KONSEKUENSI ORANG MURTAD

Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘aalamiin, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.

‘Amma ba’du:

Ikhwani fillah… materi kali ini adalah berkenaan dengan konsekuensi-konsekuensi terhadap orang yang sudah murtad atau keluar dari Islam (baik karena melakukan syirik akbar, kufur akbar ataupun berikrar untuk pindah agama, ed.) berdasarkan dalil-dalil dariAl Qur’an dan As Sunnah.

Banyak sekali konsekuensi-konsekuensi yang diberlakukan terhadap orang yang sudah murtad atau sudah kafir atau sudah keluar dari Islam. Ada konsekuensi-konsekuensi yang sifatnya duniawi dan ada konsekuensi-konsekuensi yang bersifat ukhrawi (akhirat).

I. Konsekuensi-konsekuensi yang diberlakukan di dunia ini, diantaranya:

1. Gugur hak perwalian atau penguasaannya terhadap kaum muslimin

a. Orang murtad tidak memilki wilayah (saitharah), tidak boleh diberikan kesempatan untuk menguasai orang muslim.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan Allah tidak akan menjadikan bagi orang kafir jalan untuk menguasai kaum muslimin”. (An Nisa: 141)

Ayat ini sifatnya penafian, akan tetapi ini bermakna larangan bagi orang muslim untuk memberikan peluang atau kesempatan bagi orang kafir untu menguasai kaum muslimin. Kaum muslimin tidak boleh memberikan kesempatan atau peluang bagi orang murtad atau bagi orang kafir untuk menguasai diri mereka, maka dari itu orang kafir atau orang murtad tidak boleh menjadi pemimpin bagi kaum muslimin.

Begitu juga apabila si orang kafir atau murtad ini asalnya muslim dan menjadi pemimpin (amir) bagi kaum muslimin, lalu dalam perjalanannya dia murtad dari Islam, maka wajib atas kaum muslimin untuk melengserkannya, karena dengan sebab kemurtaddannya maka kepemimpinannya itu lepas dengan sendirinya. Jika dia tidak mau menanggalkan kepemimpinannya atau tidak mau turun dari jabatannya sebagai pemimpin atau amir maka wajib atas kaum muslimin untuk mencopot jabatannya. Karena seorang imam atau amir atau pemimpin atau presiden itu diangkat untuk ditaati sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri (pemimpin) di antara kalian” (An Nisa: 59)

Di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk mentaati pemimpinnya, juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku memerintahkan kalian dengan lima hal sebagaimana Allah memerintahkan saya dengannya:berjama’ah, mendengar dan taat… ” (HR. Ahmad dan At Tirmidziy, shahih)

Jadi keberadaan pemimpin adalah untuk ditaati, akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengancam kepada orang-orang yang mentaati orang kafir:

“Hai orang-orang yang beriman jika kalian mentaati orang-orang kafir tentu mereka mengembalikan kalian ke belakang (murtad)” (Ali Imran: 149)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam atau menghati-hatikan kepada orang muslim dari mentaati orang kafir; bahwa jika kalian mentaati orang-orang kafir, maka orang kafir ini akan mengembalikan kalian ke dalam kekafiran atau ke dalam kemurtaddan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang untuk mentaati orang kafir, maka berarti kepemimpinan orang murtad atau orang kafir atas kaum muslimin itu dilarang. Orang murtad tidak boleh diangkat untuk menjadi pemimpin atau amir atau presiden atau hal-hal yang seperti itu, dia tidak boleh dibiarkan menjadi pemimpin ketika dia sudah murtad dari Islam.

