Bantahan Orang Sesat yang ANTI Takfier Mu’ayyan Pelaku Syirik Akbar

(AL MAURID AL ‘ADZBU AZ ZALLAL FI NAQDI SYUBAHI AHLI ADL DLALAL)

PENULIS

AL IMAM ABDURRAHMAN IBNU HASAN IBNU MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB

ALIH BAHASA: ABU SULAIMAN

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Segala puji hanya milik Allah Yang Mengokohkan Islam dengan pertolongan-Nya, yang Menghinakan syirik dengan Keperkasaan-Nya, yang Mengatur segala urusan dengan Perintah-Nya dan Yang memberi ulur orang-orang ahli maksiat dengan makar-Nya. Dia Yang menampakkan agama-Nya atas semua agama, Yang Maha Kuasa atas semua hamba-hambaNya sehingga tidak ada yang bisa mengelak, Yang mengatur hamba-hamba-Nya sehingga tidak ada yang melawan, Dan Yang Maha Bijaksana dalam apa yang dia inginkan sehingga tidak ada yang bisa menentang.

Saya memuji-Nya atas pemuliaan-Nya kepada para wali-Nya, pertolongan-Nya terhadap tentara-tentara-Nya, dan penghinaan-Nya terhadap musuh-musuh-Nya, dengan pujian orang yang merasakan pujian itu dengan hati sanubarinya dan dengan anggota badannya. Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagi-nya, Al Ahad ash Shamad Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta Yang tidak ada tandingan bagi-Nya dengan kesaksian orang yang membersihkan hatinya dengan tauhid dan yang berusaha meraih ridla Tuhannya dengan melakukan permusuhan dan loyalitas di dalam tauhid itu. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menegakkan tauhid dan yang menghancurkan kemusyrikan, dan orang yang membabat kedustaan dan tuduhan palsu.

Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam yang melimpah kepada Muhammad, keluarganya dan para sahabatanya. Wa Ba’du:

Ketahuilah wahai orang yang mencari keselamatan, yang berjalan mencari sebab-sebab keberhasilan dan kemuliaan, sesungguhnya saya telah mendapatkan satu risalah orang yang tidak menyebutkan namanya, (namun) risalah mengindikasikan bahwa pemiliknya berasal dari negeri Kharaj, yang mencakup berbagai macam dusta dan perkataan sembarangan, dan meliputi berbagai kebatilan yang tidak layak dibiarkan oleh orang muslim, karena khawatir memperdaya sebagian orang-orang jahil sehingga dia menjadikan itu sebagai sandaran. Sesungguhnya setiap masa itu tidak pernah kosong dari orang yang berbicara tanpa ilmu, tidak pernah kosong dari orang yang berbicara tanpa kebenaran dan tanpa pemahaman. Dan Allah telah menjadikan pada setiap masa fatrah itu sekelompok orang dari ahli ilmu, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad dalam bantahannya kepada jahmiyyah: “Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menjadikan pada setiap rnasa kekosongan para rasul sekelompok dari ahli ilmu, mereka mengajak orang yang sesat kepada petunjuk, mereka menghidupkan orang-orang yang sudah mati (hatinya) dengan kitab Allah, mereka sabar dari gangguan mereka, dan mereka memberi penerangan orang yang buta dengan agama Allah. Berapa banyak orang yang telah terbunuh oleh Iblis mereka hidupkan kembali, dan berapa banyak orang yang telah sesat mereka beri petunjuk jalan. Sungguh baik sekali pengaruh mereka atas manusia, dan alangkah buruknya pengaruh manusia atas mereka”

Maka wajib atas saya untuk menjawab syubhat itu, untuk memisahkan yang salah dari yang benar, namun saya hanya menyebutkan pendahuluan yang bermanfaat agar itu menjadi tujuan utama, dengan harapan hal itu menjadi penyebab yang menyampaikan kepada ridha Allah, yang dengannya para hamba Allah yang mencari petunjuk mendapatkan sinar penerang, dan tentunya ini hanya bisa terealisasi dengan taufiq Allah Yang tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.

Ketahuilah wahai orang yang munshif (obyektif) sesungguhnya agama Allah yang kokoh ini, dan jalan-Nya yang lurus ini hanya bisa menjadi jelas dengan tiga hal yang itu merupakan ruang lingkup agama Islam, dan dengan tiga hal itu tegaklah pengamalan dengan dalil-dalil syariat dan hukum. Dan bila salah satu dari yang tiga itu hilang dan tiada maka terjadilah kehancuran dalam aturan itu:

Pertama: Engkau mengetahui bahwa pokok dan landasan agama Islam, tiang dan inti keimanan adalah tauhidullah ta’ala yang dengannya Allah mengutus para rasul, dan dengannya Allah menurunkan kitab-Nya yang penuh kebijaksanaan dan penerangan, Allah swt berfirman:

Alif Laam Raa, (inilah) suatu Kitab yang ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya.(Huud: 1-2)

Ini adalah kandungan kesaksian Laa Ilaaha Illallaah. Sesungguhnya pokok landasan agama Islam adalah tidak diibadati kecuali Allah, dan tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkan, bukan dengan hawa nafsu dan bid’ah.

