Macam2 Jihad dan Hukumnya

Macam-Macam Jihad
Dan
Hukumnya

I. JIHAD MELAWAN ORANG KAFIR ASLI

A. Dasar Hubungan Antara Umat Islam Dengan Orang Kafir Asli

Para ulama’ berpendapat bahwasanya kekafiran adalah sebab pokok peperangan. Dengan demikian berarti dasar hubungan antara kaum muslimin dengan orang kafir adalah hubungan permusuhan (perang). Oleh karena itu para ulama’ menyatakan bahwasanya jihad itu hukumnya wajib meskipun mereka tidak memulai menyerang kita, sebagaimana yang telah kita bahas dalam bab hukum jihad. Jumhur mengatakan fardlu kifayah meskipun ada juga yang berpendapat fardlu ‘ain. Dalam kondisi jihad fardlu kifayah, jumhur berpendapat minimal satu tahun sekali dan lebih banyak lebih baik. Namun demikian, Imam boleh mengadakan hubungan damai dengan kelompok tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu jika hal itu diperlukan. Namun jika tidak ada kebutuhan untuk itu maka imam tidak boleh mengadakan genjatan senjata begitu saja tanpa adanya keperluan. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat hal itu diperbolehkan jika dalam kondisi darurat. Berkenaan dengan ini akan kami bahas setelah ini – insya Allah -.

Dr. Abdulloh bin Ibrohim bin Ali At-Thuroiqi berkata: Alasan bolehnya (memerangi orang kafir meskipun mereka tidak memerangi) adalah nas-nas secara umum yang memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir secara umum, menunjukkan bahwa semua orang kafir -selain ahlul ‘ahdi- setelah sampai kepadanya dakwah, darahnya menjadi mubah dan tidak makshum.

Dan hal ini telah dinyatakan oleh jumhur ulama’. (Lihat: Badai’ush Shonai’ VII/141, Al-Mughni IX/530-531 dan As-Sailul Jarroor IV/522)

Sedangkan jika sudah didakwahi kemudian mereka besikap damai dan membiarkan orang – orang yang mau masuk Islam akan tetapi mereka tidak mau masuk Islam secara keseluruhan, menurut pendapat jumhur fuqoha hubungannya dibangun di atas dasar hubungan peperangan (lihat Dalalati Nushush wal Ijma ‘ala Daf’il Qital lil Kufri wad difa’ hal 54) kecuali kalau mereka mau membayar jizyah.

Karena sesungguhnya menjadikan agama hanya untuk Alloh itu artinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim: Menjadikan kekafiran dan penganutnya rendah dan hina, serta membebani mereka dengan membayar jizyah untuk setiap anggota keluarga dan budak mereka. Inilah bagian dari agama Alloh dan tidak ada yang bertentangan dengan ini kecuali membiarkan mereka mulia dan memeluk agama mereka dengan sesuka mereka dengan tetap memiliki kekuatan dan suara.[150]

Ini adalah pendapat Imam Syafi’I (Lihat: Ar-Risalah karangan Asy-Syafi’I, hal. 300 dan Qowa’idul Ahkam Fii Masholihil Anaam, karangan Ibnu ‘Abdis Salam II/73) dan apa yang terpahami dari perkataan para fuqaha’ dari madzhab Maliki, madzhab Hambali dan yang lainnya. (Lihat: Bidayatul Mujtahid I/384 dan Dalalatun nushush Wal Ijma’ ‘Ala Fardllil Kufri Waddifa’, hal.18) Kemudian mereka juga berelisih pendapat apakah kekafiran itu sebab diperbolehkannya perang atau sebab diwajibkannya perang, dan yang nampak dari perkataan madzhab Syafi’I bahwasannya kekafiran itu sebab diwajibkannya perang {lihat Al Umm karangan As-Syafi’I IV / 172 dan Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd I / 385}, dan begitu pula perkataan yang lain. Dan yang nampak dari perkataan Ibnu Taimiyyah bahwasannya kekafiran itu sebab diperbolehkanya perang bukan sebab diwajibkannya perang.

Dan inilah pendapat sebagian kecil ‘ulama mu’ashirin. Diantaranya adalah Syaikh Salman Hamdan (lihat: Dalalatun Nushush Wal Ijma’ ‘Ala Fardlil Qital Lil Kufri Waddifa’), Dr. Abdul Karim Zaidan (lihat: Majmu’ah Buhuts Fiqhiyyah, hal.23, risalah Majaster yang diajukan di kuliyah syari’ah di Riyadl fakultas fikih tulisan Iyad Kamil Hilal)

Dalil-dalil yang dijadikan landasan:

· Ayat-ayat yang memerintahkan untuk memerangi orang kafir secara keseluruhan tanpa menyebutkan alasan kenapa mereka diperangi kecuali hanyalah karena kekafiran mereka belaka. Seperti:

1. Firman Alloh:

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Apabila sudah habis bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.” (QS. At-Taubah: 5)

Ibnul ‘Arobi berkata ketika membahas ayat ini: ”Lafadz dalam ayat ini walaupun asalnya terkhusus untuk orang-orang kafir penyembah patung di Arab, akan tetapi sebenarnya ayat ini mencakup semua orang yang kafir tehadap Alloh. Adapun dengan kuatnya lafadz hingga cakupan ayat ini di kembalikan kepada orang-orang musyrik Arab yang yang mempunyai ikatan perjanjian serta orang-orang yang semacam mereka, maka pembahasan tentang orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan yang lainnya adalah mereka diperangi karena adanya sebab disyari’atkannya pembunuhan pada mereka yaitu kesyirikan mereka, namun ada penjelasa secara nas terhadap mereka ini dalam surat ini.[151]

2. Firman Alloh:

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“Dan perangilah orang-orang kafir secara keseluruhan sebagaimana mereka memerangi kalian secara keseluruhan”. (QS. At-Taubah:36)

3. Firman Alloh:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Alloh”. (QS. Al-Baqoroh:193)

Jumhur ahli tafsir menafsirkan “fitnah” dengan kekafiran, artinya perangilah mereka sampai tidak ada kekafiran. [152]

Al-Qurthubi ketika membicarakan ayat diatas berkata: Ayat ini adalah perintah untuk memerangi orang-orang kafir semua orang musyrik di setiap tempat …….dan ini adalah perintah perang secara mutlak, tidak mesti mereka memulai berperang, dalilnya adalah firman Alloh :

وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ

“dan Dien itu hanyalah untuk Alloh”.

Dan sabda Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mengucapkan Lailaha Illallah”.

Ayat dan hadits ini menunjukkan bahwasanya sebab peperangan itu adalah kekafiran, karena Alloh berfirman:

حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ

“Sampai tidak ada fitnah”.

Maksudnya adalah sampai tidak ada kekafiran. Demikianlah Alloh menjadikan tujuan disyari’atkannya perang adalah sampai tidak ada kekafiran dan ini adalah jelas.[153]

Ibnul ‘Arobi ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata: “Masalah kedua adalah bahwasanya sebab disyari’atkannya pembunuhan itu adalah kekafiran sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ini, karena Alloh berfirman sampai tidak ada fitnah. Dengan demikian Alloh menjadikan tujuannya adalah hilangnya kekafiran secara nas dan Alloh menerangkan dalam ayat ini bahwasanya sebab pembunuhan yang menjadikan diperbolehkannya berperang adalah kekafiran”. [154]

4. Firman Alloh:

كُتِبَ عَلَيكُمُ القِتَالُ

“Diwajibkan atas kalian untuk berparang”. (QS.Al Baqarah: 216)

Dan ayat-ayat yang lain. Dan apabila dikatakan bahwasanya ayat-ayat yang memerintahkan perang secara umum bertentangan dengan ayat :

ِ فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ

“Maka jika mereka memerangi kalian, bunuhlah mereka!”. (QS. Al Baqarah :191)

Ayat ini menunjukkan bahwasanya memerangi orang-orang kafir itu wajib jika mereka memulai peperangan, maka sanggahan ini dijawab bahwa hal itu telah mansukh, dan penjelasannya adalah sebagai berikut: Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam pada awalnya diperintahkan untuk memaafkan dan berpaling dari orang-orang musyrik kemudian diijinkan berperang jika mereka memulai peperangan kemudian diperintahkan untuk memulai peperangan pada waktu-waktu tertentu sebagaimana yang tersebut dalam firman Alloh:

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ

“Apabila sudah habis bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka”. (QS. At-Taubah: 5).

Kemudian diperintahkan untuk memulai secara mutlak dimanapun dan kapanpun, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Alloh:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah”. (QS. Al-Baqoroh:193)

Dan firman Nya :

قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan hari kemudian”.

(َQS. At Taubah :29)

Hal ini disebutkan dalam Syarkhul inayah ma’a syarkhi fathil qodir V / 441. karangan Al-Babarty Al-Hanafi.

Hal yang senada dengan ini juga dikatakan oleh Al-‘Aini dalam kitab Syarh beliau terhadap kitab Al-Hidayah yang diberi nama Al-Binayah VI/493.

Al-Qurofi berkata:” Nash-nash Al-Qur’an secara dhohir menyebutkan bahwasanya kekafiran dan kesyirikan adalah yang menjadi alasan peperangan, sebagaimana firman Alloh:

جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

“Berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq serta bersikap keraslah terhadap mereka.” (QS At Taubah : 73)

Dan Firman Nya :

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“Dan perangilah orang-orang kafir secara keseluruhan sebagaimana mereka memerangi kamu secara keseluruhan ”. (QS At Taubah: 36)

Dan juga sabda Rosulullah Shollallahu ‘alaihi Wasallam

قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ

“Perangilah siapa saja yang kafir kepada Alloh…”

Dan sifat yang menjadi alasan terhadap sebuah hukum itu menunjukkan bahwa sifat tersebut menjadi penyebab dan bukan yang lain. (Adz-Dzakhiroh: III/387)

5. Dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Buraidah radiyallahu ‘anhu beliau berkata: ”Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengangkat seorang pimpinan pada sebuah pasukan, beliau memberikan wasiat untuk bertaqwa kepada Alloh secara khusus kepadanya dan juga kepada orang-orang yang bersamanya dengan baik, lalu bersabda:

اُغْزُوا بِاسْمِ اللهِ فِي سَبِيْلِ اللهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ .

“Berperanglah atas nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah siapa saja yang kafir kepada Alloh……”. [155]

6. Dalam hadits lain yang di keluarkan oleh Abu Huroiroh, beliau berkata: Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَمَنْ قَالَهَا فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالُهُ وَنُفْسُهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ

“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laailaha illallah, maka barang siapa yang mengucapkannya harta dan jiwanya terjaga dariku kecuali memang karena haknya dan hisabnya terserah kepada Allah”. [156]

Demikianlah Alloh memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir dan musyrik dengan memberikan alasan bahwa mereka itu orang-orang musyrik dan kafir, tanpa memberikan alasan yang lain selain syirik dan kafir.

7. Anas bin Malik berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

اَلْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُ جُورَ جَائِرٍ وَ لاَ عَدْلَ عَادِلٍ

“Jihad itu senantiasa berjalan sejak Allah mengutusku sampai umatku yang terakhir memerangi Dajjal, tidak akan bisa dibatalkan oleh kejahatan orang yang jahat dan keadilan orang yang adil”. [157]

8. Islam adalah agama yang bersifat universal, agama yang haq dan selainnya adalah agama yang bathil. Semua yang tidak beragama Islam maka dia adalah celaka, oleh karena itu kewajiban muslimin adalah menyelamatkan manusia dari kecelakaan dengan wasilah yang telah diberikan kepada mereka yaitu dimulai dengan dakwah kemudian dengan kekuatan apabila manusia itu masuk Islam maka tercapailah tujuannya kalau tidak maka mereka harus masuk kedalam dzimmatul muslimin atau berdamai dalam jangka waktu tertentu kalau tidak maka yang ada adalah perang (lihat Mabadi’u nidhomil hukmi fil Islam karangan Dr. Abdul Hamid Mutawally hal 293). Sebagaimana disebutkan dalam hadits Buraidah :

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ….إِذَا لَقِيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ أَوْ خِلاَلَ فَأَيَّتُهُنَّ أَجَابُوكَ فَاقْبِلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ

“Apabila kamu menjumpai musuhmu dari orang-orang musyrik maka tawarkanlah kepada mereka tiga perkara, mana saja yang mereka pilih terimalah dan jangan ganggu mereka”. [158]

Kemudian beliau menyebutkan tiga alternatif itu dengan urut yaitu : masuk Islam kemudian bayar jizyah kemudian perang.

Hal ini lebih diperkuat dengan pendapat para ulama’ yang mengatakan bahwa jihad itu hukum asalnya fardlu kifayah meskipun ada yang mengatakan fardlu ‘ain dan bisa menjadi fardlu ‘ain dalam keadaan-keadaan tertentu. Dan tidak seorangpun yang mengatakan sunnah atau bahkan mubah. Jadi dengan demikian jihad itu hukumnya hanya berkisar antara fardlu kifayah dan fardlu ‘ain saja.

· Dalil-dalil yang menunjukkan tidak boleh berdamai dengan orang kafir kecuali memang karena kebutuhan untuk berdamai.

فَلاَتَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ اْلأُعْلَوْنَ

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yanng lebih tinggi kedudukannya.” (QS. Muhammad: 35).

Ayat ini menunjukkan bahwasanya perdamaian bukan dasar hubungan dengan orang kafir.

Adapun perdamaian yang diperbolehkan haruslah terbatas dalam jangka waktu tertentu, tidak melebihi jangka waktu Sulhul Hudaibiyyah.

Imam Syafi’I berkata:”Gencatan senjata dengan orang-orang musyrik itu tidak boleh melebihi sepuluh tahun sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pada tahun Hudaibiyah.[159]

· Dalil – dalil tentang wajibnya berbaro’ kepada orang kafir dan haramnya berwala’ kapada mereka.

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin”. (QS. Ali Imron: 28)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَآءَكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَن تُؤْمِنُوا بِاللهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَآءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَآأَخْفَيْتُمْ وَمَآأَعْلَنتُمْ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِيلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”. (QS Al-Mumtahah:1)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. (Al-Maidah: 51)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَآءَ وَاتَّقُوا اللهَ إِن كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil menjadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertawakallah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”. (QS. Al Maidah: 57).

لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati sebuah kaum yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya”. (QS. Al-Mujadalah: 22).

Hal ini menunjukkan bahwasanya memutuskan hubungan dengan orang – orang kafir itu adalah suatu keharusan. Ini berarti tidak ada perdamaian dan tidak ada toleransi dengan musuh akan tetapi yang ada adalah permusuhan dan peperangan. Dengan demikian maka peperangan adalah dasar hubungan.

Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: ”Sesungguhnya seseorang itu tidak akan lurus Islamnya meskipun telah bertauhid kepada Alloh dan meninggalkan syirik kecuali jika ia memusuhi orang-orang musyrik dan menyatakan dengan tegas kepada mereka kebencian dan permusuhannya”. Dan beliau berdalil dengan ayat diatas”.[160]

· Pendapat Empat Madzhab

1. Madzhab Hanafi

Disebutkan dalam Syarhul ‘Inayah ‘ala Hidayah karangan Al-Babarty Al-Hanafi: ”Dan memerangi orang-orang kafir dan tidak mau membayar jizyah hukumnya adalah wajib walaupun mereka tidak memulai memerangi dengan dalil ayat-ayat yang memerintahkan perang secara umum”. ( Syarkhul inayah ma’a syarkhi fathil qodir V / 441).

As-Sarkhosi berkata: ”Dulu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali diperintahkan untuk memaafkan dan berpaling dari orang-orang musyrik…….Kemudian beliau diperintahkan berperang jika mereka memulai peperangan…….Kemudian beliau diperintahkan untuk memulai memerangi mereka”. (Al-Mabsuth X/2)

Al-Kasani berkata: ” Jika belum sampai dakwah kepada mereka, maka hendaknya kaum muslimin memulainya dengan mendakwahi mereka dengan lesan……Dan mereka tidak boleh menyerang orang-orang kafir sebelum mendakwahi, sebab beriman itu meskipun wajib atas mereka sebelum didakwahi dengan menggunakan akal, namun Alloh mengharamkan memerangi mereka sebelum diutusnya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebelum sampai dakwah kepada mereka sebagai karunia dari Alloh kepada mereka dan menutup pintu untuk baralasan bagi mereka walaupun sebenarnya tidak ada alasan bagi mereka”.[161]

2. Madzhab Maliki

Ibnu Rusyd berkata: Adapun tentang orang-orang yang diperangi, para ulama’ telah sepakat bahwasanya mereka itu adalah seluruh orang musyrik berlandaskan firman Alloh:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Alloh”.

(QS. Al-Baqoroh:193)

Kecuali sebuah riwayat dari Malik bahwasanya beliau berkata: ”Tidak boleh memulai untuk memerangi Habasyah dan Turki berdasarkan riwayat dari Rosululloh shollahu ‘alaihi wasallam. bahwasanya beliau bersada:

عَنْ أَبِي سَكِيْنَةَ رَجُلٌ مِنَ الْمُحَرِّرِيْنَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبَِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ :

ذَرُوا الْحَبَشَةَ مَا وَذَرَتْكُمْ

“Dari Abu Sakinah dari kalangan Muharririn beliau dari seorang sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Biarkanlah Habasyah selama mereka membiarkan kalian”. (HR. Abu dawud 4302 dan An-Nasa’I VI/43-44, dari Abu Sakinah dari kalangan Muharririn beliau dari seorang sahabat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz :

دَعُوا الْحَبَشَةَ مَا وَدَعُوْكُمْ وَاتْرُكُوا التُّرْكَ مَاتَرَكُوكُمْ

“Biarkanlah Habasyah (Ethiopia) selama mereka membiarkan kalian dan tinggalkanlah At-Turk selama mereka meninggalkan kalian” .(Sunan Abu Daud Kitabul Mulakhim no 4302 hal 649)

Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam kitab shohih al Jami’ 1/638 hal 3384.

Namun Imam Malik pernah ditanya tentang keshohihan atsar ini akan tetapi beliau tidak mengakuinya dan berkata: ”Semua orang senantiasa menjauhi berperang melawan mereka”. (Bidayatul Mujtahid I/389)

Al-Qurofi ketika menyebutkan sebab-sebab dilakukannya jihad beliau berkata: ”Sebab pertama yang dianggap pokok dari diwajibkannya jihad adalah menghilangkan mungkarnya kekafiran sebab sesungguhnya kekafiran adalah kemungkaran yang paling besar, dan barangsiapa melihat kemungkaran dan ia mampu untuk menyingkirkannya, maka wajib baginya untuk menyingkirkan kemungkaran tersebut”. Hal ini disebutkan dalam firman Alloh:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Alloh”.

(QS. Al-Baqoroh:193)

Sedangkan yang dimaksud fitnah adalah kekafiran”. (Adz-Dzakhiroh: III/387)

Di dalam Al-Kafi karangan Ibnu Abdil Bar Al-Maliky disebutkan dan setiap orang yang menolak untuk masuk Islam atau membayar jizyah maka diperangi. Oleh karena itu orang laki-laki yang berperang atau tidak berperang dibunuh apabila mereka sudah baligh. Pada bab Al-Muhadanah disebutkan: “Apabila Imam itu terpaksa untuk muhadanah dengan orang-orang kafir harby maka Imam boleh bermuhadanah dengan mereka apabila dia berpendapat harus bermuhadanah”. Dengan demikian berarti hubungan awalnya adalah permusuhan (peperangan).

Ibnu Rusyd berkata: ”Orang-orang kafir itu diperangi hanyalah supaya mereka masuk Islam dari kekafiran bukan untuk mencari kemenangan”. (Muqoddimat Ibnu Rusyd I/351)

Ibnul ‘Arobi ketika membahas ayat:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan agama itu hanyalah untuk Alloh”. (QS. Al-Baqoroh:193)

Beliau berkata: Masalah kedua: “Bahwasanya sebab pembunuhan adalah kekafiran berlandaskan ayat ini, sebab Alloh Subhanahu Wa Ta’ala Berfirman: “Sampai tidak ada fitnah” Alloh menjadikan tujuannya adalah hilangnya kekafiran secara nash dan Dia menerangkan dalam ayat ini bahwasanya sebab pembunuhan yang membolehkan untuk berperang adalah kekafiran”. [162]

Al-Qurthubi ketika membicarakan ayat diatas berkata: ”Ayat ini adalah perintah untuk memerangi orang-orang kafir semua orang musyrik di setiap tempat …….dan ini adalah perintah perang secara mutlak, tidak mesti mereka memulai berperang”. [163]

3. Madzhab Syafi’i

Dalam bab Hudnah pada kitab Al-Muhadzab karangan As-Sunnah-Syairazy Asy-Syafi’I disebutkan: Apabila tidak ada kemaslahatan dalam hudnah maka tidak boleh mengadakan hudnah, karena Allah berfirman :

فَلاَتَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ اْلأُعْلَوْنَ وَاللهُ مَعَكُمْ

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yanng lebih tinggi kedudukannya dan Alloh bersama kalian”. (QS. Muhammad: 35).

Namun jika ada kemaslahatan seperti diharapkan mereka masuk Islam atau membayar jizyah atau mereka mau menolong kita dalam memerangi yang lain, maka boleh bermuhadanah dengan mereka selama empat bulan…. (Al-Muhadzdzab, II/259).

4. Madzhab Hambali

Pada bab Hudnah juga dalam kitab Kasyaful Qona’ karangan Al-Bahuti Al Hambali disebutkan: “Hudnah tidak syah kecuali karena ada kemaslahatan, maka apabila Imam atau wakilnya melihat ada kemashlahatan di dalam bermuhadnah karena kelemahan kaum muslimin untuk berperang atau beratnya peperangan atau diharapkan keislaman mereka atau mereka membayar jizyah atau maslahat – maslahat yang lain maka boleh bermuhadanah“. (Kasyaful Qona’ III / 111 – 112).

Ibnu Qudamah berkata: Dan pasukan dikirimkan setiap tahun untuk menyergap musuh di negara mereka.[164]

Al-Khuroqi berkata: Ahlul kitab dan Majusi tidak harus didakwahi terlebih dulu, karena dakwah sudah sampai kepada mereka. Sedangkan para penyembah berhala didakwahi dahulu sebelum mereka diperangi.

Ibnu Qudamah dalam penjelasannya terhadap perkataan Al-Khuroqi diatas, berkata: Adapun perkataan beliau bahwasanya Ahlul kitab dan Majusi itu tidak mesti didakwahi terlebih dahulu adalah secara umum, karena dakwah telah tesebar luas dan tidak tersisa dari kalangan mereka yang belum mendengar dakwah kecuali sangat jarang sekali. Adapun perkataan beliau bahwasanya para penyembah berhala mesti didakwahi dahulu sebelum diserang, tidaklah secara umum, karena orang yang sudah mendengar dakwah tidaklah mesti didakwahi terlebih dahulu, namun jika diantara mereka ada yang belum mendengar dakwah maka harus didakwahi terlebih dahulu, sebagaimana halnya ahlul kitab yang belum mendengar dakwah, mereka mesti didakwahi terlebih dahulu sebelum diserang. [165]

Ibnu Taimiyah berkata: “Ketika turun surat At-Taubah, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk mendahului seluruh orang kafir dalam memerangi mereka baik ahlul kitab maupun penyembah berhala, baik mereka memerangi maupun tidak”. (Ash-Shorimul Maslul: 220)

Kalau ini sudah kita fahami maka harus diketahui bahwasanya ada beberapa golongan orang yang tidak boleh diperangi dan ditumpahkan darahnya, yaitu orang-orang yang belum sampai dakwah kepada mereka, orang-orang yang mengadakan akad perdamaian dengan kaum muslimin, orang-orang yang bukan ahlul qital (yang disepakati oleh para ulama’ tentang wanita dan anak-anak, sedangkan yang lain menurut jumhur tidak boleh dibunuh juga) dan utusan. Dan ini akan kami bahas sesuai dengan babnya masing-masing.

Dengan demikian maka dapat kita katakan sebagai penjelasan dari semua ini bahwasanya hubungan dasar dengan orang kafir yang jelas-jelas kita tahu bahwasanya mereka belum pernah mendengar dakwah Islam, maka hubungan dasar dengan mereka adalah hubungan damai sampai mereka mendengar dakwah. Jika mereka mau masuk Islam atau mereka mau membayar jizyah maka mereka aman. Namun kalau tidak maka hubungan dasar dengan mereka adalah hubungan permusuhan/perang. Dan jika dalam keadaan darurat atau kalau dibutuhkan kaum muslimin boleh membangun hubungan damai dengan orang-orang kafir. Namun jika tidak ada kebutuhan untuk itu maka kaum muslimin tidak boleh begitu saja membangun hubungan damai dengan orang-orang kafir. Untuk lebih jelasnya lihat pembahasan Muhadanah.

Dr. Abdulloh bin Ath-Thuroiqi berkata: Hubungan dengan orang kafir sebelum didakwahi atau ketika sedang berlangsung proses dakwah kepada mereka maka tidak diragukan lagi hubungan yang ada adalah hubungan damai .

Adapun setelah didakwahi kemudian mereka ngeyel dan memusuhi maka hubungannya adalah hubungan permusuhan/peperangan. [166]

Dan juga golongan yang tidak boleh diperangi adalah orang-orang yang bukan ahlul qital. Dengan demikian maka orang yang diperangi adalah semua orang kafir selain anak-anak dan perempuan atau orang-orang yang tidak mampu berperang. Setelah itu kita bisa katakan bahwasanya sebab disyari’atkannya perang itu adalah kekafiran dengan syarat orang yang diperangi tersebut adalah ahlul qital (orang yang mampu berperang) dan bukan orang yang tidak mampu berperang, sebagaimana yang dikatakan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdulloh bin Bazz:

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ

“maka apabila bukan-bulan haram itu telah habis maka bunuhlah orang-orang musyrik dimana saja kalian jumpai mereka, dan tangkaplah mereka, kepunglah mereka dan intailah di tempat intaian …….” (QS At Taubah : 5)

Dalam ayat ini Alloh memerintahkan untuk membunuh seluruh orang musyrik secara umum, dan menggantungkan sebuah hukum kepada suatu sifat itu menunjukkan bahwa sifat tersebut merupakan sebab alasan. Maka ketika menggantungkan hukum perang itu dengan orang-orang musyrik, kafir dan meninggalkan Islam dan tidak mau masuk Islam, hal ini menunjukkan bahwasanya hal-hal tersebut merupakan penyebab mereka diperangi. Maka alasan disyari’atkannya perang adalah kekafiran dengan syarat ia termasuk orang yang mampu berperang, dan bukan orang selain mereka. Jika mereka termasuk orang yang tidak berkecimpung dalam urusan perang, maka mereka kita perangi sampai mereka masuk Islam atau membayar jizyah jika mereka dari kalangan Yahudi atau Nasrani atau Majusi. Atau mereka sampai masuk Islam saja tanpa ada pilihan yang lain, jika mereka bukan dari tiga golongan tersebut dan jika mereka tidak mau masuk Islam, maka yang ada adalah perang. Terkecuali orang-orang yang tidak berurusan dengan peperangan seperti perempuan, anak-anak, orang buta, orang gila, pendeta, orang yang sibuk beribadah dalam tempat ibadah mereka dan orang-orang yang tidak berurusan dengan peperangan karena mereka tidak bisa berperang sebagaimana yang tersebut diatas, begitu pula orang tua renta, mereka tidak diperangi menurut jumhur ulama’. Karena mereka adalah orang-orang yang tidak ikut campur dalam peperangan. (Majmu’ Fatawa wa Maqolaat Mutanawwi’ah lisy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz III/191) Atau bisa juga kita katakan bahwasanya yang menjadi penyebab adalah kemampuan berperang sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rusyd dari sebagian ulama’.

