan kafirnya masyarakat dengan sekedar muqim mereka di Daarul Kufri selama mereka tidak menampakkan suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran? Ini padahal saat adanya Daar Islam yang mana kaum muslim bisa hijrah kepadanya saat itu, maka apa gerangan saat Daarul Islam tidak ada pada zaman kita ini?

Sungguh ‘Ubaidiyyin itu lebih buruk terhadap agama Islam daripada Tartar sebagaimana yang dituturkan Adz Dzahabiy. Di antara mereka ada yang menampakkan celaan terhadap para Nabi, adapun celaan terhadap para sahabat maka janganlah ditanya lagi. As Sayuthiy telah menuturkan dari Abul Hasan Al Qabisiy: (Sesungguh para ulama dari kalangan para ahli ibadah yang di bunuh oleh ‘Ubaidillah dan keturunannya adalah empat ribu orang dengan tujuan menghalangi mereka dari menyatakan doa ridla Allah buat para sahabat, namun mereka memilih mati, dia berkata: Andai saja ia itu Rafidlah saja, namun ia itu Zindiq). Tarikhul Khulafa hal: 13.

Engkau lihat sesungguhnya saat itu di Mesir banyak para fuqaha, sebagaimana yang telah kami ketengahkan juga dalam ucapan Abu Muhammad Al Qairuwaniy Al Kizaniy: (Adanya para Fuqaha Muqim di sana hanyalah dalam rangka menghadang (paham) mereka agar kaum muslimin tidak kosong dari orang yang memberikan penjelasan kepada mereka, sehingga mereka (‘Ubaidiyyah) tidak leluasa menyesatkan mereka dari diennya).

Di antara mereka ada yang sembunyi-sembunyi dan di antara mereka ada yang menampakkan diennya, sehingga di bunuh, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Qadli Abu Bakar Al Baqilaniy: (Al Mahdi ‘Ubaidillah adalah orang kebatinan busuk yang sangat berupaya untuk melenyapkan Millatul Islam, dia menghukum mati para ulama dan Fuqaha agar leluasa untuk menyesatkan manusia). Tarikhul Khulafa hal 12.

Dan di antara ulama yang terang-terangan mengkafirkan mereka adalah Asy Syahid –kami mengira seperti itu– Abu Bakar An Nabulsi yang dihadirkan oleh Al Mu’izz: (Dia berkata kepadanya: Telah sampai berita kepadaku tentang kamu bahwa kamu berkata: Seandainya saya punya sepuluh panah tentu saya akan tembak Ramawi dengan yang sembilan dan akan saya tembak orang-orang Mesir  dengan satu,” maka beliau berkata: Saya tidak pernah mengataka ini,” Mu’izz menduga beliau rujuk dari ucapannya terus dia berkata: Bagimana kamu katakan? Beliau berkata: Saya berkata: Seyogyanya kami menembak kalian dengan sembilan panah dan kemudian menembak Romawi dengan yang ke sepuluh.” Mu’izz berkata: Kenapa? beliau berkata: ( Karena kalian telah merubah dien umat ini, kalian bunuh orang-orang shalih, kalian padamkan cahaya ilahiyah  dan kalian mengklaim apa yang  tidak kalian miliki.” Maka dia mempermalukan beliau terus memukulnya dengan cambuk kemudian dia datangkan seorang yahudi mengulitinya sedangkan beliau membaca Al-Quran, Yahudi berkata: Saya merasa iba terhadapnya, sehingga terkala saya sampai dekat jantungnya maka saya menusuknya dengan pisau, dan akhirnya beliau mati…..). Al-Bidayah Wan Nikayah 11/284 secara ringkas, dan lihat Siyar A’lam  An Nubala 16 / 148…

Dan bukti dari ini semua bahwa keadaan kaum muslimin di bawah kekuasaan para penyerobot yang kafir di setiap zaman, yang mana mereka telah menyerobot dan menguasai negeri-negeri Islam, adalah bertingkat-tingat, ada yang tertindas lagi bersembunyi, ada yang melakukan taqiyyah dan ada yang berjihad lagi menegakkan dienullah tabaraka wata’ala. Dan para ulama tidak mencap kafir terhadap seorangpun dari mereka selagi tidak melakukan sesuatupun  dari pembatal-pembatal keislaman dan sebab-sebab kekafiran yang nyata lagi nampak. Dan mereka hanya mengkafirkan orang yang membela orang-orang kafir atau murtaddin atau menampakan loyalitas terhadap mereka atau ia menjadi pejabat negaranya dan pemerintahanya yang kafir sebagaimana Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah 11/284 menukil dari Al Qadli Al Baqilaniy ucapannya tentang ‘Ubaidiyyin (Sesungguhnya madzhab mereka adalah kekafiran yang murni dan keyakinananya Rafidlah, dan begitu juga pejabat negaranya, siapa yang menurutinya dan membelanya serta loyal terhadapnya, maka semoga  Allah hinakan mereka dan dia) .

Dan contoh-contoh dari jenis ini dalam Tarikh adalah banyak. Dan bukti  darinya: Bahwa hukum asal pada setiap orang yang mengaku Islam atau menampakkan sifat-sifat khusus Islam adalah Muslim selama tidak menampakkan suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran. Dan hukum asal padanya adalah bahwa dia itu terjaga darah dan hartanya serta kehormatannya di mana saja.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu’min dan perempuan-perempuan yang mu’min yang tiada kamu ketahui…..” (Al Fath: 25).

Allah namakan mereka mu’minin padahal mereka itu berada di Mekah saat berstatus sebagai negeri kufur dan padahal mereka itu bersembunyi-sembunyi lagi tidak diketahui oleh orang-orang mu’min.

Berkata dalam Raudlatuth Thalibin 10/282: (Cabang: Orang muslim bila lemah di Daarul Kufri lagi tidak mampu Idhharud dien (menampakan keyakinan), maka ia haram menetap di sana, dan wajib atas dia hijrah ke Daarul Islam, bila dia tidak mampu hijrah maka dia diudzur sampai dia mampu, bila suatu negeri ditaklukan sebelum si muslim itu hijrah maka hijrah gugur darinya. Dan bila dia mampu idhharuddien dikarenakan dia itu orang yang ditaati di tengah kaumnya atau karena di sana dia memiliki keluarga yang melindunginya dan tidak takut fitnah dalam diennya, maka hijrah itu tidak wajib, namun dianjurkan agar tidak memperbanyak jumlah kaum musyrikin, atau dia cenderung kepada mereka, atau mereka melakukan tipu muslihat terhadapnya, dan ada yang mengatakan: Hijrah wajib baginya, ini dihikayatkan oleh Imam Madzhab, sedangkan yang shahih adalah yang pertama).