Syaikh    kami rahimahullah imam dakwah Islamiyyah dan penyeru kepada agama yang murni berkata: Pokok agama Islam dan kaidah dasarnya ada dua:

  • Perintah agar beribadah kepada Allah, penekanan akan hal itu, melakukan loyalitas di dalamnya, dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya.
  • Larangan menyekutukan dalam beribadah kepada Allah, bersikap keras di dalamnya, melakukan permusuhan di dalamnya, dan mengkafirkan orang yang melakukannya.

sedangkan orang yang menyalahi dalam hal itu adalah bermacam-macam yang telah disebutkan oleh beliau rahimahullah.69

Tauhid    ini memiliki rukun-rukun, tuntutan-tuntutan, kewajiban-kewajiban dan konsekuensi-konsekuensi, di mana Islam yang hakiki tidak bisa terealisasi dengan sempurna kecuali dengan mendatangkan itu semua baik secara ilmu ataupun amal. Dan tauhid itu juga memiliki hal-hal yang menghanguskan dan membatalkannya yang bertentangan dengan tauhid itu. Di antara hal terbesar yang membatalkan tauhid adalah tiga hal:

Pertama: Menyekutukan Allah dalam ibadah kepada-Nya, seperti menyeru selain Allah, mengantungkan harapan kepadanya, meminta pertolongan dengannya, istighatsah kepadanya, tawakkal dan macam ibadah lainnya. Siapa orangnya memalingkan satu macam ibadah itu kepada selain Allah maka dia itu kafir dan tidak sah amalan yang bersumber dari dia. Syirik merupakan pembatal amalan terbesar, sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan,”. (Al An’aam: 88)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur,” ( Az Zumar: 65-66.)

Ayat ini mengandung penafian akan syirik, bersikap keras terhadapnya dan perintah untuk ibadah kepada Allah saja. Adapun makna “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah “ yaitu tidak selain-Nya, karena mendahulukan ma’muul menurut para ulama adalah memberikan faidah hashr (pembatasan).

Kedua: lapang dada terhadap orang yang menyekutukan Allah, dan berkasih-kasihan dengan para musuh Allah, sebagaimana firman-Nya:

“akan tetapi orang yang melapang dadakan hatinya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir,” (An Nahl :106-107).

Maka siapa orangnya melakukan hal itu berarti dia telah membatalkan tauhidnya, meskipun dia tidak melakukan syirik dengan dirinya langsung, Allah SWT berfirman:

”Engkau tidak akan mendapatkan sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya….” (A1 Mujadilah: 22)

Syaikhul Islam berkata: Allah subhaanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa tidak ada orang mukmin yang berkasih sayang dengan orang kafir, maka siapa saja yang berkasih sayang dengan orang kafir maka dia itu bukan orang mukmin. Beliau berkata: Musyaabahah (menyerupai) itu asal mula penyebab adanya kasih sayang maka berarti diharamkan.

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya: Dikatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubaidah tatkala membunuh ayahnya di perang Badar, (firman-Nya)” atau anak-anak,” adalah berkenaan dengan Ash Shiddiq saat itu beliau hendak membunuh anaknya Abdurrahman, (firman-Nya) “atau saudara-saudara,” adalah berkenaan dengan Mush’ab Ibnu Umair yang membunuh saudaranya Ubaid Ibnu Umair, (firman-Nya) “atau keluarga mereka,” adalah berkenaan dengan Umar yang membunuh kerabatnya pada saat perang itu juga, dan berkenaan dengan Hamah, Ali, dan Ubaidah Ibnul Harits yang membunuh Utbah, Syaibah, dan Al walid Ibnu Utbah saat itu. Beliau berkata: Dan dalam firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Allah ridha atas mereka dan merekapun merasa puas terhadap limpahan (rahmat)-Nya” (Al Bayyinah 8)

ada rahasia yang sangat indah, yaitu tatkala mereka membenci kerabat dan sanak keluarganya karena Allah, maka Allah memberikan imbalan dengan keridhaan-Nya terhadap mereka dan kepuasan mereka akan rahmat Allah dengan berupa limpahan nikmat yang kekal, keberuntungan yang agung, dan karunia yang tak terhingga yang Allah berikan kepada mereka.

Allah sebutkan keberuntungan mereka, kebahagiannnya, dan kemenangannya di dunia dan akhirat, dan Allah sebutkan orang-orang yang bersebrangan dengan mereka yaitu para hizbusysyaithan:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi,”. (Al Mujadilah:19).

Saya berkata: Mereka adalah orang-orang yang loyal terhadap orang-orang sesat dan membenci orang-orang yang beriman.

Ketiga: Loyalitas terhadap orang musyrik, cenderung terhadapnya, menolongnya dan membantunya dengan tangan, lisan atau harta, sebagaimana  Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Dan janganlah kamu sekali-kali menjadi penolong bagi orang-orang kafir” (Al Qashash: 86)

Dan firman-Nya:

”Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama, dan mengusir kamu dari negerimu dan membanntu (orang lain untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (Al Mumtahanah: 9)

Ini adalah khithab Allah subhaanahu wa ta’ala terhadap orang-orang mukmin dari umat ini,maka lihatlah dirimu wahai orang yang mendengar dimana posisimu dari khithab dan hukum ayat-ayat ini.

Tatkala orang-orang Quraisy membantu Bani Bakar atas Khuza’ah secara sembunyi-sembunyi sedangkan mereka itu telah mengadakan perjanjian dengan Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam, maka terputuslah ikatan perjanjian damai mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah karena Allah akibat pelanggaran itu, dan beliaupun menyiapkan pasukan menyerang mereka, dan beliau tidak melanggar sepihak atas mereka.

