Thaghut Mashlaha Da’wah

THAGHUT MASHLAHAT DAKWAH

KETIKA MASHLAHAT DAKWAH DIPERTUHANKAN

DAN MENJADI THAGHUT MODEL BARU

(AL QAULIN NAFIS FIT TAHDZIR MIN KHADI’ATI IBLIS)

PENULIS: ABU MUHAMMAD ‘ASHIM AL MAQDISIY

ALIH BAHASA: ABU SULAIMAN

PENDAHULUAN

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya meminta pertolongan kepada-Nya dan memohon ampun dari-Nya serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami, barang siapa Allah memberinya hidayah maka tiada satupun yang bisa menyesatkanya, dan barang siapa Allah menyesatkanya maka tiada satupun yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiada ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja lagi tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wa Ba’du:

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah ta’ala dan tuntunan yang paling baik adalah tuntunan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta urusan yang paling buruk adalah yang diada-adakan, sedangkan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan, serta setiap kesesatan itu di neraka.

Allah ta’ala berfirman:

“Pada hari itu telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (Al Maidah: 3)

Dan Dia ta’ala berfirman juga:

“Tidaklah kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab.” (Al An’am: 38)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala mengatakan:

“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia: dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bartaqwa.” (Al An’am: 153)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Al A’raf: 3)

Ini adalah ayat-ayat yang tegas serta muhkam perihal pengguguran ibtida’ (sikap mengada-ada) dan ikhtira’ (penciptaan hal baru) di dalam dien ini, dan perihal pengguguran ra-yu (pendapat), istihsan (penganggapan baik) dan istishlah (penilaian maslahat) yang berdasarkan syahwat lagi berdiri tanpa landasan dalil syar’i.

Dilalah ayat-ayat ini sama sekali tidak dihiraukan oleh banyaknya Ruwaibidlah (orang-orang yang dangkal pemikirannya yang berbicara di dalam urusan yang besar) masa kini, dan mereka malah berupaya menghancurkan ikatan-ikatan keimanan dan pilar-pilar dien, di mana mereka mempermainkan pendasinya dan angkuh menampilkan bangunan mereka yang rapuh yang tidak di bangun di atas taqwa dan ridlo dari Allah, mereka berani berbicara dalam agama Allah ini dengan apa yang tidak mereka miliki ilmunya dan mereka berceloteh dengan apa yang tidak mereka miliki pengetahuan tentangnya, mereka posisikan diri mereka sebagi masyarri’in (para pembuat hukum) yang membuat istihsan dan istishlah dalam dienullah dan ajaran-Nya apa yang mereka inginkan dan mereka sukai.

Seolah mereka dengan lisan keadaan mereka mengira bahwa Allah telah membiarkan dien ini begitu saja bagi mereka tanpa dlawabith (batasan-batasan) dan tanpa huduud (rambu-rambu) agar mereka bisa mengacak-acak di dalamnya sesuka mereka dengan hawa nafsunya dan istilah mereka yang rusak lagi batil.

Padahal sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman seraya mengingkari mereka:

“Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami meciptakan kamu secara main-main (saja).” (Al Mu’minun: 115)

Dan berfirman juga:

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja.” (Al Qiyamah: 36)

Dan Dia menjelaskan bahwa yang berbicara dalam agama Allah lagi berkomentar di dalamnya tanpa dasar ilmu adalah senantiasa termasuk para pendusta sampai dia mendatangkan bukti dalil yang benar terhadap klaimnya, Dia berfirman:

“Katakanlah: unjukanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (An Nahl: 64)

Ini adalah lembaran-lembaran yang telah saya tulis beberapa tahun ke belakang, di dalamnya saya mengkaji masalah istishlah dan istihsan, serta di dalamnya saya jelaskan kerusakan jalan yang dianut oleh ahli bid’ah, karena menjalarnya bencana dengan sebab itu di zaman kita ini dan bergabungnya banyak manusia dengan kaum musyrikin serta masuknya mereka di jalan-jalan mereka lewat pintu-pintu ini.

Di akhir lembaran-lembaran ini saya telah mengupas fatwa yang indah milik syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah yang berkaitan dengan materi ini, saya mengutipnya dari Majmu Fatwa beliau, saya meringkasnya dan menyusunya serta memberi komentar atasnya.

Saya memohon kepada Allah ta’ala semoga Dia membukakan dengan upaya yang sederhana ini telinga-telinga yang tuli, mata-mata yang buta, serta hati-hati yang tertutup, dan semoga amalan kami ini menjadi amalan soleh yang tulus mengharapkan Wajah-Nya Yang Mulia sesungguhnya Dialah yang berhak akan itu dan yang kuasa terhadapnya.

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk dien) islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al An’am: 125)

Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy

Para Juru Dakwah Penganut Aliran Macchiavelli

Niccola Macchiavelli adalah orang kafir asal Italia yang lahir tahun 1469 M, dia bergabung dalam dunia politik selama 14 tahun kemudian dia dicopot dari jabatan politiknya setelah itu, kemudian dia menyendiri di rumahnya yang berada di ladang pertanian dan dia mengkhususkan diri untuk mempelajari sejarah. Kemudian dia menuangkan ringkasan pengalaman-pengalaman politiknya dan pengamatan-pengamatan yang beraneka ragam dalam sebuah buku yang berjudul “Sang Pemimpin”. Dia pun mati tahun 1527 M dan meninggalkan buku itu yang dianggap oleh para politisi modern sebagai tuntunan terbesar bagi mereka. Dan para ahli kritik dan para pengkaji memandang bahwa bukunya ini adalah sekolahan yang mana mayoritas para penguasa di zaman modern ini lulus dari madrasahnya serta komitmen dengan metodenya, padahal sebenarnya dia itu tidak membawa hal baru di dalamnya, akan tetapi apa yang dia lakukan adalah dia mengumpulkan apa yang berceceran berupa prilaku para pemimpin barat dan para panglima mereka di abad-abad pertengahan, dia bukukan dan tampakkan apa yang dirahasiakan jiwa-jiwa mereka serta menghadirkannya di hadapan para politikus. Di dalamnya dia memaparkan apa yang dia anggap sebagai kaidah-kaidah yang besar yang memberikan andil dalam keberhasilan si pemimpin dalam kekuasaanya serta mengokohkan pilar-pilar kekuasaannya tanpa mengikat diri dengan pertimbangan akhlak atau agama apapun karena dia benar-benar telah memisahkan politik dari norma-norma akhlak[1]

Dan diantara kaidah-kaidah dan pondasi-pondasinya itu adalah:

* Buruk sangka terhadap rakyat
* Meninggalkan akhlak yang mulia dan etika yang lurus
* Tidak peduli dengan sikap-sikap tercela, baik itu kezaliman atau persekongkolan busuk atau khianat atau penumpahan darah atau pencekikan kebebasan.
* Bersikap munafik, karena sikap ini menjamin baginya keberlangsungan tetap di dalam kekuasaan.
* Melanggar janji di mana tidak layak bagi sang pemimpin untuk menjaga perjanjian bila berbenturan dengan sebagian kepentingannya.
o Bersikap buruk
o Bersikap pelit
o Mengangkat tameng dari sejumlah orang yang menjaganya dari kemarahan rakyat dengan cara dia menyerahkan kepada mereka pelaksanaan kewajiban yang dibenci dan tidak disukai rakyat, lalu bila ada kebaikan maka dialamatkan kepadanya, dan apa yang buruk maka dialamatkan kepada mereka. Dan dia mesti membuat senang tameng ini dengan cara memberikan kelonggaran kepada mereka dan mempermudah di hadapan mereka jalan-jalan kemewahan dan kekayaan. Dan tidak ada halangan saat ada bahaya dan kondisi mendesak dia memainkan peranan juru selamat bagi rakyatnya, dimana dia menggantikan tameng-tameng itu atau menjauhkan mereka bila memang itu harus, maka itulah puncak kecerdasan.[2]
o Dan di antara hal yang paling penting dari itu semuanya adalah tidak memperhatikan atau melihat kapada tujuan dan sarana, mulia atau tidak mulia, karena selagi si pemimpin yang akan melakukannya maka ia akan menjadi mulia, dan bagaimanapun puncak keburukannya maka tetap saja manusia akan menepukkan tangan baginya selagi si pemimpin yang melakukannya duduk bersila di atas tahtanya. Dan setiap yang dipakai oleh si pemimpin berupa jalan-jalan untuk mencapai tujuannya maka ia adalah sah saja meskipun pada hakikat sebenarnya ia amat hina dan nista. Dan ini yang biasa diucapkan dengan ungkapan “Tujuan menghalalkan segala macam cara”

Macchiavelli telah binasa dan dia meninggalkan kitabnya ini yang berisi prinsip-prinsip yang buruk dan sarana-sarana yang menyimpang yang telanjang dari akhlak dan yang kosong dari dien, kemudian ia menjadi kiblat para panglima dan politikus yang menyimpang. Dan realita kita masa kini menjadi saksi terbesar atas hal itu, dan ini tidaklah aneh atas orang-orang yang tidak memiliki dien yang membatasi mereka dengan batasan-batasannya atau akhlak yang mengikat mereka dengan ikatan-ikatannya akan tetapi yang aneh lagi asing adalah bahwa Macchiavelli yang kafir itu menjadi panutan dan tauladan bagi banyak orang-orang yang menyandarkan diri mereka kepada Islam bahkan kepada dakwah dan jihad di jalannya, baik mereka itu sadar ataupun tidak.

Sekarang kita mendengar banyak manusia tidak merasa sungkan dari meniti jalan apa saja, walaupun itu adalah jalan orang-orang kafir yang Allah telah menghati-hatikan darinya dan memerintahkan kita untuk menjauhinya.

Dan mereka tidak segan-segan dari mengambil wasilah (cara) apa saja walaupun itu najis lagi bengkok dengan dalih mashlahat, mashlahat dakwah atau mashlahat jama’ah atau mashlahat agama… begitu mereka mengklaim…!!!

* Bagi mereka tidaklah berbahaya bila mereka menjadi tentara atau aparat atau anshar (pembela) bagi thaghut yang padahal Allah sudah memerintahkan mereka untuk menjauhi bahkan untuk menjihadinya. Hal itu adalah boleh saja dengan klaim mereka untuk maslahat dakwah.
* Dan tidak masalah bila mereka bersumpah untuk menghormati UUD dan undang-undang buatan turunannya, dan mereka rela untuk menjadi para pembuat hukum menurut rambu-rambu dan tuntunan UUD thaghut yang Allah telah perintahkan mereka untuk kafir terhadapnya dan berlepas diri darinya dan dari aparat pengusungnya. Hal itu adalah boleh saja menurut mereka demi mashlahat dien ini …!!!
* Dan tidak masalah bagi mereka bila mereka menampakkan sikap tawally (loyalitas penuh) kepada para thaghut dan mereka menampakkan kekafiran yang nyata. Hal itu adalah boleh saja bagi mereka sesuai istihsan mereka yang rusak, karena ia bagi mereka adalah termasuk mashlahat mursalah …!!!
* Dan tidak bahaya bila mereka rela mengorbankan setiap urusan dari urusan-urusan agama mereka, dan mereka menjualnya dengan harga yang amat rendah, selagi mereka bisa menempelkan hal itu dengan mashlahat dakwah…!!!

Barangsiapa Allah inginkan kesesatanya, maka kamu tidak akan sekali-kali mampu menolaknya sesuatupun (yang datang) dari Allah.

Apakah mereka lebih mengetahui akan mashlahat agama Allah daripada Allah…???

Demi Allah sungguh syaitan telah mempermainkan mereka sebagimana gadis cilik mempermainkan mainannya, dan mereka diseret oleh hawa nafsu sebagaimana anjing menyeret tuannya. Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaanya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan.

Ini terjadi, padahal mereka itu membaca ayat-ayat Allah di tengah malam dan penghujung-penghujung siang dan mereka mendengarkan firman-Nya ta’ala saat Dia berfirman:

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadmu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 112-113)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengarkan ayat-ayat Allah di ingkari dan di perolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicara yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.” (An Nisa: 140)

Allah Yang Maha Agung menginginkan bagi kita tauladan yang agung dan panutan yang mulia (Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya) atau yang di atas jalannya dari kalangan para nabi, para rasul, ash shiddiqien, orang-orang shalih dan para syuhada:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada ibrahim dan orang-orang yang bersama dia: ketika mereka berkata kapada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah: 4)

Sedangkan orang-orang yang mengikuti syahwat dari kalangan yang menyimpang dari millah yang agung ini dan mereka malah mencari-cari tauladan yang rendah lagi hina, maka hawa nafsu mereka, istihsan mereka dan istishlah mereka mengatakan: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan bagimu pada Niccola dan orang-orang yang sejalan dengannya dalam ucapan mereka: Tujuan itu melegalkan segala macam cara…!!!” Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi hati yang ada di dalam dadalah yang buta.

Inilah, dan ketahuilah bahwa banyak kata-kata yang digunakan dan dipakai dalil oleh banyak manusia pada hari ini seperti ra-yu, istihsan, istishlah, mashlahat mursalah, mashlahat dakwah dan yang lainya, bila ia dalam suatu yang tidak ada nash di dalamnya dari syar’iat ini, maka maknanya dalam realita mereka adalah satu hal yang maknanya berdekatan, dan acuannya semuanya adalah kepada hawa nafsu, sedangkan ia atas dasar ini adalah penyebab kesesatan banyak manusia.

Syaikhul Islam berkata saat membicarakan mashlahat mursalah 11/343: “Maka cara ini di dalamnya terdapat perselisihan yang masy’hur. Para fuqaha menamakanya Al Mashalih Al Marsalah, dan di antara mereka ada yang menyebutnya ar ra-yu (pikiran), dan sebagian menamakannya istihsan dan dekat dengannya dzauq (selera) kaum sufi, perasaan mereka dan ilham mereka. Maka sesungguhnya intinya adalah bahwa mereka di dalam ucapan atau pengamalannya itu mendapatkan mashlahat di dalam hati dan agama mereka serta mereka merasakan manis buahnya.”

Sampai ucapan beliau: “Dan ini adalah pasal yang agung yang mesti diperhatikan, karena sesunggunnya dari arahnyalah terjadi dalam dien ini kerancauan yang besar, dan banyak dari para pemimpin, para ulama dan para ahli ibadah memandang mashlahat lalu mereka menggunakannya dengan berpihak di atas landasan ini, sedangkan bisa saja antara hal itu ada suatu yang dilarang dalam syari’at…” sampai akhir ucapan beliau dalam Al Fatwa dan akan datang mayoritas ucapan itu.

Dan oleh sebab itu maka kami memandang penting sekali kami menjelaskan dalam lembaran-lembaran ini: makna kata-kata dan sebutan-sebutan yang dipermainkan oleh banyak Ruwaibidlah di zaman kita ini di bawah sebutan istihsan atau mashlahat mursalah atau mashlahat dakwah dan sebutan lainya yang telah mereka hiasi berupa hawa nafsu dan pikiran-pikiran yang mereka jadikan sebagai pijakan untuk menentang wahyu dan menghancurkan dien ini serta merobohkan pilar-pilarnya, baik mereka itu sadar maupun tidak.

PERTAMA

= ISTIHSAN =

Ia secara bahasa adalah menganggap sesuatu itu baik. Adapun secara istilah: Maka apabila disebutkan istihsan maka dimaksudkan dengannya tiga makna:

Pertama: Berpaling dengan hukum suatu permasalahan dari masalah-masalah yang serupa dengannya karena dalil yang khusus kepada (hukum) yang sebaliknya dengan dalil yang muncul yang lebih kuat darinya.[3] Maka hal ini tidak dipermasalahkan walaupun dikritik dalam penyebutannya sebagai istihsan, tapi tidak ada permaslahan dalam hal istilah.

– Dan para ulama Madzhab Ahmad membawa apa yang disandarkan kapada beliau berupa pendapat perihal kebolehan istihsan terhadap makna ini.[4]

– Dan begitu juga apa yang disandarkan kepada Malik berupa pendapat perihal istihsan, maka sungguh Al Qurthubiy telah mengingkarinya, dan Asy Syaukaniy telah menukil dalam Irsyadul Fuhul hal 241 dari Al Bajiy: “bahwa istihsan yang dipegang oleh para pengikut Malik adalah pengamalan dalil yang paling kuat di antara dua dalil…” Dan berkata: “Dan inilah dalil, bila mereka menamakannya istihsan maka tidak ada masalah dengan penamaan” selesai.

Kedua: Digunakan tehadap apa yang dianggap baik oleh mujtahid dengan akalnya.

Ketiga: Dalil yang dianggap cacat dalam benak si Mujtahid yang mana dia tidak mampu untuk mengungkapkannya.

Dan kebatilan dua macam istihsan ini adalah sangat nampak, karena mujtahid tidak boleh bersandar kepada sekedar akalnya dalam penganggapan baik sesuatu, dan apa yang tidak bisa dia ungkapkan adalah tidak mungkin dihukumi dengan peneriman sampai dia menampkkan dan menyodorkannya kepada syari’at.

Sungguh jumhur ulama[5] telah mengingikari dua macam terakhir istihsan ini dan menganggapnya bagian dari syahwat dan hawa nafsu, sampai-sampai Asy Syafi’i berkata: “barang siapa yang melakukan istihsan maka dia telah membuat syari’at (hukum)”

Asy Syaukaniy menukil dalam Irsyadul Fuhul halaman: 214 dari As Sam’aniy ucapannya: “Bila istihsan itu ada pernyataan berdasarkan apa yang dianggapnya baik dan yang dia inginkan tanpa landasan dalil maka ia adalah batil dan tidak seorangpun berpendapat dengannya “[6]

Kemudian Asy Syaukaniy berkata setelah menuturkan ucapan-ucapan ulama dalam hal ini; “…maka engkau mengetahui dengan seluruh apa yang telah kami utarakan bahwa penuturan istihsan dalam bahasan tersendiri[7] adalah tidak ada faidahnya sama sekali di dalamnya, karena bila ia adalah kembali kepada dalil-dalil yang lalu maka dia adalah pengulangan, dan bila ia adalah di luar dalil maka ia sama sekali bukan termasuk syari’at, akan tetapi ia termasuk berdusta atas nama syari’at kadang dengan apa yang tidak ada di dalamnya dan kadang dengan apa yang menyebranginya”.

Namun demikian sungguh orang-orang yang memakai istihsan aqliy (anggapan dia menurut akal) dan syahwaniy (anggapan baik sesuai selera) telah berhujjah dengan nash-nash yang dengannya mereka melegalkan istihsan-istihsan mereka itu, akan tetapi semua nash itu saat di teliti adalah tidak membantu mereka terhadap hal itu dan tidak melegalkan bagi mereka apa yang mereka inginkan.

