Seri Al Ghuluw Fit Takfier ( Seri ke 2 Tidak Membedakan Antara Takfier Muthlaq Dengan Takfier Mu’ayyan atau Antara Kufur Nau’ dengan Kufrul ‘Ain.)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

(1)

Tidak Membedakan Antara Takfier Muthlaq

Dengan Takfier Mu’ayyan atau Antara Kufur Nau’ dengan Kufrul ‘Ain.

Ini dikarenakan banyak dari kalangan para pencari ilmu yang masih pemula tidak membedakan antara Ithlaqat (lontaran-lontaran) banyak para ulama dalam kitabn-kitabnya, seperti: “penghikayatan Ibnul Qayyim rahimahullah dari lima ratus para ulama islam, bahwa mereka mengkafirkan orang yang mengingkari istiwa (Allah bersemayam di atas ‘Arasy) dan justru mengklaim bahwa ia itu bermakna istilaa (menguasai)” atau seperti ucapan mereka “Siapa yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluq, maka dia telah kafir” atau “Siapa yang mengatakan bahwa  Allah ada di mana-mana, maka dia telah kafir”.

Dan sama seperti ini pula apa yang pernah kami lontarkan berupa lontaran-lontaran tentang sebagian orang yang melakukan atau mengucapkan hal-hal yang bisa membuatnya kafir (Sesungguhnya si Fulan telah jatuh dalam Mukaffirat ) atau (dia telah melakukan atau mengucapkan kekafiran) sungguh sebagian para pemula menisbatkan kepada kami pengkafiran orang-orang mu’ayyan itu dengan sebab lontaran-lontaran seperti ini, padahal itu tidak pernah kami katakan atau kami maksudkan sama sekali.

Dan begitu juga lontaran-lontaran para ulama tentang aliran-aliran yang menyimpang dari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti ucapan mereka “Jahmiyyah adalah kafir” atau “Qadariyyah adalah kafir” atau yang lainnya.

Mereka tidak membedakan antara hal ini dengan penerapan hukum-hukum ini terhadap orang-orang mu’ayyan sehingga bisa saja mereka mengkafirkan setiap orang yang mana mereka mendengar darinya sesuatu dari ucapan-ucapan ini atau mereka membacanya dalam kitab-kitab dan tulisan-tulisannya sampai-sampai saya mendengar di antara mereka ada orang yang mengkafirkan banyak para ulama karena keterjerumusan mereka dalam suatu dari pentakwilan sifat-sifat  Allah, seperti Al Hafidh Ibnu Hajar, An Nawawi dan yang lainnya, serta dari kalangan ulama masa kini adalah Sayyid Quthb[1] dan yang lainnya ini semua termasuk sikap ngawur dan tasarru’ (tergesa-gesa) yang akibatnya tidak terpuji.

Dan yang benar menurut para ulama muhaqqiqin bahwa mereka meskipun melontarkan lontaran-lontaran itu terhadap paham-paham atau aliran-aliran yang menganutnya, akan tetapi mereka tidak menerapkan hukum takfier terhadap orang mu’ayyan  kecuali setelah melihat syarat-syarat dan mawani’ takfier. Dan di antara hal itu adalah apa yang telah sering disebutkan oleh Syakhul Islam dalam Al-Fatawa bahwa “Jahmiyyah itu telah dikafirkan oleh salaf dan para imam dengan takfier muthlaq, meskipun individu-individu tertentu tidak dikafirkan kecuali setelah tegak hujjah yang mana orang yang meninggalkannya dikafirkan”[2].

Kesimpulan bahasan ini :

–          Bahwa takfier muthlaq adalah: Terbuktinya kekafiran orang yang mendatangkan ucapan atau perbuatan tertentu dengan dalil syar’iy, dan itu dikatakan siapa yang mengucapkan ini maka dia telah kafir. Begitulah dengan ithlaq (lontaran umum) tanpa penerapan hukum kafir terhadap orang mu’ayyan.