Dan tatkala Hathib menulis surat dalam rangka memberitahukan mereka (orang-orang Quraisy) akan persiapan rasulullah itu, maka berkaitan dengan itu Allah subhaanahu wa ta’ala menurunkan surat ini yang Dia mulai dengar firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridlaan-Ku (jangan kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasiah (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kami yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus” (Al Mumtanahah: 1).

Kemudian Allah subhaanahu wa ta’ala memerintahkan agar meniru khalilNya Ibrahim ‘alaihissalam dan saudara-saudaranya dari kalangan para rasul terhadap pengalaman mereka akan agama yang dengannya mereka di utus, Dia berfirman:

”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, (yaitu saudara-saudaranya dari kalangan para rasul),”ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) itu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampal kamu beriman kepada Allah saja,” (Al Mumtahanah:4)

Allah sebutkan lima hal di dalam ayat itu yang dimana tauhid tidak bisa tegak kecuali dengannya, berupa ilmu dan pengamalan. Dan di saat merealisasikan yang lima hal ini Allah memisahkan manusia tatkala Dia mengujinya dengan musuh mereka, sebagaimana firman-Nya:

“Alif Laam Mim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman,” sedangkan mereka belum diuji lagi, dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnyaDia mengetahui orang-orang yang dusta,” (Al “Ankabuut: 1-3)

Allah subhaanahu wa ta’ala telah menghati-hatikan hamba-hamba-Nya agar tidak menjadikan musuhnya sebagai pemimpin (penolong), Dia subhaanahu wa ta’ala berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil jadi pemimpin, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik), dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu benar-bdnar orang-orang yang beriman” (Al Maa’idah: 57)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Kabarkan kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir mnenjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya seluruh kekuatan kepunyaan Allah” (An Nisaa:138-139)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya amat buruk sekali apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik,” (Al Maidah: 80-81)

Amatilah apa-apa yang terdapat di dalam ayat-ayat ini, dan (amati pula) akibat yang Allah berikan karena sebab perbuatan itu, berupa kemurkaan-Nya, kekal di dalam adzab-Nya, dicabutnya status Iman dan akibat lain-lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam menjelaskan makna,”Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrik itu menjadi penolong-penolong,” adanya loyalitas terhadap mereka mengharuskan hilangnya keimanan, Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

”Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kembali kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafiq) itu berkat:a kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan,” (Muhammad: 25-26)

Kata,”akan,” adalah menunjukan apa yang akan datang, maka jelaslah ini menunjukan bahwa mereka telah menjanjikan kepada mereka secara rahasia, dengan dalil firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimana keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka ? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridlaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka,” (Muhammad: 26-28)

Ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini banyak sekali. Sedang maksud kami mengemukakannya adalah menjelaskan besarnya dosa ini di sisi Allah, dan sangsi yang timbul karenanya berupa siksaan-siksaan baik yang pada masa sekarang atau pada masa kemudian. Kita memohon kepada Allah keteguhan di atas Islam dan Iman, serta meminta perlindungan dari kerugian dan kehinaan.

Syaikh kami telah menyebutkan dalam mukhtashar sirahnya dari sirah Al Waqidiy, bahwa Khalid Ibnu Al walid tatkala sampai ke ’Ardl beliau mengirim dua ratus pasukan berkuda, kemudian mereka berhasil menangkap tiga belas orang Banu Hanifah yang di antaranya ada Muja’ah Ibnu Murarah.

Khalid bertanya kepada mereka: Bagaimana pendapat kalian tentang teman kalian itu (Musailamah)? Maka mereka besaksi bahwa dia adalah Rasulullah.

Maka beliau langsung memenggal leher mereka, sehingga tatkala giliran Sariyah Ibnu Amir, dia berkata: Wahai Khalid bila engkau menginginkan kebaikan atau keburukan terhadap penduduk Yamamah, maka biarkan Muja’ah, jangan dibunuh! Dan memang Muja’ah adalah orang bangsawan, maka Khalid tidak membunuhnya, dan beliau membiarkan Sariyah juga. Beliau perintahkan agar keduanya diikat ditiang besi. Kemudian Khalid memanggil Muja’ah sedang dia dalam keadaan diikat, terus Khalid mengajaknya bicara, sedangkan Muja’ah menduga bahwa Khalid akan membunuhnya, dia berkata: “Wahai Ibnul Mughirah (Khalid), sesungguhnya saya masih memegang Islam, demi Allah saya tidak kafir”

Maka Khalid berkata: Antara dibunuh dan dilepas ada batas, yaitu ditahan sampai Allah memutuskan urusan-Nya di antara kita.

Dan Khalid menyerahkan dia kepada Ummu Mutammim istrinya, dan memerintahkannya agar diperlakukan dengan baik.

Muja’ah menduga bahwa Khalid dengan memenjarakan dia itu menginginkan agar dia memberitahukan akan musuhnya, dan dia berkata: Wahai Khalid sungguh engkau telah tahu bahwa saya telah menghadap rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membai’atnya atas Islam, sedang saya sekarang masih memegang apa yang pernah saya pegang saat itu, bila seandainya dia (Musailamah) itu memang pendusta yang telah muncul di tengah-tengah kami maka sesungguhnya Allah berfirman:

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,” (Al Annam: 164)

Maka Khalid berkata: Wahai Muja’ah hari ini kamu telah meninggalkan keyakinan kaum kamu (Islam), karena keridhaanmu terhadap klaim si pendusta itu serta sikap diam kamu darinya sedangkan kamu termasuk pemuka penduduk Yamamah merupakan pengakuan kamu terhadapnya dan kerelaan kamu terhadap apa yang dia bawa. Kenapa kamu tidak menampakkan alasan, kamu menentang bersama orang-orang yang menentangnya, sungguh Tsumamah telah menentang, dia menolak dan mengingkarinya dan begitu juga Al Yaskuriy telah berbicara, dan bila kamu mengatakan, “ Saya takut terhadap kaumku,” kenapa kamu tidak bergabung dengan saya atau kamu mengutus utusan !.