Diantara firman Allah ta’ala: “yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (Az Zumar: 18)

Padahal ini sebenarnya hujjah terhadap mereka bukan bagi mereka karena perkataan dan ucapan yang paling baik adalah apa yang ada dalam Kitabullah atau sunnah Rasul-Nya sebagaimana firman–Nya ta’ala:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menjuluki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Az Zumar: 23)

Abu Muhammad Ali Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya Al Ihkam 2/196: “Dan hujjah ini adalah terhadap mereka bukan bagi mereka, karena Allah ta’ala tidak mengatakan “lalu mereka mengikut apa yang mereka anggap baik” akan tetapi Dia ‘azza wa jalla berfirman “lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya” sedangkan perkataan yang paling baik adalah yang sejalan dengan Al Quran dan sabda Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam, inilah ijma yang diyakini oleh setiap muslim. Dan inilah yang telah Allah ‘azza wa jalla jelaskan saat Dia berfirman:

“Kemudian bila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (An Nisa: 59)

Dan Dia ta’ala tidak mengatakan “maka kembalikanlah ia kepada apa yang kamu anggap baik” dan termasuk mustahil bila kebenaran itu berada pada apa yang kita anggap baik tanpa dalil, karena seandainya seperti itu, tentulah Allah ta’ala telah mentaklif kita dengan apa yang kita tidak mampu, dan tentu gugurlah banyak kebenaran, dan tentu bertentanganlah berbagai dalil, dan tentu berbenturanlah berbagai bukti, serta tentulah Allah ta’ala memerintahkan kita untuk perselisihan yang padahal Dia telah melarang kita darinya, sedangkan ini adalah mustahil karena pada dasarnya tidak boleh sepakat istihsan ulama seluruhnya terdapat satu pendapat padahal semangat, tabiat dan tujuan mereka itu beraneka ragam, di mana suatu kelompok tabi’at mereka adalah keras, kelompok lain tabiat mereka lunak, satu kelompok tabiatnya cepat tanggap dan kelompok lain tabiatnya hati-hati. Dan tidak ada jalan untuk bersepakat terhadap istihsan dalam satu hal dengan keberadaan berbagai faktor dan perasaan yang memompa semangat dan perbedaannya serta perbedaan hasilnya dan factor pendoronganya. Dan kita bisa mendapatkan ulama Madzhab Hanafi telah menganggap baik apa yang telah dianggap jelek oleh ulama Madzab Maliki dan kita pun mendapatkan para ulama madzhab Maliki menganggap baik apa yang dianggap buruk oleh para ulama madzhab Hanafi, maka gugurlah keberadaan Al Haq dalam Dienullah ‘azza wa jalla ini dikembalikan kepada istihsan sebagai manusia. Dan ini hanya bisa terjadi –dan saya berlindung kepada Allah– seandainya agama ini kurang. Dan adapun ia itu memang sudah sempurna lagi tidak ada tambahan di dalamnya, yang telah dijelaskan semuanya lagi telah ditegaskan terhadapnya atau diijmakan terhadapnya, maka tidak ada makna bagi orang yang menganggap baik sesuatu darinya atau dari yang lainya, dan tidak pula bagi orang yang menganggap jelek sesuatu darinya atau dari yang lainya.

Dan kebenaran itu adalah kebenaran meskipun dianggap buruk oleh manusia, dan kebatilan itu adalah kebatilan meskipun dianggap baik oleh menusia, maka sahlah bahwa istihsan itu adalah syahwat, pengikutan hawa nafsu dan kesesatan, dan kepada Allah ta’ala kami berlindung dari kehinan” selesai.

Dan mereka berhujjah dengan hadist: “Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia adalah baik pula di sisi Allah.”

Maka dikatakan kepada mereka: ini bukan marfu’ akan tetapi mauquf terhadap Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu,[8] sedangkan pada ucapan seorang setelah Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam agama kita tidak ada hujjah, dan seandainya ada hujjah dalam hal itu tentulah di dalam dalil ini tidak ada hujjah secara khusus atau sisi dilalah (indikasi/penunjukan) terhadap apa yang mereka tipukan, karena ia adalah isyarat kepada kesepakatan kaum muslimin, sedangkan ijma (kesepakatan) itu tidak terjadi kecuali berdasarkan dalil,[9]dan di dalamnya tidak ada dilalah yang menunjukkan bahwa apa yang dipandang baik oleh individu-individu kaum muslimin atau sebagaian jama’ah dan kelompok mereka bahwa ia baik juga di sisi Allah[10]

Ucapan Para Ulama Yang Bersinar

Tentang Istihsan

* Al Imam Muhammad Ibnu Idris Asy Syafi’iy (150-204 H)

Beliau rahimahullah berkata: (Barangsiapa melakukan istihsan maka dia telah membuat syari’at) Dari Al Mustashfa 1/274.

Beliau rahimahullah berkata: (istihsan itu hanyalah mengumbar selera…) (halaman 507 Ar Risalah point 1464)[11]

(Selain Rasulallah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak boleh seorangpun berbicara kecuali dengan cara berdalil, dan dia tidak boleh berkata dengan apa yang dia anggap baik, karena berbicara dengan apa yang dianggapnya baik adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya) (halaman: 25 Ar Risalah point 70).

Dan berkata: (Dan ini menjelaskan bahwa haram atas siapa saja berbicara dengan istihsan, bila istihsan itu menyelisihi khabar sedangkan kahbar itu adalah dari Al Kitab dan As Sunnah. Di mana Mujtahid dalam hukumnya berupa mencari dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah supaya dia mengikutinya, sebagaimana orang yang shalat yang tidak melihat ka’bah berupaya mecari tahu kiblat terus ia shalat mengarah kepadanya) (halaman 540 Ar Risalah point 1456)

Dan dalam suatu riwayat darinya bahwa beliau berkata: (mengutarakan pendapat dengan istihsan adalah batil)

(Dan andai kata boleh bagi seorang untuk istihsan dalan dien ini tentu bolehlah hal itu bagi orang-orang yang berakal dari selain ahli ilmu dan tentu bolehlah dia mensyari’atkan dalam dien ini dalam setiap masalah dan setiap orang mengeluarkan bagi dirinya sesuatu syari’at (aturan))[12]

Dan berkata: (Andaikata boleh bagi setiap mufti atau hakim atau mujtahid melakukan istihsan dalam suatu yang tidak ada nash di dalamnya, tentu keadaannya melewati batas dan tentu hukum-hukum itu berbeda-beda dalam satu kejadian sesuai istihsan setiap mufti, sehingga dikatakan dalam hal tersebut: berbagai macam fatwa dan hukum yang tidak ada batasnnya dan tolak ukur yang menjelaskan al haq di dalamnya serta tidak bisa mengetahui sisi kebenaran darinya. Dan tidak seperti ini ajaran ini dipahami dan hukum –hukum agama ditafsirkan)

* Abu Muhammad Ali Ibnu Ahmad Ibnu Sa’id Ibnu Hazm Adh Dhahiriy (384-456H)

Beliau rahimahullah berkata: (Dan kebenaran itu adalah kebenaran meskipun dianggap buruk oleh menusia, dan kebatilan itu adalah kebatilan meskipun dianggap baik oleh para manusia, maka sahlah bahwa istihsan adalah syahwat, pengikut terhadap hawa nafsu dan kesesatan kesesatan, dan kepada Allah ta’ala kami berlindung dari kehinaan) (2/196 dari Il Ihkam Fi Ushulul Ahkam)

Dan setelah beliau menuturkan firman Allah ta’ala, “.karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,” (Yusuf: 53)

Dan firman-Nya ta’ala. “Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.” (Ar Rum: 29)

Dan firman-Nya ta’ala. ”Dan siapa yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tanpa petunjuk dari Allah.” (Al Qashash: 50)

Beliau rahimahullah berkata: (Dan dalam ayat-ayat ini terdapat pengguguran sikap seorang mengikuti apa yang dianggapnya baik tanpa ada bukti dari nash atau ijma. Dan tidak satupun yang lebih hati-hati terhadap hamba-hamba yang mu’min daripada Allah yang menciptakan mereka yang memberikan mereka rizki lagi yang mengutus para rosul kepada mereka, sedangkan kehati-hatian semuanya adalah (dalam) mengikuti apa yang diperintahkan Allah ta’ala, dan kekejian semuanya adalah berada (dalam) menyelisihnya) (2/198 Al Ihkam Fi Ushulul Ahkam)

Dan berkata: (Dan kami katakan kepada yang menganut istihsan: Apa perbedaan antara apa yang kamu anggap baik dan yang dianggap buruk selain kamu, dengan apa yang dianggap baik oleh selain kamu namun dianggap buruk oleh kamu? Dan apa yang menjadikan salah satu jalan dari dua jalan itu lebih benar daripada yang lainnya? Dan inilah apa yang tidak bisa dihindari darinya. Wa billahi ta’ala at taufiq) (2/200 Al Ihkam Fi Ushulul Ahkam)

Dan berkata dalam sumber yang sama 1/45: “Istihsan adalah apa yang disukai hawa nafsu dan yang sejalan dengannya, baik itu keliru ataupun benar”

Dan berkata juga 1/97 pada firman-Nya ta’ala “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya,” (An Nisa:65): (Ini adalah cukup bagi orang yang mengerti, berhati-hati, dan yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta meyakini benar bahwa amanah ini adalah amanah dari Tuhannya ta’ala kepadanya dan wasiat-Nya ‘azza wa jalla yang datang kepadanya, maka hendaklah semua insan memeriksa dirinya, bila dia mendapatkan jiwanya tidak menerima penuh apa yang datang kepadanya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan dia mendapatkan jiwanya cenderung kepada ucapan si fulan dan si fulan atau qiyas dan istihsannya, dan dia mendapatkan jiwanya menjadikan seorang selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam baik itu sahabat ataupun yang lainnya sebagai hukum dalam perselisihannya, maka hendaklah dia mengetahui bahwa Allah ta’ala telah bersumpah sedangkan ucapan-Nya adalah al haq bahwa dia itu bukan orang yang beriman, dan maha benar Allah, dan bila bukan orang mu’min maka dia itu orang kafir, serta tidak ada jalan untuk bagian yang ketiga) dengan sedikit ringkasan.

* Al Imam Mawaffaquddien Abdulah Ibnu Ahmad Ibnu Qudamah Al Maqdisiy (540-620H)

Berkata dalam Raudlatun Nadhir Wa Junnatul Munadhir 147-148: (Sesungguhnya kita benar-benar mengetahui dengan ijma umat sebelum kita bahwa orang alim tidak berhak memutuskan hukum dengan sekedar nafsunya dan syahwatnya tanpa mengkaji pada dalil-dalil.[13] Dan istihsan tanpa pengkajian (dalil) adalah putusan berdasarkan hawa nafsu semata. Maka ia itu seperti istihsan orang awam, sedang perbedaan apa antara orang awam dengan orang alim selain pengetahuan akan dalil-dalil syar’iy serta pemisahan yang sahih di antaranya dari yang rusak. Dan bisa jadi sandaran istihsannya adalah praduga dan khayalan yang bila ia disodorkan kepada dalil, tentu tidak muncul darinya satu faidah pun…)

Dan berkata: (Mereka mesti menerima istihsan orang-orang awam dan anak kecil, dan bila mereka membedakan bahwa mereka (orang-orang awam dan anak-anak) itu bukan ahlinya untuk mengkaji, maka kami katakan: Bila tidak melihat pada dalil, maka apa faidahnya pada ahli pengkajian…???) selesai

KEDUA

ISTISHLAH (ANGGAPAN MASHLAHAT) ATAU MASHLAHAH MURSALAH

Ketahuilah bahwa hal yang mendasar adalah bahwa Allah ta’ala telah menyempurnakan bagi kita dien ini, di mana Dia ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu ,dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku.” (Al Maidah: 3).

Dan sengan sebab itu Dia tidak membiarkan kita begitu saja melakukan istishlah atau istihsan atau memilih apa yang diinginkan jiwa kita dari ajaran dan dein ini. Dia ta’ala berfirman:

“Apakah menusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja” (Al Qiyamah: 36)

Dan oleh sebab itu maka setiap apa yang tidak dibimbingkan Allah ta’ala kepadanya berupa maslahat-maslahat yang diaku-akui maka ia adalah batil meskipun dianggap mashlahat dan dianggap baik oleh akal banyak manusia. Dan setiap apa yang ditegaskan dalil bahwa itu adalah mashlahat bagi mereka maka ia adalah kebenaran murni walaupun dianggap buruk oleh akal mereka.

Oleh sebab itu maka sesungguhnya intisari ucapan ulama dalam bab ini adalah mereka membagi mashlahat menjadi tiga macam:

Pertama: Syari’at bersaksi akan penganggapan mashlahat itu, maka kita mengatakan kami mendengar dan kami ta’at.

Kedua : Syari’at menggugurkan mashlahat itu dan tidak menghiraukannya (maka ini tidak ada perselisihan dalam kebatilannya karena ia menyelisihi nash. Dan pembukaan hal ini menghantarkan kepada perubahan batasan-batasan syari’at)[14]

Ketiga : Syari’at tidak menggugurkan mashlahat itu dan tidak pula menganggapnya. Dan inilah yang diisyaratkan oleh mayoritas manusia saat mereka menyebutkan Mashlahat Mursalah, dan mereka namakan seperti itu karena ia meliputi – berdasarkan klaim mereka – atas mashlahat muthlaqah mursalah, yang tidak diputuskan dalam syari’at ini atas penganggapannya dan penganggurannya.

Dan kebenaran yang kami yakini dan dengannya kami bersaksi di hadapan Allah ta’ala bahwa mashlahat macam terakhir ini tidak ada, dan barangsiapa mengklaim keberadaannya maka dia telah menuduh syari’at ini kurang dan menuduh Kitab (Al Qur’an) ini alpa, berarti dengan itu dia telah menyelisihi nash firman Allah yang muhkam (jelas):

”Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab.” (Al An’am: 38)

dan firman-Nya:

”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku…” (Al Maidah: 3).

Maka Allah ta’ala tidak mengalpakan dalam Al Kitab dan tidak mengurangi dalam penuturan mashlahat, akan tetapi setiap mashlahat sungguh Al Kitab telah bersaksi akan penggugurannya ataupun penganggapannya baik itu dengan nash (penegasan langsung yang jelas) ataupun dengan dhahirnya ataupun dengan isyarat dan imaa (isyarat) atau dilalah lainya. Dan barangsiapa mengklaim selain hal itu maka dia telah mengklaim bahwa Allah telah membiarkan kita begitu saja sehingga sebagian kita menganggap mashlahat apa yang dianggap buruk oleh yang lain tanpa patokan atau batasan dan syari’at. Allah ta’ala berfirman seraya mengingkari dengan semacam ini:

“Apakah menusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja” (Al Qiyamah: 36)

Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitabnya Ash Sharimul Maslul: “Tidak boleh menetapkan hukum dengan sekedar istihsan dan istishlah, karena sesungguhnya itu adalah pensyari’atan bagi dien ini dengan ra-yu (pikiran), sedangkan itu adalah haram bedasarkan firman-Nya ta’ala:

”Apakah mereka memiliki sembahan-sembahan yang mensyari’atkan bagi mereka dari dien ini apa yang tidak Allah izinkan.” (Asy Syura: 21).

Dan beliau berkata dalam Al Fatawa 11/344: (Berpendapat dengan mashalahah mursalah adalah mensyari’atkan dari dien ini apa yang tidak Allah izinkan, dan ia itu dari beberapa sisi menyerupai masalah istihsan tahsin ‘aqly (penganggapan baik berdasarkan akal), ra-yu dan yang serupa dengan itu) sampai beliau berkata: (dan ucapan yang mencakup adalah bahwa syari’at ini tidak menelantarkan satu mashlahatpun, justeru Allah ta’ala telah menyempurnakan dien ini bagi kita dan telah mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, di mana tidak ada suatupun yang mendekatkan ke surga melainkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memberi kabar kita tentangnya.

Beliau telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang, malamnya seperti siangnya, tidak menyimpang darinya setelah itu kecuali orang yang binasa, akan tetapi apa yang diyakini sebagai mashalahat oleh akal meskipun syari’at tidak datang dengannya maka ia tidak lepas dari salah satu dari dua hal, bisa jadi syari’at telah menunjukan kepadanya namun si pengamat ini tidak mengetahuinya atau sesungguhnya ia bukan mashlahat walaupun dia meyakininya mashlahat, karena mashlahat adalah manfaat yang terbukti atau mendominasi, dan sering sekali manusia mengira bahwa sesuatu itu bermanfaat dalam dien dan dunia dan ternyata di dalamnya ada manfaat yang kalah oleh mashlahat, sebagai firman Allah ta’ala prihal khamr dan judi:

“Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Al Baqarah: 219)

Dan banyak dari apa yang diada-adakan manusia berupa keyakinan-keyakinan dan amalan dari bid’ah-bid’ah ahli kalam, ahli tashawwuf, ahli ra-yu dan para penguasa, mereka mengiranya manfaat atau mashlahat yang benar-benar manfaat, tepat dan benar sedangkan ia itu tidak seperti itu, bahkan banyak dari orang-orang yang di luar Islam dari kalangan yahudi, nasrani, para pelaku syirik, shabi-in dan majusi mengira bahwa apa yang mereka anut berupa keyakinan-keyakinan mu’amalat dan ibadah adalah mashlahat bagi mereka dalam dien dan dunia serta manfaat bagi mereka, maka sungguh [telah sia-sia amalan mereka dalam kehidupan dunia ini sedang mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya] dan sungguh mereka telah dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaan mereka yang buruk lalu mereka meyakini pekerjaan mereka yang buruk itu baik.

Bila menusia memandang baik sesuatu yang buruk, maka istihsan dan istishlahnya itu bisa jadi termasuk dalam bab ini ) selesai (11/345)

Saya berkata: [oleh sebab itu ulama berbagai madzhab menetapkan bahwa mashlahat mursalah itu bukan hujjah dalam agama Allah sebagaimana yang telah dijelaskan Al Qarafi dalam At Tanqih][15] dan mereka mengamalkan mashlahat itu hanya saat adanya bukti akan penganggapannya dari syari’at.

Asy Syaukaniy menuturkan bahwa jumhur melarang dari berpegang terhadapnya secara muthlaq.[16]

Dan perlu diketahui bahwa para ulama membagi mashlahat itu secara umum kepada tiga macam: dlaluriyah (kemestian), hajiyyah (kebutuhan) dan tahsiniyyah (kelengkapan penghiyas)

* Adapun hajiyyah dan tahsiniyyah maka ia adalah pintu yang lebar bagi ulama, dan oleh sebab itu Ibnu Qudamah Al Maqdisiy berkata: [Kami tidak mengetahui penyelisihan bahwa tidak boleh berpegang pada keduanya tanpa landasan (dalil), karena seandainya hal itu boleh tentulah ia adalah menuduh syari’at ini sebagai ra-yu (buah pikiaran) saja, dan tentu kita tidak membutuhkan pengutusan para rosul dan tentulah orang awam sama dengan ulama dalam hal itu, karena setiap orang mengetahui mashlahat dirinya sendiri][17]
* Dan adapun dlaruriyyat maka ia adalah yang dinamakan oleh para ulama sebagai mashlahat penolakan mafsadah dirinya, dan ia itu ada enam: agama, jiwa, nasab (keturunan), kehormatan,[18]akal, dan harta.

Syari’at tidak membiarkan wasilah penjagaan dlaruriyyat ini mengikuti apa yang diinginkan makhluk dan apa yang mereka senangi, akan tetapi ia telah meletakkan batasan-batasan syari’at, di mana ia memvonis hukum mati orang murtad demi menjaga agama, dan dengan adanya vonis qishash demi menjaga jiwa, dan dengan had zina dan ‘iddah atas wanita yang ditinggal wafat suaminya dan yang diceraikan serta yang serupa itu demi menjaga keturunan dan nasab, sebagaimana ia mensyari’atkan had qadzaf demi menjaga kehormatan, dan had khamr demi menjaga akal, dan ia mengharamkan riba dan sebagian macam jual beli dan mensyari’atkan had pencurian demi menjaga harta. Oleh sebab itu dalil-dalil syar’iy adalah sangat banyak terhadap penganggapan maslahat-maslahat ini serta penjagaannya.