–          Jadi takfier muthlaq adalah penerapan hukum kufur terhadap sebab bukan terhadap pelaku sebab itu. Yaitu adalah penerapan dosa perbuatan itu bukan si pelakunya, dan untuk hal itu cukup saja meninjau pada dalil syar’iy dari sisi qath’iy dilalah terhadap kufur akbar dan ia itu bukan dari bentuk shighah-shighah (teks-teks) yang banyak memiliki kemungkinan dilalahnya disertai meninjau qath’iy dilalah perbuatan atau ucapan itu terhadap kekafiran.

–          Adapaun takfier mu’ayyan adalah pemberlakuan hukum takfier terhadap orang mu’ayyan yang mengatakan atau melakukan sebab mukaffir. Di dalam  hal ini di samping keharusan meninjau macam dosa perbuatan tersebut sebagaimana dalam takfier muthlaq (harus juga) meninjau pada keadaan si pelaku atau orang yang mengucapkannya dari sisi keterbuktian perbuatan itu terhadapnya dan tidak adanya penghalang-pengahalang hukum kafir padanya, yaitu terpenuhinya syuruth takfier dan tidak adanya mawani’.

Dan telah lalu syarat-syarat dan mawani’ dalam pasal yang lalu, serta telah lalu bahwa memperhatikan hal ini hanyalah wajib pada orang-orang yang tidak mumtani’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata (Dan saya pernah menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang dinukil bagi mereka dari salaf dan para imam berupa pelontaran pernyataan umum prihal kekafiran orang yang mengatakan ini dan itu, maka ini adalah haq juga, akan tetapi wajib membedakan antara lontaran umum dengan ta’yin. Dan inilah masalah pertama yang mana umat ini berselisih di dalamnya dari masalah-masalah ushul yang besar, yaitu masalah “Al Wa’id”, karena nash-nash Al-Qur’an tentang Al-Wa’id adalah muthlaq (bersifat umum), seperti firmannya :

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya …(An-Nisa: 10).

Dan begitu juga ungkapan-ungkapan lain, siapa yang melakukan hal ini, maka baginya itu, sesungguhnya ungkapan-ungkapan ini adalah muthlaq lagi umum dan ia seperti ungkapan salaf “siapa yang mengatakan ini maka ia demikian”. Kemudian orang mu’ayyan bisa gugur darinya hukum wa’id/ancaman dengan taubat atau kebaikan-kebaikan yang bisa menghapus atau musibah-musibah yang menggugurkan dosa atau syafa’at yang diterima.

Sedangkan takfier itu termasuk wa’id, dan sesungguhnya suatu ungkapan itu meskipun sebagai bentuk takdzib (pendustaan) terhadap apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun bisa jadi orang itu baru masuk Islam, atau hidup di pedalaman yang jauh, maka orang seperti ini tidak dikafirkan dengan sebab pengingkaran apa yang dia ingkari sehingga hujjah tegak atasnya, dan bisa jadi orang itu belum mendengar nash-nash (syar’iy) atau sudah mendengarnya namun tidak tsabit (shahih) baginya, atau ada hal lain padanya yang menyelisihinya yang mengharuskan dia untuk mentakwilnya walaupun dia itu keliru. Majmu Al Fatawa 3/147-148.