Perhatikanlah bagaimana Khalid menjadikan diamnya Muja’ah itu sebagai bentuk ridha dan pengakuan terhadap apa yang dibawa Musailamah apakah sebanding sikap Muja’ah dengan orang yang menampakkan keridhaan, mendukung, membantu, menyokong dan bergandeng tangan dengan dengan orang-orang yang menyekutukan Allah dalam Ibadah-Nya, serta membuat kerusakan dimuka bumi, hanya Allahlah tempat minta pertolongan.

Kedua: Diantara hal yang mana Islam tidak bisa tegak kecuali dengannya adalah mengamalkan syari’at dan hukum-hukum Islam. Dengan menegakkan syariat itu maka agama bisa tegak dan amal pun menjadi lurus sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

“Dan kalau sekiranya mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (Iman mereka) (An Nisaa’: 66).

Dan Firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat. Hal orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian bila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (Al Kitab) dan Rasul (As Sunah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya,” (An Nisaa’: 58 – 59)

dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya terserah kepada Allah,” (Asy Syuuraa: 10.)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata,” (Al Ahzab: 36)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

” Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar rasul mengadili (menghukumi) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi bila keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu, ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku dzlaim kepada mereka ? sebenarnya mereka itulah orang-orang yang dzalim. (An Nuur: 48 – 50)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah orangnya yang lebih daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (Al Qashash: 50)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan  mereka itu mendengar dan memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (Al Furqan: 43–44)

Dalam hal yang semakna dengan ini Anu Tammam berkata dalam sya’irnya:

Dan penyembahan terhadap hawa nafsu dalam intinya Di agama ini seperti ibadah terhadap berhala.

Ini adalah yang umum pada manusia, menolak kebenaran karena bertentangan dengan hawa nafsu dan bersebrangan dengan pendapatnya. Ini adalah bukti dari kurangnya agama, lemahnya iman dan keyakinan.

Ketiga: Pengkhususan dari keumuman yang sebelumnya, Penunaian amanat, menjauhi hal-hal yang diharamkan dan syahwat, serius dalam melaksanakan yang fardhu, kewajiban dan ibadah, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta melaksanakan Jihad fi sabililillah. Dan ternyata telah terjadi cacat dalam itu semua, sebagaimana firman-Nya:

” Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kebinasaan,” (Maryam: 59).

Dan dengan sebab itu semua terjadilah kelalaian dan keberpalingan dari Kitabullah subhaanahu wa ta’ala dan mayoritas orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan dunia mereka daripada ketaatan kepada Tuhannya, dan mereka seolah tidak butuh kepada apa yang bisa mendatangkan manfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat yang bisa menyebabkan keridhaan Tuhan dan Pencipta mereka, sebagaimana  firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tanganya, (Al Kahfi: 57)

Maka wajib atas orang yang jujur terhadap dirinya dari kalangan orang-orang yang Allah telah menjadikan baginya kemampuan, kekuasaan, dan kewibawan, agar mementingkan untuk menjaga tiga tsughur (penjagaan) ini, karena itu adalah tsughur Islam, yang dimana orang yang tidak menyukai telah berusaha menghancurkan dan merobohkannya.

Dan diantara penyebab untuk menjaganya adalah ikhlas karena Allah, jujur dan menghadap kepada-Nya mengagungkan perintah dan larangan-Nya, tawakkal kepada-Nya, serta memilih antara yang buruk dari yang baik, karena sesunggunya Allah  subhaanahu wa ta’ala telah memisahkan mereka bagi hamba-hamba-Nya tatkala Dia memberikan ujian terhadap mereka itu. Hendaklah kamu membenci musuh-musuh Allah dan perhatikan hal-hal yang bisa mendatangkan keridhaan-Nya, cintailah apa yang Dia cintai, bencilah apa yang Dia benci, takutlah kepada-Nya dan teruslah merasa diawasi-Nya, karena itu adalah ikatan Iman yang paling kokoh. Wallahul musta’an.

Fasal

Penjelasan tentang apa yang dikandung Laa Ilaaha Illalah berupa penafikan dan pembabatan syririk, pemurnian tauhid hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, dan penjelasan tentang sebagian hal-hal yang membatalkan tali-tali agama.

Yang mendorong saya untuk menulis ini adalah berita yang sampai kepada saya tentang orang yang sebelum munculnya berbagai fitnah, dia itu belebih-lebihan dalam takfir. Dia mengkafirkan orang dengan sesuatu yang mana tidak seorang ulamapun mengkafirkan dengannya. Kemudian setelah itu tatkala ia tenggelam dari berbagai fitnah – semoga Allah melindungi kita dari kesesatan fitnah baik jelas maupun tersembunyi – dia menyatakan: Siapa yang mengucapkan Laa illallaah maka dia itu muslim yang terjaga (darah dan hartanya) meskipun dia mengatakan apa saja.