Dikarenakan syari’at telah menentukan sarana-sarana tentu untuk menjaga mashlahat-mashlahat ini, maka tidak halal mengada-ada sarana-sarana yang tidak ditegaskan terhadapnya oleh syari’at atau yang tidak memiliki dasar di dalamnya, sedangkan tasyri (penetapan hukum) dengan berlandasan hawa nafsu semata dengan dalih menjaga mashlahat-mashlahat ini adalah batil dan bukan hujjah [karena sesungguhnya tidak dikenal di dalam syari’at ini penjagaan terhadap darah –umpamanya – dengan segala macam cara, oleh sebab itu tidak disyari’atkan mutslah (mutilasi) meskipun ia lebih mengena dalam hal membuat jera dan kapok, dan hukum bunuh tidak disyari’atkan dalam pencurian dan minum khamr. Barang siapa menetapkan suatu hukum untuk suatu mashlahat dari mashlahat-mashlahat ini sedangkan dia tidak mengetahui bahwa syari’at menjaga mashlahat-mashlahat itu dengan menetapkan hukum yang diada-adakannya itu, maka itu adalah merupakan sikap menuduh syari’at ini hasil ra-yu dan pemutusan akal belaka][19]

Dan begitulah, jadi kesimpulan bab ini adalah bahwa Allah ta’ala tidak membiarkan kita begitu saja dan dia tidak meninggalkan kita sia-sia, akan tetapi Dia telah menetapkan bagi kita mashlahat-mashlahat dan maqashid syari’iyyah (tujuan-tujuan syari’at), dan bukan hal ini saja, akan tetapi Dia subhanahu wa ta’ala telah menetapkan jalan-jalan dan sarana-sarana yang sah yang bisa menghantarkan kapadanya, sehingga Dia telah menutup dan menggugurkan setiap sarana dan cara yang kadang dikira oleh orang bahwa ia bisa menyampaikan kepada mashlahat atau tujuan. Dan Dia tidak meninggalkan bagi kita satui jalanpun kecuali jalan jalan penutup para nabi. Kemudian sarana itu memiliki status hukum sama dengan tujuannya dari sisi bahwa ia itu keberadaannya wajib disyari’atkan, bersih , dan suci seperti tujuannya.

Oleh sebab itu para Fuqaha berkata [Sarana itu diberi status hukum tujuan]

Dan mereka mengatakan dalam syair:

Segala sarana urusan adalah seperti tujuan

Dan putuskanlah dengan hukum ini untuk hal-hal tambahan[20]

Syaikhul Islam Ibnu Taimmiyah berkata tentang Al Mashalih Al Mursalah11/343: [Dan ini adalah pasal yang agung yang layak untuk diperhatikan karena dari arahya terjadi dalam dien ini kerancauan yang besar. Dan banyak dari para umara dan ulama serta ahli ibadah memandang mashlahat terus mereka menggunakannya berdasarkan landasan ini, dan bisa jadi di antaranya ada hal yang dilarang dalam syari’at ini dan mereka tidak mengetahuinya, dan bisa jadi mendahulukan atas[21]mashalih mursalah ucapan yang menyelisihi nash, dan banyak dari mereka orang yang menelantarkan mashlahat-mashlahat yang wajib dipertimbangkan secara syari’at berlandaskan atas dasar bahwa syari’at tidak datang dengannya, sehingga dia meluputkan banyak hal yang wajib dan mustahab…]

Dan dari yang lalu maka nampak jelaslah di hadapanmu kebatilan kaidah yang ditetapkan Syaikh Abdurrahman Ibnu Abdil Khaliq dalam kitabnya (Al Muslimin Wal ‘Amal As Siyasiy[22]) saat dia berkata halalaman 39: [Ketiga: mashalih dan mafasid adalah landasan dan jalan untuk memberikan hukum terhadap wasaail (sarana/cara): Tidak ada keraguan bahwa cara untuk menghukumi terhadap wasilah tentu bahwa ia itu layak atau tidak adalah dengan ukuran apa yang ia capai berupa mashalih syar’iyyah (mashlahat-mashlahat yang syar’i) atau apa yang ia timbulkan berupa adlraar (bahaya-bahaya) dan mafaasid (kerusakan-kerusakan). Maka peninjauan pada akibat, pengamatan urusan serta perhitungan untung rugi yang bersifat agama adalah suatu yang wajib diperhitungkan dan dijadikan acuan…]

Dan dia kuatkan hal itu halaman: 40, berkata: [Dan begitulah pandangan yang wajib dilakukan di dalam setiap langkah dari langkah-langkah dakwah, dalam setiap wasilah dari wasilah-wasilahnya serta dalam setiap metode dari metode-metodenya. Seberapa besar manfaat yang ia capai bagi umat, dien dan Islam, dan seberapa besar mafsadah syariiyah yang ia datangkan. Kemudian bila manfaatnya adalah lebih besar serta pengorbanan dan kerusakannya adalah lebih sedikit, maka amalan itu adalah disyari’atkan bahkan kadang wajib, dan adapun bila mafsadahnya lebih besar dan bahayanya lebih banyak dari manfaatnya, maka sesungguhnya hal yang wajib adalah menahan diri…]

Maka kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya bahwa landasan dan jalan yang pertama – dan kami tidak mengatakan satu-satunya – akan tetapi yang pertama dan yang paling penting dalam memberikan hukum terhadap wasaail, apakah ia sah atau tidak, dan apakah ia dianggap atau tidak dianggap, adalah syari’at, burhan (bukti nash) dan dalil sebagaimana yang telah engkau ketahui sebelumnya.

Kemudian datang setelah itu timbangan mashalih dan mufasid sesuai mengikuti dalil bukan ia itu menguasai dan mengendalikan dalil, sebagaimana ia adalah realita banyak para da’at masa kini, dan oleh sebab itu mereka telah memasukkan terhadap pemeluk islam keburukan yang besar dan kebatilan yang nyata: karena timbangan mashlahat dan mafsadah bila tidak dibatasi dan dikontrol dengan firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam maka tanpa keraguan atau kebimbangan ia akan dikendalikan dengan hawa nafsu, istihsan-istihsan dan akal-akal yang terbatas lagi beragam corak, dan oleh sebab itu akan terjadi kontradiksi perselisihan dan serabutan dalam dienullah ini.

Dan oleh karena itu, maka syaikh tadi – semoga Allah memberinya hidayah – dan banyak orang yang sejalan dengannya, mereka dengan dalih mashlahat dakwah telah membolehkan ikut serta dalam banyak kebatilan yang besar dan kejahatan yang nyata seperti (ikut serta dalam) parlemen-parlemen legislatif dan lembaga-lembaga kafir milik thagut lainnya.

Sampai-sampai dia memberikan contoh atas hal itu dengan Al Jazair saat panjajah Prancis keluar darinya, di mana dia mengklaim bahwa mayoritas ekonominya saat itu dibangun di atas industri khamr, terus dia menganggap bodoh akal orang-orang yang menuntut penutupan pabrik-pabrik khamr itu secara langsung, dan dia mencap mereka kaku terhadap nash dan tidak memahami ruh-ruh nash itu dan bahwa hal yang mashlahat adalah membiarkan pabrik-pabrik itu beroprasi dan melakukan tahapan sementara waktu dalam penutupannya, karena khawatir dari mafsadah jatuhnya perekonomian dan terganggunya masyarakat[23], padahal sesungguhnya Allah ta’ala telah menggugurkan anggapan mashlahat semacam ini dan Dia menjelaskan di hari Dia menetapkan hukum pelarangan kaum musyrikin dari masuk Al Haram, dan Dia subhanahu wa ta’ala telah mengetahui kekhawatiran sebagian kaum mu’min dari mafsadah lemahnya ekonomi dan tidak lakunya perniagaan yang bisa saja terjadi akibat larangan mendadak itu, maka Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka nanti Allah akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya jika Dia menhendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah: 28)

Begitulah sampai masalahnya menghantarkan para penganut dalih mashlahat ini kepada sikap mereka menamakan sikap berdiri bersama dalil syar’iy dan tidak melampaui batasan-batasan Allah sebagai sikap jumud (kekakuan) bersama nash-nash. Maka kami katakan kepada mereka: Bila ini menurut kalian adalah jumud maka kami mengumumkannya bahwa kami merasa bangga dengan jumud ini lagi merasa senang dengannya, dan kami memohon kepada Allah ta’ala untuk menghidupkan dan mematikan kami di atasnya. Dan silahkan kalian bersenang-senang dengan keterlepasan dari nash-nash dan pembebasan diri dari dalil-dalil serta pelanggaran batasan-batasan Allah di bawah payung istishlah dan istihsan kalian yang sangat batil

Mashalih Mursalah Dan Contoh Masalah Turs (Tameng)

Dan untuk menyempurnakan pembicaraan dalam materi ini dan agar kami tidak menyisakan celah dalam dienullah bagi orang-orang yang mempermainkannya. Ketahuilah bahwa sebagai ulama telah berbicara perihal penerimaan mashlahat bila memenuhi tiga syarat.

Pertama: Ia adalah mashlahat haqiqiyyah (sebenarnya) dan bukan wahmiyyah (praduga).

Kedua: ia adalah mashlahat ‘ammah (umum) bukan pribadi

Ketiga: mashlahat ini tidak menyelisihi hukum atau dalil syar’iy.

Ada dalam Irsyadul Fuhul halaman 242: [Bila mashlahat itu dlaruriyyah qath’iyyah lagi kuliyyah maka ia dianggap, dan bila salah satu dari yang tiga ini tidak terpenuhi maka ia tidak dianggap. Dan yang dimaksud dengan dlaruriyyah adalah bahwa ia termasuk hal-hal dlaluriy yang lima dan yang dimaksud dengan kulliyyah adalah bahwa ia mencakup seluruh kaum muslim bukan buat sebagian manusia tanpa sebagian yang lainnya atau dalam keadaan tertentu tanpa yang lainya. Dan hal ini dipilih oleh Al Ghazaliy dan Al Baidlawiy. Dan Al Ghazaliy memberikan contoh untuk mashlahat yang memenuhi syarat-syarat-syarat ini dengan masalah Turs].

Abul Hasan Al ‘Amidiy berkata dalam Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam (4/216) dan itu setelah beliau menuturkan pembagian mashlahat kepada mashlahat yang dianggap (ma’tabar) dan yang mulgha (digugurkan) serta yang tidak dianggap dan tidak digugurkan oleh syari’at, dan ia dikenal dengan sebutan mashlahat marsalah.

Beliau berkata: [Para Fuqaha sari kalangan syafi’iyyah, Hanafiyah dan yang lainya telah sepakat untuk menolak berpegang dengannya, dan inilah kebenaran, kecuali apa yang dinukilkan dari Malik bahwa dia memegangnya bersama pengingkaran ulama madzhabnya terhadap hal itu darinya, dan mungkin penukilan itu andaikata benar darinya maka yang lebih serupa (dengan madzhabnya) bahwa beliau tidak mengatakan hal itu dalam setiap mashlahat, namun dalam suatu yang tergolong mashlahat yang dlaruriy, kulliy dan qath’iy keterjadiannya. Dan itu contohnya seandainya kaum kafir manjadikan sejumlah kaum muslimin sebagai perisai, di mana seandainya kita menahan diri dari (menyerang) mereka, maka tentulah orang-orang kafir itu akan menguasai darul Islam dan membantai habis kaum muslimin, dan seandainya kita menembak perisai itu dan membunuh mereka maka mafsadah (kerusakan) menjadi terhindar dari seluruh kaum muslimin secara pasti, akan tetapi mesti darinya membunuh muslim yang tidak berdosa, maka pembunuhan ini walaupun sejalan dalam gambaran ini dan mashlahatnyapun dilaruriyyah kulliyyah lagi qath’iyyah, hanya saja tidak nampak dari syariat ini penganggapannya dan tidak pula penggugurannya dalam bentuk-bentuknya.

Dan bila hal itu diketahui, maka mashalih itu sesuai apa yang telah kami jelaskan terbagi menjadi mashlahat yang ada penganggapannya dari syariat dan mashlahat yang ada penggugurannya darinya.

Sedangkan bagian ini adalah terkatung-katung di antara dua bagian ini, dan penyertaannya dengan salah satu dari keduannya tidaklah lebih utama dari yang lainnya, sehingga tidak boleh berhujjah dengannya tanpa bukti (dalil) yang menganggapnya, yang memperkenalkan bahwa ia tergolong (mashlahat) yang dianggap bukan yang digugurkan.

Saya berkata: dan perhatikan ucapan yang akhir ini supaya engkau mengetahui bahwa termasuk (masalah turs) ini yang padahal ia sangat berbahaya lagi penting sekali, ternyata di dalamnya ada perselisihan dan ia bukan tempat ijma sebagaimana yang diklaim oleh banyak kalangan yang merasa pintar di zaman ini.

Di samping ini juga bahwa ulama yang membolehkannya telah menetapkan syarat-syarat yang berat di dalamnya karena ia mengandung penghalalan yang haram.

Dan diantara syarat-syarat itu:

* Tidak didapatkan jalan lain untuk membunuh dan menghadang orang-orang kafir itu kecuali dengan membunuh si tameng tersebut, dan bila didapatkan selain jalan ini, maka tidak halal sama sekali membunuh tameng itu.
* Merasa yakin bahwa membiarkan orang-orang kafir dan tidak membunuh mereka karena sebab tameng itu adalah di dalamnya pasti terdapat kebinasaan yang nyata bagi kaum muslim dan tameng juga
* Kaum muslim bertaqwa kepada Allah dalam qital mereka ini semaksimal mungkin, di mana mereka tidak membunuh dari tameng itu kecuali memang mereka dlarurat secara sebenarnya untuk membunuhnya. Namun demikian sesungguhnya banyak dari kalangan yang sesat di zaman ini berdalil dengan masalah Turs ini dan mereka menempatkannya dengan tanpa peduli dan dengan mudahnya pada pintu-pintu yang berbahaya yang mengeluarkan dari lingkaran islam dan menghantarkan kepada keberlepasan dari millah tahid, seperti masuk dalam banyak amalan dan tugas-tugas kekafiran, dan ambil saja sekedar untuk contoh: permasalahan keikutsertaan dalam pemerintahan dan parlemen-parlemen legislatif. Dimana banyak dari kalangan ansharnya berdalil dengan masalah Turs ini dan mereka berlaku sangat ngawur di dalam hal itu tanpa menghiraukan syarat-syarat yang berat yang mana ulama yang membolehkan membunuh Turs telah menentukan syarat-syarat buat pendapat mereka itu[24] seolah agama Allah ta’ala ini tidak bisa ditegakkan kecuali dengan ikut serta dalam sistem kafir atau Parlemen Legislatif yang syirik itu.!! Atau bahwa dalam meninggalkan keikutsertaan di dalamnya ada kebinasaan seluruh kaum muslimin atau hal lainnya yang mesti dipegang oleh orang yang berhujjah untuk itu dengan ucapan-ucapan ulama dalam masalah itu…!

Tidak sama sekali, akan tetapi ia adalah hawa nafsu dan mempermainkan agama Allah serta pembuatan hukum dengan murni berdasarkan istihsan dan istishlah aqliy. Dan seandainya penuntun mereka itu adalah bukti (nash) dan dalil seraya mereka tidak berpaling darinya dan tidak merujuk kepada selainnya, tentulah mereka mendapat petunjuk, akan tetapi ia adalah buah keberpalingan dari dalil dan bukti (nash) kepada hawa nafsu yang menyesatkan dan pendapat-pendapat yang rusak, maka hendaklah takut setiap orang yang meniti jalan-jalan ini dari siksaan orang-orang yang berpaling yang Allah ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang Telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang Telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya kami Telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (Al Kahfi: 57)

Dan firman-Nya subhanahu wa ta’ala :

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya.’ (Al A’raf:146)

Perhatian:

Kepada Inti Yang Agung Dan Kaidah Yang Penting Yang Tidak Diindahkan Oleh Mayoritas Manusia: Mashlahat Terbesar Dalam Kehidupan Ini Yang Tidak Boleh Digugurkan Dan Dibenturkan Dengan Mashlahat Apa Saja Yang Di Bawahnya

Engkau telah mengetahui bahwa mashalih dlaruriyyah yang dianggap oleh syari’at adalah enam: Dien-Jiwa-Nasab-Kehormatan-Akal-Dan Harta.

Sedangkan mashlahat yang terbesar secara muthlaq adalah dien, karena sesungguhnya mashlahat-mashlahat dlaruriyyah yang lain bila telah dianggap oleh syari’at ini adalah karena ia itu menjaga atas manusia dunia dan urusan kehidupan mereka. Maka sesungguhnya dien adalah menjaga bagi manusia urusan dunia dan akhirat mereka serta hanya dengan ini saja keselamatan akan tercapai, oleh sebab itu sangsi hukum terbesar adalah apa yang Allah ta’ala tetapkan utuk manjaga kehormatan dien, yaitu hukum bunuh sebagaimana dalam hadist “Barangsiapa merubah agamanya maka bunuhlah dia” dan yang lainnya, terutama sesungguhnya Allah telah menjadikannya sebagai hak murni milik-Nya ta’ala yang tidak seorangpun menserikati-Nya di dalam hal itu.

Sedangkan hal terbesar dalam dien ini adalah (tauhid) yang mana lawannya adalah syirik, karena Allah tidak menciptakan makhluk ini kecuali dalam rangka merealisasikan tauhid ini dan menjauhi lawannya. Allah ta’ala berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Adz Dzariyat: 56) yaitu supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.

Dan Dia subhanahu wa ta’ala tidak mengutus para rasul dan tidak menurunkan kitab-kitab kecuali dalam rangka hal itu. Allah ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul, (para rasul itu berkata kepada kaum mereka): “ Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut itu” (An Nahl: 36)

Dan telah banyak juga hadist-hadist dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mengabarkan bahwa tolak ukur masuk surga dan keselamatan dari neraka adalah tergantung kapada perealisasian tauhid dan penjauhan syirik dan tandid, sedangkan ajaran-ajaran Islam yang lain tidak lain adalah penyempurna, pelengkap dan pengokoh bagi hal inti yang sangat mendasar ini.

Oleh sebab itu para ulama menuturkan bahwa [setiap ayat dalam Al Qur,an itu adalah berisi tauhid, menjadi saksi baginya lagi mengajak kepadanya, di mana Al Qur’an itu:

* Bisa jadi kabar tentang Allah, Nama-Nama-Nya , Sifat-Nya dan perbuatan-Nya, maka ia adalah tauhid ilmiy khabariy.
* Bisa jadi ia adalah ajakan untuk beribadah kepada-Nya saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan melepaskan diri dari apa yang diibadati selain-Nya, maka ia tauhid iradiy thalabiy.
* Bisa jadi ia adalah perintah dan larangan, maka ia adalah hak-hak dan penyempurna tahid.
* Bisa jadi ia adalah kabar tentang karunia Allah bagi ahli tauhid dan apa yang Dia lakukan terhadap mereka di dunia dan apa yang Dia karuniakan kepada mereka di akhirat, maka ini adalah balasan tauhidnya.
* Dan bisa jadi ia adalah kabar tentang ahli syirik dan apa yang Dia timpakan kepada mereka berupa siksa dan apa yang menimpa mereka di akhirat berupa azab, maka ia adalah kabar tentang orang yang keluar dari hukum tauhid,

Maka Al Qur’an itu seluruhnya tentang tauhid, hak-haknya dan balasannya, dan tentang syirik , para pelaku serta alasan mereka].[25]

Jadi mashlahat terbesar dalam kehidupan ini adalah tauhidullah ta’ala

Dan demi perealisasian hal itu maka Allah mensyari’atkan jihad dan istisyhad, sehingga mashlahat ini didahulukan terhadap semua mashlahat lainnya berupa jiwa atau harta atau kehormatan atau yang lainnya karena pensyari’atan jihad hakikatnya adalah pengerahan seluruh mashalih dan dlarurat dalam rangka melindungi keutuhan mashlahat terbesar ini. Dan hal itu dijelaskan oeh firman-Nya ta’ala:

” Dan fitnah (syirik) itu lebih besar daripada membunuh,” (Al Baqarah: 217)

Sebagaimana bahwa mafsadah terbesar dalam kehidupan ini adalah syiruk yang menggugurkan tauhid, karena dosa di bawah syirik bisa saja diampuni bagi muwahhid atau memberikan syafa’at di dalamnya pemberi syafa’at yang ditaati atau dia diadzab sesuai kadar dosanya itu terus tempat kembalinya adalah tempat kembali kaum muwahidin.

