Dari Syekh Usamah Kepada Mereka Yang Duduk-Duduk

Syarah Hadits Kaab Bin Malik ra – Sebuah Peringatan Untuk Orang Yang Hanya Duduk-duduk

Syaikh Usamah Bin Ladin memberikan tausiyah yang insya Allah sangat bermanfaat, mengenai Syarah Hadits Kaab bin Malik berikut kutipan dan beberapa link download untuk transkrip Teks terjemahan dari video beliau, dan juga link video Syarah Kaab Bin Malik yang sudah disertai teks terjemah, semoga bermanfaat.

Ka’b bin Malik rodhiyallahu ‘anhu bercerita tentang perang Tabuk yang tidak diikutinya. Padahal dia adalah salah seorang yang hadir, menyaksikan, dan melakukan baiat pada hari dilaksanakannya baiat ‘Aqobah, baiat yang agung yang menjadi tonggak tegaknya daulah islam dengan karunia Allah. Daulah islam tegak di Madinah Al-Munawwaroh, dan kita tidak lain hanyalah salah satu buah dari buah-buahnya yang agung.

Ia menceritakan, Aku tidak pernah absen dari setiap perang yang dilalui rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali kecuali perang Badar. Dan rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mencela seorang pun yang absen pada perang tersebut. Ia termasuk seorang sahabat yang aktif ikut di semua perang rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perang Badar. Ia termasuk yang menikmati berbagai pertempuran dan mempersembahkan lehernya untuk membela laa ilaah illallaah. Namun, manusia tetaplah manusia, yang kadang kala digelincirkan oleh setan, sekali waktu lemah dan tertipu oleh dirinya sendiri. Inilah yang dinyatakan dengan jelas olehnya rodhiyallahu ‘anhu.

Dia melanjutkan, rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengajak untuk berangkat perang ketika hari semakin panas menyengat di saat orang-orang sedang qoilulah di bawah pohon-pohon kurma mereka. Kala itu buah kurma yang ada di pohon sudah mulai tampak matang. Dia berkata, “Waktu itu aku senang dengannya atau condong kepadanya”. Artinya dia condong untuk bernaung dan senang pada buah-buah kurma tersebut. Inilah tabiat jiwa manusia yang dapat kita baca pada orang-orang besar semacam mereka rodhiyallahu ‘anhum. Jika mereka saja ada yang absen dari jihad, maka tidak mengherankan apabila ada orang pilihan pada hari ini yang absen dari jihad, karena orang-orang yang lebih baik dari kita dan mereka saja pernah ada yang absen, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, dalam Shohih Bukhari dan Muslim.

Aku lebih senang dan cenderung kepada pohon-pohon kurma itu. Dia berkata, orang-orang mulai bersiap-siap. Dan aku pun bersiap-siap. Hari pertama berlalu dan Aku belum menyiapkan apapun. Aku berkata, Aku akan mempersiapkan diri besok, namun Aku belum juga melakukan apapun. Aku berkata pada diriku sendiri –perhatikanlah pernyataannya di sini–, Aku berkata pada diriku sendiri, Aku sanggup untuk berangkat bersama mereka. Si jiwa menipu pemiliknya yang biasa berjihad. Dia berkata, ini adalah masalah sepele, Aku bisa berangkat. Aku berkata pada diriku, Aku bisa berangkat dan mampu melakukannya. Dia berkata, Aku masih saja dalam keadaan itu sampai waktu perang berlalu dan rombongan yang menakutkan itu pun berangkat. Suatu rombongan agung yang dipimpin oleh Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam diiringi Abu Bakar, Umar dan para sahabat yang mulia.

Kebanyakan para ahli siroh memperkirakan mereka berjumlah 30 ribu sahabat rodhiyallahu ‘anhum. Di sini, seorang muslim harus ingat akan tipu daya jiwa. Berapa banyak orang yang duduk, berapa banyak orang yang berpangku tangan dari membela laa ilaaha illallaah tertipu oleh jiwanya. Seandainya dia mau pergi, pasti dia telah pergi. Seandainya bapaknya atau pemimpinnya atau penunjuk jalannya ingin berangkat, pasti mereka sudah berangkat. Namun, maslahat islam atas ketidakberangkatannya termasuk ketertipuan yang nyata dan jelas. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Dia tertipu oleh jiwanya, padahal dia sudah berpengalaman dalam berbagai peperangan dan pertempuran. Kaum Anshar adalah kaum yang terbiasa dengan peperangan dan pertempuran. Mereka mewarisi kebiasaan itu dari nenek moyang mereka, namun masih saja dia tertipu oleh jiwanya. Lalu bagaimana dengan orang yang belum pernah berangkat perang sama sekali? Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Bukankah akan sangat mudah bagi jiwa untuk menipu pemiliknya? Mereka, para sahabat, yang hidup dalam kehidupan yang sulit, tidak ada listrik, AC dan tidak ada apa-apa, diperlihatkan padanya buah kurma dan ia pun berat untuk berangkat berjihad. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang longgar dalam hal-hal yang mubah sampai melampauinya, tenggelam dalam kemewahan? Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Bagaimana mungkin mereka tidak tertipu oleh jiwanya, kecuali Allah menghendakinya selamat.

Orang-orang telah berangkat dan Ka’b jatuh dalam dosa besar yang memalukan. Dia duduk tidak ikut membela laa ilaah illallaah. Dia duduk tidak ikut membela tauhid dan akidah. Dia merasa berat karena kenikmatan kehidupan dunia yang masih sangat sedikit di kala itu.

Udara waktu itu panas, di beberapa atsar lain mengisahkan, saat di Tabuk Umar rodhiyahhalu ‘anhu berkata: “Jika salah seorang dari kita keluar menuju tunggangannya, dia akan lehernya terasa mau putus karena saking panasnya”. Lalu apa yang dikatakan oleh para pecinta dunia. Apa kata mereka?

“Dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah: Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)’ jika mereka mengetahui.” (At-Taubah 9: 81)

Pos ini dipublikasikan di Al Jihad, Hukum, Renungan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s