Al Mawardiy berkata: (Bila dia memiliki di dalamnya -yaitu di Daarul Kufri-  keluarga dan marga, serta mungkin baginya menampakkan diennya, maka tidak boleh baginya untuk hijrah, karena tempat yang mana ia ada di sana telah menjadi Daar Islam).

Rasyid Ridla berkata dalam rangka mengomentari hal itu: (Ini adalah pendapat yang batil, karena sekedar penampakkan seseorang akan diennya tidak menjadikan Daar itu sebagai Daar Islam sedangkan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya adalah bukan Islamiyyah, sebab sesungguhnya seluruh negeri-negeri Eropa tidak seorangpun ditentang di dalamnya bila ia menampakkan diennya atau mendakwahkannya termasuk saat kondisi mereka memerangi kaum muslimin, dan dikarenakan hijrah dari Daar Islam ke Daar Islam yang lain adalah boleh dengan ijma. Seandainya beliau (Al Mawardi) berkata: “Tidak wajib atasnya hijrah dalam keadaan seperti itu”, tentulah dekat, dan bisa jadi ini adalah asli ucapannya, kemudian terjadi kekeliruan di dalam penukilan). Dari Syarhul Arba’in An Nawawiyyah hal 13 dalam Majmu’atul Hadits An Najdiyyah.

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam rincian-rincian tentang pembunuhan orang secara keliru:

Jika ia (si terbunuh) Dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mu’min”. (An Nisa:92)

Allah subhanahu wa ta’ala menamakan dia mu’min, dan menjadikan (wajib) kaffarah dalam pembunuhannya karena keliru, padahal dia itu menetap bersama musuh-musuh kita di Daarul Harb, sesuai ucapan segolongan dari salaf, para fuqaha dan para mufassirin sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Jarir dan yang lainnya….. dan silahkan lihat Raudlatuth Thalibin 9/381.

Asy Syaukani berkata dalam Fathul Qadir 1/998: (Dan ini adalah masalah orang mu’min yang dibunuh oleh kaum muslimin di negeri orang-orang kafir yang mana ia itu asalnya bagian dari mereka kemudian masuk Islam dan tidak hijrah sedangkan kaum muslimin itu mengira bahwa ia itu belum muslim dan masih di atas agama kaumnya, maka tidak wajib diyat atas si pembunuhnya, namun ia wajib memerdekakan hamba sahaya yang mu’min. Para ulama berselisih tentang alasan gugurnya diyat, ada yang mengatakan bahwa para wali si terbunuh itu adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki hak dalam diyat, dan ada yang mengatakan bahwa kehormatan orang yang baru beriman ini adalah kecil, berdasarkan Firman  Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali dengan mereka. Dan  Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan”.  (Al Anfal: 72)

Perhatikanlah pelebelan  Allah terhadap mereka dengan status sebagai orang-orang yang beriman padahal mereka itu belum hijrah dari Daarul Kufri di saat adanya Daar Islam yang mana hijrah itu wajib ke sana.

Asy Syaukani sungguh telah menuturkan setelah itu bahwa sebagian ahlul ilmi mewajibkan diyatnya, namun untuk baitul mal, pendapat ini dan bahasan kita ini bisa diperdekat juga dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud 2642 dan At Tirmidzi Dari hadists Jarir Ibnu Abdillah, berkata: (Rasulullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pasukan kecil ke daerah Khats’am kemudian orang-orang di antara mereka melindungi diri dengan sujud, namun mereka tetap dibunuh, dia berkata: Hal itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus beliau memerintahkan bayar buat mereka separuh diyat, dan beliau berkata: Saya berlepas diri dari muslim yang menetap di tengah orang-orang musyrik.” Mereka bertanya: Kenapa wahai Rasulullah? beliau berkata: Jangan sampai kedua api mereka saling melihat”.

Hadists ini dianggap cacat dengan Irsaal, di mana Jarir tidak disebutkan dalam riwayat Jama’ah, namun sebagian ulama menilai shahih dengan seluruh jalan-jalannya.

Al Khaththabi dan sebagian ulama menyebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mengeluarkan separuh diyat buat mereka setelah beliau tahu akan keIslaman mereka, karena mereka sendirilah yang telah membantu atas diri mereka dengan menetapnya di tengah orang-orang kafir. Sehingga mereka itu seperti orang yang binasa dengan jinayah (perbuatan aniaya) dirinya dan jinayah orang lain, maka dengan itu gugurlah bagian jinayah dirinya, sehingga dia tidak mendapat kecuali separuh diyatnya.” ‘Aunul Ma’bud 7/218.

Dan ini semuanya tergolong bukti-bukti yang menunjukkan bahwa orang seperti ini tidak kafir walau dia taqshir dalam berhijrah dan berdosa dengan sebab ia menetap di tengah kaum musyirik. Dan tidak ada yang menunjukkan akan hal itu selain penamaan yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berikan kepadanya dengan lebel muslim dan tidak menghilangkan sifat (cap) itu darinya. Dan ini tidak dikeruhkan oleh sikap bara’ah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam darinya dan sedangkan sikap bara’ah secara total itu tidak dilakukan kecuali dari orang kafir, karena yang dimaksud dengan bara’ah di sini adalah bara’ah dzimmah (lepas tanggungan) dari diyatnya secara sempurna,[7] sebagaiman yang telah ditafsirkan di dalam hadits itu sendiri. Dan di antara hal itu pula adalah kurangnya hak dia dalam nushrah karena dia taqshir di dalam hijrah. Ini adalah qarinah? yang memalingkan bara’ah total kepada bara’ah macam kedua yang ditafsirkan oleh As Sunnah dan  Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum hijrah maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadmu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan  Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.”  (Al Anfal : 72)

Kecuali bila menetapnya di Daarul Kufri serta taqshirnya akan hijrah yang wijib ke Daarul Islam diserta: Pembelaan dia terhadap kaum musyrikin dan sikap perangnya terhadap kaum muslimin, maka saat itu bara’ah darinya adalah bara’ah total yang mengkafirkan.