Baliau Ibnu Rusyd mengatakan: Dan sebab yang mewajibkan perang adalah diperselisihkan oleh para ulama’ karena mereka berselisih pendapat tentang sebab yang mewajibkan membunuh. Yang berpendapat bahwasanya penyebabnya adalah kekafiran, mereka tidak mengecualikan seorangpun dari orang-orang musyrik. Dan mereka yang berpendapat bahwasanya yang menjadi penyebab adalah kemampuan berperang pada larangan membunuh perempuan padahal mereka adalah orang-orang kafir, mereka mengecualikan orang-orang yang tidak mampu berperang dan tidak melibatkan diri dalam peperangan seperti petani dan buruh. (Bidayatul Mujtahid I/384). Dan para ulama’ berijma’ bahwasanya mereka-mereka yang dikecualikan itu tetap diperangi jika mereka ikut berperang atau membantu dalam peperangan, adapun selain mereka tetap diperangi baik mereka ikut berperang maupun tidak karena kalau tidak demikian maka tidak ada bedanya antara mereka dan orang-orang yang masuk dalam pengecualian.

Al-Kasani berkata: Pada dasarnya setiap orang yang bisa berperang, halal dibunuh baik mereka ikut berperang maupun tidak dan semua orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk berperang tidak boleh dibunuh kecuali jika mereka nyata-nyata ikut berperang atau secara tidak langsung dengan memberikan pendapat, ketaatan, motifasi atau yang lain ….. dan jika orang-orang yang tidak halal dibunuh sebagaimana yang kami sebutkan diatas terbunuh, maka tidak ada kewajiban diyat atau kafaroh kecuali taubat dan istighfar, karena darah orang kafir itu tidak dibela kecuali dengan jaminan keamanan, sedangkan jaminan keamanan itu tidak ada”.[167]

· SYUBHAT DAN SANGGAHANNYA

Banyak dari kalangan mu’ashirin berpendapat bahwasanya sekedar kekafiran saja bukanlah sebab peperangan, akan tetapi peperangan itu diwajibkan apabila orang-orang kafir menyerang, artinya peperangan itu dilakukan jika orang-orang kafir menyerang. Dan ini adalah pendapat Jumhurul Bahitsin Al-Mu’ashirin, Diantaranya adalah:

Muhammad Rosyid Ridlo dalam Tafsir Al-Manar II\208,216.

Abdul Wahab Kholaf dalam As-Sunnah-Siyasah Asy-Syar’iyyah, hal. 77.

Abdulloh bin zaid Ali Mahmud dalam Al-Jihad Al-Masyru’ Fil Islam, hal. 7 dan

Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-‘Alaqot Ad-Dauliyah Fil Islam, hal.25 dan halaman selanjutnya.

Dengan demikian maka dasar hubungan antara kaum muslimin dan orang-orang kafir adalah hubungan damai, dan kaum muslimin tidak boleh memerangi orang kafir kecuali jika mereka memulai menyerang. Dan ini adalah pendapat jumhur fuqoha al Mu’ashirin, diantaranya adalah: Muhammad Rosyid Ridlo (Tafsir Al-Manar XI/280), Mahmud Syaltut (Al-Islam ‘AWa syari’atan, hal. 453), Muhammad Abu Zahroh (Al-‘Alaqot Ad-Dauliyah Fil Islam, hal. 47), Abdul Wahab Kholalaf (As-SSiyasah Asy-Syar’iyah, hal. 77), Adulloh bin Zaid Ali Mahmud (Al-Jihad Al-Masyru’, hal.26-27),As-Sayyid Sabiq (Fiqhus Sunnah III/13), Dr. Wahbah Az-Zuhaili (Al-‘Alaqot Ad-Dauli fil Islam, hal. 94) dan Abdulloh Al-Maroghi (At-Tasyri’ Al-Islami lighoiril Muslimin, hal. 26)] mereka menyatakannya dengan jelas-jelas sehingga tidak membutuhkan ijtihad didalam menyimpulkan perkataan–perkataan mereka dengan demikian tidak perlu pula untuk kita paparkan.

Dalam masalah ini Ada yang menisbatkannya kepada pendapat madzhab Hanafi sebagaimana yang terdapat didalam kitab Al-Mabsuth X/30: ”Dan pembunuhan baik disebabkan karena penyerangan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama’ kita atau disebabkan kesyirikan sebagaimana yang dikatakan oleh penentang ulama’ kita.“ (dan lihat pula hal.81 pada juz yang sama) Dan terdapat dalam kitab Al-‘Inayah V/437: ”Dan sebab peperangan adalah karena orang-orang memerangi kita. Namun perlu diperhatikan di disini bahwasanya pengarang kitab ini menyebutkan dalam hal: 441: “Sesungguhnya memerangi orang-orang kafir apabila mereka tidak mau masuk Islam dan tidak mau membayar jizyah hukumnya adalah wajib walaupun mereka tidak mendahului menyerang”. Dalam masalah ini ada pertentangan, oleh karena itu menurut saya, yang dimaksud dengan perkataan madzhab Hanafi: ”Peperangan sebabnya adalah penyerangan”. Maksudnya memang orang-orang kafir itu pasti memerangi kita, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka, dan maksudnya bukanlah mereka itu tidak akan memerangi kita kalau kita tidak memerangi mereka. Maka renungkanlah hal ini.

Syaikhul Islam berkata: Imam Malik sepakat dengan pendapat madzhab Hanafi tersebut begitu pula Imam Ahmad dalam salah satu dari kedua pendapat beliau. [168]

· Dalil-dalil mereka dan jawabannya:

1. Firman Alloh:

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً

“Perangilah orang-orang kafir secara keseluruhan sebagaimana mereka memerangi kalian secara keseluruhan”. (QS. At-Taubah: 36).

Ayat ini menunjukkan bahwa peperangan yang diperintahkan kepada kita adalah sebagai balasan karena mereka memerangi kita, dan inilah penyebab peperangan tersebut.

Firman Allah :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan berperanglah kalian di jalan Alloh melawan orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas”.(QS. Al-Baqoroh: 190).

Maksud “Jangan melampaui batas” adalah jangan memulai untuk memerangi orang-orang musyrik. (lihat: Zaadul Masiir karangan Ibnul Jauzi, I/197)

Jawaban:

Diatas telah kita sebutkan bahwasanya para ulama’ telah berijma’ bahwa perintah jihad yang terakhir adalah memerangi orang-orang kafir meskipun mereka tidak memulai peperangan. Oleh karena itu para ulama’ salaf ada yang berpendapat bahwasanya ayat ini telah mansukh dengan ayatus saif sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwasanya ayat ini tidaklah mansukh akan tetapi yang dimaksud jangan melampau batas adalah jangan membunuh perempuan, anak-anak dan orang-orang yang tidak bisa berperang.

Imam Ath-Thobari berkata: ”Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang tafsiran ayat ini. Sebagian mereka berpendapat bahwasanya ayat ini adalah ayat pertama yang memerintahkan kaum muslimin untuk memerangi orang-orang musyrik. Mereka mengatakan bahwasanya kaum muslimin diperintahkan untuk memerangi orang-orang musyrik yang memerangi kaum muslimin dan membiarkan orang-orang musyrik yang membiarkan kaum muslimin yang kemudian dinasekh dengan surat al-baro’ah.” (Tafsir At-Thobari III/561) Kemudian beliau menukil perkataan itu dari Ar-Robi’ bin Anas dan Abdur Rohman bin bin Zaid bin Aslam, lalu beliau berkata: Sedangkan yang lain mengatakan tidak seperti itu akan tetapi ayat tersebut adalah perintah dari Alloh untuk memerangi orang-orang kafir dan ayat ini tidaklah mansukh, sedangkan melampau batas yang dilarangan maksudnya adalah larangan membunuh perempuan dan anak-anak. Kemudian beliau menukil pendapat kedua tersebut dengan sanad beliau dari Umar bin Abdul Aziz, Mujahid dan Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhum., lalu beliau lebih merojihkan (menguatkan) pendapat yang kedua, karena pernyataan nasekh tanpa dalil adalah tahakkum sedangkan tahakkum tidak bisa melemahkan seorangpun.

Kemudian beliau mengatakan: ….Alloh mengatakan kepada mereka:’Dan berperanglah atas dasar ketaatan kepada-Ku dan atas dasar agama yang Ku syariatkan kepada kalian, dan dakwahilah orang-orang yang berpaling darinya dan melakukan kesombongan dengan tangan dan lidahnya sampai mereka kembali mentaati-Ku atau mereka membayar jizyah dengan penuh rendah diri jika mereka dari kalangan ahlul kitab. Dan Alloh memerintahkan mereka orang-orang kafir yang bisa berperang dan terkecuali orang-orang yang tidak bisa berperang seperti perempuan dan anak-anak mereka, sesungguhnya mereka ini adalah merupakan harta dan budak bagi kaum muslimin jika mereka menang……. (Tafsir At-Thobari III/563-564).

2. Nash-nash yang menyeru kepada perdamai seperti firman Allah :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينُُ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian dalam As-Silm secara keseluruhan, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhya syetan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqoroh: 208)

Jawaban:

Yang dimaksud dengan As-Silmu adalah Islam, Syariatnya dan hukum-hukumnya, sebagaimana pendapat kebanyakan ahli tafsir dan hal ini dipelopori oleh syaikhul mufassirin Ath-Thobari rahimahullah. atau yang dimaksud adalah ketaatan sebagaimana pendapat sebagian mereka.

Dan tidak ada yang berpendapat perdamaian kecuali Qotadah dan orang-orang mu’ashirin yang mengikuti beliau.

At Turaiqi berkata: “Kalau pendapat itu tetap dijadikan hujjah, maka dalil yang digunakan itu lemah”.[169]

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسِّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Alloh. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 61)

Alloh berfirman tentang orang-orang munafiq:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَآءً فَلاَ تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَآءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَلاَتَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا . إِلاَّ الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ أَوْ جَآءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَن يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ وَلَوْ شَآءَ اللهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلاً . سَتَجِدُونَ ءَاخَرِينَ يُرِيدُونَ أَن يَأْمَنُوكُمْ وَيَأْمَنُوا قَوْمَهُمْ كُلَّ مَارُدُّوا إِلَى الْفِتْنَةِ أُرْكِسُوا فِيهَا فَإِن لَّمْ يَعْتَزِلُوكُمْ وَيُلْقُوا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ وَيَكُفُّوا أَيْدِيَهُمْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأُوْلاَئِكُمْ جَعَلْنَا لَكُمْ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama dengan mereka. Maka janganlah kalian jadikan diantara mereka penolong-penolong kalian.Maka jika mereka berpaling maka tawanlah dan bunuhlah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka, dan janganlah kalian menjadikan seorangpun diantara mereka sebagai pelindung dan juga penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum, yang antara kalian dan kaum tersebut telah terikat perjanjian damai atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kalian dan memerangi kaum mereka. Kalau Alloh menghendaki tentu Alloh memberi kekuasaan kepada mereka untuk menguasai kalian, lalu pastilah mereka memerangi kalian. Tetapi jika mereka membiarkan kalian dan tidak memerangi kalian serta mengemukakan perdamaian kepada kalian, maka Alloh tidak memberi jalan kepada kalian untuk melawan dan membunuh mereka. Kelak kalian akan mendapati kelompok yang lain, yang bermaksud supaya aman dari kalian dan aman dari kaumnya, setiap kali mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik) merekapun terjun ke dalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kalian dan tidak mau mengemukakan perdamaian kepada kalian serta tidak menahan tangan mereka untuk memerangi kalian maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka dan merekalah yang Kami berikan kepada kalian alasan yang nyata untuk menawan dan membunuh mereka”. (QS. An-Nisa’: 89-91)

Jawaban:

Dalam ayat ini disebutkan bahwasanya perdamaian itu mereka yang mengajukan dan bukan kaum muslimin dengan cara mereka menyatakan maksud mereka dan dengan syarat mereka tidak ikut campur dalam memerangi kaum muslimin. Dan tidaklah cukup hal itu hanya berupa sikap dan tidak dibarengi dengan pernyataan keadaan mereka kepada kaum muslimin. Oleh karena itu hal ini termasuk bentuk perdamaian yang telah diatur syarat-syaratnya dalam syari’at sebagaimana yang telah kita bahas dalam pembahasan tersendiri tentang sikap netral.

3. Allah tidak mensyari’atkan pemaksaan didalam beragama akan tetapi yang diperintahkakepada manusia adalah agar memilih, sebagaimana firman Allah dalam kitab-Nya

لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqoroh: 256)

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا أَفَأَنْتَ تَكْرَهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِيْنَ

“Dan jikalau Tuhanmu berkehendak, tentulah semua orang di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa semua manusia untuk menjadi orang-orang beriman?” (QS. Yunus: 99)

Ini menunjukkan bahwasanya perang itu tidak disyari’atkan untuk memaksa manusia masuk kedalam agama Islam. Dengan demikian maka dasar hubungan antara kaum muslimin dengan ummat yang lain adalah perdamaian, bukan peperangan. (Lihat: As-Sunnah-Siyasah Asy-Syar’iyyah, karangan Syaikh Kholaf, hal. 74)

Adapun ayat :

لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqoroh: 256)

Adalah bagi mereka yang mau membayar jizyah, dan masuk golongan Dzimmah [170]

Jawaban:

Sesungguhnya selama orang kafir itu bebas memilih antara tiga pilihan; masuk Islam, membayar jizyah dan perang, hal itu berarti tidak ada paksaan untuk masuk Islam, dan dengan demikian juga tidak merubah status dasar hubungan perang antara umat Islam dengan orang kafir. (Lihat Zaadul Masiir I/305)

Dan juga pendapat ini dijawab bahwasanya tujuan peperangan melawan orang-orang kafir adalah menundukkan mereka di bawah kekuasaan kaum muslimin dan menjalankan syari’at Islam di dalamnya dan bukan maksudnya memaksa setiap individu mereka untuk merubah agama mereka. (Majmu’ah Buhuts Fiqhiyyah karangan Dr. Abdul Karim Zaidan, hal. 56)

Atau hal ini juga dijawab bahwasanya Islam adalah agama yang bersifat universal, agama yang haq dan selainnya adalah agama yang bathil. Semua yang tidak beragama Islam maka dia adalah celaka, oleh karena itu kewajiban muslimin adalah menyelamatkan manusia dari kecelakaan dengan wasilah yang telah diberikan kepada mereka yaitu dimulai dengan dakwah kemudian dengan kekuatan apabila manusia itu masuk Islam maka tercapailah tujuannya kalau tidak maka mereka harus masuk kedalam dzimmatul muslimin atau berdamai dalam jangka waktu tertentu kalau tidak maka yang ada adalah perang (lihat Mabadi’u nidhomil hukmi fil Islam karanagnn Dr. Abdul Hamid Mutawally hal 293). Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Buraidah :

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ….إِذَا لَقَيْتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ أَوْ خِلاَلَ فَأَيَّتُهُنَّ أَجَابُوكَ فَاقْبِلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ

“Apabila kamu menjumpai musuhmu dari orang-orang musyrik maka tawarkanlah kepada mereka tiga perkara, mana saja yang mereka pilih terimalah dan jangan ganggu mereka.”[171]

Kemudian beliau menyebutkan tiga alternatif itu dengan urut yaitu : masuk Islam kemudian bayar jizyah kemudian perang.

4. Alloh berfirman:

لاَيَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ .

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. 60:8-9)

Jawaban:

Para ulama’ tafsir berselisih pendapat tentang ayat ini, apakah ayat ini mansukh atau tidak.

Ø Berkata Ibnu Zaid dan Qotadah serta nukilan dari Ibnu Syihab Al-Khofaji bahwasanya ayat ini mansukh dengan ayat-ayat qital dalam surat at-taubah dan ayat-ayat qital yang lain.

Ø Sekelompok ahli tafsir berpandapat bahwasanya ayat ini memperbolehkan untuk berbuat baik atas ijin Alloh kepada perempuan dan anak-anak karena mereka adalah termasuk golongan yang tidak boleh diperangi. Dan mereka berpendapat bahwasanya ayat ini adalah muhkamah (tidak mansukh).

Ø Mujahid berpendapat bahwasanya yang dimaksud dalam ayat ini adalah mereka yang beriman di Mekah dan belum berhijroh, maka Alloh mengijinkan untuk berbuat baik kepada mereka.

Ø Sekelompok ahli tafsir berpendapat bahwasanya ayat ini sebagai rukhshohh untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak memerangi umat Islam dan sebagai dalil atas bolehnya berbuat baik kepada mereka meskipun tidak boleh berwala’ kepada mereka.

Dan Ibnu Jarir Ath-Thobari berkata:”Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah semua orang kafir yang tidak memerangi umat Islam, jika hal itu tidak sampai membuka rahasia umat Islam atau menguatkan mereka dengan persenjataan.” (Lihat:Tafsir Ah-Thobari XXVIII/43 dan lihat Ayatul Ahkam karangan Muhammad ‘Ali As-Sayis IV/139-140)

Sesungguhnya ayat pertama menerangkan bahwasanya Alloh tidaklah melarang kita untuk berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kita, namun ayat itu tidak menyatakan untuk tidak memerangi mereka. Dan berbuat baik itu tidaklah bertentangan dengan memerangi mereka. Kita berbuat baik dan adil kepada mereka sebelum berperang. Kemudian jika kita hendak memerangi mereka kitapun juga berbuat baik dan adil kepada mereka dengan mendakwahi mereka sebelum menyerang. Dan jika kita memerangi merekapun kita berbuat baik dan adil kepada mereka dengan tidak mencincang mayat mereka, tidak membunuh perempuan dan anak-anak serta adab-adab perang yang lain dalam Islam. Dan jika perang telah usai dengan kemenangan di tangan umat Islam, maka kita tetap berbuat baik kepada mereka dengan membuka peluang untuk membebaskan tawanan dan juga berbuat adil dengan menebusnya serta yang lain-lainnya. Dengan demikian maka sebenarnya perintah untuk berbuat baik dan adil kepada mereka tidaklah bertentangan dengan perintah untuk memerangi mereka. Dengan demikian maka yang benar (wallohu a’lam) adalah pendapat yang dipilih oleh Ath-Thobari yaitu bahwasanya ayat tersebut tidaklah mansukh dan tidak pula terkhususkan.

Orang yang memperhatikan kepada dua ayat tersebut ia akan memahami bahwasanya dua ayat tersebut berbicara tentang dua macam manusia yang berbeda, namun kita akan mendapatkan tidak ada perbedaan hukum antara kedua golongan manusia ini. Ayat yang pertama membolehkan untuk berbuat baik kepada golongan yang pertama sedangkan ayat yang kedua tidak melarang untuk berbuat baik kepada golongan yang kedua namun hanya melarang untuk berwala’ kepada mereka dengan ketentuan bahwasanya wala’ juga terputus dari golongan yang pertama berdasarkan keumuman ayat yang melarang untuk berwala’ kepada orang-orang kafir. Artinya berbuat baik dan adil itu bukan diperbolehkan kepada orang kafir ghoiril muharibin (yang tidak memerangi) saja akan tetapi juga diperbolehkan kepada orang-orang kafir muharibun juga. Dalilnya adalah ayat kedua yang melarang untuk berwala’ kepada orang-orang kafir muharibun dan tidak melarang untuk berbuat baik dan adil kepada mereka, bahkan ada nash-nash lain menerangkan atas bolehnya hal itu kepada mereka.

Hal itu telah diingatkan oleh Imam Al-Mathlabi Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I belau mengatakan dalam kitab Ahkamul Qur’an yang ditulis oleh Al-Baihaqi :”Dan hubungan baik dan harta, berlaku adil, berbicara lembut dan surat-menyurat berkaitan dengan hukum Alloh bukanlah termasuk wala’ yang dilarang kepada orang-orang yang dilarang untuk memberikan perwala’an kepada mereka karena memerangi umat Islam. Hal itu karena Alloh membolehkan untuk berbuat baik dan adil kepada orang-orang musyrik yang tidak memerangi umat Islam dan tidak mengharamkannya kepada mereka yang memusuhi, akan tetapi Alloh hanya menyebutkan mereka yang memusuhi lalu Alloh melarang untuk berwala’ kepada mereka. Sedangkan perwalian tidaklah sama dengan berbuat baik dan adil. Dahulu nabi mengambil tebusan dari tawana perang Badar, Abu ‘Izzah Al-Jumahi diantara yang dibebaskan padahal dia telah diketahui permusuhannya terhadap nabi baik dengan lisan maupun dirinya, dan beliau juga membebaskan Tsumamah bin Utsal setelah perang Badar padahal dia sudah dikenal permusuhannya terhadap Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliaupun memerintahkan untuk membunuhnya namun beliau membebaskan setelah tertawan, dan masuk Islamlah Utsamah dan memboikot makanan penduduk Mekkah lalu mereka meminta kepada nabi untuk memberi makanan kepada mereka maka diijinkanlah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Alloh berfirman

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. 76:8)

…… dan tawanan adalah termasuk orang-orang yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya.[172]

5. Jumhurul Fuqoha berpendapat bahwasanya haram membunuh wanita, anak – anak, orang tua dan orang yang semisal dengan mereka dalam pertempuran karena mereka tidak bisa bereperang (lihat Al-Fatawa Al-Hindiyyah II/ 195, Hasyiatud Dasuki II / 176, Al-Kafi karangan Ibnu Qudamah IV / 267, dan Al-Muhalla VII /471 masalah no. 926). Ini menunjukkan bahwasanya memerangi orang – orang kafir itu adalah karena mereka memerangi kita bukan karena sekedar kekafiran saja, karena kalau sebabnya itu hanya kekafiran saja, maka pasti wajib membunuh setiap orang kafir yang mukallaf ( lihat al ‘Alaqot Ad-Dauliyyah fil Islam karangan Az-Zuhaily hal 25-28 ) .

Jawaban:

Hadits-hadits yang melarang membunuh anak-anak dan perempuan hanyalah merupakan dalil-dalil yang menjadi mukhoshshis dari perintah memerangi orang kafir secara umum. Lalu jumhur ulama’ berpendapat bahwasanya anak-anak dan perempuan itu tidak boleh dibunuh disebabkan karena mereka bukan orang yang layak untuk ikut berperang, sehingga mereka menyamakan halnya dengan orang yang sakit, tua renta, para pendeta dan orang-orang semacam mereka. Oleh karena itu mereka mengatakan bahwasanya orang-orang yang diperangi adalah ahlul qital (orang yang layak berperang). Adapun mereka yang tidak berpendapat bahwasanya alasan dilarangnya membunuh perempuan dan anak-anak itu karena tidak mampu berperang, maka mereka tidak mengecualikan selain anak-anak dan perempuan. Dengan demikian maka orang yang diperangi adalah semua orang kafir selain anak-anak dan perempuan atau orang-orang yang tidak mampu berperang. Lalu kita setelah itu bisa katakan bahwasanya sebab disyari’atkannya perang itu adalah kekafiran dengan syarat orang yang diperangi tersebut adalah orang yang mapu berperang dan bukan orang yang tidak mampu berperang, sebagaimana yang dikatakan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdulloh bin Bazz di atas, atau bisa juga kita katakan bahwasanya yang menjadi penyebab adalah kemampuan berperang sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rusyd dari sebagian ulama’.

Al-Qodli Abu Bakar Ibnul ‘Arobi dalam menjawab masalah ini mengatakan: Jika dikatakan: kalau yang menyebabkan bolehnya dibunuh itu kekafiran, maka pasti semua orang kafir dibunuh sedangkan anda membiarkan dari kalangan orang kafir itu perempuan, pendeta dan orang-orang yang telah tersebut diatas. Maka dijawab; sebenarnya kami membiarkan mereka, padahal pada mereka ada alasan untuk boleh dibunuh karena ada manfaat dan maslahat padanya. Adapun manfaatnya adalah menjadikannya budak bagi golongan yang boleh dijadikan budak, maka dengan demikian ia menjadi harta dan pembantu, dan ini adalah ghonimah yang Alloh halalkan. Sedangkan maslahatnya adalah sesungguhnya kalau pendeta itu dibiarkan, hal tersebut akan mendorong para lelaki mereka untuk tidak ikut berperang dengan demikian melemahlah peperangan mereka dan sedikitlah kelompok mereka kemudian kita akan lebih banyak menguasai mereka”.[173]

B. Hukum Jihad Melawan Orang Kafir Asli

Jihad itu ada dua macam, yaitu tholabi dan difa’I. Adapun masing-masing hukumnya adalah sebagai berikut:

1. Jihad Hujumy / Thalaby / Ofensif

Pengertian.
Yaitu: Kaum muslimin mendakwahi orang-orang kafir di negara mereka dan memerangi mereka kalau menolak masuk Islam dan tidak mau membayar jizyah.[174]

b. Hukumnya

Di kalangan ulama ada perbedaan pendapat :

1) Fardhu ‘Ain

Ini pendapat imam Sa’id bin Musayib, sebagian ulama madzhab Syafi’i dan Abdullah bin Hasan.

Dasarnya adalah dalil-dalil Al Qur’an dan As sunah yang mewajibkan berjihad dan mengancam orang yang meninggalkannya dengan kehinaan dan adzab yang pedih, seperti:

§ Dasar Al Qur’an :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ . وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ تُقَاتِلُوهُمْ عِندَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِن قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ . فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمُُ . وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ ِللَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِينَ

“ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan janganlah melampaui batas karena sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas (190). Dan bunuhlah mereka di mana saja kalian berjumpa mereka dan usirlah mere ka dari tempat mereka mengusir kalian dan kesyirikan itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu. Jika mereka memerangimu di tempat itu maka perangilah. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang kafir (191). Jika mereka berhenti dari memusuhi kalian maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (192) Dan perangilah mereka sehingga tidak ada kesyirikan lagi dan agama itu semata-mata milik Allah. Jika mereka berhenti dari memusuhi kalian maka tidak ada permusuhan kecuali atas orang-orang yang dzalim”. [QS. (2) Al Baqarah].

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“ Diwajibkan atas kalian berperang padahal hal itu kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal hal itu baik bagi kalian dan boleh jadi kalian menyenangi sesuatu padahal hal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui”. [QS. 2:216].

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Apabila telah habis bulan-bulan Haram maka bunuhlah orang-orang musyrik di manapun kalian menjumpai mereka dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah mereka di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka (jaminan keamanan). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. {QS. 9 : 5].

قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلاَيُحَرِّمُونَ مَاحَرَّمَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلاَيَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar yaitu orang-orang ahli kitab sampai mereka membayar jizyah dalam keadaan tunduk”. [QS. 9 : 29].

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“Dan perangilah seluruh orang musyrik sebagaimana mereka memerangi kalian semua dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang -orang yang bertaqwa”. [QS. 9:36].

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلأَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ . إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman mengapa jika dikatakan kepada kalian,” Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu ? Apakah kalian puas dengan kehidupan dunia padahal kenikmatan di dunia ini diabandingkan kenikmatan di akhirat hanyalah sedikit . Jika kamu tidak berangkat berperang niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan kalian tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [QS. 9:38-39].

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَالِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan nyawa kalian di jalan Allah. Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahu..” [QS. At Taubah : 41].

§ Dalil as Sunah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْجِهَادُ وَاجِبٌ مَعَ كُلَّ أَمِيْرٍ بِرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا.

“Dari Abu Hurairah ia berkata,” Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Jihad itu wajib baik bersama amir yang shaleh maupun yang fajir (fasiq)”. [HR. Abu Daud].

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَ لَمْ يُحَدَّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ

“Dari Abu Hurairah ia berkata,” Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Siapa mati dan ia belum pernah berperang atau belum berniat ikut perang maka ia mati dalam salah satu cabang dari kemunafikan”. [HR. Muslim].

2) Fardhu kifayah

Ini pendapat jumhur ulama. Dan berikut inilah diantara perkataan mereka:

Imam Muhammad Amin bin Abidin mengatakan,” Jihad itu fardhu kifayah. Setiap kewajiban yang juga diwajibkan atas orang lain namun bila dikerjakan sebagian orang saja sudah cukup hukumnya fadhu kifayah, namun bila tidak cukup oleh sebagian orang maka fardhu ain.”

Dalam Al Bidayah dinyatakan: Jihad itu fardhu kifayah, jika sebagian telah melakukannya maka tidak wajib atas yang lain.