Adapun orang yang mati sedang dia bersetatus sebagai orang musyrik kepada Allah, maka Allah ta’ala telah berfirman tentangnya:

”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga,” (Al Maidah: 72)

Dan Dia subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang di bawah dosa (syirik) itu bagi orang yang dikehendaki-Nya, “ ( An Nisa: 48)

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Barangsiapa mati sedang dia menjadikan tandingan bagi Allah maka dia pasti masuk neraka.” (HR Al Bukhariy)

Bila hal ini sudah tetap diketahui oleh orang, maka dia tidak boleh mengendepankan mashlahat apa saja dalam kehidupan ini terhadap mashlahat tauhid. Sebagaimana dia juga tidak boleh menganggap besar mafsadah apa saja dalam kehidupan ini di sisi mafsadah syirik, karena syari’at telah menetapkan bahwa tauhid adalah mashlahat terbesar, sedangkan ini kembalikan rujukannya kepada syari’at, bukan kepada akal atau hawa nafsu dan istihsan sebagaimana yang telah baku dalam dienullah.

Dan telah shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam apa yang di riwayatkan Al Bukhari dan Muslim serta yang lainnya bahwa beliau ditanya: [Dosa apa yang paling besar? Maka beliau berkata: [Engkau menjadikan tandingan bagi Allah sedangkan Dia-lah telah menciptakan]

Dan bila ini telah nampak jelas, maka sesungguhnya orang wajib untuk memahami setiap nash atau ucapan ulama muhaqqiqin dan ulama rabbaniyyin sesuai dengan hal ini dan di atas panduannya. Dan di antara hal itu adalah ucapan syakhul islam Ibnu Taimiyyah yang biasa dipergunakan banyak manusia tanpa mereka menghubungkannya dengan hal pokok ini dan tanpa mereka memahaminya sesuai dengan hal ini, di mana beliau berkata: [Bila berbenturan mashalih dengan mafasid dan kebaikan dengan keburukan atau saling berdesakan, maka sesungguhnya wajib mengendepankan yang paling kuat darinya dalam kindisi bila saling berdesakan mashalih dengan mafasid dan bila berbenturan antara mashalih dengan mafasid, karena sesungguhnya perintah dan larangan itu bila mengandung peraihan mashlahat dan penghindaran mafsadah maka mesti dilihat apa yang membenturnya, kemudian bila mashlahat yang terhilangkan atau mafsadah yang timbul adalah lebih banyak, maka tentulah ia tidak diperintahkan, namun justru ia adalah diharamkan bila mafsadahnya lebih banyak daripada mashlahatnya, akan tetapi pertimbangan ukuran mashalih dan mafasid adalah dengan timbangan syari’at]. (Majmu AlFatwa 28/129)

Seandainya si pembaca atau si penulis itu mengerti dan memahami bahwa mashlahat terbesar dalam kehidupan ini adalah tauhid tentulah dia tidak akan mengedepankan terhadapnya berbagai mashlahat lain yang lemah lagi dibuat-buat.[26]

Dan begitu juga seandainya dia mengerti bahwa mafsadah terbesar dalam kehidupan ini adalah syririk kepada Allah, tentulah dia tidak akan meninggalkan penolakan mafsadah syirik ini dan tentu dia tidak akan memikulnya demi mafsadah yang lebih rendah dan lebih kecil darinya, bagaimanapun besarnya pensifatan yang dilontarkan para pengusungnya, sebagaimana ia kebiasaan orang-orang yang membela-bela keikutsertaan dalam banyak pintu-pintu kekafiran, pembuatan hukum dan pemutusan dengan selain apa yang telah Allah turunkan saat mereka mendalili kebatilan mereka itu dengan timbangan mafasid dan mashalih terus mereka melakukan kecurangan (dalam timbangan itu) karena kebodohan dari mereka atau sikap pura-pura bodoh. Sedangkan Allah ta’ala mengancam mereka dengan firman-Nya:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila mereka menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka kurangi. Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta Alam?.” (Al Muthaffiqin: 1-6)

Contoh Sikap Ngawur Sebagian Du’at Masa Kini Dalam

Bab Mashlahat

Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq memiliki kitab yang berjudul (Fushul Min As Siyasah Asy Syar’iyyah Fid Dakwah Ilallah) mayoritasnya berdiri di atas bab mashlahat dakwah, itulah balincong yang dengannya banyak dari para du’at menghancurkan ushlul (pokok-pokok) dan qawa’id (pondasi-pondasi) yang mana di dalam dien kita ini seperti gunung-gunung yang kokoh. Dia dalam kitab itu membuat satu pasal dengan judul (11-apakah mashlahat syari’iy itu – kadang – bisa berbenturan dengan nash syar’iy?) dia membuka pembicaraan di dalamnya hal (128) seraya berdalil untuk jawaban atas judul ini dengan positif (Ya), dengan apa yang dibolehkan oleh dlalurat serta rukhshah orang yang sakit, musafir, orang yang pincang dan orang yang buta, seraya membantah terhadap orang yang bisa saja menganggap jijik judul seperti ini sembari mencapnya dengan ucapannya: (bodoh pemikiran dan kurang ilmu), dan dia lalai atau pura-pura lalai dari keberadaan bahwa apa yang dibolehkan oleh dlalurat dan rukhshah-rukhshah itu sebenarnya bukanlah penyelisihan terhadap nushush syar’iyyah, akan tetapi ia adalah nushush syar’iyyah yang lain yang membatasi nash-nash yang lain atau mengkhususkannya dalam keadaan-keadaan tertentu, sedangkan semuanya adalah dari sisi Allah, dan selagi keadaan seperti itu: maka kamu tidak akan mendapatkan pertentangan dan perselisihan di antara hal itu, Allah ta’ala berfirman:

”Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, maka kamu akan mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An Nisa: 82).

Maka tidak ada pertentangan secara pasti antara mashalih syar’iyyah yang telah Allah ta’ala tegaskan terhadapnya dengan perintah-perintah syar’iyyah semuanya, karena seluruhnya bersumber dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, dan pertentangan, kontradiksi, dan perselisihan itu hanyalah terjadi bila istishlah-istishlah itu bersumber dari selain Allah dan dari apa yang tidak Allah turunkan dalilnya, sebagaimana ia keberadaan banyak istihsan-istihsan dan istishlah yang diigaukan oleh banyak orang-orang yang mengaku berilmu di zaman kita ini, oleh sebab itu maka yang lebih utama dan lebih layak adalah dia membuat judul untuk pasal seperti ini dengan ucapannya: (Apakah mashlahat pribadi atau hawa nafsu dan materi kehidupan dunia sesekali berbenturan dengan nash syar’iy?), sehingga tidak ada masalah atas dia bila menjawab atas hal itu dengan positif (ya), karena ini adalah realita banyak para du’at hari ini. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan ‘afiyah.

Dan bagaimanapun keadaannya, sesungguhnya penyimpangan yang muncul dari ketergelinciran dalam bab istishlah dan istihsan tanpa batasan-batasan atau ushul (dasar-dasar pokok) dari syari’at tidaklah berhenti pada suatu garis batas, oleh karena itu Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq telah mengklaim dalam materi itu dan langsung setelah muqaddimah itu halaman 129 bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan penerapan sebagian hudud Allah dan meninggalkan membunuh kaum munafiqin yang menampakkan kekafiran atau yang terjatuh pada sebagian penyimpangan yang berhak akan had, seperti Abdullah Ibnu Ubay dan orang-orang yang memperolok-olok para penghafal Al Qur’an yang mana turunlah berkenaan dengan mereka itu firman-Nya ta’ala:

“janganlah kalian menacari-cari alasan, sesungguhnya kalian telah kafir setelah kalian beriman.” (At Taubah: 66),

karena mengikuti mashlahat dan karena beliau mengedepankannya terhadap hudud yang sudah tetap bagi para pelakunya.

Dia berkata: [ini adalah meninggalkan pemberlakuan suatu nash, yaitu sabda-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam”Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia” karena mengambil mashlahat syar’iyyah itu, atau dengan ungkapan yang lebih dalam karena khawatir mafsadah syar’iyyah, yaitu pembicaraan manusia bahwa Muhammad membunuh para sahabatnya, sedangkan dalam sikap ini terdapat penjauhan (manusia) dari dien ini]

[Dan begitu juga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam meninggalkan penerapan had qadzaf yang ada dalam Al Qur’an terrhadap Abdullah Ibnu Ubay Ibnu Salul” tokoh penebar gosib dusta dan tokoh kaum munafiqin, dan itu karena khawatir dari pengumuman kemurtaddan dan perobekan jama’ah kaum muslimin serta berbaliknya kondisi Madinah terhadap Rasul]

Dan ini pada hakikatnya adalah sikap ngawur dan lancang darinya, di mana hal itu menghantarkan kepada tuduhan terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau menggugurkan sebagian hudud dan meninggalkan pengamalan sebagai nushush.

Oleh sebab itu maka bagi setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya adalah bisa mencampakkan apa yang dia sukai dari hudud ini atau meninggalkan apa yang dia inginkan dari nash-nash yang ada dengan dalih mashlahat dakwah. Dan ini pada hakikatnya adalah syubhat yang masyhur di kalangan Murjiah Gaya Baru, mereka kadang mempromosikannya dalam rangka melegalkan istishlah dan istihsan mereka yang berdasarkan syahwat yang dengannya mereka menentang nushush kemudian mereka membolehkan penitian jalan orang-orang kafir, penyimpangan dari manhaj nubuwwah dan jalan kaum mu’minin dengan dalih mashlahat dakwah yang diada-adakan, atau untuk membela-bela para thaghut yang menggugurkan hudud Allah ta’ala dan yang membuat hukum di samping Allah, pada keadaan yang lain.

Dan bagaimanapun keadaannya, ia adalah sybhat yang kuno yang mereka dapatkan dari Syaikh-syaikh mereka terdahulu yang mana hal itu dan yang serupa dengannya telah dibantah oleh ulama Islam dari kalangan para imam yang kokoh dalam ilmu semacam Imam Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam rahimahullah.

Sungguh Ibnu Hazm rahimahullah telah mencantumkan dalam Al Muhalla 11/201 di bawah nomor 2199 suatu masalah yang di dalamnya beliau membantah terhadap setiap orang yang mengklaim bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengetahui dan melihat bahwa orang-orang munafikin telah murtad dan kafir secara terang-terangan setelah mereka menampakkan keislaman, namun demikian beliau tidak membunuh mereka dan tidak menerapkan pada mereka had riddah atau hudud lainnya yang mereka berhak terhadapnya.

Dan setelah beliau menjelaskan bahwa kaum munafiqin yang mana sebagian pelanggaran mereka itu dijadikan hujjah dalam syubhat ini adalah terbagi dua macam:

* Satu macam yang sama sekali tidak diketahui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
* Dan macam lain yang terbongkar sehingga beliau mengetahui mereka, kemudian mereka melindungi diri dengan taubat.

Maka beliau setelah itu mulai menuturkan apa yang dijadikan hujjah oleh orang-orang yang menyelisihi dalam bab ini, ayat demi ayat dan hadits demi hadits, dan kemudian beliau membantah terhadap istidlal mereka semuanya dengan bantahan yang ilmiyyah lagi berharga yang amat penting untuk dibaca dan dihayati untuk membungkam syubhat-syubhat yang didapatkan Murjiah masa kita ini dari para Syaikh mereka terdahulu dan mereka mempromosikannya.

“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas” (Adz Dzariyat: 53)

Dan di antara hal itu bahwa beliau di hal 207 menjelaskan bahwa kaum munafiqin yang memperolok-olok Al Qurra di perang Tabuk telah kafir setelah sebelumnya mereka beriman, akan tetapi sikap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menegakkan had terhadap mereka bukanlah – sebagaimana klaim mereka itu – sebagai pengguguran terhadap had atau peninggalan penerapannya dengan dalih mashlahat yang diada-adakan itu, akan tetapi karena mereka berlindung semuanya dengan taubat dan menampakkan penyesalan serta mengakui dosa-dosa mereka – sebagaimana Ahlul hadits meriwayatkan hal itu dalam sababun nuzul – dan sebagaimana yang Allah ta’ala tuturkan, maka di antara mereka ada yang Allah terima taubatnya karena Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kejujuran batinnya, dan di antara mereka ada yang tidak Allah maafkan karena Dia mengetahui kedustaan mereka dibatinnya, akan tetapi secara dhahir semuanya telah menampakkan taubat dengan penegasan ayat:

”Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat) niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa” (At Taubah: 66) maka dhahir (taubat) ini melindungi darah mereka di dunia.

Dan beliau menuturkan juga hal 218 bahwa Abdullah Ibnu Ubay setelah dia dan orang yang membantunya atas hal itu kafir, mereka menampakkan taubat dan islam, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menerima dari mereka dan beliau tidak mengetahui batin mereka apakah tetap di atas kekafiran ataukah di atas taubat yang mereka tampakkan? Akan tetapi Allah ta’ala mengetahui hal itu, dan Dia tanpa ragu lagi adalah yang memberikan balasan atas hal itu di hari kiamat. Adapun dalam hukum dunia maka mereka diperlakukan berdasarkan apa yang mereka tampakkan.

Dan begitu juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melakukan hal serupa, di mana beliau menuturkan dalam kitabnya (Ash Sharimul Maslul) seputar hal itu ungkapan yang sangat berharga yang dekat dengan ucapan Ibnu Hazm, di mana beliau di halaman: 346 menuturkan firman-Nya ta’ala:

“Mereka bersumpah kepada kamu dengan (Nama) Allah untuk mencari keridlaanmu…”. (At Taubah: 62)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan Nama Allah, apabila kamu kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka.” (At Taubah: 95)

Dan firman-Nya:

“Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). “ (At Taubah: 74)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Mereka itu menjadikan sampah mereka sebagai perisai…” (Al Munafiqin: 2)

Dan ayat-ayat lainnya yang serupa, kemudian beliau menuturkan bahwa ayat-ayat itu semuanya menunjukkan bahwa kaum munafiqin mencari keridlaan kaum mu’minin dengan sumpah-sumpah yang bohong, dan mereka mengingkari apa yang mereka terjatuh ke dalamnya berupa kekafiran dan yang lainnya, dan mereka besumpah bahwa mereka tidak melontarkan ucapan kekafiran. Dan beliau sebutkan hal serupa itu juga halaman: 355 dan bahwa bukti tidak terbukti atas ucapan-ucapan mereka itu, dan bisa saja ucapan itu didengar dari mereka oleh seorang laki-laki mukmin yang sendiri atau seorang wanita atau anak kecil terus dia menyampaikannya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka mereka bersumpah dengan (nama) Allah bahwa mereka tidak mengatakannya, dan tidak terpenuhi orang yang menyempurnakan nishab kesaksian bersama mereka. Dan hal seperti ini tepat mengena pada had qadzaf yang disebutkan dalam kejadian ifki (berita bohong yang menuduh Aisyah berzina). Dan tidak bisa dikatakan sesungguhnya Al Qur’an telah bersaksi atas mereka dengan hal itu karena Al Qur’an tidak menta’yin nama-nama dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah memperlakukan kaum munafiqin dengan hukum-hukum dunia dengan apa yang beliau ketahui tentang mereka dengan hal ghaib lewat jalan wahyu, akan tetapi dengan apa yang mereka tampakkan atau hal itu terbukti atas mereka dengan bayyinah (bukti).

Dan di antara jawabah beliau rahimahullah juga, apa yang telah baku yaitu bahwa bila dalam kejahatan itu berkumpul dua hak, hak Allah dan hak manusia, maka dalam hukum-hukum dunia diunggulkan hak manusia, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam boleh memaafkan, dan itu seperti qishash dalam pembunuhan dan di antara hal itu juga qadzaf (menuduh zina) yang dilontarkan oleh kaum munafiqin, lihat halaman 296 dan halaman 300, dan beliau berkata halaman 234 [bahwa bagi para nabi juga memiliki hak manusia, oleh sebab itu Allah menjadikan bagi mereka hak untuk memaafkan hal semacam ini dan Dia melapangkan hal itu atas mereka karena di dalamnya ada haq manusia sebagai pengunggulan bagi hak manusia atas hak Allah, sebagaimana Dia menjadikan bagi yang memiliki hak qishash dan had qadzaf hak untuk memaafkan si pembunuh dan si penuduh, sedangkan mereka itu lebih berhak karena dalam kebolehan pemaafan para Nabi dan yang lainnya terdapat mashlahat yang agung yang berkaitan dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam serta dengan umat dan dien ini]. Dan berkata halaman: 235 [Berbeda dengan yang tidak ada hak manusia di dalamnya seperti zina atau pencurian atau dzalim kepada selainnya, maka wajib atasnya untuk menegakkannya]

Jadi masalahnya bukan sekedar istishlah aqliy syahwaniy yang mana para du’at bisa menetapkannya dengan murni hawa nafsu mereka, akan tetapi itu semuanya tergolong mashlahat yang dianggap secara syari’at dan yang mana dalil-dalil syar’iy telah menegaskan terhadapnya. Sehingga apa yang termasuk bab ini maka ia diterima dan dianggap, sedangkan apa yang berasal dari selainnya maka ia dibuang lagi tertolak.

Inilah, sangguh Syaikhul Islam telah menjawab banyak dari kejadian yang terjadi dari kaum munafiqin dalam banyak tempat dari kitabnya itu dengan jawaban-jawaban lain yang banyak selain ini, sebagiannya dari ucapan beliau dan sebagiannya beliau nukil dari ucapan ulama lainnya, maka silahkan rujuk ke sana. Dan perhatikan ucapan beliau yang disertai dengan dalil-dalilnya agar engkau mengetahui perbedaan antara ucapan-ucapan ahlul istidlal dengan ucapan-ucapan ahlul Istishlah wal Istihsan. Di mana orang-orang yang berdalil dengan Al Kitab dan As Sunnah mengetahui kedudukan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, mereka mengagungkannya, menghormatinya, serta membelanya dan membela sunnahnya. Adapun pihak lain maka sesungguhnya istishlah-istishlah mereka itu telah mencemoohkan diri mereka sendiri, dan menjatuhkan mereka pada sikap mencela Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan menuduh beliau menggugurkan syari’at, baik mereka sadar ataupun tidak sadar.

Oleh karena itu Ibnu Hazm berkata dalam tempat yang diisyaratkan tadi 11/218: [Dan barangsiapa mengira bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak membunuh orang yang telah wajib dibunuh dari kalangan sahabatnya MAKA DIA TELAH KAFIR serta halal darah dan hartanya karena dia menyandarkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kebatilan dan penyelisihan Allah ta’ala. Demi Allah sungguh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah membunuh para sahabatnya yang baik yang dijamin pasti keimanannya dan pasti masuk surga saat wajib atas mereka hukum bunuh itu seperti Ma’iz, Al Ghamidiyyah dan Juhaniyyah radliyallahu ‘anhum, maka termasuk kebatilan yang meyakinkan, kesesatan yang nyata dan kefasikan yang murni bahkan termasuk kekafiran yang terang adalah orang muslim meyakini atau mengira bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membunuh kaum muslim yang termasuk calon ahli surga dari kalangan sahabatnya dengan cara pembunuhan yang paling mengerikan dengan batu, terus beliau menggugurkan penegakan hak yang wajib pada pembunuhan orang murtad terhadap orang kafir yang beliau ketahui bahwa dia itu murtad terus beliau tidak puas dengan ini sehingga beliau menshalatkannya dan memintakan ampun baginya sedang beliau mengetahui bahwa dia itu kafir, sedangkan telah lalu larangan Allah ta’ala terhadapnya dari memintakan ampunan bagi orang-orang kafir.