Ibnu Hazm berkata setelah menuturkan hadits di atas: (Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bara’ kecuali dari orang kafir. Allah Tabaraka Wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. “ (At Taubah: 71)

Terus beliau berkata: (Maka sahlah dengan hal ini bahwa orang yang bergabung dengan Daarul Kufri wal Harbi dengan sukarela seraya memerangi orang-orang yang dekat dengannya dari kalangan kaum muslimin, maka ia dengan perbuatan ini murtad, baginya berlaku hukum-hukum orang murtad seluruhnya, seperti wajibnya dibunuh dikala kuasa atasnya, halal hartanya, lepas pernikahannya dan yang lainnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bara’ dari orang muslim. Dan adapun orang yang lari ke negeri harbi karena kezhaliman yang dia khawatirkan dan ia tidak memerangi kaum muslimin dan tidak membantu orang-orang kafir) atas kaum muslimin, serta ia tidak mendapatkan pada kaum muslimin orang yang melindunginya, maka ini tidak ada dosa atasnya karena ia terpepet lagi mukrah (terpaksa)) Al Muhalla 13/138-139.

Dan ia jelas menerangkan bahwa luhuq (bergabung) ke Daarul Kufri hanya bisa menjadi kekafiran bila disertai pemerangan terhadap kaum muslimin, bantuan terhadap orang-orang kafir serta menyokong mereka atas kaum muslimin. Sehingga ia bisa berlaku bagi para pendukung kemusyrikan yang memerangi dien ini atau orang yang membantu kaum musyrikin dan kafirin atas para muwahhidin, bukan semua orang-orang yang menetap di Daarul Kufri.

Kemudian Ibnu Hazm berkata: (Dan telah kami sebutkan bahwa Az Zuhriy Muhammad Ibnu Muslim Ibnu Syihab telah berazam bahwa bila Hisyam Ibnu Abdul Malik mati, maka ia akan pergi ke negeri Romawi karena Al Walid Ibnu Yazid telah nadzar untuk membunuhnya bila ia menangkapnya, sedangkan ia itu adalah penguasa setelah Hisyam, maka orang yang seperti ini adalah diudzur.

Dan begitu juga orang yang tinggal di negeri India, Sind, Turki, Sudan dan Romawi dari kalangan kaum muslimin, bila ia tidak mampu keluar dari sana karena beratnya beban atau sedikitnya harta atau lemahnya badan atau tercegahnya jalan maka dia itu diudzur.

Kemudian bila ia di sana memerangi kaum muslimin lagi membantu orang-orang kafir dengan khidmat (layanan) atau tulisan maka ia kafir.“

Awas anda memahami dari ucapannya: (Lagi membantu orang-orang kafir dengan layanan atau tulisan maka ia kafir) takfier dengan sebab sekedar membantu  orang-orang kafir dengan hanya pelayanan atau tulisan, sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian para ghulat. Anda sudah lihat bagaimana Ibnu Hazm mengaitkan bantuan ini dengan memerangi kaum muslimin, inilah yang merupakan kekafiran, yaitu memerangi kaum muslimin, membela orang-orang kafir serta nushrah mereka atas kaum muslimin dalam memerangi mereka walau dengan tulisan dan yang lainnya, bukan sekedar khidmah mereka dan menuliskan buat mereka, maka hal ini ada rincian di dalamnya yang akan datang dalam rincian bekerja  pada orang kafir.

Kemudian beliau rahimahullah berkata: (Dan bila ia menetap di sana hanya untuk mendapatkan dunia, dan ia seperti dzimmi bagi mereka, sedangkan dia mampu bergabung dengan golongan kaum muslimin dan tanah mereka, maka ia tidak jauh dari kekafiran, dan kami tidak melihat baginya udzur serta kami memohon ‘afiyah kepada  Allah. Dan tidak seperti itu orang yang tinggal dalam ketaatan terhadap ahlul kufri dari kalangan orang-orang yang ghuluw (kepada manusia) dan orang yang sejalan dengan mereka, karena tanah Mesir dan Qairuwan (beliau mengisyaratkan kepada Ubaidiyyin) serta yang lainnya maka sesungguhnya Islam adalah yang nampak (di sana) dan para penguasanya bagaimanapun tidak terang-terangan dengan sikap keberlepasan diri dari Islam, justru mereka itu mengaku Islam walaupun hakikat sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir.

Dan adapun orang yang tinggal di Negeri Qaramithah secara sukarela, maka dia itu kafir tanpa ragu lagi, karena Qaramithah terang-terangan dengan kekafiran dan meninggalkan Islam, wa na’udzu billah min dzalik.

Dan adapun orang yang tinggal di negeri yang tampak di dalamnya sebagian bid’ah yang mengeluarkan kepada kekafiran, maka ia tidak kafir karena nama Islam adalah yang nampak di sana bagaimanapun keadaannya berupa tauhid, pengakuan akan risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bara’ dari setiap ajaran selain dien Islam, penegakkan shalat, shaum Ramadhan dan syariat-syarait lainnya yang mana ia adalah Islam dan Iman. Wal hamdu lillahi Rabbil Alamin). Selesai..

Dan sudah maklum bahwa ini semuanya adalah saat ada payung Daarul Islam.

Perhatikan pertimbangan Ibnu Hazm terhadap penampakkan syariat-syariat Islam dan kekhususan-kekhususan yang besar seperti tauhidullah, pengakuan akan keNabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, penampakkan shalat dan shaum Ramadhan, dan pengakuan para penguasanya terhadap Islam serta mereka tidak bara’a darinya, padahal mereka itu sebenarnya adalah kafir. Perhatikan pertimbangan beliau akan hal itu dalam pembolehan bagi orang muslim untuk muqim –atau minimal tidak mentakfirnya– karena muqimnya dia di Daar Kufr yang sifatnya seperti itu dan keadaan para penguasanya seperti ini. Dan tidak menolak keserupaaan negeri-negeri kaum muslimin pada masa sekarang dengan hal ini kecuali orang yang keras kepala.

