Mereka Seharusnya Menjadi Pembela, Bukan Pencela! (Risalah Terbuka Kepada Hizbut Tahrir Indonesia) Bagian 1

DUAPULUH DARI SERIBU KERUSAKAN MEREKA SEHARUSNYA MENJADI PEMBELA … BUKAN PENCELA !
( RISALAH TERBUKA KEPADA HIZBUT TAHRIR INDONESIA )

Assalaamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Saya ingin membuka tulisan ini dengan dua kutipan berikut :
Persoalan menjadi semakin pelik saat kelompok-kelompok “kekerasan” itu ditunggangi oleh kepentingan negara-negara besar. Tidak sedikit kelompok-kelompok yang disebut teroris oleh AS sekarang justru merupakan bentukan AS. Apa yang terjadi pada kelompok mujahidin
Afghanistan merupakan contoh yang baik tentang itu, yang sering dikaitkan dengan Al-Qoida dan Osama bin Laden. Dalam era perang dingin melawan Rusia, CIA memanfaatkan kelompok-kelompok islam untuk memerangi dan membendung pengaruh Rusia yang komunis.

Dalam buku Satu Dasawarsa Clash of Civilization, Kaaruzzaman Bustaman, memaparkan bukti-bukti tentang keterlibatan CIA. Antara lain ditulis bahwa Zbigniew Brzezinki saat menjadi penasihat Keamanan Nasional era Presiden Jimmy Carter menyusun suatu rencana untuk melatih pejuang Mujahidin Islam di pakistan untuk menyerang pemerintah Afghanistan yang dikuasai oleh PDPA (People’s Democratic Republic of Afghanistan) yang didukung oleh Rusia. Hal ini kemudian menjadi pemicu masuknya Rusia ke Afghanistan, yang terbukti kemudian menyedot energi negara komunis itu hingga bangkrut.
( “Melacak Akar Kekerasan Internasional” : Ust. Farid Wajdi ; Jurnal Al-Waie No. 38 Tahun IV, 1-31 Oktober 2003/Sya’ban 1424 H )

Maka benarlah apa yang dikatakan ahli linguistik dari AS, Noam Chomsky, bahwa Amerika Serikat adalah ‘teroris yang terbesar dan sesungguhnya’. Profesor ahli bahasa itu menyoroti bagaimana pemerintah AS secara konstan mendukung perkembangan kelompok-kelompok teroris, ketika CIA membantu kelahiran jaringan Osama bin Laden pada tahun 1979, di bawah
persetujuan penasehat keamanan Presiden Carter, Zbigniew Brzenzki. Ia menyatakan bahwa Al Qaeda sesungguhnya dilatih, dipersenjatai, dan diorganisir CIA, Pakistan, Mesir, dan sejumlah negara lainnya untuk melakukan perang suci melawan Rusia, sebelum organisasi itu berbalik melawan negara-negara yang semula mendanainya. ( “Bilakah Terorisme Berhenti” : M. Iwan Januar, hayatulislam.net, 17 November 2005 )

Awalnya saya tidak begitu berminat mengomentari kesalahan ini, sampai akhirnya saya mendengar dari istri saya sendiri bahwa kesalahan ini diajarkan di dalam majelis-majelis HT. Maka dengan ini saya meminta secara resmi kepada Hizbut Tahrir Indonesia untuk memperhatikan pemaparan saya dan kemudian mau berlapang hati memperbaikinya. Mengajarkan kepada semua pengikutnya untuk memperbaiki kesalahan yang telah diajarkan ini. Menarik ucapan-ucapan dari guru-gurunya agar tidak mengajarkannya kembali. Silahkan pergunakan jalur yang ada untuk bisa sampai ke tingkat atas DPP.

Saya harap tidak perlu saya yang menyampaikan hal ini ke tingkat atas tapi dari pihak anggota HT sendiri bisa menyampaikannya ke atas.

Fokus pemaparan saya adalah sanggahan terhadap tuduhan bahwa Syekh Usamah bin Ladin dan Jaringan Mujahidinnya, faksi-faksi mujahidin Afghanistan dan Daulah Islam Afghanistan/Taliban adalah faksi-faksi bersenjata yang dibentuk dengan bantuan Amerika, CIA dan barat. Hal ini dapat ditangkap dari dua kutipan diatas, dan demikianlah yang saya dengar dari istri saya dalam satu majelis yang dihadirinya.

Mengenai Syekh Usamah bin Ladin

Apa yang ingin saya ungkapkan disini adalah kebohongan yang telah merajalela dikalangan muslim, bahkan dikalangan aktivis-aktivisnya. Yang lebih parah lagi segolongan umat islam yang semangat menggencarkan Ash-shiro’ al-Fikri (pergolakan pemikiran) untuk mengungkap kebohongan ide-ide kufur malah termakan kebohongan tersebut dan menjadi salah satu mata rantai perpanjangannya. Sungguh tidak ada manusia yang ma’shum kecuali para nabi.

Tuduhan bahwa Usamah dan Al-Qoidah-nya adalah bentukan Amerika adalah tuduhan tak berdasar, ucapan itu adalah ucapan keji yang ditujukan kepada beliau, dan kita dapati ucapan itu dilontarkan juga dari kalangan muslim. Bahkan jika dikatakan “pada awal bentukan Al-Qoidah” sekalipun, itu tetap merupakan kebohongan yang nyata. Saya mendapati bahwa ucapan itu berasal dari orang-orang yang tidak pernah berburu informasi yang shohih tentang Usamah, apalagi sumber-sumbernya memang bukan dari Syekh Usamah sendiri ataupun dari orang-orang yang pernah bertemu dengan Syekh Usamah. Saya sampaikan hal berikut : “Berbeda dari apa yang sering ditulis dalam beberapa tulisan, Bin Ladin tidak mempunyai hubungan apapun dengan Amerika, baik langsung maupun tidak langsung. Semua pernyataan berkaitan dengan hal ini, merupakan kebohongan yang tidak ada landasannya.