Imam al Kasani menyatakan: ”Jika tidak mobilisasi umum maka hukumhya fardhu kifayah, artinya wajib bagi seluruh orang yang mampu berjihad, tetapi bila sebagian orang sudah melakukannya maka tidak wajib atas yang lain”.

Imam As Sarkhosi berkata: Jihad terbagi dua:

Pertama: Jihad fardhu ‘ain atas setiap orang yang mampu sesuai kesanggupannya yaitu apabila seruan umum panggilan jihad telah dikumandangkan oleh Imam. Dalilnya firman Allah,‘Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat”. (At Taubah :41).

Kedua: Jihad fardhu kifayah, jika telah ditangani oleh sebagian pihak, gugurlah kewajiban itu atas yang lain. Sebab dengan penanganan tersebut berarti target yang diinginkan telah tercapai, yaitu mematahkan kekuatan kaum musyrikin dan meninggikan dienul Islam.

Imam Nawawi mengatakan: ”Adapun hari ini –setelah masa Nabi—jihad itu ada dua : Pertama. Orang-orang kafir berada dalam negara-negara mereka, maka jihad fardhu kifayah…” [175]

Ibnu Qudamah mengatakan: ”Jihad itu fardhu kifayah jika sebagian telah melaksanakan maka kewajiban gugur atas yang lain“.[176]

Imam Ar Rafi’i menyatakan,” Bab Pertama: Wajibnya Jihad. Membicarakan dua hal, pertama kewjibannya :yaitu wajib kifayah setiap tahun sekali”.[177] Beliau juga menyatakan: Adapun sesudah zaman Nabi, orang kafir mempunyai dua kondisi. Pertama. Jika mereka berada di negara mereka tidak bermaksud menyerang kaum muslimin tidak juga mengincar sesuatu dari harta mereka maka jihad hukumnya fardhu kifayah. Jika diwajibkan atas setiap orang pasti penghidupan dan pekerjaan akan tertinggal (terbengkalai) , inilah yang ditunjukkan oleh hadits,” Siapa menyiapkan perbekalan orang yang berperang berarti telah berperang dan siapa mengurus harta dan keluarga orang yang berperang berarti telah ikut berperang.[178]

Imam Ibnu Hazm berkata : “Jihad hukumnya wajib atas kaum muslimin. Jika sudah ada sebagian kaum muslimin yang dapat mengatasi serangan musuh dan menyerang negri-negri kaum kafir serta `melindungi wilayah kaum muslimin, gugurlah kewajiban atas yang lain. Jika tidak (terlaksana dengan sebagian) maka tidak (kewajiban tidak gugur.) Allah berfirman: ”Berangkatlah kalian berperang baik dalam keadaan ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan nyawa kalian”. {QS. At Taubah :41}.[179]

Ibnu Rusyd mengatakan: “Adapun hukum tugas ini maka para ulama telah ijma’ bahwa hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu ‘ain, kecuali riwayat dari Abdullah bin Hasan yang mengatakan tathawu’ (sunah) saja”. [180]

Musthofa al Suyuthi berkata: ”Secara syar’I jihad berarti memerangi orang-orang kafir dan hukumnya adalah fardhu kifayah jika sebagian orang yang mengerjakanya telah menuntaskan maka kewajiba gugur atas selain mereka, kalau tidak maka semuanya berdosa”.[181]

Abdul Baqi Ramdhun berkata: ”Diantara yang disepakati fuqaha’ empat madzhab dan mayoritas ulama adalah bahwa jihad itu fardhu kifayah atas umat Islam minimal sekali dalam setahun, ini jika kaum muslimin menyerang orang-orang kafir di negara mereka untuk membuka dan meluaskan daerah Islam. Adapun jika perang terjadi di negara Islam (defensive) maka hukumnya fardhu ‘ain atas orang yang lebih dekat kemudian yang agak dekat dari medan perang dan seterusnya sampai kecukupan itu terealisir. Jika tidak terealisir maka hukumnya fardhu ‘ain atas seluruh umat Islam di seluruh daerah dan negara”. [182]

Ibnu Rusyd berkata: ”Pada hari ini jihad hukumnya fardhu kifayah yang dilaksanakan oleh pihak yang berkompeten menanganinya berdasarkan kesepakatan alim ulama. Kewajiban jihad gugur jika musuh telah berhasil diusir dan seluruh wilayah kaum muslimin dalam keadan aman, ketika itu hukum jihad menjadi nafilah (mustahab), amalan qurbah (ketaatan) dan termasuk perkara yang dianjurkan.kecuali dalam keadaan darurat, seperti expansi musuh ke salah satu wilayah kaum muslimin, menolong mereka dan mentaati seruan imam untuk membantu mereka wajib hukumnya bagi segenap kaum muslimin”.[183]

Mereka berpijak dengan dalil-dalil sebagai berikut:

§ Dari Al Qur’an .

Dalil-dalil kelompok pertama merupakan nash-nash yang masih umum dan dijelaskan lagi oleh nash-nash lain yang menunjukkan hukumnya tidak fardhu ‘ain, namun fardhu kifayah seperti :

وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak selayaknya orang-orang yang beriman itu berangkat semua ke medan perang, mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan untuk mendalami ilmu dan memberikan peringatan kepada kaumnya jika mereka kembali supaya mereka mendapat peringatan.” (QS. ِAt Taubah :122)

Dipahami dari ayat ini dua hal :

1}. Firman Allah:

”Tidak selayaknya orang- orang yang beriman itu berangkat semua ke medan perang ” artinya tidak benar dan tidak lurus jika seluruh umat Islam yang mampu berangkat ke medan perang karena hal itu akan menyebabkan tidak terurusnya orang-orang di belakang mereka, demikian juga hal-halpendukung jihad tidak akan terurus seperti pabrik senjata, perekonomian, kesehatan dll.

2}. Firman Allah:

”Kenapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk bertafaquh fi dien dan memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali.” Ayat ini tegas memerintahkan dari setiap jama’ah umat Islam harus ada sebagian [besar] yang berangkat perang dengan menyisakan sebagian untuk tafaquh fi dien dan melaksanakan kemaslahatan-kemaslahatan umum lainnya, karena bila tidak demikian jihad justru tidak akan sempurna bahkan target tidak terpenuhi dan justru madharatlah yang timbul.

لاَ يَسْتَوِى الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِى الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”. (QS. An Annisa’: 95).

Ayat ini menegaskan mujahid lebih utama dari orang yang tidak berjihad tanpa adanya udzur dan Allah menjanjikan bagi masing-masing kelompok balasan yang baik. Orang yang tidak berjihad tanpa udzur syar’I tidak berdosa selama yang lain telah melaksanakan jihad dan bisa menuntaskannya dan orang yang duduk-duduk tidak jihad tidak terkena mobilisasi umum.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imron: 104).

Jihad adalah puncak amar ma’ruf nahi munkar, sedangkan amar ma’ruf hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu ‘ain.

§ Dalil As Sunah :

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ بِعْثًا إِلَى بَنِي لَحْيَانَ مِنْ هُذَيْلٍ فَقَالَ: (لَيُبْعَثَنَّ مِنْ كُلَّ رَجُلَيْنِ أَحَدِهِمَا وَ اْلآجْرُ بَيْنَهُمَا) وَ فِي رِوَايَةٍ : لِيُخْرِجَ مِنْ كُلِّ رَجُلَيْنِ رَجُلٌ) ثُمَّ قَالَ : أَيُّكُمْ خَلْفَ الْخَارِجِ فِي أَهْلِهِ وَ مَالِهِ بِخَيْرٍكَانَ لَهُ مِنَ اْلآجْرِ مِثْلَ أَجْرِ الْخَارِجِ.

“Dari Abu Said Al Khudri bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengutus satuan pasukan ke Bani Lihyan dan bersabda,”Hendaklah dari tidap dua orang dikirim seorang dan pahalanya bagi keduanya.” Dalam riwayat lain,”Hendaklah dari tiap dua orang keluar seorang.” Lalu beliau bersabda,”Siapa saja di antara kalian mengurusi keluarga dan harta orang yang keluar berijhad dengan baik, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang keluar berjihad”. [184]

عَنْ زَيْدِ ْبنِ خَالِدِ الْجُهْنِي عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيْلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلْفَهُ فِي أَهْلِهِ وَ مَالِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا.

Dari Zaid bin Khalid al Juhany dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ”Siapa menyiapkan perbekalan orang yang berperang berarti telah berperang dan siapa mengurus harta dan keluarga orang yang berperang berarti telah ikut berperang”. [HR. Bukhari no. 2843, Muslim no. 1895].

§ Dasar sirah/sejarah:

Terkadang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memimpin sendiri sebuah pertempuran / pasukan jihad (ghazwah) dan terkadang mengangkat orang lain sebagai komandan dan beliau tetap di Madinah (sariyah).

Catatan :

· Dalam prakteknya ada sedikit perbedaan pendapat:

a). Menurut jumhur wajib melakukannya minimal sekali dalam setahun, sedang bila lebih dari itu hukumnya sunnah. Dasarnya, jizyah sebagai pengganti jihad hanya wajib sekali dalam setahun.

b). Setiap kali memungkinkan. Menurut Ibnu Hajar pendapat ini kuat. [Fathul Bari VI/28]. Imam Al Qurthubi mengatakan, ”Merasa berat untuk berjihad dengan menampakkan keengganan itu haram.” [Tafsir Al Qurthubi VIII/141]. Pendapat ini menurut DR. Al-Ulyani [hal. 132-133] kuat dengan alasan :

1. Nash-nash yang memerintahkan jihad tidak membatasinya dengan jumlah tertentu. Adapun jizyah bukanlah sebagai pengganti jihad secara mutlak karena terkadang jihad diganti dengan as sulhu (perdamaian).

2. Menyerang musuh setiap kali memungkinkan merupakan hal yang sesuai dengan tujuan jihad itu sendiri. Di antara tujuan jihad adalah menghilangkan kesyirikan dan kekafiran dari seluruh muka bumi, sehingga hukum wajibnya jihad tidak akan berhenti sampai seluruh jengkal tanah di bumi ini tunduk kepada hukum Islam atau ketika kaum muslimin telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk merealisasikan jihad, bukan karena tujuan telah terealisisr namun karena sudah berada di luar kemampuan, sedangkan Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali apa yang dimampuinya.

3. Makna jihad sendiri adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang kafir.

· Makna fardhu kifayah adalah bila sebagian telah melaksanakan dan bisa membereskan tugas maka yang lain yang tidak ikut bekerja tidak berdosa. Jadi harus terselesaikan dulu tugas itu dengan tuntas dan baik, baru bisa dikatakan yang lain tidak berdosa bila tidak melaksanakannya. Bila pekerjaan tidak bisa dtuntaskan oleh sebagian umat Islam maka kewajiban meluas ke umat Islam yang lain sampai akhirnya bisa tertuntaskan. Bila tidak bisa tuntas kecuali bila seluruh umat Islam melakukannya, maka wajib bagi seluruh umat Islam melakukannya tanpa terkecuali. [185]

Ibnu Qudamah mengatakan: “Makna fardhu kifayah adalah jika belum ada orang yang menuntaskan pekerjaan maka seluruh manusia berdosa. Jika sebagian yang melakukannya telah bisa menuntaskan pekerjaan maka kewajiban itu gugur atas yang lain. Awalnya perintah itu mengenai seluruh orang seperti fardhu ‘ain, kemudian berbeda dengan fardhu ‘ain di mana fardhu kifayah bisa gugur kewajibannya dengan sudah dikerjakannya kewajiban oleh sebagian orang, sedang fardhu ‘ain tidak bisa gugur dengan sudah dikerjakannya oleh orang lain”.[186]

Imam Ibnu Abidin mengatakan: “Janganlah engkau mengira kewajiban jihad gugur atas penduduk India dengan sudah berjihadnya penduduk Romawi, tapi jihad itu diwajibkan atas yang paling dekat dengan musuh kemudian yang agak dekat sampai tuntas. Jika jihad tidak tuntas kecuali dengan berperangnya seluruh manusia maka jihad menjadi fardhu ‘ain atas kita sebagaimana shaum dan shalat”.

Imam Al Maidani mengomentari ucapan Al Qoduri (Jihad hukumnya fardhu kifayah dan hukum memerangi orang kafir adalah wajib meskipun mereka tidak memulainya) dengan mengatakan, ”Hukum tersebut di atas berlaku bila pihak yang menanganinya sudah cukup memadai. Namun bila ternyata tidak, maka wajib ditangani oleh kaum muslimin yang terdekat dengan musuh hingga musuh dapat di atasi”. [187]

Kapan Menjadi Fardhu ‘Ain ?

Jihad Thalabi yang asalnya fardhu kifayah akan menjadi fardhu ‘ain jika :

· Ketika imam mengumumkan istinfaar baik untuk orang tertentu maupun untuk seluruh kaum muslimin. berdasarkan :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ اْلأَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ قَلِيلٌ . إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ .
“Hai orang-orang yang beriman mengapa jika dikatakan kepada kalian, ”Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu ? Apakah kalian puas dengan kehidupan dunia padahal kenikmatan di dunia ini dibandingkan kenikmatan di akhirat hanyalah sedikit . Jika kamu tidak berangkat berperang niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksaan yang pedih dan mengganti kalian dengan kaum yang lain dan kalian tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [QS. At Taubah: 38-39].

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَالِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kalian berperang baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat dan berjihadlah dengan harta dan nyawa kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kau mengetahui”. [QS. At Taubah: 41].

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ الْفَتْحِ : لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَ نَيَّـةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا.

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat fathuم Makkah,”Tidak ada hijrah lagi, yang ada jihad dan niat dan jika kalian diminta untuk keluar berperang maka berangkatlah”. [Bukhari. No.].

Diantara perkataan para Ulama yang berkaitan dengan ini:

Imam al Qarafi al Maliky berkata: “Sebab kedua yang juga merupakan sebab yang menjadikan jihad itu fardhu ‘ain. Dalam Al Jawahir disebutkan, Jihad menjadi fardhu ‘ain dengan penunjukkan imam. Siapa ditunjuk imam maka wajib baginya jihad karena mentaati imam”.[188]

Imam Ibnu Hajar berkata: “Berdasar hadits ini wajib keluar untuk berperang bagi orang yang ditentukan oleh imam”. [Fathul Bari IV/].

Imam al Kasani mengatakan: “Jika mobilisasi umum maka jihad tidak terlaksana kecuali dengan berperangnya semua orang, maka jihad menjadi fardhu ‘ain atas setiap individu seperti shaum dan shalat”.

Imam Kholil berkata: “Hukum jihad menjadi fardhu ‘ain bila musuh tiba-tiba menyerang atau bila Imam mencanangkan jihad”. [189]

Al Murghainani berkata: “Jihad hukumnya fardhu kifayah, jika telah dilaksanakan oleh sebagian kaum muslimin, gugurlah kewajiban atas yang lain. Jika tidak ada yang melaksanakannya, maka semua kaum muslimin terkena dosa karena mereka telah meninggalakn kewajiban. Apabilah seruan jihad telah dicanangkan (oleh Imam) hukumnya berubah menjadi fadhu ‘ain”. [190]

Imam Syaukani berkata: Demikianlah hukumnya (yaitu wajib ) bagi setiap orang yang diminta oleh imam untuk ikut serta, ia wajib berangkat. Oleh sebab itu Allah mengancam orang-orang yang tidak ikut berangkat bersama Rasululloh shollallahu ‘alaihi wasallam . Allah berfirman,
إِلاَّ تَنفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

”Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
[QS. At Taubah: 39].
Allah mengecam mereka karena tidak ikut serta. Sebagaimana Allah berfirman :
مَاكَانَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ اْلأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللهِ

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang – orang badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah ( pergi berperang )”.

(Q S. At Taubah :120 ).

Dalil wajibnya memenuhi seruan Imam adalah,

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ ذَالِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat“. (QS. At Taubah : 41). [191]

Imam Ibnul Juzi berkata,” Jihad menjadi fardhu ‘ain dengan tiga sebab :

a) Perintah Imam. Siapa saja ditunjuk oleh imam wajib berangkat.

b) Musuh menyerang sebagian wilayah kaum muslimin. Penduduk wilayah yang diserang wajib melawan. Jika mereka tidak mampu mengatasinya, maka wajib atas kaum muslimin yang terdekat dengan mereka untuk membantu. Jika ternyata juga tidak teratasi, maka wajib bagi segenap kaum muslimin memberikan bantuan hingga musuh dapat diatasi.

c) Membebaskan tawanan-tawanan muslim dari tangan orang-orang kafir.[192]

Ibnu Qudamah berkata: Hukum jihad menjadi fardhu ‘ain dengan tiga sebab :

Pertama: Pada waktu pasukan kaum muslimin bertemu dengan pasukan orang-orang kafir dan berhadapan di medan pertempuran. Bagi yang berada di tempat ketika itu diharamkan melarikan diri. Ia wajib bertempur menghadapi musuh. Dalilnya adalah firman Alloh

كَمَآأَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِن بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. Al Anfal: 5).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَالَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوهُمُ اْلأَدْبَار، وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai orang-orang yang beriman apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerang kalian, maka janganlah kalian mudur membelakangi mereka. Barangsiapa yang mundur membelakangi mereka ketika itu, kecuali berbelok untuk mengatur siasat atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Alloh dan tempat kembalinya adalah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”. (QS. Al-Anfal: 15-16).

Kedua: Bila musuh datang menyerbu negri kaum muslimin, wajib bagi penduduk negri itu untuk berperang menghadapi musuh guna mempertahankan daerah mereka.

Ketiga: Bila imam (kholifah) memerintahkan kaum muslimin untuk keluar berperang. Maka bagi yang di tunjuk oleh kholifah wajib untuk memenuhi seruan. Berdasarkan firman Allah [QS. At Taubah :38-39]. Serta berdasarkan sabda Rasululloh shollallahu ‘alaihi wasallam , ”Jika kamu diminta untuk berangkat (berjihad fi sabilillah) hendaklah kamu segera berangkat”. (HR Muslim dan Ahmad ).[193]

Imam Nawawi menyatakan: Siapa saja memulai perang dan ia tidak mempunyai udzur (yang membolehkan untuk tidak ikut berperang—pent) maka ia wajib bermushabarah (menguatkan kesabarannya). Para shahabat kami mengungkapkannya dengan jihad itu menjadi fardh ‘ain bagi orang yang sebenarnya jihad itu fardhu kifayah baginya ketika peperangan mulai berkecamuk.[194].

Ibrohim bin Abdur Rohim Al-Hudzri berkata: Jihad akan menjadi fardlu ‘ain pada situasi dan kondisi sebagai berikut:

a) Bila musuh menyerang negeri kaum muslimin sebagaimana yang banyak terjadi pada hari ini.

b) Saat Imam menyerukan seruan jihad secara umum.

c) Sewaktu berhadapan dengan musuh, maka ketika itu tidak boleh meninggalkan medan perang.

d) Wajib bagi orang yang telah ditunjuk oleh Imam.

e) Wajib bagi tentara sebuah negri.

f) Ketika mulai pertempuran.

g) Ketika orang kafir menawan beberapa kaum muslimin dan menjadikannya tebusan.[195] Syaikh Ibrohim Adh Dhuwayyan berkata : Jihad menjadi wajib saat dua pasukan saling berhadapan di medan pertempuran, ketika musuh datang menyerbu negri kaum muslimin serta jika imam (kholifah) menyerukan perintah jihad. [Manarus Sabil fii Syarhid Dalil I/283].

· Jika pasukan Islam sudah berhadap-hadapan dengan pasukan musuh.

Dasarnya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَالَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوهُمُ اْلأَدْبَار، وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai orang-orang yang beriman apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerang kalian, maka janganlah kalian mudur membelakangi mereka. Barangsiapa yang mundur membelakangi mereka kertika itu, kecuali berbelok untuk mengatur siasat atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Alloh dan tempat kembalinya adalah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”. (َQS. Al-Anfal: 15-16).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“ Hai orang-orang yang beriman jika kalian bertemu dengan pasukan musuh maka tetaplah kalian pada tempat kalian dan banyaklah berdzikir kepada Allah supaya kalian beruntung (menang)”. [QS.Al Anfaal :45].

اِجْتَنِبُو ا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ. قَالُوا : وَمَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: اَلشِّرْكُ بِاللهِ وَ السِّحْرُ وَ قَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَ أَكْلُ الرِّبَا وَ أَكْلُ مَالَ الْيَتِيْمِ وَ التَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحَفِ وَ قَذَفَ ا لْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ .

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan !!! Para shahabat bertanya: Apa itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: ”Berbuat syirik kepada Alloh, perbuatan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Alloh kecuali dengan alasan yang benar, makan harta riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran dan menuduh wanita mukminah yang baik-baik berzina”.[196]

· Jika ada satu atau lebih muslim yang ditawan musuh. Dasarnya :

وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا

“ Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a,” Ya Allah, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya dzalim ini dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu”. (QS. AnNisa’: 4:75).

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَكُّوا الْعَانِي وَ أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعَوِّدُوا الْمَرِيْضَ.

Dari Abu Musa ia berkata, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Bebaskan tawanan, beri makan orang yang lapar dan jenguklah orang yang sakit”. [197]

Abu Bakar ibnu al Araby al Maliky berkata: Dalam ayat ini ada beberapa masalah;

1). Para ulama kami menyatakan: Dalam ayat ini Allah mewajibkan perang untuk membebaskan tawanan dari tangan musuh meskipun dalam perang itu ada nyawa yang melayang. Adapun mengeluarkan harta untuk menebus mereka lebih wajib lagi mengingat lebih ringan dari mengorbankan nyawa. Para ulama telah meriwayatkan bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beri makanlah orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit dan bebaskanlah tawanan”.

Imam Malik telah mengatakan: Manusia wajib membebaskan tawanan (meskipun menghabiskan–pent) dengan seluruh harta mereka.[198]

Beliau juga berkata: Masalah keempat. Jika mobilisasi umum karena musuh telah menguasai daerah umat Islam atau menguasai tawanan maka mobilisasi itu menjadi umum dan wajib keluar perang baik dalam keadaan ringan maupun berat, berjalan kaki maupun berkendaraan, merdeka maupun budak, orang yang mempunyai bapak keluar tanpa harus minta izin bapaknya demikian juga yang tak mempunyai bapak, sampai agama Allah menang, daerah umat Islam terlindungi, musuh terkalahkan dan tawanan terbebaskan. Dan dalam hal ini tak ada perbedaan pendapat.[199]

Abi Zaid al Qairawany menyatakan: Jihad ada dua: fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu ‘ain untuk membebaskan tawanan, memenuhi nadzar, mobilisasi dari imam dan musuh yang menyerang suatu kaum (daerah umat Islam). [ Kifayatu al Thalib al Rabany li Risalati Abi Zaid al Qairawany 2/2]. [200]

Imam Al Qarafy berkata: Sebab keempat . Imam Al Lakhmy berkata: Membebaskan tawanan berdasar firman Allah.

وَمَالَكُمْ لاَتُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا

“ Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a,” Ya Allah, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya dzalim ini dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu’. [QS. An Nisa’: 75].

Pengarang Shahibul Bayan menyatakan: Wajib bagi imam untuk membebaskan tawanan dengan harta baitul mal. Jika harta baitul mal kurang, maka wajib membebaskan mereka dengan seluruh harta kaum muslimin, masing-masing sesuai dengan kemampuannya. [Adz Dzakhirah 2/387, dari Jama’ah Jihad hal. 53-54].

Para ulama madzhab Hanafy menyatakan: Jika seorang muslimah ditawan di bumi belahan Timur maka wajib bagi umat Islam di bumi belahan Barat untuk membebaskannya selama belum masuk negara kafir. Bahkan dalam kitab Adz Dzakhirah disebutkan wajib bagi setiap yang mempunyai kekuatan untuk mengejar mereka demi membebaskan anak-anak dan wanita yang tertawan meskipun telah masuk negara kafir.[201]

Imam Al Qurthubi mengatakan: Para ulama kami mengatakan: ”Menebus para tawanan itu wajib meski akhirnya tak tersisa (harta umat Islam-pent) walaupun cuma satu dirham”. Ibnu Khuwaizi Mindad mengatakan: Ayat ini

ثُمَّ أَنتُمْ هَآؤُلآءِ تَقْتُلُونَ أَنفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِّنكُم مِّن دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِاْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِن يَأْتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَاجَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيُُفيِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلىَ أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (QS. Al Baqoroh: 85).

……Mengandung wajibnya membebaskan tawanan. Dalam hal ini ada hadits-hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan beliau menebus para tawanan dan menyuruh membebaskan mereka. Itulah yang diamalkan oleh kaum muslimin dan telah tercapai ijma’ dalam hal ini.” Wajib membebaskan tawanan dengan harta baitul mal, kalau tidak maka wajib bagi seluruh kaum muslimin. Siapa di antara mereka sudah melakukannya berarti telah menggugurkan kewajiban itu atas yang lain.” [202]

Beliau juga mengatakan: Imam Malik rahimahullah menyatakan: Manusia wajib menebus tawanan-tawanan mereka sekalipun menghabiskan seluruh harta mereka. Ini juga sudah menjadi ijma’. [Al Qurthubi 2/242]. Dalam buku Radhu al Thalib Syarhu Asna al Mathalib 4/69 disebutkan,” Kalau mereka menawan seorang muslim dan kita masih mempunyai harapan membebaskannya dari tanngan mereka maka wajib ‘ain jihad melawan mereka sekalipun mereka tidak masuk negara kita karena kehormatan seorang muslim lebih besar dari kehormatan negara, juga karena hadits Imam Bukhari, ”Bebaskan tawanan.” Jika kita tidak mempunyai harapan bisa membebaskannya maka jihad tidak menjadi fardhu ‘ain tetapi kita akhirkan karena terpaksa.” [203]

B. Jihad Difa’i / Defensive

1. Pengertian :

Musuh menyerang atau menduduki salah satu wilayah atau lebih dari wilayah umat Islam.

2. . Hukum :

Fardhu ‘ain berdasar kesepakatan ulama.

Jika musuh telah menyerang suatu negeri kaum muslimin maka wajib ‘ain bagi seluruh penduduk negeri itu untuk melawan demikian juga jika musuh telah menguasai daerah atau negara Islam, maka wajib ‘ain bagi setiap umat Islam membebaskannya dari cengkeraman musuh. Dasarnya :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman jika kamu bertemu sekelompok pasukan musuh maka tetaplah kamu ditempat itu dan banyaklah berdzikir supaya kalian menang”.

(QS. Al Anfaal :45)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَالَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوهُمُ اْلأَدْبَار

“ Hai orang-orang yang beriman jika kamu bertemu orang-orang kafir (di medan perang) maka janganlah kalian lari membelakangi mereka.” (QS. Al Anfaal : 15)

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَ هُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“ Dan mereka wajib membantu selain mereka”. [HR. Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad hasan].

Imam Nawawi berkata: Jenis kedua. Jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, yaitu jika orang kafir menduduki negeri kaum muslimin atau menyerangnya dan sudah berada di pintu gerbangnya ingin masuk menguasai namun belum memasukinya, maka hukumnnya fardhu ‘ain.[204]

Ibnu al Arabi berkata: Kadang terjadi kondisi di mana mobilisasi umum itu wajib karena jihad telah menjadi fardhu ‘ain dengan menangnya musuh atas satu daerah dari daerah-daerah kaum muslimin atau berkuasanya musuh di negeri kaum muslimin, maka wajib bagi seluruh orang untuk keluar berjihad. Jika mereka meremehkannya maka mereka berdosa.[205]

Imam al Qurthubi mengatakan: Kadang terjadi kondisi di mana mobilisasi umum itu wajib yang merupakan jenis jihad keempat. Hal itu terjadi ketika jihad telah menjadi fardhu ‘ain dengan menangnya musuh atas satu daerah dari daerah-daerah kaum muslimin atau berkuasanya musuh di negeri kaum muslimin. Jika demikian keadaannya maka wajib bagi seluruh penduduk negeri itu untuk keluar baik dalam keadaan berat maupun ringan, masih muda maupun sudah tua, masing-masing berdasar kemampuannya. Siapa mempunyai ayah tak perlu idzin ayahnya demikian pula yang tak berayah lagi. Dan tidak boleh ada yang tidak ikut keluar berperang baik ia kaya maupun miskin. Jika penduduk negeri itu tak mampu mengusir musuh maka penduduk negara yang berdekatan dan bertetangga wajib ikut mengusir musuh sampai mereka diketahui mampu menahan dan mengusir musuh. Demikian juga setiap orang yang mengetahui mereka lemah tak sanggup mengusir musuh dan ia mengetahui ia bisa bergabung dan membantu mereka maka wajib baginya keluatr berperang”. [Al Qurthubi VIII/151].