Dan begitu juga hadits yang disebutkan tentang sikap bara’a  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang yang menetap di antara kaum musyrikin, maka sungguh telah di katakan bahwa itu dalam payung adanya Daar Islam, bahkan telah di katakan bahwa itu di saat status hijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib sebelum Futuh Mekkah, namun dengan ini semua beliau tidak mengkafirkan orang-orang macam mereka dengan sekedar Iqamah mereka di tengah kaum musyrikin, meskipun mereka itu berdosa dan di kenakan sangsi dengan kurangnya nilai kehormatan mereka serta lemah dan kurangnya perwalian mereka.

Bila ternyata tidak ada Daarul Islam yang bisa dijadikan tempat hijrah oleh orang muslim, maka sesungguhnya dia itu diudzur dengan Iqamah dia di Daarul Kufri bila dia bertaqwa kepada  Allah dan menjauhi syirik serta (menjauhi) membantu ahlusy syirki atas kaum muslimin karena tidak ada jalan ke Daar Islam yang bisa dijadikan tempat hijrah sehingga dia berdosa dengan sebab taqshirnya dalam hal itu, apalagi dari bisa  dikafirkan.

Maka bagaimana bila Iqamah dia di Daarul Kufri sedangkan keadaannya seperti itu, dalam rangka membela dienillah dan idhhar/menampakan tauhid serta memberantas syirik dan tandid? maka tidak ragu bahwa orang muslim seperti ini adalah muhsin yang dapat pahala lagi menegakkan dienullah tabaraka wa ta’ala.

Dan dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan dari sekian belas/banyak sahabat dengan lafadh-lafadh yang berdekatan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Akan senantiasa segolongan dari umatku nampak di atas pertolongan Allah, mereka tidak terusik oleh orang yang menyelesihi mereka dan oleh orang yang menggembosi mereka sampai datang ketentuan  Allah”.

Dan seperti hal itu hadits yang lain: (Kuda itu diikatkan kebaikan pada kepalanya hinga hari kiamat,  pahala dan ghanimah). Ia ada dalam Shahih Al Bukhari.

Dua hadits ini menunjukan adanya kaum muslimin yang jujur dan para mujahid hingga hari kiamat, serta kesinambungan keberadaan mereka dalam setiap kondisi dalam payung adanya Daarul Islam dan saat tidak adanya, bahkan para ulama telah menetapkan wajib menetapnya orang muslim di Daarul Kufri bila memiliki kesempatan untuk merubah menjadi Daarul Islam, sebagaiman ada dalam Mughnil Muhtaj karya Asy-Syarbini 4/239: (Dan seandainya dia mampu mempertahankan diri di Daarul Harbi dan mengasingkan diri maka wajib dia menetap di sini, karena tempatnya adalah Daar Islam, sehinga andai ia hijrah tentu jadi Daar harb maka hijrah itu haram. Ya bila ia mengharapkan pembelaan kepada kaum muslimin dengan hijrahnya maka lebih utama baginya berhijrah, ini dikatakan oleh Al-Mawardiy -dan ia telah lalu- kemudian dalam iqamahnya di sana ia bisa berperang di atas Islam dan mendakwahkannya bila ia mampu, dan bila tidak seperti itu maka tidak (utama).

Dan beliau menukil dalam Raudlatuth Thalibin 10/282 Dari penulis Al-Hawi ucapannya: (Bila ia mengharapkan nampaknya Islam dengan muqimnya di sana, maka lebih utama baginya untuk menetap. Beliau berkata: (Dan seandainya dia mampu mempertahankan diri di Daarul Harbi dan mengasingkan diri maka wajib dia menetap di sini, karena tempatnya adalah Daar Islam, sehinga andai ia hijrah tentu jadi Daar Harb, maka hijrah itu haram, kemudian bila ia kuasa untuk memerangi orang-orang kafir dan mendakwahi mereka kepada Islam maka wajib hal itu atasanya, dan kalau tidak maka tidak, Wallahu ‘Alam).

Perhatikan pengwajiban mereka untuk menetap di Daarul Kufri dalam keadaan seperti ini. Jadi mana orang yang berlebih-lebihan lagi mengkafirkan dengan hal itu dari ini semua.

Al Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath: (Dan di dalamnya –yaitu hadits tentang kuda– ada kabar gembira akan keberadan Islam dan pemeluknya hingga hari kiamat, karena termasuk kelaziman adanya jihad adalah adanya mujahidin sedangkan mereka itu muslimin. Dan ia persis seperti hadits lain “(Senantiasa ada sekelompok Dari umatku yang berperang di atas kebenaran)”. Dari Kitabul Jihad Was Sair (Bab Al Jihad Madlin Ma’al Barri Wal Fajir).

Dan hampir dekat dengannya hadits Hudzaifah yang muttafaq alaih (Bila mereka tidak mamiliki jama’ah dan imam?) Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: (Tinggalkan firqah-firqah itu semuanya walau engkau menggigit akar pohon sampai engkau dijemput kematian sedangkan engkau di atas itu).

Di dalamnya ada faidah bahwa tidak ada pengaruh bagi lenyapnya Jama’atul Muslim atau imamnya -sedang ini adalah elemen-elemen Daarul Islam- dan tidak ada kaitannya bagi hal itu dalam keIslaman atau kekafiran seseorang. Dan tolak ukur yang mana hal itu berkaitan dengannya adalah hanya penampakan dia terhadap suatu sebab dari sebab-sebab kekafiran.

Maka ini semuanya menunjukan bahwa orang muslim bila berada di Daarul Kufri dan tidak hijrah darinya ke Daarul Islam karena kelemahan atau ada penghalang yang menghalanginya atau karena dia memiliki kesempatan untuk Idhhar/menampakan dien di Daarul Kufri atau karena ia menegakkan Jihad dan membela dien, maka dia muslim yang terjaga darah dan hartanya.

Apa lagi orang muslim yang menetap di Daarul Kufri dalam kondisi tidak adanya Daar Islam yang bisa dijadikan tempat hijrah sama sekali, karena Allah tabaraka wa ta’ala tidak mengaitkan hukum-hukum takfier dengan hal-hal yang memaksa yang tidak ada upaya hamba di dalamnya, namun Dia subhanahu wa ta’ala hanya mengaitkannya dengan sebab-sebab dhahir yang baku –sebagaimana yang lalu– yang terbatas pada ucapan atau perbuatan mukaffir dari upaya si mukallaf. Dan selama seseorang tidak menampakkannya dari hal itu maka tidak ada alasan untuk mengkafirkannya dengan hal-hal diluar keinginannya selama dia memiliki Ashlul Islam.