Saya katakan dengan memohon taufiq Allah:

Ketahuilah bahwa Laa Ilaaha Illallah adalah kalimat Islam, kunci Darussalam, Allah subhaanahu wata’ala telah menamainya dengan kalimatuttaqwa dan al ‘urwatul wutsqaa, dia adalah kalimat yang ikhlas yang dijadikan Ibrahim sebagai kalimat yang tetap terwariskan di keturunannya. Dan isi dari kalimat ini adalah menafikan uluuhiyaah dari selain Allah dan memurnikan ibadah seluruhhnya hanya bagi Allah subhaanahu wa ta‘ala:

“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah tetapi (aku menyembah) Tuhan yang yang menjadikanku: karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku,’ (Az Zukhruf: 26–27)

Dan Dia berfirman tentang Yusuf ‘ alaihissalam:

” Dan aku mengikuti agama-agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tidaklah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya)” tetapi  kebanyakan manusia tidak mensyukuri – (Nya). Hai kedua penghuni penjara manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yag kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 38 – 40)

Allah subhaanahu wata’ala berfirman:

”Katakanlah:Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari pada Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan,” (Al An’am: 14)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Katakanlah:Apakah aku akan mencari Tuhan selain daripada Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu,” (Al An’am: 164)

Dan firman-Nya subhaanahu wata’ala:

”Maka patutkah aku mencari hakim selain dari pada Allah padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci,” (Al An’am: 114).

Dan firman-Nya subhaanahu wata’ala:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali,” (Ar Ra’d: 36)

Al Qur’an dari awal sampai akhir menetapkan bahwa agama Allah yang dengannya Dia mengutus rasul-rasul-Nya dan dengan Dia menurunkan kitab-kitabNya adalah memurnikan ibadah seluruhnya kepada Allah saja tidak kepada selainnya, berlepas dari syirik dan dari pelaku-pelakunya.

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan agama itu semata-mata hanya untuk Allah, (Al Baqarah:193),

fitnah disini adalah syirik, dan hal ini adalah hal yang tidak samar lagi atas orang yang memiliki sedikit bashirah sekalipun. Ini adalah makna yang terkandung oleh Laa ilaaha Illallah. Orang-orang kafir Quraisy telah mengetahui hal itu, namun mereka tidak tunduk kepadanya, sesungguhnya mereka tatkala diajak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengucapkan Laa ilaaha Illallah justru mereka mengatakan,

“Mengapa dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu Saja ? Sesungguhnya ini adalah hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata) “pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki,” (Shaad: 5–6)

Sungguh manusia dalam merealisasikan tauhid yang merupakan makna Laa ilaaha Illallaah telah beragam dan bertingkat tingkat baik sisi pemahaman, ilmu, keyakinan dan amalan dengan keragaman yang mencolok.

Diantara mereka ada yang mengucapkan berdasarkan ilmu, keyakinan, kejujuran dan keikhlasan dari lubuk hatinya, dia menunaikan hak-haknya, mengamalkan konsekuensinya berupa melakukan permusuhan terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah, melakukan loyalitas terhadap ahli tauhid baik yang terdahulu atau yang datang kemudian, serta istiqomah di atas hal itu dan tidak melakukan hal yang membatalkannya. Mereka itu adalah orang-orang muslim mu’min yang tidak mencampurkan keimanan mereka dengan syirik, mereka menunaikan syukur terhadap apa yang telah Allah karuniakan terhadap mereka dengan cara ikhlas karena-Nya dan berlepas diri dari segala agama yang menyelisihinya, sebagaimana firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:“Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,” (Fushsilat: 30)

Dan yang dimaksud adalah rububiyyah yang murni, yaitu menjadikan Pencipta mereka, Pemilik mereka, dan yang Mengatur mereka sebagai satu-satunya Dzat yang disembah tidak yang lain-Nya. Ibnu Jarir telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas Ibnu Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam membaca:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,” beliau berkata: “Orang-orang telah mengucapkannya kemudian mayoritas mereka kafir.”

Dan diantara mereka ada yang mengucapkan Laa ilaaha Illallaah namun dia tidak mengetahui makna yang ditunjukkan oleh kalimat itu berupa penafian dan itsbat (penetapan), dengan perbuatannya dia menetapkan apa yang dinafikan oleh kalimat yang agung dengan sebab dia menyekutukan Allah dalam ulluuhiyyahnya, dan dia menafikan apa yang yang ditetapkan kalimat itu berupa pengesaan Allah subhaanahu wa ta’ala dengan uluuhiyyahnya, dia mengingkari hal itu, dia memusuhi orang yang mengajak kepada tauhid dan memperkenalkannya (kepada orang lain), ini semua disebabkan karena sangat bodohnya dia akan makna apa yang dia ucapkan, sebagaimana pada umumnya keadaan mayoritas orang-orang yang mengucapkan Laa ilaaha Illallah, bila ada muwahhid mengatakan: Tidak boleh beribadah kecuali kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, tidak boleh diseru kecuali Allah, tidak boleh mengantungkan (harapan) dan tawakkal kecuali kepadaNya dan macam-macam ibadahnya, hati dan lisan mereka mengingkarinya.