Dan kami bersaksi dengan kesaksian Allah ta’ala bahwa orang yang menganut pendapat ini dan meyakininya, maka sesungguhnya dia itu kafir musyrik murtad lagi halal darahnya dan hartanya, dan kami berlepas diri kepada Allah ta’ala darinya dan dari perwaliannya] selesai dengan ikhtisar.

Ucapan-Ucapan Dan Sikap-Sikap Yang Cemerlang Para Ulama Du’at, Para Imam Yang Lurus Dan Para Raja Yang Saleh Perihal Mashlahat Yang Kosong Dari Dalil

* Al Khalifah Ar Rasyid Umar Ibnu Abdil Aziz rahimahullah (101 H)

Yahya Al Ghassaniy berkata: Tatkala Umar Ibnu Abdil Aziz mengangkat saya sebagai Gubernur untuk Mosul, maka saya berangkat ke sana dan ternyata saya mendapatkannya sebagai negeri yang paling banyak pencurian dan perampokannya, maka saya mengirim surat kepadanya seraya memberitahu keadaan negeri ini dan saya menanyakan kepadanya: Apakah saya boleh menangkap orang dengan dasar perkiraan dan mendera mereka atas sekedar tuduhan?[27] Ataukan saya menangkap mereka dengan dasar bukti dan sesuai ketentuan sunnah yang sudah berjalan?

Maka beliau menulis kepada saya agar saya menangkap orang dengan dasar bukti dan sesuai ketentuan sunnah yang sudah berjalan, kemudian bila al haq itu tidak meluruskan mereka maka Allah tidak akan meluruskan mereka.

Yahya berkata: Maka saya melakukan hal itu, maka saya tidak keluar dari Mosul sehingga Mosul itu menjadi di antara negeri yang paling baik dan paling sedikit pencurian dan perampasannya.[28]

* Abu Abdillah Sufyan Ibnu Sa’id Ibnu Masruq Ats Tsauriy (161 H)

Beliau adalah Syaikhul Islam, Imamul huffadh dan penghulu ulama ‘amilin di zamannya serta amirul mu’minin dalam hadits dengan kesaksian para ulama besar yang ahli.

Al Imam Ahmad berkata: Ibnu Uyainah berkata kepada saya: [Kamu tidak akan melihat dengan kedua matamu orang seperti Sufyan Ats Tsauriy sampai kamu mati]

Al Marwadziy meriwayatkan dari Al Imam Ahmad ucapannya: [Apa kamu mengetahui siapa Al Imam itu? Al Imam adalah Sufyan Ats Tsauriy, tidak seorangpun mendahuluinya di hati saya]

Yahya Ibnu Main berkata tentangnya: [Tidak seorangpun menyelisihi Sufyan dalam apa saja, melainkan pendapat yang benar adalah pendapat Sufyan]

Qabishah berkata: [Saya tidak duduk bersama Sufyan di suatu majlispun melainkan saya mengingat kematian, saya tidak melihat seseorang yang lebih sering menyebutkan kematian daripadanya]

Yahya Ibnul Yaman berkata: [Saya tidak melihat orang seperti Sufyan, dunia menghampirinya, namun dia palingkan wajahnya daripadanya]

Beliau rahimahullah adalah tokoh dalam Zuhud, Khauf (takut kepada Allah), wara’, hapalan, pemahaman dan pengetahuan akan atsar. Walaupun beliau tidak memandang boleh khuruj terhadap para pemimpin zamannya karena mereka tidak menampakkan kekafiran yang nyata, namun demikian sesungguhnya beliau tidak pernah takut dari mengingkari mereka terhadap celaan orang yang suka mencela. Beliau tidak pernah mendatangi pintu-pintu mereka, dan bila bertemu dengan mereka maka beliau tampakkan sikap tidak ridla terhadap amalan mereka dan beliau mengingkari terhadap mereka apa yang mereka tampakkan berupa kezaliman dan maksiat. Dan tentang keterpanggilannya untuk memerintahkan hal yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar adalah diriwayatkan darinya bahwa beliau berkata: [Sesungguhnya saya melihat suatu yang wajib atas saya berbicara tentangnya terus saya tidak melakukannya, maka saya kencing darah]

Dan sebagian sahabatnya berkata: “Saya tidak melihat pemimpin dan orang kaya lebih hina darinya di majlis Sufyan”

Dan Sufyan berkata: “Sesungguhnya para raja itu telah meninggalkan akhirat bagi kalian, maka tinggalkan dunia bagi mereka”

Dan dikarenakan banyaknya pengingkaran beliau dan tidak adanya mudahanah (basi-basi) atau tidak pernahnya beliau masuk menemui umara dan larinya beliau dari jabatan lembaga peradilan, beliau dicari oleh Sulthan dan diperintahkan kepada para gubernur untuk mencarinya, maka beliau keluar menuju Mekkah dan menetap di sana seraya bersembunyi lagi menutupi diri, seraya dicari untuk disalib, beliau tidak menampakkan diri kecuali kepada ahli ilmu dan orang yang tidak beliau khawatirkan. Dan disayembarakan siapa yang bisa membawa Sufyan maka ia akan mendapat ini dan itu. Dan ada yang mengatakan bahwa beliau lari ke Yaman. Dan tatkala khawatir ketatnya pencarian terhadapnya di Mekkah maka beliau keluar menuju Bashrah dan tinggal di dekat rumah Yahya Ibnu Sa’id kemudian dipindahkan ke pinggir rumahnya dan ia membuka pintu antara rumahnya dan rumah Sufyan. Maka ia datang dengan ahli-ahli hadits penduduk Bashrah seraya mengucapkan salam terhadapnya dan mendengar hadits darinya. Kemudian tatkala diketahui dan tersiar tempat dan rumahnya maka ia pindah ke rumah Al Haitsam Ibnu Manshur sampai beliau wafat, maka jenazahnya dikeluarkan secara mendadak terhadap penduduk Bashrah, maka manusia menyaksikannya dan beliau dishalatkan oleh Abdurrahman Ibnu Abdil Malik Ibnu Abjur Al Kafiy dengan wasiat Sufyan karena keshalihan dia. Dan dikuburkan di sana tahun 162 H, semoga Allah ta’ala merahmatinya.[29]

Dan diantara ucapan beliau rahimahullah dalam bab ini:

Adz Dzhabiy berkata: Saya mendengar Al Anbariy saya mendengar Al Busyanjiy saya mendengar Abu Shalih Al Farra saya mendengar Yusuf Ibnu Asbath berkata, Sufyan berkata kepada saya:

[Bila kamu melihat ahli baca berlindung dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia itu pencopet, dan bila kamu melihatnya berlindung dengan orang-orang kaya, maka ketahuilah bahwa dia itu orang yang riya, dan hati-hatilah kamu tertipu dan dikatakan kepadamu: “Kamu bisa mengembalikan hak dan membela orang yang didzalimi, “karena sesungguhnya ini adalah tipuan iblis, yang dijadikan tangga oleh ahli baca]. Selesai dari Siyar A’lam An Nubala 13/586.

Dan Sufyan mengirim surat kepada ‘Abbad Ibnu ‘Abbad… dan di antara isi suratnya:

“Hati-hatilah kamu dari para penguasa (jangan) kamu mendekat dari mereka atau berbaur dengan mereka dalam sesuatu hal apa saja, dan hati-hatilah kamu tertipu dan dikatakan kepada kamu” agar kamu menjadi perantara yang membantu dan membela orang yang didzalimi atau mengembalikan hak,” karena sesungguhnya itu adalah tipuan Iblis, dan itu hanya dijadikan tangga oleh ahli baca yang bejat….” Selesai dari Al Hilyah Karya Abu Nu’aim 6/376-377

* Raja Mahmud Sabaktikin (421 H)

Beliau adalah penguasa negeri Ghaznah, beliau menjadi raja setelah ayahnya, maka beliau bersikap adil di tengah rakyatnya, dan beliau menyebarkan Islam, melakukan banyak penaklukan sehinga kedudukannya menjadi besar dan meluaslah kerajaannya. Beliau Khatbah di seluruh pelosok kerajaannya untuk Khalifah Al Qadir Billah, dan utusan-utusan dinasti Ubaidiyyah mendatanginya dari Mesir dengan surat dan berbagai hadiah dalam rangka merayunya agar cenderung kepada pihak mereka, namun beliau membakar surat-surat dan hadiah-hadiah mereka itu. Beliau membuka di negeri-negeri kafir Hindu penaklukan-penaklukan yang amat besar yang tidak pernah terjadi pada yang lainnya, dan beliau menghancurkan banyak berhala dan patung mereka, dan di antara patung yang beliau hancurkan adalah patung yang dinamakan Suminat yang mana ia adalah patung terbesar orang Hindu yang mana mereka menziarahinya dari berbagai pelosok negeri, sebagaimana manusia menziarahi Ka’bah Al Baitul Haram dan bahkan lebih dari itu, dan mereka memberikan infaq dan harta yang besar di sisinya yang tidak bisa disebutkan dan tidak bisa dihitung, dan ia mendapatkan waqaf dari 10000 desa dan kota yang masyhur sehingga perbendaharaannya penuh dengan harta, dan ia memiliki 1000 laki-laki yang melayaninya, di mana 300 laki-laki bertugas mencukur kepala jama’ah hajinya, dan 300 orang laki-laki bernyanyi dan berjoget di pintunya tatkala bedug dan terompet dibunyikan di pintunya. Dan di dekatnya terdapat ribuan orang yang tinggal di sisinya yang mana mereka makan dari wakafnya. Sedangkan orang yang jauh dari orang-orang Hindu berangan-angan andaikata ia bisa sampai ke patung ini, namun ia terhalang oleh jauhnya perjalanan dan banyaknya penghalang dan gangguan….

Maka Sultan Mahmud istikharah kepada Allah tatkala sampai kepadanya kabar patung ini dan para penyembahnya, banyaknya orang-orang Hindu di tengah perjalanannya, dan padang pasir yang membinasakan dan wilayah-wilayah yang berbahaya dalam menempuh itu bersama pasukannya dan melewati kondisi-kondisi mencekam untuk mencapai patung itu. Dan orang-orang Hindu setiap kali Sultan Mahmud melakukan penaklukan di kawasan India dan menghancurkan patung-patung mereka, mereka berkata: (Sesungguhnya patung-patung ini telah dimurkai oleh Suminat, karena andaikata dia ridla terhadap patung-patung itu tentulah dia membinasakan orang yang bermaksud jahat kepadanya). Tatkala hal itu sampai kepada Sultan, maka semangat untuk menginvasinya makin bertambah, kemudian beliau menyiapkan pasukannya untuk itu, sehingga telah siap bersamanya 30.000 tentara dari kalangan yang beliau pilih untuk itu di samping sukarelawan. Dan beliau bergerak dari Ghaznah tanggal 10 Sya’ban tahun 418 H dengan perkiraan darinya bahwa orang-orang Hindu itu bila mereka telah kehilangannya dan melihat kebohongan klaim mereka tentang patung itu maka mereka akan masuk Islam.

Kemudian tatkala beliau dan pasukannya telah sampai ke negeri berhala itu berada dan mereka berhenti di halaman para penjaganya, ternyata ia adalah tempat seukuran kota yang besar, dan orang-orang Hindu melihat dari kaum muslimin pertempuran yang belum pernah mereka alami sepertinya, dan orang-orang hindu bertempur di pintu patungnya dengan peperangan yang sangat dasyat, sekelompok demi sekelompok secara bergiliran masuk kepada Suminat terus mereka memeluknya, menangis dan terus keluar kemudian mereka bertempur sampai terbunuh. Kaum muslimin membunuh 50.000 dari mereka, dan akhirnya mereka bisa menguasai patung itu terus mereka merobohkannya dan menyalakan api di bawahnya. Dan sebelumnya orang-orang Hindu berupaya membujuk agar Sultan Mahmud mau mengambil harta yang banyak dan membiarkan patung itu bagi mereka, maka beliau berkata: Biar saya istikharah dulu kepada Allah azza wa jalla. Dan kemudian tatkala keesokan harinya beliau berkata: Sesungguhnya saya telah berpikir tentang masalah tersebut, maka saya memandang bahwa bila saya dipanggil di hari kiamat [Mana Mahmud yang menghancurkan patung?] adalah lebih saya sukai daripada dikatakan [yang membiarkan patung karena dunia yang akan dia dapatkan]. Kemudian belian rahimahullah menghancurkannya dan mendapatkan di atasnya dan di dalamnya berupa intan permata, emas dan perhiasan-perhiasan yang amat mahal, yang melebihi apa yang mereka berikan berkali-kali lipat, dan kami mengharapkan dari Allah baginya balasan yang sempurna di akhirat. (Al Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir 12/22 dan lihat Al Kamil Fit Tarikh karya Ibnul Atsir dalam kejadian-kejadian tahun 416 H)

Dan saya katakan di sini: Seandainya sebagian orang yang tampil untuk dakwah dan mashlahatnya di zaman kita ini berada pada posisi beliau tentulah mereka bakal membela-bela, menganggap baik dan menganggap mashlahat dengan pikiran dan akal merka, bahwa mengambil harta yang ditawarkan itu adalah lebih utama dan lebih manfa’at bagi muslimin dan kepentingan-kepentingan mereka daripada menghancurkan patung itu terutama bersama kekalahan orang-orang Hindu itu, dan setelah dan setelah, dan karena, dan akan tetapi, dan bisa saja dan mungkin saja… dan ungkapan lainnya yang berasal dari sikap ngawur merka yang menjijikan serta istihsan-istihsan dan istishlah-istishlah mereka yang berdasarkan selera.

[Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah] (Al Maidah: 41)

* Nuruddien Mahmud Ibnu Zankiy (569) penguasa Syam:

Syaikh Umar Ibnu Al Mulla dari Mosul menulis surat kepadanya, dan sebelumnya Nuruddien telah memerintahkan para wali dan para amir di sana agar tidak memutuskan suatu urusan sehingga mereka memberitahu dahulu Al Mulla, kemudian apa yang ia perintahkan kepada mereka maka mereka melaksanakannya, dan ia itu termasuk orang-orang yang saleh lagi zuhud.

Namun demikian ia telah mengirim surat kepada Nuruddien: [Sesungguhnya para perusak telah banyak, dan membutuhkan kepada siasat, sedangkan hal seperti ini tidak datang kecuali dengan pembunuhan, penyaliban dan pemukulan, dan bila seseorang diambil di padang pasir maka siapa yang datang menjadi saksinya?] Maka raja Nuruddien menulis jawaban kepadanya di balik suratnya tadi: [Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk dan Dia menetapkan syari’at bagi mereka, sedangkan Dia adalah yang paling mengetahui tentang apa yang meluruskan mereka, dan seandainya Dia mengetahui bahwa dalam syariatnya ada tambahan dalam mashalat tentulah Dia menyari’atkanya bagi kita, maka kita tidak butuh tambahan terhadap apa yang telah Allah ta’ala syari’atkan. Barangsiapa menambah maka dia telah mengklaim bahwa syari’at itu kurang sehingga dia menyempurnakannya dengan tambahannya itu, dan ini termasuk kelancangan terhadap Allah dan terhadap syari’at-Nya, sedangkan akal-akal yang gelap adalah tidak mendapatkan petunjuk. Dan Allah subhanahu semoga membimbing kami dan engkau kepada jalan yang lurus].

Kemudian tatkala surat itu sampai ke tangah Syaikh Umar Al Mulla maka beliau mengumpulkan manusia di Mosul, dan beliau membacakan surat itu kepada mereka, serta beliau langsung mengatakan: Lihatlah surat Az Zahid kepada sang raja dan surat sang raja kepada Az Zahid.[30]

* Al Hafidh Abdul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauziy[31]

Beliau berkata dalam kitabnya Talbis Iblis hal 121:

“Dan di antara talbis iblis terhadap para fuqaha adalah perbauran mereka dengan para amir dan sultan, sikap mudahanah (basa-basi) mereka dan meninggalkan pengingkaran terhadap mereka dapahal ada kemampuan atas hal itu. Dan bisa saja para fuqaha itu memberikan keringanan (rukshah) untuk mereka dalam suatu yang tidak ada rukshah bagi mereka di dalamnya agar mereka mendapatkan bagian dari dunia mereka.

Sehingga dengan hal itu terjadi kerusakan karena tiga sisi:

Pertama: Si Amir berkata: Seandainya saya tidak berada di atas kebenaran tentulah ahli fiqh itu melakukan pengingkaran terhadap saya, dan bagaimana saya tidak berada di atas kebenaran sedangkan dia itu makan dari harta saya.

Dan kedua: Orang awam berkata: Tidak ada masalah dengan amir ini dan tidak pula dengan harta dan perbuatan-perbuatannya, karena si fulan yang ahli fiqh itu tidak beranjak dari sisinya.

Dan ketiga: Si ahli fiqh, maka sesungguhnya dengan hal itu dia merusak agamanya.[32]

Dan sungguh iblis telah mengkaburkan terhadap mereka dalam hal masuk mendatangi penguasa ini, di mana dia mengatakan: “Kamu kan masuk dalam rangka menolong orang muslim”.

* Sayyid Quthub

Beliau rahimahullah berkata dalam Afrahur Ruh:[33]

[Sangat sulit atas saya untuk menggambarkan bagaimana kita bisa sampai kepada tujuan yang baik dengan menggunakan cara yang kotor?! Sesunguhnya tujuan yang baik tidak hidup kecuali dalam hati yang baik, maka bagaimana mungkin bagi hati itu untuk tahan menggunakan cara yang kotor, bahkan bagaimana ia mendapatkan jalan untuk menggunakan wasilah (cara) ini?!

Saat kita mencelup ke jalan yang penuh lumpur maka sudah pasti kita sampai ketepian jalan dalam keadan berlumuran lumpur, karena sesungguhnya lumpur-lumpur di jalan akan meninggalkan bekas-bekasnya pada kaki kita dan pada bagian-bagian kaki ini. Begitu juga keadaannya saat kita menggunakan wasilah (cara) yang kotor, maka sesungguhnya kotoran akan menggantung para ruh-ruh kita dan ia akan meninggalkan bekas-bekasnya para ruh-ruh ini dan pada tujuan yang kita sampai kepadanya”.

Dan berkata saat berbicara pada firman Allah ta’ala dalam surat Al Hajj:

“(Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rosul pun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu…)” (Al Hajj: 52)

Kadang semangat dan gelora jiwa mendorong para pengusung dakwah setelah para Rosul, serta keinginan yang mendesak dalam penyebaran dakwah dan kemenangannya… mendorong mereka untuk merekrut sebagian sosok orang atau sebagian tokoh dengan memicingkan mata di awal mulanya dari sesuatu yang termasuk tuntutan-tuntutan dakwah yang mereka menduganya bukan hal yang mendasar di dalamnya, dan membiarkan mereka dalam sebagian urusan mereka agar tidak lari dari dakwah dan tidak menjauhinya.