Dan kesimpulannya adalah bahwa isthilah Daarul Kufri itu tidak ada pengaruhnya dalam menghukumi para penduduk negeri itu, terutama di saat bumi ini seluruhnya telah menjadi negeri kafir baik kafir asli atau baru (murtad) karena pendominasian orang-orang kafir dan hukum-hukum mereka atas semua negeri.

Dan hal itu semakin kuat bila negeri yang disifati dengan isthilah ini adalah Daar Kufr Thari’, yaitu bahwa ia sebelumnya adalah Daar Islam dan mayoritas penduduknya masih mengaku Islam. Ini adalah hal yang luput dan dilalaikan oleh banyak kaum yang bersemangat tinggi, mereka tidak membedakan antara Daarul Kufri Al Ashliyyah yang mana biasanya para fuqaha memberlakukan statusnya sesuai status negeri itu di dalam sebagian masalah, dengan Daarul Kufril Hadits (baru) yang asalnya milik orang-orang muslim terus orang-orang kafir menguasainya. Sesungguhnya para Fuqaha menetapkan hukum asal di dalamnya bagi majhulul hal (orang yang tidak diketahui keadannya) yang tidak ada jalan untuk mengetahui keadaan -seperti mayyit, anak hilang dan orang gila- dengan hukum asal Islam dan ‘Ishmah (keterjagaan darah dan harta) dalam rangka hati-hati terhadap kehormatan muslimin dan sebagai penjaga akan darah mereka walaupun hanya satu orang muslim saja di sana, karena Islam itu tinggi dan tidak ada yang tinggi di atasnya, bahkan sebagian ulama menetapkan hukum asal Islam bagi keadaan seperti itu walau tidak ada satu muslimin pun yang nampak di dalamnya karena ada kemungkinan di dalanya terdapat mu’min yang menyembunyikan imanya.[8]

An Nawawi menukil dari Ar Rafi’iy dalam Raudhatuth Thalibin ucapanya dalam konteks ucapan beliau tentang laqith (anak yang ditemukan) di suatu negeri dan status hukum baginya dengan taba’iyyah (diikutkan dengan status negeri itu), bahwa Daarul Islam ada tiga macam   :

Pertama: Negeri yang dihuni kaum muslimin, maka laqith yang ada di dalamnya adalah muslim, meskipun di dalamnya ada kafir dzimiy, sebagai bentuk pendominanan kekuasaan Islam.

Kedua: Negeri yang dibuka oleh kaum muslimin dan mereka mengakuinya berada di tangan orang-orang kafir dengan jizyah, di mana bisa jadi mereka diberikan kepemilikan terhadapnya atau berdamai dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai pemilikinya, maka laqith di dalamnya adalah muslim walau hanya ada satu muslim atau lebih di dalamnya. Dan kalau tidak ada muslim maka si laqith itu kafir menurut pendapat yang shahih, dan ada yang berpendapat bahwa dia itu muslim karena ada kemungkinan bahwa dia itu anak orang yang menyembunyikan Islamnya di antara mereka.

Ketiga : Negeri yang pernah dihuni kaum muslimin kemudian mereka terusir darinya dan orang-orang kafir menguasainya, bila di dalamnya tidak ada orang yang diketahui keIslamannya, maka dia itu kafir menurut pendapat yang shahih. Dan Abu Ishaq berkata: Dia itu muslim karena kemungkinan ada muslim yang menyembunyikan Islamnya di sana. Dan bila ada orang yang diketahui keIslamannya di sana maka dia muslim.

Ini tentang keadaan-keadaan Daarul Islam, adapun tentang Daarul Kufri yang asli, maka beliau berkata: (Daarul Kufri, bila tiada muslim di dalamnya, maka si laqith yang ada di sana dihukumi kafir. Dan apabila di sana ada para pedagang musllim yang tinggal, maka apakah di hukumi kafir seraya mengikuti status negeri atau atau dihukumi muslim sebagai bentuk pendominan akan Islam? ada dua pendapat, yang paling shahih dari keduanya adalah yang kedua….).

Perhatikan kehati-hatian para ulama dan sikap mereka menetapkan dominasi Islam saat ada isykal termasuk di Daarul Kafri ashliyyah sebagai bentuk penghormatan akan kehormatan kaum muslimin dan sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga darah mereka; maka lebih utama lagi di Daarul Kufri Ath Thari’ (tiba-tiba mendadak) yang mayoritas penduduknya mengaku Islam.

Bagaimanapun keadaannya, selagi isthilah ini hanyalah dilontarkan para fuqaha dalam rangka penunjukan bahwa ghalabah (dominasi) dan pengendalian di negeri itu berada di tangan orang-orang kafir dan hukum-hukum mereka, maka tidak sah sedangkan keadan seperti itu penetapan kaidah pokok (bahwa hukum asal manusia adalah kekafiran) atas dasar isthilah ini terutama di Daarul Kufri Ath Thari’ah yang mayoritas penduduknya mengaku muslim dan menampak cirri-ciri khususnya.

Karena selama isthilah ini tidak dikaitkan dan tidak digantungkan terhadap para penduduk negeri dan macam agamanya, maka bagaimana bisa sah ta’shil (penetapan hukum asal) terhadap kepemelukan agama mereka di atasnya. Ta’shil maknannya menjadikan hukum asal sebagian acuan, seandainya isthilah ini dikaitkan dengan agama mayoritas penduduk negeri itu tentulah ta’shil ini memiliki jalan masuk. Oleh sebab itu sesunguhnya para fuqah bila berbicara tentang Daarul Islam yang mana ahlul kitab diwajibkan di dalamnya mengenakan pakaian yang berbeda dan orang murtad  tidak diakui sama sekali di dalamnya, atau bila mereka berbicara tentang Daarul Kufri Al-Ashliyyah yang mana Islam belum masuk ke dalamnya dan mayoritas penduduknya bukan kaum muslimin, engkau bisa melihat mereka menggunakan taba’iyyah (sifat pengikutan) terhadap Daar dalam sebagian bidang-bidang yang sempit saat tanda dhahir dan ciri tidak ada, serta sulit mencari kejelasan keadaan orang, seperti laqith, atau orang gila atau mayit yang tidak jelas statusnya, ia ditemukan di salah satu dua negeri dan tidak diketahui oleh seorangpun statusnya serta tidak ada ciri khusus yang menujukan akan dienya, maka mereka menyamakannya dengan negeri itu dalam keadaan seperti  ini… yaitu bahwa mereka mengambil hukum asal agama penduduk negeri itu di dalamnya, bukan sekedar isthilah yang mengikuti ghalabah dan hukum (yang berkuasa) saja sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw di dalam takfier, dan itu mereka terapkan di dalam Daarul Kufri Ath Athariah.