Oleh sebab itu orang muslim tidak boleh ikut serta mengangkat orang kafir sebagai pemimpin, seperti ikut berpartisipasi dalam Pilpres, Pilkada dll, karena hal ini adalah sebuah bentuk pengangkatan orang kafir untuk menjadi pemimpin, mengangkat orang yang akan menerapkan atau memberlakukan hukum thaghut terhadap manusia.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menghati-hatikan dalam firman-Nya:

“Maka janganlah kamu mentaati orang-orang kafir, dan jihadilah mereka itu dengan Al Qur’an dengan jihad yang besar”. (Al Furqan: 52)

Jadi, dikarenakan tidak boleh ditaati, berarti tidak boleh diangkat untuk menjadi pemimpin, dan ketika dia sudah menjabat sebagai pemimpin kaum muslimin kemudian dia murtad, maka kepemimpinannya lepas dengan sendirinya, dan bila dia tidak mau turun, maka wajib diturunkan oleh kaum muslimin, bila dia melindungi diri dengan kekuatannya maka wajib atas kaum muslimin untuk memerangi kelompok yang melindunginya dengan segenap kemampuan.

b. Gugur hak perwalian dalam masalah pernikahan.

Bila ada seorang muslimah memiliki ayah, kemudian ayahnya ini murtad karena melakukan kemusyrikan atau hal-hal apa saja yang membatalkan keislaman, misalnya menjadi Anggota Dewan di DPR/MPR atau dia menjadi anshar thaghut (tentara/polisi), ketika muslimah tersebut mau menikah, maka si ayah ini –dalam Islam– tidak memiliki perwalian dalam nikahnya karena dia sudah murtad dari Islam. Keberhakkan dalam perwaliannya sudah gugur, dan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang bagi orang muslim untuk memberikan kekuasaan kepada orang kafir.

c. Gugur hak pengasuhannya (pengurusan terhadap anak)

Bila salah seorang dari orang tua, baik ayah atau ibu murtad dari Islam, maka tidak diberikan hak dalam pengasuhan anaknya. Ini dikarenakan kepengurusan anak memberikan jalan bagi dia untuk menguasai anaknya yang masih muslim ini. Sedangkan setiap orang yang mengurusi anak, maka dia akan berupaya untuk mendidik anak tersebut di atas keyakinan yang dia anut.

2. Tidak boleh shalat (bermakmum) di belakangnya

Kita tidak boleh shalat di belakang orang kafir atau orang murtad, umpamanya shalat dibelakang anggota MPR/DPR atau polisi atau tentara atau anshar tahghut yang lainnya yang mana dia menjadi imam shalat, karena orang kafir atau orang murtad segala amal-amalnya tidak sah karena syarat sah seluruh ibadah adalah Al Islam atau orangnya bertauhid, sedangkan orang murtad walaupun dia mengaku Islam atau melakukan amalan-amalan shalih, tapi kalau dia murtad dari Islam maka amal-amal yang dilakukannya; baik itu shalat, zakat, shaum atau yang lainnya adalah tidak sah.

Bagi orang yang mengetahui bahwa imamnya itu orang kaifr maka tidak boleh shalat di belakang dia, karena dia sudah mengetahui bahwa shalatnya si imam tersebut tidak sah, ini berbeda dengan orang yang tidak mengetahui bahwa imamnya ini orang kafir, baik tidak mengetahuinya karena tidak melihat hal-hal yang membatalkan keisalaman dari imam tersebut (Masturul Hal) walaupun hakikat sebenarnya si imam itu orang kafir, akan tetapi karena si imam itu tetap menampakkan keislaman, maka orang yang shalat di belakangnya adalah sah. Kita tidak diwajibkan umtuk mengorek-ngorek keyakinan si imam, Misalnya si imam tersebut adalah sebenarnya anggota DPR/MPR atau aktifis sebuah paratai, namun kita tidak mengetahuhi bahwa si imam itu anggota DPR/MPR atau aktifis sebuah partai maka shalat kita bermakmum kepadanya tetap sah, sedang kekafiran dia yang sebenarnya dihisab di sisi Allah, karena kita tidak diwajibkan untuk menanya-nanyai apa dan bagaimana tentang si imam tersebut.