An Nawawiy rahimahullah berkata dalam syarah hadist Sa’ad tentang sesorang yang bernama Sa’ad berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang itu: Apa gerangan dengan si fulan, sesungguhnya saya memandang dia itu sebagai orang mukmin? Rasulullah berkata: “Atau muslim”

Beliau (An Nawawi) berkata: Di dalam hadist ini ada dilalah bagi madzhab orang-orang yang dimana mereka mengatakan: sesungguhnya pengakuan dengan lisan itu tidak bermanfaat kecuali bila disertai dengan keyakinan hati, berbeda dengan madzhab Karamiyyah dan Ghulatul Murji’ah yang mengatakan bahwa cukup pengakuan. Ini adalah kesalahan yang sangat nampak yang dibantah dengan ijma kaum muslimin dan nash-nash tentang pengkafiran orang-orang munafiq, sedang inilah sifat mereka itu…

Saya berkata: Bila orang seseorang berpegang dengan kemusyrikan terhadap Allah dan mengingkari tauhid, maka ini merupakan bukti yang paling adil bahwa di dalam hatinya itu tidak ada sedikitpun keimanan, sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat;dan apabila nama-nama sembah-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati,” (Az Zumar: 45).

Dan ayat-ayat yang serupa dengannya.

Hendaklah orang yang jujur terhadap dirinya mengamati dalil-dalil tauhid yang Allah subhaanahu wa ta’ala terapkan dalam kitab-Nya, seperti firman-Nya:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan terhadap fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadikan beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka,” (Ar Ruum: 30–32)

Dan diantara mereka ada orang-orang munafiq, mereka itu bersama kaum muslimin telah mengucapkan Laa ilaaha Illallah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka shalat, mereka zakat, mereka shaum dan mereka jihad bersama kaum muslimin, serta tidak membantu musuh untuk menindas kaum muslimin. Namun dengan keadaan ini semua, Allah subhaanahu wa ta’ala mendustakan mereka saat mereka datang kepada Rasulullah dan berkata: Kami mengakui bahwa sesungguhnya engkau benar-benar Rasullah,” mereka kuatkan kesaksian mereka dengan kata penguat (sesungguhnya) dan (benar-benar), maka Allah subhaanahu wa ta’ala mengatakan:

”Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti,” (Al Munafiqun: 1–3)

Indikasi-indikasi dari ayat-ayat ini adalah bahwa sesungguhnya kesaksian mereka dan amalan mereka itu tidak bermanfaat bagi mereka karena adanya hal yang menafikan hal itu, karena sesungguhnya telah ada pada diri mereka kejahilan, keraguan, dan kebimbangan dan yang lainnya yang dengannya mereka menjadi orang-orang kafir yang berada kekal di neraka yang paling dasar. Diantara sifat-sifat mereka adalah apa yang Allah sebutkan dalam (surat Al Baqarah: 10-14)

”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka-siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ini, mereka menjawab:Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. “Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman’, mereka menjawab: Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman ?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”,Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian denganmu, kami hanya berolok-olok. (surat Al Baqarah: 10-14)

Dan dalam (surat An Nisa: 143)

”Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): Tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang yang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan ini (orang-orang kafir).”

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya,”. (Al  Fath: 11)

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq (tidak menepati perjanjian),” (At: Taubah: 8)

Dan yang dimaksud adalah bahwa ucapan itu tidak bermanfaat kecuali bila disertai pengetahuan hati, keimanannya dan keyakinannya, dan sedangkan amalan adalah yang membenarkan hal itu bila amalan tersebut sesuai tuntutan keimanan. Dan adapun bila dia menyertakan hal yang menafikannya maka ini merupakan bukti yang paling jelas akan dustanya ucapan tersebut, karena seandainya memang benar tentu dia mengamalkan tuntutan ucapan itu, sedangkan makna yang ditunjukan oleh lafadz itu adalah makna yang sesuai dengan apa yang menunjukannya yaitu lafadz. Dan setiap ucapan yang digunakan itu, maka apa yang menunjukan dan apa yang ditunjukannya adalah makna yang dimana lafadz itu digunakan untuk menunjukan kepadanya. Bila ini sudah diketahui maka sesungguhnya di antara mereka ada orang yang mengucapkan Laa ilaaha Illallaah seraya mengetahui kandungan maknanya, namun terkadang ada sesuatu yang datang menghalangi dia dari istiqamah di atas apa yang dia ketahui itu, sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

”Dan diantara antara manusia ada orang yang berkata: ”Kami beriman kepada Allah”, maka apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu’. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia. Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang, yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafiq. (Al ‘Ankabut: 10-11)

Amatilah apa yang disebutkan oleh para ahli tafsir-tentang makna ayat-ayat ini, kalau seandainya tidak masyhur dan terkenal serta tidak bermaksud ikhtisar tertentu saya tuturkan ungkapan mereka itu.

Tatkala Rasulullah sallalalhu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia dan sebagian orang arab ada yang kafir lagi dan mereka itu tidak meninggalkan mengucapkan Laa ilaaha Illallah. Dan di antara mereka ada orang-orang Bani Hanifah, mereka kafir sebab membenarkan pengakuan dusta Musailamah, juga kisah Umar dan Abu Bakar adalah sangat masyur dalam kitab-kitab shahih, sunan dan musnad. Perhatikanlah firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

”Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Allah dengan Allah,ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman,” (At Taubah 65–66)

Sebab turunnya ayat ini dan atas siapa turunnya adalah sangat masyur dalam kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadist. Orang-orang yang dimaksud adalah sejumlah orang bersama Rasulullah sallaahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk, mereka shalat, mereka berinfaq, mereka Jihad, namun Allah subhaanahu wa ta’ ala mengkafirkan mereka dengan ucapan.