Dan beliau berkata juga 35/101: (Dan asal hal itu: Bahwa maqalah (paham) yang mana ia adalah kekafiran terhadap Al-Kitab, As-Sunnah dan ‘Ijma’, maka dikatakan tentangnya bahwa ia adalah kekafiran dengan ucapan yang muthlaq, sebagaimana hal itu ditunjukan oleh dalil-dalil syar’iy, karena Al Iman adalah termasuk hukum-hukum yang didapatkan dari  Allah dan Rasul-Nya, dan hal itu bukan termasuk apa yang di putuskan oleh manusia dengan praduga-praduga dan hawa nafsu mereka. Dan tidak wajib divonis pada setiap orang yang mengatakan hal itu bahwa ia kafir sampai terbukti jelas padanya syarat-syarat takfier dan penghalang-penghalangnya tiada, seperti orang yang mengatakan sesungguhnya khamar atau riba adalah halal karena dia baru masuk Islam atau tinggal di pedalaman yang jauh atau dia mendengar ucapan yang diingkarinya dan ia tidak menyakini bahwa itu bagian dari Al-Qur’an atau dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)…dan ini telah lalu.

Dan berkata 23/195: Dan hakikat masalahnya dalam hal itu: Bahwa ucapan itu bisa saja kekafiran, kemudian di muthlaqkan ucapan tentang kekafiran orangnya, dan dikatakan: Siapa yang mengatakan ini maka dia kafir, akan tetapi orang mu’ayyan yang mengatakannya tidak divonis kafir sehingga tegak atasnya hujjah yang mana orang yang meninggalkannya di kafirkan, dan ini seperti dalam nash-nash wa’id, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (mereka)” (An-Nisa:10)

Nash ini atau nash-nash wa’id lainnya adalah haq, akan tetapi orang mu’ayyan tidak boleh dipastikan terkena wa’id (ancaman), maka tidak boleh bagi orang mu’ayyan dari kalangan Ahlul kiblat dipastikan masuk neraka, karena boleh jadi dia tidak terkena cakupan wa’id oleh sebab tidak terpenuhi salah satu syarat atau adanya mani’ (penghalang), di mana bisa saja hukum pengharaman belum sampai kepadanya, dan bisa saja dia bertaubat dari perbuatan haram itu, dan bisa saja dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar yang menghapuskan (dosa) perbuatan haram itu, dan terkadang dia dicoba dengan musibah-musibah yang bisa menggugurkan (dosa) darinya, serta terkadang pemberi syafaat yang ditaati memberikan syafaat padanya.

Dan begitu juga ucapan-ucapan yang si pengucapnya dikafirkan bisa saja orang itu belum sampai padanya nash-nash yang mengharuskan dia mengetahui al haq, dan bisa saja nash-nash itu ada padanya namun tidak tsabit atau tidak memiliki kesempatan untuk memahaminya, dan bisa saja ada syubuhat yang merintanginya yang dengannya Allah mengudzur dia, maka siapa saja yang mana ia itu tergolong kaum mu’minin seraya berijtihad dalam mencari Al Haq dan dia malah keliru, maka sesungguhnya  Allah mengampuni baginya kekeliruan itu apa pun bentuknya baik dalam masalah-masalah nadhariyyah (teoritis) atau amaliyyah (praktek), inilah yang di pegang oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jumhur para imam Islam ini.