Berbeda dengan orang yang sudah mengetahui bahwa imamnya itu adalah orang kafir, maka tidak boleh shalat di belakang imam yang seperti itu.

3. Tidak boleh menikahinya dan tidak boleh menikahkan seorang muslim dengannya.

Orang muslim tidak dibolehkan menikah atau menikahkan dengan orang yang sudah murtad atau keluar dari Islam dengan bentuk kemurtaddan apa saja, baik itu murtad karena mendukung syirik hukum atau pun melakukan syirik tumbal dan sesajian atau yang lainnya. Seorang ayah dilarang menikahkan puterinya yang muslimah atau laki-laki menikahkan saudarinya kepada laki-laki yang murtad atau yang kafir, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan:

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman, sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman, sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya”. (Al Baqarah: 221)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang wali menikahkan wanita yang dalam perwaliannya kepada orang-orang kafir atau musyrik atau orang murtad.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mengatakan:

“Dan janganlah kalian memegang ikatan (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir” (Al Mumtahanah: 10)

Bila asal keduanya atau pada awal penikahannya adalah muslim, lalu kemudian di tengah perjalanan si perempuannya murtad atau si laki-lakinya murtad, maka pernikahan tersebut lepas dengan sendirinya. Apabila dalam masa iddah si perempuan kembali kepada Islam, maka si laki-laki boleh kembali kepadanya tanpa perlu akad nikah kembali. Begitu juga apabila yang murtadnya itu si laki-laki, jika masih dalam masa iddah lalu si laki-laki tersebut kembali kepada Islam maka si perempuan boleh menerima kembali si laki-laki tanpa akad yang baru. Jika setelah beberapa waktu masa iddah berlalu dan salah satunya baru kembali kepada Islam, maka di sini ada dua pendapat para ulama, ada yang mengharuskan kembali akad dengan mahar yang baru dengan wali dan saksi, dan ada yang berpendapat tidak perlu dilakukan akad nikah kembali, dan yang rajih (kuat) –wallahu a’lam– adalah pendapat yang mengatakan tidak perlu akad kembali –jika si wanita tidak menikah dengan laki-laki yang lain sehabis masa iddahnya–, ini berdasarkan apa yang terjadi saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan puterinya Zainab kepada Abul ‘Ash ibnu Ar Rabi’ setelah enam tahun. Dia (‘Abul ‘Ash) masuk Islamnya enam tahun setelah masa iddah Zainab berakhir sebagaimana atsar yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu: “Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan puterinya Zainab kepada Abul ‘Ash ibnu Ar Rabi’ dengan nikah yang terdahulu dan tidak mengadakan akad nikah lagi”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majjah dan di shahihkan oleh Imam Ahmad dan Al Hakim)

Jika tadi di awal Allah melarang menikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka beriman, dan begitu juga si ayah atau saudara atau laki-laki yang memiliki perwalian kepada perempuan tidak boleh menikahkan perempuan tersebut kepada laki-laki musyrik.

4. Haram sembelihannya

Orang murtad haram sembelihannya, sedang yang Allah halalkan sembelihannya hanyalah sembelihan orang muslim atau sembelihan orang yang terlahir dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani), bukan orang yang asalnya muslim kemudian murtad dan masuk Nashrani atau Yahudi atau murtadnya karena melakukan pembatal-pembatal keislaman lainnya seperti orang yang melakukan tumbal atau sesajian atau mendukung demokrasi dan hukum-hukum buatan lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menjelaskan tentang orang yang membuat sembelihan untuk tumbal: ”Hewan ini haramnya dari dua sisi: Pertama, sembelihan orang murtad, dan kedua karena hewan itu sembelihan yang diperuntukan untuk selain Allah”.