Begitu juga Firman Allah subhaanahu wa ta’ala:

“Mereka (orang orang munafiq itu) bersumpah dengan (nama Allah), bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesuduh Islam,” (At taubah: 74)

Dan sebab turun ayat ini juga adalah masyhur dan tidak butuh untuk kami sebutkan.

Dan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar terhadap Allah: ”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Mereka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbullkan kemunafikan pada hati mereka  sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta,” (At Taubah: 75–77)

Maka hendaknya orang khawatir atas dirinya sendiri dan dia takut akan sangsi-sangsi dosa-dosanya.

Dan juga firman Allah subhaanahu wa ta’ala tentang jama’ah masjid Dhirar:

“Dan (di antara orang-orang munafiq itu) ada orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudlaratan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu,” (At taubah: 107)

Dia (orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya) adalah Abu Amir Al fasiq, mereka dan orang sebelumnya mengucapkan Laa illaaha Illallah wa anna Muhammadan Rasulullah. Mereka secara lahirnya masuk dalam jajaran orang-orang Ansar sebelum Allah tampakkan kekufuran yang mereka sembunyikan, Allah berfirman tentang mereka:

“Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka telah hancur,” (At Taubah: 110)

Yaitu hancur dengan kematian. Al kitab dan As Sunnah keduanya penuh dengan dalil-dalil semacam ini, dan apa yang kami sebutkan kiranya cukup bagi orang yang mencari kebenaran. Wa Billahit Taufiq.

Apakah orang yang bersumber darinya seperti apa yang telah bersumber dari mereka, dia mengira bahwa dia selamat dari siksaan dan sedangkan dia tidak memiliki jaminan keselamatan dari Allah, padahal dia mengetahui bahwa apa yang dibebankan kepada orang-orang sesudah mereka, serta apa yang ditimpakan kepada mereka ditimpakan juga terhadap orang-orang sesudah mereka bila melakukan yang sama dan meniti jalan apa yang mereka lalui ? Kita memohon kepada Allah keteguhan di atas agama dan selalu mengikuti jalan kaum mu’minin. Siapa orangnya yang mentadaburi Al Qur’an seraya mencari kebenaran, penuh ketulusan dan kerendahan hati, maka dia pasti mengetahui bahwa para rasul diutus kepada manusia hanya untuk mengajak mereka agar mengamalkan tauhid, menunaikan kewajiban-kewajiban yang ditugaskan kepada mereka, menghindari apa yang dilarang berupa ibadah kepada selain Dia, serta mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah saja.

Al Qur’anul ‘Adhim dari awal hingga akhir menetapkan tauhid ini dan melarang syirik kepada Allah dalam ibadah-Nya yang tidak layak dipalingkan kepada selain-Nya. Perhatikanlah dan dengarkanlah dengan seksama tentu engkau mendapatkan Al Qur’an itu menetapkan ikhlas dan syari’at-syari’atnya, menafikan syirik dan segala yang berhubungan dengan penjelasan yang sangat gamblang. Begitu juga hadits-hadist dan sirah menunjukkan akan hal itu dan menetapkan dengan penetapan yang sangat sempurna dan penjelasan yang sangat indah, namun tatkala Islam semakin asing dengan banyaknya para perusak terjadilah keraguan dan kebimbangan setelah keimanan, terurailah tali-tali keislaman dengan berakhirnya imam dan para ulama sebagimana apa yang dikatakan oleh Amirul Mukminin Umar Ibnul Khathtab radliyallahu’anhu:

”Ikatan-ikatan Islam hanyalah terurai sedikit demi sedikit, bila hidup di dalam Islam orang yang tidak mengenal jahiliyyah,”

Dan diantara ikatan tali yang terurai adalah tali cinta kepada Allah, tali benci kepada Allah, loyalitas dan permusuhan kepada dan karena Allah, sebagaimana dalam hadist yang shahih:

“Sesungguhnya tali-tali keimanan yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah,”

Engkau bisa melihat keadaan mayoritas di mana kecintaannya karena hawa nafsunya, dia tidak merasa tentram kecuali bersama orang yang hawa nafsu dan tabiatnya dengan dia, meskipun dia menipu dan menjerumuskannya. Fa laa haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim.

Walhasil  bahwa setiap ucapan dan amalan yang dicintai dan di ridhai Allah adalah termasuk madluul (apa yang ditunjukkan oleh) Laa ilaaha Illallah, baik secara muthbaqah, dan tadlammun, atau secara iltizam, ini bisa dibuktikan dengan kenyataan bahwa Allah subhaanahu wa ta’ala menamakannya sebagai kalimat taqwa sedangkan taqwa adalah hamba menjauhi murka, siksa dan adzab Allah dengan meninggalkan syirik, berlepas darinya dan dari pelakunya serta memurnikan ibadah karena Allah subhaanahu wa ta’ala, merealisasikan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Dia larang seraya mengikuti dalam hal ini semua apa yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya. Taqwa telah didefinisikan oleh sebagian salaf radliyallahu ‘anhum, Muthalliq Ibnu Hubaib berkata:

Taqwa adalah engkau beramal dengan mentaati Allah di atas cahaya dari Allah, seraya mengharapkan pahala Allah, dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah diatas cahaya Allah dari Allah seraya khawatir akan siksa Allah”.