Dan bagaimanpun keadaannya, sungguh masalah hukum dengan taba’iyyah yang telah dibahas oleh para fuqah adalah tidak ada hubungannya dengan bahasan yang sedang kita bantah. Ia bukan untuk orang yang menampakkan sesuatu dari tanda-tanda Islam dan cirri-ciri khususnya, namun ia malah dikafirkan, sebagimana yang dilakukan oleh para ghulat sebagai penerapan kaidah ini, namun itu terbatas pada orang yang majhulul hal (tidak di ketahui keadaannya) yang sulit dari mencari kejelasan statusnya karena tidak adanya ciri dan karena ia masih keci, atau sudah mati, atau hilang akalnya, dan di sana tidak ada orang yang mengakuinya baik ayah atau wali agar diikutkan kepada mereka. Dan oleh karena itu para fuqah menegaskan bahwa di kala nampak padanya satu tanda yang menujukan dirinya atau ia diakui oleh seseorang, maka tanda dhahir ini didahulukan atas istishhab itu (hukum asal yang ada), dan karena itu mereka mendahulukan  tabi’iyyah kepada kedua orang tua terhadap taba’iyyah kepada negeri.[9]

Dan itu dikarenakan istishhab ini sebagaimana yang telah ditetapkan oleh ulama ushul adalah dalil yang paling lemah, dan ia tidak dipakai kecuali saat tak mampu menetapkan dhahir

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah: (Yang nampak itu didahulukan atas istishhab. Dan atas hal ini seluruh masah-masalah syari’at  (di tetapkan).

Dan dalam tempat yang sama beliau berkata: (Berpegang pada sekedar penggunaan hukum asal keadaan yang tidak ada adalah dalil paling lemah secara muthlaq serta dalil paling rendah yang dilakukan tarjih di atasnya) sehingga ucapanya: (Dan tidak boleh memberi tahu akan tidak adanya sesuatu dengan sekedar istihshabul hal tanpa bersandar kepada sesuatu yang menunjukan ketidakadaan, dan barangsiapa yang melakukan hal itu maka dia adalah dusta lagi berbicara tanpa dasar ilmu).

(Tidak mengetahuinya dia bukanlah ilmu akan ketidak adaanya) …. ( Dan macam dalil yang menunjukan terhadap pembuktian sesuatu adalah dalil yang lebih kuat dari sekedar pengambilan hokum asal ketidakadaan). Ikhtishar Dari Majmu Al Fatawa 23/13.

(Sesunguhnya kaum muslimin telah ijma’ dan itu diketahui secara pasti dari dienul Islam, bahwa tidak boleh bagi seorang untuk meyakini dan menfatwakan dengan landasan istishhab dan penafian ini, kecuali setelah mencari dali-dalil yang khusus, bila ia memang tergolong ahli hal itu, karena (semua) apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan adalah merubah istishhab ini, maka ia tidak dijadikan pegangan kecuali setelah melihat (meninjau) dali-dali syar’iy bagi orang yang ahlil hal itu). Majmu Al Fatawa 29/90.

Ibnu Qayyim berkata: (Kesaksian dari oang adil baik lagi laki-laki maupun perempuan adalah  lebih kuat dari istishhabul hal, karena sesungguhnya istishhabul hal itu adalah tergolong bukti yang paling lemah, oleh karenanya bisa ditolak dengan dengan pencabutan pernyataan, dan terkadang dengan sampah yang tertolak dan dengan saksi serta sumpah dan indikasi keadaan ). A’lamul Muwaqqi’in  1/96.

Perhatikan ini … pada hal sesungguhnya para fuqaha hanya memakai istishhab itu atau ta’shil tersebut dalam bidang yang sempit yang telah engkau ketahui di saat tidak ada qarinah-qarinah yang membedakan dan tidak diketahui dhahirnya, namun demikian ta’shil dan istishhab mereka ini adalah lemah, bisa dirubah oleh dalil  yang paling rendah, atau ciri atau dhahir atau kesaksian atau yang lainnya. Maka apa gerangan dengan kaidah itu dan ta’shil yang telah dilontarkan orang-orang yang ghuluw di dalam takfier lagi ngawur terhadap seluruh umat Islam, dan mereka tidak mempertimbangkan di dalamnya apa yang ditampakan oleh orang-orang shalih di antara mereka atau para mujahidin atau kaum mustadl’afin berupa syiar-syiar Islam dan cirri-ciri khususnya?

Mereka mengedepankan kaidah asal mereka yang bersandarkan kepada sekedar isthilah nama yang tidak ada hubungannya dengan agama manusia  (di negeri itu) terhadap hal dhahir yang terang dan apa yang dilakukan terang-terangan dari ucapan-ucapan manusia, amalan-amalan mereka serta syiar syiar Islam mereka, sedangkan Daar itu adalah Daar kufri thari’ah bukan  Daar kufri ashliyyah…

Maka tidak ragu bahwa  ta’shil mereka ini adalah sangat lemah dan sangat lemah, maka apa gerangan bila mereka menambahkan kepadanya dan membangun di atasnya penghalalan darah, harta dan kehormatan. Sesungguhnya ia adalah kebatilan yang murni yang mana kami berlepas diri kepada  Allah darinya…

TANBIH

Sesunguhnya kaidah (Hukum asal pada balatentara thaghut dan Ansharnya adalah kafir ) adalah benar lagi tidak ada cacat di atasnya.