Dan kadang hal itu mendorong mereka juga untuk menggunakan cara-cara dan metode-metode yang tidak sejalan dengan timbangan dakwah yang tepat dan dengan manhaj dakwah yang lurus. Dan itu sebagai bentuk keinginan keras terhadap cepatnya kemenangan dan penyebaran dakwah, serta sebagai upaya keras dalam perealisasian “mashlahat dakwah” padahal mashlahat dakwah yang sebenarnya adalah berada pada keistiqamahannya di atas manhaj tanpa penyimpangan baik sedikit ataupun banyak. Adapun hasilnya maka ia adalah hal yang ghaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, maka tidak boleh para pembawa dakwah ini memperhitungkan hitungan hasil-hasil ini, namun yang wajib adalah mereka berjalan di atas manhaj dakwah yang jelas yang tegas lagi tepat dan mereka membiarkan hasil-hasil istiqamah ini kepada Allah, dan tidak akan terbukti kecuali kebaikan di akhir perjalanan.

Dan inilah Al Qur’anul Karim mengingatkan mereka kepada keberadaan bahwa syaitan selalu mengintai keinginan-keinginan mereka itu untuk bisa menembus dari arahnya kepada inti dakwah. Dan bila Allah telah menjaga para Nabi dan Rasul-Nya, sehingga syaitan tidak bisa menembus lewat jalan keinginan suci mereka kepada dakwah mereka, maka orang-orang yang tidak ma’shum adalah sangat membutuhkan kepada kehati-hatian yang ekstra dari sisi ini, dan kewaspadaan yang sangat, karena khawatir syaitan masuk menembus mereka dari celah kecintaan yang sangat dalam nushrah dakwah serta (celah) keinginan yang besar terhadap apa yang mereka sebut “mashlahat dakwah”. Sesungguhnya kata “mashlahat dakwat” ini wajib dilenyapkan dari kamus para pembawa dakwah, karena ia adalah sumber ketergelinciran dan pintu bagi syaitan yang mana dia masuk menembus mereka darinya saat dia kesulitan masuk menembus mereka dari sisi mashlahat pribadi.

Dan kadang “mashlahat dakwah” ini berubah menjadi berhala yang diibadati oleh para du’at dan bersamanya mereka melupakan manhaj dakwah yang inti. Wajib atas para du’at untuk istiqamah di atas apa yang ditimbulkan oleh keberpegangan ini berupa hasil-hasil yang kadang nampak dihadapan mereka bahwa di dalamnya terdapat bahaya terhadap dakwah ini dan para penyerunya!! Bahaya satu-satunya yang wajib mereka hindari adalah bahaya penyimpangan dari manhaj karena sebab apa saja, sama saja baik penyimpangannya ini banyak ataupun sedikit. Sungguh Allah lebih mengetahui daripada mereka terhadap mashlahat, dan mereka tidak dibebani dengannya, akan tetapi hanya dibebani dengan satu hal saja, yaitu mereka tidak menyimpang dari manhaj dan tidak berpaling dari jalan…..”

Pemungkas, Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Tentang Perihal

“Mashlahat Dakwah”

Ini adalah fatwa yang di dalamnya Syaikhul Islam ditanya tentang salah seorang Syaikh yang terkenal baik dan ittiba’ kepada sunnah. Dia ingin mendakwahi sekelompok para pembunuh, perampok, pencuri dan para pemabuk, dan dia bermaksud menghidayahi mereka dan mencegah mereka dari hal itu, kemudian dia tidak bisa mencapai hal itu – sesuai klaim si penanya – kecuali dengan mengumpulkan mereka pada acara mendengarkan tabuhan rebana dan laguan yang mubah, maka diapun melakukan hal tu bersama mereka sampai akhirnya sejumlah dari mereka taubat dan setelah sebelumnya mereka itu tidak shalat, tidak zakat dan bahkan mereka mencuri dan biasa melakukan dosa-dosa besar serta perbuatan-perbuatan yang membinasakan, akhirnya mereka menjadi bersikap wara’ dari hal-hal syubhat dan mereka mengerjakan kewajiban-kewajiban serta menjauhi apa-apa yang diharamkan. Maka Syaikhul Islam ditanya, apakah dibolehkan perbuatan semacam ini bagi Syaikh ini dikarenakan mendatangkan banyak mashlahat….??

Maka ringkasan jawaban Syaikhul Islam adalah beliau menejelaskan:

* Bahwa acara simaa’ (mendengarkan tabuhan rebana dengan senandung yang mubah) yang berkumpul terhadapnya manusia atau para sufi bila dijadikan sebagai qurbah (ibadah yang mendekatkan) kepada Allah ta’ala maka ia adalah simaa’ yang bid’ah.
* Dan bahwa salaf yang shalih dari golongan generasi-generasi yang utama tidak pernah mereka mengenalnya, dan justru simaa’ mereka yang diutamakan hanyalah tilawah (membaca) kitabullah ta’ala dan berkumpul terhadapnya
* Kemudian menjelaskan bahwa Allah azza wa jalla telah menyempurnakan bagi kita dien ini, sehingga Dia tidak menyisakan di dalamnya kekurangan atau celah kosong yang membutuhkan dari seseorang penutupannya atau penyempurnaannya.
* Dan beliau menggugurkan kliam si penanya bahwa tidak mungkin menghidayahi manusia atau nushrah dien ini kecuali dengan cara-cara bid’ah semacam ini, karena Allah ta’ala telah memberikan kepada kita jalan-jalan dan cara-cara yang syar’iy yang cukup lagi memuaskan yang mana Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dakwah dengan menggunakannya serta dengan sebabnya mendapat hidayahlah orang-orang yang lebih buruk dan lebih durjana daripada orang-orang yang ditanyakan tentang mereka.
* Dan beliau rahimahullah menjelaskan bahwa tidak seorangpun berpaling dari cara-cara syar’iy ini kepada jalan-jalan dan cara-cara yang bid’ah kecuali karena kebodohan atau kelemahan atau tujuan yang buruk.
* Dan karenanya bahwa mencela perbuatan Syaikh itu meskipun menghasilkan mashalih maz’umah (mashlahat-mashlahat yang diklaimnya), dan beliau menjadikan cara dakwahnya itu bid’ah serta beliau mencapnya sebagai Syaikh yang bodoh terhadap cara-cara yang syar’iy yang dengannya dakwah ilallah dilakukan atau dia lemah darinya…
* Dan beliau menegaskan terhadap wajibnya mengikuti firman Allah dan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam dakwah ilallah dan (dalam) penghidayahan orang-orang yang menyimpang dan ahli maksiat, karena Allah tidak menciptakan kita sia-sia sehingga kita ngawur sesuka kita dalam kegelapan, bahkan Dia subhanahu wa ta’ala tidak meninggalkan suatu kebaikan melainkan Dia telah menunjukkan kita terhadapnya dan menentukan bagi kita cara-cara yang menghatarkan kepada maksud-Nya dan ridla-Nya jalla wa ‘ala.

Ini adalah ringkasan fatwa Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan ia adalah fatwa yang kecil bentuknya akan tetapi ia adalah besar nilainya terutama di zaman kita di mana sangat banyak para pengikut Syaikh itu dari kalangan yang mengikuti wasaail (cara-cara) dan istishlahat (anggapan-anggapan mashlahat) yang tidak Allah turunkan dalilnya seraya mereka mengklaim nushrah dien dan penghidayahan manusia. Bahkan sesungguhnya diantara du’at zaman kita ada orang yang menyimpang dengan penyimpangan yang nyata dan melampaui apa yang dilakukan Syaikh (sufi) itu, karena sesungguhnya Syaikh itu sebagaimana yang telah engkau ketahui hanyalah mengumpulkan mereka pada lagu senandung yang mubah akan tetapi dia ingin menjadikan laguan itu sebagai qurbah (pendekatan diri) kepada Allah ta’ala dengan menjadikannya sebagai cara untuk mendakwahi manusia dan penghidayahan orang-orang yang sesat, sehingga dengan hal itu ia menjadi tercela.

Adapun banyak dari du’at zaman ini, maka sesungguhnya mereka menjadikan kekafiran dan syirik kepada Allah yang Maha Agung sebagai cara/jalan/sarana yang mana mereka mengumpulkan para pengikut mereka di atasnya untuk menegakkan dan nushrah dien ini – menurut klaim mereka – seperti bersumpah untuk menghormati qawanin wadl’iyyah (undang-undang buatan), atau menampakkan sikap tawalliy dan pembelaan bagi para budak dan para pelindung UU itu terhadap para muwahhidin, atau rela dengan dien (sistem/ideologi / ajaran / falsafah) selain dienullah yang dia anut dan dia jadikan sebagai cara / jalan untuk membela dien ini – menurut klaim dia – seperti demokrasi yang mana ia adalah hukum rakyat untuk rakyat dan bukan hukum Allah untuk rakyat, sedangkan Allah ta’ala telah berfirman:

“Barangsiapa mencari selain Islam sebagai dien maka tidak akan diterima (hal itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (Ali Imran: 85)

Maka termasuk kezaliman yang nyata adalah mengkiyaskan kesesatan mereka itu dengan perbuatan Syaikh tersebut – walaupun memang istishlah syaikh tersebut adalah itu batil – dan sesungguhnya termasuk sikap aniaya adalah menyetarakan dan mengkiyaskan orang yang melakukan perbuatan mubah atau makruh atau termasuk juga yang haram dengan dalih membela agama ini, dengan orang yang mengkliam membela agama ini lewat cara/jalan syirik kepada Allah dan pencarian pembuat hukum dan dien (hukum/sistem/falsafah/ideologi) yang beraneka ragam serta sekutu-sekutu yang bermacam-macam yang menetapkan baginya dari ajaran ini apa yang tidak Allah izinkan.

Maka untuk orang seperti mereka dan para muqallid mereka yang mengikuti mereka itu tanpa bashirah dan petunjuk, kami tuturkan fatwa ini dengan apa yang dikandungnya berupa dalil-dalil yang qath’i dan bukti-bukti yang terang dengan harapan mudah-mudahan mereka meninggalkan kebatilan yang nyata itu dan mendapatkan petunjuk kepada kebenaran yang nyata, yang mana ia adalah jalan satu-satunya untuk nushrah dien ini, yaitu jalan para Nabi dan Rasul.

* Dan posisi fatwa dari Majmu fatwa Syaikhul Islam adalah pada jilid II hal 620
* Dan perlu diketahui bahwa saya telah melakukan sedikit ringkasan dari fatwa itu, karena Syaikhul Islam telah berbicara panjang lebar di dalamnya perihal masalah simaa’, dan saya telah memberikan komentar terhadap sebagian tempat darinya dengan komentar-komentar yang sesuai dengan tempat.

Saya memohon kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa agar menerima itu dari kami, dan membalas Syaikhul Islam dari kami dengan balasan yang baik. Dan akhir seruan kami adalah alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Syaikhul Islam ‘Allamatuz Zaman Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Ibnu Abdil Halim Ibnu Abdis Salam Ibnu Abdillah Ibnu Abil Qosim Ibnu Taimiyyah Al Harraniy radliyallaahu ‘anhu ditanya tentang “suatu jama’ah” yang berkumpul untuk melakukan dosa-dosa besar: berupa pembunuhan, pembegalan, pencurian, mabuk-mabuk dan lainnya, kemudian seorang Syaikh yang terkenal dengan kebaikan dan pengikutan sunnah ingin mencegah orang-orang tersebut dari hal itu, namun dia tidak memiliki kesempatan kecuali dengan cara dia mengadakan buat mereka simaa’ yang mana mereka berkumpul di dalamnya dengan niat ini, yaitu dengan rebana tanpa memakai kecrekan”[34] dan nyanyian penyanyi dengan senandung syair yang mubah tanpa syabahah[35]. Kemudian tatkala dia melakukan hal ini maka sejumlah orang dari mereka taubat dan akhirnya orang yang tadinya tidak pernah shalat, tidak zakat dan suka mencuri menjadi bersikap hati-hati dari hal –hal syubhat, dia menunaikan faraidl dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Maka apakah dibolehkan perbuatan simaa’ ini bagi Syaikh ini dengan bentuk seperti ini, karena ia mendatangkan banyak mashlahat? Dan juga tidak mungkin dia mendakwahi mereka kecuali dengan cara ini?

Maka beliau menjawab: Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin.

Dasar jawaban masalah ini dan yang serupa dengannya adalah: (Mesti) diketahui bahwa Allah telah mengutus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan dienul haq untuk memenangkannya terhadap segala agama, dan cukuuplah Allah sebagai saksi.

Dan bahwa Dia telah memberi kabar gembira bagi orang yang mentaati-Nya dan kabar kebinasaan bagi yang durhaka kepada-Nya, Dia telah berfirman:

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (An Nisa: 69)

Dan Dia ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka jahanan, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” (Al Jin: 23)

Dan Dia memerintahkan manusia untuk mengembalikan apa yang mereka perselisihkan dari urusan agama mereka kepada apa yang Dia utus Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dengannya, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An Nisa: 59)

Dan Dia mengabarkan bahwa beliau mengajak kepada Allah dan kepada jalan-Nya yang lurus, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

“Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (Yusuf: 108)

Dan firman-Nya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan” (Asy Syura: 52-53)

Dan Dia mengabarkan bahwa beliau memerintahkan kepada hal yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk, sebagaiman firman-Nya ta’ala:

“Dan ramhat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami” (yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada disisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yangmunkar dan menghalalkanbagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Araf: 156-157).

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan segela perbuatan ma’ruf dan melarang dari segala yang munkar, dan Dia menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk. Dia telah tsabit dari beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam Ash Shahih bahwa beliau bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabipun melainkan telah wajib atasnya untuk menunjukkan umatnya terhadap kebaikan apa yang dia ketahui bagi mreerka dan melarang mereka dari keburukan yang dia ketahui agi mereka”[36] dan telah tsabit dari Al Irbadl Ibnu Sariyah beliau berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepada kami suatu wejangan yang hati takut darinya dan mata menangis darinya. Ia berkata: Maka kami berkata: Wahai Rasulullah seolah ini adalah wejangan orang yang mau meninggalkan, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami? Maka beliau berkata: Saya wasiat kepada kalian agar mendengar dan ta’at, karena sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian sesuah saya, maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka pegang teguhlah sunnahku dan sunnah al khulafa ar rasyidin al mahdiyyin setelahku, pegang eratlah dien dan hindarilah segala urusan yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah kesesatan”[37] dan telah tsabit juga dari beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Aku tidak meninggalkan sesuatupun yang menjauhkan kalian dari jahanam melainkan aku telah memberitahukannya kepada kalian.[38] Dan sabdanya: “Saya telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang, malamnya seperti siangnya, tidak menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa.[39]

Dan bukti-bukti dalil “hal pokok yang agung lagi menyeluruh” ini adalah banyak sekali dari Al Kitab dan As Sunnah. Dan para ulama membuatkan judul dalam kitab-kitab mereka “Kitab Al I’tisham Bil Kitab Was Sunnah” sebagaimana judul yang dibuat oleh Al Bukhari, Al Baghawi dan yang lainnya. Barangsiapa berpegang erat dengan Al Kitab dan As Sunnah maka ia termasuk wali-wali Allah yang bertaqwa, barisan-Nya yang beruntung dan bala tentara-Nya yang menang. Dan salaf – seperti Malik dan yang lainnya – mengatakan: Sunnah itu seperti bahtera Nuh, siapa yang menaikinya maka ia selamat dan barangsiapa yang tinggal darinya maka ia tenggelam”. Dan Az Zuhriy berkata: Adalah orang yang terdahulu dari ulama kita mengatakan: Berpegang kepada As Sunnah adalah keselamatan.

BILA HAL INI sudah diketahui maka diketahuilah bahwa apa yang dengannya Allah memberi hidayah kepada orang-orang yang sesat dan yang dengannya Dia membimbing orang-orang yang binasa adalah mesti ia itu terbukti ada pada apa yang dengannya Allah telah mengutus Rasul-Nya berupa Al Kitab dan As Sunnah.[40] Dan kalau tidak demikian, maka sesungguhnya andaikata apa yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wasallam itu adalah tidak cukup dalam hal itu, tentulah dien Rasul ini adalah kurang lagi butuh penyempurnaan.

Dan seyogyanya diketahui bahwa amalan shalih itu adalah Allah telah memerintahkannya baik yang bersifat kewajiban ataupun yang mustahabb. Sedangkan amalan-amalan yang rusak adalah Allah telah melarang darinya.

Dan amalan bila mengandung mashlahat dan mafsadah, maka sesungguhnya Allah Sang Pembuat hukum adalah bijaksana, bila mashlahatnya mengalahkan mafsadahnya maka Dia mensyari’atkannya, dan bila mafsadahnya mengalahkan mashlahatnya maka Dia tidak mensyari’atkannya, bahkan Dia melarang darinya[41] sebagaimana firman-Nya ta’ala:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah: 216)

Dan Allah ta’ala berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya” (Al Baqarah: 219) oleh sebab itu Allah ta’ala mengharamkan keduanya setelah itu.

Dan begitu juga apa yang di pandang manusia dari amalan-amalan itu mendekatkan kepada Allah, namun Allah dan Rasul-Nya tidak mensyari’atkannya, maka ia itu mesti bahayanya lebih besar dari manfaatnya, karena seandainya manfaatnya lebih besar dominasinya terhadap bahayanya tentulah Allah tidak menelantarkannya; sebab sesungguhnya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah bijaksana, lagi tidak menelantarkan mashlahat-mashlahat dien ini, dan tidak menyembunyikan dari kaum mu’minin apa yang bisa mendekatkan diri kepada Rabbul ‘alamin.

Bila hal ini telah jelas, maka kami katakan kepada si penanya: Sesungguhnya Syaikh tersebut bermaksud agar orang-orang yang berkumpul terhadap dosa-dosa besar itu bertaubat, namun dia tidak mampu melakukan hal itu kecuali dengan cara yang bid’ah itu. Ini menunjukkan bahwa Syaikh itu bodoh akan cara-cara yang syar’iy yang dengannya para ahli maksiat menjadi taubat, atau Syaikh itu lemah darinya, karena sesungguhnya Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam, para sahabat serta tabiin telah mendakwahi orang-orang yang lebih buruk dari mereka itu dari kalangan orang-orang kafir, kaum fasiq dan ahli maksiat dengan cara-cara yang syar’iy yang Allah cukupkan mereka dengannya dari cara-cara yang bid’ah itu.

Maka tidak boleh dikatakan: Sesungguhnya dalam cara-cara syar’iy yang Allah utus Nabi-Nya dengannya tidak ada apa yang dengannya orang-orang ahli maksiat menjadi bertaubat, karena sesungguhnya telah diketahui secara pasti dan dengan penukilan yang mutawatir bahwa telah taubat dari kekafiran, kefasikan dan berbagai maksiat orang-orang yang tidak bisa menghitung jumlahnya kecuali Allah ta’ala dari berbagai umat dengan cara yang syar’iy yang di dalamnya tidak ada apa yang tadi disebutkan berupa kumpul-kumpul yang bid’ah itu, akan tetapi as sabiqun al awwalun dari kalangan muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik – di mana mereka itu adalah sebaik-baiknya auliyaullah al muttaqin dari umat ini – telah taubat kepada Allah ta’ala dengan cara yang syar’iy bukan dengan cara-cara bid’ah ini. Dan kota-kota dan desa-desa kaum muslimin baik dahulu maupun sekarang penuh dengan orang-orang yang taubat kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya serta melakukan apa yang dicintai dan diridlai Allah dengan cara-cara yang syar’iy bukan dengan cara-cara yang bid’ah ini.