Ada kaidah fiqh yang mengatakan bahwa hukum asal sembelihan itu adalah haram kecuali yang dibolehkan oleh syari’at, yaitu sembelihan orang muslim atau sembelihan ahli kitab. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah dihalalkan bagi kalian yang baik-baik, dan sembelihan ahli kitab halal bagi kalian dan sembelihan kalian halal bagi mereka” (Al Maaidah: 5)

5. Tidak boleh mengucapkan salam terhadap mereka

Ini karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam hadits Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu: “Janganlah kalian mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani” dalam satu riwayat dikatakan: “Jika kalian menjumpai orang-orang, musyrik, maka jangan kalian mengucapkan salam terhadap mereka”.

Jadi, orang muslim tidak boleh mengucapkan salam kepada orang-orang kafir, apalagi dengan orang murtad…!!!

Adapun jika mereka mengucapkan salam terhadap kita maka boleh dijawab dengan “Wa ‘alaikum”. Dan sebagian ulama membolehkan menjawab dengan jelas jika mereka mengucapkannya dengan jelas pula, tapi yang disepekati adalah jawaban wa ‘alaikum.

6. Tidak boleh memuliakannya atau mengagungkannya

Karena orang-orang murtad itu adalah orang-orang yang sudah dihinakan oleh Allah, sedangkan orang yang sudah dihinakan oleh Allah, maka tidak boleh kita muliakan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

“Dan barangsiapa yang telah dihinakan oleh Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya” (Al Hajj: 18)

Jadi, orang kafir sudah Allah hinakan, dan Allah menyiapkan bagi mereka ‘adzab yang menghinakan, maka tidak boleh orang muslim memuliakan orang kafir, memuliakan orang kafir adalah haram…

7. Wajib bara’ (berlepas diri) dari mereka

Bara’ di sini adalah membenci dan memusuhinya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan:

“Telah ada pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya suri tauladan yang baik bagi kalian saat mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja” (Al Mumtahanah: 4)

Allah mendahulukan berlepas diri dari orangnya, karena pentingnya berlepas diri dari orang atau pelakunya, karena bisa jadi orang berlepas diri dari perbuatannya, tapi tidak berlepas diri dari orangnya.

Kita harus berlepas diri dari orang-orang murtad, dari orangnya dan dari perbuatannya. Ini adalah yang dinamakan bara’, memusuhi dan membenci kepada orang dan perbuatannya. Jadi kita harus berlepas diri dari mereka karena mereka adalah orang yang sudah Allah vonis kafir, makanya Allah meniadakan keimanan dari orang yang menjalin kasih sayang dengan orang-orang murtad atau orang kafir, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Kamu tidak akan menemukan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menjalin kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan rasul-Nya walaupun mereka adalah ayah mereka, anak mereka, saudara mereka atau kerabat mereka” (Al Mujaadilah: 22)

Jadi Allah mengatakan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak mungkin menjalin kasih sayang dengan orang yang murtad atau dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.

Di sini ada perbedaan, ketika kita berlepas diri dari orang musyrik dengan sikap kita terhadap orang muslim yang melakukan maksiat; jika orang muslim yang melakukan maksiat maka kita berlepas diri hanya dari perbuatannya dan bukan dari orangnya. Dalam Al Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

“Bila mereka maksiat kepada kamu (Muhammad), maka katakanlah sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian lakukan” (QS. Asy Syu’araa: 216 )

Bila dengan orang kafir dikatakan: “Kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah”, sedangkan jika dengan muslim yang maksiat maka kita berlepas diri dari perbuatannya atau dari maksiatnya, dan bukan dari orangnya. Ketika Khalid ibnul Walid melakukan kesalahan dalam peperangan, beliau membunuh orang yang tidak layak untuk dibunuh, maka Rasul mengatakan: “Ya Allah, saya berlepas diri dari apa yang dilakukan oleh Khalid”.