Perlu dikatakan di sini bahwa kita meskipun mengingkari tha’shil  (penetapan hukum asal ) yang lalu, akan tetapi sesungguhnya perkataan dan pengingkaran kita ini tidak berlaku bagi bala tentara thaghut dan ansharnya, karena kaidah yang berkenaan dengan  mereka itu bagi kami adalah (bahwa hukum asal bagi mereka adalah kafir) sampai nampak bagi kita hal yang menyelisihi hal itu, karena ta’shil ini berdiri di atas nash dan indikasi dhahir bukan atas sekdaar taba’iyyah terhadap Daar, karena dhahir pada tentara thaghut, polisinya, intelejenya, dan dinas keamanannya adalah bahwa mereka itu tergolong wali wali syirik dan kuum musyrikin.

Merekalah mata yang menjaga undang-undang buatan yang kafir, mereka itu yang menjaganya, mengkokohnya dan menegakkanya senjata dan kekuatan mereka.

Mereka juga sebagai pelindung dan pancang-pancang yang mengkohkan tahta para thaghut dan yang menjadi sandaran para thaghut dalam menolak komitmen dengan syariat-syariat Islam dan dari tahkimnya.

Mereka adalah kekuatan thaghut dan ansharnya yang membantunya dan membelanya untuk menetapkan syariat-syariat kafir dan pembolehan hal-hal yang diharamkan berupa kemurtadan dan riba, khamr dan zina dan yang lainnya.

Mereka adalah orang-orang yang menghadang di depan setiap orang yang keluar dari kalangan hamba-hamba  Allah seraya mengingkari kekafiran dan kemusyrikan para thaghut, yang berupaya menerapkan syariat  Allah dan membela dien-Nya yang ditelantarkan lagi dihinakan.

Inilah hakikat pekerjaan mereka, jabatannya dan amalannya yang teringkas dalam dua sebab dari sebab-sebab kekafiran yang nyata yaitu     :

²     Membela kemusyrikin (Dengan cara tawalli kepada Undang-undang dan aturan kafir lagi thaghuti)[10].

²     Membela kaum musyrikin, tawalli kepada mereka dan membela mereka atas kaum muwahhidin[11].

Dan nash-nash yang menujukan bahwa dua hal ini adalah dua sebab Dari sebab-sebab kekafiran yang nyata adalah nampak lagi jelas, dan kami telah merincinya dalam selain tempat ini. Dan kami disini tidak bermaksud mereincinya, namun hanya mengingatkan pada (hukum) asal yang telah disebutkan.

Sungguh  Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan di hadapan kita hukum asal pada para pendukung orang-orang kafir dan auliya mereka seluruhnya, hukum asal yang paten dalam firman-Nya tabaraka wa ta’ala:

Orang-orang kafir berperang di jalan thaghut”. (An-Nisa: 76)

Dan firman-Nya:

“Dan siapa yang tawalli kepada mereka di antara kalian maka sesungguhnya ia tergolong mereka”. (Al-Maidah: 51)

Hukum asal pada setiap orang yang menampakkan tawalli kepada orang-orang kafir dan membela mereka atau orang yang berperang di jalan thaghut atau ia berada di barisannya dan pihaknya, dan orang yang menampakkan nusrahnya dengan lisan dan senjata-senjata bahwa ia tergolong kalangan orang-orang yang kafir.

Dan oleh karena itu, maka sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perlakuannya terhadap orang-orang kafir harbi dan terhadap ansharnya, auliyanya dan koalisinnya yang membantu orang-orang kafir atas kaum muslimin adalah atas dasar hukum asal ini.

Sebagai contoh silahkan lihat perlakuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Al ‘Abbas sebagaimana perlakuan terhadap orang-orang kafir padahal dia itu mengaku Islam tatkala ditawan di barisan-barisan musyrikin pada perang Badar dan hal seperti ini lihat juga pada apa yang diriwayatkan Muslim dalam kitab An-Nudzur (1008) dari Al Mukhtashar dari Hadits Umran Ibnu Hushain tentang kisah orang laki-laki dari Bani ‘Uqail sekutu Tsaqif tatkala ia ditawan oleh kaum Muslimin dengan sebab pelanggaran sekutunya tatkala Tsaqif melanggar perjanjiannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melepaskannya walaupun dia mengaku Islam, namun justru beliau memperlakukannya dengan perlakuan orang-orang kafir, untanya dijadikan ghanimah dan dijadikan tebusan bagi dua orang tawanan muslimin.

Dan itulah yang dilakukan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelahnya terhadap setiap orang yang memiliki kekuatan yang keluar dari syariat  Allah tabaraka wa ta’ala.

Lihat tindakan mereka pada kekhilafahan Abu Bakar terhadap Anshar Musailamah Al Kadzdzab dan kaum murtaddin lainnya seperti anshar Thulaihah Al Asadiy. Para sahabat telah mengkafirkan mereka seluruhnya dan mereka menyikapinya dengan satu sikap serta tidak ada satu sahabatpun yang menyelisihi dalam hal itu.

Dari itu para ulama muhaqqiqin memuthlakan ucapan akan penghalalan darah dan harta kaum muharibin dan anshar mereka. Dan mereka menjadikan hukum penopang (arrid-u) di antara mereka seperti hukum al mubasyir (orang yang langsung terjun) dari mereka.[12] Dan di dalam Al Mughniy (kitabul jihad) (Pasal, siapa yang ditawan terus mengaku bahwa dia muslim, maka tidak diterima ucapannya kecuali dengan bayyinah (bukti), karena dia mengaku sesuatu yang mana dhahir keadaannya menyelisihinya). 8/261, dan beliau menyebutkan di dalamnya kisah Sahl Ibnu Baidla dalam perang Badar, dan ia akan datang.

Perhatikan bagaimana beliau menjadikan hukum asal pada orang yang menampakkan sikap keberpihakan (inhiyaz) terhadap bala tentara orang-orang kafir sampai dia ditawan (saat ada) dalam barisan mereka, hukum asalnya adalah kufur, yang mana klaim yang menyelisihinya tidak diterima -sebagaimana dalam kisah tertawannya Al ‘Abbas juga- sehingga tegak bukti yang merubah hukum asal yang nyata ini.