Maka tidak mungkin dikatakan: Bahwa para ahli maksiat tidak mungkin terjadi taubat mereka kecuali dengan cara-cara yang bid’ah ini, akan tetapi bisa dikatakan: Bahwa di antara para Syaikh itu ada orang yang bodoh terhadap cara-cara yang syar’iy, lagi lemah darinya, yang pada dirinya tidak ada ilmu akan Al Kitab dan As Sunnah dan apa yang dengannya dia mengkhitabi manusia serta dia memperdengarkannya kepada mereka dari kalangan yang Allah terima taubat mereka, kemudian Syaikh ini berpaling dari cara-cara yang syar’iy kepada cara-cara yang bid’ah, bisa karena niat yang baik bila si Syaikh ini memiliki dien dan bisa karena tujuan ingin tampil memimpin mereka dan mengambil harta mereka dengan batil, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah” (At Taubah: 34) maka tidak berpaling seorangpun dari cara-cara yang syar’iy kepada yang bid’ah kecuali karena kebodohan atau kelemahan atau tujuan yang buruk.[42]

Dan kalau tidak, maka termasuk suatu yang ma’lum bahwa simaa’ Al Qur’an adalah simaa’ para Nabi, ‘arifin dan mu’minin. Allah ta’ala berfirman perihal para Nabi:

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Ismail, dandari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkar dengan bersujud dan menangis” (Maryam: 58)

Dan Dia ta’ala berfirman tentang ‘arifin (orang-orang yang mengetahui al haq):

“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), Kami lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui” (Al Maidah: 83)

Dan Dia ta’ala berfirman perihal ahli ilmu:

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, menyeka menyungkur atas mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami: sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu” (Al Isra: 107-109)

Dan Dia ta’ala berfirman perihal kaum mu’minin:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang manafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka, itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya” (Al Anfal: 2-4).

Dan firman-Nya ta’ala:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayathnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah” (Az Zumar: 23)

Dan dengan simaa’ (mendengarkan Al Qur’an) ini Allah memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya, Dia meluruskan bagi mereka urusan dunia dan akhirat, Dia dengannya mengutus Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan dengannya beliau memerintahkan kaum muhajirin, anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, serta di atasnyalah salaf telah berkumpul, sebagaimana para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bila mereka berkumpul mereka menyuruh seseorang diantara mereka agar membaca Al Qur’an dan mereka mendengarkannya. Dan adalah Umar Ibnul Khaththab radliyallaahu ‘anhu berkata kepada Abu Musa: Ingatkanlah kami dengan Tuhan kami”, maka Abu Musa membaca sedangkan mereka mendengarkan. Dan di dalam Ash Shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau melewati Abu Musa Al Asy’ariy saat ia membaca, maka beliau mendengarkan bacaannya, dan berkata: “Sungguh dia ini telah diberi kemerduan dari kemerduan-kemerduan keluarga Dawud”[43] dan berkata: “Tadi malam saya telah melwatimu saat kamu membaca, maka sayapun menyimak bacaanmu” maka ia berkata: “Seandainya saya mengetahui bahwa engkau menyimak (bacaan) saya, tentulah saya akan memerdukannya buat engkau”.

Dan dalam Ash Shahih bahwa beliau saw berkata kepada Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu: “Bacakan Al Qur’an terhadap saya”, maka ia berkata “Apa saya membaca Al Qur’an terhadap engkau sedangkan ia diturunkan kepada engkau? Maka beliau berkata: “Sesungguhnya saya ingin mendengarnya dari orang lain”, ia berkata: “Maka saya membaca terhadapnya surat An Nisa sampai pada ayat ini:

“(Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (An Nisa: 41)

Beliau berkata kepada saya: “Cukup” terus saya memandang kepadanya ternyata kedua matanya berlinangan air mata karena menangis.”[44] Dan terhadap simaa’ macam ini berkumpul generasi-generasi yang dipuji Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau bersabda: “Sebaik-baiknya generasi adalah orang-orang yang saya diutus di tengah mereka, kemudian generasi yang mengiringi mereka, terus generasi yang mengiringi mereka.[45]

Dan di generasi salaf pertama tidak ada simaa’ yang mana orang-orang yang baik berkumpul terhadapnya kecuali hal ini, baik itu di Al Jaz, di Yaman, di Syam, di Mesir, di Irak, di Khurasan dan Maghrib. Dan simaa’ yang bid’ah ini hanya terjadi setelah itu. Dan Allah telah memuji orang-orang yang melakukan simaa’ (Al Qur’an) ini lagi penuh antusias terhadapnya, dan Dia mencela orang-orang yang berpaling darinya serta Dia mengabarkan bahwa ia adalah sebab rahmat. Allah ta’ala berfirman:

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Al A’raf: 204)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta” (Al Furqan: 73).

Dan firman-Nya ta’ala:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” (Al Hadid: 16)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Kalau kiranya Allah mengetahui kebenaran ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)” (Al Anfal: 23)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Maka kenapa mereka berpaling dari peringatan (Allah)?” seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari daripada singa” (Al Maddatstsir: 49-51)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang telah diepringatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?” (Al Kahfi: 57)

Dan firman-Nya ta’ala:

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buata”. Berkata ia: Y Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan” (Thaha: 123-126)

Dalam hal seperti ini dalam Al Qur’an sangat banyak, memerintahkan manusia agar mengikuti apa yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya berupa Al Kitab dan Al Hikmah (Ash Sunnah) dan memerintahkan mereka agar menyimak itu.

Dan Allah ta’ala telah mensyari’atkan simaa’ (penyimakan Al Qur’an) bagi kaum muslimin di shalat maghrib, isya dan fajr, Dia ta’ala berfirman:

“Dan (dirikan pula shalat) shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (Al Isra: 78).

Dan dengan ini Abdullah Ibnu Ruwahah memuji Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dimana ia berkata:

Dan di tengah kami ada Rasulullah yang membaca kitab-Nya

Bila cahaya fajar mulai membelah

Di malam hari dia jauhkan badan dari pembaringan

Saat orang-orang kafir tertidur nyenyak

Dia datang dengan petunjuk setelah kegelapan, sehinga hati kami

Yakin dengannya bahwa apa yang dikatakannya pasti terjadi

Dan keadaan para pelaku simaa’ ini dituturkan dalam Kitabullah berupa rasa takut dihati, mata berlinang dan kulit bergetar, sedangkan penyimakan bait-bait senandung hanyalah terjadi setelah generasi-generasi ini, dan para imam telah mengingkarinya, sampai-sampai Asy Syafi’iy rahimahullah berkata: Saya meninggalkan di Baghdad sesuatu yang diada-adakan kaum zindiq, yang mereka sebut Taghbir, mereka mengklaim bahwa ia melembutkan hati, yang dengannya mereka menghalang-halangi manusia dari Al Qur’an. Dan Al Imam Ahmad ditanya tentangnya, Apa boleh kami duduk bersama mereka di dalamnya? Maka beliau berkata: Jangan duduk bersama mereka.

Dan larangan ini berkaitan dengan mendengarkan bukan mendengar, oleh sebab itu seandainya seseorang melewati suatu kaum yang mengucapkan ucapan yang haram maka tidak wajib atas dia menutupi kedua telinganya, akan tetapi dia tidak boleh mendengarkan tanpa ada keperluan. Dan oleh karenanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menyuruh Ibnu Umar untuk menutup kedua telingannya tatkala mendengar seruling penggembala,[46] karena ia tidak mendengarkan (menyimak) namun (hanya) mendengar.

Dan ucapan penanya dan yang lainnya: Apakah ia halal? Atau haram? Adalah lafadh yang mujmal yang di dalamnya ada talbis, yang mana terkabur hukum di dalamnya, sampai banyak mufti tidak cakap untuk menguraikan jawaban di dalamnya. Itu dikarenakan pembicaraan perihal simaa’ dan perbuatan-perbuatan lainnya terbagi menjadi dua macam

(Pertama) Apakah ia itu diharamkan? Atau tidak diharamkan? Akan tetapi dilakukan sebagaimana dilakukannya perbuatan-perbuatan lainnya yang mana jiwa merasakan nikmat dengannya, meskipun di dalamnya terdapat suatu macam dari permainan dan sikap bersenang-senang seperti simaa’ (penyimakan senandung) dalam acara-acara pernikahan yang lainnya, berupa hal-hal yang dilakukan manusia dengan tujuan kenikmatan lainnya, berupa hal-hal yang dilakukan manusia dengan tujuan kenikmatan dan permainan, bukan dengan tujuan ibadah dan taqarrub kepada Allah.

(Macam kedua) dilakukan dalam rangka keagamaan, ibadah, perbaikan hati, permurnian kecintaan manusia kepada Tuhan mereka, pembersihan jiwa mereka dan pensucian hati mereka. Dan (dalam rangka) menggerakkan dari hati ini rasa takut kepada Allah, inabah (kembali kepada-Nya), kecintaan, kelembutan hati dan hal serupa itu yang termasuk jenis ibadah dan ketaatan, bukan termasuk jenis permainan dan sikap bersenang-senang.

Maka wajib membedakan antara simaa’ orang-orang yang bermaksud taqarrub (kepada Allah) dengan simaa’ orang-orang yang bermaksud melakukan permainan, dan antara simaa’ yang dilakukan manusia dalam pesta pernikahan, hari-hari bahagia dan kebiasaan-kebiasaan lainnya dengan simaa’ yang dilakukan untuk perbaikan hati dan taqarrub kepada Tuhan pencipta langit, maka sesungguhnya hal ini ditanyakan tentangnya: Apakah ia sarana pendekatan diri (kepada Allah) dan ketaatan? – dan apakah ia jalan kepada Allah? Dan apakah boleh bagi mereka untuk melakukannya karena memiliki faidah (seperti) kelembutan hati, penggerakan rindu mereka kepada (Allah) kekasih mereka, pensucian jiwa mereka, pembersihan kekerasan dari hati mereka dan tujuan-tujuan selain itu yang dimaksudkan dengan simaa’ tersebut? Sebagaimana orang-orang nasrani melakukan simaa’ semacam ini di dalam gereja-gereja mereka dalam bentuk ibadah dan ketaatan, bukan dalam rangka bermain-main dan bersenang-senang.

Bila hal ini sudah diketahui maka hakikat pertanyaan adalah: Apakah dibolehkan bagi si Syaikh itu dia menjadikan hal-hal ini yang mana ia itu bisa jadi hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan atau hal yang mubah sebagai sarana mendekatkan diri, ibadah dan ketaatan serta jalan kepada Allah yang dengannya dia mengajak (manusia) kepada Allah, merangsang orang-orang maksiat untuk taubat, dan dengannya dia membimbing orang-orang bingung serta dengannya dia mengarahkan orang-orang yang sesat kepada hidayah.

Dan termasuk hal yang ma’lum bahwa dien ini memiliki “dua hal pokok” yaitu tidak ada dien kecuali apa yang telah Allah syari’atkan, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang telah Allah haramkan, dan Allah ta’ala mencela kaum musyrikin karena sebab mereka mengharamkan apa yang tidak Allah haramkan dan mensyari’atkan ajaran yang tidak Allah izinkan.

Dan andaikata orang alim ditanya tentang orang yang berlari-lari kecil di antara dua gunung: Apakah dibolehkan baginya hal itu? Dia berkata: Ya” kemudian bila dikatakan: sesungguhnya ia sebagai bentuk ibadah sebagaimaana melakukan sai’ (lari kecil) di antara Shafa dan Marwah? Dia berkata: sebenarnya perbuatannya atas dasar tujuan ini adalah haram lagi mungkar, pelakunya disuruh taubat, kemudian bila dia bertaubat (maka diterima) dan bila tidak taubat maka dia dibunuh.[47]

Dan andaikata ditanya: tentang membuka kepala dan tentang memakai sarung dan selendang: maka ia menfatwakan bahwa ini boleh” kemudian bila dikatakan: sesungguhnya ia melakukannya sebagai bentuk ihram, sebagaimana ihramnya orang yang haji? Maka dia berkata: sesungguhnya ini adalah haram lagi mungkar.

Dan andaikata ditanya: tentang orang yang berdiri di panas matahari, maka dia berkata: ini boleh”, kemudian bila dikatakan: sesungguhnya dia melakukannya atas dasar tujuan ibadah? Maka dia berkata: ini mungkar” sebagaimana Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhu “Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki berdiri di panas matahari, maka beliau berkata: Siapa ini? Mereka menjawab: ini Abu Israil ingin berdiri di panas matahari, tidak duduk, tidak berteduh dan tidak berbicara, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata: suruh dia agar berbicara, duduk dan berteduh serta menyempurnakan shaumnya.”[48] Hal ini andaikata dia lakukan untuk istirahat atau tujuan yang mubah tentulah tidak dilarang darinya, akan tetapi tatkala dia melakukannya dalam rangka bentuk ibadah maka dia larang darinya.

Dan begitu juga seandainya seseorang memasuki rumahnya lewat belakang rumah, tentuhal itu tidak haram atasnya, akan tetapi bila dia melakukan hal itu dalam rangka sebagai ibadah, sebagaimana yang biasa mereka kerjakan di masa jahiliyyah; dimana seseorang dari mereka bila ihram dia tidak masuk di bawah langit-langit, maka mereka dilarang dari hal itu, sebagaimana firman-Nya ta’ala:

[Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya] (Al Baqarah: 189).

Maka Allah ta’ala menjelaskan bahwa ini bukan kebajikan, meskipun ia bukan haram, namun barangsiapa melakukannya dengan anggapan kebajikan dan taqarrub kepada Allah maka ia maksiat lagi tercela juga mubtadi (ahli bid’ah), sedangkan BID’AH itu lebih dicintai iblis daripada maksiat, karena orang yang berbuat maksiat mengetahui bahwa ia itu berbuat maksiat sehingga bisa taubat, sedangkan mubtadi’ itu mengira bahwa yang dilakukannya adalah ketaatan sehingga tidak taubat.

Oleh sebab itu orang yang menghadiri simaa’ untuk bermain-main dan bersenang-senang maka dia tidak menganggap perbuatannya itu sebagai bagian dari amal solehnya dan dia tidak mengharapkan pahala dengannya. Dan adapun orang yang melakuannya atas dasar anggapan bahwa ia adalah jalan kepada Allah ta’ala maka sesungguhnya dia menjadikan hal itu sebagai dien, dan bila dia dilarang darinya maka ia seperti orang yang dilarang dari diennya,[49] dan ia memandang bahwa ia telah terputus dari Allah dan dihalangi dari bagiannya dari Allah bila ia meninggalkannya. Maka mereka itu adalah orang-orang yang sesat dengan kesepakatan ulama muslimin, dan tidak seorangpun dari para imam kaum muslimin mengatakan: Sesungguhnya menjadikan hal ini sebagai ajaran dan jalan kepada Allah ta’ala adalah hal yang mubah, bahkan justru orang yang menjadikan hal ini sebagai ajaran dan jalan kepada Allah ta’ala adalah orang yang sesat yang mengada-ada lagi menyelisihi ijma kaum muslimin. Dan barangsiapa (hanya) melihat kepada dhahir amalan dan berbicara atas dasarnya dan dia tidak melihat kepada perbuatan si pelaku dan niatnya maka ia bodoh lagi berbicara dalam dien ini tanpa ilmu.

Maka pertanyaan tentang hal seperti ini adalah dikatakan: Apakah yang dilakukan mereka itu adalah jalan, qurbah dan ketaatan kepada Allah ta’ala yang dicintai Allah ta’ala dan Rasul-Nya ataukah tidak? Dan apakah mereka itu diberi pahala atas hal itu ataukah tidak? Dan bila hal ini bukan qurbah, ketaatan dan ibadah kepada Allah, terus mereka melakukannya atas anggapan bahwa ia adalah qurbah, ketaatan, ibadah dan jalan kepada Allah ta’ala, apakah halal keyakinan ini bagi mereka? Dan amal ini atas dasar anggapan ini?

Dan bila pertanyaannya atas dasar sisi ini maka orang yang alim yang mengikuti Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mungkin mengatakan: Bahwa ini termasuk qurbah dan ketaatan, dan bahwa ia termasuk macam ibadah, dan bahwa ia termasuk jalan Allah ta’ala serta sarana-Nya yang mana mereka itu mengajak (manusia) dengannya kepada Allah, dan tidak (mungkin orang alim itu mengatakan) bahwa ia termasuk apa yang dengannya Allah ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya; baik perintah yang bersifat kewajiban maupun perintah yang bersifat istihbab. Sedangkan suatu yang bukan termasuk kewajiban dan mustahabbat maka ia itu bukanlah hal yang terpuji, bukan pula hal yang baik, bukan pula sebagai ketaatan dan bukan pula ibadah dengan kesepakatan kaum muslimin.

Barangsiapa melakukan suatu yang bukan kewajiban dan bukan pula mustahab atau dasar anggapan bahwa ia termasuk jenis kewajiban atau mustahab maka ia sesat lagi ahli bid’ah, dan perbuatannya atas dasar anggapan ini adalah haram tanpa ada keraguan.[50] Apalagi banyak dari kalangan yang menjadikan simaa’ yang muhdats (bid’ah) ini sebagai jalan (dakwah), di mana mereka mengedepankannya terhadap simaa’ Al Qur’an dari sisi ketersentuhan hati dan perasaan, dan bisa saja mereka mengedepankannya terhadapnya dari sisi keyakinan, di mana kamu mendapatkan mereka mendengarkan Al Qur’an dengan hati yang kosong, lisan yang lalai, gerakan yang tidak menentu serta suara yang tidak disertai hati dan tidak dijiwai, namun bila mereka mendengar “mukaa” dan “tashdiyah”[51] maka hati mereka menyimak, terjadi kontak yang dicintai dengan yang mencintai, suara pun sunyi tenang dan gerakan pun berhenti senyap, sehingga tidak ada batuk, tidak ada bersin, tidak ada gaduh dan tidak ada teriakan. Dan bila mereka membaca sesuatu dari Al Qur’an atau mendengarnya maka itu dilakukan secara dipaksakan dan dibuat-buat, seperti halnya orang yang mendengarkan sesuatu yang tidak ia perlukan dan tidak ada faidah baginya di dalamnya, namun bila mereka mendengar seruling setan maka mereka mencintainya, antusias kepadanya dan ruh mereka menyimaknya.

MAKA MEREKA itu adalah bala tentara syaitan dan musuh-musuh Ar Rahman. Mereka mengira bahwa diri mereka itu bagian dari wali-wali Allah yang bertaqwa, padahal keadaan mereka ini sangat serupa dengan keadaan musuh-musuh Allah yang munafik. Karena sesungguhnya orang mu’min itu mencintai apa yang Allah ta’ala cintai dan membenci apa yang Allah ta’ala benci, dia loyal kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah, sedangkan mereka itu malah mencintai apa yang Allah benci dan membenci apa yang Allah cintai, mereka loyal kepada musuh-musuh Allah dan memusuhi wali-wali-Nya.[52] Dan karena hal ini terjadilah bagi mereka bisikan-bisikan syaitan sesuai kadar senandung syaitan yang mereka lakukan. Dan semakin jauh mereka dari Allah dan Rasul-Nya serta jalan kaum mu’minin maka semakin dekat mereka dari musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya serta (dari) bala tentara syaitan.

Di antara mereka ada yang terbang di udara padahal syaitanlah yang membawa dia terbang di antara mereka ada yang membuat kesurupan hadirin padahal syaitan-syaitannya-lah yang membuat mereka kesurupan, dan di antara mereka ada yang menghadirkan makanan dan lauk pauk serta memenuhi poci dari udara padahal syaitanlah yang melakukan itu. Maka orang-orang bodoh mengira bahwa ini termasuk karamah wali-wali Allah yang bertaqwa, padahal sebenarnya termasuk jenis perbuatan para dukun, tukang sihir dan syaitan-syaitan sejenis mereka lainnya. Sedangkan orang yang bisa membedakan keadaan-keadaan yang berasal dari Ar Rahman dan yang berasal dari jiwa dan syaitan maka tidak terkabur atasnya al haq dengan al batil.