Sebaliknya sejak mengenal Afghanistan, sikap Bin Ladin terhadap Amerika adalah memusuhi. Salah satu bukti dari ucapannya pada tahun delapan puluhan adalah ketika Amerika berupaya menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa seakan-akan ia mendukung jihad Aghanistan, namun Usamah mengatakan bahwa peperangan di masa mendatang adalah melawan Amerika. Persoalan ini baginya bukan semata-mata prediksi, tetapi merupakan sikap dasar yang sejak semula dipegangnya. Buktinya, ia konsekuen dengan ucapannya ini sejak pada saat itu dan mengharuskan keluarganya atau siapapun yang ada dalam kepemimpinannya untuk tidak membeli barang apapun produk Amerika, kecuali jika tidak ada alternatif lain.”
(Bukan…Tapi Perang terhadap Islam : Dr. Muhammad Abbas ; hal. 304-305)

Bahkan kita dapati musuhnya sekalipun menolak kebohongan tersebut, mengapa justru yang seharusnya menjadi pembela malah mencelanya? Kita dengar apa yang diucapkan oleh orang yang sangat ingin menangkap dan memenjarakannya. Pangeran Taraki Al-Faishal, mantan Ketua Intelejen Umum Saudi dalam sebuah wawancara dengan Channel MBC menganggap mustahil bila Bin Ladin memiliki hubungan dengan intelejen pusat Amerika, sebagaimana sering diberitakan MBC atau diberitakan oleh lembaga resmi lain milik pemerintah Amerika. la mengatakan : “Kami tidak memiliki informasi apapun bahwa ia mempunyai hubungan dengan lembaga pemerintahan asing manapun juga selain Pakistan.”
(Bukan…Tapi Perang terhadap Islam : Dr. Muhammad Abbas ; hal. 305)

Adakah kebohongan itu belum terungkap? Mengenai Al-Qoidah, biarlah syekh Usamah sendiri yang menjelaskan, …Jadi permasalahan ini bukan seperti yang digambarkan barat bahwa peperangan ini antara Amerika dan Al-Qoidah, sebenarnya sebutan Al-Qoidah adalah sebuah nama lama.

Nama ini tumbuh dengan tanpa sengaja. Dahulu saudara Abu Ubaidah Al-Pansyiri telah membuat sebuah kamp latihan untuk melawan pasukan tempur Rusia yang teroris itu, maka kamp itu kami namai dengan “Qoida” yang dalam bahasa arab berarti markaz tempat latihan. Kemudian nama itu tumbuh dengan sendirinya. Sebenarnya kita tidak terpisah dari umat ini….
( Wawancara Al-Jazeera dengan Syekh Usamah bin Ladin Pasca serangan WTC )

Dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera, Syekh Usamah menegaskan sejak kapan beliau memboikot produk Amerika, …karena saya telah mengajak umat islam untuk memboikot produk-produk Amerika sejak tahun 1407H (1987 M). Ketika itu saya katakan bahwa harta-harta kita di ambil oleh amerika dan diberikan kepada Yahudi, lalu digunakan untuk membunuh saudara-saudara kita di Palestina.
( Wawancara Al-Jazeera dengan Syekh Usamah bin Ladin Pasca serangan WTC )

Harap diketahui bahwa kebencian Usamah kepada amerika telah ada jauh sebelum meletusnya Jihad
Afghan, Tetapi Amerika mengorbankan dirinya dan rakyatnya sejak lebih dari 53 tahun lalu. Dialah yang pertama mengakui Negara Israel, dan dialah yang memeliharanya, dan dialah yang membantunya. Dialah yang pertama membuat garis penerbangan bantuan langsung di tahun 1973 dari Amerika ke Tel-Aviv. Dengan persenjataan, personal dsb, hingga mengubah jalannya peperangan. Lalu bagaimana bisa kita biarkan? Bahkan menjadi kewajiban setiap muslim untuk memeranginya.
( Wawancara Al-Jazeera dengan Syekh Usamah bin Ladin Pasca serangan WTC )

Salah satu guru syekh Usamah adalah Syekh Abdullah Azzam, orang yang merasakan langsung peperangan Arab-Israel tahun 1967 – 1973. Lantas bagaimana bisa syekh Usamah bekerjasama dengan Amerika?

Terakhir adalah dua keterangan dari dua jurnalis asing yang pernah bertemu dengan syekh Usamah. Karena hingga hari ini saya belum mendapatkan buku Satu Dasawarsa Clash of Civilization, jadi saya tidak tahu apakah Karuzzaman Bustaman atau Ust. Farid Wajdi pernah bertemu dengan Syekh Usamah. la menambahkan bahwa Bin Ladin pernah bercerita kepadanya bahwa ia tidak pernah mengambil satu pun peluru dari Barat dan tidak pernah bertemu dengan seorang pun agen Amerika atau Inggris.-Publikasi hasil wawancara Robert Fiske dengan Syekh Usamah-
(Bukan…Tapi Perang terhadap Islam : Dr. Muhammad Abbas ; hal. 308)
Bersambung ke bagian 2…..

Oleh : Sam Fadil A
Jl. Dago Asri III no. J2, Komp. Istana Dago, Bandung
Email : fadil.ar@gmail.com
0818220921 / 08886046959

(Muslimdaily.net/lintastanzhim.wordpress.com)

Pos ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s