Dari itu, sesungguhnya hukum asal -menurut kami- pada setiap orang yang Intisab terhadap lembaga dan alat ini yang mana hakikatnya nushratusy syirki dan ahlinya adalah kufur, sehingga kami menghukumi setiap individu dari mereka dengan hukum kafir dan kami berlakukan terhadapnya hukum-hukum kufur dengan sebab apa yang mereka tampakkan berupa sebab-sebab kekafiran, selama tidak nampak bagi kita suatu yang menyelisihi hal itu berupa adanya mani’ (penghalang) yang mu’tabar dari mawani’ takfier pada diri orang yang mengaku Islam dari mereka, sehingga kita mengecualikannya. Dan telah saya jelaskan bahwa tabayyun akan mawani’ pada diri al mumtani’in yang memerangi adalah tidak wajib karena imtina’ (penolakan) mereka dan muharabahnya, namun bila nampak bagi kita sesuatu dari hal itu pada diri sebagian mereka, maka kita tidak mengkafirkannya. Dan selama hal itu tidak nampak maka hukum asal yang nampak bagi kami dari mereka adalah kufur sedangkan hakikat urusan batin mereka adalah diserahkan kepada  Allah subhanahu wa ta’ala, dan bukan diserahkan kepada kita, kita telah diperintahkan untuk menghukumi berdasarkan dhahir, dan kita tidak diperintahkan merobek dada manusia dan batinnya, dan dikarenakan asal pekerjaan ini dan dhahirnya adalah apa yang telah engkau ketahui, sehingga kita memperlakukannya dan menetapkan hukum asal bagi mereka atas dasar dhahir ini sampai nampak bagi kita apa yang menyelisihinya, berbeda dengan tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan yang asal tabiatnya dan hakikatnya bukan nushrah syirik atau ahlinya, maka oleh sebab itu kita tidak mengatakan sesungguhnya hukum asal pada para dokter adalah kafir umpamanya sehingga nampak bagi kita hal yang menyelisihi itu, dan tidak pula kita katakan bahwa hukum asal pada para guru adalah kufur atau bahwa asal pada pekerjaan dinas di negara kafir semuanya adalah kufur…Tidak sama sekali, pekerjaan-pekerjaan ini sebagaimana yang akan datang ada rinciannya, di mana hakikat semuanya dan tabi’atnya tidaklah nushrah syirik dan ahlinya. Ya bisa saja ada pada orang yang memegang pekerjaan ini orang yang mana ia tergolong anshar syirik dan ahlinya, namun ini bukan khusus dengan hakikat tugas ini, sebagaimana ada dari kalangan bukan pegawai negeri ada orang yang tergolong anshar syirik dan ahlinya.

Ringkasan: Sesungguhnya ta-shil ini bila pada tugas atau pekerjaan yang hakikatnya ia adalah satu sebab dari sebab-sebab kekafiran yang nyata, seperti nushratusy syirky dan ahlinya atau tsyri’i sesuai UUD dan kekafiran-kekafiran nyata lainnya, maka ta-shil ini adalah tidak bermasalah bagi kita, dan maknanya: Memberlakukan hukum dhahir terhadap orang-orang yang bekerja di dinas ini dan menyerahkan hukum-hukum batinnya kepada  Allah tabaraka wa ta’ala.


[1] Lihat Al Mugni (Kitab Al Murtad), (Fasal: Dan tidak dihukumi hilangnya kepemilikan orang murtad dengan sekeDaar riddahnya …)

[2] Dari sebab guluw itulah maka lahir ide dan anggapan bahwa jika Daar atau negeri itu kafir –penduduk mayoritas Islam tapi hukum yang berjalan hukum jahiliyyah­- maka penduduknya dianggap kafir secara menyeluruh. Ini tidak diragukan lagi bahwa Pentakfieran model ini adalah hasil cloning Dari pemahaman khawarij Ekstrim masa kini, Ed-

[3]A- Yaitu bahwa tolak ukur sifat-sifat itu bukanlah daar itu, akan tetapi adanya sifat-sifat itu dan pengharusnya adalah ada pada diri orangnya di mana saj dia berada

B- Hadits “kamu ucapkan salam terhadap orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal”muttafaq alaih

[4] Lihat Al Badayah Wan Nihayah 6/808

[5] Bahkan diriwayatkan bahwa mereka melakukan hal itu atas perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa beliau mengirimkan utusan kepada mereka seraya memerintahkan mereka untuk tegak melaksanaan dien mereka dan bangkit untuk perang dan menghabisi Al Aswad, lihat Tarikh Thabari dan yang lainnya, dan juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Fairuz  tatkala sampai kepadanya berita pembunuhan Al Aswad saat beliau sedang sakit para h shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[6] Tarikh Al Khulafa hal 13, Misya Al Yahudi adalah gubernur di Syam dan Ibnu Nasthur An Nashrani adalah gubernur di Mesir.

[7] Dalam riwayat Al Baihaqi 9/12-13 dan lainnya. Di dalamnya ada an’anah Al Hajaj Ibnu Astha’ah (Siapa yang muqim bersama kaum musyrikin, maka dzimmah telah lepas darinya).

[8] Lihat sebagai contoh Al Mughni (kitab Al Laqith) (Fashl wala yakhlu al latqih min an yafada Fi Daar Islam au Fi Daar kufr…) dan lihat raudhatuth thalibin 5/433-434

[9] Lihat sebagai  contoh Al Mughni  (Kitabul Murtad) (Masalah: Dan begitu juga orang yang mati dari kedua orang tua di atas kekafirannya…)

[10] Undang-Undang mereka sendiri telah menegaskan bahwa tabi’at tugas aparat ini dan muhimmah intinya adalah: menjaga undang-undang, menegakkannya serta loyalitas kepada ahlinya.

[11] Setiap orang yang ingin menggulingkan undang-undang, falsafah, dan asas kekafirannya maka merekalah yang terdepan dan yang paling bersemangat untuk menjerat, memenjarakan dan menumpahkan darah muwahhidin dan mujahidin. (pent)

[12] Lihat Al mughniy 8/297, dan perhatikan alasan yang beliau kemukakan untuk kesamaan ar Rid-u dengan Al mubasyir dalam hukum-hukum muharabah (memerangi): Bahwa penyerangan itu dibangun di atas adanya man’ah (ketahanan), dukungan, dan munasharah (saling membela ), di mana Al Mubasyir (yang langsung terjun) tidak bisa berbuat kecuali dengan kekuatan ar rid-u.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s