Wal billahi taufiq wallahu a’lam. Shalawat dan salam semoga Allah melimpahkannya kepada Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Ucapan Mutiara

* [Hati-hatilah kamu dari penguasa (jangan) kamu mendekati dari mereka atau berbaur dari mereka dalam sesuatu hal apa saja, dan hati-hatilah kamu tertipu dan dikatakan kepada kamu “Agar kamu menjadi perantara yang membantu dan membela orang yang didzalimi atau mengembalikan hak” karena sesungguhnyaitu adalah tipuan iblis, dan itu hanya dijadikan tangga oleh ahli baca yang bejat]” (Dari Hilyah, karya Abu Nu’aim: 6/376-377)
* [Dan setiap yang tidak tercapai kepadanya kecuali dengan amalan yang haram maka ia haram selamanya, … dan ini termasuk bukti-bukti yang pasti lagi diketahui dengan awal perabaan dan sepontan akal. Dan barangsiapa yang menyelisihi di dalamnya maka dia adalah orang yang ngawur lagi menolak suatu yang nyata terang. Wabillahi taufiq] Ibnu Hazm – Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam (1/328)
* [Maka tidak berpaling seorangpun dari cara-cara yang syar’iy kepada yang bid’ah kecuali karena kebodohan atau kelemahan atau tujuan yang buruk] (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
* [Tidak boleh menetapkan hukum dengan sekedar istihsan dan istishlah, karena sesungguhnya itu adalah pensyari’atan bagi dien ini dengan ra-yu (pikiran), sedangkan itu adalah haram berdasarkan firman-Nya ta’ala: “Apakah mereka memiliki sembahan-sembahan yang mensyari’atkan bagi mereka dari dien ini apa yang tidak Allah izinkan” (Asy Syura: 21)] (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ash Sharim 331)
* [Maka tidak boleh para pembawa dakwah ini memperhitungkan hitungan hasil-hasil ini, namun yang wajib adalah mereka berjalan di atas manhaj dakwah yang jelas dan tegas lagi tepat dan mereka membiarkan hasil-hasil istiqamah ini kepada Allah, dan tidak akan terbukti kecuali kebaikan di akhir perjalanan.

Dan ini adalah Al Qur’anul Karim mengingatkan mereka kepada keberadaan bahwa syaitan selalu mengintai keinginan mereka untuk bisa menembus dari arahnya kepada inti dakwah] (Sayyid Quthub)

Penterjemah Berkata: Selesai 25 Dzul Qa’dah 1427 H di Sijn Bandung

[1] Lihat buku kecil ”Amiruna Wa Amiruhum” dan ia adalah perbandingan antara Al Faruq dengan Macchiavelli karya Muhammad Rawwas Qal’ajiy

[2] Perhatikan hal ini, kemudian lihatlah pada realita para thaghut masa kini; tentu engkau melihat hal yang sangat mengherankan.

[3] Ushulul Ahkam karya Al Amidiy 4/213

[4] Lihatlah Raudlatun Nadhir karya Ibnu Qudamuh halaman: 147 atau Mudzakkirah Al Ushul karya Asy Syinqithiy halamam: 167

[5] Irsyadul Fuhul 140

[6] Yang di maksud dengan “seorang pun” di sini: adalah orang-orang yang dianggap dari kalangan ulama dan orang-orang yang mengerti. Adapun Ruwaibidlah yang melontarkan apa yang tidak mereka ketahui dan berbicara dengan apa yang tidak mereka ilmui dari kalangan yang hari ini tampil berbicara dalam urusan dien yang paling berbahaya, maka mereka itu telah berani untuk mengatakan apa yang lebih buruk dan lebih busuk dari itu.

[7] Beliau maksudkan dalam Ushulul Fiqh dan bab-bab dalil-dalil hukum.

[8] Dikeluarkan secara marfu dari ibnu Mas’ud oleh Abu Dawud Ath Thayalisiy, Al Bazzar, Ath Thabraniy dan yang lainnya, dan diriwayatkan secara marfu’ dari Anas dengan Isnad yang gugur, lihat Kasyful Khafa wa Muzilul Ilbas hadist no: 2214

[9] Lihat Mabhats Ijma dalam Irsyadul Fuhul sebagai contoh.

[10] Lihatlah Ushul Al Ahkam karya Al Amidiy 4/5/2 dan Al Ihkam Fi Ushulil Ahkam karya Ibnu Hazm 2/197, serta lihat fatwa-fatwa sulthan para ulama Al ‘Izz Ibnu Abdussalam.

[11] Dan ucapannya setelah itu: “…dan tidak mengatakan di dalamnya kecuali orang yang alim akan ijtihad lagi mengerti untuk menyerupakan atasnya…” adalah jelas bahwa beliau memaksudkan qiyas, oleh sebab itu beliau bekata setelah itu: “…dan bila halnya seperti itu maka wajib atas orang alim untuk tidak berkata kecuali dari arah ilmu, sedangkan arah ilmu adalah khabar yang lazim untuk qiyas dengan bukti-bukti terhadap kebenaran, agar ahli ilmu itu selalu mengikuti khabar, dan pencari khabar dengan qiyas sebagimana orang yang menghadap ka’bah dengan melihat langsung dan orang yang berupaya menghadapnya dengan berdalil dengan tanda-tanda sembari berupaya keras…”

[12] Dari Irsyadul Fuhul halaman 240

[13] Perhatikan, ini pada orang alim…!!! Maka bagaimana dengan para pengekor yang tidak mencium bau ilmu dan tidak mengetahui apa rasanya

[14] Raudlatun Nadhir Wa Junnatul Munadhir halaman 149

[15] Lihatlah Madzakkirah Al Ushul milik Asy Syinqithiy halaman: 170

[16] Irsyadul Fuhul halaman: 242

[17] Raudlatun Nadhir Wa Junnatul Munadhir halaman: 149

[18] Sebagian ulama menjadikan nasab dan kehormatan satu, sehingga jumlahnya menjadi lima, dan telah kami jelaskan dalam kitab kami “Kasyfun Niqab ’An Syari’atil Ghab” bagaimana bahwa syari’at telah datang untuk melindungi dlaruriyyat ini, dan bahwa qawanin wadl’iyyah (undang-undang buatan) yang dibuat oleh para thaghut bekerja siang malam untuk menghancurkannya.

[19] Lihat Raudlatun Ndhir Wa Jannatul Munadhir, karya Ibnu Qudamah halaman: 150

[20] Dari Mandhumah Al Qawa’id Al Fiqhiyyah karya Abdurrahman Ibnu Nashir As Sa’diy, dahulu saya telah mempelajarinya dan saya merapikan syarahnya serta saya tambahkan kepada isi aslinya faidah yang beraneka ragam di awal masa thalabul ilmi.

[21] Begitu dalam catakan Majmu Al Fatawa, dan bisa jadi yang benar adalah (dalam) sebagaimana ia jelas dari konteksnya karena pembicaraan itu dalam hal celaan mashlahat-mashlahat yang kosong dari dalil

[22] Terbitan Ad Dar As Salafiyyah di Kuwait, dan ini bukanlah satu-satunya tempat yang dikritik terhadapnya. Kitab ini pada dasarnya disusun dalam rangka melegalkan keikutsertaan di dalam parlemen legislatif dan wasaail dakwah modern lainnya yang sejalan dengan jalan orang-orang kafir dan yang menyebrangi jalan kaum mu’minun sebagaimana ia nampak pada pembukaannya.

[23] Dan dia dalam masalah ini telah dibantah oleh Syaikh Ali Al Ja’faniy Al Yamaniy rahimahullah yang di hukum mati di Hijaz setelah tragedi Al Haram tahun 1400 H, di dalam risalah yang beliau namai kasyful Haqaiq.

[24] Seagai contoh silahkan lihat kitab (Lid Du’at Faqath), milik Jasim Al Muhalhil Al Yasin halaman:231 dan kitab( Hukmul Musyarakah Fil Wizarah Wal Majalis An Niyabiyyah) halaman: 91

[25] Dari ucapan Ibnul Qayyim dan dituturkan juga oleh Abil’lzzi dalam Syarh Ath Thahawiyyah.

[26] Lihat halaman 88 dari kitab “Hukum Musyarakah Fil Wizarah Wal l Barlamat At Tasyri’iyyah karya Umar Al Asyqar yang di dalamnya ada istidlal dengan ucapan Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah dalam bab peraihan mashlahat terbesar dari dua mashlahat yang ada dengan meninggalkan yang satunya lagi, dengan tidak memperhatikan bahwa mashlahat terbesar di dalam kehidupan ini adalah perealisasian tauhid dan kufur kepada thaghut.

[27] Perhatikan: Ini adalah mashlahat umum yang dlaruriy (sangat penting)!! Sedangkan keadaan negeri adalah seperti itu, namun demikian tetap Al Khalifah Ar Rasyid tidak mau membuat mashlahat yang menyelisihi sunnah dan al haq

[28] Dari Tarikh Al Khulafa karya As Sayuthiy hal 237, dan berkata setelah itu hal 241 (Semua yang saya utarakan telah dimusnadkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah) dan lihat juga dalam Asy Sifa karya Al Qadliy ‘Iyadl 2/15

[29] Lihat Siyar A’lam An Nubala 7/229. Tadzkiratul Hafidh 1/203 dan Hilyatul Auliya 6/356 serta yang lainnya.

[30] Al Bidayah wan Nihayah 12/282-283

[31] Perhatian: Adz Dzahabiy berkata dalam siyar A’lamin Nubala 21/368: (Semoga Allah merahmati dan memaafkannya, andai saja beliau tidak menceburkan diri pada takwil)

[32] Dan berkata hal 122: “Dan secara umum, Sesungguhnya masuk mendatangi para penguasa itu adalah bahaya yang besar, karena niat bisa jadi baik di awal masuknya terus ia berubah dengan sebab penghormatan dan pemberian mereka, atau dengan sebab menginginkan apa yang ada pada mereka, dan akhirnya tidak tahan dari berbasa-basi kepada mereka dan (dari) meninggalkan pengingkaran terhadap mereka. Dan sungguh Sufyan Ats Tsauriy radliyallaahu ‘anhu berkata: (Saya tidak takut dari penghinaan mereka kepada saya, namun hanyalah saya takut dari penghormatan mereka sehingga hati saya cenderung kepada mereka). Dan sungguh para ulama salaf menjauh dari para penguasa tatkala nampak sikap aniaya mereka, kemudian umara mencari-cari mereka karena kebutuhannya kepada mereka dalam hal fatwa dan penanganan urusan, kemudian tumbuhlah orang-orang yang kuat kecintaan mereka terhadap dunia terus mereka mempelajari banyak ilmu yang layak bagi umara dan mereka membawanya kepada mereka untuk mendapatkan (bagian) dari dunia mereka”

[33] Ia adalah risalah yang indah yang beliau kirim kepada saudarinya Aminah Quthub yang untuk pertama kalinya diterbitkan Majalah Al Fikr Tunisia dengan judul “Adlwaa Min Ba’id” dan itu pada volume VI, tahun keempat (Aadzar 1959 M) kemudian setelah itu diterbitkan di dalam buku kecil beberapa kali terbitan. Dan ucapan yang di atas adalah pada poin (15) darinya hal 26.

[34] Syaikhul Islam rahimahullah dalam jawabannya ini tidak menyinggung-nyinggung ucapan si penanya di sini “dengan rebana tanpa memakai kecrekan” akan tetapi beliau berkata di empat lain “… sebagaimana diruhshahkan bagi wanita menabuh rebana di pernikahan dan hari-hari bahagia, adapun laki-laki di masa Rasulullah maka tidak seorangpun di antara mereka menabuh rebana dan tepuk tangan, justru telah tsabit dalam Ash Shahih dari beliau bahwa beliau berkata:” tepuk tangan itu hanya bagi wanita dan tasbih buat laki-laki” dan “beliau melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita”. Dan dikarenakan menyanyi, menabuh rebana dan tepuk tangan itu termasuk perbuatan wanita, maka salaf menamakan laki-laki yang melakukan hal itu sebagai banci dan menamakan kaum pria yang menyanyi sebagai banci-banci, dan ini adalah masyhur dalam ucapan mereka” Lihat risalah ke 13 dalam hal simaa’ dan raqsh(joget) dari Majmu’atur Rasuail Al Kubra 2/301

Apakah rela dengan cap semacam ini orang-orang yang menyebarkan nasyid-nasyid mereka dengan rebana di tengah-tengah pemuda kaum muslimin dengan dalih pengadaan solusi pengganti bagi lagu-lagu yang cabul (yaitu dalih mashlahat dakwah)!! Dan sungguh iblis telah membuktikan kebenaran dugaannya terhadap mereka, di mana dia menipu mereka dengan talbis-talbis yang batil ini. Dan seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan mereka berpikir; apakah mereka lebih pintar dan lebih bijaksana daripada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam serta lebih perhatian terhadap dakwa ini? Dan kemudian, sedandainya hal itu baik tentulah Rasulullah tidak ketinggalan dengannyadan tentu mereka tidak akan lebih mendahului beliau kepadanya.

[35] Syababah diambil dari syabbahu yusyabbibu, yaitu menceritakan wanita, dan tasybibu asy syi’ri artinya: melembutkan senandung syair dengan menyebutkan wanita.

Dan Syababah: seruling, salah satu alat musik.

[36] HR Muslim (Al Imarah 46) dari Abdullah Ibnu Amr Ibnul ‘Ash dengannya lafadh (sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku melainkan wajb atasnya ….) dan terhadap hal itu dibawalah ucapan Syaikhul Islam “telah tsabit darinya dalam Ash Shahih” dan bukan terhadap Al Bukhari, dan begitu juga diriwayatkan oleh An Nasai 7/153 dan Ibnu Majah no 3956 serta Ahmad 2/191.

[37] Musnad Ahmad 4/126-127, Abu Dawud (Tahun 5), At Tirmidziy (Kitabul ilmi 16), dan berkata hadits hasan shahih, Ibnu Majah (Al Muqaddimah 6), Ad Darimiy (Muqaddimah 16) dan yang lainnya

[38] Juz dari hadits mursal yang diriwayatkan Abdurrazaq dalam mushannafnya (20100) dari ‘Imran Kawan Ma’mar

[39] Musnad Al Imam Ahmad 4/126, Ibnu Majah dalam Al Muqaddimah dengan nomor 43 dari hadits Al Irbadl Ibnu Sariyah yang lalu, dan Ibnu Majah meriwayatkan seperti lafadh ini dari Abu Ad Darda secara marfu, beliau sebutkan dalam Al Muqaddimah hadits no 5

[40] Dan ini adalah ringkasan jawaban terahdap pertanyaan si penanya.

[41] Dan kamu sudah mengetahui dalam uraian yang lalu bahwa timbangan mashlahat dan mafsadah hanyalah kepada Allah Sang Pembuat hukum yang Maha Bijaksana, bukan kepada hawa nafsu dan istihsan.

[42] Perhatikan ucapan yang sangat berharga ini, karena sesungguhnya ia hampir bisa menjadi kaidah yang umum (qaidah kulliyyah) pada keadaan-keadaan manusia secara umum dan du’at secara khusus. Dan orang yang mengamati perihal keadaan para du’at zaman kita ini lagi memperhatikan realita mereka, ia akan mengetahui kebenaran ucapan Syakhul Islam ini dan firasatnya, karena sesungguhnya keberpalingan para du’at dari manhaj para nabi atau sikap acuh (tafrith) mereka dalam penerapan millah ibrahim secara praktek perbuatan dalam realita dakwah ilallah adalah hanya terjadi karena salah satu dari tiga sebab ini, yaitu bisa jadi karena kebodohan akan hakikatnya, atau lemah (tidak mampu) dari menanggung resiko-resikonya yang berat dan kesukaran, kesulitan serta ujian yang menghampirinya, atau karena tujuan yang buruk berupa kekuasaan, atau jabatan atau kepemimpinan atau keanggotaan di Dewan Perwakilan atau harta. Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam, karena sesungguhnya beliau melihat dengan cahaya syari’at, furqan at taqwa dan firasat mu’min.

[43] Lihat Al Bukhariy (Fadlailul Qur’an 9/92, dan Muslim (Shalatul Musafirin) bab 34 no 236 dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan para penulis As Sunnah

[44] Al Bukhariy (Kitab At Tafsir 8/250 dan Muslim (Shalatul Musafirin) bab 40 dan yang lainnya

[45] Lihat Al Bukhari, Kitab Asy Syahadat 9, Fadlail Ash Shahabah 210 dan yang lainnya

[46] HR Abu Dawud dalam unannya, kitabul adab (bab karahiyyatil ghina waz zamri)

[47] Saya katakan: Bila ini adalah ucapan Syaikhul Islam perihal orang yang menjadikan sebagian hal-hal mubah sebagai ibadah dan qurbah kepada Allah ta’ala, maka bagaimana gerangan dengan orang yang menjadikan suatu yang haram atau kekafiran seperti itu, sehingga dia taqarrub kepada Allah dengan kekafiran yang nyata atau kemusyrikan yang jelas, seperti orang yang bersumpah untuk menghormati UUD syirik dan UU kafir dan menampakkan pembelaan terhadap wali-walinya dan dia menerima untuk menjadi musyarri’ (pembuat hukum/UU/UUD) menurut UUD itu seraya mengklaim bahwa dalam hal itu ada pembelaan bagi dien ini dan mashlahat dakwah? Kita memohon ‘afiyah dan keselamatan kepada Allah.

[48] Lihat Al Bukhariy Kitabul Aiman Wan Nadzur 11/586 dan diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan yang lainnya.

[49] Sebagaimana ia keadaan banyak du’at yang menjadikan dari jalan-jalan yang bengkok lagi menyimpang dari jalan para nabi sebagai dien (paham/ajaran/pegangan), maka sesungguhnya mereka itu membela-belanya sebagaimana orang membela-bela diennya, dan oleh sebab itu mereka menvonis bid’ah orang yang menyelisihi mereka di dalamnya dan mencapnya dengan cap-cap keberlepasan dari dien atau dengan sebutan khawarij dan ahli-ahli bid’ah lainnya. Berbeda halnya dengan orang yang menjadikan hal itu sebagai amal yang bersifat duniawiy semata ….!!

[50] Maka sebagaimana dengan orang yang melakukan suatu yang haram atau kekafiran atas dasar anggapan bahwa ia itu bagian dari kewajiban dien ini dan mashlahat dakwah??

[51] Mukaa adalah siulan, dan tashdiyah adalah tepuk tangan. Dan ia yang berasal dari firman-Nya ta’ala tentang kaum musyrikin:

Sembahyang mereka disekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan” (Al Anfal: 35).

Di dalamnya ada isyarat kepada penyerupaan para pelaku simaa’ tersebut dengan kaum musyrikin itu pada sesuatu dari ibadah mereka.

[52] Alangkah cocoknya ucapan Syaikhul Islam ini terhadap banyak orang dari kalangan yang menyandarkan diri kepada dakwah dan dien dari kalangan jama’ah-jama’ah Tajahhum dan Irja di zaman ini, di mana mereka itu membenci kaum muwahhidin yang memusuhi para thaghut lagi berlepas diri dari kebatilan mereka, membenci jalan mereka, menganggap bodoh mereka dan mencela dakwah mereka, di waktu yang mana mereka menampakkan di dalamnya sikap nushrah para thaghut atau membela-bela mereka, menambal kebatilan merka dan menegakkan syubhat yang batil untuk melegalkannya – seperti pujian mereka terhadap demokrasi, dan pembelaan mereka terhadap UU dan UUD – atau mereka menegakkan syubhat dalam rangka menganggap ringan kebatilan itudengan klaim mereka bahwa ia meskipun batil namun tidak sampai kepada kemusyrikan dan kekafiran yang mengeluarkan dari millah, akan tetapi ia adalah kufrun duna kafrin.

Sesungguhnya pandangan itu tidak buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dada.

Pos ini dipublikasikan di AKIDAH dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s