Al Imam At Tirmidzi dan Al Iman Ibnu Majah telah mengeluarkan dengan isnadnya dari Abdullah Ibnu Yazid dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ”Seorang hamba tidak mencapai derajat muttaqin sampai dia meninggalkan sesuatu yang boleh-boleh saja karena khawatir dari (terjatuh) kepada mengandung dosa”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam menjelaskan firman-Nya subhaanahu wa ta’ala: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian istiqomah, Abu Bakar Ash Shiddiq berkata: “Mereka tidak berpaling darinya ke arah kanan dan kiri, yaitu mereka tidak berpaling dengan hati mereka kepada selain Allah dengan kecintaan, rasa takut, pengharapan, dan tidak pula bertawakal kepada selain-Nya akan tetapi mereka tidak mencintai kecuali terhadap Allah serta mereka tidak mencintai kecuali karena-Nya”.

Syaikh kami Syaikhul Islam Muhammmad Ibnu Abdil Wahab berkata: Syarif Mekah bertanya kepada saya tentang dasar apa kami memerangi dan mengkafirkan? Maka beliau (syaikh Muhammad) berkata dalam jawabannya: Sesungguhnya kami tidak memerangi (manusia) kecuali di atas apa yang telah diijmakan oleh seluruh ulama, yaitu dua kalimat syahadat setelah ada penjelasan terlebih dahuu bila dia telah mengetahui kemudian mengingkari. Kami katakan: Musuh-musuh kami itu ada bermacam-macam.

Pertama orang yang telah mengetahui bahwa tauhid adalah agama Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa keyakinan terhadap batu, pohon dan manusia telah menjadi keyakinan mayoritas manusia adalah kemusyrikan yang untuk melarangnya Allah mengutus Rasul-Nya beliau memerangi pelaku-pelakunya agar agama (ketundukan) itu hanya kepada Allah saja. Dia (musuh kami ini) tidak mau menengok kepada tauhid, tidak mau mempelajarinya, tidak mau masuk kedalamnya, dan tidak meninggalkan syirik, makan orang ini adalah kafir yang kami perangi, karena dia telah mengetahui agama Rasluullah namun tidak mengikutinya, dia mengetahui agama kaum musyrikin namun tidak meninggalkannya, tidak membenci orang yang masuk ke dalamnya, dia tidak memuji syirik dan tidak menghiasinya (terhadap manusia).

Kedua: orang yang mengetahui itu semua, namun jelas dengan terang dia itu mencaci agama Rasulullah, padahal dia itu mengklaim bahwa dia mengamalkan agama RasulNya, juga dia terang-terangan memuji orang yang beribadah kepada Yusuf, Asyqar, Abu Ali, Khidhir, dan dia lebih mengutamakan mereka-mereka itu dari pada orang yang bertauhid kepada Allah dan meninggalkan syirik. Maka orang ini lebih besar kekufurannya dari pada golongan pertama dan ayat yang berhubunngan dengan orang ini adalah firman-Nya subhaanahu wa ta’ala:

“maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allahlah atas orang-orang kafir,“ (Al Baqarah: 89)

Dan juga firman_Nya subhaanahu wa ta’ala:

“Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir,“ (At Taubah: 12).

Ketiga: orang yang telah mengetahui tauhid, dia mencintainya dan mengikutinya, dia mengetahui syirik dan meninggalkannya, namun dia membenci orang yang masuk dalam tauhid dan menyukai orang yang tetap diatas syirik, maka orang ini adalah kafir juga, dan ayat yang berkenaan dengan macam ini adalah firman-Nya:

“yang demikian itu dikarenakan sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah, lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka,” (Muhammad: 9).

Keempat: orang yang selamat dari ini semuanya, namun penduduk daerahnya terang-terangan memusuhi tauhid dan terang-terangan mengikuti pelaku-pelaku syirik, serta mereka berusaha memeranginya, sedangkan dia merasa keberatan meninggalkan daerahnya, terus dia bersama penduduk negerinya memerangi ahlu tauhid, dia mengerahkan jiwa dan hartanya, maka orang ini adalah kafir juga, karena sesungguhnya mereka (orang-orang daerahnya) seandainya memerintahkan dia untuk meninggalkan shaum Ramadhan dan kemudian dia tidak bisa  melaksanakan shaum itu kecuali dengan meninggalkan daerahnya tentu ia lakukan dan seandainya mereka memerintahkan dia untuk menikahi bekas ibu tirinya dan dia tidak bisa mengelak kecuali dengan meninggalkan negerinya tentu ia lakukan. Dan ada pula persetujuan dia terhadap mereka untuk mengikuti perang dan jiwanya padahal mereka itu menginginkan untuk memutuskan agama Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini lebih dasyat dari apa yang kami sebutkan, maka orang seperti ini adalah kafir juga, dan dia termasuk orang yang difirmankan Allah subhaanahu wa ta’ala:

“Kelak akan kamu dapati (golongan-golongan) yang lain yang bermaksud supaya mereka aman daripada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), mereka terjun ke dalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan dia (tidak) mau mengemukkan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka,“ (An Nisaa: 91)

Wallahu subhaanahu wa ta’ala a’lam, semoga shalawat dan salam Allah curahkan kepada penghulu kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.


69 Silahkan rujuk risalah Ashlu Dinil Islam karya Syaikh Muhammad dan Syarahnya karya Syaikh Abdurrahman. Pent.

Pos ini dipublikasikan di Hukum, Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s