Ibnu ‘Abidin mengatakan: Hukum jihad adalah fardhu ‘ain bila musuh menyerang wilayah kaum muslimin, yaitu bagi kaum muslimin yang terdekat dengan wilayah itu. Adapun bagi penduduk yang jauh dari wilayah tersebut adalah fardhu kifayah jika tidak diperlukan untuk membela wilayah yang diserang itu. Tapi kalau mereka dibutuhkan karena penduduk wilayah yang diserang lemah (tidak mampu) mengusir musuh atau tidak lemah namun malas-malasan maka kewajiban melawan musuh menjadi fardhu ‘ain atas penduduk yang lebih jauh dari wilayah itu seperti wajibnya sholat dan shaum. Mereka tidak boleh meninggalkannya, begitu seterusnya sampai akhirnya wajib atas seluruh umat Islam di belahan bumi Timur dan Barat.[206]

Ibnu Abidin berkata: Dan fardhu ‘ain ketika musuh menyerang , maka semuanya keluar berperang meski tanpa izin, suami berdosa jika mencegah istrinya ikut berperang demikian juga semisalnya. Dan harus ada untuk syarat lain untuk berperang yaitu kemampuan. Orang yang sakit selamanya tak wajib keluar, adapun yang bisa keluar namun tidak bisa menahan musuh maka wajib keluar demi memperbanyak jumlah pasukan untuk menakut-nakuti musuh. [207]

Beliau menukil dari penulis kitab An Nihayah dari Adz Dzakhiroh sebagai berikut : “Hukum jihad menjadi fardhu ‘ain bila mobilisasi umum telah di serukan oleh Imam. Fardhu ‘ain atas kaum muslimin yang terdekat dengan musuh.. Adapun kaum muslimin yang jauh dari musuh maka hukumnya fardhu kifayah. Sampai-sampai kewajiban tersebut gugur bila mereka ternyata tidak begitu di butuhkan. Namun bila kaum muslimin yang terdekat dengan musuh tidak mampu menghadapinya atau sebenarnya mampu tetapi melalaikan kewajiban berjihad, maka hukum jihad menjadi fardhu ‘ain atas mereka sebagaimana sholat dan shiyam. Pada saat itu mereka tidak boleh meninggalkan kewajiban tersebut karena keberadaan mereka sangat dibutuhklan, sampai akhirnya menjadi wajib ‘ain atas seluruh kaum muslimin baik di timur maupun di barat sesuai dengan prioritas hukumnya.

Dalam buku Ad Dakhirah di sebutkan: Adapun bagi yang dapat ikut serta meskipun tidak mampu terjun langsung menghadapi musuh, hendaklah ia ikut serta untuk memperbanyak jumlah pasukan kaum muslimin. Dengan demikian musuh akan takut. Hal itu juga di sebutkan dalam kitab Fathul qodir dan Al Bizaajiyyah. Sekiranya ada seorang wanita muslimah yang tertawan di wilayah timur, wajib bagi penduduk wilayah barat untuk membebaskannya. [208]

Imam Al Kasani berkata: Jika mobilisasi umum karena musuh menyerang suatu negeri maka jihad menjadi fardhu ‘ain, wajib atas setiap individu muslim yang mampu berdasar firman Allah (QS. At Taubah: 41), maka seorang budak keluar tanpa harus izin pada tuannya, wanita keluar tanpa harus izin suaminya….demikian juga dibolehkan anak keluar tanpa izin kedua orang tuanya.[209]

Imam Al Juwaini berkata: “Jika orang-orang akfir menduduki negara Islam maka telah bersepakat para ulama bahwasanya jihad menjadi fardhu ‘ain, kaum muslimin harus terbang melawan mereka baik secara rombongan-rombongan atau sendirian. Sampai seorang budak terlepas dari kewajiban taat kepada tuannya dan keluar berjihad secara paksa”. [Ghiyatsu al Umam 258-259, dari As Sa’ady hal. 109].

Ibnu Taimiyah menyatakan: Perang defensive merupakan bentuk perang melawan agresor yang menyerang kehormatan dan agama yang paling penting {kuat}, hukumnya wajib berdasar ijma’. Musuh yang menyerang yang merusak dien dan dunia tidak ada kewajiban yang lebih penting setelah beriman selain melawannya, tidak ada persayaratan, tetapi melawan sesuai yang memungkinkan. Ini sudah ditegaskan para ulama madzhab kami dan selainnya, maka wajib dibedakan antara melawan musuh dzalim kafir yang menyerang dengan jihad melawan mereka di negeri mereka. [Al Fatawa Al Kubra I/236].

Zainudin ibnu Nujeim berkata: Jika kewajiban jihad telah ditangani oleh sebagian kaum muslimin, gugurlah kewajiban itu bagi kaum muslimin lainnya. Jika tidak ada satupun yang menanganinya, maka seluruh kaum muslimin akan mendapat dosa. Ini merupakan penegasan hukum fardhu kifayah. Dalam kitab Al Wajiyyah di sebutkan : tidak selayaknya wilayah-wilayah kaum muslimin kosong dari kaum mujahidin yang siap siaga menghadapi musuh. Jika penduduk suatu wilayah tidak mampu menghadapi musuh sehingga dikhawatirkan binasa, maka kaum muslimin yang terdekat dengan mereka wajib memberikan bala bantuan baik berupa personil, peralatan perang ataupun materi supaya Dienul Islam tetap tegak dan Dakwah Islamiyah tetap dapat disebarluaskan.[210]

Al Qaduri berkata: Jika musuh menyerang suatu wilayah kaum muslimin,maka mereka (kaum muslimin yang berdomisili di situ) wajib mempertahankannya. Sehingga para wanita dan hamba sahaya boleh keluar berperang tanpa harus meminta izin kepada suami dan majikan mereka.

Al Maedani mengatakan: Karena jihad telah menjadi fardhu’ain seperti shalat dan shaum, sedangkan fardhu ‘ain didahulukan aas hak suami dan maula (tuan). [211]

Ibnu Nujaim berkata: Hukum jihad menjadi fardhu ‘ain bila musuh datang menyerang. Kaum wanita dan hamba sahaya diperbolehkan keluar tanpa izin suami dan majikan mereka karena hanya dengan peran serta semua pihak, musuh dapat dihalau sehingga hukum jihad menjadi fardhu ‘ain bagi seluruh kaum muslimin. Terlebih lagi bagi pemuda, ia dibolehkan ikut serta tanpa harus meminta izin kepada kedua orang tuanya. Demikian pula orang yang mempunya tanggungan hutang, boleh ikut serta tanpa izin pemberi pinjaman. Suami atau majikan akan mendapat dosa jika melarang istri atau budaknya ikut serta berjihad.[212]

Imam Ad Dasuqi berkata: Wajib jihad atas setiap orang untuk menghadapi musuh yang menyerang mendadak, sekalipun ia seorang perempuan (istri), budak atau anak kecil. Mereka keluar berjihad sekalipun dilarang oleh wali, suami atau orang yang memberi utang.[213]

Imam ar Ramli berkata: Jika musuh memasuki salah satu negeri kita dan antara kkita dan mereka hanya dipisahkan oleh jarak dibawah jarak qashar maka wajib bagi penduduk negeri itu untuk melawan, termasuk juga orang yang tidak wajib berjihad seperti orang yang faqir, anak-anak, budak, orang yang berhutang dan perempuan.” [Nihayatu al Muhtaj VIII/58].

Ibnu Taimiyah menyatakan: Bahwa kondisi yang membolehkan umat Islam lari dari medan perang ketika jumlah musuh berlipat ganda dari jumlah tentara Islam, yang demikian itu hanya boleh dalam jihad thalaby saja.

Beliau berkata lagi: “Perang defensive seperti ketika musuh banyak dan kaum muslimin tidak mampu melawan mereka namun ditakutkan kalau kaum muslimin menghindar dari musuh, maka musuh akan menyerang orang-orang yang ada dibelakang kaum muslimin, maka dalam kondisi seperti ini para teman kami (ulama’ Hambali) menegaskan wajib bagi kaum muslimin mengerahkan nyawa mereka dan nyawa orang yang mereka takutkan keselamatannya untuk melawan musuh sampai mereka selamat. Contoh semisal adalah ketika orang-orang kafir menyerang negara Islam sedangkan orang yang berperang tidak mencapai setengah, jika mereka menghindar, musuh akan menguasai kehormatan. Ini dan contoh semisal termasuk perang defensive bukan ofensive, sama sekali tidak boleh menghindar dari medan perang dan perang Uhud termasuk dalam bab ini.” [214]

Ibnu Qayyim menyatakan: “Perang defensif itu kewajibannya lebih luas dan lebih umum karena itu wajib bagi setiap individu. Seorang budak berjihad tanpa perlu izin tuannya, anak brjihad tanpa perlu izin orang tuanya, orang yang berhutang tak perlu izin orang yang menghutanginya. Inilah perang kaum muslimin dalam perang Uhud dan Khandaq, dalam perang ini tidak disyaratkan jumlah musuh dua kali lipat kaum muslimin atau kurang dari itu, karena jumlah mereka pada hari Uhud dan Khandaq berlipat ganda dari jumlah kaum musliin. Jihad wajib atas mereka karena jihad defensiv dan darurat, bukan jihad atas pilihan sendiri.”

Dr. Abdulloh Azzam mengatakan: “Para ulama’ salaf dan kholaf dari kalangan ahli hadits, ahli tafsir, ahli fiqih dan ahli ushul fiqih telah menyatakan apabila musuh menyerang sejengkal tanah saja dari negeri kaum muslimin, maka jihad hukumnya menjadi fardlu ‘ain atas penduduk daerah tersebut, seorang perempuan tidak perlu ijin kepada suaminya (dengan mahrom), seorang yang mempunyai tanggungan hutang tidak perlu ijin kepada yang menghutanginya, seorang anak tidak perlu ijin kepada orang tuanya”. [215]

HUKUM JIHAD HARI INI

Jihad hari ini fardhu ‘ain karena terkumpulnya berbagai alasan, antara lain :

1) Musuh yang menyerang dan menguasai satu daerah atau lebih dari daerah-daerah kaum muslimin.

Ini ditandai dengan jatuhnya Andalus (Spanyol) ke tangan orang-orang Nasrani dan terusirnya umat Islam dari sana tahun 1492 M. Sejak saat itu jihad fardhu ‘ain bagi kaum muslimin di Spanyol. Karena mereka tidak mampu mengusir musuh, maka jihad meluas sampai kepada seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Karena sampai hari ini Spanyol belum juga terbebaskan maka jihad samapi hari ini tetap fardhu ‘ain dan kaum muslimin berdosa atas kelalaian mereka membebaskan Andalus.

Pada tahun 1917 M Palestina jatuh ke tangan Inggris dan pada tahun 1948 M berdiri di atasnya negara Israel Raya. Dengan demikian, wajib bagi seluruh umat Islam untuk membebaskan Palestina sampai kapanpun jua.

Daerah Turkistan telah jatuh ke tangan bangsa komunis. Turkistan Barat dijajah oleh Rusia dan dipecah menjadi lima negara kecil : Kirgistan, Turkmenistan, Tajikistan, Uzbekistan dan Kazhaktan. Turkistan Timur dijajah oleh Cina dan diganti menjadi Sinkiang. Di kedua Turkistan ini umat Islam ditindas, bahkan di Turkistan Timur dalam kurun waktu ¼ abad tak kurang dari 26 juta umat Islam telah dibunuh oleh tentara komunis RRC. Sampai hari ini, penderitaan mereka sebagai bangsa muslim terjajah semakin bertambah parah, maka kewajiban jihad menjadi fardhu ‘ain sampai merdeka dari Rusia dan RRC.

Daerah India dahulu oleh daulah Mamalik (Mongol) Islam selama ratusan tahun kemudian jatuh ke tangan Inggris. Setelah merdeka sampai hari ini kekuasaan dipegang oleh kaum paganis Hindu dan umat Islam sebagai bangsa minoritas ditindas. Jihad menjadi fardhu ‘ain sampai India kembali menjadi negara Islam. Masih banyak daerah kaum muslimin hari ini yang berada di genggaman orang-orang kafir meliputi bekas-bekas wilayah Turki Utsmani seperti daerah Balkan, sebagian Rusia, India, dll. Selama daerah-daerah kaum muslimin itu belum terlepas dari tangan musuh maka jihad hukumnya fardhu ‘ain.

Begitu pulalah hukum jihad pada hari ini, Dr. Abdulloh Azzam menyatakannya sebagai fardlu ‘ain sampai seluruh daerah yang pernah dikuasai kaum muslimin terbebaskan dari kekuasaan orang-orang kafir dan kembali lagi ke pangkuan kaum muslimin. [216]

2) Tertawannya ribuan umat Islam di tangan musuh, demikian juga penuhnya penjara dengan para da’i dan umat Islam.

Telah kita sebutkan jika seorang perempuan muslimah tertawan maka seluruh umat Islam harus membebaskannya meskipun menghabiskan seluruh harta mereka, meskipun harus mengorbankan nyawa mereka. Hari ini ribuan nyawa umat Islam terbantai, wanita-wanitanya dinodai, harta mereka dirampas dan mereka tak menemukan perlindungan serta pembelaan, maka jihad menjadi fardhu ‘ain sampai mereka semua mendapatkan haknya seperti semula.

Para penguasa yang murtad. Pemimpin yang murtad karena menerapkan sistem sekuler dan demokrasi serta meninggalkan dan mengganti syariat Islam dengan UU buatan manusia.

Telah disepakati bahwa mengganti hukum Allah dengan UU buatan manusia berarti telah kafir dan murtad. Sistem pemerintahan sekuler merupakan ideologi kufur menurut kesepakatan ulama ulama.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ : بَايَعْنَا – أَيْ رَسُولَ اللهِ – عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَاوَ مَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ عَلَىأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ أَلاَّ نُنَازِعَ اْلأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَّاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ.
Dari Ubadah bin Shamit ia berkata: ”kami membaiat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan senang ataupun benci, ringan maupun berat dan atas para pemimpin yang mementingkan dirinya sendiri dan (kami berbaiat untuk tidak mencabut/memberontak urusan ini (kepemimpinan) dari yang berhak (imam) kecuali kalau kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian mempunyai dasar pasti dari Allah dalam hal itu”. [217]

Imam Al Khathabi berkata: Makna Bawwahan adalah dhahir nyata, dari perkataan mereka, Baaha bisya-i-yabuuhu-bawaahan-(باح بالشيء ـ يبوح ـ بواحا) maknanya mengumumkan dan menampakkannya.[218]

Makna “Kalian mempunyai dasar pasti dari Allah dalam hal itu“ seperti dikatakan Ibnu Hajar adalah: Nash ayat atau khabar (hadits) shahih yang tidak menerima ta’wilan lagi.[219]

Imam Nawawi berkata: Makna kekafiran di sini adalah maksiat. Arti hadits jangan kalian merebut kekuasaan para penguasa dan jangan pula menentang mereka kecuali kalau kalian benar-benar melihat kemngkaran yang nyata yang kamu ketahui termasuk qawai’du Islam. [Syarhu Muslim XII/229].

Imam Nawawi berkata: Al Qadhi (Iyadh) berkata: Jika terjadi kekufuran atau merubah syari’at atau melakukan bid’ah maka ia keluar dari wilayah (hak menjadi imam) dan kewajiban mentaatinya gugur…..dan wajib bagi mereka untuk menjatuhkan imam yang kafir. [Syarhu Muslim XII/229].

Imam Abu Ya’la berkata: Jika terjadi pada diri imam suatu hal yang mencacati diennya maka harus dilihat dahulu, jika ia kafir setelah beriman (murtad) maka ia telah keluar dari imamah (tidak menjadi imam lagi-pent). Hal ini tak ada keraguan lagi karena ia telah keluar dari milah dan wajib diperangi.[220]

Imam Qadli Iyadh berkata: Para ulama telah bersepakat bahwa imamah tidak boleh diberikan kepada seorang yang kafir dan kalau terjadi pada diri seorang imam kekafiran dan merubah syara’ atau bid’ah berarti ia telah keluar dari hukum wilayah (tidak berhak berkuasa lagi-pent) dan kewajiban mentaatinya gugur, wajib bagi kaum muslimin untuk melawannya, menjatuhkannya dan mengangkat imam yang adil jika memungkinkan bagi mereka. Jika tidak bisa dikerjakan kecuali oleh sebuah kelompok saja maka kelompok ini wajib menjatuhkan imam yang kafir ini. [Syarhu Shahih Muslim XII/229].

Imam Ibnu Taimiyah berkata: Seseorang kapan saja ia menghalalkan hal yang telah diijma’I (disepakati) keharamannya atau mengharamkan hal yang telah disepakati kehalalannya atau mengganti syari’at (hukum) yang telah disepakati maka ia telah kafir dan murtad menurut kesepakatan fuqaha’. [221]

Imam Ishaq bin Rahawaih berkata: Para ulama telah bersepakat (ijma’) siapa saja mencela Allah Ta’ala atau mencela Rasulullah atau menolak sesuatu yang diturunkan Allah atau membunuh salah seorang Nabi meskipun ia mengakui hukum Allah, ia telah kafir.[222]

Imam Ibnu Hajar berkata: Imam dijatuhkan jika telah kafir berdasar ijma’. Maka wajib bagi tiap muslim untuk melakukannya. Siapa yang kuat melakukannya maka baginya pahala dan siapa berkompromi maka baginya dosa, sedang siapa yang lema wajib baginya untuk berhijrah dari negara itu. [Fathul Bari XIII/123].

Imam As Safaqasy berkata: Mereka telah sepakat bahwa seorang khalifah jika mengajak kepada kekufuran atau bid’ah maka ia direvolusi /dijatuhkan secara paksa.[223]

Merupakan satu hal yang mustahil para pemimpin yang kafir menyerahkan kekuasannya kepada umat Islam secara suka rela. Untuk mengangkat seorang pemimpin yang muslim dan menegakkan syariat Allah tentu akan mereka hadapi dengan kekuatan, sehingga jihad merupakan alternatif yang tidak boleh tidak harus ditempuh. Jalan lain seperti dakwah, tarbiyah apalagi parlemen terbukti gagal menundukkan kekuatan penguasa kafir.

Mereka ini wajib diperangi dan perangnya termasuk jihad difa’i. Memerangi mereka lebih wajib dari memerangi orang yang sejak awal telah kafir seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, dengan beberapa alasan :

· Jihad difa’i itu fardhu ‘ain dan didahulukan atas jihad hujumy. Dalam kondisi jihad difa’i, musuh wajib dilawan sesuai kemampuan tanpa harus ada syarat macam-macam.

· Para penguasa ini telah murtad. Ibnu Taimiyah berkata,” Kufur murtad itu secara ijma’ lebih parah dari kufur asli. As Sunah etelah tetap menyatakan hukuman bagi orang murtad lebih parah dari hukuman bagi orang kafir asli karena itu As Shidiq dan para shahabat memulai dengan berjihad melawan orang-orang murtad sebelum berjihad melawan orang-orang Ahlu kitab.” [224]

· Para penguasa ini merupakan musuh yang lebih dekat dengan kaum muslimin karena itu jihad melawan mereka harus didahulukan. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”. (QS. At Taubah:123).

3) Para penguasa yang murtad ini merupakan kelompok yang menolak memberlakukan syariat.

أمرت أن أقااتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله و فإذا قالوها عصموا مني دماءهم و أموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله.

Rasululullah shollallahu ‘alaihi wasallam: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada Ilah yang brhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mengatakann hal itu maka mereka telah menjaga darah dan harta mereka, sedang perhitungan (amal) mereka urusan Allah”. [225]

Ibnu Taimiyah berkata: Setiap kelompok yang menentang/menolak untuk melaksanakan syariat-syariat Islam yang dhahir seperti kaum Tatar atau lainnya, wajib diperangi sampai melaksanakan syariat Islam, sekalipun mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan sebagian syariat-syariat Islam , sebagaimana Abu Bakar dan para shahabat memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat. Hal ini disepakati para fuqaha’ sesudah shahabat. [226]

Ibnu Rajab al Hambaly berkata: Termasuk hal yang ma’lum bi dharurah bahwasanya Nabi menerima setiap orang yang datang ingin masuk Islam dengan kalimat syahadat saja dan beliau menjaga darahnya (hanya) dengan dua kalimat syahadat itu dan menjadikannya muslim.

Beliau juga mengingkari Usamah bin Zaid yang membunuh orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah saat pedang sudah hampir membunuhnya dan Nabi mengingkari secara keras hal ini.

Dua kalimat syahadat ini sudah cukup untuk menjaga orang yang mengucapkannya dan dengannya seseorang menjadi muslim. Jika telah masuk Islam, jika ia mengerjakan shalat, mengelurakan zakat dan mengerjakan syariat-syariat Islam maka ia mendapatkan hak yang menjadi hak umat Islam dan berkewajiban sebagaimana layaknya umat Islam yang lain. Jika meninggalkan sebagian rukun-rukun ini yang mempunyai kekuatan maka diperangi…..Beliau menjadikan sekedar memenuhi ajakan bersyahadatain sebagai penjaga darah dan harta (artinya harta dan nyawanya terjaga-pent) kecuali dengan hak syahadatain (alasan yang benar), dan diantara hak syahadatain adalah menolak mengerjakan shalat dan zakat setelah masuk Islam, sebagaimana hal ini dipahami oleh para sahabat. Di antara dalil yang menunjukkan diperanginya kelompok yang menolak menegakkan shalat dan menunaikan zakat dalam Al Qur’an adalah firman Allah :

فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat maka biarkanlah mereka”. [At Taubah :5].

فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat menunaikan zakat maka mereka menjadi saudara seagama kalian”. [QS. At Taubah :11].

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ

“Dan perangilah merekasampai tidak ada lagi kekafiran dan seluruh dien menjadi milik Allah semata”. [QS Al Anfaal: 39].

وما أمروا إلا ببعبدوا الله مخلصن له الدين حنفاء و يقيموا الصلاة و يؤتواالزكاة و ذلك دين القيمة.

“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk memurnikan dien ini untuk Allah semata, (untuk) mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah dien yang lurus”. [Al Bayyinah ;5]. [Jamiul Ulum wal Hikam hal. 80].

Beliau juga berkata: Hukum orang yang meninggalkan seluruh syariat Islam adalah diperangi sebagaimana diperanginya orang-orang yang meninggalkan shalat dan zakat.

Ibnu Syihab meriwayatkan dari Handzalah bin Ali bin Al Asqa’ bahwasanya Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid dan memerintahkannya untuk memerangi manusia karena lima hal, Siapa meninggalkan salah satu dari lima hal itu maka ia diperangi sebagaimana kalau meninggalakan kelima-limanya, yaitu: syahadatain, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan shoum Ramadhan.

Said bin Jubair berkata; Umar berkata: Kalau manusia meninggalkan haji tentulah mereka akan kami perangi sebagaiamana kami memerangi mereka disebabkan shalat dan zakat telah mereka tinggalkan. Pembicaraan ini dalam masalah diperanginya kelompok yang menolak mengerjakan salah satu dari kewajiban-kewajiban ini. [Jamiul Ulum wal Hikam 82].

Imam Nawawi berkata: Dalam hadits ini ada hukum wajibnya memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat atau mengerjakan shalat atau kewajiban Islam selain keduanya baik sedikit maupun banyak berdsar perkataan Abu Bakar,” Kalau mereka menolak membayar iqalan atau inaqan.” Imam Malik berkata,” Masalahnya menurut kami setiap orang yang menolak salah satu faridzah dari faridzah-faridzah Allah dan kaum muslimin tidak bisa mengambil darinya maka wajib bagi mereka untuk berjihad sampai mampu mengambil hak itu darinya.” [Syarhu Muslim 1/212].

Ibnu Taimiyah berkata: Al Hamdulillah, seluruh ulama’ kaum muslimin telah bersepakat bahwa setiap kelompok yang menolak (mentaati) salah satu syari’at dari syari’at-syari’at Islam yang dhahirah mutawatiroh maka wajib diperangi sampai seluruh dien ini menjadi milik Allah semata, sekalipun mereka mengatakan kami sholat dan berzakat, atau mengatakan kami sholat lima waku dan tidak sholat Jum’at dan sholat jama’ah atau kami melaksanakan rukun Islam yang lima namun tidak tidak menghormati harta dan nyawa umat Islam atau kami tidak meninggalkan riba, khomer, judi atau tidak mengikuti Al Qur’an, tidak mengikuti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan tidak mengamalkan hadits-hadits tsabitah dari beliau atau kami meyakini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari mayoritas umat Islam dan Ahlu kiblat (umat Islam) telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan tidak tersisa lagi di antara mereka orang mukmin selain kelompok kecil saja …atau mengatakan kami tidak berjihad melawan orang-orang kafir atau perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan dengan syariah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan sunah beliau dan apa yang diakui oleh jama’ah muslimin (umat Islam) , maka wajib berjihad melawan seluruh kelompok ini sebagaimana umat Islam berjihad melawan orang-orang yang menolak membayar zakat dan berjihad melawan Khawarij dan seluruh jenisnya, demikian juga berjihad melawan Khharmiyah, Qaramithah, Bathiniyah dan Ahlul ahwa’ dan bida’ lain yang keluar dari syariah Islam…[227]

Beliau Ibnu Taimiyah berfatwa: Kewajiban waliyul amri adalah menyuruh setiap orang yang mampu untuk mengerjakan shalat yang lima dan menghukum orang yang orang yang meninggalkannya berdasar ijma’ kaum muslimin. Jika yang meninggalkan shalat itu sebuah kelompok yang menolak maka mereka diperangi karena meninggalkan shalat berdasar ijma’ kaum muslimin, demikian pula mereka diperangi karena meninggalkan zakat, shaum dan kewajiban lainnya dan atas sikap menghalalkan yang haram lagi dhahir dan diijma’I seperti menikahi mahram, membuat kerusakan di bumi dan lain-lain. Setiap kelompok yang menolak mengiltizami syariah dari syariah-syariah Islam yang dhahirah mutawatirah maka mereka wajib diperangi sampai seluruh dien manjadi milik Allah semata berdasar kesepakatan ulama.[228]

Beliau juga berfatwa tentang memerangi Nushairiyah: …Tidak diragukan lagi memerangi mereka dan menegakkan hudud atas mereka termasuk sebesar-besar ketaatan dan sebanyak-banyak kewajiban dan lebih utama dari merangi orang-orang musyrik dan ahlul kitab yang tidak memerangi kaum muslimin, karena memerangi Nushairiyah berarti menjaga negeri Islam yang dibuka sedang jihad melawan orang-orang musyrik dan ahlul kitab yang tidak memerangi kita berati menambah / tambahan dari idharu dien, padahal menjaga yang pokok dikedepankan atas menjaga yang cabang. [Al Fatawa Al Kubra IV/215].