Dan beliau berkata juga setelah menuturkan pertentangan sebagian muta’akhkhirin dalam takfier ahlul bid’ah, apakah ia kekafiran yang mengeluarkan dari millah atau bukan, dan apakah mereka itu kekal dalam nereka atau tidak … beliau berkata : (Dan hakikat masalah ini: “Bahwa mereka tercakup dalam lafadh-lafadh umum pada ucapan para Imam, seperti apa yang menimpa orang-orang terdahulu dalam lafadh-lafadh umum pada nash-nash syari’at, di mana setiap kali mereka melihat ulama salaf mengatakan: Siapa yang mengatakan ini maka dia kafir” maka si pendengar meyakini bahwa lafadh ini meliputi setiap orang yang mengucapkannya, dan mereka tidak memperhatikan bahwa takfir itu memiliki syuruth dan mawani’ yang terkadang tak terpenuhi pada hak orang mu’ayyan, dan bahwa takfierul muthlaq tidak memestikan takfirul mu’ayyan kecuali bila syarat-syaratnya ada dan  mawani’nya tidak ada. Ini dijelaskan dengan realita bahwa Imam Ahmad dan umumnya para imam yang melontarkan lafadh-lafadh umum ini tidak mengkafirkan mayoritas orang yang menyatakan ucapan ini secara ta’yin. Sesungguhnya Imam Ahmad umpamanya telah menghadapi langsung Jahmiyyah yang mengajak beliau kepada pendapat “Al-Quran itu makhluk dan penafian sifat-sifat  Allah “ mereka menindas beliau dan para ulama masa itu, dan mereka menyiksa kaum mu’min dan mu’minat yang tidak menyetujui mereka atas paham Jahmiyyahnya dengan pukulan dan penjara. Dan di sebutkan bahwa mayoritas ulil amri mengkafierkan setiap orang yang bukan Jahmiy yang setuju dengan mereka, serta mereka memperlakukannya seperti terhadap orang-orang kafir…hingga ucapannya (Dan sudah ma’lum, sesungguhnya ini tergolong sikap Jahmiyyah yang paling kejam, karena mengajak kepada pendapat itu adalah lebih dasyat dari sekedar berpendapat, memberikan hadiah kepada yang menyatakannya dan menyiksa orang yang meninggalkannya adalah lebih dahsyat dari sekedar mengajak kepadanya).

Kemudian Imam Ahmad mendoakan bagi sang Khalifah dan yang lainnya dari kalangan orang yang telah memukul dan memenjarakanya, beliau memohonkan ampun bagi mereka dan menghalakan mereka dari apa yang telah mereka lakukan, dan seandainya mereka itu murtad dari Islam  tentulah tidak boleh memintakan ampun bagi mereka, karena memintakan ampun bagi orang-orang kafir adalah tidak boleh dengan landasan Al-Kitab, As-Sunnah dan Al-Ijma’.

Ucapan-ucapan beserta perbuatan-perbuatan ini dari beliau dan dari para imam lainnya adalah sharih (Jelas) bahwa mereka tidak mengkafirkan orang-orang mu’ayyan dari Jahmiyyah…

Dan telah di nukil dari Imam Ahmad apa yang menunjukkan bahwa beliau mengkafirkan dengan sebabnya orang-orang mu’ayyan. Bisa jadi dituturkan dari beliau dua riwayat dalam masalah ini, maka ini perlu ditinjau, atau masalahnya perlu dirinci, sehingga dikatakan: Orang yang beliau kafirkan secara ta’yin adalah karena tegaknya dalil yang menunjukkan bahwa pada orang itu syarat-syarat takfier telah terpenuhi dan mawani’nya tidak ada. Dan orang yang tidak beliau kafirkan secara ta’yin, adalah karena tidak terpenuhinya hal itu padanya, ini tentunya disertai pelontaran takfier secara umum dari beliau). Majmu’  Al Fatawa 12/261-262.

Khulashahnya / Ringkasnya: Bahwa tidak memperhatikan perbedaan antara takfier muthlaq dengan takfieru mu’ayyan adalah sumber ketergelinciran dan kesalahan yang jatuh di dalamnya sebagian orang. Di mana mereka mengkafirkan banyak orang yang tidak halal dikafirkan kecuali setelah penegakkan hujjah dan peringatan terhadap mereka, sehingga mereka sesat dengan sikap itu dan menyesatkan banyak orang.


[1] Takfier Sayyid Quthb dengan sebab kekeliruannya dalam bab sifat-sifat  Allah, dan sebagian ungkapan-ungkapan sastranya, saya telah mendengarnya dari sebagian Neo Murji-ah yang menisbarkan diri secara palsu kepada salafiyyah padahal mereka itu bersikap wara’ yang dingin lagi dungu dalam takfier orang-orang murtad yang memerangi dien ini dari kalangan para thaghut dan ansharnya.

[2] Lihat sebagai contoh 2/.214

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH, Hukum dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s