8. Tidak boleh saling mewarisi dengan orang muslim

Misalkan dalam sebuah keluarga muslim ada anaknya yang murtad, lalu ayahnya meninggal dunia, maka si anak yang murtad ini tidak berhak mendapatkan warisan dari si ayah tersebut, dan begitu juga sebaliknya. Jika orang murtad di Negara Islam maka di samping dibunuh orangnya, hartanya juga diambil untuk Baitul Mal, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim” (Muttafaq ‘alaih dari Usamah bin Zaid).

Akan tetapi dalam kondisi zaman ini (di saat tidak adanya Baitul Mal, ed), jika ada seorang muslim sedangkan ayahnya murtad lalu si ayah tersebut meninggal dunia, maka apabila ada harta yang diberikan kepadanya, maka itu adalah bukan sebagai bentuk warisan, akan tetapi diterima saja karena dikhawatirkan diambil oleh orang lain, dan atas kerelaan dia, maka harta yang jatuh ke tangannya bisa digunakan untuk kepentingan dirinya atau kepentingan kaum muslimin.

9. Orang murtad tidak diakui hidupnya

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Barangsiapa yang murtad dari Islam, maka bunuhlah” (HR. Bukhari Muslim).

Jika orang murtad secara individu di Negara Islam maka akan dipanggil dan dinasehati supaya taubat dan diberi tenggang waktu, jika dia bertaubat maka dilepaskan lagi dan jika tidak bertaubat, maka dibunuh.

Akan tetapi jika yang murtad itu sifatnya berkelompok dan memiliki kekuatan untuk melindungi diri dari hukum Islam meskipun di wilayah Negara Islam, maka ini tidak dinasehati atau disuruh taubat terlebih dahulu, akan tetapi langsung diperangi oleh Pemerintah. Ini sebagaimana yang terjadi di zaman Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu tatkala memerangi kelompok Musailamah Al Kadzdzab kaum Banu Hanifah di Yamamah, mereka murtad dan mengikuti pemimpinnya dan mereka juga mempunyai pasukan dan kekuatan, maka oleh Abu Bakar mereka langsung diperangi.

Begitu juga bagi orang murtad yang bersifat thaghutiyyah, karena mereka memiliki kekuatan (tentara dan senjata) maka ini juga langsung diperangi saat kaum muslimin memiliki kekuatan, dan karena Allah mewajibkan untuk memerangi mereka dengan sebab mereka (para thaghut) itu adalah musuh yang telah masuk dan bahkan telah mengakar di negeri-negeri kaum muslimin. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas dari kamu” (At Taubah: 123)

Para thaghut hukum dan ansharnya adalah orang-orang kafir yang paling dekat dengan kita, maka itulah yang diperangi terlebih dahulu.

Ini adalah bila yang sifatnya kelompok, bukan dinasehati agar bertaubat, akan tetapi diperangi… Orang murtad kenapa dibunuh? karena halal darah dan hartanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Tidak halal darahnya orang muslim yang bersaksi tiada tuhan yang berhak diibadati selain Allah dan aku adalah rasul Allah kecuali dengan salah satu dari tiga hal; zina muhshan, qishash, keluar dari Islam”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Orang murtad dibunuh karena dia tidak kafir kepada thaghut, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kafir terhadap segala yang diibadati selain Allah maka haram darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah” (HR. Muslim dari Abu Malik Al Asyja’iy).

Makna dia kafir terhadap segala yang diibadati selain Allah adalah kafir terhadap thaghut, sedangkan orang murtad tidak kafir kepada thaghut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka bunuhilah orang-orang musyrikin itu di mana saja kalian dapatkan mereka, tangkaplah mereka, kepunglah mereka, dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan” (At Taubah: 5)

“Jika mereka taubat” adalah taubat dari kemusyrikannya atau dari kethaghutannya, dan orang yang tidak mau taubat atau dia bersikukuh di dalam kemusyrikan dan kethaghutannya maka berarti dibunuh…

Demikianlah konsekuensi-konsekuensi yang dikenakan bagi orang murtad di dunia.

by:Azzam Mutaqin

Pos ini dipublikasikan di Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s