Imam Asy Syaukani mengatakan: Siapa meninggalkan rukun Islam dan seluruh faridzah Islam dan menolak perkataan dan perbuatan yang wajib ia kerjakan dan ia tidak melaksanakan selain mengucapkan dua kalimat syahadat maka tidak diragukan lagi orang ini sangat kafir dan darahnya halal. Terjaganya harta itu terlaksana dengan melaksanakan rukun-rukun Islam. Bagi umat Islam yang tinggal bertetangga dengan orang kafir ini wajib untuk mengajaknya melaksanakan hukum-hukum Islam dan kewajiban-kewajibannya dengan sempurna dan mencurahkan ta’lim kepadanya, melembutkan perkataan kepadanya, membuat urusannya adalah mudah , menghasungnya dengan pahala-pahala amalan dan menakutinya dengan siksaan Allah. Jika nasehatnya diterima dan ia bertaubat maka ia terus menguatkan nasehatnya atau menyerahkannya kepada orang yang lebih paham tentang hukum-hukum Islam. Jika orang yang kafir ini tetap terus kafir maka wajib bagi kaum muslimin yang mengetahui hal itu untuk meranginya sampai ia mau melaksanakan hukum-hukum Islam secara sempurna, jika tidak mau mengerjakan maka nyawa dan hartanya halal, hukumnya hukum orang jahiliyah……[229]

Beliau juga berfatwa: Orang yang meninggalkan rukun-rukun Islam atau sebagiannya dan ia terus meninggalkan serta tidak bertaubat maka wajib diperangi sesuai kadar kemampuan. Demikianlah syari’ah yang suci datang (aturan syariah-pent) yang mengenai setiap orang yang melakukan hal yang haram atau meninggalkan hal yang wajib. [230]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: Banu Ubaid yang menguasai Maghrib dan Mesir pada masa Bani Abbasiyah mereka semua bersaksi tiada Ilah selain Allah dan Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam utusan Allah, mereka mengaku muslim, mereka juga melaksanakan shalat Jum’at dan jama’ah. Ketika mereka menampakkan perselisihan mereka terhadap syari’ah dalam beberapa hal yang kita (umat Islam, ahlu sunah, pent) kerjakan maka para ulama bersepakat mereka itu kafir dan wajib diperangi dan negeri mereka negera kafir dan kaum muslimin menyerbu mereka sampai mampu merebut negara-negara Islam yang ada di tangan mereka.[Majmu’atu at Tauhid hal. 93].

4) Runtuhnya khilafah Islamiyah sejak 1924 M.

Para ulama telah bersepakat menegakkan khilafah wajib hukumnya.

Imam Ibnu Hazm berkata: Seluruh Ahlu Sunah, seluruh Murji’ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij telah mensepakati wajibnya imamah dan bahwasanya umat wajib mentaati imam yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah dan mengatur mereka dengan hukum-hukum syari’ah yang dibawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam (tak ada yang menyelisihi kesepakatan ini) kecuali kelompok Najdat dari kalangan Khawarij yang berkata,” Manusia tidak wajib mempunyai imamah yang penting mereka saling memberikan hak. [231]

Imam Al Qurthubi berkata: Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya imamah di antara umat Islam demikian juga para ulama kecuali riwayat (pendapat) dari Al Asham yang memang buta terhadap syari’ah, demikian juga setiap orang yang sependapat dan mengikuti pendapatnya. [Tafsir Qurthubi 1/264].

Imam Syaukani berkata: Jika disyariatkan mengangkat amir untuk tiga orang yang berada di tempat yang luas atau bersafar maka pensyariatannya untuk jumlah yang lebih besar yang menempati desa-desa dan kota-kota dan dibutuhkan untuk mencegah kezaliman dan menyelesaikan persengketaan lebih penting dan lebih berhak lagi. Karena itu hal ini menjadi dalil bagi yang berpendapat,” Wajib bagi kaum muslimin untuk menegakkan pemimpin, para wali dan penguasa [Nailul Authar VIII/288]. Wallahu A’lam bish Shawab.

C. Orang-orang Kafir yang Mendapat Keamanan

Di atas telah di bahas bahwasanya orang kafir itu pada dasarnya darah dan hartanya tidak maksum. Dan mereka akan aman dari kaum muslimin hanya dengan salah satu dari dua pilihan baik dengan amaan (jaminan keamanan) atau dengan imaan (masuk Islam).

Namun disana masih ada tersisa orang-orang yang tidak boleh dibunuh meskipun tidak ada akad jaminan keamanan. Dan berikut ini akan dipaparkan masing-masing pembahasannya:

C.1. Al-Amaan (Jaminan Keamanan)

Al-Amaan secara bahasa adalahh kebalikan dari Al-Khouf (takut), adapun secara syar’I adalah sebuah akad yang diberikan oleh seorang imam atau yang lainnya dari kalangan kaum muslimin yang berakal dan sudah baligh untuk orang harbi baik perorangan maupun kelompok yang diperbolehkan untuk diberikan keamanan masuk ke Darul Islam dan memenuhi kebutuhannya baik keilmuan, perdagangan atau hal-hal lain yang mereka inginkan, dengan syarat pekerjaan mereka tidak membahayakan Daulah Islamiyah.[232]

Ar-Rofi’I berkata:” Pada jaminan keamanan terdapat unsur meninggalkan pembunuhan dan peperangan, akan tetapi kadang-kadang untuk meraih kemaslahatan, menuntut untuk itu, baik untuk memberi motifasi orang kafir untuk masuk Islam, sebagaimana firman Alloh:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ

“Apabila diantara orang musyrik itu meminta keamanan, maaka berilah keamanan”. (QS. At-Taubah:6)

Atau untuk mengistirahatkan pasukan atau untuk menertibkan kembali urusan-urusan mereka, atau memang orang kafir perlu untuk diijinkan masuk.dan kadang-kadang jaminan keamanan ini menjadi suatu bentuk setrategi peperangan. [233]

Jaminan kemanan ada dua macam, yaitu ada yang mu’abbad (tidak terbatas) ada yang mu’aqqot (terbatas). Adapun yang mu’aqqot ada dua macam, yaitu jaminan keamanan secara umum dan jaminan keamanan secara khusus. Jaminan keamanan secara umum adalah jaminan keamanan terhadap suatu daerah atau negara tertentu, dan ini khusus hanya boleh diberika oleh imam dan inilah yang disebut dengan Muhadanah. Sedangkan jaminan keamanan secara khusus yaitu jaminan keamanan perorangan, baik dari imam maupun yang lain. ”[234]

Sedangkan jaminan keamanan mu’abbad hanyalah diberikan kepada ahludz dzimmah.

a. Al-Amaan Al-Mu’aqqot (Jaminan keamanan sementara).

1. Jaminan keamanan khusus

Yaitu jaminan keamanan perorangan, baik dari imam maupun yang lain. Dan jaminan keamanan ini diperbolehkan dalam Al-qur’an dan As-Sunnah.

Adapun dalil dari Alqur’an adalah firman Alloh: jaminan keamanan kepada seorang harbi yang memasuki wilayah kita, dan jaminan ini selesai dengan selesainya urusan dan kepentingan dia. Dan mereka ini ada empat macam, yaitu:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ

“Apabila diantara orang musyrik itu meminta keamanan, maka berilah keamanan sampai dia mendengarkan kalamulloh, kemudian kembalikanlah ia ketempatnya yang aman”. (QS. At-Taubah: 6)

Artinya kalau diantara orang-orang musyrik yang tidak terikat perjanjian dengan kamu itu datang kepadamu dan meminta keamanan kepadamu, maka berilah ia keamanan sampai ia mendengar ayat-ayat Alloh dan merenungkannya serta mengetahui hakikat Islam, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang ia merasa aman di sana. Pengambilan dalilnya adalah bahwasanya Alloh mengizinkan kepada Nabi-Nya untuk memberikan keamanan kepada siapa saja yang memintanya. Dan prmohonan keamanan di sini umum mencakup jaminan keamanan untuk menyebarluaskan ilmu, perdagangan, untuk mendengarkan ayat-ayat Alloh dan sebab-sebab lain yang membutuhkan jaminan keamanan. Adapun firman Alloh yang berbunyi:

حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ

“….. sampai dia mendengarkan kalamulloh ….”

Ini adalah menunjukkan hikmah dari pemberian jaminan keamanan, karena apabila orang yang dibari jaminan keamanan tersebut masuk negeri kaum muslimin dan tinggal ditengah-tengah mereka, ia akan mendengar kalamulloh dari kaum muslimin dan mengetahui tujuan-tujuan dari dinul Islam dan seringkali hal ini menjadi penyebab keislamannya.

Adapun dalil dari As-Sunnah adalah riwayat Al-Bukhori dari Ali ra. Bahwasanya Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذمة المسلمين واحدة يسعى بها أدناهم فمن أخفر مسلما فعليه لعنة الله و الملائكة و الناس أجمعين

“Dzimmah (janji, keamanan, kehormatan) kaum muslimin adalah satu yang mana orang tersedikit mereka boleh mengusahakannya, maka barang siapa memutuskannya maka baginya laknat dari Alloh, para Malaikat dan seluruh manusia”. [235]

Hadits ini menjelaskan bahwa memberikan jaminan keamanan adalah hak seluruh kaum muslimin, maka kalau diantara mereka ada yang memberikan jaminan keamanan kepada orang kafir, maka wajib dihormati dan ditepati. Maka ini adalah dalil atas disyari’atkannya memberikan jaminan keamanan untuk segala hal yang tidak membahayakan kaum muslimin.[236]

2. Hudnah / Muwada’ah

Hudnah dinamakan juga dengan muwada’ah atau mu’ahadah atau musalamah atau muhadanah.[237] Namun yang paling banyak digunakan adalah istilah hudnah.[238]

Al-Hudnah berasal dari kata Al-hudun yang berarti As-Sukun (diam), dinamakan demikian karena dengan hudnah ini tidak lagi terjadi fitnah.[239]

Sedangkan secara syar’I hudnah adalah berdamai dengan lawan perang untuk tidak berperang dalam jangka waktu tertentu, baik dengan tebusan atau tidak, baik mereka yang boleh dibiarkan memeluk agama mereka atau tidak.[240]

Ibnu ‘Arofah berkata: Al-Muhadanah adalah perdamaian. Seorang muslim berdamai dengan seorang harbi sesaat dan dia tidak terikat dengan hukum Islam.[241]

Dasarnya adalah:

Firman Alloh:

بَرَآءَةٌ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدتُّمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Inilah pernyataan pemutusan perhubungan dari Alloh dan Rosul-Nya kepada orang-orang musyrik yang kalian telah mengikat perjanjian dengan mereka”. (QS. At-Taubah: 1)

وَإِنْ جَنَحُوْا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Alloh. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Anfal: 61)

· Shulhul hudaibiyah yang dilakukan Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam dengan Quroisy.

· Ijma’ para ulama’ atas bolehnya mengadakan hudnah dengan syarat-syarat tertentu.[242]

Syarat-syarat Hudnah:

1. Yang mengadakan haruslah Imam atau orang yang telah diberi ijin oleh Imam. Karena ini adalah urusan yang besar sebab dengan hudnah ini berarti meninggalkan jihad secara mutlak, karena Imam yang bertanggungjawab atas urusan orang banyak.[243]

2. Adanya kebutuhan.

Diantara syarat terpenting dalam madzhab Hanafi adalah keadaan darurat, untuk mempersiapkan peperangan apabila kaum muslimin lemah dan orang-orang kafir kuat. Karena Muwada’ah adalah meninggalkan peperangan yang hukumnya wajib, dan dengan syarat diatas maka dengan itu tetap dalam bingkai peperangan. Hal ini sesuai dengan firmanAlloh:

فَلاَتَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ اْلأُعْلَوْنَ وَاللهُ مَعَكُمْ وَلَن يَّتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yanng lebih tinggi kedudukannya dan Allo-pun bersama kalian, dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amalan-amalanmu”. (QS. Muhammad: 35).

Adapun madzhab Maliiki, Syafi’I dan Imamiyah tidak memberikan syarat kecuali kemaslahatan bagi kaum muslimin, dan begitu pula yang nampak dari perkataan madzhab Hambali, dan kadang-kadang tidak karena darurat. Dan inilah yang lebih benar menurut pendapat kami, karena shulhul hudaibiyah yang dilakukan oleh Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bukanlah karena disebabkan keadaan darurat. Dengan demikian ketika dalam keadaan darurat maka muwada’ah diperbolehkan secara ijma’.

3. Tidak mengandung syarat-syarat yang tidak benar.

Dan tidak boleh mengadakan hudnah sedangkan kaum harus membayar kepada mereka, kecuali dalam keadaan darurat, karena hal itu berarti mencampakkan kehinaan kepada kaum muslimin, adapun apabila dalam keadaan darurat maka hal itu diperbolehkan. (Lihat: mughnil Muhtaj IV/261, Al-Mughni VIII/461, Badai’ush Shonai’ VIII/109 dan Syarhu Fathil Qodir V/208).

4. Terbatas dalam waktu tertentu.

Dan termasuk dari syarat muwada’ah adalah menentukan jangka waktu tertentu, karena kalau tidak itu berarti menghapuskan jihad, dan ini tidak boleh. Batas waktunya diperselisihkan oleh para ulama’. Jumhhur mengatakan tidak boleh lebih dari sepuluh tahun. Madzhab Hanafi mengatakan boleh lebih dari sepuluh tahun sesuai kemaslahatan yang diperhitungkan oleh Imam. Dan ini adalah perkataan dari Imam ahmad.

Ibnu Qoyyim mengatakan: Yang benar hal itu boleh kalau dikarenakan kebutuhan dan kemaslahatan. Dan inilah pendapat yang benar menurut Dr. Ismail Luthfi Fathoni. [244]

b. Al-Amaan Al-Mu’abbad (Jaminan keamanan tidak terbatas)

Dalam hal ini hanya diberikan kepada ahludz dzimmah saja sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

· Pengertian Secara etimologi
1. Kata dzimmi merupakan nisbah kepada kata dzimmah yang berarti perjanjian (al ‘ahdu). Kata ini diambil dari kata al dzimam yang berarti kehormatan dan hak (al hurmatu wa al haqqu). Dzimmam disebut dzimmah karena jika diabaikan akan menimbulkan celaan (al madzammah). [245]

2. Dzimmah – dengan kasrah – artinya perjanjian dan Rajulun Dzimmiyun artinya laki-laki yang mempunyai perjanjian.[246]

Kata dzimmah juga mempunyai makna lain, diantaranya: jaminan keamanan (al-amaanu), tanggungan (al-kafaalatu), jaminan (adh-dhimanu), kehormatan, hak dan perjanjian.

· Pengertian Secara terminologi

Ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ulama, di antaranya :

1. Imam Ibnu Jazy al Maliki :

Setiap orang kafir yang merdeka, baligh, berakal, sanggup membayar jizyah maka boleh kita mengakui diennya ( maksudnya menerimanya sebagai dzimmi ), sedang ia tidak gila dan tidak pula terusir dari negerinya ( karena kejahatannya ).[247]

2. Imam al Ghazaly :

Setiap ahli kitab yang berakal, baligh, merdeka, laki-laki dan sanggup berperang dan membayar jizyah.[248]

3. Syaikh al ‘Unqary :

Orang yang meminta tinggal di negeri kita dengan membayar jizyah.[249]

4. Dr. Wahbah Az Zuhaily :

Menurut para ahli fiqih adalah mengakui orang-orang kafir yang tinggal di negeri kita dengan menjaga dan melindungi mereka, dengan jaminan mereka membayar jizyah dan mematuhi (hukum-hukum Islam).[250]

5. Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi :

Memberi keamanan kepada orang-orang kafir yang membayar jizyah kepada kaum muslimin dan berjanji kepada kaum muslimin untuk mengiltizami hukum-hukum Islam dalam masalah hudud seperti pembunuhan, pencurian dan kehormatan.[251]

6. Dr Ismail Luthfi al Fathani :

Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan tadi menjadi jelas bagi kita bahwa dzimmi adalah setiap orang kafir yang telah baligh, berakal, merdeka dan laki-laki yang tinggal di negara Islam dan mampu berperang maka boleh diakui keagamaannya dengan membayar jizyah.[252]

Jizyah adalah harta yang diambil dari orang-orang kafir setiap akhir tahun sebagai ganti dari membunuh mereka dan tinggalnya mereka di negeri Islam, dengan cara menghinakan mereka ( ‘ala wajhi ash shoghar ). Dari pengpengertian ini, para ulama menyatakan bahwa ahlu dzimmah (dzimmi) diakui sebagai warga negara Islam. Karena itu, aqdu dzimmah harus bersifat selamanya, karena bagi orang-orang kafir tadi dalam hal melindungi harta dan nyawa mereka, aqdu dzimmah menjadi pengganti dari masuk Islam. Dengan demikian, bila mereka mensyaratkan aqdu dzimah sampai masa waktu tertentu saja, maka aqadnya tidak syah. Hal ini telah disepakati oleh para ulama.[253]

· Golongan yang Termasuk Ahludz Dzimmah

Secara garis besar, aqdu dzimah ini diambil dari setiap non muslim yang ingin menetap di negara Islam, baik mereka itu menetap di antara pemukiman kaum muslimin maupun mereka ini membuat kampung tersendiri yang jauh dari kampung kaum muslimin.[254]

Bila diperinci, mereka ini terbagi dalam beberapa golongan — sesuai dengan adanya perbedaan pendapat di antara para ulama’, yaitu :

Golongan Pertama :

Ahlu kitab ( yaitu orang-orang Nasrani dan Yahudi ) dan kaum Majusi. Mengenai ketiga golongan ini, para ulama telah bersepakat bahwa boleh diambil jizyah dari mereka dan mereka tetap di atas agamanya.[255]

Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala :

قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلاَيُحَرِّمُونَ مَاحَرَّمَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلاَيَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan tidak mengharamkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak berdien dengan dien yang haqq dari golongan orang-orang yang diberi al kitab, sampai mereka memberikan jizyah dalam keadaan hina”. [ QS. At Taubah : 29 ].

Adapun dasar dibolehkannya mengambil jizyah dari orang Majusi adalah :

a. Sunah Qauliyah :

Dari Abdurrahman bin Auf ra bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan kalian kepada Ahlu Kitab”.[256] Maknanya, perlakukanlah orang Majusi dalam masalah mua’malah sebagaimana perlakuan kalian dalam masalah mua’malah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hadits ini menggunakan lafal yang umum, namun yang dimaksud adalah makna khusus. Maksudnya adalah memperlakukan Majusi sebagaimana perlakuan kepada Ahlu Kitab dalam masalah jizyah saja.[257]

b. Sunah Fi’liyah.

q Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah mengambil jizyah dari Majusi Hajar.[258]

q Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengambil jizyah dari penduduk Najran.[259]

Karena itu Imam Ibnu Abdi al Barr dan Ibnu Mundzir menyatakan dalam masalah ini, ”Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa jizyah itu diambil dari mereka”.[260]

Golongan Kedua :

Orang-orang yang murtad. Para ulama telah bersepakat bahwa jizyah dan aqdu dzimmah tidak boleh diambil dari orang yang murtad.[261]

Adapun dasarnya adalah :

a. Firman Allah Ta’ala :

تقاتلونهم أو يسلمون

“Kalian memerangi mereka atau mereka masuk Islam“. [ QS. Al Fath : 16 ].

AlQurthubi berkata: Ayat ini menghukumi orang-orang yang tidak boleh diambil jizyahnya (dengan artian) mereka tidak akan diperangi atau masuk Islam. [262]

Ibnu Katsir berkata :” Ayat ini mensyari’atkan untuk memerangi mereka terus menerus atau sampai mereka masuk kepada Din (Islam) kalian.[263]

b. Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam :

من بدل دينه فاقتلوه

“Barang siapa mengganti diennya ( murtad ) maka bunuhlah ia”. [264]

Orang yang murtad berarti tidak berada di atas suatu agama yang diakui, karenanya para ulama bersepakat bahwa orang yang murtad wajib dibunuh. Yang masih mereka perselisihkan hanyalah, apakah wajib memberi ia waktu untuk bertaubat ataukah tidak ? Dengan adanya kewajiban membunuh ini, maka gugur dan hilanglah dzimmahnya, karena fungsi aqdu dzimah adalah untuk melindungi harta dan nyawa orang yang memegang aqad tersebut.[265]

c. Tidak adanya faktor pendorong untuk diadakannya aqdu dzimah, yaitu pemberian tenggang waktu untuk mengetahui seluk beluk kebaikan Islam. Orang yang murtad sudah melihat dan mengetahui kebaikan Islam. Secara lahir bisa dipahami bahwa ia tidak murtad kecuali karena membangkang. Karenanya diduga kuat, diberi waktu atau tidak tidak akan banyak bermanfaat baginya. Singkatnya, memberi tenggang waktu bukanlah cara yang tepat untuk mengembalikannya kepada Islam.[266]

Golongan Ketiga :

Orang-orang musyrik; para penyembah berhala dan orang-orang atheis yang bukan orang murtad. Mengenai golongan ini, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Secara singkat bisa dijelaskan sebagai berikut :

q Pendapat yang mengatakan tidak boleh mengambil aqdu dzimmah dan jizyah selain dari ahlu kitab dan majusi, baik orang arab maupun ajam. Ini adalah pendapat imam Ahmad, Syafi’i, Dhahiriyah dan Syi’ah Imamiyah.

Dasar yang mereka gunakan adalah :

1. Firman Allah Ta’ala :

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ

“Apabila sudah habis bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka”. (QS. At-Taubah: 5)

2. Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam

أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله فمن قالها فقد عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله

“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mengucapkan Lailaha Illallah, maka barang siapa yang mengucapkannya harta dan jiwanya terjaga dariku kecuali memang karena haknya dan hisabnya terserah kepada Allah”. [267]

Dari ayat dan hadits ini bisa dipahami bahwa wajib hukum memerangi orang-orang non muslim kecuali memang orang-orang yang boleh tidak diperangi ( artinya bisa diambil jizyah). Yang masuk dalam pengecualian ini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani berdasarkan ayat { QS. At Taubah : 29 } serta Majusi, berdasarkan hadits “perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan kalian terhadap ahlu kitab”. Selain ketiga kelompok ini, masuk dalam keumuman ayat dan hadits : wajib diperangi dan tidak diambil jizyah dar mereka.

Sanggahan atas pendapat ini :

a. Ayat :

Ayat di atas dan juga ayat sebelumnya turun sebelum turunnya ayat jizyah. Sebelum turunnya ayat jizyah, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memerangi orang-orang musyrik arab dan ajam serta ahlu kitab dan tidak mengambil jizyah dari mereka. Setelah ayat jizyah turun, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengambil jizyah dari penduduk Najran, nasrani bangsa arab. Beliau juga mengambil jizyah dari penduduk Majusi, padahal orang-orang Majusi tidak termasuk golongan ahlu kitab, berdasar hadits “perlakukanlah mereka sebagaimana kalian memperlakukan Ahlu Kitab”.

Pengambilan jizyah dari orang Majusi merupakan praktek dari makna ayat jizyah. Ini menjadi dasar diperbolehkannya mengambil jizyah dari semua orang musyrik, karena makna ayat ini tidaklah khusus untuk orang ahli kitab saja. Karenanya sebagian ahli tafsir menyatakan makna ayat jizyah adalah kita diperintahkan untuk memerangi seluruh orang non Islam, kemudian Allah menyebutkan secara khusus ahlu kitab sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada kitab mereka, dan juga karena mereka mengetahui tauhid, para rasul, syariah dan milah.[268]

b. Hadits

Makna Hadits di atas bisa dibawa kepada pengertian sebelum turunnya ayat jizyah, dan boleh juga menafsirkan memerangi dengan perang atau yang bisa menempati makna perang, seperti jizyah dan lain-lain.[269] Sebagian ulama menafsirkan bahwa maknanya adalah memerangi musyrikin arab saja.

q Boleh mengambil jizyah dari seluruh non muslim kecuali para penyembah berhala (musyrikin) arab. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan salah satu dari dua riwayat pendapat Imam Ahmad.[270] Mereka mendasarkan pendapatnya kepada kenyataan bahwa Rasulullah mengambil jizyah dari orang Majusi padahal mereka ini bukan ahlu kitab, Ini menunjukkan bahwa mengambil jizyah dari seluruh non muslim itu boleh, kecuali musyrikin arab. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak memberi pilihan kepada mereka selain perang atau masuk Islam, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya),” Maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kaliam mendapatkannya.”

Ayat ini turun berkenaan dengan musyrikin arab, bukan atas selain mereka. Sebab lain adalah karena kekafiran mereka sudah sedemikian parahnya, sehingga tidak boleh mengambil jizyah dari mereka.

Sanggahan Atas Pendapat Ini :

a. Kenyataan bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tidak mengambil jizyah dari musyrikin arab tidak menunjukkan bahwa mengambil jizyah dari mereka itu terlarang. Kenapa ? Karena ayat jizyah baru turun pada tahun IX H, setelah perang Tabuk, yaitu setelah seluruh jazirah arab masuk Islam dan tidak tersisa lagi orang msuyrik. Kalau saja masih tersisa seorang musyrik, tentulah jizyah itu diterima darinya, sebagaimana diterimanya jizyah dari ahlu kitab dan Majusi.[271]

b. Tidak ada bedanya antara kafirnya musyrikin arab dengan Majusi dan golongan non muslim lainnya. Bahkan, orang Majusi lebih parah kekufurannya dari musyrikin Arab. Musyrikin arab masih meyakini tauhid rububiyyah, masih memegangi peninggalan milah Ibrahim meski sangat sedikidan mereka tidak menghalalkan pernikahan dengan mahram sebagaimana yang dilakukan oleh orang Majusi. Lantas, darimana kita bisa menyatakan kekafiran orang arab lebih parah dari kekafiran orang Majusi, sehingga kita mau menerima jizyah dari Majusi dan tidak menerimanya dari musyrikin arab ?[272]

q Pendapat Ketiga: Boleh mengambil aqdu dzimmah dan jizyah dari seluruh non muslim tanpa terkecuali. Ini adalah pendapat Imam al Auza’i, Imam Malik dan dzahir dari pendapat Syi’ah Zaidiyyah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Qayyim.[273]

Dasar yang mereka jadikan pijakan adalah :

1. Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dari shahabat Buraidah bin Husaid :

“Adalah Rasulullah jika mengangkat seorang amir atas suatu pasukan atau sariyah beliau memberinya wasiat supaya bertaqwa kepada Allah Ta’ala…kemudian beliau bersabda :” Jika kamu menemui musuh dari orang-orang musyrik maka serulah mereka kepada salah satu dari tiga pilihan, pilihan mana saja yang mereka pilih maka terimalah dan tahanlah dirimu dari (menyerang) mereka; …lalu serulah mereka kepada Islam…lalu serulah mereka untuk berhijrah dari negeri mereka ke negeri hijrah dan beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka melakukannya maka bagi mereka hak seperti yang dimiliki oleh orang-orang yang berhijrah (muhajirin ) dan mereka mempunyai kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muhajirin. Kalau mereka menolak maka serulah mereka untuk membayar jizyah. Kalau mereka menyetujui maka terimalah dan tahanlah dari ( menyerang ) mereka. Kalau mereka menolak maka memohonlah pertolongan kepada Alllah Ta’ala dan perangilah mereka”.[274]

Hadits ini turun setelah turunnya ayat jizyah, dengan dasar bahwa hukumnya terus berlaku setelah masa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam. Keumuman hadits ini mencakup seluruh orang musyrik mana saja, sebab sabda beliau “Musuhmu dari orang-orang musyrik“ merupakan lafal yang umum. Membatasinya pada ahlul kitab saja adalah jauh dari kebenaran.[275].

Imam Al Baghawi menyatakan: Dhahir hadits ini mewajibkan diterimanya jizyah dari setiap musyrik baik ia itu ahli kitab atau bukan.[276]

Imam Ibnu Qayyim juga menyatakan: Jizyah itu diambil dari setiap orang kafir, dan inilah dhahir hadits ini. Jizyah tidak dikecualikan dari seorang kafirpun, dan tidak pula dikatakan,”Hadits ini khusus untuk ahlu kitab saja.”…Jizyah diambil dari ahlu kitab berdasarkan ayat dan dari orang kafir secara umum berdasarkan as sunah.[277]

c. Tidak membolehkan mengambil jizyah dari sebagian golongan non muslim itu termasuk kategori memaksa mereka untuk masuk Islam secara paksa. Padahal Allah Ta’ala berfirman (artinya), ”Tidak ada paksaan dalam masalah dien”.

Pendapat yang ketiga ini adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam.[278]

· Hak dan Kewajiban Dzimmi

1. Hak Dzimmi

Telah kita sebutkan kesepakatan para ulama bahwa dzimmi termasuk warga negara dari negara Islam. Shahabat Ali menyatakan,” Mereka itu menerima aqdu dzimah agar harta mereka menjadi seperti harta kita dan darah mereka seperti darah kita.”[279]

Menjadi kewajiban imam untuk menjaga mereka, mencegah orang-orang yang akan menyerang mereka baik itu kaum muslimin atau bukan, membebaskan mereka kalau tertawan, dan mengembalikan harta mereka yang dirampas baik harta mereka itu bersama dengan harta kaum muslimin atau tidak.[280]

Secara garis besar, hak-hak mereka adalah :

a. Boleh tinggal di negara Islam kecuali Makkah menurut jumhur ulama’, berdasar firman Allah Ta’ala (artinya) : “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis maka janganlah mereka mendekati Masjid al Haram setelah tahun ini”. Sedang menurut Abu Hanifah: Boleh masuk tetapi tidak boleh tinggal. Bahkan Imam Syafi’i menegaskan: Orang musyrik tidak boleh masuk Makah apapun keadaannya. Jika masuk secara gelap maka wajib dikeluarkan dari Makkah. Jika ia mati dan dikubur di Makkah, maka kuburnya dibongkar dan mayatnya dipindah selama belum berubah.

b. Menahan diri dari mereka, artinya tidak boleh membunuh atau merampas harta mereka.

c. Tidak mengganggu gereja-gereja mereka, begitu juga dengan khamr dan babi mereka selama mereka tidak menampakkannya. Kalau mereka meminum khamr secara terang-terangan, maka kita boleh atau bahkan wajib menumpahkannya.[281]

2. Kewajiban Dzimmi

a. Membayar jizyah setiap tahun sekali.

b. Menjamu orang Islam yang lewat daerah mereka selama tiga hari.

c. Membayar pajak sepuluh persen jika mereka berdagang di selain negeri mereka.

d. Tidak membangun gereja, tidak membiarkannya berdiri tegak di negeri yang dibangun oleh kaum muslimin atau dibuka dengan kekerasan senjata.

e. Tidak boleh mengendarai kuda dan bighal yang mahal, tapi diperbolehkan mengendarai keledai.

f. Tidak boleh berjalan melewati bagian tengah jalan, dan bila bertemu dengan muslim harus berjalan dipinngir.

g. Tidak menipu kaum muslimin dan tidak melindungi mata-mata.

h. Tidak boleh melarang kaum muslimin singgah di gereja-gereja mereka baik siang maupun malam.

i. Harus menghormati kaum muslimin ; tidak boleh memukul, mencela atau mempekerjakan mereka.

j. Harus menyembunyikan lonceng-lonceng gereja mereka dan tidak boleh menampakkan syiar-syiar agama mereka.

k. Tidak boleh mencela salah seorang nabi. Tidak boleh pula menampakkan aqidah mereka.

l. Melaksanakan hukum-hukum kaum muslimin dalam masalah mu’amalah.[282]

Jizyah
1. Yang Wajib Membayar :

Imam Ibnu Rusyd menyatakan: Para ulama bersepakat bahwa wajib membayar jizyah bagi orang yang mempunyai tiga sifat : laki-laki, baligh dan merdeka dan bahwasanya tidak wajib atas wanita dan anak-anak karena jizyah itu sebagai pengganti pembunuhan, sedang pembunuhan itu perintah yang ditujukan kepada laki-laki yang sudah dewasa., sedang membunuh wanita dan anak-anak dilarang. Begitu juga bersepakat bahwa jizyah tidak wajib atas hamba.[283]

2. Kadar Jizyah :

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Secara ringkas pendapat mereka adalah sebagai berikut :

a. Sebagaimana yang dilakukan oleh shahanbat Umar, yaitu : 48 dirham bagi orang kaya, 24 dirham bagi orang menengah dan 12 dirham bagi orang miskin. Ketetapan ini beliau putuskan di hadapan para shahabat dan diikuti seluruh khalifah sesudahnya dan akhirnya menjadi kesepakatan mereka. Ini adalah pendapat Imam Malik.

b. Dikembalikan kepada pendapat ( ijtihad imam ) dalam hal mengurangi atau menambah. Ini adalah pendapat Imam Ats Tsauri.

c. Boleh menambah dan tidak boleh mengurangi, karena shahabat Umar menambah dari ketetapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menguranginya. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i. Jumlah minimal adalah 1 dinar sedang maksimal tidak dibatasi. Beliau mendasarkan pada hadits shahabat Muadz yang diututs ke Yaman mengambil Jizyah. Beliau mengambil dari tiap individu satu dinar atau sebagai gantinya pakaian Yaman (Mu’afir).[284]

Imam Ibnu Qayyim menyimpulkan sebagai berikut: Dalam hadits ini ada dasar bahwa jizyah itu tidak ditentukan jenis dan kadarnya, tetapi boleh berupa pakaian, emas dan perhiasan. Ia bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan kebutuhan kaum muslimin, kemampuan yang membayar jizyah dan keadaannya apakah lapang atau susah serta harta yang ia punyai.[285]

Catatan:

Setelah kita tahu bahwasanya orang kafir itu status asalnya adalah harbi kecuali yang mendapat jaminan keamanan kaum muslimin, maka masih tersisa satu pertanyaan lagi tentang mereka yang bersikap netral, bagaimana sebanarnya mereka ini hukumnya?

Netral adalah sebuah sikap damai dan tidak ikut campur tangan antara dua kelompok yang saling berperang, baik atas nama pribadi, kelompok, kabilah, atau negara tertentu, sebagaimana yang banyak terjadi pada jaman ini.[286]

Dalam hal ini ada dua macam yaitu sikap netral sementara dan sikap netral selamanya. Netral sementara adalah sebuah sikap yang hanya insidental saja pada masa-masa pertempuran, sedangkan sikap netral selamanya adalah sebuah kesepakatan damai antar kelompok untuk tidak saling memerangi selamanya.

Hukum Netral

Jika sikap netral itu untuk selamanya, maka tidak boleh, baik yang bersikap netral ini kaum muslimin atau yang lain. Karena apabila yang bersikap netral itu kaum muslimin, maka hal itu berakibat pada penghapusan kewajiban jihad, dan berpangku tangannya Daulah Islamiyah, apalagi kalau hal itu dilakukankan kepada seluruh negara.

Dan jika yang bersikap netral itu orang-orang kafir maka hal ini akan memberikan kemuliaan dan kekuasaan bagi mereka di muka bumi, dan membiarkan untuk bersikap netral itu sendiri adalah kemuliaan dan kekuasaan bagi kelompok kafir, dan hal semacam ini tidaklah sesuai dengan tujuan disyareatkannya jihad, yaitu menegakkan kalimatulloh, merendahkan kalimatul kufr dan menjadikan agama itu hanya untuk Alloh saja.

Adapun jika netral itu hanya bersifat sementara, maka ada dasarnya dari syar’I

Alloh berfirman:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَآءً فَلاَ تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَآءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَلاَتَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا . إِلاَّ الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ أَوْ جَآءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَن يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ وَلَوْ شَآءَ اللهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلاً . سَتَجِدُونَ ءَاخَرِينَ يُرِيدُونَ أَن يَأْمَنُوكُمْ وَيَأْمَنُوا قَوْمَهُمْ كُلَّ مَارُدُّوا إِلَى الْفِتْنَةِ أُرْكِسُوا فِيهَا فَإِن لَّمْ يَعْتَزِلُوكُمْ وَيُلْقُوا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ وَيَكُفُّوا أَيْدِيَهُمْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأُوْلاَئِكُمْ جَعَلْنَا لَكُمْ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama dengan mereka. Maka janganlah kalian jadikan diantara mereka penolong-penolong kalian. Maka jika mereka berpaling maka tawanlah dan bunuhlah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka, dan janganlah kalian menjadikan seorangpun diantara mereka sebagai pelindung dan juga penolong, kecuali orang-orang yang bergabung dengan suatu kaum, yang antara kalian dan kaum tersebut telah terikat perjanjian damai atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kalian dan memerangi kaum mereka. Kalau Alloh menghendaki tentu Alloh memberi kekuasaan kepada mereka untuk menguasai kalian, lalu pastilah mereka memerangi kalian. Tetapi jika mereka membiarkan kalian dan tidak memerangi kalian serta mengemukakan perdamaian kepada kalian, maka Alloh tidak memberi jalan kepada kalian untuk melawan dan membunuh mereka. Kelak kalian akan mendapati kelompok yang lain, yang bermaksud supaya aman dari kalian dan aman dari kaumnya, setiap kali mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik) merekapun terjun ke dalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kalian dan tidak mau mengemukakan perdamaian kepada kalian serta tidak menahan tangan mereka untuk memerangi kalian maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dimana saja kalian menjumpai mereka dan merekalah yang Kami berikan kepada kalian alasan yang nyata untuk menawan dan membunuh mereka”. (QS. An-Nisa’ :89-91) .[287]

Ayat ini turun setelah fathu makah, setelah peperangan-peperangan berhenti, ayat ini termasuk ayat muhkamah yang tidak mansukh menurut banyak ulama’ seperti As-Suyuti dan Al-Baghdadi.[288] Walaupun banyak juga para ahli tafsir yang menyatakan bahwa dua ayat yang pertama tersebut telah mansukh. Namun yang nampak secara jalas, ayat ini menunjukkan bahwasanya mengasingkan atau menjauh saja tidak cukup dianggap netral, akan tetapi harus dengan mengemukakan perdamaian itu kepada kaum muslimin yaitu dengan cara muwada’ah. Dengan demikian maka mereka masuk kedalam kelompok Muwadi’in. [289]

Dr. Ismail Luthfi Fathoni juga mengatakan bahwa golongan netral ini adalah. bagian dari mu’ahadah dan muwada’ah.[290]

Beliau juga mengatakan: Dalam ayat ini Alloh mewajibkan kaum muslimin untuk membunuh selain orang Islam kecuali dua kelompok:

Pertama: Orang-orang yang bergabung dengan kelompok yang telah mengikat perjanjian damai dengan kita, dan itulah yang dimaksud dalam firman Alloh:

إِلاَّ الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ

“…….kecuali orang-orang yang bergabung dengan suatu kaum, yang antara kalian dan kaum tersebut telah terikat perjanjian damai…..”

Kedua: Orang-orang yang tidak memerangi kaum muslimin, dengan cara mendatangi kaum muslimin dan mengatakan: Kami tidak mau berperang bersama kalian dan tidak mau memerangi kalian. Mereka itulah orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kalian dan memerangi kaum mereka, lalu mereka memberitahukan bahwa mereka bersikap netral. Dan itulah yang dimaksud dalam firman Alloh:

أَوْ جَآءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَن يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ

“……atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kalian dan memerangi kaum mereka……”

Ayat ini turun berkenaan dengan Kabilah Bani Madlaj ketika mereka datang kepada Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam dengan untuk tidak berperang dan mereka berjanji untuk tidak membantu orang-orang yang memerangi beliau. Sebagaimana halnya perdamaian Kholid bin Walid dengan mereka”.[291]

Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

دعوا الحبشة ما ودعوكم واتركوا الترك ماتركوكم

“Biarkanlah Habasyah (Ethiopia) selama mereka membiarkan kalian dan tinggalkanlah At-Turk selama mereka meninggalkan kalian”. (HR. An-Nasa’I lihat sunan An-Nasa’I bisy Syarh As-Suyuti: VI/43, Abu Dawud Kitabul Malahim no: 4302, Al-Albani berkata: Isnadnya laa ba’sa bihi. Lihat Silsilatul Ahaditsush Shohihah no. 772)

Namun dikatakan bahwa hadits ini bertentangan dengan firman Alloh:

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ

“Dan apabila bulan-bulan harom telah berlalu maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kalian jumpai mereka”. (QS. At-Taubah: 5)

Kecuali jika dijawab bahwa ayat ini umum sedangkan hadits tersebut sebagai takhshishnya.

Dalam kitab-kitab tarikh juga disebutkan bahwasanya Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam ketika peperangan Al-Abwa’ berdamai dengan Makhsyi bin Amr Adl-Dlomri pemimpin Bani Dlomroh untuk tidak saling berperang dan tidak memperbanyak jumlah musuh. Dan beliaupun menulis perjanjian tersebut.[292]

Mirip juga dengan ini, bahwasanya Rosululloh berdamai dengan Hilal bin Uwaimir Al-Aslami untuk tidak saling membantu musuh masing-masing.

Dan menurut Mujahid bahwasanya ayat tersebut di atas turun berkenaan dengan mereka.[293]

Dengan demikian jelaslah bahwa orang-orang netral yang tidak boleh dibunuh yang disebutkan pada dalil-dalil diatas bukanlah sekedar orang-oranng yang tidak ikut campur alam pertempuran, namun harus dibarengi dengan pernyataan atas sikap tersebut kepada kaum muslimin dan dengan syarat mereka tidak memerangi dan tidak membantu musuh dalam memerangi kaum muslimin. Dengan demikian maka sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Ismail Luthfi Fathoni dan Dr. Abdulloh bin Ibrohim bin Ali Ath-Thuroiqi bahwa mereka ini masuk dalam katagori golongan muwadi’un.

Adapun orang-orang kafir yang telah sampai kepada mereka dakwah namun tidak mau masuk Islam tapi mereka berdamai dan tidak memerangi, maka boleh berdamai dengan mereka, selama keadaan mereka seperti itu.

Sebagaimana juga diperbolehkan kepada kaum muslimin untuk meminta kepada mereka untuk membayar jizyah dengan tunduk kepada hukum Islam. Jika mereka menolak maka kaum muslimin diperbolehkan untuk memerangi mereka,

Akan tetapi harus diperhatikan bahwasanya orang-orang kafir yang berdamai, tidak mau masuk Islam dan tidak mau tunduk kepada hukum Islam, tidak akan lama keadaannya seperti itu, akan tetapi pasti mereka mempunyai sikap yang jelas, baik positif dengan masuk Islam atau mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin atau negatif dengan mengadakan permusuhan dan peperangan.

Hal ini telah kami paparkan secara panjang lebar pendapat Dr. Abdulloh bin Ibrohim bin Ali Ath-Thuroiqi ketika membahas dasar hubungan antara orang Islam dan non muslim.

Dr. Abdulloh Azzam berkata: Sesungguhnya diamnya dan berdamainya jahiliyah terhadap kebenaran adalah keadaan yang menyelisihi sunnatulloh di dalam kehidupan dan juga menyelisihi ketetapan-Nya (yang menentukan bahwasanya kebatilan itu selamanya akan bermusuhan dengan kebenaran). Kalaupun ada terjadi perdamaian, maka hal itu hanyalah bersifat insidental dalam waktu yang terbatas.[294]

C. 2. Orang-orang Yang Tidak Boleh Dibunuh Dengan Tanpa Akad Jaminan Keamanan.

a. Anak-anak dan wanita

Dari Ibnu Umar beliau berkata:Bahwasanya ada perempuan yang terbunuh pada beberapa pertempuran yang diadakan Nabi, maka Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam mengingkari pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak. (Al-Bukhori no. 3014, Fathul Bari VI/148 dan Muslim III/1364)

Dari Ibnu Umar beliau berkata: Bahwasanya ada perempuan yang terbunuh pada beberapa pertempuran yang diadakan Nabi saw. Maka Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam Mengingkari pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak. (Al-Bukhori no. 3014, Fathul Bari VI/148 dan Muslim III/1364)

Imam An-Nawawi berkata: Para ulama’ telah berijma’ untuk mengamalkan hadits ini yaitu tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak selama mereka tidak ikut memerangi, namun jika mereka ikut berperang maka jumhur berpendapat mereka boleh dibunuh. (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi: XII/48)

Nabi melewati Abwa’ dan Waddan dan beliau ditanya tentang menyerang sebuah penduduk kampung lalu mengenai perempuan dan anak-anak mereka. Beliau menjawab: Mereka termasuk golongan mereka. (Al-Bukhori no. 3012, Fathul Bari VI/146 dan Muslim III/1364)

Imam An-Nawawi berkata: Maksudnya jika tidak disengaja selain dalam kondisi darurat, adapun hadits yang lalu (hadits Ibnu Umar) tentang larangan membunuh perempuan dan anak-anak adalah larangan ketika mereka terpisah (dari pasukan perang musuh). (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi: XII/48)

b. Pendeta, orang buta, orang lumpuh, orang tua renta dan para buruh.

Menurut madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali mereka ini tidak dibunuh jika mereka tidak ikut berperang. Sedangkan menurut pendapat madzhab Syafi’I dari dua pendapatnya yang paling kuat dan pendapat inilah yang dibela oleh Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla.

Kelompok yang pertama berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:

Pertama:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan berperanglah kalaian di jalan Alloh melawan orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah kaliam melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Baqoroh: 190)

Mereka mengatakan atas dasar ayat ini maka orang-orang yang tidak berperang dan tidak ada tanda-tanda bahaya bagi kaum muslimin tidak boleh dibunuh.

Kedua:

Hadits-hadits yang melarang untuk membunuh mereka yang terdapat pada kitab-kitab hadits.

Robah ibnur Robi’ berkata: Kami pernah bersama Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam di dalam peperangan, lalu beliau melihat orang-orang berkumpul pada sesuatu maka beliau mengutus seseorang dan beliau mengatakan.”Lihat, mengerumuni apa mereka itu?. Maka orang tersebut datang dan berkata: Mereka berkumpul pada seorang wanita yang terbunuh, maka beliau bersabda: ”Tidak layak bagi perempuan untuk berperang”. Dan yang di depan adalah Kholid ibnul Walid. Robah ibnur Robi’ berkata: lalu beliau mengutus seseorang, dan beliau bersabda: ”Katakan pada Kholid, jangan sekali-kali membunuh perempuan dan buruh”. (Jami’ul Ushul II/598, Al-Makhsyi berkata: No.2669 dalam kitabul Jihad bab fii qotlin nisa’ dan sanadnya shohih.

Dengan dalil ini mereka berdalil dari dua sisi.

Pertama: Tidak layak perempuan ini untuk berperang.” Maka yang menjadi alasan mereka tidak boleh dibunuh adalah karena mereka tidak layak untuk berperang, dan ini memperjelas arti ayat:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan berperanglah kalaian di jalan Alloh melawan orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah kaliam melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Baqoroh: 190)

Kedua: Penyebutan secara nash terhadap buruh sedangkan kebanyakan seorang buruh itu tidak berperang seperti perempuan dan anak-anak.

Dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

انطلقوا باسم الله ولا تقتلوا شيخا فانيا ولا طفلا صغيرا ولا امرأة ولا تغلوا وضموا غنائمكم وأصلحوا وأحسنوا إن الله يحب المحسنين

Berangkatlah kalian atas nama Alloh dan janganlah kalian bunuh orang yang sudah tua renta, anak kecil, perempuan dan janganlah kalian melakukan ghulul dan kumpulkanlah ghonimah-ghonimah kalian dan berbuatlah baik sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

Ketiga: Abu Bakar ra. Berwasiat kepada pimpinan pasukan yang beliau tunjuk: Jangan sekali-kali kau bunuh perempuan, anak-anak dan orang tua renta. Sesungguhnya engkau akan melewati sebuah kaum yang menahan dirinya dalam tempat-tempat ibadah mereka yang mereka menyangka tempat-tempat itu milik Alloh, maka biarkanlah mereka selama mereka tetap menahan diri………..(Jami’ul Ushul II/599, Al-Makhsyi berkata: dalam hadits ini ada keterputusan sanad, karena Yahya bin Sa’id tidak berjumpa dengan Abu Bakar).

Kelompok kedua berhujjah dengan dalil-dalil sebagai berikut:

Pertama: Nas-nas yang secara umuum memerintahkan untuk membunuh orang-orang musyrik secara keseluruhan dan membunuh ahli kitab.

Kedua: Perintah secara nas untuk membunuh orang-orang tua sebagai mana yang tersebutkan dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan At-Tirmidzi dari Samuroh bin Jundab dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

اقتلوا شيوخ المشركين واستحيوا شرخهم

“Bunuhlah orang-orang tua musyrikin dan biarkanlah anak-anak mereka hidup”. (At-Tirmidz berkata:”Hadits ini hasan shohih ghorib”. [295]

Ketiga: Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ithiyah Al-Qurodli, ia berkata:”Aku dihadapkan kepada Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam maka orang yang telah tumbuh bulunya dibunuh dan yang belum tumbuh dibiarkan hidup, dan aku termasuk orang-orang yang belum tumbuh bulunya.” (Misykatul Mashobih II/394 dan Al-Muhalla VII/299)

Keempat: Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam Membiarkan terhadap pembunuhan Duroid ibnush Shommah padahal ia adalah seorang yang tua renta. (Al-Muhalla VII/296-299, kaji Al-Mughni: IX/311 dan Nailul Author VII/279)

Kelima: Diriwayatkan bahwasanya Umar ibnul Khothob mengirim surat kepada pasukan kaum muslimin hendaknya janganlah mereka membawa seorang kafirpun kepada kami, jangan membunuh kecuali yang telah menasehat dan janganlah kalian membunuh anak-anak dan perempuan.

Dan Ibnu Hazm mencela orang-orang yang yang tidak memperbolehkan membunuh selain perempuan dan anak-anak, dan beliau melemahkan semua hadits-hadits yang mereka jadikan landasan, dan beliau berkata setelah membawakan riwayat dari ‘Ithiyah Al-Qurodli: Hal ini secara umum dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menyisakan buruh, pelayan petani dan orang yang tua renta.

Dan beliau berkata setelah membawakan riwayat tentang surat Umar kepada pasukan kaum muslimin: Inilah Umar ra. Tidak mengecualikan orang tua, pendeta, buruh dan tidak pula seorangpun kecuali perempuan dan anak-anak saja., dan tidak ada sebuah riwayatun yang shohih ada sahabat yang menyelisihinya, dan Duroid ibnush Shommah terbunuh sedangkan ia adalah seorang tua renta yang akalnya sudah kacau namun Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam Tidak mengingkarinya.

Dan kelompok yang berpendapat bahwasanya mereka itu tidak boleh dibunuh, menjawab bahwasanya ayat-ayat yang memerintahkan membunuh seluruh orang kafir, mukhoshoshoh (terkhususkan) oleh ayat:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan berperanglah kalaian di jalan Alloh melawan orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah kaliam melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.”(QS. Al-Baqoroh: 190)

Dan juga hadits yang melarang membunuh orang tua renta dan yang lain sebagaiman yang telah disebutkan, dengan memperhatikan alasan yang telah dinaskan oleh Nabi atas tidak bolehnya membunuhnya perempuan:”Tidak layak perempuan ini untuk berperang.”

Adapun perintah untuk membunuh orang tua, jika riwayat itu shohih, begitu pula diamnya Rosululloh atas pembunuhan Duroid ibnush Shommah padahal ia seorang yang telah tua renta, mereka membawa kepada pengertian bahwasanya mereka adalah orang-orang tua yang mempunyai pemikiran atau lainnya yang bermanfaat bagi orang musyrik dan membahayakan kaum muslimin.

Hal ini diperkuat bahwasanya perempuan dan anak-anak yang disepakati oleh Ibnu Hazm dan yang lainnya atas haramnya membunuh mereka, mereka juga dibunuh jika mereka ikut berperang.[296]

Ibnu Taimiyah berkata:”Maka jika asal perang yang disyrari’atkan adalah jihad dan tujuannya adalah agar agama itu seluruhnya hanya milik Alloh dan agar kalimat Alloh itu tinggi, maka kaum muslimin sepakat untuk memerangi siapa yang tidak menerima hal ini. Dan adapun orang yang tidak bisa berperang seperti perempuan, anak-anak pendeta, orang tua renta, orang buta, orang lumpuh, dan orang-orang yang semacam mereka, maka dibunuh menurut jumhur ulama’, kecuali jika ia ikut berperang dengan perkataannya atau perbuatannya. Meskipun diantara ulama’ juga ada yang berpendapat boleh membunuh mereka hanya karena kekafiran mereka selain wanita dan anak-anak, karena mereka adalah harta bagi kaum muslimin. Dan yang benar adalah pendapat yangg pertama, karena peperangan itu untuk yang memerangi kita jika kita ingin menegakkan agama Alloh.sebagaimana firman Alloh:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan berperanglah kalian di jalan Alloh melawan orang-orang yang memerangi kalian dan janganlah kaliam melampaui batas. Sesungguhnya Alloh tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Baqoroh: 190).

Dan dalam kitab-kitab hadits disebutkan riwayat dari Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau melewati seorang wanita terbunuh dalam beberapa pertempuran beliau yang dikerumuni orang. Maka beliau bersabda: ”Perempuan ini tidak layak berperang”. Dan beliau bersabda kepada seseorang diantara mereka: ”Temuilah Kholid dan katakan padanya: “jangan bunuh anak-anak dan pekerja”. Dan tentang hal itu pula disebutkan bahwasanya Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersada: ”Jangan bunuh orang tua renta, anak kecil dan perempuan !”.

Hal itu dikarenakan Alloh membolehkan membunuh jiwa itu yang dibutuhkan untuk kebaikan makhluk, sebagaimana firman Alloh:

والفتنة أكبر من القتل

“Dan Fitnah itu lebih besar dari pada pembunuhan.”

Artinya, meskipun dalam pembunuhan itu terdapat keburukan dan kerusakan, namun kerusakan dan keburukan yang ditimbulkan oleh fitnah kekafiran itu lebih besar lagi. Oleh karena itu barang siapa yang tidak menghalangi kaum muslimn untuk menegakkan agama Alloh, maka bahayanya hanyalah terhadap dirinya sendiri. Lalu beliau melanjutkan: Oleh karena itu syari’at mewajibkan untuk membunuh orang-orang kafir dan tidak mewajibkan untuk membunuh yang sudah tertangkap dari mereka, akan tetapi apabila ada seseorang yang tertawan, baik dalam peperangan maupun diluar peperangan, seperti jika mereka naik kapal kemudian terdampar atau tersesat atau mereka ditangkap dengan cara tipu daya, maka bagi seorang Imam memperlakukannya dengan sesuatu yang paling bermanfaat baik itu membunuh, menjadikan budak, membebaskan atau menebusnya dengan harta bahkan dengan jiwa menurut kebanyakan fuqoha’, semua itu berdasarkan keterangan yang diperoleh dalam al-Qur’an dan As-Sunnah, walaupun ada juga ulama’ yang berpendapat bahwasanya hukum membebaskan dan menjadikan tebusan itu telah mansukh.[297]

Ibnun Nuhas berkata: Haram hukumnya membunuh perempuan dan anak-anak jika keduanya tidak ikut berperang menurut Asy-Syafi’I, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah, dan jika keduanya ikut berperang maka keduanya dibunuh. (Bidayatul Mujtahid I/400)

Dan mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang sudah jompo dan orang lemah lagi buta, lumpuh dan buntung tangannya.

Imam Syafi’I membolehkan dalam perkataan yang kuat salah satu dari dua perkataannya, baik mereka bisa berperang maupun tidak,

Sedangkan Malik, Ahmad dan Abu Hanifah tidak membolehkannya. (Bidayatul Mujtahid I/400)

Dan mereka sepakat untuk membunuh mereka jika ikut berperang. (Al-Ifshoh II/430, beliau berkata: Dan mereka sepakat bahwasanya jika orang buta, orang tua renta dan orang-orang ahli ibadah dalam biara-biara jika memberikan pemikiran dan pengaturan (siasat perang) wajib untuk dibunuh).

Dan mereka berselisih pendapat tentang membunuh pendeta yang menyendiri. Imam Malik dalam salah satu dari dua perkataannya berkata: Dibiarkan apa yang baik untuk mereka kecuali jika mereka sebuah kumpulan yang banyak sebagaimana yang paling masyhur. (Al-Khurosyi II/112) Sedangkan menurut Imam Ahmad (Kasyaful Qona’ III/50) dan Abu Hanifah (Hasyiyatu Ibni ‘Abidin IV/132) para pendeta yang mengasingkan diri tidak berhak untuk dibunuh. Akan tetapi pendapat yang paling kuat dari dua perkataan Imam Syafi’I adalah boleh membunuh mereka baik tua atau muda, Begitu juga membunuh buruh, pekerja dan orang yang sibuk mencari nafkah dan orang awam. (Mughnil Muhtaj IV/223).

Adapun wanita yang menjadi pendeta, tentang kebolehannya dijadikan budak ada dua pendapat dari Imam Malik dan para sahabat Asy-Syafi’I berangkat dari pendapat beliau tentang membunuh pendeta. (Al-Khurosyi III/112; Mughnil Muhtaj IV/23).[298]

c. Utusan

Nu’aim bin Mas’ud berkata : Aku mendengan Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam ketika membaca surat dari Musailamah al-kadzdzab, beliau berkata kepada kedua utusannya:”Apa yang kalian katakan (pendapat kalian)?” Keduanya menjawab:”Kami mengatakan sebagai mana yang dikatakan oleh Musailamah.” Maka Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Kalau bukan karena utusan itu tidak boleh dibunuh, pasti aku penggal leher kalian.” (Musnad Imam Ahmad III/487, Abu dawud III/191 no. hadits; 2761 dan lihat Nailul Author VIII/34. Dikatakan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud:”Hadits ini menunjukkan atas haramnya membunuh utusan orang-orang yang datang meskipun mereka mengucapkan perkataan kufur dihadapan imam.” Al-Mundziri tidak memberikan komentar terhadap hadits ini[299]

II. JIHAD MELAWAN ORANG MURTAD

A. Pengertian

An-Nawawi berkata:“Riddah secara bahasa adalah kembali dari sesuatu menuju yang lainnya.”

Dan secara syar’I: qoth’ul Islam (melepaskan, membatalkan Islam).”[300]

B. Hukum Murtad

Orang yang murtad tidak lepas dari tiga keadaan;

Pertama: Mereka berada dibawah kekuasaan Islam dan tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri.

Dari ‘Ikrimah beliau berkata: Dihadapkan kepada amirul mukminin Ali rhodhiyallahu ‘anhu orang-orang zindiq lalu beliau membakar mereka. Lalu berita itu sampai kepada Ibnu ‘Abbas maka beliau berkata: Kalau aku, maka aku tidak akan membakar mereka karena Rosululloh melarang hal itu dengan bersabda:

لاَ تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللهِ

“Janganlah kalian mengadzab dengan adzab Alloh (api)!”.[301]

Namun aku pasti akan membunuh mereka karena Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوه

“Barang siapa berganti agama, maka bunuhlah ia!”. [302]

Dan dalam hadits dari Abu Musa, bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda kepadanya: ”Pergilah ke Yaman!” Kemudian diikuti oleh Mu’adz bin Jabal. Ketika berjumpa dengannya ia diberi bantal dan berkata: ”Turunlah!” Dan ternyata disampingnya ada seseorang yang terikat. Ia bertanya: ”Siapa ini?” ia menjawab: ”orang ini dahulu Yahudi lalu masuk Islam kemudian ia masuk Yahudi.”Aku tidak akan duduk sampai ia dibunuh sebagai keputusan Alloh dan Rosul-Nya”. (Muttafaq ‘alaih).

Ar-Rofi’I dan An-Nawawi berkata:”Murtad adalah bentuk kekafiran yang paling keji dan yang paling keras hukumnya.”[303]

An-Nawawi berkata: Apabila seseorang murtad, maka wajib untuk dibunuh, baik ia berpindah ke agama ahlul kitab atau tidak, baik ia orang merdeka atau budak, atau perempuan berdasarkan hadits Utsman dia atas dan hadits Ibnu ‘Abbas bahwasanya Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam & bersabda: “Barang siapa berganti agama, maka bunuhlah ia!” Dan ini adalah hadits shohih. Dan sama juga apakah kemurtadannya kepada kekafiran, sama saja apakah ia lahir dalam keadaan Islam atau dia dulunya kafir lalu masuk Islam atau ia menjadi Islam karena keislaman kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya.[304]

Kedua: Mereka mempunyai kekuatan untuk mempertahankan diri.

Mereka ini wajib untuk diperangi, yang melarikan diri diburu dan yang terluka dibunuh. Jika mereka ada yang tertawan, maka ia disuruh bertaubat kalau tidak mau maka ia dibunuh, karena tidak boleh membiarkannya tetap berada dalam kekafiran.

Asy-Syarozi berkata: Dan jika sebuah kelompok murtad dan mempertahankan diri dengan kekuatan, maka imam wajib untuk memeranginya karena Abu Bakar rhodhiyallahu ‘anhu telah memerangi kelompok yang murtad. Yang kabur diburu, dan yang terluka dihabisi. Karena memerangi ahlul harbi saja wajib maka terlebih lagi memerangi kelompok yang telah murtad sedangkan kekafiran mereka lebih besar. Jika mereka ada yang tertawan, maka ia disuruh bertaubat kalau tidak mau maka ia dibunuh, karena tidak boleh membiarkannya tetap berada dalam kekafiran.[305]

Al-Mawardi berkata: Kondisi kedua mereka memiliki daerah sendiri yang terpisah dari wilayah kaum muslimin sehingga mereka bisa mempertahankan diri di sana. Jika kondisi mereka seperti itu maka mereka wajib diperangi kerena kemurtadan mereka setelah sebelumnya mereka diberi penjelasan tentang Islam dan dalil-dalil dipaparkan kepada mereka.[306]

‘Ishom Darbalah dan ‘Ashim Abdul Majid berkata: Para ulama’ telah berijma’ atas wajibnya memerangi kelompok apapun yang mempunyai kekuatan yang tidak mau melaksanakan sebuah syari’at dari syari’at-syari’at Islam yang sudah jelas dan mutawatir, meskipun kelompok tersebut adalah kelompok Islam, meskipun mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, dan sama saja apakah yang mereka tinggalkan itu sedikit maupun banyak. Jika mereka tetap mengakui atas wajibnya syari’at yang mereka tinggalkan, maka mereka diperangi sampai mau melaksanakan apa yang mereka tinggalkan. Adapun jika meninggalkannya itu karena mengingkari/menolak syari’at yang mereka tinggalkan, maka mereka telah murtad, dan diperangi sampai kembali kepada syari’at Islam. Adalah wajib hukumnya memerangi dua macam kelompok ini berdasarkan ijma’.[307]

Ketiga: Adalah penguasa yang murtad.

Para penguasa seperti ini harus digulingkan dari kekuasaannya dengan pedang, bagi yang mampu melaksanakannya ia mendapat pahala dan bagi yang memberikan toleransi, maka ia akan mendapat dosa dan bagi yang tidak mempunyai kemampuan ia harus hijroh.

Abdulloh bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji berkata tentang memberontak kepada pemerintah kafir dan murtad: Hal ini juga merupakan suatu kesepakatan para ulama, yaitu memberontak dan menggulingkannya dengan pedang bagi siapa saja yang mampu melakukannya, adapun jika tidak mempunyai kemampuan untuk menggulingkannya dengan pedang, maka harus mencari jalan yang paling tercepat untuk menggulingkannya, dan membebaskan kaum muslimin dari kekuasaan pemerintah tersebut walaupun harus bersusah payah, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Ubadah yang telah disebutkan tadi yaitu:

…. وَ أَلاَّ نُنَازِعَ اْلأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَّاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“….. dan agar kami tidak memberontak kecuali jika melihat kekafiran nyata yang menjadi alasan di sisi Alloh”.[308]

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Jika pemerintah melakukan kekafiran yang nyata, maka tidak boleh mentaatinya dalam hal itu, bahkan wajib berjihad melawannya, sebagaimana yang tersebut dalam hadits ini. (Yaitu hadits Ubadah yang tersebut di atas).[309]

Dan beliau berkata pada halaman yang lain: Sesungguhnya seorang pemerintah kafir itu harus dipecat menurut ijma’. Kaum muslimin harus melakukan hal itu, barang siapa yang mampu mengerjakannya ia mendapat pahala dan bagi yang memberikan toleransi mendapatkan dosa dan bagi yang tidak mempunyai kekuatan wajib hijroh dari negeri tersebut.[310]

Hukum memerangi penguasa murtad di dalam negeri kaum muslimin

1. Kaum muslimin selain yang mendapat udzur syar’I, wajib ikut memerangi penguasa yang murtad dan melepas diri darinya dan keluar kepadanya. Hukum ini telah disepakati oleh ahlus sunnah tanpa diperselisihkan. Ibnu Hajar menjabarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ubadah ibnu Shomit rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

دَعَانَا رَسُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ, فَكَانَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ باَيَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا, وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا, وَآثَارَهُ عَلَيْنَا, وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الَأَمْرَ أَهْلَهُ, قَالَ : إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَّاحَا, عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Rosulullah menyeru kami, lalu kami membai’at beliau, beliau membai’at kami untuk mendengar dan taat dalam masalah yang kami senangi dan kami benci, yang sulit bagi kami dan yang mudah bagi kami, dan dalam monopoli yang dilakukan kepada kami, dan kami tidak boleh melepas urusan dari ahlinya. Beliau bersabda : kecuali kalau kamu melihat penguasa itu melakukan kekufuran yang jelas, dan menurut kalian itu ada petunjuk dari Allah”. Ibnu Hajar berkata : “Ringkasnya bahwa penguasa itu dipecat dikarenakan kekafiran yang jelas menurut ijma’, maka setiap muslim wajib menegakkan itu”.[311]

An Nawawi berkata : Al Qodhi ‘Iyadh berkata : “Para ulama telah sepakat bahwa imam itu tidak dinobatkan dikarenakan kekafirannya, maka kalau nampak darinya kekafiran harus dipecat”. Dan beliau berkata lagi : “Kalau sekiranya ia tampak kafir dan merubah syari’at atau berbuat kebid’ahan, maka ia telah keluar dari hukum wilayah (kepenguasaan), dan hilanglah ketaatan kepadanya, dan kaum muslimin harus memecatnya dan mengangkat imam yang adil, jika memungkinkan bagi mereka. Maka kalau itu tidak bisa dilaksakan kecuali hanya oleh satu kelompok maka mereka wajib memecat orang kafir tersebut”.[312]

2. Dan dalil yang menguatkan wajibnya memecat penguasa adalah bahwa orang-orang murtad tersebut telah berdomisili di negara muslim, dan para fuqoha’ telah menyebutkan bahwa jihad menjadi fardhu kifayah kecuali kalau orang kafir berdomisili di negeri kaum muslimin, maka jihad menjadi fardhu ‘ain.

Al Mawardi berkata : “Sesungguhnya peperangan semacam itu adalah peperangan defensif bukan ofensif, maka kefardhuannya bagi orang yang mampu saja”.

Al Baqhowi berkta : “Ketika orang-orang kafir masuk ke negeri Islam, maka jihad menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang dekat dan fardhu kifayah bagi yang jauh”.[313]

Ibnu Taimiyyah berkata : ”Jika musuh masuk ke negeri kaum muslimin, maka tidak diragukan lagi harus dihadang oleh orang yang dekat, kemudian yang terdekat, karena negeri Islam adalah satu negeri”.[314]

Bercampurnya orang-orang kafir dalam negeri kaum muslimin merupakan bentuk dari masuknya kekufuran dengan senjata mereka pada negeri kaum muslimin, dikarenakan batasanya, maka memerangi mereka fardhu ‘ain hukumnya sampai “Dien Allah menang dimuka bumi, Kekuasaan terjaga dan musuh-musuh terhinakan”.[315]

Kenapa memerangi pemerintahan murtad terlebih dahulu ?

Seperti yang telah lalu, bahwasanya nabi shollallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah dengan pedang dan jihad,

حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّيْنُ كُلُّهُ لِلَّه
“Sampai tidak ada fitnah dan Dien ini semuanya hanya untuk Allah”.

Sesungguhnya kita telah meyakini bahwa memerangi kelompok yang murtad itu lebih didahulukan dari memerangi orang musyrikin, munafiqin dan ahlul kitab, itu dikarenakan beberapa sebab :

1. Dikarenakan orang murtad itu paling dekat dengan kita daripada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman :

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيْكُمْ غِلْظَةٌ
Ibnu Katsir berkata menafsirkan ayat ini : “Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk memerangi orang-orang murtad terlebih dahulu, lalu yang paling dekat dan yang paling dekat dengan kekuasaan Islam, oleh karena itu Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memulai memerangi orang-orang musyrik di Jaziroh Arab. Tatkala selesai memerangi mereka, Allah membukakan kepada (nabi dan para shahabat) Makah, Madinah, Thoif, Yaman, Yamamah, Hajr, Khoibar, Hadlromaut dan daerah lainnya dari jazirah-jazirah di arab, dan masuklah manusia dari seluruh penjuru arab ke dalam Dien Allah dengan berbondong-bondong. (Kemudian Allah) mensyari’atkan perang untuk memerangi Rum, karena merekalah yang paling dekat dengan jazirah arab”.

Ibnu Qudamah berkata : “Setiap kaum akan diperangi setelah memerangi musuh yang terdekat, dikarenakanan yang terdekat itu paling banyak dijadikan persembunyian. Dan di dalam memeranginya itu dalam rangka menolak bahayanya dari depan dan dari orang yang ada dibelakang, dan menyibukkan diri memerangi orang yang jauh akan menghabiskan waktu kaum muslimin”[316].

2. Kondisi orang murtad itu lebih utama diperangi daripada orang kafir asli.

Taqiyyuddien Ibnu Taimiyyah berkata : “Telah ditetapkan dalam As Sunnah bahwa memberikan sangsi kepada orang murtad itu lebih didahulukan daripada orang kafir asli, ditinjau dari beberapa segi : “Bahwasanya orang murtad itu diperangi disegala keadaan, tidak diambil jizyah, tidak dijadikan ahlu dzimmah, berbeda dengan orang kafir asli. Dan orang murtad itu diperangi walaupun ia tidak mampu untuk berperang, berbeda dengan orang kafir asli”[317].

Dan beliau berkata lagi : “Kafir murtad itu lebih besar (bahayanya) menurut ijma’ dibandingkan kafir asli”[318]. Dan beliau berkata lagi : “Abu Bakar As Shiddiq dan seluruh para shahabat memulai terlebih dahulu memerangi orang-orang murtad sebelum memerangi orang-orang kafir dari ahli kitab, dikarenakan memerangi orang-orang murtad itu menjaga kemenangan dari negeri kaum muslimin”. Kemudian beliau berkata lagi : “Dan menjaga modal itu lebih utama dari menjaga laba”[319].

3. Memerangi mereka merupakan jenis perang defensif.

Ibnu Taimiyyah berkata : “Musuh yang masuk (ke negeri kaum muslimin) merusak Dien dan dunia, maka tidak ada kepentingan yang paling wajib setelah iman keculi menggempurnya, maka tidak disyaratkan syarat-syarat yang biasa disyaratkan (dalam perang), akan tetapi ia menggempurnya dengan sesuatu yang memungkinkan baginya”[320]. (dikarenakan) mereka selalu merusak Dien dengan menyebarkan kekejian dan kehinaan, menghiasi kekafiran dan mengusir para da’i. Mereka selalu merusak dunia dengan menyebarkan kefakiran, menjual belikan potensi ummat yang diberikan Allah kepada musuh-musuhnya dan mengikat kehidupan busuk dengan apa yang berlaku dari kerusakan-kerusakan yang ada di barat dari tatanan kehidupan.

Bahwasanya perkara syar’I itu sesuai dengan perkara qodari, maka kami berpendapat bahwasanya orang-orang kafir tidak akan dapat menguasai ummat Islam kecuali melalui orang-orang murtad tersebut. Siapakah yang menjadikan yahudi berkuasa atas Palestina ? maka sesungguhnya kekuatan dan kelompok orang-orang murtad tersebutlah yang tidak mempunyai pekerjaan selain melindungi eksistensi orang-orang yahudi. Dan siapakah yang menjadikan kekuatan kekafiran dan syirik mempunyai eksistensi di negara-negara ummat Islam dalam bentuk pusat-puast militer, tentara dan penguasa harta dan kehidupan ? Sesungguhnya tak diragukan lagi adalah para pemimpin dan kelompok orang-oarng murtad.[321]

C. Penyebab-Penyebab Kekafiran

An-Nawawi berkata: Murtad itu bisa dihasilkan karena niat untuk kafir atau karena perkataan atau perbuatan. Jika hal itu disebabkan oleh perkataan maka sama saja apakah orang yang mengatakan itu karena mengejek, menentang atau atas dasar keyakinannya.[322]

Muhammad bin Sa’id Al-Qohthoni berkata: Riddah adalah kekafiran setelah beriman, maka barang siapa yang perkataan mengandung kekafiran, melakukannya atau rela dengannya (bukan karena terpaksa), maka ia telah kafir, meskkipun ia membenci dalam hatinya. Dan inilah yang dikatakan oleh para ulama’ sunnah dan hadits dalam kitab-kitabnya: sesungguhmya orang murtad adalah orang kafir setelah masuk Islam baik dengan perkataan, perbuatan atau keyakinan. Dan mereka telah menetapkan barangsiapa mengucapkan perkataan yang mengandung kekafiran maka ia telah kafir meskipun ia tidak meyakini dan mengerjakannya, jika perkataan yang ia ucapan itu bukan karena terpaksa. Dan begitu pula jika seseorang melakukan perbuatan kufur maka ia telah kafir sekalipun ia tidak meyakininya dan tidak pula mengucapkannya, dan begitu pula jika ia lapang dada dengan kekafiran meskipun ia tidak mengucapkannya dan tidak pula melakukannya. Hal ini sudah maklum, secara jelas di terangkan dalam kitab-kitab mereka bahwa barang siapa yang biasa bergaul dengan ilmu pasti ia telah mendengar sebagiannya.[323]

Beliau juga mengatakan setelah memaparkan pembatal-pembatal Islam: Dan tidak ada bedanya pada seluruh pembatal-pembatal ini antara orang yang bermain-main, yang serius dan yang takut dan yang terkecuali adalah orang yang terpaksa.[324]

Diantara bentuk-bentuk kekafiran adalah sebagai berikut:

Berhukum dengan selain hukum Alloh
Dalil-dalilnya:

§ Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman pada apa yang di turunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu mereka hendak berhakim kepada thogut padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thogut itu dan syetan bermaksud untuk menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya”.(QS. An-Nisa’: 60).

§ Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Robbmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa’: 65).

§ Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir.” (QS .Al-Maidah: 44).

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang dholim.” (QS. Al-Maidah: 44).

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Maidah: 44)

§ Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَآأُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لآإِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“ Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan juga mereka mempertuhankan Al Masih puta Maryam, padahal mereka hanya disuruh mengibadahi pada Ilah Rob yang Maha Esa, tidah ada IlahRob yang berhak disembah selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah:31) .

§ Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَانَزَّلَ اللهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ اْلأَمْر

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali kebelakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka mudah berbuat dosa dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah kepada mereka: kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”. (QS. Muhammad :25-26).

§ Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

وَيَقُولُونَ ءَامَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ وَمَآ أُوْلَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ، وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ، وَإِن يَكُن لَّهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ، أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ اللهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ، إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَّقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.

“Dan mereka berkata: kami telah beriman kepada Allah dan Rosul, dan kami mentaati keduannya. Kemudian sebagian dari mereke berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil pada Allah dan Rusul-Nya , agar Rosul menghukumi diantara mereka tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tapi jika keputusan itu sesuai dengan kemaslahatan mereka, mereka datang pada Rosul dengan patuh. Apakah ketidak datangan mereka itu karena dalam hati mereka ada penyakit atau karena mereka ragu-ragu ataukah karena takut kalau-kalau Allah dan RosulNya berlaku hukum kepada mereka. Sesunnguhnya mereka itulah orang-orang yang dholim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan RosulNya agar Rosul menghukumi diantara mereka perkataan mereka adalah “Kami mendengar dan kami patuh” dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nuur: 47-51).

Ali bin Abil ‘Izz berkata tentang berhukum kepada selain syari’at Islam: Disini ada masalah yang harus direnungkan, yaitu bahwasanya berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Alloh bisa berupa kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan kadang hanya berupa maksiyat, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dengan demikian ia berarti kufur majazi atau kufur ashghor. Hal itu disesuaikan dengan kondisi pelakunya. Apabila ia berkeyakinan bahwa berhukum dengan hukum Alloh itu tidak wajib, atau ia bebas memilih, atau ia meremehkannya padahal ia yakin bahwa itu adalah hukum Alloh, maka yang demikian ini adalah kufur akbar. Namun jika ia yakin akan keharusan berhukum dengan hukum Alloh, dan ia menyadari hal itu pada peristiwa yang terjadi, lalu ia menyeleweng sedangkan ia tahu bahwa dengan demikian ia berhak mendapatkan siksa, maka orang tersebut bermaksiat. tapi kalau ia tidak tahu hukum Alloh sementara ia sudah berusaha dan mengerahkan segala potensi untuk mengetahui hukum Alloh, namun ia keliru maka ia dianggap bersalah, ia tetap mendapatkan satu pahala karena ijtihadnya sedangkan kesalahannya diampuni. [325]

Abdul Akhir Hammad dalam mengomentari perkataan diatas berkata: Yang perlu diperhatikan juga bahwasanya pembagian seperti ini bermuara pada berhukum yang berarti al-qodlo’ (memutuskan) bukan dalam arti at-tasyri’ (membuat undang-undang). Karena kata hukum dalam Al-Qur’an kadang berarti al-qodlo’ sebagaimana firman Alloh:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa yang tiadk berhukum dengan hukum yang telah diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir”. (QS. Al-Maidah:44).

Pengertian inilah yang dimaksud oleh Ali bin Abil ‘Izz ketika menjadikan berhukum kepada hukum selain yang telah Alloh turunkan maka hukumnya berkisar antara kufur akbar dan kufur ashghor sesuai dengan keadaan (keyakinan) pelakunya. Hal itu dapat kita pahami dari perkataan beliau pada peristiwa yang terjadi itu artinya beliau tengah membicarakan suatu kejadian yang diselewengkan oleh hakim sehingga ia tidak memutuskannya sesuai dengan hukum Alloh.

Adapun arti yang kedua yaitu at-tasyri’ sebagaimana firman Alloh:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Alloh bagi orang-orang yang yakin”. (QS. Al-Maidah: 50).

Ayat ini berbicara tentang hukum Alloh yang berarti syari’at dan manhaj-Nya dibandingkan dengan hukum jahiliyah yang berarti syari’at dan manhaj jahiliyah. Oleh karena itu anda dapatkan seorang mufassir seperti Ibnu Katsir ketika berbicara tentang ayat:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44).

Beliau membahas panjang lebar tentang perselisihan para ulama’ salaf seputar ayat ini, ditujukan kepada siapa dan apa yang dimaksud dengan kufur di sini, dan yang lain-lain.[326] Adapun ketika mentafsirkan ayat:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki”.

Maka kita dapatkan beliau sangat mempertegas masalah ini. Beliau menetapkan bahwa menyeleweng dari syari’at Alloh kepada syari’at lain yang dibikin oleh manusia sendiri merupakan kekufuran yang pelakunya harus diperangi sampai kembali kepada ajaran Alloh.Beliau mengatakan:”Alloh mengingkari orang-orang yang menyeleweng dari hukum Alloh yang muhkam dan mencakup segala kebaikan dan larangan segala keburukan, lalu berpaling kepada kepada hukum yang lain berupa pemikiran, hawa nafsu dan segala atribut hukum buatan manusia, yang tidak berlandaskan dengan syari’at Alloh, sebagai mana hukum yang diterapkan oleh bangsa Tartar, yang diadopsi dari raja mereka, Jengkis Khan, yang membuat Ilyasa sebagai buku yang berisi kumpulan hukum yang diambil dari berbagai hukum; dari Yahudi, Nasrani, Islam dan yang lainnya, dan didalamnya juga banyak hukum yang hanya berlandaskan pemikiran dan hawa nafsu belaka, lalu jadilah ia sebagai sebuah syari’at yang diikuti dan lebih diutamakan dari pada hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka siapa saja mereka yang melakukan seperti ini, ia adalah kafir yang wajib diperangi sampai kembali kepada hukum Alloh dan Rosul-Nya. Sehingga tidak ada keputusan hukum baik sedikit maupun banyak kecuali dengan menggunakan hukum Alloh”. [327]

Bahkan beliau telah menyatakan ijma’ tentang kafirnya orang menjadikan selain syari’at Alloh sebagai syari’at yang dijadikan landasan hukum. Sebagaimana yang beliau nyatakan dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah sebagai sanggahan terhadap kitab Ilyasa. Beliau mengatakan: Barangsiapa yang meninggalkan syari’at yang telah baku yang diturunkan kepada Muhammad bin Abdulloh sebagai penutup para nabi lalu berhukum dengan syari’at-syari’at lain yang telah mansukh, maka ia telah kafir, lalu bagaimana halnya dengan orang yang berhukum dengan Ilyasa dan lebih mengutamakannya dari pada hukum Alloh? Orang yang melakukannya telah kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin.

Dari sini jelas bagi kita keputusan yang tegas berkenaan dengan undang-undang buatan yang menyelisihi syari’at Alloh yang merasuki negara-negara Islam sehingga menjadi undang-undang yang mengikat mereka, bahwa hal itu adalah kekufuran yang tidak perlu bantahan lagi. Para muhaqqiq dari kalangan ulama’ pada masa ini menyadari hal itu sehingga mereka sehingga mereka menjelaskan hukum undang-undang tersebut dalam Islam. Diantara mereka adalah syaikh Ahmad Syakir dalam mengomentari perkataan Ibnu Katsir diatas: Sesungguhnya hokum/undang-undang buatan manusia itu telah jelas bagaikan matahari di siang bolong, hal itu adalah kekafiran yang nyata dan tidak ada kesamaran lagi. Tidak ada alasan lagi bagi orang yang mengaku Islam untuk tidak mengamalkannya, tunduk kepadanya atau mengakuinya.[328]

Syaikh Muhammad bin Ibrohim mufti Arab Saudi (lama) berkata: Tidak mungkin Alloh menamakan orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh sebagai orang kafir lalu orang yang melakukan hal tersebut tidak kafir. Akan tetapi sebenarnya ia tetap kafir secara mutlak baik kufur amali maupun kufur I’tiqodi……

Beliau berkata: kufur ‘itiqodi sangatlah banyak , diantaranya adalah:

Pertama: Orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh, maka sungguh ia telah menginggkari keabsahan hukum Alloh dan Rosul-Nya. Inilah yang dimaksud dari riwayat Ibnu Abbas dan yang dipilih Ibnu Jarir, yaitu mengingkari hukum syar’I yang diturunkan Alloh, dan dalam hal ini tidak ada perselisihan antara para ulama’.

Kedua: Orang yang berhukum dengan selain hukum Alloh, maka ia tidak mengingkari keabsahan hukum Alloh akan tetapi ia berkeyakinan bahwa selain hukum Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam lebih baik, lebih sempurna dan lebih memenuhi kebutuhan manusia sebagai pemutus perkara antara mereka ketika terjadi perselisihan, baik secara mutlak maupun hanya terbatas pada masalah-masalah baru yang muncul sesuai dengan perkembangan jaman dan perubahan kondisi. Seperti ini juga tidak diragukan lagi atas kekafirannya karena ia lebih mengutamakan hukum buatan makhluk yang hanya merupakan sampah-sampah otak dan kekerdilan hukum dibanding dengan hukum Alloh yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.
Ketiga: Orang tersebut tidak berkeyakinan bahwa hukum tersebut lebih baik dari pada hukum Alloh dan Rosul-Nya, akan tetapi ia berkeyakinan bahwasanya keduanya sama saja, maka seperti ini sama saja dengan dua kelompok sebelunya, ia kafir keluar dari Islam karena dengan demikian ia menyamakan antara makhluq dengan Kholiq.

Keempat: Orang tersebut tidak sampai berkeyakinan bahwa selain hukum Alloh itu sama dengan hukum Alloh dan Rosul-Nya apalagi berkeyakinan bahwasanya hukum tersebut lebih baik, akan tetapi ia berkeyakinan boleh berhukum dengan hukum yang menyelisihi hukum Alloh dan Rosul-Nya. Orang semacam ini sama saja dengan orang-orang sebelumnya karena ia berkeyakinan bolehnya mengikuti hukum yang secara jelas bertentangan dengan nash.

Kelima: Yaitu yang paling besar dan paling luas cakupan penentangannya terhadap syari’at dan paling berani menentang hukum-hukumnya. Serta permusuhannya terhadap Alloh dan Rosul-Nya juga membuat tandingan terhadap mahkamah syar’iyah baik secara persiapan, dukungan , pengawasan, penyebaran pemahaman, sekaligus menyebarkan keraguan-keraguan, pengembangan, bahkan juga pemutusan dan pemaksaan paham dengan berbagai rujukan dan referensi yang dimiliki. Sebagaimana mahkamah syar’iyah itu mempunyai rujukan dan sandaran yaitu yang semuanya berdasar kitab Allah dan sunnah Rosulullah, mahkamah mereka pun juga memiliki referensi yaitu undang-undang yang diadopsi dari berbagai ajaran, berbagai perundang-undangan seperti undang-ndang Perancis, Amerika, Inggris dan undang-undang yang lain serta dari berbagai aliran bid’ah yang mengaku berpegang terhadap syariat dan lain-lainnya. Mahkamah-mahkamah seperti ini sekarang banyak terdapat di negeri-negeri Islam yang di sempurnakan, di siapkan dan terbuka bagi seluruh manusia dan banyak orang yang memanfaatkannya yang pada dasarnya adalah fatamorgana. Para hakimnya memutuskan perkara dengan hukum yang bertentangan dengan al Qur’an dan As Sunnah bahkan megesahkannya dan mengharuskan orang untuk mengikutinya. Dengan demkian kekufuran apalagi yang lebih besar dari pada itu, penentangan mana yang lebih dassyat dari penentangan perbuatan mereka itu terhadap persaksian bahwa Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah Rosul Allah.

Keenam: Hukum-hukum yang digunakan oleh para pemimpin suku dan kabilah yang berupa cerita dari nenek moyang mereka yang mereka namakan Sulumuhum yang mereka warisi secara turun menurun, mereka jadikan sebagai hukum lalu mereka menjadikannya sebagai hukum ketika ada perselisihan. Mereka tetap diatas hukum jahiliyan dan menolak serta benci terhadap hukum Allah dan rosul Nya.

Adapun bagian yang kedua adalah kekafiran berhukum kepada selain hukum yang Alloh turunkan yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Diatas telah disebutkan tafsirannya Ibnu Abbas terhadap firman Alloh

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir”. (QS. Al-Maidah: 44).

Ayat ini mencakup pengertian bagian ini. Yaitu perkataan beliau: Kufrun Duna Kufrin. Dan juga perkataan beliau: Kekafiran di sini bukanlah kekafiran yang kalian maksudkan. Hal itu adalah ketika ia terdorong oleh hawa nafsunya untuk memutuskan perkara dengan selain hukum yang telah Alloh turunkan, sedangkan ia tetap berkeyakinan bahwasanya hukum Alloh dan Rosul-Nya adalah benar, ia mengakui kesalahannya bahwa ia telah mengikuti hawa nafsu.[329]

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwasanya al-hukmu bighoiri maa anzalalloh mengandung dua pengertian:

Pertama: Al-Qodlo’ (memutuskan perkara).

Pada pengertian ini para pelakunya berbeda-beda hukumnya, berkisar antara kufur akbar dan kufur ashgor (kufrun duna kufrin) sesuai dengan keadaan pelakunya. Ia akan termasuk kufur akbar yang menyebabkan dirinya keluar dari Islam jika:

1. Ia mengingkari atas kebenaran hukum Alloh dan Rosul-Nya.

2. Ia berkeyakinan bahwa hukumnya lebih baik dan lebih sempurna dari pada hukum Alloh dan Rosul-Nya.

3. Ia berkeyakinan bahwa hukumnya sama dengan hukum Alloh dan Rosul-Nya.

4. Ia berkeyakinan boleh berhukum kepada hukum yang menyelisihi hukum Alloh dan Rosul-Nya, meskipun ia yakin bahwasanya hukum Alloh dan Rosul-Nya itu lebih baik dan lebih sempurna dari pada hukum yang lain.

Dan perbuatan itu akan hanya sebagai maksiyat atau kufur ashghor atau kufrun duna kufrin jika ia yakin akan keharusan berhukum dengan hukum Alloh, dan ia menyadari hal itu pada peristiwa yang terjadi (yang ia putuskan), lalu ia menyeleweng sedangkan ia tahu bahwa dengan demikian ia berhak mendapatkan siksa. Hal itu adalah ketika ia terdorong oleh hawa nafsunya untuk memutuskan perkara dengan selain hukum yang telah Alloh turunkan, sedangkan ia tetap berkeyakinan bahwasanya hukum Alloh dan Rosul-Nya adalah benar, dan ia mengakui atas kesalahannya dan ia juga mengakui bahwa ia telah mengikuti hawa nafsu.

Kedua: At-Tasyri’ (membuat undang-undang).

Pada pengertian yang kedua ini para ulama’ telah berijma’ atas kekafiran mereka dan wajib diperangi sampai mereka mau kembali kepada syari’at Islam.

Wallohu ‘alam bish showab.

2. membantu orang-orang kafir di dalam memusuhi kaum Muslimin

Alloh subhanahu wata’alla berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَMembantu orang-orang kafir di dalam memusuhi orang Islam

Alloh berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al Maidah :52).

At-Thobari berkata: Barangsiapa berwala’ dan menolong mereka dalam memusuhi orang-orang beriman maka ia termasuk penganut agama mereka sesungguhnya tidak ada seorangpun yang berloyal kepada oranng lain kecuali ia bersamanya dan menganut agama dia serta rela terhadapnya.sedangkan jika ia rela kepadanya dan kepada agamanya maka ia telah memusuhi apa yang menyelisihi, memusuhi dan membencinya. Maka secara hukum ia sama dengan orang yang ia berwala’ kepadanya.[330]

Al Qurtubi berkata : Barang siapa diantara kalian berwala’ kepada mereka, maka kalian telah membantu mereka dalam memusuhi kaum Muslimin. Sesungguhnya ia termasuk golongan mereka, Alloh menerangkan bahawasanya secara hukum ia sama dengan mereka, dengan hal ini menjadikan tidak berhak mendapatkan warisan dari perang murtad, hukum ini terus-menerus berlaku sampai hari qiamat, diantara orang yang termasuk dalam golongan mereka adalah Abdulloh bin Ubay.[331]

Ibnu Hazm berkata : Benarlah bahwasanya maksud dari firman Allah : Barang siapa diantara kalian yang berwala’ kepada mereka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka” adalah sebagaimana dhohirnya yaitu sesungguhnya dia kafir dan termasuk dalam golongan orang-orang kafir. Perkataan ini adalah haq dan tidak ada yang memperselisihankannya di kalangan kaum Muslimin.[332]

Al-Qurthubi berkata:”Dan barang siapa diantara kalian yang berwala’ kepada mereka maka ia telah membantu mereka dalam memusuhi kaum muslimin. “sesungguhnya ia termasuk golongan mereka.” Alloh menerangkan bahwasanya secara hukum dia sama dengan mereka, dan hal ini menjadikan ia tidak berhak mendapatkan warisan dari orang muslim sebagaimana orang murtad dan yang termasuk berwala’ kepada mereka adalah Abdulloh bin Ubay, lalu hukum ini terus berlaku sampai hari qiyamat.” [333]

Ibnu Hazm berkata:”Benarlah bahwasanya maksud dari firman Alloh: “Barangsiapa diantara kalian yang berwala’ kepada mereka maka sesungguhnya dia adalah termasuk golongan mereka” adalah sebagai mana dlohirnya yaitu sesungguhnya dia kafir dan masuk dalam golon gan orang-orang kafir. Ini adalah haq dan tidak ada yang memperselisihkannya diakalangan kaum muslimin.” (Al-Muhalla XIII/35)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz berkata: Para ulama’ Islam telah berijma’ bahwasanya barang siapa membantu dan menolong orang-orang kafir dalam memusuhi orang Islam dengan bentuk apapun, maka ia telah kafir seperti mereka. Sebagai mana firman Alloh:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَآءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al Maidah :52).

Diantara ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang hal ini adalah:

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلآَّ أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. Ali Imron : 28).

فَمَالَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَن تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللهُ وَمَن يُضْلِلِ اللهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً، وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَآءً فَلاَ تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَآءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدتُّمُوهُمْ وَلاَتَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka pada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah Barangsiapa yang telah disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawanlah dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun diantara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,” (QS. An Nisaa’ :88-89).

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا، الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ للهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (QS. An Nisa’: 138-139).

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِم مَّاهُم مِّنكُمْ وَلاَمِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ، أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَآءَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman. Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka.Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al Mujadalah: 14-15).

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلاَنُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِن قُوتِلْتُمْ لَنَنصُرَنَّكُمْ وَاللهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

“Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab:”Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”.Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta”. (QS. Al Hasyr: 11).

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةُُ فَعَسَى اللهُ أَنيَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَآأَسَرُّوا فِي أَنفُسِهِمْ نَادِمِينَ

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-oang munafik) bersegera mendekati mereka (yahudi dan Nasrani), seraya berkata:”Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka”. (ََQS. Al Maidah:53).

لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah : 22)

Wallohu ‘alam bish showab.

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلآَّ أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلآَّ أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلآَّ أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ

لاَ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلآَّ أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللهِ الْمَصِيرُ

——————————————————————————–

[150] . Lihat Al-Isti’anah bighoiril Muslimin

[151] . Ahkamul Qur’an: II/901

[152]. Tafsir Qur’anil ‘Adzim : I/119

[153] Tafsir Al-Qurthubi: II/353

[154] Ahkamul Qur’an: I/109

[155] Shohih Muslim, Kitabul Jihad, no.4522 hal 768, Jami’ At Tirmidzi Kitabud Diyat no 1408 Hal 341, Sunan Abi Daud Kitabul Jihad no 2613 hal 402, Sunan Ibnu Majah Kitabul Jihad no 2858 hal 412-413 ).

[156] (Shohih Muslim Kitabul Iman Hadist No 124 Hal 32, Sunan Ibnu Majah Kitabul Fitan no 3927 hal 563, Jami’ At Tirmidzi Bab Tafsiril Qur’an no 3341 hal 763, Sunan Abu Daud Kitabul Jihad no 2640 hal 406, Sunan An Nasa’I bab Maniuz Zakat no 2445 hal 336, Dishohihkan oleh Al Bani dalam Shohih al jamai’ ash Shoghir 1/293 no 1373 ).

[157] (Sunan Abi Dawud, Kitabul Jihad, bab. Fil Ghozwi ma’a A’immatil Juur, no.2532,hal 391 , dan juga diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam kitab As-Sunnah-Sunan II/152. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:”Pada sanadnya ada kelemahan”).

[158] Sunan Abi Daud Kitabul Jihad No 2612 hal 402

[159] (kaji: Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an karanagan Al Qurthubi VIII / 39 dan halaman setelahnya)

[160] Al-Wala’ wal Baro’ fil Islam: 127-128.

[161] Waqfat ma’ad Duktur Al-Buthi fi Kitabihi ‘anil Jihad karangan Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi hal. 83-85

[162]. Ahkamul Qur’an: I/109

[163]. Tafsir Al-Qurthubi: II/353.

[164]. Al-Mughni: XIII/10.

[165]. Al-Mughni : XIII/29

[166]. lihat Al Isti’anah hal: 97 – 129

[167]. Waqfat ma’ad Duktur Al-Buthi fi Kitabihi ‘anil Jihad karangan Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi hal. …..

[168].. Majmu’ Fatawa: XX/101

[169]. Al-Isti’anah bighoiril Muslimin, hal: 118

[170]. Lihat tafsir Ath-Thobari: III/12 dan Ahkamul Qur’an karangan Ibnul ‘Arobi:………….

[171]. Sunan Abi Daud Kitabul Jihad No: 2612 hal: 402.

[172]. Waqfaat ma’ad Dukrur Al-Buthi hal: 111-112. dan lihat juga di Ahkamul Qur’an: II/193-194.

[173]. Waqfat ma’ad Duktur Al-Buthi fi Kitabihi ‘anil Jihad karangan Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi hal: Dan Ahkamul Qur’an: I/109

[174] . Ahammiyatul Jihad, Dr.Al-‘Ulyani hal: 124

[175] . Al Jihaadu Fii Sabilillah : I/54-55.

[176] Al Mughni: XIII/6

[177] . Al Azizu Syarhu al Wajiz: XI/337

[178] . Al Azizu Syarhu al Wajiz: XI/345

[179] . Al Jihadu fi Sabilillah Haqiqatuhu wa Ghayatuhu, Dr. Abdulloh Ahmad Al-Qodiri 1/56

[180] . Bidayatu al Mujtahid 1/278

[181] . Al Jihadu fi Sabilillah Haqiqatuhu wa Ghayatuhu, Dr. Abdulloh Ahmad Al-Qodiri 1/56

[182] . Al Jihadu Sabiluna hal. 34-35

[183] . Al Khudri 15

[184]. Shohih Muslim. Kitabul Imarah No 4907 hal 849, Sunan Abu Daud –Kitabul Jihad No 2509 hal 387.

[185] . Al Jihadu fi Sabilillah Haqiqatuhu wa Ghayatuhu, Dr. Abdulloh Ahmad Al-Qodiri: I/63

[186]. Al Mughni: XIII/6

[187]. Al Jihaadu Fii Sabilillah: I/63

[188]. Jama’ah Jihad ‘Aqidatan wa Manhajan, Abul Mundzir As-Sa’idi hal: 51

[189]. Hukmul Jihad, al Khudri hal: 15

[190]. Ibid hal: 16

[191]. Hukmul Jihad hal:18

[192]. Ibid hal: 16-17

[193]. Al Mughni: XIII/8

[194]. Jama’atul Jihad hal: 52

[195]. Hukmul Jihad hal: 13

[196]. Shohih Muslim Kitabul Iman bab Al Kabaair No 262 Hal 5354. Sunan Nasa’I No 3701 bab Ijtinabu akli maalal Yatim hal 518, dan dishohihkan oleh Albani dalam Shohih Jami’ Shoghir I/25 no: 144.

[197]. Dishohihkan oleh Albani dalam Shohih Al Jami’ Ash Shoghir: II/779, no 4229.

[198] . Ahkamul Qur’an hal: I/459

[199] . Ibid hal: II/955, tafsir QS. At Taubah :41

[200] . Jama’atul Jihad hal: 53

[201] Al Jihadu fi Sabilillah Haqiqatuhu wa Ghayatuhu : I/66

[202] Tafsir Al Qurthubi : 2/22-23

[203] Jama’atul Jihad, As Sa’ady hal. 118

[204] Jama’atu Jihad hal: 55

[205] Ahkamul Qur’an: II/954-955

[206] Ad Difa’ lil Azzam hal. 12

[207] Jama’atul Jihad hal. 55

[208] Hukmul Jihad, Al Khudri : 17-18

[209] Jama’ah Jihad : 55-56

[210] Hukmul Jihad, al Khudri : 17-18

[211] Ibid hal. 15-16

[212] Ibid….

[213] dari Azzam hal. 12

[214] . [Al Fatawa al Kubra I/237].

[215] Ilhaq bil Qafilah. Hal. 53

[216] Ilhaq bil Qafilah. Hal. 53 juga Fatwa beliau : Ad Difa’ ‘an Aradhi al Muslimin

[217]. Shohih Muslim , Kitabul Imaroh bab Wujubut Tho’ah al Umara no 4768 hal 826. Sunan Ibnu Majah Kitabul Jihad , bab Al Bai’ah no 2866 hal. 414. Sunan Nasa’I Kitabul Bai’ah no 4154 Hal. 579.

[218] Fathul Bari : XV/9

[219] Fathul Bari : XIII/5

[220]. Lihat Imamatul Udzma, Ad Dumaiji hal. 470

[221] . Majmu’ Fatawa : III/267

[222] . Jama’atul Jihad, As Sa’ady hal. 151

[223] . Lihat Imamatul Udzma, Ad Dumaiji hal. 470

[224] [Majmu’ Fatawa XXVIII/478, 534].

[225] Jami’ At Tirmidzi Kitabul Iman no. 2606 hal. 591. Sunan Nasa’I Kitabul Jihad no 3092 Hal 424. Sunan Ibnu Majah Muqodimah Kitabul Iman no. 71-72 hal. 12. Shohih Muslim Kitabul Iman no 126 Hal. 32. dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Al Jami’ Ash Shoghir : I/292 no. 1370.

[226] Majmu’ Fatawa: XXVIII/502.

[227] Majmu’ Fatawa : XXVIII/468.

[228] Majmu’ Fatawa : XXXV/89

[229] Al-Qoulul Qoti’, Isham Darbalah hal. 41

[230] , dari Darbalah. 26

[231] Imamatul ‘Udzma Ad Dumaiji hal.46

[232] . Lihat Ta’liq Syaikh Ali Muhammad dan Syaikh Adil Ahmad Abdul Maujud terhadap Asy-Syarhul Kabir : XI/458

[233] . Al-‘Aziz Syarhul Wajiz : XI/456

[234] . Al-‘Aziz Syarhul Wajiz : XI/456

[235] Dishohihkan oleh Al Albani dengan Lafadz :ذمة المسلمين واحدة فإن جارت عليهم……

Dalam Shohih Al Jami’ Ash Shoghir : I/645 no 3435

[236] Lihat Ta’liq Syaikh Ali Muhammad dan Syaikh Adil Ahmad Abdul Maujud terhadap Asy-Syarhul Kabir : XI/458

[237] Lihat Al-Majm’ Syarhul Muhadzab karangan An-Nawawi : XI/257

[238] Lihat Al-Isti’anah hal.141

[239] Lihat Nihayatul Muhtaj : VIII/106

[240] Al-Majmu’ : XI/257

[241] Ikhtilafud Darini hal.131 nukilan dari Mawahibul Jalil III/360

[242] Lihat Asy-Syarhul Kabir XI/553 dan Nihayatul Muhtaj VIII/106

[243] Lihat Asy-Syarkhul Kabir, XI/554

[244] . Lihat: Ikhtilafud Daaroini, hal.. 131-133, dengan sedikit perubahan.

[245]. Al Qamusu al Muhithu IV / 117, Al Misbahu al Muniru hal. 210.

[246]. Lisanu al ‘Arab XII / 221, Taaju al ‘Urus VIII / 301, Mukhtaru ash Shihah hal. 223.

[247] ِ. Al Qawanin al Fiqhiyyah hal. 104, At Taaju wa al Iklil Hamisy Mawahibu al Jalil II / 380.

[248] . Al Wajiizu fi Fiqhi al Imam asy Syafi’i II / 198.

[249] . Hasyiyah ar Raudh al Murabba’ II / 25, lihat Kasyfu al Qana’ II / 92.

[250] . Al Fiqhu al Islami wa Adilatuhu VI / 442.

[251] . Minhaju al Muslim hal. 355.

[252] . Ikhtilafu ad Daraini hal 114.

[253] . Al Fiqhu al Islami VI / 444, Bada’iu al Shana’i’ VII / 111, Mughni al Muhtaj IV / 243, Kasyafu al Qana’ III / 116, Al Isti’anatu bighairi al Muslimin hal. 137.

[254] . Fiqhu as Sunah II / 668.

[255] . Al Mughni XIII/31

[256]. Syarhu az Zarqani ‘ala Muwatha’ Malik I / 139, Tartibu Musnad asy Syafi’i II / 130, Mushanaf Ibnu Abi Syaibah XII / 243 no. 12696, Mushanaf Abdu ar Razzaq VI / 68 no. 10025, Sunan al Kubra lil Baihaqi IX / 189. Lihat Fathu al Bari VI / 261, Nailu al Authar VIII / 214.

[257] . Syarhu az Zarqani II / 139, At Tamhid II / 216, Majmu’ Fatawa XXXIII / 189.

[258] . HR. Bukhari, Fathu al Baari VI / 258.

[259] . ‘Aunu al Ma’bud VIII / 291 no. 3025.

[260] . Tafsiru al Qurtubi VIII / 111, At Tamhid II / 120.

[261] . Ikhtilafu ad Darain hal 118.

[262] . Al Qurtubi XVI/273.

[263] Tafsir Ibnu Katsir IV/171

[264]. Sunan Nasa’I bab Al Hukm fii Al Murtad no 4068 dan 4069 hal 566-567. Sunan Ibnu Majah Kitabul Hudud no 2535 hal 364. Jami’ At Tirmidzi Kitabul Hudud no 1458 hal 354 dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Al Jami’ ash Shoghir II/1055 no 6125.

[265] .Ikhtilafu ad Darain hal. 119.

[266] . Ibid.

[267]. Jami’ At Tirmidzi Kitabul Iman no 2606 hal 591. Sunan Nasa’I Kitabul Jihad no 3092 Hal 424. Sunan Ibnu Majah Muqodimah Kitabul Iman no 71-72 hal 12. Shohih Muslim Kitabul Iman no 126 Hal 32. dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Al Jami’ Ash Shoghir I/292 no 1370.

[268] . Tafsir al Qurtubi VIII / 109, lihat Ikhtilafu ad Darain hal 120.

[269] . Hasyiyatu as Sindi ‘ala Sunan an Nasai: V / 15, Fathu al Baari: I /77.

[270] . Ikhtilafud daroin hal: 121.

[271] .Tafsir al Qurtubi: VIII / 111, Ahkamu Ahli Dzimah: I / 6.

[272] . Zaadu al Ma’ad III / 224.

[273] . Ikhtilafud daroin hal. 122.

[274] . Muslim III / 1357, Ahmad V / 358, Abu Daud no. 2612, Tirmidzi no. 1617, Ibnu Majah no. 2858, ad Darimi II / 215, Syarhu as Sunah V / 548, Abdu ar Razzaq no. 9428.

[275] . Subulu as Salaam IV / 61.

[276] . Syarhu as Sunah XI / 9.

[277] . Ahkamu Ahli adz Dzimah: I / 6.

[278] . Ikhtilafu ad Darain hal: 123.

[279] . Bada’i’: VII / 111, Nashbu ar Raayah: III / 381.

[280] . Al Muhadzab: II / 255, Al Wajiz: II / 201.

[281] . Al Fiqhu al Islami VI / 450, Ikhtilafu ad Darain hal.123

[282] . Ibid, VI / 451.

[283] . Bidayatu al Mujtahid III / 460.

[284] . Bidayatu al Mujtahid: III / 489, Al As-ilah wa al Ajwibah al Fiqhiyyah: III / 203.

[285] . Zaadu al Ma’ad: III / 157.

[286] . Ibid, hal.137

[287] . Al-Isti’anah, hal:148-149

[288] . Ikhtilafud Daaroin, hal: 138

[289] . Al-Isti’anah, hal: 150

[290] . Ikhtilafud Daaroini, hal: 137

[291]. Ikhtilafud Daroini hal:138

[292]. Al-Isti’anah hal. dan Ikhtilafud Daroini hal: 139

[293]. Ikhtilafud Daroini hal: 138

[294]Ibar wa Basho’ir lil Jihad fil ‘Ashril Hadhir hal. 35-36

[295]. Jami’ At Tirmidzi Kitabus Sair no 1583 hal 385

[296] . Al-Jihad fii sabilillah hal.212-216

[297] . Majmu’ Fatawa: XXVIII/355

[298] . Masyari’ul Asywaq: II/1023-1024 , Al-Khurosyi: III/112 dan Mughnil Muhtaj: IV/23

[299] . Al-Jihadu fii Sabiilillah Dr.Abdulloh bin Ahmad Al-Qodiri, hal: 271

[300] . Dinukil secara ringkas dari Al-Majmu’: XX/369

[301] . Sunan Sbu Daud Kitabul Hudud bab Al Hukmu fii man Irtadda, no 4351 hal 657. Dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih al Jama’ Ash Shoghir II/1229 no 7367.

[302]. Sunan Nasa’I Kitabu Ad Dzam bab Al hukmu fi Al Murtad no 4068 / 4069 hal :566-567. Sunan Ibnu Majah Kitabul Hudud bab Al Murtad ‘an Diinihi no 2535 hal 364. Jami’ At Tirmidzi , Kitabul Hudud no 1458 hal 354. dan dishohihkan oleh al Albani dalam shohih al Jami’ Ash Shoghir II/1055 no 6125.

[303]. Al-‘Aziz XI/97 dan Al-Majmu’ XX/369

[304] . Al-Majmu’ XX/380

[305] . Almajmu’, An-Nawawi: XX/391

[306] . Lihat Al-Ahkam As-Sulthoniyah, Almawardi hal: 104 (ed. Tarjamah )

[307] . Al-Qulul Qoti’ fiiman imtana’a ‘anisy syroi’, ‘Ishom Darbalah dan ‘Ashim Abdul Majid hal: 23

[308]. Shohih Muslim , Kitabul Imaroh bab Wujubut Tho’ah al Umara no: 4768, hal: 826. Sunan Ibnu Majah Kitabul Jihad , bab Al Bai’ah no: 2866, hal: 414. dan Sunan Nasa’I Kitabul Bai’ah no: 4154 Hal: 579.

[309]. Fathul Bari: XIII/7

[310] . Al-Imamatul ‘Udzma , Abdulloh bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji, hal.500-501

[311] . Fathul Bari : XIII/123

[312] . Syarh Shohih Muslim : XII/229

[313] . Syarhus Sunnah : X/374

[314] . Al Fatawa Al Kubro : IV/608. lihat juga dalam kitab Bidayatul Mubtadi beserta syarhnya Al Hidayah, Fiqh Hanafi : II/135. Dan dalam kitab Hasyiyatuddasuqi ‘alassyarhi Al Kabir. Fiqh Maliki : II/175. dan dalam Roudhotut tholibin fiqh syafi’I : X/214. Al Mughni Fiqh Hambali : VIII/364

[315] . Disadur dari kitab Ma’alim Thoifah Manshuruoh. Oleh Abu qotadah Al Falistini

[316] . Al Mughni Ma’a suarhi Al Kabir : X/372-373

[317] . Majmu’ Fatawa : XXXV/………

[318] . Idem : XXVIII/47

[319] . Idem : XXXV/…….

[320] . Al Fataawa al Kubro : IV/608

[321] . Disadur dari kitab Ma’alim At Thoifah Al Manshuroh. Abu Qotadah

[322] . Almajmu’, An-Nawawi XX/369-370

[323] . Al-Wala’ wal Baro’ fil Islam, Muhammad bin Sa’id Al-Qohthoni hal: 75

[324] . Ibid hal: 77

[325] . Tahdzib Syarhul ‘Aqidah Ath-Thohawiyah, Abdul Akhir Hammad hal:176

[326]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir: II/57-58

[327]. Tafsir Ibnu Katsir: II/63-64

[328] . Ibid hal: 176-177

[329] Ini adalah nukilan Abdulloh bin Umar bin Sulaiman Ad-Dumaiji dalam kitabnya Imamatul ‘Udzma hal: 103-105 dan beliau mengatakan: Tahkimul Qowanin tulisan Muhammad bin Ibrohim hal. 5-8 dan aku menukulnya secara panjang lebar dengan cara diringkas selama memungkinkan melihat kepentingannya dan kekuatan ilmiyahnya peserta kebutuhan yang mendesak khususnya pada zaman ini.

[330] . Tafsir Ath-Thobari : VI/279.

[331] . Tafsir Alqurtubi: VI/ 217.

[332] . Al Muhalla : XIII/ 35.

Tafsir Al-Quthubi VI/217, dan lihat tafsir Al-Baidlowi I/221, Tafsir Asy-Syaukani II/62

Pos ini dipublikasikan di Al Jihad. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s